“Perjuangan Rasul Paulus”
2 Timotius 4:6-8
Ἐγὼ γὰρ ἤδη σπένδομαι, καὶ ὁ καιρὸς τῆς ἐμῆς ἀναλύσεως ἐφέστηκεν.

Penjelasan syntactic form
Ayat 6
Ada 2 kalimat atau klausa di ayat 6. Pertama, Ἐγὼ ἤδη σπένδομαι. Subjeknya adalah Ἐγὼ dan predikatnya adalah ἤδη σπένδομαι. Kedua, ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεως ἐφέστηκεν. Subjeknya adalah ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεως dan predikatnya adalah ἐφέστηκεν.
Ἐγὼ = nominative of subject berfungsi sebagai subjek dari σπένδομαι.
σπένδομαι = indicative, present, passive, 1st person singular; present progressive artinya pencurahan darah Rasul Paulus sebagai korban sedang terjadi.
ὁ καιρὸς = nominative of subject berfungsi sebagai subjek dari ἐφέστηκεν.
τῆς ἀναλύσεως = genitive of description menjelaskan kata ὁ καιρὸς
μου = genitive of possessive menjelaskan milik dari τῆς ἀναλύσεως
ἐφέστηκεν = indicative, perfect, active, 1st person singular; perfect of intensive menjelaskan hasil tindakan dia dari masa lampau sampai sekarang
Terjemahan Literal
Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah dan waktu keberangkatanku sudah dekat.
Syntactic Content
- Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah
- Waktu keberangkatanku sudah dekat
Semantic Content
Poin-poin semantis:
- Nyawa Rasul Paulus sedang dipertaruhkan atau dicurahkan kepada Allah sebagai korban atau persembahan
- Hidup sampai kematian Rasul Paulus adalah suatu korban kepada Allah
- Kematian Rasul Paulus sudah dekat
- Kematian Rasul Paulus adalah demi Injil Kristus atau pelayanannya kepada Kristus
Konsep Teologis
Ide utama: Kematian Rasul Paulus
Ide-ide pendukung:
- Kematian Rasul Paulus adalah korban kepada Allah
- Kematiannya sudah dekat dengan cara mencurahkan darah atau kematian martir
- Kematiannya demi pelayanan kepada Kristus atau Injil Kristus.
Penjelasan Konsep Teologis
Kematian Rasul Paulus diibaratkan seperti korban darah yang dipersembahkan kepada Allah. Ini artinya kematiannya adalah suatu persembahan korban kepada Allah. Bapa Gereja John Chrysostom juga menyatakan bahwa, “He has not said of my sacrifice; but, what is much more, “of my being poured out.” For the whole of the sacrifice was not offered to God, but the whole of the drink-offering was.”[1]
Kematiannya yang dipersembahkan kepada Allah adalah untuk kepentingan jemaat atau Gereja (Fil 2:17). Darah yang dicurahkan di sini berarti nyawa yang dipersembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus (Fil 2:17). Rasul Paulus mempersembahkan darahnya atau nyawanya di atas korban yang dipersembahkan oleh jemaat kepada Allah. Menurut Hendi yang menafsirkan Fil 2:17, “Paulus mati martir dan ini seperti pengorbanan darah yang dicurahkan di atas korban. Namun walaupun aku harus mati sebagai martir dan ini seperti pengorbanan darah yang dicurahkan di atas korban yang kamu persembahkan kepada Allah atas dorongan percayamu kepada-Nya.”[2]
Nyawa yang dipersembahkan kepada Allah adalah kembali berada bersama dengan Kristus (Fil 1:23) dan ini adalah keuntungan bagi Rasul Paulus sebab dia berada bersama dengan Kristus yang dia layani (Fil 1:21). Itulah sebabnya Rasul Paulus juga bersukacita (Fil 2:17) dan mengajak jemaat Filipi ikut bersukacita bersamanya (Fil 2:18). John Chrysostom menuliskan,
For this he implies, when he says, “Yea, and if I am offered upon the sacrifice and service, I joy and rejoice with you all; and in the same manner do ye also joy and rejoice with me.” Why dost thou rejoice with them? Seest thou that he shows that it is their duty to rejoice? On the one hand then, I rejoice in being made a libation; on the other, I rejoice with you, in having presented a sacrifice; “and in the same manner do ye also joy and rejoice with me,” that I am offered up; “rejoice with me,” “who rejoice in myself.” So that the death of the just is no subject for tears, but for joy. If they rejoice, we should rejoice with them. For it is misplaced for us to weep, while they rejoice.[3]
Ringkasan
Darah yang dicurahkan oleh Rasul Paulus adalah nyawa yang dipersembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus. Dan Rasul Paulus menganggap itu suatu keuntungan dan dia bersukacita.
Kematian bagi orang percaya adalah sukacita dan keuntungan bukan suatu yang menakutkan dan menyedihkan sebab ketika kematian itu datang kita sudah mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai korban yang berkenan kepada-Nya.
Aplikasi
- Meneladani hidup Rasul Paulus yang setia melayani Gereja dan memberitakan Injil Kristus kepada orang-orang di luar Gereja
- Melayani dan taat sampai mati seperti Rasul Paulus.
Ayat 7
I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith.
τὸν καλὸν ἀγῶνα ἠγώνισμαι, τὸν δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν τετήρηκα· (2 Tim. 4:7 BGT)

Penjelasan Syntactic Form
Ayat 7
τὸν definite article accusative masculine singular from ὁ
καλὸν adjective normal accusative masculine singular no degree from καλός
ἀγῶνα noun accusative masculine singular common from ἀγών
ἠγώνισμαι, verb indicative perfect middle 1st person singular from ἀγωνίζομαι
τὸν definite article accusative masculine singular from ὁ
δρόμον noun accusative masculine singular common from δρόμος
τετέλεκα, verb indicative perfect active 1st person singular from τελέω
τὴν definite article accusative feminine singular from ὁ
πίστιν noun accusative feminine singular common from πίστις
πίστιν noun accusative feminine singular common from πίστις
Terjemahan Literal
Ayat 7
Aku telah memenangkan pertandingan aku telah mengakhiri perlombaan aku telah memlihara iman.
Point – point syntac
- Aku telah memenangkan pertandingan
- Aku telah mengakhiri perlombaan
- Aku telah memelihara iman.
Poin – poin Semantis
- Rasul Paulus tidak kalah dalam pertandingan
- Rasul Paulus telah mencapai perlombaan
- Rasul Paulus senantiasa menjaga iman
Konsep Teologis
Ide utama : Perjuangan Rasul Paulus
Ide pendukung:
- Rasul Paulus tidak kalah dalam pertandingan
- Rasul Paulus telah mencapai perlombaan
- Rasul Paulus senantiasa menjaga iman
Penjelasan Konsep Teologis
- Rasul Paulus tidak kalah dalam pertandingan
Dalam pertandingan untuk memperjuangkan dirinya sebagai korban Rasul Paulus tidak kalah dalam perlombaan. Ia selalu berusaha untuk mencapai sebuah pertandingan yang luar biasa dia peroleh untuk mencapai hasil yang maksimal.
Pola asli kodrat manusia adalah “Firman Allah” yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan (Kej 1, Mzm 33:6, Yoh 12:1-3, 1 Kor 8:6b, Ibr 1:2-3, Kol 1:15-16) maka untuk mengembalikan manusia kepada panggilan hidup kekal itu, Firman Allah: “Pola Asli” kodrat manusia itu “mengambil” rupa …. manusia (Fil 2:7, Yoh 1:14) “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibr 2:14) serta “… dalam segala hal Ia harus disamakan …” (Ibr 2:17) dengan manusia, termasuk tubuh, jiwa, roh, pikiran, hati, emosi dan segala sesuatunya, tanpa mengalami perubahan dari kodrat asli-Nya yang satu dalam hakikat keilahian Sang Bapa itu. Demikianlah “Firman Allah” yang menjadi daging itu dalam kodrat asli ilahinya berada satu hakikat dan tak terpisah dari Allah sebagai Kalimatullah, namun yang telah mengambil rupa manusia sama dan mendapat bagian dalam segala hal dengan keadaan manusia tadi, Dia berada satu dengan manusia, maka jadilah Ia satu-satuNya “Pengantara” antara kodrat ilahi (Allah) dan kodrat manusiawi (manusia) (1 Tim 2:5). Di dalam “Firman Menjelma”: Yesus Kristus ini, panunggalan antara Allah dan Manusia, Surga dan Bumi, Rohani dan Jasmani, Ilahi dan Manusiawi, Tak Tercipta dan Tercipta, Baka dan Fana, Tuhan dan Hamba, “Kawulo lan Gusti” telah terjadi. Karena yang tubuh di mana maut, kelapukan dan kefanaan itu tinggal, telah diambil dan dikenakan oleh “Firman” (Kalimatullah) sebagai sumber ciptaan, kehidupan, dan kekekalan (karena yang ilahi itu hidup dan kekal), maka terhisaplah kefanaan, kelapukan, dan kematian yang tinggal dalam tubuh kemanusiaan Firman yang menjelma ke dalam kehidupan dan kekekalan yang Ilahi itu sendiri, yang dibuktikan oleh kebangkitan-Nya dengan tubuh yang sama tadi dari antara orang mati. [4]
Untuk itulah Rasul Paulus senantiasa berjuang sampai akhir dan ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Rasul Paulus yakin bahwa perjuangannya tidak akan sia – sia.
- Rasul Paulus telah mencapai perlombaan
Rasul Paulus telah mencapai perlombaan yang telah ia perjuangkan. Oleh sebab itu dia senantiasa taat dan setia kepada Tuhan Yesus Kristus dan selalu berharap dan berserah kepadanNya. Perjuangan Rasul Paulus mungkin tidak semulus yang kita bayangkan banyak ancaman dan penderitaan yang dia hadapi untuk mencapai perlombaan yang di tuju dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan upaya yang ekstra dan mengorbankan nyawa untuk memberitakan Injil keseluruh bangsa.
Menjadi manusia rohani (a spiritual man) berarti menjadi manusia yang bertumbuh dalam Kristus (1 Kor 3:1-3; Efe 4:13,15; Ibr 5:11-14; 1 Pet 2:2; 2 Pet 3:18). Dan hasil pertumbuhan ini adalah “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Kor 3:18). [5]
Apabila kita menjadi manusia Rohani kita sama seperti Rasul Paulus yang senantiasa taat kepada Tuhan dan setia sampai akhir hidup kita.
- Rasul Paulus senantiasa menjaga iman
Rasul Paulus berjuang untuk
hidup kudus dan menjaga imannya tetap teguh didalam Tuhan. Selalu ada hambatan
dan rintangan yang dia hadapi untuk mencapai sebuah perlombaan yang memperoleh
mahkota kehidupan. Nepsis atau
perhatian batin didasarkan pada kata-kata Yesus. Hanya melalui kewaspadaan dan
kewaspadaan bahwa kita dapat siap pada saat Tuhan berbicara saat murid-muridNya
bertanya,
Beritahu kami, kapan ini, dan apa yang akan menjadi tanda
kedatanganmu dan akhir zaman? (Matius 24: 3).
Karena itu, berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu jam
berapa Tuhan datang (Matius 24:42).
Dua kejadian terbesar dalam sejarah manusia adalah: 1.
Ketika Tuhan menjadi manusia di dalam Yesus untuk menyelamatkan kita dari dosa
dan kematian dan membawa kita ke surga; dan 2. Kedatangan Kedua Kristus. Meski
tidak ada yang tahu tahun, bulan, hari, atau jamnya; tanggal pastinya ada di
kalender Tuhan, hanya diketahui olehNya.
Sangat menarik bahwa kata kalender berasal dari bahasa
Latin kalendae yang dalam masyarakat Romawi disebut pada saat akun jatuh tempo.
Jadi, pada saat Kedatangan Kedua Kristus kita akan berdiri di hadapan
penghakiman-Nya dan memberikan penjelasan tentang apa yang telah kita lakukan
dengan hidup kita (II Kor 5:10). Oleh karena itu, perhatian harus menjadi
bagian dari gaya hidup setiap orang Kristen. Setiap nama tengah orang Kristen
seharusnya “Gregorius” yang dalam bahasa Yunani berarti “yang
waspada atau waspada.”
“Berbahagialah orang-orang yang ditinggalkan Tuhan
pada waktu Ia datang, akan melihat,” kata Yesus (Lukas 12:37). Hari Tuhan
akan datang. Bagi mereka yang tidak menonton, Dia akan datang tanpa diduga
sebagai “”Pencuri di malam hari” (I Tesalonika 5: 2), tetapi
bagi mereka yang melihat Dia tidak akan datang sebagai pencuri melainkan
sebagai Mempelai Pria dari jiwa kita.[6]
Ringkasan Teologis
Dalam pertandingan untuk memperjuangkan dirinya sebagai korban Rasul Paulus tidak kalah dalam perlombaan. Ia selalu berusaha untuk mencapai sebuah pertandingan yang luar biasa dia peroleh untuk mencapai hasil yang maksimal. Rasul Paulus telah mencapai perlombaan yang telah ia perjuangkan. Oleh sebab itu dia senantiasa taat dan setia kepada Tuhan Yesus Kristus dan selalu berharap dan berserah kepadanNya. Perjuangan Rasul Paulus mungkin tidak semulus yang kita bayangkan banyak ancaman dan penderitaan yang dia hadapi untuk mencapai perlombaan yang di tuju dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan upaya yang ekstra dan mengorbankan nyawa untuk memberitakan Injil keseluruh bangsa. Rasul Paulus berjuang untuk hidup kudus dan menjaga imannya tetap teguh didalam Tuhan. Selalu ada hambatan dan rintangan yang dia hadapi untuk mencapai sebuah perlombaan yang memperoleh mahkota kehidupan.
Aplikasi
- Meneladani hidup Rasul Paulus yang setia dan taat berjuang sampai akhir hidupnya.
- Melayani dan taat sampai mati seperti Rasul Paulus.
- Berjaga – jaga dn berdoa untuk menjaga iman.
Ayat 8
Finally, there is laid up for me the crown of righteousness, which the Lord, the righteous Judge, will give to me on that Day, and not to me only but also to all who have loved His appearing.
λοιπὸν ἀπόκειταί μοι ὁ τῆς δικαιοσύνης στέφανος, ὃν ἀποδώσει μοι ὁ κύριος ἐν ἐκείνῃ τῇ ἡμέρᾳ, ὁ δίκαιος κριτής, οὐ μόνον δὲ ἐμοὶ ἀλλὰ καὶ πᾶσιν τοῖς ἠγαπηκόσιν τὴν ἐπιφάνειαν αὐτοῦ.
λοιπὸν adverb OR adjective normal accusative neuter singular no degree from λοιπός
ἀπόκειταί verb indicative present passive 3rd person singular from ἀπόκειμαι
μοι pronoun personal dative singular from ἐγώ
ὁ definite article nominative masculine singular from ὁ
τῆς definite article genitive feminine singular from ὁ
δικαιοσύνης noun genitive feminine singular common from δικαιοσύνη
στέφανος, noun nominative masculine singular common from στέφανος
ὃν pronoun relative accusative masculine singular from ὅς
ἀποδώσει verb indicative future active 3rd person singular from ἀποδίδωμι
μοι pronoun personal dative singular from ἐγώ
ὁ definite article nominative masculine singular from ὁ
δίκαιος adjective normal nominative masculine singular no degree from δίκαιος
κριτής, noun nominative masculine singular common from κριτής
οὐ adverb from οὐ
μόνον adverb from μόνος
δὲ conjunction coordinating from δέ
ἐμοὶ pronoun personal dative singular from ἐγώ
ἀλλὰ conjunction coordinating from ἀλλά
καὶ adverb from καί
πᾶσιν adjective indefinite dative masculine plural no degree from πᾶς
τοῖς definite article dative masculine plural from ὁ
ἠγαπηκόσιν verb participle perfect active dative masculine plural from ἀγαπάω
τὴν definite article accusative feminine singular from ὁ
ἐπιφάνειαν noun accusative feminine singular common from ἐπιφάνεια
αὐτοῦ. pronoun personal genitive masculine singular from αὐτός
Terjemahan literal
Aku mendapat mahkota kebenaran yang dari Tuhan hakim yang adil, Yang membrikan padaku harinya bukan hanya padaku tetapi kepada semua orang.
Point – point Syntac
- Aku mendapat mahkota kebenaran yang dari Tuhan hakim yang adil
- Yang memberikan padaku harinya bukan hanya padaku tetapi kepada semua orang
Point – point Semantis
- Perjuangan Rasul Paulus memperoleh mahkota kebenaran.
- Mahkota di berikan kepada semua orang yang berjuang seperti Rasul Paulus
Konsep Teologis
Ide Utama : Hasil dari sebuah perjuangan Rasul Paulus
Ide Pendukung :
- Perjuangan Rasul Paulus memperoleh mahkota kebenaran.
- Mahkota di berikan kepada semua orang yang berjuang seperti Rasul Paulus
Ringkasan Teologis
Untuk mencapai mahkota kebenaran tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Butuh perjuangan dan usaha yang keras. Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama ketika ia mengerjakan keselamatannya untuk memperoleh mahkota dari Tuhan. Rasul Paulus menguatkan Timotius untuk terus setia memberitakan Injil Kristus bersama dengannya. Sebab itu, dalam konteks penderitaan seperti ini dia mengajak Timotius untuk menjadi seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Artinya, Timotius harus memiliki mental dan karakter seperti seorang prajurit karena medan perjuangan yang berat. Menjadi seorang prajurit yang baik berarti bertempur atau berjuang di medan pertempuran. Dia tidak duduk diam melainkan bertempur. Pelayanan Timotius ada di medan perjuangan. Rasul Paulus menuliskan, “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni” (1 Tim. 1:18; lihat juga 1 Tim 6:12).
Dan Timotius telah mengalami penderitaan dan sengsara bersama Rasul Paulus di Antiokhia, Ikonium, dan Listra (2 Tim 3:11). Itulah perjuangan Timotius sebagai seorang prajurit Kristus. Kedua, perjuangan ini harus dikerjakan dengan menguasai diri dalam segala hal yakni fokus pada tujuan pemberitaan Injil bukan pada kekuatiran akan soal-soal penghidupannya (ayat 4 dan 2 Tim 4:5). Seorang prajurit harus fokus pada tugas-tugasnya sehingga dia bisa merebut kemenangan dari musuhnya. Ketiga, seorang prajurit adalah tahan atau sabar menderita (2 Tim 4:5). Dia tidak gampang putus asa ketika kesulitan datang melainkan dia sabar menanggungnya. Keempat, dia berkenan atau layak di hadapan
147
komandan yang telah memanggilnya. Dia terampil, fokus, tahan menderita, dan menunaikan tugasnya dengan baik (2 Tim 4:5). Seorang prajurit tidak meninggalkan tugasnya melainkan menyelesaikan tugasnya sampai selesai. Seperti Rasul Paulus tuliskan, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri perjuangan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Tim 4:6-7). Inilah empat ciri seorang prajurit yang baik.
Timotius adalah seorang prajurit Kristus yang baik. Dia berjuang demi nama Kristus bersama Rasul Paulus. Tujuan perjuangan mereka jelas yakni untuk memberitakan Injil Kristus sehingga semakin banyak orang diselamatkan dalam Kristus. Tujuan yang mulia ini harus dihadapi dengan penderitaan dan korban hidup. Inilah perjuangan seorang prajurit Kristus sampai akhir hidupnya yakni menunaikan tugas pelayanannya. Dan Allah akan menyediakan mahkota kebenaran kepada mereka yang telah menjadi prajurit Kristus yang baik (2 Tim 4:8).
Ringkasan Teologis
Untuk mencapai mahkota kebenaran tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Butuh perjuangan dan usaha yang keras. Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama ketika ia mengerjakan keselamatannya untuk memperoleh mahkota dari Tuhan. Rasul Paulus menguatkan Timotius untuk terus setia memberitakan Injil Kristus bersama dengannya. Sebab itu, dalam konteks penderitaan seperti ini dia mengajak Timotius untuk menjadi seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Artinya, Timotius harus memiliki mental dan karakter seperti seorang prajurit karena medan perjuangan yang berat. Menjadi seorang prajurit yang baik berarti bertempur atau berjuang di medan pertempuran.
Aplikasi
- Sebuah perjuangan pasti mendapatkan hasil seperti Rasul Paulus yang memperoleh mahkota kebenaran
- Jadilah seorang prajurit yang taat dan setia seperti Timotius
[1] John Chrysostom, The Homilies of St. John Chrysostom On the Epistles of St. Paul the Apostle
to Timothy, Titus, and Philemon, Volume XIII dari Nicene and Post Nicene Fathers of the Christian Church, Philip Schaff ed., (Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1887), 511.
[2] Hendi, Tafsiran Surat Filipi: Sebuah Analisis Colon (Yogyakarta: Leutikaprio, 2017), 59.
[3] Chrysostom, The Homilies of St. John Chrysostom On the Epistles of St. Paul the Apostle
to Philippians, Colossians, and Thesalonians, 223.
[4] Hendi Wijaya, inspirasi Kalbu, Vol. 1 (Yogyakarta: Leutika Pro, 2017),63
[5] Hendi Wijaya, inspirasi Kalbu, Vol. 1 (Yogyakarta: Leutika Pro, 2017), 70
[6] Anthony M. Coniaris, Philokalia the Bible of Orthodox Spirituality, (Minepolis: Light & Life Publishing Company, 1998),315