Nama : Elizabeth Situmorang
Semester : 7
Dosen : Dr. Hendi Wijaya S,s
Mata Kuliah : Spirituality of Philokalia
- Nous dalam Philokalia
Nous merupakan mata atau otak atau pengendali dari roh kita (spirit). Bapa Philokalia sering kali mengatakan bahwa nous itu adalah mata batin atau mata dari roh kita. Nous ini menghasilkan satu prodak yang seperti manipulasi (pikiran, perasaan, emosi bahkan ada nafsu-nafsu) dan itu semua timbul dari yang namanya Nous. Dan Bapa Philokaliah sering makai Logismoi Mat 7:21 dari dalam hati muncul pikiran-pikiran jahat. Hati menjadi wadah (tempat) di mana spirit kita ada di dalamnya. Didalam hati kita ada Nous/pikiran-pikiran logismio dan Nous inilah yang bisa mengendalikan batin kita. Logismoi ini ada yang baik seperti yang di katakan maximus “ pikiran yang berasal dari roh” dan ada juga logismoi yang jahat.
Bapa Philokaliah biasanya memakai bahasa logismoi lebih cenderung pada pikiran negatif Markus 7:21. Jika pikiran-pikiran jahat ini akan di biarkan maka akan menjadi satu benih sehingga muncul banyak hawa nafsu. Hawa nafsu ini banyak sekali salah satunya adalah epitumi (nafsu daging). Dalam Gal. 5 di situ ada hawa nafsu daging jika ini di biarkan maka akan menghasilkan perbuatan daging. Ketika kita memperbaharui hati kita maka kita harus menjaga nous kita kita dari perbuatan yang baik sehingga menghasilkan buah roh yaitu kasih. Froneo : pola pikir atau karaktek yang sudah terbentuk. Firman Tuhan mengajarkan agar kita memperoleh froneo kristus Fil 2:5. Froneo prokduk dari nous sebelum ke logismoi jika froneo kita kepada Kristus akan menghasilkan logismoi yang baik.
- Pengertian Nous menurut Bapa – bapa Philokalia
Amsal berkata : seperti apa nousmu/seperti apa hatimu itulah yang mencerminkan hatimu. Jadi ketika kita ingin tau siapa diri kita cukup lihat bagaimana kondisi hati kita (nous). Nicodemus dari gunung athos menyeburkan philokalia itu merupakan satu perbendaharaan waspada, seperti pemeliharaan nous atau sekolah doa atau hati, satu tulisan yang sangat dalam ( menyelami tentang hati kita). Kalistos Ware Penerjemah teks philokalia dalam bahasa aslinya bahasa yunani di terjemahkan ke dalam bahasa ingris. Dia seorang uskup di ingris, seorang orthodox lalu ia menerterjemahkan buku ini dalam 5 folum namun Dia menawarkan sebuah defenisi tentang nous. Nous ini adalah kata yang sangat sulit di terjemahkan. Jika anda mengatakan Nous itu pikiran maka itu adalah terjemahan yang sagat kabur.
Dalam terjemahan yang di gunakan oleh Ware ini ragu bagaimana menggunakan kata nous ini yang diterjemahkan. Sehingga ia memilih kata intelek. Nous di praktekan melalui berdoa, ibadah dan lain sebagainya dan ini merupakan satu latihan untuk memupuk nous. Nous satu spritual yang memungkinkan kita mengenali kebenaran. Nous ini di kembangkan melalui doa, puasa, ibadah dan melalui praktis lainnya karena nous ini sesuatu yang lebih tinggi dari otak yang berpikir dan lebih dalam dari emosi begitu kata Kalistos Ware.
Nous sesuatu peristiwa yang memungkinkan kita mengenal suatu kebenaran. Karena nous dari manusai telah jatuh ke dalam dosa seperti adam dan hawa nous itu cenderung berubah menjadi menyembah berhala melakukan kejahatan yang tak terkendali dengan begitu secara fisik nous manusia jauh dari kemuliaan Tuhan. Sehingga nous itu menjadi seperti iblis atus jahat seperti yang katakan Rasul Paulus ada hukum daging dan hukum roh. Jika nous kita di kuasai oleh nafsu maka kita picik dan egoisme seperti yg di katakan Yesus kita menjadi manusia gelap. Nous sebagai egemonikon (penguasa/pemimpin/raja) dalam hidup kita. Melalui Anugrah dan spritual rohani kita memunyai satu kesempatan untuk melawan epitumua(nafsu).
Bapa Philokalia Hesekios mengatakan nous sama seperti kepemimpinan musa, musa di anggan sebagai sang pemberi hukum dalam PL dan musa itu di ikonkan seperti nous. Dalam kel 3:2 :14-17 di katakan ketika musa melihat Allah dari semak yang terbakar wajahnya bersinar dengan kemuliaan. Musa memiliki kekuatan ilahi untuk melawan firaun, yang mengguliti seorang mesir dengan pisaunya, yang memimpin Israel keluar dari perbudakan dan memberikan hukum taurat. Egemonikon beberapa bapa gereja mengangap seperti nousnya Kristus yang kita terima ketika kita mengenakan Kristus dalam baptisan.
Nous fakulti tertinggi dalam jiwa/roh manusia yang melaluinya jika nous kita di sucikan akan mengenal Tuhan tidak seperti pikiran manusia, tetapi nous ini yang konek dengan sang Ilahi. Nous ini aspek terdalam dari hati, nous adalah organ konteplasi dari mata hati begitu kata Makarius.
Bapa-bapa gereja yang lain berkata : St. Antonius Agung dia adalah bapa seorang pendiri biara di abad yang ke 3 dan 4. Antonius Agung memberitahukan kepada kita bahwa tidak semua orang mempuyai nous Tuhan telah menetapkan bahwa jiwa harus di penuhi dengan nous pada saat tubuh tumbuh sehingga manusia dapat membedakan/memilih mana yang baik/jahat sesuai kehendak Tuhan. Jiwa yang memilih tidak baik tidak memiliki nous karenanya semua tubuh memiliki jiwa tetapi tidak setiap jiwa memiliki nous. Nous yang menikmati cinta Tuhan akan hadir dalam diri yang di kontrol yang suci, yang murni, yang baik dan berbelah kasih juga saleh. Kehadiran nous membantu manusia menunju kepada Tuhan.
Antonius Agung membedakan nous dan jiwa. Nous bukanlah jiwa tetapi Anugrah Allah yang menyelamatkan jiwa, nous yang sesuai dengan kehendak Allah akan menasehati jiwa supaya jiwa itu membenci apa yang fanah, meterial yang dapat rusak dan mengubah semua keinginan jiwa itu menunju pada hal-hal yang kekal. Menurut bapa gereja lain :St. Gregorius dari sinai menyebut nous itu adalah mata spritual sama seperti yang di ajarkan Yesus dalam Mat 6:22-23. Nous itu kata Gregorius lidahku seperti pena dalam mazmur 45:1. Bukannya tintah tetapi cahaya, begitu menceberuhkan nous kedalam cahaya sehingga menjadi terang, nous akan di bimbing oleh Roh kudus menuliskan hal-hal Ilahi dalam hati yang murni kemudian nous itu akan menangkap kita di hadapan Allah. Gregorius melanjutkan nous harus bersinergy dengan Allah karena nous dengan Roh Allah yang bisa konek bukan otak kita, pengetahuan dan lain sebagainya. Gregorius melanjutkan ketika nous itu di sucikan maka jiwa kita akan memandang Allah dan menerima hal-hal yang Ilahi dari Allah.
Menurut bapa gereja St. Maximus mengatakan nous sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan untuk memilih. Nous kita terletak di antara malaikat dan iblis mereka masing-masing berkerja untuk tujuannya sendiri. Nous memiliki kekuatan untuk menolak/menerima apa yang di inginkannya. menurut Maximus nous suatu organ kebijaksanaan dan pengetahuan dari roh kita. Jika nous kita bisa membedakan pikiran-pikiran dan dalam kemurnian memberikan persekutuan hanya kepada hal-hal Ilahi. Jadi kalau nousnya memandang Allah maka terangnya Allah akan terpancar melalui nous kedalam hati kita. Lalu hati kita akan menjadi terang dan kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang terang.
Bapa gereja lain bernama St. Talasius berkata : Nous dapat mennundukkan nafsu, nous yang bijak menahan jiwa menjaga tubuh agar tunduk dan menjadikan hawa nafsu sebagai pelayannya. Nous yang bijaksana akan di kendalikan oleh Tuhan dan juga di penuhi oleh Roh kudus. St. Petrus dari Damascos Nous seperti gambar Allah yang ada di dalam diri kita. Kita harus memandang manusia dengan kebenaran dan sadar bahwa nous adalah gambar Allah. St. Basil memuji nous sebagai rumah harta, pikiran seperti rumah harta yang telah menyimpan semua pikiran dan pikiran ini apakah baru dan lama dalam nous dan akan mengexpresikan dalam bahasa kata-kata meskipun kata-kata selalu berasal dari nous tidak pernah habis.
Nous selalu berkerja untuk menghasilkan banyak pikiran-pikiran dan akan menyimpang banyak kenangan.
Intisari :
- Nous adalah Mata dari jiwa kita seperti kata Tuhan Yesus
- Tidak semua orang punya Nous. Nous yang hidup adalah orang yang percaya kepada Yesus di mana nous kita yang mati akan hidup kembali dengan membuka hati dan di pupuk melalui doa, puasa, pembacaan Alkitab, sakramen dan lain-lain. St. Theofan mengajarkan kita bahwa doa bukan sekedar kata-kata (bibir) tetapi doa itu adalah doa nous/batin. Doa dari nous harus benar-benar menyentuh hati kita.
- Doa ada tiga level
- Doa bibir
- Doa pikiran
- Doa batin
- Nous penolong dan penyelamat/pelita jiwa
- Nous fakulti tertinggi dalam diri manusia
- Nous menikmati kasih Allah dan hadir dalam diri yang di kendalikan yang suci, yang murni, yang adil, yang saleh.
- Nous adalah gambar Allah, organ konteplasi, mata hati, rumah harta karun yang tanpa lelah menyimpan semua pikiran kita.
- Nous memperloleh karunia tentangTuhan dan kebijaksanaan dengan rahmat Tuhan di bantu oleh latihan spritual.
- Godaan selalu ada melalui indra kita (mata) ia selalu menggoda nous kita dan jika nous kita kalah maka akan menghasilkan pikiran-pikiran jahat dan pikiran jahat inilah yang akan menghasilkan nafsu dan nafsu inilah yang akan membuahkan dosa.
Sumber : Hendi Wijaya / https://www.youtube.com/watch?v=8mr4HgnoB5w&t=171s