- Sejarah Desert Fathers
Para Pencari Biara di dalam Gereja Kuno
Para biarawan Kristen awal membentuk masyarakat internasional yang berkembang di semua wilayah Yunani dari kekaisaran Romawi, di Syiria dan Persia. Di Mesir berkumpul di sekitar sungai Nil, dan sejauh ke Afrika seperti Nubia (Sudan modern) dan dataran tinggi Ethiopia. Mereka mendiami medan berbatu dan gurun di Sinai, Palestina, Arab dan Turki (Kapadokia); dan di ibukota Kekaisaran Romawi, Konstantinopel, mereka umumnya para pelayan negara, dalam jumlah yang begitu besar, dengan banyak sarjana dan bangsawan yang berdedikasi diantara mereka. Setelah abad kelima, monastime menjadi populer juga di Barat dimana Gaul (Prancis Kuno) dan Italia menjadi pusat aktivitas.
Segera, di seluruh dunia Kristen awal, yang digambar seperti lingkaran di sekitar cekungan Mediterania, Para Biarawan Kristen dapat ditemukan hidup dalam isolasi di desa – desa, di komuni kecil pertapa, bekumpul bersama di lembah – lembah terpencil atau di rumah-rumah kecil, biasanya beberapa menjalani kehidupan komunal bersama. Itulah para biarawan yang memang menjalani suatu repost atau isolasi dari dunia yang menjalani hidup di padang gurun atau ditempat-tempat terpencil. Ketiga bentuk gaya hidup monastik di gereja mula – mula ini telah menjadi standar pada abad ke empat dan setelah Kaisar Konstantinus memulai transformasi Negara Romawi menjadi kekaisaran Kristen Bynzantium, gerakan biara berkembang selama lebih dari seribu tahun dengan perlindungan Kaisar yang Kristen. Dipusat-pusat seperti Gunung Athos di semenanjung Acte, dekat Halkidiki, di Yunani; Pechersky Lavra (Boara Gua) di Kiev; atau biara-biara gunung hutan Transylvania, di tempat tersebut terus berlanjut cara hidup biara yang kuno menjuju era modern.
Gaya Sastra Monastik
Selama perjalanan sejarah yang panjang ini, kumpulan besar ajaran di biara dikumpulkan dan disaring oleh para biarawan sebagai bimbingan mereka sendiri dalam menempuh jalan kehidupan kebatinan. Pengabdian total dalam hidup mereka adalah untuk mencari Allah. Mereka melakukan ini semua dengan gaya hidup yang sangat disiplin dan miskin secara radikal, kesucian dan selibat, serta mempelajari kitab-kitab suci dan tulisan – tulisan orang suci yang telah mendahului mereka. Semuanya itu dilakukan sebagai fokus yang radikal dalam hidup mereka. Apalagi panggilan hidup yang demikian tidaklah populer di tengah konteks masyarakat Barat yang modern.
Pada awal abad ketiga, karya sastra mereka mencapai puncaknya. Para guru spiritual Origen dari Aleksandria, salah satu Filsuf Platonis yang paling terpelajar di usianya, menciptakan metode penafsiran Alkitab yang anggun (Philo) untuk memurnikan jiwa dan membantu pencerahan dan pendakian rohani. Semua upaya ini kemudian bertujuan untuk memajukan “Teologi Spiritual” khas Kristen yang sebagian besar didasarkan pada karyanya. Evagrios dari Pontus, seorang intelektual besar lain pada periode Kristen awal menjadi salah satu yang berhasil menggabungkan tradisi pemikiran Origen yang tinggi disesuaikan dengan kebutuhan sehari – hari untuk komunitas pertapa yang bimbingan lanjutan dalam pendakian spiritual.
Ketika agama Kristen berkembang dan menyebar sebagai agama negara, hal ini kemudian semakin mengubah kekristenan menjadi sekedar pemahaman teologis yang rasionalistik. Kecendrungan ini dipercepat ketika sebagian besar para pemikir Kristen secara umum memperdebatkan masalah doktirnal dengan Kaisar Romawi, Teks-teks monastik, sebaliknya, sebagian besar tidak tertarik dalam keputusan teologis para uskup (di dalam konsili-konsili) dengan kekuatan hukum Romawi. Teks – teks monastik adalah sebuah literatur yang didedikasikan bagi rahasia kehiduupan batin, yaitu sebuah pencarian untuk jalan kedamaian, belas kasihan, dan kemurnian doa.
Selama berabad – abad yang panjang semangat rasionalistik di dalam doktrin Kristen nyaris tidak surut. Banyak generasi telah datang dan pergi, menghasilkan literatur kontroversial pada zaman mereka sendiri. Di Gereja Barat kemudian dikenal sebagai gerakan Reformasi yang mengkhotbahkan Injil sebagai anugerah gratis yang dipahami hanya oleh iman. Upaya monastik yang mencari keselamatan melalui upaya pertapaan menjadi hal yang terkutuk. Runtuhnya tradisi monastik di sebagian besar wilayah Eropa, berkontribusi besar pada rasionalisasi firmalistik didalam Kekristenan Barat dan memiskinkan tradisi pengajaran spiritual atau monastik.
Di dunia Kristen Timur, tidak ada Reformasi yang pernah dialami. Kesatuan filosofis dan kulturalnya berjalan dalam hubungan organik yang mendalam dengan prinsip-prinsip budaya Helenistik yang telah dibuat di zaman kuno. Binzantium menganggap sistem agama dan budaya mereka sebagai Hellenisme yang dibaptis kedalam Injil; dan tentu saja gairah politik Romawi untuk persatuan budaya dipertahankan, tetapi juga disesuaikan dengan kebebasan individu. Gabungan yang fleksibel inilah yang menghindari suatu kontrol sentralis yang dapat diamati di gereja Barat yang kemudian mengarah pada gerakan Reformasi di Eropa Barat pada waktu itu.
Munculnya Islam di tengah Gereja Timur pada abad ke- 7 membatasi kebebasan orang Kristen selama berabad- abad, tetapi menyebabkan suatu berkat bagi kehidupan biara-biara. Kehidupan biara – biara Ortodoks Timur ini sering kali tidak mengubah pola-pola komunitas primitif, yang dalamnya teks-teks spiritual tradisi monastik telah dengan hati – hati dilestarikan, disalin dan ditrasnmisikan sebagai pelatihan dasar generasi baru para pencari spiritual, sebuah kultur yang masih menyatukan Timur Kristen dari Syiria ke Rumania dan dari Ethiopia ke Rusia. Ada teks yang menjadi dasar dari Bapa Desert Fathers atau Bapa padang gurun dan Bapa – bapa gereja.
Saat ini teks-teks tersebut berada di Paris. Teks ini bernama Apopbhetegmata Patrum semua teks tersebut sudah di terjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris. Perkataan Desert Fathers dibagi menjadi tiga yaitu Pertama, Sistematikon ini banyak digunakan versi latin dan juga digunakan di gereja barat. Kedua, Anonymus dan ketiga Alphabetikon, yaitu berdasarkan susunan nama-nama, dan ini ditemukan dari abad ke 1000 oleh L. Reagnault. Para Desert Father ini memulai dari abad keempat atau ketiga dari tahun Origen sampai abad kempat dan pada saat itu banyak orang yang menganut ajaran monastik atau ajaran biara.
Keristenan pada zaman itu belum menjadi agama yang resmi sehingga banyak orang Kristen diburu dan disiksa, memang membiara hidup sendiri ditempat – tempat terpencil dan sungguh menjalani kehidupan kekristenan. The Desert Fahers atau bapa – bapa padang gurun mengawali kehidupannya dimulai dari tahun empat ratus di Mesir dan dimulai dari Hermit atau hidupnya menyendiri dan sungguh- sungguh membiara. Dalam kehidupan hermit atau menyendiri ada 3 salah satu contohnya yaitu low hermit yang tinggal di padang gurun. Contohnya adalah seorang bapa bernama Anthony the Great.
Suatu hari digereja, ia mendengar khotbah yang berkata “Pergi, jualah semua harta yang kamu miliki, berikanlah kepada orang miskin, datanglah kepada Ku dan ikutlah Aku.” Ini merupakan sebuah perintah yang membuat Anthony the Great hidup menjadi seorang hermit atau biara. Akhirnya ia pergi menjauh dari kehidupan yang biasa sekitar tahun 269, jauh di padang gurun untuk menjalani hidup hermit. Anthony the great meninggal pada tahun 356 pada usia yang sangat lanjut yaitu 156 tahun. Ia dianggap sebagai Church Fathers in the monk dan dia dikenal sebagai bapa gereja yang memiliki perkataan yang bagus dan indah. Hidup hermit juga tidak melakukan komunikasi dengan orang lain.
Kehidupan biara atau hermit banyak ditemukan di daerah Sketis dan Nitria. Di sini juga terdapat bapa – bapa gereja yang di temukan seperti : Moses, Pambo, Abraham, John Colobos dan Makarius. Ajaran barat juga diperoleh dari seorang biara bernama John Cassian seorang Bapa padang gurun. Di bagian Mesir dibagi menjadi 3 yaitu ada Senogitik (hidup berkomunitas tetapi dipimpin oleh seorang Bapa gereja) Asketik dan Hermit. Di negara Syiria para biarawan memiliki suatu kehidupan yang sungguh – sungguh. Di kapadokia yaitu seorang bapa bernama Basil the Great juga hidup membiara. Kehidupan seorang biara bernama Bapa Athanasius, salah satu pelajaran yang paling penting adalah John Cassian.
Dia adalah seorang anak muda, yang membiara di Mesir utnuk mempelajari Desert Fathers kemudian ia dipengaruhi oleh Evagrius, kemudian ia menjadi seorang Diaken, di sebuah gereja di Konstatinopel, dari sana dia diutus oleh John Krisostom melakukan misi di barat yaitu di Roma. Disanalah dia tinggal dibarat sekitar 415 ttahun lalu dia mendirikan monastri di Marseilles. Disana dia menulis dua buah buku yang berjudul “Institutes” dan “Confrences” dimana ini merupakan sebuah pondasi dasar dari pengajaran Desert Fathers.
Pengajaran dari Aphobtegmata Patrum adalah mengabarkan biara-biarawan atau Desert Fathers atau Abba mengajarkan mereka untuk berdoa, bagaimana mereka mengalami suatu melatih ulang tubuh, jiwa dan pikiran mereka kepada
Allah. Itulah yang mereka selalu bicarakan. Sehingga perkataan – perkataan itulah yang akhirnya mereka catat. Contoh dari perkataan Bapa Agathon yang mengatakan “ Doa adalah kerja keras, dan suatu perjuangan sampai nafas terakhir kita.” Kemudian ada cerita Lot. Didalam kehidupan Desert Fathers ini dalam tradisi Senotik ada spiritual Fathersnya tetapi tidak seperti mentoring, ini adalah seorang biarawan yang lebih senior, yang hanya memberikan perkataan – perkataan pada saat yang tertentu saja jadi tidak di mentor setiap saat. Jadi ada Great ekonomi words, mereka sangat irit sekali berkata – kata dan lebih banyak diam. Ada seorang biara yang pernah datang ke Basil dan berkata, berbicaralah kepada ku satu kata Bapa.
Kemudian Basil mengatakan “Kamu harus mengasihi sesama mu seperti dirimu sendiri.” Saya sudah melakukan apa yang Tuhan katakan yaitu saya sudah mengasihi sesama saya.” Maka Basil berkata lagi, “Sekarang kamu harus mengasihi tetanggamu seperti dirimu sendiri.” Lalu biarawan itu kembali lagi dan melakukan apa yang Basil katakan. Jadi, Spiritual Fathers itu hanya memberikan arahan – arahan dan perkataan yang baik untuk dilakukan. Evagrius seorang biarawan pernah berkata, setiap kamu tinggal di Aleksandria kamu akan menjadi Bishop yang besar. Evagrios sadar, jadi dia mengerti dia terlalu banyak bicara. Arsenius juga seperti itu, Kaisar Emparius juga belajar untuk mengatakan hal yang penting saja.
Radical Simplicity and Common Sense
(Radikal, Kesederhanaan dan akal sehat)
Kehidupan seorang biara yang sungguh-sungguh menjalani kehidupan yang sangat radikal yang menjauh dari kehidupan masyarakat. Inilah kebutuhan hidup oleh seorang biara yaitu suatu gubuk dari batu, tempat tidur, sebuah kulit domba, sebuah lampu, bejana air atau minyak, makan yang cukup dan jam tidur yang diatur seperti : tidur satu jam di malam hari cukup. Kehidupan seorang biara juga sangat menjaga pola makannya. Biasanya mereka menjalani puasa. Sekali makan itu cukup dalam sehari. Jadi, yang dilakukan oleh seorang biara merupakan kehidupan yang dilakukan seperti malaikat. Contohnya ada seorang adik yang bernama John the Dwarf yang mengumumkan kepada abangnya, bahwa ia akan pergi ke Desert ( Padang gurun) dan menjalani kehidupan seperti kehidupan malaikat.
Beberapa hari kemudian, ia mengalami kelaparan yang luar biasa. Akhirnya ia mengetuk pintu, lalu John sekarang adalah seorang malaikat dan John akhirnya meminta makanan. Jadi kehidupan di padang gurun adalah kehidupan yang selalu berjuang secara berkelanjutan sama seperti berdoa. Misalnya, cerita seorang Bapa bernama Anthony yang sedang santai diluar selnya, lalu datang seorang pemburu dan menyapa mereka. Anthony berkata: “Turunkan panahmu, tembaklah panah itu, arahkan panah mu dan tembaklah panahmu, kemudian tembaklah lagi, dan lagi.” Lalu si pemburu itu berkata : “Lalu jika aku terus menembak maka anak panah ku akan patah, maka panah ku akan patah,” lalu Anthony berkata : “Jika kita terus menekan kehidupan kita maka kita juga akan patah.”
Jadi ada masanya kita harus relax atau santai dalam menjalani kehidupan di padang gurun. Anthony juga sering turun ke kota untuk menolong orang yang sakit, melawan ajaran – ajaran yang sesat, dia juga orang yang mengadakan charity (amal) dan juga mukjizat di tengah masyarakat yang dilakukan oleh pertolongan dari Allah contohnya cerita dari Arsenius, dan Moses. Bapa padang gurun melakukan Askesis di padang gurun dan di gua-gua.
Doa dan Keheningan
Apa yang dilakukan oleh bapa – bapa padang gurun ketika mereka sendiri? Biasanya mereka menghapal kitab Mazmur, kemudian berdoa Jesus Prayer, seperti “Lord Jesus Christ Son of God have mercy upon me.” Ini merupakan Hesikia yang mereka jalani. Jadi, bagaimana mereka menciptakan hati mereka setenang air dan dapat melihat kehidupan mereka? Ini merupakan kehidupan yang tidak pernah putus dan tidak pernah memikirkan hal – hal duniawi (The angelic/monastic life). Anthony berkata : “Aku dan Allah ada disini sendiri atau kami ada disini bersama Allah” maka ia memasuki doa dalam keheningan atau Hesikia. Disatu sisi juga mereka berdoa bersama dengan Tuhan.
Kemudian juga menolong orang yang sakit, menerima kunnjungan – kunjungan dan bagaimana menjalani kehidupan dengan benar. Kehidupan yang mereka jalani juga seperti tidur, makan secukupnya, tinggal di gua – gua batu, kemudian hanya punya air, tempat bejana atau air untuk minyak ini menandakan kehidupan yang sangat sederhana. Mereka juga orang – orang yang enjoy atau santai (Common Sense). Bapa padang gurun juga bukan master yang harus dipuja, tetapi mereka hanya memberi arahan yang baik. Dan biasanya para murid dan orang – orang yang meminta perkataan – perkataan yang baik sperti :“Katakanlah kepada ku sebuah perkataan.” Junior biasanya datang kepada senior dan berkata : “Katakan suatu perkataan” Lalu Bapa Spiritual Fathersnya akan memberika perkataan – perkataan singkat. Pertanyaan yang biasanya mereka tanyakan adalah bagaimana caranya kami dapat diselamatkan?
Silents (Hening)
Pengajaran yang paling penting yaitu tentang Doa. Karena ini merupakan jantung dari kehidupan mereka. Inti dari kehidupan mereka adalah Stillnes atau keheningan. Hening adalah keadaan dimana kita harus diam berada didalam hadirat Tuhan. Kita akan mempelajari tiga hal. Pertama adalah Sel, artinya kita menempatkan diri kita dihadapan Allah. Artinya silent yang selalu penuh. Matius 6:6 “Masuklah dalam kamar dan tutuplah pintu.” Kita tidak kosong tetapi penuh dengan suatu pengharapan yaitu Allah akan datang. Kita menjadi diam atau Silents baik dari gosip atau yang lainnya. Didalam silents ini ketika kita menutup pintu sel kita, disitulah kita dapat mencapai repost atau menjauh dari hal-hal dunia.
Bagaimana kita dapat diam ditengah dunia ini yang sibuk dengan banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan, apakah mungkin desert fathers ini relevan untuk sekarang? Inilah jawabannya, tubuh bisa saja sibuk dalam waktu 24 jam, tetapi cobalah untuk meluangkan waktu 5 menit saja untuk hening sejenak atau bersekutu dengan Tuhan. Tetapi jika tubuh kita tidak bisa rest atau silent maka kita tidak dapat masuk kedalam keheningan atau silence. Jadi, ketika kita masuk dalam keheningan atau kamar, kita tidak berbicara tentang tubuh saja tetapi jiwa dan roh juga masuk karena ini merupakan bagian yang tidak terpisah.
Jika tubuh kita sibuk bekerja, bagaimana dengan hati dan jiwa kita? Itu yang harus kita latih untuk belajar diam didalam hadirat Tuhan. Setelah kegiatan kita selesai, cobalah untuk merepost diri dengan cara hening didalam hadirat Tuhan. Silence menjadi satu isi dari Hesikia karena pribadi kita dan Allah ada didalam keheningan. Sehingga Silence menjadi konten dari Hesikia yang menuju kepada keselamatan. Ada satu perkataan yang mengatakan jika kamu ingin diselamatkan maka kejarlah kemiskinan dan Silence (Hening) karena dari siniliah kunci dari kebajikan. Itu semua dicapai dengan silence (hening). Ketika seseorang sudah Silence dan mencapai Hesikia.
Karena Allah itu melampaui waktu, Dia tidak hanya dijumpai dalam waktu tertentu karena Dia ada diruang waktu. Jadi Hesikia jalan untuk mencapai masuk kedalam kerajaan surga. Jika kita bersama dengan Tuhan maka kita berada dalam kerajaan surga. Ibu dari pertobatan yaitu dengan silent kita punya satu kekuatan untuk menenangkan dari logismoi atau pikiran jahat. Dan kita belajar untuk menjadi rendah hati. Jadi mengendalikan pikiran kita dan menjauhkan kita dari dunia. Luar biasa jika kita sudah mencapai Hesikia. Mari kita mencoba untuk hening. Tutuplah pintu itu juga berarti kita menutup panca indera kita. Jadi pada akhirnya silence itu berarti keadaan hati, dan pikiran kita dihadapan Allah.
Kita tidak akan bisa mendengarkan khotbah atau Firman Tuhan jika kita tidak bisa silence atau hening. Silence sangat menolong kita untuk masuk didalam hadiratNya. Ketika kita marah maka mari masuk kedalam sel kita, dan jangan terprovokasi dengan keadaan sekitar kita. Ketika kita bisa tenang maka Allah akan memberi kita Anugerah dan kekuatan.
Sumber : Youtube Hendi Wijaya “The Spiritual of Desert Fathers” https://youtu.be/FT4IMBj60ZI
Nama : Elizabeth Situmorang
Semester : 7
Mata Kuliah : “Spirituality of Desert Fathers”
Dosen : Dr. Hendi Wijaya S, s