Eksegesis Kitab Kidung Agung 1 : 9-10

Kitab suci dibaca dengan 4 lensa yaitu:

  1. Historia (konteks sejarah)
  2. Spiritual (rohani)

Artinya didalam konteks mengandung roh atau esensi. Kita harus bisa menangkap pribadi serta perkataan Kristus dan karya-Nya bagi kita sebagai gereja-Nya (christ centered & eclesial).

3. Moral / Psychic / Good Works

Doktrin yang akan mengajarkan kita kepada perbuatan – perbuatan baik. Jadi ketika kita membaca kitab suci maka yang kita temukan adalah Kristus &Gereja diberikan kepada manusia untuk menjadi sempurna.

4. Anagogic

  • Terjemahan Literal Kidung Agung 1: 9- 10

9Aku membandingkan kamu, kekasihku, dengan kuda betinaku dari kereta – kereta Firaun. 10 Pipimu cantik seperti burung perkutut dengan perhiasan – perhiasan menjadi cantik lehermu cantik seperti kalung – kalung.

Ayat 9 kata Aku adalah subjeknya sedangkan membandingkan kamu, kekasihku, dengan kuda betinaku dari kereta – kereta Firaun merupakan predikatnya. Ayat 10 Pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut merupakan subjeknya.

  • Syntatic Content : Kidung Agung 1:9-10
  • Aku membandingkanmu, kekasiku, dengan kuda betina dari kreta – kereta Firaun
  • Pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut
  • Lehermu cantik seperti kalung – kalung.

Kemudian kita harus menemukan spiritual meaningnya didalam ayat ini.

Konteks Historis

Historia

  • Aku membandingkanmu, kekasiku, dengan kuda betina dari kereta – kereta Firaun

Apa arti Homoyosa kata kekasihku diumpamakan sebagai kuda betina? Jika kita mengingat kisah Nabi Musa menolong bangsa Israel saat melewati laut merah ia membelah laut tersebut sehingga bangsa Israel selamat dan kereta – kereta Firaun hanyut. Interaksi dengan teks – teks lain seperti 2 Tawarikh 1:17. Kemudian masukkan pendapat dari Bapa – bapa gereja seperti Origen. Menurutnya, kata kekasihku di alegoriskan sebagai gereja atau orang – orang percaya. Lalu Origen mengatakan mempelai perempuan (mempelai Kristus) ini harus dilihat oleh mystical interact yaitu saat mengejar orang Israel ada kuasa Firaun atau si jahat. “Akan ada si jahat yang akan mencobai orang – orang kudus Allah. Kuda – kuda Firaun itu menggambarkan roh jahat atau iblis.” Kuda – kuda inilah yang menggambarkan si jahat atau ini merupakan kuasa dari iblis.

Kemudian baca Habakuk 3:8 ; 2 Raja – raja 6:16-18. Origen mengatakan bahwa, “Ini merupakan kuda – kudanya Allah.” Dalam Matius 11:30 kata kuda itu tidak selalu merujuk kepada roh – roh jahat tetapi juga merujuk kepada kuasa Allah. Wahyu 19:11-14 ada istilah seperti “Kuda Putih” Dia yang duduk diatas tahta. Kuda putih itu adalah tubuh Tuhan seperti Firman Tuhan yang berubah jadi manusia (Kristus). Kuda putih digambarkan sebagai tubuh dan kehidupan sekaligus. Dalam kuda putih tadi Ia menguduskan dirinya. Jadi, kita lihat bahwa kuda Firaun berarti, kuda – kuda Firaun harus melewati kalvari (penyaliban) dan kuda – kuda kawanan Allah harus memikul kuk yang harus dialami oleh penunggangnya. Kemudian, dibersihkan oleh air yang murni.

Jika kita diumpamakan seperti kuda – kuda Firaun, maka kuda itu harus  disucikan dengan air. Air yang dimaksud adalah air yang menguduskan kita. (Roma 6:6-7) hal ini terjadi ketika orang itu telah mengalami baptis didalam Kristus. Artinya setlah dibaptis dalam kematian, penguburan dan kebangkitan seperti kuk itu diangkut akhirnya orang itu telah bebas dari dosa dan akhirnya mengikuti kuda – kuda putih. Seperti Kristus yang datang menyelamatkan orang – orang yang berdosa.

Kesimpulan

Kuda – kuda itu melambangkan kereta Allah yang harus disucikan menjadi kuda – kuda putih (Wahyu 19:11-14).

  • Pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut

Kemudian pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut, apa maksud dari perkataan ini? Kita baca pendapat Rasul Paulus tentang ini dalam 1 Kor. 12:14-1.  Ini merupakan cerita tentang tubuh sebagai kepala dan badan sebagai anggota tubuh. Efesus 5:21-27 mempelai Kristus yang adalah gereja disebut sebagai tubuhnya, dan anggota – anggotanya. Semua anggota tubuh termasuk “Pipi” merujuk kepada gereja yang cantik artinya berintegritas. Mengapa disebut pipinya cantik? Pipi memang bagian dari anggota tubuh Kristus dan anggota tubuh itu disebut gereja. Salomo tidak menuliskan betapa cantik pipinya artinya ada semacam proses yang harus dilewati. Pipimu menjadi cantik karena dicium oleh ciuman Kristus, ini merupakan pendapat dari Origen.

Cantik dalam pengertian suci dan bersih ini melambangkan seperti burung perkutut. Karena burung perkutut itu sepasang, seperti laki – laki dan perempuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika mereka dipisahkan, maka dapat membunuh salah satunya. Seperti gambaran dalam Efesus 5 Kristus dan gereja tidak dapat dipisahkan. Inilah yang akan menjadi gaya pernikahan kita, seperti suami dan isteri. Makna rohani yang tersembunyi adalah Figuratif Alegoris yang artinya gereja tidak dipisahkan dengan Kristus.

  • Lehermu cantik seperti kalung – kalung.

Leher itu tempat untuk meletakkan kuk (beban). Kata leher ini menunjukkan suatu ketaatan laki – laki itu (obedience of christ) baca Matius 11:29. Sekarang, kuk dibebankan kepada kita ini menjadi beban gereja. Kuk dipasang oleh mempelai laki – laki dan dipasangkan kepada kita yaitu mempelai perempuan. Ketaatan itu seperti kuk yang sulit dipikul. Kuk yang dipasang kepada Kristus dan kita sama. Leher yang menunjukkan kuk itu cantik. Hal ini diumpamakan sebagai perhiasaan. Apa arti kalung – kalung? Kalung – kalung adalah untaian emas. Leher itu sebagai ketaatan untuk menjalani ketaatan untuk itulah Tuhan memberikan kuk, sedangkan untaian – untaian itu merupakan keindahan atau kecantikan. Leher itu adalah gereja yang merupakan ketaatan kita sedangkan kalung adalah Kristus yang mempercantik diri kita.

Kesimpulan

Leher dan pipi merupakan gambaran dari gereja. Tetapi leher dan pipi kemudian berproses menjadi cantik dan bergantung sepenuhnya kepada Kristus dengan memakai kalung. Ini merupakan Figuratif Alegoris.

Pendapat Gregory Nysssa

Kemudian kita melihat pendapat dari Gregory dari Nyssa. Nyssa juga sangat dipengaruhi oleh Origen. Sama seperti burung perkutut, leher juga diumpamakan seperti itu. Kalung digambarkan seperti lingkaran, yang merujuk kepada  suatu kemenangan seperti bisa mencapai repose, menang atas kesombongan dan hawa nafsu. Nyssa menjelaskan, kalung itu membuat leher menjadi murni dengan lingkaran mutiara. Mutiara yang diambil dari samudera sudah diproses (dilepaskan dari kerang). satu ketaatan saja tidak cukup menurut Nyssa. Jadi, satu persatu kalung (ketaatan) harus diuntai menjadi satu persatu menjadi kalung. Untuk mendapatkan sebuah mutiara tidak gampang, apalagi diuntai menjadi sebuah kalung. Amsal 1:9 kamu akan menerima mahkota bagi kepalamu. Bagi Nyssa kalung itu adalah untaian ketaatan kita kepada Tuhan. Artinya kita harus menguduskan diri supaya kita layak dihadapan Kristus.

Kemudian kuda betina tadi yang menghancurkan kuda – kuda Firaun. Akhirnya, kuda – kuda itu binasa oleh air. Artinya, tubuh kita harus dibersihkan oleh air. Ini menunjukkan kepada kita bahwa kecantikan itu merupakan figuratif atau identitas dari mempelai perempuan yang harus cantik, dan Kristus merupakan mempelai laki -laki. Jika kita menerima kuk atau kalung, artinya kita harus memikul sebuah ketaatan. Pada akhirnya, kita akan menerima kalung keindahan yang telah kita untai dengan melakukan ketaatan.

  • Konsep Teologis

Gereja yang cantik didibaratkan seperti kuda yang menang atas kuda – kuda Firaun artinya menang atas segala kejahatan dan menang dari pasukan Allah. Akhirnya, kita akan menjadi pasukan kuda putih itu. Setelah kita mengalahkan iblis, kuk itu diberikan kepada kita dalam leher kita. Lalu kita harus menjalani ketaatan (obedience) sampai akhirnya kita akan menjadi mempelai perempuan Kristus.

  • Ringkasan

Kita adalah mempelai Kristus. Kita diibaratkan seperti pipinya Kristus. Burung perkutut yang tidak bisa dilepaskan oleh Kristus. Lalu leher yang berarti sama – sama menanggung bebannya Kristus. Kalung menunjukkan kita harus menguntai kalung kita masing – masing. Kristus mempercantik diri kita atau dengan kata lain Dia memperindah gereja. Dalam hidup, kita harus mempercantik diri kita sebelum bertemu dengan mempelai laki – laki kita (Kristus). Hidup kita diibaratkan seperti mempersiapkan diri kita untuk menjadi cantik.

  • Moral

Menjalani ketaatan seperti mengalahkan hawa nafsu dan kesombongan untuk bersatu dengan Kristus.

  • Anagogic

Kita harus menjadi segambar dan serupa dengan Kristus.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Mata Kuliah : Eksegesis Kitab PL dan PB

Sumber :

dan

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai