(Kehidupan Rohani yang Sempurna)
Ada 3 pengajaran yang lalu kita pelajari tentang siapa mereka yaitu Desert Fathers. Kemudian kita sudah belajar tentang apa yang mereka kerjakan. Ketika mereka berada di padang gurun. Ketika mereka bisa masuk kedalam sel doa mereka, sampai mereka bisa masuk kedalam satu stillnes/ keheningan sehingga mencapai Hesychasm. Dimana pikiran / mind/ nous mereka turun ke dalam hati, menguasai hati mereka sehingga mereka bisa mendengar, berbicara bahkan berdoa kepada Bapa di Surga. Inilah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus juga dalam (Matius 6:6) Masuklah kedalam kamarmu, ini berarti masuk kedalam sel kita, dan tutuplah pintu, saat inilah kita melakukan silents. Kemudian tutuplah pintumu artinya kita menutup panca indera kita. Lalu berdoalah kepada Bapa inilah tandanya bahwa kita mencapai Hesychasm. 3 hal inilah yang menjadi The Object of The Exercises dari Desert Fathers.
Apa tujuan mereka melakukan itu? Tujuan mereka adalah mencapai keselamatan. Konsep keselamatan yang dimaksud oleh Desert Fathers yaitu ada 2 yaitu The Immediate Salvation dan Ultimate Salvation. Immediate Salvation yaitu Monastic Life, kehidupan sel doa mereka yang bisa mencapai suatu keselamatan. Mereka berbicara tentang akhir dari bersatu dengan Kristus didalam satu keheningan, silents, berdoa hesychasm kepada Allah.
Ada banyak logismoi yang mengganggu atau menggoda sel doa para Bapa Desert Fathers. Mereka adalah orang – orang manusia biasa seperti kita. Namun, mereka lebih memilih menjalani kehidupan asketis yang ketat untuk mencapai spiritual perfection. Apa itu Spiritual Perfection? Nanti kita akan melihat bebrapa kutipan bagaimana Bapa Gurun mencapai Spiritual Perfection. Tentu setiap orang dialam area kehidupan dunia ini, ingin mencapai kesempurnaan, tetapi selalu ada hambatan yang disebut dengan Logismoi.
Apa yang dilakukan oleh Desert Fathers adalah semua perjuangan didalam batin atau hati mereka. Jadi, kalau mereka ingin mencapai kesempurnaan, dimulai dari hati mereka atau roh mereka itu juga selalu muncul dari logismoi yang juga pikiran – pikiran batin yang dihasilkan dari hati itu sendiri akibat dari godaan atau passion yang selalu masuk. Accidia dan Porneia adalah 2 logismoi utama yang paling menyerang Para Desert Fathers. Namun, Bapa Padang Gurun ini tidak pernah menyerah, mereka selalu berusaha, mencari hikmat, mencari tuntunan dan bimbingan kepada senior – senior mereka. Itulah sebabnya ada banyak perkataan – perkataan yang muncul, bukan suatu perkataan yang panjang, tetapi suatu perkataan – perkataan singkat yang lalu dimasukkan kedalam hati, lalu mereka melakukannya sampai mereka benar-benar mencapai kesempurnaan. Jadi, mengapa kita harus membangun sel, silent atau hesychasm? itu semata – mata untuk mencapai Spiritual Perfection.
Rasul Paulus menulis dalam Efesus 4:13 bahwa, “Setiap orang khususnya kita orang percaya bahkan semua orang yang mengejar kesempurnaan, tetapi bagi kita orang percaya kesempurnaan itu berbicara masalah Spiritual Learn artinya kesempurnaan bukan bersifat fisik, tetapi hakiki atau roh, yang kemudian bisa kita capai dengan kehidupan Monastic (biara) yang sungguh-sungguh, sampai mencapai kesempurnaan dunia atau ini disebut Immediate Salvation atau Spiritual Perfection.” Kehidupan yang akan datang adalah kesempurnaan tubuh, baik secara jasmani dan rohani. Kita percaya bahwa ada kebangkitan dari antara orang mati, artiny, ada kesempurnaan jasmani. Kita diciptakan secara materi atau fisik juga dari alam ini. Tuhan menciptakan kita dari debu dan tanah. Debu dan tanah itu merupakan alam dari cipataan Alah.
Sehingga ciptaan Allah pada akhirnya komposit menjadi sempurna dan mulia didalam kerohanian kita. Baik spiritual yang Attainable yang bisa dicapai dalam Monastic life atau kehidupan batin kita didunia ini nanti akan ditambahkan kedalam kehidupan jasmaniah kita yang akan menjadi sempurna. Rasul Paulus berkata bahwa, “Yang penting aku diperbaharui dari hari ke hari walaupun, kehidupan lahiriah saya akan mengalami komposit (makin lama makin mendkeati kepada kematian) atau kembali kepada tanah atau kematian (2 Kor. 4). Tetapi yang penting roh ku diperbaharui dari hari ke hari sehingga mencapai The Measure of God atau supaya aku semakin sempurnaseperti Kristus.” Jadi, jika kita ingin sempurna seperti Kristus maka, kehidupan rohani kita juga harus sama seperti Kristus. Sehingga hampir sama serupa dengan Kristus (1 Yoh. 3:2) Apa yang diajarakan oleh Desert Fathers adalah mungkin tubuhnya makin hari makin menurun tetapi rohnya akan penuh oleh Kristus.
Karena kita percaya pada kebangkitan Kristus yang kedua, maka disaat itulah kita akan dibangkitkan dan tubuh, jiwa dan roh kita menjadi serupa dengan Kristus. Jadi, jika ingin menjadi sempurna didalam kehidupan yang sekarang ini kita harus memenuhi tubuh, jiwa dan roh kita didalam Kristus. (Efesus 4:13; 1 Yohanes 3:2 ). Itulah Spiritual Perfection yang mereka kerjakan didalam sel doa mereka. Lalu kita akan mencapai the Fullnes of Perfection atau kesempurnaan yang penuh sama seperti Kristus. (1Yohanes 2; Roma 8:29; 1 Korintus 12:12) Dikatakan kita semua akan menjadi serupa dengan AnakNya yaitu rupa Kristus. Kenapa? Karena didunia ini kita sudah mengenakan pakaian yang baru, tinggal isinya yaitu Spiritual (Kerohanian). Bagaimana didalam jiwa dan roh kita semakin serupa dengan Kristus? Kita diciptakan Allah didalam kekudusan (Efesus 4:13).
Maximus mengatakan, “Tubuh akan menjadi sempurna didalam jiwa kita. Kita akan dibuat ilahi oleh Allah dan disempurnakan oleh Anugerah Allah. Kita akan menjadi manusia yang sempurna baik tubuh dan jiwa. Tubuh dan jiwa kita akan menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Oleh AnugerahNya kita dapat merasakan energiNya ketika kita berdoa kepada Allah. Ketika kita berdoa, berarti kita menjemput Anugerah Allah.” Untuk apa kita berdoa? untuk menerangi hati kita. Sehingga didalam hati kita terang yang bersinar akan terpancar keluar maka tubuh kita akan bersinar. Inilah latihan rohani yang dikerjakan oleh Bapa Padang Gurun. Perfection yang akan besinar itu seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam (Matius 17:22-23) bahwa kita akan membagikan kekekalannya kepada orang lain. Kita bisa menyatu dengan Allah baik kita dengan Allah mengalami Deification (Menjadi serupa dengan Kristus).
Jadi, menurut Tuhan Yesus kita diciptakan untuk menjadi sama dengan Dia. Maximus mengatakan “Inkarnasi Tuhan itu menjadikan Tuhan menjadi manusia.” Jadi, Anugerah membuat kita yang awalnya manusia menjadi Anak Allah. Kita adalah manusia tetapi didalam putera itu. Sehingga kehidupan kita adalah kehidupan yang mencapai Deification. Apa yang ditekankan oleh Desert Fathers tentang Deification atau Perfection ini? Kehidupan rohani kita adalah untuk mengubah kekuatan kita supaya kita bisa melawan dosa dan melakukan hal – hal yang baik. Vladimir Lossky mengatakan, “Berdoa, berjaga – jaga serta berpuasa dan semua pekerjaan baik yang kita lakukan didalam Nama Kristus Yesus bukan hanya sekedar berbuat baik, tetapi ini merupakan usaha kita untuk memperoleh Roh Kudus. Ketika kita melakukan semuanya itu tanpa Kristus maka tidak ada hasil yang kita peroleh.” Jadi, semua yang dilakukan oleh Para Desert Father adalah semata – mata bergantung pada Tuhan untuk mengejar kesempurnaan.
Rasul Paulus mengatakan didalam 1 Kor. 3 kita harus membangun keatas. Dasarnya sudah dibangun yaitu Kristus. Seperti yang Tuhan Yesus ajarkan jika kita mendengar dan mengerjakan itu ibarat seperti orang yang sedang membangun bangunan diatas batu (pondasi) jika terjadi bahaya atau banjir, angin topan dan krisis. Kepada rumah itu maka, rumah itu akan kokoh berdiri. Sebab pondasinya sangat kokoh yaitu batu. Ketika kita membangun pondasi kehidupan rohani kita semakin baik, dan sukses tetapi ketika pondasi kita menggunakan pasir, apabila ada badai krisis didalam hidup kita seperti kata Tuhan Yesus didalam Matius 7, rumah itu akan hancur dan kehidupan rohani kita juga akan hancur, roboh dan binasa mengapa? Karena pondasinya bukan batu melainkan pasir yang lemah.
Apa itu pondasi batu? Didalam 1 Kor. 3 dikatakan pondasi batu adalah Kristus itu sendiri. Lalu dipertegas lagi di dalam Matius 7 pondasi batu yang adalah Kristus itu adalah mendengar yang Yesus katakan. Bapa Anthony juga seperti itu, mengapa dia memutuskan untuk menjadi seorang Rahib? Jika kita membaca biografi kehidupannya, dia mendengar perkataan Tuhan Yesus ketika berkata kepada seorang yang kaya “Kamu juallah seluruh hartamu, berikan itu kepada orang miskin, lalu datang dan ikut Aku.”Inilah yang di praktikan oleh Bapa Anthony seorang Rahib. Dia mengatakan apa yang Tuhan Yesus katakan. Artinya, Bapa Anthony sedang melakukan kehidupan rohaninya diatas batu. Sehingga, ketika dia membangun keatas saat diserang oleh Accidia tau Logismoi dia bisa lewati dengan Tuhan. Jadi, akhir dari kehidupan rohani kita sebagai umat Kristen bukanlah didalam doa, Silence atau Hesychasm, tetapi itu hanya menjadi sarana untuk menjadi anak Allah oleh Anugerah yang menjadikan sempurna.
Setiap rencana kita ingatlah kita tidak boleh terpisah oleh Anugerah Tuhan. Karena itulah yang semakin mendewasakan roh kita didunia ini sehingga tubuh kita didunia ini akan dimuliakan. Nanti pada akhirnya tubuh kita akan menjadi tubuh yang mulia tetapi proses perjuangan itu terjadi ketika kita sudah lahir baru. Lahir baru terjadi ketika kita sudah di baptis, saat itulah kita sudah mengenakan pakaian baru. Bagian dalam tubuh inilah yang harus di ubah dan di dewasakan terus dibangun diatas pondasi batu (Kristus) yaitu mendengar dan melakukan perkataan Kristus. Apa yang menjadi pengalaman Desert Fathers ini adalah pengalaman yang Yesus katakan “Kamu membangun hidupku diatas perkataan Ku.” Inilah yang disebut pondasi Kristus dan ini juga yang sedang dikerjakan oleh Para Bapa Padang Gurun dengan bersinergi oleh Anugerah Tuhan, sehingga Tuhan memberikan kekuatan untuk melawan Logismoi, sehingga setiap saat mereka terus bertumbuh dan dewasa didalam Kristus seperti didalam Efesus 4:14.
Ada seorang yang bertanya pada Bapa Anthony dia berkata “Dengan cara apa saya bisa menyenangkan Allah?” Lalu Anthony berkata, “Perhatikan apa yang aku katakan, selalu ingatlah akan Allah kemanapun kamu akan pergi. Apapun yang kamu lakukan, lakukan sesuai kitab suci, dimanapun kamu hidup jangan terburu-buru dan kamu akan diselamatkan.” Kemudian Bapa Pambo bertanya kepada Bapa Anthony, “Apa yang harus aku lakukan?” Kemudian Anthony mengatakan, “Jangan bergantung pada kebenaran mu atau penilaian mu sendiri, jangan menyesali perbuatan lampau mu, tetapi kuasailah lidahmu dan perutmu.” The blessed Gregory mengatakan bahwa, “Mengoreksi iman dari jiwa kita, perkataan yang benar, dan menguasai tubuh ini merupakan tiga hal yang harus kita lakukan ketika sudah dibaptis.” Bapa Evagrius mengingatkan juga “Jadi, jika kita bisa mencapai doa yang sungguh – sungguh dengan kasih maka kita akan mencapai Apatheia (Kita diberikan hidup kudus untuk melawan logismoi atau dosa).
Bapa Zakaria bertanya kepada Bapa Macarius, “Apa tugas seorang biarawan?” lalu jawab Bapa Macarius, “Kuasailah dirimu tanpa henti.” Bapa Yesaya berkata, “Jadi, yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Tuhan, doa tanpa henti, hidup kudus, jangan menyerahkan dirimu kepada kejahatan, rendah hati, dan ketaatan. Inilah hal – hal yang perlu kamu bangun untuk melakukan perbuatan baik. Jadi, berdoa tanpa henti meminta pertolongan Allah dalam segala hal.” Inilah cara yang dilakukan oleh Bapa Yesaya untuk mencapai kehidupan rohani yang sempurna atau Spiritual Perfection.
Bapa Yesaya juga berkata “Jika kamu juga ingin mengikuti Tuhan Yesus, ikutilah perkataanNya, jika manusia lama mu juga ikut disalibkan dengan Dia sampai kamu mati, maka kamu harus memotong semua hal yang bisa membuatmu turun dari salib itu.” Jadi Para Bapa Padang Gurun mengatakan bahwa kerendahan hati, repose, silence, dan maintance silence, merupakan tujuan dari kehidupan rohani yang sempurna. Bapa Yesaya juga mengatakan, “Bahwa bencilah hal – hal yang ada di dunia ini, kemudian menyingkir, beristirahat karena itulah yang menjadi musuh Allah.” Repose itu bisa dicapai ketika kita bisa melakukan kerendahan hati, hasilnya kita benar – benar mengistirahatkan hati kita dari godaan dunia seperti logismoi, hawa nafsu dan keinginan – keinginan daging.
Repose itu sudah dicapai ketika hesikia sudah berjalan. Ini adalah level dimana kita sudah mencapai level yang lebih tinggi. Kita butuh belas kasihan Allah didalam doa yang tanpa henti. Seorang Bapa bernama Anonymous berkata, “Ketika kita mulai berusaha, kita sudah masuk kedalam satu repose.” Bapa Sisoes berkata, “Tinggalkan semua kehidupan duniawi, jangan khawatir tentang apapun juga, kemudian repose. Jika kita belum bisa mencapai repose maka kita tidak bisa menyingkirkan logismoi.” Kemudian seorang pengurus gereja mengatakan, “Tetaplah berada didalam sel doa mu, berdoa tanpa henti kepada Tuhan, dan takut akan Allah akan mengitari hatimu. Usirlah segala sesuatu yang berdosa atau iblis.”
Bagaimana kita bisa mencapai Repose? Bapa Poeman berkata, “Jika kita dapat membenci dua hal yaitu hal – hal kedagingan dan kesombongan kita bisa mencapai Repose.” Selalu ada usaha yang kita lakukan untuk mengalahkan dosa. Bagaimana kita memiliki ekspetasi untuk mencapai repose? Dengan cara menghilangkan seluruh keinginan daging kita. Bapa Anthony mengatakan, “Dengan takut akan Allah kita selalu takut akan kematian, marilah kita membenci akan dosa ini dan marilah kita terus menangisi dosa kita sampai kita bis menemukan Allah, marilah kita membenci daging kita sehingga jiwa kita bisa diselamatkan. Dengan repose kita bisa hidup dengan Allah melalui hesikia yang merupakan jalan dari repose.” Jadi, Repose ini adalah posisi hati kita benar – benar menyingkir dari hal – hal duniawi dan tidak terkontaminasi dari dosa.
Bapa Yesaya mengatakan bahwa doa yang dicatat didalam Injil inilah untuk kesempurnaan. Jadi, didalam nama Allah tidak dapat dikuduskan jika kita masih dikuasai oleh dosa. Ketika kita berdoa Dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu itu artinya kita meminta Tuhan (Kerajaan Allah) untuk datang kedalam hati kita. Jadi kerajaan itu datang bukan dari tampilan fisik tetapi secara rohani bertahta didalam hati kita. Bagaimana Dia bisa bertahta didalam hati kita? Bapa Yesaya mengatakan bahwa, “Inilah kesempurnaan kekudusan kita, sebab jika kita masih dikuasai oleh nafsu, bagaimana Allah bisa dikuduskan?” Theodora mengatakan bahwa ada 3 hal yang kita butuhkan yaitu Aseksis (Latihan disiplin rohani), kehidupan yang sederhana, kemudian Repose (Menyingkir dari kehidupan duniawi) sampai kita mencapai kesempurnaan. John Colobos berkata, “Ketika kamu bangun pagi setiap pagi, lakukanlah satu kebajikan oleh perintah Allah dengan takut, kerendahan hati, menangisi dosa, berdoa dan tahan menderita dengan kasih akan Allah.” Artinya kita renounce dari hal -hal jahat masuk kepada hal – hal yang baik. Kita juga berpartisipasi dengan kesmpurnaan dari bangun sampai kembali tidur dikamar tidur kita.
Sorrow For Sin
(Penyesalan untuk Dosa)
Ketika kita bisa berdoa dan berbicara kepada Allah, maka pada akhirnya kita akan menangisi dosa – dosa kita. Inilah yang diajarkan oleh bapa Desert Fathers kepada kita yaitu dimulai dari Hesikia. Tujuannya untuk mencapai kesempurnaan rohani (Spiritual Perfection). The Object of Exercisenya adalah Silents, Cell dan Hesychasm. Konten dari Hesikia adalah pertobatan, dan penyesalan akan dosa, kasih, diakrisis, pengendalian diri, pengharapan, dan ketaatan. Bapa Anthony berkata bahwa, “Dengan takut akan Allah, dihadapan mata kita marilah kita diingatkan selalu takut akan kematian dengan cara menjauhi dunia. Ini adalah konten dari Hesikia kita harus mencapai titik dimana kita menangisi dosa. Evagrius berkata, “Tetaplah didalam sel mu satukan pikiran mu, ingatlah akan hari kematian, ingatlah akan tubuhmu, akan ada malapetaka, kesakitan, kesia-siaan akan dunia ini, berjaga – jaga dan semangat yang tidak pernah padam.” Pikirkanlah apa yang terjadi apabila kita mati nanti. Ini juga merupakan konten dari Prayer atau Hesychasm.
Kemudian Bapa Arsenius mengatakan ketika sepanjang hidupnya duduk, bekerja dengan tangannya dan menangisi akan dosa – dosanya. Lalu seorang saudara bertanya kepada Bapa Ammonas “Katakanlah sesuatu kepadaku Bapa?” lalu Bapa Amonas berkata, “Pergilah, terangi dan panasi pikiranmu. Jadi, ingatlah aku akan bertahan berdiri dihadapan Kristus jika kamu bisa melakukan itu maka kamu akan dibebaskan dan kamu akan diselamatkan.” Sorrow for sin itu penting untuk mengingatkan kita akan kematian, kemalangan dan keadilan Allah. Jadi, pergilah kepada orang – orang jahat itu tanyakan kepada mereka kenapa mereka dipenjara? Mereka akan menjawab mereka disidang karena berbuat jahat. Practical Matter yang dapat kita kerjakan yaitu ingatlah akan kematian kita terhadap pengadilan Kristus.
Kemudian Bapa Theodora berkata, “Ketika kamu sedang duduk didalam sel mu, fokuskan pikiran mu dan ingatlah bahwa kamu sedang dihadapan Allah. Bayangkan hal yang mengerikan yang akan terjadi kepada semua orang berdosa. Dalam Markus 9:48 yang terjadi adalah penghakiman dan itu terjadi kepada semua orang yang berdosa, akan ada api yang tidak bisa padam, cacing yang tidak bisa mati, ada Tartarus atau Neraka sementara. Akan ada kertakan gigi dalam Matius 8:12. Inilah yang harus kita ingat dari silents tadi. Silents bukan berarti melamun tetapi kita membayangkan apa yang terjadi ketika hari penghakiman itu terjadi kepada kita. Kemudian majulah, bawalah hal – hal yang baik didalam hatimu akses kepada Allah dan segala orang – orang kudusnya, kemudian nikmatilah itu. Jadi, kita harus meratapi hal – hal yang membuat kita akan masuk dalam penderitaan, kita harus sedih tetapi di satu sisi kita juga harus rejoice (gembira) dengan hal – hal yang baik.
Seperti ketika tangan kita hendak menyentuh api ada perasaan takut yang kita rasakan, demikian juga ketika kita dihadapkan kepada hal – hal ynag mendatangkan dosa maka kita juga harus takut. Bapa Elijah berkata, “Aku takut akan tiga hal ini, ketika jiwaku keluar dari tubuh ini artinya aku akan mati dan aku akan bertemu dengan Allah dan hukuman itu akan diberikan kepadaku.” Hal ini yang harus kita tangisi yaitu penghakiman dari Allah lalu terus – menerus meminta belas kasihanNya. Bapa Yesaya mengatakan bahwa, “Dia yang berada didalam Hesikia harus takut akan Allah, sehingga dosa itu akan menyingkir dari hati kita.” kemudian murid dari Bapa Yesaya mengatakan, “Saya mengunjungi Bapa Yesaya ketika dia sakit dan menemukannya dan dia sangat menderita, apa yang engkau takutkan? Kemudian ia menjawab, “Membayangkan aku tidak bisa repose.”
Kemudian ia juga berkata bahwa, “Tubuh, selalu mencari kesehatan tetapi berbalik untuk melawan Allah. Tapi apakah akar dari sebuah tanaman yang disiram setiap hari akan mati, menjauh dan tidak menghasilkan buah? Mari kita mengingat, semakin kita hidup benar semakin kita dekat dengan Allah maka semakin kita dapat mematikan kedagingan itu. Kemudian Bapa Petrus berkata, “Apa artinya takut akan Allah?” Seorang yang tidak takut akan Allah itu sendiri.” Para Bapa Padang Gurun selalu memberikan nasehat yang praktis kepada kita. Misalnya Bapa Yusuf mengatakan melakukan perbuatan yang baik, takut akan Allah, memuliakan Allah, menghormati Allah. Kemudian ia juga berkata bahwa ketika kamu sakit, dan dicobai. Terimalah hal itu dengan ucapan syukur, itu yang pertama. Kemudian, cepatlah untuk memperbaiki kesalahan dan cepat untuk menangisinya dengan tangisan. Semua yang kita lakukan hanya untuk memuliakan Dia dan bukan untuk mencari muka kepada orang lain. Lalu duduklah dalam satu ketaatan, carilah Spiritual Father dan renounce keinginan – keinginan kita. Jadi, bagaimana kita menyingirkan hal – hal dunia? Caranya kita masuk kedalam suatu tangisan, kita menangisi dosa – dosa kita. Bapa Anthony berkata, “Ketika kita hilang dari sel doa, maka kita seperti ikan yang keluar dari kolam. Artinya kita kehilangan determinasi atau ketakutan akan Allah.” Penting untuk diingat bahwa ketika kita menangisi dosa mintalah sebuah keselamatan supaya kita selamat dari dosa – dosa kita.
Nama : Elizabeth Situmorang
Tingkat : 3 Semester 7
Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers (Part IV)
Dosen : Dr. Hendi Wijaya S.s
Sumber :