Orthodoxy & Heterodoxy (Part II)

Pakaian Pesta

(Matius 22: 1-14)

22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 22:2 “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh  itu dan membakar kota mereka. 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan r  dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, s  sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih – pilih.

Ini merupakan narasi yang diajarkan oleh Kristus kepada kita. Ayat 2 hal kerajaan surga seumpama narasi. Jadi narasi ini mengandung sebuah ajaran kerajaan surga. Kita harus mengerti tentang hal ini. Kita tidak bisa membaca teks ini karena teks ini tidak bisa dilepaskan dari Spiritual meaning (makna rohani).

Seorang raja mengadakan perjamuan pernikahan atau perkawinan untuk putranya, dia mengirim undangan satu kali untuk mereka yang diundang datang, mengirim dua kali, tetapi karena kepedulian pada hal-hal duniawi mereka tidak datang — satu sibuk di rumah, yang lain dengan bisnisnya. Jadi sudah dua kali diundang tetapi tidak datang. Undangan baru dibuat untuk orang lain, bukan untuk mereka, dan akhirnya ruang perkawinan dipenuhi dengan para tamu. Di antara mereka ditemukan seorang yang tidak berpakaian pesta dan sebab itu ia diusir. Makna dari perumpamaan ini jelas: perjamuan kawin adalah Kerajaan Surga, undangannya adalah pemberitaan Injil, yang menolak adalah mereka yang tidak percaya sama sekali, dan yang tidak berpakaian pesta adalah orang percaya tetapi tidak hidup menurut iman.

Masing-masing kita harus mencari tahu sendiri yang mana kategori kita. Apakah kita orang percaya namun sama sekali tidak berpakain pesta. Seseorang sama sekali tidak berpikir tentang iman, seolah-olah itu tidak ada; yang lain mengetahui undangan tapi merasa sudah puas dan tidak mengindahkannya; yang lain menafsirkan iman dengan cara yang menyimpang; yang lain bermusuhan total dengan membunuh hamba-hamba raja itu. Ini semua dianggap orang-orang Kristen, meskipun mereka sama sekali tidak memiliki apapun yang disebut Kristen. Jika kamu percaya, cari tahu apakah perasaan atau perbuatanmu sesuai dengan imanmu — ini adalah pakaian jiwa yang dengannya Tuhan melihat kamu berpakaian pesta atau tidak. Kita mungkin mengetahui iman dengan baik dan bersemangat untuk itu tetapi dalam kehidupan nyata kita justru melayani nafsu, berpakaian jiwa yang memalukan yang mencintai dosa. Orang-orang seperti itu hidup menginkari apa yang ada di dalam hati. Mulut mereka berkata “Tuhan, Tuhan!” tetapi dalam perbuatan mereka mengingkari Tuhan. Ujilah diri kita sendiri, apakah kita beriman dan mengenakan pakaian pesta karena kebajikan atau mengenakan pakaian compang-camping dosa dan nafsu.

Seorang saudara bertanya kepada salah satu Bapa Gadang Gurun, “Apa hidup itu?” dan sebagai jawaban dia berkata, “Mulut yang jujur, tubuh yang kudus, hati yang murni, pikiran yang tidak duniawi, bernyanyi mazmur dengan ratapan karena dosa, hidup dalam keheningan, dan selalu berpengharapan kepada Tuhan.” Inilah pakaian pesta yang diinginkan oleh Allah. (1.35) Kemuidan seorang abba berkata, “Marilah kita melatih kelembutan dan panjang sabar, ketekunan, dan kasih, karena di dalam inilah para biarawan ada.” Dia juga berkata, “Definisi orang Kristen adalah meneladani Kristus.” (1.36, 37) dalam kerajaan surga orang itu wajib berpakaian Kristus.

Pakaian pesta kita adalah pakaian Kristus. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20 TB). Pakaian Kristus dimana daging dan darah-Nya yang dicurahkan untuk mengundang kita masuk ke dalam pesta perkawinan. Matius 12:4 Kristus telah mengndang kita untuk masuk kedalam pestaNya. Bagaimana carannya? Harus ada undangan, artinya Kristus sudah mengundang kita untuk datang dan masuk kedalam pesta atau kerajaan sorga. Hanya saja apakah saya bersedia untuk datang atau tidak? Apakah saya sudah mengenakan pakaian pesta?

Rasul Paulus menjelaskan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27 TB). Dibaptis dalam Kristus berarti menyatu dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus (Rom 6:3-5) yaitu daging dan darah-Nya yang dicurahkan untuk kita. Dan mengenakan Kristus ini berarti mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui untuk menjadi serupa dengan Kristus (Kol 3:10; Efe 4:24; Rom 8:29; 1 Yoh 3:2). Jadi berpakaian pesta yang mahal dan mewah ini berarti kita mengenakan pakaian Kristus yaitu memakai kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus di dalam diri kita sehingga kita mengenakan kemanusiaan yang baru dan kemanusiaan baru atau pakaian baru ini adalah perlengkapan senjata terang untuk memurnikan jiwa dan tubuh kita (manusia) di hadapan Allah (Rom 13:14; 1 Tes 5:23) sehingga hidup kita menghasilkan buah Roh. Lihat juga pembahasan artikel yang berjudul

Pakaian Kristus dan Kesempurnaan

Tujuan utama hidup manusia adalah berada di dalam Kristus sebab hanya di dalam Dia manusia berada di dalam keselamatan. Di dalam Kristus berarti di dalam keselamatan. Kristus adalah keselamatan itu sendiri sebab Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru (2 Kor 5:17) atau manusia baru (Efe 4:24; Kol 3:10) yang mengenakan Kristus atau memakai Kristus melalui baptisan (Gal 3:27). Di dalam baptisan kita manunggal dengan kematian Kristus di atas kayu salib yang mengalahkan dosa (Rom 6:3). Di dalam baptisan kita manunggal dengan penguburan Kristus yang mengalahkan Iblis, sang penguasa alam maut/Hades (Rom 6:4). Di dalam baptisan kita manunggal dengan kebangkitan Kristus yang mengalahkan maut atau kematian (Rom 6:5). Baptisan di dalam Kristus berarti manusia lama kita yang mati karena dosa (Efe 2:1) turut disalibkan, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Kristus untuk memperoleh hidup baru atau manusia baru yang hidup bersama Kristus yaitu hidup yang telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah (Rom 6:3-11).

Baptisan di dalam Kristus membuat kita mengenakan Kristus. Pakaian Kristus yang kita kenakan itu adalah kemanusiaan baru yaitu kemanusiaan Kristus yang telah memperbarui kemanusiaan Adam atau kemanusiaan lama. Ketika kita memakai kemanusiaan Kristus itu maka kita menjadi manusia baru yang terus-menerus diperbarui menuju kekudusan yang sesungguhnya menurut Kristus (Efe 4:24; Kol 3:10). Kita bertumbuh ke arah Kristus menjadi dewasa seperti Kristus (Efe 4:13,15) sehingga pada akhirnya kita atau manusia baru itu akan menjadi serupa dengan Kristus (1 Yoh 3:2). Di dalam Kristus kita terus menyempurnakan manusia baru melalui pengudusan sampai kita menerima keselamatan yang seutuhnya (Efe 4:13; 1:14; Rom 6:22; Kol 3:10).

Pakaian Kristus adalah pakaian kekudusan hidup melalui penyucian diri dari segala dosa (1 Yoh 3:3). Penyucian diri baik batin dan tubuh/daging dari segala dosa adalah proses pembaruan manusia baru yang telah mengenakan kemanusian Kristus. Kemanusiaan Kristus inilah yang membungkus diri kita sehingga yang dilihat Allah adalah diri kita di dalam Kristus dan dengan cara demikian baru bisa kita disebut anak-anak Allah karena Kristus (Gal 3:26). Kristus adalah Anak Allah (1 Yoh 4:15) dan kita menjadi anak-anak Allah karena iman di dalam Kristus tadi (Gal 3:26) yang membuat kita manunggal dengan Kristus. Anak-anak Allah karena Kristus berarti lahir dari Allah yaitu lahir dari air (baptisan) dan Roh (karya Roh Kudus yang mencurahkan penebusan Kristus di dalam hati manusia Rom 5:5) (Yoh 3:5) sehingga kita memiliki benih Allah di dalam hati kita (1 Yoh 3:9). Dengan benih Allah ini maka kita ada di dalam Allah dan Allah di dalam kita untuk hidup bagi Allah sehingga sebagai anak-anak Allah kita memiliki kuasa atau energi ilahi untuk hidup kudus menyucikan diri dari segala dosa dan saling mengasihi sesama (1 Yoh 3:6,9-10). Inilah yang disebut Rasul Paulus hidup sebagai anak-anak terang yang berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran (Efe 5:8-9). Jadi, di dalam Kristus kita adalah anak-anak Allah yang lahir dari Allah dan mewarisi benih ilahi untuk hidup kudus dan mengasihi.

Pakaian atau kemanusiaan Kristus itulah yang harus menguduskan manusia lahiriah (sarkikos anthropos) dan batiniah kita (pneumatikos anthropos). Kita memakai pakaian Kristus sehingga Kristus akan memerintah dan menguasai diri kita. Seperti kata Rasul Paulus bahwa, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:19‭-‬20). Anthony Coniaris menulis tentang Rasul Paulus yang hidupnya adalah Kristus,

Ask St. Paul what made him the greatest Christian missionary who ever lived and you will hear him say, I count all things but loss for the excellency of the knowledge of Christ Jesus my Lord (Phil. 3:8). This knowledge of Jesus was not only a sound theological belief about Jesus in Paul’s mind, it was also a deep personal love relationship with Jesus in his heart, so deep and so total that he could only say that Christ was his life. For me to live is Christ. To know Christ is to live in Him and He in us.”

Penyucian atau pengudusan anak-anak Allah mencakup keseluruhan baik tubuh, jiwa dan roh. Seperti kata Rasul Paulus, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Tes 5:23); “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Kor 7:1).

Hanya dengan mengenakan Kristus kita akan mencapai pengudusan yang sempurna dan sekarang kita sedang mengusahakannya bersama Kristus sampai mencapai kesempurnaan. Coniaris menuliskan, “Salvation is not a state of being; it is the motion toward theosis, toward becoming like God, toward union with God, which can never be fully achieved here on earth. It is growth toward perfection. It is moving from sin to Christ, from slavery to freedom, from darkness to light, from falsehood to truth, from despair to hope, from death to life. And once we have reached truth, it is moving from truth to greater truth, from wisdom to greater wisdom, from joy to deeper joy, from understanding to deeper understanding, from all-embracing love to more all-embracing love. And this process goes on eternally. We can never reach the point where we can say, “Well, now I’ve made it. I just have to sit around and be perfect.”

Kristus mengajarkan bahwa kita akan menjadi sempurna sama seperti Bapa kita yang di sorga adalah sempurna (Mat 5:48). Dan ini adalah proses panjang yang dimulai dari fondasi Kristus yaitu kelahiran baru di dalam Kristus; lalu terus menerus mengalami pengudusan atau pemurnian bersama Kristus; dan pada akhirnya kita akan mencapai kesempurnaan atau menyempurnakan kekudusan kita untuk menyatu dengan Kristus atau serupa dengan Kristus. Terakhir, Coniaris menuliskan, 

“And, thank God, one day we shall be made perfect. One day we will arrive at our goal. We shall reach our heavenly Father and our true home in heaven. Then there will be no more sick and weak bodies, no more battered psyches, no more broken relationships. We will be made whole. Our sins will have been washed away completely. There will no longer be a command to be perfect, but God will breathe upon us with His Holy Spirit and declare us perfect. Then we will truly be saints, redeemed children of the living God, who by grace have become “partakers of divine nature.” Imperfect disciples now, but by God’s grace growing to become one day perfected saints in God’s Kingdom.” Amin!

Sumber: Anthony M. Coniaris, Philokalia: The Bible of Orthodox Spirituality (Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 1998

Pertobatan dan Buah Roh Kudus

Orang yang telah menerima Kristus, dibaptis dan menerima Roh Kudus memulai kehidupan baru yang dinyatakan dalam kasih melalui karya kasih. Seseorang tidak diselamatkan oleh iman saja tetapi dengan iman yang mengekspresikan dirinya melalui kasih seperti yang ditulis oleh Rasul Paulus. Rasul Yakobus bertanya, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:14‭-‬17 TB) Iman kita harus disertai perbuatan-perbuatan seperti kasih dan ini adalah perjalanan kita selanjutnya setelah kita dibaptis dan dilahirkan baru. Iman dan perbuatan-perbuatan ini harus terus kita kerjakan dalam wujud pertobatan untuk pengudusan hidup dan perbuatan baik sebagai buah Roh Kudus.

Pertobatan

…in spiritual life three stages can be discerned, which are comparable to three conversions. The first conversion is the meeting of the soul with our Lord, when He is followed as a Friend and as a Master. The second conversion is a personal experience of pardon and salvation, of the cross and…resurrection. The third conversion is the coming of the Holy Spirit into the soul like a flame and with power. It is by this conversion that man is established in a lasting union with God. Christmas or Epiphany, then Easter, and finally Pentecost correspond to these three conversions. (…

Dalam kehidupan spiritual ada tiga tahap yang sebanding dengan tiga pertobatan. Pertobatan pertama adalah pertemuan jiwa dengan Tuhan kita, ketika Dia diteladani sebagai Sahabat dan sebagai Guru. Pertobatan kedua adalah pengalaman pribadi tentang pengampunan dan keselamatan, salib dan … kebangkitan. Pertobatan ketiga adalah kedatangan Roh Kudus ke dalam jiwa seperti nyala api dan dengan kuasa. Melalui pertobatan inilah manusia didirikan dalam kesatuan akhir dengan Allah. Natal atau Epifani, lalu Paskah, dan akhirnya Pentakosta berhubungan dengan tiga pertobatan ini. Dikutip dari The Year of Grace of the Lord. By a Monk of the Eastern Church. St. Vladimir’s Seminary Press. Crestwood, NY.)

Pertobatan pertama terus berlanjut ke pertobatan kedua untuk memulihkan atau memperbarui batin dan tubuh kita supaya serupa dengan Kristus. Pertobatan inilah proses mengerjakan keselamatan atau menaiki anak tangga keselamatan oleh anugerah Allah melalui iman kita. Anugerah dan iman ini terus bersinergi menghasilkan pertobatan untuk penyucian atau purifikasi diri kita dan menghasilkan perbuatan baik dalam wujud buah Roh Kudus.

Buah Roh

Buah Roh inilah hasil dari benih iman yang hidup yang ditanam (benih itu mengalami kematian (Yoh 12:24) dalam wujud pertobatan yaitu mematikan daging atau nafsu) dan bertumbuh serta berbuah. Buah inilah hasil dari anugerah dan iman yang hidup. Anugerah adalah menempel di dalam Kristus (Yoh 15:5). Iman yang hidup adalah iman yang disertai perbuatan-perbuatan itu (Yak 2:17). Perbuatan-perbuatan itulah yang dibangun dengan landasan iman seperti yang ditulis Rasul Petrus bahwa iman disertai dengan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kebaikan kepada saudara-saudara, dan kasih (2 Pet 1:5-7). Jika ini ada dalam kehidupan kita maka hidup ini memberi buah, “For if these things are yours and abound, you will be neither barren nor unfruitful in the knowledge of our Lord Jesus Christ.” (II Peter 1:8 NKJV) Rasul Yohanes juga menuliskan, “Every branch in Me that does not bear fruit He takes away; and every branch that bears fruit He prunes, that it may bear more fruit.”(John 15:2 NKJV).

Jadi, buah Roh itu adalah hasil dari mematikan daging (matinya benih dalam wujud pertobatan-pertobatan) dan pertumbuhan iman dalam wujud perbuatan-perbuatan itu seperti yang ditulis juga oleh Rasul Paulus, “But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, longsuffering, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, self-control. Against such there is no law.” (Gal 5:22‭-‬23 NKJV).

Benih iman (Efe 2:8) + Benih Roh (Rom 5:5) = lahir dari air dan Roh (Yoh 3:5) = lahir baru menjadi manusia/ciptaan baru = lahir dari Allah menjadi anak-anak Allah (1 Yoh 3:9) = memiliki benih ilahi di dalam hati (1 Yoh 3:9).

Benih Roh adalah kasih Allah yang dicurahkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita (Rom 5:5). Kasih Allah adalah Kasih Kristus yaitu pengorbanan hidup atau nyawa Yesus untuk pendamaian dosa manusia (1 Yoh 4:9-10; 1 Yoh 3:16). Hidup atau nyawa Yesus itulah daging dan darah-Nya yang kita makan dan minum (Yoh 6:54-56). Makan dan minum adalah penyatuan kasih Allah atau hidup Yesus itu di dalam diri kita oleh karya Roh Kudus. Penyatuan itu adalah kita manunggal dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus (Rom 6:3-5) dalam baptisan air.

Baptisan air inilah dilahirkan dari air dan karya Roh Kudus inilah dilahirkan dari Roh. Roh Kudus berkarya dalam baptisan yaitu mencurahkan karya Kristus ke dalam hati kita atau penyatuan kasih Allah dengan benih iman kita yaitu kita manunggal dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus (Rom 6:3-5; Mark 16:16). Dengan kata lain baptisan adalah peristiwa perkawinan kedua benih yaitu iman dan anugerah (kasih Allah: nyawa Kristus yang dikorbankan itu) sehingga kita menjadi milik Kristus untuk berbuah bagi Dia (Rom 7:4). “Therefore, my brethren, you also have become dead to the law through the body of Christ, that you may be married to another—to Him who was raised from the dead, that we should bear fruit to God” (Rom 7:4 NKJV). Sehingga dengan perkawinan ini kita lahir dari Allah menjadi anak-anak Allah dan benih ilahi yaitu iman dan anugerah tadi ada dalam hati kita.

Benih ilahi ini harus ditanam di dalam tanah supaya dia berakar dan bertumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah. Berakar dan bertumbuh berarti benih ini harus mengalami kematian (Yoh 12:24) yaitu benih atau biji ini harus berubah jadi akar dan batang pohon. Ini berarti benih iman ini harus berubah menjadi akar dan pohon lalu menjadi buah Roh. Itulah sebabnya iman harus bertumbuh atau berubah menjadi akar dan pohon sehingga iman itu jadi hidup tidak mati. Iman atau benih seperti ini adalah iman yang disertai perbuatan-perbuatan. Biji yang harus mati ini adalah lambang dari pertobatan itu yaitu penyaliban atau kematian manusia daging kita supaya kita semakin berakar dan bertumbuh ke atas menghasilkan buah Roh (Gal 5:24).

Pertobatan adalah konstan dikerjakan terus menerus seperti akar dan pohon yang terus bertumbuh walaupun sudah menghasilkan buah. Tidak ada pertobatan maka sangat sulit bagi orang percaya untuk menghasilkan buah Roh sebab dosa ini akan begitu merintangi atau membebani perjalanan keselamatan kita atau perlombaan iman kita. Rasul Paulus menasihati kita, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr 12:1 TB). Jika kita tidak menanggalkan beban dosa maka itu akan memberatkan perlombaan kita.

Pertobatan akan meringankan perlombaan kita menuju kepada Kristus. Pertobatan untuk terus mematikan daging dan segala keinginannya dan buah Roh Kudus dalam hidup kita adalah hidup yang dipimpin oleh iman yang hidup dalam Roh Kudus. Kiranya setiap usaha pertobatan dan perbuatan baik kita lahir dari hati yang telah diberi kekuatan atau energi ilahi oleh Roh Kudus dalam Kristus. Mari kita terus mengerjakan keselamatan kita yaitu mengerjakan iman yang disertai perbuatan-perbuatan itu dengan pertolongan Roh Kudus.

Secara ringkas proses Buah Roh Kudus itu adalah:

Lahir baru/lahir dari Allah/lahir dari air dan Roh (benih iman dan anugerah/kasih Allah) —> benih ilahi (God’s seed) —> ditanam di dalam tanah —> mati (pertobatan) —> berakar (menyerap energi dari Allah setiap hari yaitu anugerah Allah) —> pohon (pertumbuhan rohani) —> buah Roh (karya Roh Kudus di dalam hidup orang percaya).

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 Semester 7

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Mata Kuliah : Orthodox dan Heterodox

Sumber :

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai