Continous Prayer

(Doa Tanpa Henti)

Doa tanpa henti merupakan salah satu aktivitas kerohanian yang fundamental dalam kehidupan bapa – bapa padang gurun. Jika kita mengingat pengertian dari The Object of Exercise adalah masuk kedalam sel doa, membangun sel doa yang baik, mencapai Silence dan pada akhirnya mengalami Hesychia kemudian Repose. Dengan demikian kita dapat melatih diri kita untuk menangisi dosa – dosa, memiliki sikap rendah hati dan memperoleh hikmat atau Diakrisis. Ini semua harus dijalankan dengan penuh ketaatan kepada Allah. Doa tanpa henti adalah topik melanjutkan apa yang sudah kita capai. Silence dan Hesychasm akan sia – sia apabila para biarawan tidak melanjutkan Continous Prayer (doa tanpa henti) sebab jantung dari kerohanian ini terletak pada doa tanpa henti.

Ini menunjukkan konsistensi dari seorang bapa – bapa padang gurun yang terus berusaha mendaki kepada kesempurnaan seperti Kristus. Dasar Alkitab dari doa tanpa henti ini diambil dari tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika (1 Tes. 5:17). Mengatakan berdoa tanpa putus atau tanpa henti merupakan suatu perintah kepada bapa – bapa padang gurun untuk melakukan Askesis (latihan rohani) di padang gurun sejak awal ketika bapa padang gurun memutuskan untuk melakukan Askesis dipadang gurun.

Bapa Anthony mengatakan, “Dengan demikian, ia bisa belajar sendiri tanpa putus.” ini merupakan cikal bakal berdoa dalam keheningan tanpa putus. Sama dengan Rasul Paulus dan Bapa Philokalia yang mengatakan bahwa, “Doa tanpa henti yang di praktekkan dalam kehidupan mereka sehari – hari seperti Doa Puja Yesus ini adalah doa tanpa henti yang akhirnya menciptakan doa tanpa henti. Perkataan 96 dari Desert Fathers, “Doa itu seperti cermin bagi para biarawan, jika kamu mencintai keselamatan dari jiwamu, berdoalah senantiasa didalam waktu. Seperti yang tertulis, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, hati yang berjaga – jaga, penuh kesabaran, bahwa kamu memiliki musuh – musuh yang setiap saat mencari kesempatan untuk membelenggu mu.”

Itulah sebabnya mengapa kita perlu berdoa tanpa henti, karena dikatakan oleh Bapa padang gurun yaitu ada 3 hal yang penting dilakukan oleh para biarawan, takut akan Allah, mengerjakan kasih, dan berdoa tanpa henti. Dalam tulisan Poemen 160, Perintah Bapa selanjutnya saat kita takut akan Allah dalam pengertian penghakiman Dia sehingga menimbulkan benci akan dosa dan mengasihi akan kebajikan. Dengan demikian kita bisa berdoa tanpa henti. Kemudian dia berkata lagi, “Bekerja keras, kerendahan hati, dan doa tanpa henti merupakan cara kita menggapai Allah.” Bapa Anthony juga berkata “Membebaskan kita dari kesombongan dengan berdoalah tanpa henti. Bernyanyilah dan bermazmurlah sesudah dan sebelum tidur. Belajarlah dari kitab suci dan masukkan itu kedalam pikiran seperti yang dilakukan oleh orang – orang kudus.”

Kemudian perkataan dari Bapa Sistematik 12.20, Seorang penatua ditanya tentang “Apa itu doa tanpa henti menurut (1 Tes. 5:17).” Kemudian Bapa padang gurun itu menjawab “Ini adalah sebuah permohonan yang kita kirimkan kepada Allah dari dasar hati kita. Memohon yang selayaknya dengan tepat. Jadi, ini bukan seperti kita berdiri lalu berdoa, tetapi ini merupakan doa yang murni yang dilakukan sepanjang waktu yang dilakukan secara berulang – ulang.” Seorang biara berkata, “Kita bingung menawarkan doa – doa kita seolah – olah Allah hadir dan mendengar didalam setiap doa – doa kita. Tetapi untuk dosa, kita komit seolah – oleh Dia tidak melihat.”

Doa tanpa henti adalah cara kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi doa itu bukanlah hal yang mudah, menurut Bapa Agathon, “Bagi saya, selalu ada musuh yang mengganggu ketika kita mau berdoa, seperti logismoi dan pikiran – pikiran yang akhirnya dapat mengganggu kita. Karena kita tidak bisa lepas dari gangguan ketika kita berdoa kepada Allah. Ini adalah sebuah pengalaman bagaimana melatih doa itu. Sehingga ini menjadi doa yang tanpa henti sampai kita mati.”

Istilah Synaxis yang artinya kita meluangkan waktu untuk menyembah Tuhan. Setiap hari kita melakukan pekerjaan, tetapi kadang – kadang meluangkan waktu yang banyak atau sedikit untuk menyembah Tuhan. Menurut Isidore siang dan malam adalah ibadah. Synanxis ini merupakan kata untuk menyembah tetapi memiliki 2 apsek yaitu, berjemaat (berkumpul dan beribadah kepada Tuhan) dan pribadi (memiliki sel doa secara pribadi). Ketika kita synaxis secara pribadi, ecoworship individu seperti biara yang berdoa didalam sel mereka. Dimana 2 – 3 orang berkumpul disana Allah hadir (Matius 18:20).

Kita harus memperhatikan bahwa para biara, mereka selalu mengaitkan synaxis itu kedalam berbagai hal seperti bermazmur, silence, bernyanyi, meditasi terhadap kitab suci dibaca dan disebutkan secara berulang – ulang. Ini semua merupakan cara untuk berdoa tanpa henti. Didalam Manual Works mereka bisa bekerja dan berdoa.  Mereka mengatakan, “Disini aku akan berdoa dan menunjukkan kepadamu bagaimana aku bisa berdoa tanpa henti atau tanpa putus padahal aku bekerja dengan tanngan ku dan berdoa meminta belas kasihan oleh karena kebesaran Tuhan. Ketika aku melewati hari itu dengan doa, aku mendapatkan 16 koin. Koin aku berikan kepada orang miskin sisanya aku pakai. Lalu orang itu akan mengambil dua koin dan dia akan berdoa bagiku.” Ini merupakan cerita yang menarik karena doa adalah sebuah aktivitas sehari – hari dalam hidup kita baik untuk tubuh jiwa dan roh kita.

Kita bisa meditasi dengan menggunakan Mazmur 51. Ini merupakan doa tanpa henti, ini merupakan mode doa yang diajarkan desert fathers. Makarios dari mesir berkata kita harus terus berkata Tuhan anak Allah belas kasihanilah aku.

Doa dan Kitab Suci

Makarius menyebutkan ketika kita berdoa seperti, “Tuhan kasihanilah kami” secara berulang – ulang bisa sia – sia apabila tidak memiliki kesadaran yang tepat. Kalimat yang kita ucapkan itu bukanlah sebuah mantera, tetapi sebuah permohonan yang dikirim kepada Allah berasal dari hati yang paling dalam. Kita harus memiliki kesadaran kita adalah doa dengan suatu kesadaran mengirim doa kepada Bapa. Contoh : Bapa Amonas berkata, “Aku dan Bapa Betimes mengunjungi Bapa Arkiles dan dia bermeditasi dan mengulangi suatu kalimat dalam kitab suci yaitu Kejadian 46:3. Ia terus mengulangi kalimat ini dalam waktu yang lama dan juga mengulangi hal yang sama yang terambil didalam kitab suci. Kita bisa melihat bahwa perkataan kitab suci itu bisa diucapkan dengan kesadaran. Jadi doa tanpa henti dapat kita lakukan dengan mengambil dari ayat – ayat yang ada didalam kitab suci. Ini merupakan doa dalam kedinamisan artinya semakin mengerti ayat – ayat kitab suci.

Kemudian dikatakan oleh para Bapa Arsenius berdoa dengan tangan yang menengadah ke langit lalu berdoa sampai kembali matahari terbit lagi dan menyinari wajahnya lalu kembali duduk, ini merupakan suatu contoh yang dilakukan oleh Bapa Arsenius. Bapa Agathon berkata, “Beberapa orang bertanya, Ilmu kebajikan mana yang membutuhkan usaha yang paling keras?” dia berkata, “Ya aku mengakui bahwa ketika kita berdoa kepada Allah usaha yang paling banyak kita lakukan adalah mengalahkan musuh dan halangan. Dalam setiap tindakan seseorang kita harus mencapai Repose, tetapi doa membutuhkan usaha paling besar untuk mencapai repose sampai akhir nafas kita.”

Continuos and Occasional Prayer

(Doa tanpa henti dan kadang- kadang)

Ketika kita melakukan doa tanpa henti ini, sebenarnya para Bapa mengajarkan 2 doa yang saling melengkapi yaitu:

  1. Doa dengan mulut, apapun itu pekerjaan tangan kita
  2. Synaxis

Doa tanpa henti selalu terjadi di berbagai situasi, baik saat tangan kita sibuk bekerja ataupun tangan kita berhenti bekerja. Anthony berkata, “Jika kita bekerja, jangan katakan nanti saya berdoa ketika selesai bekerja, tetapi ketika kita bekerja tetaplah kita berdoa.” Kemudian Arsenius berkata, “Sebagai seorang biarawan yang tinggal di padang gurun yang kecil, tidak ada cara untuk mengenal waktu atau jam berapa.” Bagi konteks bapa padang gurun, setiap saat kita bisa synaxis sendiri, setelah itu kita bisa memberi waktu yang spesial bagi Allah. Bagi kehidupan kita, mari ciptakan konteks synaxis private ecoworship. Bagi bapa padang gurun, takutlah akan Allah. Jika kita bisa menjadikan sinaxsis yang kecil, maka ini merupakan cara kita untuk mengasihi Allah. Bagaimana cara kita membangun sel doa kita? Kita bisa menyanyikan Mazmur, yang dilakukan oleh bapa – bapa padang gurun. Kita bisa membaca Mazmur, di pagi hari dan little synaxis di malam hari.

Meditation

(Meditasi)

Meditasi ini merujuk kepada Alkitab atau Kitab Suci. Bermeditasi kepada ayat – ayat kitab suci yang diambil dan didoakan, lalu dibaca berulang – ulang. Seperti yang dilakukan oleh Clement dalam Manual Work, dia bekerja sehari – hari, makan sekali sehari, tetap silence dan meditasi. Ini merupakan aspek kehidupan disiplin didalam sel. Kemudian menurut Bapa Yesaya, “Bekerja mandiri, meditasi, askesis, dan doa tanpa henti.” Kemudian Joseph Panepho mengatakan, “Saya melakukan sedikit puasa, berdoa, meditasi, dan melakukan kebajikan lainnya. Kita dapat bermazmur lalu kita bekerja seperti biasa.” Jadi kehidupan bapa – bapa padang gurun itu sangat monoton atau membosankan.

Bapa Yesaya mengatakan, “Fokuskanlah dirimu pada Mazmur maka Dia akan melindungi dirimu dari musuh.” Kemudian little synaxis dapat dilakukan dengan bernyanyi lagu rohani dan bermazmur. John Colobos mengatakan, “Banyaklah untuk  menghabiskan waktu didalam silence, doa, membaca, bermeditasi dalam teks – teks kitab suci ataupun Mazmur.” Kemudian Palladius berkata, “Jika kamu perhatikan jam kesembilan pada siang hari ada banyak orang menyanyikan lagu Mazmur.” Kemudian perkataan dari bapa padang gurrun, “Jika kamu ingin menangisi akan dosa – dosa mu, maka tetap di dalam silence, berdoa didalam mulut dan melipat tangan.”

Dikatakan didalam N 696, “Ketika kita berdoa tanpa henti kita bisa bermazmur, bernyanyi, meditasi, dan ini terus di panjatkan supaya bisa mengusir musuh atau iblis (1 Petrus 5:8)” Musuh kita seperti logismoi dapat kita tangkis dengan berdoa maka ini akan mempertajam terjangan dari air mata yang ikut dari segala keberdosaan. Dilaporkan kepada Ephipanius seorang Bishop dari Siprus oleh seorang Bapa Monastri di Palestina dikatakan, “Kami terus berdoa pada jam yang ketiga, kira – kira jam 9 pagi, jam 12, jam 3 sore, jam 6 sore, dan dan jam 9 malam. Kita berdoa pada jam – jam tertentu kita punya synaxsis, tetapi esensinya adalah kita berdoa tanpa henti didalam hati. Selain kita memiliki synaxsis sendiri, yang penting bagaimana kita berdoa tanpa henti.

Jika kita mengutip perkataan dari bapa padang gurun dari Rusia bernama Theopan dia mengatakan bahwa, “Doa itu memiliki tiga level, yaitu Level Eral berarti kita harus berdoa secara berulang – ulang melalui mulut, tetapi yang penting dengan kesadaran  kita masukkan kedalam hati. Kemudian dari hati akan masuk kedalam roh, inilah yang dinamakan doa didalam batin. Ketika itu terjadi, roh yang akan mendoakan kita bukan mulut kita, dan roh kita akan berdoa bersama dengan Roh Kudus. Inilah yang dinamakan doa tanpa henti. Doa seperti cermin yang tenang untuk melihat kedalaman jiwa kita sehingga kita mengenal siapa diri kita.

Kesimpulan

Ingatlah mengapa kita perlu berdoa tanpa henti alasannya karena kita tahu selalu ada musuh yang mengganggu didalam hati kita, dan Allah selalu hadir dalam segala hal yang kita lakukan. Jadi doa tanpa henti yang dimulai dari mulut sampai kedalam hati ini penting untuk dilakukan karena ibarat kita membutuhkan oksigen maka roh kita juga membutuhkan doa, meditasi dan membaca Mazmur. Jadikanlah doa tanpa henti ini sebagai life style atau gaya hidup kita.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 Semester 7

Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers (Part 6)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Sumber :

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai