Love

(Kasih)

Apa yang dikerjakan oleh bapa padang gurun mulai dari repose, membangun cel didalam ketaatan, mencapai silence sehingga dapat berdoa tanpa henti, bermazmur, sehingga dapat mencari kehendak Allah dalam kehidupan mereka. Itu semua dikerjakan untuk mencapai dispassion dan love. Sehingga mereka semakin sempurna dan dewasa didalam Kristus. Apa itu kasih ? Bagaimana mendatangkan kasih seperti yang Tuhan Yesus ajarkan seperti kasihilah Tuhan Allah mu dan juga kasihilah dirimu sama seperti mengasihi saudaramu?

Bapa padang gurun John Maximus the Confesor pengaku iman mengatakan, “Kasih adalah suatu hukum yang paling utama ketika diajarakan oleh Kristus. Ketika para desert fathers mulai menyingkir atau repose dari semua ketertarikan dunia, disinilah mereka mulai mebangun sel doa. Dari situlah mereka mencapai silence atau hesychasm. Sehingga mereka bisa continiu berdoa kepada Bapa. Masuklah kedalam kamarmu dan tutuplah pintu ini artinya kita membangun sel doa kita. Lalu menutup pintu artinya kita benar – benar repose. Lalu dari silence inilah kita dapat berdoa tanpa henti. Ini penting dilakukan karena untuk mencapai dispassion (mematikan keinginan daging) dan love (mengasihi).

Seperti yang dikatakan oleh Maximus the Confesor kasih adalah sebuah kemurnian jiwa. Dimana kita merindukan pengetahuan Allah atau diatas segala hal. Seperti kata Rasl Paulus dalam Kolose 3 itu adalah hal – hal yang diatas artinya pengetahuan Allah yang melebihi segala apa yang Tuhan ciptakan. Jadi kita tidak lagi memikirkan hal – hal duniawi. Inilah yang dilakukan oleh para bapa padang gurun bahwa hal – hal yang daiatas atau pengeathuan Allah adalah yang paling utama sehingga kita dapat mencapai kasih. Jadi ketika kita bisa mencapa the knowledge of god maka kita mencapai kasih jadi  kasih itu seperti puncak es tetapi dibawahnya ada beberapa hal yang harus kita kerjakan. Kata Rasul Paulus dia memulai dari iman (faith), hope (pengharapan) dan love atau kasih. Kasih inilah yang kekal adanya dan inilah yang dicari oleh Bapa padang gurun ketika mereka mencari kehidupan askesis yang sungguh – sungguh seperti membangun sel doa, berusaha mencapai silence. Walaupun dalam kehidupan mereka juga bekerja, berkomunitas, menerima para tamu yang mencari hikmat dari mereka. Jadi mereka tidak 1000 persen tidak bertemu orang, tetapi ini suatu kehidupan antara mengasihi dan mencari Allah serta menolong sesama dikerjakan dengan seimbang.

Untuk bisa mengasihi Allah harus dimulai dari hati mereka. Untuk mencapai kasih Allah itu dimulai dari hati yaitu suatu tindakan yang mencapai dispassion atau mematikan keinginan daging. Untuk mencapai Dispassion (ketersapihan nafsu), mereka harus bisa menyingkir dari kegiatan dunia dan sungguh – sungguh dipadang gurun atau didalam sel doa mereka. Dispassion mendatangkan kasih Allah tetapi ini dicapai dari pengharapan kepada Allah. Kita tidak dapat memiliki kasih jika kita tidak memilki dispassion, kita juga tidak dapat memiliki dispassion apabila tidak memiliki hope atau pengharapan kepada Allah. Kita tidak dapat memiliki pengharapan jika tidak memiliki ketekunan, kerendahan hati dan ketaatan. Kita tidak dapat memiliki ketekunan, kerendahan hati, dan ketaatan jika kita tidak memiliki pengendalian diri (Self Control). Pengendalian diri lahir dari jika kita takut akan Allah. Untuk dapat takut akan Allah kita harus memiliki iman. Jadi kita harus mulai dari iman, lalu takut akan Allah yang mendatangkan pengendalian diri, kemudian ini mendatangkan ketekunan, kesabaran, kerendahan hati dan ketaatan. Lalu ketika kita bisa mencapai ini lalu ini bisa mendatangkan pengharapan kepada Allah. Pengharapaan kepada Allah inilah yang akhirnya membuat intelektual kita benar – benar repose dari ketertarikan dari hal – hal duniawi misalnya godaan – godaan, hal – hal yang jahat. Intelek yang terpisah inilah yang bisa mencapai kasih kepada Allah. Jadi kasih dari Allah adalah produk dari pengharapan, dan pengharapan berasal dari produk iman. Untuk itulah Rasul Petrus mengatakan iman saja tidak cukup harus ditambah dengan pengetahuan, ketekunan, kesabaran, dan sebagainya. Itu semua dicapai untuk mencapai kasih.

Yang dihadapi oleh bapa padang gurun ketika mereka membangun sel doa mereka ditengah pergumulan mereka mereka menghadapi logismoi. Itulah tantangan yang mereka hadapi sebab, mereka melakukan pengendalian diri yang timbul dari takut akan Allah. Takut akan Allah menimbulkan pengendalian diri kemudian ini menimbulkan pergumulan atau peperangan dalam batin ini antara mentaatai hawa nafsu atau mentaati hukum Roh. Seperti Rasul Paulus yang mengatakan dalam Roma 7 apakah ingin mentaati hukum Allah, Roh atau daging. Disinilah terhadi pergumulan yang mendatangkan ketekunan kesabaran, seperti Rasul Yakobus juga pencobaanyang disertai pengendalian diri mendatangkan ketekunan dan pada akhirnya akan mendatangkan pengharapan sehingga dapat mencapai kasih.

Dalam Yakobus 1:2-3 jadi benar yang dikatakan oleh Rasul Yakobus bahwa iman harus diuji dengan cara bwerbagai macam pencobaan pergumulan melawan hukum daging dengan hukum Roh yang kita peroleh. Akhirnya kan menghasilkan ketekunan, kesabaran, dan kerendahan hati. Dari sinilah mendatangkan pengharapan kepada Allah sehingga dapat mendatangkan kasih kepada Allah. Mereka yang pada akhirnya memiliki kasih kepada Allah, akn mengutamakan hal – hal yang diatas. Mereka yang dapat mengejar pengetahuan akan Allah itu tanpa henti. Bagaimana kondisi dari orang yang mengasihi Allah? Suatu kemurnian jiwa diman jiwanya akan terus mencari pengetahuan akan Allah dan semua ciptaan Allah. Lalu intelektualnya akan konsentrasi dengan kasih Allah jadi tidak akan tergoda dengan hal – hal yang kelihatan bahkan akan menganggap tubuh ini sebuah hal yang asing bagi dirinya.inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap pikiran dan segenap kekuatan. Kasih Allah akan membuat jiwa lebih mulia dari pada tubuh. Tuhan tidak bisa dibandigkan dengan apapun dari segala ciptaan. Jika kita lebih mengutamakan tubuh dari pada jiwa atau dunia ciptaan ini dari pada Allah maka kita disebut penyembah berhala. Contohnya kita lebih mengutamakan kebencian dari pada kasih, dan mengutamakan tubuh dari pada jiwa kita. Misalnya kita lebih mengutamakan uang dari pada Tuhan atau kita lebih mengutamakan ciptaan dari pada sang pencipta. Jika itu yang terjadi maka kita tidak memiliki kasih dan kita disebut sebagai the worship of idol atau penyembah berhala. Maximus menjelaskan hal ini sangat mendalam dan kita harus mengutamakan jiwa kita dan Tuhan. Jika kita mengacaukan pikiran kita dan terpisah dari kasih Allah yang membuat kita mencintai hal – hal yang kelihatan yang dicipta, maka sebenarnya kita sedang mengasihi tubuh kita dari pada jiwa kita dan itu membuat kita tidak mengasihi Allah. Oleh sebab itu orang yang mengasihi Allah itu dari produk memiliki iman dan pengharapan serta harus menjaga intelektualnya harus benar – benar persue the spiritual knowledge. Sehingga semua yang kita lakukan ini menghasilkan perang. Dalam spiritual knowledge terdapat terang yang pada akhirnya menerangi pribadi seseorang. Jadi Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika matamu baik yang artinya intelektual mu baik maka akmu dipenuhi oelh spiritual of knowledge atau pengetahuan kerohanian, maka kamu menghasilkan tubuh yang terang. Terang dari pengetahuan kaan rohani tadi yang menerangi pikiran kita berasal dari kasih Allah. 1Kor. 13:13 dikatakan tidak ada kasih melebihi kasih Allah artinya kasih Allah adalah yang terbesar dari segalanya.

Ketika kita diiluminasi oleh terang kasih Allah yang tak tercipta kita akan menjadi berpikiran sehat dan pantas dihadapan Allah. Jika intelek kita disinari oleh terang atau kasih Allah maka kita bisa melihat Allah yang tidak terbatas. Ketika kita memuliakan Dia betapa kita sangat tidak layak tetapi berharga dimata Tuhan karena kasihNya seperti pengalaman nabi Yesaya.

Apa yang dijelaskan oleh Maximus ini sebenarnya apa yang sudah menjadi warisan dari Desert Fathers yang ke – 4-5 sedangkan Maximus berasal dari abad ke – 6. ini merupakan pemikiran yang sama bahwa akhirnya kasih itu membuat orang dipenuhi oleh terang karena dipenuhi oleh pengetahuan akan Allah.

Terang yang telah kita miliki di dalam intelek kita bisa menghasilkan New Reasons, New Man, New Attitude, sikap yang baik pengertian yang baru. Inilah yang terjadi ketika kita memiliki kasih Allah. Dari sinilah Tuhan Yesus mengatakan kasih kepada Tuhan sama seperti mengasihi saudara sama seperti diri sendiri.

Bagaimana kita mengasihi diri sendiri? Kita mulai dengan mengasihi Allah. Bagaimana kita mau mengasihi sesama? Kita mulai dari mengasihi diri sendiri.

Bagaimana kita mengasihi Allah? kita dapat memulainya dengan iman. Iman artinya kita meresponi anugerah Allah atau terang Allah yang masuk menerangi intelek tetapi, selalu ada kendala kenapa? Karena selalu ada peperangan dalam hati dan jiwa kita. Disitulah akan muncul konnflik ini akan mendatangkan iman dari pengharapan yang diperoleh dari ketekunan kita kepada Allah. Misalnya sulit mengampuni ada konflik dalam batin tetapi, dari situlah kita harus menyerahkannya kepada Allah. Dari situlah kita dapat mencapai kasih. Kasih artinya kita diterangi artinya kita bisa mengampuni. Milsanya kita dapat mengampuni orang artinya kita memiliki kasih utnuk melawan kebencian tetapi disisi lain kita diterangi oleh kasih pengampunan tadi.

Misalnya kita terjebak dalam pronografi, dusta atau kebohongan pada akhirnya kita akan kembali kepada iman. Kita dapat membuka hati sehingga dapat kita dapat mencapai pengharapan kepada Allah melalui ketekunan dan pengendalian diri. Jadi jika kita dapat mengalahkan kebohongan itu kita sudah mencapai kasih. Pergumulan apapun yang kita hadapi mari mulai dari iman sehingga kita dapat berproses menuju kepada kasih. Kasih adalah keadaan jiwa yang murni oleh karena keadaan iman yang memiliki pergumulan. Dari kasih kita mengejar hal – hal yang diatas. Kita mungkin sudah mengatasi satu godaan dan kita akn mencoba mengatasi godaan – godaan lainnya.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers (Part VII)

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai