Harum Kristus

Eksegesis Kidung Agung 1 :13

Versi LAI : Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip diantara buah dadaku.

Terjemahan dari Origen : bukan my beloved tetapi my nephew (keponakan laki – laki)

Jika kita ingat cerita Maria dari Betani yang mengurapi Tuhan Yesus mempersiapkan penguburanNya. Kemudian juga diceritakan sebungkus minyak mur untuk mengurapi Tuhan Yesus yang telah mati, yaitu Nikodemus dan Yusuf Arimatea. Yoh. 19:39-41 jadi miyak itu untuk mengurapi atau meminyaki jasad Tuhan Yesus. Kemudian diceritakan ketika mempelai laki – laki sudah mati, tentu Dia bangkit dan tinggal didalam gerejaNya. Maka disitu dikatakan dia akan tinggal didalam buah dadaku. Origen mengatakan diantara dua buah dada itu, ditengah – tengah terdapat hati Kristuslah yang akan tinggal didalam hati. Artinya Kristuslah yang akan tinggal didalam gerejaNya yaitu mempelai perempuan. Kristus akan tinggal didalam mempelai perempuan yang terletak diantara dua buah dada itu. Ini merupakan cerita gereja dan hati dimana Kristus yang akan tinggal. Ini merupakan cerita yang tidak berdasarkan fisik, tetapi secara spiritual. Itulah sebabnya Yoh.16 dikatakan bagaimana Yesus tinggal didalamnya (mempelai perempuan) yaitu jika kamu makan daging atau tubuh dan minum darah Ku maka Aku dan Bapa Ku akan tinggal didalam kamu.

Didalam Yoh. 6:51 – 53 dikatakan jika kita tidak memiliki Kristus (daging dan darah) berarti kita tidak memiliki hidup. Supaya hidup, dalam kidung agung dikatakan Dia akan tinggal diantara dua buah dada setelah tetesan minyak mur mengenai Aku (tubuh Yesus). Jadi ini menunjukkan suatu nubuat kematian Dia sehingga Ia bisa memberikan tubuh dan darahNya. Jika Kristus mati dikayu salib, artinya Dia memberikan daging dan darahNya kepada kita maka apa yang kita makan dan minum yakni roti dan anggur itu bukan hanya sekedar simbol, tetapi oleh Roh Kudus diubah menjadi daging dan darah Yesus. Jadi minyak itu dipersiapkan untuk kematianNya. Dengan kematianNya maka ia bisa tinggal didalam hati kita. Berarti Dia memberikan tubuh dan darahNya untuk kita makan dan minum, itulah yang membuat Dia ada didalam hati kita. Bagaimana Kristus tinggal didalam hati kita? yaitu dengan cara kita makan dan minum tubuh dan darahNya. Lalu bagaimana kita dapat memakan dan meminum tubuh dan darahNya jika seandainya Dia tidak mati? Oleh sebab itu Kristus memang datang untuk mati dan memang harus mati supaya Dia bisa memberikan tubuh dan darahNya sehingga Ia bisa tinggal didalam hati kita. Dengan demikian baru kita memiliki hidup didalam Dia. Yoh. 6:54 siapapun yang makan dan minum daging dan darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal. Rohnya punya hidup kekal dan tubuhnya akan dibangkitkan pada akhir zaman. Sebab daging Ku adalah benar – benar makan dan dan darah Ku adalah benar – benar minuman. Ayat 56 dikatakan barangsiapa tinggal didalam Aku dan aku didalam Dia. Jadi Kidung Agung 1:13 digenapi di Yohanes 6:56 bahwa Kristus tinggal didalam kita dan kita didalam Kristus dengan cara makan daging dan minum darahNya dengan mengikuti perjamuan kudus seperti kita memakan obat kekekalan karena kita akan memperoleh hidup didalam Dia (Yoh.15:4).

Didalam hidup ini kita harus menghasilkan buah. Sebab ada Kristus yang tinggal didalam kita. Hidup artinya menghasilkan buah, buah apa yang kita hasilkan? Origen menjelaskan buah – buah itu adalah buah – buah yang memancarkan harum. Buah sebagai gereja yang memancarkan harumnya Kristus. Seperti buah mangga tentu harum mangga, dan anggur tentu harum anggur, lalu siapa pokoknya? yaitu Kristus. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan kita adalah bau harum Kristus. Yang namanya bau atau harum tetntu disukai semua orang. Akhirnya dengan buah yang kita hasilkan itu menyukakan orang sehingga orang itu tertarik memetik dan memakan buah itu. Ketika buah itu dipetik dan dimakan oleh orang lain itu artinya kita memberikan hidup kepada orang lain. Memang benar yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup didalam aku.” Ketika orang memakan kita sebagai buah berarti, dia juga memakan Kristus sehingga mereka memperoleh hidup yang kekal. Contohnya mempelai perempuan ini, dia membawa minyak mur atau narwastu yang harum. Ini digenapi oleh Tuhan Yesus yaitu seperti Yusuf dan Nikodemus yang mengurapi Jasad Tuhan Yesus. Dimanakah tubuh dan darah Kristus itu sekarang? yaitu di dalam hati diantara buah dada. Berarti kita harus mengurapi Dia didalam hati kita. Jika Kristus ada didalam hati kita, bagaimana kita mengharumkan hati kita? Artinya kita harus memiliki minyak mur atau narwastu. Karena jika kita tidak memiliki minyak narwastu, maka kita tidak dapat menjadi wangi. Apa minyak wangi itu? minyak itu adalah persembahan kita seperti orang majus yang datang mempersembahkan kepada sang raja yaitu kemenyan, emas dan mur. Jika kita berbicara tentang kemenyan, emas dan mur itu adalah persembahan hidup kita untuk Kristus.

Apa yang paling berharga bagi kita? Kristus datang kedalam hidup kita apa yang paling berharga? yaitu jiwa kita itulah yang Kristus berikan kepada kita. Jadi, jika kita mau memberikan mur yang ada didalam hati kita itu kepada Kristus berarti kita mempersembahkan hidup kita. Kita harus memberikan hidup secara total kepada Dia mengapa? Karena Dia sudah memberikan hidupNya kepada kita melalui darah yang Dia curahkan. Sekarang waktunya kita memberikan keharuman itu kepada Kristus. Itulah di katakan dalam Kidung Agung 1:13 secara Alegorikal kita memberikan hidup kita untuk Kristus. Sebab Kristus sudah memberikan hidupnya untuk kita. Itulah mengapa kita harus mempersembahkan mur atau sesuatu yang berharaga, artinya kita membawa keharuman bagi Kristus. Oleh sebab itu Paulus mengatakan, kita adalah wewangian Kristus, karena aku mempersembahkan hidupku untuk Kristus. Contohnya Pelagia yang menumpahkan mur itu kepada Kristus. Masing – masing dari kita memiliki mur, namun kepada siapakah kita menumpahkannya. Kepada Kristus atau seperti Yudas?

Gregory Nyssa mengatakan wewangian tadi untuk menyenangkan suaminya, secara spiritual kita harus menyenangkan hati Allah. Baik tubuh dan jiwa ini merupakan wewangian. Jadi ada sebungkus tergantung dileher kita diantara buah dada. Jadi minyak mur itu digantungkan ke leher seperti kalung yang terletak diantara dua buah dada kita, artinya mur yang membuat tubuh menjadi harum, lalu mur itu adalah Kristus yang ada ditengah – tengah atau didalam hati kita. Kristus itu tergantung diantara buah dada kita yang menyebabkan kita wangi Kristus yang adalah mur itu sendiri. Dia tinggal didalam hati kita sehingga kita menjadi wangi. Lewat Kristus yang tinggal didalam hati kita menjadikan wangi itu terpancar keluar. Menggantungkan salib diantar dua buah dadamu artinya kita harus berbau harum. Tetapi hati kita menjadi terang selain memancarkan harum. Jadi dia menerima keharuman Tuhan yang memerintah didalam hatinya. Hukum Kristus adalah hukum kasih isinya yang dulu berbagai macam tentang makanan, hari raya, bulan, korban – korban persembahan itu isi dari hukum taurat. Polanya adalah suatu perintah yang harus ditaati atau ketaatan. Tetapi Kristus datang bukan untuk menghilangkan atau meniadakan hukum taurat itu tetapi, Dia menggenapi hukum taurat. Apa artinya menggenapi? Dia menjadikan isinya nyata artinya apa yang terjadi di perjanjian lama itu sekarang diwujudkan (Kolose 2). Jika dahulu merupakan bayangan, maka sekarang diwujudkan. Perjanjian lama adalah bayangan Kristus maka didalam perjanjian baru adalah wujud nyata seorang Kristus. Polanya tetap sama yaitu mengikuti pola Kristus yaitu taat kepada perintah – perintah Kristus. Perintah itu polanya sama, Tuhan Yesus mengatakan kita harus menyucikan diri kita sebab Dia adalah suci. Dari semua perintah – perintah yang paling utama itu ada dua yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu. Mengapa? Kasih itulah kegenapan dari hukum taurat Roma 10. Kita sekarang harus belajar mentaati dan melakukan kasih? Bagaima kita dapat mengasihi? Dengan mantaati apa yang Yesus ajarkan. Wujud dari kasih adalah ketaatan. Itulah wujud kasih kepada Allah. Kasih harus memiliki ketaatan. Supaya kita dapat taat, mari kita belajar mengasihi Allah adalah orang yang tidak lagi terikat kepada hal – hal duniawi, inilah yang disebut menyucikan diri. Kudus artinya terpisah, jadi kita memang memisahkan diri kita dari hal – hal duniawi. Tetapi mempersiapkan diri untuk melakukan perintah Kristus yaitu kasih. Berarti untuk sampai ke level mengasihi kita harus menyucikan diri dalam ketaatan dan tidak terikat dengan hal – hal dunia. Dari sinilah akan muncul struggle atau konflik maka penting bagi kita, untuk memiliki pengendalian diri. Jika kita ingin menyucikan diri kita maka kita harus memiliki pengendalian diri.

Pengendalian diri akan menimbulkan ketekunan. Dari ketekunan itulah akan timbul pengharapan dan pengharapanlah akan timbul kasih. Jadi, proses untuk mencapai kasih hukum Kristus itu bermula dari tidak terikat dari hal – hal duniawi. Ibrani 12 : 1 tiga kontent yang ada dialam nats ini yaitu kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, lalu marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Dari tiga konten itu apa yang paling penting? Yaitu berlomba dengan ketekunan mengapa kata tekun itu muncul? Karena ada beban dosa yang begitu merintangi, artinya ada konflik, rintangan atau hambatan yaitu beban dan dosa. Inilah yang disebut hal – hal duniawi atau hawa nafsu kita yang merintangi perlombaan kita. Inilah sebabnya kita butuh pengendalian diri yang akan menghasilkan ketekunan dengan ketekunan kita dapat berlomba. Tetapi ketika kita berlomba dengan tekun, Rasul Paulus mengatakan lihat ada banyak saksi yang sudah menyelesaikan lomba itu bagaikan awan ini adalah orang – orang yang sudah berhasil atau yang sudah tekun dalam perlombaan. Ibrani 13 :7 ini merupakan perlombaan iman yang ada garis finishnya. Garis finishnya itulah akhir hidup kita. Kita tidak tahu berapa usia hidup kita, yang kita miliki adalah iman untuk memasuki garis finish itu. Oleh sebab itu dikatakan contohlah iman mereka berarti, kita sedang berada didalam sebuah perlombaan iman dimana ada dosa dan beban yang begitu merintangi. Itulah sebabnya kita diminta untuk tekun, sabar, pengendalian diri, taat, kerendahan hati, nepsis, doa, sinergi dll. Semua yang kita lakukan ini untuk supaya kita dapat berlomba dengan tekun dan mencapai garis akhir. Rasul Paulus mengatakan perhatikan akhir hidup mereka, artinya perhatikan perlombaan mereka sampai akhir. Saksi – saksi itu bisa disebut pemimpin yang memiliki pengikut. Kita harus mengikuti teladan iman dari pemimpin – pemimpin kita yang sudah sampai di garis akhir.

 Inilah yang disebut pemimpin yang ada digereja atau disebut pahlawan iman. Jika didalam sebuah pertandingan memiliki suporter atau pendukung maka didalam pertandingan iman juga demikian suporter kita adalah saksi – saksi Kristus seperti St. Pelagia sang petobat ini merupakan salah satu saksi yang kita contoh teladan imannya mengapa? Sebab dia sampai garis akhir mempertahankan imannya. Dia adalah contoh saksi yang memenuhi hukum Kristus atau hukum kasih dengan penuh pengharapan dan ketaatan. Semua yang dilakukannya untuk mencapai garis akhir tentu saja iblis dan dunia tidak senang dengan pertandingan yang sedang kita hadapi. Saat kita meneladani iman Rasul Paulus yang memimpin orang atau jemaat untuk ikut Yesus maka kita juga adalah pemimpin yang memiliki pengikut untuk dibawa ikut Tuhan Yesus. Ibrani 12:1 ada banyak saksi yang sudah berhasildan kita melakukan pertandingan ini dengan amata yang tertuju kepada Kristus. Berarti apa yang Tuhan Yesus kerjakan memberi satu jalan kepada kita.

St. Pelagia the Penitent (Pelagia Sang Petobat) bertobat menjadi Kristen oleh St. Nonnus, Uskup Edessa. Sebelum menerima Kristus melalui baptisan, Pelagia adalah kepala rombongan tari di Antiokhia Palestina, menjalani kehidupan yang sembrono dan melacur.

Suatu hari Pelagia, dengan pakaian elegan, sedang berjalan melewati sebuah gereja tempat St. Nonnus sedang berkhotbah. Orang-orang percaya memalingkan wajah mereka dari si pendosa itu, tetapi uskup itu memandang ke arahnya. Terpesona oleh keindahan luar Pelagia dan menubuatkan kebesaran spiritual di dalam dirinya, St. Nonnus berdoa di selnya dalam waktu yang lama kepada Allah bagi orang berdosa. Dia memberi tahu kepada sesama uskup bahwa pelacur itu membuat mereka semua menjadi malu sebab Pelagia sangat peduli pada kecantikan tubuhnya di hadapan para lelaki tetapi kita malah tidak memikirkan kecantikan jiwa kita yang malang di hadapan Allah.

Keesokan harinya, ketika St. Nonnus sedang mengajar di gereja tentang Penghakiman Terakhir yang menakutkan dan konsekuensinya, Pelagia datang. Ajaran itu memberikan kesan yang luar biasa padanya. Dengan rasa takut akan Allah dan tangisan pertobatan, dia meminta Uskup itu untuk dibaptis. Melihat pertobatannya yang tulus dan penuh, Uskup Nonnus membaptisnya.

Pada malam hari iblis muncul mengganggu Pelagia, mendesaknya untuk kembali ke kehidupan sebelumnya. Orang suci itu berdoa, membuat Tanda Salib, dan iblis pun lenyap.

Tiga hari setelah pembaptisannya, Pelagia mengumpulkan barang-barang berharganya dan membawanya kepada Uskup Nonnus. Uskup memerintahkan agar itu dibagikan di antara orang-orang miskin dengan mengatakan, “Biarlah ini dibagikan dengan bijaksana, sehingga kekayaan yang diperoleh oleh dosa ini menjadi kekayaan kebenaran.” Kemudian Pelagia melakukan perjalanan ke Yerusalem ke Bukit Zaitun. Dia tinggal di sana di dalam sel doanya, menyamar sebagai biarawan Pelagius, hidup dalam pengasingan pertapaan, dan mendapatkan karunia spiritual yang luar biasa. Ketika dia meninggal, dia dimakamkan di dalam sel doanya.


Itulah sebabnya didalam setiap pertandingan iman kita pasti diperhadapkan dengan berbagai godaan dari iblis. Berarti kita harus berjaga – jaga dan berdoa. Kemudian kita lihat lagi kesaksian hidup dari St. Pelagia dari Tarsus di Kilikia (Asia Kecil Tenggara) hidup pada abad ketiga, pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus (284-305), dan merupakan anak dari penyembah berhala yang terkenal. Ketika dia mendengar tentang Yesus Kristus dari teman-teman Kristennya, dia percaya kepada-Nya dan ingin mempertahankan keperawanannya, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Tuhan.

Pewaris Kaisar Diokletianus (anak laki-laki yang dia adopsi), melihat gadis Pelagia, terpesona oleh kecantikannya dan menginginkan dia menjadi istrinya. Perawan suci itu memberi tahu pemuda itu bahwa dia telah bertunangan dengan Kristus, Mempelai laki-laki yang Kekal, dan telah meninggalkan pernikahan duniawi.

Balasan Pelagia sangat membuat marah pemuda itu, tapi dia memutuskan untuk meninggalkan Pelagia dalam damai untuk sementara waktu, berharap dia akan berubah pikiran. Pada saat yang sama, Pelagia meyakinkan ibunya untuk mengizinkannya mengunjungi perawat yang membesarkannya di masa kecil. Dia diam-diam berharap dapat menemukan Uskup Linus dari Tarsus, yang telah melarikan diri ke gunung selama penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, dan dibaptis olehnya. Dia telah melihat wajah Uskup Linus dalam mimpi, yang memberikan kesan mendalam padanya. Uskup Linus menyuruhnya untuk dibaptis. Pelagia melakukan perjalanan dengan kereta untuk mengunjungi perawatnya, berpakaian mewah dan ditemani oleh seluruh pengiring pelayan, seperti yang diinginkan ibunya.

Di sepanjang jalan Pelagia, atas karunia Tuhan, bertemu Uskup Linus. Pelagia segera mengenali uskup yang menampakkan diri kepadanya dalam mimpi itu. Dia sujud di kakinya, meminta baptisan. Atas doa uskup, mata air mengalir keluar dari tanah.

Uskup Linus membuat Tanda Salib di atas Saint Pelagia, dan selama Misteri Pembaptisan, para malaikat muncul dan menutupi orang yang dipilih Tuhan itu dengan mantel yang terang bercahaya. Setelah memberikan Komuni Kudus kepada Pelagia, perawan yang saleh, Uskup Linus mengucapkan doa syukur bersamanya, dan kemudian mengirimnya untuk melanjutkan perjalanannya. Dia kemudian menukar pakaian mahalnya dengan pakaian putih sederhana, dan membagikan harta miliknya kepada orang miskin. Kembali ke pelayannya, Pelagia memberitahu mereka tentang Kristus, dan banyak dari mereka yang bertobat dan percaya.

Dia mencoba untuk mempertobatkan ibunya sendiri menjadi orang Kristen, tetapi ibunya yang keras kepala itu mengirimkan pesan kepada putra Diokletianus bahwa Pelagia adalah seorang Kristen dan tidak ingin menjadi istrinya. Pemuda itu menyadari bahwa Pelagia telah hilang darinya, dan dia jatuh ke atas pedangnya dalam keputusasaannya. Ibu Pelagia takut akan amarah Kaisar, jadi dia mengikat putrinya dan membawanya ke istana Diokletianus sebagai seorang Kristen yang juga bertanggung jawab atas kematian pewaris takhta. Kaisar terpikat oleh keindahan yang tidak biasa dari perawan itu dan mencoba untuk mengalihkannya dari imannya kepada Kristus, menjanjikan dia setiap berkat duniawi jika dia mau menjadi istrinya.

Perawan suci menolak tawaran kaisar dengan jijik dan berkata, “Kamu gila, Kaisar, mengatakan hal seperti itu padaku. Saya tidak akan melakukan permintaan Anda, dan saya membenci pernikahan keji Anda, karena saya memiliki Kristus, Raja Surga, sebagai Mempelai laki-laki saya. Aku tidak menginginkan mahkota duniawimu yang hanya bertahan sebentar. Tuhan di Kerajaan surgawi-Nya telah menyiapkan tiga mahkota yang tidak dapat binasa untuk saya. Yang pertama adalah untuk iman, karena saya telah percaya pada Tuhan yang benar dengan segenap hati saya; yang kedua untuk kemurnian, karena aku telah mendedikasikan keperawananku kepada-Nya; yang ketiga adalah untuk mati syahid, karena saya ingin menerima setiap penderitaan untuk-Nya dan mempersembahkan jiwa saya karena cinta saya kepada-Nya.”

Diokletianus menghukum Pelagia untuk dibakar dengan banteng bejana perunggu yang membara. Tanpa mengijinkan para algojo untuk menyentuh tubuhnya, martir suci ini membuat Tanda Salib, dan masuk ke dalam bejana itu dan dagingnya meleleh seperti bau harum mur, memenuhi seluruh kota dengan keharuman. Tulang St. Pelagia tetap tidak terluka dan telah dipindahkan oleh para penyembah berhala ke suatu tempat di luar kota. Empat singa kemudian keluar dari hutan belantara dan duduk di sekitar tulang, tidak membiarkan burung maupun binatang buas menyerang mereka. Singa-singa itu melindungi relik Pelagius sampai Uskup Linus datang ke tempat itu. Dia mengumpulkan relik itu dan menguburkan mereka dengan hormat. Belakangan, sebuah gereja dibangun di atas relik sucinya.

Fokus yang dihadapi oleh St Pelagia dari Tarsus adalah cintanya kepada Tuhan dia tidak berpikir dimana Tuhan ketika dia dalam hukuman tetapi dia sudah memberikan jiwanya untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Refleksi / Aplikasi

Kita adalah orang percaya yang bertanding dalam sebuah pertandingan iman. Alangkah indahnya jika kita mempersembahkan tubuh jiwa dan roh kita kepada Tuhan sehingga kita dapat menjadi persembahan yang harum bagaikan harum Kristus.

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Mata Kuliah : Eksegesis Kitab Pl dan Pb

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai