Kasih menurut St. Maximus The Confessor

Menurut Maximus dalam 400 kutipan tentang kasih yang mengatakan, “Jika kamu ingin dihangatkan dengan api, kamu tidak cukup mempelajari tentang api itu apa, tetapi kamu harus pergi dan mendekati api itu.” Tidak hanya dibutuhkan ide untuk mendekati api kita juga harus memiliki tindakan atau aksi kepada api. Sama seperti kasih, ketika kita mempelajari tentang ide dan konsep kasih baik digereja, sekolah dan dirumah, kita tidak akan bisa merasakan hangatnya kasih jika hanya tahu tentang kasih, tanpa kita mengasihi. Menurutnya kasih yang dimaksud bukan kasih “Agape” tetapi kata yang dipakai disini adalah “Eros” yang seringkali kita artikan sebagai cinta yang membara antara sepasang kekasih. Disini dikatakan memakai kata Burning Love atau kasih yang menyala – nyala. Untuk mengasihi Allah kita juga memakai kasih Eros

Kasih itu memang membakar atau memurnikan kita. Didalam hati kita ini di satu sisi memiliki kedagingan ata disebut Sarkikos Anthropos dan Psyhcicos Anthropos yang dikuasai oleh kedagingan yang bertentangan dengan Roh atau keinginan Roh Kudus (Roma 8:31-34) yang ada didalam hati kita. Hati berada didalam alam bawah sadar kita. Hati merupakan ruang kedalaman batin yang sangat luas dimana terdapat semua yang ada didalam hati kita. Hal – hal yang bersifat kedagingan juga harus dibakar sampai habis oleh kasih yang bersifat Eros. Jika sebuah amarah membakar hati kita maka muncullah kebencian yang mengakibatkan timbulnya tindakan pembunuhan, penganiayaan dan lainnya. Segala nafsu seperti kekuatiran, Glutoni atau nafsu akan makanan, dan seks itu semua ada di dalam hati kita dan semuanya itu harus dibakar samapi lenyap di dalam hati kita dengan kasih Eros, ini yang dinamakan Purification (pemurnian).

Maximus mengatakan bahwa kasih menjinakan kemarahan. Karena kasih itu seperti Burning Love yang membakar atau menghanguskan. Kita tidak dapat mengasihi jika kita terikat kepada hal – hal duniawi yang harus dibakar sampai habis. Namun ini bisa diatasi dengan Long Suffering atau pengendalian diri. Ketika kita mengendalikan diri kita dari amarah sama halnya seperti membakar jiwa kita. Ketika kita taat kepada Allah sungguh tidak enak rasanya seperti ada yang membakar kita itulah api ilahi yang membakar habis nafsu kita. Selain keinginan daging terdapat juga keinginan roh yaitu iman, pengharapan, kasih, dan pengampunan. Pengendalian diri akan menimbulkan ketekunan, kesabaran tahan akan penderitaan. Tahan penderitaan akan menimbulkan pengharapan. Pengharapan kepada Allah akan membuat kita bisa memiliki kekuatan melawan hawa nafsu. Dengan demikian kita bisa mengasihi Allah.

Kasih bukanlah hal yang gampang dilakukan, karena kita harus mulai dari iman, takut akan Allah lalu penguasaan diri. Kasih itu tidak hanya jadi ide saja tetapi harus jadi action atau tindakan. Ketika kasih menjadi tindakan maka menjadi api yang membakar keinginan daging dan roh. Artinya keinginan daging kita semakin habis tetapi keinginan roh kita semakin murni. Oleh sebab itu Maximus mengatakan saat kita mau mengasihi, kita perlu memiliki 3 kebajikan yaitu: kasih, penguasaan diri dan doa. Kasih menjinakkan kemarahan, penguasaan diri untuk memadamkan hawa nafsu, doa yang membuat nous kita selalu murni dan tidak dikotori oleh pikiran jahat tetapi selalu berpikir kepada Allah. Jika kita marah, hanya kasih yang dapat menjinakkannya.

Kita harus memiliki belas kasihan dan perbuatan baik kepada sesama kita. Kemudian menjadi menderita untuk kepentingan Dia, dengan beginilah amarah dapat dijinakkan. Firman Tuhan mengatakan apabila ada yang berbuat jahat kepadamu dan memusuhimu atau jika ada yang meminta kita berjalan satu mil maka berjalanlah dua mil, jika pipi kananmu ditampar beri pipi kiri atau sebaliknya. Jika ada yang memusuhi kamu ampuni dan doakan dia. Kita harus bisa tahan dan berbelas kasih dalam menghadapi amarah atau api yang membakar. Tetapi sebaliknya berilah api ketenangan. Memang tidak mudah melakukannya tetapi inilah yang diajarkan Bapa Maximus. Kita diajak untuk tidak ikut terbakar oleh api amarah atau api kebencian tetapi berikan api yang memurnikan bukan api yang menghanguskan. Kasih itu harus sabar dan tahan menderita. Kebencian dari orang lain itu seperti api yang membakarnya hidup – hidup. Pengendalian diri dapat menyelamatkan diri kita dari api kebencian. Pengendalian diri adalah bagaimana caranya kita tahu apa yang menjadi penyebab dari hal – hal negatif yang menimpa kita. Pengendalian diri membuat kita menyingkir dari keinginan daging. Pengendalian diri membuat kita tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita senangi. Misalnya soal makanan, kita makan sesuai kebutuhan makanan kita. Inilah yang disebut Self Control atau pengendalian diri.

Kemudian pikiran – pikiran jahat juga dapat mendatangkan hawa nafsu. Jadi hawa nasfu datang dari pikiran – pikiran jahat. Kita harus memiliki doa untuk menjaga pikiran – pikiran kita terhubung dengan Allah. Bagaimana caranya kita bisa berdoa dan berdoa tanpa henti? Ketika kita membaca Mazmur atau firman Tuhan pasti kita terganggu oleh pikiran – pikiran jahat. Alkitab memberikan perintah kepada kita untuk mungkin kita lakukan yaitu menyanyikan Mazmur, melayani dan berdoa tanpa henti. Berdoa tanpa henti menjaga pengharapan kita kepada Tuhan. Dalam segala apa yang kita lakukan selalu terhubung dengan Tuhan sehingga kita mengagumi Dia.

Roma 8:35-38 dalam kondisi apapun kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Kristus. 2 Korintus 4:9-10 mengatakan ini merupakan langkah pelayanan tanpa henti, senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh. Supaya kehidupan Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kita. Inilah yang kita butuhkan untuk bisa menguasai diri, memiliki ketekunan sampai mencapai kasih. Rasul Paulus mengatakan jangan sekalipun kamu tidak membawa kematian Kristus. Artinya kita selalu membawa kematian Kristus di dalam tubuh kita inilah yang disebut doa tanpa henti, sebab membawa energi ilahi yang positif yang memampukan kita mencapai kasih. Dengan hal demikian kita selalu berharap kepada Allah.

Refleksi 

Kasih eros merupakan kasih yang membara layaknya sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Kasih ini dapat membakar keinginan daging kita yang membuat kita jatuh didalam dosa. Artinya semakin kita membakar keinginan daging kita dengan kasih eros maka kita dapat mencapai kasih yang menghubungkan kita dengan Allah. Kiranya kita selalu terhubung dengan kasih Allah melalui latihan rohani dengan cara mengendalikan diri, melayani dan berdoa tanpa henti.

Nama   : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Mata Kuliah : Orthodoxy dan Heterodoxy (Part VI)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Sumber : Youtube Hendi Wijaya

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai