Two Aspects of Church: Christological & Pneumatological

Gereja merupakan tempat orang-orang percaya untuk mencari kesempurnaan seperti Allah atau disebut dengan Theosis. Dengan penderitaan manusia dapat menjalani pengudusan untuk mencapai kekekalan. Kematian merupakan jalan untuk menuju kepada jalan Kristus. Kematian merupakan awal atau pintu masuk dari kebangkitan. Sehingga gereja selalu punya proses untuk mencapai pengudusan melalui Roh Kudus. Gregory of Nyssa mengatakan bahwa, gereja adalah gambaran dari kodrat ilahi yang artinya kita sedang berproses dalam kodrat ilahi. Gereja merupakan gambaran dari Allah tritunggal. Selain hipostasis dia juga merupakan Coleptiviy yang artinya gereja yang universal.

Gereja telah mengambil kodrat ilahi melalui persekutuan dengan Roh Kudus. Ireneus mengatakan gereja merupakan akses kepada Roh Kudus. Karena Kristus datang melalui Roh Kudus. Kita tidak bisa sampai kepada Bapa melalui Kristus dan kita tidak bisa menemukan Kristus tanpa Roh Kudus. Jadi, Kristus datang untuk kita dan kita menerima Kristus untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah melalui Roh kudus. Gereja itu menyatu dengan Roh Kudus melalui anugerah dari Roh Kudus. Roh Kudus hadir secara universal tetapi secara indiviudal Roh Kudus mulai bekerja dan menguduskan manusia rohani. Manusia rohani yang awalnya manusia daging yang makin lama harus dikikis oleh Roh Kudus. Jadi ketika kita menerima anugerah kita tidak menjadi pasif. Artinya kita harus bersinergi dengan Allah dan dikerjakan.

Gereja sebagai firdaus di dunia artinya mansuia dengan Allah dapat dengan bebas berkomunikasi dengan Allah. Kehadiran Roh Kudus merupakan syarat utama saat kita menjadi ilahi. Jika kita pasif dan tidak mengerakan anugerah itu maka anugerah itu juga akan pasif. Tetapi jika kita aktif maka anugerah itu juga menjadi aktif. Anugerah itu selalu bersifat dinamis atau terus bekerja. Rasul Palus mengatakan, aku terus bekerja melalui anugerah. Semakin kita bekerja maka anugerah itu semakin menyatu dengan Allah. Semakin kita disempurnakan kita harus semakin mengerjakan anugerah itu termasuk untuk bebas dari segala dosa. Semakin kita ingin menyatu dengan Allah maka kita harus siap untuk mengerjakan anugerah itu. Makanya ada sakramaen atau ekaristi ini merupkan realisasi untuk menyatu dengan Kristus.

Sakramen merupakan misteri untuk menyatukan kodrat kita dengan Kristus. Chrysostom mengatakan bahwa sakramen merupakan sebuah cara untuk menyatu dengan Kristus yang dipahami secara misteri. Inilah yang dimaksud dengan penyatuan tubuh sehingga kita bisa jadi satu dimana Dia adalah kepalanya dan kita adalah tubuh-Nya. Sakramen dapat terus-menerus mengilahikan atau menguduskan kita. Ekaristi menjadi satu gambatran dari kodrat tunggal persekutuan kita dengan Kristus. St Simeon mengatakan, Engkau telah menyelamatkan aku ya Tuhan, kami yang fana ini bisa menyatu dengan tubuh Mu yang kudus, darah kami yang fana ini bisa menyatu dengan darah Mu. Sehingga aku yang fana ini diubahkan menjadi ilahi oleh darah dan tubuh-Nya sehingga menjadi kekal. Jadi, Simeon mengatakan, ekaristi merupakan karakter orang Kristen yang terus diilahikan dan itu gambaran nyatanya ada di sakramen ekaristi.

Ketika kita minum, kita seperti memperoleh api ilahi dari Kristus. Seperti semak atau jerami yang menerima api ilahi yang dapat hidup kekal. Melalui gereja atau sakramen kita mengambil kodrat ilahi. Kemanusiaan kita akhirnya bukan jadi alat tetapi menjadi tujuan akhir kita yaitu mengambil bagian kemanusiaan ilahi. Dalam gereja, natur kita masuk ke dalam kodrat ilahi. Tetapi, St. Simeon mengatakan kodrat kita belum mencapai kesempurnaan sehingga harus masih terus diperbaharui. Kodrat kita harus menyatu dengan kodrat Kristus. Kehidupan sakramen di gereja merupakan sebuah kehidupan manusia untuk mengorbankan dirinya. Rasul Paulus mengatakan bahwa kehdiupan Kristus itu mengorbankan nyawa-Nya sama seperti kita yang juga harus mengorbankan nyawa kita (Yoh. 3:16).

Kita adalah manusia yang memiliki 2 natur yaitu manusia dan ilahi. Jadi mengapa harus ada pujian di dalam kerajaan Allah? Ini merupakan gambaran ibadah dalam kerajaan Surga. Gambaran dari kerajaan Allah merupakan gambaran dari gereja. Matius 12:30 mengatakan bahwa, dia yang tidak bersama Kristus maka dia akan bercerai-berai. Ini merupakan gambaran untuk menyatu dengan Kristus sehingga kita butuh anugerah. Kita tidak dapat menjadi ilahi tanpa Roh Kudus. Gereja merupakan tubuh dan kepalanya tetapi tetap berfungsi oleh gereja. Satu di dalam Kristus tetapi berbeda-beda dalamRoh kudus. Satu tubuh Kristus tetapi banyak anggota dalam anggota Roh Kudus. Anugerah dari Roh Kudus akan memaksimalkan potensi dari anggota tubuh.

Dalam satu Kristus terdapat banyak karunia dari Roh kudus. Kodrat tunggal yang menyatu dalam Kristus. Gereja bukan dua melainkan satu secara universal. Kesatuan kita di dalam Kristus merupakan penyatuan di dalam sakramen. Penyatuan Ekaristi merupakan penyatuan tubuh dan darah Kristus. Tetapi kehidupan sakramen menyatukan kehidupan individu. Tiap anggota tubuh memiliki karunianya masing-masing. Sacramental union merupakan menyatukan anggota tubuh. Tetapi secara universal merupakan kesatuan anggota tubuh. Rasul Paulus mengatakan, jemaat yang di iikat dalam satu kepenuhan Kristus. Satu tetapi terdiri dari banyak anggota. Gereja merupakan gambaran dari Allah Tritunggal. Jadi sang Bapa memberikan Roh hikmat-Nya kepada orang-orang untuk diwariskan. Roh Kudus memperkenalkan karya Kristus kepada manusia sehingga dapat dipersatukan dalam Kristus yang sama juga dipersatukan di dalam Allah.

Secara Kristologi manusia akan menjadi se-gambar dengan Kristus tetapi secara Pneumatologi Roh Kudus menolong untuk memperkenalkan anggota untuk menguduskannya dan membawanya segambar dan serupa dengan Kristus. Gereja merupakan tempat manusia merekapitulasi atau mencipta kembali. Ketika kita berbuat salah kita harus langsung bertobat bersama dengan Roh kudus yang dapat dibuang atau dihilangkan. Dengan air mata pertobatan kita bisa menjadi se-gambar dengan serupa dengan Allah. Anggota tubuh memiliki tugas untuk bertobat. Semakin lama keegoisan kita semakin hilang sehingga kita memiliki anugerah dari Roh kudus tetapi Dia tidak mengendalikan kita. Ada 3 hukum yang melekat pada manusia seperti dikatakan Rasul Paulus yaitu hukum Allah, hukum dosa dan hukum nous.

Anugerah dari Roh kudus bukan mendahului atau mengalahkan kuasa, tetapi menjadi penolong yang lain artinya Roh Kudus yang diutus oleh Anak. Waktu kita menyatu dengan Roh Kudus artinya kita memiliki kodrat yang mengosongkan manusia kedagingan kita yang di isi dengan keilahian Kristus. Menyatu dengan Kristus berarti kita memiliki hukum daging dan hukum Roh yang tidak dapat terpisahkan. Roh kudus menytakan dirinya kepada setiap orang untuk mewarisi hal-hal yang ilahi. Setiap anggota tubuh memiliki fungsi masing-masing untuk menyatu dengan Allah. Tetapi setiap orang tidak dapat memiliki dua kodrat karena roh kudus akan bekerja menurut kehendak kita. Sama seperti anak yang turun menurut kerelaannya. Disinilah Roh Kudus bekerja. Seandainya firman Allah tidak berinkarnasi maka tidak ada inkarnasi. Kita dipanggil untuk menggenapi dan dan membangun Roh Kudus. Jadi, fondasinya adalah Yesus Kristus. Dengan kata lain ini merupakan kita yang dicipta menjadi yang tidak tercipta melalui kasih. Kasih bukan hanya sekedar perbuatan baik tetapi kekal adanya. 1 Korintus 13:12 mengatakan terdapat iman, pengharapan dan kasih dari ketiga itu yang paling besar adalah kasih.

Dasar dari kasih merupakan pengharapan, dasar dari pengharapan yaitu iman. Jika kamu mengasihi maka kamu adalah murid-Ku. Kasih menunjukkan bahwa kita adalah manusia. Jadi yang menunjukkan manusia itu tidak sia-sia adalah kasih. Untuk menyatu dengan Kristus kita harus dipenuhi oleh Roh kudus. Hal inilah yang disebut dengan sinergi.

Komentar Bapa-bapa Gereja St. Thalassios

Second Century No. 1-7

  1. If you want to be freed from all the vices simultaneously, renounce self-love, the mother of evils.

Egois atau mencintai diri sendiri merupakan puncak dari nafsu yang dapat membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Egois merupakan ibu dari si jahat karena sifatnya yang tidak pernah puas untuk memuaskan nafsu manusia yang tidak pernah habisnya. Oleh karena itu hanya Kristus yang dapat memuaskan jiwa kita. Dan dari Dialah kita akan mengalami kepuasan untuk mencukupkan diri kita dengan cinta yang dari Tuhan.

2. The soul’s health consists in dispassion and spiritual knowledge; no slave to sensual pleasure can attain it.

Dibutuhkan konsistensi untuk mengikis hawa nafsu serta komitmen untuk berjaga-jaga supaya tidak jatuh ke.dalam dosa sehingga hal ini harus dikerjakan secara berulang-ulang. Jiwa yang terus dilatih untuk mengikis keinginan jahat akan mengalami pertumbuhan iman yang sehat serta tidak akan lagi diperbudak oleh hawa nsfsu yang jahat.

3. Patient self-control and long-suffering love dry up the pleasures of soul and body.

Menaiki tingkat yang lebih tinggi lagi untuk menghilangkan hawa nafsu yaitu dengan cara menguasai diri sehingga bisa bersabar dari penderitaan yang menghasilkan kasih. Tindakan ini dapat di jangkau dengan mulai meminta anugerah Allah untuk mencapai kasih yang sempurna seperti Dia.

4. Self-love – that is, friendship for the body – is the source of evil in the soul.

Mengasihi diri sendiri itu baik adanya karena kita belajar untuk menerima diri kita dengan segala kekurangan yang kita miliki. Hal ini membuat kita dapat menghargai siapa kita sebenarnya. Namun konteks ini menjelaskan bahwa mengasihi diri dengan memuaskan atau melampiaskannya dalam bentuk pesta pora, menjadi egois dan tidak peduli dengan sesama membuat kita jatuh ke dalam dosa yang mengikat jiwa kita kepada si jahat atau iblis. Kenal dan sadari apakah kita sedang mengasihi diri atau mengasihani diri dengan memuaskan hawa nafsu itu sendiri.

5. The intelligence by nature submits to the Logos and disciplines and subjugates the body.

Intelek oleh penyerahan yang alami kepada firman dan disiplin dan menaklukan tubuh.

Menyerahkan inti roh atau Nous kita kepada Tuhan serta disiplin dalam melatih diri kita untuk mengikis keinginan daging kita merupakan hala yang harus dikerjakan setiap waktu untuk mencapai pengudusan serta menjadi serupa dengan Kristus.

6. It is an insult to the intelligence to be subject to what lacks intelligence and to concern itself with shameful desires.

Dia adalah sebuah penghinaan kepada intelegensi menjadi subjek untuk kekurangan intelegensi dan untuk fokus kepada diri sendiri dengan keinginan yang memalukan

Memusatkan perhatian intelek kita kepada Kristus merupakan tujuan akhir hidup kita untuk mencapai gambar dan rupanya yang nyata dalam hidup kita. Oleh karena itu penting untuk memiliki intelek berfokus kepada Allah dan bukan kepada diri sendiri.

7. For the deiform soul to abandon the Creator and worship the body is an act of depravity.

Memuaskan hawa nafsu merupakan penyembahan berhala yang dilakukan oleh intelek atau nous kepada diri kita sendiri. Tindakan ini menghasilkan sikap dari egoisentris yang memusatkan pada perhatian yang berlebihan kepada diri sendiri dan menyingkirkan tujuan akhir untuk menjadi segambar dan serupa dengan Kristus. Oleh karena itu, sikap ini harus disingkirkan karena dapat memutuskan hubungan dengan Allah yang merupakan pencipta dari kehidupan kita yang utuh dimilikinya dengan cara memusatkan perhatian kepada Allah mencegah penyembahan berhala kepada diri kita sendiri menjadi berpusat kepada Allah.

Source:

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai