Two Aspects of the Church: Final

Aspek gereja menurut Lossky ada dua. Mengapa ada dua? Karena gereja adalah karya Kristus dan Roh Kudus. Karya Kristus itu berupa inkarnasi-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya serta kenaikan Dia ke Surga. Karena Kristus datang berinkarnasi memiliki dua kodrat atau dua natur berarti Dia memiliki 2 kehendak atau dua operasi atau dua energi yaitu ilahi dan manusia. Dua kodrat ini saling bersinergi untuk mengerjakan, mendirikan dan membangun gereja. Sehingga gereja merupakan karya dari sinergi dua kodrat itu. Sehingga kita yang berasal dari dua kodrat itu lalu harus bersinergi. Seolah – olah kita punya dua kodrat yaitu manusia dan ilahi. Secara Ontologi kita adalah satu kodrat tetapi secara Eklesialogi kita sedang menyatu dengan Kristus. kemanusiaan inilah yang harus diilahikan untuk menjadi manusia ilahi dan bukan daging. Inila yang dipandang secara Kristologi aspek.

Ada Sacramental Union ketika kita menikmati tubuh dan darah Kristus dalam perjamuan ini harus menjadi bagian dari kehidupan  Sacramental life. Inilah yang disebut Kristologi Aspect. Untuk mengerjakan sacramental life itu harus ada aspek kedua yaitu Pneumatological Aspect yang berarti kita yang adalah anggota tubuh Kristus bersinergi dengan Roh Kudus melalui karya atau energi dari Roh Kudus atau anugerah/ kasih karunia, belas kasih dan rahmat ini semua merupakan energi dari Roh Kudus untuk mengerjakan Sacramental Life.

Secara Hstorigical Aspect dan Pneumatologi Aspect tujuan kita ada didalam gereja adalah bagaimana dua natur itu bisa saling bersinergi. Pneumatologi Aspect of Church itu berakar didalam misteri Pentakosta. Perbedaan dari dua aspek itu adalah Kristus menyediakan Sakramen-Nya. Misalnya tubuh dan darah-Nya, dan Roh Kudus menguduskan-Nya, menyucikan-Nya dan memberikan-Nya kepada kita.

Lossky mengatakan dalam Christology Aspect, kita adalah anggota tubuh-Nya Kristus. Secara Pneumatologycal Aspect, berarti tubuh Kristus itu, bersinergi satu dengan yang lain kemudian mengerjakan apa yang menjadi objective atau tujuan dari Kristus. sehingga gereja ini seperti organisasi yang hidup. Gereja itu bukanlah bangunan tetapi sebuah organisasi yang hidup didalam dua kodrat tadi. Berarti gereja merupakan sesuatu yang ilahi. Gereja bukan hanya sekedar kumpulan orang-orang percaya lalu beribadah bersama, melakukan kegiatan bersama atau mission trip.  Atau sekedar belajar atau PA (Pendidikan Alkitab) bersama, atau saling membantu sesama, melainkan suatu Hipostasis yaitu tubuh Kristus tadi yang bersifat ilahi. Oleh karena itu kita bisa hidup kekal karena yang kekal itu ilahi. Mengapa kita bisa hidup kekal? karena kita Union atau menyatu didalam-Nya.

Didalam Christology Aspect gereja mencapai perfect stability dalam Efesus 2:20-22. Kristus merupakan fondasi atau menjadi pemersatu antara Allah dan manusia. Gereja menjadi kuat dan kokoh dalam Kristus.

Oleh karena itu manusia dapat hidup kekal karena keilahian atau menyatu didalam Kristus. (Efesus 2:22) Dalam aspek  gereja merupakan bangunan yang kokoh. Batu penjuru atau Kristus artinya menjadi pemersatu antara manusia dan Allah. Sehingga menjadi stabilitas yang sempurna. Secara Aspect Pneumatologi ada Roh Kudus yang bersemayam dalam tubuh menjadi makhluk hidup.

Gereja memiliki karakter dinamis yang akan mencapai tujuan akhir yaitu menyatu dengan Allah. Secara Krisologi ini merupakan tubuh Kristus. Tubuh yang hidup ini dipandang dengan aspek Pneumatologi. Rasul Paulus mengatakan bahwa ini menunjukkan kepada gambar penyatuan oleh Kristus dan gerejanya. Kristus seperti mempelai laki-laki dan kita adalah mempelai perempuan (Efesus 5:31). Inilah yang disebut dengan penyatuan yang misteri. Paulus juga mengatakan penggambaran penyatuan itu bisa diibaratkan seperti mempelai laki-laki dan perempuan, sehingga gereja itu satu tubuh tetapi banyak anggotanya. Dalam perjanjian lama yaitu di kitab agung bagaimana hubungan intim manusia dengan Allah. Contohnya para martir perempuan seperti Pelagia yang mengganggap bahwa memperlai laki-lakinya ialah Kristsus itu sendiri.

Peran Roh kudus inilah yang memateraikan serta menguduskan. Kristus yang adalah mempelai laki-laki dan kita adalah mempelai perempuan. Roh kudus yang berperan sebagai satu kodrat atau berhipostasis dari satu gereja itu adalah manusia. Sehingga jika kita baca kitab Kidung Agung yang adalah kitab keintiman dengan kekasih. Ini merupkan sebenarnya relasi kita dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bagaimana kita bisa dapat menyatu dengan Allah ? yaitu dengan menyatu dengan Kristus. Hanya didalam gereja kita dapat menyatu dengan Allah. Ini merupakan suatu misteri ilahi yang besar. Pada akhir zaman semua orang percaya akan menerima tubuh yang tidak lagi binasa. Ketika kodrat telah dicipta, maka tidak akan menyatu dalam pribadi manusia sehingga kita menjadi satu hipostasis yang berlangsung pada akhir zaman.

Sasaran gereja adalah manusia yang sempurna bersama dengan Allah. Mengapa orang percaya banyak mengalami penderitaan? Padahal sudah menyatu dengan Kristus? Penderitaan yang dialami serta kematian dan alam maut merupakan bagian penderitaan yang diikuti dari teladan Kristus atau menjadi jalan masuk untuk mencapai kekekalan. Satu contoh yang nyata dalam pengudusan yaitu secara sukarela yaitu bunda Maria sehingga ia diangkat melalui tubuh-Nya.

Apa yang terjadi pada Maria, kematian tidak lagi menghalanginya, ia seperti anak-Nya diangkat ke surga. Ini merupakan perfect human (manusia yang sempruna). Kristus menjadi manusia yang dicipta dan telah mencapai keilahian. Kematian tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Bunda Allah merupakan manusia yang diciptakan dan menjadi manusia yang digemari. Oleh karena itu tidak ada yang dapat menjelaskan kehadirannya.

Komentar Bapa-bapa Gereja St. Thalassios

Second Century No. 8-15

8. You were commanded to keep the body as a servant, not to be unnaturally enslaved to its pleasures.

Kita tidak dapat memerintahkan tubuh untuk berhenti memuaskan nafsu itu tetapi kita dapat mengontrol diri untuk tidak jatuh kedalam nafsu tersebut.

9. Break the bonds of your friendship for the body and give it only what is absolutely necessary.

Mengikis keinginan daging sama seperti kita memtuskan tali pertemanan dengan nafsu yang membuat kita jatuh kedalam dosa.

10. Enclose your senses in the citadel of stillness so that they do not involve the intellect in their desires.

Hesychasm menjadi jalan alternatif apabila kita diserang dari keinginan dan nafsu yang jahat. Ini dlakukan secara terus menerus supaya kita terbebas dari bahayanya dosa yang mendatangkan maut.

11. The greatest weapons of someone striving to lead a life of inward stillnesses are self-control, love, prayer, and spiritual reading.

Beberapa senjata yang dapat kita jadikan alat untuk tinggal dalam keheningan yang kita perkuat yaitu dengan penguasaan diri, kasih, berdoa serta membaca Alkitab.

12. The intellect will go on looking for sensual pleasure until you subjugate the flesh and devote yourself to contemplation.

Yang membuat hawa nafsu menjauh dari jiwa kita adalah penaklukan dari keinginan daging yang terus-menerus dikikis dengan latihan rohani yang mendatangkan anugerah Allah.

Source: Hendi Wijaya Youtube Chanel

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai