Gambar dan Rupa Kristus

Tujuan Nyssa menulis Catechetical discourse wacana katekese supaya mereka dapat beriman kepada Kristus. Meskipun iman itu sebuah misteri, tetapi sesungguhnya dapat dipelajari sehingga menjadi percaya kepada Kristus. Iman harus sejalan dengan pengajaran. Walaupun iman itu sebuah misteri, hal ini sudah menjadi tanggung jawab kita untuk memberikan pengajaran. Buku ini ditulis untuk golongan Yahudi yang mempelajari satu Allah serta golongan Yunani yang mempelajari banyak Allah. Tetapi banyak heresi atau bidat yang menyeleweng dari pengajaran. Nyssa mengatakan bahwa untuk menyembuhkan jiwa berarti obatnya juga harus sesuai dengan penyakitnya. “Kamu tidak dapat menyembuhkan inkarnasi Allah dengan argumen yang sama.
Sama dengan orang heresi yang percaya kepada banyak macam mitos. Tulisan atau firman ini ditulis untuk banyak orang yang dapat diselamatkan tetapi sesuai pengajaran iman yang sejati. Dia mulai pengajarannya dengan menjelaskan Satu Allah dalam tiga pribadi atau Trinitas. Bagaimana mengajari orang Yunani yang banyak menjalani politik, serta orang-orang Yunani yang mengajarkan berbagai hal tentang ilmu. Nyssa mengajak mereka untuk menyampaikan sebenarnya Allah itu hanya satu tidak banyak. Dia mengatakan jika kita mengatakan bahwa Allah yang satu itu tidak pernah ada, bagaimana dengan dunia yang telah ada ini? Jika dia meragukan eksistensi dari Allah, bagaimana dengan Allah banyak itu? Allah yang banyak itu seharusnya Allah yang sempurna dan berkuasa, kekal dan pastilah memberikan kontribusi yang baik bagi manusia.
Nyssa tidak menolak bahwa Allah yang banyak itu salah tetapi juga ada benarnya. Mengapa Nyssa percaya pada satu Allah? Karena yang namanya Allah itu pasti sempurna dan tidak ada yang mengalahkan kesempurnaan-Nya karena hanya satu jika dua maka ada Allah yang memiliki kesempurnaan lebih dari Dia. Jika dia adil, bijaksana dan kekal berarti tidak ada yang menandingi-Nya. Allah yang banyak itu haruslah yang paling sempurna. Jika ada yang paling sempurna lagi berarti ada yang diatas Allah itu lagi. Ada hipostasis yang namanya firman Allah. Jika Allah yang sempurna itu tentulah bukan Allah yang bisu (tidak bisa bicara) Dia pasti memiliki kata-kata (Firman) atau disebut Logos.
Jika Dia memiliki firman, maka dia memiliki visi kehidupan. Hidup, kuasa dan hikmat itu menunjukkan kekuasaan-Nya. Maka jika Allah itu ilahi maka kodrat-Nya kekal sehingga tidak ada tandingannya. Lain halnya dengan manusia yang sementara atau tidak kekal. Jika Allah memiliki firman maka Ia berkuasa memberikan apa yang tidak ada menjadi ada atau yang fana menjadi tidak fana.Firman-Nya yang memiliki kehidupan kuasa dan hikmat adalah firman yang memiliki keputusan untuk mencipta dan tidak mencipta, sama seperti manusia yang berhak untuk berkata-kata maupun tidak. Apa yang diciptakan? Apa yang firman ciptakan adalah berkuasa dan baik. Karena Dia adalah hidup, berkuasa dan berhikmat maka Dia berkuasa untuk hidup, berkuasa dan berhikmat.
Kata- kata-Nya menunjukkan bahwa Dia sehakekat dengan Allah yang satu bukan terpisah dari Allah yang satu itu. Jika Dia adalah firman yang hidup maka Ia adalah firman yang bisa memutuskan segala sesuatu sebab Dia hidup, Dia bisa mengerjakan karya-Nya karena Dia berkuasa, segala ciptaannya pasti baik karena Ia berhikmat. Bagaimana dengan roh-Nya. Allah yang satu pasti dapat berkata-kata, Allah yang satu itu juga bernafas yang menunjukkan Dia hidup, Roh-Nya itulah nafas-Nya. Roh Allah atau disebut Roh Kudus yang ada di dalam diri Allah sama seperti firman Allah. Karena Dia sempurna maka firman dan roh-Nya juga sempurna yang bisa disebut Bapa. Manusia hanya bisa melihat segala kuasa Allah melalui ciptaan-Nya.
The Spirit an Argumenty Accent
Kodrat kita sebagai manusia memiliki kata- kata dan roh. Ada istilah yang mengatakan yaitu hipostasis. Firman dan roh Allah merupakan inspirasi dari Allah melalui kitab suci. Dalam kitab suci dikatakan bahwa harus ada kata Tuhan. Kitab kejadian itu sendiri mengatakan Firman itu mencipta langit dan bumi lalu roh Allah melayang-layang. Kata-kata atau firman Allah bukan sekedar kata-kata yang mati tetapi dia menghasilkan sebuah ciptaan begitu juga dengan roh. Jika kita menggunakan Antrophormophis jika kata-kata Allah seperti kata-kata manusia demikian juga roh-Nya. Allah tritunggal yang memiliki kuasa, hikmat dan kuasa itu jika Allah berkata- kata maka terjadi sesuatu. Contoh firman Allah berkata-kata maka Allah itu mengasihi Anak dengan nafas-Nya atau Roh-Nya. Nyssa menuliskan bahwa Allah itu bernarasi atau Allah itu berkarya lewat karya-Nya. Dan diikuti oleh Roh Kudus-Nya. Conytohnya pada penciptaan “Pada mulanya Allah, menciptakan langit semesta (Kej. 1:1)”
The Image of God
Nyssa mengatakan bahwa, Tuhan menciptakan alam semesta ini ada alasannya yaitu supaya manusia mengambil bagian dalam keilahian atau untuk manusia. Semua yang diciptakan oleh Allahdiciptakan hanya untuk manusia. Nyssa juga mengatakan sama seperti mata yang diciptakan untuk melihat, maka tujuan dari ciptaan manusia itu adalah supaya dapat mencapai keilahian. Contoh matahari, kita tidak dapat melihat matahari dengan mata telanjang karena itu susah untuk dilakukan. Tetapi kodrat manusia itu seperti mata yang ingin melihat terang, karena di situlah matahari sebagai sumber terang-Nya. Dia katakan juga, ketika manusia itu diciptakan maka manusia itu dibuat menjadi se-gambar dengan pencipta-Nya. Jadi gambar Allah artinya manusia itu menjadi se-gambar dengan Allah. Setelah manusia diciptakan menjadi se-gambar dengan Allah maka manusia itu diberi satu tanggung jawab untuk menjadi serupa. Itulah sebabnya Adam diberi gambar Allah supaya dalam gambar itu mencapai keserupaan seperti Kristus.
Lovsky mengatakan, gambar dan rupa Allah merupakan dua hal yang berbeda. Gambar adalah sesuatu yang terlihat dan berada di dalam diri manusia sedangkan Likeness atau rupa merupakan tujuan dari Image manusia. Dimanakah letak rupa Allah itu? Irenius mengatakan bahwa gambar Allah ada di dalam tubuh dan jiwa manusia sehingga harus menyatu sampai mencapai kesetaraan dengan Allah. Gambar Allah dalam jiwa itu terletak di mana? Jika gambar itu ada di dalam Nous (inti roh) manusia maka manusia bisa berdoa atau beribadah kepada Allah. Berbeda dengan hewan yang tidak memiliki gambar dan rupa Allah. Karena kita tahu bahwa Kristus merupakan gambar dan cipta manusia, maka manusia akan menjadi se-gambar dan serupa dengan Kristus. Contoh: Seorang pemahat patung Jenderal Sudirman yang belum mengenal wajah Jenderal Sudirman harus mengetahui gambar wajah Jenderal Sudirman melalui gambar atau foto untuk mengetahui bagaimana pola yang akan dibentuk sehingga menyerupai rupa Jenderal Sudirman.
Ketika Kristus berinkarnasi dan menjadi Adam kedua Dia tidak pernah mati, berbeda dengan Adam yang pertama gagal menjalani ketaatannya kepada Allah. Artinya, Dia tidak pernah menyelesaikan tugas untuk menjadi serupa dengan Allah. Apa tugas Adam setelah menjadi gambar? Dia harus mendaki menuju keserupaan, tetapi ada tipuan dari iblis. Godaan iblis menjadikan Manusia tidak dalam kondisi yang baik untuk mencapai tugasnya. Nyssa mengatakan bahwa manusia yang diciptakan memang menurut gambar dan rupa Allah, tetapi ia diberikan kehendak bebas untuk memilih sebab manusia merupakan gambar Allah. Gelap merupakan ketiadaan terang, Adam sebelum jatuh dalam dosa dia tahu yang baik dengan kerelaanya dia melakukan semua perintah Allah. Kemudian datanglah iblis menipu Adam dengan kehendak bebas Adam untuk memilih ular daripada Allah. Ketika Adam memilih ular maka di situlah dia jatuh ke dalam dosa.
Sehingga banyak orang bertanya mengapa manusia diciptakan jika akhirnya melakukan dosa? Allah menciptakan manusia dengan segala kebaikan. Kejahatan bukan sebuah dosa melainkan ketiadaan terang atau kebaikan. Oleh sebab itu apakah Tuhan yang menciptakan dosa? Tentu saja tidak, manusia-lah yang dengan segala ciptaan-Nya yang memilih (Free will) melakukan dosa. Ini hanya ketiadaan yang baik bukan eksistensi atau kehadiran. Karena manusia itu punya kehendak bebas termasuk memilih di luar Allah karena termasuk ia gambar Allah. Kejahatan bukan dari Allah melainkan dari diri sendiri. Akibat dari dosa adalah kematian yang mengakibatkan manusia menjadi musuh terbesar Allah. Nyssa mengatakan, kematian bukanlah musuh terbesar melainkan sebuah terapi untuk diri kita memulihkan kodrat kita melalui Kristus yang memulihkan kodrat kita yang tidak mati melalui kematian-Nya. Jadi kematian dipakai oleh Allah untuk memulihkan kodrat yang baru. Sama seperti biji yang harus mati di tanah sehingga bisa tumbuh dan berbuah.
Lovsky mengatakan manusia diciptakan oleh gambar dan rupa Allah ditambah dengan hipostasis atau personalnya yang tidak lebih dari satu atau banyak. Setiap hipostasis itu bertanggung jawab terhadap kodrat yang dimiliki. Bagaimana caranya kodrat gambar menjadi rupa Allah? Kristus datang untuk memulihkan kodrat itu bukan hipostasisnya. Person atau pribadi meimiliki freedom (kebebasan). Didalam kodrat ada namanya
- Kodrat Natural (Natural Will) seperti: lapar, marah, sedih, haus dll. Kodrat natural ini lebih memilih iblis seperti makan secukupnya atau makan berlebihan. Kemudian ada juga
- Kodrat yang dipilih (Choosing Will), sebelum adam jatuh kedalam dosa natural will dan Choosing will baik- baik saja, namun ketika hendak mentaati perintah Allah maka ia memilih chosen will untuk tidak mentaati perintah Allah maka kodratnya rusak, sehingga tidak mencapai kodrat keilahian Allah atau gambar dan rupa Allah.
Itulah sebabnya Kristus datang untuk memulihkan kodrat itu supaya dapat digunakan lagi. Jadi semua mansuia yang telah rusak kodratnya harus berada di dalam kodrat Kristus. Sementara kelahiran baru harus dilahirkan yaitu Hipostasis–nya atau pribadinya yang harus dilahirkan baru untuk memakai kodrat Adam Kedua melalui keselamatan untuk menjadi serupa dengan Allah. Maka ketika kita menyadari ada anugerah yang menyelamatkan kodrat kita maka ada Roh Kudus yang senantiasa menjadi penolong. St. Theophan mengatakan, Ketika kita lahir baru kodrat kita di ubahkan sehingga kodrat kita menjadi gambar Kristus.
Dan untuk mencapai rupa-Nya maka itu harus dikerjakan dan diperbaharui oleh Roh Kudus. Sehingga, ketika kita dilahirkan kembali oleh Roh Kudus maka kita dikembalikan dari yang kudus menuju kekudusan menurut iman kita kepada Allah. Maximus mengatakan, Jika kamu memilih tuan harus memilih satu tuan sehingga kamu bisa setia kepadanya bukan dua tuan. Adam ditipu oleh iblis dia memilih ular. Adam kedua memilih mati untuk taat kepada Allah supaya dengan kematian-Nya dia bisa bangkit untuk hidup. Kodrat yang kita miliki adalah memilih Adam kedua untuk bangkit di dalam kodrat itu yang dapat memberi kemenangan.
Inilah yang disebut dengan pemulihan kehidupan. Nanti kodrat kita sebagai Kristus akan hidup abadi bersama dengan Allah. Di dalam tubuh manusia terdiri dengan tubuh, jiwa dan roh. Sebenarnya manusia itu terdiri dari dua yaitu jasmani dan batiniah namun batiniah memiliki jiwa yang dihidupi oleh roh. Jiwa manusia diciptakan oleh Allah yang merupakan gambar-Nya. Jiwa atau Nous memiliki kuasa yaitu firman Allah atau Logos itulah yang memiliki Intelect atau rasio, kehendak dan emosi. Di dalam jiwa kita memiliki roh yang menghidupi jiwa. Ketiga hal itu telah diberikan oleh Allah kepada manusia di dalam kodrat manusia. Jika tubuh bukan berasal dari Allah maka tidak dapat dibangkitkan.
Pertobatan adalah mengerjakan keselamatan yang tujuannya menuju garis akhir atau Theosis. Di dalam kodrat ada namanya roh dan tubuh yang bisa taat kepada Allah. Manusia yang telah memakai kodrat Kristus disebut gereja. Artinya gereja adalah tubuh Kristus mengapa disebut demikian? Suatu gambaran bahwa kita memakai kodrat Kristus karena kita memakai karya Kristus di bumi ini. Kehadiran kita menjadi kehadiran Kristus di dunia karena kita memakai kodrat Dia, kapan itu mulai ada sejak Pentakosta atau saat turunnya Roh Kudus yang dimulai dari para rasul yang menjadi kumpulan sebuah gereja. Sebelum Kristus dimuliakan Roh Kudus belum diberikan. Sehingga ketika Roh Kudus diberikan kepada kita maka kita telah menjadi anak-anak Allah dan bukan anak-anak Tuhan.
Menerima Roh Kudus berarti kita menjadi seperti Allah atau transfigurasi, sanctification dari Roh Kudus. Sehingga di luar gereja tidak ada keselamatan sebab, keselamatan adalah gereja itu atau pewahyuan bagi setiap orang yang percaya yang berada di dalam tubuh Kristus yang menjadi misteri yang menyatu dengan Kristus. Sehingga Ketika Kristus naik ke atas surga maka Dia berwujud manusia yang naik ke atas surga demikian juga dengan kita yang akan naik ke atas surga.
Komentar Bapa-bapa Gereja
St. Thalasisos The Libyan
First century
88. An evil suspicion darkens the mind (cf. Ecclus. 3 : 24) and diverts attention from the path to what lies beside it.
Pikiran yang tidak dapat dikuasai atau dikendalikan menjadi racun bagi jiwa untuk berbuat jahat atau membuahi godaan jahat. Kecurigaan dapat menjadi penghambat untuk melakukan kebajikan karena di dalamnya tidak lagi berfokus pada kebenaran melainkan menyerong dari jalan yang seharusnya dilewati. Seperti seseorang yang hendak berpergian ke tempat kerja namun ia teralihkan oleh tempat hiburan malam yang menyenangkan maka pikiran yang tidak fokus atau berpusat pada kebajikan apabila tidak dijaga akan menjadi penghambat untuk menjalani kebenaran.
89. To each virtue there is an opposing vice ; hence the wicked take vices for virtues.
Diilustrasikan seperti seorang yang mencuri harta dari rumah-rumah orang kaya lalu memberikannya kepada orang miskin sehingga ia dijuluki sebagai seorang pahlawan. Hal ini merupakan tindakan yang bajik namun melihat sumber yang dia berikan dari hasil kejahatan maka hal ini harus dipertanggunjawabkan baik kepda manusia maupun kepada Tuhan. Orang menjadi jahat bukan berasal dari pikirannya tetapi dari praktik yang salah ketika ia ingin menjadi orang baik.
90. If the intellect dallies with pleasure or dejection, it rapidly succumbs to the passion of listlessness.
Intelek harus dilatih setiap saat agar tidak terlalu jauh untuk memikirkan kesedihan atau kesenangan. Kesenangan dan kesedihan yang berlebihan dapat membuat intelek kita tidak tertuju kepada Allah sehingga kehidupan rohani kita akan menjadi kering dan tidak bergairah. Oleh karena itu dengan bermazmur dalam pikiran atau berjaga- jaga melalui doa membuat intelek kita menjadi aktif sehingga kerohanian kita menjadi segar.
91. A pure conscience rouses the soul, but an impure thought debases it.
Hati yang murni di ibaratkan seperti segelas air putih yang hambar namun dapat menyegarkan dahaga ketika kita merasa haus dan ingin sekali minum air. Kemurnian hati kita dapat teruji dengan tindakan kasih yang dapat kita nyatakan dalam perbuatan kita sehari hari. Orang dapat berpikir, berbicara dan bertindak karena hatinya yang menginginkannya bukan karena paksaan. Ketulusan juga merupakan buah dari hati yang murni. Tetapi semua kebajikan diolah oleh pikiran yang menjadi awal untuk merencanakan dan melakukan kebajikan.
92. When the passions are active they cast out self-esteem ; when they are expelled, they reintroduce it.
Godaan yang dihadapi oleh adam dan hawa datang bukan hanya sekali tetapi berkali-kali artinya godaan atau nafsu akan muncul setiap saat sampai manusia dapat mematuhinya dan jatuh ke dalam dosa. Ini merupakan cara kerja iblis yang tidak mau manusia menjadi taat kepada Allah. Iblis hanya menggoda manusia apakah godaan itu berhasil atau tidak bergantung kembali kepada kehendak bebas yang dimiliki manusia apakah ingin menaatinya atau melawan perintah Allah.
93. If you want to be free of all the passions, practise selfcontrol, love and prayer.
Latihan rohani diperlukan ketika kita ingin memusuhi godaan yang mematikan. Mengikis godaan nafsu dengan pengendalian diri, kasih dan doa merupakan hal yang sulit namun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Belajar untuk mengendalikan emosi, dengan melihat kasih Allah dalam segala pergumulan serta memanjatkannya dengan doa dapat menjadi obat bagi jiwa kita yang ingin dipulihkan dari godaan yang menginginkan hal instan dari sijahat.
94· An intellect that gives itself over to God in prayer frees the soul’s passible aspect from the passions.
Intelek atau jiwa dapat menjadi pasif jika tidak ada pertarungan sengit antara hukum kasih dan hukum daging yang bergulat di dalam hati. Oleh sebab itu menyerahkannya untuk dikuasai oleh kehendak Allah menjadi doa setia umat manusia agar pikiran dapat terjaga dan menjadi aktif untuk menaati perintah Allah saat mengasihi-Nya dan sesama. Roh memang penurut tetapi daging lemah. Kondisi inilah yang menggambarkan keadaan Konflik batin yang sedang terjadi ketika kita ingin melakukan kehendak Allah. Mengapa terjadi demikian? Intelek atau Nous kita sebenarnya sedang bertarung dengan godaan nafsu yang membuat kita nyaman untuk melakukan dosa di saat yang bersamaan jiwa juga menginginkan untuk menuruti kehendak Allah atau hukum kasih. Karena melakukan kehendak Allah adalah tindakan yang sulit untuk dilakukan apalagi ketika kita belajar untuk bertobat dari kehidupan manusia lama menuju manusia baru yang semakin hari harus menyempurnakan diri serupa dengan Allah. Manusia membutuhkan belas kasihan Allah untuk menaati kehendak-Nya dengan bantuan Roh Kudus yang menjadi penuntun bagi kehidupan orang percaya dalam menjalani ketaatannya kepada Allah.



