Sarkic, Noetic dan Psychic

Langkah – langkah menggali teks-teks Kitab Suci. Bagaimana sebaiknya kita menggali kitab suci? untuk menggali teks-teks tersebuta ada Empat lapisan makna Alkitab yaitu:

  1. Sarkic: teks dan historis. Teks terbagi atas: Teks asli, baik Bahasa Ibrani maupun Yunani.
    Syntactic form, atau struktur teks yang artinya mencari mana subjek dan predikatnya agar dapat mengetahui mana main idea dan ide pendukungnya. Kemudian Terjemahan literal, dan Syntactic content yang terdapat Main idea serta supporting detailnya. Historis yaitu konteks pada saat penulisan. Contohnya surat Paulus kepada Korintus. Menceritakan apa yang terjadi di masa itu.
  2. Noetic: Christ Centered & Ecclesial (semantic content) dan Personal (kardia). Spiritual meaning seperti roh yang ada dalam teks itu. Sama seperti manusia yang memiliki roh. Alkitab itu juga memiliki roh, kehendak, perasaan yang dinamis sehingga menghasilkan doktrin atau  Didaskalia untuk reproof, correction, dan instruction in righteousness. Spiritual ini menuntun kita pada keselamatan di dalam Kristus (baca 2 Tim 3:15-17).
  3. Psychic: obedience atau moral. Ketaatan pada doktrin untuk melakukan good works (2 Tim 3:16-17) sehingga menghasilkan buah Roh (Gal 5:22-23).

4. Anagogic adalah pelajaran ketaatan bagi jiwa dan tubuh sebagai aplikasi dari doktrin untuk mencapai kesucian hati (dispassion/ mematikan nafsu daging) dan perbuatan-perbuatan baik/kasih (love) dengan cara menyatakan kesalahan (reproof), memperbaiki kelakuan (correction), dan mendidik dalam kebenaran (instruction in righteousness).

Alkitab adalah produk atau buah dari gereja. Misalnya Paulus menulis surat kepada jemaat yang ada di Roma. Kemudian di abad keempat dikanonkan jadilah sekarang kita sebut Alkitab atau kitab suci. Inilah karya Roh kudus yang dicurahkan kepada Rasul Paulus untuk menginjil di Roma. Mengapa melalui tulisan? Karena Rasul Paulus saat itu tidak bisa menggembala secara langsung ke Roma. Surat – surat yang terkumpul itulah yang dikumpulkan menjadi Kitab Suci. Waktu Kitab Suci itu ditulis, itulah yang disebut sebagai tuntunan Roh Kudus. Jadi mustahil jika kita membaca Kitab Suci lepas dari gereja.

Pada waktu kita membaca kitab suci kita dituntun Roh Kudus dan dituntun oleh gereja. Surat Rasul Paulus dibaca oleh Bapa-bapa Gereja di Roma contohnya Jerome, Gregory Nyssa kemudian menjelaskan kepada jemaat yang digembalakan. Merekalah murid – murid Para Rasul yang dituntun oleh Roh Kudus. Sehingga Alkitab itu dibaca oleh komunitas dan harus tahu apa yang mereka pelajari di zaman dahulu. Dari situlah ketika sudah sampai dilangkah ketujuh yaitu semantic content, atau konsep teologisnya harus murni dari teks tersebut.

Ringkasan pelajaran yang noetic itu harus menyentuh akal dan hati kita renungkan dalam hati. Kemudian masuk ke Aplikasi (ketaatan) atau lapisan ketiga (psychic) yaitu teks itu memiliki jiwa. Jiwa berarti Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupaNya. Ketika Tuhan melepaskan jiwaNya kepada kita, kita harus memilih untuk mentaatinya atau tidak. Tujuan dari obedience yaitu untuk mencapai Anagogic kita makin tumbuh semakin serupa dengan Kristus. Bagaimana Roh Kudus bekerja dalam hidup kita? Kita harus menjadi taat kepada Allah, sehingga kita menemukan terang Allah.

Sifat dari Kitab Suci

Apa itu Alkitab? Florovsky menjawab buku suci atau sakral bagi orang percaya. Tetapi Alkitab bertujuan bukan untuk di eksegesis melainkan kita harus mengetahui pesannya atau Rohnya. Kitab suci tidak hanya sekedar dibaca tetapi dipahami. Untuk apa kita membaca Kitab Suci? Alkitab bukan hanya dokumen tetapi ini adalah koleksi dari kitab yang dikumpulkan menjadi satu dari semua kisah yang digunakan di dalam Gereja. Semua kitab yang ditulis menjadi otoritas dan pengajaran Gereja. Semua yang kita tahu kitab ini semua ditulis Yoh.20:30-31 kitab dicatat di dalam kitab ini menjadi kitab suci. Berarti kitab suci ini ada Kristus, meskipun dalam PL belum berinkarnasi. Itulah sebabnya komunitas PL tidak membuang kitab PL. Yohanes menyebutkan kisah tentang Kristus ada supaya manusia percaya dan memiliki hidup melalui namaNya. Anagogicnya kita punya hidup didalam namaNya.

Alkitab adalah firman Allah dan bukan sekedar berisi firman Allah. Florovsky mengatakan firman Allah itu ilahi tetapi Alkitab itu dibicarakan, dipelajari oleh gereja kemudian yang mengatakan Alkitab adalah firman Allah adalah gereja dan komunitasnya. Kitab dan gereja tidak bisa dipisahkan mereka milik bersama. Kitab dan umat perjanjian adalah dua mata koin yang tidak dapat dipisahkan. Roma 3:2 umat perjanjian yang dipercayakan Allah untuk membaca firman Allah. Itulah yang dibaca kemudian diyakini dan mereka percaya kepada Kristus melalui Kitab Suci. Kenapa banyak orang yang tidak percaya dengan yang Alkitab katakan? Karena mereka bukan orang-orang yang dipercaya dan tidak percaya kepada Allah. Alkitab adalah Firman Allah tetapi kitab yang disaksikan atau dibenarkan oleh gereja.

Siapa yang mengkanonkan kitab Kejadian sampai Wahyu? Yaitu, orang-orang yang percaya kepada Kristus dan gereja. Kitab itu dicatat memiliki tujuan ganda yaitu menyempurnakan diri tau Theosis dan kesaksian bagi dunia supaya orang yang belum percaya menjadi percaya. Sehingga PB bukan hanya kitab komunitas tetapi, PB bukan komunitas buku yang eksklusif tetapi buku yang diterjemahkan dengan berbagai macam bahasa. Alkitab milik gereja, maka orang – orang yang bukan atau tidak percaya tidak punya hak untuk menafsirkan kitab suci kita. Mereka tidak punya akses kepada Alkitab itu termasuk orang yang belum percaya tidak dapat memahami isi dari Firman Allah tersebut. Kitab suci itu adalah satu kumpulan atau disebut Alkitab atau kitab yang besar atau satu. Alkitab merupakan cerita karya Allah atau Karya Allah yang besar bagi manusia. Semua proses dimulai dari Allah baik awal maupun akhir. Wahyu 22:20 mengatakan bahwa Alkitab menceritakan awal sejarah manusia diciptakan hingga akhir kehidupannya. Pada akhirnya kita mengalami Theosis. Oleh karena itu PL merupakan bagian yang tidak terpisah dari PB.

Ibrani 1:1-2 mengatakan Allah yang di dalam Alkitab itu menyatakan dirinya dalam berbagai zaman dalam waktu yang lama dari satu kebenaran dan kebenaran lainnya.  Florvsky mengatakan pewahyuan Allah ada tahapnya yaitu melalui perantaraan nabi-nabi jika di PL tetapi jika di PB melalui Anak-Nya yaitu Kristus. Kedatangan Kristus menjadi pertanda akhir zaman. Ada berbagai macam tahapan untuk menggali kitab suci. Pesan kitab suci disampaikan di dalam berbagai kitab seperti hukum Taurat, sejarah, puisi, nabi-nabi serta berbagai genre kitab tersebut. Untuk empat kitab Injil yang berbeda, sebenarnya isi pesannya sama. Alkitab buku tentang Allah, Dia adalah Allah yang hadir dan menyatakan diri-Nya yang puncaknya kepada Kristus. Alkitab juga pencatatan pewahyuan Allah. Misalnya Rasul Paulus menulis surat, itu bukan sesuai kehendaknya, kita tidak bisa lepas dari Allah dalam sejarah manusia. Alkitab hadir dalam kitab manusia sehingga Ia masuk dalam sejarah manusia. Alkitab merupakan catatan karya ilahi. Mengapa ada inkarnasi? Allah yang menjadi sejarah artinya Ia masuk ke dalam bingkai sejarah manusia di situlah ia berkarya menjadi manusia. Allah mengangkat kita menjadi anak-Nya. Inkarnasi menjadikan Allah menjadi manusia. Jadi semua manusia berada dalam hukum Allah. Dalam Alkitab Allah datang kepada manusia sehingga manusia bisa bertemu dengan-Nya. Alkitab kita puncaknya mengarah kepada Yesus Kristus yang menjadi manusia. Tetapi dikatakan bahwa respon manusia bisa dapat menyembah, berdoa, berpuasa, mengasihi ini semacam hubungan kita dengan Allah. Semua itu tersedia di dalam Alkitab tetapi ketika Allah meminta Dia membuka diri kepada-Nya? Yaitu Yesus Kristus yang adalah Allah itu sendiri. Dia membuka sendiri kepada para murid-Nya lalu beri contoh seperti, mendoakan, mengadakan mukjizat, memberitakan Injil sampai disalibkan dan bangkit dari kematian. Hal ini menghasilkan sebuah hubungan antara Allah dengan manusia. Allah menunggu pertobatan manusia yang menuntut kehendak bebas manusia untuk memberikan terang yang terpancar dalam peristiwa transfigurasi sehingga kita dapat melihat terang Allah. Jadi pewahyuan adalah sejarah perjanjian seperti hukum, taurat, kitab para nabi dll. Alkitab mencatat pewahyuan dan manusia dapat merespon-Nya.

Transfigurasi Kristus

Elizabeth Situmorang                                                                                     Dogmatika 2

Hendi Wijaya                                                                                                  09 Agustus 2021

Transfigurasi artinya perubahan wujud atau pemuliaan, suatu peristiwa terang yang tidak tercipta tetapi termanifestasi oleh tubuh manusia sehingga tubuhnya mengalami pemuliaan. Jika Yesus mengalami transfigurasi berarti ada suatu sinar atau terang dari tubuhnya supaya tubuhnya yang mencapai Theosis. Manusia di dalam Kristus akan mengalami transfigurasi sama seperti Kristus. (Fil.3:20). Terang akan mengubah tubuh kita menjadi ilahi. Di mana Kristus hadir ada terang yang seperti surga. Tabernakel artinya kediaman Allah, kehadiran Kristus itulah surga. Awan menunjukkan kehadiran Allah. Tabernakel juga diibaratkan dengan demikian. Surga ditunjukkan menjadi tanda kehadiran Allah. Transfigurasi terjadi sebelum penyaliban Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian kepada Rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes karena mereka akan bersama dengan Kristus. Ketika Yesus hendak dikhianati Bapa menurunkan sinar kemuliaan supaya mereka (para rasul) tidak takut ketika hendak mengetahui sinar yang berasal dari surga. Kenapa tranfigurasi dialami sebelum penyaliban ? hal ini menjadi sebuah keyakinan atau sebuah pennguatan diri agar para rasul dan murid Kristus kuat untuk menghadapi penderitaan yang akan dialami sama seperti Kristus ketika memberitakan firman Tuhan.

Pemahaman

  1. Terang yang terpancar dari Kristus akan mengubah kita sehingga menguatkan kita untuk menghadapi berbagai macam penderitaan.
  2. Transfigurasi memancarakan sinar kemuliaan kebangkitan. Sehingga kita juga berharap akan mengalami kebangkitan sama seperti Kristus.
  3. Dengan usaha manusia tidak dapat mencapai sinar kemuliaan Kristus tetapi dengan sinar kemuliaan Kristus kita dapat menjadi terang sama seperti Kristus Matius13:43.
  4. Kristus seperti matahari yang memberi sinarNya kepada kita.
  5. Tuhan ingin menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan bagi orang yang hidup dan mati.

Musa yang menunjukkan hukum Allah sedangkan nabi itu marupakan utusan Allah.

  • Ketika Kristus bertransfigurasi saat malam, itu menunjukkan bahwa Ia mengubah kegelapan menjadi terang. Matius 17:7 = Yesus menyentuh mereka serta mengatakan jangan takut. Karena Kristus yang datang untuk menjadi manusia sehingga manusia dapat disentuh.
  • Imanuel artinya Tuhan inkarnasi menjadi manusia supaya Dia serupa dengan natur kita.
  • Kristus yang unchangeable lalu mengambil daging manusia dari Maria sehingga menjadi manusia untuk bersama dengan kita. Sebuah kondisi yang membuat kita dibersihkan oleh sentuhan Allah.
  • Manusia sangat membutuhkan sumber cahaya yaitu Bapa sedangkan cahayanya itu adalah Anak sedangkan kehangatannya itu adalah Roh Kudus.
  • Terang Kristus itu menerangi seluruh bumi, kita butuh cahaya itu untuk menguduskan diri.
  • Kesaksian dari Allah Bapa kepada Para Rasul bahwa anak-Nya menjadi manusia. Manusia melihat suatu keajaiban yang hanya terjadi sekali. Petrus juga memberikan kesaksian demikian. Kehadiran Allah itu nyata dan membuat manusia menjadi takut, sehingga disebut takut akan Allah. Ketakutakan kita bukan lah sebuah terror tetapi ketakutan yang membuat teriluminasi atau semakin terang.
  • (Matius 17:5) ini merupakan stempel bahwa Allah Bapa bersaksi jika Yesus adalah anakNya.
  • Demikian Kristus bertransfigurasi kita manusia juga akan bertransfigurasi dan menjadi dasar serta pola cetak kita sebagai manusia.
  • Posisi Roh Kudus ada ketika kemuliaan Allah hadir, saat ada di kemuliaan Allah.

Allah yang adalah manusia memancarkan terang yang akan ada selamanya. Terang Allah akan selalu ada dan tidak akan berubah. Ketika Kristus belum disalib Dia masih memiliki terang itu tetapi tidak di tunjukkan kepada para murid. Ketika telah diunjukkan kepada para muridNya maka hal itu bertujuan untuk menguatkan para murid dalam menghadapi penderitaan.

Komentar Bapa – bapa Gereja

  1. ST THEODOROS THE GREAT ASCETIC

A Century of Spiritual Texts

3. When we keep Christ’s commandments we do not benefit

Him in any way, since He is in need of nothing and is the bestower

of every blessing. It is ourselves that we benefit, since we win for

ourselves eternal life and the enjoyment of ineffable blessings.

Komentar

Kehidupan Kristus tidak bergantung pada manusia tetapi apabila manusia yang hidup bergantung kepada Kristus, maka akan memperoleh hidup kekal.

2. Maximos The Confessor

Four Hundred Texts on Love

First Century

14. A soul filled with thoughts of sensual desire and hatred is unpurified.

Komentar

Kekudusan merupakan karakter rohani yang dimulai dari mengikis segala pola pikir yang jahat (Logismoi) serta mengendalikannya dengan Hegemonikon atau pengendalian pikiran dengan selalu berjaga – jaga dan berdoa.

3.ST THEODOROS THE GREAT ASCETIC

A Century of Spiritual Texts

3 7. I have heard from elders experienced in the practice of the virtues that evil thoughts are engendered in the soul by showy clothes, the belly’s repletion and bad company.

Komentar

Asal mula pikiran jahat atau Logismoi dihasilkan dari godaan iblis yang sudah mengintip didepan pintu kemudian menggoda pikiran manusia supaya memuaskan hawa nafsu seperti kesombongan akan materi yang dimiliki, kepuasan yang berlebihan, sampai tidak ada kasih terhadap sesama manusia sehingga ketika manusia sudah melakukan tindakan jahat yang ada dalam pikirannya maka ia sudah berdosa. Oleh karena itu meminta belas kasihan dari Allah menjadi kunci utama dalam menghadapi pikiran jahat dan hal itu diperoleh dengan takut akan Allah, melakukan firmanNya serta berpengharapan penuh akan belas kasihanNya.

4. St. Maximos The Confessor third century of love

6. Some of the passions produce licentiousness, some hatred, while others produce both dissipation and hatred.

Komentar:

Hawa nafsu yang jahat dapat sesekali menggoda iman kita untuk melakukannya jika kita lakukan maka kasih akan menghilang dari jiwa kita. Kebencian yang telah ada dalam diri kita harus segera diobati seperti luka yang tergores oleh pisau yang tajam maka kebencian harus juga dibersihkan dengan pengampuan yang kita minta baik kepada Tuhan maupun sesama.

5. St. Maximos The Confessor third century of love

81. Five things make a soul cut itself off from sin : fear of men, fear of judgment, hope of future reward, love of God and, lastly, the prompting of conscience.

Komentar

Kesalahan manusia pada Allah menimbulkan hubungan yang tidak haromnis antara kita dengan Allah. selalu ada cara untuk kembali kepada pangkuan kasihNya dengan cara: Berdamai dengan Allah, takut akan FirmanNya, penghakimanNya, selalu berharap akan mahkota dari surga, serta meminta belas kasihannya sepanjang waktu dengan hati yang menangis akan dosa yang telah kita sesali membuat Allah berbelas kasihan sehingga Ia mengampuni manusia serta menyelamatkan manusia dari jurang maut yang dalam.

6. St. Thalassios First Century

85. A good heart produces good thoughts : its thoughts correspond to what it stores up in itself.

Komentar

Karakter seseorang dapat dinilai dari tingkah laku juga bagaimana ia menjalani kehidupan. Segala sesuatu yang di ucapkan, dilakukan bahkan dipikirkan bersumber dari kondisi hati yang paling dalam. Seperti hukum tabur tuai jika yang ditabur itu baik maka hasilnya juga akan baik tetapi jika tidak maka hasilnya tentu juga tidak baik.

7. St. Thalassios First Century

93. If you want to be free of all the passions, practise self, control, love and prayer.

Komentar:

Dosa bersifat mengikat dan menghancurkan, sama seperti lumut yang tinggal pada batu-batu yang kuat, tetap akan terkikis dan hancur jika tidak dibersihkan. Itulah yang akan terjadi jika kita tidak bisa melepaskan hawa nafsu kita. Mari belajar untuk menguasai diri, melampiasakan hawa nafsu kita dengan mengasihi sesama, serta berjaga – jaga dengan berdoa hali ini merupakan tindakan yang dapat dilakukan agar kita lepas dari godaan atau hawa nafsu yang selalu ada.

Rasul Andreas

Andreas adalah salah satu murid Yesus Kristus, Rasul Andreas adalah Rasul pertama yang mengikuti Kristus dan dia kemudian membawa saudaranya sendiri, Rasul Petrus kepada Kristus (Yoh. 1:35-42). Rasul Andreas berasal dari Betsaida dan sejak masa mudanya dia telah bertobat dengan segenap jiwanya kepada Tuhan. Dia tidak menikah dan bekerja bersama saudara laki-lakinya sebagai nelayan. Ketika Sang Nabi, pelopor, dan pembaptis Yohanes mulai berkhotbah, Rasul Andreas menjadi murid terdekatnya. Menyatakan Kristus sebagai Anak Domba Allah, Yohanes pembaptis sendiri mengutus 2 muridnya sendiri kepada Kristus yaitu calon Rasul Andreas dan Yohanes sang Teolog.

Setelah turunya Roh Kudus atas para Rasul (hari Pentakosta), Rasul Andreas pergi ke negeri-negeri Timur untuk memberitakan Firman Allah Dia pergi melalui Asia kecil, Trakia, Makedonia, dia mencapai sungai Danube kemudian pergi ke sepanjang pantai Laut Hitam, melalui Krimea wilayah Laut Hitam dan sepanjang sungai Dniepr dia naik ke tempat di mana kota Kiev sekarang berdiri (Eropa timur) sekarang menjadi pusat kekristenan di Eropa Timur itu buah pemberitaan injil dari Rasul Andreas dia adalah peletak pertama gereja di Eropa Timur. Dia berhenti semalam di perbukitan Kiev. Bangun di pagi hari, dia berkata kepada murid-murid yang bersamanya, “Lihatlah bukit-bukit ini? Di atas bukit-bukit ini akan memancar kemurahan hati Allah dan akan ada kota besar di sini dan Tuhan akan membangun banyak gereja-Nya. Rasul itu naik ke atas bukit, memberkati mereka dan membuat salib. Setelah berdoa dia pergi lebih jauh di sepanjang Dniepar dan mencapai pemukiman Slavia, tempat Novgorod didirikan. Dari sini Rasul Andreas berangkat melalui tanah Varangian menuju Roma untuk memberitakan injil dan kemudian dia kembali ke Trakia lagi dimana di desa kecil Byzantium, kota Konstantinopel masa depan, dia mendirikan Gereja Kristus. Nama Rasul Kudus Andreas menghubungkan ibu, Gereja Konstantinopel dengan putrinya Gereja Russia. Dalam perjalananya, Rasul yang dipanggil pertama menanggung banyak penderitaan dan siksaan dari para penyembah berhala. Mereka mengusir dia dari kota mereka dan mereka memukulinnya. Di Sinope mereka melempari dia dengan batu tetapi tetap tidak terluka. Murid Kristus yang gigih ini terus berkhotbah kepada orang-orang tentang juruselamat. Melalui doa Rasul Andreas Tuhan melakukan banyak mukjizat. Melalui kerja keras Rasul Andreas yang kudus. Gereja-gereja Kristen didirikan dimana, dia mentahbis para uskup dan klerus. Kota terakhir yang dikunjungi Rasul Andreas adalah kota Patra di mana dia mati sebagai martir bagi Kristus.

Tuhan banyak melakukan mukjizat melalui murid-Nya di Patrat yang lemah dan sakit disembuhkan dan orang buta menerima penglihatan mereka melalui doa Rasul Andreas, seorang warga termansyur nama Sosios sembuh dari penyakit serius dan Maximilla dan Stratokles, istri dan saudara gubernur Patra. Disembuhkan mukjizat yang dilakukan oleh Rasul Andreas dan pemberitaan injil yang berapi-api menerangi hampir semua warga kota Patra dengan iman yang benar. Beberapa penyembah berhala tetap tinggal di Patra tetapi di antara mereka adalah pejabat gubernur kota Patra. Aegeatos Rasul Andreas berulang kali berpaling kepadanya dengan kasih dan kerendahan hati memohon untuk jiwanya, berusaha mengungkapkan kepadanya misteri tentang hidup yang kekal, melalui kuasa karya yang menakjubkan dari Salib Suci Tuhan. Aegeatos yang marah memberi perintah menyalibkan Rasul Andreas. Aegeatos berpikir dengan membunuh Rasul Andreas maka dia bisa menghentikan pemberitaan injilnya.

Rasul Andreas yang dipanggil pertama menerima keputusan Aegeatos dengan sukacita dan doa kepada Allah dan dengan rela menuju ke tempat eksekusi. Untuk memperpanjang penderitaan orang suci ini, Aegeatos memberi perintah agar tidak memaku tangan dan kaki orang suci ini tetapi mengikatnya di kayu salib. Selama dua hari Rasul itu mengajar warga yang berkumpul. Orang-orang datang mendengarkan dia dengan segenap jiwa mereka dan mereka mengasihani dia dan mencoba untuk menurunkan Rasul Andreas dari salib. Tetapi Rasul Andreas mulai berdoa agar Allah menganugerahinya kematian di kayu salib. Rasul yang disalibkan setelah memuliakan Allah, berkata “Tuhan Yesus Kristus terimalah rohku.” Kemudian cahaya terang Ilahi yang menyala-nyala menerangi salib Rasul Andreas selama 30 menit. Ketika cahaya itu mulai memudar, Rasul Andreas menyerahkan jiwa sucinya kepada Allah, Maximillia istri Aegeatos menurunkan jenazah Rasul Andreas dari salib dan menguburkannya dengan hormat jadi Rasul Andreas mati martir. Beberapa abad kemudian peninggalan relik Rasul Andreas dipindahkan ke Konstatinopel dan ditempatkan di Gereja Para Rasul di samping peninggalan penginjil Lukas dan murid Rasul Paulus. Timotius Gereja memperingati Rasul Andreas setiap tanggal 30 November.

Andreas adalah seorang nelayan tetapi bisa menjadi Rasul yang luar biasa (Gal 4:9) dari 12 Rasul Andreas dikenal oleh Tuhan Yesus Filp 3:12, Yoh 15:16. Apa yang dia kerjakan bagi dunia satu kerugian tapi bagi Allah satu keuntungan kenapa dikatakan keuntungan sebab itu adalah kekekalan. Inilah yang dilakukan Rasul Andreas memberikan semua yang dia miliki meskipun yang dia dapat adalah Salib tapi namanya diperingati sampai sekarang.

Refleksi

Tuhan tidak memandang latar belakang kita ketika hati kita mau untuk melayani Dia dengan Sungguh – sungguh. Mari belajar untuk rendah hati dan sungguh – sungguh mengasihi Tuhan dengan sikap dan perbuatan kita didunia agar kelak kita dapat melihat sinar kemuliaan Tuhan dalam kerajaan Allah.

Sumber : Youtube Hendi Wijaya

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Mata Kuliah : Orthodoxy dan Heterodoxy

Saints & Love

(Orang – Orang Suci dan Kasih)

Di dalam gereja kita mengenal orang – orang yang terus dimurnikan oleh Roh Kudus. Jika kita bisa mengasihi, ini merupakan suatu bukti bahwa Roh Kudus itu bekerja. Mengapa kita harus mengingat Saints (Orang – orang suci)? Karena kita bukan hanya mengingat orang – orangnya tetapi juga karya Roh Kudus yang bekerja di dalam hidup kita. Karena Roh Kudus bekerja sepanjang zaman. Ketika kita mengingat Saints, berarti kita mengingat bahwa Allah bekerja dalam kehidupan manusia. John Kronstadt mengatakan, “Tuhan terus memberikan anugerah-Nya supaya tubuh dan dosa kita yang kotor ini terus dibersihkan, sampai kita mengalami keabadian.” kita tahu bahwa natur dosa itu adalah kematian.

Lalu mengapa kita bisa memperoleh hidup kekal? Karena nafsu kita sudah lama habis dibuang. Bapa gereja adalah contoh nyata dari kebaikan Allah yang menarik untuk dipelajari. Ketika kita mempelajari kehidupan para saints artinya kita belajar bahwa kita manusia – manusia bersalah yang sudah diampuni lalu menghidupi pengampunan dari Allah. Saints inilah yang membawa kita memiliki semangat percaya dan mengasihi Allah. Bapa – bapa gereja sudah menunjukkan imannya dan Tuhan memberikan kemenangan. Ketika kita melihat ikon dari bapa – bapa gereja maka kita juga mengingat perjuangan yang mereka lakukan dan pertolongan Tuhan.

Bapa Simeon mengatakan, “Mengapa kita harus selalu mengingat ikon dari bapa – bapa gereja atau orang suci tanpa henti? Ini menunjukkan bahwa terang Allah yaitu Kristus adalah terang yang sejati. Di dalam tradisi timur tanpa ada lilin yang menyala  atau terang ini menunjukkan bahwa tanpa Kristus kita tidak dapat melihat apa – apa. Dengan mempelajari Saints ini kita belajar bahwa orang – orang berdosa lalu menjadi orang yang suci. Tetapi sisi lain ada orang – orang yang berdosa tetapi dia tetap di dalam kondisi berdosa yang berpikir tidak membutuhkan Kristus. Inilah kalimat yang benar yaitu kita adalah orang suci yang selalu berpikir kita adalah orang berdosa yang harus terus disucikan.

Dalam kehidupan kita sehari – hari kita adalah orang berdosa yang selalu disucikan. Pada saat penyucian Maximus mengatakan proses penyucian itu tidak gampang, kita harus memiliki kesabaran, pengendalian diri, dan pengharapan. Ketika kita mengasihi berarti kita sudah tidak terikat lagi dari hal – hal dunia. Dalam proses Penyucian dibutuhkan api, api penyucian ada diunia ini sampai kita mencapai kasih. Dengan kasih itulah yang dibuktikan kita menjadi orang suci. Kapan kita menjadi orang kudus? Ketika kita mengalami penyucian. Misalnya dahulu kita orang yang tidak sabar sekarang menjadi orang sabar ini merupakan proses penyucian untuk menjadi orang suci.

Sama seperti tumbuhan yang ingin berbuah lebat maka ranting – ranting yang tidak kokoh harus dipotong serta benalu atau parasit harus dibuang seperti itu juga spiritualitas penyucian. Jadi kita melihat diri kita menanggung dosa – dosa orang lain. Misalnya kita melihat orang yang menyesal dengan dosanya maka kita juga menyadari bahwa kita juga berdosa. Orang suci tidak pernah menghakimi atau menjatuhkan orang lain. Kita ingat orang pemungut cukai dan orang farisi, yang dibenarkan Tuhan yaitu pemungut cukai jadi dia membuka hidupnya untuk Kristus untuk terus disucikan.

Jadi orang suci itu terus mengerjakan baptisannya. Para saints bukan dibaptis sekali supaya masuk surga tetapi kolam baptisan dan airnya dipakai untuk menyucikan dirinya. Air mata itu seperti baptisan yang terus menyucikan diri kita. Rasul Paulus menggambarkan orang suci itu seperti pelari yang berlari dengan tujuan (Fil. 3:14). Jadi hidup kita itu bukan seperti lingkaran, tetapi seperti garis linear yang mencapai garis finish. Akan berbahaya jika hidup kita seperti lingkaran yang terus berputar tanpa adanya tujuan. Kita adalah orang yang mengkhususkan diri untuk berlari dengan tujuan. Hagios jika diterjemahkan secara literal artinya orang – orang yang sudah terpisah, atau tidak seperti dunia. Dunia artinya tidak terikat lagi pada hal – hal duniawi. Menurut St. Maximus kita tidak dapat mengasihi jika masih terikat pada hal – hal duniawi. Jika St. Maximus mengatakan hagios artinya kita terpisah dari hal – hal duniawi, jika kita bukan menjadi bagian dunia maka kita bagian siapa? Kita menjadi anggota tubuh Kristus yaitu gereja. Gereja adalah himpunan orang – orang percaya maka sama juga dengan dunia yang adalah kumpulan orang – orang yang belum percaya. Kita menjadi kumpulan dari gereja yaitu tubuh Kristus. Artinya kepala itulah yang menggerakkan anggota tubuh. Jika otak kita memerintahkan tangan kita untuk bergerak maka otomatis tangan bergerak. Jika kita bagian dari tubuh Kristus maka yang menjadi otaknya adalah Kristus dan yang menjadi anggota tubuhnya yaitu kita. Berarti kita mengerjakan apa yang Kristus kerjakan. Iman menimbulkan kasih yang memuliakan Allah.

Kasih itu harus dipraktekan, dan dunia sangat perlu kehadiran kasih Kristus. Orang suci adalah bau harum Kristus yang terpancar keluar. 2 Korintus 2:15-16 bau harum bukan disimpan tetapi ada ditengah – tengah orang yang diselamatkan. Jadi jika kita memancarkan aroma itu orang juga dapat mencium bau Kristus. Bagaimana caranya kita memancarkan harum Kristus? Dalam kehidupan kita sehari – hari apa yang harus kita kerjakan? Contohnya di hari senin kita diingatkan untuk mengingat para malaikat. Pada hari Selasa kita mengingat Yohanes Pembaptis. Hari rabu kita dedikasikan untuk Theotokos, penderitaan Kristus dan penghianatan Yudas Iskariot yang diadakan ketika kita berpuasa. Kamis, mengingat para rasul dan bapa gereja. Hari jumat kita mengingat Tuhan Yesus disalibkan. Hari sabtu kita mengingat orang – orang yang sudah mati martir atau orang – orang yang kita kasihi yang telah meninggalkan kita. Hari minggu kita merayakan paskah yaitu bagaimana Kristus mengalahkan maut untuk bangkit. Misalnya pada jam 09.00 pagi kita mengingat akan Yesus yang disalibkan, kemudian jam 15.00 mengingat akan kematian Yesus untuk hidup kita. Lalu ada istilah Vesper, ketika Tuhan Yesus turun kedalam kerajaan maut. Kemudian tengah malam kita harus berjaga – jaga karena Kristus datang seperti pencuri. Kita terus mengingat seputar kehidupan Kristus mulai dari Dia datang dalam kehidupan kita Yoh. 1:3 – 14 matahari menyimbolkan terang Kristus yang menjadi manusia yang menerangi kita. Inilah yang harus kita ingat jadi terang itu sudah datang menghampiri kita maka bagaimana kita menghampiri Allah. Kita juga harus datang kepada terang itu. Salah satu aspek yang harus dimiliki seorang saints yaitu Royal Hours atau waktu yang berharga. Setiap hari juga Synaxarion atau memperingati hari – hari penting bapa – bapa gereja.

Kita dipanggil menjadi seperti orang – orang suci Roma 1:1 – 2 dipanggil – menjadi orang – orang suci atau kudus. Artinya kita dipanggil untuk menjadi orang – orang suci. Di mata Allah kita ini kudus, tetapi dikatakan ayat 7 dipanggil dan dijadikan orang – orang kudus. Allah yang aktif memanggil dan menjadikan kita maka Dia mencurahkan anugerah. Kita menjadi kudus karena anugerah-Nya. Kita dipanggil untuk menjadi sempurna dan mampu menyatakan gambar Allah yang tersimpan di dalam kita melalui anugerah yang tersimpan di dalam roh kudus. Kita masih diproses oleh anugerah Allah. Kita masih berproses untuk menjadi kudus.

Dari mana kita mendapatkan anugerah itu? Yaitu dengan doa maka kita menarik diri kita dekat kepada Allah dan sekaligus Allah ditarik dekat dengan kita. Ada buku yang ditulis oleh biarawan di Italia dan diedit oleh St. Nikodemus dan Theopan yang mengatakan, “Doa itu sarana yang menarik lalu tangan kita menerima semua berkat Allah yang selalu dicurahkan atau menyertai kita dari kebaikan Allah yang tidak pernah habis.” dalam peperangan rohani dikatakan, doa itu adalah senjata untuk melawan musuh – musuh Allah. Jadi doa memiliki dua fungsi yaitu semakin menguduskan kita dan menghadapi musuh – musuh kita. Di dalam Kristus kita dibersihkan dan dikuduskan.

The Magisterial Reformation

Tanggal 31 Oktober disebuah gereja di Wittenberg di Jerman, ada seorang biarawan dari ordo Agustinian bernama Martin Luter dia menetapkan 95 poin basis yang menandakan reformasi gereja katolik di Roma tahun 1517 kurang lebih 500 tahun. Gerakan pembaharuan reformasi ini didukung oleh otoritas pemerintah seperti di Swis. Reformasi ini bergerak ke Eropa Barat seperti Belanda dan Swis. Nama gereja tersebut seperti Gereja Lutheran Gereja Reform dan Anglikan atau disebut Kristen Protestan. Ciri utama dari Reformasi ini adalah Lima Solas. Solas berasal dari bahasa Latin yang artinya alone atau hanya.

Apa saja Lima Solas itu Sola Scriptura (Scripture Alone), Sola fide (faith alone), Sola Gratia (Grace Alone), Solus Christus (Christ Alone) dan Soli Deo Gloria (to God alone be Glory). Ini merupakan pilar dari magisterial Reformation ini merupakan suatu protes dari Martin Luther kepada gereja Katolik di Roma. Inilah yang menyebabkan gereja timur dan barat pecah. Paulus memiliki invability bahwa doktrinnya tidak bisa salah. Inilah yang membuat Martin Luther memprotes Gereja Katolik. Reformasi ini bercabang menjadi dua yaitu reformasi mainstream atau klasik seperti Lutheran, Reform, Anglikan dan Methodis. Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luhter dan Calvin masih kurang lengkap.

Sola Scriptura

Mari kita lihat lima sola ini, Sola Scriptura artinya hanya alkitab saja. Ini dipopulerkan oleh Luther yang mengatakan jadi tidak perlu tradisi gereja cukup alkitab saja dan orang itu lebih dari seorang Paus atau Konsili. Jika dia sudah mengerti kitab suci artinya posisinya sudah diatas dari konsili. Mislanya Paus mengajarkan kita yang tidak ada di Alkitab, maka kita harus menolak ajaran itu. Paus banyak mengikuti ajaran tradisi contohnya penjualan surat pengampunan dosa dari gereja. Inilah yang di protes oleh Luther yang mengatakan, “Kita harus kembali kepada apa yang diajarkan oleh Alkitab karena Alkitab diatas otoritas Paus atau Konsili Gereja.” oleh sebab itu muncul istilah “Only The Bible” (Hanya Alkitab saja). Intinya segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kitab suci jangan diikuti.

Sola Fide

Sola Fide artinya hanya berdasarkan pembenaran dari iman saja. Ini merupakan perubahan status dari orang berdosa menjadi orang benar. Sola fide terdapat di gereja luteran dan presbiteran. Dengan adanya ajaran sekali selamat tetap selamat. Jadi kita dibenarkan oleh iman kita. Berbeda dengan ajaran tradisi bukan perubahan status yang kita peroleh melainkan kondisi. Sola fide ini menentang perbuatan baik yang dapat menyelamatkan kita dari dosa tetapi hanya iman yang dapat menyelamatkan kita dari dosa.

Sola Gratia

Artinya hanya anugerah saja yang dapat menyelamatkan manusia. Dari ajaran pelagiasme yang mengatakan keselamatan itu hanya seolah – olah dari anugerah Tuhan. Artinya ada anugerah yang tidak bisa ditolak.

Sola kristus

Hanya Kristus saja yang menjadi pengantara. Seorang imam menjadi pengantara antara Tuhan dan jemaat. Imam seperti wakilnya Kristus. Kristus menjadi pengantara antara manusia dengan Allah dan ajaran ini ditentang oleh reformasi karena semua bisa diakses langsung kepada Kristus untuk mencapai keselamatan.

Sola Deo Gloria

Artinya hanya bagi Allah saja kemuliaan itu. Tidak perlu menyembah patung Maria tetapi hanya kepada Allah saja kemuliaan itu.

Denominasi – Denominasi

Lutheranisme

Setelah Luther meninggal ada pengikut – pengikutnya yang mengajar ajarannya yang menentang rasionalisme. Kemudian adanya innerancy artinya Alkitab tidak bisa salah. Bagi lutheran mengenai perjamuan kudus itu terjadi substansi dari roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus.

Reformation of Calvinisme

  1. Manusia sudah jatuh total jadi tidak memiliki kemampuan untuk diselamatkan sehingga hanya sola gratia yang dapat menyelamatkan.
  2. Allah menyelamatkan manusia karena memilih manusia itu tanpa melihat syarat.
  3. Kristus mati hanya untuk orang – orang yang dipilih saja
  4. Allah tidak punya pilihan untuk menyelamatkan manusia
  5. Allah selalu menjaga orang yang telah diselamatkan sampai mati.

Refleksi

ketika saya mempelajari tentang orang suci saya mendapatkan pelajaran yaitu bagaimana caranya untuk memperoleh kasih dari Allah, yaitu kita harus mengikis semua keinginan daging. Proses penyucian merupakan hal penting yang kita lakukan untuk mencapai kasih. Mulailah dari takut akan Tuhan, memiliki ketekunan, dapat mengendalikan diri, memiliki pengharapan sampai mencapai kasih. Mari berikan hidup kita untuk mengasihi. Dengan mengikis segala keinginan daging dan melawan segala tipu daya muslihat iblis dengan doa dan berjaga – jaga sehingga kita bisa mencapai kasih tersebut

Referensi: Materi Kuliah Orthodoxy and Heterodoxy oleh Dr. Hendi Wijaya, STT Soteria Purwokerto.

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Mata Kuliah : Orthodoxy dan Heterodoxy

Kasih menurut St. Maximus The Confessor

Menurut Maximus dalam 400 kutipan tentang kasih yang mengatakan, “Jika kamu ingin dihangatkan dengan api, kamu tidak cukup mempelajari tentang api itu apa, tetapi kamu harus pergi dan mendekati api itu.” Tidak hanya dibutuhkan ide untuk mendekati api kita juga harus memiliki tindakan atau aksi kepada api. Sama seperti kasih, ketika kita mempelajari tentang ide dan konsep kasih baik digereja, sekolah dan dirumah, kita tidak akan bisa merasakan hangatnya kasih jika hanya tahu tentang kasih, tanpa kita mengasihi. Menurutnya kasih yang dimaksud bukan kasih “Agape” tetapi kata yang dipakai disini adalah “Eros” yang seringkali kita artikan sebagai cinta yang membara antara sepasang kekasih. Disini dikatakan memakai kata Burning Love atau kasih yang menyala – nyala. Untuk mengasihi Allah kita juga memakai kasih Eros

Kasih itu memang membakar atau memurnikan kita. Didalam hati kita ini di satu sisi memiliki kedagingan ata disebut Sarkikos Anthropos dan Psyhcicos Anthropos yang dikuasai oleh kedagingan yang bertentangan dengan Roh atau keinginan Roh Kudus (Roma 8:31-34) yang ada didalam hati kita. Hati berada didalam alam bawah sadar kita. Hati merupakan ruang kedalaman batin yang sangat luas dimana terdapat semua yang ada didalam hati kita. Hal – hal yang bersifat kedagingan juga harus dibakar sampai habis oleh kasih yang bersifat Eros. Jika sebuah amarah membakar hati kita maka muncullah kebencian yang mengakibatkan timbulnya tindakan pembunuhan, penganiayaan dan lainnya. Segala nafsu seperti kekuatiran, Glutoni atau nafsu akan makanan, dan seks itu semua ada di dalam hati kita dan semuanya itu harus dibakar samapi lenyap di dalam hati kita dengan kasih Eros, ini yang dinamakan Purification (pemurnian).

Maximus mengatakan bahwa kasih menjinakan kemarahan. Karena kasih itu seperti Burning Love yang membakar atau menghanguskan. Kita tidak dapat mengasihi jika kita terikat kepada hal – hal duniawi yang harus dibakar sampai habis. Namun ini bisa diatasi dengan Long Suffering atau pengendalian diri. Ketika kita mengendalikan diri kita dari amarah sama halnya seperti membakar jiwa kita. Ketika kita taat kepada Allah sungguh tidak enak rasanya seperti ada yang membakar kita itulah api ilahi yang membakar habis nafsu kita. Selain keinginan daging terdapat juga keinginan roh yaitu iman, pengharapan, kasih, dan pengampunan. Pengendalian diri akan menimbulkan ketekunan, kesabaran tahan akan penderitaan. Tahan penderitaan akan menimbulkan pengharapan. Pengharapan kepada Allah akan membuat kita bisa memiliki kekuatan melawan hawa nafsu. Dengan demikian kita bisa mengasihi Allah.

Kasih bukanlah hal yang gampang dilakukan, karena kita harus mulai dari iman, takut akan Allah lalu penguasaan diri. Kasih itu tidak hanya jadi ide saja tetapi harus jadi action atau tindakan. Ketika kasih menjadi tindakan maka menjadi api yang membakar keinginan daging dan roh. Artinya keinginan daging kita semakin habis tetapi keinginan roh kita semakin murni. Oleh sebab itu Maximus mengatakan saat kita mau mengasihi, kita perlu memiliki 3 kebajikan yaitu: kasih, penguasaan diri dan doa. Kasih menjinakkan kemarahan, penguasaan diri untuk memadamkan hawa nafsu, doa yang membuat nous kita selalu murni dan tidak dikotori oleh pikiran jahat tetapi selalu berpikir kepada Allah. Jika kita marah, hanya kasih yang dapat menjinakkannya.

Kita harus memiliki belas kasihan dan perbuatan baik kepada sesama kita. Kemudian menjadi menderita untuk kepentingan Dia, dengan beginilah amarah dapat dijinakkan. Firman Tuhan mengatakan apabila ada yang berbuat jahat kepadamu dan memusuhimu atau jika ada yang meminta kita berjalan satu mil maka berjalanlah dua mil, jika pipi kananmu ditampar beri pipi kiri atau sebaliknya. Jika ada yang memusuhi kamu ampuni dan doakan dia. Kita harus bisa tahan dan berbelas kasih dalam menghadapi amarah atau api yang membakar. Tetapi sebaliknya berilah api ketenangan. Memang tidak mudah melakukannya tetapi inilah yang diajarkan Bapa Maximus. Kita diajak untuk tidak ikut terbakar oleh api amarah atau api kebencian tetapi berikan api yang memurnikan bukan api yang menghanguskan. Kasih itu harus sabar dan tahan menderita. Kebencian dari orang lain itu seperti api yang membakarnya hidup – hidup. Pengendalian diri dapat menyelamatkan diri kita dari api kebencian. Pengendalian diri adalah bagaimana caranya kita tahu apa yang menjadi penyebab dari hal – hal negatif yang menimpa kita. Pengendalian diri membuat kita menyingkir dari keinginan daging. Pengendalian diri membuat kita tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita senangi. Misalnya soal makanan, kita makan sesuai kebutuhan makanan kita. Inilah yang disebut Self Control atau pengendalian diri.

Kemudian pikiran – pikiran jahat juga dapat mendatangkan hawa nafsu. Jadi hawa nasfu datang dari pikiran – pikiran jahat. Kita harus memiliki doa untuk menjaga pikiran – pikiran kita terhubung dengan Allah. Bagaimana caranya kita bisa berdoa dan berdoa tanpa henti? Ketika kita membaca Mazmur atau firman Tuhan pasti kita terganggu oleh pikiran – pikiran jahat. Alkitab memberikan perintah kepada kita untuk mungkin kita lakukan yaitu menyanyikan Mazmur, melayani dan berdoa tanpa henti. Berdoa tanpa henti menjaga pengharapan kita kepada Tuhan. Dalam segala apa yang kita lakukan selalu terhubung dengan Tuhan sehingga kita mengagumi Dia.

Roma 8:35-38 dalam kondisi apapun kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Kristus. 2 Korintus 4:9-10 mengatakan ini merupakan langkah pelayanan tanpa henti, senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh. Supaya kehidupan Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kita. Inilah yang kita butuhkan untuk bisa menguasai diri, memiliki ketekunan sampai mencapai kasih. Rasul Paulus mengatakan jangan sekalipun kamu tidak membawa kematian Kristus. Artinya kita selalu membawa kematian Kristus di dalam tubuh kita inilah yang disebut doa tanpa henti, sebab membawa energi ilahi yang positif yang memampukan kita mencapai kasih. Dengan hal demikian kita selalu berharap kepada Allah.

Refleksi 

Kasih eros merupakan kasih yang membara layaknya sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Kasih ini dapat membakar keinginan daging kita yang membuat kita jatuh didalam dosa. Artinya semakin kita membakar keinginan daging kita dengan kasih eros maka kita dapat mencapai kasih yang menghubungkan kita dengan Allah. Kiranya kita selalu terhubung dengan kasih Allah melalui latihan rohani dengan cara mengendalikan diri, melayani dan berdoa tanpa henti.

Nama   : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Mata Kuliah : Orthodoxy dan Heterodoxy (Part VI)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Sumber : Youtube Hendi Wijaya

Harum Kristus

Eksegesis Kidung Agung 1 :13

Versi LAI : Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip diantara buah dadaku.

Terjemahan dari Origen : bukan my beloved tetapi my nephew (keponakan laki – laki)

Jika kita ingat cerita Maria dari Betani yang mengurapi Tuhan Yesus mempersiapkan penguburanNya. Kemudian juga diceritakan sebungkus minyak mur untuk mengurapi Tuhan Yesus yang telah mati, yaitu Nikodemus dan Yusuf Arimatea. Yoh. 19:39-41 jadi miyak itu untuk mengurapi atau meminyaki jasad Tuhan Yesus. Kemudian diceritakan ketika mempelai laki – laki sudah mati, tentu Dia bangkit dan tinggal didalam gerejaNya. Maka disitu dikatakan dia akan tinggal didalam buah dadaku. Origen mengatakan diantara dua buah dada itu, ditengah – tengah terdapat hati Kristuslah yang akan tinggal didalam hati. Artinya Kristuslah yang akan tinggal didalam gerejaNya yaitu mempelai perempuan. Kristus akan tinggal didalam mempelai perempuan yang terletak diantara dua buah dada itu. Ini merupakan cerita gereja dan hati dimana Kristus yang akan tinggal. Ini merupakan cerita yang tidak berdasarkan fisik, tetapi secara spiritual. Itulah sebabnya Yoh.16 dikatakan bagaimana Yesus tinggal didalamnya (mempelai perempuan) yaitu jika kamu makan daging atau tubuh dan minum darah Ku maka Aku dan Bapa Ku akan tinggal didalam kamu.

Didalam Yoh. 6:51 – 53 dikatakan jika kita tidak memiliki Kristus (daging dan darah) berarti kita tidak memiliki hidup. Supaya hidup, dalam kidung agung dikatakan Dia akan tinggal diantara dua buah dada setelah tetesan minyak mur mengenai Aku (tubuh Yesus). Jadi ini menunjukkan suatu nubuat kematian Dia sehingga Ia bisa memberikan tubuh dan darahNya. Jika Kristus mati dikayu salib, artinya Dia memberikan daging dan darahNya kepada kita maka apa yang kita makan dan minum yakni roti dan anggur itu bukan hanya sekedar simbol, tetapi oleh Roh Kudus diubah menjadi daging dan darah Yesus. Jadi minyak itu dipersiapkan untuk kematianNya. Dengan kematianNya maka ia bisa tinggal didalam hati kita. Berarti Dia memberikan tubuh dan darahNya untuk kita makan dan minum, itulah yang membuat Dia ada didalam hati kita. Bagaimana Kristus tinggal didalam hati kita? yaitu dengan cara kita makan dan minum tubuh dan darahNya. Lalu bagaimana kita dapat memakan dan meminum tubuh dan darahNya jika seandainya Dia tidak mati? Oleh sebab itu Kristus memang datang untuk mati dan memang harus mati supaya Dia bisa memberikan tubuh dan darahNya sehingga Ia bisa tinggal didalam hati kita. Dengan demikian baru kita memiliki hidup didalam Dia. Yoh. 6:54 siapapun yang makan dan minum daging dan darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal. Rohnya punya hidup kekal dan tubuhnya akan dibangkitkan pada akhir zaman. Sebab daging Ku adalah benar – benar makan dan dan darah Ku adalah benar – benar minuman. Ayat 56 dikatakan barangsiapa tinggal didalam Aku dan aku didalam Dia. Jadi Kidung Agung 1:13 digenapi di Yohanes 6:56 bahwa Kristus tinggal didalam kita dan kita didalam Kristus dengan cara makan daging dan minum darahNya dengan mengikuti perjamuan kudus seperti kita memakan obat kekekalan karena kita akan memperoleh hidup didalam Dia (Yoh.15:4).

Didalam hidup ini kita harus menghasilkan buah. Sebab ada Kristus yang tinggal didalam kita. Hidup artinya menghasilkan buah, buah apa yang kita hasilkan? Origen menjelaskan buah – buah itu adalah buah – buah yang memancarkan harum. Buah sebagai gereja yang memancarkan harumnya Kristus. Seperti buah mangga tentu harum mangga, dan anggur tentu harum anggur, lalu siapa pokoknya? yaitu Kristus. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan kita adalah bau harum Kristus. Yang namanya bau atau harum tetntu disukai semua orang. Akhirnya dengan buah yang kita hasilkan itu menyukakan orang sehingga orang itu tertarik memetik dan memakan buah itu. Ketika buah itu dipetik dan dimakan oleh orang lain itu artinya kita memberikan hidup kepada orang lain. Memang benar yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup didalam aku.” Ketika orang memakan kita sebagai buah berarti, dia juga memakan Kristus sehingga mereka memperoleh hidup yang kekal. Contohnya mempelai perempuan ini, dia membawa minyak mur atau narwastu yang harum. Ini digenapi oleh Tuhan Yesus yaitu seperti Yusuf dan Nikodemus yang mengurapi Jasad Tuhan Yesus. Dimanakah tubuh dan darah Kristus itu sekarang? yaitu di dalam hati diantara buah dada. Berarti kita harus mengurapi Dia didalam hati kita. Jika Kristus ada didalam hati kita, bagaimana kita mengharumkan hati kita? Artinya kita harus memiliki minyak mur atau narwastu. Karena jika kita tidak memiliki minyak narwastu, maka kita tidak dapat menjadi wangi. Apa minyak wangi itu? minyak itu adalah persembahan kita seperti orang majus yang datang mempersembahkan kepada sang raja yaitu kemenyan, emas dan mur. Jika kita berbicara tentang kemenyan, emas dan mur itu adalah persembahan hidup kita untuk Kristus.

Apa yang paling berharga bagi kita? Kristus datang kedalam hidup kita apa yang paling berharga? yaitu jiwa kita itulah yang Kristus berikan kepada kita. Jadi, jika kita mau memberikan mur yang ada didalam hati kita itu kepada Kristus berarti kita mempersembahkan hidup kita. Kita harus memberikan hidup secara total kepada Dia mengapa? Karena Dia sudah memberikan hidupNya kepada kita melalui darah yang Dia curahkan. Sekarang waktunya kita memberikan keharuman itu kepada Kristus. Itulah di katakan dalam Kidung Agung 1:13 secara Alegorikal kita memberikan hidup kita untuk Kristus. Sebab Kristus sudah memberikan hidupnya untuk kita. Itulah mengapa kita harus mempersembahkan mur atau sesuatu yang berharaga, artinya kita membawa keharuman bagi Kristus. Oleh sebab itu Paulus mengatakan, kita adalah wewangian Kristus, karena aku mempersembahkan hidupku untuk Kristus. Contohnya Pelagia yang menumpahkan mur itu kepada Kristus. Masing – masing dari kita memiliki mur, namun kepada siapakah kita menumpahkannya. Kepada Kristus atau seperti Yudas?

Gregory Nyssa mengatakan wewangian tadi untuk menyenangkan suaminya, secara spiritual kita harus menyenangkan hati Allah. Baik tubuh dan jiwa ini merupakan wewangian. Jadi ada sebungkus tergantung dileher kita diantara buah dada. Jadi minyak mur itu digantungkan ke leher seperti kalung yang terletak diantara dua buah dada kita, artinya mur yang membuat tubuh menjadi harum, lalu mur itu adalah Kristus yang ada ditengah – tengah atau didalam hati kita. Kristus itu tergantung diantara buah dada kita yang menyebabkan kita wangi Kristus yang adalah mur itu sendiri. Dia tinggal didalam hati kita sehingga kita menjadi wangi. Lewat Kristus yang tinggal didalam hati kita menjadikan wangi itu terpancar keluar. Menggantungkan salib diantar dua buah dadamu artinya kita harus berbau harum. Tetapi hati kita menjadi terang selain memancarkan harum. Jadi dia menerima keharuman Tuhan yang memerintah didalam hatinya. Hukum Kristus adalah hukum kasih isinya yang dulu berbagai macam tentang makanan, hari raya, bulan, korban – korban persembahan itu isi dari hukum taurat. Polanya adalah suatu perintah yang harus ditaati atau ketaatan. Tetapi Kristus datang bukan untuk menghilangkan atau meniadakan hukum taurat itu tetapi, Dia menggenapi hukum taurat. Apa artinya menggenapi? Dia menjadikan isinya nyata artinya apa yang terjadi di perjanjian lama itu sekarang diwujudkan (Kolose 2). Jika dahulu merupakan bayangan, maka sekarang diwujudkan. Perjanjian lama adalah bayangan Kristus maka didalam perjanjian baru adalah wujud nyata seorang Kristus. Polanya tetap sama yaitu mengikuti pola Kristus yaitu taat kepada perintah – perintah Kristus. Perintah itu polanya sama, Tuhan Yesus mengatakan kita harus menyucikan diri kita sebab Dia adalah suci. Dari semua perintah – perintah yang paling utama itu ada dua yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu. Mengapa? Kasih itulah kegenapan dari hukum taurat Roma 10. Kita sekarang harus belajar mentaati dan melakukan kasih? Bagaima kita dapat mengasihi? Dengan mantaati apa yang Yesus ajarkan. Wujud dari kasih adalah ketaatan. Itulah wujud kasih kepada Allah. Kasih harus memiliki ketaatan. Supaya kita dapat taat, mari kita belajar mengasihi Allah adalah orang yang tidak lagi terikat kepada hal – hal duniawi, inilah yang disebut menyucikan diri. Kudus artinya terpisah, jadi kita memang memisahkan diri kita dari hal – hal duniawi. Tetapi mempersiapkan diri untuk melakukan perintah Kristus yaitu kasih. Berarti untuk sampai ke level mengasihi kita harus menyucikan diri dalam ketaatan dan tidak terikat dengan hal – hal dunia. Dari sinilah akan muncul struggle atau konflik maka penting bagi kita, untuk memiliki pengendalian diri. Jika kita ingin menyucikan diri kita maka kita harus memiliki pengendalian diri.

Pengendalian diri akan menimbulkan ketekunan. Dari ketekunan itulah akan timbul pengharapan dan pengharapanlah akan timbul kasih. Jadi, proses untuk mencapai kasih hukum Kristus itu bermula dari tidak terikat dari hal – hal duniawi. Ibrani 12 : 1 tiga kontent yang ada dialam nats ini yaitu kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, lalu marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Dari tiga konten itu apa yang paling penting? Yaitu berlomba dengan ketekunan mengapa kata tekun itu muncul? Karena ada beban dosa yang begitu merintangi, artinya ada konflik, rintangan atau hambatan yaitu beban dan dosa. Inilah yang disebut hal – hal duniawi atau hawa nafsu kita yang merintangi perlombaan kita. Inilah sebabnya kita butuh pengendalian diri yang akan menghasilkan ketekunan dengan ketekunan kita dapat berlomba. Tetapi ketika kita berlomba dengan tekun, Rasul Paulus mengatakan lihat ada banyak saksi yang sudah menyelesaikan lomba itu bagaikan awan ini adalah orang – orang yang sudah berhasil atau yang sudah tekun dalam perlombaan. Ibrani 13 :7 ini merupakan perlombaan iman yang ada garis finishnya. Garis finishnya itulah akhir hidup kita. Kita tidak tahu berapa usia hidup kita, yang kita miliki adalah iman untuk memasuki garis finish itu. Oleh sebab itu dikatakan contohlah iman mereka berarti, kita sedang berada didalam sebuah perlombaan iman dimana ada dosa dan beban yang begitu merintangi. Itulah sebabnya kita diminta untuk tekun, sabar, pengendalian diri, taat, kerendahan hati, nepsis, doa, sinergi dll. Semua yang kita lakukan ini untuk supaya kita dapat berlomba dengan tekun dan mencapai garis akhir. Rasul Paulus mengatakan perhatikan akhir hidup mereka, artinya perhatikan perlombaan mereka sampai akhir. Saksi – saksi itu bisa disebut pemimpin yang memiliki pengikut. Kita harus mengikuti teladan iman dari pemimpin – pemimpin kita yang sudah sampai di garis akhir.

 Inilah yang disebut pemimpin yang ada digereja atau disebut pahlawan iman. Jika didalam sebuah pertandingan memiliki suporter atau pendukung maka didalam pertandingan iman juga demikian suporter kita adalah saksi – saksi Kristus seperti St. Pelagia sang petobat ini merupakan salah satu saksi yang kita contoh teladan imannya mengapa? Sebab dia sampai garis akhir mempertahankan imannya. Dia adalah contoh saksi yang memenuhi hukum Kristus atau hukum kasih dengan penuh pengharapan dan ketaatan. Semua yang dilakukannya untuk mencapai garis akhir tentu saja iblis dan dunia tidak senang dengan pertandingan yang sedang kita hadapi. Saat kita meneladani iman Rasul Paulus yang memimpin orang atau jemaat untuk ikut Yesus maka kita juga adalah pemimpin yang memiliki pengikut untuk dibawa ikut Tuhan Yesus. Ibrani 12:1 ada banyak saksi yang sudah berhasildan kita melakukan pertandingan ini dengan amata yang tertuju kepada Kristus. Berarti apa yang Tuhan Yesus kerjakan memberi satu jalan kepada kita.

St. Pelagia the Penitent (Pelagia Sang Petobat) bertobat menjadi Kristen oleh St. Nonnus, Uskup Edessa. Sebelum menerima Kristus melalui baptisan, Pelagia adalah kepala rombongan tari di Antiokhia Palestina, menjalani kehidupan yang sembrono dan melacur.

Suatu hari Pelagia, dengan pakaian elegan, sedang berjalan melewati sebuah gereja tempat St. Nonnus sedang berkhotbah. Orang-orang percaya memalingkan wajah mereka dari si pendosa itu, tetapi uskup itu memandang ke arahnya. Terpesona oleh keindahan luar Pelagia dan menubuatkan kebesaran spiritual di dalam dirinya, St. Nonnus berdoa di selnya dalam waktu yang lama kepada Allah bagi orang berdosa. Dia memberi tahu kepada sesama uskup bahwa pelacur itu membuat mereka semua menjadi malu sebab Pelagia sangat peduli pada kecantikan tubuhnya di hadapan para lelaki tetapi kita malah tidak memikirkan kecantikan jiwa kita yang malang di hadapan Allah.

Keesokan harinya, ketika St. Nonnus sedang mengajar di gereja tentang Penghakiman Terakhir yang menakutkan dan konsekuensinya, Pelagia datang. Ajaran itu memberikan kesan yang luar biasa padanya. Dengan rasa takut akan Allah dan tangisan pertobatan, dia meminta Uskup itu untuk dibaptis. Melihat pertobatannya yang tulus dan penuh, Uskup Nonnus membaptisnya.

Pada malam hari iblis muncul mengganggu Pelagia, mendesaknya untuk kembali ke kehidupan sebelumnya. Orang suci itu berdoa, membuat Tanda Salib, dan iblis pun lenyap.

Tiga hari setelah pembaptisannya, Pelagia mengumpulkan barang-barang berharganya dan membawanya kepada Uskup Nonnus. Uskup memerintahkan agar itu dibagikan di antara orang-orang miskin dengan mengatakan, “Biarlah ini dibagikan dengan bijaksana, sehingga kekayaan yang diperoleh oleh dosa ini menjadi kekayaan kebenaran.” Kemudian Pelagia melakukan perjalanan ke Yerusalem ke Bukit Zaitun. Dia tinggal di sana di dalam sel doanya, menyamar sebagai biarawan Pelagius, hidup dalam pengasingan pertapaan, dan mendapatkan karunia spiritual yang luar biasa. Ketika dia meninggal, dia dimakamkan di dalam sel doanya.


Itulah sebabnya didalam setiap pertandingan iman kita pasti diperhadapkan dengan berbagai godaan dari iblis. Berarti kita harus berjaga – jaga dan berdoa. Kemudian kita lihat lagi kesaksian hidup dari St. Pelagia dari Tarsus di Kilikia (Asia Kecil Tenggara) hidup pada abad ketiga, pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus (284-305), dan merupakan anak dari penyembah berhala yang terkenal. Ketika dia mendengar tentang Yesus Kristus dari teman-teman Kristennya, dia percaya kepada-Nya dan ingin mempertahankan keperawanannya, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Tuhan.

Pewaris Kaisar Diokletianus (anak laki-laki yang dia adopsi), melihat gadis Pelagia, terpesona oleh kecantikannya dan menginginkan dia menjadi istrinya. Perawan suci itu memberi tahu pemuda itu bahwa dia telah bertunangan dengan Kristus, Mempelai laki-laki yang Kekal, dan telah meninggalkan pernikahan duniawi.

Balasan Pelagia sangat membuat marah pemuda itu, tapi dia memutuskan untuk meninggalkan Pelagia dalam damai untuk sementara waktu, berharap dia akan berubah pikiran. Pada saat yang sama, Pelagia meyakinkan ibunya untuk mengizinkannya mengunjungi perawat yang membesarkannya di masa kecil. Dia diam-diam berharap dapat menemukan Uskup Linus dari Tarsus, yang telah melarikan diri ke gunung selama penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, dan dibaptis olehnya. Dia telah melihat wajah Uskup Linus dalam mimpi, yang memberikan kesan mendalam padanya. Uskup Linus menyuruhnya untuk dibaptis. Pelagia melakukan perjalanan dengan kereta untuk mengunjungi perawatnya, berpakaian mewah dan ditemani oleh seluruh pengiring pelayan, seperti yang diinginkan ibunya.

Di sepanjang jalan Pelagia, atas karunia Tuhan, bertemu Uskup Linus. Pelagia segera mengenali uskup yang menampakkan diri kepadanya dalam mimpi itu. Dia sujud di kakinya, meminta baptisan. Atas doa uskup, mata air mengalir keluar dari tanah.

Uskup Linus membuat Tanda Salib di atas Saint Pelagia, dan selama Misteri Pembaptisan, para malaikat muncul dan menutupi orang yang dipilih Tuhan itu dengan mantel yang terang bercahaya. Setelah memberikan Komuni Kudus kepada Pelagia, perawan yang saleh, Uskup Linus mengucapkan doa syukur bersamanya, dan kemudian mengirimnya untuk melanjutkan perjalanannya. Dia kemudian menukar pakaian mahalnya dengan pakaian putih sederhana, dan membagikan harta miliknya kepada orang miskin. Kembali ke pelayannya, Pelagia memberitahu mereka tentang Kristus, dan banyak dari mereka yang bertobat dan percaya.

Dia mencoba untuk mempertobatkan ibunya sendiri menjadi orang Kristen, tetapi ibunya yang keras kepala itu mengirimkan pesan kepada putra Diokletianus bahwa Pelagia adalah seorang Kristen dan tidak ingin menjadi istrinya. Pemuda itu menyadari bahwa Pelagia telah hilang darinya, dan dia jatuh ke atas pedangnya dalam keputusasaannya. Ibu Pelagia takut akan amarah Kaisar, jadi dia mengikat putrinya dan membawanya ke istana Diokletianus sebagai seorang Kristen yang juga bertanggung jawab atas kematian pewaris takhta. Kaisar terpikat oleh keindahan yang tidak biasa dari perawan itu dan mencoba untuk mengalihkannya dari imannya kepada Kristus, menjanjikan dia setiap berkat duniawi jika dia mau menjadi istrinya.

Perawan suci menolak tawaran kaisar dengan jijik dan berkata, “Kamu gila, Kaisar, mengatakan hal seperti itu padaku. Saya tidak akan melakukan permintaan Anda, dan saya membenci pernikahan keji Anda, karena saya memiliki Kristus, Raja Surga, sebagai Mempelai laki-laki saya. Aku tidak menginginkan mahkota duniawimu yang hanya bertahan sebentar. Tuhan di Kerajaan surgawi-Nya telah menyiapkan tiga mahkota yang tidak dapat binasa untuk saya. Yang pertama adalah untuk iman, karena saya telah percaya pada Tuhan yang benar dengan segenap hati saya; yang kedua untuk kemurnian, karena aku telah mendedikasikan keperawananku kepada-Nya; yang ketiga adalah untuk mati syahid, karena saya ingin menerima setiap penderitaan untuk-Nya dan mempersembahkan jiwa saya karena cinta saya kepada-Nya.”

Diokletianus menghukum Pelagia untuk dibakar dengan banteng bejana perunggu yang membara. Tanpa mengijinkan para algojo untuk menyentuh tubuhnya, martir suci ini membuat Tanda Salib, dan masuk ke dalam bejana itu dan dagingnya meleleh seperti bau harum mur, memenuhi seluruh kota dengan keharuman. Tulang St. Pelagia tetap tidak terluka dan telah dipindahkan oleh para penyembah berhala ke suatu tempat di luar kota. Empat singa kemudian keluar dari hutan belantara dan duduk di sekitar tulang, tidak membiarkan burung maupun binatang buas menyerang mereka. Singa-singa itu melindungi relik Pelagius sampai Uskup Linus datang ke tempat itu. Dia mengumpulkan relik itu dan menguburkan mereka dengan hormat. Belakangan, sebuah gereja dibangun di atas relik sucinya.

Fokus yang dihadapi oleh St Pelagia dari Tarsus adalah cintanya kepada Tuhan dia tidak berpikir dimana Tuhan ketika dia dalam hukuman tetapi dia sudah memberikan jiwanya untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Refleksi / Aplikasi

Kita adalah orang percaya yang bertanding dalam sebuah pertandingan iman. Alangkah indahnya jika kita mempersembahkan tubuh jiwa dan roh kita kepada Tuhan sehingga kita dapat menjadi persembahan yang harum bagaikan harum Kristus.

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Mata Kuliah : Eksegesis Kitab Pl dan Pb

Natur Yesus

Orthodoxy (Ajaran lurus)

Kepercayaan dasar (Core-believe) kita adalah The Holy Trinity (Allah Tritunggal). Allah Tritunggal  tiga Pribadi Ilahi “there divine Persons” (hypostases) yang ada dalam satu esensi (homousios). Hypostases & homoousios ini yang mulai pada abad ke-5,6 itu banyak perdebatan tentang masalah Tritunggal ini, tentang natur Yesus sebagai Anak Allah sebagai hypostases tapi Dia juga adalah punya hakekat yang consubstantial dengan Bapa atau Allah itu sendiri. Dan banyak ajaran-ajaran yang keliru tentang Allah Tritunggal ini. Masalah ini ada 6 heresies sebetulnya yang dasar berkaitan dengan pribadi Kristus ini. Ingat Kristus ini sebelum Dia berinkarnasi Dia adalah Firman Allah, lalu Firman Allah ini turun ke bumi/dunia Dia menjelma menjadi manusia disinilah masalahnya. Seperti apa pribadiNya itu misalnya ada yang mengatakan ini satu kodrat yang menjelma, ada juga yang mengatakan tidak! ini satu pribadi di dalam dua kodrat. Ada yang tetap mengatakan tidak! Ini satu kodrat yang menjelma atau satu kodrat inkarnasi satu kodrat ganda. Tetapi ada juga yang mengatakan Yesus (nama manusiaNya) itu dalam diriNya ada dua persons, yaitu Allah dan manusia dua pribadi. Pribadi sebagai manusia dan pribadi sebagai Allah. Tetapi ada yang mengatakan tidak! Dia hanya punya natur Allah manusiaNya itu sudah kalah sudah tenggelam ditelah oleh natur IlahiNya. Akhirnya disepanjang sejarah itu cuma ada 6 basic heresies (heterodoxy) yang berkaitan dengan natur Kristus ini.

Heterodoxy (Ajaran Berbelok / Sesat)

Dari 6 ada 2 kesesatan yang muncul Ebionism (Yesus bukan Allah) dan Arianism (Yesus tidak sepenuhnya Allah/Dia adalah ciptaan yang paling utama, lalu melalui ciptaan yang utama itulah Dia menciptakan alam semesta). Ini yang diajarkan oleh Arius seorang imam dari Alexandria. Berkaitan dengan kemanusiaan Dia (Yesus) dikatakan bahwa Dia adalah Allah yang sejati ini yang berkaitan dengan pengajaran True God. Yang berkaitan dengan True Human; ada dua pengajaran disini pertama, Docetism mengatakan Yesus itu bukan manusia. Lalu kedua, Apollinarianism mengatakan Yesus bukan sepenuhnya manusia. Jadi yang tegas menolak Yesus itu bukan manusia adalah kaum Docetism. Lalu yang mengatakan Yesus tidak sepenuhnya manusia dia seolah-olah berwujud manusia tapi kemanusiaanNya itu tenggelam/kalah keilahian-Nya, itulah ajaran dari Apollinarius yang akhirnya menjadi Apollinarianism.

Kemudian yang berkaitan dengan masalah pribadi (persons) dengan natur, ini juga banyak orang tidak mengerti antara natur dan pribadi (persons). Sehingga banyak mengajarkan bahwa kalau kita menyembah Allah Tritunggal itu dikatakan menyembah “tiga Allah”. Karena ada Allah, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga-tiganya kok bisa disebut Allah, berarti tiga Allah? Jadinya Teism bukan Tritunggal. Tentu kita tidak percaya Teism, kita tolak! Kita percaya Tritunggal Allah yang Esa di dalam tiga Pribadi (Esa di dalam homoousios esensinya) tapi tiga di dalam hypostases. Mereka tidak bisa membedakan Person (Pribadi) ini dengan essence atau homoousios sehingga menganggap ini sama. Dan kita membedakan itu seperti apa ini juga terjadi di dalam natur Kristus, misalnya kalau dalam Allah Tritunggal ada tiga Persons (hypostases) dalam satu essence atau consubstantial (homoousios). Ini harga mutlak yang kita tidak bisa tawar-tawar lagi yang kalau kita mengurangi atau menambahnya maka jadinya heresies/heterodox. Berkaitan dengan Kristus juga akhirnya sama antara Dia adalah one Person dalam dua natur. Jadi kalau dalam Tritunggal ada Pribadi dan essence dan kalau di dalam Kristus yang berinkarnasi/Firman Allah yang berinkarnasi jadi Yesus ini waktu sebelum berinkarnasi Dia belum disebut Yesus. Dia hanya disebut the Son of God (Firman Allah/Anak Allah), nama Yesus-Nya belum ada. Nama Yesus itu ada ketika Firman itu menjadi manusia itu nama-Nya Yesus.

Sekarang kita bahas Pribadi-Nya Yesus-Nya ini di dalam Pribadi-nya yang satu ini the Son of God yang menjadi manusia ini, yang fully divine and fully human ini kita percaya bahwa Dia adalah one Person in two natures (satu Pribadi di dalam dua natur), yaitu natur Ilahi dan natur manusia. Ini juga jadi masalah pada akhirnya sama seperti Allah Tritunggal tadi Pribadi-Nya Yesus ini antara Person dengan natur kita harus bisa membedakan dengan jelas. Akhirnya ada dua bidat/heresies yang muncul yaitu, Nestorianism; mengatakan Yesus adalah memang dua Pribadi yang berbeda, Pribadi Allah dan manusia. Jadi dalam Yesus manusia itu Pribadi Yesus itu dia mengatakan, “ada two distinct persons” sedangkan Eutychianism dari seorang rahib bernama Eutikes dia mengatakan, “Jesus had one blended nature”, jadi Dia punya dua natur menjadi satu natur “blended”/menjadi satu. Kita yang orthodox (pandangan yang berar/lurus) adalah bahwa Kristus itu True God (fully God)– True Human (fully human) tapi Dia juga One Person – Two Natures.

Konsili Nikea I tahun 325 kemudian Konsili Nikea II tahun 381 di Konstantinopel mengatakan bahwa, “kedudukan Konstantinopel adalah Spiskop Konstantinopel akan memiliki kehormatan sesudah Episkop di Roma karena Konstantinopel adalah Roma Baru” (Kanon 3). Alexandria selalu berusaha menyayangi Konstantinopel, jadi tahun 381 itu sudah ada pusat-pusat Kekristenan antara lain; yang palin tua Roma, Antiokhia, Alexandria, dan kemudian yang baru ini adalah Konstantinopel. Baru nanti kemudian Yerusalem sebab Yerusalem tahun 70 hancur, lalu mulai di dirikan lagi oleh ratu Helena ibunya Konstantinus itu menemukan lagi jejak-jejak Gereja dulu disana lalu dibangun oleh Konstantinus. Akhirnya muncul kepatriarkan Yerusalem. Jadi ada 5 pusat Kekristenan. Konstantinopel ini adalah Roma yang Baru tetapi Alexandria juga pada zaman itu juga disebut kota pelajar karena disana pusat sekolah teologi yang besar selain juga yang ada di Antiokhia. Secara kebetulan pada abad ke-5 ini yang menjadi Patriarkh di Konstantinopel adalah seorang Syria dari Antiokhia bernama Nestorius. Jadi Nestorius itu Seorang pemimpin Gereja (Partriarkh) di Konstantinopel tapi dia adalah orang Antiokhia atau orang Syria. Dia menjadi Partriarkh dari tahun 386 sampai tahun 451. Nestorius ini dia belajar dari tradisi theologia Antiokhia yang digunakan untuk memahami Kristologi, Tradisi Theologia Antiokhia ini lebih menekankan pendekatan “literal, tata-bahasa, dan kesejarahan” atas Kitab Suci, sehingga dalam hal Kristus merupakan tradisi yang menekankan kemanusiaan Kristus. Sedangkan tradisi theologia dari Alexandria menekankan “alegori”, sehingga dalam Kristologi Alexandria lebih menekankan keilahian Kristus, keduanya seharusnya saling mengisi, dan merupakan dua sisi yang saling melengkapi.

Nama   : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Mata Kuliah : Orthodoxy dan Heterodoxy (Part IV)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Sumber :

Love

(Kasih)

Apa yang dikerjakan oleh bapa padang gurun mulai dari repose, membangun cel didalam ketaatan, mencapai silence sehingga dapat berdoa tanpa henti, bermazmur, sehingga dapat mencari kehendak Allah dalam kehidupan mereka. Itu semua dikerjakan untuk mencapai dispassion dan love. Sehingga mereka semakin sempurna dan dewasa didalam Kristus. Apa itu kasih ? Bagaimana mendatangkan kasih seperti yang Tuhan Yesus ajarkan seperti kasihilah Tuhan Allah mu dan juga kasihilah dirimu sama seperti mengasihi saudaramu?

Bapa padang gurun John Maximus the Confesor pengaku iman mengatakan, “Kasih adalah suatu hukum yang paling utama ketika diajarakan oleh Kristus. Ketika para desert fathers mulai menyingkir atau repose dari semua ketertarikan dunia, disinilah mereka mulai mebangun sel doa. Dari situlah mereka mencapai silence atau hesychasm. Sehingga mereka bisa continiu berdoa kepada Bapa. Masuklah kedalam kamarmu dan tutuplah pintu ini artinya kita membangun sel doa kita. Lalu menutup pintu artinya kita benar – benar repose. Lalu dari silence inilah kita dapat berdoa tanpa henti. Ini penting dilakukan karena untuk mencapai dispassion (mematikan keinginan daging) dan love (mengasihi).

Seperti yang dikatakan oleh Maximus the Confesor kasih adalah sebuah kemurnian jiwa. Dimana kita merindukan pengetahuan Allah atau diatas segala hal. Seperti kata Rasl Paulus dalam Kolose 3 itu adalah hal – hal yang diatas artinya pengetahuan Allah yang melebihi segala apa yang Tuhan ciptakan. Jadi kita tidak lagi memikirkan hal – hal duniawi. Inilah yang dilakukan oleh para bapa padang gurun bahwa hal – hal yang daiatas atau pengeathuan Allah adalah yang paling utama sehingga kita dapat mencapai kasih. Jadi ketika kita bisa mencapa the knowledge of god maka kita mencapai kasih jadi  kasih itu seperti puncak es tetapi dibawahnya ada beberapa hal yang harus kita kerjakan. Kata Rasul Paulus dia memulai dari iman (faith), hope (pengharapan) dan love atau kasih. Kasih inilah yang kekal adanya dan inilah yang dicari oleh Bapa padang gurun ketika mereka mencari kehidupan askesis yang sungguh – sungguh seperti membangun sel doa, berusaha mencapai silence. Walaupun dalam kehidupan mereka juga bekerja, berkomunitas, menerima para tamu yang mencari hikmat dari mereka. Jadi mereka tidak 1000 persen tidak bertemu orang, tetapi ini suatu kehidupan antara mengasihi dan mencari Allah serta menolong sesama dikerjakan dengan seimbang.

Untuk bisa mengasihi Allah harus dimulai dari hati mereka. Untuk mencapai kasih Allah itu dimulai dari hati yaitu suatu tindakan yang mencapai dispassion atau mematikan keinginan daging. Untuk mencapai Dispassion (ketersapihan nafsu), mereka harus bisa menyingkir dari kegiatan dunia dan sungguh – sungguh dipadang gurun atau didalam sel doa mereka. Dispassion mendatangkan kasih Allah tetapi ini dicapai dari pengharapan kepada Allah. Kita tidak dapat memiliki kasih jika kita tidak memilki dispassion, kita juga tidak dapat memiliki dispassion apabila tidak memiliki hope atau pengharapan kepada Allah. Kita tidak dapat memiliki pengharapan jika tidak memiliki ketekunan, kerendahan hati dan ketaatan. Kita tidak dapat memiliki ketekunan, kerendahan hati, dan ketaatan jika kita tidak memiliki pengendalian diri (Self Control). Pengendalian diri lahir dari jika kita takut akan Allah. Untuk dapat takut akan Allah kita harus memiliki iman. Jadi kita harus mulai dari iman, lalu takut akan Allah yang mendatangkan pengendalian diri, kemudian ini mendatangkan ketekunan, kesabaran, kerendahan hati dan ketaatan. Lalu ketika kita bisa mencapai ini lalu ini bisa mendatangkan pengharapan kepada Allah. Pengharapaan kepada Allah inilah yang akhirnya membuat intelektual kita benar – benar repose dari ketertarikan dari hal – hal duniawi misalnya godaan – godaan, hal – hal yang jahat. Intelek yang terpisah inilah yang bisa mencapai kasih kepada Allah. Jadi kasih dari Allah adalah produk dari pengharapan, dan pengharapan berasal dari produk iman. Untuk itulah Rasul Petrus mengatakan iman saja tidak cukup harus ditambah dengan pengetahuan, ketekunan, kesabaran, dan sebagainya. Itu semua dicapai untuk mencapai kasih.

Yang dihadapi oleh bapa padang gurun ketika mereka membangun sel doa mereka ditengah pergumulan mereka mereka menghadapi logismoi. Itulah tantangan yang mereka hadapi sebab, mereka melakukan pengendalian diri yang timbul dari takut akan Allah. Takut akan Allah menimbulkan pengendalian diri kemudian ini menimbulkan pergumulan atau peperangan dalam batin ini antara mentaatai hawa nafsu atau mentaati hukum Roh. Seperti Rasul Paulus yang mengatakan dalam Roma 7 apakah ingin mentaati hukum Allah, Roh atau daging. Disinilah terhadi pergumulan yang mendatangkan ketekunan kesabaran, seperti Rasul Yakobus juga pencobaanyang disertai pengendalian diri mendatangkan ketekunan dan pada akhirnya akan mendatangkan pengharapan sehingga dapat mencapai kasih.

Dalam Yakobus 1:2-3 jadi benar yang dikatakan oleh Rasul Yakobus bahwa iman harus diuji dengan cara bwerbagai macam pencobaan pergumulan melawan hukum daging dengan hukum Roh yang kita peroleh. Akhirnya kan menghasilkan ketekunan, kesabaran, dan kerendahan hati. Dari sinilah mendatangkan pengharapan kepada Allah sehingga dapat mendatangkan kasih kepada Allah. Mereka yang pada akhirnya memiliki kasih kepada Allah, akn mengutamakan hal – hal yang diatas. Mereka yang dapat mengejar pengetahuan akan Allah itu tanpa henti. Bagaimana kondisi dari orang yang mengasihi Allah? Suatu kemurnian jiwa diman jiwanya akan terus mencari pengetahuan akan Allah dan semua ciptaan Allah. Lalu intelektualnya akan konsentrasi dengan kasih Allah jadi tidak akan tergoda dengan hal – hal yang kelihatan bahkan akan menganggap tubuh ini sebuah hal yang asing bagi dirinya.inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap pikiran dan segenap kekuatan. Kasih Allah akan membuat jiwa lebih mulia dari pada tubuh. Tuhan tidak bisa dibandigkan dengan apapun dari segala ciptaan. Jika kita lebih mengutamakan tubuh dari pada jiwa atau dunia ciptaan ini dari pada Allah maka kita disebut penyembah berhala. Contohnya kita lebih mengutamakan kebencian dari pada kasih, dan mengutamakan tubuh dari pada jiwa kita. Misalnya kita lebih mengutamakan uang dari pada Tuhan atau kita lebih mengutamakan ciptaan dari pada sang pencipta. Jika itu yang terjadi maka kita tidak memiliki kasih dan kita disebut sebagai the worship of idol atau penyembah berhala. Maximus menjelaskan hal ini sangat mendalam dan kita harus mengutamakan jiwa kita dan Tuhan. Jika kita mengacaukan pikiran kita dan terpisah dari kasih Allah yang membuat kita mencintai hal – hal yang kelihatan yang dicipta, maka sebenarnya kita sedang mengasihi tubuh kita dari pada jiwa kita dan itu membuat kita tidak mengasihi Allah. Oleh sebab itu orang yang mengasihi Allah itu dari produk memiliki iman dan pengharapan serta harus menjaga intelektualnya harus benar – benar persue the spiritual knowledge. Sehingga semua yang kita lakukan ini menghasilkan perang. Dalam spiritual knowledge terdapat terang yang pada akhirnya menerangi pribadi seseorang. Jadi Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika matamu baik yang artinya intelektual mu baik maka akmu dipenuhi oelh spiritual of knowledge atau pengetahuan kerohanian, maka kamu menghasilkan tubuh yang terang. Terang dari pengetahuan kaan rohani tadi yang menerangi pikiran kita berasal dari kasih Allah. 1Kor. 13:13 dikatakan tidak ada kasih melebihi kasih Allah artinya kasih Allah adalah yang terbesar dari segalanya.

Ketika kita diiluminasi oleh terang kasih Allah yang tak tercipta kita akan menjadi berpikiran sehat dan pantas dihadapan Allah. Jika intelek kita disinari oleh terang atau kasih Allah maka kita bisa melihat Allah yang tidak terbatas. Ketika kita memuliakan Dia betapa kita sangat tidak layak tetapi berharga dimata Tuhan karena kasihNya seperti pengalaman nabi Yesaya.

Apa yang dijelaskan oleh Maximus ini sebenarnya apa yang sudah menjadi warisan dari Desert Fathers yang ke – 4-5 sedangkan Maximus berasal dari abad ke – 6. ini merupakan pemikiran yang sama bahwa akhirnya kasih itu membuat orang dipenuhi oleh terang karena dipenuhi oleh pengetahuan akan Allah.

Terang yang telah kita miliki di dalam intelek kita bisa menghasilkan New Reasons, New Man, New Attitude, sikap yang baik pengertian yang baru. Inilah yang terjadi ketika kita memiliki kasih Allah. Dari sinilah Tuhan Yesus mengatakan kasih kepada Tuhan sama seperti mengasihi saudara sama seperti diri sendiri.

Bagaimana kita mengasihi diri sendiri? Kita mulai dengan mengasihi Allah. Bagaimana kita mau mengasihi sesama? Kita mulai dari mengasihi diri sendiri.

Bagaimana kita mengasihi Allah? kita dapat memulainya dengan iman. Iman artinya kita meresponi anugerah Allah atau terang Allah yang masuk menerangi intelek tetapi, selalu ada kendala kenapa? Karena selalu ada peperangan dalam hati dan jiwa kita. Disitulah akan muncul konnflik ini akan mendatangkan iman dari pengharapan yang diperoleh dari ketekunan kita kepada Allah. Misalnya sulit mengampuni ada konflik dalam batin tetapi, dari situlah kita harus menyerahkannya kepada Allah. Dari situlah kita dapat mencapai kasih. Kasih artinya kita diterangi artinya kita bisa mengampuni. Milsanya kita dapat mengampuni orang artinya kita memiliki kasih utnuk melawan kebencian tetapi disisi lain kita diterangi oleh kasih pengampunan tadi.

Misalnya kita terjebak dalam pronografi, dusta atau kebohongan pada akhirnya kita akan kembali kepada iman. Kita dapat membuka hati sehingga dapat kita dapat mencapai pengharapan kepada Allah melalui ketekunan dan pengendalian diri. Jadi jika kita dapat mengalahkan kebohongan itu kita sudah mencapai kasih. Pergumulan apapun yang kita hadapi mari mulai dari iman sehingga kita dapat berproses menuju kepada kasih. Kasih adalah keadaan jiwa yang murni oleh karena keadaan iman yang memiliki pergumulan. Dari kasih kita mengejar hal – hal yang diatas. Kita mungkin sudah mengatasi satu godaan dan kita akn mencoba mengatasi godaan – godaan lainnya.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers (Part VII)

Aroma Kristus

Eksegesis Kidung Agung 1:12

Alkitab penuh dengan Alegoris dan Metafora sehingga ketika kita membacanya kita harus mengingat kembali bagaimana caranya bisa menangkap doktrinnya. Doktrin merupakan ajaran yang akhirnya menuntun kita kepada keselamatan yaitu Kristus. Inti dari doktrin adalah Kristus itu sendiri yaitu firman-Nya, ajaran-Nya dan karya-Nya yaitu gereja. Ketika kita membaca Alkitab dan menangkap ajaran Kristus dan Gereja-Nya untuk kita. Gereja yang dimaksud adalah orang percaya bukan bangunan. Apa yang menjadi karya Kristus? Ajaran-Nya, Gereja-Nya itu akhirnya dilanjutkan oleh Roh Kudus yang turun pada hari Pentakosta. Roh Kudus bekerja bersama siapa? Tentu dengan murid – murid dan orang – orang yaitu Para Rasul atau gereja mula – mula. Jadi, Roh Kudus berkarya didalam gereja, tidak diluar gereja.

Oleh sebab itu ketika Dia berkarya didalam gereja, Dia memakai seperti Para Rasul akhirnya menulis Alkitab. Tetapi sebelumnya, Roh Kudus mengajarkan para rasul itu tentang semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Petrus bisa berkhotbah,, Para Rasul memberitakan Injil tentang siapa Allah, Allah itu Esa, Allah memiliki tiga pribadi, Allah yang Esa mengasihi manusia dan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk berinkarnasi, berkarya diatas kayu salib, mati dan bangkit pada hari yang ketiga didalam kitab Injil dan surat – surat.

Itu semua merupakan karya dari Roh Kudus. Jadi Roh Kudus berkarya pada gereja dan didalam gereja setelah pentakosta. Hasilnya gereja berdiri di mana – mana (KPR. 1:8) dan sampai ke ujung dunia. Kemudian berdirilah jemaat dan gereja – gereja lalu disitulah Injil yang terus diberitakan secara lisan. Kemudian munculah kitab suci, yaitu apa yang diajarkan secara lisan lalu ditulis. Kemudian diajarkan dari generasi ke generasi. Itu semua merupakan karya Roh Kudus dan gereja mula – mula sampai sekarang. Apa yang dikerjakan oleh Roh Kudus itu termasuk tradisi lisan dan tulisan atau kitab suci. Oleh sebab itu Rasul Paulus mengatakan semua tulisan itu adalah inspirasi pengilhaman dari Roh Kudus. Mengapa kitab suci disebut suci? Karena dibalik tulisannya ada karya Roh Kudus yaitu tentang Kristus dan gereja-Nya.

Pada saat kita membaca Alkitab pendekatan yang kita lakukan adalah tidak hanya dengan melihat teks luar atau literal meaningnya (sarkic). Ini seperti tubuh jasmani kita didalamnya berdiam jiwa dan roh kita. Sama seperti tulisan dalam kitab suci juga memiliki jiwa dan roh. Roh yang disebut sebagai Noetic Mystical atau Theoria. Sedangkan jiwa bagaimana kita meresponi karya Roh Kudus atau ajaran Gereja yang semakin dikuduskan didalam ketaatan kita. Lapisan ketiga yaitu Moral atau Good Works. Seperti kata rasul Paulus karya Roh Kudus mengoreksi diri kita, memperbaiki diri kita, supaya kita dapat melakukan ketaatan (2 Tim 3:16). Sehingga ada buah – buah Roh yaitu kebajikan – kebajikan. Lalu tahap yang terakhir adalah menguduskan diri kita. Jadi ketika kita membaca kitab suci harus dengan menggunakan 4 level ini.

  1. Terjemahan Literal

Versi LAI “Sementara sang raja duduk dimejanya semerbak harum narwastuku”

Raja berada di meja, dia ada disekitar mejanya memancarkan semerbak minyak narwastuku memancarkan harum.

  • Syntatic Content
  • Sementara raja itu berada disekitar mejanya
  • Minyak narwastuku memancarkan harum

Kidung Agung 1:12 telah digenapi oleh Maria dari Betania di dalam Injil Markus 14:3 selain itu injil Matius 26:6-7. injil Matius dan Markus tidak menyebut nama dari perempuan itu tetapi jika kita bandingkan dengan injil Yohanes 12:3 disini jelas bahwa perempuan itu adalah Maria dari Betania. Maria bersaudara dengan Marta dan mereka memiliki saudara yaitu Lazarus yang dibangkitkan oleh Tuhan Yesus. Marta, Lazarus dan Maria akhirnya mengalami mati Martir karena menginjil sampai di Siprus. Bapa gereja seperti Origen, Gregory of Nyssa mengajarkan bahwa Kidung Agung 1:12 ini sudah digenapi dari diri Maria Betania. Tetapi apa maksudnya Maria mengurapi Kristus? Yesus disebut sebagai Kristus atau Mesias dalam bahasa Ibrani Hamasia dalam bahasa Yunani disebut Kristos. Dalam perjanjian lama orang yang memiliki tiga jabatan yaitu, raja, imam dan nabi. Maria mengurapi Yesus yang disebut dengan Kristus dan wangi semerbak. Apa spiritual meaningnya?

Origen mengatakan “Ini menegaskan bahwa ia adalah mempelai laki – laki memperoleh suatu minyak yang harum untuk megurapi Dia oleh mempelai perempuan. Gereja sangat mempersiapkan diri untuk menyambut mempelai laki – laki. Kita mempelai perempuan sangat menyambut mempelai laki – laki. Seperti perumpamaan lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana.” Sama seperti Maria dari Betania mengantisipasi bahwa ada mempelai laki – laki yang datang, Dia adalah Kristus yang diurapi minyak oleh Maria dari Betania, maka Raja itu berada disekitar meja. Jadi Kristus inilah raja yang diurapi. Peristiwa historisnya seperti Maria dari betani ini mengaskan bahwa Ia adalah seorang raja, tetapi sisi lain dari Maria adalah dia mengantisipasi. Pada saat itu dia sudah mengantisipasi bahwa dia sudah tahu bahwa Kristus itu akan mati dikayu salib dan bangkit.

Jika kita baca dalam Matius 26:7 ini suatu antisipasi untuk mengurapi kematian Kristus. Padahal Kristus belum ditangkap, Yudas belum menghianatiNya, Dia juga belum disiksa, diputuskan disalib, tetapi Maria mengurapi Dia. Ini merupakan sebuah antisipasi akan apa yang terjadi. Sama seperti minyak yang selalu antisipasi atau berjaga – jaga supaya kita siap untuk menyambut mempelai laki – laki. Maka dalam minggu paskah atau penyaliban, ada ibadah – ibadah misalnya ibadah matins yang seharusnya di pagi hari, ini dilakukan disore hari atau satu hari sebelumnya. Misalnya ibadah matins pada hari selasa pagi, maka sudah dilakukan pada hari senin sore. Ini mengingatkan kita seperti Maria yang mengantisipasi tentang Mesias. Pada zaman Maria Rebeka, berarti mengantisipasi  Kristus yang akan mati. Kita sedang mengantisipasi Kristus yang akan datang kali kedua.

Jika kita membaca Kidung Agung 1 minyak yang berbau harum, berarti minyak itu dicurahkan mengurapi Kristus. Artinya mengantisipasi diri kita bahwa Kristus akan datang untuk kita. Orang yang membawa minyak itu berarti orang yang sudah berjaga – jaga dia sudah mengantisipasi. Kalau seandainya mempelai itu tidak datang atau terlambat datang dia tetap memiliki minyak. Akhirnya benar terlambat datangnya sampai mereka ketiduran. Ini yang terjadi pada Maria dari Betania bahwa dia diberikan misi bahwa Kristus itu sebelum kematiannya diurapi meneguhkan sebagai Raja dan Mesias inilah pendapat dari Origen. Sebenarnya minyak itu adalah Kristus itu sendiri. Dia adalah minyak yang berbau harum.

Ketika gereja atau kita mengurapi Dia yang adalah mempelai laki – laki, kita sendiri yang menerima keharuman dari minyak itu. Maka tidak heran seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 2 : 15 kami adalah aroma Kristus berarti yang menjadi minyaknya adalah Kristus. Aroma minyak harum itu adalah kita. Jadi kita wangi karena Kristus. Ini secara misteri Kristus berada didalam diri kita sehingga dari dalam terpancar keharuman. Ibarat kita memakai parfum ketubuh kita maka tubuh kita memancarkan harum. Sama halnya seperti kita memakai Kristus sehingga memancarkan harumnya Kristus. Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah – tengah mereka yang diselamatkan dan diantara mereka yang binasa.

Jika saya mengurapi raja itu wanginya akan kembali kepada saya. Mengurapi mempelai itu lalu kita sendiri yang berbau harum kita sendiri yang berbau harum bagi diri kita sendiri. Kutipan dari Origen mengatakan bau harum itu maksudnya apa? Kita dilahirkan dari Kristus atau dikeluarkan dari Kristus maka kita bisa memancarkan harum itu. Kita sebagai gereja harus dipenuhi oleh keharuman. Ini merupakan keharuman Kristus atau Roh Kudus. Karena yang mengisi diri kita itu adalah Roh Kudus, maka diri kita penuh dengan aroma Kristus. Dari aroma itulah kita dapat memberikan persembahan seperti minyak tadi dan kita kan menerima kembali dari Roh Kudus dan pengajaranNya.

Pada halaman 161 Origen mengatakan pengurapan ini penuh dengan iman, berharga, kasih seperti yang dialami oleh Yesus ketika Maria mengurapi Dia. Markus 14 : 6 ketika Yesus melakukan apa yang Maria lakukan. Yesus mengatakan dia melakukan sesuatu hal yang baik bagiku. Bagaimana kita mengantisipasi kedatangan mempelai laki – laki (Kristus)? kita harus terus melakukan hal yang baik yang Tuhan persiapkan bagi kita. Dalam konteks Efesus 2:10 dikatakan sebelumnya kita sudah mati lalu dihidupkan oleh Allah karena iman dan anugerah, lalu menunggu kedatanganNya. Kita disuruh untuk melakukan pekerjaan baik. Pekerjaan baik inilah yang mendatangkan antisipasi untuk kedatangNya. Ibrani 13:21 melakukan hal yang baik artinya kita membutuhkan minyak itu seperti Mari di Betania.

Tetapi Yudas mengatakan ini pemborosan. Tetapi Tuhan Yesus mengatkan kamu tidak usah menyusahkan dia karena dia melakukan yang baik dan indah kepadaku. Maria dair betania memiliki minyak atau perbuatan baik. Minyak apa yang kita miliki? Yaitu kita harus memiliki minyak yang berarti Kristus itu sendiri. Jika kita memiliki Kristus otomatis didalam hidup kita terpancar aroma yang harum. Aroma yang harum itulah perbuatan baik kita.

Jika dikatakan kamu adalah aroma Kristus, berarti kita harus melakukan pekerjaan baik seperti yang Yesus kerjakan. Tidak secara literal dikatakan bahwa kita harus membeli parfum yang bertuliskan aroma Kristus, tetapi kita melakukan pekerjaan baik untuk mempersiapkan diri untuk kedatangan mempelai laki – laki. Origen mengatakan, “Melakukan pekerjaan baik untuk Aku.” Jika kita ingin memancarkan keharuman Kristus, kita perlu memperlakukan Kristus itu didalam perkataan. Bau harum ku adalah bau harum Kristus dengan cara memuliakan Dia. kita tahu bahwa Yesus adalah air yang hidup dan termasuk juga merupakan minyak. Ketika kita menyentuh hal – hal itu maka kita menyentuh Kristus. Mazmur 104:15 ini menunjukkan kepada kita bahwa anggur adalah Kritsus, minyak yang membuat kita berseri, makanan yang menyegarkan hati kita.

Lalu Origen mengutip Ibrani 5:14 jika kita mengatakan kita adalah bau harum Kristus, artinya Dia juga mengatakan Dia adalaha air hidup dan roti hidup. Dikatakan dalam Mazmur Dia adalah bau harum dunia, roti kehidupan terang dunia, dan air kehidupan. Ini merujuk kepada Firman Allah atau Kristus. Inilah yang membuat iman kita penuh dengan anugerahNya. Ini semua adalah akan keras yang mendewasakan kita, ini  menurut Origen. Jadi ketika kita mempersiapkan diri kita untuk kedatang Kristus maka kita harus memakan makanan keras. Apa artinya? Mari kita bandingkan dengan Ibrani 6:1 artinya semakin lama kita hidup berarti kedatangan Kristus semakin dekat, persiapan kita semakin sungguh – sungguh maka makanan kita semakin keras dan hidup kita juga semakin keras. Rasul Paulus menasihatkan kita untuk meninggalkan tindakan yang tidak maju – maju. Ayat 2 mengatakan bahwa ada asas – asa pokok yang seharusnya tidak diperdebatkan lagi seperti: ajaran tentang baptisan, kebangkitan orang mati dll. Tetapi di ayat 6 dikatakan mereka murtad lagi. Oleh sbeab itu jika Kristus adalah terang dunia dan roti kehidupan maka sama seperti minyak narwastu, sehingga kita harus punya kepekaan jiwa bisa mencium bau harum itu. Sama seperti orang yang lewat di depan kita ketika mereka memakai parfum maka, kita memiliki kepekaan penciuman. Sama seperti Kristus yang menjadi minyak maka kita dapat merasakan keharuman Kristus. Jadi jia kita memakai minyak Kristus maka yang tercium adalah bau Kristus. Kita sudah memegang minyak itu tetapi yang jadi permasalahannya adalah maukah kita mengurapi Kristus atau tidak, apakah kita kan memakai minyak itu supaya kita dapat mencium keharuman itu. Kita punya kepekaan yaitu bisa mencium keharuma Kristus. Kita bukan minyak tetapi aromanya.

Kesimpulan

Minyak itulah Kristus yang diberikan kepada kita. Minyak itu juga ditipologikan untuk berjaga – jaga dnegan melakukan pekerjaan baik menunggu kedatangan Kristus. Pekerjaan baik itulah bau harum karena kita telah menggunakan parfum yaitu Kristus. Dalam melakukan pekerjaan baik kita hrus memakan makanan keras.

Aplikasi

Ingat bahwa kita adalah harum Kristus. Artinya dimanapun orang bisa mencium bau harum itu. Kita harus memiliki kepekaan untuk mencium bau Kristus. Kita harus memiliki kepekaan untuk mencium kehadiran Tuhan didalam hidup kita. Dari sinilah kita dapat melakukan pekerjaan baik yang Tuhan berikan.

Anagogik

Bau harum itu artinya kita harus mempersiapkan diri kita untuk kedatanngan Tuhan. Kita harus wangi dihadapan Allah, artinya kita menunggu kedatangan mempelai laki – laki (Kristus). Secara eskatogolis kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan mempelai laki – laki artinya kita tidak boleh kosong.

Bau harum itu artinya kita harus mempersiapkan diri kita untuk kedatanngan Tuhan. Kita harus wangi dihadapan Allah, artinya kita menunggu kedatangan mempelai laki – laki (Kristus). Secara eskatogolis kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan mempelai laki – laki artinya kita tidak boleh kosong.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Mata Kuliah : Eksegesis Kitab PL dan PB

Sumber :

Continous Prayer

(Doa Tanpa Henti)

Doa tanpa henti merupakan salah satu aktivitas kerohanian yang fundamental dalam kehidupan bapa – bapa padang gurun. Jika kita mengingat pengertian dari The Object of Exercise adalah masuk kedalam sel doa, membangun sel doa yang baik, mencapai Silence dan pada akhirnya mengalami Hesychia kemudian Repose. Dengan demikian kita dapat melatih diri kita untuk menangisi dosa – dosa, memiliki sikap rendah hati dan memperoleh hikmat atau Diakrisis. Ini semua harus dijalankan dengan penuh ketaatan kepada Allah. Doa tanpa henti adalah topik melanjutkan apa yang sudah kita capai. Silence dan Hesychasm akan sia – sia apabila para biarawan tidak melanjutkan Continous Prayer (doa tanpa henti) sebab jantung dari kerohanian ini terletak pada doa tanpa henti.

Ini menunjukkan konsistensi dari seorang bapa – bapa padang gurun yang terus berusaha mendaki kepada kesempurnaan seperti Kristus. Dasar Alkitab dari doa tanpa henti ini diambil dari tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika (1 Tes. 5:17). Mengatakan berdoa tanpa putus atau tanpa henti merupakan suatu perintah kepada bapa – bapa padang gurun untuk melakukan Askesis (latihan rohani) di padang gurun sejak awal ketika bapa padang gurun memutuskan untuk melakukan Askesis dipadang gurun.

Bapa Anthony mengatakan, “Dengan demikian, ia bisa belajar sendiri tanpa putus.” ini merupakan cikal bakal berdoa dalam keheningan tanpa putus. Sama dengan Rasul Paulus dan Bapa Philokalia yang mengatakan bahwa, “Doa tanpa henti yang di praktekkan dalam kehidupan mereka sehari – hari seperti Doa Puja Yesus ini adalah doa tanpa henti yang akhirnya menciptakan doa tanpa henti. Perkataan 96 dari Desert Fathers, “Doa itu seperti cermin bagi para biarawan, jika kamu mencintai keselamatan dari jiwamu, berdoalah senantiasa didalam waktu. Seperti yang tertulis, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar, hati yang berjaga – jaga, penuh kesabaran, bahwa kamu memiliki musuh – musuh yang setiap saat mencari kesempatan untuk membelenggu mu.”

Itulah sebabnya mengapa kita perlu berdoa tanpa henti, karena dikatakan oleh Bapa padang gurun yaitu ada 3 hal yang penting dilakukan oleh para biarawan, takut akan Allah, mengerjakan kasih, dan berdoa tanpa henti. Dalam tulisan Poemen 160, Perintah Bapa selanjutnya saat kita takut akan Allah dalam pengertian penghakiman Dia sehingga menimbulkan benci akan dosa dan mengasihi akan kebajikan. Dengan demikian kita bisa berdoa tanpa henti. Kemudian dia berkata lagi, “Bekerja keras, kerendahan hati, dan doa tanpa henti merupakan cara kita menggapai Allah.” Bapa Anthony juga berkata “Membebaskan kita dari kesombongan dengan berdoalah tanpa henti. Bernyanyilah dan bermazmurlah sesudah dan sebelum tidur. Belajarlah dari kitab suci dan masukkan itu kedalam pikiran seperti yang dilakukan oleh orang – orang kudus.”

Kemudian perkataan dari Bapa Sistematik 12.20, Seorang penatua ditanya tentang “Apa itu doa tanpa henti menurut (1 Tes. 5:17).” Kemudian Bapa padang gurun itu menjawab “Ini adalah sebuah permohonan yang kita kirimkan kepada Allah dari dasar hati kita. Memohon yang selayaknya dengan tepat. Jadi, ini bukan seperti kita berdiri lalu berdoa, tetapi ini merupakan doa yang murni yang dilakukan sepanjang waktu yang dilakukan secara berulang – ulang.” Seorang biara berkata, “Kita bingung menawarkan doa – doa kita seolah – olah Allah hadir dan mendengar didalam setiap doa – doa kita. Tetapi untuk dosa, kita komit seolah – oleh Dia tidak melihat.”

Doa tanpa henti adalah cara kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi doa itu bukanlah hal yang mudah, menurut Bapa Agathon, “Bagi saya, selalu ada musuh yang mengganggu ketika kita mau berdoa, seperti logismoi dan pikiran – pikiran yang akhirnya dapat mengganggu kita. Karena kita tidak bisa lepas dari gangguan ketika kita berdoa kepada Allah. Ini adalah sebuah pengalaman bagaimana melatih doa itu. Sehingga ini menjadi doa yang tanpa henti sampai kita mati.”

Istilah Synaxis yang artinya kita meluangkan waktu untuk menyembah Tuhan. Setiap hari kita melakukan pekerjaan, tetapi kadang – kadang meluangkan waktu yang banyak atau sedikit untuk menyembah Tuhan. Menurut Isidore siang dan malam adalah ibadah. Synanxis ini merupakan kata untuk menyembah tetapi memiliki 2 apsek yaitu, berjemaat (berkumpul dan beribadah kepada Tuhan) dan pribadi (memiliki sel doa secara pribadi). Ketika kita synaxis secara pribadi, ecoworship individu seperti biara yang berdoa didalam sel mereka. Dimana 2 – 3 orang berkumpul disana Allah hadir (Matius 18:20).

Kita harus memperhatikan bahwa para biara, mereka selalu mengaitkan synaxis itu kedalam berbagai hal seperti bermazmur, silence, bernyanyi, meditasi terhadap kitab suci dibaca dan disebutkan secara berulang – ulang. Ini semua merupakan cara untuk berdoa tanpa henti. Didalam Manual Works mereka bisa bekerja dan berdoa.  Mereka mengatakan, “Disini aku akan berdoa dan menunjukkan kepadamu bagaimana aku bisa berdoa tanpa henti atau tanpa putus padahal aku bekerja dengan tanngan ku dan berdoa meminta belas kasihan oleh karena kebesaran Tuhan. Ketika aku melewati hari itu dengan doa, aku mendapatkan 16 koin. Koin aku berikan kepada orang miskin sisanya aku pakai. Lalu orang itu akan mengambil dua koin dan dia akan berdoa bagiku.” Ini merupakan cerita yang menarik karena doa adalah sebuah aktivitas sehari – hari dalam hidup kita baik untuk tubuh jiwa dan roh kita.

Kita bisa meditasi dengan menggunakan Mazmur 51. Ini merupakan doa tanpa henti, ini merupakan mode doa yang diajarkan desert fathers. Makarios dari mesir berkata kita harus terus berkata Tuhan anak Allah belas kasihanilah aku.

Doa dan Kitab Suci

Makarius menyebutkan ketika kita berdoa seperti, “Tuhan kasihanilah kami” secara berulang – ulang bisa sia – sia apabila tidak memiliki kesadaran yang tepat. Kalimat yang kita ucapkan itu bukanlah sebuah mantera, tetapi sebuah permohonan yang dikirim kepada Allah berasal dari hati yang paling dalam. Kita harus memiliki kesadaran kita adalah doa dengan suatu kesadaran mengirim doa kepada Bapa. Contoh : Bapa Amonas berkata, “Aku dan Bapa Betimes mengunjungi Bapa Arkiles dan dia bermeditasi dan mengulangi suatu kalimat dalam kitab suci yaitu Kejadian 46:3. Ia terus mengulangi kalimat ini dalam waktu yang lama dan juga mengulangi hal yang sama yang terambil didalam kitab suci. Kita bisa melihat bahwa perkataan kitab suci itu bisa diucapkan dengan kesadaran. Jadi doa tanpa henti dapat kita lakukan dengan mengambil dari ayat – ayat yang ada didalam kitab suci. Ini merupakan doa dalam kedinamisan artinya semakin mengerti ayat – ayat kitab suci.

Kemudian dikatakan oleh para Bapa Arsenius berdoa dengan tangan yang menengadah ke langit lalu berdoa sampai kembali matahari terbit lagi dan menyinari wajahnya lalu kembali duduk, ini merupakan suatu contoh yang dilakukan oleh Bapa Arsenius. Bapa Agathon berkata, “Beberapa orang bertanya, Ilmu kebajikan mana yang membutuhkan usaha yang paling keras?” dia berkata, “Ya aku mengakui bahwa ketika kita berdoa kepada Allah usaha yang paling banyak kita lakukan adalah mengalahkan musuh dan halangan. Dalam setiap tindakan seseorang kita harus mencapai Repose, tetapi doa membutuhkan usaha paling besar untuk mencapai repose sampai akhir nafas kita.”

Continuos and Occasional Prayer

(Doa tanpa henti dan kadang- kadang)

Ketika kita melakukan doa tanpa henti ini, sebenarnya para Bapa mengajarkan 2 doa yang saling melengkapi yaitu:

  1. Doa dengan mulut, apapun itu pekerjaan tangan kita
  2. Synaxis

Doa tanpa henti selalu terjadi di berbagai situasi, baik saat tangan kita sibuk bekerja ataupun tangan kita berhenti bekerja. Anthony berkata, “Jika kita bekerja, jangan katakan nanti saya berdoa ketika selesai bekerja, tetapi ketika kita bekerja tetaplah kita berdoa.” Kemudian Arsenius berkata, “Sebagai seorang biarawan yang tinggal di padang gurun yang kecil, tidak ada cara untuk mengenal waktu atau jam berapa.” Bagi konteks bapa padang gurun, setiap saat kita bisa synaxis sendiri, setelah itu kita bisa memberi waktu yang spesial bagi Allah. Bagi kehidupan kita, mari ciptakan konteks synaxis private ecoworship. Bagi bapa padang gurun, takutlah akan Allah. Jika kita bisa menjadikan sinaxsis yang kecil, maka ini merupakan cara kita untuk mengasihi Allah. Bagaimana cara kita membangun sel doa kita? Kita bisa menyanyikan Mazmur, yang dilakukan oleh bapa – bapa padang gurun. Kita bisa membaca Mazmur, di pagi hari dan little synaxis di malam hari.

Meditation

(Meditasi)

Meditasi ini merujuk kepada Alkitab atau Kitab Suci. Bermeditasi kepada ayat – ayat kitab suci yang diambil dan didoakan, lalu dibaca berulang – ulang. Seperti yang dilakukan oleh Clement dalam Manual Work, dia bekerja sehari – hari, makan sekali sehari, tetap silence dan meditasi. Ini merupakan aspek kehidupan disiplin didalam sel. Kemudian menurut Bapa Yesaya, “Bekerja mandiri, meditasi, askesis, dan doa tanpa henti.” Kemudian Joseph Panepho mengatakan, “Saya melakukan sedikit puasa, berdoa, meditasi, dan melakukan kebajikan lainnya. Kita dapat bermazmur lalu kita bekerja seperti biasa.” Jadi kehidupan bapa – bapa padang gurun itu sangat monoton atau membosankan.

Bapa Yesaya mengatakan, “Fokuskanlah dirimu pada Mazmur maka Dia akan melindungi dirimu dari musuh.” Kemudian little synaxis dapat dilakukan dengan bernyanyi lagu rohani dan bermazmur. John Colobos mengatakan, “Banyaklah untuk  menghabiskan waktu didalam silence, doa, membaca, bermeditasi dalam teks – teks kitab suci ataupun Mazmur.” Kemudian Palladius berkata, “Jika kamu perhatikan jam kesembilan pada siang hari ada banyak orang menyanyikan lagu Mazmur.” Kemudian perkataan dari bapa padang gurrun, “Jika kamu ingin menangisi akan dosa – dosa mu, maka tetap di dalam silence, berdoa didalam mulut dan melipat tangan.”

Dikatakan didalam N 696, “Ketika kita berdoa tanpa henti kita bisa bermazmur, bernyanyi, meditasi, dan ini terus di panjatkan supaya bisa mengusir musuh atau iblis (1 Petrus 5:8)” Musuh kita seperti logismoi dapat kita tangkis dengan berdoa maka ini akan mempertajam terjangan dari air mata yang ikut dari segala keberdosaan. Dilaporkan kepada Ephipanius seorang Bishop dari Siprus oleh seorang Bapa Monastri di Palestina dikatakan, “Kami terus berdoa pada jam yang ketiga, kira – kira jam 9 pagi, jam 12, jam 3 sore, jam 6 sore, dan dan jam 9 malam. Kita berdoa pada jam – jam tertentu kita punya synaxsis, tetapi esensinya adalah kita berdoa tanpa henti didalam hati. Selain kita memiliki synaxsis sendiri, yang penting bagaimana kita berdoa tanpa henti.

Jika kita mengutip perkataan dari bapa padang gurun dari Rusia bernama Theopan dia mengatakan bahwa, “Doa itu memiliki tiga level, yaitu Level Eral berarti kita harus berdoa secara berulang – ulang melalui mulut, tetapi yang penting dengan kesadaran  kita masukkan kedalam hati. Kemudian dari hati akan masuk kedalam roh, inilah yang dinamakan doa didalam batin. Ketika itu terjadi, roh yang akan mendoakan kita bukan mulut kita, dan roh kita akan berdoa bersama dengan Roh Kudus. Inilah yang dinamakan doa tanpa henti. Doa seperti cermin yang tenang untuk melihat kedalaman jiwa kita sehingga kita mengenal siapa diri kita.

Kesimpulan

Ingatlah mengapa kita perlu berdoa tanpa henti alasannya karena kita tahu selalu ada musuh yang mengganggu didalam hati kita, dan Allah selalu hadir dalam segala hal yang kita lakukan. Jadi doa tanpa henti yang dimulai dari mulut sampai kedalam hati ini penting untuk dilakukan karena ibarat kita membutuhkan oksigen maka roh kita juga membutuhkan doa, meditasi dan membaca Mazmur. Jadikanlah doa tanpa henti ini sebagai life style atau gaya hidup kita.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 Semester 7

Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers (Part 6)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya

Sumber :

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai