Eksegesis Kitab Kidung Agung 1:11

Martir Sophia dan Ketiga Putrinya

Para Martir Kudus ini berasal dari keluarga saleh di Italia pada masa pemerintahan kaisar Hadrian (117-138). Ibu mereka, Sophia, membesarkan anak-anaknya dalam iman, pengharapan, dan kasih dan itu sekaligus menjadi nama-nama untuk ketiga putrinya. Kabar tentang cara hidup mereka yang dikagumi telah diketahui oleh kaisar. Pada saat kaisar mendengar bahwa mereka sedang berada di Roma, sang kaisar segera mengutus prajurit-prajuritnya untuk menangkap mereka dan dibawa ke hadapannya. Melihat usia mereka yang masih amat muda, sang kaisar takjub betapa teguh iman anak-anak perempuan Sophia. Sang kaisar mengira mungkin karena mereka selalu bersama untuk saling mendukung, maka dia pun menanyai mereka secara terpisah.

Pistis (Iman), putri pertama St. Sophia, yang baru berusia 12 tahun dibawa masuk terlebih dahulu. Dia dengan berani menolak sanjungan kaisar dan menghina perbuatan-perbuatan kaisar yang tanpa malu dan siasatnya yang sia-sia terhadap orang-orang Kristen. Kaisar pun mengamuk dan memerintahkan prajuritnya untuk melucuti Pistis, dipukuli tanpa ampun, dan buah dadanya dirobek, yang darinya mengalir susu dan bukan darah. Siksaan-siksaan ditanggungnya namun tanpa tersakiti sebab Pistis dilindungi oleh kuasa Allah. Akhirnya para prajurit itu memenggal kepalanya. Sophia menguatkannya untuk menerimanya dengan sukacita akan kematian yang akan menyatukannya dengan Kristus. Elpis (Pengharapan) yang baru berusia 10 tahun selanjutnya dibawa masuk. Karena dia mengakui Kristus dengan keteguhan yang sama seperti kakaknya, dia pun dipukuli dan dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala namun api itu padam ketika menyentuhnya, yang di dalamnya kasih Allah menyala dengan nyala yang lebih kuat daripada api duniawi.

Setelah disiksa berkali-kali, Elpis juga wafat oleh pedang dengan mengucap syukur kepada Allah. Kemudian anak yang bungsu bernama Agape (Kasih) juga dipanggil menghadap sang kaisar yang telah gila oleh amukannya sendiri. Dia hanya berusia 9 tahun namun sama teguhnya dengan kedua kakaknya. Agape digantung di tiang sula dan dirantai begitu eratnya sampai tangan dan kakinya patah oleh rantai itu. Dia lalu dilemparkan ke dalam perapian, yang darinya dia dilepaskan oleh malaikat, dan akhirnya mati martir dengan dipenggal. St. Sophia bersukacita melihat anak-anak perempuannya dengan begitu mulia menjalani perjalanan mereka menuju Tempat Tinggal Orang-orang Benar namun di sisi lain sebagai seorang ibu, dia dipenuhi ratap tangis yang mendalam. St. Sophia duduk di dekat kuburan putri-putrinya selama tiga hari dan pada akhirnya dia pun menyerahkan jiwanya kepada Allah. Meskipun dia tidak menderita secara daging, dia tidak kehilangan mahkota kemartiran. Sebaliknya, dia sangat menderita di dalam hatinya. Orang-orang percaya di situ menguburkan jasadnya di samping putri-putrinya.

Troparion
Para Martir-Mu, ya Tuhan, dalam pertandingan mereka yang berani demi Engkau telah menerima hadiah mahkota tanpa binasa dan hidup dari-Mu, Allah kami yang Baka. Sebab mereka memiliki kuat kuasa-Mu, mereka telah menggulingkan para penindas dan sepenuhnya menghancurkan keangkuhan sia-sia roh-roh jahat. Ya Kristus Allah, melalui doa mereka, selamatkanlah jiwa kami, sebab Engkau penuh rahmat.

Kontakion
Sebab Pistis, Elpis, dan Agape sungguh adalah Carang-carang kudus Sophia yang terhormat, yang dinamai Hikmat, oleh rahmat mereka telah menunjukkan hikmat Yunani sebagai kebodohan, dan dalam pertandingan mereka telah nyata sebagai pemenang yang memenangkan upah, karenanya mereka telah menerima suatu mahkota yang tidak akan pernah binasa dari Kristus Allah.

Martir Sophia dan ketiga putrinya diperingati oleh Gereja setiap tanggal 17 September.

Saint Euphrosynos the Cook, dari Alexandria

Saint Euphrosynus the Cook berasal dari salah satu biara Palestina, dan kepatuhannya adalah bekerja di dapur sebagai juru masak. Bekerja keras untuk saudara-saudara, Santo Euphrosynus tidak menyimpang dari pemikiran tentang Tuhan, melainkan berdiam dalam doa dan puasa. Dia selalu ingat bahwa kepatuhan adalah tugas pertama seorang bhikkhu, dan oleh karena itu dia patuh kepada saudara-saudara yang lebih tua.

Kesabaran orang suci itu luar biasa: mereka sering mencela dia, tetapi dia tidak mengeluh dan menanggung setiap ketidaknyamanan. Santo Euphrosynus menyenangkan Tuhan dengan kebajikan batinnya yang dia sembunyikan dari orang-orang, dan Tuhan Sendiri mengungkapkan kepada saudara-saudara monastik ketinggian spiritual dari sesama bhikkhu yang sederhana.

Salah satu pendeta biara berdoa dan meminta Tuhan untuk menunjukkan kepadanya berkah yang dipersiapkan bagi orang benar di zaman yang akan datang. Pendeta itu melihat dalam mimpi seperti apa surga itu, dan dia merenungkan keindahannya yang tak dapat dijelaskan dengan ketakutan dan dengan kegembiraan.

Dia juga melihat di sana seorang biarawan di biaranya, juru masak Euphrosynus. Kagum pada pertemuan ini, penatua bertanya kepada Euphrosynus, bagaimana dia bisa berada di sana. Orang suci itu menjawab bahwa dia berada di surga melalui belas kasihan Tuhan yang besar. Pendeta itu kembali bertanya apakah Euphrosynus dapat memberinya sesuatu dari keindahan sekitarnya. Santo Euphrosynus menyarankan kepada pendeta untuk mengambil apa pun yang diinginkannya, dan karena itu pendeta menunjuk ke tiga apel lezat yang tumbuh di taman surga. Biksu itu mengambil ketiga apel, membungkusnya dengan kain, dan memberikannya kepada temannya.

Ketika dia bangun di pagi hari, pendeta itu menganggap penglihatan itu sebagai mimpi, tetapi tiba-tiba dia melihat di sebelahnya kain dengan buah surga terbungkus di dalamnya, dan mengeluarkan aroma yang menakjubkan. Imam itu, menemukan Santo Euphrosynus di gereja dan bertanya di bawah sumpah di mana dia malam sebelumnya. Orang suci itu menjawab bahwa dialah tempat imam itu juga berada. Kemudian bhikkhu tersebut berkata bahwa Sang Bhagavā, dalam memenuhi doa pendeta tersebut, telah menunjukkan kepadanya Surga dan telah menganugerahkan buah Surga melalui dirinya, “hamba Tuhan yang rendah dan tidak layak, Euphrosynus.”

Imam menghubungkan segalanya dengan saudara-saudara di biara, menunjukkan keagungan spiritual Euphrosynus dalam menyenangkan Tuhan, dan dia menunjuk ke buah paradais yang harum. Karena sangat terpengaruh oleh apa yang mereka dengar, para bhikkhu pergi ke dapur, untuk memberi hormat kepada Saint Euphrosynus, tetapi mereka tidak menemukannya di sana. Melarikan diri dari kejayaan manusia, biksu itu telah meninggalkan biara. Tempat di mana dia menyembunyikan dirinya tetap tidak diketahui, tetapi para bhikkhu selalu ingat bahwa saudara biarawan mereka Saint Euphrosynus telah datang ke surga, dan bahwa mereka dalam keadaan diselamatkan, melalui belas kasihan Tuhan akan menemuinya di sana. Mereka dengan hormat menyimpan dan membagikan potongan-potongan apel dari surga untuk berkah dan untuk penyembuhan.

Eksegseis Kidung Agung 1:11

Terjemahan Literal

Kami akan membuat bagimu perhiasan – perhiasan emas dari manik – manik perak.

Syntatic Content

We kami

Will make for you imperfect akan membuat bagimu

Kata bagimu Lakh preposisi gadis atau mempelai perempuan

Terejahav artinya perhiasan – perhiasan emas dengan manik – manik dari perak.

Subjek Kami sedangkan Predikat akan membuat bagimu perhiasan emas dengan manik – manik dari perak.

-Versi Septuaginta Kami akan membuat bagimu ornamen emas yang ditandai dengan

perak.

-Versi Ibrani Kami akan membuat bagimu perhiasan emas di kelilingi dengan perak.

Pendapat dari Origen

Origen mengatakan bahwa, “Teman – teman yang di kelilingi oleh mempelai laki – laki memiliki tanda yaitu perhiasan emas dan manik – manik perak. Sekarang teman – teman yang dikelilingi oleh mempelai laki – laki adalah para malaikat, nabi – nabi dan leluhur. Kristus juga sebelum dibaptis, dicobai oleh iblis dipadang gurun dan ditandai dengan malaikat yang datang dan melayani Dia. Bahkan hukum taurat ditahbiskan oleh para malaikat melalui perantaraan Musa. Ibrani 2:2 kata kamu (feminim plural) disini melambangkan gereja yang ditandai oleh emas dan perak.”

Origen mengatakan hal ini ditandai dengan malaikat – malaikat, nabi – nabi dan para leluhur. Galatia 3:19 bahkan para malaikat yang ditunjuk untuk perempuan yang masih kecil inilah yang diberikan kepada hukum taurat, baca (Galatia 4:2). Jadi, hukum taurat dianggap masih kecil dan berproses sehingga ketika genap waktunya maka akan lahir dari seorang perempuan yang lahir dibawah hukum taurat (Galatia 4:4). Hukum taurat diberikan lewat perantaraan malaikat. Hukum taurat akan berwujud inkarnasi dari Anak Allah. Mempelai perempuan (gereja) sudah ada sejak perjanjian lama hanya saja masih kecil sehingga ditandai oleh para malaikat. Para malaikat sepanjang sejarah sudah melayani gereja bahkan sebelum dunia ini dijadikan, (Efesus 1 : 4). Dalam Kisah Rasul 1 memang ada gereja tetapi yang disebut dengan gereja atau Kristen sudah ada sejak dunia dijadikan. Baik firman Allah yang nampak pada wujud manusia yaitu Yesus Kristus sudah ada sejak manusia diciptakan. Manusia yang diciptakan oleh Allah akan dijodohkan kepada Anak Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Ibarat kita memiliki anak, sudah kita jodohkan kepada tetangga kita. (Efesus 1:4) Manusia sebelum lahir sudah dijodohkan dengan Kristus ini menurut Origen. (Efesus 2:20) Inilah tanda dari mempelai perempuan yang dilayani oleh para nabi, malaikat dan rasul. (Efesus 5 : 26) manusia sudah eksis dari zaman dahulu, maka mempelai laki – laki datang kepada kita. Ibrani 2:14 Tuhan datang kepada mempelai perempuan ini menurut Origen.

Pendapat dari Gregory Nyssa

Gereja dipercantik oleh ornamen emas. Apa yang dimaksud dengan seperti emas? Gregory Nyssa mengatakan bahwa, “Ditandai serupa dengan emas itu bukan emas, tetapi serupa (menyerupai) emas. Ada kata – kata dari surga yang tidak bisa di bicarakan, yaitu serupa dan seperti emas tetapi bukan emas(2 Korintus 12:3-6). Jadi kata seperti emas itu menggambarkan kita seperti menerima radiasi kemuliaan. Misalnya, jika matahari adalah terang, maka kita menerima sinar matahari. Seperti Paulus yang mengatakan ada hal – hal yang tidak bisa dibicarakan. (Ibrani 1 : 3) Nyssa mengatakan orang – orang atau mempelai perempuan ditandai dengan sinar kemuliaan Allah yang berwujud manusia yaitu Yesus Kristus dalam Filipi 2: Yoh 1:1. Ini semua adalah hal – hal yang kelihatan seperti emas, tapi untuk mereka yang bisa melihat kebenaran itu sendiri. Bagi kita ini kelihatan seperti emas tetapi bukan emas. Yang dinamakan orang percaya atau mempelai perempuan adalah Kristus bersinar seperti emas, (Likenesess of Gold).

Apa yang dimaksud dengan dikelilingi oleh tanda – tanda perak. Perak artinya tindakan atau kata – kata yang menegaskan (Amsal 10:20) jika kita berornamenkan seperti emas, maka yang menegaskan kita seperti emas itu adalah kata – kata kita. Walaupun Rasul Paulus bisa melihat sifat Allah, diluar pikirannya. Jadi pada akhirnya kita (mempelai perempuan) yang seperti emas, kita tidak memanifestasikan substansi. Tetapi kita dilihat seperti matahari yang tidak bisa kita terima secara langsung tetapi melalui pancaran sinarnya.

Mari kita lihat transfigurasi Tuhan Yesus dalam Matius 6:22-23. Suatu ketika , Yesus mengajak Rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke Gunung Tambor, lalu Dia berubah wujud menjadi terang. Lalu datanglah Elia dan Musa padahal mereka sudah meninggal. Kristus tampak bersinar terang disaksikan oleh Elia dan Musa. Wajah dan tubuh Rasul Petrus silau dan tidak bisa memandang Allah. Apakah sebelum transfigurasi Tuhan Yesus tidak memiliki terang? Tidak, sejak awal Yesus adalah terang dan kita adalah mempelai perempuan yang terkena radiasi Yesus. Maka Yesus mengatakan kamu adalah terang.

Mari kita lihat transfigurasi Tuhan Yesus dalam Matius 6:22-23. Suatu ketika , Yesus mengajak Rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke Gunung Tambor, lalu Dia berubah wujud menjadi terang. Lalu datanglah Elia dan Musa padahal mereka sudah meninggal. Kristus tampak bersinar terang disaksikan oleh Elia dan Musa. Wajah dan tubuh Rasul Petrus silau dan tidak bisa memandang Allah. Apakah sebelum transfigurasi Tuhan Yesus tidak memiliki terang? Tidak, sejak awal Yesus adalah terang dan kita adalah mempelai perempuan yang terkena radiasi Yesus. Maka Yesus mengatakan kamu adalah terang.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 Semester 7

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Mata Kuliah : Eksegesis PL & PB

Sumber

dan

Orthodoxy & Heterodoxy (Part III)

Roman Catholicism

(Gereja Katolik Roma)

Gereja Roma adalah gereja yang berasal dari gereja misi yang didirikan oleh Para Rasul termasuk Rasul Petrus. Gereja ini merupakan gereja purba atau mula – mula yang ada di wilayah Eropa Barat. Gereja ini bukan hanya ada di kota Roma, tetapi telah berkembang ke seluruh dunia. Gereja Roma juga disebut gereja yang Katolik. Penamaan Katolik ini memang untuk membedakan dengan gereja – gereja yang ada di Timur yang disebut gereja Orthodox. Sejarahnya, ketika Kristus bangkit dan naik ke Surga lalu terjadi Pentakosta, Para Rasul menerima karunia dari Roh Kudus. Kemudian mereka memberitakan Injil dari Yudea, Yerusalem, Samaria, daerah Asia Kecil, sampai ke Eropa. Di Roma, Benua Eropa inilah kota Metropolitan dari kerajaan Romawi terdapat Gereja Roma Katolik. Inilah yang menyebabkan adanya Surat Rasul Paulus untuk Jemaat di Roma.

Pada abad yang pertama sudah ada perkembangan Injil yang dimulai dari Yudea, Yerusalem, Samaria, daerah Asia Kecil, Anthiokia, dan Aleksandria sampai Roma. Jadi, ada gereja – gereja yang didirikan oleh Para Rasul. Misalnya Rasul Paulus yang sudah mendirikan gereja di Yunani, Asia Kecil, dan Turki. Ini merupakan gereja yang didirikan oleh Rasul Paulus. Lalu Rasul Markus merintis gereja di Aleksandria (Kota Pelajar). Kemudian Rasul Petrus menjadi Uskup yang pertama di gereja Anthiokia didaerah Suriah.

Sudah ada pusat – pusat kekristenan yaitu di Yerusalem, Anthiokia, Roma, Aleksandria. Nanti muncul lagi di Konstantinopel atau di daerah Turki atau Bynzantium atau sekarang disebut Istanbul. Inilah lima pusat kekristenan yang muncul di abad pertama. Pada tanggal 16 Juli 1054, inilah yang disebut sebagai masa kelam bagi gereja. Karena terjadi perpecahan antara Gereja Katolik dan Gereja Timur. Maka ada istilah Gereja Barat dan Timur. Gereja ini pecah dalam arti mereka tidak saling mengakui, tidak lagi menjalin suatu komuni. Pada masa itu Gereja Roma mengutus Kardinal Humbert dan Kardinal Diaken Frederic dari Lotharingia ke Gereja Hagia Sophia. Mereka menyampaikan suatu keinginan Paus yaitu masalah kekuatan atau kekuasaan seorang Paus terhadap gereja. Ketiganya masuk kedalam gereja. Ada satu dokumen yang diserahkan yang bertujuan untk memutuskan hubungan. Dokumen itu diberikan kepada Patriakh yang ada di Konstatinopel yang dipimpin oleh Michael Cerularius. Humbert berkata, “Allah akan melihat dan memutuskan” Lalu mereka menyerahkan dokumen pemutusan hubungan. Gereja Timur tidak mau mengakui bahwa Paus yang ada di Roma itu yang paling berkuasa. Tentu gereja – gereja yang di Timur tidak mau. Harus ada senioritas tetapi bukan dalam hal kuasa. Ini merupakan masalah politik yang dihadapi gereja pada saat itu.

Perbedaan Gereja Timur dan Barat

Ada area – area yang cukup berbeda misalnya tentang Development of Doktrin, Hubungan antara Iman, Rasio dan Kerohanian.

Development of Doctrine

Gereja di Katolik Roma menerima Development of Doctrine artinya Doktrin bisa berkembang, dan di revisi (Diubah). Tetapi, di Gereja Timur tidak bisa dirubah atau  doktrin itu sudah menjadi sebuah kebenaran. Di Roma Katolik menerima Development of Doctrine artinya, Gereja bisa memiliki suatu progres atau pengertian dan ekspresi doktrin disepanjang zaman. Teks Klasik dari Roma Katolik ini merupakan dari John Henry Human yang ditulis didalam bukunya berjudul An Essay on the Development of Christian Doctrine. Cardinal Newman ini dulu seorang yang beraliran Anglikan kemudian pindah ke Roma Katolik. Dialah yang mempertahankan resis tentang Development of Christian Doctrine. Anglikan dan Protestan menyerang Roma Katolik yang berkata tidak ada di Kitab Suci, dan absen dari gereja – gereja purba. Newman membela aliran katolik, kemudian berkata, “Ada Dogma yang benar – benar baru yang di definisikan oleh gereja, tetapi Dogma yang berkembang. Jadi bedakan satu Dogma yang baru, dengan Dogma yang berkembang. Jadi Dogma yang baru benar – benar harus baru disepanjang sejarah itu benar – benar belum ada inilah Dogma baru. Tetapi aliran Katolik mengatakan, “Dogma tidak baru tetapi berkembang artinya bisa dirubah.” Jadi, bukan sesuatu yang kaku atau tidak bisa dirubah, tetapi juga bukan dogma yang baru.

Kita juga harus hati – hati dengan ajaran yang baru. Ajarannya sebetulnya sama tetapi tampilan awal atau casingnya saja yang berbeda. Seperti Hyper Grace, Karunia yang berlebihan, Jesus Only, ini merupakan ajaran yang harus di cek apakah ajaran itu termasuk Orthodox atau Heterodox. Jika kita belajar tentang sejarah, maka kita sudah tahu apakah itu lurus atau sesat. Jika kita mengatakan Roma Katolik ini merupakan aliran yang berbeda kita salah karena ini merupakan aliran yang sama tetapi mengalami sebuah progres atau perubahan. Jika dahulu dikatakan bahwa keselamatan itu hanya ada di Roma Katolik. Lalu sekarang dirubah lagi bahwa keselamatan itu juga ada diluar Roma Katolik meaning substance Dogma sudah tidak bisa ditawar (Absolut). Jika ada yang mengubah dan mengatakan bahwa Yesus bukan manusia dan bukan Allah maka itu akan berubah menjadi Heterodoxy. Perubahannya bukan terjadi pada konten dan meaningnya tetapi pada ekspresi atau cara menyampaikannya. Kita juga harus hati – hati terhadap konten yang sama disampaikan dengan cara ekspresi yang berbeda ini juga bisa menjadi Heterodoxy. Contoh: Teologi Kontekstual yang kontennya diubah sehingga menjadi sesuatu yang keliru ini juga bisa menjadi Heterodoxy. Kemudian dalam menjelaskan Tau dalam konteks Talisme, Tau bukanlah Firman atau Logos. Jadi jangan menyamakan Tau dengan Firman atau Logos karena ini sesuatu yang berbeda. Kristus adalah firman Allah yang menjadi manusia, dan ini tidak bisa di tawar (absolut). Ekspresi bisa berubah tetapi konten tidak boleh berubah.

Contoh ada pertanyaan yang mengatakan, kenapa Kristus harus lahir dari Maria? Dalam dunia kedokteran mungkin sulit menerima hal ini. Dalam dunia sciene juga tidak bisa menerima hal ini karena logikanya ketika seorang mengandung maka ia tidak perawan lagi. Jika Kristus lahir dari seorang perawan, maka tidak ada campur dari benih laki – laki atau sperma berarti hanya ada benih perempuan. Benih laki – laki diganti oleh benih dari Roh Kudus (Incarnation of Holy Spirit & Virgin Marry). Kenapa? Karean memang Tuhan menurunkan formanNya kepada manusia. Jika benih laki – laki dan perempuan bersatu maka akan menjadi orang yang baru. Dalam rencana Allah tidak ada manusia baru yang dilahirkan tetapi anakNya sendiri. Jadi harus perawan, jika tidak perawan maka itu bukan benih dari Allah (Roh Kudus). Hanya Dia satu – satunya firman yang menyelamatkan kita. Jika Dia lahir dari seorang perawan, artinya Dia mengambil kemanusiaannya Maria. Kemanusiaan Maria berasal dari kemanusiaan dari Adam yang sudah jatuh. Jika ada aliran doketis yang mengajarkan bahwa Yesus bukan manusia atau Dia hanya berpura – pura menjadi manusia ini merupakan Heterodoxy atau Bidat. Dia harus jadi manusia untuk memperbaiki kemanusiaan yang sudah rusak. The Apostolic Father mengatakan, “Orang yang mempelajari doktrin semakin pintar menjelaskan, tetapi tidak boleh merubah kontennya”

Faith & Reason

(Iman dan Akal Budi)

Thomas Aquinas banyak memakai Logika Aristoteles. Ditimur juga memakai istilah filsafat Yunani untuk menjelaskan tentang Doktrin atau Theologi. Tetapi tulisan Aquinas, merger dengan Aristotelic dalam menjelaskan eksistensi Allah yang sangat logiac dan scientifc lalu generasi setelah Aquinas sangat mengedepankan Kristen atau Rasio. Jadi ajaran Katolik sangat mengedepankan Reason atau metode – metode filsafat aristoteles untuk menjelaskan tentang iman. Kritikan dari kita adalah, mereka cenderung menjadi rasionalis, segala sesuatu harus jadi human reason. Jadi jika tidak sesuai dengan reason kita maka itu bukan kebenaran. Contoh: Seorang perawan bisa melahirkan secara akal budi ini mungkin tidak bisa terjadi maka kita tolak kebenaran itu. Human reason akhirnya menjadi tool tetapi ini merupakan criterian of truth. Ini menjadi suatu yang legal atau rasional. Dogma atau Teologi Katolik itu sangat mengedepankan rasio. Bagaimana dengan Mysticism? Seperti Allah itu misteri, Allah itu sulit dimengerti, Allah itu esensi yang sulit untuk dijelaskan. Jadi pertentangan ini harus diseimbangkan. Bagi kita pikiran yang rasional penting sebagai cara mengenal kebenaran tetapi ini bukan reason yang memimpin kepada iman. Tetapi reason, hanya sebagai tool untuk suport the meaning of truth.

Kita pakai intelektual kita untk menjelaskan kebenaran. Tuhan Yesus memakai cerita untuk menjelaskan hal kerajaan surga. Dia memakai perumpamaan untuk bisa menggambarkan kerajaan Surga dan juga memakai akal budiNya kepada manusia supaya manusia dapat mengerti. Reason dipakai untuk mengenal iman.

Spirituality atau Kerohanian

Apa yang ditekankan oleh Gereja Katolik atau Roma Katolik ini dipengaruhi oleh reason atau akal budi. Ini menyebabkan imbalan dari kerohanian atau kerohanian yang tidak simbang. Artinya kesatuan didalam tubuh, pikiran dan jiwa terpecah atau tidak integral. Tubuh tidak integrasi dengan pikiran. Ada yang menekankan sangat berfokus pada Antrhoposentrik atau kepada kemanusiaan dari pada Nous. Kita bisa lihat dari karya seni yang sangat menekankan highly sensual atau patung – patung yang telanjang, ini dipengaruhi oleh Antroposentrik dan Materi daripada menenkankan kepada Nous. Jika kita lihat kesenian dari zaman Renainsance seeperti patung – patung yang telanjang ini sangat dipengaruhi oleh higly sensual. Ignatius Loyola menekankan pada askesisnya sangat berlebihan. Ada juga yang sangat sensitif terhadap spiritual. Kita bisa lihat contoh dari film Mel Gibson’s yaitu The Passion of the Christ. Jika kita lihat film itu sangat menekankan kepada sensuality atau Antrophomosentrik didalam katolik memang seperti itu. Seperti TubuhNya yang terluka, lalu darah yang tercurah. Berbeda dengan Orthodox diceritakan bahwa Kristus begitu tenang pada saat mengalami penderitaanNya. Penebusan Kristus itu tidak cukup untuk menebus dosa sehingga harus ada perbuatan – perbuatan baik yang harus dikerjakan inilah yang dinamakan Legalis Spirituality (api penyucian). Contoh seorang Katolik semasa hidupnya tidak melakukan perbuatan baik akhirnya ketika dia mati maka seharusnya dia masuk neraka tetapi disisi lain tidak mungkin dia masuk neraka karena dia seorang katolik itulah sebabnya dia masuk kedalam purgatory supaya dosa – dosanya disucikan sehingga ia bisa masuk Surga. Atau ucapkan sepuluh doa Maria, semakin banyak doa itu diucapkan maka semakin sedikit dosa – dosanya. Dalam Katolik ada grup – grup yang kontradiksi.

Dogma (Ajaran)

  • Papal Supremacy

Didalam katolik isu yang paling membuat perpecahan di gereja Timur adalah Papal Supremacy. Papal Supremacy mengajarakan bahwa pemimpin gereje di Roma adalah seorang Paus (sekarang bernama Paus Fransiskus) adalah supreme penguasa atas seluruh gereja. Dialah satu – satunya yang berkuasa atas seluruh orang Kristen (kepala gereja). Papal Supremasi ini membahayakan iman dan keselamatan. Papal Supremasi ini ada dialam konsili yang pertama pada tahun 1870. Dalam konsili tersebut dikatakan bahwa gereja Katolik Roma adalah gereja yang menguasai semua gereja – gereja dan Para Yuridiksi. Ditahun 1439 ada sebuah konsili lokal yang dinamakan konsili Florence di gereja barat. Mencoba untuk reunited bersama gereja Roma dengan gereja orthodox.

  • Papal Infalibility

Ada didalam konsili Vatikan yang pertama di tahun 1870. Apa yang diajarkan oleh Paus tidak bisa salah. Karena tidak mungkin seorang wakil Kristus bisa salah. Tentu kita tidak percaya kepada Papal Infability ini.

  • Filioque

Ini juga masalah yang sulit dalam pengakuan iman Nicea bahawa Roh Kudus itu keluar dari Bapa dan Anak. Ini menjadi problem yang sangat komplek. Orthodox tidak menerima bahwa Roh Kudus berasal dari Putra. Ini melanggar dan menambah doktrin sendiri ini tidak sesuai dengan Konstantinopel.

  • Absolute Divine Simplicity

Ortodoxy mengajarkan bahwa Allah itu secara esensi tidak bisa diketahui, tetapi dapat dikenal oleh energiNya. Didalam Roman Catholicism, walaupun tidak secara eksplisit menolak energi dan esensi tetapi mereka menekankan Absolute Divine Simplicity. God as substance artinya Allah hanya Substansi saja memakai istilah Absolute Divine Simplicity didalam konsili tahun 1215 artinya Roh Kudus lahir dari Bapa dan Anak. Jadi tidak ada esensi dan energi hanya Tuhan. Jadi Doktrin Allah ini hanya menekankan kepada atribut Tuhan saja. Dalam Orthodox tidak ada esensi tetapi energi. Sedangkan katolik energi dan esensi Allah digabung. Sedangkan bapa- bapa gereja yang ditimur jauh melampaui diri sendiri sehingga melebihi Absolute Divine Simplicity.

Nama  : Elisabeth Situmorang

Tingkat  : 3 (Semester 7)

Dosen  : Dr. Hendi Wijaya M.Th

Mata Kuliah  : Orthodoxy & Heterodoxy

Sumber :

Orthodoxy & Heterodoxy (Part II)

Pakaian Pesta

(Matius 22: 1-14)

22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 22:2 “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh  itu dan membakar kota mereka. 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan r  dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, s  sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih – pilih.

Ini merupakan narasi yang diajarkan oleh Kristus kepada kita. Ayat 2 hal kerajaan surga seumpama narasi. Jadi narasi ini mengandung sebuah ajaran kerajaan surga. Kita harus mengerti tentang hal ini. Kita tidak bisa membaca teks ini karena teks ini tidak bisa dilepaskan dari Spiritual meaning (makna rohani).

Seorang raja mengadakan perjamuan pernikahan atau perkawinan untuk putranya, dia mengirim undangan satu kali untuk mereka yang diundang datang, mengirim dua kali, tetapi karena kepedulian pada hal-hal duniawi mereka tidak datang — satu sibuk di rumah, yang lain dengan bisnisnya. Jadi sudah dua kali diundang tetapi tidak datang. Undangan baru dibuat untuk orang lain, bukan untuk mereka, dan akhirnya ruang perkawinan dipenuhi dengan para tamu. Di antara mereka ditemukan seorang yang tidak berpakaian pesta dan sebab itu ia diusir. Makna dari perumpamaan ini jelas: perjamuan kawin adalah Kerajaan Surga, undangannya adalah pemberitaan Injil, yang menolak adalah mereka yang tidak percaya sama sekali, dan yang tidak berpakaian pesta adalah orang percaya tetapi tidak hidup menurut iman.

Masing-masing kita harus mencari tahu sendiri yang mana kategori kita. Apakah kita orang percaya namun sama sekali tidak berpakain pesta. Seseorang sama sekali tidak berpikir tentang iman, seolah-olah itu tidak ada; yang lain mengetahui undangan tapi merasa sudah puas dan tidak mengindahkannya; yang lain menafsirkan iman dengan cara yang menyimpang; yang lain bermusuhan total dengan membunuh hamba-hamba raja itu. Ini semua dianggap orang-orang Kristen, meskipun mereka sama sekali tidak memiliki apapun yang disebut Kristen. Jika kamu percaya, cari tahu apakah perasaan atau perbuatanmu sesuai dengan imanmu — ini adalah pakaian jiwa yang dengannya Tuhan melihat kamu berpakaian pesta atau tidak. Kita mungkin mengetahui iman dengan baik dan bersemangat untuk itu tetapi dalam kehidupan nyata kita justru melayani nafsu, berpakaian jiwa yang memalukan yang mencintai dosa. Orang-orang seperti itu hidup menginkari apa yang ada di dalam hati. Mulut mereka berkata “Tuhan, Tuhan!” tetapi dalam perbuatan mereka mengingkari Tuhan. Ujilah diri kita sendiri, apakah kita beriman dan mengenakan pakaian pesta karena kebajikan atau mengenakan pakaian compang-camping dosa dan nafsu.

Seorang saudara bertanya kepada salah satu Bapa Gadang Gurun, “Apa hidup itu?” dan sebagai jawaban dia berkata, “Mulut yang jujur, tubuh yang kudus, hati yang murni, pikiran yang tidak duniawi, bernyanyi mazmur dengan ratapan karena dosa, hidup dalam keheningan, dan selalu berpengharapan kepada Tuhan.” Inilah pakaian pesta yang diinginkan oleh Allah. (1.35) Kemuidan seorang abba berkata, “Marilah kita melatih kelembutan dan panjang sabar, ketekunan, dan kasih, karena di dalam inilah para biarawan ada.” Dia juga berkata, “Definisi orang Kristen adalah meneladani Kristus.” (1.36, 37) dalam kerajaan surga orang itu wajib berpakaian Kristus.

Pakaian pesta kita adalah pakaian Kristus. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20 TB). Pakaian Kristus dimana daging dan darah-Nya yang dicurahkan untuk mengundang kita masuk ke dalam pesta perkawinan. Matius 12:4 Kristus telah mengndang kita untuk masuk kedalam pestaNya. Bagaimana carannya? Harus ada undangan, artinya Kristus sudah mengundang kita untuk datang dan masuk kedalam pesta atau kerajaan sorga. Hanya saja apakah saya bersedia untuk datang atau tidak? Apakah saya sudah mengenakan pakaian pesta?

Rasul Paulus menjelaskan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27 TB). Dibaptis dalam Kristus berarti menyatu dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus (Rom 6:3-5) yaitu daging dan darah-Nya yang dicurahkan untuk kita. Dan mengenakan Kristus ini berarti mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui untuk menjadi serupa dengan Kristus (Kol 3:10; Efe 4:24; Rom 8:29; 1 Yoh 3:2). Jadi berpakaian pesta yang mahal dan mewah ini berarti kita mengenakan pakaian Kristus yaitu memakai kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus di dalam diri kita sehingga kita mengenakan kemanusiaan yang baru dan kemanusiaan baru atau pakaian baru ini adalah perlengkapan senjata terang untuk memurnikan jiwa dan tubuh kita (manusia) di hadapan Allah (Rom 13:14; 1 Tes 5:23) sehingga hidup kita menghasilkan buah Roh. Lihat juga pembahasan artikel yang berjudul

Pakaian Kristus dan Kesempurnaan

Tujuan utama hidup manusia adalah berada di dalam Kristus sebab hanya di dalam Dia manusia berada di dalam keselamatan. Di dalam Kristus berarti di dalam keselamatan. Kristus adalah keselamatan itu sendiri sebab Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru (2 Kor 5:17) atau manusia baru (Efe 4:24; Kol 3:10) yang mengenakan Kristus atau memakai Kristus melalui baptisan (Gal 3:27). Di dalam baptisan kita manunggal dengan kematian Kristus di atas kayu salib yang mengalahkan dosa (Rom 6:3). Di dalam baptisan kita manunggal dengan penguburan Kristus yang mengalahkan Iblis, sang penguasa alam maut/Hades (Rom 6:4). Di dalam baptisan kita manunggal dengan kebangkitan Kristus yang mengalahkan maut atau kematian (Rom 6:5). Baptisan di dalam Kristus berarti manusia lama kita yang mati karena dosa (Efe 2:1) turut disalibkan, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Kristus untuk memperoleh hidup baru atau manusia baru yang hidup bersama Kristus yaitu hidup yang telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah (Rom 6:3-11).

Baptisan di dalam Kristus membuat kita mengenakan Kristus. Pakaian Kristus yang kita kenakan itu adalah kemanusiaan baru yaitu kemanusiaan Kristus yang telah memperbarui kemanusiaan Adam atau kemanusiaan lama. Ketika kita memakai kemanusiaan Kristus itu maka kita menjadi manusia baru yang terus-menerus diperbarui menuju kekudusan yang sesungguhnya menurut Kristus (Efe 4:24; Kol 3:10). Kita bertumbuh ke arah Kristus menjadi dewasa seperti Kristus (Efe 4:13,15) sehingga pada akhirnya kita atau manusia baru itu akan menjadi serupa dengan Kristus (1 Yoh 3:2). Di dalam Kristus kita terus menyempurnakan manusia baru melalui pengudusan sampai kita menerima keselamatan yang seutuhnya (Efe 4:13; 1:14; Rom 6:22; Kol 3:10).

Pakaian Kristus adalah pakaian kekudusan hidup melalui penyucian diri dari segala dosa (1 Yoh 3:3). Penyucian diri baik batin dan tubuh/daging dari segala dosa adalah proses pembaruan manusia baru yang telah mengenakan kemanusian Kristus. Kemanusiaan Kristus inilah yang membungkus diri kita sehingga yang dilihat Allah adalah diri kita di dalam Kristus dan dengan cara demikian baru bisa kita disebut anak-anak Allah karena Kristus (Gal 3:26). Kristus adalah Anak Allah (1 Yoh 4:15) dan kita menjadi anak-anak Allah karena iman di dalam Kristus tadi (Gal 3:26) yang membuat kita manunggal dengan Kristus. Anak-anak Allah karena Kristus berarti lahir dari Allah yaitu lahir dari air (baptisan) dan Roh (karya Roh Kudus yang mencurahkan penebusan Kristus di dalam hati manusia Rom 5:5) (Yoh 3:5) sehingga kita memiliki benih Allah di dalam hati kita (1 Yoh 3:9). Dengan benih Allah ini maka kita ada di dalam Allah dan Allah di dalam kita untuk hidup bagi Allah sehingga sebagai anak-anak Allah kita memiliki kuasa atau energi ilahi untuk hidup kudus menyucikan diri dari segala dosa dan saling mengasihi sesama (1 Yoh 3:6,9-10). Inilah yang disebut Rasul Paulus hidup sebagai anak-anak terang yang berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran (Efe 5:8-9). Jadi, di dalam Kristus kita adalah anak-anak Allah yang lahir dari Allah dan mewarisi benih ilahi untuk hidup kudus dan mengasihi.

Pakaian atau kemanusiaan Kristus itulah yang harus menguduskan manusia lahiriah (sarkikos anthropos) dan batiniah kita (pneumatikos anthropos). Kita memakai pakaian Kristus sehingga Kristus akan memerintah dan menguasai diri kita. Seperti kata Rasul Paulus bahwa, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:19‭-‬20). Anthony Coniaris menulis tentang Rasul Paulus yang hidupnya adalah Kristus,

Ask St. Paul what made him the greatest Christian missionary who ever lived and you will hear him say, I count all things but loss for the excellency of the knowledge of Christ Jesus my Lord (Phil. 3:8). This knowledge of Jesus was not only a sound theological belief about Jesus in Paul’s mind, it was also a deep personal love relationship with Jesus in his heart, so deep and so total that he could only say that Christ was his life. For me to live is Christ. To know Christ is to live in Him and He in us.”

Penyucian atau pengudusan anak-anak Allah mencakup keseluruhan baik tubuh, jiwa dan roh. Seperti kata Rasul Paulus, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Tes 5:23); “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Kor 7:1).

Hanya dengan mengenakan Kristus kita akan mencapai pengudusan yang sempurna dan sekarang kita sedang mengusahakannya bersama Kristus sampai mencapai kesempurnaan. Coniaris menuliskan, “Salvation is not a state of being; it is the motion toward theosis, toward becoming like God, toward union with God, which can never be fully achieved here on earth. It is growth toward perfection. It is moving from sin to Christ, from slavery to freedom, from darkness to light, from falsehood to truth, from despair to hope, from death to life. And once we have reached truth, it is moving from truth to greater truth, from wisdom to greater wisdom, from joy to deeper joy, from understanding to deeper understanding, from all-embracing love to more all-embracing love. And this process goes on eternally. We can never reach the point where we can say, “Well, now I’ve made it. I just have to sit around and be perfect.”

Kristus mengajarkan bahwa kita akan menjadi sempurna sama seperti Bapa kita yang di sorga adalah sempurna (Mat 5:48). Dan ini adalah proses panjang yang dimulai dari fondasi Kristus yaitu kelahiran baru di dalam Kristus; lalu terus menerus mengalami pengudusan atau pemurnian bersama Kristus; dan pada akhirnya kita akan mencapai kesempurnaan atau menyempurnakan kekudusan kita untuk menyatu dengan Kristus atau serupa dengan Kristus. Terakhir, Coniaris menuliskan, 

“And, thank God, one day we shall be made perfect. One day we will arrive at our goal. We shall reach our heavenly Father and our true home in heaven. Then there will be no more sick and weak bodies, no more battered psyches, no more broken relationships. We will be made whole. Our sins will have been washed away completely. There will no longer be a command to be perfect, but God will breathe upon us with His Holy Spirit and declare us perfect. Then we will truly be saints, redeemed children of the living God, who by grace have become “partakers of divine nature.” Imperfect disciples now, but by God’s grace growing to become one day perfected saints in God’s Kingdom.” Amin!

Sumber: Anthony M. Coniaris, Philokalia: The Bible of Orthodox Spirituality (Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 1998

Pertobatan dan Buah Roh Kudus

Orang yang telah menerima Kristus, dibaptis dan menerima Roh Kudus memulai kehidupan baru yang dinyatakan dalam kasih melalui karya kasih. Seseorang tidak diselamatkan oleh iman saja tetapi dengan iman yang mengekspresikan dirinya melalui kasih seperti yang ditulis oleh Rasul Paulus. Rasul Yakobus bertanya, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:14‭-‬17 TB) Iman kita harus disertai perbuatan-perbuatan seperti kasih dan ini adalah perjalanan kita selanjutnya setelah kita dibaptis dan dilahirkan baru. Iman dan perbuatan-perbuatan ini harus terus kita kerjakan dalam wujud pertobatan untuk pengudusan hidup dan perbuatan baik sebagai buah Roh Kudus.

Pertobatan

…in spiritual life three stages can be discerned, which are comparable to three conversions. The first conversion is the meeting of the soul with our Lord, when He is followed as a Friend and as a Master. The second conversion is a personal experience of pardon and salvation, of the cross and…resurrection. The third conversion is the coming of the Holy Spirit into the soul like a flame and with power. It is by this conversion that man is established in a lasting union with God. Christmas or Epiphany, then Easter, and finally Pentecost correspond to these three conversions. (…

Dalam kehidupan spiritual ada tiga tahap yang sebanding dengan tiga pertobatan. Pertobatan pertama adalah pertemuan jiwa dengan Tuhan kita, ketika Dia diteladani sebagai Sahabat dan sebagai Guru. Pertobatan kedua adalah pengalaman pribadi tentang pengampunan dan keselamatan, salib dan … kebangkitan. Pertobatan ketiga adalah kedatangan Roh Kudus ke dalam jiwa seperti nyala api dan dengan kuasa. Melalui pertobatan inilah manusia didirikan dalam kesatuan akhir dengan Allah. Natal atau Epifani, lalu Paskah, dan akhirnya Pentakosta berhubungan dengan tiga pertobatan ini. Dikutip dari The Year of Grace of the Lord. By a Monk of the Eastern Church. St. Vladimir’s Seminary Press. Crestwood, NY.)

Pertobatan pertama terus berlanjut ke pertobatan kedua untuk memulihkan atau memperbarui batin dan tubuh kita supaya serupa dengan Kristus. Pertobatan inilah proses mengerjakan keselamatan atau menaiki anak tangga keselamatan oleh anugerah Allah melalui iman kita. Anugerah dan iman ini terus bersinergi menghasilkan pertobatan untuk penyucian atau purifikasi diri kita dan menghasilkan perbuatan baik dalam wujud buah Roh Kudus.

Buah Roh

Buah Roh inilah hasil dari benih iman yang hidup yang ditanam (benih itu mengalami kematian (Yoh 12:24) dalam wujud pertobatan yaitu mematikan daging atau nafsu) dan bertumbuh serta berbuah. Buah inilah hasil dari anugerah dan iman yang hidup. Anugerah adalah menempel di dalam Kristus (Yoh 15:5). Iman yang hidup adalah iman yang disertai perbuatan-perbuatan itu (Yak 2:17). Perbuatan-perbuatan itulah yang dibangun dengan landasan iman seperti yang ditulis Rasul Petrus bahwa iman disertai dengan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kebaikan kepada saudara-saudara, dan kasih (2 Pet 1:5-7). Jika ini ada dalam kehidupan kita maka hidup ini memberi buah, “For if these things are yours and abound, you will be neither barren nor unfruitful in the knowledge of our Lord Jesus Christ.” (II Peter 1:8 NKJV) Rasul Yohanes juga menuliskan, “Every branch in Me that does not bear fruit He takes away; and every branch that bears fruit He prunes, that it may bear more fruit.”(John 15:2 NKJV).

Jadi, buah Roh itu adalah hasil dari mematikan daging (matinya benih dalam wujud pertobatan-pertobatan) dan pertumbuhan iman dalam wujud perbuatan-perbuatan itu seperti yang ditulis juga oleh Rasul Paulus, “But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, longsuffering, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, self-control. Against such there is no law.” (Gal 5:22‭-‬23 NKJV).

Benih iman (Efe 2:8) + Benih Roh (Rom 5:5) = lahir dari air dan Roh (Yoh 3:5) = lahir baru menjadi manusia/ciptaan baru = lahir dari Allah menjadi anak-anak Allah (1 Yoh 3:9) = memiliki benih ilahi di dalam hati (1 Yoh 3:9).

Benih Roh adalah kasih Allah yang dicurahkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita (Rom 5:5). Kasih Allah adalah Kasih Kristus yaitu pengorbanan hidup atau nyawa Yesus untuk pendamaian dosa manusia (1 Yoh 4:9-10; 1 Yoh 3:16). Hidup atau nyawa Yesus itulah daging dan darah-Nya yang kita makan dan minum (Yoh 6:54-56). Makan dan minum adalah penyatuan kasih Allah atau hidup Yesus itu di dalam diri kita oleh karya Roh Kudus. Penyatuan itu adalah kita manunggal dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus (Rom 6:3-5) dalam baptisan air.

Baptisan air inilah dilahirkan dari air dan karya Roh Kudus inilah dilahirkan dari Roh. Roh Kudus berkarya dalam baptisan yaitu mencurahkan karya Kristus ke dalam hati kita atau penyatuan kasih Allah dengan benih iman kita yaitu kita manunggal dengan kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus (Rom 6:3-5; Mark 16:16). Dengan kata lain baptisan adalah peristiwa perkawinan kedua benih yaitu iman dan anugerah (kasih Allah: nyawa Kristus yang dikorbankan itu) sehingga kita menjadi milik Kristus untuk berbuah bagi Dia (Rom 7:4). “Therefore, my brethren, you also have become dead to the law through the body of Christ, that you may be married to another—to Him who was raised from the dead, that we should bear fruit to God” (Rom 7:4 NKJV). Sehingga dengan perkawinan ini kita lahir dari Allah menjadi anak-anak Allah dan benih ilahi yaitu iman dan anugerah tadi ada dalam hati kita.

Benih ilahi ini harus ditanam di dalam tanah supaya dia berakar dan bertumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah. Berakar dan bertumbuh berarti benih ini harus mengalami kematian (Yoh 12:24) yaitu benih atau biji ini harus berubah jadi akar dan batang pohon. Ini berarti benih iman ini harus berubah menjadi akar dan pohon lalu menjadi buah Roh. Itulah sebabnya iman harus bertumbuh atau berubah menjadi akar dan pohon sehingga iman itu jadi hidup tidak mati. Iman atau benih seperti ini adalah iman yang disertai perbuatan-perbuatan. Biji yang harus mati ini adalah lambang dari pertobatan itu yaitu penyaliban atau kematian manusia daging kita supaya kita semakin berakar dan bertumbuh ke atas menghasilkan buah Roh (Gal 5:24).

Pertobatan adalah konstan dikerjakan terus menerus seperti akar dan pohon yang terus bertumbuh walaupun sudah menghasilkan buah. Tidak ada pertobatan maka sangat sulit bagi orang percaya untuk menghasilkan buah Roh sebab dosa ini akan begitu merintangi atau membebani perjalanan keselamatan kita atau perlombaan iman kita. Rasul Paulus menasihati kita, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr 12:1 TB). Jika kita tidak menanggalkan beban dosa maka itu akan memberatkan perlombaan kita.

Pertobatan akan meringankan perlombaan kita menuju kepada Kristus. Pertobatan untuk terus mematikan daging dan segala keinginannya dan buah Roh Kudus dalam hidup kita adalah hidup yang dipimpin oleh iman yang hidup dalam Roh Kudus. Kiranya setiap usaha pertobatan dan perbuatan baik kita lahir dari hati yang telah diberi kekuatan atau energi ilahi oleh Roh Kudus dalam Kristus. Mari kita terus mengerjakan keselamatan kita yaitu mengerjakan iman yang disertai perbuatan-perbuatan itu dengan pertolongan Roh Kudus.

Secara ringkas proses Buah Roh Kudus itu adalah:

Lahir baru/lahir dari Allah/lahir dari air dan Roh (benih iman dan anugerah/kasih Allah) —> benih ilahi (God’s seed) —> ditanam di dalam tanah —> mati (pertobatan) —> berakar (menyerap energi dari Allah setiap hari yaitu anugerah Allah) —> pohon (pertumbuhan rohani) —> buah Roh (karya Roh Kudus di dalam hidup orang percaya).

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 Semester 7

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Mata Kuliah : Orthodox dan Heterodox

Sumber :

Didaskalia

 (Pembeda – bedaan)

Didaskalia atau dalam bahasa Yunani disebut Diakrisis. Apabila diterjemahkan kedalam bahasa indonesia artinya memilah – milah atau mengevaluasi, membeda – bedakan menimbang dan menilai mana yang baik dan jahat atau yang benar dan buruk. Ini merupakan salah satu virtues (ilmu kebajikan). ini adalah karunia rohani yang diberikan oleh Roh Kudus kepada setiap orang percaya. Apa pentingnya kita memiliki karunia ini?

Diakrisis menurut bapa padang gurun atau bapa gereja.

Bapa Poemen mengatakan, “Selalu perhatian kepada jiwa kita, memperhatikan diri kita. Didaskalia ini merupakan alat kerja jiwa kita. Jadi kita harus berjaga – jaga. Kita harus mengevaluasi mana yang jahat dan baik. Memang didalam hati kita ini tertanam 2 hukum berbeda yaitu hukum Roh yang berasal dari ajaran Roh Kudus seperti membaca firman Tuhan dan melakukannya ini merupakan pengertian dari hukum Roh. Jika kita belum percaya maka kita masih memiliki hati nurani, maka ini merupakan hukum batiniah didalam hati kita, dimana kita masih memiliki sikap yang baik sehingga kita tidak ingin berbuat jahat.

Hukum kedua yaitu hukum daging, ini merupakan hal yang alami pada umumnya. Hal yang alami ini bertentangan dengan Allah maka disebut dengan hukum dosa. Hukum daging atau dosa ini bertentangan dengan hukum Roh baca (Gal. 5 ; Roma 7) ini menjelaskan hukum Roh dan hukum Daging. Ditengah – tengahnya ada hukum akal budi atau Nous. Hukum Nous inilah yang harus dilatih mana yang merupakan pikiran jahat atau logismoi mana pikiran yang baik atau Logismoi yang baik. Jadi, ada pemilihan yang mana yang buruk dan jahat.

Apa yang diajarkan oleh Desert Fathers kepada kita sangat penting dan dilatih setiap hari. Nous dalam Psikologi disebut sebagai ego yang bisa memilih, super ego adalah nilai – nilai yang baik itulah Hukum Allah. Tetapi ada nafsu (eat) yang cenderung memuaskan keinginan daging, yang tadinya makan dengan normal menjadi berlebihan itulah yang membuat kita jatuh kedalam dosa. Keinginan seks adalah keinginan yang natural untuk perkembangbiakan ini bisa menjadi dosa karena disalahgunakan. Roma 8 mengatakan bahwa banyak sekali hukum yang alami apabila disalahgunakan berubah menjadi hukum dosa sehingga kita bisa mati. Oleh sebab itulah kita harus mengajarkan Nous (mata rohani)yang harus difasilitasi dan diajarkan  discretion sehingga ia bisa memilih hukum Roh. Sehingga ketika Nous memilih Hukum Roh maka Hukum Roh ini akan menjadi seperti benih yang akan terus bekerja ditanam, dan bertumbuh menjadi suatu perbuatan baik atau buah Roh. Bagaimana prosesnya?

Kita harus memiliki Spiritual of humility, Repentance, lalu menghasilkan sebuah Discretion. Discretion ini harus kita latih didalam saat teduh atau saat jiwa kita tenang atau silent dan hesikia utntuk diberi suatu ruang. Sama seperti ketika kita memilih sebuah keputusan jika kita tergesa – gesa atau emosi. Kita diberi waktu untuk berpikir, kita bisa salah memutuskan bahkan cenderung merugikan hidup kita sendiri. Sama seperti kita, batin ini sibuk dengan lalu lintas dijalan bahwa nous ini seperti lampu lalu lintas. Jika tidak ada rambu lalu lintas, maka akan terjadi kecelakaan. Kita ingin melakukan apa yang Tuhan kerjakan tetapi pikiran daging ini selalu muncul dan menghalangi serta membelokkan hati kita. Inilah yang menimbulkan rasa bersalah. Mengapa ini bisa terjadi?

Didalam hati kita ada suatu consience atau hati nurani tetapi ini tidak cukup ini harus bertumbuh menjadi hukum Roh dengan Nous yang berperan penting didalamnya. Oleh sebab itu, kita perlu pekerjaan Roh Kudus Ibrani 5:14 yang dapat membedakan yang baik dan jahat. Ini artinya kita memiliki perangkat keras atau Nous. Ini seperti makanan keras bagi kita Ibrani 5 :14. Ini berarti untuk orang – orang yang kehidupan roahaninya sudah tumbuh. Cirinya kita memiliki discretion sehingga kita bisa menggunakan panca indera dengan benar. Seperti merasakan yang benar, melihat yang benar, mendengar yang benar dan melakukan yang benar. Jika kita masih belum bisa membedakan yang benar maka kita belum memiliki Discretion. Makanan yang keras melatih kita untuk membedakan mana yang jahat dan mana yang benar. Ketika kita sudah memiliki kehidupan rohani yang dewasa, maka kita sudah terbiasa memakan makanan rohani yang keras. Sehingga nous kita menjadi terang, jika nous kita terang maka tubuh kita juga menjadi terang.

Discretion ini merupakan karunia dari Allah yang dapat membedakan mana yang jahat dan baik. Discreation ini bisa membedakan kepalsuan dan kebenaran. Ini penting apalagi dalam kehidupan ini ada ajaran yang menentang bahwa Tritunggal itu tidak ada. Inilah pentingnya diacrisis. Jika kita salah memilih doktrin maka cara hidup kita akan salah dan pada akhirnya tujuan kita juga salah. Dalam 1 Yohanes 4:1-3 mengajarkan kepada kita menguji setap roh, apakah itu berasal dari Allah inilah diakrisis. Jadi istilah membeda – bedakan roh, juga dapat ditemukan didalam 1 Korintus 12:10 dimana Rasul Paulus medaftar membeda – bedakan roh merupakan salah satu dari karunia Roh Kudus.

Karena diakrisis juga kerja dari Roh kita sebab ini bekerja didalam batin kita. Hanya Roh Kudus yang bisa menolong kita untuk memiliki diakrisis itu. Oleh sebab itu maka diperlukan kerendahan hati dan keramahan, disinilah wadah Roh Kudus leluasa bekerja. Jadi, kita harus memiliki strategi untuk menciptakan hati, dimana Roh Kudus itu bekerja leluasa didalam hati kita. Sehingga bisa memberikan suatu karunia kepada kita. Karunia itu berarti satu anugerah dari Roh Kudus kepada kita dan kita memiliki itu. Ini juga biasa disebut sebagai mata atau telinga ketiga (Nous) panca indera yang terlatih tadi. Ini artinya bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Ada panca indera yang terlatih untuk mengarahkan anggota tubuh kepada hal – hal yang sesuai dengan hukum Roh.

Untuk membedakan kebenaran dari kepalsuan kita memerlukan pembedaan ini. Salah satunya yaitu karunia Roh Kudus dan tinggal didalam gereja. “Diakrisis ini merupakan ratu dari semua ilmu kebajikan.” ini menurut Sophoronus dari Yerusalem. Tradisi monastik ini perlu karunia, yaitu karunia pembeda – bedaan. Para bapa padang gurun menyadari bahwa hal ini sangat penting untuk dimiliki. Misalnya suara hati nurani merupakan diakrisi yang dimiliki semua orang, baik orang percaya maupun orang yang belum percaya sebab ini merupakan gambar dan rupa Allah yang diciptakan oleh Allah untuk kita. John Chrysostom menulis, “Bukalah pintu – pintu dari suara hati nurani mu dan lihatlah hakim itu duduk di pikiranmu.”

Kemudian diakrisis yang lain adalah Alkitab adalah garis yang membentang dihadapan kita yaitu kehendak dan kebenaran Allah yang diwahyukan secara ilahi. Lalu garis bimbingan yang lain untuk menolong kita yaitu Etika, Moral atau Akhlak yang mungkin diajarkan oleh guru atau orang tua kita atau istilahnya super ego. Jadi, dari kecil kita mengajar etika moral kepada anak – anak kita. Garis bimbingan lain yang menolong kita adalah Bapa Rohani kita yang mengahdirkan Roh Allah dan yang adalah seorang sahabat dan pemberi nasehat. Kemudian Doa yang mengundang Roh Kudus untuk datang memasang kemahNya didalam kita. Dengan demikian karunia – karunia pembeda – bedaan dapat disebut secara paling baik sebagai pembedaan yang penuh dengan doa dengan Jesus Prayer. Lalu Kemurnian Hati yang membersihkan mata dari jiwa kita yang memampukan kita untuk melihat Allah. Gregory Nyssa mengatakan, “Didalam dosa terdapat benih kematian.” Hati harus dipelihara dengan pertobatan sehari – hari. Kehidpan kita itu tidak melakukan kejahatan, tidak suka dengan gosip, tidak sombong dan tidak bertindak sembarangan. Bagaimana kita melatih panca indera kita sehingga anggota tubuh kita punya dsicretion. Inilah kehidupan para biarawan ini perkataan salah seorang elder. Bapa Anthony berkata, “Walaupun dia melatih tubuhnya tetapi dia tidak memiliki discresi maka ia tidak bisa menilai yang baik dan yang jahat. Jika kita punya diskresi yang baik maka kita akan dekat dengan Allah jika tidak maka kita akan jauh dari Allah.” Apakah penglihatan itu dari Tuhan atau bukan? Jadi penglihatan kita yang dari Iblis yang menunjukkan bahwa Diakrisis berasal dari si jahat. Jadi kita punya kepekaan seperti kapan kita menegur orang lain secara tegas dan lembut kepada seseorang. Ada seorang bertanya pada Bapa Arsenius, “Diakrisis penting kapan kita bisa repose dan berpikir tentang hikmat dari Allah.”

Kita memiliki Diakrisis yang menyatakan apakah ini baik atau jahat kepada setiap pikiran yang masuk kedalam hati kita. Jangan sampai kita terjebak inspirasi dari iblis tetapi harus berasal dari Allah. Jiwa perlu diterangi sehingga kita menemukan jalan kerohanian. Diakrisis ini seperti jalan aristoteles mengatakan seperti suatu jalan raja. Jadi kita memiliki proporsi di tengah – tengah. Contoh kita marah, bagaimana diakrisis tentang marah? Kita tidak ekstrim dengan amarah dan juga tidak terlalu cuek dengan keadaan yang harusnya kita juga marah. Adakalanya kita harus tegas kepada seseorang. Seperti kata Philokalia kita tidak boleh jatuh kepada dosa yang ekstrim. Banyak kegiatan yang harus dilakukan seperti kasih, dan sabar. Kita tahu banyak tentang kasih, tetapi berapa banyak kasih yang sudah kita kerjakan?

Kesimpulan

Discretion ini merupakan karunia dari Allah yang dapat membedakan mana yang jahat dan baik. Discreation ini bisa membedakan kepalsuan dan kebenaran. Dalam anggota tubuh kita terdapat mata ketiga dimana kita harus menimbang sebuah keputusan yang baik. Mintalah hikmat dari Tuhan sehingga kita memperoleh sebuah karunia pembeda – bedaan.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers

Sumber :

Eksegesis Kitab Kidung Agung 1 : 9-10

Kitab suci dibaca dengan 4 lensa yaitu:

  1. Historia (konteks sejarah)
  2. Spiritual (rohani)

Artinya didalam konteks mengandung roh atau esensi. Kita harus bisa menangkap pribadi serta perkataan Kristus dan karya-Nya bagi kita sebagai gereja-Nya (christ centered & eclesial).

3. Moral / Psychic / Good Works

Doktrin yang akan mengajarkan kita kepada perbuatan – perbuatan baik. Jadi ketika kita membaca kitab suci maka yang kita temukan adalah Kristus &Gereja diberikan kepada manusia untuk menjadi sempurna.

4. Anagogic

  • Terjemahan Literal Kidung Agung 1: 9- 10

9Aku membandingkan kamu, kekasihku, dengan kuda betinaku dari kereta – kereta Firaun. 10 Pipimu cantik seperti burung perkutut dengan perhiasan – perhiasan menjadi cantik lehermu cantik seperti kalung – kalung.

Ayat 9 kata Aku adalah subjeknya sedangkan membandingkan kamu, kekasihku, dengan kuda betinaku dari kereta – kereta Firaun merupakan predikatnya. Ayat 10 Pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut merupakan subjeknya.

  • Syntatic Content : Kidung Agung 1:9-10
  • Aku membandingkanmu, kekasiku, dengan kuda betina dari kreta – kereta Firaun
  • Pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut
  • Lehermu cantik seperti kalung – kalung.

Kemudian kita harus menemukan spiritual meaningnya didalam ayat ini.

Konteks Historis

Historia

  • Aku membandingkanmu, kekasiku, dengan kuda betina dari kereta – kereta Firaun

Apa arti Homoyosa kata kekasihku diumpamakan sebagai kuda betina? Jika kita mengingat kisah Nabi Musa menolong bangsa Israel saat melewati laut merah ia membelah laut tersebut sehingga bangsa Israel selamat dan kereta – kereta Firaun hanyut. Interaksi dengan teks – teks lain seperti 2 Tawarikh 1:17. Kemudian masukkan pendapat dari Bapa – bapa gereja seperti Origen. Menurutnya, kata kekasihku di alegoriskan sebagai gereja atau orang – orang percaya. Lalu Origen mengatakan mempelai perempuan (mempelai Kristus) ini harus dilihat oleh mystical interact yaitu saat mengejar orang Israel ada kuasa Firaun atau si jahat. “Akan ada si jahat yang akan mencobai orang – orang kudus Allah. Kuda – kuda Firaun itu menggambarkan roh jahat atau iblis.” Kuda – kuda inilah yang menggambarkan si jahat atau ini merupakan kuasa dari iblis.

Kemudian baca Habakuk 3:8 ; 2 Raja – raja 6:16-18. Origen mengatakan bahwa, “Ini merupakan kuda – kudanya Allah.” Dalam Matius 11:30 kata kuda itu tidak selalu merujuk kepada roh – roh jahat tetapi juga merujuk kepada kuasa Allah. Wahyu 19:11-14 ada istilah seperti “Kuda Putih” Dia yang duduk diatas tahta. Kuda putih itu adalah tubuh Tuhan seperti Firman Tuhan yang berubah jadi manusia (Kristus). Kuda putih digambarkan sebagai tubuh dan kehidupan sekaligus. Dalam kuda putih tadi Ia menguduskan dirinya. Jadi, kita lihat bahwa kuda Firaun berarti, kuda – kuda Firaun harus melewati kalvari (penyaliban) dan kuda – kuda kawanan Allah harus memikul kuk yang harus dialami oleh penunggangnya. Kemudian, dibersihkan oleh air yang murni.

Jika kita diumpamakan seperti kuda – kuda Firaun, maka kuda itu harus  disucikan dengan air. Air yang dimaksud adalah air yang menguduskan kita. (Roma 6:6-7) hal ini terjadi ketika orang itu telah mengalami baptis didalam Kristus. Artinya setlah dibaptis dalam kematian, penguburan dan kebangkitan seperti kuk itu diangkut akhirnya orang itu telah bebas dari dosa dan akhirnya mengikuti kuda – kuda putih. Seperti Kristus yang datang menyelamatkan orang – orang yang berdosa.

Kesimpulan

Kuda – kuda itu melambangkan kereta Allah yang harus disucikan menjadi kuda – kuda putih (Wahyu 19:11-14).

  • Pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut

Kemudian pipimu menjadi cantik seperti burung perkutut, apa maksud dari perkataan ini? Kita baca pendapat Rasul Paulus tentang ini dalam 1 Kor. 12:14-1.  Ini merupakan cerita tentang tubuh sebagai kepala dan badan sebagai anggota tubuh. Efesus 5:21-27 mempelai Kristus yang adalah gereja disebut sebagai tubuhnya, dan anggota – anggotanya. Semua anggota tubuh termasuk “Pipi” merujuk kepada gereja yang cantik artinya berintegritas. Mengapa disebut pipinya cantik? Pipi memang bagian dari anggota tubuh Kristus dan anggota tubuh itu disebut gereja. Salomo tidak menuliskan betapa cantik pipinya artinya ada semacam proses yang harus dilewati. Pipimu menjadi cantik karena dicium oleh ciuman Kristus, ini merupakan pendapat dari Origen.

Cantik dalam pengertian suci dan bersih ini melambangkan seperti burung perkutut. Karena burung perkutut itu sepasang, seperti laki – laki dan perempuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika mereka dipisahkan, maka dapat membunuh salah satunya. Seperti gambaran dalam Efesus 5 Kristus dan gereja tidak dapat dipisahkan. Inilah yang akan menjadi gaya pernikahan kita, seperti suami dan isteri. Makna rohani yang tersembunyi adalah Figuratif Alegoris yang artinya gereja tidak dipisahkan dengan Kristus.

  • Lehermu cantik seperti kalung – kalung.

Leher itu tempat untuk meletakkan kuk (beban). Kata leher ini menunjukkan suatu ketaatan laki – laki itu (obedience of christ) baca Matius 11:29. Sekarang, kuk dibebankan kepada kita ini menjadi beban gereja. Kuk dipasang oleh mempelai laki – laki dan dipasangkan kepada kita yaitu mempelai perempuan. Ketaatan itu seperti kuk yang sulit dipikul. Kuk yang dipasang kepada Kristus dan kita sama. Leher yang menunjukkan kuk itu cantik. Hal ini diumpamakan sebagai perhiasaan. Apa arti kalung – kalung? Kalung – kalung adalah untaian emas. Leher itu sebagai ketaatan untuk menjalani ketaatan untuk itulah Tuhan memberikan kuk, sedangkan untaian – untaian itu merupakan keindahan atau kecantikan. Leher itu adalah gereja yang merupakan ketaatan kita sedangkan kalung adalah Kristus yang mempercantik diri kita.

Kesimpulan

Leher dan pipi merupakan gambaran dari gereja. Tetapi leher dan pipi kemudian berproses menjadi cantik dan bergantung sepenuhnya kepada Kristus dengan memakai kalung. Ini merupakan Figuratif Alegoris.

Pendapat Gregory Nysssa

Kemudian kita melihat pendapat dari Gregory dari Nyssa. Nyssa juga sangat dipengaruhi oleh Origen. Sama seperti burung perkutut, leher juga diumpamakan seperti itu. Kalung digambarkan seperti lingkaran, yang merujuk kepada  suatu kemenangan seperti bisa mencapai repose, menang atas kesombongan dan hawa nafsu. Nyssa menjelaskan, kalung itu membuat leher menjadi murni dengan lingkaran mutiara. Mutiara yang diambil dari samudera sudah diproses (dilepaskan dari kerang). satu ketaatan saja tidak cukup menurut Nyssa. Jadi, satu persatu kalung (ketaatan) harus diuntai menjadi satu persatu menjadi kalung. Untuk mendapatkan sebuah mutiara tidak gampang, apalagi diuntai menjadi sebuah kalung. Amsal 1:9 kamu akan menerima mahkota bagi kepalamu. Bagi Nyssa kalung itu adalah untaian ketaatan kita kepada Tuhan. Artinya kita harus menguduskan diri supaya kita layak dihadapan Kristus.

Kemudian kuda betina tadi yang menghancurkan kuda – kuda Firaun. Akhirnya, kuda – kuda itu binasa oleh air. Artinya, tubuh kita harus dibersihkan oleh air. Ini menunjukkan kepada kita bahwa kecantikan itu merupakan figuratif atau identitas dari mempelai perempuan yang harus cantik, dan Kristus merupakan mempelai laki -laki. Jika kita menerima kuk atau kalung, artinya kita harus memikul sebuah ketaatan. Pada akhirnya, kita akan menerima kalung keindahan yang telah kita untai dengan melakukan ketaatan.

  • Konsep Teologis

Gereja yang cantik didibaratkan seperti kuda yang menang atas kuda – kuda Firaun artinya menang atas segala kejahatan dan menang dari pasukan Allah. Akhirnya, kita akan menjadi pasukan kuda putih itu. Setelah kita mengalahkan iblis, kuk itu diberikan kepada kita dalam leher kita. Lalu kita harus menjalani ketaatan (obedience) sampai akhirnya kita akan menjadi mempelai perempuan Kristus.

  • Ringkasan

Kita adalah mempelai Kristus. Kita diibaratkan seperti pipinya Kristus. Burung perkutut yang tidak bisa dilepaskan oleh Kristus. Lalu leher yang berarti sama – sama menanggung bebannya Kristus. Kalung menunjukkan kita harus menguntai kalung kita masing – masing. Kristus mempercantik diri kita atau dengan kata lain Dia memperindah gereja. Dalam hidup, kita harus mempercantik diri kita sebelum bertemu dengan mempelai laki – laki kita (Kristus). Hidup kita diibaratkan seperti mempersiapkan diri kita untuk menjadi cantik.

  • Moral

Menjalani ketaatan seperti mengalahkan hawa nafsu dan kesombongan untuk bersatu dengan Kristus.

  • Anagogic

Kita harus menjadi segambar dan serupa dengan Kristus.

Nama : Elisabeth Situmorang

Tingkat : 3 (Semester 7)

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Mata Kuliah : Eksegesis Kitab PL dan PB

Sumber :

dan

Spiritual Perfection

(Kehidupan Rohani yang Sempurna)

Ada 3 pengajaran yang lalu kita pelajari tentang siapa mereka yaitu Desert Fathers. Kemudian kita sudah belajar tentang apa yang mereka kerjakan. Ketika mereka berada di padang gurun. Ketika mereka bisa masuk kedalam sel doa mereka, sampai mereka bisa masuk kedalam satu stillnes/ keheningan sehingga mencapai Hesychasm. Dimana pikiran / mind/ nous mereka turun ke dalam hati, menguasai hati mereka sehingga mereka bisa mendengar, berbicara bahkan berdoa kepada Bapa di Surga. Inilah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus juga dalam (Matius 6:6) Masuklah kedalam kamarmu, ini berarti masuk kedalam sel kita, dan tutuplah pintu, saat inilah kita melakukan silents. Kemudian tutuplah pintumu artinya kita menutup panca indera kita. Lalu berdoalah kepada Bapa inilah tandanya bahwa kita mencapai Hesychasm. 3 hal inilah yang menjadi The Object of The Exercises dari Desert Fathers.

Apa tujuan mereka melakukan itu? Tujuan mereka adalah mencapai keselamatan. Konsep keselamatan yang dimaksud oleh Desert Fathers yaitu ada 2 yaitu The Immediate Salvation dan Ultimate Salvation. Immediate Salvation yaitu Monastic Life, kehidupan sel doa mereka yang bisa mencapai suatu keselamatan. Mereka berbicara tentang akhir dari bersatu dengan Kristus didalam satu keheningan, silents, berdoa hesychasm kepada Allah.

Ada banyak logismoi yang mengganggu atau menggoda sel doa para Bapa Desert Fathers. Mereka adalah orang – orang manusia biasa seperti kita. Namun, mereka lebih memilih menjalani kehidupan asketis yang ketat untuk mencapai spiritual perfection. Apa itu Spiritual Perfection? Nanti kita akan melihat bebrapa kutipan bagaimana Bapa Gurun mencapai Spiritual Perfection. Tentu setiap orang dialam area kehidupan dunia ini, ingin mencapai kesempurnaan, tetapi selalu ada hambatan yang disebut dengan  Logismoi.

Apa yang dilakukan oleh Desert Fathers adalah semua perjuangan didalam batin atau hati mereka. Jadi, kalau mereka ingin mencapai kesempurnaan, dimulai dari hati mereka atau roh mereka itu juga selalu muncul dari logismoi yang juga pikiran – pikiran batin yang dihasilkan dari hati itu sendiri akibat dari godaan atau passion yang selalu masuk. Accidia dan Porneia adalah 2 logismoi utama yang paling menyerang Para Desert Fathers. Namun, Bapa Padang Gurun ini tidak pernah menyerah, mereka selalu berusaha, mencari hikmat, mencari tuntunan dan bimbingan kepada senior – senior mereka. Itulah sebabnya ada banyak perkataan – perkataan yang muncul, bukan suatu perkataan yang panjang, tetapi suatu perkataan – perkataan singkat yang lalu dimasukkan kedalam hati, lalu mereka melakukannya sampai mereka benar-benar mencapai kesempurnaan. Jadi, mengapa kita harus membangun sel, silent atau hesychasm? itu semata – mata untuk mencapai Spiritual Perfection.

Rasul Paulus menulis dalam Efesus 4:13 bahwa, “Setiap orang khususnya kita orang percaya bahkan semua orang yang mengejar kesempurnaan, tetapi bagi kita orang percaya kesempurnaan itu berbicara masalah Spiritual Learn artinya kesempurnaan bukan bersifat fisik, tetapi hakiki atau roh, yang kemudian bisa kita capai dengan kehidupan Monastic (biara) yang sungguh-sungguh, sampai mencapai kesempurnaan dunia atau ini disebut Immediate Salvation atau Spiritual Perfection.” Kehidupan yang akan datang adalah kesempurnaan tubuh, baik secara jasmani dan rohani. Kita percaya bahwa ada kebangkitan dari antara orang mati, artiny, ada kesempurnaan jasmani. Kita diciptakan secara materi atau fisik juga dari alam ini. Tuhan menciptakan kita dari debu dan tanah. Debu dan tanah itu merupakan alam dari cipataan Alah.

Sehingga ciptaan Allah pada akhirnya komposit menjadi sempurna dan mulia didalam kerohanian kita. Baik spiritual yang Attainable yang bisa dicapai dalam Monastic life atau kehidupan batin kita didunia ini nanti akan ditambahkan kedalam kehidupan jasmaniah kita yang akan menjadi sempurna. Rasul Paulus berkata bahwa, “Yang penting aku diperbaharui dari hari ke hari walaupun, kehidupan lahiriah saya akan mengalami komposit (makin lama makin mendkeati kepada kematian) atau kembali kepada tanah atau kematian (2 Kor. 4). Tetapi yang penting roh ku diperbaharui dari hari ke hari sehingga mencapai The Measure of God atau supaya aku semakin sempurnaseperti Kristus.” Jadi, jika kita ingin sempurna seperti Kristus maka, kehidupan rohani kita juga harus sama seperti Kristus. Sehingga hampir sama serupa dengan Kristus (1 Yoh. 3:2) Apa yang diajarakan oleh Desert Fathers adalah mungkin tubuhnya makin hari makin menurun tetapi rohnya akan penuh oleh Kristus.

Karena kita percaya pada kebangkitan Kristus yang kedua, maka disaat itulah kita akan dibangkitkan dan tubuh, jiwa dan roh kita menjadi serupa dengan Kristus. Jadi, jika ingin menjadi sempurna didalam kehidupan yang sekarang ini kita harus memenuhi tubuh, jiwa dan roh kita didalam Kristus. (Efesus 4:13; 1 Yohanes 3:2 ). Itulah Spiritual Perfection yang mereka kerjakan didalam sel doa mereka. Lalu kita akan mencapai the Fullnes of Perfection atau kesempurnaan yang penuh sama seperti Kristus. (1Yohanes 2; Roma 8:29; 1 Korintus 12:12) Dikatakan kita semua akan menjadi serupa dengan AnakNya yaitu rupa Kristus. Kenapa? Karena didunia ini kita sudah mengenakan pakaian yang baru, tinggal isinya yaitu Spiritual (Kerohanian). Bagaimana didalam jiwa dan roh kita semakin serupa dengan Kristus? Kita diciptakan Allah didalam kekudusan (Efesus 4:13).

Maximus mengatakan, “Tubuh akan menjadi sempurna didalam jiwa kita. Kita akan dibuat ilahi oleh Allah dan disempurnakan oleh Anugerah Allah. Kita akan menjadi manusia yang sempurna baik tubuh dan jiwa. Tubuh dan jiwa kita akan menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Oleh AnugerahNya kita dapat merasakan energiNya ketika kita berdoa kepada Allah. Ketika kita berdoa, berarti kita menjemput Anugerah Allah.” Untuk apa kita berdoa? untuk menerangi hati kita. Sehingga didalam hati kita terang yang bersinar akan terpancar keluar maka tubuh kita akan bersinar. Inilah latihan rohani yang dikerjakan oleh Bapa Padang Gurun. Perfection yang akan besinar itu seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam (Matius 17:22-23) bahwa kita akan membagikan kekekalannya kepada orang lain. Kita bisa menyatu dengan Allah baik kita dengan Allah mengalami Deification (Menjadi serupa dengan Kristus).

 Jadi, menurut Tuhan Yesus kita diciptakan untuk menjadi sama dengan Dia. Maximus mengatakan “Inkarnasi Tuhan itu menjadikan Tuhan menjadi manusia.” Jadi, Anugerah membuat kita yang awalnya manusia menjadi Anak Allah. Kita adalah manusia tetapi didalam putera itu. Sehingga kehidupan kita adalah kehidupan yang mencapai Deification. Apa yang ditekankan oleh Desert Fathers tentang Deification atau Perfection ini? Kehidupan rohani kita adalah untuk mengubah kekuatan kita supaya kita bisa melawan dosa dan melakukan hal – hal yang baik. Vladimir Lossky mengatakan, “Berdoa, berjaga – jaga serta berpuasa dan semua pekerjaan baik yang kita lakukan didalam Nama Kristus Yesus bukan hanya sekedar berbuat baik, tetapi ini merupakan usaha kita untuk memperoleh Roh Kudus. Ketika kita melakukan semuanya itu tanpa Kristus maka tidak ada hasil yang kita peroleh.” Jadi, semua yang dilakukan oleh Para Desert Father adalah semata – mata bergantung pada Tuhan untuk mengejar kesempurnaan.

Rasul Paulus mengatakan didalam 1 Kor. 3 kita harus membangun keatas. Dasarnya sudah dibangun yaitu Kristus. Seperti yang Tuhan Yesus ajarkan jika kita mendengar dan mengerjakan itu ibarat seperti orang yang sedang membangun bangunan diatas batu (pondasi) jika terjadi bahaya atau banjir, angin topan dan krisis. Kepada rumah itu maka, rumah itu akan kokoh berdiri. Sebab pondasinya sangat kokoh yaitu batu. Ketika kita membangun pondasi kehidupan rohani kita semakin baik, dan sukses tetapi ketika pondasi kita menggunakan pasir, apabila ada badai krisis didalam hidup kita seperti kata Tuhan Yesus didalam Matius 7, rumah itu akan hancur dan kehidupan rohani kita juga akan hancur, roboh dan binasa mengapa? Karena pondasinya bukan batu melainkan pasir yang lemah.

Apa itu pondasi batu? Didalam 1 Kor. 3 dikatakan pondasi batu adalah Kristus itu sendiri. Lalu dipertegas lagi di dalam Matius 7 pondasi batu yang adalah Kristus itu adalah mendengar yang Yesus katakan. Bapa Anthony juga seperti itu, mengapa dia memutuskan untuk menjadi seorang Rahib? Jika kita membaca biografi kehidupannya, dia mendengar perkataan Tuhan Yesus ketika berkata kepada seorang yang kaya “Kamu juallah seluruh hartamu, berikan itu kepada orang miskin, lalu datang dan ikut Aku.”Inilah yang di praktikan oleh Bapa Anthony seorang Rahib. Dia mengatakan apa yang Tuhan Yesus katakan. Artinya, Bapa Anthony sedang melakukan kehidupan rohaninya diatas batu. Sehingga, ketika dia membangun keatas saat diserang oleh Accidia tau Logismoi dia bisa lewati dengan Tuhan. Jadi, akhir dari kehidupan rohani kita sebagai umat Kristen bukanlah didalam doa, Silence atau Hesychasm, tetapi itu hanya menjadi sarana untuk menjadi anak Allah oleh Anugerah yang menjadikan sempurna.

Setiap rencana kita ingatlah kita tidak boleh terpisah oleh Anugerah Tuhan. Karena itulah yang semakin mendewasakan roh kita didunia ini sehingga tubuh kita didunia ini akan dimuliakan. Nanti pada akhirnya tubuh kita akan menjadi tubuh yang mulia tetapi proses perjuangan itu terjadi ketika kita sudah lahir baru. Lahir baru terjadi ketika kita sudah di baptis, saat itulah kita sudah mengenakan pakaian baru. Bagian dalam tubuh inilah yang harus di ubah dan di dewasakan terus dibangun diatas pondasi batu (Kristus) yaitu mendengar dan melakukan perkataan Kristus. Apa yang menjadi pengalaman Desert Fathers ini adalah pengalaman yang Yesus katakan “Kamu membangun hidupku diatas perkataan Ku.” Inilah yang disebut pondasi Kristus dan ini juga yang sedang dikerjakan oleh Para Bapa Padang Gurun dengan bersinergi oleh Anugerah Tuhan, sehingga Tuhan memberikan kekuatan untuk melawan Logismoi, sehingga setiap saat mereka terus bertumbuh dan dewasa didalam Kristus seperti didalam Efesus 4:14.

Ada seorang yang bertanya pada Bapa Anthony dia berkata “Dengan cara apa saya bisa menyenangkan Allah?” Lalu Anthony berkata, “Perhatikan apa yang aku katakan, selalu ingatlah akan Allah kemanapun kamu akan pergi. Apapun yang kamu lakukan, lakukan sesuai kitab suci, dimanapun kamu hidup jangan terburu-buru dan kamu akan diselamatkan.” Kemudian Bapa Pambo bertanya kepada Bapa Anthony, “Apa yang harus aku lakukan?” Kemudian Anthony mengatakan, “Jangan bergantung pada kebenaran mu atau penilaian mu sendiri, jangan menyesali perbuatan lampau mu, tetapi kuasailah lidahmu dan perutmu.” The blessed Gregory mengatakan bahwa, “Mengoreksi iman dari jiwa kita, perkataan yang benar, dan menguasai tubuh ini merupakan tiga hal yang harus kita lakukan ketika sudah dibaptis.” Bapa Evagrius mengingatkan juga “Jadi, jika kita bisa mencapai doa yang sungguh – sungguh dengan kasih maka kita akan mencapai Apatheia (Kita diberikan hidup kudus untuk melawan logismoi atau dosa).

Bapa Zakaria bertanya kepada Bapa Macarius, “Apa tugas seorang biarawan?” lalu jawab Bapa Macarius, “Kuasailah dirimu tanpa henti.” Bapa Yesaya berkata, “Jadi, yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Tuhan, doa tanpa henti, hidup kudus, jangan menyerahkan dirimu kepada kejahatan, rendah hati, dan ketaatan. Inilah hal – hal yang perlu kamu bangun untuk melakukan perbuatan baik. Jadi, berdoa tanpa henti meminta pertolongan Allah dalam segala hal.” Inilah cara yang dilakukan oleh Bapa Yesaya untuk mencapai kehidupan rohani yang sempurna atau Spiritual Perfection.

Bapa Yesaya juga berkata “Jika kamu juga ingin mengikuti Tuhan Yesus, ikutilah perkataanNya, jika manusia lama mu juga ikut disalibkan dengan Dia sampai kamu mati, maka kamu harus memotong semua hal yang bisa membuatmu turun dari salib itu.” Jadi Para Bapa Padang Gurun mengatakan bahwa kerendahan hati, repose, silence, dan maintance silence, merupakan tujuan dari kehidupan rohani yang sempurna. Bapa Yesaya juga mengatakan, “Bahwa bencilah hal – hal yang ada di dunia ini, kemudian menyingkir, beristirahat karena itulah yang menjadi musuh Allah.” Repose itu bisa dicapai ketika kita bisa melakukan kerendahan hati, hasilnya kita benar – benar mengistirahatkan hati kita dari godaan dunia seperti logismoi, hawa nafsu dan keinginan – keinginan daging.

Repose itu sudah dicapai ketika hesikia sudah berjalan. Ini adalah level dimana kita sudah mencapai level yang lebih tinggi. Kita butuh belas kasihan Allah didalam doa yang tanpa henti. Seorang Bapa bernama Anonymous berkata, “Ketika kita mulai berusaha, kita sudah masuk kedalam satu repose.” Bapa Sisoes berkata, “Tinggalkan semua kehidupan duniawi, jangan khawatir tentang apapun juga, kemudian repose. Jika kita belum bisa mencapai repose maka kita tidak bisa menyingkirkan logismoi.” Kemudian seorang pengurus gereja mengatakan, “Tetaplah berada didalam sel doa mu, berdoa tanpa henti kepada Tuhan, dan takut akan Allah akan mengitari hatimu. Usirlah segala sesuatu yang berdosa atau iblis.”

Bagaimana kita bisa mencapai Repose? Bapa Poeman berkata, “Jika kita dapat membenci dua hal yaitu hal – hal kedagingan dan kesombongan kita bisa mencapai Repose.” Selalu ada usaha yang kita lakukan untuk mengalahkan dosa. Bagaimana kita memiliki ekspetasi untuk mencapai repose? Dengan cara menghilangkan seluruh keinginan daging kita. Bapa Anthony mengatakan, “Dengan takut akan Allah kita selalu takut akan kematian, marilah kita membenci akan dosa ini dan marilah kita terus menangisi dosa kita sampai kita bis menemukan Allah, marilah kita membenci daging kita sehingga jiwa kita bisa diselamatkan. Dengan repose kita bisa hidup dengan Allah melalui hesikia yang merupakan jalan dari repose.” Jadi, Repose ini adalah posisi hati kita benar – benar menyingkir dari hal – hal duniawi dan tidak terkontaminasi dari dosa.

Bapa Yesaya mengatakan bahwa doa yang dicatat didalam Injil inilah untuk kesempurnaan. Jadi, didalam nama Allah tidak dapat dikuduskan jika kita masih dikuasai oleh dosa. Ketika kita berdoa Dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu itu artinya kita meminta Tuhan (Kerajaan Allah) untuk datang kedalam hati kita. Jadi kerajaan itu datang bukan dari tampilan fisik tetapi secara rohani bertahta didalam hati kita. Bagaimana Dia bisa bertahta didalam hati kita? Bapa Yesaya mengatakan bahwa, “Inilah kesempurnaan kekudusan kita, sebab jika kita masih dikuasai oleh nafsu, bagaimana Allah bisa dikuduskan?” Theodora mengatakan bahwa ada 3 hal yang kita butuhkan yaitu Aseksis (Latihan disiplin rohani), kehidupan yang sederhana, kemudian Repose (Menyingkir dari kehidupan duniawi) sampai kita mencapai kesempurnaan. John Colobos berkata, “Ketika kamu bangun pagi setiap pagi, lakukanlah satu kebajikan oleh perintah Allah dengan takut, kerendahan hati, menangisi dosa, berdoa dan tahan menderita dengan kasih akan Allah.” Artinya kita renounce dari hal -hal jahat masuk kepada hal – hal yang baik. Kita juga berpartisipasi dengan kesmpurnaan dari bangun sampai kembali tidur dikamar tidur kita.

Sorrow For Sin

(Penyesalan untuk Dosa)

Ketika kita bisa berdoa dan berbicara kepada Allah, maka pada akhirnya kita akan menangisi dosa – dosa kita. Inilah yang diajarkan oleh bapa Desert Fathers kepada kita yaitu dimulai dari Hesikia. Tujuannya untuk mencapai kesempurnaan rohani (Spiritual Perfection). The Object of Exercisenya adalah Silents, Cell dan Hesychasm. Konten dari Hesikia adalah pertobatan, dan penyesalan akan dosa, kasih, diakrisis, pengendalian diri, pengharapan, dan ketaatan. Bapa Anthony berkata bahwa, “Dengan takut akan Allah, dihadapan mata kita marilah kita diingatkan selalu takut akan kematian dengan cara menjauhi dunia. Ini adalah konten dari Hesikia kita harus mencapai titik dimana kita menangisi dosa. Evagrius berkata, “Tetaplah didalam sel mu satukan pikiran mu, ingatlah akan hari kematian, ingatlah akan tubuhmu, akan ada malapetaka, kesakitan, kesia-siaan akan dunia ini, berjaga – jaga dan semangat yang tidak pernah padam.” Pikirkanlah apa yang terjadi apabila kita mati nanti. Ini juga merupakan konten dari Prayer atau Hesychasm.

Kemudian Bapa Arsenius mengatakan ketika sepanjang hidupnya duduk, bekerja dengan tangannya dan menangisi akan dosa – dosanya. Lalu seorang saudara bertanya kepada Bapa Ammonas “Katakanlah sesuatu kepadaku Bapa?” lalu Bapa Amonas berkata, “Pergilah, terangi dan panasi pikiranmu. Jadi, ingatlah aku akan bertahan berdiri dihadapan Kristus jika kamu bisa melakukan itu maka kamu akan dibebaskan dan kamu akan diselamatkan.” Sorrow for sin itu penting untuk mengingatkan kita akan kematian, kemalangan dan keadilan Allah. Jadi, pergilah kepada orang – orang jahat itu tanyakan kepada mereka kenapa mereka dipenjara? Mereka akan menjawab mereka disidang karena berbuat jahat. Practical Matter yang dapat kita kerjakan yaitu ingatlah akan kematian kita terhadap pengadilan Kristus.

Kemudian Bapa Theodora berkata, “Ketika kamu sedang duduk didalam sel mu, fokuskan pikiran mu dan ingatlah bahwa kamu sedang dihadapan Allah. Bayangkan hal yang mengerikan yang akan terjadi kepada semua orang berdosa. Dalam Markus 9:48 yang terjadi adalah penghakiman dan itu terjadi kepada semua orang yang berdosa, akan ada api yang tidak bisa padam, cacing yang tidak bisa mati, ada Tartarus atau Neraka sementara. Akan ada kertakan gigi dalam Matius 8:12. Inilah yang harus kita ingat dari silents tadi. Silents bukan berarti melamun tetapi kita membayangkan apa yang terjadi ketika hari penghakiman itu terjadi kepada kita. Kemudian majulah, bawalah hal – hal yang baik didalam hatimu akses kepada Allah dan segala orang – orang kudusnya, kemudian nikmatilah itu. Jadi, kita harus meratapi hal – hal yang membuat kita akan masuk dalam penderitaan, kita harus sedih tetapi di satu sisi kita juga harus rejoice (gembira) dengan hal – hal yang baik.

Seperti ketika tangan kita hendak menyentuh api ada perasaan takut yang kita rasakan, demikian juga ketika kita dihadapkan kepada hal – hal ynag mendatangkan dosa maka kita juga harus takut. Bapa Elijah berkata, “Aku takut akan tiga hal ini, ketika jiwaku keluar dari tubuh ini artinya aku akan mati dan aku akan bertemu dengan Allah dan hukuman itu akan diberikan kepadaku.” Hal ini yang harus kita tangisi yaitu penghakiman dari Allah lalu terus – menerus meminta belas kasihanNya. Bapa Yesaya mengatakan bahwa, “Dia yang berada didalam Hesikia harus takut akan Allah, sehingga dosa itu akan menyingkir dari hati kita.” kemudian murid dari Bapa Yesaya mengatakan, “Saya mengunjungi Bapa Yesaya ketika dia sakit dan menemukannya dan dia sangat menderita, apa yang engkau takutkan? Kemudian ia menjawab, “Membayangkan aku tidak bisa repose.”

Kemudian ia juga berkata bahwa, “Tubuh, selalu mencari kesehatan tetapi berbalik untuk melawan Allah. Tapi apakah akar dari sebuah tanaman yang disiram setiap hari akan mati, menjauh dan tidak menghasilkan buah? Mari kita mengingat, semakin kita hidup benar semakin kita dekat dengan Allah maka semakin kita dapat mematikan kedagingan itu. Kemudian Bapa Petrus berkata, “Apa artinya takut akan Allah?” Seorang yang tidak takut akan Allah itu sendiri.” Para Bapa Padang Gurun selalu memberikan nasehat yang praktis kepada kita. Misalnya Bapa Yusuf mengatakan melakukan perbuatan yang baik, takut akan Allah, memuliakan Allah, menghormati Allah. Kemudian ia juga berkata bahwa ketika kamu sakit, dan dicobai. Terimalah hal itu dengan ucapan syukur, itu yang pertama. Kemudian, cepatlah untuk memperbaiki kesalahan dan cepat untuk menangisinya dengan tangisan. Semua yang kita lakukan hanya untuk memuliakan Dia dan bukan untuk mencari muka kepada orang lain. Lalu duduklah dalam satu ketaatan, carilah Spiritual Father dan renounce keinginan – keinginan kita. Jadi, bagaimana kita menyingirkan hal – hal dunia? Caranya kita masuk kedalam suatu tangisan, kita menangisi dosa – dosa kita. Bapa Anthony berkata, “Ketika kita hilang dari sel doa, maka kita seperti ikan yang keluar dari kolam. Artinya kita kehilangan determinasi atau ketakutan akan Allah.” Penting untuk diingat bahwa ketika kita menangisi dosa mintalah sebuah keselamatan supaya kita selamat dari dosa – dosa kita.

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 3 Semester 7

Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers (Part IV)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S.s

Sumber :

Ringkasan Orthodoxy dan Heterodoxy Part I

Kita akan mempelajari doktrin kita sendiri dan diluar doktrin serta hal – hal yang heresi atau doktrin yang kita percayai. Kita akan belajar dari kalangan kita yaitu internal tapi kita juga akan belajar secara eksternal artinya diluar kekristenan. Jika didalam kekristenan itu tentang The Orthodoxy (Doktrin yang lurus) atau Truth Faith/ Core Belive. Nanti kita juga akan mempelajari Heterodoxy artinya doktrin-doktrin yang menyimpang dari Orthodoxy berarti ini Internal dan juga agama – agama diluar kekristenan. Ketika Allah mencipta manusia dia menggambar. Gambar dan rupa manusia yaitu adam dan hawa. Lalu gambar dan rupa Allah ini berinkarnasi diberi nama Yesus Kristus Dia jadi manusia. Manusia tetap menjadi manusia, tetapi Yesus Kristus akan meneladani manusia sebab Dia adalah manusia yang sempurna (The perfect man). Pola kita diciptakan itu adalah manusia yang sempurna.

Berarti manusia yang kudus tanpa dosa. Nanti kita akan menjadi manusia yang kudus tanpa berdosa. Tetapi namanya manusia, ada gambar dan rupa Allah didalamnya. Berarti didlam tubuh manusia ada semacam benih atau gambaran tentang dirinya yang sempurna. Seperti apa? dan Bagaimana? Kita tidak sedang berbicara tentang kekristenan, kita berbicara manusia pada umumnya. Karena manusia adalah gambar dan rupa Allah, berarti setiap manusia itu mempunyai gambaran tentang apa dirinya. Dia bisa mereka -reka dirinya, dan mencari – cari. Seperti apa gambar dan rupa Allah supaya menjadi sempurna dan selamat? Makanya tidak heran muncul berbagai doktrin atau ajaran baik didalam kekristenan sendiri atau diluar.

Jika kita bertanya kepada orang yang dibaptis, apa artinya keselamatan? Atau apa artinya menjadi manusia yang selamat atau yang sempurna? Jawabannya akan berbeda dengan kita tanya dengan orang Islam, dan Hindu. Orang Hindu akan mengatakan ‘kamu harus berhenti reinkarnasi kamu tidak usah dilahirkan kembali akhirnya kamu masuk kedalam ruangan yang kosong.” Jika kamu bertanya pada orang yang dibaptis, maka mereka akan menjawab “Kamu masuk Surga.” Jika kamu bertanya pada orang yang beraliran Orthodox adalah mengalami Theosis (Pemuliaan) yang pada akhirnya saya menjadi serupa dengan Kristus. Kenapa jawabannya berbeda – beda? Karena kita masih segambar dan serupa dengan Kristus yang masih samar – samar dan masih bertumbuh mencari kesempurnaannya.

Sehingga Adam itu tidak diciptakan langsung Ilahi tetapi diciptakan harus dari gambar dahulu baru rupa. Artinya belum dewasa, atau masih anak – anak masih diproses sehingga menjadi sempurna. Manusia mengajarkan berbagai macam Doktrin, Aliran , Filsafat, Ajaran Agama, dan Kitab Suci yang sekarang ada. Manusia itu mencari gambar dan rupa Allah. Sehingga manusia bertanya  Siapakah saya sesungguhnya? Sehingga manusia mencari esensi dari dirinya. Tapi sekarang gambar dan rupa Allah yang menjadi pola ciptaan kita menjadi manusia lalu mengajarkan doktrin tentang siapa dirinya, tentang siapa Allah, bagaimana keselamatan itu bisa terjadi, lalu mendirikan gereja yang disebut gereja dengan murid – muridnya yaitu Para Rasul, dan gereja itu berkembang sampai sekarang.

Manusia juga mengajarkan doktrin yang disebut dnegan Dogma, yaitu Didaskalia untuk mencari tahu siapa dirinya, siapa saya, dan bagaimana saya bisa selamat. Ada yang mengatakan hidup ini hanya sekali tetapi ada juga yang mengatakan hidup ini berkali – kali atau reinkarnasi. Ada juga yang mengatakan tidak perlu untuk mencari Tuhan yang penting kita hidup baik dan nanti kita kan menemukan keselamatan. Pada akhirnya juga manusia akan mencari gambar dan rupanya sendiri lalu bertemu dengan Tuhan Yesus, kemudian memberitakan Firman Tuhan atau doktrin yang ada didalam gereja. Jadi, apa yang dicari oleh manusia selama ini sudah turun dari surga ke bumi lalu mengajarkan, sehingga kita lebih percaya yang mana, ajaran Allah atau manusia itu sendiri?

Kita akan belajar Doktrin baik yang benar atau Orthodoxy maupun versi yang umum. Istilahnya ada Wahyu Umum atau manusia sendiri yang mencari kebenaran itu dan ada Wahyu Khusus kebenaran itu sudah turun menjadi manusia. Yang spesial adalah Allah sendiri yang menyatakanNya kepada manusia. Berarti ajaran ini ada 2 yaitu Orthodxy (Komplit) dan ada ajaran Heterodoxy (Inkomplit). Dengan kita mempelajari kesalahan maka kita bisa memperbaiki kesalahan. Kita harus tahu ajaran yang komplit supaya kita bisa mengajarkan kebenaran atau doktrin yang komplit. Apakah kita harus bersikap bermushan ketika mengetahui bahwa ajaran itu tidak benar ? Tidak apakah kita harus mengatakan kamu sesat? Tidak!!! kita harus menghindari bahasa – bahasa itu. Kita harus memberi masukan kepada ajaran lain supaya ajaran itu komplit.

Ada ajaran yang melenceng jauh, dan ada juga yang mirip. Bagaimana kita bisa menempatkan ajaran – ajaran yang ada atau bagaimana kita menyeimbangkan ajaran – ajaran yang ada. Sehingga ajaran yang inkomplit ini menjadi komplit. Bukan kita merasa paling benar lalu kita sombong, tetapi kita harus memandang ajaran yang inkomplit itu dengan kerendahan hati. Mintalah belas kasihan dari Tuhan supaya mereka juga menemukan kebenaran itu. Terkadang kita dalam hidup ini konsen dengan kebenaran. Katakanlah jika kamu menjadi seorang kasir. Ketika kamu mengembalikan uang itu harus dengan jumlah yang tepat. Seorang perawat juga seperti itu ketika dia menyuntikan obat harus dengan dosis yang tepat. Seorang guru sejarah dia juga harus memastikan tanggal dan tempat itu harus tepat dan benar. Tetapi ketika kita membicarakan soal doktrin, kita menganggapnya remeh dan msing-masing punya iman atau kepercayaannya sendiri. Masing – masing punya cara untuk menyembah Tuhan dan menjadi relatif, ini yang disampaikan oleh Danik. Mengapa kita perlu belajar tentang Doktrin? 1 Yohanes 4:1-2 ; 1 Yohanes 5:1; 1 Yohanes 1 mengatakan bahwa gambar dan rupa Allah itu sendiri menjadi pribadi. Berarti ketika kita berbicara tentang doktrin berarti kita berbicara tentag kebenaran. Yang manusia cari adalah sifatnya yang pribadi. Yang dicari oleh manusia itu sudah menjadi manusia. Yohanes 14:6 “Akulah jalan kebenaran dan hidup.” Bahwa Kristus itu adalah kebenaran atau kebenaran itu adalah Kristus. Doktrin yang kita cari adalah  pribadi Tuhan Yesus Kristus. Karena Kristus adalah gambar dan rupa yang dicari oleh manusia.

Mengapa menangkap ini penting? Karena, tadi kitab suci mengatakan, barangsiapa salah memahami doktrin yang benar, maka dia tidak berasal dari Allah. Mereka salah memahami Kristus, berarti didalam lingkup gereja sendiri itu juga bisa salah memahami. Ada yang memahami Kristus itu bukan datang sebagai manusia, atau Kristus itu hanya Allah dan bukan manusia. Dia hanya Allah dan bukan manusia. Ada yang mengatakan Yesus itu bukan Mesias? Salah memahami tentang Kristus artinya kita bukan berasal dari Allah. Dalam (1 Yohanes 4 : 1) Jika kita tidak dapat memahami firman, maka kita tidak berasal dari Allah. 1 Yohanes 4:15 menjelaskan tentang siapa Yesus. Waktu Tuhan Yesus menyatakan diriNya banyak yang salah menangkap apa maksud dari firman ini.

Banyak nabi – nabi palsu yang mengajarkan yesus-yesus yang lain misal : (1Yoh.4:1) berarti ada yang tidak berasal dari Allah, yaitu nabi – nabi palsu itu. Jika kita salah memahami siapa Pribadi Tuhan Yesus maka kita tidak bisa diselamatkan atau binasa. Mengenal doktrin itu sama dengan kita mengenal Yesus Kristus yang sejati. Bahkan ada nabi – nabi yang menyangkal Bapa dan Anak (1 Yoh 2:22). Ada nabi – nabi palsu dan antikristus yang mengajarkan Yesus bukan anak Allah, Mesias atau Kristus. Kita harus tahu Kebenaran, Pribadi, Doktrin, Orthodoxy dan yang sesungguhnya. Orthodoxy artinya, ajaran yang lurus dan lawannya yaitu nabi – nabi palsu atau disebut Heterodoxy /menyimpang /berbelok. Ada yang mengajarkan yang lurus yaitu tentang pribadi Tuhan Yesus Kristus. Tetapi yang pertama saja sudah menyimpang surat 1 Yohanes saja sudah hampir mau masuk ke abad ke -2.

Para penyimpang ajaran atau doktrin ini sudah ada sejak dahulu. 1 Yoh. 4 Dia datang sebagai manusia, ada yang tidak percaya tentang hal ini. Tuhan Yesus datang sebagai anak Allah hal ini juga ada yang tidak percaya. Berarti, percaya pada Yesus saja tidak cukup, tetapi juga harus mengenal Orthodoxy atau ajaran yang lurus. Ajaran yang mengajarkan Yesus adalah Mesias, Kristus, Anak Allah, datang sebagai manusia. Kita harus tahu semua doktrin ini. Didalam kekristenan juga muncul banyak ajaran heterodoxy yang mesti kita waspadai dan kita kenal. Jika kita tidak kenal atau tahu maka nanti kita bisa terjebak didalamnya. Ada yang muncul yaitu Allah Tritunggal itu tidak ada dan mengajarkan pribadinya berbeda – beda. Allah yang satu itu adalah  yang Esa yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ini adalah manusia yang sedang mencari gambar dan rupanya walaupun Tuhan Yesus sudah dinyatakan.

Pada saat sudah dinyatakan, gambar dan rupa Allah itu dihidupkan manusia itu kembali lagi gambar dan rupa Allah, dipikirkan lagi dan dia cari lagi gambar dan rupa Kristus itu seperti apa, tapi sayangnya Inkomplit (belum lengkap). Memahami Yesus yang tidak komplit kita harus menunjukkan sikap kerendahan hati. Tetap saja mereka gambar dan rupa Allah itu. Ini merupakan bukan hukum relativitas yang menyatakan salah tetap salah dan benar tetaplah benar. Kita yang adlah mansuia dalam bentuk komplek tidak bisa mengatakan jika kamu tidak percaya Tuhan Yesus maka kamu tidak diselamatkan, kita tidak bisa berkata seperti itu. Kita tidak bisa mengatakan Doktrin itu relatif. Kebenaran itu tentang siapa dan seperti apa. Salah mendalami doktrin maka kita akan binasa. Yohanes 17 :3 mengenal Allah dan Kristus itulah baru mengenal hidup kekal. Jika kita salah memahami Yesus Kristus itu maka kita salah mengenal tentang Allah. Ini menyangkut kehidupan kita kelak.

Ingat nabi – nabi palsu itu sudah menyebar dimana – mana. Baik keristenan itu secara umum atau diluar nanti. Selalu ada statement atau pernyataan yang umum pada akhirnya merelatifkan semua agama itu sama. Bagaimana kita meresponi itu? Kita harus percaya pada apa yang kita yakini dan meyakini apa yang kita yakini untuk dikatakan kepada orang lain, tetapi dengan cara yang humble (ramah). Apa yang kamu percayai? Lalu, bagaimana kamu membuat satu perbedaan? Substansi berasal dari natur itu sendiri (Yoh 17:3). Bagaimana kita bisa mengenal pribadi Tuhan Yesus Kristus itu sendiri (Yoh 1:18; Yoh 17:22-23). Jika kita salah jalan, maka kita tidak sampai pada tujuan. Manusia itu hanya mereka – reka jalannya sendiri tetapi tidak tahu tujuannya. Ternyata jalan atau kehidupan itu bukan penegtahuan atau ajaran dan filsafat tetapi kehidupan pribadi Tuhan Yesus Kristus.

Ada yang mengatakan “Saya percaya pada Tuhan Yesus, tetapi saya tidak mau mengikuti Dia.” Itu bukan mengenal Kristus yang sesungguhnya. Yesus berbicara “Kamu harus makan daging dan minum darah Ku.” Doktrin adalah Pribadi Kristus yang menyelamatkan manusia. Sebab, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Sekarang, jalan kebenaran itu datang ke dunia menyebarkan kebenaran, kebenaran itulah yang harus kita ikuti. Kita harus mau mengikuti Pribadi dan Doktrin dari Tuhan Yesus. Yesus mengatakan sesuatu, berarti Dia sedang mengajar pribadiNya yang adalah jalan, kebenaran dan kehidupan. Oleh sebab itu, Kristus ini adalah pribadi yang sekaligus juga doktrin atau kabar baik. Dalam (1 Yohanes 1:1-2) jika Dia menjadi seorang pribadi, Dia juga adalah historycal (sejarah yang bisa dibuktikan) Rasul Yohanes mengatakan “Dia bisa dilihat, diraba, dan disentuh.

Kemudian pribadi ini katanya kami beritakan supaya kamu juga beroleh persekutuan dengan kami, menyatu dengan kami yaitu Dia yang jadi satu pribadi ini supaya kita bisa menyatu dengan Bapa. Tapi Dia juga tidak menjadi pribadi tetapi Para Rasul mencatat, menuliskan, yaitu doktrin jadi pribadi ini mengatakan sesuatu itulah yang diberitakan atau diajarkan. Injil itu adalah kabar baik atau biasa disebut Evangelion / Message atau pesan yang baik kenapa baik? Karena ada keselamatan, yaitu berupa pesan dan pribadiNya yang juga sama baiknya inilah yang disebut dengan Injil. Injil itulah yang memberi keselamatan. Injil itulah yang menjadi kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma 1:17). Jadi, kalau kita menerima pribadiNya, doktrin itu tidak menjadi pribadi, tetapi juga ajaran sekarang yang dituliskan salah satu contohnya Alkitab yang didalamnya tertulis dari Kejadian – Wahyu. Alkitab merupakan doktrin yang tertulis.

Pribadi itu menyelamatkan dalam bentuk Injil. Kenapa harus doktrin? Yohanes 5:29 berarti jika kita menolak Kristus, kita akan mengalami Suffering (menderita) atau Punishment (hukuman). Ajaran yang diluar Kristus itu berbahaya bagi kita. Sebab ini menentukan dimana kita nantinya apakah kita dibangkitkan untuk hidup yang kekal, atau dihukum. 1 Yohanes 1 ini doktrinnya adalah pribadi, karena bisa dirasakan, dan diraba. Jadi, pribadi itu untuk menyatu dengan Tuhan. (1 Yoh. 1 :3) Apa yang kami dengar, kami beritakan, lalu kami tuliskan, baik secara tulisan maupun lisan yang sering di sebut sebagai tradisi atau paradosis. Didalamnya ada doktrin baik lisan maupun tulisan. Lalu lisan dan tulisan ini yang disebut Doktrin itu yang mana dan untuk apa juga? Sama dengan pribadi tadi yaitu ayat 3 tadi supaya kamu memperoleh persekutuan dengan kami.

Jadi, ini menentukan the Next Life kita. Doktrin itu menentukan masa depanmu. Jadi Doktrin itu menentukan kekekalan kita, bangkit untuk dihukum atau bangkit untuk hidup didalam kehidupan kita yang akan datang. Ada istilah teknis yang perlu dipahami. Jika Orthodoxy atau ajaran yang sehat dan benar sedangkan Heterodoxy itu adalah ajaran yang menyimpang atau berbelok. Dogma adalah suatu ajaran yang tidak bisa diubah – ubah atau yang sudah ditetapkan. Tidak ada yang bisa mengubah kitab suci karena itu sudah ditetapkan. Agama lain juga memiliki dogmanya dan tidak bisa dirubah. Doktrin itu bagaimana dogma itu diajarkan. Dogma tidak bisa dirubah sedangkan Doktrin bagiamana Dogma itu diajarkan. Jadi ketika manusia sedang membaca firman Tuhan maka dia sedang berteologi. Theologi adalah refleksi kita saat membaca dogma atau doktrin.

Tradisi adalah ajaran yang diajarkan secara turun – menurun akhirnya menjadi tradisi. Para Rasul belajar dari ajarannya Kristus. Lalu ada Heresi adalah kelompok yang memilih untuk memisahkan diri dari ajaran yang lurus. Hereti artinya pengikutnya Heresi. Contohnya “Saya meninggalkan gereja atau murtad atau hidup diluar Kristus.” Apostasi saya meninggalkan gereja saya memilih berdiri diluar Kritsus. Skisem artinya perpecahan atau perpisahan.

Sejarah Kekristenan

Kekristenan awal muncul dari tradisi Yahudi, mengapa Yahudi? Karena Yahudi adalah salah satu suku dari bangsa Israel. Israel berasal dari Abraham dan Abraham adalah nenek moyang bangsa Israel. Abraham dari mana? Dari Adam dan Hawa dan Adam dan Hawa itu berasal dari Allah. Jadi, dalam tradisi Yahudi bangsa inilah yang terpilih oleh Allah untuk melahirkan Juruselamat. Dalam tradisi Yahudi atau Israel, bangsa inilah yang terpilih oleh Allah untuk melahirkan seorang Juruselamat. Lalu berkembang di abad pertama, kedua dan seterusnya tiga abad pertama itulah berdirinya tiga pusat kekristenan yaitu di Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Anthiokia dan Yerusalem. Sudah berdiri pusat kekristenan itu sampai sekarang. Patriakhnya masih ada seperti Roma yaitu Roma Katolik. Jadi, semuanya memiliki tradisi yang sama.

Sebelumnya, didalam perkembangannya pusat kekristenannya memiliki dogma yang sama dan belive yang sama tanpa ada perubahan. Tetapi mulai muncul Heresi di abad pertama dalam surat 1 Yohanes. Di abad yang keempat pada tahun 367 Alkitab dikanonkan (distandarkan) oleh St. Ethanasius the Great, yang berarti dipagukan atau dikanonkan berarti ada kitab yang tidak dimasukkan didalam kanon ini. Lalu di abad ke -11 tahun 1054 gereja yang di Roma , Yerusalem, Konstantinopel, Aleksandria memisahkan diri dari yang di Roma. Kemudian di abad ke -19 tahun 1517 munculah seorang Rahib dari katolik darti Ortoagustinian yang yaitu Martin Luther menyatakan Reformasi terhadap Gerejanya yaitu Gereja Katolik memisahkan diri katolik menjadi Gereja Protestan Reformation. Kira – kira sudah 503 Reformasi gereja itu. Reformasi gereja itu juga menimbulkan Skisme atau perpecahan tidak cuma satu tetapi puluhan ribu alirannya atau denominasi gerejanya.

Nama : Elizabeth Situmorang

Mata Kuliah : Dogmatika (Orthodoxy dan Heterodoxy)

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S.s

Sumber

“Mempelajari Kitab Kidung Agung”

Didalam kitab suci kita harus melihat apa yang tersurat dan tersirat. Kemudian kita bisa mengerti apa arti yang ditimbulkan dari teks itu. Kita harus meklakukan studi secara linguistik dan secara historis. Kitab kidung agung membicarakan bagaimana hubungan Allah dengan Gereja. Dari segi teologis hubungan manusia awalnya baik, kemudian terputus karena adanya dosa kemudian Kristus datang dan menyelamatkan manusia, sehingga hubungan manusia kembali terjalin dengan Allah. Inilah yang disampaikan oleh kitab Kidung Agung. Tujuan kita mempelajari kitab Kidung Agung adalah untuk mengetahui hubungan manusia dengan Allah. Kitab suci itu sama seperti kita manusia yang memiliki tubuh, jiwa dan roh. Sama seperti Bible (Alkitab) apa yang tersirat dan tersurat. Misalnya yang ilahi dan manusia.Kristus adalah Theantrophos artinya Dia adalah Allah dan manusia yang sejati. Krisostom mengatakan bahwa:Kristus itu adalah Theantropos maka Kitab Suci itu juga Theantrhopos yaitu tersirat dan juga tersirat. Kitab suci juga sama, Dia kelihatan dan juga tidak kelihatan sekaligus. Origen mengatakan istilah yang bagus yaitu “Teks yang kelihatan itu sama seperti tubuh kita dan teks yang tidak kelihatan itu seperti roh atau jiwa kita.” Origen membagi kitab suci dalam tiga lapisan yaitu literal sensenya kemudian sarkic. Kitab suci punya tubuh yaitu teks- teks itu sendiri. Ada juga teks yang tidak kelihatan atau biasa disebut Psychic atau moral dan Spiritual atau kerohanian.

Inilah tiga level yang harus kita pelajari dalam mengkesegese alkitab.Clement mengatakan ada 4 yaitu ditambah dengan Analogic atau Eskatological.

Jadi ada 3 lapisan makna alkitab yaitu:

  1. Historia (makna historis / literal/sejarah; sarkic )
  2. Theoria (makna spiritual; noetic;mystical)
  3. Moral (Ketaatan; physchic;good works)

Jadi, dalam mempelajari Alkitab bukan hanya lapisan luarnya saja tetapi dalamnya juga. Mari kita mempelajari kitab suci bukan hanya di level satu (Historia) tetapi juga dilevel 2,3 dan 4 juga. Kitab suci adalah firman Allah. Dalam 2 Timotius 3:15 “ Ingatlah juga bahwa engkau sudah mengenal kitab suci berarti Timotius sudah mempelajari kitab suci, yang dapat memberi hikmat kepadamu berarti memperoleh hikmat pengetahuan itu berarti sudah masuk ke level 2. dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” akhirnya Timotius ketemu dengan keselamatannya. Bukan hanya sekedar teks sejarah tetapi ditulis oleh orang – orang yang pernah hidup di dalam historis tertentu, teks itu diberikan untuk menuntun hidup mereka kepada Kristus dan keselamatan. Menurut Clement kita harus menemukan kata – kata yang mengandung keselamatan. Keselamatan artinya kamu dirubah menjadi serupa dengan Kristus, memiliki relasi yang dekat dengan Allah itulah pada akhirnya. Inilah yang harus kita sampaikan kepada orang lain lewat studi eksegesis (Studi yang dapat dipertanggungjawabkan). Lapisan pertama yaitu Historia berarti kita mempelajri literal meaningnya dan konteks historisnya. Kita harus punya satu konsep yaitu menuntun kita kepada keselamatan. Tetapi untuk mengenal kitab suci, kita harus mengenal teksnya terlebih dahulu. Pada level pertama kita hanya sekedar membaca dan bisa memahaminya. Level dua adalah level menggelisahkan jiwa kita, dimana setelah kita membaca teks kitab suci kemudian harus mendalaminya dan berpikir bagaimana dapat mengerjakannya. Roh adalah lapisan yang ketiga jadi Level tiga, semakin dibaca semakin menemukan jati dirinya. Didalam kitab suci itu terdapat serangkaian fakta ada pesan dari Allah kepada manusia lewat bahasa-bahasa manusia.

Beberapa langkah-langkah eksegesis:

  1. Teks asli, (PB: Nestle Aland edisi 28 atau Bynzantine text form edisi 25; Pl : Septuaginta (LXX) atau Ibrani Versi The Biblia Hebraica Stuttgarntensia edisi Masoretic Text of the Hebrew Bible.
  2. Syntatic Form/ Surface Structure (Struktur teks)
  3. Terjemahan Literal
  4. Syntatic Content (Isi sintaksis berupa klausa – klausa dari terjemahan literal)
  5. Konteks historis (Latar belakang sejarah penulisan)

Level Historia

Nama Kitab : Kidung Agung

ditulis oleh : Salomo

Tahun penulisan : 900 BC atau tahun 965-960 BC

Tema : “Kasih antara Suami dan Isteri”

Dalam tradisi Yahudi berarti merayakan kasih Allah kepada manusia. Tema ini merupakan satu simbolik atau alegori (Typological/Metafor) ini merupakan hubungan Kristus dan gerejanya. Jika Kristus adalah mempelai laki-laki maka gereja adalah mempelai perempuannya.

Latar belakang sejarahnya : Suatu kitab puisi yang merupakan tipikal dari kitab puisi Middle Eastern (Kitab Timur Tengah).

Kristus dan gerejannya merupakan spiritual meaning yang tersembunyi didalam gerejanya didalam teks itu. Artinya kitab suci yang kita baca, sebagai orang percaya ini adalah Foreshadowing of christ atau bayangan Kristus. Ketika Timotius mempelajari kitab Pl itu menuntun dia kepada Kristus. Pada saat membaca kitab suci yaitu 2 Korintus 3 :13-16 penghalang-penghalang kita yang menuntun kita kepada Kristus itu dibuka pada akhirnya. Spiritual meaning artinya ada Kristus dibalik teks itu. Jika PB maka itu menunjuk kepada Kristus dan gerejanya.

Level Theoria

Teoria itu adalah teks itu mengandung Spritual Vision. Ketika kita membaca teks itu mata kita itu bukan mata jasmani lagi tetapi mata rohani yang bisa menembus dibalik teks tersebut. Artinya kita bisa dinyatakan kepada Kristus didalam kesaksian kitab suci yang membuat kita bisa melihat Kristus. Bagaimana kita mempelajari kitab suci dan menemukan the hidden meaning of the text.

Alegoris itu artinya keniscayaan didalam kitab suci. Kristus saja memakai Alegoris. Mengapa Kristus memakai Alegori? Supaya gampang dimengerti. Contoh Matius 7:24-27 orang yang membangun rumah diatas batu dikatakan adalah orang yang bijaksana sedangkan orang yang membangun rumah diatas pasir adalah orang yang bodoh. Secara alegoris orang bijaksana sama dengan orang yang mendengar dan melakukan firman Tuhan. Orang bodoh sama dengan orang yang mendengar perkataan itu tetapi tidak melakukannya. Spiritual meaningnya yaitu membangun rumah berarti membangun pekerjaan atau berkarya dan  membangun hidup kita. Lalu diatas batu alegorisnya dasar dari bangunanya atau dasar dari kehidupan kita. Fondasi batu berarti Kristus 1 Kor. 3:11 “Tidak ada dasar lain yang diletakan oleh Allah yaitu Yesus Kristus” Paulus menggunakan Alegoris bisa emas, batu, jerami berarti ini sedang membicarakan tentang material yang dipakai. Lalu datang badai hujan dan banjir. Itu adalah hari penghakiman atau hari Tuhan. Berarti bisa terjadi di dunia atau didalam hidup ini ada puncaknya yaitu hari Tuhan. Jika rumahnya tidak roboh berarti dia lolos dari penghakiman itu. Kalau kita membangun rumah diatas fondasi Kristus pasti juga menghadapi badai. Jadi, Kristus itu menimpa siapa saja dan bencana itu juga bisa menimpa siapa saja. Jadi ,diunia ini ada dua jenis orang yaitu orang bodoh dan orang bijaksana.

Jika dia bisa bertahan hidup dirumahnya berarti dia lolos dari ujian atau lolos dari hari Tuhan. Apa arti dari Fondasi Kristus? Fondasi batu itu adalah Kristus sedangkan fondasi pasir berarti diluar Kristus. Fondasi Kristus berarti mendengar dan melakukan perkataan Kristus. Fondasi diluar Kristus berarti mendengar tetapi tidak melakukan perkataan Kristus. Yohanes mengenal Kristus berarti mengenal pribadinya.

Orang yang sudah Mengenal Tuhan berarti mengenal pribadi dan firmannya. Jika kamu mendengar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus orang yang siap berjaga-jaga sebelum kedatangan krisis.

Semantic content : orang bijaksana adalah orang yang membangun perkerjaannya diatas fondasi Kristus adalah orang yang sudah siap sehingga, dia selalu mengantisipasi atau berjaga- jaga di hari Tuhan.

Konsep Teologis : Orang yang bijaksana adalah orang yanbg berkaryadan membangun hidupnya diatas fondasi Kristus.

Menjadi orang bijaksana itu:

  1. Membangun fondasi Kristus yang artinya kamu mengenal dia dan mendengar firmannya. Bagaimana melakukan firmannya berarti bersinergi dengan Dia.

Ringkasan : Mengenal Dia berarti harus masuk kedalam hati.

Moral

Langkah akhir atau Aplikasinya yaitu apa yang harus kita kerjakan dengan segenap kekuatan kita untuk melakukan perbuatan – perbuatan baik. (2 Timotius 3:17).

Anagogic / Eskatologis

Lapisan terakhir berkaitan dengan kesempurnaan orang percaya menjadi serupa dengan Kristus yaitu mencapai kekudusan yang sesungguhnya (Roma8:29;).

Contoh dalam Kidung Agung 1:8 yang termasuk dalam alegorisnya yaitu jelita, wanita, jejak – jejak domba, anak – anak kambing, para gembala ini merupakan alegoris yang perlu dicari. Ini merupakan figuratif alegoris.

Tipologis Yesus Kristus adalah orang yang bijaksana. Kamu harus menjadi sama dengan Dia. Kamu harus menjalani ketaatan yang sempurna. Listening dan obedience inilah yang telah dilakukan oleh Kristus. Inilah hikmat orang yang bijaksana. Alegoris itu bisa bentuk cerita bisa bentuk figuratif tetapi pada endingnya tipological alegoris.

Nama : Elizabeth Situmorang

Mata Kuliah : Kidung Agung

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S,s

Sumber : Youtube Hendi Wijaya

Ringkasan The Spirituality of Philokalia “Wise Advice”

Spritual Philokalia ini berbicara tentang masalah hati. Di dalam hati Tuhan memberi kita yang namanya nous dan inilah yang menjadi hegemonikon atau penguasa di dalam hati kita. Penguasa ini yang ada di dalam hati kita harus kita jaga supaya dia bisa memilih sesuatu hal yang baik. Di dalam hati ada hukum daging dan roh (berasal dari kerja nous kita menerima Anugerah/belaskasihan/pengetahuan spritual yang kita peroleh waktu kita beribadah dan hal-hal rohani lainnya dan itu masuk kedalam hati kita dan menjadi hukum Allah atau hukum roh ) kedua hukum ini saling berlawanan/bertentangan. Hukum roh harus di proses untuk memperoleh logismoi dan di buahi menjadi buah buah roh. Hukum roh ini seperti benih yang di tanam di dalam hati kita dan di kelola supaya menghasilkan buah perbuatan-perbuatan baik.

Proses ini tidaklah gampang selalu ada gulma/godaan seperti perumpamaan lalang dan gandum. Tugas dari nous adalah menangkal/melawan setiap musuh yaitu hukum daging. Jika nous kalah maka hukum daging yang berkuasa menghasilkan logismoi lalu menghasilkan keinginan danging dan jika di buahi maka akan menghasilkan perbuatan daging (dosa). Nasehat-Nasehat bijaksana dari bapa philokalia langkah pertama adalah 1. Pertobatan (Repetance)/ ini merupakan langkah awal dimana kita membuka pintu hati kita dan mempersilahkan Roh kudus menyalurkan Anugrah Allah untuk masuk ke dalam hati kita untuk menguasai, menjaga dan melinndungi nous itu. Pertobatan ini dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita membuka hati kita supaya energy Ilahi bisa masuk. pertobatan ini di kerjakan setiap hari.

Pertobatan (Repetance) salah satu cara kita merawat/menjaga/melindungi benih ilahi itu (nous). St. Aisean : Untuk mengerjakan pertobatan itu berjaga-jagalah terhadap dirimu sendiri, kita tahu bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah dan jangan engkau berkata bagaimana saya bisa menjaga hati ini karena saya seorang pendosa. Ketika seseorang berkata saya tidak bisa bertobat dari dosa-dosa saya dan saya tidak bisa kembali kepada Allah. Nah, di situlah kita perlu pertobatan karena di situ di katakan kepada kita untuk bertobat maka akan melahirbarukan kita/memperbaharui hidup kita sepenuhnya. St. Efagrios : Sampai seseorang berubah itu di mulai dari pertobatan, pertobatan akan mengubah orang itu sepenuhnya, dia akan bijaksana ia akan selalu mengingat dosa-dosannya dengan satu kesedihan dengan satu air mata dan disitulah dia akan terus meminta terang Ilahi menerangi hatinya.

Dilanjutkan lagi, St. Efagrios : Pertobatan itu berarti kita selalu mengingat dosa kita dengan satu air mata (soul kesedihan). Mars Diaketik : ada dosa yang akan menghasilkan kematian jika tidak ada pertobatan. Segala dosa akan di ampuni tetapi ada satu dosa yang membawa kita pada kematian yaitu ketika kita tidak melakukan pertobatan. St. Hesekios : Setiap jam/hari kita harus memperhatikan/mengukur tindakan kita kemudian pada sore/malam hari kita mau membebaskan diri kita dari segala macam beban pikiran dengan kelelahan dunia ini dengan cara datang kepada Tuhan dengan satu cara yaitu melakukan pertobatan. Jika kita ingin Tuhan aka menolong kita dengan memberi kita satu pertolongan jika kita sungguh-sungguh meminta pertobatan kepada Dia.

Pertobatan yang di sampaikan oleh bapa gereja harus di sertai dengan skill air mata/ kesedihan yang sungguh-sungguh dan ini bisa di kerjakan setiap hari serta di barengin dengan Jesus prayer. St. Efagrios mengatakan : ketika jiwa di murnikan melalui keberjagaan intelek kita sehingga intelek ini akan meresponi hukum rohani yang kita pelajari dan akan membuat atau menghasilkan satu yang namanya kebajikan yaitu pertobatan. Air mata sangat berharga di hadapan Allah. di lanjutkan lagi, doa yang di sertai air mata pertobatan itu merupakan suatu kebajikan dari intelek kita. Jika kita rindu dari pertobatan ini maka kita menjadi asing dari dosa. Pertobatan itu harus di sertai :

  • Purification : pemurnian jiwa• berkata tidak pada dosa/ melupakan/ tidak membayang-bayangkannya di dalam pikiran kita. • melepaskan kita dari segala godaan/cobaan
  • Doa atau keberjagaan batin St. Efagrios melanjutkan lagi : janganlah kita berdoa/bertobat hanya sebagai ritual/tampilan seperti orang Farisi tetapi dengan takut dan gemetar di hadapan Allah sehingga intelek kita akan sadar betapa pentingnya prayer itu. Ketika kita melakukan doa ini berdoalah seperti biarawan mengapa? karena meninggalkan semua hal-hal yang duniawi dan fokus kepada sel doanya. Sehingga Tuhan memberi kita sayarat-sayarat bagaiman kita mengatasi dosa kita. Jika doamu penuh dengan duniawi itu tidak akan membawa apapun tetapi jika kamu berdoa fokuskanlah perhatianmu kepada ingatan-ingatan dosa dan mulailah meminta dengan rasa takut tadi untuk melakukan/jijik terhadap dosa itu dan buatlah dirimu dengan senantiasa merasa berdiri di hadapan Allah. Doa memberi kita satu kekuatan untuk melawan hawa nafsu atau memberi kita dispasien ( ketersapihan) dari hawa nafsu. Doa dan pertobatan menolong kita untuk mencapai ketersapihan. Jika kamu adalah ahli seorang theolog kamu akan berdoa dengan sungguh-sungguh dan jika kamu berdoa dengan sunggu-sungguh maka kamu adalah sorang ahli theologia. Intelek (nous) yang di berkati adalah doa tanpa henti yang di sertai kerinduan yang mendalam akan Allah dan doa itu di kerjakan dengan sungguh-sungguh dan terbebas dari hal-hal duniawi. Bapa philokali mengajarkan lagi tentang
  • Keheningan batin/ stillnes ini merupakan salah satu cara mengerjakan doa yang terus menerus tanpa terganggu. St. Talasius mengerjakan kita dalam buku philokalia volum yang kedua : keheningan dan doa adalah senjata terbesar dari kebajikan sebab doa dalam keheningan inilah yang memurnikan intelek kita dan memberikan kita pengetahuan spritual. Latiahan yang tekun yaitu pengendalian diri, kasih, kesabaran atau keheningan batin itu akan menghancurkakn doa-doa yang tersembunyi di dalam diri kita. St. Diadokos dari potikis : pengetahuan spritual yang datang melalui doa keheningan yang mendalam dan pertobatan yang sunggu-sungguh akan mendatangkan hikmat dan hikmat ini akan membuat kita meiliki strategi untuk terus bersama dnegan Anugrah Allah itu untuk menjawab segala pikiran-pikiran jahat atau logismoi yang timbul. St. Simeon the theologia : beberapa bapa gereja lain bberkata kita harus mlatih keheningan hati atau keteduhan hati, yang lain mengatakan berjaga-jaga dan lain mengatakan keberjagaan hati. Atau kita harus menjaga keberjaan (melawan ) dan lain mengatakan kita harus mengintefesigasi/ menyelidiki pikiran-pikiran laogismoi dan menjaga intelek. Semua itu saa kerjanya hanya ada di dalam hati dan harus di kerjakan. Hati merupakan tempat menerima/memberi makan oleh mana sorgawi. St. Nikita nitatos : keheninan adalah keadaan intelek yang tidak terganggu. Jiwa yang bersukacita dan teduh hati yang stabil berkonteplasi di dalam terang, memperoleh pengetahuan spritual meencapai yang namanya hikmat melalui nous yang suci, menangkap nous itu dan berbicara kepada Allah. St. Gregori dari sinai : keheningan akan menghasilkan konteplasi Nasehat Praktis doa, pertobatan dan sirenes dalam kehidupan sehari-hari yang di tulis oleh bapa-bapa philokalia :1. Salju tidak pernah bisa memadamkan api, air tidak pernah bisa mengeluarkan api, semak duri tidak pernah menghasilkan buah ara hanya saja hatimu tidak pernah bebas dari pikiran, kata-kata dan tindakan yang menindas sampai ia memurnikan dirinya secara internal, awasi hatimu selalu terus jalankan doa “ Tuhan Yesus Kristus kasihanilah aku ” jadilah rendah hati dan atur jiwa anda dalam keheningan Ada seorang biarawa bertanya kepada guru besar bapa Nestro : Apa yang saya lakukan untuk yang terbaik dalam hidup? dan ia menjawab semua perkerjaan tidak setara. Kita menyatakan bahwa Abraham ramah dan Allah menyertainya di katakan juga Elia menyukai ketenangan dan Allah menyertainya di katakan juga Daud rendah hati dan Allah menyertainya. Jadi apapun yang di temukan/dirindukan jiwamu dalam lakukanlah itu dan selalu jaga integritas. Bapa Antoni berkata : siapapun yang duduk di dalam keheningan dan dia telah lolos dalam 3 peperangan mereka yang mendengar, melihat dan berbicara maka hanya ada satu perang untuk bartarung dan itu adalah hatimu sendiri.4. Amasara pernah berkata : jika saya berdoa kepada Allah bahwa semua orang harus menyetujui perilaku saya, saya harus menenukan diri saya menyesal tanpa henti di depan pintu masing-masing manusia. Saya tidak akan menanyakan ini sampai saya berdoa bahwa hatiku murni bagi semua orang. 5. bapa Filemon : Awasi diri anda dengan hati-hati jangan biarkan diri anda terhanyut oleh oksesi eksternal gerakan jia yang kacau khususnnya dapat di buat tenang oleh keheningan nammun jika anda terus mendorong dan mengsimulasi mereka maka mereka akan meneror anda dan mengganggu seluruh hidupmu, begitu mereka memegang kendali maka begitu sulit bagimu untuk mengontrol diri 6. John climacus : tetapkanlah pikkiranmu menurut jalan hagios sukailah gaya hidup yang sederhana dan sukailah pakaian hidup yang biasa-biasa saja dan sukailah makanan-makanan sederhana dan berperilaku dengan cara yang tidak terpengaruh dan jangan berdiri seolah-olah anda penting dan berbicaralah dari hatimu. 7. John climcus Jika kita di babtis kita mengalami dua baptisan yang pertama adalah babtisan air itu tandanya bahwa kita meninggalkan manusia lama kita, menyucikan dosa-dosa kita dan yang kedua adalah baptisan air mata dimana ketika kita sudah menjadi orang kristen maka ada banyak perjuangan-perjuangan yang akan kita lawan (melawan daging). Air mata merupaka karunian dari Allah 8. Rahap orang persia : Tuhan kita menturuh kita berdoa secara rahasia dan memerintahkan kita menutup pintu dalam Mat 6:6. Pintu yang kita tutup mulut tetapi hidup kita adalah bait suci di mana Kristus tinggal seperti yang di katakan rasul kamu adalah bait Allah 1 Kor 3:16 9. Afarat orang persia : dari saat anda berdoa angkatlah hatimu keatas dan arahkanlah matamu kebawah (melihat kehidupan kita) fokuskan pada diri anda yang paling dalam dan berdoa kepada bapamu yang di sorga secara rahasia. 10. Afarat orang persia : sbelum anda berdoa pertama-tama ampuni semua orang yang telah menyinggung anda dengan demikian doamu akan naik ke hadirat Tuhan. 11. Afarat orang persia : saat anda berdoa berhati-hatilah bahwa anda berada di hadirat Tuhan mempersembahkan korban imamat bukanlah hal yang memalukan anda mempersembahkan korban yang cacat . jadi saat andda berdoa maka pertama-tama ampuni mereka yang telah menyinggung kamu. 12. Marc deaketik : seorang anak sapi mudah mengembara setelah merumput segar dan akhirnya menemukan dirinya terdampar di antara jurang yang menakutkan begitu juga dalam jiwa karena pikiran jahat lambat laut menyesatkannya 13. john of appamea : jika kita menyucikan diri dari kejahatan maka kita melihat kenyataan yang tidak terlihat. 14. Macario digrit : seorang murid harus mengingat akan Allah di dalam dirinya sebab ada tertulis engkau mengasihi Tuhan Allahmu dengan sepenuh hati Ul 6:5. Jadi letakkan Tuhan di hatimu supaya kamu selalu rindu kepada Tuhan dan melakukan apa yang Dia mau. 15. Marc deaketik : jika nous anda dapat berdoa tanpa gangguan maka hati anda akan cepat melembut dalam kerendahan hati. Pemahaman • Didalam hati kita ada hukum daging dan hukum roh • .Tugas dari nous adalah menangkal/melawan setiap musuh yaitu hukum daging. Jika nous kalah maka hukum daging yang berkuasa menghasilkan logismoi lalu menghasilkan keinginan danging dan jika di buahi maka akan menghasilkan perbuatan daging (dosa). • Nasehat-Nasehat bijaksana dari bapa philokalia langkah pertama adalah 1. Pertobatan (Repetance)/ ini merupakan langkah awal dimana kita membuka pintu hati kita dan mempersilahkan Roh kudus menyalurkan Anugrah Allah untuk masuk ke dalam hati kita untuk menguasai, menjaga dan melindungi nous itu. Pertobatan ini dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita membuka hati kita supaya energy Ilahi bisa masuk. pertobatan ini di kerjakan setiap hari. Pertobatan (Repetance) salah satu cara kita merawat/menjaga/melindungi benih ilahi itu (nous) • Pertobatan yang di sampaikan oleh bapa gereja harus di sertai dengan skill air mata/ kesedihan yang sungguh-sungguh dan ini bisa di kerjakan setiap hari serta di barengin dengan Jesus prayer. Air mata sangat berharga di hadapan Allah. Jika kita rindu dari pertobatan ini maka kita menjadi asing dari dosa. Pertobatan itu harus di sertai :
  • 1. Purification : pemurnian jiwa
  • 2. berkata tidak pada dosa/ melupakan/ tidak membayang-bayangkannya di dalam pikiran kita.
  • 3. melepaskan kita dari segala godaan/cobaan. Doa atau keberjagaan batin Jika kamu adalah ahli seorang theolog kamu akan berdoa dengan sungguh-sungguh dan jika kamu berdoa dengan sunggu-sungguh maka kamu adalah sorang ahli theologia. Intelek (nous) yang di berkati adalah doa tanpa henti yang di sertai kerinduan yang mendalam akan Allah dan doa itu di kerjakan dengan sungguh-sungguh dan terbebas dari hal-hal duniawi. 3. Keheningan batin/ stillnes ini merupakan salah satu cara mengerjakan doa yang terus menerus tanpa terganggu. Aplikasih Setiap manusia selalu melakukan yang namanya kesalahan atau perbuatan yang menghasilkan dosa. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bagi setiap kita untuk datang di hadirat Tuhan menangisi dosa-dosa kita dan mau hidup di perbaharui oleh Tuhan. Dan ditambah lagi doa puja Yesus. Dimana kita meminta blaskasihan Tuhan. Pertobatan di sini bukan hanya sebagai lambang atau tampilan tetapi harus di kerjakan dengan sungguh-sungguh dengan airmata. Pertobatan ini dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita membuka hati kita supaya energy Ilahi bisa masuk.

Aplikasi yang saya dapatkan dari pembahasan ini adalah mari kita belajar untuk tetap berjaga – jaga dan meimnta belas kasihan dari Tuhan Yesus serta bertobat dari segala dosa yang kita lakukan.

Sumber :

Nama : Elizabeth Situmorang

Mata Kuliah : The Spirituality of Desert Fathers

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S, s

Ringkasan The Spirituality Of Philokalia Pengajaran VI : Energeia

Doa Jesus prayer adalah usaha kita yang kini kita kerjakan secara terus menerus untuk meminta Anugerah Allah/Rahmat Allah. Seperti yang di katakan Rasul Paulus kepada gereja di Korintus dia berkata aku menanam, apolos menyiram tetapi Allah yang memberi pertumbuhan dan disini ada satu wujud sinergy yang sangat jelas. Dalam istilah Theologi kita belajar tentang Allah di situ ada Esensi dan Sinergy ini adalah dua kutub hubungan Allah dengan manusia :

1. Hal-hal yang misteri yang tidak bisa kita tau/ yang tersembunnyi ( Esensi)

2. Energi Allah/Karya Allah/Ciptaan Allah/Tindakan Allah/Kuasa Allah (Energy)Energy Allah pada puncaknya adalah Inkarnasi.

Jika setiap orang tidak mengenal Yesus Kristus maka tidak ada seorangpun yang mengenal Allah itu St. Basil mengatakan kita tahu esensi Allah melalui Energinya. Dan di perjelas lagi dalam Yohanes di mana kita mengenal Allah melalui Yesus Kristus. Basil melanjutkan tidak ada seorangpun melihat Allah tapi kita mengalami esensi itu. Jika seseorang secara pibadi berjumpa dengan Yesus Kristus maka dia dengan sendirinya percaya pada Energy Allah itu. Melalui Esensinya Allah itu mistery tetapi melalui Energynya Dia itu dekat dengan kita. Energy ini di pakai oleh St. Gregory palamas atau bapa-bapa gereja yang lain dimana Allah yang menyatakan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus. Allah itu tidak bisa di potong-potong/di bagi-bagi dan energynya menunjukan siapa Allah itu.

Apa yang di ajarkan bapa-bapa gereja di situ ada satu istilah Theosis/pengilahian kita tidak bisa menjadi Allah tetapi kita menyatu dengan Allah. Theosis ini satu sisi kita tetap jadi manusia bukan menjadi Allah tetapi karena ada EnergyNya makanya kita bisa menyatu dengan Dia. Anugerah Allah itu apa? Energy Allah yang di nyatakan kepada kita. Allah yang misteri dinyatakan oleh Yesus Kristus dan di curahkan oleh Roh kudus. Yang di curahkan oleh Roh kudus adalah energy Allah Yang menyelamatkan kita. Rasul Yohanes mengatakan Allah, Yesus Kristus dan Roh kudus berada di dalam hati kita karena Energy Allah itu bukan sesuatu yang di luar dari diri Allah Dalam Fil 2:13 di situ di katakan sebab Allah adalah sang pemberi Energy ke dalam diri kita pada kehendak atau kemauan dan juga energy demi kesenangannya.

Di situ ada kata Yunanninya energon/energy. Ayat ini ada hubungannya dengan spritual kita seperti ketika kita berdoa, bernyanyi di situ bukan usaha kita saja tetapi ada Allah yang berkerja di dalam kehendak dan kemauan kita. Mengapa? karena Allah itu yang memberikan Energynya. Disini ada dua poin

1. Bahwa Allah sang pemberi energy kedalam diri kita untuk mengerjakan keselamatan kita dalam Fil 2:13 ini konteksnya ada Allah sang pemberi energy/Allah yang mencurahkan diriNya dalam bentuk energyNya bukan esensiNya. Efe. 1:11 ada Allah yang berkerja di dalam segala sesuatu yang Dia ciptakan, Ef .1: 2 Energy ini yang membangkitkan Kristus. Enery Allah di berikan supaya manusia bisa mengerjakan keselamatanyya sendiri dalam Fil 2:12. Keselamatan itu ada ketika benih iman kita menyatu dengan benih Allah (di kawinkan). Benih Allah itu apa? pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sehingga kita di lahirkan dari Allah menjadi anak-anak Allah Rom 7:4. Anak secara jasmani penyatuan antara benih laki-laki dengan benih perempuan sehingga lahirlah kita manusia.

Sedangkan secara spritual sama ada penyatuan dua benih : benih Allah dan benih iman kita. 1 Yoh 3:1 dan 9 di sini jelas rasul Yohanes menuliskan kita lahir dari Allah artinya ada penyatuan benih kita dengan benih Allah. Jika kita anak-anak Allah maka kita mewarisi genetik atau DNA-Nya Allah di dalam hati kita. Rom 5:5 Roh kudus yang mencurahkan Anugerah itu ke dalam hati kita. Dan sekarang kita memiliki benih Ilahi. Benih Ilahi ini suatu kekuatan dinamis untuk mengalahkan dosa 1 Yoh 3:9 dan Rasul Paulus berkata dalam Fil 2:12 kerjakan keselamatan itu/benih Ilahi itu supaya benih Ilahi itu tumbuh menghasilkan buah keselamatan mengalahkan dosa dan menyucikan diri kita sampai kita segambar dan serupa dengan Kristus. Mengerjakan keselamatan itu dengan meneladani Kristus.

Doa puja Yesus mengingatkan kita untuk mengerjakan keselamatan kita bahwa kita sudah punya benih Ilahi. Dibalik energy Allah ternyata ada juga energi iblis yang berkerja dalam Efe. 2:2; Rom 7:5 di angkasa lalu energy itu berkerja di dalam hawa nafsu manusia dan akhirnya akan mendatangkan dosa yaitu buah kematian. 2 Tes 2:7 Rasul Paulus mengingatkan kita kedurhhakaan telah sedang berkerja artinya : pada jaman akhir ini kekuatan iblis ini memang sedang berkerja. Energi iblis hanya dapat di kalahkan oleh energy Allah. 2 Ko 4:12 di sini ada peperangan antara energi Allah dan energy maut (iblis). Energy Allah mengalir sesuai kehendak dan untuk kesenangan-Nya. Energy itu seperti minyak dalam bahan bakar supaya terang tetap panas dan seperti unduk ayam mengerami telurnya untuk memberi kepanasan/kehangatan sama seperti kerohanian kita di mana kita perlu di beri panas/energy itu supaya cangkang hati kita menetas untuk bertumbuh mengalahkan dosa dan hidup di dalam Allah.

Energy ini berkerja pertama kalinya pada kahendak kita dan dari kehendak kita inilah yang menentukan mau atau tidak kita di ubah oleh Tuhan. Walaupun kita tahu banyak hal tetapi tidak ingin di ubah maka tidak ada gunanya. Kehendak kita perlu di Charge oleh Energy Allah melalui doa puja Yesus. Ketika kita berkata saya mau hidup kudus di dalam Tuhan, mau melakukan doa puja Yesus atau mau beribadaah kepada Tuhan dan kemauan kita itu sudah bukan usaha kita lagi Fil 2:13 Allahlah yang berkerja. 1 Kor 15:10 rasul Paulus berkata aku ada sebagai mana aku ada, aku berkerja keras untuk mengerjakan keselamatanku tetapi bukan aku melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Kehendak bebas itu bagaikan sumbu. Seperti yang di katakan St. Macarius : kita menerima Anugerah melalui keselamatan tetapi untuk mencapai kepenuhan dari keselamatan itu kita butuh iman dan kasih St. Maximus berkata : manusia memiliki dua sains yaitu kehendak bebas dan Anugerah Allah.

Jika kehendak bebas kita seturut dengan Anugerah Allah maka maka ini merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk mengerjakan keselamatan dalam wujud satu ketaatan. Kesimpulan : Allah yang adalah satu sisi misteri tetapi di sisi lain Dia memberikan diriNya/menyatakan diriNya melalui Yesus kristus dan di curahkan oleh Roh kudus. Ini harus kita responi sehingga kita memperoleh benih Ilahi itu. Setelah kita meperoleh Benih Ilahi maka kita harus mengerjakan untuk menghasilkan buah Roh kata rasul Paulus agar semakin dewasa di dalam Kristus. Pemahaman

• Doa Jesus prayer adalah usaha kita yang kini kita kerjakan secara terus menerus untuk meminta Anugerah Allah/Rahmat Allah. Seperti yang di katakan Rasul Paulus kepada gereja di Korintus dia berkata aku menanam, Apolos menyiram tetapi Allah yang memberi pertumbuhan dan disini ada satu wujud sinergy yang sangat jelas. Dalam istilah Theologi kalau kita belajar tentang Allah di situ ada Esensi dan sinergy ini adalah dua kutub hubungan Allah dengan manusia yang pertama :

1. Hal-hal yang misteri yang tidak bisa kita tau/ yang tersembunnyi ( Esensi)

2. Energi Allah/Karya Allah/Ciptaan Allah/Tindakan Allah/Kuasa Allah (Energy)Energy Allah pada puncaknya adalah Inkarnasi. Jika setiap orang tidak mengenal Yesus Kristus maka tidak ada seorangpun yang mengenal Allah itu

• Allah yang adalah satu sisi misteri tetapi di sisi lain Dia memberikan diriNya/menyatakan diriNya melalui Yesus kristus dan di curahkan oleh Roh kudus. Dan ini harus kita responi sehingga kita memperoleh benih Ilahi itu.

• Setelah kita memperoleh Benih Ilahi maka kita harus mengerjakan untuk menghasilkan buah Roh kata rasul Paulus agar semakin dewasa di dalam Kristus. Aplikasi Setelah saya menerima Yesus Kristus sebagai juruslamat, maka dalam melewati setiap hari merupakan hal yang sangat istimewah kerena ada Tuhan yang memegang tangan saya dan tidak membuat saya terjatuh, saya memiliki energy Ilahi yang di curahkan oleh Roh kudus sehingga saya mampu berdiri dan bertahan hingga saat ini.

Sumber :

Nama : Elizabeth Situmorang

Mata Kuliah : Spiritualitas Philokalia

Dosen : Hendi Wijaya S,s

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai