Ringkasan Spirituality of Philokalia Pengajaran IV: Menjaga Nous, Kontra Bicara dan berkata Tidak

  • Menjaga Nous

Bapa philokalia bernama St. Aisea sisoiteri menulis 27 cara untuk menjaga nous semuanya tidak di kupas, tetapi ada beberapa poin yang di bagikan untuk kita semua. Dia berkata begini di antara nafsu, ada nafsu kemarahan dari nous atau mata batin kita. Kemarahan sesuai dengan natur kita tanpa amarah seseorang tidak dapat memperoleh kemurnian, dia harus merasa marah atas semua yang di taburkan di dalam dirinya oleh musuh. Di lanjutkan tentang hati nurani : “Mari kita berdiri teguh dengan takut akan Allah dengan keras mempraktekan kebajikan dan tidak memberikan hati nurani kita yang menyebabkan itu tersandung dalam takut akan Allah biarkan kita menjaga perhatian kita tetap dalam diri kita sampai hati nurani kita mencapai kebebasannya kemudian akan ada persatuan antara hati nurani dan kita, dan kelak itu akan menjadi wali kita, menunjukan kepada kita setiap hal yang harus kita cabut.”

Tapi jika kita tidak menuruti hati nurani kita itu akan meninggalkan kita dan kita jatuh ke tangan musuh yang tidak akan membiarkan kita lepas. inilah yang Tuhan ajarkan kepada kita ketika Dia berkata: Segeralah engkau berdamai dengna lawanmu sementara dia ada di dekat jalan supaya lawanmu itu jangan meneyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dna engkau akan di lemparkan ke dalam penjara Mat 5:25. Ada seorang penatua yang melayani penderitaan kusta di India bernama Gabriella dia berkata : Logismoi itu seperti lalat yang memasuki ruangan kosong, jika tidak ada yang bisa mereka makan di ruangan kosong tersebut maka tidak ada yang bisa menarik maka lalat itu akan pergi.

St. Simeon theolog baru menganggap bahwa menjaga hati terhadap logismoi penting untuk menumbuhakan hubungan kita dengan Kristus. Dia menulis : jika kita tidak menjaga nous kita maka kita tidak mencapai kemurnian hati sehingga di anggap layak untuk melihat Allah. Tanpa pengawasan seperti itu maaka kita tidak akan miskin di dalam roh/berduka/lapar/haus akan kebenaran/ benar-benar berbelas kasih/murni hatinya/membawa damai/dianiaya demi keadilan Mat 5:3-10. Dia melanjutkan : Nous menjaga hati ketika berdoa  ia harus selalu berpatroli kedalam hati karena perintah Tuhan kita untuk membesihkan bagian dalam cawan sehingga bagian luar juga menjadi bersih. Meninggalkan semua kerja bentuk spritual lainnya dan berkonsetrasi sepenuhnya pada satu tugas yakni menjaga hati ini dengan demikian melalui praktek ini mereka akan juga memiliki setiap kebajikan lainnnya.

Jadi orang bisa menjaga hatinya maka kebajikan-kebajikan lainnya akan mengikuti sedangkan tanpa berjaga-jaga maka tidak ada kebajikan lain yang kuat. Tanpa berjaga-jaga tidak ada kemurnian hati, tampaknya kita tidak bisa melihat Allah. Bagi seseorang yang menginginkan kelahiran kembali secara rohani langkah pertama menunju cahaya/terang adalah menjaga hati karena tanpa itu nafsu akan selalu menguasai dirinya. St. Yohanes the leader dia menawarkan cara untuk menjaga hati : tutp puntu lidah kita untuk berbicara dan gerbang batin anda kepada roh-roh jahat.

Gregori Palamas : jika kita meneliti pikiran-pikiran kita setiap hari dengan menjaga hati, Allah tidak perlu memeriksa kita ketika kita muncul di hadapannya dan jangan biarkan bagian tubuh/jiwa kita terbuka. Dengan cara ini kita akan menguasai roh-roh jahat yang menguasai/ menyerang diri kita dan kita akan berani mendekatkan diri kita kepada-Nya yang berhak memeriksa hati dan pikiran Mz 7:29. St. theodoros the greek asketik : pentingnya berpegang teguh kepada Tuhan dalam berdoa ketika kita menjaga hati Luk 15:5 dia berkata : mustahil berbicara dengan berbagai jerat yang mereka buat di dalam spritual memanfaatkan indera, pikiran, dan nous pada kenyataannya segala sesuatu yang ada jika ia yang membawa domba terhilang di pundaknya tidak dalam perawatannya yang tak terbatas melindungi mereka yang berbalik kepadanya. Tidak ada satu jiwapun yang akan melarikan diri.

Ada tiga hal yang harus di lakukan kata Theodoris

  1. Memandang kepada Allah dengan segenap jiwa kita untuk meminta bantuan dari pada-Nya
  2. Memanggil Dia melalui doa puja Yesus “jesus prayer”
  3. Meminta blaskasihan-Nya secara terus menerus tanpa berhanti.

St. Talasius menjelaskan empat langkah yang akan mengangkat nous kita kepada Allah.

  1. Keheningan
  2. Doa
  3. Kasih
  4. Pengendalian diri

St. Maximus merenungkan cara-cara pikiran yang di ijinkan masuk ke dalam nous dan mau tidak mau menyebankan tubuh jatuh ke dalam dosa. Dan ketika kita melihat nous kita di penuhi dengan dosa dan kita tidak mau memeriksanya maka mungkin tubuh kita tidak lama lagi akan masuk kedalam dosa. Maximus mengutip jagalah hatimu dalam segala kewaspadaan karena di situ terpancar/mengalir kehidupan Ams 4:23. St. filter dari Damascus tanpa perhatian dan kewaspadaan nous kita tidak bisa di lepaskan dan di selamatan dari iblis yang berjalan di sekitar kita, dia seperti singa yang mengaum mencari mangsa yang ia telan 1 Petrus 5:8.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya berjaga-jagalah dan berdoalah agar kamu tidak masuk dalam pencobaan roh memang penurut tetapi daging lemah Mat 26:41. Filotheos mendesak kita untuk memusatkan nous kita yang terpencar-pencar melalui pikiran akan kematian dan mengingat akan mana Yesus. Hajar jiwamu dengan pikiran maut dan melalui ingatan akan Yesus kristus (fokuskan nousmu yang terpencar). Efagryos : menunjukan hasil yang di berkati dan menjaga pikiran dan hati dalam ketenangan batin itu adalah dengan berdiri berjaga-jaga dan lindungi nous kita dari logismoi saat kita berdoa, kemudian nous kita akan menyelesaikan doannya dan melanjutkannya dalam keheningan (ketenangan yang alami baginya). Kewaspadaan dan itu akan mengembalikan ketenangan batin.

Rasul Paulus menggambarkan pertempuran batin setiap orang  kristen adalah untuk melawan logismoi. Ef 6:20-26 rasul Paulus menyuruh kita memakai perlengkapan senjata Allah. Senjata Allah yang paling efektif adalah doa puja Yesus “Jesus prayer”. Pentingnya kita menjaga indera kita seperti memotong pikiran yang masuk dengan mengalihkan pikiran kita kepada Allah (Yesus Kristus). Maka itu mengurangi kekuatan si jahat dan mengusirnya dari nous kita.

  • Kontra Bicara

Kita perlu berkata kembali pada logismoi kita dan hal ini sama seperti waktu Yesus di cobai oleh iblis. Melalui kontra bicara kita menutup mulut dengan setan/iblis dan membuka pintu terhadap suara Allah. Bapa philokalia berkata : ketika seseorang tinggal dalam sel doanya (sering di sebut ruang doa yang kecil). Suatu saat ada seorang yang mengujunginnya malam itu dan berkata : bagaimana saya bisa di selamatkan? Lalu, Bapa philokalia berkata masuklah dalam sel doamu dan ia akan mengajari kamu segala sesuatu. Ibu padang gurun bernama Silentika ia berasal dari mesir yang hidup pada tahun 390-470 ia menawarkan contoh antiresis : ketika iblis menggoda kita untuk menjadi sombong ia menyembunyikan dosa-dosa kita dari kita, tetapi ketika ia menggoda kita kehilangan harapan dia menyebutkan dosa-dosa kita di hadapan kita dan menyarankan karena kamu telah melakukan semua dosa ini pengampunan apa yang akan ada? jawabnya tidak ada.

 Kepada yang lain ia berkata : karena kamu begitu rakus bagaimana kamu bisa di selamatkan. Bagaimana kita menanggapi keputusan iblis yang menyedihkan seperti itu. Silentika menjawab : jiwa-jiwa yang telah terguncang harus di simpul dengan cara berikut : Rahab adalah pelacur tetapi dia di selamatkan melalui iman. Paulus adalah seorang penganiaya tetapi dia menjadi instrumen yang di pilih. Matius adalah penangih/pemungut pajak tetapi tidak ada yang tau tentang Anugerah yang di berikan kepadanya. pencuri itu dan pembunuh tetapi ia adalah seorang pertama yang membuka pintu sorga. Itulah sebabnya kamu jangan menyerah untuk jiwamu sendiri.

  • Berkata Tidak

Pada abad ke -5 ada seorang pertapa yang menceritakan cerita yang sangat menarik : Ada seorang penatua yang di kunjungi oleh seorang pemuda, dan pemuda itu berkata mengapa di dalam pikiran saya selalu ada hal-hal yang buruk yang muncul di dalam benak saya. Dan hal itu sering kali membawa saya dalam masalah. Kemudian penatua ini menyuruh pemuda itu berdiri ke arah angin dan mendorong dia dengan dada mu tetapi pemuda itu berkata bahwa ia tidak bisa melakukannya. Akhirnya penatua ini menjawab sama halnya dengan pikiran-pikiran buruk dalam benakmu sehingga kamu tidak bisa mencegah hal itu terjadi. Karena pikiran-pikiran itu muncul dan sekarang tugas kamu adalah berkata tidak.

Pikiran jahat ini akan menggoda/mendorong kita untuk membuat kita jatuh. Ketika Logismoi datang dengan mengetuk pintu hati kita dengan tegas berkata tidak. seseorang tidak akan nyaman tinggal di rumah jika tuan rumah itu tidak menginginkannya begitu juga dengan pikiran-pikiran jahat ia tidak akan masuk ke dalam pikiran kita kalau kita tegas menolaknya untuk masuk. Pikiran-pikiran datangnya dari otak dan masuk ke perut. Perut kita di rancang Tuhan untuk mengeluarkan hal-hal yang buruk seperti muntah. Ketika pikiran-pikiran mulai muncul ada satu kata yang paling penting dari seribu kata : “ Tidak”

Fransiscus Alexandrer ia menggambarkan : penolakan kita terhadap iblis di awali dengan penolakan dan tantangan. Menurut phitagoras kata Ya dan Tidak adalah kata yang pendek yang membutuhkan pemikiran. Untuk bertumbuh dan menjadi dewasa di dalam Kristus adalah dengan berani dan tegas berkata Tidak kepada iblis dan berkata Ya kepada Tuhan

Ringkasan :

Cara menjaga nous/hati kita dari pikiran-pikiran jahat (logismoi)

  1. Kita punya lawan bicara.
  2. Punya kemarahan terhadap yang namanya dosa/ pikiran-pikiran jahat (logismoi) yang muncul.
  3. Mengatasi pikiran-pikiran jahat (logismoi) di mulai dari hati nurani. Jika hati nurani kita sudah mulai menuduh bahwa ini adalah hal yang salah maka itu harus cepat-cepat di matikan kata St. Aisea. Pikiran-pikiran jahat (logismoi) ini seperti benih jika di biarkan maka akan tumbuh menjadi rumput liar yang menggerogoti hati dan jiwa kita. Hati bagaikan ladang yang subur dan di situ akan muncul berbagai macam benih. Tuhan Yesus pernah menceritakan gandum dan lalang di satu ladang yang sama. Jadi perlu kita sadari di dalam hati ada pertempuran batin antara gandum dan ilalang antara hukum Allah dengan hukum daging.

Ringkasan The Spisituality of Desert fathers (Part III)

“Hambatan Silents”

Ketika kita melakukan silents, humility dan attempt the salvation ditengah – tengah itu pasti selalu ada hambatan. Ada beberapa hal yang perlu kita pikirkan baik di dalam sel atau hati yang dinamakan Logismoi atau pikiran jahat. Logismoi menjadi benih dari timbulnya hawa nafsu. Logismos adalah sebuah pikiran yang dihasilkan dari jiwa dan roh kita. Jadi, ini bukan timbul dari pikiran – pikiran atau kerja otak, tetapi pikiran yang timbul dari kerja batin atau hati kita. Manusia terdiri dari jasmaniah dan batiniah.

Didalam batin ada perangkat yang disebut Nous. Jika di tubuh kita, otak menjadi chip atau pengendali tubuh kita. Nous menjadi otak dari tubuh dan hati kita. Nous inilah yang mengendalikan seluruh perangkat jiwa atau batin manusia. Perangkat jiwa inilah yang memiliki berbagai macam fakulti sehingga manusia memiliki perasaan, emosi, berpikir, beragumen, berlogika, dan memiliki keinginan yang pada akhirnya disalurkan kepada tubuh kita yaitu melalui mata, tubuh, perut dan organ kelamin. Ini merupakan kinerja dari keinginan yang muncul. Jika Nous dalam kondisi yang baik maka akan menimbulkan suatu logismoi yang baik.

Tetapi, ketika Nous itu tergoda oleh yang Perasmos (Godaan), maka akan berdialog dengan Nous dan jika Nous itu kalah, maka perasmos tadi yang muncul dari mata melihat sesuatu yang tidak baik, timbul sebuah perasmos yang akan masuk dan menyerang ke dalam otak dan nous kita. Maka terjadiah sebuah peperangan. Jika Nous kita kalah, maka perasmos itu akan masuk menyerang hati kita. Jadi, ketika hati kita dikuasai godaan dari iblis atau stimulus yang masuk melalui panca indera kita, maka hati kita ini akan dikuasai oleh segala macam nafsu. Dari sinilah timbul Logismoi atau Dialogismoi sehingga dari hati yang dikuasai iblis timbul segala pikiran jahat (DIALOGISMOI) baca Markus 7:21; Matius 15:19.

Dialogismoi ini merupakan bagian dari Nous. Pikiran yang jahat akan menimbulkan sebuah keinginan atau nafsu (Lust; Passion; EPHITUMIA) yang jahat dan jika keinginan itu dibuahi maka akan melahirkan dosa (Yak. 1:14-15) artinya jika keinginan itu dilakukan oleh kita yang sadar maka, akan melahirkan dosa. Dialogismoi juga merupakan sebuah kinerja Nous yang sudah tercemar. Lalu logismoi seperti apa yang diserang oleh Bapa Padang Gurun (Desert Fathers)? Ada dua faktor yang ditekankan oleh para Bapa Desert Fathers.

  • Pertama Akedeya seperti pikiran – pikiran depresi, tidak punya pengharapan, pikiran negatif, dan kekuatiran yang berlebihan.
  • Kedua Pornea pikiran nafsu atau sex. Ini merupakan pikiran yang timbul dari luar yaitu dari panca indera.

Logismoi muncul dari hati, posisinya Nous sudah dikuasai oleh Perasmos sehingga menghasilkan logismoi. Logismoi inilah yang menjadi benih timbulnya hawa nafsu atau disebut EPHITUMIA. Ketika hawa nafsu itu dibuahi dengan kehendak kita maka akan melahirkan dosa. Tetapi ketika masih berwujud logismoi. Sebenarnya, kita bisa mencegahnya dengan kehendak bebas yang kita miliki. Tetapi, ketika kita melakukannya dengan kesadaran kita maka itulah yang akan melahirkan suatu dosa. Nous merupakan benteng pertahanan dari hati (KARDIA) kita supaya kita tidak dikuasai oleh Perasmos. Nous diibaratkan seperti jenderal perang kita. Nous, kardia, serta berjaga-jaga merupakan benteng dari pertahanan Nous kita. Jadi sel, silent, dan hesychasm merupakan benteng dari pertahanan hati kita.

Ada beberapa cara untuk menjaga hati kita dari serangan iblis antara lain:

  1. Berdoa, khususnya “Doa Puja Yesus”
  2. Mengingat akan nama Yesus
  3. Mengingat akan pengorbanan / gairah Tuhan
  4. Mengingat akan kematian
  5. Mengingat penghakiman akhir
  6. Berjaga – jaga
  7. Berusaha untuk melaparkan hawa nafsu
  8. Askesis atau melawan Pornea dan Akedeya yang timbul dll

Jadi, ketika para bapa padang gurun sudah mencapai silent mereka tidak pasif, tetapi menjadi aktif untuk melwan serangan dari iblis. Ketika Bapa padang gurun sudah mencapai silents dan menjadi repost atau menyingkir dari kehidupan dunia, itulah yang disebut keselamatan segera (Immediate Salvation).

Anthony pernah berkata bahwa : “Tidak seorang pun tidak dicobai, ketika dia akan masuk dalam kerajaan surga. Hanya saja bagaimana kita menyingkirkan Temptation (Godaan), sehingga kita dapat diselamatkan. Evagrius juga mengatakan bahwa : “Ketika kita bisa menyingkirkan godaan maka kita bisa diselamatkan. Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan apabila dia tidak bisa mengalahkan perasmos itu.” Inilah yang dikerjakan oleh Bapa-bapa padang gurun. Bagian yang penting dalam logismoi yaitu Porneia. Jadi, Porneia adalah sesuatu yang dialami oleh  desert didalam sel mereka.

Mereka biasanya memiliki Akedeya yang liar tentang sexual atau erotis. Kita harus mengalami sebuah pertobatan (Repentance). Logismoi timbul dari kemalasan. Kita bisa mengalami itu karena kita tidak waspada. Perkataan dari 464 dari NN (No Name) “Kita bisa merasakan manisnya Allah ketika kita menikmati pahitnya dunia.” Inilah yang harus dikerjakan selama hidup kita yaitu melawan segala kenikmatan dunia sehingga kita dapat merasakan manisnya kasih Allah. Kita harus menyadari kita memiliki Nous yang selalu Silents agar tidak diserang oleh porneia maka kita harus masuk ke dalam Sel sehingga dapat Repost. Tidak ada yang masuk kedalam kerajaan surga jika belum di godai atau dicobai.

Akedeya ini merupakan satu pikiran,dimana seseorang itu Restless atau tidak bisa fokus, memikirkan hal – hal yang liar, sampai akhinya mengalami depresi. Mereka yang tinggal di gurun, menghadapi 3 perjuangan yaitu

  • Hearing(Mendengar),
  • Speaking (Berbicara) dan
  • Seeing (Melihat).

Ada godaan lagi bernama Akedeia (Accidie) yaitu pikiran yang hampa atau tidak punya gairah hidup ini dapat diatasi dengan menenangkan hati supaya dapat mengontrol hati. Anthony juga pernah mengalami hal seperti itu. Dia bertapa dan juga melakukan latihan rohani atau askesis tetapi, dia merasa apa yang dikerjakannya itu sia – sia. Dia juga menghadapi yang namanya Akedeya. Dorothy menjelaskan bahwa, “Akedeya ini suatu pikiran atau dosa yang tidak punya tujuan, tidak bisa menikmati apapun, tidak peduli apapun, tidak memiliki gairah, tidak memiliki kehidupan yang pasti mau kemana, dia hanya sekedar hidup atau ada. itulahyang terjadi pada dirinya sehingga pikirannya menjadi jahat. Dia mendapat serangan dari Logismoi atau pikiran jahat.” Bapa Makarius mengatakan : “Ketika saya muda, saya juga mengalami suatu akedeya.”  Bapa Philokalia mengajarkan, ketika kita mengerjakan segala sesuatu dengan hati. Hati inilah yang bisa mengatasi Akedeya ini.

Akedeya ini suatu logismoi yang kita atasi dengan cara berdoa yakni “Doa Puja Yesus”, memiliki kerendahan hati, dan meminta belas kasihan dari Allah. Kita bisa bertarung didalam sel kita. Intinya, kita tetap berada didalam sel. Bagaimana cara mengatasi akedeya itu? Seorang Bapa Desert Fathers yaitu Moses berkata: “Tetaplah didalam sel mu, itulah yang mengajari mu tentang segala sesuatu.” Ibu Theodora mengatakan, “Akedia ini merupakan suatu pikiran jahat yang melemahkan tubuh kita.” Ketika kita mau mencoba sel yang serius dihadapan Allah. Anonymous Advice mengatakan : “Kita semua pasti mengalami Accedia, tetapi kita tidak boleh menyerah, kita harus bertarung di dalam nous. Allah akan memampukan kita dengan kerendahan hati kita dan carilah pertolongannya. Tuhan itu tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan kita.” Marilah kita menerapkan Berdoa atau Hesychasm, Silents. Mintalah kasih karunia Tuhan secara terus menerus. Tetaplah didalam sel, dan mari membangun sel doa kita.

Pengajaran III: Hati & Logismoi

Amsal berkata : seperti apa nousmu/seperti apa hatimu itulah yang mencerminkan hatimu. Jadi ketika kita ingin tau siapa diri kita cukup lihat bagaimana kondisi hati kita (nous). Nicodemus dari gunung athos menyeburkan philokalia itu merupakan satu perbendaharaan waspada, seperti pemeliharaan nous atau sekolah doa atau hati, satu tulisan yang sangat dalam ( menyelami tentang hati kita). Kalistos Ware Penerjemah teks philokalia dalam bahasa aslinya bahasa yunani di terjemahkan ke dalam bahasa ingris. Dia seorang uskup di ingris, seorang orthodox lalu ia menerterjemahkan buku ini dalam 5 folum namun Dia menawarkan sebuah defenisi tentang nous. Nous ini adalah kata yang sangat sulit di terjemahkan. Jika anda mengatakan Nous itu pikiran maka itu adalah terjemahan yang sagat kabur.

Dalam terjemahan yang di gunakan oleh Ware ini ragu bagaimana menggunakan kata nous ini yang diterjemahkan. Sehingga ia memilih kata intelek. Nous di praktekan melalui berdoa, ibadah dan lain sebagainya dan ini merupakan satu latihan untuk memupuk nous. Nous satu spritual yang memungkinkan kita mengenali kebenaran. Nous ini di kembangkan melalui doa, puasa, ibadah dan melalui praktis lainnya karena nous ini sesuatu yang lebih tinggi dari otak yang berpikir dan lebih dalam dari emosi begitu kata Kalistos Ware.

Nous sesuatu peristiwa yang memungkinkan kita mengenal suatu kebenaran. Karena nous dari manusai telah jatuh ke dalam dosa seperti adam dan hawa nous itu cenderung berubah menjadi menyembah berhala melakukan kejahatan yang tak terkendali dengan begitu secara fisik nous manusia jauh dari kemuliaan Tuhan. Sehingga nous itu menjadi seperti iblis atus jahat seperti yang katakan Rasul Paulus ada hukum daging dan hukum roh. Jika nous kita di kuasai oleh nafsu maka kita picik dan egoisme seperti yg di katakan Yesus kita menjadi manusia gelap. Nous sebagai egemonikon (penguasa/pemimpin/raja) dalam hidup kita. Melalui Anugrah dan spritual rohani kita memunyai satu kesempatan untuk melawan epitumua(nafsu).

Bapa Philokalia Hesekios mengatakan nous sama seperti kepemimpinan musa, musa di anggan sebagai sang pemberi hukum dalam PL dan musa itu di ikonkan seperti nous. Dalam kel 3:2 :14-17 di katakan ketika musa melihat Allah dari semak yang terbakar wajahnya bersinar dengan kemuliaan. Musa memiliki kekuatan ilahi untuk melawan firaun, yang mengguliti seorang mesir dengan pisaunya, yang memimpin Israel keluar dari perbudakan dan memberikan hukum taurat. Egemonikon beberapa bapa gereja mengangap seperti nousnya Kristus yang kita terima ketika kita mengenakan Kristus dalam baptisan.

Nous fakulti tertinggi dalam jiwa/roh manusia yang melaluinya jika nous kita di sucikan akan mengenal Tuhan tidak seperti pikiran manusia, tetapi nous ini yang konek dengan sang Ilahi. Nous ini aspek terdalam dari hati, nous adalah organ konteplasi dari mata hati begitu kata Makarius. 

Bapa-bapa gereja yang lain berkata : St. Antonius Agung dia adalah bapa seorang pendiri biara di abad yang ke 3 dan 4. Antonius Agung memberitahukan kepada kita bahwa tidak semua orang mempuyai nous Tuhan telah menetapkan bahwa jiwa harus di penuhi dengan nous pada saat tubuh tumbuh sehingga manusia dapat membedakan/memilih mana yang baik/jahat sesuai  kehendak Tuhan. Jiwa yang memilih tidak baik tidak memiliki nous karenanya semua tubuh memiliki jiwa tetapi tidak setiap jiwa memiliki nous. Nous yang menikmati cinta Tuhan akan hadir dalam diri yang di kontrol yang suci, yang murni, yang baik dan berbelah kasih juga saleh. Kehadiran nous membantu manusia menunju kepada Tuhan.

Antonius Agung membedakan nous dan jiwa. Nous bukanlah jiwa tetapi Anugrah Allah yang menyelamatkan jiwa, nous yang sesuai dengan kehendak Allah akan menasehati jiwa supaya jiwa itu membenci apa yang fanah, meterial yang dapat rusak dan mengubah semua keinginan jiwa itu menunju pada hal-hal yang kekal. Menurut bapa gereja lain :St.  Gregorius dari sinai menyebut nous itu adalah mata spritual sama seperti yang di ajarkan Yesus dalam Mat 6:22-23. Nous itu kata Gregorius lidahku seperti pena dalam mazmur 45:1. Bukannya tintah tetapi cahaya, begitu menceberuhkan nous kedalam cahaya sehingga menjadi terang, nous akan di bimbing oleh Roh kudus menuliskan hal-hal Ilahi dalam hati yang murni kemudian nous itu akan menangkap kita di hadapan Allah. Gregorius melanjutkan nous harus bersinergy dengan Allah karena nous dengan Roh Allah yang bisa konek bukan otak kita, pengetahuan dan lain sebagainya. Gregorius melanjutkan ketika nous itu di sucikan maka jiwa kita akan memandang Allah dan menerima hal-hal yang Ilahi dari Allah.

Menurut bapa gereja St. Maximus mengatakan nous sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan untuk memilih. Nous kita terletak di antara malaikat dan iblis mereka masing-masing berkerja untuk tujuannya sendiri. Nous memiliki kekuatan untuk menolak/menerima apa yang di inginkannya. menurut Maximus nous suatu organ kebijaksanaan dan pengetahuan dari roh kita. Jika nous kita bisa membedakan pikiran-pikiran dan dalam kemurnian memberikan persekutuan hanya kepada hal-hal Ilahi. Jadi kalau nousnya memandang Allah maka terangnya Allah akan terpancar melalui nous kedalam hati kita. Lalu hati kita akan menjadi terang dan kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang terang.

Bapa gereja lain bernama St. Talasius berkata : Nous dapat mennundukkan nafsu, nous yang bijak menahan jiwa menjaga tubuh agar tunduk dan menjadikan hawa nafsu sebagai pelayannya. Nous yang bijaksana akan di kendalikan oleh Tuhan dan juga di penuhi oleh Roh kudus. St. Petrus dari Damascos Nous seperti gambar Allah yang ada di dalam diri kita. Kita harus memandang manusia  dengan kebenaran dan sadar bahwa nous adalah gambar Allah. St. Basil memuji nous sebagai rumah harta, pikiran seperti rumah harta yang telah menyimpan semua pikiran dan pikiran ini apakah baru dan lama dalam nous dan akan mengexpresikan dalam bahasa kata-kata meskipun kata-kata selalu berasal dari nous tidak pernah habis.

Nous selalu berkerja untuk menghasilkan banyak pikiran-pikiran dan akan menyimpang banyak kenangan.

Logismoi adalah pikiran, kata ini sering sekali di pakai bapa-bapa philokalia sebagai pikiran-pikiran yang jahat. Logismoi perlu kita jaga karena dia merupakan bibit dari nafsu. Jika Logismoi ini di biarkan akan menghasilkan nafsu dan nafsu akan menghasilkan dosa. St. Gregory dari sinai : Logismoi itu adalah pikiran-pikiran jahat. Logismoi muncul dari nous yang suci yang sudah tertropokasi oleh godaan, ketika godaan itu masuk melalui panca indra maka ia akan menyerang ke hati. dan jika nous kita kalah maka akan menghasilkan logismoi dan jika terus di biarkan maka akan memunculksn satu namaya mindset.

Logismoi harus kita cegah sebelum menjadi sebuah mindset terus menerus kita lakukan oleh Sebab itu St. Gregory mengatakan bahwa pikiran-pikiran jahat itu kita harus mengerti bahwa itu bisikan dari iblis dan perintis dari hawa nafsu. St. Efraim dari sriya membandingkan logismoi inii seperti ombak yang terus menerus memukuli bebatuan samudera. maka setiap hari kita akan di serang oleh yang namanya Logismoi/pikiran-pikiran jahat seperti ombak yang tidak pernah berhenti. Kapan dan di mana kita bisa di serang. Ini strategi dari iblis untuk menghancurkan kita. Logismoi tidak bisa kita hindari di maan dia selalu ada seperti ombak di laut.

Kita punya strategi bagaimana Logismoi tidak menjadi hawa nafsu, tetapi kita juga harus tau apa yang menjadi strategi dari iblis ini. pertama di akan mencoba membuat kita nyaman dia mulai dengan meyakinkan kita bahwa tidak ada yang salah ketika kita melakukan dosa tertentu dan bagaimanapun Allah itu berbelas kasihan dan bagaimanapun juga Dia akan mengampuni kita. Dan setelah kita melakukannya maka baru timbul rasa ke penyesalan. Dan kita mencoba mendekat kepada Tuhan dan iblis memakai strateginya dengan berkata Tuhan tidak mengmpuni saya karena dosa yang saya lakukan, dia menutup pintu hati kita kembali kepada Tuhan dan menanam benih-benih keputuasaan.

Bapa philokalia St. Irenius mengatakan rayuan kepada iblis tidak prnah di katakan dalam bentuknya yang telanjang jangan sampai terkena, dia harus segera terdifeksi namun godaan itu di buat dalam bentuk rapi dalam gaun yang menarik. sehingga membuatnya tampak kepada orang yang tidak berpengalaman/konyol, penampilan yang tampak benar yang cantik sehingga kita tergoda. dan kita lupa akan kebenaran Firman Tuhan. St. Antonius menambahkan iblis biasanya menyembunyikan rayuannnya di balik penampilannya yang manis untuk menghindari iteksi dan mengarah ilusi indah untuk di lihat yang dalam kenyataannya tidak sama seperti yang di lihat.

Bagaimana setan mencuri hati/doa/nous kita ada satu buku yang menarik tentang the wife of the greem (perjalanan seorang peziarah) tentang pergumulan dia secara berdoa, doa tanpa henti. Suatu kali ia mengikuti ibadah di gereja dan pendeta itu berbicara tentang doa tanpa henti yang ia kutip dalam surat rasul Paulus. Ketika ia dengar ia meresa gelisa dan berkata dalam dirinya apa shi artinya doa tanpa henti itu? bukankah setelah setelah saya berdoa bisa konsetrasi lagi. Doa saya sering di curi oleh iblis di mana memunculkan sesuatu yang menarik atau kesibukan sehinga saya lupa doa.

Bapa Gereja bernama St. Theophan merekomendasikan kepada kita bagainama kita mengendalikan Logismoi yang selalu menyerang kita. Ia menulis begini : pikiran terus mendesak-ndesak pendengaran anda seperti nyamuk. Dengan menghentikan desakan ini kita harus mengikat pikiran dengan satu pikiran atau hanya memikirkan Tuhan. Doa yang sering di ajarkan bapa-bapa greja ini adalah Jesus prayer “ Tuhan Yesus Anak Allah kasihanlah kami orang yang berdosa ini”. Bapa philokalia pentingnya menekankan nous hingga benar-benar hadir untuk tugas yang ada, mereka terus menekankan dimanapun nous kita berasal maka di sana kita berada dan di manapun nous kita tidak ada maka di situ kita tidak ada.

 Logismoi bibit dari nafsu (Patos) berarti penderitaan/penyakit bagi jiwa. Ini di sebut penyakit karena ini akan menggerogoti jiwa kita. Logismoi bukan hanya pikiran-pikiran yang jahat ttapi emosi dan perasaan yang jahat. Logismoi itu kuat. St. Maximus pertama-tama kita tidak buat dalam pikiran (logismoi) kita tidak akan pernah berbuat dosa dalam perbuatan. kata amsal berkata seperti dia di dalam hatinya begitu juga dia. Seorang penulis yang tidak di kenal berkata : cuaca di benak anda yang menentukan iklim saat itu artinya ubah pikiran anda dan anda akan mengubah dunia anda. Apa yang terjadi pada anda sat ini bergantung pada pikiran anda di mana pikiran anda akan membawa anda.

Ringkasan :

Hati merupakan karunia Tuhan yang di berikan kepada kita untuk di jaga karena itu tempat penyimpanan memori kita, pengalaman kita ada di situ. Walaupun di dalam pikiran kita sudah lupa tapi itu semua tercatat dalam hati kita.

Logismoi adalah pikiran, kata ini sering sekali di pakai bapa-bapa philokalia sebagai pikiran-pikiran yang jahat. Logismoi perlu kita jaga karena dia merupakan bibit dari nafsu. Jika Logismoi ini di biarkan akan menghasilkan nafsu dan nafsu akan menghasilkan dosa.

Sumber : Youtube Hendi Wijaya link : https://www.youtube.com/watch?v=wM18K8wJ3rk&t=38s

Nama : Elizabeth Situmorang

Semester : 6

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S,s

Mata Kuliah : Spirituality of Philokalia

Pengajaran II: Nous di dalam Philokalia

Nama : Elizabeth Situmorang

Semester : 7

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S,s

Mata Kuliah : Spirituality of Philokalia

  • Nous dalam Philokalia

Nous merupakan mata atau otak atau pengendali dari roh kita (spirit). Bapa Philokalia sering kali mengatakan bahwa nous itu adalah mata batin atau mata dari roh kita. Nous ini menghasilkan satu prodak yang seperti manipulasi (pikiran, perasaan, emosi bahkan ada nafsu-nafsu) dan itu semua timbul dari yang namanya Nous. Dan Bapa Philokaliah sering makai Logismoi Mat 7:21 dari dalam hati muncul pikiran-pikiran jahat. Hati menjadi wadah (tempat) di mana spirit kita ada di dalamnya. Didalam hati kita ada Nous/pikiran-pikiran logismio dan Nous inilah yang bisa mengendalikan batin kita. Logismoi ini ada yang baik seperti yang di katakan maximus “ pikiran yang berasal dari roh” dan ada juga logismoi yang jahat.

Bapa Philokaliah biasanya memakai bahasa logismoi lebih cenderung pada pikiran negatif Markus 7:21. Jika pikiran-pikiran jahat ini akan di biarkan maka akan menjadi satu benih sehingga muncul banyak hawa nafsu. Hawa nafsu ini banyak sekali salah satunya adalah epitumi (nafsu daging).  Dalam Gal. 5 di situ ada hawa nafsu daging jika ini di biarkan maka akan menghasilkan perbuatan daging. Ketika kita memperbaharui hati kita maka kita harus menjaga nous kita kita dari perbuatan yang baik sehingga menghasilkan buah roh yaitu kasih.  Froneo : pola pikir atau karaktek yang sudah terbentuk. Firman Tuhan mengajarkan agar kita memperoleh froneo kristus Fil 2:5. Froneo prokduk dari nous sebelum ke logismoi jika  froneo kita kepada Kristus akan menghasilkan logismoi yang baik.

  • Pengertian Nous menurut Bapa – bapa Philokalia

Amsal berkata : seperti apa nousmu/seperti apa hatimu itulah yang mencerminkan hatimu. Jadi ketika kita ingin tau siapa diri kita cukup lihat bagaimana kondisi hati kita (nous). Nicodemus dari gunung athos menyeburkan philokalia itu merupakan satu perbendaharaan waspada, seperti pemeliharaan nous atau sekolah doa atau hati, satu tulisan yang sangat dalam ( menyelami tentang hati kita). Kalistos Ware Penerjemah teks philokalia dalam bahasa aslinya bahasa yunani di terjemahkan ke dalam bahasa ingris. Dia seorang uskup di ingris, seorang orthodox lalu ia menerterjemahkan buku ini dalam 5 folum namun Dia menawarkan sebuah defenisi tentang nous. Nous ini adalah kata yang sangat sulit di terjemahkan. Jika anda mengatakan Nous itu pikiran maka itu adalah terjemahan yang sagat kabur.

Dalam terjemahan yang di gunakan oleh Ware ini ragu bagaimana menggunakan kata nous ini yang diterjemahkan. Sehingga ia memilih kata intelek. Nous di praktekan melalui berdoa, ibadah dan lain sebagainya dan ini merupakan satu latihan untuk memupuk nous. Nous satu spritual yang memungkinkan kita mengenali kebenaran. Nous ini di kembangkan melalui doa, puasa, ibadah dan melalui praktis lainnya karena nous ini sesuatu yang lebih tinggi dari otak yang berpikir dan lebih dalam dari emosi begitu kata Kalistos Ware.

Nous sesuatu peristiwa yang memungkinkan kita mengenal suatu kebenaran. Karena nous dari manusai telah jatuh ke dalam dosa seperti adam dan hawa nous itu cenderung berubah menjadi menyembah berhala melakukan kejahatan yang tak terkendali dengan begitu secara fisik nous manusia jauh dari kemuliaan Tuhan. Sehingga nous itu menjadi seperti iblis atus jahat seperti yang katakan Rasul Paulus ada hukum daging dan hukum roh. Jika nous kita di kuasai oleh nafsu maka kita picik dan egoisme seperti yg di katakan Yesus kita menjadi manusia gelap. Nous sebagai egemonikon (penguasa/pemimpin/raja) dalam hidup kita. Melalui Anugrah dan spritual rohani kita memunyai satu kesempatan untuk melawan epitumua(nafsu).

Bapa Philokalia Hesekios mengatakan nous sama seperti kepemimpinan musa, musa di anggan sebagai sang pemberi hukum dalam PL dan musa itu di ikonkan seperti nous. Dalam kel 3:2 :14-17 di katakan ketika musa melihat Allah dari semak yang terbakar wajahnya bersinar dengan kemuliaan. Musa memiliki kekuatan ilahi untuk melawan firaun, yang mengguliti seorang mesir dengan pisaunya, yang memimpin Israel keluar dari perbudakan dan memberikan hukum taurat. Egemonikon beberapa bapa gereja mengangap seperti nousnya Kristus yang kita terima ketika kita mengenakan Kristus dalam baptisan.

Nous fakulti tertinggi dalam jiwa/roh manusia yang melaluinya jika nous kita di sucikan akan mengenal Tuhan tidak seperti pikiran manusia, tetapi nous ini yang konek dengan sang Ilahi. Nous ini aspek terdalam dari hati, nous adalah organ konteplasi dari mata hati begitu kata Makarius. 

Bapa-bapa gereja yang lain berkata : St. Antonius Agung dia adalah bapa seorang pendiri biara di abad yang ke 3 dan 4. Antonius Agung memberitahukan kepada kita bahwa tidak semua orang mempuyai nous Tuhan telah menetapkan bahwa jiwa harus di penuhi dengan nous pada saat tubuh tumbuh sehingga manusia dapat membedakan/memilih mana yang baik/jahat sesuai  kehendak Tuhan. Jiwa yang memilih tidak baik tidak memiliki nous karenanya semua tubuh memiliki jiwa tetapi tidak setiap jiwa memiliki nous. Nous yang menikmati cinta Tuhan akan hadir dalam diri yang di kontrol yang suci, yang murni, yang baik dan berbelah kasih juga saleh. Kehadiran nous membantu manusia menunju kepada Tuhan.

Antonius Agung membedakan nous dan jiwa. Nous bukanlah jiwa tetapi Anugrah Allah yang menyelamatkan jiwa, nous yang sesuai dengan kehendak Allah akan menasehati jiwa supaya jiwa itu membenci apa yang fanah, meterial yang dapat rusak dan mengubah semua keinginan jiwa itu menunju pada hal-hal yang kekal. Menurut bapa gereja lain :St.  Gregorius dari sinai menyebut nous itu adalah mata spritual sama seperti yang di ajarkan Yesus dalam Mat 6:22-23. Nous itu kata Gregorius lidahku seperti pena dalam mazmur 45:1. Bukannya tintah tetapi cahaya, begitu menceberuhkan nous kedalam cahaya sehingga menjadi terang, nous akan di bimbing oleh Roh kudus menuliskan hal-hal Ilahi dalam hati yang murni kemudian nous itu akan menangkap kita di hadapan Allah. Gregorius melanjutkan nous harus bersinergy dengan Allah karena nous dengan Roh Allah yang bisa konek bukan otak kita, pengetahuan dan lain sebagainya. Gregorius melanjutkan ketika nous itu di sucikan maka jiwa kita akan memandang Allah dan menerima hal-hal yang Ilahi dari Allah.

Menurut bapa gereja St. Maximus mengatakan nous sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan untuk memilih. Nous kita terletak di antara malaikat dan iblis mereka masing-masing berkerja untuk tujuannya sendiri. Nous memiliki kekuatan untuk menolak/menerima apa yang di inginkannya. menurut Maximus nous suatu organ kebijaksanaan dan pengetahuan dari roh kita. Jika nous kita bisa membedakan pikiran-pikiran dan dalam kemurnian memberikan persekutuan hanya kepada hal-hal Ilahi. Jadi kalau nousnya memandang Allah maka terangnya Allah akan terpancar melalui nous kedalam hati kita. Lalu hati kita akan menjadi terang dan kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang terang.

Bapa gereja lain bernama St. Talasius berkata : Nous dapat mennundukkan nafsu, nous yang bijak menahan jiwa menjaga tubuh agar tunduk dan menjadikan hawa nafsu sebagai pelayannya. Nous yang bijaksana akan di kendalikan oleh Tuhan dan juga di penuhi oleh Roh kudus. St. Petrus dari Damascos Nous seperti gambar Allah yang ada di dalam diri kita. Kita harus memandang manusia  dengan kebenaran dan sadar bahwa nous adalah gambar Allah. St. Basil memuji nous sebagai rumah harta, pikiran seperti rumah harta yang telah menyimpan semua pikiran dan pikiran ini apakah baru dan lama dalam nous dan akan mengexpresikan dalam bahasa kata-kata meskipun kata-kata selalu berasal dari nous tidak pernah habis.

Nous selalu berkerja untuk menghasilkan banyak pikiran-pikiran dan akan menyimpang banyak kenangan.

Intisari :

  • Nous adalah Mata dari jiwa kita seperti kata Tuhan Yesus
  • Tidak semua orang punya Nous. Nous yang hidup adalah orang yang percaya kepada Yesus di mana nous kita yang mati akan hidup kembali dengan membuka hati dan di pupuk melalui doa, puasa, pembacaan Alkitab, sakramen dan lain-lain. St. Theofan mengajarkan kita bahwa doa bukan sekedar kata-kata (bibir) tetapi doa itu adalah doa nous/batin. Doa dari nous harus benar-benar menyentuh hati kita.
  • Doa ada tiga level
  • Doa bibir
  • Doa pikiran
  • Doa batin
  • Nous penolong dan penyelamat/pelita jiwa
  • Nous fakulti tertinggi dalam diri manusia
  • Nous menikmati kasih Allah dan hadir dalam diri yang di kendalikan yang suci, yang murni, yang adil, yang saleh.
  • Nous adalah gambar Allah, organ konteplasi, mata hati, rumah harta karun yang tanpa lelah menyimpan semua pikiran kita.
  • Nous memperloleh karunia tentangTuhan dan kebijaksanaan dengan rahmat Tuhan di bantu oleh latihan spritual.
  • Godaan selalu ada melalui indra kita (mata) ia selalu menggoda nous kita dan jika nous kita kalah maka akan menghasilkan pikiran-pikiran jahat dan pikiran jahat inilah yang akan menghasilkan nafsu dan nafsu inilah yang akan membuahkan dosa.  

Sumber : Hendi Wijaya / https://www.youtube.com/watch?v=8mr4HgnoB5w&t=171s

Pengajaran I : Pembaruan Manusia Baru -Nous

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 2 (Semester 6)

Mata Kuliah : Essay Spirituality of Philokalia

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S,s

Pengertian Philokalia

Philokalia adalah suatu kumpulan spiritualitas yang berasal dari di timur yang dimulai dari abad ke – 4 sampai ke -15 dan dikompilasi oleh St. Nikodemus dan St. Makarios ada banyak hal yang ada didalam spiritualitas philokalia ini, seperti menjadi manusia baru, bagaimana menjadi manusia baru, bagaimana berjaga – jaga , berpuasa dll. Phillokalia berasal dari bahasa Yunani fillos artinya mencintai dan khalia itu hal – hal yang bagus atau cantik. Jadi, Philokalia memiliki arti bagaimana kita mencintai keindahan, kecantikan dari Tuhan Yesus Kristus yang diajarkan kepada para rasul. Inilah yang ditulis oleh bapa – bapa gereja. Setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus apa yang akan kita lakukan sebagai orang Kristen?

1. Menjadi Manusia Baru

Dalam Galatia 3 : 27 kata telah mengenakanpakaian Kristus artinya kita mengenakan Manusia baru dan selalu diperbaharui untuk menjadi manusia yang serupa dengan Kristus. Dalam bahasa Yunani kita menjadi ikon (gambar dan rupa) Kristus (baca Roma 8 : 29.) Dalam surat Kolose 3:10 dan Roma 8:29 Alkitab telah menjelaskan kepada kita setelah kita mengenakan manusia baru, kita menjadi orang percaya kita mengenakan pakaian Kristus, dan kita harus terus – menerus diperbarui supaya kita menjadi segambar dengan Kristus serupa dengan Kristus. Inilah yang menjadi tujuan orang bergereja. Didalam 1 Yohanes 3:2 dikatakan kita tidak hanya menjadi segambar dengan Kristus tetapi juga pada akhirnya nanti kita akan diubah menjadi serupa dengan Kristus.

Kristus yang merupakan Firman Allah yang berinkarnasi menjadi manusia mengenakan daging supaya kita yang daging ini menjadi seperti Dia yaitu menjadi ilahi seperti Dia. Nanti pada akhir zaman, kita akan menjadi serupa dengan Kristus. Inilah yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Dalam 1 Yohanes 3:3 Kita harus menaruh pengharapan itu sama seperti Tuhan Yesus Kristus yang adalah suci. Inilah yang harus kita pahami. kita yang sudah diselamatkan dan telah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tidak begitu saja percaya, tetapi juga harus menyucikan diri sama seperti Kristus kita juga harus menyucikan diri. Apa itu penyucian diri dan bagaimana caranya kita menyucikan diri?

Dalam 1 Korintus 13:11 ketika kita percaya kita tidak otomatis menjadi dewasa. Rasul Paulus mengajak kita untuk berpikir mulai dari kanak- kanak aku berpikir seperti kanak- kanak ketika aku menjadi dewasa aku berpikir secara dewasa. Dewasa ini maksudnya disini bukan berbicara tentang fisik tetapi spiritualitas atau kerohanian, artinya spiritualitas itu bertumbuh dari kanak- kanak sampai dewasa. Proses pertumbuhan inilah yang dinamakan proses penyucian. Rasul Paulus juga mengatakan dalam Efesus 4:13 berarti ketika kita menjadi segambar dan serupa dengan Kristus kita harus mengalami pertumbuhan itulah proses penyucian diri.

Penyucian diri artinya penyucian dari dosa dan semakin hari kita menanggalkan dosa dan semakin hidup seperti Kristus hidup. Pada akhirnya, kita akan menjadi segambar dan serupa dengan Kristus bukan hanya spiritualitas kita yang harus bertumbuh dan semakin disucikan, tetapi tubuh jasmani yang fana ini juga akan diubah oleh Tuhan menurut kuasa-Nya sehingga kita akan mengenakan tubuh yang mulia sama seperti Kristus. Karena Kristus yang adalah Firman yang mengenakan daging kemanusiaan kita sehingga Dia bisa menebus kita. Begitu juga ketika kita sudah menjadi percaya dan bertumbuh, lalu kemudian diproses untuk disucikan. 

Kemudian pada akhirnya tubuh yang fana ini akan dibangkitkan dan diberikan tubuh yang baru seperti Kristus. Sehingga kita menjadi sama seperti Kristus dan kita adalah manusia yang sejati yang memiliki roh, yang tidak akan pernah binasa. Ini merupakan rencana keselamatan Allah yang besar dan luar biasa dan ini sangat penting bagi kita orang percaya (Baca Filipi 3:21). Ketika tujuan kita menjadi serupa dengan Kristus, ada beberapa proses yang harus diajalani yaitu : Pembaruan, Penyucian Diri,  Pertumbuhan, Kedewasaan. Semua ini adalah proses memperbarui manusia baru. (Baca Kolose 3:10) kata diperbarui yang digunakan adalah bentuk pasif. 

Diperbarui artinya Allah-lah yang mengerjakan pembaruan tersebut tetapi kita juga diajak bersinergi dengan Kristus sehingga kita tidak pasif. Ini artinya kita diajak untuk ber-Sunergeo atau bekerjasama dengan Kristus. Proses ini menghasilkan adanya pertumbuhan yang serupa dengan Kristus. Semua proses ini berasal dari dalam atau dari hati manusia. Sebab berasal dari dalam hati pembaruan ini dimulai yaitu dari dalam hati inilah pembaruan harus dikerjakan (Baca Filipi 3:13). Mengapa harus dari dalam? (Baca Markus 7:20-21 dan Matius 13 :25) Kata Perbendaharaan ini berbicara tentang apa yang berasal dari dalam. Apa yang seharusnya terjadi dialam hati ini? Spiritualitas Philokalia sangat mengajarkan tentang ini.

Baca Roma 12 :2 “jangan menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu” pembaruan dari dalam berarti pembaruan budimu. Kata akal budi dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan kata Nousatau diterjemahkan oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) adalah budi atau akal budi. Sebenarnya kata Nousini sulit untuk diterjemahkan oleh Alkitab. Maka kita pakai tetapi kita mengikutinya maka Nous ini lebih tepat diterjemahkan sebagai mata rohani atau seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, Nous berarti Mata Tunggal atau mata batin. Dalam Matius 6:22-23 kata Mata dalam bahasa aslinya oftalmos disitu bentuk tunggal, bukan jamak. Kata ini bukan berbicara tentang mata jasmani tetapi mata rohani,atau hati kita.

Nous ini boleh dikatakan mata ketiga yang kita miliki selain kedua bola mata jasmani kita. Selain mata jasmani, kita juga memiliki mata rohani atau disebut Nous (Mata tunggal) inilah yang diajarkan Tuhan Yesus kepada jemaat. Mata rohani inilah yang menentukan gelap terangnya tubuh kita. Oleh sebab itu Nous ini menjadi sesuatu yang penting bagi kita untuk mengerjakan pembaruan manusia baru. Supaya kita semakin serupa dengan Kristus. Gelap Terangnya tubuh kita bergantung pada Nous kita. Kita baca1 Korintus 2 :16 dikatakan, kita harus memiliki pikiran Kristus atau Nousnya Kristus. Jadi, yang dimaksud pembaruan Nous artinya pembaruan yang menyerupai Nous Kristus.

Nous Kristus ini berfungsi  menjaga batin kita dengan baik. Ketika nous kita telah dijaga dengan baik maka terpancarlah terang itu dari tubuh kita atau hidup kita menjadi terang.

Dalam Filipi 2:5 menggunakan Nous Kristus artinya perasaan Kristus ada didalam kita. Memperbarui manusia baru ini artinya kita memperbarui Nous kita. Kita mulai mengerjakannya mulai dari hati. Froneo artinya hati atau pola pikir manusia. Kita disuruh memiliki Froeno (akal budi) seperti Kristus sehingga ketika kita memperbarui manusia baru ini berartikita memperbarui nous. Agar nous kita ini menghasilkan Froneo,seperti Kristus maka tahapannya adalah:

  1.  Percaya kepada Tuhan Yesus Kritus
  2.  Beriman kepada Tuhan Yesus Kristus
  3.  Dibaptis 
  4. Mengenakan pakaian Kristus atau menjadi manusia baru
  5. Mengerjakan pembaruan manusia baru mulai dari hati
  6. Mengerjakan dari hati sampai kepada Nous
  7. Mengerjakan sampai kepada Froneo yang dapat melihat gelap terangnya Tubuh

8 langkah ini merupakan cara yang harus dilakukan untuk mengetahui mata rohani  yang kita miliki apakah gelap atau terang. Ketika kita memiliki Froneo atau mindset bukan berarti kita memiliki pikiran dunia, baca Roma 12:1. Roma 8:5 memikirkan hal-hal yang dari daging dan roh. Daging bertentangan dengan roh, daging yang dimaksud bukan daging secara fisik tetapi yang bertentangan dengan roh. Baca Roma 8:13 memikirkan hal – hal yang dari daging akan binasa memikirkan hal – hal dari roh akan hidup ini artinya froneo Kristus itu artinya kita diarahkan kepada keinginan roh bukan keinginan daging. Kita diajak untuk memikirkan hal – hal dari roh. Froneo Kristus itu memikirkan hal – hal yang rohani.

Seperti apa wujud dari Nous Kristus? Wujud dari nous Kristus merupakan pikiran atau mindset atau froneo Kristus. Memikirkan pola Kristus berarti memikirkan apa yang ada dari Roh, Roh disini berbicara mengenai Roh Kudus. Froneo itu kata benda kalau Froneuma itu kata sifat. Ada 2 pola pikir froneuma disini, yaitu pertama Froneuma Neumatos atau pikiran rohani dan kedua Froneuma Sarkos atau pola pikir daging. Walaupun kita sudah menjadi orang percaya kita sudah memiliki Roh Kudus, tetapi jika keinginan daging yang ada didalam diri kita berlebihan, maka harus roh kita harus diperbarui. Froneuma Neumatos atau pola pikir manusia rohani itu seperti apa? Kolose 3:1-2 kita diajak untuk memiliki pola pikir Kristus. Apa artinya kita memiliki Froneuma Pneumatos atau memiliki pola pikir rohani? kita diajak untuk memikirkan apa yangTuhan Yesus pikirkan. 

Froneuma pneumatos ini ada didalam batin, atau ada didalam hati kita. Pola kerja nous yang kita miliki ketika melihat Kristus harus sama. Artinya kita harus memikirkan hal-hal yang diatas atau dimana Kristus berada. Hal – hal yang menghasilkan buah – buah roh. Froneumatos Pneumatos inilah yang mematikan perbuatan – perbuatan daging kita. Dikatakan dalam Roma 8:13 oleh Roh (Roh Kudus) inilah yang akan mematikan Froneuma Pneumatos ini oleh karya Roh Kudus akan mematikan perbuatan – perbuatan daging kita dan konsekuensinya kita akan mati secara rohani.

 Sedangkan Nous yang baik yang sama dengan pikiran Kristus itu hidup menurut Roh kudus, artinya mendatangkan perbuatan baik – baik atau perbuatan roh. Rasul Paulus mengatakan itu buah – buah roh. Jika Nous atau mata batin kita kita jahat, maka yang muncul adalah perbuatan daging. Jika kita memikirkan hal – hal tentang Kristus, maka yang muncul adalah pikiran Kristus.

Ada beberapa poin yang penting: 

  1. Nous yang jahat sama artinya mendatangkan perbuatan yang jahat atau perbuatan daging.
  2.  Nous yang baik artinya hidup menruti perbuatan yang baik atau perbuatan yang sesuai dengan buah – buah roh. Seorang bapa gereja yaitu

Personal

Dari pengajaran manusia baru ini saya menyadari bahwa kita sebagai orang percaya belajar untuk memperbarui manusia baru kita atau nous kita. Mulai dari hati ke pikiran sampai kepada Nous dan pada akhirnya ke froeneo pneumatos.

Saya juga belajar untuk memperbarui nous yang saya miliki diperlukan sebuah pikiran yang mendatangkan kerohanian atau buah – buah roh. Seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan , kebaikan, kesetiaan, kelemah – lembutan, dan pengusaan diri. Kemudian penting bagi perjalanan kerohanian ini penting untuk dipelajari bapa gereja St Basil the Great mengatakan pentingnya nepsis atau berjaga-jaga saat dia menulis:
Kita harus memperhatikan hati kita dengan penuh kewaspadaan tidak hanya untuk menghindari kehilangan pemikiran tentang Tuhan atau mengecilkan ingatan akan keajaibannya dengan imajinasi sia-sia, tapi juga untuk mewujudkan pikiran suci Tuhan yang dicap di atas jiwa kita sebagai segel yang tidak dapat diampuni dengan ingatan terus-menerus dan murni … jadi orang Kristen mengarahkan setiap tindakan, kecil dan besar, sesuai kehendak Tuhan, melakukan tindakan pada saat bersamaan dengan perhatian dan ketepatan, dan mengingat pemikirannya kepada Dia yang memberinya pekerjaan yang harus dilakukan Dengan cara ini, dia memenuhi pepatah, “Saya selalu mengatur Tuhan di hadapan saya, karena dia ada di tangan kanan saya, bahwa saya tidak tergerak” dan dia juga mengamati ajarannya, “Apakah Anda makan atau minum atau apapun yang Anda lakukan , lakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. “… Kita harus melakukan setiap tindakan seolah-olah di bawah pengawasan Tuhan dan memikirkan setiap pikiran seolah-olah diawasi olehNya

Ecclesial

Menurut bapa – bapa gereja saat kita telah menjadi manusia baru ada yang harus kita kerjakan dalam aspek kehidupan kita seperti : menjaga hati kita dengan berdoa dan berjaga-jaga di dalam hati dan pikiran. Kita harus memperhatikan pikiran kita yang terpencar-pencar yang membawanya kembali lagi dan lagi pada kata-kata yang sedang kita doakan. Ini digambarkan dengan indah dalam liturgi dimana kata-kata “Lagi dan lagi mari kita berdoa kepada Tuhan” memanggil kita untuk mengumpulkan perhatian kita yang terpencar dan memusatkan kembali pada Tuhan. Seruan untuk memperhatikan dengan kata-kata “berulang-ulang” ini ditujukan kepada kita berkali-kali selama liturgi. Ini adalah panggilan untuk nepsis, perhatian.
Seperti halnya seorang Operator radio di Titanic terus menerima pesan gunung es di depan, tapi dia meletakkannya di bawah kertas kertas di mejanya karena dia terlalu sibuk mendengarkan hasil balapan perahu layar internasional. Dia tidak pernah mengirim mereka ke kapten. Tuhan terus-menerus mengirimkan firmanNya kepada kita, mendesak kita untuk mempersiapkan diri, memperingatkan kita tentang gunung es di depan. Kita perlu mengembangkan keutamaan perhatian, mendengarkan dengan kudus saat Tuhan berbicara kepada kita.

Obedience

Mari kita belajar untuk memiliki pola pikir rohani atau memiliki Fronema Pneumatos. Dengan cara melihat pribadi Tuhan Yesus Kristus yang memiliki kasih dan semua perbuatan – perbuatan yang mendatangkan kebaikan.

St. Symeon the New Teolog menulis tentang pentingnya menyatukan perhatian dengan doa: Perhatian harus begitu dipersatukan dengan doa karena tubuh adalah untuk jiwa … Perhatian harus maju dan mengamati musuh seperti pramuka, dan pertama-tama harus terlibat dalam pertempuran dengan dosa, dan melawan pikiran buruk yang datang kepada jiwa. Doa harus mengikuti perhatian, membuang dan menghancurkan sekaligus semua pikiran jahat yang perhatian sebelumnya telah diperangi, karena dengan sendirinya perhatian tidak bisa menghancurkan mereka.Yesus menghubungkan perhatian dengan doa, “Karena itu berjaga-jagalah, berjaga-jagalah …”

Kesimpulan

Mengenakan manusia baru artinya kita harus memperbaharui nous kita setiap hari proses yang harus kita alami mulai dari Percaya kepada Tuhan Yesus Kritus, Beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, Baptis, Mengenakan pakaian Kristus atau menjadi manusia baru, Mengerjakan pembaruan manusia baru mulai dari hati, Mengerjakan dari hati sampai kepada Nous, Mengerjakan sampai kepada Froneo yang dapat melihat gelap terangnya Tubuh dan inilah yang kita kerjakan setiap hari. Kiranya nama Tuhan dipuji dan dipermuliakan.

Sumber : Youtube Hendi Wijaya “Pengajaran I: Pembaruan manusia baru – Nous” /https://www.youtube.com/watch?v=RBQrL3qLGx0

Ringkasan Spirituality of Desert Fathers (Part II)

Hesychia

Hesychia adalah keadaan pikiran di hadapan Tuhan. Keadaan silent atau hening yang lebih dalam lagi. Ada juga yang menerjemahkan bahwa Hesychia adalah Nous yang posisinya berada dihadapan Allah. Hesikia juga berarti ilmu dari semua kebajikan dari serangan musuh. Hesikia tidak membuat kita terluka serta menjaga kita dari serangan musuh (Rufus). Hesikia juga berarti pikiran kita sudah masuk kedalam hati, dan kita berdiri dihadapan Allah seperti yang dikatakan Matius 6:6 Yesus berkata bahwa : “Masuklah kedalam kamar mu” Dia tidak langsung mengatakan lalu berdoalah, itu tidak dikatakan oleh Tuhan Yesus. Tetapi, Tuhan Yesus mengatakan “..tutuplah pintu, lalu berdoalah kepada Bapa.” Waktu kita berdoa kepada Bapa, level Hesikia dimana kita sudah menutup pintu, itu berarti kita sudah berdiri dihadapan Allah inilah yang dinamakan Hesychasm atau Berdoa. Waktu kita berdoa itu bukan berarti kita tidak boleh berbicara, tetapi kita sibuk mendengarkan suara Allah.

John Meyendorf mengatakan karena inkarnasi tubuh kita menjadi bait Roh Kudus dimana Allah Roh Kudus tinggal didalam diri kita 1 Korintus 6:19) didalam tubuh kitalah kita cari Roh Kudus itu karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus didalam tubuh kit inlah tubuh kita dikuduskan oleh sakramen, anugerah dari ekaristi (perjamuan kudus) sehingga yang kita cari adalah Allah yang berada dialam diri kita adalah bait Roh Kudus. Jadi, berdoa adalah mencari Tuhan didalam diri kita. Tuhan berada didalam diri kita artinya, Dia adalah gunung terang yang berada didalam diri kita. Berdoalah didalam tubuhmu sebab Allah ada didalam tubuh mu inilah perkataan yang ingin Tuhan Yesus sampaikan keapda kita. Doa, Askesis, Hesychasm, Silents itu adalah untuk berdoa kepada Allah didalam hati ini. Tujuannya adalah untuk berselebrasi didalam hati kita yang adalah chapel atau ruang, bait Roh Kudus. Didalam realita ada 3 liturgi yang dirayakan didalam hati ini adalah stillness (liturgi gereja). Didalam Hesikia kita melepaskan semua manusia lama kita tidak ada hal – hal yang menyenangkan diri kita seperti menelpon orang lain, meeting, atau apapun itu  yang ada hanya diri kita sendiri yang memang lemah, berdosa, terluka. Hanya diri kita sendiri yang ada bersama dengan Tuhan. Desert father mengajarkan bahwa kita harus sendiri, dan berbicara kepada Tuhan.

Inti dari Hesychia adalah kita belajar untuk menjauhkan diri dari hal- hal yag bersifat duniawi. Hesikia adalah cara untuk mencapai tujuan. Kamar doa kita adalah hati itu sendiri. Tutuplah pintu artinya menutup segala indera supaya tidak terganggu, keheningan kita kepada Tuhan kita mengalami repost. Berdoalah kepada Bapa mu ditempat yang tersembunyi artinya praktek yang dilakukan oleh bapa-bapa gereja. Hesikia juga berarti memurnikan kita dari segala dosa. Kejahatan berawal dari diri kita yang tidak bisa diam atau hening. Ketenangan bisa menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan dapat juga memurnikan dosa-dosa kita. Sehingga kita bisa melihat kesalahan kita dan kita bisa memperbaiki kesalahan kita.

Ini yang menjadi latihan Hesikia yaitu suatu latihan untuk merekoleksi pikiran kita yang terpecah – pecah. Hesikia juga membuat hati kita berdoa kepada roh didalam kehangatan. Matius 6:24 mengatakan kita tidak bisa menyembah dua Allah. Kita harus disiplin dan berdoa untuk melatih diri kita belajar Hesikia. Bagaimana caranya supaya kita tetap berada didalam Hesikia? Mempertahankan Hesikia didalam sel itu artinya mengalahkan setiap logismoi oleh musuh, dari situlah kita dapat terbebas daris sifat duniawi. Mempertahankan Heskia juga berarti di dalam sel mendorong diri sendiri ke hadirat Tuhan. Dunia adalah sifat kita yang menyibukkan diri terhadap urusan tubuh kita dari pada jiwa kita. 1 Yohanes 2:15 jika kita mengasihi Bapa maka kita tidak akan tertarik kepada hal duniawi.

Bagaimana kita menghadapi godaan duniawi ? Inilah yang kita lakukan untuk mencapai Hesikia. Pertama kita harus menutup panca indera kita. Untuk masuk kedalam kamar hati kita. Kemudian tutup pintu tidak ada yang memasuki ruangan kamar kita selain diri kita sendiri. Lalu berdoa atau berbicara kepada Tuhan. Kemudian kita bisa mendengar suara Tuhan melalui roh kita yang terhubung dengan Roh Tuhan. Sehingga Bapa yang kita panggil didalam Doa akan berbicara kepada kita. Inilah yang disebut komunikasi atau bercakap – cakap kepada Allah.

Pertanyaan : Bagaimana saya bisa di selamatkan ?

  • Keselamatan Akhir dan Langsung

Ultimate salvation adalah the hope of glory adalah sebuah pengharapan yang akhirnya kita akan masuk dalam kerajaan surga dalam kesempurnaan seperti Kristus.

Immediate salvation adalah skopos atau destinasi tujuan akhir dari seorang biara yang akan menjalani kehidupan di dunia ini. Keselamatan berbicara dengan menjalani kehidupan di dunia dengan benar. Bagaimana caranya saya menjalani kehidupan dengan cara yang benar? Ini merupakan pertanyaan seorang biara. Ini merupakan Immediate Salvation yang dilakukan oleh seroang biara yang ingin diselamatkan. Maka seorang malaikat mengatakan ketika kita hendak bekerja, berdoa terlebih dahulu dan setelah bekerja kita juga kembali berdoa. Ultimate Salvation adalah keselamatan yang sudah dikerjakan oleh Kristus.

 Ini merupakan doa yang di panjatkan oleh Arsenius kepada Tuhan : “Bebaskan aku dari pada dunia, maka aku akan diselamatkan. Bebaskan aku dari pada manusia maka aku akan diselamatkan.”  jadi bukan soal hidup kekal, artinya kita tidak perlu bersosialisasi dengan orang tetapi, kita disuruh untuk menjaga hati kita untuk tidak tercemar oleh dunia maka kamu akan diselamatkan oleh immediate salvation itu.

  • “Immediate” Salvation Atttained By Humility

(Keselamatan yang dicapai dengan kerendahan hati)

Bapa padang gurun menceritakan tentang kerendahan hati. Bagi mereka, kerendahan hati ini adalah jalan untuk mendapatkan immediate salvation. Seorang saudara bertanya kepada penatua gereja dia berkata : “Bagaimana kita dapat diselamatkan?”  dan penatua itu berkata : “ Caranya dengan bekerja, rendah hati dan berdoa.” Ini adalah perkataan yang sama dengan Desert Fathers. Kita membutuhkan satu syarat untuk Immediate Salvation. Allah yang telah berkorban buat kita, Dia mau kita mengosongkan diri dengan kerendahan hati.

Anthony bertanya kepada Tuhan : “Tuhan bagaimana ada orang yang mati dalam waktu yang singkat? Dan ada juga yang matinya sudah tua? Bagaimana perbedaan itu bisa terjadi? Kemudian Anthony mendengar suara Tuhan. Tuhan menjawab : “Ini semua adalah penghakiman Allah tidak pantas kamu bertanya.” Ini merupakan salah satu kerendahan hati dari kita. Abba Anhony berkata pada Anna Poeman :”Ini adalah tugas pribadi setiap orang, bertanggung jawablah atas dirimu apa yang kamu buat dihadapan Allah, dan selalu ada pencobaan sampai kita mati. Ini artinya mengajarkan kepada kita bahwa kerendahan hati membutuhkan Allah untuk menolong kita.

Kata Abba Anthony : Saya sudah melihat semua tipu daya iblis yang ada dibumi ini. Bagaimana aku bisa melewati itu semua? Dan Bapa Anthony mendengar dengan kerendahan hati. Immediate Salvation mengajarkan tentang bagaimana aku bisa mengerjakan keselamatan itu? Yaitu dengan kerendahan hati. Inilah kunci utama untuk masuk kedalam Hesychasm.. Bapa Josep mengutip sebuah teks kitab suci dan bertanya kepada Abba Anthony dan ia mengatakan tidak tahu tentang apa yang menjadi maksud kitab suci itu. Dan Abba Anthony mengtakan bahwa dia tidak tahu.

Maka Abba Anthoy juga berkata tidak tahu. Ini artinya dengan kerendahan hati kita dapat memohon kepada Tuhan, “aku tidak tahu Tuhan, Tuhan ajari aku.” Jadi, kerendahan hati merupakan kunci utama untuk mencapai Immediate Salvation (Keselamatan yang sedang dikerjakan sekarang). Kita dapat melihat contoh orang yang rendah hati yaitu: Orang pemungut cukai dan anak yang terhilang, ini merupakan saksi mata bagaimana mereka hanya berkata sedikit kata lalu mereka diselamatkan. Kita yang banyak melakukan sesuatu, justru kita dapat jatuh kedalam kesombongan seperti yang dilakukan oleh orang Farisi. Ketika kita melakukan itu kita absen dalam kerendahan hati.

Mari, lihat contoh dari Rasul Paulus yang mengatakan : “aku bekerja keras , aku membangun fondasi, itu semua karena anugerah Allah yang memampukan aku.” Usaha yang dilakukan Rasul Paulus karena Anugerah Allah, bukan karena dirinya tetapi karena Anugerah Allah. Abba Anthony berkata berpuasa adalah kunci dari semua ilmu kebajikan tetapi kerendahan hati merupakam kunci utamanya. Contoh dari Yohanes Pembaptis : “Aku semakin kecil, tetapi Kristus semakin besar.” Kerendahan hati menarik kita kepada Allah. Jadi, sikap kerendahan hati yang semakin naik ketika kita melihat ke bawah maka semakin kecil. Kerendahan hati dicapai dengan ketekunan, doa, dan pertimbangan. Jadi, sikap rendah hati adalah sikap yang dapat menangkal kita dari iblis. Kita yang dapat memiliki sikap rendah hati akan dapat merendahkan hati iblis. Kerendahan hati merupakan kunci dari ilmu kebajikan. Kita harus datang kepada Tuhan dengan sikap kerendahan hati. Untuk menjawab pertanyaaan seperti, Dengan apa keselamatan itu kita peroleh? Jawabannya yaitu dengan kerendahan hati. Kita tidak bisa mencapai Hesychasm dan silents tanpa Kerendahan hati.

Sumber : Youtube Hendi Wijaya “The Spirituality of Desert Fathers (Part II)” //

Nama : Elizabeth Situmorang

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S,s

Mata Kuliah : “The Spirituality of Desert Fathers”

Ringkasan Spriritual of Desert Fathers

  • Sejarah Desert Fathers

Para Pencari Biara di dalam Gereja Kuno

Para biarawan Kristen awal membentuk masyarakat internasional yang berkembang di semua wilayah Yunani dari kekaisaran Romawi, di Syiria dan Persia. Di Mesir berkumpul di sekitar sungai Nil, dan sejauh ke Afrika seperti Nubia (Sudan modern) dan dataran tinggi Ethiopia. Mereka mendiami medan berbatu dan gurun di Sinai, Palestina, Arab dan Turki (Kapadokia); dan di ibukota Kekaisaran Romawi, Konstantinopel, mereka umumnya para pelayan negara, dalam jumlah yang begitu besar, dengan banyak sarjana dan bangsawan yang berdedikasi diantara mereka. Setelah abad kelima, monastime menjadi populer juga di Barat dimana Gaul (Prancis Kuno) dan Italia menjadi pusat aktivitas.

Segera, di seluruh dunia Kristen awal, yang digambar seperti lingkaran di sekitar cekungan Mediterania, Para Biarawan Kristen dapat ditemukan hidup dalam isolasi di desa – desa, di komuni kecil pertapa, bekumpul bersama di lembah – lembah terpencil atau di rumah-rumah kecil, biasanya beberapa menjalani kehidupan komunal bersama. Itulah para biarawan yang memang menjalani suatu repost atau isolasi dari dunia yang menjalani hidup di padang gurun atau ditempat-tempat terpencil. Ketiga bentuk gaya hidup monastik di gereja mula – mula ini telah menjadi standar pada abad ke empat dan setelah Kaisar Konstantinus memulai transformasi Negara Romawi menjadi kekaisaran Kristen Bynzantium, gerakan biara berkembang selama lebih dari seribu tahun dengan perlindungan Kaisar yang Kristen. Dipusat-pusat seperti Gunung Athos di semenanjung Acte, dekat Halkidiki, di Yunani; Pechersky Lavra (Boara Gua) di Kiev; atau biara-biara gunung hutan Transylvania, di tempat tersebut terus berlanjut cara hidup biara yang kuno menjuju era modern.

Gaya Sastra Monastik

Selama perjalanan sejarah yang panjang ini, kumpulan besar ajaran di biara dikumpulkan dan disaring oleh para biarawan sebagai bimbingan mereka sendiri dalam menempuh jalan kehidupan kebatinan. Pengabdian total dalam hidup mereka adalah untuk mencari Allah. Mereka melakukan ini semua dengan gaya hidup yang sangat disiplin dan miskin secara radikal, kesucian dan selibat, serta mempelajari kitab-kitab suci dan tulisan – tulisan orang suci yang telah mendahului mereka. Semuanya itu dilakukan sebagai fokus yang radikal dalam hidup mereka. Apalagi panggilan hidup yang demikian tidaklah populer di tengah konteks masyarakat Barat yang modern.

Pada awal abad ketiga, karya sastra mereka mencapai puncaknya. Para guru spiritual Origen dari Aleksandria, salah satu Filsuf Platonis yang paling terpelajar di usianya, menciptakan metode penafsiran Alkitab yang anggun (Philo) untuk memurnikan jiwa dan membantu pencerahan dan pendakian rohani. Semua upaya ini kemudian bertujuan untuk memajukan “Teologi Spiritual” khas Kristen yang sebagian besar didasarkan pada karyanya. Evagrios dari Pontus, seorang intelektual besar lain pada periode Kristen awal menjadi salah satu yang berhasil menggabungkan tradisi pemikiran Origen yang tinggi disesuaikan dengan kebutuhan sehari – hari untuk komunitas pertapa yang bimbingan lanjutan dalam pendakian spiritual.

Ketika agama Kristen berkembang dan menyebar sebagai agama negara, hal ini kemudian semakin mengubah kekristenan menjadi sekedar pemahaman teologis yang rasionalistik. Kecendrungan ini dipercepat ketika sebagian besar para pemikir Kristen secara umum memperdebatkan masalah doktirnal dengan Kaisar Romawi, Teks-teks monastik, sebaliknya, sebagian besar tidak tertarik dalam keputusan teologis para uskup (di dalam konsili-konsili) dengan kekuatan hukum Romawi. Teks – teks  monastik adalah sebuah literatur yang didedikasikan bagi rahasia kehiduupan batin, yaitu sebuah pencarian untuk jalan kedamaian, belas kasihan, dan kemurnian doa.

Selama berabad – abad yang panjang semangat rasionalistik di dalam doktrin Kristen nyaris tidak surut. Banyak generasi telah datang dan pergi, menghasilkan literatur kontroversial pada zaman mereka sendiri. Di Gereja Barat kemudian dikenal sebagai gerakan Reformasi yang mengkhotbahkan Injil sebagai anugerah gratis yang dipahami hanya oleh iman. Upaya monastik yang mencari keselamatan melalui upaya pertapaan menjadi hal yang terkutuk. Runtuhnya tradisi monastik di sebagian besar wilayah Eropa, berkontribusi besar pada rasionalisasi firmalistik didalam Kekristenan Barat dan memiskinkan tradisi pengajaran spiritual atau monastik.

Di dunia Kristen Timur, tidak ada Reformasi yang pernah dialami. Kesatuan filosofis dan kulturalnya berjalan dalam hubungan organik yang mendalam dengan prinsip-prinsip budaya Helenistik yang telah dibuat di zaman kuno. Binzantium menganggap sistem agama dan budaya mereka sebagai Hellenisme yang dibaptis kedalam Injil; dan tentu saja gairah politik Romawi untuk persatuan budaya dipertahankan, tetapi juga disesuaikan dengan kebebasan individu. Gabungan yang fleksibel inilah yang menghindari suatu kontrol sentralis yang dapat diamati di gereja Barat yang kemudian mengarah pada gerakan Reformasi di Eropa Barat pada waktu itu.

Munculnya Islam di tengah Gereja Timur pada abad ke- 7 membatasi kebebasan orang Kristen selama berabad- abad, tetapi menyebabkan suatu berkat bagi kehidupan biara-biara. Kehidupan biara – biara Ortodoks Timur ini sering kali tidak mengubah pola-pola komunitas primitif, yang dalamnya teks-teks spiritual tradisi monastik telah dengan hati – hati dilestarikan, disalin dan ditrasnmisikan sebagai pelatihan dasar generasi baru para pencari spiritual, sebuah kultur yang masih menyatukan Timur Kristen dari Syiria ke Rumania dan dari Ethiopia ke Rusia. Ada teks yang menjadi dasar dari Bapa Desert Fathers atau Bapa padang gurun dan Bapa – bapa gereja.

Saat ini teks-teks tersebut berada di Paris. Teks ini bernama Apopbhetegmata Patrum semua teks tersebut sudah di terjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris. Perkataan Desert Fathers dibagi menjadi tiga yaitu Pertama, Sistematikon ini banyak digunakan versi latin dan juga digunakan di gereja barat. Kedua, Anonymus dan ketiga Alphabetikon, yaitu berdasarkan susunan nama-nama, dan ini ditemukan dari abad ke 1000 oleh L. Reagnault. Para Desert Father ini memulai dari abad keempat atau ketiga dari tahun Origen sampai abad kempat dan pada saat itu banyak orang yang menganut ajaran monastik atau ajaran biara.

Keristenan pada zaman itu belum menjadi agama yang resmi sehingga banyak orang Kristen diburu dan disiksa, memang membiara hidup sendiri ditempat – tempat terpencil dan sungguh menjalani kehidupan kekristenan. The Desert Fahers atau bapa – bapa padang gurun mengawali kehidupannya dimulai dari tahun empat ratus di Mesir dan dimulai dari Hermit atau hidupnya menyendiri dan sungguh- sungguh membiara. Dalam kehidupan hermit atau menyendiri ada 3 salah satu contohnya yaitu low hermit yang tinggal di padang gurun. Contohnya adalah seorang bapa bernama Anthony the Great.

Suatu hari digereja, ia mendengar khotbah yang berkata “Pergi, jualah semua harta yang kamu miliki, berikanlah kepada orang miskin, datanglah kepada Ku dan ikutlah Aku.” Ini merupakan sebuah perintah yang membuat Anthony the Great hidup menjadi seorang hermit atau biara. Akhirnya ia pergi menjauh dari kehidupan yang biasa sekitar tahun 269, jauh di padang gurun untuk menjalani hidup hermit. Anthony the great meninggal pada tahun 356 pada usia yang sangat lanjut yaitu 156 tahun. Ia dianggap sebagai Church Fathers in the monk dan dia dikenal sebagai bapa gereja yang memiliki perkataan yang bagus dan indah. Hidup hermit juga tidak melakukan komunikasi dengan orang lain.

Kehidupan biara atau hermit banyak ditemukan di daerah Sketis dan Nitria. Di sini juga terdapat bapa – bapa gereja yang di temukan seperti : Moses, Pambo, Abraham, John Colobos dan Makarius. Ajaran barat juga diperoleh dari seorang biara bernama John Cassian seorang Bapa padang gurun. Di bagian Mesir dibagi menjadi 3 yaitu ada Senogitik (hidup berkomunitas tetapi dipimpin oleh seorang Bapa gereja) Asketik dan Hermit. Di negara Syiria para biarawan memiliki suatu kehidupan yang sungguh – sungguh. Di kapadokia yaitu seorang bapa bernama Basil the Great juga hidup membiara. Kehidupan seorang biara bernama Bapa Athanasius, salah satu pelajaran yang paling penting adalah John Cassian.

Dia  adalah seorang anak muda, yang membiara di Mesir utnuk mempelajari Desert Fathers kemudian ia dipengaruhi oleh Evagrius, kemudian ia menjadi seorang Diaken, di sebuah gereja di Konstatinopel, dari sana dia diutus oleh John Krisostom melakukan misi di barat yaitu di Roma. Disanalah dia tinggal dibarat sekitar 415 ttahun lalu dia mendirikan monastri di Marseilles. Disana dia menulis dua buah buku yang berjudul “Institutes” dan “Confrences” dimana ini merupakan sebuah pondasi dasar dari pengajaran Desert Fathers.

Pengajaran dari Aphobtegmata Patrum adalah mengabarkan biara-biarawan atau Desert Fathers atau Abba mengajarkan mereka untuk berdoa, bagaimana mereka mengalami suatu melatih ulang tubuh, jiwa dan pikiran mereka kepada

Allah. Itulah yang mereka selalu bicarakan. Sehingga perkataan – perkataan itulah yang akhirnya mereka catat. Contoh dari perkataan Bapa Agathon yang mengatakan “ Doa adalah kerja keras, dan suatu perjuangan sampai nafas terakhir kita.” Kemudian ada cerita Lot. Didalam kehidupan Desert Fathers ini dalam tradisi Senotik ada spiritual Fathersnya tetapi tidak seperti mentoring, ini adalah seorang biarawan yang lebih senior, yang hanya memberikan perkataan – perkataan pada saat yang tertentu saja jadi tidak di mentor setiap saat. Jadi ada Great ekonomi words, mereka sangat irit sekali berkata – kata dan lebih banyak diam. Ada seorang biara yang pernah datang ke Basil dan berkata, berbicaralah kepada ku satu kata Bapa.

Kemudian Basil mengatakan “Kamu harus mengasihi sesama mu seperti dirimu sendiri.” Saya sudah melakukan apa yang Tuhan katakan yaitu saya sudah mengasihi sesama saya.” Maka Basil berkata lagi, “Sekarang kamu harus mengasihi tetanggamu seperti dirimu sendiri.” Lalu biarawan itu kembali lagi dan melakukan apa yang Basil katakan. Jadi, Spiritual Fathers itu hanya memberikan arahan – arahan dan perkataan yang baik untuk dilakukan. Evagrius seorang biarawan pernah berkata, setiap kamu tinggal di Aleksandria kamu akan menjadi Bishop yang besar. Evagrios sadar, jadi dia mengerti dia terlalu banyak bicara. Arsenius juga seperti itu, Kaisar Emparius juga belajar untuk mengatakan hal yang penting saja.

Radical Simplicity and Common Sense

(Radikal, Kesederhanaan dan akal sehat)

Kehidupan seorang biara yang sungguh-sungguh menjalani kehidupan yang sangat radikal yang menjauh dari kehidupan masyarakat. Inilah kebutuhan hidup  oleh seorang biara yaitu suatu gubuk dari batu, tempat tidur, sebuah kulit domba, sebuah lampu, bejana air atau minyak, makan yang cukup dan jam tidur yang diatur seperti : tidur satu jam di malam hari cukup. Kehidupan seorang biara juga sangat menjaga pola makannya. Biasanya mereka menjalani puasa. Sekali makan itu cukup dalam sehari. Jadi, yang dilakukan oleh seorang biara merupakan kehidupan yang dilakukan seperti malaikat. Contohnya ada seorang adik yang bernama John the Dwarf yang mengumumkan kepada abangnya, bahwa ia akan pergi ke Desert ( Padang gurun) dan menjalani kehidupan seperti kehidupan malaikat.

Beberapa hari kemudian, ia mengalami kelaparan yang luar biasa. Akhirnya ia mengetuk pintu, lalu John sekarang adalah seorang malaikat dan John akhirnya meminta makanan. Jadi kehidupan di padang gurun adalah kehidupan yang selalu berjuang secara berkelanjutan sama seperti berdoa. Misalnya, cerita seorang Bapa bernama Anthony yang sedang santai diluar selnya, lalu datang seorang pemburu dan menyapa mereka. Anthony berkata: “Turunkan panahmu, tembaklah panah itu, arahkan panah mu dan tembaklah panahmu, kemudian tembaklah lagi, dan lagi.” Lalu si pemburu itu berkata : “Lalu jika aku terus menembak maka anak panah ku akan patah, maka panah ku akan patah,” lalu Anthony berkata : “Jika kita terus menekan kehidupan kita maka kita juga akan patah.”

Jadi ada masanya kita harus relax atau santai dalam menjalani kehidupan di padang gurun. Anthony juga sering turun ke kota untuk menolong orang yang sakit, melawan ajaran – ajaran yang sesat, dia juga orang yang mengadakan charity (amal) dan juga mukjizat di tengah masyarakat yang dilakukan oleh pertolongan dari Allah contohnya cerita dari Arsenius, dan Moses. Bapa padang gurun melakukan Askesis di padang gurun dan di gua-gua.

Doa dan Keheningan

Apa yang dilakukan oleh bapa – bapa padang gurun ketika mereka sendiri? Biasanya mereka menghapal kitab Mazmur, kemudian berdoa Jesus Prayer, seperti “Lord Jesus Christ Son of God have mercy upon me.” Ini merupakan Hesikia yang mereka jalani. Jadi, bagaimana mereka menciptakan hati mereka setenang air dan dapat melihat kehidupan mereka? Ini merupakan kehidupan yang tidak pernah putus dan tidak pernah memikirkan hal – hal duniawi (The angelic/monastic life). Anthony berkata : “Aku dan Allah ada disini sendiri atau kami ada disini bersama Allah” maka ia memasuki doa dalam keheningan atau Hesikia. Disatu sisi juga mereka berdoa bersama dengan Tuhan.

Kemudian juga menolong orang yang sakit, menerima kunnjungan – kunjungan dan bagaimana menjalani kehidupan dengan benar. Kehidupan yang mereka jalani juga seperti tidur, makan secukupnya, tinggal di gua – gua batu, kemudian hanya punya air, tempat bejana atau air untuk minyak ini menandakan kehidupan yang sangat sederhana. Mereka juga orang – orang yang enjoy atau santai (Common Sense). Bapa padang gurun juga bukan master yang harus dipuja, tetapi mereka hanya memberi arahan yang baik. Dan biasanya para murid dan orang – orang yang meminta perkataan – perkataan yang baik sperti :“Katakanlah kepada ku sebuah perkataan.” Junior biasanya datang kepada senior dan berkata : “Katakan suatu perkataan” Lalu Bapa Spiritual Fathersnya akan memberika perkataan – perkataan singkat. Pertanyaan yang biasanya mereka tanyakan adalah bagaimana caranya kami dapat diselamatkan?

Silents (Hening)

Pengajaran yang paling penting yaitu tentang Doa. Karena ini merupakan jantung dari kehidupan mereka. Inti dari kehidupan mereka adalah Stillnes atau keheningan. Hening adalah keadaan dimana kita harus diam berada didalam hadirat Tuhan. Kita akan mempelajari tiga hal. Pertama adalah Sel, artinya kita menempatkan diri kita dihadapan Allah. Artinya silent yang selalu penuh. Matius 6:6 “Masuklah dalam kamar dan tutuplah pintu.” Kita tidak kosong tetapi penuh dengan suatu pengharapan yaitu Allah akan datang. Kita menjadi diam atau Silents baik dari gosip atau yang lainnya. Didalam silents ini ketika kita menutup pintu sel kita, disitulah kita dapat mencapai repost atau menjauh dari hal-hal dunia.

Bagaimana kita dapat diam ditengah dunia ini yang sibuk dengan banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan, apakah mungkin desert fathers ini relevan untuk sekarang? Inilah jawabannya, tubuh bisa saja sibuk dalam waktu 24 jam, tetapi cobalah untuk meluangkan waktu 5 menit saja untuk hening sejenak atau bersekutu dengan Tuhan. Tetapi jika tubuh kita tidak bisa rest atau silent maka kita tidak dapat masuk kedalam keheningan atau silence. Jadi, ketika kita masuk dalam keheningan atau kamar, kita tidak berbicara tentang tubuh saja tetapi jiwa dan roh juga masuk karena ini merupakan bagian yang tidak terpisah.

 Jika tubuh kita sibuk bekerja, bagaimana dengan hati dan jiwa kita? Itu yang harus kita latih untuk belajar diam didalam hadirat Tuhan. Setelah kegiatan kita selesai, cobalah untuk merepost diri dengan cara hening didalam hadirat Tuhan. Silence menjadi satu isi dari Hesikia karena pribadi kita dan Allah ada didalam keheningan. Sehingga Silence menjadi konten dari Hesikia yang menuju kepada keselamatan. Ada satu perkataan yang mengatakan jika kamu ingin diselamatkan maka kejarlah kemiskinan dan Silence (Hening) karena dari siniliah kunci dari kebajikan. Itu semua dicapai dengan silence (hening). Ketika seseorang sudah Silence dan mencapai Hesikia.

Karena Allah itu melampaui waktu, Dia tidak hanya dijumpai dalam waktu tertentu karena Dia ada diruang waktu. Jadi Hesikia jalan untuk mencapai masuk kedalam kerajaan surga. Jika kita bersama dengan Tuhan maka kita berada dalam kerajaan surga. Ibu dari pertobatan yaitu dengan silent kita punya satu kekuatan untuk menenangkan dari logismoi atau pikiran jahat. Dan kita belajar untuk menjadi rendah hati. Jadi mengendalikan pikiran kita dan menjauhkan kita dari dunia. Luar biasa jika kita sudah mencapai Hesikia. Mari kita mencoba untuk hening. Tutuplah pintu itu juga berarti kita menutup panca indera kita. Jadi pada akhirnya silence itu berarti keadaan hati, dan pikiran kita dihadapan Allah.

Kita tidak akan bisa mendengarkan khotbah atau Firman Tuhan jika kita tidak bisa silence atau hening. Silence sangat menolong kita untuk masuk didalam hadiratNya. Ketika kita marah maka mari masuk kedalam sel kita, dan jangan terprovokasi dengan keadaan sekitar kita. Ketika kita bisa tenang maka Allah akan memberi kita Anugerah dan kekuatan.

Sumber : Youtube Hendi Wijaya “The Spiritual of Desert Fathers” https://youtu.be/FT4IMBj60ZI

Nama : Elizabeth Situmorang

Semester : 7

Mata Kuliah : “Spirituality of Desert Fathers”

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S, s

Refleksi Diri

“Melakukan Kehendak Tuhan”

Ayat Bacaan : 1 Petrus 2:1-25


Semua orang pasti menginginkan kasih karunia dari Tuhan. Berbagai hal yang kita lakukan untuk mendapatkan kasih karunia dari Allah. Setelah kita mendapatkan kasih karunia dari Allah, langkah selanjutnya adalah melakukan kehendak Allah. Oleh karena itu kita harus belajar untuk mengikis segala keinginan daging kita. Artinya kita menjauhkan diri dari hawa nafsu yang membuat kita semakin menginginkan kehendak kita. Karena kita telah dipilih oleh Tuhan. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan diantaranya :

  • Perbuatan baik ( Ayat 15)
    Semua orang memilki sifat baik. Firman Tuhan berkata Manusia diciptakan oleh Allah sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Perbuatan baik menghasilkan sebuah buah yang dapat dirasakan oleh semua orang. Seperti orang yang sedang tertawa, tersenyum, menangis, yang dapat menular, maka perbuatan baik juga dapat menular dari satu orang ke semua orang.
    Perbuatan baik bisa kita lakukan setiap hari. Dimulai dari tersenyum kepada orang lain, memberi salam kepada orang dengan sopan, mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menolong kita, memaafkan orang yang bersalah kepada kita dsb. Perbuatan baik yang kita lakukan bukan semata – mata karena kita ingin dipuji, tetapi supaya kita belajar dari Tuhan yang sudah memberikan kebaikan kepada kita oleh kasih karunia Nya kepada kita.

  • Hidup sebagai orang yang merdeka
    Orang yang merdeka adalah orang yang bebas dari penjajahan, perbudakan, kerja paksa. Artinya hidup sebagai hamba Tuhan, berarti kita hidup didalam sebuah aturan yang dibuat oleh Tuhan. Merdeka diartikan sebagai tidak terkena atau lepas dari tuntutan. Setelah kita lepas dari tuntutan itu artinya kita harus mau belajar untuk dibina dan taat akan peraturan yang membuat kita merdeka. Sehingga hidup kita dituntun oleh kebenaran firman Tuhan. Apabila kehidupan kita dituntun oleh kebenaran firman Tuhan maka kita sedang belajar untuk hidup menjadi hamba Allah.

  • Menghormati semua orang
    Semua orang ingin dihormati, bahkan ada orang yang ingin selalu dihormati. Apabila kita belum bisa belajar untuk menghormati orang lain maka mari kita belajar untuk menghormati Tuhan. Untuk menghormati semua orang, kita membutuhkan Tuhan untuk merendahkan hati kita terlebih dahulu. Setelah kita bisa merendahkan hati kita maka langkah selanjutnya adalah belajar untuk menghormati orang lain. Sebuah istilah dikatakan apabila kita ingin dihormati maka kita harus belajar untuk menghormati orang lain.

Kesimpulan :
“Milikilah kasih karunia dari Allah dengan melakukan kehendak Allah”

TUGAS AKHIR APOSTOLIC FATHERS

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SOTERIA PURWOKERTO

APOSTOLIC FATHERS

(Pre-Lent, Lent, Pascha, & 12 Great Feasts)

Nama :Elizabeth Situmorang

Tingkat : 2 (Semester 4)

Pendahuluan

Beberapa gereja mungkin tidak mengetahui minggu – minggu yang diperingati oleh bapa –  bapa gereja yang ada di beberapa daerah atau dunia. Para Bapa Gereja khususnya Gereja timur memiliki kalender yang fungsinya untuk memperingati  hari – hari kehidupan Para Rasul, Para Nabi, Para Martir dan Bapa – Bapa Gereja. Setelah kebangkitan Tuhan Yesus Kristus ke surga Gereja timur memperingati minggu – minggu Pentakosta dari minggu pertama sampai minggu yang ke tiga puluh dua. Dalam  minggu – minggu ini gereja memperingati berbagai peristiwa penting, sejarah, histori  dari para rasul, nabi, bapa gereja dan  martir. Berbagai lanjutan minggu – minggu setelah pentakosta yang akan dijelaskan penulis serta 12 perayaan besar yang diperingati gereja sebagai perayaan yang seharusnya dilakukan seluruh gereja namun kini kehilangan eksistensinya. Penulis berharap dari materi yang disampaikan pembaca dapat memahami serta mengambil makna dan pelajaran untuk dapat memberitakan Injil serta melakukan perbuatan baik dalam kehidupan ini. Penting bagi setiap orang beriman membangun spiritualitas mereka dengan mengikuti pembacaan Kitab Suci setiap hari dan tema-tema mingguan (Lectionary) dan perayaan gerejawi (Feasts) selama 1 tahun sesuai kalendar gerejawi (the Church Year). Mengikuti Lectionary dan Feasts dengan teratur akan membuat spiritualitas orang percaya semakin berakar di dalam Kristus (fondasi yang kokoh) dan dibangun di atas Dia (semakin tertata atau tersusun rapi) (Kol 2:7) sehingga gambar dan rupa Kristus akan semakin nyata di dalam diri orang percaya (Gal 4:19).

The Pre-Lenten Sundays

  1. Minggu Zakheus (Luk 19:1-10)

Mengajarkan kepada kita untuk datang dan aktif mencari anugerah Allah yang telah datang seperti Zakheus. Membuka pintu hati menerima Kristus dan mengalami pertobatan dari dosa-dosa kita seperti Zakheus adalah langkah awal yang harus kita kerjakan. Melalui pertobatan dan keselamatan kita ada banyak orang di sekitar kita juga boleh diselamatkan oleh anugerah Allah itu (ayat 9). Menjadi seperti Zakheus adalah langkah awal kita memasuki masa persiapan Paskah. Membuka pintu hati kita meresponi anugerah adalah iman yang hidup dan bersinergi dengan anugerah Allah. Rasul Suci Zakheus adalah seorang pemungut cukai yang kaya di Yerikho. Karena tubuhnya pendek, dia memanjat pohon ara untuk melihat Juruselamat lewat. Setelah Kenaikan Tuhan, Zakheus menemani Rasul Petrus dalam perjalanannya. Menurut tradisi, ia menjadi Uskup Kaisarea di Palestina, di mana ia meninggal dengan tenang. Diperingati oleh Gereja setiap tanggal 20 April.[1]

  • Minggu Orang Farisi dan Pemungut Cukai (Luk 18: 14-18)

Mengajarkan kepada kita untuk rendah hati mengakui dosa-dosa dan meminta belas kasihan Allah mengampuni dosa-dosa kita. Kita tidak melihat diri kita seperti orang Farisi yang selalu merasa benar melainkan seorang pemungut cukai yang berdosa dan membutuhkan belas kasihan atau pengampunan Allah. Dengan kerendahan hati dia memohon belas kasihan Allah sebab dia orang berdosa dan akhirnya dia dibenarkan atau diampuni Allah. Pengakuan dosa mendatangkan pengampunan.

Orang farisi dan pemungut cukai (diambil dari SEP Surabaya)

  • Minggu Anak yang Hilang (Luk 15:1-32)

Mengajarkan kepada kita untuk kembali kepada Bapa mendapatkan pengampunan dan pertobatan dari dosa-dosa. Kita semua seperti anak bungsu yang berdosa kepada Bapa namun hanya dengan cara kembali kepada Dia kita akan mendapatkan kehidupan sebab Dia adalah kasih bagi kita yang sungguh-sungguh mau bertobat. Pengakuan dosa harus diikuti pertobatan dosa dan itu menyenangkan hati Allah. Kita adalah anak yang hilang yang ditemukan kembali dan hidup kembali dengan jalan pertobatan.3

Ikon anak yang hilang (diambil dari Reformed)

  • Minggu Penghakiman Akhir (Mat 25:31-46)

Mengajarkan kepada kita untuk menjadi seperti domba yang mengasihi tanpa memandang muka yaitu mengasihi tuan dengan memberi makan, minum, merawat, memberi tumpangan, pakaian kepada orang yang paling hina. Kasih adalah buah dari pertobatan kita dan buah kasih inilah yang menyelamatkan kita dari kebinasaan atau api neraka yang mengerikan itu. Buah kasih adalah syarat lolos dari hari Kristus hari Penghakiman Akhir kepada setiap manusia di mana Kristus akan menjadi Hakim bagi mereka semua. Ketika kita bertemu Kristus kelak di hari yang menentukan dan menakutkan ini kita harus telah membawa buah pertobatan atau buah Roh itu.

Ikon Minggu Penghakiman Akhir (di ambil dari Gereja Orthodox Surabaya)

  • Minggu Pengampunan Dosa (Mat 6: 14-15)

Mengajarkan kepada kita untuk berdamai dengan semua orang yaitu mengampuni kesalahan orang lain. Pengampunan ini menunjukkan kepada kita bahwa kita memang orang berdosa yang tidak layak diampuni namun Allah telah mengampuni kita. Kita wajib mengampuni dosa orang lain karena kita sendiri juga berdosa dan butuh pengampunan Allah. Jika kita tidak mengampuni maka Allah juga tidak mengampuni sebab kita telah menjadi orang munafik di hadapan Allah (baca Mat 7:1-5). Bahkan sebelum kita meminta ampun kepada Allah kita terlebih dahulu harus berdamai dengan sesama kita (Mat 5:23-24). Mengampuni orang lain artinya kita berbuat seperti yang Allah perbuat untuk kita dan dengan demikian dosa kita juga diampuni Allah sehingga kita dan orang itu akan sama-sama mendapat kasih Allah dan hidup di dalam kekudusan.

ἐγώ εἰμι ἡ ἄμπελος, ὑμεῖς τὰ κλήματα. ὁ μένων ἐν ἐμοὶ κἀγὼ ἐν αὐτῷ, οὗτος φέρει καρπὸν πολύν, ὅτι χωρὶς ἐμοῦ οὐ δύνασθε ποιεῖν οὐδέν. (Yohanes 15:5 BYZ)

“I am the vine, you are the branches. He who abides in Me, and I in him, bears much fruit; for without Me you can do nothing.” (John 15:5 NKJV)

Keselamatan adalah hasil sinergi antara anugerah Allah (karya Roh kudus yang mencurahkan kasih Allah) dan iman manusia (respons manusia yang dituntun oleh anugerah Allah) (Efe 2:8). Keselamatan atau sinergi anugerah dan iman ini bukan karya manusia melainkan karya atau pemberian Allah. Free will manusia yang meresponi anugerah Allah adalah iman yang menyelamatkan dan itu adalah pemberian Allah bukan hasil usaha manusia. Namun di dalam anugerah atau pemberian Allah ada respons atau usaha manusia terhadap kasih Allah. Ada anugerah yang diberikan Allah kepada Rasul Paulus, namun Rasul Paulus tidak berdiam diri melainkan bekerja keras di dalam anugerah untuk memberikan buah.

Ada sinergi antara anugerah dan kerja keras Rasul Paulus namun itu semua semata-mata anugerah Allah (1 Kor 15:10). Seperti yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus bahwa di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya di dalam Kristus kita bisa berkarya menghasilkan buah. Buah adalah hasil sinergi antara pohon dan ranting yaitu Kristus berkarya di dalam perbuatan kita. Ada sinergi antara Kristus dan kita. Kita memikul kuk bersama Kristus (Mat 11:29-30). Kita berkarya di dalam Kristus atau kita berkarya bersama Kristus.

Cyril dari Alexandria menuliskan, “As the branch cannot bear fruit of itself, except it abide in the vine, so neither can ye, except ye abide in Me. For unless the branch had supplied to it from its mother the vine the life-producing sap, how would it bear grapes, or what fruit will it bring forth, and from what source? You will perceive that the language of Christ has an application by analogy to ourselves. For no fruit of virtue will spring up anew in us, who have once fallen away from intimate union with Christ. To those, however, who are joined to Him Who is able to strengthen them, and Who nourishes in righteousness, the capacity of bearing fruit will readily be added by the provision and grace of the Spirit, as by life-producing water. And knowing this, the Only-begotten said in the Gospels: If any man thirst, let him come unto Me and drink. And to this, the Evangelist, inspired by the Spirit, has testified, when in his excellent explanation he says: But this spake He of the Spirit, Which they that believe on Him were to receive. And the blessed David, speaking as though to God the Father, thus addressed Him: With Thee is the fountain of life, and Thou shalt give them to drink of the river of blessedness. For by the fountain of Divine and spiritual life and of the fulness of blessedness, who else could be meant but the Son, Who fattens and waters our souls in the position of branches clinging to Him by faith and love, with the quickening and joy-giving grace of the Spirit.”[2]

John Chrysostom menuliskan, “Here He alludes to the manner of life, showing that without works it is not possible to be in Him. And every branch that bears fruit, He purges it. That is, causes it to enjoy great care. Yet the root requires care rather than the branches, in being dug about, and cleared, yet about this He says nothing here, but all about the branches. Showing that He is sufficient to Himself, and that the disciples need much help from the Husbandman, although they be very excellent. Wherefore He says, that which bears fruit, He purges it. The one branch, because it is fruitless, cannot even remain in the Vine, but for the other, because it bears fruit, He renders it more fruitful.”[3]

Sinergi di dalam Yoh 15:5 adalah “Di dalam Kristus + Lakukan sesuatu = Buah” Apa yang harus kita lakukan di dalam Kristus? Tentunya kita sebagai ranting harus menghasilkan buah sehingga yang kita lakukan adalah pertumbuhan menuju buah yaitu mulai berakar, bertumbuh jadi pohon, dan berbuah. Kita telah lahir dari Allah sehingga memiliki benih ilahi (1 Yoh 3:9; 5:1). Benih ini harus ditanam di dalam tanah supaya berakar. Proses berakar adalah proses kematian benih menjadi akar dan bertunas. Itu adalah proses pertobatan kita dari dosa yaitu mematikan segala keinginan daging (Gal 5:24; Kol 3:5). Pertobatan ini salah satu yang harus kita lakukan di dalam Kristus supaya kita berakar dan bertumbuh di dalam Dia. Seperti bacaan-bacaan di dalam minggu persiapan Paskah di atas. Jadi, di dalam sinergi kita harus do something di dalam Kristus yaitu melakukan pertobatan dan hidup di dalam kasih dan pengampunan. Itu yang harus kita kerjakan dengan pertolongan Kristus melalui kuasa Roh Kudus yang menolong kita. Amin!

Ikon Minggu Pengampunan dosa (diambil dari Gereja Orthodox Surabaya)

The Lenten Commemorations

Kallistos Ware menuliskan bahwa Gereja memandang pribadi manusia sebagai satu kesatuan jiwa dan tubuh, selalu menekankan bahwa tubuh harus dilatih dan didisiplinkan, demikian pula jiwa. ‘Puasa dan pengendalian diri adalah kebajikan pertama, ibu, akar, sumber, dan fondasi semua kebajikan. Ada empat periode utama puasa sepanjang tahun: 1. Puasa Besar (Prapaskah) – dimulai tujuh minggu sebelum Paskah. 2. Puasa Para Rasul– dimulai pada hari Senin delapan hari setelah Pentakosta, dan berakhir pada tanggal 28 Juni, menjelang Perayaan Rasul Petrus dan Paulus; panjangnya bervariasi antara satu dan enam minggu. 3. Dormition Fast- berlangsung dua minggu, dari 1 hingga 14 Agustus. 4. Puasa Natal – berlangsung selama empat puluh hari, dari 15 November hingga 24 Desember.

  1. Hari Minggu Prapaskah Pertama (Ibrani 11: 24–26, 32–12: 2; Yohanes 1: 43–51)

   Hari Minggu Ortodoksi. [1] Jangan lupa kata yang tepat [2] yang kamu ucapkan kepada Tuhan, perbarui wasiatmu dengan-Nya yang kamu hancurkan karena kelalaianmu. Ingat bagaimana dan mengapa Anda memecahkannya dan mencoba untuk menghindari ketidaksetiaan lagi. Kata-kata yang indah tidak mulia; kesetiaan itu mulia. Bukankah mulia memiliki surat wasiat dengan seorang raja? Betapa lebih mulianya memiliki kesaksian dengan Raja segala raja! Tetapi kemuliaan ini menjadi aib Anda jika Anda tidak setia pada perjanjian ini. Berapa banyak orang hebat yang telah dimuliakan sejak awal dunia! Dan mereka semua telah dimuliakan karena kesetiaan mereka, di mana mereka berdiri teguh, terlepas dari kemalangan dan kesedihan yang besar sebagai hasil dari kesetiaan ini. Mereka diadili dengan cemoohan dan penjarahan yang kejam, ya, apalagi ikatan dan hukuman penjara: Mereka dirajam, mereka digergaji, dicobai, dibunuh dengan pedang: mereka berkeliaran di kulit domba dan kulit kambing; menjadi miskin, menderita, tersiksa; Dari siapa dunia tidak layak: mereka berkeliaran di padang pasir, dan di pegunungan, dan di sarang dan gua-gua di bumi…. Karenanya, melihat kita dibebani oleh begitu banyak awan saksi, mari kita berlari dengan sabar ras yang ditetapkan di hadapan kita, memandang kepada Yesus sang penulis dan penyempurnaan iman kita (Ibr. 11: 36-38; 12: 1 –2).

[1] Hari Minggu pertama Masa Prapaskah disebut “Hari Minggu Ortodoksi,” dan merayakan pemulihan pemujaan Ikon dan kemenangan Ortodoksi atas bidat Iconoclast.

[2] “Kata yang tepat” adalah referensi ke arti kata “Ortodoks” dalam bahasa Rusia, yang secara harfiah “memuliakan dengan benar.”[4]

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah menurut Orthodox of Church in America

Awalnya, para Nabi Musa, Harun, dan Samuel diperingati pada hari Minggu ini. Ayat-ayat Alleluia yang ditunjuk untuk Liturgi hari ini mencerminkan penggunaan yang lebih tua ini. Hari ini kita memperingati “Kemenangan Ortodoksi,” pemulihan ikon suci pada masa pemerintahan Permaisuri Suci Theodora (11 Februari).[5]

  • Minggu Ke-2 Masa Prapaskah Besar: St Gregory Palamas Diperingati pada 24 Maret (Ibrani 1:10—2:3; Markus 2:1–12)

Minggu ini awalnya didedikasikan untuk Saint Polycarp of Smyrna (23 Februari). Setelah pemuliaannya pada 1368, peringatan kedua Santo Gregorius Palamas (14 November) ditunjuk untuk Minggu Kedua Masa Prapaskah Besar sebagai yang kedua “Kemenangan Ortodoksi.”

Santo Gregorius Palamas, Uskup Agung Tesalonika, lahir pada tahun 1296 di Konstantinopel. Ayah Santo Gregorius menjadi tokoh terkemuka di istana Andronicus II Paleologos (1282-1328), tetapi ia segera meninggal, dan Andronicus sendiri mengambil bagian dalam pemeliharaan dan pendidikan anak lelaki yatim itu. Diberkahi dengan kemampuan yang baik dan ketekunan yang hebat, Gregory menguasai semua mata pelajaran yang kemudian mencakup program penuh pendidikan tinggi abad pertengahan. Sang kaisar berharap bahwa para pemuda akan mengabdikan dirinya untuk pekerjaan pemerintah. Tetapi Gregory, yang baru berumur dua puluh tahun, mengundurkan diri ke Gunung Athos pada tahun 1316 (sumber-sumber lain mengatakan 1318) dan menjadi seorang pemula di biara Vatopedi di bawah bimbingan Penatua monastik Saint Nicodemus dari Vatopedi (11 Juli). Di sana ia menjadi kaku dan mulai menempuh jalan asketisme. Setahun kemudian, Penginjil kudus, Yohanes, sang Teolog, menampakkan diri kepadanya dalam sebuah penglihatan dan menjanjikan perlindungan spiritualnya. Ibu dan saudara perempuan Gregory juga menjadi biarawan.

Setelah kematian Penatua Nikodemus, Santo Gregorius menghabiskan delapan tahun perjuangan spiritual di bawah bimbingan Penatua Nicephorus, dan setelah kematiannya yang terakhir, Gregorius dipindahkan ke Lavra Santo Athanasius (5 Juli). Di sini ia melayani di trapeza, dan kemudian menjadi penyanyi gereja. Tetapi setelah tiga tahun, ia menetap kembali di skete kecil Glossia, berjuang untuk tingkat kesempurnaan spiritual yang lebih besar. Kepala biara ini mulai mengajarkan kepada pemuda itu metode doa yang tak henti-hentinya dan aktivitas mental, yang telah dikembangkan oleh para biarawan, dimulai dengan pertapa gurun besar abad keempat: Evagrius Pontikos dan Saint Macarius dari Mesir (19 Januari).

Kemudian, pada abad kesebelas, Saint Simeon, Theologian Baru (12 Maret) memberikan instruksi terperinci dalam aktivitas mental bagi mereka yang berdoa dengan cara lahiriah, dan para petapa Athos menerapkannya. Penggunaan doa mental (atau doa hati) yang berpengalaman, membutuhkan kesunyian dan keheningan, disebut “Hesychasm” (dari bahasa Yunani “hesychia” yang berarti tenang, diam), dan mereka yang mempraktikkannya disebut “hesychast.”

Selama tinggal di Glossia, hierarki masa depan Gregory menjadi penuh dengan semangat hesychasm dan mengadopsinya sebagai bagian penting dari hidupnya. Pada tahun 1326, karena ancaman invasi Turki, dia dan para saudara lelaki mundur ke Tesalonika, di mana dia kemudian ditahbiskan menjadi imamat kudus.

Santo Gregorius menggabungkan tugas keimamannya dengan kehidupan seorang pertapa. Lima hari dalam seminggu ia habiskan dalam keheningan dan doa, dan hanya pada hari Sabtu dan Minggu ia keluar untuk umatnya. Dia merayakan kebaktian dan mengkhotbahkan khotbah. Bagi mereka yang hadir di gereja, ajarannya sering membangkitkan kelembutan dan air mata. Kadang-kadang ia mengunjungi pertemuan teologis pemuda berpendidikan kota, dipimpin oleh patriark masa depan, Isidore. Setelah dia kembali dari kunjungan ke Konstantinopel, dia menemukan tempat yang cocok untuk kehidupan menyendiri di dekat Tesalonika wilayah Bereia. Segera dia mengumpulkan di sini sebuah komunitas kecil para bhikkhu soliter dan membimbingnya selama lima tahun.

Pada tahun 1331 santo itu mundur ke Mt. Athos dan hidup dalam kesendirian di skete Saint Sava, dekat Lavra Saint Athanasius. Pada 1333 ia diangkat menjadi Igumen dari biara Esphigmenou di bagian utara Gunung Suci. Pada 1336 santo kembali ke skete Santo Sava, di mana ia mengabdikan dirinya untuk karya-karya teologis, melanjutkan ini sampai akhir hidupnya.

Pada tahun 1330-an peristiwa-peristiwa terjadi dalam kehidupan Gereja Timur yang menempatkan Santo Gregorius di antara para pembela universal Ortodoksi universal yang paling signifikan, dan membuatnya terkenal sebagai seorang guru hesychasm.

Sekitar tahun 1330 biksu Barlaam yang terpelajar telah tiba di Konstantinopel dari Calabria, di Italia. Dia adalah penulis risalah tentang logika dan astronomi, seorang orator yang terampil dan cerdas, dan dia menerima kursi universitas di ibu kota dan mulai menguraikan tentang karya-karya Santo Dionysius the Areopagite (3 Oktober), yang “apophatic” (“Negatif”, berbeda dengan “Katafatic” atau “positif”) teologi diakui dalam ukuran yang sama baik di Gereja Timur dan Gereja Barat. Segera Barlaam melakukan perjalanan ke Gunung Athos, di mana ia berkenalan dengan kehidupan spiritual para hesychast. Mengatakan bahwa mustahil untuk mengetahui esensi Tuhan, ia menyatakan doa mental sebagai kesalahan sesat. Dalam perjalanan dari Gunung Athos ke Tesalonika, dan dari sana ke Konstantinopel, dan kemudian lagi ke Tesalonika, Barlaam mengadakan perselisihan dengan para bhikkhu dan berupaya menunjukkan sifat material yang diciptakan dari cahaya Tabor (mis. Pada Transfigurasi). Dia mengolok-olok ajaran para biksu tentang metode doa dan tentang cahaya yang tidak tercipta yang dilihat oleh para hesychast.

Santo Gregorius, atas permintaan para biarawan Athonit, menjawab dengan peringatan lisan pada awalnya. Tetapi melihat usaha yang sia-sia seperti itu, ia menuliskan argumen teologisnya secara tertulis. Maka muncul “Triad dalam Pertahanan Hesychasts Suci” (1338). Menjelang tahun 1340, para petapa Athonit, dengan bantuan orang suci, menyusun tanggapan umum terhadap serangan-serangan Barlaam, yang disebut “Hagiorite Tome.” Di Dewan Konstantinopel tahun 1341 di gereja Hagia Sophia, Santo Gregorius Palamas berdebat dengan Barlaam, berfokus pada sifat cahaya Gunung Tabor. Pada tanggal 27 Mei 1341 Konsili menerima posisi Santo Gregorius Palamas, bahwa Allah, yang tidak dapat didekati dalam Esensi-Nya, menyatakan diri-Nya melalui energi-Nya, yang diarahkan ke dunia dan dapat dirasakan, seperti cahaya Tabor, tetapi yang tidak material atau diciptakan. Ajaran Barlaam dikutuk sebagai bid’ah, dan dia sendiri dibenci dan melarikan diri ke Calabria.

Tetapi perselisihan antara Palamit dan Barlaamites masih jauh dari selesai. Yang terakhir ini adalah murid Barlaam, bhikkhu Bulgaria Akyndinos, dan juga Patriark John XIV Kalekos (1341-1347); Kaisar Andronicus III Paleologos (1328-1341) juga condong ke pendapat mereka. Akyndinos, yang namanya berarti “orang yang tidak membahayakan,” sebenarnya menyebabkan kerugian besar dengan ajaran sesatnya. Akyndinos menulis serangkaian traktat di mana ia menyatakan Santo Gregorius dan para biarawan Athonit bersalah menyebabkan gangguan gereja. Santo, pada gilirannya, menulis bantahan terperinci atas kesalahan Akyndinos. Sang patriark mendukung Akyndinos dan menyebut Saint Gregory penyebab semua gangguan dan gangguan di Gereja (1344) dan membuatnya dikurung di penjara selama empat tahun. Pada 1347, ketika Yohanes XIV digantikan di atas takhta patriarki oleh Isidore (1347-1349), Santo Gregorius Palamas dibebaskan dan diangkat menjadi Uskup Agung Tesalonika.

Pada 1351, Konsili Blachernae dengan sungguh-sungguh menjunjung tinggi ajaran Ortodoksi. Tetapi orang-orang Tesalonika tidak segera menerima Santo Gregorius, dan ia terpaksa tinggal di berbagai tempat. Dalam salah satu perjalanannya ke Konstantinopel, kapal Bizantium jatuh ke tangan Turki. Bahkan dalam penahanan, Santo Gregorius berkhotbah kepada para tahanan Kristen dan bahkan kepada para penculiknya yang Muslim. Orang-orang Hagarena terpesona oleh kebijaksanaan kata-katanya. Beberapa Muslim tidak dapat menanggung ini, jadi mereka memukulinya dan akan membunuhnya jika mereka tidak berharap mendapatkan tebusan besar untuknya. Setahun kemudian, Santo Gregorius ditebus dan dikembalikan ke Tesalonika.

Santo Gregorius melakukan banyak mukjizat dalam tiga tahun sebelum kematiannya, menyembuhkan mereka yang menderita penyakit. Menjelang istirahat, Saint John Chrysostom menampakkan diri kepadanya dalam sebuah penglihatan. Dengan kata-kata “Ke ketinggian! Ke atas ketinggian! ”Santo Gregorius Palamas tertidur di dalam Tuhan pada tanggal 14 November 1359. Pada tahun 1368 ia dikanonisasi di Dewan Konstantinopel di bawah Patriarkh Philotheus (1354-1355, 1364-1376), yang menyusun Kehidupan dan Layanan kepada orang suci

  • Minggu ketiga Prapaskah. [Ibrani 4: 14–5: 6; Markus 8: 34–9: 1]

Siapa pun yang akan mengejarku, biarkan dia menyangkal dirinya sendiri, dan memikul salibnya, dan ikuti aku (Markus 8:34). Tidak mungkin untuk mengikuti Tuhan sebagai seorang penjajah tanpa salib, dan setiap orang yang mengikuti Dia, dengan sia-sia pergi dengan sebuah salib. Salib apa ini? Itu adalah segala macam ketidaknyamanan, beban dan kesedihan — yang sangat membebani baik secara internal maupun eksternal — di sepanjang jalan pemenuhan hati nurani dari perintah-perintah Tuhan, dalam kehidupan yang sesuai dengan semangat instruksi dan tuntutan-Nya. Salib semacam itu adalah bagian dari orang Kristen sehingga di mana pun ada orang Kristen, di sana ada salib ini, dan di mana tidak ada salib seperti itu, di sana tidak ada orang Kristen. Hak istimewa yang melimpah dan kehidupan yang menyenangkan tidak cocok dengan orang Kristen sejati. Tugasnya adalah membersihkan dan mereformasi dirinya. Dia seperti orang yang sakit, yang membutuhkan kauterisasi, atau amputasi; bagaimana ini bisa terjadi tanpa rasa sakit? Dia ingin melepaskan diri dari tawanan musuh yang kuat; tetapi bagaimana ini bisa terjadi tanpa perjuangan dan luka? Dia harus melawan semua praktik di sekitarnya; tetapi bagaimana ia dapat mempertahankan ini tanpa ketidaknyamanan dan kendala? Bersukacitalah saat Anda merasakan salib di atas diri Anda, karena itu adalah tanda bahwa Anda mengikuti Tuhan di jalan keselamatan yang menuntun ke surga. Bertahan sedikit. Akhir hanya sekitar sudut, serta mahkota![6]

Minggu ke-3 Masa Prapaskah Besar: Pemujaan Salib menurut Orthodox Church in America

Hari Minggu Ketiga Masa Prapaskah adalah Hari Penghormatan Salib. Salib berdiri di tengah-tengah gereja di tengah-tengah musim lentera bukan hanya untuk mengingatkan manusia akan penebusan Kristus dan untuk menjaga di hadapan mereka tujuan dari upaya mereka, tetapi juga untuk dihormati sebagai kenyataan bahwa manusia harus hidup untuk menjadi seperti itu. disimpan. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiku” (Mat.10: 38). Karena di dalam Salib Kristus disalibkan terletak “kuasa Allah dan hikmat Allah” bagi mereka yang diselamatkan (1 Kor.1: 24).[7]

  • Minggu ke-4 Masa Prapaskah Besar: St John Climacus (Tangga) Diperingati pada tanggal 7 April

Minggu keempat Prapaskah didedikasikan untuk Santo Yohanes Tangga (Climacus), penulis karya, Tangga Tangga Pendakian Ilahi. Kepala biara Biara Santo Catherine di Gunung Sinai (abad ke-6) berdiri sebagai saksi atas upaya kekerasan yang diperlukan untuk masuk ke Kerajaan Allah (Mat.10: 12). Perjuangan rohani kehidupan Kristen adalah nyata, “bukan melawan darah dan daging, tetapi melawan … penguasa kegelapan saat ini … tuan rumah kejahatan di tempat-tempat surgawi …” (Ef 6:12) . Santo Yohanes mendorong orang-orang beriman dalam upaya mereka untuk, menurut Tuhan, hanya “dia yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan” (Mat.24: 13).[8]

  • Minggu ke-5 Masa Prapaskah Besar: Maria dari Mesir diperingati pada 14 April

Saint Zosimas (4 April) adalah seorang biarawan di biara Palestina tertentu di pinggiran Kaisarea. Setelah berdiam di biara sejak masa kecilnya, ia tinggal di sana dalam pertapaan sampai ia mencapai usia lima puluh tiga. Kemudian dia terganggu oleh pemikiran bahwa dia telah mencapai kesempurnaan, dan tidak membutuhkan siapa pun untuk mengajarnya. “Apakah ada seorang bhikkhu di mana saja yang dapat menunjukkan kepada saya semacam asketisme yang belum saya capai? Apakah ada orang yang telah melampaui saya dalam ketenangan spiritual dan perbuatan? “

Tiba-tiba, seorang malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Zosimas, kamu telah berjuang dengan gagah berani, sejauh ini dalam kuasa manusia. Namun, tidak ada orang yang benar (Rm. 3:10). Supaya kamu bisa tahu berapa banyak cara lain menuju keselamatan, tinggalkan tanah asalmu, seperti Abraham dari rumah ayahnya (Kej. 12: 1), dan pergi ke biara di tepi sungai Yordan. “

Abba Zosimas segera meninggalkan biara, dan mengikuti malaikat itu, ia pergi ke biara Jordan dan menetap di sana.

Di sini dia bertemu para Penatua yang mahir dalam kontemplasi, dan juga dalam perjuangan mereka. Tidak pernah ada yang mengucapkan kata-kata kosong. Sebaliknya, mereka bernyanyi terus-menerus, dan berdoa sepanjang malam. Abba Zosimas mulai meniru aktivitas spiritual para biarawan suci.

Begitu banyak waktu berlalu, dan puasa Empat Puluh Hari suci mendekat. Ada kebiasaan tertentu di biara, itulah sebabnya Tuhan memimpin Santo Zosimas di sana. Pada hari Minggu Pertama Masa Prapaskah Agung igumen melayani Liturgi Ilahi, semua orang menerima Tubuh dan Darah Kristus yang Murni. Setelah itu, mereka pergi ke trapeza untuk jamuan kecil, dan kemudian berkumpul sekali lagi di gereja.

Para bhiksu berdoa dan bersujud, saling memohon ampun. Kemudian mereka bersujud di hadapan igumen dan meminta restunya untuk perjuangan yang ada di depan mereka. Selama Mazmur “Tuhan adalah Terang dan Juru Selamat saya, siapa yang harus saya takuti? Tuhan adalah pembela hidupku, kepada siapakah aku akan takut? ”(Mz 26/27: 1), mereka membuka gerbang biara dan pergi ke padang belantara.

Masing-masing membawa makanan sebanyak yang dia butuhkan, dan pergi ke padang pasir. Ketika makanan mereka habis, mereka makan akar dan tanaman gurun. Para bhikkhu menyeberangi sungai Yordan dan menyebar ke berbagai arah, sehingga tidak ada yang bisa melihat bagaimana orang lain berpuasa atau bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka.

Para bhikkhu kembali ke vihara pada Minggu Palem, masing-masing memiliki hati nuraninya sendiri sebagai saksi dari pertapaannya. Itu adalah aturan biara bahwa tidak ada yang bertanya bagaimana orang lain telah bekerja keras di padang pasir.

Abba Zosimas, sesuai dengan kebiasaan biara, pergi jauh ke padang pasir berharap menemukan seseorang yang tinggal di sana yang bisa menguntungkannya.

Dia berjalan ke hutan belantara selama dua puluh hari dan kemudian, ketika dia menyanyikan Mazmur dari Jam Keenam dan melakukan doa yang biasa. Tiba-tiba, di sebelah kanan bukit tempat dia berdiri, dia melihat sosok manusia. Dia takut, berpikir bahwa itu mungkin penampakan setan. Kemudian dia menjaga dirinya dengan Tanda Salib, yang menghilangkan rasa takutnya. Dia berbelok ke kanan dan melihat sosok berjalan ke selatan. Tubuhnya hitam dari sinar matahari yang terik, dan rambut pendeknya yang pudar berwarna putih seperti bulu domba. Abba Zosimas bersukacita, karena dia tidak melihat makhluk hidup selama berhari-hari.

Penghuni gurun melihat Zosimas mendekat, dan berusaha melarikan diri darinya. Abba Zosimas, melupakan usia dan kelelahannya, mempercepat langkahnya. Ketika dia cukup dekat untuk didengar, dia berseru, “Mengapa kamu lari dariku, orang tua yang berdosa? Tunggu aku, untuk cinta Tuhan. ”

Orang asing itu berkata kepadanya, “Maafkan aku, Abba Zosimas, tapi aku tidak bisa menoleh dan menunjukkan wajahku kepadamu. Saya seorang wanita, dan seperti yang Anda lihat, saya telanjang. Jika Anda mengabulkan permintaan seorang wanita berdosa, lemparkan jubah Anda sehingga saya bisa menutupi tubuh saya, dan kemudian saya bisa meminta restu Anda. “

Kemudian Abba Zosimas ketakutan, menyadari bahwa dia tidak bisa memanggilnya dengan nama kecuali dia memiliki wawasan spiritual.

Ditutupi oleh jubah itu, petapa itu menoleh ke Zosimas, “Mengapa kamu ingin berbicara denganku, seorang wanita yang berdosa? Apa yang ingin Anda pelajari dari saya, Anda yang belum menyusut dari kerja keras yang begitu hebat? ”

Abba Zosimas jatuh ke tanah dan meminta restunya. Dia juga membungkuk di hadapannya, dan untuk waktu yang lama mereka tetap di tanah masing-masing meminta yang lain untuk memberkati. Akhirnya, pertapa wanita itu berkata, “Abba Zosimas, Anda harus memberkati dan berdoa, karena Anda merasa terhormat dengan rahmat imamat. Selama bertahun-tahun Anda telah berdiri di depan altar suci, menawarkan Hadiah Suci kepada Tuhan. “

Kata-kata ini membuat Saint Zosimas semakin ketakutan. Dengan berlinang air mata dia berkata kepadanya, “Wahai Ibu! Jelas bahwa Anda hidup bersama Tuhan dan mati bagi dunia ini. Anda telah memanggil saya dengan nama dan mengakui saya sebagai seorang imam, meskipun Anda belum pernah melihat saya sebelumnya. Karunia yang diberikan kepadamu jelas, oleh karena itu berkatilah aku, demi Tuhan. “

Akhirnya, setelah menyerahkan permohonannya, dia berkata, “Diberkatilah Tuhan, Siapa yang peduli untuk keselamatan manusia.” Abba Zosimas menjawab, “Amin.” Kemudian mereka bangkit. Wanita pertapa itu lagi berkata kepada Penatua, “Mengapa kamu datang, Ayah, kepadaku yang adalah orang berdosa, kehilangan segala kebajikan? Rupanya, kasih karunia Roh Kudus telah membawamu untuk melakukan suatu pelayanan kepadaku. Tetapi pertama-tama beri tahu saya, Abba, bagaimana orang Kristen hidup, bagaimana Gereja dibimbing? “

Abba Zosimas menjawabnya, “Dengan doa-doa suci Anda Allah telah mengaruniakan Gereja dan kita semua kedamaian abadi. Tetapi penuhi permintaan tidak layak saya, Bunda, dan berdoalah untuk seluruh dunia dan bagi saya orang berdosa, agar pengembaraan saya di padang pasir tidak sia-sia. ”

Petapa suci itu menjawab, “Kamu, Abba Zosimas, sebagai seorang imam, harus berdoa untukku dan untuk semua, karena kamu dipanggil untuk melakukan ini. Namun, karena kita harus taat, aku akan melakukan apa yang kamu minta.

Orang suci itu berbalik ke arah Timur, dan mengangkat matanya ke surga dan mengulurkan tangannya, dia mulai berdoa dengan berbisik. Dia berdoa begitu lembut sehingga Abba Zosimas tidak bisa mendengar kata-katanya. Setelah waktu yang lama, sang Penatua mendongak dan melihatnya berdiri di udara lebih dari satu kaki di atas tanah. Melihat ini, Zosimas menjatuhkan dirinya ke tanah, menangis dan mengulangi, “Tuhan, kasihanilah!”

Kemudian dia tergoda oleh sebuah pikiran. Dia bertanya-tanya apakah dia mungkin bukan roh, dan apakah doanya bisa tulus. Pada saat itu dia berbalik, mengangkatnya dari tanah dan berkata, “Mengapa pikiranmu membuatmu bingung, Abba Zosimas? Saya bukan penampakan. Saya seorang wanita yang berdosa dan tidak layak, meskipun saya dijaga oleh Baptisan Kudus. ”

Kemudian dia membuat Tanda Salib dan berkata, “Semoga Tuhan melindungi kita dari si Jahat dan rencananya, karena sengit perjuangannya melawan kita.” Melihat dan mendengar ini, Penatua jatuh di kakinya dengan air mata sambil berkata, “Aku mohonlah kepadamu oleh Kristus, Allah kami, jangan menyembunyikan dariku siapa dirimu dan bagaimana kamu datang ke padang pasir ini. Ceritakan semuanya kepada saya, sehingga karya-karya Tuhan yang menakjubkan dapat terungkap. ”

Dia menjawab, “Aku sedih, Ayah, berbicara kepadamu tentang kehidupanku yang tak tahu malu. Ketika Anda mendengar kisah saya, Anda mungkin melarikan diri dari saya, seolah-olah dari ular berbisa. Tapi aku akan memberitahumu segalanya, Ayah, tidak menyembunyikan apa pun. Namun, saya menasihati Anda, jangan berhenti berdoa untuk saya orang berdosa, agar saya dapat menemukan belas kasihan pada Hari Penghakiman.

“Saya lahir di Mesir dan ketika saya berusia dua belas tahun, saya meninggalkan orang tua saya dan pergi ke Aleksandria. Di sana aku kehilangan kesucianku dan menyerahkan diriku pada sensualitas yang tak terkendali dan tak terpuaskan. Selama lebih dari tujuh belas tahun saya hidup seperti itu dan saya melakukan semuanya dengan gratis. Jangan berpikir bahwa saya menolak uang itu karena saya kaya. Saya hidup dalam kemiskinan dan bekerja di rami pemintalan. Bagi saya, hidup terdiri dari kepuasan nafsu kedagingan saya.

“Suatu musim panas saya melihat kerumunan orang dari Libya dan Mesir menuju ke laut. Mereka sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk Perayaan Permuliaan Salib Suci. Saya juga ingin berlayar bersama mereka. Karena saya tidak punya makanan atau uang, saya menawarkan tubuh saya sebagai pembayaran untuk perjalanan saya. Jadi saya memulai kapal.

“Sekarang, Ayah, percayalah padaku, aku sangat kagum, bahwa laut mentolerir kecerobohan dan percabulanku, bahwa bumi tidak membuka mulutnya dan membawaku turun hidup-hidup ke neraka, karena aku telah menjerat begitu banyak jiwa. Saya pikir Tuhan mencari pertobatan saya. Dia tidak menginginkan kematian orang berdosa, tetapi menunggu pertobatan saya.

“Jadi saya tiba di Yerusalem dan menghabiskan hari-hari sebelum hari raya menjalani kehidupan yang sama, dan mungkin bahkan lebih buruk.

“Ketika Perayaan Suci Pengangkatan Salib Yang Mulia Tuhan tiba, saya pergi seperti sebelumnya, mencari para pemuda. Saat fajar saya melihat bahwa semua orang menuju ke gereja, jadi saya pergi bersama yang lain. Ketika jam Ketinggian Suci hampir tiba, saya mencoba masuk ke gereja bersama semua orang. Dengan susah payah aku hampir sampai ke pintu, dan berusaha masuk ke dalam. Meskipun saya melangkah ke ambang pintu, seolah-olah ada kekuatan yang menahan saya, mencegah saya masuk. Aku disingkirkan oleh kerumunan, dan mendapati diriku berdiri sendirian di teras. Saya pikir mungkin ini terjadi karena kelemahan kewanitaan saya. Aku berusaha memasuki kerumunan, dan lagi-lagi aku berusaha menyikut orang. Betapapun kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa masuk. Tepat saat kakiku menyentuh ambang gereja, aku terhenti. Yang lain memasuki gereja tanpa kesulitan, sementara saya sendiri tidak diizinkan masuk. Ini terjadi tiga atau empat kali. Akhirnya kekuatan saya habis. Saya pergi dan berdiri di sudut serambi gereja.

“Kemudian saya menyadari bahwa dosa-dosa saya yang mencegah saya melihat Kayu yang Menciptakan Kehidupan. Rahmat Tuhan kemudian menyentuh hati saya. Saya menangis dan meratap, dan saya mulai memukuli payudara saya. Sambil mendesah dari lubuk hatiku, aku melihat di atas diriku ikon Theotokos Maha Kudus. Beralih kepada-Nya, saya berdoa: “O, Lady Virgin, yang melahirkan dalam daging untuk Allah Firman! Saya tahu bahwa saya tidak layak untuk melihat ikon Anda. Saya benar-benar mengilhami kebencian dan jijik di hadapan kemurnian Anda, tetapi saya juga tahu bahwa Allah menjadi Manusia untuk memanggil orang berdosa untuk bertobat. Bantu aku, O All-Pure One. Biarkan saya masuk ke gereja. Izinkan saya untuk melihat Kayu di atas mana Tuhan disalibkan dalam daging, mencurahkan Darah-Nya untuk penebusan orang berdosa, dan juga untuk saya. Jadilah saksiku di hadapan Putramu bahwa aku tidak akan menajiskan tubuhku lagi dengan kenajisan percabulan. Segera setelah saya melihat Salib Putra Anda, saya akan meninggalkan dunia, dan pergi ke mana pun Anda menuntun saya. “

“Setelah saya berbicara, saya merasa yakin akan belas kasihan Bunda Allah, dan meninggalkan tempat di mana saya berdoa. Saya bergabung dengan mereka yang memasuki gereja, dan tidak ada yang mendorong saya kembali atau mencegah saya masuk. Saya pergi dengan ketakutan dan gemetar, dan memasuki tempat suci.

“Jadi saya juga melihat Misteri Tuhan, dan bagaimana Tuhan menerima orang yang bertobat. Saya jatuh ke tanah suci dan menciumnya. Kemudian saya bergegas lagi untuk berdiri di depan ikon Bunda Allah, di mana saya telah memberikan sumpah saya. Membungkuk di depan Perawan Theotokos, saya berdoa:

“‘ O, Nyonya, kamu belum menolak doaku sebagai tidak layak. Kemuliaan bagi Allah, Yang menerima pertobatan orang berdosa. Inilah saatnya bagi saya untuk memenuhi sumpah saya, yang Anda saksikan. Karena itu, hai Nona, tuntunlah aku di jalan pertobatan. ‘ “Lalu aku mendengar suara dari tempat tinggi: ‘Jika kamu menyeberangi sungai Yordan, kamu akan menemukan istirahat yang mulia.”

“Saya segera percaya bahwa suara ini dimaksudkan untuk saya, dan saya berteriak kepada Bunda Allah:” O Lady, jangan tinggalkan aku! “

“Kemudian saya meninggalkan serambi gereja dan memulai perjalanan saya. Seorang pria memberi saya tiga koin ketika saya meninggalkan gereja. Bersama mereka, saya membeli tiga potong roti, dan bertanya kepada pedagang roti itu jalan ke Sungai Yordan.

“Sudah jam sembilan ketika saya melihat Salib. Saat matahari terbenam saya mencapai gereja Santo Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan. Setelah berdoa di gereja, saya pergi ke sungai Yordan dan membasuh wajah dan tangan saya di air. Kemudian di bait Santo Yohanes Pembuka yang sama ini saya menerima Misteri-misteri Pencipta Kehidupan Kristus. Kemudian saya makan setengah dari roti saya, minum air dari sungai suci Jordan, dan tidur di sana malam itu di tanah. Di pagi hari saya menemukan sebuah perahu kecil dan menyeberangi sungai ke seberang pantai. Sekali lagi saya berdoa agar Bunda Allah akan menuntun saya ke tempat yang Ia inginkan. Kemudian saya menemukan diri saya di padang pasir ini. “

Abba Zosimas bertanya kepadanya, “Berapa tahun telah berlalu sejak Anda mulai hidup di padang pasir?”

“‘ Kurasa, “jawabnya,” sudah empat puluh tujuh tahun sejak aku datang dari Kota Suci. “

Abba Zosimas lagi bertanya, “Makanan apa yang Anda temukan di sini, Ibu?”

Dan dia berkata, “Saya memiliki dua setengah roti bersama saya ketika saya menyeberangi sungai Yordan. Segera mereka mengering dan mengeras Makan sedikit demi sedikit, saya menghabiskannya setelah beberapa tahun. “

Lagi-lagi Abba Zosimas bertanya, “Apakah mungkin Anda selamat selama bertahun-tahun tanpa penyakit, dan tanpa menderita dengan cara apa pun dari perubahan total?”

“Percayalah padaku, Abba Zosimas,” kata wanita itu, “Aku menghabiskan tujuh belas tahun di hutan belantara ini (setelah dia menghabiskan tujuh belas tahun dalam amoralitas), melawan binatang buas: hasrat dan hasrat gila. Ketika saya mulai makan roti, saya memikirkan daging dan ikan yang saya miliki berlimpah di Mesir. Saya juga merindukan anggur yang sangat saya cintai ketika saya berada di dunia, sementara di sini saya bahkan tidak memiliki air. Saya menderita kehausan dan kelaparan. Saya juga punya keinginan gila untuk lagu-lagu cabul. Saya sepertinya mendengar mereka, mengganggu hati dan pendengaran saya. Menangis dan membentur dada saya, saya ingat sumpah yang telah saya buat. Akhirnya saya melihat Cahaya yang bersinar menyinari saya dari mana-mana. Setelah badai hebat, ketenangan abadi pun terjadi.

“Abba, bagaimana aku memberitahumu tentang pemikiran yang mendesakku untuk melakukan percabulan? Api sepertinya membakar dalam diri saya, membangkitkan keinginan untuk berpelukan. Kemudian saya akan menjatuhkan diri ke tanah dan menyiraminya dengan air mata. Saya sepertinya melihat Perawan Suci di hadapan saya, dan Dia tampaknya mengancam saya karena tidak menepati janji saya. Saya berbaring telungkup siang dan malam di tanah, dan tidak akan bangun sampai Cahaya yang diberkahi itu melingkari saya, mengusir pikiran jahat yang mengganggu saya. “Demikianlah saya hidup di padang belantara ini selama tujuh belas tahun pertama. Kegelapan demi gelap, kesengsaraan demi kesengsaraan berdiri di sekitarku, seorang pendosa. Tetapi sejak saat itu sampai sekarang Bunda Allah membantu saya dalam segala hal

 “Abba Zosimas bertanya lagi, “Bagaimana kamu tidak membutuhkan makanan, atau pakaian?”

Dia menjawab, “Setelah menghabiskan rotiku, aku hidup dengan tumbuh-tumbuhan dan hal-hal yang ditemukan orang di padang pasir. Pakaian yang saya miliki ketika menyeberang sungai Yordan menjadi sobek dan hancur berantakan. Saya menderita panas akibat musim panas, ketika panas terik menimpa saya, dan dari dinginnya musim dingin, ketika saya menggigil kedinginan. Berkali-kali saya jatuh ke bumi, seolah-olah mati. Saya berjuang dengan berbagai kesengsaraan dan godaan. Tetapi sejak saat itu sampai hari ini, kuasa Allah telah melindungi jiwa saya yang berdosa dan tubuh yang rendah hati. Saya diberi makan dan berpakaian oleh firman Allah yang maha kuasa, karena manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap kata yang keluar dari mulut Allah (Ul 8: 3, Mat.4: 4, Luke 4: 4) , dan mereka yang telah menyingkirkan orang tua itu (Kol 3: 9) tidak memiliki perlindungan, bersembunyi di celah-celah bebatuan (Ayub 24: 8, Ibr 11:38). Ketika saya ingat dari kejahatan apa dan dari dosa-dosa apa yang dibebaskan Tuhan kepada saya, saya memiliki makanan yang tidak tahan untuk keselamatan. ”

Ketika Abba Zosimas mendengar bahwa petapa suci mengutip Kitab Suci dari ingatan, dari Kitab Musa dan Ayub dan dari Mazmur Daud, ia kemudian bertanya kepada wanita itu, “Ibu, apakah Anda sudah membaca Mazmur dan buku-buku lainnya?”

Dia tersenyum mendengar pertanyaan ini, dan menjawab, “Percayalah, saya tidak melihat wajah manusia selain wajah Anda sejak saya menyeberangi sungai Yordan. Saya tidak pernah belajar dari buku. Saya belum pernah mendengar ada yang membaca atau bernyanyi dari mereka. Mungkin Firman Allah, yang hidup dan bertindak, mengajarkan pengetahuan manusia dengan sendirinya (Kol. 3:16, 1 Tes. 2:13). Inilah akhir dari kisah saya. Ketika saya bertanya ketika saya mulai, saya mohon kepada Anda demi Sabda Allah yang menjelma, Abba yang kudus, doakanlah saya, seorang pendosa.

“Lebih jauh lagi, aku memohon kepadamu, demi Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita, jangan beri tahu siapa pun apa yang telah kamu dengar dari saya, sampai Tuhan mengambilku dari bumi ini. Tahun depan, selama Masa Prapaskah, jangan menyeberangi Sungai Yordan, seperti kebiasaan biara Anda. ”

Sekali lagi Abba Zosimas kagum, bahwa praktik biaranya diketahui oleh pertapa wanita suci, meskipun dia tidak mengatakan apa-apa kepadanya tentang hal ini.

“Tetap di biara,” lanjut wanita itu. “Bahkan jika kamu mencoba meninggalkan biara, kamu tidak akan bisa melakukannya. Pada hari Kamis Agung dan Suci, hari Perjamuan Terakhir Tuhan, letakkan Tubuh dan Darah Kristus yang Menciptakan Kehidupan, Allah kita di dalam bejana yang kudus, dan bawalah itu kepada saya. Menunggu saya di sisi sungai Yordan ini, di tepi gurun, sehingga saya dapat menerima Misteri Suci. Dan katakan kepada Abba John, igumen komunitas Anda, ‘Lihatlah dirimu dan saudara-saudaramu’ (1 Tim 4:16), karena ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Jangan katakan ini kepadanya sekarang, tetapi ketika Tuhan akan menunjukkan. ” Meminta doanya, wanita itu berbalik dan menghilang ke kedalaman gurun.

Selama setahun penuh, Penatua Zosimas tetap diam, tidak berani mengungkapkan kepada siapa pun apa yang telah dilihatnya, dan dia berdoa agar Tuhan mengabulkannya untuk melihat petapa suci sekali lagi.

Ketika minggu pertama Masa Prapaskah Besar datang lagi, Santo Zosimas diwajibkan untuk tetap tinggal di biara karena sakit. Kemudian dia ingat kata-kata nubuat wanita itu bahwa dia tidak akan bisa meninggalkan biara. Setelah beberapa hari berlalu, Santo Zosimas disembuhkan dari kelemahannya, tetapi ia tetap berada di biara sampai Pekan Suci.

Pada Kamis Putih, Abba Zosimas melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menempatkan beberapa Tubuh dan Darah Kristus ke dalam piala, dan beberapa makanan dalam keranjang kecil. Kemudian dia meninggalkan biara dan pergi ke sungai Yordan dan menunggu pertapa. Santo itu tampak lambat, dan Abba Zosimas berdoa agar Tuhan mengizinkannya melihat wanita suci itu.

Akhirnya, dia melihat wanita itu berdiri di ujung sungai. Bersukacita, Santo Zosimas bangkit dan memuliakan Tuhan. Lalu dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa menyeberangi sungai Yordan tanpa perahu. Dia membuat Tanda Salib di atas air, kemudian dia berjalan di atas air dan menyeberangi sungai Yordan. Abba Zosimas melihatnya di bawah sinar bulan, berjalan ke arahnya. Ketika sang Tetua ingin bersujud di hadapannya, dia melarangnya, berteriak, “Apa yang kamu lakukan, Abba? Anda adalah seorang imam dan Anda membawa Misteri Suci Tuhan. ” Sesampainya di pantai, dia berkata kepada Abba Zosimas, “Berkatilah aku, Ayah.” Dia menjawabnya dengan gemetar, heran dengan apa yang telah dilihatnya. “Sesungguhnya Allah tidak berdusta ketika dia berjanji bahwa mereka yang menyucikan diri mereka akan menjadi seperti Dia. Maha Suci Engkau, ya Kristus, Allah kami, karena telah menunjukkan kepadaku melalui hamba-Mu yang kudus, betapa jauh aku dari kesempurnaan. “

Wanita itu memintanya untuk melafalkan Pengakuan Iman dan “Bapa Kami.” Ketika doa selesai, ia mengambil bagian dalam Misteri Suci Kristus. Kemudian dia mengangkat tangannya ke langit dan berkata, “Tuhan, sekarang biarkan hamba-Mu pergi dengan damai, karena mataku telah melihat keselamatan-Mu.”

Santo menoleh ke Penatua dan berkata, “Tolong, Abba, penuhi permintaan lain. Pergi sekarang ke biara Anda, dan dalam waktu satu tahun datanglah ke tempat di mana kami pertama kali berbicara. “

Dia berkata, “Seandainya saya bisa mengikuti Anda dan selalu melihat wajah suci Anda!”

Dia menjawab, “Demi Tuhan, berdoalah untukku dan ingat kesuksesanku.”

Sekali lagi dia membuat Tanda Salib di atas sungai Yordan, dan berjalan di atas air seperti sebelumnya, dan menghilang ke padang pasir. Zosimas kembali ke biara dengan sukacita dan teror, mencela dirinya sendiri karena dia tidak menanyakan nama orang suci itu. Dia berharap untuk melakukannya pada tahun berikutnya.

Setahun berlalu, dan Abba Zosimas pergi ke padang pasir. Dia mencapai tempat dia pertama kali melihat pertapa wanita suci. Dia terbaring mati, dengan tangan terlipat di dadanya, dan wajahnya menghadap ke timur. Abba Zosimas mencuci kakinya dengan air mata dan menciumnya, tidak berani menyentuh yang lain. Untuk waktu yang lama dia menangisinya dan menyanyikan Mazmur adat, dan mengucapkan doa pemakaman. Dia mulai bertanya-tanya apakah orang suci itu ingin dia menguburnya atau tidak. Dia tidak pernah memikirkan hal ini, ketika dia melihat sesuatu yang tertulis di tanah dekat kepalanya: “Abba Zosimas, kubur di tempat ini tubuh Mary yang rendah hati. Kembali ke debu apa itu debu. Berdoalah kepada Tuhan untuk saya. Saya beristirahat pada hari pertama bulan April, pada malam Paskah Kristus yang menyelamatkan, setelah mengambil bagian dalam Perjamuan Mistik. ”

Membaca catatan ini, Abba Zosimas senang mengetahui namanya. Dia kemudian menyadari bahwa Santa Maria, setelah menerima Misteri Suci dari tangannya, diangkut seketika ke tempat di mana dia meninggal, meskipun butuh dua puluh hari untuk menempuh jarak itu.

Memuliakan Tuhan, Abba Zosimas berkata kepada dirinya sendiri, “Sudah waktunya untuk melakukan apa yang dia minta. Tetapi bagaimana saya bisa menggali kuburan, dengan tidak ada apa-apa di tangan saya? ”Kemudian dia melihat sepotong kayu kecil ditinggalkan oleh seorang musafir. Dia mengambilnya dan mulai menggali. Tanahnya keras dan kering, dan dia tidak bisa menggalinya. Mendongak, Abba Zosimas melihat seekor singa besar berdiri di dekat tubuh orang suci itu dan menjilati kakinya. Ketakutan mencengkeram sang Penatua, tetapi dia menjaga dirinya dengan Tanda Salib, percaya bahwa dia akan tetap tidak terluka melalui doa-doa pertapa wanita suci itu. Kemudian singa itu mendekati sang Penatua, menunjukkan keramahannya pada setiap gerakan. Abba Zosimas memerintahkan singa untuk menggali kuburan, untuk menguburkan tubuh Saint Mary. Mendengar kata-katanya, singa itu menggali lubang yang cukup dalam untuk mengubur tubuhnya. Kemudian masing-masing pergi dengan caranya sendiri. Singa pergi ke padang pasir, dan Abba Zosimas kembali ke biara, memberkati dan memuji Kristus, Allah kita.

Sesampainya di biara, Abba Zosimas menceritakan kepada para biarawan dan igumen, apa yang telah dilihat dan didengarnya dari Santa Maria. Semua heran, mendengar tentang mukjizat Allah. Mereka selalu mengingat Santa Maria dengan iman dan cinta pada hari istirahatnya. Abba John, igumen biara, mengindahkan kata-kata Santa Maria, dan dengan bantuan Tuhan mengoreksi hal-hal yang salah di biara. Abba Zosimas menjalani kehidupan yang menyenangkan Tuhan di biara, mencapai usia hampir seratus tahun. Di sana dia menyelesaikan kehidupan duniawinya, dan melewati kehidupan abadi.

Para bhikkhu meneruskan kehidupan Santa Maria dari Mesir dari mulut ke mulut tanpa menuliskannya.

“Namun saya,” kata Santo Sophronius dari Yerusalem (11 Maret), “menulis Kehidupan Santo Maryam dari Mesir ketika saya mendengarnya dari para Bapa Suci. Saya telah mencatat semuanya, menempatkan kebenaran di atas segalanya. ”

“Semoga Tuhan, yang melakukan mukjizat-mukjizat besar dan memberikan hadiah kepada semua orang yang berbalik kepada-Nya dengan iman, hadiahi mereka yang mendengar atau membaca kisah ini, dan mereka yang menyalinnya. Semoga dia memberi mereka bagian yang diberkati bersama dengan Santa Maria dari Mesir dan dengan semua orang suci yang telah menyenangkan Allah dengan pikiran dan perbuatan saleh mereka. Marilah kita memuliakan Allah, Raja yang Kekal, agar kita dapat berbelas kasihan pada Hari Penghakiman melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Kepada siapa semua kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan penyembahan bersama dengan Bapa yang Tidak Tercipta, dan Yang Mahakudus dan Roh yang Menciptakan Kehidupan, sekarang dan sampai selama berabad-abad. Amin.”[9]

Holly Weeks

Minggu Palma

  1. Minggu Palma: Pesta Masuknya Tuhan Kita ke Yerusalem (Filipi 4: 4–9; Yohanes 12: 1–18) Diperingati pada 21 April

Minggu Palma adalah perayaan masuknya kemenangan Kristus ke kota kerajaan Yerusalem. Dia menunggang seekor keledai yang telah Dia utus utus, dan Dia mengizinkan orang-orang untuk memuji Dia di hadapan umum sebagai seorang raja. Kerumunan besar bertemu dengan-Nya dengan cara yang sesuai royalti, melambaikan ranting-ranting pohon palem dan menempatkan pakaian mereka di jalan-Nya. Mereka menyambut Dia dengan kata-kata ini: “Hosanna! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan, bahkan Raja Israel! (Yohanes 12:13).

Hari ini bersama-sama dengan kebangkitan Lazarus adalah tanda-tanda yang menunjukkan di luar diri mereka pada perbuatan dan peristiwa besar yang menyempurnakan pelayanan duniawi Kristus. Waktu pemenuhan sudah dekat. Kristus yang membangkitkan Lazarus menunjuk pada kehancuran kematian dan sukacita kebangkitan yang akan dapat diakses oleh semua melalui kematian dan kebangkitan-Nya sendiri. Pintu masuknya ke Yerusalem adalah penggenapan nubuat tentang Mesias tentang raja yang akan memasuki kota sucinya untuk mendirikan kerajaan terakhir.

“Lihatlah, rajamu datang kepadamu, rendah hati, dan menunggang keledai, dan pada keledai, anak kuda keledai” (Zakh 9: 9).

Akhirnya, peristiwa kemenangan dua hari ini hanyalah perjalanan menuju Pekan Suci: “jam” penderitaan dan kematian yang dengannya Kristus datang. Dengan demikian kemenangan dalam arti duniawi sangat singkat umurnya. Yesus masuk secara terbuka ke tengah-tengah musuh-musuh-Nya, secara terbuka mengatakan dan melakukan hal-hal yang paling membuat mereka marah. Orang-orang itu sendiri akan segera menolak Dia. Mereka salah membaca kemenangan singkat duniawi-Nya sebagai pertanda sesuatu yang lain: kemunculan-Nya sebagai seorang mesias politik yang akan menuntun mereka menuju kejayaan kerajaan duniawi.

Janji Kami

Liturgi Gereja lebih dari sekadar meditasi atau pujian tentang peristiwa masa lalu. Ini mengomunikasikan kepada kita kehadiran dan kekuatan abadi dari peristiwa yang sedang dirayakan dan menjadikan kita peserta dalam peristiwa itu. Demikianlah pelayanan Lazarus Sabtu dan Minggu Palem membawa kita ke momen hidup dan mati kita sendiri dan masuk ke Kerajaan Allah: Kerajaan bukan dari dunia ini, Kerajaan yang dapat diakses di Gereja melalui pertobatan dan baptisan.

Pada hari Minggu Palem, pohon-pohon palem dan willow diberkati di Gereja. Kami membawa mereka untuk membangkitkan mereka dan menyapa Raja dan Penguasa hidup kita: Yesus Kristus. Kami menerima mereka untuk menegaskan kembali janji pembaptisan kami. Ketika Dia yang membangkitkan Lazarus dan memasuki Yerusalem untuk pergi ke Sengsara sukarela-Nya berdiri di tengah-tengah kita, kita dihadapkan dengan pertanyaan yang sama yang ditujukan kepada kita pada saat pembaptisan: “Apakah Anda menerima Kristus?” Kami memberikan jawaban dengan berani mengambil cabang dan angkatlah: “Aku menerima Dia sebagai Raja dan Tuhan!”

Dengan demikian, pada malam Sengsara Kristus, dalam perayaan siklus sukacita hari-hari kemenangan Lazarus hari Sabtu dan Minggu Palem, kita menyatukan kembali diri kita dengan Kristus, menegaskan Ketuhanan-Nya atas totalitas hidup kita, dan menyatakan kesiapan kita untuk mengikuti-Nya ke Kerajaan-Nya:

… agar aku dapat mengenal dia dan kuasa kebangkitannya, dan dapat berbagi penderitaannya, menjadi seperti dia dalam kematiannya, sehingga jika mungkin aku dapat memperoleh kebangkitan dari kematian (Filipi 3: 10-11).

  • Holy Monday: The Bridegroom

Pada hari Senin Kudus Gereja memperingati peristiwa kutukan pohon ara (Matius 21: 18-20). Dalam narasi Injil peristiwa ini dikatakan terjadi pada hari esok masuknya Yesus ke Yerusalem dengan kemenangan (Matius 21:18 dan Markus 11:12). Karena alasan inilah ia masuk ke liturgi Senin Kudus. Bersamaan dengan Yesus membersihan Bait Suci, peristiwa ini adalah manifestasi lain dari kuasa dan otoritas ilahi Yesus dan juga wahyu tentang penghakiman Allah atas ketidaksetiaan tua-tua Yahudi. Pohon ara yang melambangkan Israel menjadi mandul karena kegagalannya mengenali dan menerima Kristus dan ajaran-ajaran-Nya. Mengutuk pohon ara adalah perumpamaan dalam tindakan, suatu gerakan simbolik. Artinya tidak boleh hilang pada siapa pun di generasi mana pun. Penghakiman Kristus atas orang yang tidak beriman, tidak percaya, tidak bertobat, dan tidak mengasihi akan menjadi pasti dan menentukan pada Hari Terakhir. Peristiwa ini menjelaskan bahwa kekristenan formalitas tidak hanya tidak memadai, tetapi juga tercela dan tidak layak bagi kerajaan Allah. Iman Kristen yang sejati itu dinamis dan berbuah. Ini meresapi seluruh keberadaan seseorang dan menyebabkan perubahan. Iman yang hidup, benar, dan tidak tercemar membuat orang Kristen sadar akan fakta bahwa ia sudah menjadi warga Kerajaan Surga. Karena itu, cara berpikir, perasaan, tingkah laku dan wujudnya harus mencerminkan kenyataan ini. Mereka yang menjadi milik Kristus harus hidup dan berjalan dalam Roh; dan Roh akan membuahkan hasil di dalamnya: cinta, sukacita, damai, kesabaran, murah hati, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, pengendalian diri (Galatia 5: 22-25).

Referensi:

http://orthochristian.com/52793.html

  • Holy Tuesday: Parable of the Wise and Foolish Virgins

Perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh mengajarkan kepada kita untuk berjagajaga senantiasa menyambut kedatangan Sang Mempelai Laki-laki yaitu Yesus Kristus (baca juga Mat 9:15; Wah 19:6-10). Kedatangan Dia adalah hari Penghakiman yang kita tidak tahu hari dan waktunya (Mat 24:42; Mar 13:35; Luk 12:40). Lima gadis bodoh akhirnya tidak dapat masuk ke ruang perjamuan kawin bersama mempelai laku-laki sebab pintu sudah ditutup (ayat 10). Dan ayat 11, Matius menuliskan penyebab mereka tidak dapat masuk yaitu mereka tidak berjaga-jaga sehingga mereka tidak dikenal oleh sang mempelai. Apa artinya berjaga-jaga? Lima gadis bodoh sama seperti lima gadis bijaksana yaitu diberi tugas yang sama menyambut kedatangan sang mempelai laki-laki. Mereka membawa pelita masing-masing namun lima gadis bodoh itu tidak membawa persediaan minyak sehingga pada akhirnya pelita mereka akan padam sebelum kedatangan sang mempelai. Mereka tidak berjaga-jaga dan ini membuat mereka ditolak masuk. Berjaga-jaga artinya menjaga pelita tetap menyala sampai kedatangan sang mempelai. Bagaimana berjaga-jaga atau menjaga pelita itu tetap menyala? Kuncinya adalah menyediakan persediaan minyak yang cukup. Tanpa minyak maka pelita pasti akan padam. Minyak dan Pelita Perumpamaan di atas mengajarkan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga maka pelita kita harus menyala tidak boleh padam (lihat juga Luk 12:35). Di sinilah dibutuhkan keberjagaan yaitu harus menyediakan atau membawa minyak supaya pelita tetap menyala sampai Kerajaan Surga itu datang yaitu Sang Mempelai Laki-laki itu datang. Minyak adalah energi bagi pelita tetap menyala. Minyak itu adalah anugerah atau kasih karunia Allah sebagai energi ilahi bagi pelita kita. Pelita itu adalah terang yang berasal dari anugerah yang menerangi hati dan mata hati kita (2 Kor 4:6; Efe 1:18). Dan hati atau mata hati yang terang akan menerangi atau menjadi pelita bagi tubuh kita sendiri (Luk 11:34). Sehingga yang menjadi pelita itu adalah hati atau batin dan tubuh manusia. Hati dan tubuh manusia harus menjadi pelita atau terang. Sebab itu, hati kita harus dialiri oleh anugerah atau energi ilahi setiap hari supaya pelita hati kita tetap menyala.

Pelita Hati Pelita hati ini adalah api batin (inner flame) yang menjadi tungku bagi kehidupan spiritual kita. Tungku api ini tidak boleh padam sehingga kita harus terus menjaganya senantiasa. Bagaimana caranya? Nepsis atau keberjagaan batin dengan doa batin seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36 TB). John

Chrysostom menuliskan, “In anyone pours out water or dirt upon the light of a lamp, it goes out, and this also happens if they simply pour all of the oil out of it … in the same manner the gift of grace is extinguished. If you have filled your mind with earthly things, if you have given yourself up to the cares of daily business, you have already quenched the Spirit. The flame goes out when there is not enough oil, that is, when we do not show charity. The Spirit came to you by God’s mercy; and so if it does not find corresponding fruits of mercy in you, it will flee away from you. For the Spirit does not make its indwelling in the unmerciful soul.” St. Theophan menuliskan, “Learn to perform everything you do in such a way that it warms the heart instead of cooling it. Whether reading or praying, working or talking with others, you should hold fast to this one aim—not to let your heart grow cool. Keep your inner stove always hot by reciting a short prayer, and watch over your feelings in case they dissipate this warmth.” Lebih lanjut lagi dia menuliskan, “Cast aside everything that might extinguish this small flame which is beginning to burn within you, and surround yourself with that which can feed and fan it into a strong fire. Isolate yourself, pray… Your solitude must become more collected, your prayer deeper, and your meditation more forceful.”  St. Dimitri dari Rostov juga menuliskan, “To kindle in his heart such a divine love, to unite with God in an inseparable union of love, it is necessary for a man to pray often, raising the mind to Him. For as a flame increases when it is constantly fed, so prayer, made often, with the mind dwelling ever more deeply in God, arouses divine love in the heart. And the heart, set on fire, will warm all the inner man, will enlighten and teach him, revealing to him all its unknown and hidden wisdom, and making him like a flaming seraph, always standing before God within his spirit, always looking at Him within his mind, and drawing from this vision the sweetness of spiritual joy.” Doa keheningan adalah doa yang Kristus sentris, berpusat pada Kristus sehingga Roh Kudus berkarya mencurahkan anugerah itu ke dalam hati kita. Doa pada pagi hari pada jam pertama (pukul 5 atau 6 pagi) tentang Kristus yang adalah terang dunia begitu juga hidup kita adalah terang; doa pada jam ketiga (pukul 9 pagi) tentang Roh Kudus yang turun untuk melahirkan baru kita sehingga kita adalah manusia baru di dalam Kristus; doa pada jam keenam (pukul 12 siang) tentang penyaliban Yesus yang mengajarkan kita juga ikut menyalibkan keinginan daging kita; doa pada jam kesembilan (pukul 3 sore) tentang kematian Yesus menebus dosa kita yang mengajarkan betapa besar kasih Kristus untuk kita yang mengorbankan nyawa-Nya; doa pada petang hari pukul 6 tentang Yesus turun ke dalam kubur dan akan bangkit pada besok harinya mengajarkan kita untuk bangkit melawan dosa-dosa kita; doa pada malam hari sebelum tidur tentang Yesus yang tergeletak di dalam kubur mengingatkan kita akan kematian; dan doa tengah malam mengajarkan kita untuk berjaga-jaga seperti Kristus yang datang seperti pencuri di tengah malam. Baca juga artikel-artikel berikut tentang hati dan doa batin: https://hendisttrii.wordpress.com/2017/11/12/hati/ https://hendisttrii.wordpress.com/2017/05/07/%e2%80%8bapi-batin-inner-flame/ https://hendisttrii.wordpress.com/2018/12/04/hati-solitude/ https://hendisttrii.wordpress.com/2017/10/02/lord-jesus-have-mercy-on-me/

Terang Tubuh Keberjagaan hati atau mata hati dengan nepsis dan doa membuat inner flame atau api batin tetap menyala sehingga api batin ini akan memancar dari dalam ke luar dari tubuh kita. Artinya dengan mata hati atau hati yang terang akan menghasilkan perbuatan yang terang. Mata hati atau mata batin inilah Nous atau inti terdalam dari batin kita yang harus terus menyala oleh anugerah Allah. Sebab itu Lukas menuliskan bahwa pelita tubuh kita adalah mata batin itu (Luk 11:34). Mata kita adalah pelita bagi tubuh. Jika mata kita jahat artinya pelita hati itu padam maka tubuh menjadi gelap. Dan jika mata kita baik artinya pelita hati itu menyala maka tubuh menjadi terang. Pelita hati berbicara tentang baik dan jahat. Hati yang baik adalah hati yang menyala sehingga menjadi pelita hati yang menyinari tubuh. Hati yang baik adalah hati yang berjaga-jaga supaya tetap menyala. Hati yang baik adalah hati yang terus berdoa dan melawan hal-hal yang jahat yang bisa timbul di dalam hati seperti

dosa yang dilakukan oleh batin seperti pikiran-pikiran jahat (logismoi). Logismoi ini harus dimatikan dengan nepsis dan doa di dalam hati supaya tidak berubah menjadi nafsu daging yang jika dibuahi oleh tubuh/perbuatan maka menjadi dosa perbuatan yang membuat tubuh menjadi gelap. Sebab itu dengan pelita hati maka logismoi ini dimatikan sehingga tubuh menjadi terang. Hanya mata yang baik yaitu hati yang menyala atau mata hati yang terang maka tubuh akan menjadi terang. Jika mata tidak baik maka hati ini penuh dengan logismoi dan akibatnya tubuh dapat menjadi gelap jika logismoi ini dibuahi menjadi dosa. Baca juga artikel-artikel berikut: https://hendisttrii.wordpress.com/2017/11/21/egemonikon-dan-logismoi/ https://hendisttrii.wordpress.com/2017/06/24/%e2%80%8bproses-lahirnya-dosa-the-process-of-sin/

Good Works Berjaga-jaga berarti menjaga pelita hati dan tubuh tetap menyala sampai kedatangan Sang Mempelai Laki-laki. Menjaga pelita tetap menyala pada akhirnya harus mendatangkan perbuatan-perbuatan baik atau good works. Semua itu berasal dari anugerah Allah yang bekerja dari dalam sebagai minyak bagi pelita kita. Perbuatan-perbuatan baik itulah terang yang terpancar keluar dari pelita itu. Jika pelita itu adalah iman maka minyak itu adalah perbuatan-perbuatan baik yang membuat iman itu jadi hidup atau menyala. Tanpa buah perbuatan baik maka pelita kita sedang padam. Tubuh yang terang adalah perbuatan baik dan tubuh yang terang berasal dari hati yang terang. Hati yang terang itu karena ada anugerah yang bekerja di dalamnya. Tafsiran Bapa Gereja Jerome dengan tepat menuliskan, “This parable of the ten foolish and the ten wise virgins, some interpret literally of virgins, of whom there are according to the Apostle some who are virgins both in body and in thought, others who have preserved indeed their bodies virgin, but have not the other deeds of virgins, or have only been preserved by the guardianship of parents, but have wedded in their hearts. But from what has gone before, I think the meaning to be different, and that the parable has reference not to virgins only, but to the whole human race. For there are five senses which hasten towards heavenly things, and seek after things above. Of sight, hearing, and touch, it is specially said, “That which we have heard, which we have seen with our eyes, and our hands have handled.” There are also other five senses which gape after earthly husks. The virgins that have oil are they who, besides their faith, have the ornament of good works – they that have not oil, are they that seem to confess with like faith, but neglect the works of virtue. Or, “They slumbered,” i.e. they were dead. And then follows, “And slept, “because they were to be afterwards wakened. “While the bridegroom tarried, “hews that no little time intervened between the Lord’s first and second coming. The Jews have a tradition that Christ will come at midnight, in like manner asin that visitation of Egypt, when the Paschal feast is celebrated, and the destroyer comes, and the Lord passes over our dwellings, and the door posts of each man’s countenance are hallowed by the blood of the Lamb. Suddenly thus, as on a stormy night, and when all think themselves secure, at the hour when sleep is the deepest, the coming of Christ shall be proclaimed bythe shout of Angels, and the trumpets of the Powers that go before Him. This is meant when it says, “Lo, the bridegroom cometh, go ye out to meet him.” Or, These virgins who complain that their lamps are gone out, show that they are partially alight, yet have they not an unfailing light, nor enduring works. Whoso then has a virgin soul, and is a lover of chastity, ought not to rest content with such virtues as quickly fade, and are withered away when the heat comes upon them, but should follow after perfect virtues, that he may have an enduring light. And this oil is sold, and at a high cost, nor is it to be got without much toil; so that we understand it not of alms only, but of all virtues and counsels of the teachers. After the day of judgment, there is no more opportunity for good works, or for righteousness, and therefore it follows, “And the door was shut.” Their worthy confession calling Him, “Lord, Lord,” is a mark of faith. But what avails it to confess with the mouth Him whom you deny with your works?. For “the Lord knoweth them that are his,” and he that knoweth not shall not be known, and though they be virgins in purity of body, or in confession of the true faith, yet forasmuch as they have no oil, they are unknown by the bridegroom. When He adds, “Watch therefore, because ye know not the day nor the hour,” He means that all that has been said points to this, namely, that seeing we know not the day of judgment, we should be careful in providing the light of good works.” 

Referensi: Catena Aurea by Thomas Aquinas. Anthony M. Coniaris, Philokalia: The Bible of Orthodox Spirituality. Minneapolis: Light and Life Publishing Company, 1998.

  • Holy Wednesday: Washing of the Disciples Feet (Matthew 26:6–16)

“Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.” (Matius 26:6-16 TB) Perayaan hari Rabu Kudus memperingati 2 peristiwa penting yaitu Yesus diurapi minyak Narwastu oleh seorang perempuan dan Yesus dikhianati oleh murid-Nya sendiri, Yudas Iskariot. Bukan tanpa tujuan Sang Penginjil menyebutkan nama si kusta, Simon, agar Ia menunjukkan dari mana perempuan itu percaya dan datang kepada Yesus. Penyakit kusta adalah penyakit yang paling najis dan dibenci, namun perempuan itu telah melihat Yesus telah menyembuhkan orang itu (karena tentu dia tidak akan memilih untuk tinggal bersama seorang penderita kusta), dan pergi ke rumahnya; dia menjadi percaya bahwa Yesus juga akan dengan mudah menghapus kenajisan jiwanya. Perempuan itu datang kepada-Nya, sadar akan dirinya sendiri yang banyak kenajisan; tidak di depan umum tetapi di rumah. Dan sementara semua yang lain datang kepada-Nya untuk penyembuhan jasmani saja, namun dia datang kepada-Nya hanya dengan cara meninggikan Kristus dan untuk pemurnian jiwa. Perempuan itu tidak ada sama sekali menderita di tubuh. Dia menyeka kaki-Nya dengan rambutnya. Itu merupakan anggota paling terhormat dari seluruh tubuh dan ini dia letakkan di bawah kaki Kristus, bahkan kepalanya sendiri. Ketika perempuan itu memberikan yang terbaik kepada Yesus pada saat yang sama Sang Penginjil mencatat Yudas Iskariot, salah satu dari 12 murid, mengambil keuntungan dari Yesus dengan menjual gurunya sendiri. Dua peristiwa yang sangat kontras. Yang satu menyucikan diri dan satu lagi menajiskan diri. Seperti Yusuf yang dijual seharga 20 keping perak oleh saudara-saudaranya (Kej 37:28), Yesus dijual oleh Yudas Iskariot seharga 30 uang perak. Dua peringatan ini adalah lambang kontras antara orang-orang berdosa yang mau bertobat mendahului para pemimpin Agama Yahudi pada saat itu di dalam menerima Mesias dan keselamatan, serta mau mempersembahkan apa yang termahal dalam hidupnya kepada Kristus; dan orang berdosa yang mengeraskan hati sehingga tidak mau bertobat bahkan mengkhianati Sang Kristus karena dibutakan oleh ketamakan akan uang sehingga menjual Kristus bukannya mempersembahkan sesuatu kepada Kristus. Semua yang terjadi ini merupakan konfrontasi Kristus dengan Iblis yang mengendalikan hidup manusia (Yoh 6:70-71; 13:2, 27). Kristus datang untuk melepaskan manusia dari genggaman Iblis ini sebagaimana si perempuan yang bertobat itu, dan untuk menyembuhkan dari kodrat-Nya yang mengalami rusak akibat kejatuhan. Sebab itu, Gereja juga mengadakan sakramen kesembuhan dengan Minyak Pengurapan simbol dari Minyak Narwastu yang dipersembahkan perempuan itu kepada Kristus. Kidung-kidung yang bertema kontras antara pertobatan si perempuan dan pengkhianatan dan ketamakan Yudas Iskariot dipanjatkan di dalam sakramen kesembuhan. Pelepasan manusia dari Iblis dan kodrat yang rusak akibat kejatuhan itu akan dilaksanakan Kristus melalui penderitaan, penyaliban, kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya yang dilaksanakan dari Kamis Kudus sampai dengan Minggu Paskah yang dirayakan pada hari-hari esoknya. Bapa Gereja St. Gregory of Nazianzen dalam Orasi tentang Paskah menyatakan, “Kemarin aku disalibkan dengan Kristus, hari ini aku dimuliakan bersama-Nya; kemarin aku mati bersama-Nya, hari ini aku dihidupkan bersama-Nya; kemarin aku dikuburkan bersama-Nya, hari ini aku bangkit bersama-Nya. Tetapi marilah kita memberikan persembahan kepada Kristus yang mati dan bangkit kembali untuk kita. Mungkin Anda berpikir aku sedang berbicara tentang emas atau perak atau permadani atau batu-batu berharga yang berkilau, materi duniawi yang terus berubah dan tetap ada di bawahnya, yang sebagian besar selalu menjadi milik orang-orang jahat dan para budak dari hal-hal di bawah dan penguasa dunia ini. Mari kita menawarkan diri kita sendiri, milik yang paling berharga bagi Allah dan yang terdekat dengan-Nya. Mari kita berikan kembali kepada Gambar yang sesuai dengan gambar, mengenali nilai kita, memuliakan Pola Dasar, mengetahui kekuatan misteri dan untuk siapa Kristus mati.” “Marilah kita menjadi seperti Kristus, karena Kristus juga menjadi seperti kita; marilah kita menjadi ilahi karena Dia, karena Dia juga menjadi manusia karena kita. Dia berasumsi apa yang lebih buruk sehingga dia bisa memberikan yang lebih baik. Dia menjadi miskin yang kita lalui kemiskinannya membuat kita menjadi kaya. Dia mengambil rupa seorang budak, agar kita bisa mendapatkan kembali kebebasan. Dia turun agar kita dapat diangkat, Dia tergoda supaya kita bisa menang, Dia dipermalukan untuk memuliakan kita, Dia mati untuk menyelamatkan kita, Dia naik untuk menarik bagi kita sendiri yang terbaring di bawah dalam kejatuhan dosa. Mari kita memberikan segalanya, menawarkan segalanya, kepada orang yang memberikan dirinya sebagai tebusan dan pertukaran bagi kita. “Tetapi seseorang tidak dapat membandingkan dan memahami misteri-Nya karena Dia menjadi dirinya seperti kita karena kita.” (Festal Oration, St. Gregorius dari Nazianzus)

  • Holy Thursday

Pada hari ini, Kamis Kudus sesuai dengan urutan yang diwarisi oleh Gereja, kita merayakan empat peristiwa: Pembasuhan kaki oleh Yesus kepada para murid, Perjamuan Kudus, Penderitaan Tuhan di Taman Getsemani, dan Pengkhianatan Yudas Iskariot. 

Pada hari pesta roti tidak beragi, ketika menurut Hukum Perjanjian Lama seekor domba akan disembelih dan dimakan, saatnya tiba bahwa Juruselamat harus pergi dari dunia ini kepada Bapa (lih. Yoh 13: 1). Setelah datang untuk menggenapi hukum Taurat, Yesus Kristus mengutus murid-muridNya, Petrus dan Yohanes, ke Yerusalem untuk mempersiapkan Paskah, yang, sebagai bayang-bayang hukum, Ia ingin menukarnya dengan Paskah Baru — Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Ketika petang telah tiba, Tuhan datang dengan kedua belas murid-Nya ke sebuah ruangan atas yang besar dari seorang pria yang tinggal di Yerusalem (lihat Mar 14: 12–17) dan bersandar di sana. Memberitahu mereka bahwa Kerajaan Allah, yang bukan dari dunia ini, dan bukan kebesaran dan kemuliaan duniawi, tetapi cinta, kerendahan hati, dan kemurnian roh adalah yang membedakan muridnya, Tuhan bangkit dari meja dan membasuh kaki para murid-Nya. Setelah membasuh kaki dan bersandar lagi, Tuhan berkata kepada para murid-Nya: Apakah kamu tahu apa yang telah saya lakukan untuk kamu? Kamu memanggil Aku Guru dan Tuhan, dan kamu berkata dengan benar, karena aku memang seperti itu. Jadi, jika aku, Tuhan dan Gurumu, telah membasuh kakimu, maka kamu juga harus saling membasuh kaki. Karena aku telah memberi kamu sebuah contoh, sehingga kamu akan melakukan hal yang sama yang telah aku lakukan untukmu.

Setelah membasuh kaki, Yesus Kristus merayakan Paskah menurut Hukum Musa, dan kemudian melembagakan Paskah baru — misteri besar Perjamuan Kudus yang paling suci. Lembaga sakramen Perjamuan Kudus adalah peristiwa kedua yang diingat Gereja pada hari Kamis Putih.

Sakramen Perjamuan Kudus, yang dilembagakan oleh Tuhan di hadapan penderitaan dan kematianNya, menurut perintah-Nya, “ini adalah untuk mengenang Aku,” dari masa yang paling awal sampai sekarang telah dirayakan tanpa gangguan di banyak sekali meja mezbah suci dari Gereja Universal.

Pada perjamuan makan malam, Tuhan menubuatkan kepada para murid-Nya bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya, dan dia akan diberikan sepotong roti setelah Yesus mencelupkannya; dan orang itu adalah Yudas Iskariot. Ketika Yudas mengambil roti, iblis memasuki dia. Pada saat itu pengkhianat itu meninggalkan Kristus dan Gereja-Nya. Hari itu sudah malam (lihat Yoh 13: 1–30). Setelah menghentikan argumen para Rasul tentang siapa yang akan menjadi terbesar di antara mereka dan setelah menbuatkan apa yang akan terjadi kepada para Rasul, Tuhan pergi bersama mereka ke taman Getsemani di Bukit Zaitun (lih. Luk 22:24 -28; Mt. 26:30:35). Di sini penderitaan-Nya dimulai: pertama dalam jiwa dan kemudian dalam tubuh. Memulai penderitaanNya, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Duduklah di sini sementara aku pergi dan berdoa di sana.” Kemudian dengan membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang juga menyaksikan kemuliaan transfigurasi-Nya, Ia mulai bergumul. Jiwaku sangat sedih, bahkan sampai mati: tetaplah di sini, dan awasi aku (Mat 26:38), kata Yesus kepada murid-murid-Nya. Pergi sedikit lebih jauh ke sebuah batu, Dia menundukkan kepala dan berlutut dan berdoa sampai Dia berkeringat darah, sebagai seorang yang merasakan cawan penderitaan tetapi menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kehendak Bapa. Seorang malaikat muncul dari surga kepada Yesus Kristus dan menguatkan-Nya. Selama doa-Nya, Tuhan datang tiga kali kepada para murid-Nya dan berkata, berjaga-jagalah dan berdoa, agar kamu tidak masuk ke dalam pencobaan: roh memang berkehendak, tetapi daging lemah. Tetapi para murid tidak dapat berjaga-jaga dalam doa bersama Tuhan, karena mata mereka berat.

Doa Yesus Kristus di Getsemani mengajarkan kepada kita bahwa di tengah-tengah pencobaan dan kesedihan, doa memberi kita penghiburan besar dan kudus serta membenarkan kesiapan kita untuk bertemu dan menanggung penderitaan dan kematian. Tuhan juga menunjukkan melalui teladan-Nya sendiri sebelum penderitaan dan kematian-Nya kekuatan doa yang menghibur dan menguatkan. Pada saat yang sama, Dia menyarankannya kepada para Rasul yang bersedih: berjaga-jaga dan berdoa, agar kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan, karena roh penurut tetapi daging lemah.

Pada sekitar tengah malam, Yudas Iskariot datang ke taman bersama dengan banyak prajurit bersenjata yang dikirim oleh para imam besar dan tua-tua. Tuhan Sendiri mendatangi mereka dan menyapa mereka dengan kata-kata: “Ini aku”. Demikianlah Dia memberi tahu mereka siapa Dia, dan mereka terjatuh ke tanah karenanya. Kemudian Dia dengan rendah hati mengizinkan Yudas untuk mencium-Nya, dan para prajurit membawa Dia ke dalam penderitaan dan kematian (lih Mat 26: 36– 56; Markus 14: 32–46; Luk. 12: 38–53). Dengan demikian, Dia menunjukkan melalui kehidupan manusia-Nya kelanjutan dari kemahakuasaan ilahi-Nya dan otoritas atas hukum-hukum alam dengan sebuah kata: “Akulah yang telah melemparkan pengkhianat dan orang-orang jatuh ke tanah, memiliki banyak malaikat dalam kekuatanku, tetapi Aku telah datang untuk memberikan Diri-Ku sebagai korban untuk penebusan dosa-dosa dunia. Aku dengan sukarela dan dengan rendah hati menyerahkan Diri saya ke tangan orang berdosa!”

Referensi:

http://orthochristian.com/52879.html

  • Holy Friday

Ketika kita mempelajari agama-agama dunia, kita melihat bahwa sudah lazim bagi manusia untuk mempersembahkan korban kepada para dewa atau allah mereka, tetapi kekristenan adalah sesuatu yang sama sekali baru bahwa Tuhan harus mengorbankan diri-Nya untuk manusia. Namun inilah arti penyaliban. Tuhan dalam pribadi Yesus mati di kayu salib untuk kita. Penyaliban Yesus bukan hanya fakta sejarah; itu juga merupakan jendela yang memungkinkan kita untuk melihat kebenaran besar. Ada beberapa peristiwa lain dalam sejarah yang menjadi jendela. Galileo memandangi sebuah lampu gantung di katedral dan melihat di baliknya kebenaran tentang pergerakan bumi. Newton memandangi sebuah apel yang jatuh dari pohon dan melihat di baliknya ada kebenaran tentang gravitasi. Salib adalah jendela yang melaluinya kita melihat kebenaran agung dari kasih Allah bagi kita. “Allah begitu mencintai dunia sehingga Ia memberikan Anak tunggal-Nya sehingga siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16) Allah tidak lagi diam. Dia berbicara secara jelas dan berbeda. Ini terjadi di atas kayu salib. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8 TB) “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yoh 4:10 TB) “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yes 53:4-5 TB) “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:28 TB) “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Pet 1:18-19 TB) “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.” (Efe 1:7 TB) Seorang pendeta yang mengunjungi seorang yang sedang sekarat, sambil memegang salib di depan mata orang yang sekarat itu, berkata, “Salib ini menunjukkan betapa Tuhan sangat mencintaimu!” Ketika Kristus mati di kayu salib Dia berkata kepada kita, “Tidak ada yang bisa kamu lakukan padaku untuk menghentikanku mencintaimu. Kamu bisa mendurhakai aku; kamu dapat memukul aku dan melukai aku dan mencambukku; kamu mungkin membunuh aku di kayu salib, tetapi aku tidak akan pernah berhenti mengasihimu.” Semua yang terjadi pada Golgota memungkinkan kita untuk melihat ke dalam hati Allah yang pengasih, menderita, dan menebus. Manusia telah mempersembahkan korban kepada para dewa selama berabad-abad. Di Kalvari kita melihat satu, Allah yang benar mengorbankan diriNya untuk kita! “Tidak ada yang dapat menyamai keajaiban keselamatan saya: tetesan darah menciptakan kembali seluruh dunia” (St. Gregorius Nazianzus). “Untuk tujuan ini saya datang pada saat ini,” doa Yesus di Getsemani ketika Dia berlutut dalam doa, berkeringat darah untuk kita. Dua Garis  Lihatlah Salib dan ingat apa yang dikatakan Daud dalam Mazmur 103: 11-12, “tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Maz 103:11-12 TB) Jika kita memperhatikan dua ayat ini, kita memiliki dua garis besar, satu menjangkau dari surga ke bumi: “seperti langit yang tinggi di atas bumi, begitu besar kasih-Nya kepada mereka yang takut kepadanya.” Ini adalah garis vertikal dari Kasih Tuhan yang teguh. Garis lainnya membentang dari timur ke barat: “sejauh timur dari barat, sejauh ini Dia menghapus pelanggaran kita.” Ini adalah garis horizontal pengampunan Tuhan. Di mana dua garis besar pengampunan dan cinta ini bertemu, mereka membentuk sebuah salib yang membayangi kita masing-masing: bayang-bayang cinta pengampunan Allah.

“Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,” (1 Kor 1:23 TB) Hanya sekali dalam sejarah manusia ditanya: apa yang akan kamu lakukan kepada-Nya. Jawaban yang diberikan adalah, “Salibkan Dia.” Penyaliban Yesus adalah kejahatan yang mengerikan karena dilakukan terhadap orang yang tidak bersalah. Tetapi maknanya menjadi sangat menghebohkan ketika kita menyadari bahwa itu dilakukan untuk kita. Dan Tuhan membiarkan diri-Nya disalibkan untuk menebus kita. Penyaliban Penyaliban bukan cara biasa untuk menjatuhkan hukuman mati. Itu adalah hukuman mati yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang kelas bawah, para budak. Jika seorang warga negara Romawi melakukan kejahatan yang menuntut hukuman mati, ia akan dieksekusi dengan cara digantung atau dengan cara lain — tidak pernah dengan penyaliban. Kematian semacam itu, yang paling ditakuti di dunia kuno, kematian yang hanya cocok untuk budak, adalah kematian Yesus. Penyaliban berasal dari Persia. Asalnya berasal dari fakta bahwa bumi dianggap suci bagi dewa Ormuzd. Dengan demikian, penjahat diangkat dari sana agar ia tidak menajiskan bumi, yang merupakan milik Allah. Dari Persia, penyaliban menyebar ke Kartago di Afrika Utara dan dari sana ke Roma. Dengan menanggung segala dosa kita ke atas diri-Nya, Anak Allah dianggap sebagai penjahat yang begitu mengerikan sehingga Ia diangkat dari bumi di atas kayu salib agar tidak menajiskan bumi-Nya sendiri! Kematian yang memalukan seperti itulah yang Yesus — pribadi kedua dari Tritunggal Mahakudus — menderita bagi kita. Penyaliban dijelaskan dengan sangat sederhana dalam Injil: “Ketika mereka sampai di tempat yang disebut Tengkorak, di sana mereka menyalibkan Dia” (Lukas 23:33). Tidak ada upaya untuk menggambarkan horor penyaliban. Untuk melakukan itu tidak perlu; semua orang pada waktu itu mengenal detail kematian yang mengerikan itu. Tetapi bagi kita hari ini tidak. Kita perlu diingatkan tidak hanya tentang penderitaan tetapi juga penghinaan yang diderita Yesus bagi kita. Ikon Penyaliban menunjukkan Kristus, Adam yang baru, yang tidak berpakaian, tergantung di pohon, rasa malu, salib, yang sekarang telah menjadi pohon kehidupan baru bagi umat manusia yang ditebus (Gal 3: 13-14). Dosa Adam pertama membuat orang tidak dapat masuk ke pohon kehidupan di Firdaus, tetapi salib Kristus — pohon kedua — telah membuka pintu gerbang ke Firdaus. Seorang guru besar Ortodoksi, St. Theodore the Studite, menafsirkan sifat kemenangan dari kematian Kristus di kayu salib, untuk semua generasi ketika ia menulis, “Betapa berharganya karunia salib itu! Lihat, betapa indahnya untuk dilihat!… .Ini adalah pohon yang menghasilkan kehidupan, bukan kematian. Itu adalah sumber terang, bukan kegelapan. Salib menawarkan kamu rumah di Eden. Itu tidak mengusir kamu. Itu adalah pohon yang Kristus pasang sebagai raja di atas keretanya, dan karenanya menghancurkan iblis, penguasa maut, dan menyelamatkan umat manusia dari perbudakan tiran. Itu adalah pohon tempat Tuhan, seperti seorang pejuang besar dengan tangan dan kaki-Nya dan sisi ilahi-Nya tertikam dalam pertempuran, menyembuhkan luka-luka dosa kita, menyembuhkan sifat kita yang telah dilukai oleh ular jahat. Dulu kita diracuni oleh sebatang pohon; sekarang kita telah menemukan keabadian melalui pohon…. … Dengan salib, kematian dikalahkan dan Adam hidup kembali. Di salib setiap rasul telah memuliakan; dengan itu setiap martir telah dimahkotai dan setiap orang kudus disucikan. Kita telah memikul salib Kristus, dan menyingkirkan Iblis. Melalui salib kita telah bergabung dengan kawanan Kristus, dan diberikan tempat di surga. Semua ini menuntun Vladimir Lossky untuk menulis encomium berikut ke salib Kristus: “The Cross is then the concrete expression of the Christian mystery, of victory by defeat, of glory by humiliation, of life by death—symbol of an omnipotent God, Who willed to become man and to die as a slave, in order to save His creature. The cross is the insignia of Christ’s royalty—“I call Him King because I see Him crucified: It belongs to the King to die for His subjects” (St. John Chrysostom)—the Cross is also the very image of the Redemption, which is the economy of the love of the Trinity towards fallen humanity: “Crucifying Love of the Father, crucified Love of the Son, Love of the Holy Spirit triumphant by the wood of the Cross” (Philaret of Moscow).” Allah Yang Murka? Seorang pendeta bercerita tentang seorang lelaki tua yang menghentikannya di jalan suatu hari dan berkata kepadanya, “Aku ingin memberitahumu sesuatu, Bapak. Saya akan pergi ke gereja, tetapi saya tidak bisa. Saya tidak pernah bisa menyembah Allah yang menyiksa dan membunuh putra-Nya. Sesederhana itu. Jika Dia benar-benar Allah, Dia bisa menemukan cara lain untuk memperbaiki apa pun yang salah dengan dunia. Saya tidak bisa menghormati orang yang melakukan itu terhadap putranya, tidak peduli apa alasannya, dan saya tidak akan menyembah Allah yang melakukannya. Saya hanya ingin Anda tahu itu.” Kisah ini berasal dari teologi Anselmus dari Canterbury yang diterima oleh banyak orang di Barat. Ini menunjukkan bahwa Allah melampiaskan murka-Nya atas dosa manusia dengan memberikan hukuman yang mengerikan kepada Putra-Nya yang benar-benar tidak berdosa. Jika demikian, di manakah letak keadilan Allah? Murka Allah tidak ada hubungannya dengan penyaliban Yesus. Itu adalah tindakan yang lahir dari cinta yang murni. Karena “Allah adalah kasih.” Kisah murka Allah lahir dari teologi yang buruk. Allah bukan hanya Allah Bapa. Kepenuhan Allah adalah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Seluruh rencana keselamatan manusia dari awal sampai akhir adalah hasil dari kepenuhan Allah — Bapa, Anak, dan Roh Kudus — bekerja bersama dalam keharmonisan total untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian. Seperti yang diperintahkan Bapa, Anak dengan kerelaan dalam kuasa Roh Kudus untuk menjadi salah satu dari kita (Inkarnasi). Kurban Penebusan berarti atas perintah Bapa dan dalam kuasa Roh, Anak dengan rela menyelesaikan perbuatan kasih yang sempurna di atas salib di Golgota. Salib dilahirkan sepenuhnya dari rahmat, hanya didorong oleh cinta. Itu bukan Bapa yang marah yang menuntut keadilan dan Putra yang pengasih kemudian memenuhi permintaan dengan mati di kayu salib. Dari sisi Bapa itu adalah cinta sepanjang jalan; kegagalan ada di pihak kita. Alasan untuk salib bukanlah murka Allah Bapa, tetapi kasih Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja bersama sebagai satu kesatuan demi keselamatan kita; bukan karena murka tetapi karena kasih. Keajaiban dari semua itu adalah bahwa melalui Perjamuan Kudus, Allah melanggengkan pengorbanan Kristus. Dia menawarkan diri-Nya di atas salib dalam setiap liturgi, bukan untuk menebus kesalahan hukum atau meredakan kemarahan seorang Bapa yang menuntut agar keadilanNya dipenuhi, tetapi karena cinta atau kasih. Demikianlah, sebagaimana dikatakan Christos Yannaras, “Perjamuan Kudus adalah seluruh keselamatan kita, seluruh Kebenaran dan realisasi Injil Kristen.” St. Gregorius Nazianzus memiliki jawaban yang sempurna bagi mereka yang menerima teori Anselmus bahwa keadilan Bapa perlu dipenuhi dengan pengorbanan Anak-Nya: “Mengapa darah Anak Tunggal-Nya itu menyenangkan Bapa, yang tidak mau menerima Ishak ketika dia dipersembahkan sebagai korban bakaran oleh Abraham, tetapi menggantikan korban manusia dengan seekor domba jantan? ”(St. Gregorius Nazianzus). Kasih Yang Sukarela Teks-teks liturgi dan pembacaan Alkitab tentang Pekan Suci berulang kali menyebut gairah Kristus sebagai “sukarela”. “Ketika Tuhan pergi ke keinginan sukarela-Nya ….” Sama seperti inkarnasi Sabda Allah terjadi atas kehendak Anak, dan dengan kehendak baik Bapa dan kerja sama dengan Roh Kudus, hal yang sama berlaku juga gairah Kristus. Itu sepenuhnya sukarela. Itu benar-benar triniter. Kemarahan tidak ada hubungannya dengan itu. Cinta — cinta Bapa, Putera, dan Roh Kudus — ada hubungannya dengan itu. Doa Yesus di Getsemani paling mengungkapkan, “O Bapaku, jika memungkinkan, biarkan cawan ini berlalu dari saya; namun demikian, bukan seperti yang saya kehendaki, tetapi seperti yang Bapa inginkan.” Doa itu mengungkapkan dua kodrat dalam Kristus dan juga dua kehendak alamiah-Nya, yang tidak bertentangan. Mengapa? Karena manusia akan selalu mematuhi kehendak ilahi. Ini menunjukkan bahwa sengsara sepenuhnya bersifat sukarela di dalam diri Kristus.

Bukit Golgota Menurut para leluhur Gereja, Yesus disalibkan di tempat di mana Adam dimakamkan. Dengan demikian, ketika darah dan air mengalir dari sisi suci Kristus, peninggalan Adam segera dibersihkan di bawah salib. Itulah sebabnya sebagian besar ikon menunjukkan tengkorak di dasar salib di gua yang gelap dengan darah dan air dari tubuh Yesus yang menetes ke sana. Bukit Golgota diguncang oleh gempa bumi pada saat kematian Kristus. Itulah sebabnya sampai hari ini orang melihat perpecahan di bukit Golgota tempat Salib itu berlabuh. Situs suci ini tersedia sampai hari ini untuk pemujaan di Gereja Makam Suci. Lossky mengatakan tentang peristiwa ini, “Ini berfungsi untuk memunculkan makna dogmatis dari ikon Penyaliban; penebusan Adam pertama dengan darah Kristus, Adam Baru, yang menjadikan diri-Nya manusia untuk menyelamatkan umat manusia.” Sebenarnya, kata Golgota berarti “tempat tengkorak.” Demikianlah darah Kristus menetes di tengkorak Adam mengungkapkan secara fakta visual bahwa Kristus mati untuk penebusan seluruh umat manusia yang dimulai dari Adam. Metropolitan Hierotheos menulis tentang darah dan air yang mengalir dari sisi Kristus, yang terlihat pada sebagian besar ikon penyaliban: Gereja adalah Tubuh Kristus yang mulia dan bukan organisasi keagamaan. Di Gereja ada dua sakramen yang ditandai dengan darah dan air yaitu Baptisan dan Ekaristi Ilahi atau Perjamuan Suci. Sifat atau natur manusia dimurnikan, gambarnya dicuci oleh Pembaptisan Suci dan oleh Perjamuan Kudus ia memperoleh kehidupan. Dalam terang ini, Salib adalah kehidupan dan kebangkitan. Metropolitan Hierotheos mengutip John Chrysostom yang berkata, “Mata-mata dari darah dan air ini tidak memancar keluar hanya karena kebetulan, tetapi karena Gereja terbentuk dari mereka berdua: yang diinisiasi oleh kelahiran kembali oleh air, dan dipupuk oleh darah dan daging. Di sinilah kita menemukan asal usul sakramen.” Tangan Yang Terulur Karena salib adalah kehidupan dan kebangkitan, Bapa Gereja Athanasius berkata tujuh belas abad yang lalu, “Hanya di atas kayu saliblah seorang manusia mati dengan tangan yang terulur.” Simbolisme yang luar biasa tersembunyi di balik tangan yang terulur itu. Di Kayu Salib, Allah Sendiri, dalam pribadi Kristus, sedang mengulurkan tangan-Nya, memohon kepada kita untuk bertobat dan kembali kepada-Nya, menawarkannya untuk memberkati kita dengan pengampunan dosa-dosa kita, dan memanggil kita untuk melayani kerajaan-Nya. Merenungkan tangan Kristus yang terulur, seorang rahib dari Gereja Timur menulis, “Kakimu dipaku di atas kayu…. Anda tidak memiliki kemungkinan untuk melarikan diri. Anda menunggu saya di tempat pertemuan yang telah Anda tetapkan untuk saya. Diikat ke Salib, Anda memaksa diri Anda untuk menunggu ini. Mungkin saya tidak datang, tetapi Anda ada di sana dan Anda tetap di sana di mana Anda telah membiarkan diri Anda ditempatkan. Lengan Anda direntangkan. Kedua tangan dibuka sebagai daya tarik bagi semua. Mereka tidak bisa ditutup lagi. Ini adalah undangan dan pelukan. Dalam keheningan, kedua tangan yang disalib memberi isyarat kepada saya: Ayo datang.” “Disalibkan, menderita, dikubur” —semua untuk kita. “Semua yang telah saya lakukan untuk kamu,” kata Yesus, “Apa yang akan kamu lakukan sekarang untuk saya?” Bagaimana kita dapat membalas penderitaan yang demikian, cinta yang demikian?” Ini adalah hutang yang tak terbayarkan. Pengorbanan Allah di kayu Salib adalah hutang semacam itu: hutang yang tidak akan pernah bisa kita bayar tetapi akan tetap dibayar selamanya seperti yang dilakukan Rasul Paulus ketika dia berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidupku yang sekarang aku hidup di dalam daging, aku hidup dengan iman kepada Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku ”(Gal 2:20). Untuk Kita Pengakuan Iman menyatakan bahwa Yesus disalibkan untuk kita. Itu berarti bagi Anda dan saya secara pribadi! Begitu besar dan sangat pribadi kasih-Nya! Dia telah menanggung kesedihan kita dan membawa kesedihan kita. Dia tertikam oleh karena pemberontakanku, dia diremukkan oleh karena kejahatanku; Demi kita, Dia tergantung di kayu Salib. Untuk dosa-dosa saya. Untuk pengampunan saya. “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” (Yoh 12:27 TB)

Blaise Pascal dalam bukunya, A Short History of Life of Jesus Christ, menulis, “Pada tengah malam 23 November 1654, Yesus berbicara kepada saya dan berkata, “Blaise, saya memikirkanmu dalam penderitaan saya.” Pengalaman ini menyebabkan Pascal mengalami pertobatan. Itu adalah penyaliban pribadi. “Blaise,” kata suara Kristus, “untukmu aku melakukan semua ini.” Yesus menderita, mati, dikuburkan, dan bangkit kembali tidak hanya untuk umat manusia secara umum tetapi juga untuk kita masing-masing secara pribadi. Tikhon menangkap pemikiran ini ketika ia menulis, “You (Lord) were sold and betrayed that we might be freed, we who were enslaved. You submitted to an unjust trial—You who are the judge of all the earth—that we might be freed from eternal punishment. You were crowned with thorns that we might receive the crown of life…. You were laid in a tomb that we might rise from the tomb…. This You have done for us, your undeserving servants, O Lord!” Lingkaran Halo Lingkaran di sekitar kepala Kristus biasanya bertuliskan kata-kata “O On,” “One Who is.” Di atas kepala Kristus ada tulisan INBI (bahasa Yunani untuk “Yesus Raja Yahudi dari Nazaret”). Salib Latin bertuliskan INRI, menggantikan kata Latin Rex untuk raja bukannya Basileus dalam bahasa Yunani. Di latar belakang kita sering melihat tembok kota Yerusalem sejak penyaliban terjadi di luar tembok kota. Pencuri yang bertobat sering ditampilkan di sebelah kanan dengan lingkaran cahaya. Seringkali dua penyaliban lainnya yang terjadi pada saat yang sama tidak selalu dimasukkan. Bagian bawah salib yang dipaku kaki Kristus disebut supendium oleh orang Romawi. Itu adalah bagian standar dari salib. Di atas salib Kristus itu miring sehingga salah satu ujungnya sedikit lebih tinggi, menunjuk pada pencuri yang tak terlihat yang bertobat. Salib dengan suppendium miring menonjol sekarang disebut salib Rusia. Di antara para murid, hanya Yohanes yang termuda yang digambarkan pada saat penyaliban. Dia biasanya digambarkan mencoba menutup matanya sebelum tontonan kematian Tuhannya. Bunda Maria dan Wanita-wanita Lain, Yohanes, dan Prajurit Bunda Maria digambarkan di sebelah kanan Kristus ditemani oleh wanita lain. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang terkandung, didominasi oleh iman yang pemberani. Postur Maria berbicara dengan penuh simpati kepada Rasul Yohanes yang sedang berduka. Sosok di sebelah Yohanes adalah perwira Romawi yang tergerak untuk mengaku, “Sungguh, ini adalah Putera Allah. “Wanita-wanita lain yang berdiri di kaki salib menderita dan berempati dengan Kristus. Di antara mereka adalah Maria Magdalena, yang disebut “setara dengan para rasul” di Gereja Timur. Seluruh peristiwa ini bukan mitologis tetapi historis karena terjadi secara historis “di bawah Pontius Pilatus.” Meskipun historis, itu juga merupakan misteri besar yang melibatkan kita masing-masing secara pribadi, karena Kristus yang mati di kayu Salib adalah, dalam kata-kata Rasul Paulus, “Dia yang mengasihi saya dan memberikan diri-Nya bagi saya.” Oleh karena itu, kita tidak didorong untuk menghadapi hari-hari Minggu Suci hanya sebagai sejarah, tetapi juga sebagai sakramental dan spiritual karena kita juga ambil bagian. Kita ambil bagian di dalamnya melalui partisipasi dalam sakramen baptisan, pengakuan (pertobatan), dan Perjamuan Kudus, yang melaluinya kita mati dan bangkit kembali dalam Kristus sebagai ciptaan baru. Simbol Plus Salib juga merupakan simbol plus (tambah). Tanda ini memiliki makna besar bagi kita. Kita telah dibaptis dan telah menerima Kristus dan itu berarti kita adalah anak-anak Allah PLUS manusia. Di mana tidak ada cinta, kita menambahkan cinta. Di mana tidak ada harapan, kita menambahkan harapan. Di mana tidak ada kedamaian, kita menambahkan kedamaian. Di mana tidak ada pengampunan, kita menambahkan pengampunan. Di mana ada kegelapan, kita menambahkan cahaya. Dan di mana ada kesedihan, kita menambahkan sukacita. Mengapa? Karena kita adalah anak Allah yang plus. The Cross does not abolish suffering, but transforms it, sanctifies it, makes it fruitful, bearable, even joyful and finally VICTORIOUS. —Joseph Rickady On this day, He who suspended the earth upon the waters, is hung on the tree. The King of Angels is crowned with a crown of thorns. He who adorned the heavens with clouds is arrayed in the purple of mockery. He who freed Adam in the Jordan bears to be struck. The spouse of the Church is nailed to the tree. The Son of the Virgin is pierced with a lance. Glory to Thy Passion, O Christ, Glory to Thy Passion! Reveal to us Thy holy Resurrection. —A Good Friday Troparion Keselamatan: Bagian Allah dan Kita Salah satu nyanyian pujian pada hari Minggu memuji penyaliban dengan kata-kata ini: Kita yang setia, berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan Allah, menyentuh misteri yang tak terlukiskan, Penyaliban yang tidak dapat dipahami oleh pikiran, dan Kebangkitan yang tak terlukiskan: untuk hari ini kematian dan neraka dihancurkan, sementara umat manusia berpakaian dalam ketidakbinasaan (Sunday Matins, Nada 3). Misteri Penyaliban yang tak terlukiskan dan tak dapat dipahami dimuliakan dalam tulisan-tulisan para Rasul kudus dengan kata-kata seperti: – “Kristus menyelamatkan kita”; – Kristus “telah menutupi dosa kita”; – “Dia telah merobek tulisan tangan terhadap kita dan memakukannya ke kayu salib”; – “Kita telah dikuduskan oleh darah-Nya”; – Kristus adalah “pendamaian bagi dosa-dosa kita”; – Dia “dijadikan kutuk karena kita”; – “Kristus telah membenarkan kita”; – “Kita dibeli dengan harga tak ternilai”; – “Kita ditebus dari kutuk hukum Taurat”; – Oleh Dia kita telah “diperdamaikan dengan Allah”; – Kita memiliki kedamaian dengan Allah “oleh kematian Anak-Nya”; dan sebagainya. Semua ini telah dicapai Allah bagi kita melalui Penyaliban dan Kebangkitan-Nya. Dia telah menebus seluruh umat manusia dan menawarkan keselamatan sebagai hadiah bagi kita masing-masing. Bagiannya telah selesai. “Tetelestai.” Tapi itu tidak berakhir sampai bagian Allah. Hadiah itu harus diterima sebelum itu menjadi milik kita. Satu kebenaran keselamatan yang luar biasa ini bagi semua yang ditawarkan kepada kita oleh Salib menuntut kita untuk melakukan bagian kita, yaitu menerima hadiah itu secara pribadi. Rasul Paulus mengungkapkan aspek ganda keselamatan ini dengan jelas dalam dua ayat. Pertama, ia berkata, “Kamu diselamatkan oleh iman, dan itu bukan hasil usahamu: itu adalah pemberian Allah” (Efe 2: 8). Inilah yang telah dicapai oleh Allah untuk kita. Keselamatan adalah karunia-Nya bagi kita. Tetapi Rasul Paulus selanjutnya menjelaskan bahwa kita juga memiliki bagian dalam semua ini, “Kerjakan keselamatanmu sendiri dengan takut dan gentar” (Fil 2:12). Bagian dari “mengerjakan” keselamatan kita ini disebut askesis. Itu berarti bahwa kita harus membersihkan diri kita sendiri karena “tidak ada yang najis yang dapat masuk ke dalam kerajaan Allah” (Efe 5:5, Wah 21:27). Tuhan itu Terang, dan tidak ada kegelapan di dalam Dia. Karena itu, kita harus membuang segala kegelapan dan menjadi anak-anak terang. Energi Allah (Salib) harus diikuti oleh sinergi kita. Seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Rom 13:12 TB) Melalui Penyaliban-Nya Kristus telah membuka pintu menuju keselamatan. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” (Yoh 10:9 TB). Sebab itu untuk memasuki pintu keselamatan membutuhkan pertobatan setiap hari, kemurnian jiwa, jubah kekudusan, yang tanpanya tidak seorang pun akan melihat Allah (Ibr 12:1). Bagian pertama dari keselamatan kita dipenuhi sepenuhnya oleh Kristus melalui Penyaliban dan Kebangkitan-Nya. Dia memang membuka pintu keselamatan bagi kita. Bagian kedua dari keselamatan tergantung pada kita. Kita harus secara pribadi menerima hadiah itu, memasuki pintu, meninggalkan perbuatan kegelapan dan memikul salib kita untuk mengikuti Dia.

Semua ini dicapai dalam diri kita, tentu saja, oleh kasih karunia Kristus dalam Roh Kudus. Inilah arti dari ayat, “Kerjakan keselamatanmu sendiri dengan takut dan gentar” (Fil 2:12). Energi Allah harus diikuti oleh sinergi kita. Rasul Paulus menambahkan dalam ayat berikutnya, “Karena Allah yang bekerja di dalam kamu baik untuk berkehendak maupun untuk melakukan kerelaan-Nya” (Fil 2:13). Penderitaan Kristus Kita mengajukan pertanyaan ini ketika kita merenungkan Kristus yang menderita di kayu Salib untuk dosa-dosa kita. Kita adalah orang-orang yang seharusnya berada di salib. Itu seharusnya penghukuman kita; namun Dia menanggungnya untuk kita. Mengapa? Untuk menunjukkan kepada kita bahwa Allah sangat mencintai kita sehingga kita tidak akan pernah bisa memahaminya dengan penuh. Keadilan mengatakan, “Setiap dosa harus dibayar.” Salib berkata, “Allah sendirilah yang membayar dan itu adalah harga yang paling mahal yang dapat dibayarkan — kematiannya sendiri. Tikhon dari Russia berkata, “Our Lord and Creator suffered, endured His Passion, and died alone for us. We who broke the law; we the traitors; we who utter insults and blasphemies; we who have given ourselves up to the enemy; we deserve to be spat upon; we deserve to be mocked, insulted, buffeted, beaten, tortured, to die for all eternity. But our Lord and God out of infinite love died in our place. The servant sinned; the Lord suffered the punishment. The servant erred; the Lord was scourged. The servant stole; the Lord offered compensation. The servant was indebted; the Lord paid the debt. And in what manner did He pay it? Not in gold and silver but with His disgrace, His wounds, His blood, His death on the cross.” Mengapa Yesus harus menderita dan mati untuk kita? Di Taman Getsemani Dia bahkan bertanya apakah ada cara lain. Tidak ada. Di kayu Salib Dia bahkan mengajukan pertanyaan, “Mengapa?” Mengapa Dia ditinggalkan? Jawaban yang diberikan Alkitab adalah — bagi kita! “Allah begitu mengasihi dunia …” (Yoh 3:16). “Aku Gembala yang Baik,” kata Yesus. “Gembala yang Baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-dombanya.” Gembala yang Baik memberikan nyawa-Nya untuk Anda dan saya di kayu Salib. Ketika membahas penderitaan yang Yesus alami untuk keselamatan kita, penting untuk diingat bahwa Yesus adalah manusia sekaligus Allah. Sifat manusiawi-Nya menderita tetapi bukan sifat ilahi-Nya. Sebagai Allah, Dia tidak mungkin mati. Metropolitan Hierotheos menekankan hal ini: “Christ was Godman, perfect God and perfect man. While there were two natures in Christ, the divine and the human, still the person, Christ the Godman, was one. The divine nature is impassible, while the human nature suffers. So at the time of the Passion while the human nature suffered, the impassible divine nature was not suffering with it, but Christ the Godman suffered, and He was crucified. A troparion of the Canon for Great Saturday says characteristically: “For though the earthly substance of Thy flesh suffered, yet the Godhead remained impassible.” Salah satu lagu hymn yang menggambarkan penderitaan Kristus berbunyi: Every member of Thy Body endured dishonor for us: Thy Head, the thorns; Thy Face, the spittings; Thy Cheeks, the smitings; Thy Mouth, the taste of vinegar; Thine Ears, the impious blasphemies; Thy Back, the lash; Thy Hand, the reed; Thy Whole Body, extension upon the Cross; Thy Joints, the nails; And Thy Side, the spear; O Thou Who didst suffer for us, and set us free from suffering, Who by Thy compassion didst stoop down to raise us up, Almighty Savior, have mercy on us. Amen. John Chrysostom menambahkan: Being God, He became man.

Being man, He became a slave. Being a slave, He became a slave unto death. Being a slave unto death, He was hanged on a cross. What more can He do? Kenosis atau cinta Allah yang mengosongkan diri demi kita diekspresikan terutama melalui Penyaliban-Nya. Itulah sebabnya ikon Penyaliban dapat dianggap sebagai ikon terbaik / par excellence dari Kenosis-Nya. Metropolitan Hierotheos menuliskan, “While after His Resurrection His body is spiritual, He takes upon it the wounds of the Cross and shows them, regards them as an ornament, displays them to the angels and is glad to show He suffered for man. Thus He does not discard the wounds of the Cross, but keeps the signs of the butchery on His body. No one else has had such mad love as Christ had, for He not only tolerates being beaten, not only saves the ungrateful, but He regards His wounds as precious. And with these He is seated on the Royal throne and summons all to this royal crown.” Para nabi Perjanjian Lama menubuatkan bahwa Mesias akan “dilukai karena pelanggaran kita,” tetapi tidak pernah mereka bisa membayangkan bahwa Allah akan turun dari takhta-Nya yang Maha Mulia dan menderita untuk mengangkat kita ke surga, meraih kemenangan melalui kekalahan. Ekspresi Wajah Fotis Kontoglu menuliskan, “The forms and colors do not impart the frigid breath of death, but the sweet hope of immortality. Christ is depicted as standing on the cross, not as hanging on it. His body is of flesh, but flesh of another nature, flesh whose nature has been changed through the grace of the Holy Spirit. The expression of His face is full of heavenly tranquility; the affliction which has befallen Him is full of gentleness and forgiveness, exempt from agonized contractions of the face. It is the suffering redeemer, He Who has undone the pangs of death, Who has granted the peace of the life to come. This crucified body is not that of just anyone, but is the very Body of the God-man Himself; therefore it is not a corpse, but rather incorruptible to eternity, and the source of life. It radiates the hope of the Resurrection. The Lord does not hang on the cross like some miserable tatter, but it is He, rather, who appears to be supporting the Cross. His hands are not cramped, being nailed to the wood; rather he spreads them out serenely in the attitude of supplication, according to the troparion which says, “Thou hast spread thy palms, and united what before had been divided,” that is, God and man. I repeat, the forms and colors of the liturgical icon do not express the brute horror of death, but have the nobility and gentleness of eternal life. It is illumined by the sweet light of hope in Christ. It is full of the grace of the Paraclete.” (“Bentuk dan warna tidak memberikan nafas kematian yang dingin, tetapi harapan manis keabadian. Kristus digambarkan berdiri di atas salib, bukan tergantung di atasnya. Tubuhnya adalah daging, tetapi daging mulia, daging yang telah diubah melalui rahmat Roh Kudus. Ekspresi wajahNya penuh dengan ketenangan surgawi; kesengsaraan yang menimpa-Nya penuh dengan kelembutan dan pengampunan, dibebaskan dari kontraksi wajah yang menyakitkan. Dia adalah penebus yang menderita, Dia yang telah menghilangkan kepedihan maut, yang telah memberikan kedamaian hidup yang akan datang. Tubuh yang disalibkan ini bukan milik sembarang orang, tetapi adalah Tubuh Allah-manusia itu sendiri; oleh karena itu Dia bukan mayat, tetapi tubuh untuk kekekalan, dan sumber kehidupan. Ia memancarkan harapan Kebangkitan. Tuhan tidak digantung di kayu salib seperti orang-orang yang menyedihkan, tetapi justru Dia, yang tampaknya didukung oleh Salib. Tangan-Nya tidak patah tetapi dipaku di kayu; tangannya dibentangkan dengan tenang dalam sikap memohon, sesuai dengan troparion yang mengatakan, “Engkau telah merentangkan kedua tanganmu, dan menyatukan apa yang terpisah yaitu Allah dan manusia. Saya ulangi, bentuk dan warna ikon liturgi tidak mengungkapkan kengerian kematian yang kejam, tetapi memiliki keluhuran dan kelembutan hidup yang kekal. Itu diterangi oleh cahaya harapan yang manis di dalam Kristus. Itu penuh dengan rahmat Penolong.”) Sebagai manusia yang terbatas, tidak mungkin bagi kita untuk memahami ini. Itu adalah salah satu misteri Allah yang tetap — dan akan tetap — tidak dapat dipahami oleh kita. John Chrysostom menuliskan, “Sama seperti Allah mengambil tulang rusuk dari sisi Adam untuk membentuk seorang perempuan, maka Kristus telah memberi kita darah dan air dari sisinya untuk membentuk Gereja. Allah

mengambil tulang rusuk ketika Adam sedang tidur; dengan cara yang sama Kristus memberi kita darah dan air setelah kematiannya sendiri.” Merenungkan ikon Penyaliban, kita diingatkan akan banyak luka yang diderita Kristus demi kita. Faktanya Kristus pernah menampakkan diri kepada Thomas dan meletakkan tangan-Nya di wajahnya, tetapi orang percaya itu menyatakan bahwa ada lubang di tangan-Nya yang melaluinya dia melihat dan menghargai makna dari apa yang telah diderita Yesus untuk kita.

Referensi: Coniaris, M. Anthony. Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

  • Holy Saturday: Descent into Hades and Pascha

Paskah adalah hari suci terbesar bagi orang Kristen. Tanpa kebangkitan Yesus, hidup tidak memiliki arti. Mengacu pada penguburan tubuh kita setelah kita mati, tanpa kebangkitan, tujuan akhir manusia tidak lebih dari sekop yang penuh tanah di atas mayat. Tanpa kebangkitan Yesus, menggunakan kata-kata Eric Hoffer, “Kita dihukum mati pada saat lahir, dan hidup adalah seperti naik bis ke tempat eksekusi. Semua perjuangan dan persaingan kita adalah tentang kursi di bis, dan perjalanan sudah berakhir sebelum kita menyadarinya.” Pastor Dimitri Dudko menulis, “Apa artinya jika semuanya berakhir dengan kematian? Seseorang mati dan hanya itu. Seseorang hanya dapat benar-benar berbicara tentang kehidupan jika hidup itu kekal.” Dan itulah mengapa Pascha (Paskah) adalah festival (perayaan) untuk agama Kristen. Ini adalah festival pembebasan yang paling radikal, tegas, dan pamungkas yang pernah dilihat oleh alam semesta ini. Itu adalah landasan iman kita. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka pemberitaan kita sia-sia dan iman kita kosong” (1 Kor 15:14). Fr. Dumitru Staniloae menyebut kebangkitan sebagai “ledakan kegembiraan kosmik.” Ini adalah engsel sepanjang tahun Gereja. Semua hari raya Kristen lainnya mengalir darinya. Paskah adalah pusatnya sehingga tidak dianggap hanya sebagai salah satu dari dua belas perayaan besar, tetapi lebih sebagai “hari kedelapan dalam seminggu,” hari tanpa akhir yang menerangi semua perayaan lainnya. Setiap hari Minggu dianggap sebagai “Paskah kecil.” Karena Kebangkitan, segala sesuatu dalam Kekristenan adalah lagu dan doksologi. Anastasis – Ikon Paskah Ikon Paskah mengungkapkan dengan kuat makna sebenarnya dari kebangkitan Kristus. Yesus berdiri di gerbang Sheol atau Hades atau Alam Maut yang rusak, yang dilintasi sebuah lubang hitam. Di dalam lubang, Setan terbelenggu dalam rantai-nya sendiri. Yesus menjangkau ke setiap sisi, menggenggam Adam dan Hawa dengan pergelangan tangan mereka dan menarik mereka keluar dari kubur mereka, membawa mereka masuk ke Firdaus, sementara orang-orang benar dari segala generasi berdiri berkumpul di belakang-Nya menunggu giliran mereka. Ini adalah ikon yang pertama kali ditampilkan di pusat gereja untuk penghormatan pada Sabtu Suci.

Kristus memegang pergelangan tangan Adam – kata Leonid Ouspensky – alih-alih tangan untuk memastikan bahwa Dia memiliki pegangan yang kuat pada dirinya. Induk kucing melakukan hal yang sama dengan mengambil anak kucingnya di tengkuk untuk menyelamatkannya dari bahaya.  

John Baggley menggambarkan orang-orang kudus Perjanjian Lama dalam ikon, menunggu untuk diselamatkan oleh Kristus yang bangkit. Di belakang Adam berdiri Raja Daud dan Raja Salomo, leluhur dan nabi Juruselamat. Di belakang Solomon kita melihat Yohanes Pembaptis. Dia adalah Pelopor yang mempersiapkan jalan Tuhan…. Di sebelah kanan Hawa berlutut dengan tangan terangkat dalam doa dan memandang penuh perhatian kepada Kristus…. Sosok Hawa, dalam postur dan pakaian, mengingatkan pada Bunda Allah (Hawa yang baru). Hubungan antara Hawa dan Maria ini dinyatakan oleh St Efraim dari Siria, “Dia memasuki Sheol (alam maut) dan menjarah gudanggudang penyimpanannya dan mengosongkan harta bendanya. Dia datang kemudian untuk Hawa Bunda dari semua yang hidup … [yang] menjadi sumber kematian bagi semua yang hidup. Tetapi Maria bergerak maju, sebuah pemotretan baru dari Hawa anggur kuno.” Di belakang Hawa dalam ikon kita melihat Musa, dengan loh-loh hukum; Keluaran dan perjanjian yang berhubungan dengan Musa telah menemukan penggenapan dalam Keluaran Baru ini dari Hades (alam maut) dan kematian, dan dalam Perjanjian Baru yang diresmikan oleh Kristus. Di belakang Musa ada orang benar yang mati lainnya yang menunggu pembebasan dari Hades. Di bawah sosok Kristus, gerbang Hades telah dihancurkan, dan personifikasi Hades terlihat dalam kegelapan dunia bawah, setelah kehilangan orang-orang yang telah tunduk kepadanya dan kuasa maut. Kegelapan Hades mengingatkan pada gua di ikon Kelahiran, Kebangkitan Lazarus, dan Penyaliban. Di bagian atas ikon, dua puncak batu mengingatkan kita bahwa “bumi berguncang dan bebatuan terbelah” (Mat 27:51) setelah gempa bumi yang menghancurkan bumi setelah kematian Kristus. Perpecahan batu-batu di ikon Anastasis tampaknya mengingat perpecahan yang terlibat dalam misteri Paskah sebelumnya — pembagian atau terbelahnya perairan Laut Merah ketika orang-orang

Israel bergerak dari perbudakan di Mesir menuju kebebasan Tanah Perjanjian. Dalam setiap contoh Allah membuat jalan bagi umat-Nya untuk beralih dari perbudakan menuju kebebasan: akhir dari perbudakan di Mesir menggambarkan berakhirnya tirani dosa dan maut yang terjadi dalam Misteri Paskah Kristus. Teolog Perancis Olivier Clement berkomentar lebih jauh tentang makna yang lebih dalam dari ikon ini, “Bayangkan bukan Kristus yang berpakaian putih paling berkilau, bermandikan kuasa cahaya, tetapi Kristus yang turun ke dalam jurang, yang menghancurkan di bawah kakinya gerbang neraka. Anda dapat melihat di sana gerbang yang rusak, dengan kunci dan engselnya yang berserakan; dan, di bawah mereka, garis besar setan, hancur juga di sana. Kristus secara harfiah meraih tangan Adam dan Hawa dan membuat mereka melambung keluar dari kuburan mereka. Dia melakukannya untuk Anda, untuk saya, dan untuk seluruh umat manusia. Ini adalah adegan yang, bagi saya, mengandung inti dari pesan Kristen, terutama bagi kita, hari ini, yang menemukan diri kita dalam situasi di mana kita merasa dikelilingi oleh kehampaan, dengan kekerasan, oleh nihilisme. Maka saya bertanya pada diri sendiri apakah sekarang ini bukan waktu bersejarah, yang disediakan Tuhan bagi kita untuk membuat “kabar baik” ini bergema: Kristus telah turun ke alam maut untuk menaklukkannya, untuk menaklukkan maut, untuk menaklukkan segala bentuk kegelapan dan maut. Dan Dia selalu melakukannya, Dia melakukannya sekarang, karena apa yang terjadi kemudian telah tertulis dalam kemahahadiran Allah dan dengan demikian merupakan realitas yang abadi.” Apa yang paling mengganggu dan menghantui manusia adalah kita pasti akan mati. Pada saat manusia, karena dosa, diusir dari pohon kehidupan, seluruh bumi menjadi tanah kuburan. Untuk setiap manusia ada makam. Planet makam yang luas. Di salah satu makam yang tak terhitung banyaknya yang tersebar di seluruh planet kita, Anak Allah menaklukkan kematian dengan kematian. Inilah yang dicanangkan ikon Descent into Hades dengan begitu indahnya dalam warna dan simbol. “Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Dengan kematian-Nya Dia telah menghancurkan maut dan bagi mereka yang ada di kuburan. Ia telah menganugerahkan hidup. ” “Kami merayakan kematian, penghancuran Hades,” kami bernyanyi di Paskah. Penghancuran Hades dan kematian merupakan makna terdalam dari Kebangkitan. Adam “Baru” dan Adam “Lama” Ikon ini menggambarkan Adam baru (Kristus) mengangkat Adam lama dari Hades. Constantine Cavarnos melihat kebenaran yang luar biasa di dalam kontras dari kedua Adam ini: “Juga, dengan membawa Adam ke tempat kejadian, ikonografer mengingatkan kita kontras antara “Adam Tua,” manusia pertama, dan “Adam Baru”. Ikon ini disebut Turun ke Hades atau Anastasis (Kebangkitan) karena Kebangkitan Yesus dimulai segera setelah Yesus mati di salib. Seperti nyanyian pujian dinyanyikan pada Sabtu Suci mengatakan: Di kuburan dengan tubuh dan di Hades dengan jiwa, sebagai Allah, sementara di Firdaus bersama pencuri dan di atas takhta dengan Bapa dan Roh Kudus, Engkau, hai Kristus, penggenapan segala sesuatu, dirimu sendiri tidak dibatasi. Di kuburan dengan tubuh dan di Hades dengan jiwa sebagai Allah.

 Sementara tubuh-Nya masih berada di kuburan, Yesus turun ke Hades dengan jiwa-Nya untuk memulai kebangkitan Adam dan Hawa, bersama dengan semua umat Perjanjian Lama yang setia. Membawa mereka masuk ke Firdaus menunggu kebangkitan tubuh pada hari Penghakiman nanti. Dia tidak beristirahat di makam tiga hari. Dia sedang dalam misi. Inilah sebabnya mengapa ikon ini disebut ikon Kebangkitan. Kita tidak diberitahu pemandangan Yesus yang sebenarnya bangkit dari kubur (Anastasis), yang tidak pernah disaksikan oleh siapa pun. Sebagai gantinya, gereja memberi kita ikon yang kuat yang menggambarkan bukan peristiwa aktual tetapi makna Kebangkitan yang dimulai bahkan sebelum kebangkitan fisik dan jasmani Yesus. Saat itulah Roh Yesus yang dimakamkan turun ke Hades untuk membebaskan umat Perjanjian Lama yang setia. Itu terjadi ketika tubuh-Nya masih di dalam kubur.

Di kuburan dengan tubuh dan di Hades dengan jiwa, sebagai Tuhan. Gereja Orthodoks merayakan Pra Kebangkitan Kudus kemenangan Juruselamat ke Hades pada hari Sabtu Kudus. Troparia dan nyanyian pujian kudus hari ini adalah di antara nyanyian rohani yang paling indah yang pernah ditulis secara puitis dan kedalaman spiritual yang luar biasa. Beberapa orang menyebut nyanyian rohani ini lebih dalam lagi, mengesankan daripada Paskah. Synaxarion dari Sabtu Kudus misalnya, mengumumkan kemenangan yang kita peringati pada hari itu sebagai berikut: Pada hari Sabtu yang suci dan agung kita memperingati penguburan tubuh ilahi dan turun ke Hades Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, yang melaluinya umat manusia diundang oleh kasih Allah yang tak terungkapkan untuk kembali dari kerusakan ke kondisi murni sebelum Adam jatuh dalam dosa; untuk kembali dan dibimbing menuju kehidupan kekal. Hari ini Hades meratapi dengan keras…. Dia meratapi karena otoritas dan kekuatannya telah dihancurkan …. Dia meratapi karena dominasinya benar-benar dikalahkan dan dimusnahkan …. Dia meratapi karena kekuatannya telah dihapuskan dan tidak lagi berlaku. Seluruh kebaktian Sabtu Suci melingkari peristiwa turunnya Yesus ke Hades. Nyanyian pujian pada hari itu bersaksi tentang fakta bahwa bagi orang Kristen Timur kebangkitan dimulai dengan turunnya Yesus ke Hades pada Jumat Agung dan berlanjut ke Sabtu Kudus. Dalam satu nyanyian pujian pada hari Sabtu Kudus, kita mendengar Yesus berkata, “Ciptaan akan bersukacita dan seluruh bumi akan bersukacita, karena Hades sekarang dirampas dari perlengkapannya, musuh dikalahkan. Para wanita akan datang kepada-Ku dengan minyak urapan. Aku menebus Adam dan Hawa dan seluruh umat manusia dan Aku bangkit dari kematian pada hari ketiga. Dalam nyanyian pujian lain kita mendengar Setan mengeluh, “Kekuatan saya telah hilang. Gembala itu disalibkan tetapi sekarang dia telah membangunkan Adam. Saya kehilangan semua tahanan saya. Semua yang harus saya lepaskan yang dilahap oleh saya. Kuburan dikosongkan oleh Yang Disalibkan dan ketiadaan, tetapi ketiadaan, adalah nilai kekuatan Kematian.

Mungkin tidak ada yang menafsirkan makna mendalam dari ikon Descent Into Hades lebih baik daripada Leonid Ouspensky: “Turunnya ke neraka adalah langkah terakhir yang dilakukan oleh Kristus di jalan kemenangan-Nya. Dengan fakta “turun ke jurang bumi,” Dia membuka bagi kita akses ke surga. Dengan membebaskan Adam lama, dan bersamanya seluruh umat manusia dari perbudakan kepadanya yang merupakan inkarnasi dari dosa, kegelapan dan kematian, Ia meletakkan dasar kehidupan baru bagi mereka yang telah bersatu dengan Kristus menjadi manusia yang dilahirkan kembali. Dengan demikian kebangkitan spiritual Adam diwakili dalam ikon ini sebagai simbol kebangkitan tubuh yang akan datang, buah pertama di antaranya adalah Kebangkitan Kristus. Oleh karena itu, meskipun ikon ini mengekspresikan makna dari ibadah yang diperingati pada hari Sabtu Agung dan dibawa untuk dihormati pada hari itu, itu adalah, dan disebut, ikon Paskah, sebagai gambaran awal dari perayaan kebangkitan Kristus yang akan datang dan karena itu kebangkitan orang mati di masa depan.”

Petunjuk Alkitab Alkitab merujuk pada Keturunan Yesus ke Hades dalam beberapa ayat yang hanya akan kita sebutkan beberapa. Kita membaca dalam 1 Petrus 3: 18-20: Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. (TB) Karena para Bapa Gereja menafsirkan Yunus turun ke dalam perut ikan sebagai bayangan keturunan Kristus ke Hades, kita membaca di Ode 6 Kanon Paskah: Engkau turun ke jurang bumi, ya Kristus, dan telah merobohkan pintu-pintu kekal yang memenjarakan orang-orang yang ditemukan, dan, seperti Yunus setelah tiga hari di dalam ikan, Engkau bangkit dari kubur.

Apa Yang kita Pelajari? Siapa yang pernah berkata,” Aku sangat mencintaimu, aku akan pergi ke neraka untukmu.”? Siapa lagi selain Yesus! Itu adalah cinta-Nya yang dilakukan untuk kita! Dia turun ke Hades sekali, dan Dia akan turun ke sana lagi dan lagi untuk menyelamatkan kita, sesering kita berakhir di sana dan memanggil Dia. “Jika saya membuat tempat tidur saya di Sheol, Engkau ada di sana,” kata pemazmur. Jika kebanyakan orang menemukan Tuhan di mana saja hari ini, dia akan berada di neraka: neraka rasa bersalah, neraka narkoba, neraka alkoholisme, neraka keluarga yang hancur, neraka terpisah dari Tuhan. Orang biasanya berharap untuk menemukan Tuhan bukan di neraka, tetapi di surga. Tetapi kabar baik dari doktrin Turunnya Yesus ke dalam Hades adalah bahwa Allah di dalam Kristus telah datang ke tengahtengah neraka kita untuk mencari kita, untuk mengasihi kita, untuk menyelamatkan kita, dan untuk menuntun kita pulang ke surga. Rasul Paulus menulis, “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” Efesus 4:10 TB) Rasul Paulus menghubungkan Kenaikan Yesus dengan turunnya Yesus ke alam maut. Apakah Yesus turun ke neraka kita hari ini? Neraka kamu Neraka saya? Jawabannya: Ya! Tidak peduli seberapa dalam kegelapan kita, Dia turun lebih dalam lagi. Apakah Dia turun ke penjara gelap kecanduan alkohol atau narkoba? Tanyakan kepada pecandu alkohol atau pecandu narkoba yang sedang dalam pemulihan dan dia akan mengaku bahwa dalam kegelapan ketika mereka mencapai titik terendah, mereka menemukan cahaya dan kuasa Allah. Karena bahkan kegelapan bukanlah kegelapan bagi Dia yang adalah terang dunia. “Cahaya bersinar dalam kegelapan dan kegelapan tidak mengatasinya”(Yoh 1:5). Kristus telah turun ke “roh-roh di penjara.” Apakah Dia tidak turun hari ini ke dalam penjara gelap kecanduan, depresi, dan kegilaan untuk membebaskan roh-roh yang dipenjarakan di sana? Setelah turun ke kedalaman Hades yang paling dalam bagi kita, bagaimana mungkin Dia tidak turun ke neraka kita hari ini? Amin! Turun Ke dalam Hades Kasih Allah begitu besar sehingga Dia tidak bisa tetap di surga selama anak-anak-Nya menderita di bumi, dan Dia tidak bisa tetap di bumi selama seseorang menderita di Hades. Allah mengejar kita sampai batas akhir pelarian kita dari-Nya, ke kedalaman yang paling jauh dari Allah, ke jurang yang sangat dalam yakni Hades. Dia mengejar kita ke dalam kegelapan bumi, ke dalam lubang terdalam dari penderitaan dan kematian manusia. Turun-Nya Yesus ke Hades adalah Kebangkitan. Dia merobek Adam dan Hawa keluar dari lubang. Pintu-pintu Hades, bersama dengan engselnya, dimusnahkan seperti yang digambarkan dengan ikon yang begitu baik. Almarhum Metropolitan Anthony Bloom berkata, “Ketika kita membaca dalam Rasul ‘Pengakuan kata-kata:’ Dia turun ke alam maut, ‘kita cenderung berpikir dengan jernih,’ itu hanya salah satu dari frasa itu, ‘… Tapi saya tahu dari pengalaman bahwa itu benar. Mengapa? Karena dia turun ke alam maut saya.” Kristus dapat memasuki neraka apa pun, khususnya neraka yang kita alami. Dia dapat meraih pergelangan tangan kita dan mengangkat kita keluar dari kuburan di mana kita mengubur diri kita sendiri melalui nafsu dosa kita. Kata-kata terakhir dari Doa Bapa Kami bagi orang-orang Kristen bukanlah “… bebaskanlah kami dari yang jahat” tetapi “Milik-Mu adalah kerajaan dan kuasa dan kemuliaan Bapa dan Anak dan Roh Kudus sekarang dan sampai selama berabad-abad. Amin.” Kristus telah turun ke Hades! Dia telah menghancurkan kerajaan kegelapan! Dalam beberapa ikon, Yesus memegang sebuah gulungan berisi berita baik untuk diberitakan kepada roh-roh yang di penjara (1 Petrus 3:19). Penting untuk diingat bahwa Kristus tidak turun ke neraka tetapi ke Hades. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Neraka dan Hades tidak sama. Untuk memahami perbedaan ini, kita perlu melihat arti dari kata-kata ini yang digunakan di kalangan orang Yahudi pada zaman Yesus. Kata Ibrani untuk neraka adalah “Gehenna.” Orang Yahudi mendapatkan kata ini dari Lembah Hinom, dekat dengan Yerusalem, tempat sampah kota, yang dibakar siang dan malam, memancarkan awan asap dengan bau yang kuat. Dengan metafora yang cerdik, orang-orang Yahudi berpikir tentang orang mati — yang telah menjalani kehidupan yang sangat jahat — dilemparkan ke Lembah Hinnom. Setelah menjalani kehidupan yang sangat jahat, orang-orang Yahudi merasa bahwa mereka tidak dapat ditebus. Itu adalah Gehenna atau neraka mereka. Tetapi ketika seseorang meninggal yang hidupnya kurang baik, atau mungkin sembarangan, tapi bukan kejahatan besar, orang-orang Yahudi tidak menganggap orang-orang seperti itu telah dilemparkan ke Gehenna; mereka menganggap mereka telah pergi ke Sheol, ke lubang kegelapan. Dan di mana pun kita menemukan kata “neraka” yang digunakan dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani untuk itu adalah Sheol, yang hanya berarti tempat pesta di mana sebagian besar orang mati pergi. Orang Ibrani memiliki gagasan yang sangat kabur tentang kehidupan masa depan. Mereka tampaknya tidak menganggap Sheol sebagai tempat yang sangat nyaman atau sebagai tempat yang sangat tidak nyaman; itu hanya dunia di bawahnya. Dan ketika Pengakuan Iman Rasuli mengatakan bahwa Tuhan kita turun ke alam maut, itu tidak berarti bahwa Ia turun ke Gehenna, ke tempat di mana orang-orang yang benar-benar jahat dihukum selamanya. Melainkan itu berarti bahwa Dia turun ke dalam Sheol, ke dunia yang lebih rendah, dan berkhotbah, bukan kepada jiwa-jiwa orang yang terkutuk, tetapi untuk jiwa-jiwa orang mati yang berada dalam semacam kondisi peralihan. Apa itu kondisi perantara? Bagaimana kita memikirkannya? Tentang satu hal, ajaran Gereja cukup jelas: para Bapa Gereja, orang-orang seperti Abraham dan Ishak dan Yakub, tidak berada di neraka pada saat Tuhan kita turun — bukan apa yang kita maksudkan dengan neraka — dan mereka tidak ada di surga. Mereka harus menunggu kedatangan Tuhan (kebangkitan Yesus) kita sebelum mereka bisa ke surga atau Firdaus. Dan tempat atau keadaan di mana mereka menunggu kedatangan Kristus adalah apa yang kita sebut Sheol atau Hades — bukan Gehenna Karena itu Allah tidak membuang jiwa-jiwa orang benar ini ke Gehenna, tumpukan sampah. Dia menahan mereka di Sheol sampai Jumat Agung, tahun 33 M. Hal pertama yang Yesus lakukan setelah Dia mati di kayu salib adalah pergi dari Tubuhnya yang beristirahat di kuburan, sementara roh-Nya, jiwa-Nya, dan cinta-Nya turun ke Sheol untuk berkhotbah kepada para leluhur, para nabi, dan raja Perjanjian Lama yang diperuntukkan bagi surga. Mengapa? Karena mereka telah menantikan dengan iman akan kedatangan Kristus dan dalam iman itu telah menjalani kehidupan yang suci dan terus menyembah Allah yang satu dan benar. Mereka sudah matang untuk masuk ke Firdaus atau surga, tetapi mereka tidak bisa masuk surga sebelum Yesus menebus dosa-dosa mereka. Jadi, mereka harus menunggu, dan ruang tunggu yang ditugaskan kepada mereka disebut Sheol atau Hades (bukan Gehenna). Itulah yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa Tuhan kita turun kepada orang-orang di bawah. Dia tidak turun ke Gehenna; tetapi Dia turun ke Sheol atau Hades dan berkhotbah kepada Adam dan Hawa dan para orang suci yang sedang menunggu Dia di sana. Teolog George Florovsky menjelaskan Hades sebagai dunia kematian: “Turunnya ke Hades berarti pertama-tama masuk ke dunia kematian, ke dunia maut. Dan dalam pengertian ini itu hanyalah sinonim dari kematian itu sendiri.” Hierotheos, Metropolitan dari Nafpaktos, menjelaskan lebih lanjut, “Oleh karena itu dalam Tradisi Ortodoks Hades bukan hanya tempat tertentu tetapi dominasi kematian dan iblis. Kami mengatakan bahwa jiwa orang-orang yang berada dalam kuasa iblis dan kematian ada di Hades. Dalam pengertian inilah kita harus menganggap ajaran Gereja tentang turunnya Kristus ke sana, yaitu, bahwa Kristus masuk ke alam maut, diterima untuk mati, setelah itu dengan kuasa maut-Nya ia mengalahkan maut, menjadikan maut itu sama sekali tidak berdaya dan lemah, dan memberi setiap orang kemungkinan, dengan kuasa dan wewenang-Nya, untuk melarikan diri dari kuasa maut dan iblis.” Tangan Yang Selalu Tersedia Olivier Clement, teolog awam Ortodoks Prancis yang terkenal menggambarkan tangan Yesus seperti yang terlihat dalam ikon ini: Apa yang sedang Tuhan lakukan? Dia disalibkan dalam semua kengerian dunia namun, pada saat yang sama, dia membangkitkan kita, menawarkan kita kekuatan Kebangkitan. Tangan yang kuat itu mengulurkan, memegang kita, bukan oleh tangan, karena kita bisa berikan atau tidak berikan tangan kita, tetapi dengan pergelangan tangan. Tangan Kristus mencengkeram pergelangan tangan Adam, mencengkeram Hawa dengan pergelangan tangan, dalam pertemuan luar biasa dari kedua Adam, yang pertama dan yang terakhir. Tangan itu selalu ada di sana, dalam bayang-bayang paling gelap. Kita harus memahami bahwa Allah kita, Allah yang ingin saya beri kesaksian, bukanlah semacam kuasa surgawi yang menghancurkan kita. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Filipi, Allah telah “mengosongkan dirinya sendiri.” Dia telah menghancurkan dirinya sendiri karena kasih kepada kita. Dia telah mengosongkan dirinya sendiri, mencurahkan dirinya sendiri sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Tuhan harus membuka dirinya untuk membuat kita masuk ke dalam dia, itulah misteri turunnya Yesus ke Hades.” Dia turun ke tempat paling rendah dan gelap untuk menghancurkan kekuatan kegelapan dan tempat tinggal Iblis.

Selesai Misi Kristus di Hades adalah untuk menyelesaikan karya penyelamatan-Nya. Untuk inilah Dia mengucapkan kata “Tetelesthe” (“Sudah selesai”) dari salib. Tugasnya adalah untuk memberitakan keselamatan tidak hanya untuk yang hidup tetapi juga untuk orang benar yang sudah mati. Dalam Perjanjian Lama kita mengira bahwa Allah tidak lagi peduli dengan mereka yang dikurung di Sheol. Sekarang dinyatakan dalam Kristus bahwa ini tidak benar. Tuhan peduli pada yang hidup dan yang mati. “Apakah kita hidup atau mati, kita adalah milik Allah,” tulis Rasul Paulus. Dalam Hades Yesus menyelesaikan proklamasi universal-Nya. Dia membawa kepada semua orang – baik yang hidup maupun yang mati – konsekuensi dari pengorbanan-Nya yang menyelamatkan. Seperti dikatakan Justin sang Martir, “Tuhan, Allah Israel yang Kudus, mengingat kematian-Nya, mereka yang tidur di bumi, dan datang kepada mereka untuk memberi tahu mereka kabar baik tentang keselamatan.” Sebelum kedatangan Kristus, setiap manusia yang mati — apakah benar atau tidak — tidak memiliki sukacita untuk bertemu dengan Allah. Semua orang pergi ke jurang gelap yang disebut Hades atau Sheol. Setelah Kebangkitan Kristus, semua ini berubah. Sekarang kematian adalah “tertidur.” Di dalam tubuh, kita tertidur karena kekhawatiran di dunia dan kedamaian turun ke atas kita. Setiap orang yang mati sekarang, tertidur sampai tubuh bangkit pada hari terakhir. Ketika tubuh tidur, jiwa mengalami apa yang disebut “penghakiman khusus,” yaitu pencicipan surga atau neraka, sampai Kristus kembali, pada saat itu kita akan mengalami kepenuhan atau keadaan yang kita pilih yaitu untuk hidup bersama Allah atau terpisah dari Allah. Allah menghormati kehendak bebas kita sampai akhir. Jadi, tubuh kita, seperti yang dimiliki tubuh Kristus dimakamkan pada hari Sabtu Kudus, beristirahat dari pekerjaannya untuk mengantisipasi kebangkitan. Namun, makam itu bagi orang percaya sejati, bukan lagi sebuah penjara, melainkan ruang depan menuju surga tempat pengantin perempuan beristirahat, dengan cemas mengantisipasi kedatangan Mempelai Pria. Ronald Knox, dalam bukunya, The Creed in Slow Motion, membayangkan tentang percakapan yang dilakukan Yesus dengan beberapa orang suci Perjanjian Lama selama Turunnya ke Sheol. Ini sangat imajinatif, namun sangat benar. Bunyinya seperti ini: Ketika Tuhan kita Yesus Kristus mati di kayu Salib dan meninggalkan tubuh-Nya di kuburan untuk menunggu sampai pagi Paskah, hal pertama yang dilakukan Roh-Nya adalah mengunjungi para leluhur tua yang telah menunggu berabad-abad baginya untuk datang. Betapa mereka pasti mengerumuninya, dan betapa banyak yang harus dia jelaskan kepada mereka yang tidak bisa mereka pahami dengan benar di sini! “Tidak apa-apa, Adam” (Dia akan mengatakan); “Kamu melakukan hal yang sangat bodoh, dan hal yang sangat jahat, ketika kamu memakan buah dari pohon itu meskipun kamu telah diberitahu untuk tidak melakukannya; tetapi saya telah digantung, dari jam dua belas sampai tiga sore ini, pada jenis pohon yang sangat berbeda, dan sekarang dunia telah ditebus dari konsekuensi dosa Anda. Tidak apa-apa, Hawa; kamu tidak taat, tetapi ibu-Ku, oleh ketaatannya, telah membawa keselamatan ke dunia, saat Anda membawa dosa ke dunia. Anda lihat sekarang, Nuh, membangun bahtera untuk menyelamatkan diri dan keluarga Anda dari banjir? Itu adalah ramalan Gereja yang akan aku temukan, bahtera yang tetap mengapung di dunia yang penuh dosa, dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang saleh agar tidak tertelan di dalamnya. Anda, Abraham, ketika Anda mengorbankan putra Anda Ishak, atau lebih tepatnya siap untuk mengorbankannya, melakukan apa yang dilakukan Bapa surgawi ketika dia mengutus saya ke dunia untuk mati. Tangga Anda, Yakub, didirikan di antara bumi dan surga, adalah gambar dari Inkarnasi saya; Anda, Yusuf, dijual seharga dua puluh keping perak, saya dijual seharga tiga puluh. Apakah Anda ingat, Musa, bagaimana Anda memasang ular tembaga di atas tiang di hutan belantara, dan semua orang yang telah digigit ular, jika saja mereka melihat pada tiang ular itu mereka akan sembuh. Itulah yang akan dilakukan oleh Salib saya sekarang untuk orang berdosa. Dan seterusnya, semua daftar orang-orang kudus yang kita baca dalam Perjanjian Lama. Sekarang kamu akan pulang bersamaku; ini saatnya kamu pulang!” Semua itu adalah apa yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa Tuhan kita turun ke Hades dan berkhotbah kepada “roh-roh di penjara,” kepada para orang kudu dan semua umat beriman Perjanjian Lama yang menunggu-Nya. Tangannya selalu di sana terulur untukmu dan aku. Baptisan Melalui pembaptisan kita juga mengalami turun bersama Kristus ke dalam kematian-Nya. Itu adalah turun ke Sheol. John Chrysostom mengungkapkan kebenaran ini dengan sangat jelas ketika ia menulis, “tindakan turun ke dalam air dan naik dari air melambangkan turunnya ke Hades dan meninggalkan tempat itu.” Dengan demikian, baptisan tidak hanya mati dan bangkit bersama Kristus, tapi juga turun ke Sheol atau alam maut dan meninggalkannya saat kita bangkit dan mengambil langkah pertama kita dalam mengikuti Yesus. Metropolitan Hierotheos menjelaskan bahwa melalui turunnya Yesus ke Hades, Yesus memang menghancurkan kematian dan kuasa iblis. Dia berbicara secara khusus tentang bagaimana gerbang perunggu Hades musnah: Peristiwa ini sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Raja Daud berkata, “Ia telah memecahkan pintu-pintu tembaga, dan membelah besi menjadi dua” (Maz 107:16). Dan Nabi Yesaya menyampaikan firman Allah: “Aku akan pergi mendahului kamu dan meluruskan tempat-tempat yang bengkok; Aku akan membongkar pintu gerbang perunggu” (Yes 45:2). Menafsirkan peristiwa ini, John Chrysostom menunjukkan bahwa dia tidak mengatakan bahwa dia membuka gerbang perunggu, tetapi dia merusaknya sehingga penjara itu menjadi tidak berguna. Dia juga tidak mengatakan bahwa dia memindahkan gerbang, tetapi dia menghancurkannya sehingga penjara tidak lagi terlihat, karena di mana tidak ada pintu, atau gerbang, bahkan jika seseorang masuk ke sana, dia tidak bisa ditahan. Ketika Kristus menghancurkan sesuatu menjadi berkeping-keping, maka tidak ada yang bisa memperbaikinya lagi. Hati saya senang, dan daging saya juga akan beristirahat dalam harapan. Karena Kamu tidak akan meninggalkan jiwaku di neraka. Aku berkata kepada Tuhan : “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. (Maz 16:2, 10-11 TB) O Lord God of my salvation, I have cried out to you day and night. My soul is full of troubles and my life has drawn near to Sheol. I lie in the depths of the pit, in the regions dark and deep; my friends and those who love me are removed far from me, and my companions are in darkness. But by grace, I defy the darkness, and I declare your saving help in the land of forgetfulness, crying aloud, Alleluia! —From the Akathist to Jesus

Referensi: Coniaris, M. Anthony. Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

Bright Friday: Life-giving Spring

Hari ini kita memperingati Mata Air Pemberi Kehidupan dari Theotokos. Pernah ada sebuah gereja yang indah di Konstantinopel yang didedikasikan untuk Bunda Allah, yang telah dibangun pada abad kelima oleh Kaisar Suci Leo Agung (20 Januari) di distrik Seven Towers. Sebelum menjadi kaisar, Leo berjalan di daerah hutan di mana dia bertemu dengan seorang pria buta yang haus dan meminta Leo untuk membantunya menemukan air. Meskipun dia setuju untuk mencari air, dia tidak dapat menemukannya. Tiba-tiba, dia mendengar suara yang mengatakan kepadanya bahwa ada air di dekatnya. Dia melihat lagi, tetapi masih tidak dapat menemukan air. Kemudian dia mendengar suara berkata, “Kaisar Leo, pergilah ke bagian terdalam dari hutan, dan kamu akan menemukan air di sana. Ambil air keruh di tangan Anda dan berikan kepada orang buta itu untuk diminum. Kemudian ambil tanah liat itu dan letakkan di matanya. Maka kamu akan tahu siapa aku.” Leo mematuhi instruksi ini, dan orang buta itu kembali melihat. Kemudian, Leo menjadi kaisar, seperti yang dinubuatkan oleh Theotokos.

Leo membangun sebuah gereja di atas situs dengan biaya sendiri, dan air terus bekerja untuk penyembuhan ajaib. Oleh karena itu, itu disebut “Mata Air Yang Memberi Kehidupan.” Setelah kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453, gereja dirobohkan oleh orang-orang Muslim, dan batu-batu itu digunakan untuk membangun sebuah masjid. Hanya sebuah kapel kecil yang tersisa di lokasi gereja. Dua puluh lima langkah mengarah ke kapel, yang memiliki jendela di atap untuk membiarkan cahaya masuk. Mata air suci itu masih ada di sana, dikelilingi oleh pagar. Setelah Revolusi Yunani pada tahun 1821, bahkan kapel kecil ini dihancurkan dan Musim Semi dimakamkan di bawah reruntuhan. Orang-orang Kristen kemudian memperoleh izin untuk membangun kembali kapel, dan pekerjaan dimulai pada bulan Juli 1833. Ketika para pekerja membersihkan tanah, mereka menemukan fondasi gereja sebelumnya. Sultan mengizinkan mereka untuk membangun tidak hanya sebuah kapel, tetapi sebuah gereja yang baru dan indah di atas fondasi yang lama. Konstruksi dimulai pada 14 September 1833, dan selesai pada 30 Desember 1834. Patriark Konstantinus II menguduskan gereja itu pada 2 Februari 1835, membaktikannya kepada Theotokos.

Orang-orang Turki menodai dan menghancurkan gereja lagi pada tanggal 6 September 1955. Sebuah gereja yang lebih kecil sekarang berdiri di lokasi, dan perairan Mata Air Pemberi Kehidupan terus melakukan mukjizat. Ada juga Ikon Musim Semi Pemberi Kehidupan dari Theotokos yang diperingati pada tanggal 4 April. 

Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/05/03/32-bright-friday-the-life-giving-spring-of-the-mother-of-god

Bright Friday: Life-giving Spring

Hari ini kita memperingati Mata Air Pemberi Kehidupan dari Theotokos. Pernah ada sebuah gereja yang indah di Konstantinopel yang didedikasikan untuk Bunda Allah, yang telah dibangun pada abad kelima oleh Kaisar Suci Leo Agung (20 Januari) di distrik Seven Towers. Sebelum menjadi kaisar, Leo berjalan di daerah hutan di mana dia bertemu dengan seorang pria buta yang haus dan meminta Leo untuk membantunya menemukan air. Meskipun dia setuju untuk mencari air, dia tidak dapat menemukannya. Tiba-tiba, dia mendengar suara yang mengatakan kepadanya bahwa ada air di dekatnya. Dia melihat lagi, tetapi masih tidak dapat menemukan air. Kemudian dia mendengar suara berkata, “Kaisar Leo, pergilah ke bagian terdalam dari hutan, dan kamu akan menemukan air di sana. Ambil air keruh di tangan Anda dan berikan kepada orang buta itu untuk diminum. Kemudian ambil tanah liat itu dan letakkan di matanya. Maka kamu akan tahu siapa aku.” Leo mematuhi instruksi ini, dan orang buta itu kembali melihat. Kemudian, Leo menjadi kaisar, seperti yang dinubuatkan oleh Theotokos. Leo membangun sebuah gereja di atas situs dengan biaya sendiri, dan air terus bekerja untuk penyembuhan ajaib. Oleh karena itu, itu disebut “Mata Air Yang Memberi Kehidupan.” Setelah kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453, gereja dirobohkan oleh orang-orang Muslim, dan batu-batu itu digunakan untuk membangun sebuah masjid. Hanya sebuah kapel kecil yang tersisa di lokasi gereja. Dua puluh lima langkah mengarah ke kapel, yang memiliki jendela di atap untuk membiarkan cahaya masuk. Mata air suci itu masih ada di sana, dikelilingi oleh pagar. Setelah Revolusi Yunani pada tahun 1821, bahkan kapel kecil ini dihancurkan dan Musim Semi dimakamkan di bawah reruntuhan. Orang-orang Kristen kemudian memperoleh izin untuk membangun kembali kapel, dan pekerjaan dimulai pada bulan Juli 1833. Ketika para pekerja membersihkan tanah, mereka menemukan fondasi gereja sebelumnya. Sultan mengizinkan mereka untuk membangun tidak hanya sebuah kapel, tetapi sebuah gereja yang baru dan indah di atas fondasi yang lama. Konstruksi dimulai pada 14 September 1833, dan selesai pada 30 Desember 1834. Patriark Konstantinus II menguduskan gereja itu pada 2 Februari 1835, membaktikannya kepada Theotokos. 65 Orang-orang Turki menodai dan menghancurkan gereja lagi pada tanggal 6 September 1955. Sebuah gereja yang lebih kecil sekarang berdiri di lokasi, dan perairan Mata Air Pemberi Kehidupan terus melakukan mukjizat. Ada juga Ikon Musim Semi Pemberi Kehidupan dari Theotokos yang diperingati pada tanggal 4 April.

Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/05/03/32-bright-friday-the-life-giving-spring-of-the-mother-of-god

2nd Sunday of Pascha: St. Thomas Sunday

Kondisi para murid Yesus yang sedang ketakutan, terpuruk, dan tanpa harapan atas penyaliban Yesus (Yoh 20:19). Mereka berkumpul dan membicarakan apa yang terjadi terhadap guru mereka. Mereka melihat penderitaan dan kematian guru mereka namun mereka tidak mengetahui ada kebangkitan Yesus. Apa yang mereka lihat dan rasakan adalah penderitaan dan kematian dan itu membawa ketakutan dan kecemasan serta tanpa harapan. Begitu juga dengan kita ketika tidak ada kebangkitan maka yang ada adalah hidup tanpa harapan dan ketakutan sebab pada akhirnya semua kita akan menuju pada kematian dan kesia-siaan hidup. Lalu tiba-tiba tanpa mereka duga di ruangan yang tersembunyi dan terkunci itu ada suara: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan suara itu adalah suara Yesus sendiri yang berdiri di tengah-tengah mereka (Yoh 20:19). Lalu Yesus mengulangi kalimat yang sama lagi, “Damai sejahtera bagi kamu!” setelah Dia menunjukkan bukti historis kebangkitan Dia yaitu tubuh kebangkitan-Nya. Tangan dan lambungNya adalah bukti atau fakta derita dan penyaliban yang kejam yang Yesus alami namun Dia mengalahkan salib dan kematian yang mengancam setiap manusia dengan kebangkitan tubuh-Nya dari alam maut/sheol dan memberitakan “Damai Sejahtera” kepada para murid-Nya dan kita semua. 66 Alam maut Dia porak-porandak dan menyelamatkan mereka yang selama ini telah mununggu Dia turun ke alam maut pada saat penguburan di hari Sabat. Alam maut dan Iblis tidak bisa mencegah Dia untuk bangkit pada hari Minggu pagi setelah 3 hari 3 malam sejak penyaliban-Nya dan dengan antusias Yesus memberitakan “Damai Sejahtera bagi kita”. Damai inilah yang dicari-cari oleh setiap manusia yang mengalahkan setiap ketakutan dan kesia-siaan hidup di dunia. Damai inilah damai Paskah atau damai kebangkitan Yesus yang telah mengalahkan kuasa maut, Iblis, dan kematian. Damai inilah damai keselamatan kekal yang telah dinubuatkan sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Sudahkah kita mengalami damai sejahtera kebangkitan itu di dalam hati, jiwa, dan raga kita? Sudahkah kita bisa melihat dibalik penderitaan dan kematian Yesus ada kemenangan Dirinya yaitu kebangkitan-Nya? Kita tidak lagi seperti para murid yang sedang berkumpul ketakutan tetapi kita berkumpul untuk bersinergi memberitakan damai sejahtera Yesus kepada setiap orang. Sebab itu, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Para murid tidak boleh lagi dalam kondisi ketakutan tetapi pergi dengan kuasa kebangkitan Yesus melalui kuasa Roh Kudus untuk memberitakan damai sejahtera itu kepada semua bangsa (Yoh 20:22). Ada kuasa Roh Allah yang ada di dalam diri para murid sehingga mereka juga mengalami kemenangan atas ketakutan yaitu damai sejahtera dan kebangkitan atas maut yaitu mengalami Paskah dan Pentakosta. Paskah yang mereka alami adalah kebangkitan jiwa dan roh mereka menjadi para Rasul sekarang yang diutus untuk memberitakan damai sejahtera itu dan Pentakosta yang mereka alami adalah diembusi Roh Kudus oleh Yesus sehingga mereka mewarisi semangat Pentakosta. Mereka menjadi Rasul melalui kuasa Roh Kudus, kuasa yang sama yang diterima oleh Yesus dari Bapa. Bapa Mengutus Yesus dan Yesus mengutus mereka sehingga Yesus berkata kepada mereka di ayat 23 untuk mewakili Yesus di dunia ini. Jadi, para murid ini mengalami kemenangan atas ketakutan mereka dengan mengalami damai sejahtera di dalam diri mereka dan mengalami pentakosta yaitu menerima Roh Kudus dan kuasa-Nya. Kemudian, Yohanes menceritakan tentang murid yang lain yang tidak hadir pada hari pertama minggu Paskah itu yaitu Tomas atau yang disebut Didimus. Tomas tidak percaya pada cerita rekanrekan-Nya (Yoh 20:24-25). Bukan karena dia seorang peragu atau skeptis melainkan ini adalah suatu berita yang paling penting bagi hidup dia sehingga dia sendiri yang harus menjadi saksi mata langsung seperti para rasul lainnya. Yesus mengetahui pemikiran Tomas dan Dia sengaja menampakkan diri lagi kepada para murid dan Tomas. Yesus meminta Tomas untuk menaruh jarinya di tangan dan di lambung Yesus seperti permintaan Tomas sebelumnya (baca Yoh 20:26-27). Dan Tomas membuktikannya dan dia menjadi saksi mata atas bukti atau fakta historis kebangkitan Yesus. Yang mencengangkan adalah Tomas menjadi rasul pertama yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah-Nya. Yesus adalah Tuhan berarti Dialah penguasa atas hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia mengabdikan hidupnya. Yesus adalah Allah berarti Dialah sumber dan pemilik hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia mengemnbalikan hidupnya. Yesus sebagai Tuhan dan Allah adalah fakta historis yang disaksikan oleh Tomas dan para murid. Yesus Tuhan dan Allah adalah berita kemenangan Yesus atas penderitaan, maut, dosa, dan Iblis. Yesus Tuhan dan Allah adalah damai sejahtera kebangkitan yang kita alami di dalam hati, jiwa, dan raga kita. Walaupun kita bukan saksi mata langsung seperti Tomas dan para murid, tapi mengalami damai sejahtera kebangkitan itu jauh lebih penting sebab kita memiliki iman atau percaya kepada Yesus. Dengan iman kita bisa melihat dan mendengar bahwa Yesus telah mengetuk pintu hati kita untuk menerima Dia dan merasakan damai sejahtera itu di dalam hati kita. Kita juga mengalami Paskah dan Pentakosta seperti para murid. Dan Yesus menyebut kita orang berbahagia atau diberkati sebab kita percaya kepada-Nya. Di dalam Iman kita memiliki mata rohani untuk bisa percaya kepada Yesus dan melihat karya Yesus di dalam hidup kita sampai kita melihat Yesus mata dengan mata dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Karya Yesus adalah pengudusan hidup kita sehingga kita menjadi kudus atau suci dan pada akhirnya kita bisa melihat Allah (1 Yoh 3:2 dan Mat 5:8). Mari kita menjadi seperti Tomas yang rela mengabdikan hidupnya bagi Kristus sehingga Kristus yang akan bertindak jadi Tuhan dan Allah bagi hidup kita. Menurut Tradisi Gereja, Rasul Suci Tomas mendirikan gereja-gereja Kristen di Palestina, Mesopotamia, Parthia, Ethiopia dan India. Mengkhotbahkan Injil membuatnya meninggal sebagai martir. Karena telah mempertobatkan istri dan anak dari wali kota Meliapur [Melipur] di India, rasul suci dikurung di penjara, menderita siksaan, dan akhirnya, ditusuk dengan lima tombak, ia meninggal sebagai martir bagi Tuhan. Bagian dari peninggalan Rasul Suci Tomas ada di India, di Hongaria dan di Mt. Athos. Nama Rasul Tomas dikaitkan dengan Ikon Arab (atau Arapet) Bunda Allah (6 September). Beberapa ikon yang menggambarkan peristiwa ini tertulis “Tomas Sang Peragu.” Ini tidak tepat. Dalam bahasa Yunani, prasasti itu berbunyi, “Sentuhan Tomas.” Prasasti Slavonic adalah, “Iman Tomas.” Ketika Rasul Tomas menyentuh tangan dan lambung Yesus, ia tidak lagi memiliki keraguan. Hari ini juga dikenal sebagai “Antipascha.” Ini tidak berarti “menentang Paskah,” tetapi “menggantikan Paskah.” Dimulai dengan hari Minggu pertama setelah Paskah, Gereja mendedikasikan setiap hari Minggu tahun ini untuk Kebangkitan Tuhan. Hari Minggu disebut “Kebangkitan” dalam bahasa Rusia, dan “Hari Tuhan” dalam bahasa Yunani.

3rd Sunday of Pascha: Myrrhbearing Women Sunday

“Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf. Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu. Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan. Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Mereka pun sangat terkejut, tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.” (Markus 15:43-16:8 TB) “Kita seringkali melakukan segala sesuatu dengan gagal alias menjadi pecundang, loser, namun kita pecundang di dalam Kristus dan Kristus yang membenarkan dan menyempurnakan kegagalan kita menjadi keberhasilan.” Kira-kira kutipan seperti ini yang saya simpulkan ketika saya merenungkan tentang para murid Yesus yang sembunyi ketakutan paska kebangkitan penyaliban dan kematian Yesus. Mereka menjadi pecundang sebelum Yesus menampakkan dirinya secara langsung. Namun hal berbeda yang dialami oleh para wanita pembawa rempah-rempah. Pagi hari setelah matahari terbit mereka pergi membeli rempah-rempah dan datang ke bukit batu kuburan Yesus untuk meminyaki mayat atau jasad Yesus. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yoses, dan Salome. Mereka secara naif dan berani datang ke sana tanpa tahu bahwa Yesus telah bangkit. Mereka tidak tahu banyak hal tentang doktrin mengapa Yesus harus mati disalib, dikubur, dan bangkit. Sejak penyaliban mereka telah berada di dekat Yesus (Yoh 19:25). Mereka tidak memiliki doktrin yang dalam tapi mereka memiliki cinta yang dalam kepada Yesus. Tindakan mereka membawa rempah-rempah lahir dari cinta yang tulus kepada Yesus. Karena cinta mereka jadi berani untuk berkorban dengan taruhan nyawa mereka. Mereka bisa saja memilih sikap seperti murid-murid Yesus yang jadi pecundang bersembunyi. Tapi para wanita ini memilih untuk datang dan menghormati Yesus. Inilah sikap berani atau courage. Berani berarti memilih sikap untuk melakukan suatu kebajikan kepada seseorang dengan berkorban walaupun bisa merugikan diri mereka sendiri. Berani lahir dari kasih yang tulus kepada Yesus. Berani lahir dari iman dan pengharapan kepada Yesus. Itulah sikap para perempuan pembawa rempah-rempah. Kita belajar meneladani keberanian mereka. Gereja secara khusus merayakan minggu para perempuan pembawa rempah pada minggu ketiga Paskah. Fr. Ted Bobosh menuliskan: “Yesus mengajar kita untuk saling membasuh kaki, dan para Wanita Murid Tuhan ini pergi ke kubur untuk membasuh tubuh Yesus. Para murid laki-laki yang memperdebatkan siapa di antara mereka yang terbesar adalah yang semuanya bersembunyi dengan pengecut pada saat itu. Jadi, siapa di antara orang-orang ini – wanita atau pria – yang menunjukkan diri mereka sebagai murid Kristus yang sejati? Para Wanita murid Kristus bersaksi kepada kita tentang pengorbanan diri, altruisme, pelayanan, kebenaran, kemuliaan, kasih, kemurnian, keberanian, dan keindahan. Wanita pembawa rempah-rempah mengungkapkan kepada kita cara yang lebih sempurna, sehat, spiritual, dan indah. Tuhan menciptakan keindahan dan menetapkan kekekalan di hati kita. Seperti yang dinyanyikan oleh Pemazmur: “Satu hal yang saya minta dari TUHAN, yang akan saya cari; agar aku dapat tinggal di rumah TUHAN seumur hidupku, untuk melihat keindahan Tuhan …” (Maz 27:4) Para Wanita Murid Tuhan itu mengingatkan saya tentang rumah sakit untuk anak-anak yang pernah saya baca. Rumah sakit tidak melihat anak-anak hanya sebagai pasien tetapi juga sebagai penyembuh diri sendiri dan orang lain. Anak-anak tidak dipandang sebagai korban yang membutuhkan bantuan profesional, tetapi sebagai orang yang mampu menyembuhkan orang lain. Moto rumah sakit: “Jika Anda dapat membantu orang lain, Anda tidak cacat.” Di Gereja kita bukan hanya orang yang terluka berjalan atau orang yang sakit rohani, kita mampu menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap orang lain – kita tidak cacat. Kita ada di sini untuk melayani, tidak peduli apa kondisi kita atau apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri atau seberapa banyak kita perlu bertobat. Anda tidak dinonaktifkan karena Anda dapat membantu orang lain. Kita di sini untuk menjadi berani seperti para wanita murid-murid Tuhan dan melayani mereka yang membutuhkan. Apakah kita bahkan bersusah payah mencari keindahan rohani ini dalam hidup kita, dan melakukan hal-hal indah yang bermanfaat bagi orang lain tetapi tidak bermanfaat bagi diri kita sendiri? atau apakah kita selalu memikirkan apa yang menguntungkan saya? Apakah kita mengajari anak-anak kita nilai keindahan ini atau hanya kepedulian kita bahwa mereka tumbuh dan menjadi makmur, kuat dan sukses? Jika kita ingin menjadi murid Kristus seperti para murid Wanita yang kita hormati sebagai orang suci, maka kita perlu melakukan diskusi serius dalam keluarga kita dan dengan satu sama lain tentang kebajikan, keindahan, kebenaran, kemurnian, dan semua karakteristik Allah ini. Seringkali kita menempatkan kekuatan, kekayaan, kesuksesan, kebanggaan, dan ketenaran sebagai cita-cita tertinggi kita. Kita sangat membutuhkan pujian. Terlalu sering di dunia modern kita ingin memperdebatkan peran kekuasaan dan otoritas dalam kehidupan gereja. Tetapi Kristus mengajarkan kepada kita bahwa argumen semacam itu adalah milik orang yang tidak percaya (Lukas 22: 25-26). Bagi kami diskusi bukanlah siapa yang terbesar, tetapi bagaimana kita dapat saling melayani sesama dan melayani Tuhan?” Ted Bobosh benar bahwa sebagai Murid Kristus kita seringkali jadi pecundang seperti Petrus dan teman-teman tetapi ketika kita jadi pecundang kita ingat kita pecundang di dalam kuasa kebangkitan Yesus sehingga kita punya kuasa Yesus untuk menyempurnakan ketidaksempurnaan kita. Selalu ada kesempatan kedua dari Tuhan seperti yang dialami para murid laki-laki Yesus untuk menjadi pemenang, pemberani, mulia seperti para wanita pembawa rempah-rempah itu. Mari kita tidak takut gagal/ berani dalam berjalan bersama Kristus. Kita membawa spirit Maria Magdalena, dan Maria-maria yang lain di dalam mengiring Kristus. Berani mencoba, berani melangkah ke arah kebajikan, dan berani coba lagi jika kita gagal dan semua ini kita lakukan atas dasar cinta kita pada Yesus. Amin!

Referensi: http://orthochristian.com/121115.html

4th Sunday of Pascha: Paralytic Sunday

            Telah 38 tahun orang lumpuh itu menderita sakit dan menantikan kesembuhan dari guncangan air kolam Betesda sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu. Siapa saja yang terdahulu masuk ke dalam kolam itu maka segala macam penyakitnya akan sembuh. Tapi tidak ada satu orang pun yang menurunkan dia dan sementara ia menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahuluinya. Demikian itu berlangsung bertahun-tahun. Di sekitar dia banyak orang sakit, buta, orang timpang atau cacat dan lumpuh yang berebut untuk disembuhkan dan dia sendiri tidak punya daya untuk masuk ke kolam itu. Setiap tahun dia menyaksikan orang lain yang disembuhkan padahal dia telah begitu dekat dengan kolam itu. Artinya dia begitu dekat dengan kesembuhan namun kurang satu langkah untuk masuk ke dalam kolam itu. Apa daya dia lumpuh dan tidak berdaya. Kesempatan selalu tertutup bagi dia. Ini menjadi cerita tragis bagi orang lumpuh itu. Tidak ada yang peduli selama 38 tahun dia menderita. Begitulah keadaan dunia kita. Selalu ada hal tragis di sekitar kita. Tragedi dan penderitaan tidak bisa dihindari di dalam dunia yang telah jatuh dosa. Ini semua akibat dosa yang dialami oleh manusia seperti kata St. Ignatius (Brianchaninov), “Sin is the cause of all man’s sorrows, both in time and in eternity. Sorrows are the natural consequence, the natural property of sin, just as sufferings, produced by physical illnesses, are the unavoidable property of these illnesses, and their characteristic effect. Sin in the broad sense of the word could also be called the fall of humankind, or its eternal death, and encompasses all people without exception. Some sins are the sad inheritance of whole human societies. Finally, each person has his own individual passions, his own particular sins he has committed, that belong to him exclusively. Sin, in all these various forms, serves as the beginning of all sorrows and catastrophes to which all mankind is subjected, to which human societies are subjected, and to which each person in particular is subjected. The state of fallenness, the state of eternal death, by which all mankind is infected and stricken, is the source of all other human sins, both societal and personal. Our widespread sin-poisoned nature has acquired the ability to sin and an inclination toward sin, it has subjected itself to sin, and can neither remove sin from itself, nor do without it in any of its activities. A person who has not been renewed cannot help but sin, although he may not want to sin (Rom. 7:14–23).8 Ada banyak kelumpuhan karena dosa di mana-mana bahkan termasuk diri kita sendiri. Bukan hanya kelumpuhan jasmani atau fisik tapi juga kelumpuhan rohani atau mental kita. Di berbagai media informasi kita sering mendengar atau menonton berbagai peristiwa kejahatan dan tragedi. Kita memang tidak berdaya melawan penderitaan, kejahatan, dan kematian karena kita mengalami kelumpuhan rohani oleh sebab dosa kita sendiri. Metropolitan Anthony of Sourozh menuliskan, “We are surrounded by people who are in need. It is not only people who are physically paralyzed who need help. There are so many people who are paralyzed in themselves, and need to meet someone who would help them. Paralyzed in themselves are those who are terrified of life, because life has been an object of terror for them since they were born: insensitive parents, heartless, brutal surroundings. How many are those who hoped, when they were still small, that there would be something for them in life. But no. There wasn’t. There was no compassion. There was no friendliness. There was nothing. And when they tried to receive comfort and support, they did not receive it. Whenever they thought they could do something they were told, “Don’t try. Don’t you understand that you are incapable of this?” And they felt lower and lower.”9 Dunia yang penuh dosa dan lumpuh ini telah berlangsung sampai hari ini dan akan sampai kesudahan zaman. Namun ada satu pengharapan yang sudah datang dan akan diselesaikan oleh seorang Pribadi. Dialah Yesus Kristus. Yohanes mencatat di ayat ke-6 ada sosok Yesus yang datang dan menawarkan kesembuhan kepada orang lumpuh itu, “Maukah engkau sembuh?” Sontak orang itu pun heran dan menjadi sembuh, lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan. Itulah satu bukti di tengah kelumpuhan dunia Yesus telah datang memberi kesembuhan kepada orang itu dan kita semua. Dan tawaran Yesus itu, “Maukah engkau sembuh?” masih berlaku sampai sekarang. Dan itu juga pengharapan bagi kita yang kelak akan diselesaikan oleh Kristus. Tawaran kesembuhan ini adalah kesembuhan dari dosa 8 http://orthochristian.com/35019.html. 9 http://orthochristian.com/121211.html. 72 yang merupakan bibit atau benih dari segala penderitaan dan kematian manusia. Yesus telah mengalahkan dosa dengan jalan Dia rela mati di atas kayu salib, dikubur, dan bangkit dari kematian. Dia sendiri menjadi obat kelumpuhan kita. Daging dan darah-Nya menjadi obat kesembuhan kita dari dosa dan kelumpuhan. Menerima Yesus berarti dengan iman kita butuh belas kasihan-Nya untuk menyembuhkan kelumpuhan rohani kita karena dosa. Kemudian kita baru bisa berjalan di dalam Dia menuju kepada kesempurnaan atau serupa dengan Kristus (Kol 2:6-7; 1 Yoh 3:2; Rom 8:29). “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yoh 5:14). Ketika kita belum menerima tawaran Yesus maka kita masih lumpuh secara rohani dan tentunya kita tidak bisa berjalan di dalam Dia. Namun kita sudah menerima kesembuhan dari Yesus, mari kita berjalan dengan sungguh-sungguh bersama-Nya. Mari kita belajar dari cerita di atas supaya tidak ada orang lumpuh sekian lama tanpa ada pertolongan dari sesama. Mari kita menjadi mata, tangan, dan kaki Kristus di dunia ini untuk menolong sesama kita yang menderita dan sakit karena dosa. Sama seperti Bapa dan Yesus yang terus bekerja sampai sekarang (ayat 18), kita pun tidak boleh tinggal diam menonton tetapi turun tangan berbuat sesuatu dengan daya kita sebab kita pun sudah disembuhkan oleh Yesus. Kita bukan pemuka Yahudi yang menjadi penghalang tetapi kita adalah penyalur berkat kesembuhan dari Yesus. Mari kita buka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar lalu berbelas kasihan kepada orang-orang di sekitar kita. Seperti kata Anthony of Sourozh, “Let us look at one another with understanding, with attention. Christ is there. He can heal; yes. But we will be answerable for each other, because there are so many ways in which we should be the eyes of Christ who sees the needs, the ears of Christ who hears the cry, the hands of Christ who supports and heals or makes it possible for the person to be healed. Let us look at this parable of the paralytic with new eyes; not thinking of this poor man two thousand years ago who was so lucky that Christ happened to be near him and in the end did what every neighbor should have done. Let us look at each other and have compassion, active compassion, insight, and love if we can. And then this parable will not have been spoken or this event will not have been related to us in vain.10 Di mana ada belas kasihan orang percaya di situ ada belas kasihan dan tawaran Yesus untuk menyembuhkan mereka. Bukankah Dia yang sedang mengetuk pintu hati manusia? (Wah 3:20) dan 10 http://orthochristian.com/121211.html. Tugas  kita adalah memberitakan kepada mereka bahwa Yesus sudah berdiri di depan pintu hati mereka dan sedang mengetuk, bukalah maka mereka akan menjadi sembuh. Amin! 5th Sunday of Pascha: Samaritan Woman Sunday Martir Suci Photina (Svetlana), seorang wanita Samaria, putra-putranya, Victor (bernama Photinus) dan Yoses; dan saudari-saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, Kyriake; Putri Nero, Domnina; dan Martir Sebastian. Martir Suci Photina adalah Wanita Samaria, yang dengannya Juruselamat bercakap-cakap di Sumur Yakub (Yohanes 4: 5-42). Pada masa kaisar Nero (54-68 M), yang menunjukkan kekejaman berlebihan terhadap orang-orang Kristen, Santa Photina tinggal di Kartago bersama putranya yang lebih kecil, Yoses, dan dengan berani mengkhotbahkan Injil di sana. Putranya yang tertua, Victor, bertempur dengan gagah berani di pasukan Romawi melawan kaum barbar, dan diangkat menjadi komandan militer di kota Attalia (Asia Kecil). Belakangan, Nero memanggilnya ke Italia untuk menangkap dan menghukum orang Kristen. Sebastian, seorang pejabat di Italia, berkata kepada Victor, “Saya tahu bahwa Anda, ibumu dan saudaramu, adalah pengikut Kristus. Sebagai teman saya menyarankan Anda untuk tunduk pada kehendak kaisar. Jika Anda memberi tahu orang-orang Kristen, Anda akan menerima kekayaan. Saya akan menulis surat kepada ibu dan kakak Anda, meminta mereka untuk tidak memberitakan Kristus di depan umum. Biarkan mereka mempraktikkan keyakinan mereka secara rahasia. ” Victor menjawab, “Saya ingin menjadi pengkhotbah Kristus seperti ibu dan saudara lelaki saya.” Sebastian berkata, “O Victor, kita semua tahu kesengsaraan apa yang menanti Anda, ibu dan saudara lelaki Anda.” Kemudian tiba-tiba Sebastian merasakan sakit yang tajam di matanya. Dia tercengang, dan wajahnya muram. Selama tiga hari ia terbaring buta, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pada hari keempat dia menyatakan, “Dewa orang Kristen adalah satu-satunya Tuhan yang benar.” Santo Victor bertanya mengapa Sebastian tiba-tiba berubah pikiran. Sebastian menjawab, “Karena Kristus memanggil saya.” Segera dia dibaptis dan mendapatkan kembali penglihatannya. Para pelayan Sebastian, setelah menyaksikan mukjizat itu, juga ikut dibaptiskan. 74 Laporan tentang hal ini sampai kepada kaisar Nero, dan ia memerintahkan agar orang-orang Kristen dibawa kepadanya di Roma. Kemudian Tuhan sendiri menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Jangan takut, karena aku menyertai kamu. Nero dan semua yang melayani dia akan dikalahkan.” Tuhan berkata kepada Victor,” Mulai hari ini namamu akan menjadi Photinus karena melalui kamu banyak orang akan tercerahkan dan akan percaya kepada-Ku.” Tuhan kemudian mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk menguatkan Sebastian agar bertahan sampai akhir. Semua hal ini dan bahkan peristiwa di masa depan diungkapkan kepada Photina. Dia meninggalkan Kartago ditemani beberapa orang Kristen dan bergabung dengan gereja di Roma. Di Roma kaisar memerintahkan orang-orang Kristen untuk dibawa ke hadapannya dan dia bertanya kepada mereka apakah mereka benar-benar percaya kepada Kristus. Semua orang yang mengaku menolak untuk meninggalkan Juruselamat. Kemudian kaisar memerintahkan untuk menghancurkan sendi jari para martir. Selama siksaan, para martir ini tidak merasakan sakit dan tangan mereka tetap tidak terluka. Nero memerintahkan agar Sebastian, Photinus, dan Yoses dibutakan dan dikurung di penjara, dan Photina dan lima saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, dan Kyriake dikirim ke pengadilan kekaisaran di bawah pengawasan putri Nero, Domnina. Santa Photina mempertobatkan Domnina dan semua pelayannya menjadi pengikut Kristus. Dia juga mempertobatkan seorang penyihir yang telah membawa makanan beracun untuk membunuhnya. Tiga tahun berlalu dan Nero mengutus salah seorang pelannya ke penjara. Para utusan melaporkan kepadanya bahwa Sebastian, Photinus dan Yoses, yang telah dibutakan, telah sepenuhnya pulih, dan bahwa orang-orang mengunjungi mereka untuk mendengarkan khotbah mereka, dan memang seluruh penjara telah diubah menjadi tempat yang terang dan harum di mana Allah dimuliakan. Nero kemudian memerintahkan untuk menyalibkan orang-orang kudus itu, dan memukuli tubuh telanjang mereka dengan tali. Pada hari keempat kaisar mengirim para pelayan untuk melihat apakah para martir masih hidup. Tetapi ketika mendekati tempat siksaan para pelayan kaisar Nero menjadi buta. Malaikat Tuhan membebaskan para martir dari salib mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang kudus mengasihani para pelayan yang buta dan memulihkan penglihatan mereka dengan doa mereka kepada Tuhan. Mereka yang disembuhkan datang percaya kepada Kristus dan segera dibaptis. Dalam kemarahannya, Nero memerintahkan untuk menguliti kulit orang kudus Photina dan melemparkannya ke dalam sumur. Sebastian, Photinus, dan Yoses dipotong kaki-kakinya dan mereka 75 dilemparkan ke anjing dan kemudian mereka dikuliti. Para saudari perempuan Photina juga menderita siksaan yang mengerikan. Nero memberi perintah untuk memotong payudara mereka dan kemudian menguliti kulit mereka. Kaisar menyiapkan eksekusi untuk Photis: mereka mengikat kakinya dengan kaki di puncak dua pohon yang bengkok. Ketika tali-tali itu ditebang, pohon-pohon itu tumbuh tegak dan mencabik-cabik martir. Kaisar memerintahkan yang lainnya dipenggal. Martir Photina dikeluarkan dari sumur dan dikurung di penjara selama dua puluh hari. Setelah itu Nero membawa Photina dan bertanya apakah dia sekarang mau mengalah dan mempersembahkan korban kepada berhala. Photina meludahi wajah kaisar, dan menertawakannya, berkata, “Wahai orang yang paling tidak beradab atas orang buta, Anda lelaki yang brengsek dan bodoh! Apakah Anda pikir saya begitu tertipu sehingga saya akan setuju untuk meninggalkan Tuhanku Kristus dan sebagai gantinya menawarkan pengorbanan kepada berhala yang sama buta dengan Anda?” Mendengar kata-kata seperti itu, Nero memerintahkan untuk sekali lagi membuang Photina ke sumur dan di sana ia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan pada tahun 66. Pada Kalender Yunani, Photina diperingati pada 26 Februari.

Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/03/20/100846-martyr-photina-svetlana-the-samaritan-woman-andher-sons

6th Sunday of Pascha: Blind Man Sunday

Pada hari Minggu ini, bahwa sebelum Hari Kenaikan Kristus, Gereja mengingatkan kita akan Injil orang yang lahir buta. Ada dua poin di sini yang ingin saya utarakan. Pertama, kata-kata Kristus tentang mengapa orang itu dilahirkan buta. Membalas murid-murid-Nya, Dia mengatakan bahwa kebutaannya bukan karena orang itu berdosa, atau orang tuanya, tetapi 76 supaya karya-karya Allah dinyatakan di dalam dirinya. Dengan kata lain, menurut Tuhan kita sendiri, penyakit atau cacat tidak selalu terjadi karena dosa pribadi atau dosa orang lain, tetapi mereka dapat diijinkan untuk memancarkan kemuliaan Allah. Kita bisa melihat ini dalam kehidupan beberapa orang yang kurang beruntung. Mereka menemukan kelemahan mereka sebagai tantangan, tantangan yang dapat menghasilkan yang terbaik di dalamnya. Sebagai contoh, kita dapat memikirkan anak-anak Downs Syndrome tertentu yang sangat baik dan penuh kasih, jauh lebih baik daripada jika mereka dilahirkan sebagai ‘normal’. Kita juga dapat memikirkan beberapa orang buta yang, setelah kehilangan satu indera, telah menyempurnakan indra lainnya hampir dengan sempurna, dan menunjukkan pemahaman tentang diri batiniah yang tidak dimiliki oleh penglihatan. Kita semua dapat memikirkan contoh-contoh keberanian dan cinta luar biasa di antara orang-orang yang kurang beruntung. Mengapa? Karena rahmat Allah ada pada mereka: ‘pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam mereka’. Di sisi lain, kita juga bisa memikirkan orang-orang dengan ‘kelebihan’ besar. Misalnya, ada wanita yang sangat cantik atau pria yang sangat kaya yang tidak dapat menemukan kebahagiaan menikah. Mereka dikelilingi oleh orang-orang yang tidak tertarik pada mereka sebagai manusia, tetapi hanya ingin mengambil keuntungan dasar dari penampilan mereka yang dalam atau rekening bank mereka. Kita juga dapat memikirkan orang-orang yang sangat cerdas dan berpendidikan, yang kecerdasannya telah ‘begitu tinggi’, dan mereka menjadi sangat sok dan konyol, namun menjadi bahan tertawaan di hadapan dunia. Dalam kasus orang yang lahir buta, seluruh hidupnya hanyalah persiapan untuk pertemuannya dengan Kristus. Tidak hanya jiwanya yang cukup murni, diperhalus dengan cacat seumur hidupnya, untuk menerima kesembuhan dari Tuhan, tetapi juga dia mengakui Dia sebagai Anak Allah, sehingga membuat karya-karya Allah dinyatakan dalam dirinya sendiri. Pertama, orang-orang Farisi, yang benar-benar buta karena mereka melarang penyembuhan dan perbuatan baik pada hari Sabat, menanyai dia dan mengintimidasi dia dan orang tuanya dan kemudian mengusirnya. Dan dia menyaksikan kepada mereka bahwa, ‘Aku tidak tahu apakah Yesus seorang berdosa atau tidak; satu hal yang saya tahu; Saya buta, sekarang saya melihat ‘. Kedua, dia menambahkan: ‘Jika dia bukan dari Tuhan, dia tidak bisa berbuat apa-apa’. Dan akhirnya dia mengaku bahwa dia percaya bahwa Kristus adalah Anak Allah – salah satu yang pertama dalam Injil yang melakukannya. Penghakiman orang yang lahir buta itu saat itu adalah orang yang sehat. Dia dapat mengajari kita cara menghakimi, atau lebih tepatnya membedakan, orang lain – dari buahnya. Jika kita, atau orang lain, berasal dari Allah, maka kita akan bertahan dan menghasilkan buah yang baik, karena jika ada yang bukan dari Allah, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan jika ada yang dari Allah, maka ia akan selesai dengan memberikan kesaksian tentang Keilahian Kristus. Hal kedua yang harus kita perhatikan dalam Injil hari ini adalah cara Kristus menyembuhkan. Dia meludah ke tanah dan ‘membuat tanah liat dari air liur’. Kita mencatat ini untuk setiap sakramen penyembuhan dengan cara yang sama: 77 Tanah liat tidak bisa menyembuhkan orang buta, namun dengan nafas Tuhan, itu menjadi wadah bagi rahmat penyembuhan. Air tidak dapat menyembuhkan, tetapi air baptisan menyembuhkan karena air yang diberkati membawa Roh Kudus. Minyak tidak dapat menyembuhkan, namun minyak dari penyembuhan tersembuhkan karena mereka dipenuhi dengan rahmat Allah. Sepotong kain tidak dapat menyembuhkan, namun kain seorang imam dapat menyembuhkan melalui kasih karunia Kristus pada pengakuan dosa yang tulus dan bertobat untuk tidak berbuat dosa lagi. Roti dan anggur tidak dapat menyembuhkan, namun roti dan anggur berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang menyembuhkan melalui Roh Kudus. Kayu dan cat tidak dapat menyembuhkan, namun ikon dapat menyembuhkan oleh Roh Kudus yang menembus esensi material dan memancarkan rahmat dari material. Asap tidak dapat menyembuhkan namun membakar dupa membawa kesembuhan melalui berkat Kristus. Kemudian Kristus mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu dapat digunakan untuk penyembuhan dan manfaat serta keselamatan kita, tetapi semuanya harus disentuh terlebih dahulu oleh kasih karunia-Nya. Dengan cara ini tubuh kita, yang hanya daging, tulang, dan darah, dapat menjadi wadah Kristus. Jiwa kita diaktifkan, kita bisa menjadi pelita Roh Kudus; mata jiwa kita atau Nous, pintu persepsi, menjadi melihat, dan kita melihat seluruh Ciptaan Allah sebagaimana adanya. Kita melihat bahwa setiap helai rumput dan setiap bukit, setiap pohon dan setiap awan, setiap tetes hujan dan setiap samudera, semua makhluk dan semua orang, adalah mukjizat hasil karya Allah, tanda-tanda kehadiran sakramental-Nya di antara kita, dan kita melihat bahwa kita hidup bukan di dunia seharihari yang dangkal, tetapi di Firdaus yang potensial, dunia sebagaimana adanya, seperti yang Allah ciptakan terlebih dahulu, karena kita melihat Allah Pencipta di balik segala sesuatu dan semua orang.

Referensi: http://orthochristian.com/62044.html

7th Sunday of Pascha: Fathers of the 1st Ecumenical Council

 Pada hari Minggu ketujuh Paska, kita memperingati para Bapa Suci yang mengikuti konsili Ekumenis Pertama. Peringatan Konsili Ekumenis Pertama telah dirayakan oleh Gereja Kristus dari zaman kuno. Tuhan Yesus Kristus meninggalkan Gereja sebuah janji besar, “Aku akan membangun Gereja-Ku, dan gerbang-gerbang neraka tidak akan menguasainya” (Mat 16:18). Meskipun Gereja Kristus di bumi akan melewati perjuangan sulit dengan musuh keselamatan, tapi Gereja akan muncul sebagai pemenang. Para martir suci memberikan kesaksian akan kebenaran kata-kata Juruselamat, menanggung penderitaan dan kematian karena mengakui Kristus, tetapi pedang penganiaya dihancurkan oleh Salib Kristus. Penganiayaan terhadap orang-orang Kristen berhenti pada abad keempat, tetapi ajaran sesat muncul di dalam Gereja itu sendiri. Salah satu yang paling merusak dari bidat ini adalah Arianisme. Arius, seorang imam dari Aleksandria, adalah orang yang sangat bangga dan berambisi. Dalam menyangkal sifat ilahi Yesus Kristus dan kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa, Arius secara salah mengajarkan bahwa Juruselamat tidak selaras dengan Bapa, tetapi hanya makhluk ciptaan. Konsili lokal, yang bertemu dengan ketua Patriark Alexander dari Alexandria, mengutuk ajaran Arius yang palsu. Namun, Arius tidak mau tunduk pada otoritas Gereja. Dia menulis kepada banyak uskup, 79 mengecam ketetapan konsili lokal. Dia menyebarkan ajarannya yang keliru di seluruh Timur, menerima dukungan dari beberapa uskup Timur tertentu. Menyelidiki perbedaan pendapat ini, kaisar kudus Konstantinus (21 Mei) berkonsultasi dengan Uskup Hosius dari Cordova (27 Agustus), yang meyakinkannya bahwa ajaran sesat Arius diarahkan terhadap dogma paling mendasar dari Gereja Kristus, dan karena itu ia memutuskan untuk mengadakan Konsili Ekumenis. Pada tahun 325, 318 uskup mewakili Gereja-gereja Kristen dari berbagai negeri berkumpul bersama di Nicea. Di antara para uskup yang berkumpul adalah mereka yang mengaku menderita selama penganiayaan, dan yang menanggung tanda-tanda penyiksaan di tubuh mereka. Mereka berpartisipasi dalam Konsili adalah beberapa tokoh besar Gereja: Nikolas, Uskup Agung Myra di Lycia (6 Desember dan 9 Mei), Spyridon, Uskup Tremithos (12 Desember), dan yang lainnya dihormati oleh Gereja sebagai Bapa Suci. Bersama Patriark Aleksander dari Aleksandria dan diakonnya, Athanasius [yang kemudian menjadi Patriak Aleksandria (2 Mei dan 18 Januari)]. Dia disebut “Yang Agung,” karena dia adalah seorang pemenang yang bersemangat untuk kemurnian Ortodoksi. Dalam Ode Keenam dari Canon untuk Pesta hari ini, ia disebut sebagai “Rasul ketiga belas.” Kaisar Konstantinus memimpin sidang-sidang Konsili. Dalam pidatonya, menanggapi sambutan oleh Uskup Eusebius dari Kaisarea, ia berkata, “Tuhan telah membantu saya menjatuhkan kekuatan jahat para penganiaya, tetapi yang lebih menyedihkan bagi saya daripada darah yang tumpah dalam pertempuran, adalah perselisihan internal di Gereja Allah, karena itu lebih merusak.” Arius, dengan tujuh belas uskup di antara para pendukungnya, tetap sombong, tetapi ajarannya ditolak dan dia dikucilkan dari Gereja. Dalam pidatonya, diaken suci Athanasius dengan tegas membantah pendapat Arius yang menghujat. Heresiarch Arius digambarkan dalam ikonografi duduk di lutut Setan, atau di mulut Beast of the Deep (Wah 13). Para Bapa Konsili menolak untuk menerima Simbol Iman (Pengakuan Iman) yang diajukan oleh kaum Arian. Sebaliknya, mereka menegaskan Simbol Iman Ortodoks. Konstantinus meminta Konsili untuk memasukkan ke dalam teks Simbol Iman kata “konsubstansial,” yang telah ia dengar dalam pidato para uskup. Para Bapa Konsili dengan suara bulat menerima saran ini. Dalam Pengakuan Iman Nicea, para Bapa Suci berangkat dan membenarkan ajaran-ajaran para Rasul tentang sifat ilahi Kristus. Ajaran sesat Arius diekspos dan ditolak sebagai kesalahan dengan alasan angkuh. Setelah menyelesaikan pertanyaan dogmatis utama ini, Konsili juga mengeluarkan Dua Belas Kanon mengenai masalah administrasi dan disiplin gereja. Juga diputuskan tanggal perayaan Paskah Suci. Dengan keputusan Konsili, Paska Suci tidak boleh dirayakan oleh orang Kristen pada hari yang sama dengan Paskah Yahudi, tetapi pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama dari titik balik musim semi (yang terjadi pada 22 Maret di 325). Konsilit Ekumenis Pertama juga diperingati pada tanggal 29 Mei.

1st Sunday: The Sunday of Orthodoxy

Kata Ikon, berasal dari bahasa Yunani Eikon yang berarti gambar. Kamera Jerman terkenal Zeis Ikon menggunakan kata ini sebagai nama dagang. Rasul Paulus berbicara tentang Kristus sebagai Ikon Allah; itulah ungkapan dalam bahasa Yunani. Kristus adalah Ikon Allah, dan seluruh Perjanjian Baru ditulis atas dasar bahwa jika kita ingin tahu seperti apa Allah yang Kekal itu, kita memandang Yesus atau ikon itu dan lihatlah.

Di Barat, seni keagamaan ditempatkan di jendela gereja atau katedral. Di Timur jendela dibiarkan polos dan dindingnya ditutupi dengan seni keagamaan.

Tujuan ikon adalah:

1. untuk menciptakan penghormatan dalam ibadah;
2. untuk mengajar mereka yang tidak dapat membaca;
3. untuk melayani dalam hal hubungan eksistensial antara penyembah dan Allah.

Mengapa Ikon?

Orang Ibrani memiliki ikon-ikon dalam wujud kata tertulis. Mereka sangat menentang gambar apa pun, namun tidak pernah menyadari bahwa kombinasi huruf yang menyampaikan makna sama seperti ikon dari bentuk penggambaran lainnya. Untuk mengajari bangsa-bangsa lain seperti Yunani, Mesir, Latin, Gereja dihadapkan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan kepada mereka gagasan tentang Kristus yang digambarkan secara visual. Kristus sudah diwujudkan dalam kata dan lagu tertulis. Sekarang Dia diwujudkan dalam bentuk gambar untuk menarik perhatian panca indera kita yaitu mata.

THE ICONOCLASTS

Kalender Gereja menetapkan hari Minggu Prapaskah pertama sebagai hari Minggu Ortodoksi. Ini menandai hari itu adalah hari Ikon. Ini menandai hari di mana penggunaan ikon-ikon dipulihkan kembali setelah masa penentangan. Ini memperingati kemenangan Gereja Ortodoks melawan ikonoklas yang tujuannya adalah untuk menghapus secara paksa semua ikon dari gereja dan menghancurkan mereka karena dianggap alat penyembahan berhala. Karena ikon tersebut adalah salah satu fitur paling khas dari Ortodoksi, kami akan mempertimbangkan secara singkat apa yang ditandakannya, mengapa itu digunakan, nilai praktisnya serta signifikansi doktrinalnya.

Pertama, mari kita pertimbangkan tuduhan penyembahan berhala. Orang Kristen Ortodoks tidak menyembah ikon; mereka hanya menghormati atau memuliakan ikon sebagai simbol. Leontius dari Neapolis menulis pada abad ketujuh: “Kami tidak membuat penghormatan kepada kayu, tetapi kami menghormati dan membuat penghormatan kepada-Nya yang disalibkan di Kayu Salib…. Ketika dua balok Salib disatukan, saya mengagumi sosok itu karena Kristus yang di kayu Salib disalibkan, tetapi jika balok-balok itu dipisahkan, saya membuangnya dan membakarnya.”

Apakah Allah Bisa Dilihat?

Ikonoklas (mereka yang berusaha untuk menghapus semua gambar ikon dari gereja) berpendapat bahwa Allah tidak dapat dilukis karena Ia kekal dan tidak terlihat. “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah” (Yoh 1:18). Tetapi Orthodoxy bersikeras bahwa Allah dapat dilukis karena Ia menjadi manusia. Dalam Perjanjian Lama citra apa pun dari Allah akan menjadi “gambar berhuruf”, sebuah berhala, karena tidak ada gambar Allah yang dapat eksis. Tidak ada yang pernah melihat Allah. Tetapi ini berubah saat Allah menjadi manusia di dalam Kristus. Karena hal ini sekarang sah untuk membuat gambar-Nya. Mereka yang menyangkal ikon Kristus menyangkal kebenaran bahwa Dia telah menjadi manusia. Dengan kata lain, mereka menyangkal dasar keselamatan kita: Allah menjadi manusia di dalam Kristus. Jadi, apa yang kita benar-benar peringati pada hari Minggu Prapaskah pertama di Gereja Ortodoks bukanlah kontroversi tentang seni keagamaan, tetapi tentang Inkarnasi Kristus dan keselamatan manusia. Bapa Gereja Yohanes dari Damaskus mengungkapkan hal ini dengan baik ketika ia menulis, “Dahulu, Allah tidak pernah digambarkan. Tetapi sekarang, ketika Allah terlihat, berpakaian dalam daging dan bercakap-cakap dengan manusia, saya membuat gambar Allah, tentang Allah yang dapat saya lihat. Saya tidak menyembah materi. Saya menyembah Allah materi yang menjadi materi demi saya … untuk menyelesaikan keselamatan saya melalui materi.”

Adalah akurat secara teologis untuk mengatakan bahwa Allah Sendiri adalah pembuat ikon pertama dengan secara nyata mereproduksi diri-Nya dalam rupa Anak-Nya. Kontroversi ikonoklas bukan hanya kontroversi tentang seni keagamaan, tetapi lebih dari seluruh makna dan implikasi dari inkarnasi. Allah mengambil tubuh materi, dengan demikian membuktikan bahwa materi dapat ditebus. “Firman yang menjadikan manusia telah mengilahikan daging,” kata Yohanes dari Damaskus. Bahan-bahan yang digunakan dalam ikon hanyalah ekspresi apresiasi Kristen Timur terhadap dunia material. Ini memiliki banyak hal untuk dikatakan kepada kita hari ini di bidang ekologi: Hal itu sakral dan tidak boleh disalahgunakan atau terkontaminasi.

Reformasi Protestan abad ke-16 berpandangan negatif terhadap ikon. Bagi Luther mereka diizinkan sebagai ilustrasi. Calvin dapat menerima tidak lebih dari adegan sejarah dengan lebih dari satu orang digambarkan, sehingga tidak akan membuat orang yang setia tersandung dalam penyembahan berhala. Kaum Puritan di Inggris dan Amerika mengambil pandangan negatif tentang seni ikon. Mereka membenci dan melarang semua lukisan agama. Di satu sisi mereka mungkin benar. Kebanyakan “seni religius atau seni ikon” bersifat ofensif karena sulit untuk percaya bahwa Anak Allah yang tunggal menjadi manusia. Gambar Kristus sebagai seorang wanita berjanggut, kadang-kadang dengan hati valentine yang berdarah menunjukkan melalui dada transparan, jika dianggap serius, menyangkal bahwa Dia adalah manusia. Gambar-gambar seperti itu memberi gagasan bahwa Dia menjadi hantu, baik pria maupun wanita. Eric Newton menulis, “Tetapi sejak saat Allah mengutus Putra tunggal-Nya untuk tinggal di bumi, lahir dari seorang wanita fana, untuk berkhotbah, untuk melakukan mukjizat, untuk menderita maut di tangan orang-orang Yahudi, dan untuk dibangkitkan, situasi bagi Dia berubah , karena agama baru yang terkandung di dalamnya sendiri ada fakta yang tak terlihat menjadi nyata, Allah menciptakan manusia, supranatural dibuat nyata secara fisik. Akhirnya tidak ada alasan untuk melarang pencitraan, karena jika Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia, tidak ada kemungkinan gambar tentang Dia yang mengarah pada penyembahan berhala.”

Apa itu Ikon?

Kecenderungan di antara beberapa orang Kristen mula-mula adalah tidak menggunakan gambar Yesus yang realistis. Sebagai gantinya mereka menggunakan tanda-tanda abstrak – huruf yang akan mewakili Yesus, seperti huruf Chi-Rho, dua huruf pertama dari kata Yunani untuk Kristus, atau IHS, huruf pertama untuk nama Yesus dalam bahasa Yunani. Mereka juga menggunakan tokoh-tokoh seperti ikan, yang merupakan tanda rahasia bagi Kristus, atau seekor domba, yang mewakili Yesus, Anak Domba Allah. Sinode Trullan, yang diadakan di Konstantinopel pada tahun 692, menyatakan bahwa adalah salah bagi gereja untuk menggambarkan Kristus dalam tanda dan lambang itu. Sinode secara khusus menetapkan hal itu salah untuk menggambarkan Kristus sebagai domba (Anak Domba Allah). Jika dia benar-benar menjadi manusia, kata Sinode, maka Dia harus digambarkan sebagai manusia – bukan sebagai binatang atau sebagai simbol.

Para Bapa Gereja merasa bahwa sifat ilahi Kristus harus ditunjukkan dalam gambar-gambar serta sifat manusiawi-Nya. Mereka mengatakan, dalam arahan yang sama, bahwa gambar-Nya tidak boleh “terlalu duniawi”. Sidang Ekumenis Ketujuh menyatakan bahwa Gereja, meskipun ia dapat menggambarkan Tuhan melalui seni dalam wujud manusia-Nya, tidak boleh terpisah dalam representasi daging Kristus dari keilahian-Nya. Kristus harus diwakili dalam seni ikon sebagai Tuhan-Manusia. Dengan demikian, akan sangat tidak benar untuk mewakili Kristus sesuai dengan keindahan alam dari beberapa model manusia biasa. Dan ini tidak benar di Barat di mana orang-orang muda yang “tampan” dan visioner menjadi model lukisan Kristus yang sebenarnya. Sifat manusiawi Kristus yang “indah” dari seni Barat tidak dapat diterima oleh orang-orang Kristen Timur mengingat fakta bahwa mereka hanya mengungkapkan gagasan tentang sifat manusia dari Tuhan kita. Jadi, seni Ortodoks dihadapkan dengan tugas khusus untuk menemukan beberapa jenis ikonografi yang akan mengarahkan penonton langsung pada pemikiran bahwa dalam diri orang yang diwakili “seluruh kepenuhan keilahian berdiam secara jasmani” (Rasul Paul). Selain itu, Theodore Studites berkata, “Jika kita mengatakan bahwa Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah, dengan cara yang sama perwakilannya harus dikatakan sebagai kekuatan dan hikmat Allah.” Karena alasan ini, seni ikon Orthodox diciptakan untuk Kristus sebagai tipe ideal seperti model manusia murni, dengan karakteristik supernatural seperti mata besar, hidung dan tangan. Dengan demikian, ikonografer Ortodoks berusaha untuk mengekspresikan unsur supra-alami, supra-rasional dan supra-konseptual Tuhan kita melalui hiperbola, berlebihan, dan bahkan deformasi realitas alam. Jadi, sementara di Barat secara tradisional menekankan sifat manusia dari Kristus melalui penggunaan patung-patung dan model-model manusia Yesus, Timur lebih menekankan pada sifat ilahi Yesus melalui ikon yang sesuai dengan ekspresi ilahi yang sangat efektif, keadaan Yesus yang berubah rupa melalui penggunaan gaya bahasa.

Tiga Cara Penggambaran

Ada tiga cara yang mungkin untuk “menggambarkan” seseorang: foto, potret/lukis, dan ikon. Foto itu merekam fitur apa adanya. Potret yang sukses mereproduksi fitur seseorang dengan cara yang benar untuk kehidupan dan dapat dikenali; tetapi pada saat yang sama itu mengeluarkan karakternya dan memberikan ekspresi pada sifat batinnya. Sebuah ikon bukanlah foto tetapi lebih seperti potret. Namun itu lebih dari sekadar potret. Itu bertujuan memberi keserupaan yang benar dari orang itu, dan pada saat yang sama ia berusaha untuk menunjukkan kepada seseorang apa yang telah menjadi jati dirinya melalui kuasa Roh Kudus. Suatu ikon lebih dari sekadar foto, bahkan lebih dari sekadar potret. Ikonografi menggambarkan apa yang terjadi pada orang-orang setelah Tuhan menyentuh mereka. Mereka menjadi orang baru. Dengan menghilangkan segala sesuatu yang tidak relevan dengan figur spiritual, figur tersebut menjadi bergaya, spiritual, bukan tidak realistis tetapi supra-realistis. Ikon tersebut dengan demikian disisihkan dari semua bentuk seni bergambar lainnya. Ia menawarkan ekspresi eksternal dari keadaan manusia yang berubah rupa, dari tubuh yang dipenuhi dengan Roh Kudus, begitu terlatih dalam kebaikan, sehingga menjadi seperti tubuh rohani yang akan kita terima pada Kedatangan Kristus yang Kedua.Ada beberapa yang percaya bahwa abstraksionisme, pengurangan fitur adalah untuk esensi paling murni, berasal dari para ikonografer.

Ikon disebut doa, nyanyian pujian, khotbah dalam bentuk dan warna. Mereka adalah Injil visual. Pada kenyataannya, Gereja Timur memiliki dua Injil: lisan dan visual, untuk menarik seluruh manusia. Seperti dikatakan Bapa Gereja, Basil, “Apa yang ditransmisikan oleh kata melalui telinga, lukisan itu secara diam-diam ditunjukkan melalui gambar, dan dengan dua cara ini, saling menemani satu sama lain … kita menerima pengetahuan tentang satu hal yang sama.”Seseorang harus memasuki Gereja untuk melihat di hadapannya semua misteri agama Kristen terbentang di hadapannya. “Jika seorang yang belum percaya meminta kita untuk menunjukkan kepadanya iman kita,” kata Yohanes dari Damaskus, “bawa dia ke gereja dan tempatkan dia di depan ikon.” Melalui ikon ini, Gereja menarik bagi mata dan indera. Kita mengingat jauh lebih mudah dari apa yang kita lihat bukan apa yang kita dengar. Para nabi Perjanjian Lama, misalnya, sering menggunakan metode aksi dramatis dan simbolik. Laki-laki mungkin menolak untuk mendengarkan, tetapi mereka sulit melihat. Yeremia, misalnya, memperingatkan orang-orang dari perbudakan yang akan menimpa mereka dengan membuat kuk dan mengenakannya di lehernya. Praktik di negara-negara Komunis untuk menggantung foto-foto pemimpin mereka di mana-mana dipinjam oleh kaum Marxis Rusia dari penggunaan ikon di Gereja Ortodoks Rusia. Gambar-gambar itu, pada dasarnya, adalah ikon para ilah baru yang dimaksudkan untuk memancing semacam penyembahan pada tokoh itu dan ketaatan mutlak pada mereka.Ikon itu lebih dari sekadar sarana pengajaran. Ini berlaku untuk sakramen. Sebab, sebuah ikon tidak sepenuhnya merupakan ikon sampai ikon itu diberkati oleh imam di gereja. Karena dia menjadi penghubung antara manusia dan ilahi. Ini memberikan pertemuan eksistensial antara manusia dan Allah. Itu menjadi tempat penampakan Kristus, asalkan seseorang berdiri di hadapannya dengan hati dan pikiran yang benar. Itu menjadi tempat doa. Ikon berpartisipasi dalam peristiwa yang digambarkannya dan hampir merupakan penciptaan kembali dari peristiwa itu secara eksistensial bagi orang percaya. Seperti yang dikatakan S. Bulgakov, “Dengan berkat ikon Kristus, sebuah pertemuan mistis umat beriman dan Kristus menjadi mungkin.” Banyak ikon dianggap sebagai “pekerjaan ajaib”. Ini dianggap sebagai ikon par excellence/luar biasa. Berdiri di Gereja Ortodoks yang dinding dan langit-langitnya ditutupi dengan ikon Kristus dan orang-orang kudus, penyembah itu tidak merasa sendirian. Dia mengalami persekutuan dengan orang-orang kudus. Dia mengalami persekutuan dengan Kristus dan orang-orang kudus. Dia dibuat merasa bahwa dia adalah anggota keluarga Allah. Cecil Steward menggambarkan ini dengan baik ketika dia menulis, “Gambar-gambar itu kelihatannya diatur sedemikian rupa sehingga menanamkan perasaan hubungan langsung antara kita dan gambar-gambar itu… masing-masing kepribadian diwakili menghadap satu, sehingga seseorang berdiri, seolah-olah, di dalam jemaat ada para orang kudus. Seni Byzantium, pada kenyataannya, menempatkan satu di gambar …. Dia (penonton) mengamati dan diamati.”

Pengaruh Seni Dari Mesir

Salah satu pelopor ikon adalah potret pemakaman Mesir. Keinginan dari almarhum untuk tidak dilupakanlah yang membuat orang Mesir melukis gambar wajah orang yang meninggal pada mumi. Yang membedakan fitur potret pemakaman orang Mesir adalah mata besar, terbuka lebar dan menatap orang yang memandang mereka, seolah berkata, “Inilah aku. Anda mungkin berpikir saya sudah pergi dan lupa, ttapi ketika saya melihat Anda dengan mata ini, saya menantang Anda melupakan saya.”Ikon-ikon Kristen awal mengikuti pola yang sama. Orang-orang kudus yang mereka wakili memiliki mata besar yang menatap langsung ke mata para pengikut mereka, seolah berkata, “Inilah aku. Saya mungkin tampak mati bagi Anda, tetapi saya sangat hidup di hadirat Allah.”

Ini adalah salah satu prinsip yang dimasukkan ke dalam lukisan ikon. Organ-organ sensorik (mata, hidung, telinga) tidak dilukis menurut anatomi yang benar karena masing-masing organ itu telah diubah oleh rahmat ilahi dan tidak lagi menjadi organ indera manusia biologis yang biasa. Mata dicat besar dan beranimasi untuk mengekspresikan intensitas fisik. Telah dibukakan oleh Allah, mereka telah melihat hal-hal besar. “Mata-Ku telah melihat keselamatan-Mu.” Telinga dicat besar sebagai proyeksi simbolis dari telinga jiwa yang telah mendengar dan masih mendengar kabar baik tentang Kristus. Hidung juga seringkali lebih besar dari ukuran alami dan tipisnya untuk menunjukkan bahwa hidung itu tidak dimaksudkan untuk mencium hal-hal dari dunia ini tetapi aroma Kristus dan Roh Kudus. Mulut, di sisi lain, berbentuk kecil untuk menyatakan bahwa orang suci yang diwakili “tidak memikirkan hidupnya, apa yang akan dia makan dan apa yang akan dia minum”, tetapi pertama-tama mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

Lingkaran Halo

Seni ikon Barat telah mengandalkan mahkota cahaya atau lingkaran cahaya untuk menunjukkan “kekudusan” orang yang diwakili. Biasanya ini terjadi karena orang yang kudus itu begitu berwajah dunia sehingga lingkaran halo diperlukan untuk menandakan bahwa dia seorang Kudus yang sedang diwakili. Dalam ikon, bagaimanapun, seseorang tidak bergantung pada halo saja untuk memahami bahwa orang yang diwakili adalah orang Kudus. Kekudusan ditunjukkan oleh seluruh bentuk dan gaya ikon. Inilah sebabnya mengapa halo hilang dari beberapa ikon yang lebih tua serta di lukisan dinding katakombe di mana Kristus dan para martir diwakili tanpa lingkaran cahaya.

Penggunaan Ikon

Seorang gadis Jepang di sebuah perguruan tinggi Amerika diundang untuk menghabiskan liburan Natal bersama teman sekelasnya. Setelah itu dia ditanya bagaimana dia menikmati liburan. “Baiklah,” jawabnya, “tetapi saya merindukan Tuhan di rumah. Saya telah melihat Anda menyembah Tuhan di gereja Anda. Di negara saya, kami memiliki rak atau altar dewa sehingga kami dapat menyembah dewa-dewa kami di rumah kami. Tidakkah orang Amerika menyembah Tuhan mereka di rumah mereka?” Sudah menjadi tradisi bagi rumah-rumah Kristen Orthodox untuk memiliki “rak-Tuhan” dalam bentuk ikon dengan cahaya lilin menyala di depannya. Ini berfungsi sebagai pengingat akan kehadiran Allah di rumah dan sebagai pusat doa keluarga. Di Rusia kuno, misalnya, setiap rumah — dari istana musim dingin Tsar yang hebat hingga pondok jerami petani — memiliki ikon Kristus atau Bunda Perawan. Pada saat itu tidak ada rumah di Rusia yang menjadi rumah jika di rumahnya belum dikuduskan oleh ikon.
Helene Iswolsky menulis dalam bukunya Christ in Russia, “Di masa lalu … seorang Rusia yang memasuki rumahnya atau mengunjungi seorang teman pertama-tama akan membungkuk rendah di depan ikon dan membuat tanda salib sebelum menyapa keluarga atau tuan rumahnya. Ikon-ikon itu melambangkan kehadiran Allah; mereka adalah pengingat akan kehidupan yang supranatural, dan menarik bagi moralitas dan hati nurani. Sulit untuk berbohong, menipu, menjadi brutal di depan ikon. Komunis di Rusia melakukan semua yang mereka bisa untuk merobohkan ikon-ikon dari rumah-rumah rakyat, untuk menghilangkan citra Allah mereka, dan untuk meredam nurani rakyat.”

Bahkan, jika Gereja di Rusia telah bertahan di bawah Komunisme selama bertahun-tahun terakhir ini meskipun tidak ada fasilitas untuk mengajar anak-anak dalam iman Kristen baik di sekolah atau di gereja, itu karena (berbicara secara manusiawi) adanya keluarga Kristen. Keluarga ini dianggap sebagai “gereja rumah” dengan “altar” sendiri di mana doa-doa dipersembahkan di hadapan ikon.
Ikon itu tidak pernah dimaksudkan untuk digantung di dinding sebagai objek estetika. Jika digunakan sebagai hiasan yang menarik, tidak lagi berfungsi sebagai ikon. Untuk sebuah ikon hanya dapat ada dalam kerangka iman dan ibadah tertentu yang menjadi ikonnya. Bercerai dari kerangka ini, ia kehilangan fungsinya sebagai ikon.
Dalam sebuah fragmen kehidupan John Chrysostom yang disimpan dalam sebuah karya oleh John of Damascus (675-749), kita diberitahu bahwa Chrysostom memiliki ikon Rasul Paulus di hadapan dirinya ketika dia mempelajari surat-surat Paulus. Ketika dia melihat ke atas dari Kitab Sucinya, ikon itu tampak hidup dan berbicara kepadanya.Ikon di rumah menguduskan kita; mereka mengubah tempat tinggal yang netral menjadi “gereja rumah tangga” dan kehidupan orang beriman menjadi liturgi yang tak henti-hentinya.
Yesus berkata, “Ketika kamu berdoa, pergilah ke kamarmu” (Mat 6:6). Uskup Agung Paulus dari Finlandia menambahkan, “Namun demikian kita tidak sendirian. Ikon di sudut ruangan tempat kita berdoa adalah jendela menuju kerajaan Allah dan ikatan dengan para anggotanya.”Salah satu Leluhur Gereja Rusia berkata,Jika di rumah sakit, yang mengobati penyakit tubuh jasmani, semuanya diatur untuk membuat lingkungan yang kondusif bagi pasien untuk kembali sehat, apa yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk semuanya di rumah sakit rohani, gereja Tuhan.Kita dapat menerapkan ini juga ke rumah Kristen yang harus mencakup pengingat akan kehadiran Allah yang menguatkan dan menyembuhkan.

Pelukis Ikon

Dikatakan bahwa cinta adalah penerjemah yang hebat. Hanya konduktor orkestra yang jatuh cinta dengan musik yang paling bisa menafsirkan dan mengekspresikan musiknya. Seorang seniman muda pernah membawa foto Yesus yang telah ia lukis kepada seorang pelukis hebat untuk dinilai. Pelukis itu mempelajarinya selama beberapa waktu dan akhirnya berkata, “Kamu tidak mencintai-Nya, atau kamu tidak akan melukisnya lebih baik.” Kebenaran agung ini dipraktikkan di antara pelukis ikon Ortodoks yang biasanya adalah para rahib. Ikonograf semacam itu tidak dianggap sebagai seniman religius, melainkan sebagai orang yang memiliki panggilan rohani. Mereka adalah para misionaris yang mengabarkan teologi visual. Ikon, seperti Firman, adalah wahyu, bukan hiasan atau ilustrasi. Ini adalah teologi dalam warna. Lebih penting daripada menjadi seniman yang baik adalah kenyataan bahwa pelukis ikon menjadi orang Kristen yang tulus yang mempersiapkan diri untuk pekerjaannya melalui puasa, doa, pertobatan, dan memiliki perasaan bahwa ia hanyalah alat di mana Roh Kudus mengekspresikan diri-Nya. Sangat penting untuk mengenal Yesus lebih baik jika seseorang ingin melukis-Nya dengan lebih baik. Di Barat telah menginstruksikan dan bahkan membatasi pelukis, sedangkan di Timur ikonografer adalah seorang karismatik yang merenungkan misteri liturgi dan mengajar.

IKON TERBAIK ALLAH

Karena kita berbicara tentang ikon, maka ikon terbaik Allah adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah sendiri. Setiap orang di gereja adalah ikon Allah yang hidup. Kita menghormati gambar Allah dalam diri manusia yang berada pada semua orang tanpa memandang warna kulit atau golongannya. Kita menghormati ikon-ikon di Gereja, namun menunjukkan rasa tidak hormat kepada ikon-ikon Allah yang hidup – sesama manusia – adalah kemunafikan yang paling buruk. Sangat menarik untuk dicatat di sini bahwa di Gereja Abyssinian, Yesus dan Maria digambarkan sebagai orang kulit hitam. Semua orang – tanpa memandang warna – adalah gambar atau ikon Allah yang hidup.

Seorang guru sekolah minggu pernah berkata kepada satu kelasnya, “Kamu tahu bagaimana perasaanmu ketika kamu menggambar. Kamu ingin semua orang melihatnya dan mengaguminya karena kamu menggambarnya dengan bagus. Itulah yang Yesus rasakan tentang kamu. Kamu adalah gambar yang digambar-Nya. “Seorang anak lelaki kecil bertanya, “Apakah semua orang adalah gambar Yesus?” “Ya benar,” kata guru itu. “Bahkan Annie?” “Iya.” Tiba-tiba secarik kertas cokelat dibuang ke keranjang sampah guru. “Aku baru akan menaruh kertas itu ke dalam susu Annie,” katanya sedih, “hanya Yesus yang menggambarnya, jadi lebih baik aku tidak melakukannya.”Anak kecil itu menangkap kebenaran besar. Ikon Allah yang paling berharga adalah laki-laki dan perempuan. Seperti kita memperlakukan setiap ikon yang hidup demikianlah kita memperlakukan Allah.

Tujuan kita dalam hidup menurut teologi Ortodoks adalah THEOSIS. Sederhananya, ini berarti bahwa kita harus menjadi seperti Kristus. Ini dimulai dalam Pembaptisan ketika gambar yang dipulihkan diberikan kepada kita. Tujuan hidup kita adalah untuk melanjutkan dari gambar Allah yang dipulihkan ke rupa Allah. Keserupaan dengan Kristus tidak diberikan kepada kita; kita harus berjuang untuk itu selalu dengan rahmat Allah. Gambar yang dipulihkan adalah karunia yang kita terima dari Allah pada saat Pembaptisan. Tetapi keserupaan dengan Kristus adalah tugas kekudusan pribadi yang harus kita capai sebagai buah dari kehidupan spiritual kita sendiri melalui rahmat atau anugerah Allah. Seraphim dari Sarov berkata: “Tujuan hidup Kristen adalah untuk memperoleh Roh Kudus.” Memperoleh Roh Kudus berarti memperoleh persamaan dengan Allah. Tidak ada rupa Allah di dalam kita tanpa Roh Kudus.”Inilah yang ditunjukkan ikon itu kepada kita. Melalui ikon kita mewakili Dia, Yang melalui inkarnasi-Nya memulihkan citra Allah dalam diri manusia. Atau kita mewakili orang-orang kudus yang melalui kehidupan mereka yang konstan bersama Roh Kudus telah memperoleh kesamaan Allah yang sejati dan telah menjadi ikon yang hidup. Oleh karena itu, tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk mengembangkan karunia yang kita terima dalam baptisan: untuk beralih dari gambar menjadi serupa dengan kasih karunia Allah dan dengan demikian menjadi ikon Kristus yang hidup di dunia saat ini. Amin!

Referensi:

Anthony M. Coniaris, Introducing The Orthodox Church: Its Faith and Life. Minnesota: Light and Life Publishing Minneapolis, 1982.

Minggu Tomas (Yohanes 20:19-29)

Kondisi para murid Yesus yang sedang ketakutan, terpuruk, dan tanpa harapan atas penyaliban Yesus (Yoh 20:19). Mereka berkumpul dan membicarakan apa yang terjadi terhadap guru mereka. Mereka melihat penderitaan dan kematian guru mereka namun mereka tidak mengetahui ada kebangkitan Yesus. Apa yang mereka lihat dan rasakan adalah penderitaan dan kematian dan itu membawa ketakutan dan kecemasan serta tanpa harapan. Begitu juga dengan kita ketika tidak ada kebangkitan maka yang ada adalah hidup tanpa harapan dan ketakutan sebab pada akhirnya semua kita akan menuju pada kematian dan kesia-siaan hidup.

Lalu tiba-tiba tanpa mereka duga di ruangan yang tersembunyi dan terkunci itu ada suara: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan suara itu adalah suara Yesus sendiri yang berdiri di tengah-tengah mereka (Yoh 20:19). Lalu Yesus mengulangi kalimat yang sama lagi, “Damai sejahtera bagi kamu!” setelah Dia menunjukkan bukti historis kebangkitan Dia yaitu tubuh kebangkitan-Nya. Tangan dan lambung-Nya adalah bukti atau fakta derita dan penyaliban yang kejam yang Yesus alami namun Dia mengalahkan salib dan kematian yang mengancam setiap manusia dengan kebangkitan tubuh-Nya dari alam maut/sheol dan memberitakan “Damai Sejahtera” kepada para murid-Nya dan kita semua. Alam maut Dia porak-porandak dan menyelamatkan mereka yang selama ini telah mununggu Dia turun ke alam maut pada saat penguburan di hari Sabat. Alam maut dan Iblis tidak bisa mencegah Dia untuk bangkit pada hari Minggu pagi setelah 3 hari 3 malam sejak penyaliban-Nya dan dengan antusias Yesus memberitakan “Damai Sejahtera bagi kita”. Damai inilah yang dicari-cari oleh setiap manusia yang mengalahkan setiap ketakutan dan kesia-siaan hidup di dunia. Damai inilah damai Paskah atau damai kebangkitan Yesus yang telah mengalahkan kuasa maut, Iblis, dan kematian. Damai inilah damai keselamatan kekal yang telah dinubuatkan sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Sudahkah kita mengalami damai sejahtera kebangkitan itu di dalam hati, jiwa, dan raga kita? Sudahkah kita bisa melihat dibalik penderitaan dan kematian Yesus ada kemenangan Dirinya yaitu kebangkitan-Nya? Kita tidak lagi seperti para murid yang sedang berkumpul ketakutan tetapi kita berkumpul untuk bersinergi memberitakan damai sejahtera Yesus kepada setiap orang. Sebab itu, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Para murid tidak boleh lagi dalam kondisi ketakutan tetapi pergi dengan kuasa kebangkitan Yesus melalui kuasa Roh Kudus untuk memberitakan damai sejahtera itu kepada semua bangsa (Yoh 20:22). Ada kuasa Roh Allah yang ada di dalam diri para murid sehingga mereka juga mengalami kemenangan atas ketakutan yaitu damai sejahtera dan kebangkitan atas maut yaitu mengalami Paskah dan Pentakosta. Paskah yang mereka alami adalah kebangkitan jiwa dan roh mereka menjadi para Rasul sekarang yang diutus untuk memberitakan damai sejahtera itu dan Pentakosta yang mereka alami adalah diembusi Roh Kudus oleh Yesus sehingga mereka mewarisi semangat Pentakosta. Mereka menjadi Rasul melalui kuasa Roh Kudus, kuasa yang sama yang diterima oleh Yesus dari Bapa. Bapa Mengutus Yesus dan Yesus mengutus mereka sehingga Yesus berkata kepada mereka di ayat 23 untuk mewakili Yesus di dunia ini. Jadi, para murid ini mengalami kemenangan atas ketakutan mereka dengan mengalami damai sejahtera di dalam diri mereka dan mengalami pentakosta yaitu menerima Roh Kudus dan kuasa-Nya.

Kemudian, Yohanes menceritakan tentang murid yang lain yang tidak hadir pada hari pertama minggu Paskah itu yaitu Tomas atau yang disebut Didimus. Tomas tidak percaya pada cerita rekan-rekan-Nya (Yoh 20:24-25). Bukan karena dia seorang peragu atau skeptis melainkan ini adalah suatu berita yang paling penting bagi hidup dia sehingga dia sendiri yang harus menjadi saksi mata langsung seperti para rasul lainnya. Yesus mengetahui pemikiran Tomas dan Dia sengaja menampakkan diri lagi kepada para murid dan Tomas. Yesus meminta Tomas untuk menaruh jarinya di tangan dan di lambung Yesus seperti permintaan Tomas sebelumnya (baca Yoh 20:26-27). Dan Tomas membuktikannya dan dia menjadi saksi mata atas bukti atau fakta historis kebangkitan Yesus. Yang mencengangkan adalah Tomas menjadi rasul pertama yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah-Nya. Yesus adalah Tuhan berarti Dialah penguasa atas hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia mengabdikan hidupnya. Yesus adalah Allah berarti Dialah sumber dan pemilik hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia mengemnbalikan hidupnya. Yesus sebagai Tuhan dan Allah adalah fakta historis yang disaksikan oleh Tomas dan para murid. Yesus Tuhan dan Allah adalah berita kemenangan Yesus atas penderitaan, maut, dosa, dan Iblis. Yesus Tuhan dan Allah adalah damai sejahtera kebangkitan yang kita alami di dalam hati, jiwa, dan raga kita. Walaupun kita bukan saksi mata langsung seperti Tomas dan para murid, tapi mengalami damai sejahtera kebangkitan itu jauh lebih penting sebab kita memiliki iman atau percaya kepada Yesus. Dengan iman kita bisa melihat dan mendengar bahwa Yesus telah mengetuk pintu hati kita untuk menerima Dia dan merasakan damai sejahtera itu di dalam hati kita. Kita juga mengalami Paskah dan Pentakosta seperti para murid. Dan Yesus menyebut kita orang berbahagia atau diberkati sebab kita percaya kepada-Nya. Di dalam Iman kita memiliki mata rohani untuk bisa percaya kepada Yesus dan melihat karya Yesus di dalam hidup kita sampai kita melihat Yesus mata dengan mata dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Karya Yesus adalah pengudusan hidup kita sehingga kita menjadi kudus atau suci dan pada akhirnya kita bisa melihat Allah (1 Yoh 3:2 dan Mat 5:8). Mari kita menjadi seperti Tomas yang rela mengabdikan hidupnya bagi Kristus sehingga Kristus yang akan bertindak jadi Tuhan dan Allah bagi hidup kita.

Menurut Tradisi Gereja, Rasul Suci Tomas mendirikan gereja-gereja Kristen di Palestina, Mesopotamia, Parthia, Ethiopia dan India. Mengkhotbahkan Injil membuatnya meninggal sebagai martir. Karena telah mempertobatkan istri dan anak dari wali kota Meliapur [Melipur] di India, rasul suci dikurung di penjara, menderita siksaan, dan akhirnya, ditusuk dengan lima tombak, ia meninggal sebagai martir bagi Tuhan. Bagian dari peninggalan Rasul Suci Tomas ada di India, di Hongaria dan di Mt. Athos. Nama Rasul Tomas dikaitkan dengan Ikon Arab (atau Arapet) Bunda Allah (6 September).

Beberapa ikon yang menggambarkan peristiwa ini tertulis “Tomas Sang Peragu.” Ini tidak tepat. Dalam bahasa Yunani, prasasti itu berbunyi, “Sentuhan Tomas.” Prasasti Slavonic adalah, “Iman Tomas.” Ketika Rasul Tomas menyentuh tangan dan lambung Yesus, ia tidak lagi memiliki keraguan. Hari ini juga dikenal sebagai “Antipascha.” Ini tidak berarti “menentang Paskah,” tetapi “menggantikan Paskah.” Dimulai dengan hari Minggu pertama setelah Paskah, Gereja mendedikasikan setiap hari Minggu tahun ini untuk Kebangkitan Tuhan. Hari Minggu disebut “Kebangkitan” dalam bahasa Rusia, dan “Hari Tuhan” dalam bahasa Yunani.

“Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf. Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu. Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan. Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Mereka pun sangat terkejut, tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.”
(Markus 15:43-16:8 TB)

“Kita seringkali melakukan segala sesuatu dengan gagal alias menjadi pecundang, loser, namun kita pecundang di dalam Kristus dan Kristus yang membenarkan dan menyempurnakan kegagalan kita menjadi keberhasilan.”

Kira-kira kutipan seperti ini yang saya simpulkan ketika saya merenungkan tentang para murid Yesus yang sembunyi ketakutan paska kebangkitan penyaliban dan kematian Yesus. Mereka menjadi pecundang sebelum Yesus menampakkan dirinya secara langsung. Namun hal berbeda yang dialami oleh para wanita pembawa rempah-rempah. Pagi hari setelah matahari terbit mereka pergi membeli rempah-rempah dan datang ke bukit batu kuburan Yesus untuk meminyaki mayat atau jasad Yesus. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yoses, dan Salome. Mereka secara naif dan berani datang ke sana tanpa tahu bahwa Yesus telah bangkit. Mereka tidak tahu banyak hal tentang doktrin mengapa Yesus harus mati disalib, dikubur, dan bangkit. Sejak penyaliban mereka telah berada di dekat Yesus (Yoh 19:25). Mereka tidak memiliki doktrin yang dalam tapi mereka memiliki cinta yang dalam kepada Yesus. Tindakan mereka membawa rempah-rempah lahir dari cinta yang tulus kepada Yesus. Karena cinta mereka jadi berani untuk berkorban dengan taruhan nyawa mereka. Mereka bisa saja memilih sikap seperti murid-murid Yesus yang jadi pecundang bersembunyi. Tapi para wanita ini memilih untuk datang dan menghormati Yesus. Inilah sikap berani atau courage. Berani berarti memilih sikap untuk melakukan suatu kebajikan kepada seseorang dengan berkorban walaupun bisa merugikan diri mereka sendiri. Berani lahir dari kasih yang tulus kepada Yesus. Berani lahir dari iman dan pengharapan kepada Yesus. Itulah sikap para perempuan pembawa rempah-rempah.

Kita belajar meneladani keberanian mereka. Gereja secara khusus merayakan minggu para perempuan pembawa rempah pada minggu ketiga Paskah.

Fr. Ted Bobosh menuliskan:

“Yesus mengajar kita untuk saling membasuh kaki, dan para Wanita Murid Tuhan ini pergi ke kubur untuk membasuh tubuh Yesus. Para murid laki-laki yang memperdebatkan siapa di antara mereka yang terbesar adalah yang semuanya bersembunyi dengan pengecut pada saat itu. Jadi, siapa di antara orang-orang ini – wanita atau pria – yang menunjukkan diri mereka sebagai murid Kristus yang sejati? Para Wanita murid Kristus bersaksi kepada kita tentang pengorbanan diri, altruisme, pelayanan, kebenaran, kemuliaan, kasih, kemurnian, keberanian, dan keindahan.

Wanita pembawa rempah-rempah mengungkapkan kepada kita cara yang lebih sempurna, sehat, spiritual, dan indah. Tuhan menciptakan keindahan dan menetapkan kekekalan di hati kita. Seperti yang dinyanyikan oleh Pemazmur: “Satu hal yang saya minta dari TUHAN, yang akan saya cari; agar aku dapat tinggal di rumah TUHAN seumur hidupku, untuk melihat keindahan Tuhan …” (Maz 27:4)

Para Wanita Murid Tuhan itu mengingatkan saya tentang rumah sakit untuk anak-anak yang pernah saya baca. Rumah sakit tidak melihat anak-anak hanya sebagai pasien tetapi juga sebagai penyembuh diri sendiri dan orang lain. Anak-anak tidak dipandang sebagai korban yang membutuhkan bantuan profesional, tetapi sebagai orang yang mampu menyembuhkan orang lain. Moto rumah sakit: “Jika Anda dapat membantu orang lain, Anda tidak cacat.”

Di Gereja kita bukan hanya orang yang terluka berjalan atau orang yang sakit rohani, kita mampu menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap orang lain – kita tidak cacat. Kita ada di sini untuk melayani, tidak peduli apa kondisi kita atau apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri atau seberapa banyak kita perlu bertobat. Anda tidak dinonaktifkan karena Anda dapat membantu orang lain. Kita di sini untuk menjadi berani seperti para wanita murid-murid Tuhan dan melayani mereka yang membutuhkan.

Apakah kita bahkan bersusah payah mencari keindahan rohani ini dalam hidup kita, dan melakukan hal-hal indah yang bermanfaat bagi orang lain tetapi tidak bermanfaat bagi diri kita sendiri? atau apakah kita selalu memikirkan apa yang menguntungkan saya? Apakah kita mengajari anak-anak kita nilai keindahan ini atau hanya kepedulian kita bahwa mereka tumbuh dan menjadi makmur, kuat dan sukses?

Jika kita ingin menjadi murid Kristus seperti para murid Wanita yang kita hormati sebagai orang suci, maka kita perlu melakukan diskusi serius dalam keluarga kita dan dengan satu sama lain tentang kebajikan, keindahan, kebenaran, kemurnian, dan semua karakteristik Allah ini.

Seringkali kita menempatkan kekuatan, kekayaan, kesuksesan, kebanggaan, dan ketenaran sebagai cita-cita tertinggi kita. Kita sangat membutuhkan pujian. Terlalu sering di dunia modern kita ingin memperdebatkan peran kekuasaan dan otoritas dalam kehidupan gereja. Tetapi Kristus mengajarkan kepada kita bahwa argumen semacam itu adalah milik orang yang tidak percaya (Lukas 22: 25-26). Bagi kami diskusi bukanlah siapa yang terbesar, tetapi bagaimana kita dapat saling melayani sesama dan melayani Tuhan?”

Ted Bobosh benar bahwa sebagai Murid Kristus kita seringkali jadi pecundang seperti Petrus dan teman-teman tetapi ketika kita jadi pecundang kita ingat kita pecundang di dalam kuasa kebangkitan Yesus sehingga kita punya kuasa Yesus untuk menyempurnakan ketidaksempurnaan kita. Selalu ada kesempatan kedua dari Tuhan seperti yang dialami para murid laki-laki Yesus untuk menjadi pemenang, pemberani, mulia seperti para wanita pembawa rempah-rempah itu. Mari kita tidak takut gagal/ berani dalam berjalan bersama Kristus. Kita membawa spirit Maria Magdalena, dan Maria-maria yang lain di dalam mengiring Kristus. Berani mencoba, berani melangkah ke arah kebajikan, dan berani coba lagi jika kita gagal dan semua ini kita lakukan atas dasar cinta kita pada Yesus. Amin!

Referensi: http://orthochristian.com/121115.html

Yohanes 5:1-15 Minggu Orang Lumpuh

1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.

2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya

3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.

4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.

5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

8 Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.”

11 Akan tetapi ia menjawab mereka: “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

12 Mereka bertanya kepadanya: “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?”

13 Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.

14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”

15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kep (Yoh 5:1-15 TB)

Telah 38 tahun orang lumpuh itu menderita sakit dan menantikan kesembuhan dari guncangan air kolam Betesda sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu. Siapa saja yang terdahulu masuk ke dalam kolam itu maka segala macam penyakitnya akan sembuh. Tapi tidak ada satu orang pun yang menurunkan dia dan sementara ia menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahuluinya. Demikian itu berlangsung bertahun-tahun. Di sekitar dia banyak orang sakit, buta, orang timpang atau cacat dan lumpuh yang berebut untuk disembuhkan dan dia sendiri tidak punya daya untuk masuk ke kolam itu.

Setiap tahun dia menyaksikan orang lain yang disembuhkan padahal dia telah begitu dekat dengan kolam itu. Artinya dia begitu dekat dengan kesembuhan namun kurang satu langkah untuk masuk ke dalam kolam itu. Apa daya dia lumpuh dan tidak berdaya. Kesempatan selalu tertutup bagi dia. Ini menjadi cerita tragis bagi orang lumpuh itu. Tidak ada yang peduli selama 38 tahun dia menderita. Begitulah keadaan dunia kita. Selalu ada hal tragis di sekitar kita. Tragedi dan penderitaan tidak bisa dihindari di dalam dunia yang telah jatuh dosa. Ini semua akibat dosa yang dialami oleh manusia seperti kata St. Ignatius (Brianchaninov), “Sin is the cause of all man’s sorrows, both in time and in eternity. Sorrows are the natural consequence, the natural property of sin, just as sufferings, produced by physical illnesses, are the unavoidable property of these illnesses, and their characteristic effect. Sin in the broad sense of the word could also be called the fall of humankind, or its eternal death, and encompasses all people without exception. Some sins are the sad inheritance of whole human societies. Finally, each person has his own individual passions, his own particular sins he has committed, that belong to him exclusively. Sin, in all these various forms, serves as the beginning of all sorrows and catastrophes to which all mankind is subjected, to which human societies are subjected, and to which each person in particular is subjected. The state of fallenness, the state of eternal death, by which all mankind is infected and stricken, is the source of all other human sins, both societal and personal. Our widespread sin-poisoned nature has acquired the ability to sin and an inclination toward sin, it has subjected itself to sin, and can neither remove sin from itself, nor do without it in any of its activities. A person who has not been renewed cannot help but sin, although he may not want to sin (Rom. 7:14–23).[10]

Ada banyak kelumpuhan karena dosa di mana-mana bahkan termasuk diri kita sendiri. Bukan hanya kelumpuhan jasmani atau fisik tapi juga kelumpuhan rohani atau mental kita. Di berbagai media informasi kita sering mendengar atau menonton berbagai peristiwa kejahatan dan tragedi. Kita memang tidak berdaya melawan penderitaan, kejahatan, dan kematian karena kita mengalami kelumpuhan rohani oleh sebab dosa kita sendiri. Metropolitan Anthony of Sourozh menuliskan, “We are surrounded by people who are in need. It is not only people who are physically paralyzed who need help. There are so many people who are paralyzed in themselves, and need to meet someone who would help them. Paralyzed in themselves are those who are terrified of life, because life has been an object of terror for them since they were born: insensitive parents, heartless, brutal surroundings. How many are those who hoped, when they were still small, that there would be something for them in life. But no. There wasn’t. There was no compassion. There was no friendliness. There was nothing. And when they tried to receive comfort and support, they did not receive it. Whenever they thought they could do something they were told, “Don’t try. Don’t you understand that you are incapable of this?” And they felt lower and lower.”[11]

Dunia yang penuh dosa dan lumpuh ini telah berlangsung sampai hari ini dan akan sampai kesudahan zaman. Namun ada satu pengharapan yang sudah datang dan akan diselesaikan oleh seorang Pribadi. Dialah Yesus Kristus. Yohanes mencatat di ayat ke-6 ada sosok Yesus yang datang dan menawarkan kesembuhan kepada orang lumpuh itu, “Maukah engkau sembuh?” Sontak orang itu pun heran dan menjadi sembuh, lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan. Itulah satu bukti di tengah kelumpuhan dunia Yesus telah datang memberi kesembuhan kepada orang itu dan kita semua. Dan tawaran Yesus itu, “Maukah engkau sembuh?” masih berlaku sampai sekarang. Dan itu juga pengharapan bagi kita yang kelak akan diselesaikan oleh Kristus. Tawaran kesembuhan ini adalah kesembuhan dari dosa yang merupakan bibit atau benih dari segala penderitaan dan kematian manusia. Yesus telah mengalahkan dosa dengan jalan Dia rela mati di atas kayu salib, dikubur, dan bangkit dari kematian. Dia sendiri menjadi obat kelumpuhan kita. Daging dan darah-Nya menjadi obat kesembuhan kita dari dosa dan kelumpuhan. Menerima Yesus berarti dengan iman kita butuh belas kasihan-Nya untuk menyembuhkan kelumpuhan rohani kita karena dosa. Kemudian kita baru bisa berjalan di dalam Dia menuju kepada kesempurnaan atau serupa dengan Kristus (Kol 2:6-7; 1 Yoh 3:2; Rom 8:29). “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yoh 5:14).

Ketika kita belum menerima tawaran Yesus maka kita masih lumpuh secara rohani dan tentunya kita tidak bisa berjalan di dalam Dia. Namun kita sudah menerima kesembuhan dari Yesus, mari kita berjalan dengan sungguh-sungguh bersama-Nya. Mari kita belajar dari cerita di atas supaya tidak ada orang lumpuh sekian lama tanpa ada pertolongan dari sesama. Mari kita menjadi mata, tangan, dan kaki Kristus di dunia ini untuk menolong sesama kita yang menderita dan sakit karena dosa. Sama seperti Bapa dan Yesus yang terus bekerja sampai sekarang (ayat 18), kita pun tidak boleh tinggal diam menonton tetapi turun tangan berbuat sesuatu dengan daya kita sebab kita pun sudah disembuhkan oleh Yesus. Kita bukan pemuka Yahudi yang menjadi penghalang tetapi kita adalah penyalur berkat kesembuhan dari Yesus. Mari kita buka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar lalu berbelas kasihan kepada orang-orang di sekitar kita. Seperti kata Anthony of Sourozh, “Let us look at one another with understanding, with attention. Christ is there. He can heal; yes. But we will be answerable for each other, because there are so many ways in which we should be the eyes of Christ who sees the needs, the ears of Christ who hears the cry, the hands of Christ who supports and heals or makes it possible for the person to be healed. Let us look at this parable of the paralytic with new eyes; not thinking of this poor man two thousand years ago who was so lucky that Christ happened to be near him and in the end did what every neighbor should have done. Let us look at each other and have compassion, active compassion, insight, and love if we can. And then this parable will not have been spoken or this event will not have been related to us in vain.[12]

Di mana ada belas kasihan orang percaya di situ ada belas kasihan dan tawaran Yesus untuk menyembuhkan mereka. Bukankah Dia yang sedang mengetuk pintu hati manusia? (Wah 3:20) dan tugas kita adalah memberitakan kepada mereka bahwa Yesus sudah berdiri di depan pintu hati mereka dan sedang mengetuk, bukalah maka mereka akan menjadi sembuh. Amin!

5th Sunday of Pascha: Samaritan Woman Sunday

Martir Suci Photina (Svetlana), seorang wanita Samaria, putra-putranya, Victor (bernama Photinus) dan Yoses; dan saudari-saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, Kyriake; Putri Nero, Domnina; dan Martir Sebastian.

Martir Suci Photina adalah Wanita Samaria, yang dengannya Juruselamat bercakap-cakap di Sumur Yakub (Yohanes 4: 5-42).

Pada masa kaisar Nero (54-68 M), yang menunjukkan kekejaman berlebihan terhadap orang-orang Kristen, Santa Photina tinggal di Kartago bersama putranya yang lebih kecil, Yoses, dan dengan berani mengkhotbahkan Injil di sana. Putranya yang tertua, Victor, bertempur dengan gagah berani di pasukan Romawi melawan kaum barbar, dan diangkat menjadi komandan militer di kota Attalia (Asia Kecil). Belakangan, Nero memanggilnya ke Italia untuk menangkap dan menghukum orang Kristen.

Sebastian, seorang pejabat di Italia, berkata kepada Victor, “Saya tahu bahwa Anda, ibumu dan saudaramu, adalah pengikut Kristus. Sebagai teman saya menyarankan Anda untuk tunduk pada kehendak kaisar. Jika Anda memberi tahu orang-orang Kristen, Anda akan menerima kekayaan. Saya akan menulis surat kepada ibu dan kakak Anda, meminta mereka untuk tidak memberitakan Kristus di depan umum. Biarkan mereka mempraktikkan keyakinan mereka secara rahasia. ”

Victor menjawab, “Saya ingin menjadi pengkhotbah Kristus seperti ibu dan saudara lelaki saya.” Sebastian berkata, “O Victor, kita semua tahu kesengsaraan apa yang menanti Anda, ibu dan saudara lelaki Anda.” Kemudian tiba-tiba Sebastian merasakan sakit yang tajam di matanya. Dia tercengang, dan wajahnya muram.

Selama tiga hari ia terbaring buta, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pada hari keempat dia menyatakan, “Dewa orang Kristen adalah satu-satunya Tuhan yang benar.” Santo Victor bertanya mengapa Sebastian tiba-tiba berubah pikiran. Sebastian menjawab, “Karena Kristus memanggil saya.” Segera dia dibaptis dan mendapatkan kembali penglihatannya. Para pelayan Sebastian, setelah menyaksikan mukjizat itu, juga ikut dibaptiskan.

Laporan tentang hal ini sampai kepada kaisar Nero, dan ia memerintahkan agar orang-orang Kristen dibawa kepadanya di Roma. Kemudian Tuhan sendiri menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Jangan takut, karena aku menyertai kamu. Nero dan semua yang melayani dia akan dikalahkan.” Tuhan berkata kepada Victor,” Mulai hari ini namamu akan menjadi Photinus karena melalui kamu banyak orang akan tercerahkan dan akan percaya kepada-Ku.” Tuhan kemudian mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk menguatkan Sebastian agar bertahan sampai akhir.

Semua hal ini dan bahkan peristiwa di masa depan diungkapkan kepada Photina. Dia meninggalkan Kartago ditemani beberapa orang Kristen dan bergabung dengan gereja di Roma.

Di Roma kaisar memerintahkan orang-orang Kristen untuk dibawa ke hadapannya dan dia bertanya kepada mereka apakah mereka benar-benar percaya kepada Kristus. Semua orang yang mengaku menolak untuk meninggalkan Juruselamat. Kemudian kaisar memerintahkan untuk menghancurkan sendi jari para martir. Selama siksaan, para martir ini tidak merasakan sakit dan tangan mereka tetap tidak terluka.

Nero memerintahkan agar Sebastian, Photinus, dan Yoses dibutakan dan dikurung di penjara, dan Photina dan lima saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, dan Kyriake dikirim ke pengadilan kekaisaran di bawah pengawasan putri Nero, Domnina. Santa Photina mempertobatkan Domnina dan semua pelayannya menjadi pengikut Kristus. Dia juga mempertobatkan seorang penyihir yang telah membawa makanan beracun untuk membunuhnya.

Tiga tahun berlalu dan Nero mengutus salah seorang pelannya ke penjara. Para utusan melaporkan kepadanya bahwa Sebastian, Photinus dan Yoses, yang telah dibutakan, telah sepenuhnya pulih, dan bahwa orang-orang mengunjungi mereka untuk mendengarkan khotbah mereka, dan memang seluruh penjara telah diubah menjadi tempat yang terang dan harum di mana Allah dimuliakan.

Nero kemudian memerintahkan untuk menyalibkan orang-orang kudus itu, dan memukuli tubuh telanjang mereka dengan tali. Pada hari keempat kaisar mengirim para pelayan untuk melihat apakah para martir masih hidup. Tetapi ketika mendekati tempat siksaan para pelayan kaisar Nero menjadi buta. Malaikat Tuhan membebaskan para martir dari salib mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang kudus mengasihani para pelayan yang buta dan memulihkan penglihatan mereka dengan doa mereka kepada Tuhan. Mereka yang disembuhkan datang percaya kepada Kristus dan segera dibaptis.

Dalam kemarahannya, Nero memerintahkan untuk menguliti kulit orang kudus Photina dan melemparkannya ke dalam sumur. Sebastian, Photinus, dan Yoses dipotong kaki-kakinya dan mereka dilemparkan ke anjing dan kemudian mereka dikuliti. Para saudari perempuan Photina juga menderita siksaan yang mengerikan. Nero memberi perintah untuk memotong payudara mereka dan kemudian menguliti kulit mereka. Kaisar menyiapkan eksekusi untuk Photis: mereka mengikat kakinya dengan kaki di puncak dua pohon yang bengkok. Ketika tali-tali itu ditebang, pohon-pohon itu tumbuh tegak dan mencabik-cabik martir. Kaisar memerintahkan yang lainnya dipenggal. Martir Photina dikeluarkan dari sumur dan dikurung di penjara selama dua puluh hari.

Setelah itu Nero membawa Photina dan bertanya apakah dia sekarang mau mengalah dan mempersembahkan korban kepada berhala. Photina meludahi wajah kaisar, dan menertawakannya, berkata, “Wahai orang yang paling tidak beradab atas orang buta, Anda lelaki yang brengsek dan bodoh! Apakah Anda pikir saya begitu tertipu sehingga saya akan setuju untuk meninggalkan Tuhanku Kristus dan sebagai gantinya menawarkan pengorbanan kepada berhala yang sama buta dengan Anda?” Mendengar kata-kata seperti itu, Nero memerintahkan untuk sekali lagi membuang Photina ke sumur dan di sana ia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan pada tahun 66. Pada Kalender Yunani, Photina diperingati pada 26 Februari.

Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/03/20/100846-martyr-photina-svetlana-the-samaritan-woman-and-her-sons

Minggu kelima setelah Pentakosta. [ROM. 10: 1-10; Mat. 8: 28-9: 1]

   Para Gadaren melihat mukjizat Tuhan yang menakjubkan, ketika Dia mengusir pasukan Iblis, namun seluruh kota keluar dan berseru kepada Tuhan bahwa Dia akan pergi dari pantai mereka. Kami tidak mengamati mereka berhubungan bermusuhan dengan Tuhan, tetapi kami juga tidak memperhatikan iman mereka. Mereka ditangkap dengan semacam ketakutan yang tak tentu, membuat mereka hanya menginginkan agar Tuhan melewatinya, di mana pun Dia inginkan, “hanya jangan menyentuh kita.” Ini adalah gambaran sejati dari orang-orang yang hidup damai dengan harta milik mereka. Urutan hal telah terbentuk di sekitar mereka yang tidak menguntungkan; mereka terbiasa dengan itu, mereka tidak memiliki pikiran atau kebutuhan untuk mengubah atau membalikkan apa pun, dan mereka takut untuk membuat langkah baru. Namun mereka merasa bahwa jika suatu perintah turun dari atas, rasa takut akan Tuhan dan hati nurani mereka akan memaksa mereka untuk meninggalkan yang lama dan menerima sesuatu yang baru. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk menghindari keadaan apa pun yang dapat membawa mereka pada keyakinan seperti itu, sehingga mereka dapat terus hidup diam-diam dalam kebiasaan lama mereka, memohon ketidaktahuan. Mereka adalah orang-orang yang takut membaca Injil dan buku-buku patristik, atau mendiskusikan hal-hal rohani. Mereka takut jika hati nurani mereka terganggu, mereka akan bangun dan mulai memaksa mereka untuk meninggalkan apa yang mereka miliki, dan mengambil sesuatu yang lain.

Minggu Keenam Setelah Pentakosta. [Rom 12: 6-14; Mat 9: 1-8]

Tuhan mengampuni dosa orang yang sakit lumpuh. Seseorang harus bersukacita; tetapi pikiran jahat dari ahli-ahli Taurat yang terpelajar mengatakan, ”Orang ini menghujat.” Bahkan setelah mukjizat penyembuhan orang yang sakit kelumpuhan — konfirmasi kebenaran yang menghibur bahwa Anak manusia memiliki kuasa di bumi untuk mengampuni dosa— orang-orang memuliakan Allah; tetapi tidak ada yang dikatakan tentang para ahli Taurat, mungkin karena mereka terus menenun pertanyaan-pertanyaan tipuan mereka bahkan setelah keajaiban seperti itu. Pikiran tanpa iman adalah perencana; ia terus-menerus membuat kecurigaan jahatnya dan menjalin hujatan terhadap seluruh iman. Adapun mukjizat — itu entah tidak percaya pada mereka, atau menuntut yang nyata. Tetapi ketika sebuah mukjizat diberikan yang akan mewajibkan seseorang untuk tunduk kepada iman, pikiran ini tidak malu untuk berpaling darinya, memutarbalikkan atau memfitnah karya Tuhan yang ajaib. Itu memperlakukan bukti yang tak terbantahkan tentang kebenaran Allah dengan cara yang sama. Ini cukup dan meyakinkan disajikan dengan bukti pengalaman dan intelektual, tetapi bahkan menutupi ini dengan keraguan. Urutkan semua yang  dihasilkannya dan Anda akan melihat bahwa dalam hal ini hanya ada penipuan, meskipun bahasanya sendiri menyebutnya kepintaran, dan Anda tidak mau mengarah pada kesimpulan bahwa kepintaran dan penipuan itu satu dan sama. Dalam dunia iman, Rasul berkata, Kita memiliki pikiran Kristus. Pikiran siapa yang berada di luar bidang iman? Si jahat. Itulah sebabnya tipu daya telah menjadi ciri khasnya.

Sumber:

Thoughts for Each Day of the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St. Theophan the Recluse

Minggu Ketujuh Setelah Pentakosta. [ROM. 15: 1-7; Mat. 9: 27-35]

   Menurut imanmu, bagimu, kata Tuhan kepada dua orang buta itu, dan segera mata mereka terbuka. Semakin besar imannya, semakin besar masuknya kekuatan Ilahi. Iman adalah penerima, bibir, dan wadah rahmat. Sama seperti paru-paru seseorang yang besar sementara yang lain kecil, dan yang besar mengambil lebih banyak udara, sementara yang kecil mengambil lebih sedikit, demikian pula satu orang memiliki tingkat iman yang besar, dan yang lain sedikit, dan iman seseorang menerima lebih banyak hadiah dari Tuhan, dan lebih sedikit orang lain. Tuhan ada di mana-mana, meliputi segalanya dan mengandung semuanya, dan suka tinggal di dalam jiwa manusia. Tetapi Dia tidak secara paksa memasuki mereka, meskipun Dia Mahakuasa, tetapi masuk seolah-olah atas undangan; karena Dia tidak ingin melanggar kekuasaan yang dimiliki manusia atas dirinya sendiri, atau melanggar hak manusia untuk memerintah rumahnya sendiri — hak yang telah Dia berikan. Siapa pun yang membuka dirinya melalui iman, Tuhan memenuhi, tetapi siapa pun yang menutup dirinya melalui ketidakpercayaan — Tuhan tidak masuk, meskipun Ia sudah dekat. Raja! Tambahkan ke iman kita, karena iman juga adalah karunia-Mu. Kita masing-masing harus mengaku: Miskin dan membutuhkan aku (Mzm. 69: 6).

Minggu Kedelapan Setelah Pentakosta. [I Kor. 1: 10-18; Mat. 14: 14-22]

Sebelum pengisian ajaib dari lima ribu orang, para murid Tuhan ingin agar orang-orang diutus; tetapi Tuhan berkata kepada mereka: Mereka tidak perlu pergi; beri kamu mereka untuk makan. Mari kita pelajari kata ini, dan setiap kali musuh menyarankan kita untuk menolak seseorang yang meminta sesuatu, mari kita katakan dari muka Tuhan: “Mereka tidak perlu pergi, memberi kamu makan” – dan marilah kita memberikan apa pun kami temukan di tangan. Musuh menghancurkan keinginan untuk menawarkan amal, dan menunjukkan bahwa mungkin si penanya tidak layak untuk diberikan; tetapi Tuhan tidak menyelidiki kelayakan dari mereka yang duduk di sana: dia melayani semua orang dengan adil, sementara tentu saja, tidak semua orang sama-sama mengabdi kepada-Nya; mungkin bahkan ada orang-orang yang kemudian berseru: “salibkan dia.” Demikianlah pemeliharaan Allah secara keseluruhan terhadap kita: Dia membuat matahari-Nya untuk bangkit melawan yang jahat dan yang baik, dan mengirimkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5) : 45). Kalau saja Tuhan mau membantu kita sedikit pun untuk berbelas kasihan, seperti Bapa surgawi kita berbelas kasihan (Lukas 6:36).

Minggu Kesembilan Setelah Pentakosta. [I Kor 3: 9-17; Mat 14: 22-34]

Rasul kudus Petrus, dengan izin Tuhan, turun dari kapal dan berjalan di atas air; kemudian dia menyerah pada gerakan ketakutan dan mulai tenggelam. Fakta bahwa dia memutuskan tindakan yang tidak biasa itu, berharap pada Tuhan, tidak ada teguran yang layak — jika tidak Tuhan tidak akan mengizinkannya melakukan ini. Teguran itu datang karena dia tidak mempertahankan keadaan jiwanya yang asli. Dia dipenuhi dengan harapan yang diilhami dalam kemampuan Tuhan untuk melakukan apa pun, dan ini memberinya keberanian untuk mempercayakan dirinya kepada ombak. Beberapa langkah sudah dibuat di sepanjang jalan baru ini — perlu hanya berdiri lebih teguh dalam pengharapan, menatap Tuhan yang dekat, dan pada pengalaman berjalan dalam kekuatan-Nya. Alih-alih, serahkan pikirannya pada manusia: “Angin kuat, ombaknya besar, airnya tidak keras,” dan ini bergetar dan melemahkan keteguhan iman dan harapannya. Karena hal ini ia melepaskan diri dari tangan Tuhan, dan, meninggalkan operasi hukum alam, mulai tenggelam. Tuhan menegurnya, hai kamu yang kurang beriman! Mengapa kamu ragu? menunjukkan bahwa dalam hal ini terletak seluruh alasan kemalangan. Lihatlah pelajaran bagi semua yang melakukan sesuatu, besar atau kecil, dengan tujuan menyenangkan Tuhan! Pertahankan keadaan iman dan harapan pertama Anda, dari mana kebajikan yang besar lahir — kesabaran dalam berbuat baik, yang berfungsi sebagai dasar untuk kehidupan yang menyenangkan Allah. Selama sifat-sifat ini dipertahankan, ilham untuk bekerja di jalan yang telah dimulai tidak hilang; dan rintangan, betapa pun hebatnya mereka, tidak diperhatikan. Ketika disposisi ini melemah, jiwa dipenuhi dengan pemikiran manusia tentang metode manusia untuk melestarikan kehidupan seseorang dan melakukan urusan yang telah dimulai. Tetapi karena alasan ini selalu ternyata tidak berdaya, takut bagaimana seseorang harus memasuki jiwa; dari sini muncul keraguan — bertanya-tanya apakah akan melanjutkan atau tidak — dan pada akhirnya datanglah kembali sepenuhnya. Anda harus melakukannya dengan cara ini; jika Anda memulainya, pertahankan — usir pikiran yang mengganggu, dan beranilah dalam Tuhan, Yang ada di dekat Anda.

Minggu Kesepuluh Setelah Pentakosta [I Kor 4:9-16; Mat 17:14-23]

Jenis ini tidak keluar tetapi dengan doa dan puasa. Jika jenis ini keluar dengan doa dan puasa orang lain, maka bahkan kurang bisa masuk orang yang berpuasa dan berdoa. Perlindungan apa! Meskipun ada banyak setan dan semua udara dipenuhi dengan mereka, mereka tidak dapat melakukan apa pun kepada orang yang dilindungi oleh doa dan puasa. Puasa adalah kesederhanaan universal, doa adalah komunikasi universal dengan Tuhan; yang pertama membela dari luar, sedangkan yang kedua dari dalam mengarahkan senjata berapi-api melawan musuh. Setan-setan dapat merasakan orang yang lebih cepat dan pendoa dari kejauhan, dan mereka lari jauh darinya sehingga menghindari pukulan yang menyakitkan. Apakah layak untuk berpikir bahwa di mana tidak ada puasa dan doa, sudah ada iblis? Ya itu. Setan yang tinggal dalam diri seseorang, tidak selalu mengungkapkan kehadiran mereka, tetapi mengintai di sana, dengan diam-diam mengajar tuan rumah mereka setiap kejahatan dan memalingkannya dari setiap hal yang baik; jadi orang ini yakin bahwa dia melakukan semuanya sendiri, tetapi sementara itu dia hanya memenuhi kehendak musuhnya. Mulai saja doa dan puasa dan musuh akan segera pergi, lalu tunggu di samping untuk kesempatan entah bagaimana kembali lagi. Dan dia benar-benar akan kembali, begitu doa dan puasa ditinggalkan.

Sumber:

Thoughts for Each Day of the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St. Theophan the Recluse

Minggu Kesebelas Setelah Pentakosta [I Kor 9: 2-12; Mat 18: 23-35]

Tuhan mengakhiri perumpamaan tentang dua orang yang berhutang dengan kata-kata berikut: Demikian juga Bapa Surgawi-Ku juga akan melakukan kepadamu, jika kamu dari dalam hatimu tidak mengampuni tidak semua saudaranya pelanggaran karena kesalahan mereka. Tampaknya hal sekecil itu diperlukan: maafkan dan Anda akan dimaafkan. Ketika Anda diampuni, Anda dibawa ke dalam belas kasihan; dan ketika Anda dibawa ke dalam belas kasihan, Anda telah menjadi peserta dalam semua harta karun belas kasihan. Jadi inilah keselamatan, surga, dan kebahagiaan abadi. Betapa besar perolehan untuk hal sekecil itu seperti memaafkan!… Ya, itu adalah hal kecil, tetapi bagi cinta diri kita tidak ada yang lebih sulit daripada memaafkan. Kita mungkin masih memaafkan gangguan yang tidak disengaja yang memperlakukan kita secara pribadi sehingga tidak ada yang melihat; tetapi jika itu hanya sedikit lebih sensitif, dan di depan orang-orang, jangan bahkan bertanya — tidak ada pengampunan. Ada beberapa situasi ketika Anda menginginkannya atau tidak, Anda tidak diizinkan mengungkapkan ketidaksenangan Anda — dan karenanya Anda tetap diam. Namun, hanya lidah Anda yang diam — sementara itu hati Anda berbicara dan membangun rencana jahat. Tingkatkan kekesalannya lagi — dan tidak ada pengekangan. Baik rasa malu, atau rasa takut, atau kehilangan, atau hal lain apa pun tidak akan menahan Anda. Egoisme yang telah mencapai titik didih membuat seseorang seolah-olah gila, dan dia yang menyerah padanya mulai berbicara kebodohan. Orang-orang yang paling tunduk pada keadaan malang ini biasanya bukan sembarang orang — yang lebih beradab adalah, semakin peka dia untuk dihina, dan yang kurang memaafkan. Hubungan akan sering tetap mulus di permukaan, tetapi di dalam jelas ada perselisihan. Sementara itu, Tuhan menuntut agar kita mengampuni dengan sepenuh hati.

Sumber:

Thoughts for Each Day of the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St. Theophan the Recluse

Minggu Keduabelas Setelah Pentakosta [I Kor 15: 1-11; Mat. 19: 16-26]

Orang kaya hampir tidak akan masuk ke Kerajaan Surga. Di sini dimaksudkan orang kaya yang melihat sendiri banyak metode dan banyak kekuatan untuk kemakmurannya sendiri. Tetapi begitu seseorang yang memiliki banyak harta benda memotong semua keterikatan pada mereka, memadamkan dalam dirinya semua ketergantungan pada mereka, dan berhenti memandang mereka sebagai dukungan substansial, maka di dalam hatinya ia sama dengan orang yang tidak memiliki apa pun — karena itu adalah jalan menuju kerajaan terbuka. Kekayaan tidak hanya menjadi penghalang, tetapi juga merupakan bantuan, karena mereka menyediakan sarana untuk pekerjaan amal. Kekayaan bukanlah kemalangan, tetapi lebih bergantung pada mereka dan kemelekatan pada mereka. Pikiran ini dapat digeneralisasi dengan cara ini: siapa pun yang bergantung pada sesuatu dan melekat pada sesuatu, kaya akan hal itu. Siapa pun yang bersandar pada Allah saja dan bersatu dengan-Nya dengan sepenuh hatinya kaya akan Allah, Siapa pun yang bersandar pada sesuatu yang lain, akan mengalihkan hatinya kepada Allah alih-alih orang yang demikian kaya akan hal lain ini, tetapi tidak di dalam Allah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dia yang tidak kaya akan Allah tidak memiliki jalan masuk ke dalam kerajaan Allah. Di sini dimaksudkan hal-hal seperti kelahiran, koneksi, pikiran, pangkat, lingkaran kegiatan dan sebagainya.

Sumber:

Thoughts for Each Day of the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St. Theophan the Recluse

http://orthochristian.com/calendar/20190812.html

Minggu Ke – 14 Setelah Pentakosta

(2 Corinthians 1:21—2:4; Matthew 22:1–14)

Hieromartyr Phocas, Uskup Sinope
Diperingati pada 22 September
 
Hieromartyr Phocas lahir di kota Sinope. Sejak muda dia menjalani kehidupan Kristen yang saleh, dan di masa dewasanya dia menjadi Uskup Sinope. Saint Phocas mempertobatkan banyak penyembah berhala menjadi iman kepada Kristus. Pada saat penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di bawah kaisar Trajan (98-117), gubernur menuntut agar orang suci itu meninggalkan Kristus. Setelah disiksa dengan sengit, mereka mengurung Santo Phocas di pemandian air panas, di mana ia meninggal sebagai martir pada tahun 117.
Pada tahun 404, peninggalan orang suci dipindahkan ke Konstantinopel (22 Juli).
Hieromartyr Phocas terutama dihormati sebagai pembela terhadap kebakaran, dan juga sebagai penolong yang tenggelam.

Nabi Yunus
Diperingati pada 22 September
 
Troparion & Kontakion
Nabi Suci Yunus hidup pada abad ke delapan sebelum kelahiran Kristus dan merupakan penerus Nabi Elisa. Kitab Nabi Yunus berisi nubuat tentang penghakiman atas bangsa Israel, penderitaan Juruselamat, kejatuhan Yerusalem, dan akhir dunia. Selain nubuat, Kitab Yunus menceritakan bagaimana ia dikirim ke orang Niniwe untuk mengkhotbahkan pertobatan (Yun. 3: 3-10).
Tuhan kita Yesus Kristus, yang berbicara kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang meminta tanda dari-Nya, mengatakan bahwa tidak ada tanda yang akan diberikan kecuali tanda Nabi Yunus, “Seperti Yunus berada di dalam perut ikan paus tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan berada di jantung bumi tiga hari tiga malam ”(Mat 12: 40). Dari kata-kata ini Tuhan menunjukkan dengan jelas makna simbolis dari Kitab Nabi Yunus sehubungan dengan kematian Kristus di kayu Salib, turun ke Neraka, dan Kebangkitan.
Karena mencela kurangnya penyesalan dan pembangkangan orang-orang Yahudi, Tuhan berkata, “Orang Niniwe akan bangkit dalam penghakiman dengan generasi ini dan akan menghukumnya, karena mereka bertobat pada pemberitaan Yunus; dan yang lebih besar dari Yunus ada di sini ”(Mat 12: 41).

Menurut Bacaan Gereja Harian dari Firman Tuhan

Oleh St Theophan sang Pertapa

Minggu Keempat Belas Setelah Pentakosta. [II Kor. 1: 21-2: 4; Mat. 22: 1-14]

Seorang raja mengatur pernikahan untuk putranya, ia mengirim satu kali untuk mereka yang diperintahkan, mengirim dua kali, tetapi karena kepedulian duniawi mereka tidak datang — satu sibuk di rumah, yang lain sibuk dengan bisnis. Undangan baru dibuat di ruang lain, dan ruang pernikahan dilengkapi dengan tamu. Di antara mereka ditemukan satu tidak berpakaian untuk pernikahan, yang karena itu diusir. Arti dari perumpamaan ini jelas: Pernikahan adalah kerajaan surga, undangannya adalah pemberitaan Injil, mereka yang menolak adalah mereka yang tidak percaya sama sekali, dan orang yang tidak berpakaian untuk pernikahan percaya, tetapi tidak hidup sesuai dengan iman. Kita masing-masing harus mencari tahu untuk diri sendiri kategori mana yang kita miliki. Bahwa kita dilarang jelas, tetapi apakah kita orang percaya? Memang mungkin untuk berada di antara orang-orang percaya, dengan nama bersama, dan benar-benar kurang iman. Seseorang tidak berpikir sama sekali tentang iman, seolah-olah itu tidak ada; yang lain tahu sesuatu tentang itu dan dari itu, dan puas; yang lain menafsirkan iman dengan cara yang menyimpang; yang lain berhubungan dengan itu dengan penuh permusuhan. Semua dianggap berada di antara orang-orang Kristen, meskipun mereka sama sekali tidak memiliki yang Kristen. Jika Anda percaya, cari tahu apakah perasaan Anda, atau perbuatan sesuai dengan iman Anda — ini adalah pakaian jiwa, yang olehnya Allah melihat Anda berpakaian untuk pernikahan atau tidak. Adalah mungkin untuk mengetahui iman dengan baik dan bersemangat untuk itu, tetapi dalam kehidupan nyata untuk melayani hasrat, untuk berpakaian, yaitu, dalam pakaian memalukan dari jiwa yang mencintai dosa. Orang-orang semacam itu adalah satu cara dalam kata, tetapi cara lain dalam hati. Di lidah mereka ada, “Tuhan, Tuhan!” Tetapi di dalam diri mereka berkata, “hitung aku.” (Periksa dirimu, apakah kamu beriman dan mengenakan pakaian pernikahan kebajikan, atau memakai compang-camping yang memalukan dari dosa dan Kesukaan.

Minggu ke – 15 setelah pentakosta 2 Korintus 4:6–15; Matius 22:35–46

Yang Mulia Cyriacus, Pertapa dari Palestina

Diperingati pada tanggal 29 September

Santo Cyriacus dilahirkan di Korintus kepada imam Yohanes dan istrinya Eudokia. Uskup Peter dari Korintus, yang adalah seorang kerabat, melihat bahwa Cyriacus tumbuh sebagai anak yang pendiam dan bijaksana, menjadikannya seorang pembaca di gereja. Pembacaan yang konstan dari Kitab Suci membangkitkan dalam dirinya cinta untuk Tuhan dan kerinduan untuk kehidupan yang suci dan suci.

Suatu ketika, ketika pemuda itu belum berusia delapan belas tahun, dia sangat tersentuh selama kebaktian gereja dengan kata-kata Injil: “Jika ada orang yang datang setelah Aku, biarkan dia menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Aku” ( Mt.16: 24). Dia percaya kata-kata ini berlaku baginya, jadi dia langsung pergi ke pelabuhan tanpa berhenti di rumah, naik ke kapal dan pergi ke Yerusalem.

Setelah mengunjungi tempat-tempat suci, Cyriacus tinggal selama beberapa bulan di sebuah biara tidak jauh dari Sion dalam kepatuhan terhadap igumen Abba Eustorgius. Dengan restunya, dia berjalan ke hutan belantara Lavra dari Saint Euthymius the Great (20 Januari). Santo Euthymius, yang melihat dalam masa muda karunia-karunia besar dari Allah, mencurahkannya ke dalam skema biara dan menempatkannya di bawah bimbingan Santo Gerasimus (4 Maret), mengejar asketisme di sungai Yordan di biara Santo Theoctistus.

Santo Gerasimus, melihat keremajaan Cyriacus, memerintahkannya untuk tinggal di komunitas bersama saudara-saudara. Bhikkhu muda itu dengan mudah mencapai kepatuhan biara: dia berdoa dengan sungguh-sungguh, dia tidur sedikit, dia hanya makan makanan setiap hari, memberi makan dirinya sendiri dengan roti dan air.

Selama Masa Prapaskah yang Besar, adalah kebiasaan Santo Gerasimus untuk pergi ke hutan   belantara Rouva, kembali ke biara hanya pada hari Minggu Palem. Melihat Cyriacus sangat pantang, dia memutuskan untuk membawanya bersamanya. Dalam kesunyian total para pertapa melipatgandakan upaya mereka. Setiap hari Minggu Santo Gerasimus memberikan Misteri Suci kepada muridnya.

Setelah kematian Santo Gerasimus, Cyriacus yang berusia dua puluh tujuh tahun kembali ke Lavra Santo Euthymius, tetapi ia tidak lagi hidup. Santo Cyriacus meminta sel isolasi dan di sana ia mengejar asketisme dalam keheningan, berkomunikasi hanya dengan biarawan Thomas. Tetapi segera Thomas dikirim ke Alexandria di mana ia ditahbiskan sebagai uskup, dan Santo Cyriacus menghabiskan sepuluh tahun dalam keheningan total. Pada usia 37 tahun dia ditahbiskan menjadi diakon.

Ketika perpecahan terjadi antara biara-biara Santo Euthymius dan Santo Theoctistus, Santo Cyriacus mengundurkan diri ke biara Souka di Saint Chariton (28 September). Di biara ini, mereka bahkan menerima para bhikkhu yang berotak sebagai samanera, dan demikian pula Santo Cyriacus. Dia bekerja keras dengan rendah hati pada kepatuhan biara biasa. Setelah beberapa tahun, Santo Cyriacus ditahbiskan sebagai imam dan memilih kanonarki dan melakukan kepatuhan ini selama delapan belas tahun. Santo Cyriacus menghabiskan tiga puluh tahun di biara Saint Chariton.

Puasa yang ketat dan tidak adanya kejahatan membuat Saint Cyriacus terkenal bahkan di antara para petapa di Lavra. Di selnya setiap malam ia membaca Mazmur, menyela bacaan hanya untuk pergi ke gereja pada tengah malam. Petapa itu tidur sangat sedikit. Ketika bhikkhu itu mencapai usia tujuh puluh tahun, dia pergi ke padang belantara Natoufa dengan membawa muridnya, Yohanes.

Di padang pasir para pertapa memberi makan diri mereka sendiri dengan ramuan pahit, yang melalui doa Santo Cyriacus dapat dimakan. Setelah lima tahun, salah satu penduduk mengetahui tentang pertapa dan membawa kepada mereka putranya yang kerasukan setan, dan Santo Cyriacus menyembuhkannya. Sejak saat itu banyak orang mulai mendekati bhikkhu itu dengan kebutuhan mereka, tetapi ia mencari kesunyian total dan melarikan diri ke hutan belantara Rouva, di mana ia tinggal lima tahun lebih. Tetapi orang sakit dan orang-orang yang menderita setan datang kepadanya di padang belantara ini, dan orang suci menyembuhkan mereka semua dengan Tanda Salib dan mengurapi mereka dengan minyak.

Pada tahun ke 80 kehidupannya, Santo Cyriacus melarikan diri ke hutan belantara Sousakim yang tersembunyi, tempat dua aliran sungai mengering. Menurut Tradisi, Nabi Suci Daud menarik perhatian Sousakim: “Engkau telah mengeringkan sungai-sungai Etham” (Mzm 73/74: 15). Setelah tujuh tahun, saudara-saudara dari biara Souka datang kepadanya, memohon bantuan rohaninya selama masa kelaparan dan penyakit yang melemahkan, yang diizinkan Tuhan. Mereka memohon Saint Cyriacus untuk kembali ke biara, dan dia menetap di sebuah gua, tempat Saint Chariton pernah hidup.

Santo Cyriacus memberikan bantuan besar kepada Gereja dalam pergulatan dengan penyebaran bidat dari para Origenes. Dengan doa dan kata-kata, dia membawa jalan kembali ke jalan yang benar, dan memperkuat kaum Ortodoks dalam iman mereka. Cyril, penulis Life of Saint Cyriacus, dan seorang biarawan Lavra dari Saint Euthymius, adalah seorang saksi ketika Saint Cyriacus meramalkan kematian yang akan datang dari kepala bidat Nonos dan Leontius, dan segera bidat itu akan berhenti menyebar.

Theotokos yang paling suci. Dirinya sendiri memerintahkan Santo Cyriacus untuk mempertahankan ajaran Ortodoks dalam kemurniannya: Setelah menampakkan diri kepadanya dalam mimpi bersama dengan para Santo Yohanes Pembaptis dan Yohanes Sang Teolog, Dia menolak untuk masuk ke dalam sel bhikkhu itu karena di dalamnya adalah sebuah buku dengan kata-kata sesat Nestorius. “Di selmu adalah musuhku,” katanya (Penampilan Theotokos Maha Kudus untuk Santo Cyriacus diperingati pada 8 Juni).

Pada usia sembilan puluh sembilan, Santo Cyriacus kembali pergi ke Susakim dan tinggal di sana bersama muridnya, Yohanes. Di padang belantara, seekor singa besar menunggu Santo Cyriacus, melindunginya dari perampok, tetapi itu tidak mengganggu saudara-saudara yang berkeliaran dan memakannya dari tangan biksu itu.

Suatu ketika di musim panas, semua air di lubang batu mengering, tempat para petapa menyimpan air selama musim dingin, dan tidak ada sumber air lain. Santo Cyriacus berdoa, dan hujan turun, mengisi lubang dengan air.

Selama dua tahun sebelum kematiannya, Santo Cyriacus kembali ke vihara dan kembali menetap di gua Santo Chariton. Sampai akhir hidupnya, Penatua yang saleh memelihara keberaniannya, dan berdoa dengan penuh semangat. Dia tidak pernah diam, baik dia berdoa, atau dia bekerja. Sebelum kematiannya, Santo Cyriacus memanggil saudara-saudara dan memberkati mereka semua. Dia diam-diam tertidur di dalam Tuhan, setelah hidup 109 tahun.

Minggu Kelimabelas Setelah Pentakosta. [II Kor. 4: 6-15; Mat. 22: 35-46]

Tuhan menawarkan perintah tentang cinta untuk Tuhan dan sesama, dan segera menambahkannya dengan ajaran tentang statusnya sebagai Tuhan dan keilahian-Nya. Kenapa ini? Karena cinta sejati kepada Allah dan manusia tidak mungkin lain dari pengaruh iman kepada keilahian Kristus Juruselamat, bahwa Dia adalah Anak Allah yang berinkarnasi. Iman yang demikian membangkitkan cinta kepada Tuhan, karena bagaimana mungkin seseorang tidak mengasihi Tuhan, yang telah sangat mencintai kita, Siapa yang bahkan tidak menyayangi Putra Tunggal-Nya, tetapi menyerahkan Dia untuk kita? Iman membawa kasih ini untuk menggenapi sepenuhnya, atau untuk apa yang dicari; sementara cinta mencari persatuan yang hidup. Untuk mencapai persatuan ini, seseorang harus mengatasi perasaan kebenaran Allah yang menghukum dosa; tanpa ini, sangat menakutkan untuk mendekati Tuhan. Perasaan ini diatasi melalui keyakinan bahwa kebenaran Allah dipenuhi oleh kematian di kayu salib Anak Allah. Keyakinan semacam itu datang dari iman; akibatnya, iman membuka jalan cinta kepada Tuhan. Ini yang pertama. Kedua: iman kepada Keilahian Anak Allah yang berinkarnasi, menderita, dan dimakamkan demi kita, memberikan contoh cinta untuk sesama; karena cinta adalah ketika seseorang meletakkan jiwanya untuk orang yang dicintainya. Iman juga memberi kekuatan untuk perwujudan cinta semacam itu. Untuk memiliki cinta seperti itu, seseorang harus menjadi orang baru alih-alih orang yang egois — seseorang harus menjadi orang yang rela berkorban. Hanya di dalam Kristus seseorang menjadi ciptaan baru; tetapi kita hanya dapat berada di dalam Kristus jika kita bersatu dengan Kristus melalui iman dan kelahiran kembali yang dipenuhi rahmat melalui misteri kudus yang diterima dengan iman. Dari sini dapat disimpulkan bahwa setiap harapan oleh orang-orang tanpa iman untuk mempertahankan perilaku moral yang baik bahkan sia-sia. Semuanya bersama; tidak mungkin untuk membagi seorang pria. Seseorang harus memuaskan semuanya.

Minggu ke 16 setelah pantekosta

Pemujaan St Innocent the Metropolitan of Moscow dan Enlightener of the Aleuts, Rasul ke Amerika

Diperingati pada 6 Oktober

Pemuliaan Saint Innocent, Metropolitan Moskow, Pencerahan Aleuts dan Rasul ke Amerika (di dunia John Popov-Veniaminov), lahir pada tanggal 26 Agustus 1797 di desa Anginsk di keuskupan Irkutsk, menjadi keluarga seorang sakristan . Bocah itu menguasai studinya pada usia dini dan pada usia tujuh tahun, ia membaca Surat di gereja. Pada 1806 mereka mengirimnya ke seminari Irkutsk. Pada tahun 1814, rektor yang baru menganggap pantas untuk mengganti nama keluarga beberapa siswa. John Popov menerima nama keluarga Veniaminov untuk menghormati almarhum Uskup Agung Benjamin dari Irkutsk (+ 8 Juli 1814). Pada tanggal 13 Mei 1817 ia ditahbiskan sebagai diakon untuk gereja Peringatan Irkutsk, dan pada tanggal 18 Mei 1821, ia ditahbiskan menjadi imam.

Layanan misionaris Rasul Amerika dan Siberia di masa depan dimulai pada tahun 1823. Pastor John menghabiskan 45 tahun bekerja untuk pencerahan masyarakat Kamchatka, Kepulauan Aleutian, Amerika Utara, Yakutsk, perbatasan Khabarov, melakukan eksploitasi kerasulannya di kondisi parah dan risiko besar terhadap kehidupan. Saint Innocent membaptiskan sepuluh ribu orang, dan membangun gereja-gereja, di sampingnya ia mendirikan sekolah-sekolah dan ia sendiri mengajarkan dasar-dasar kehidupan Kristen. Pengetahuannya tentang berbagai kerajinan dan seni membantunya dalam pekerjaannya.

Pastor John adalah seorang pengkhotbah yang luar biasa. Selama perayaan Liturgi, upacara peringatan dan Vigil semalaman, ia tak henti-hentinya membimbing kawanannya. Selama perjalanannya yang tak berkesudahan, Pastor John mempelajari bahasa, adat istiadat, dan kebiasaan orang-orang, di antaranya ia berkhotbah. Karyanya dalam bidang geografi, etnografi, dan linguistik mendapat pengakuan dunia. Dia menyusun alfabet dan tata bahasa untuk bahasa Aleut dan menerjemahkan Katekismus, Injil dan banyak doa ke dalam bahasa itu. Salah satu yang terbaik dari karyanya adalah Indikasi Jalan ke Kerajaan Surga (1833), diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa masyarakat Siberia dan muncul dalam lebih dari 40 edisi. Berkat kerja keras Pastor John, orang-orang Yakut pada tahun 1859 pertama kali mendengar Firman Allah dan pelayanan ilahi dalam bahasa ibu mereka sendiri.

Pada tanggal 29 November 1840, setelah kematian istrinya, Pastor John ditahbiskan sebagai biarawan dengan nama Innocent oleh Saint Philaret, Metropolitan Moscow, untuk menghormati Saint Innocent of Irkutsk. Pada 15 Desember, Archimandrite Innocent ditahbiskan sebagai Uskup Kamchatka, Kepulauan Kurile dan Aleutian. Pada tanggal 21 April 1850 Uskup Innocent diangkat ke pangkat uskup agung. Oleh Penyelenggaraan Allah pada 5 Januari 1868, Saint Innocent menggantikan Metropolitan Philaret di cathedra Moskow. Melalui Sinode Kudus, Metropolitan Innocent mengkonsolidasikan upaya misionaris sekuler Gereja Rusia (sudah pada tahun 1839 ia telah mengusulkan sebuah proyek untuk meningkatkan organisasi pelayanan misionaris).

Di bawah perawatan Metropolitan Innocent, Lembaga Misionaris dibentuk, dan biara Perlindungan direorganisasi untuk pekerjaan misionaris. Pada tahun 1870, Misi Spiritual Ortodoks Jepang yang dipimpin oleh Archimandrite Nicholas Kasatkin [sesudahnya Saint Nicholas dari Jepang, (3 Februari)] didirikan, kepada siapa Saint yang tidak bersalah berbagi banyak pengalaman rohaninya sendiri. Bimbingan oleh Saint Innocent dari keuskupan Moskow juga membuahkan hasil, dengan upayanya, gereja Perlindungan Theotokos Maha Kudus dibangun ke dalam Akademi Spiritual Moskow.

Saint Innocent tertidur di dalam Tuhan pada tanggal 31 Maret 1879, pada hari Sabtu Suci, dan dimakamkan di Gereja Roh Kudus dari Trinity-Saint Sergius Lavra. Pada 6 Oktober 1977, Saint Innocent dimuliakan oleh Gereja Ortodoks Rusia. Ingatannya dirayakan tiga kali selama tahun itu: pada 31 Maret, hari istirahatnya yang diberkati, pada 5 Oktober (Synaxis dari Hierarchs Moskow), dan pada 6 Oktober, hari pemuliaannya.

Minggu ke – 17 Setelah Pantekosta

Minggu Ketujuh Belas Setelah Pentakosta. Minggu Sebelum Peninggian Salib. [Gal. 6: 11-18; Yohanes 3: 13-17]

Ketika Musa mengangkat ular di padang belantara, demikian pula Anak Manusia harus ditinggikan: Barangsiapa yang percaya kepada-Nya jangan binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal. Iman kepada Anak Allah, yang disalibkan dalam daging demi kita — adalah kuasa Allah untuk keselamatan, sumber hidup dari aspirasi dan disposisi moral yang menghidupkan, dan wadah dari anugerah berlimpah Roh Kudus yang selalu tinggal di dalam hati , dan inspirasi rahasia pada waktu yang tepat, pada saat dibutuhkan, dikirim dari atas. Faith menggabungkan keyakinan seseorang, menarik niat baik Tuhan dengan kekuatan dari atas. Kedua hal inilah yang membentuk kepemilikan kehidupan kekal. Sementara hidup ini dijaga tetap utuh, seorang Kristen tidak mau menyerah, karena dengan bersatu dengan Tuhan ia bersatu dengan Tuhan, dan tidak ada yang bisa mengalahkan Tuhan. Mengapa orang jatuh? Dari melemahnya iman. Keyakinan Kristen melemah — dan energi moral juga melemah. Sementara pelemahan ini terjadi, rahmat dipenuhi dari hati, dan dorongan jahat mengangkat kepala mereka. Kecenderungan terhadap dorongan-dorongan ini datang pada jam yang tepat, dan ada kejatuhan. Jadilah pengawal yang waspada terhadap segala hal yang ada di dalamnya, dan Anda tidak akan jatuh. Dalam pengertian ini Santo Yohanes mengatakan bahwa dia yang lahir dari Allah tidak berdosa.

Pikiran untuk Setiap Hari Tahun Ini

Menurut Bacaan Gereja Harian dari Firman Tuhan

Oleh St Theophan sang Pertapa

Minggu Kedelapan Belas Setelah Pentakosta. [II Kor. 9: 6-11; Lukas 5: 1-11]

Para nelayan bekerja keras sepanjang malam dan tidak mengambil apa-apa; tetapi ketika Tuhan memasuki kapal mereka, dan, setelah berkhotbah memerintahkan mereka untuk menebarkan jala mereka, mereka mengambil begitu banyak sehingga mereka tidak dapat menariknya keluar dan jala pecah. Ini adalah gambar untuk semua pekerjaan tanpa bantuan Tuhan, dan untuk bekerja dengan bantuan Tuhan. Ketika satu orang bekerja, ingin mencapai sesuatu melalui kekuatannya sendiri — dia semua adalah ibu jari. Ketika Tuhan mendekat kepadanya, maka satu demi satu hal baik mengalir dari suatu tempat. Dalam pengertian moral-spiritual, ketidakmungkinan untuk berhasil tanpa Tuhan sangat nyata: Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa, kata Tuhan. Dan hukum ini bertindak dalam segala hal. Sama seperti ranting yang tidak tumbuh ke pohon tidak hanya tidak menghasilkan buah, tetapi juga mengering dan kehilangan nyawanya, orang juga tidak dapat menghasilkan buah-buah kebenaran yang berharga untuk kehidupan kekal jika mereka tidak hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Segala kebaikan yang mungkin mereka miliki hanyalah penampilan yang baik, tetapi pada dasarnya itu keliru — seperti apel hutan yang tampak merah tetapi jika Anda mencicipinya, rasanya masam. Ini juga sangat jelas dalam arti eksternal, duniawi: seseorang berjuang dan berjuang, dan semuanya sia-sia. Ketika berkah Tuhan turun, semua keluar dengan baik. Mereka yang memperhatikan diri mereka sendiri dan jalan kehidupan mengetahui kebenaran-kebenaran ini melalui pengalaman.

Minggu ke – 19 setelah pantekosta

Yang Mulia Nestor the Chronicler of the Kiev Caves

Diperingati pada tanggal 27 Oktober

Saint Nestor the Chronicler, dari Gua Kiev, Near Caves lahir di Kiev pada 1050. Dia datang ke Saint Theodosius (3 Mei) sebagai seorang pemuda, dan menjadi seorang pemula. Santo Nestor mengambil amandel di bawah penerus Santo Theodosius, igumen Stephen, dan di bawahnya ditahbiskan sebagai sebuah hierodeacon.

Mengenai kehidupan rohaninya yang agung, dikatakan bahwa, bersama sejumlah Bapa biarawan lain, ia berpartisipasi dalam mengusir iblis dari Nikita Sang Pertapa (31 Januari), yang telah terpesona oleh kebijaksanaan bahasa Ibrani dari Perjanjian Lama. Saint Nestor sangat menghargai pengetahuan sejati, bersama dengan kerendahan hati dan penyesalan. “Hebat adalah manfaat dari belajar buku,” katanya, “karena buku menunjukkan dan mengajarkan kita cara bertobat, karena dari kata-kata buku kita menemukan kebijaksanaan dan kesederhanaan. Ini adalah aliran, menyirami alam semesta, yang darinya muncul kebijaksanaan. Dalam buku-buku adalah kedalaman yang tak terbatas, oleh mereka kita dihibur dalam kesedihan, dan mereka adalah kekangan untuk moderat. Jika Anda rajin masuk ke dalam buku-buku kebijaksanaan, maka Anda akan menemukan manfaat besar bagi jiwa Anda. Karena itu, orang yang membaca buku berbicara dengan Tuhan atau orang-orang kudus. “

Di biara Saint Nestor memiliki ketaatan untuk menjadi penulis sejarah. Pada tahun 1080-an ia menulis “Catatan tentang Kehidupan dan Kemartiran Pembawa Sengsara Boris dan Gleb” sehubungan dengan pemindahan relik orang-orang kudus ke Vyshgorod pada tahun 1072 (2 Mei). Pada tahun 1080 Saint Nestor juga menyusun Kehidupan Biarawan Theodosius dari Gua Kiev. Dan pada 1091, pada malam Pesta pelindung Biara Gua Kiev, ia dipercaya oleh Igumen John untuk menggali relik suci Santo Theodosius (14 Agustus) untuk dipindahkan ke gereja.

Pekerjaan utama dalam kehidupan Saint Nestor disusun pada tahun 1112-1113 Kronik Primer Rusia. “Ini adalah kisah bertahun-tahun yang lalu, bagaimana tanah Rusia terbentuk, siapa pangeran pertama di Kiev dan bagaimana tanah Rusia disusun.” Baris pertama yang ditulis oleh Saint Nestor mengemukakan tujuannya. Saint Nestor menggunakan lingkaran sumber yang luar biasa luas: kronik-kronik dan ucapan Rusia sebelumnya, catatan biara, Kronik Bizantium John Malalos dan George Amartolos, berbagai koleksi sejarah, kisah Boyar-Penatua Ivan Vyshatich dan para pedagang dan prajurit, dari para penjelajah dan dari mereka yang tahu. Dia menarik mereka bersama dengan sudut pandang gerejawi yang bersatu dan ketat. Ini memungkinkan dia untuk menulis sejarahnya tentang Rusia sebagai bagian inklusif dari sejarah dunia, sejarah keselamatan umat manusia.

Biksu-patriot menggambarkan sejarah Gereja Rusia di saat-saat penting. Dia berbicara tentang penyebutan pertama bangsa Rusia dalam sumber-sumber sejarah pada tahun 866, pada masa Santo Photius, Patriarkh Konstantinopel. Dia bercerita tentang penciptaan alfabet dan tulisan Slavonic oleh Saints Cyril dan Methodius; dan Pembaptisan Santo Olga di Konstantinopel. Chronicle of Saint Nestor telah menyimpan bagi kita sebuah akun dari gereja Ortodoks pertama di Kiev (di bawah tahun 945), dan para Martir Varangian yang kudus (di bawah tahun 983), tentang “ujian iman” oleh Saint Vladimir ( tahun 986) dan Baptisan Rus (tahun 988).

Kami berhutang budi kepada sejarawan Gereja Rusia pertama untuk perincian tentang Metropolitans Gereja Rusia pertama, tentang kemunculan biara Gua Kiev, dan tentang para pendiri dan petapa. Masa-masa di mana Santo Nestor hidup tidaklah mudah bagi tanah Rusia dan Gereja Rusia. Rus terbelah karena perselisihan pangeran; pengembara Polovetsian dari stepa meletakkan limbah ke kota dan desa dengan penjarahan perampokan. Mereka memimpin banyak orang Rusia ke perbudakan, dan membakar gereja dan biara. Saint Nestor adalah saksi mata terhadap kehancuran biara Gua Kiev pada tahun 1096. Dalam Chronicle, sejarah patriotik yang dipikirkan secara teologis disajikan. Kedalaman spiritual, kesetiaan historis, dan patriotisme Kronik Primer Rusia memantapkannya dalam jajaran kreasi signifikan sastra dunia.

Saint Nestor wafat sekitar tahun 1114, setelah meninggalkan catatan sejarah biara-biara lain di Gua Kiev sebagai kelanjutan dari karya besarnya. Penggantinya dalam penulisan Kronik adalah: Igumen Sylvester, yang menambahkan kisah kontemporer ke Kronik Primer Rusia; Igumen Moses Vydubitsky membawanya ke tahun 1200; dan akhirnya, Igumen Laurence, yang pada tahun 1377 menulis manuskrip yang paling kuno dari yang bertahan yang menyimpan Kronik Santo Nestor (salinan ini dikenal sebagai “Kronik Lavrentian”). Tradisi hagiografis dari petapa Gua Kiev dilanjutkan oleh Santo Simon, Uskup Vladimir (10 Mei), penyusun Paterikon Gua Kiev. Mengisahkan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan para santo suci Tuhan, Santo Simon sering mengutip, di antara sumber-sumber lain, dari Chronicle of Saint Nestor.

Saint Nestor dimakamkan di Near Caves of Saint Anthony. Gereja juga menghormati ingatannya dalam Synaxis of the Father of the Near Caves yang diperingati memperingati 28 September dan pada hari Minggu kedua Masa Prapaskah Besar ketika dirayakan Synaxis dari semua Ayah dari Gua Kiev. Karya-karyanya telah diterbitkan berkali-kali, termasuk dalam bahasa Inggris sebagai “Kronik Utama Rusia”.

Minggu Kesembilan Belas Setelah Pentakosta. [II Kor. 11: 31-12: 9; Lukas 6: 31-36]

Perintah mendasar dan orisinal adalah: cinta! Ini adalah kata yang kecil, tetapi mengungkapkan hal yang mencakup semua. Mudah untuk mengatakan: Anda harus mencintai, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan cinta sampai tingkat yang diperlukan. Tidak jelas juga bagaimana mencapainya; inilah mengapa Juruselamat mengelilingi perintah ini dengan aturan-aturan penjelasan lainnya: cinta sebagai dirimu sendiri; dan seperti yang hendak kamu lakukan agar pria lakukan kepadamu, lakukan juga kepadamu juga demikian. Di sini diperlihatkan tingkat cinta yang seseorang dapat sebut tanpa batas; karena adakah batas cinta seseorang untuk dirinya sendiri? Dan adakah hal baik yang orang tidak inginkan untuk dirinya sendiri dari orang lain? Sementara itu, instruksi tersebut bukan tidak mungkin dipenuhi. Masalahnya tergantung pada memiliki kasih sayang yang sempurna kepada orang lain, untuk sepenuhnya mentransfer perasaan mereka kepada diri sendiri, untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Ketika ini terjadi, tidak perlu menunjukkan apa yang harus Anda lakukan untuk orang lain dalam situasi tertentu: hati Anda akan menunjukkan kepada Anda. Anda hanya harus berhati-hati untuk mempertahankan belas kasihan, jika tidak egoisme akan segera mendekati dan mengembalikan Anda ke dirinya sendiri dan mengurung Anda sendiri. Maka Anda tidak akan mengangkat jari untuk orang lain, dan tidak akan memandangnya, meskipun ia mungkin sekarat. Ketika Tuhan berkata: cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri, Dia bermaksud agar sesamamu berada di dalam kita, yaitu di dalam hati kita, bukannya diri kita sendiri. Jika “Aku” kita tetap di sana seperti sebelumnya, kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang baik untuk itu.

Minggu ke – 20 setelah pantekosta

Martir Akepsimas, Uskup, Joseph the Presbyter, dan Aithalas the Deacon, dari Persia

Diperingati pada 3 November

Martir Akepsimas, Uskup, Joseph the Presbyter, dan Aethalas the Diacon of Persia adalah para pemimpin Gereja Kristen di kota Persia Naesson. Kawanannya dengan setia mencintai hierarki mereka karena kehidupan asketisnya dan pekerjaan pastoral yang tak kenal lelah. Kaisar Sapor memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dan membunuh pendeta Kristen. Santo Akepsimas juga ditangkap, meskipun dia sudah berusia delapan puluh tahun. Mereka membawanya ke kota Arbela, di mana ia datang di hadapan hakim Ardarkh, seorang imam kafir dewa matahari. Penatua suci menolak untuk mempersembahkan korban kepada dewa-dewa Persia. Karena hal ini ia dipukuli dengan kejam dan dijebloskan ke penjara, di mana pada hari berikutnya imam Joseph yang berusia tujuh puluh tahun dan diaken Aethalas dipukuli dengan kejam dan dijebloskan ke penjara bersamanya. Selama tiga tahun orang-orang kudus ditahan di dalam kurungan, dan menderita kelaparan dan kehausan.

Kaisar Sapor datang ke kuil dewa api, yang terletak tidak jauh dari Arbela, dan ingin melihat tiga martir suci. Lelah dan ditutupi dengan luka bernanah, orang-orang kudus dibawa ke hadapan kaisar. Ketika dia meminta mereka untuk menyembah dewa-dewa kafir, mereka dengan tegas menolak, sebagai gantinya mengakui iman mereka kepada Kristus.

Uskup suci dipenggal, tetapi presbiter dan diakon dibawa ke kota untuk dilempari batu.

Eksekusi pastor Joseph diperpanjang untuk beberapa jam. Seorang penjaga ditempatkan di dekat tempat eksekusi, sehingga orang Kristen tidak akan mengambil mayat martir suci. Pada malam keempat badai angin kencang mengamuk di dekat kota, kilat membunuh penjaga, angin melemparkan batu, dan tubuh Santo Joseph menghilang.

Diakon Aethalas dibawa ke desa Patrias, di mana dia dirajam. Orang-orang Kristen diam-diam mengubur tubuhnya. Sebatang pohon tumbuh di makam orang suci, dan buahnya membawa kesembuhan.

Minggu Kedua Puluh Setelah Pentakosta. [Gal. 1: 11-19; Lukas 7: 11-16]

Tuhan melihat seorang ibu menangisi kematian putranya dan memiliki belas kasihan padanya; lain kali dia dipanggil untuk menikah, dan bersukacita bersama keluarga. Dengan ini Dia menunjukkan bahwa untuk berbagi suka dan duka setiap hari tidak bertentangan dengan roh-Nya. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang Kristen sejati, yang hidup dalam ketakutan [kepada Allah]. Namun, mereka membedakan beberapa rutinitas kehidupan sehari-hari dari yang lain; karena banyak yang telah memasuki rutinitas ini yang tidak mungkin merupakan kehendak baik Tuhan. Ada kebiasaan yang datang dari hawa nafsu, yang muncul karena kesenangan mereka; yang lain tetap hidup karena kesombongan dan kesibukan. Ia yang memiliki roh Kristus, akan dapat membedakan yang baik dari yang buruk: ia menganut yang satu dan menolak yang lain. Dia yang melakukan ini dengan takut akan Tuhan tidak diasingkan oleh orang lain, meskipun dia tidak bertindak seperti mereka, karena dia selalu bertindak dalam semangat cinta dan kasih sayang terhadap kelemahan saudara-saudaranya. Hanya semangat semangat yang melampaui batas menggosok orang dengan cara yang salah dan menghasilkan ketidakharmonisan dan perpecahan. Semangat seperti itu tidak bisa berhenti mengajar dan mengkritik. Tetapi [satu dengan roh Kristus] hanya peduli dengan mengatur kehidupannya dan keluarganya dengan cara Kristen; dia tidak membiarkan dirinya ikut campur dalam urusan orang lain, berkata pada dirinya sendiri, “Siapa yang menetapkan saya sebagai hakim?” Dia diam-diam membuat semua orang bersikap baik pada dirinya sendiri, dan mengilhami rasa hormat untuk rutinitas yang dia pegang. Seorang penyelia membuat dirinya tidak dicintai, dan menimbulkan ketidaksetujuan atas rutinitas yang baik yang ia pegang. Dibutuhkan kerendahan hati dalam kasus seperti itu — kerendahan hati Kristen. Ini adalah sumber akal sehat Kristen, yang tahu bagaimana bertindak baik dalam situasi tertentu.

Minggu ke -21 Setelah Pentakosta

Kemartiran George Martir Agung Georgia

Diperingati pada 10 November

Dirayakan oleh seluruh dunia Kristen, Great-martir George dibunuh oleh Kaisar Diocletian pada tahun 303.

Martir suci dianggap sebagai pendoa syafaat bagi semua orang Kristen dan santo pelindung banyak orang. Dia dianggap dengan rasa hormat khusus di antara orang-orang Georgia, karena dia diyakini sebagai pelindung khusus bangsa mereka. Catatan sejarah sering menggambarkan bagaimana Santo George muncul di antara para prajurit Georgia di tengah-tengah pertempuran.

Mayoritas gereja-gereja Georgia (khususnya di desa-desa) dibangun untuk menghormatinya dan, sebagai hasilnya, setiap hari ada pesta besar-martir George di suatu tempat di Georgia. Berbagai peringatan harian terhubung dengan salah satu gereja yang didirikan atas namanya atau ikon atau mukjizat tertentu yang ia lakukan.

10 November menandai hari di mana Saint George disiksa di atas kemudi. Menurut tradisi, hari peringatan ini ditetapkan oleh Nino Equal-to-the-Apostles yang suci, Pencerah Georgia. Saint Nino adalah kerabat Saint George sang pembawa piala.

Dia sangat menghormatinya dan mengarahkan orang-orang yang telah menjadi Kristen untuk menghargai dia sebagai pelindung khusus mereka.

Minggu Kedua Puluh Satu Setelah Pentakosta. [Gal. 2: 16-20; Lukas 8: 5-15]

Duri dan onak yang mencekik kata kebenaran Ilahi, selain menjadi kekayaan, kesenangan dan kepedulian terhadap kehidupan ini, pada saat ini juga harus dipahami sebagai berbagai ajaran palsu, disebarkan oleh para sarjana yang telah kehilangan kebenaran dan telah menjatuhkan jalan ke sana. Di antara kita, teori-teori semacam itu sangat berbeda: ada yang secara terbuka dan terbuka menentang kebenaran; yang lain melakukannya dengan petunjuk miring yang bagaimanapun dipahami oleh orang-orang terhadap siapa mereka diarahkan. Pada dasarnya mereka bertindak seperti keracunan karbon monoksida – mereka masuk tanpa terasa, dan mengaburkan kepala, yang menyebabkan hilangnya kesadaran yang jelas tentang segala sesuatu di sekitarnya. Barangsiapa yang mendapat keracunan karbon monoksida ini mulai mengoceh seperti orang yang tertidur, karena segala sesuatu yang sudah tampak baginya sama sekali tidak seperti itu, tidak seperti yang terlihat oleh orang yang waras. Ketika Anda bertemu orang seperti itu, Anda melihat bahwa tidak hanya semua kebenaran ditekan dalam dirinya, tetapi perasaan untuk kebenaran juga tertahan, dan kebohongan telah menembus semua komponen pikirannya. Bagaimana seharusnya? Jangan mendengarkan omelan ini atau membacanya; dan ketika mereka secara tidak sengaja didengar atau dibaca, lemparkan mereka dari kepala Anda. Ketika mereka tidak diusir — serahkan mereka pada alasan, dan mereka semua akan bertebaran seperti asap.

Minggu ke – 22 Setelah Pentakosta

St. Gregorius the Wonderworker of Neocaesarea

Diperingati pada 17 November

Saint Gregory the Wonderworker, Uskup Neocaesarea, lahir di kota Neocaesarea (Asia Kecil bagian utara) menjadi keluarga kafir. Setelah menerima pendidikan yang bagus, sejak masa mudanya ia mengupayakan Kebenaran, tetapi para pemikir zaman kuno tidak mampu memuaskan dahaga haus akan pengetahuan. Kebenaran diungkapkan kepadanya hanya di dalam Injil Suci, dan pemuda itu menjadi seorang Kristen.

Untuk kelanjutan studinya, Santo Gregorius pergi ke Aleksandria, yang dikenal sebagai pusat pembelajaran kafir dan Kristen. Remaja itu, yang sangat ingin tahu, pergi ke Sekolah Kateketik Aleksandria, tempat presenter Origen mengajar. Origen adalah seorang guru terkenal, memiliki kekuatan pikiran dan pengetahuan mendalam. Saint Gregory menjadi murid Origen. Setelah itu, orang suci itu menulis tentang mentornya: “Orang ini menerima dari Allah suatu karunia agung, untuk menjadi seorang penafsir Firman Allah bagi orang-orang, untuk memahami Firman Allah, sebagaimana Allah sendiri menggunakannya, dan menjelaskannya kepada orang-orang, sejauh mereka dapat memahaminya. ”Santo Gregorius belajar selama delapan tahun dengan Origenes, dan dibaptis olehnya.

Kehidupan pertapa Santo Gregorius, kelanjutannya, kemurniannya dan ketamakannya menimbulkan kecemburuan di antara rekan-rekannya yang angkuh dan pencinta dosa, para penyembah berhala, dan mereka memutuskan untuk memfitnah Santo Gregorius. Suatu ketika, ketika dia berbicara dengan para filsuf dan guru di alun-alun kota, seorang pelacur terkenal mendatanginya dan menuntut pembayaran untuk dosa yang seharusnya dia lakukan padanya. Pada awalnya Santo Gregorius dengan lembut membantahnya, mengatakan bahwa dia mungkin mengira dia sebagai orang lain. Tetapi wanita yang boros itu tidak akan diam. Dia kemudian meminta seorang teman untuk memberikan uang kepadanya. Sama seperti wanita itu mengambil pembayaran yang tidak adil, dia segera jatuh ke tanah karena setan, dan penipuan menjadi jelas. Santo Gregorius berdoa untuknya, dan iblis meninggalkannya. Ini adalah awal mukjizat Santo Gregorius.

Setelah kembali ke Neocaesarea, orang suci itu melarikan diri dari urusan duniawi ke mana penduduk kota yang berpengaruh terus-menerus berusaha mendorongnya. Dia pergi ke padang pasir, di mana dengan berpuasa dan berdoa dia mencapai pencapaian spiritual yang tinggi dan karunia peramal dan nubuat. Santo Gregorius mencintai kehidupan di padang belantara dan ingin tetap menyendiri sampai akhir hayatnya, tetapi Tuhan menghendaki sebaliknya.

Uskup kota Amasea Kapadokia, Thedimo, setelah mengetahui kehidupan pertapa Santo Gregorius, memutuskan untuk menjadikannya sebagai Uskup Neocaesarea. Tetapi karena telah meramalkan niat Uskup Thedimo, santo itu menyembunyikan diri dari para utusan uskup yang dipercayakan untuk menemukannya. Kemudian Uskup Thedimo menahbiskan orang suci yang absen itu sebagai Uskup Neocaesarea, memohon kepada Tuhan bahwa Dia Sendiri akan menguduskan pentahbisan yang tidak biasa. Santo Gregorius memandang peristiwa luar biasa itu sebagai perwujudan kehendak Allah dan ia tidak berani memprotes. Episode ini dalam kehidupan Santo Gregorius direkam oleh Santo Gregorius dari Nyssa (10 Januari). Ia menceritakan bahwa Santo Gregorius dari Neocaesarea menerima martabat keuskupan hanya setelah Uskup Thedimos dari Amasea melakukan semua ritus kanonik atas dirinya.

Selama masa ini, ajaran sesat dari Sabellius dan Paul dari Samosata mulai menyebar. Mereka mengajar secara salah tentang Tritunggal yang Kudus. Santo Gregorius berdoa dengan tekun dan rajin memohon kepada Allah dan Bunda-Nya yang paling murni untuk mengungkapkan kepadanya iman yang sejati. Perawan Suci Maria menampakkan diri kepadanya, bersinar seperti matahari, dan bersama-Nya adalah Rasul Yohanes sang Teolog yang mengenakan jubah agung.

Atas perintah Bunda Allah, Rasul Yohanes mengajarkan kepada orang suci cara mengakui dengan benar dan benar Misteri Tritunggal Mahakudus. Santo Gregorius menuliskan semua yang diungkapkan Santo Yohanes Sang Teolog kepadanya. Misteri Simbol Iman, ditulis oleh Santo Gregorius dari Neocaesarea, adalah wahyu ilahi yang luar biasa dalam sejarah Gereja. Ajaran tentang Tritunggal Mahakudus dalam Teologi Ortodoks didasarkan padanya. Selanjutnya digunakan oleh para Bapa Gereja yang kudus: Basil Agung, Gregorius Sang Teolog, dan Gregorius dari Nyssa. Simbol Santo Gregorius dari Neocaesarea kemudian diperiksa dan ditegaskan pada tahun 325 oleh Konsili Ekumenis Pertama, yang menunjukkan signifikansinya yang abadi bagi Ortodoksi.

Setelah menjadi uskup, Santo Gregorius berangkat ke Neocaesarea. Sepanjang jalan dari Amasea dia mengusir setan dari kuil kafir, imam yang dia pertobatkan kepada Kristus. Orang yang insaf itu menjadi saksi mukjizat lainnya dari santa itu, dengan kata-katanya sebuah batu besar bergeser dari tempatnya.

Khotbah orang suci itu langsung, hidup dan berbuah. Dia mengajar dan melakukan mukjizat dalam nama Kristus: dia menyembuhkan orang sakit, dia membantu yang membutuhkan, dia menyelesaikan pertengkaran dan keluhan. Dua saudara lelaki yang berbagi warisan tidak dapat menyetujui harta ayah mereka yang mati. Ada sebuah danau besar di mana mereka berdebat, karena masing-masing saudara menginginkan danau itu untuk dirinya sendiri. Mereka berdua mengumpulkan teman-teman mereka, dan siap untuk meledak. Santo Gregorius membujuk mereka untuk menunda perkelahian mereka sampai hari berikutnya, dan dia sendiri berdoa semalaman di tepi danau yang memicu pertengkaran. Ketika fajar menyingsing, semua orang melihat bahwa danau telah mengering atau pergi ke bawah tanah. Melalui doa intens dari orang suci, sekarang hanya ada aliran, dan jalurnya menentukan garis batas. Di waktu lain, selama pembangunan sebuah gereja, ia memerintahkan sebuah bukit untuk bergerak dan memberi ruang di tempat yayasan.

Ketika penganiayaan terhadap orang-orang Kristen dimulai di bawah kaisar Decius (249-251), Santo Gregorius memimpin umatnya ke gunung yang jauh. Seorang penyembah berhala, yang tahu tentang tempat persembunyian orang-orang Kristen, memberi tahu para penganiaya. Tentara mengepung gunung. Orang suci itu pergi ke tempat yang terbuka, mengangkat tangannya ke surga dan memerintahkan kepada diakonnya untuk melakukan hal yang sama. Para prajurit menggeledah seluruh gunung, dan mereka pergi beberapa kali melewati mereka yang berdoa, tetapi tidak melihat mereka, mereka menyerah dan pergi. Di kota mereka melaporkan bahwa tidak ada tempat untuk bersembunyi di gunung: tidak ada seorang pun di sana, dan hanya dua pohon yang berdiri di samping satu sama lain. Informan itu terpana dengan takjub, ia bertobat dari caranya dan menjadi seorang Kristen yang kuat.

Santo Gregorius kembali ke Neocaesarea setelah penganiayaan berakhir. Melalui gerejanya, Pesta didirikan untuk menghormati para martir yang telah menderita demi Kristus.

Melalui kehidupannya yang suci, khotbahnya yang efektif, pekerjaan mukjizat dan rahmat yang membimbing kawanannya, orang suci itu terus meningkatkan jumlah orang yang insaf kepada Kristus. Ketika Santo Gregorius pertama kali naik cathedra-nya, hanya ada tujuh belas orang Kristen di Neocaesarea. Saat kematiannya, hanya tujuh belas penyembah berhala yang tersisa di kota.

Minggu Dua Puluh Dua Setelah Pentakosta. [Gal. 6: 11-18; Lukas 16: 19-31]

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus menunjukkan bahwa mereka yang tidak hidup sebagaimana mestinya tiba-tiba akan bangun dengan kenyataan, tetapi mereka tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan mereka. Mata mereka akan terbuka dan mereka akan melihat dengan jelas di mana kebenaran itu berada. Mengingat bahwa di bumi ada banyak orang yang buta seperti mereka, mereka menginginkan seseorang dikirim dari kematian untuk jaminan bahwa seseorang harus hidup dan memahami segala sesuatu hanya sesuai dengan indikasi Wahyu Tuhan. Tetapi mereka akan ditolak bahkan untuk ini, karena bagi mereka yang ingin mengetahui kebenaran, wahyu saja adalah saksi. Tetapi bagi mereka yang tidak menginginkannya, dan tidak mencintai kebenaran, bahkan kebangkitan orang mati tidak akan meyakinkan. Perasaan orang kaya dalam perumpamaan ini mungkin dirasakan oleh semua orang yang meninggalkan kehidupan ini. Konsekuensinya, menurut keyakinan dunia itu yang akan menjadi keyakinan kita semua, satu-satunya pedoman bagi kita di jalan kehidupan adalah Wahyu Tuhan. Tetapi di sana, bagi banyak orang, keyakinan ini akan terlambat — itu akan lebih bermanfaat di sini, tetapi tidak semua orang memilikinya. Kita akan percaya, paling tidak, kesaksian orang-orang di sana, menempatkan diri kita dalam keadaan mereka. Mereka yang tersiksa tidak berbohong; Kasihan kami, mereka ingin mata kami terbuka, bahwa kami tidak datang ke tempat siksaan mereka. Kita tidak dapat mengatakan tentang hal ini seperti yang sering kita lakukan dalam urusan saat ini, “Mungkin entah bagaimana semuanya akan baik-baik saja.” Tidak; itu tidak akan baik-baik saja entah bagaimana. Kita harus yakin secara mendasar bahwa kita tidak akan menemukan diri kita di tempat orang kaya.

Minggu ke – 23 Setelah Pentakosta

Setelah Perayaan Masuknya Bunda Allah yang Mahakudus ke Bait Suci

Diperingati pada 24 November

Menurut Tradisi Suci, Masuknya Theotokos Maha Kudus ke dalam Kuil terjadi dengan cara sebagai berikut. Orang tua Perawan Maria, Santa Joachim dan Anna, berdoa untuk mengakhiri ketidakberanak-kanakan mereka, bersumpah bahwa jika seorang anak dilahirkan untuk mereka, mereka akan mendedikasikannya untuk melayani Allah.

Ketika Perawan Suci mencapai usia tiga tahun, orang tua suci memutuskan untuk memenuhi sumpah mereka. Mereka mengumpulkan kerabat dan kenalan mereka, dan mendandani Perawan Murni dengan pakaian terbaik-Nya. Menyanyikan lagu-lagu suci dan dengan lilin yang menyala di tangan mereka, para gadis mengantarnya ke Bait Suci (Mzm 44/45: 14-15). Di sana Imam Besar dan beberapa imam bertemu dengan pelayan perempuan Tuhan. Di Kuil, lima belas anak tangga tinggi menuju ke tempat kudus, yang hanya bisa dimasuki oleh para imam dan Imam Besar. (Karena mereka membacakan Mazmur pada setiap langkah, Mazmur 119 / 120-133 / 134 disebut “Mazmur Pendakian.”) Anak Mary, sehingga tampaknya, tidak dapat menaiki tangga ini. Tetapi ketika mereka menempatkanNya pada langkah pertama, diperkuat oleh kuasa Tuhan, Dia dengan cepat naik ke anak tangga yang tersisa dan naik ke yang tertinggi. Kemudian Imam Besar, melalui ilham dari atas, memimpin Perawan Suci ke Mahakudus, di mana hanya Imam Besar yang masuk setahun sekali untuk mempersembahkan kurban darah yang murni. Karena itu, semua yang hadir di Bait Suci kagum pada kejadian yang paling tidak biasa ini.

Setelah mempercayakan anak mereka kepada Bapa Surgawi, Joachim dan Anna kembali ke rumah. Perawan Suci tetap tinggal di tempat tinggal para gadis di dekat Kuil. Menurut kesaksian Kitab Suci (Keluaran 38; 1 Raja 1: 28; Lukas 2: 37), dan juga sejarawan Josephus Flavius, ada banyak tempat tinggal di sekitar Bait Allah, di mana mereka yang mengabdikan diri untuk melayani Allah tinggal.

Kehidupan duniawi Theotokos Maha Kudus sejak masa kanak-kanak sampai Dia diangkat ke Surga diselimuti misteri yang mendalam. Kehidupannya di Bait Suci Yerusalem juga merupakan rahasia. “Jika ada orang yang bertanya kepada saya,” kata Santo Jerome, “bagaimana Perawan Suci menghabiskan waktu masa mudanya, saya akan menjawab bahwa itu diketahui oleh Allah Sendiri dan Malaikat Jibril, penjaga konstan-Nya.”

Tetapi ada beberapa catatan dalam Tradisi Gereja, bahwa selama Perawan Yang Mahakudus tinggal di Bait Suci, Dia dibesarkan dalam komunitas perawan yang saleh, rajin membaca Kitab Suci, menyibukkan diri dengan kerajinan tangan, terus berdoa, dan tumbuh dalam kasih kepada Tuhan . Dari zaman kuno, Gereja telah merayakan Pesta Masuknya Theotokos Maha Kudus ke dalam Kuil. Indikasi bahwa Perayaan diamati pada abad pertama Kekristenan ditemukan dalam tradisi Kristen Palestina, yang mengatakan bahwa Permaisuri Helen Helen (21 Mei) membangun sebuah gereja untuk menghormati Masuknya Theotokos Yang Maha Kudus ke dalam Kuil.

Santo Gregorius dari Nyssa, pada abad keempat, juga menyebutkan Pesta ini. Pada abad kedelapan Orang Suci Germanus dan Tarasius, Patriark Konstantinopel, menyampaikan khotbah pada Pesta Masuk.

Pesta Masuknya Theotokos yang Mahakudus ke dalam Bait Suci menubuatkan berkat Tuhan bagi umat manusia, khotbah keselamatan, janji akan kedatangan Kristus.

DISCOURSE PADA FEAST OF ENTRY

OFOTOKOS WANITA PALING MURNI KAMI

MENJADI HOLI KUDUS

oleh Saint Gregory Palamas, Uskup Agung Tesalonika

Jika sebuah pohon diketahui dari buahnya, dan pohon yang baik menghasilkan buah yang baik (Mat 7:17; Lukas 6:44), maka itu bukanlah Bunda Kebaikan Sendiri, Dia yang melahirkan Kecantikan Abadi, jauh lebih unggul daripada setiap bagus, apakah di dunia ini atau dunia di atas? Oleh karena itu, Gambar yang sama dan identik dari kebaikan, Pra-kekal, melampaui semua makhluk, Dia yang adalah Firman Bapa yang sudah ada sebelumnya dan baik, digerakkan oleh kasih-Nya yang tak terelakkan untuk umat manusia dan belas kasihan bagi kita, kenakan gambar kita, agar Dia dapat menuntut kembali untuk Dirinya sifat kita yang telah terseret ke Hades paling atas, sehingga dapat memperbaharui sifat rusak ini dan mengangkatnya ke ketinggian Surga. Untuk tujuan ini, Dia harus menganggap daging yang sama-sama baru dan milik kita, sehingga Dia dapat mengubah kita dari diri kita sendiri. Sekarang Dia menemukan seorang hamba perempuan yang sangat cocok dengan kebutuhan-kebutuhan ini, pemasok dari sifat-Nya sendiri yang tidak ternoda, Perawan-Perawan yang sekarang dinyanyikan oleh kita, dan siapa yang secara ajaib masuk ke dalam Bait Suci, ke Tempat Mahakudus, yang sekarang kita rayakan. Tuhan menentukan takdir-Nya sebelum berabad-abad untuk keselamatan dan mendapatkan kembali jenis kita. Dia dipilih, tidak hanya dari kerumunan, tetapi dari jajaran orang terpilih dari segala usia, terkenal karena kesalehan dan pengertian, dan untuk kata-kata dan perbuatan yang menyenangkan Tuhan.

Pada awalnya, ada seseorang yang bangkit melawan kami: penulis kejahatan, ular, yang menyeret kami ke jurang. Banyak alasan mendorongnya untuk bangkit melawan kita, dan ada banyak cara yang dengannya dia memperbudak sifat kita: iri hati, persaingan, kebencian, ketidakadilan, pengkhianatan, kecurangan, dll. Selain itu, ia juga memiliki di dalam dirinya kekuatan dari membawa kematian, yang dia sendiri hasilkan, menjadi orang pertama yang jatuh dari kehidupan sejati.

Penulis kejahatan cemburu pada Adam, ketika dia melihat dia dibawa dari bumi ke Surga, dari mana dia dijatuhkan dengan adil. Dipenuhi rasa iri, dia menerkam Adam dengan keganasan yang mengerikan, dan bahkan ingin memberinya pakaian kematian. Iri hati bukan hanya pencetus kebencian, tetapi juga pembunuhan, yang dibawa oleh ular yang benar-benar membenci manusia ini dalam diri kita. Karena ia ingin menjadi penguasa atas bumi yang dilahirkan untuk kehancuran apa yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena dia tidak cukup berani untuk melakukan serangan tatap muka, dia memilih untuk licik dan menipu. Plotter yang benar-benar mengerikan dan jahat ini berpura-pura menjadi teman dan penasihat yang berguna dengan mengambil bentuk fisik seekor ular, dan diam-diam mengambil posisi mereka. Dengan nasihatnya yang menentang Tuhan, ia menanamkan dalam dirinya kekuatan penahan maut bagi dirinya sendiri, seperti racun berbisa.

Jika Adam cukup kuat untuk mematuhi perintah ilahi, maka dia akan menunjukkan dirinya sebagai penakluk musuhnya, dan bertahan dari serangan mautnya. Tetapi karena dia secara sukarela menyerah pada dosa, dia dikalahkan dan dijadikan orang berdosa. Karena dia adalah akar dari ras kita, dia telah menghasilkan kita sebagai tunas pembawa maut. Jadi, penting bagi kita, jika dia harus berjuang melawan kekalahannya dan untuk mengklaim kemenangan, untuk membersihkan dirinya dari racun beracun yang dapat menyebabkan kematian dalam jiwa dan tubuhnya, dan untuk menyerap kehidupan, kehidupan yang kekal dan tidak dapat dihancurkan.

Penting bagi kita untuk memiliki akar baru untuk ras kita, seorang Adam baru, bukan hanya satu yang tidak akan berdosa dan tidak terkalahkan, tetapi seorang yang juga akan dapat mengampuni dosa dan membebaskan dari hukuman yang dikenakan pada mereka. Dan tidak hanya Dia akan memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri, tetapi juga kapasitas untuk memulihkan hidup, sehingga Dia dapat memberikan kepada mereka yang bersatu dengan-Nya dan berhubungan dengan-Nya dengan ras baik kehidupan dan pengampunan dosa-dosa mereka, memulihkan hidup tidak hanya mereka yang datang setelah Dia, tetapi juga mereka yang sudah mati sebelum Dia. Karena itu, Santo Paulus, sangkakala Roh Kudus yang agung itu berseru, “manusia pertama, Adam, menjadi jiwa yang hidup, Adam yang terakhir dibuat menjadi roh yang menghidupkan” (1 Kor. 15:45).

Kecuali bagi Allah, tidak ada seorang pun yang tanpa dosa, atau yang menciptakan kehidupan, atau mampu mengampuni dosa. Karena itu, Adam yang baru harus bukan hanya Manusia, tetapi juga Allah. Dia pada saat yang sama hidup, kebijaksanaan, kebenaran, cinta, dan belas kasihan, dan setiap hal baik lainnya, sehingga Dia dapat memperbaharui Adam lama dan mengembalikannya ke kehidupan melalui belas kasihan, kebijaksanaan dan kebenaran. Ini adalah kebalikan dari hal-hal yang digunakan penulis kejahatan untuk menyebabkan penuaan dan kematian kita.

Ketika pembantaian umat manusia membangkitkan dirinya terhadap kita dengan iri hati dan kebencian, maka Sumber kehidupan diangkat [di kayu Salib] karena kebaikan dan kasih-Nya yang tak terukur bagi umat manusia. Dia sangat menginginkan keselamatan ciptaan-Nya, yaitu, bahwa ciptaan-Nya akan dipulihkan sendiri. Berbeda dengan ini, penulis kejahatan ingin membawa makhluk Tuhan ke kehancuran, dan dengan demikian menempatkan umat manusia di bawah kekuatannya sendiri, dan secara tirani menindas kita. Dan sama seperti dia mencapai penaklukan dan kejatuhan umat manusia melalui ketidakadilan dan kelicikan, dengan tipu daya dan tipu muslihatnya, demikian pula sang Pembebas membawa kekalahan dari si pembuat kejahatan, dan pemulihan makhluk-Nya sendiri dengan kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan.

Adalah tindakan keadilan yang sempurna bahwa sifat kita, yang secara sukarela diperbudak dan dihancurkan, harus kembali memasuki perjuangan untuk kemenangan dan membuang perbudakan sukarela. Karena itu, Tuhan berkenan untuk menerima sifat kita dari kita, secara hipostatis menyatukannya dengan cara yang luar biasa. Tetapi tidak mungkin untuk menyatukan bahwa Alam Yang Mahatinggi, yang kemurniannya tidak dapat dipahami karena alasan manusia, menjadi sifat berdosa sebelum itu dimurnikan. Karena itu, untuk pembuahan dan kelahiran Sang Pendekar kesucian, seorang Perawan Murni yang tak bernoda dan paling suci diperlukan.

Hari ini kita merayakan ingatan akan hal-hal yang berkontribusi, jika hanya sekali, pada Inkarnasi. Dia yang pada dasarnya adalah Allah, Firman Bersama dan Putra Kekal yang Kooriginasi dan Seumur Hidup, menjadi Putra Manusia, Putra Perawan Abadi. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini, dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13: 8), tidak berubah dalam keilahian-Nya dan tidak bercela dalam kemanusiaan-Nya, Dia sendiri, sebagaimana dinubuatkan Nabi Yesaya, “tidak melakukan kejahatan, atau menipu dengan bibir-Nya” (Yes. 53: 9). Dia sendiri tidak dilahirkan dalam kedurhakaan, juga tidak dikandung dalam dosa, berbeda dengan apa yang dikatakan Nabi Daud tentang dirinya dan setiap orang lainnya (Mzm 50/51: 5). Bahkan dalam apa yang Dia asumsikan, Dia sangat murni dan tidak perlu dibersihkan sendiri. Tetapi demi kita, Dia menerima penyucian, penderitaan, kematian dan kebangkitan, agar Dia dapat mengirimkannya kepada kita.

Allah dilahirkan dari Perawan Suci yang tak bernoda dan suci, atau lebih baik dikatakan, dari Perawan Yang Paling Murni dan Mahakudus. Dia mengatasi segala kekotoran batin, dan bahkan di atas setiap pikiran yang tidak murni. Pemahamannya bukan disebabkan oleh nafsu kedagingan, tetapi oleh bayang-bayang Roh Kudus. Keinginan seperti itu benar-benar asing bagi-Nya, itu adalah melalui doa dan kesiapan rohani bahwa Dia menyatakan kepada malaikat: “Lihatlah pelayan perempuan Tuhan; baik bagi-Ku menurut firman-Mu ”(Lukas 1:38), dan bahwa Ia mengandung dan melahirkan. Jadi, untuk menjadikan Perawan yang layak untuk tujuan mulia ini, Allah menandai Putri yang selalu perawan ini sekarang dipuji oleh kita, dari sebelum zaman, dan dari kekekalan, memilih-Nya dari pilihan-Nya.

Alihkan perhatian Anda ke tempat pilihan ini dimulai. Dari putra-putra Adam Tuhan memilih Seth yang menakjubkan, yang menunjukkan dirinya surga yang hidup melalui perilakunya yang menjadi, dan melalui keindahan kebajikannya. Itulah sebabnya dia dipilih, dan dari sanalah Perawan akan berkembang sebagai kereta Allah yang cocok secara ilahi. Dia dibutuhkan untuk melahirkan dan memanggil putra terlahir yang dilahirkan di bumi. Karena alasan ini juga semua garis keturunan Set disebut “anak-anak Allah,” karena dari garis keturunan ini seorang anak manusia akan dilahirkan sebagai Anak Allah. Nama Seth menandakan kebangkitan atau kebangkitan, atau lebih khusus, itu menandakan Tuhan, Yang berjanji dan memberikan hidup yang kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Dan seberapa tepatnya paralel ini! Seth lahir dari Hawa, seperti yang dia katakan sendiri, sebagai ganti Habel, yang Kain bunuh melalui kecemburuan (Kejadian 4:25); dan Kristus, Anak Perawan, dilahirkan untuk kita menggantikan Adam, yang penulis kejahatan juga bunuh melalui kecemburuan. Tetapi Seth tidak membangkitkan Habel, karena ia hanyalah tipe dari kebangkitan. Tetapi Tuhan kita Yesus Kristus membangkitkan Adam, karena Dia adalah Kehidupan dan Kebangkitan yang lahir di bumi, yang oleh karena itu keturunan Set telah diberikan adopsi ilahi melalui harapan, dan disebut anak-anak Allah. Karena harapan inilah mereka disebut anak-anak Allah, sebagaimana terbukti dari orang yang pertama kali disebut demikian, penerus dalam pilihan. Inilah Enos, putra Set, yang sebagaimana ditulis Musa, pertama-tama berharap untuk memanggil Nama Tuhan (Kejadian 4:26).

Dengan cara ini, pilihan Bunda Allah masa depan, dimulai dengan putra-putra Adam dan berlanjut melalui semua generasi waktu, melalui Penyembuhan Tuhan, diteruskan kepada Raja-Nabi Daud dan para penerus kerajaan dan garis keturunannya. . Ketika waktu yang dipilih telah tiba, maka dari rumah dan keturunan Daud, Joachim dan Anna dipilih oleh Allah. Meskipun mereka tidak memiliki anak, mereka dengan kehidupan yang baik dan watak yang baik adalah yang terbaik dari semua yang diturunkan dari garis keturunan Daud. Dan ketika dalam doa mereka meminta Tuhan untuk membebaskan mereka dari tidak memiliki anak, dan berjanji untuk mendedikasikan anak mereka kepada Tuhan sejak masih bayi. Demi Tuhan sendiri, Bunda Allah diproklamasikan dan diberikan kepada mereka sebagai seorang anak, sehingga dari orang tua yang berbudi luhur anak yang baik akan dibesarkan. Jadi dengan cara ini, kesucian bergabung dengan doa membuahkan hasil dengan menghasilkan Bunda keperawanan, melahirkan daging untuk Dia yang lahir dari Allah Bapa sebelum berabad-abad.

Sekarang, ketika Joachim dan Anna yang saleh melihat bahwa mereka telah dikabulkan keinginan mereka, dan bahwa janji ilahi kepada mereka direalisasikan pada kenyataannya, maka mereka sebagai bagian dari mereka, sebagai pecinta sejati Allah, bergegas untuk memenuhi janji mereka yang diberikan kepada Allah segera setelah seperti anak telah disapih dari susu. Mereka sekarang telah memimpin anak Allah yang benar-benar dikuduskan ini, sekarang Bunda Allah, Perawan ini ke Kuil Allah. Dan Dia, dipenuhi dengan karunia-karunia Ilahi bahkan pada usia yang begitu lembut, … Dia, bukannya yang lain, menentukan apa yang dilakukan atas-Nya. Dengan cara-Nya Dia menunjukkan bahwa Dia tidak begitu banyak dibawa ke Bait Suci, tetapi bahwa Dia Sendiri masuk ke dalam pelayanan Allah atas kemauannya sendiri, seolah-olah dia memiliki sayap, berjuang menuju cinta sakral dan ilahi ini. Dia menganggap itu diinginkan dan pantas bahwa dia harus masuk ke dalam Kuil dan tinggal di Tempat Mahakudus.

Karena itu, Imam Besar, melihat bahwa anak ini, lebih dari siapa pun, memiliki rahmat ilahi di dalam diri-Nya, ingin menempatkan-Nya dalam Mahakudus. Dia meyakinkan semua orang yang hadir untuk menyambut ini, karena Tuhan telah maju dan menyetujuinya. Melalui malaikat-Nya, Tuhan membantu Perawan dan mengirimkan makanan mistis-Nya, yang dengannya Dia menguatkan secara alami, sementara di dalam tubuh Dia dibawa ke kedewasaan dan dibuat lebih murni dan lebih mulia dari para malaikat, memiliki roh-roh Surgawi sebagai pelayan. Dia dituntun ke Tempat Mahakudus bukan hanya sekali, tetapi diterima oleh Allah untuk tinggal di sana bersama-Nya selama masa muda-Nya, sehingga melalui-Nya, Tempat-Tempat Surgawi dapat dibuka dan diberikan untuk tempat tinggal kekal bagi mereka yang percaya kepada mukjizat-Nya. kelahiran.

Begitulah, dan inilah sebabnya Dia, sejak awal waktu, dipilih dari antara yang terpilih. Dia yang dimanifestasikan sebagai Yang Mahakudus, Yang memiliki tubuh yang bahkan lebih murni daripada roh yang dimurnikan berdasarkan kebajikan, mampu menerima … Kata Hipostatik Bapa yang Tidak Berkuasa. Hari ini, Perawan Maria, seperti Harta Karun Allah, disimpan di Tempat Mahakudus, sehingga pada waktunya, (sebagaimana nanti terjadi) Dia akan melayani untuk pengayaan, dan ornamen untuk, semua dunia. Karena itu, Kristus Allah juga memuliakan Bunda-Nya, baik sebelum, dan juga setelah kelahiran-Nya.

Kita yang memahami keselamatan dimulai demi kita melalui Perawan Suci, berterima kasih dan memuji-Nya sesuai dengan kemampuan kita. Dan sungguh, jika wanita yang bersyukur (yang diberitakan Injil kepada kita), setelah mendengar firman Tuhan yang menyelamatkan, memberkati dan berterima kasih kepada Ibu-Nya, mengangkat suaranya di atas hiruk-pikuk kerumunan dan berkata kepada Kristus, “Berbahagialah rahim. yang menanggung Engkau, dan pukulan-pukulan yang Engkau hisap ”(Lukas 11:27), maka kita yang memiliki kata-kata kehidupan kekal dituliskan untuk kita, dan bukan hanya kata-kata itu, tetapi juga mukjizat dan Gairah, dan peningkatan sifat kita dari kematian, dan pendakiannya dari bumi ke Surga, dan janji kehidupan abadi dan keselamatan yang tak berkesudahan, lalu bagaimana kita tidak akan terus-menerus menyanyikan lagu pujian dan memberkati Bunda Penulis Keselamatan kita dan Pemberi Kehidupan, merayakan konsepsi-Nya dan lahir, dan sekarang Masuknya ke Tempat Mahakudus?

Sekarang, saudara-saudara, marilah kita menyingkirkan diri kita dari hal-hal duniawi ke surga. Marilah kita mengubah jalan kita dari daging menjadi roh. Marilah kita mengubah hasrat kita dari hal-hal duniawi ke hal-hal yang bertahan lama. Mari kita mencela kenikmatan kedagingan, yang berfungsi sebagai daya tarik bagi jiwa dan segera berlalu. Marilah kita menginginkan karunia rohani, yang tetap tidak berkurang. Marilah kita mengalihkan alasan dan perhatian kita dari keprihatinan duniawi dan mengangkatnya ke tempat-tempat Surga yang tidak dapat diakses, ke Tempat Mahakudus, tempat Bunda Allah sekarang tinggal.

Karena itu, dengan cara seperti itu lagu-lagu dan doa-doa kita kepada-Nya akan masuk, dan dengan demikian melalui perantaraannya, kita akan menjadi pewaris dari berkat-berkat abadi yang akan datang, melalui rahmat dan kasih bagi umat manusia Dia yang dilahirkan dari-Nya demi kita, Tuhan kita Yesus Kristus, bagi siapa kemuliaan, kehormatan, dan penyembahan, bersama dengan Bapa-Nya yang Tidak Beragama dan Roh Buatan-Nya yang Hidup dan Menciptakan Kehidupan, sekarang dan selama-lamanya hingga abad ke zaman. Amin.

Minggu ke – 24 Setelah Pentakosta (Ephesians 2:4–22; Luke 8:41–56)

Nabi Nahum

Diperingati pada 1 Desember

Nabi Suci Nahum, yang namanya berarti “konsol Allah,” berasal dari desa Elkosh (Galilea). Dia hidup pada abad ketujuh SM. Nabi Naum menubuatkan kehancuran kota Assyria di Niniwe karena kedurhakaannya, kehancuran kerajaan Israel, dan penistaan Raja Sennacherib terhadap Tuhan. Raja Asyur Ashurbanipal wafat pada tahun 632 SM, dan selama dua dekade berikutnya, kerajaannya mulai runtuh. Nineveh jatuh pada 612 SM.

Nahum berbeda dari kebanyakan nabi sama seperti dia tidak mengeluarkan panggilan untuk bertobat, juga tidak mencela Israel karena perselingkuhan kepada Allah.

Detail kehidupan nabi tidak diketahui. Dia meninggal pada usia empat puluh lima, dan dimakamkan di wilayah asalnya. Dia adalah yang ketujuh dari Dua Belas Nabi Kecil

Nabi Nahum dan Santo Nahum dari Ochrid (23 Desember) dipanggil untuk orang-orang dengan gangguan mental.

Minggu ke – 25 Setelah Pentakosta

Yang Mulia Patapius dari Thebes

Diperingati pada 8 Desember

Saint Patapius dilahirkan di Thebes dalam keluarga Kristen yang saleh. Mencapai usia dewasa, ia mencemooh kesombongan dunia dan pergi ke padang pasir Mesir di mana ia menjadi terkenal karena perbuatan pertapaannya. Meskipun ia ingin berdiam diri, orang-orang mulai datang kepadanya untuk meminta nasihat.

Dia akhirnya pergi ke Konstantinopel, di mana dia mendapatkan sel di tembok kota, dekat gereja Blachernae. Tapi di sini juga, dia cepat dikenal. Orang sakit mulai berduyun-duyun, dan dia telah diberi jaminan kesembuhan, mulai membantu semua yang membutuhkan. Setelah kehidupan yang dihiasi dengan kebajikan dan mukjizat, Santo Patapius tertidur dalam Tuhan dan dimakamkan di gereja Santo Yohanes Pembaptis.

Minggu ke 26 -27 Setelah Pentakosta belum ditemukan

Minggu ke – 28 setelah Pentakosta. [Kol. 1: 12-18; Lukas 14: 16-24]

           Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Semua orang Kristen dipanggil; dipilih adalah orang-orang Kristen yang percaya dan hidup dengan cara Kristen. Pada zaman Kristen pertama berkhotbah dipanggil untuk beriman; kita dipanggil oleh kelahiran kita dari orang-orang Kristen dan dibesarkan di antara orang-orang Kristen. Dan kemuliaan bagi Tuhan! Kita melewati setengah jalan, yaitu, masuk ke dalam kekristenan dan mengakar prinsip-prinsipnya di hati kita sejak kecil, tanpa kerja keras. Tampaknya iman kita akan menjadi semakin kuat, dan hidup kita semakin benar sepanjang waktu berikutnya. Begini caranya; tetapi dari titik waktu tertentu sudah mulai berbeda. Prinsip-prinsip yang tidak Kristen diizinkan di sekolah-sekolah kita yang menghancurkan kaum muda, dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak Kristen telah masuk ke masyarakat, yang merusak mereka setelah meninggalkan sekolah. Jika menurut firman Allah selalu ada hanya sedikit yang dipilih, tidak mengherankan bahwa di zaman kita bahkan ada lebih sedikit dari mereka; demikianlah semangat zaman itu — antikristus! Apa berikutnya? Jika cara pendidikan dan kebiasaan sosial kita tidak berubah, Kekristenan yang sejati akan semakin melemah, dan pada akhirnya akan sepenuhnya berakhir; hanya nama Kristen yang akan tersisa, tetapi semangat kekristenan tidak akan ada di sana. Semangat dunia akan mengisi segalanya. Apa yang harus dilakukan? Berdoa…

Dua Puluh Delapan Minggu setelah Pentakosta. [Kol. 1: 12-18; Lukas 14: 16-24]

           Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Semua orang Kristen dipanggil; dipilih adalah orang-orang Kristen yang percaya dan hidup dengan cara Kristen. Pada zaman Kristen pertama berkhotbah dipanggil untuk beriman; kita dipanggil oleh kelahiran kita dari orang-orang Kristen dan dibesarkan di antara orang-orang Kristen. Dan kemuliaan bagi Tuhan! Kita melewati setengah jalan, yaitu, masuk ke dalam kekristenan dan mengakar prinsip-prinsipnya di hati kita sejak kecil, tanpa kerja keras. Tampaknya iman kita akan menjadi semakin kuat, dan hidup kita semakin benar sepanjang waktu berikutnya. Begini caranya; tetapi dari titik waktu tertentu sudah mulai berbeda. Prinsip-prinsip yang tidak Kristen diizinkan di sekolah-sekolah kita yang menghancurkan kaum muda, dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak Kristen telah masuk ke masyarakat, yang merusak mereka setelah meninggalkan sekolah. Jika menurut firman Allah selalu ada hanya sedikit yang dipilih, tidak mengherankan bahwa di zaman kita bahkan ada lebih sedikit dari mereka; demikianlah semangat zaman itu — antikristus! Apa berikutnya? Jika cara pendidikan dan kebiasaan sosial kita tidak berubah, Kekristenan yang sejati akan semakin melemah, dan pada akhirnya akan sepenuhnya berakhir; hanya nama Kristen yang akan tersisa, tetapi semangat kekristenan tidak akan ada di sana. Semangat dunia akan mengisi segalanya. Apa yang harus dilakukan? Berdoa.

Dua puluh Sembilan setelah Pentakosta. [Kolose 3:12 – 16; Lukas 13:10-17)

Tiga Puluh Minggu setelah Pentakosta. [Kol. 3: 12-16; Lukas 18: 18-27]

           Nenek moyang Suci — mereka adalah orang-orang yang benar-benar hebat! Jika seseorang menggeneralisasi pemikiran yang mendefinisikan kebesaran mereka, hanya mereka yang memenuhi kehendak Tuhan bagi umat manusia — kehendak positif — benar-benar hebat, karena ada banyak hal yang terjadi hanya dengan uang saku Tuhan. Ada juga tokoh-tokoh kuat yang bertindak terpisah dari kehendak Tuhan dan bahkan menentangnya. Ini juga bisa tampak hebat, tetapi tidak di dalam dan tentang diri mereka sendiri — hanya menurut tanggapan hebat yang diajukan oleh Tuhan untuk melenyapkan kejahatan yang disebabkan oleh mereka. Kita tahu kehendak langsung Tuhan tentang keselamatan kekal; tetapi rencana Tuhan mengenai persinggahan sementara orang-orang di bumi tersembunyi dari kita. Itulah sebabnya sulit bagi kita untuk menentukan siapa yang bertindak lebih lurus, atau lebih tepatnya sesuai dengan kehendak Tuhan. Seseorang hanya dapat mengakui satu kriteria negatif sebagai benar: Dia yang bertindak menentang tekad Allah untuk keselamatan kekal manusia tidak dapat dianggap besar, tidak peduli seberapa mencolok perbuatannya; karena terbukti bahwa ia menentang kehendak Allah yang nyata. Meskipun kehendak yang diketahui ini tidak menyangkut hal-hal duniawi, tetapi lebih kekal, tidak diragukan bahwa kehendak Tuhan tidak dapat bertentangan dengan kehendak lainnya.

Minggu ke 31-32 belum ditemukan

Twelve Great Feast Dua Belas Perayaan Besar Gereja

Kelahiran Bunda Maria Kelahiran Perawan Suci Kita Theotokos, Perawan Maria (diperingati setiap tanggal 8 September):

Perawan Maria yang paling suci dilahirkan pada saat orang-orang telah mencapai tingkat kerusakan moral sedemikian rupa sehingga sama sekali mustahil untuk memulihkannya. Orang sering berkata bahwa Tuhan harus datang ke dunia untuk memulihkan iman dan tidak membiarkan kehancuran umat manusia. Anak Allah memilih untuk mengambil sifat manusia untuk keselamatan umat manusia, dan memilih sebagai Bunda-Nya Perawan Maria Yang Murni, yang sajalah yang layak untuk melahirkan Sumber kemurnian dan kekudusan. Kelahiran Perawan Maria, Theotokos atau Ever Virgin Mary dirayakan oleh Gereja sebagai hari sukacita universal. Dalam konteks Perjanjian Lama dan Baru, Perawan Maria Yang Terberkati dilahirkan pada hari yang bercahaya ini, yang telah dipilih sebelum berabad-abad oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk menghasilkan Misteri Inkarnasi Sabda Allah. Dia dinyatakan sebagai Bunda Juruselamat Dunia, Tuhan Kita Yesus Kristus. Perawan Maria Yang Mahakudus dilahirkan di kota kecil Galilea, Nazareth. Orang tuanya adalah Yoakim (Joachim) yang beriman dari suku Raja Daud, dan Hanna (Anna) dari suku Harun Imam Pertama. Pasangan itu tanpa anak, karena Anna mandul. Setelah mencapai usia lanjut, Joachim dan Anna tidak kehilangan harapan akan kemurahan Tuhan. Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa bagi Tuhan segalanya mungkin, dan bahwa Dia akan mampu mengatasi kemandulan Anna bahkan di usia tuanya, seperti Dia pernah mengatasi kemandulan Sarah, pasangan Abraham. Joachim dan Anna bersumpah untuk mendedikasikan anaknya untuk Tuhan, untuk melayani Allah di Bait Suci. Tanpa anak dianggap di antara bangsa Ibrani sebagai hukuman Ilahi atas dosa, dan oleh karena itu Joachim dan Anna yang saleh harus menanggung penganiayaan dari bangsanya sendiri. Pada salah satu hari raya di Bait Suci di Yerusalem, Joachim yang sudah tua membawa pengorbanannya untuk 82 dipersembahkan kepada Allah, tetapi Imam Besar tidak akan menerimanya, menganggapnya tidak layak karena ia tidak memiliki anak. Joachim dengan sangat sedih pergi ke padang belantara, dan di sana ia berdoa dengan air mata kepada Tuhan untuk seorang anak. Anna menangis dengan sedih ketika dia mengetahui apa yang terjadi di Bait Suci Yerusalem. Tidak pernah sekalipun dia mengeluh terhadap Tuhan, tetapi dia berdoa untuk meminta belas kasihan Tuhan kepada keluarganya. Tuhan menggenapi permohonannya ketika pasangan saleh telah mencapai usia tua sekali dan mempersiapkan diri mereka dengan kehidupan yang bajik untuk panggilan mulia: untuk menjadi orang tua dari Perawan Maria Yang Mahakudus, Bunda Tuhan Yesus Kristus yang akan datang. Malaikat Gabriel membawakan Joachim dan Anna pesan yang menggembirakan bahwa doa-doa mereka didengar oleh Allah, dan di antara mereka akan lahir seorang anak perempuan yang paling diberkati, Maria, melalui dia akan datang Keselamatan seluruh Dunia. Perawan Suci Maria melampaui kemurnian dan kebajikan tidak hanya semua umat manusia, tetapi juga para malaikat. Dia dimanifestasikan sebagai Bait Allah yang hidup, sehingga Gereja menyanyikan lagu-lagu perayaan: “Gerbang Timur … membawa Kristus ke dunia untuk keselamatan jiwa kita” (Stikhera ke-2 tentang “Tuhan, Aku Telah Menangis”, Nada 6). Kelahiran Yesus dari Theotokos menandai perubahan zaman ketika janji-janji Allah yang agung dan menghibur untuk keselamatan umat manusia dari perbudakan ke iblis akan segera digenapi. Peristiwa ini telah membawa ke bumi rahmat Kerajaan Allah, Kerajaan Kebenaran, kesalehan, kebajikan, dan kehidupan abadi. Theotokos diungkapkan kepada kita semua dengan rahmat sebagai 83 Perantara dan Ibu yang berbelaskasih, kepada siapa kita memiliki jalan lain dengan pengabdian yang berbakti.

Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/09/08/102541-the-nativity-of-our-most-holy-lady-the-mother-ofgod-and-ever-vi

Perayaan Pemuliaan Salib Pemuliaan Salib:

Para kaisar Romawi berusaha sepenuhnya menghapuskan ingatan manusia tempattempat suci di mana Tuhan kita Yesus Kristus menderita dan dibangkitkan untuk umat manusia. Kaisar Hadrian (117-138) memberi perintah untuk menutupi tanah Golgota dan Makam Tuhan, dan membangun kuil dewi pagan Venus dan patung Yupiter. Orang-orang kafir berkumpul di tempat ini dan mempersembahkan korban kepada berhala di sana. Akhirnya setelah 300 tahun, oleh pemeliharaan Ilahi, sisa-sisa suci Kristen yang agung, Makam Tuhan dan Salib Pencipta Kehidupan (Life-Giving Holy Cross) ditemukan lagi dan dibuka untuk penghormatan. Ini terjadi di bawah Kaisar Konstantin yang Agung (306-337) setelah kemenangannya pada tahun 312 atas Maxentius, penguasa bagian barat kekaisaran Romawi, dan atas Licinius, penguasa bagian Timurnya. Pada tahun 323, Konstantin menjadi penguasa tunggal Kekaisaran Romawi yang luas. Pada tahun 313 ia mengeluarkan Dekrit Milan, yang dengannya agama Kristen disahkan dan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di bagian barat kekaisaran dihentikan. Penguasa Licinius, meskipun ia telah menandatangani Dekrit Milan masih dengan fanatik melanjutkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Hanya setelah kekalahannya yang konklusif, Dekrit Toleransi ini juga meluas ke bagian timur kekaisaran. Kaisar Konstantin, setelah memperoleh 84 kemenangan atas musuh-musuhnya dalam tiga perang dengan bantuan Tuhan, telah melihat di surga Tanda Salib, dan menulis di bawahnya: “Dengan ini kamu akan menaklukkan.” Dengan keinginan kuat untuk menemukan Salib tempat Tuhan Yesus Kristus disalibkan, Kaisar Konstantin mengirim ibunya, Permaisuri Helen yang saleh (21 Mei), ke Yerusalem, memberikannya surat kepada St. Makarius, Patriarkh Yerusalem. Meskipun permaisuri suci Helen sudah berada di tahun-tahun yang menua, dia mulai menyelesaikan tugas dengan antusias. Sang permaisuri memerintahkan untuk menghancurkan kuil pagan dan patung-patung di Yerusalem. Mencari Salib Pencipta Kehidupan, ia mencari tahu orang-orang Kristen dan Yahudi, tetapi untuk waktu yang lama pencariannya tetap tidak berhasil. Akhirnya, mereka mengarahkannya ke bahasa Ibrani tua tertentu dengan nama Yudas yang menyatakan bahwa Salib dimakamkan di mana kuil Venus berdiri. Mereka menghancurkan kuil itu dan, setelah berdoa, mereka mulai menggali tanah. Segera Makam Tuhan ditemukan dan tidak jauh dari sana ada tiga salib, sebuah papan dengan tulisan yang diperintahkan oleh Pilatus, dan empat paku yang telah menusuk Tubuh Tuhan (6 Maret). Untuk mengetahui salib mana dari tiga salib yang Juruselamat disalibkan, Patriark Makarius secara bergantian menyentuhkan salib itu ke mayat. Ketika Salib Tuhan menyentuh orang mati, ia hidup kembali. Setelah melihat kebangkitan orang mati, semua orang yakin bahwa Salib Pencipta Kehidupan ditemukan. Orang-orang Kristen datang dalam kerumunan besar untuk memuliakan Salib Suci, memohon St. Macarius untuk mengangkat Salib, sehingga bahkan mereka yang jauh mungkin dengan penuh hormat merenungkannya. Kemudian Patriark dan para pemimpin spiritual lainnya mengangkat Salib Suci, dan orang-orang, mengatakan “Tuhan, kasihanilah,” bersujud dengan hormat di hadapan Kayu Mulia itu. Peristiwa khidmat ini terjadi pada tahun 326. 85 Selama penemuan Salib Pencipta Kehidupan terjadi mukjizat lainnya: seorang wanita yang sakit parah, di bawah bayang-bayang Salib Suci, disembuhkan seketika. Yudas yang lebih tua dan orangorang Yahudi lainnya di sana percaya kepada Kristus dan menerima Baptisan Suci. Yudas menerima nama Cyriacus dan setelah itu ditahbiskan sebagai Uskup Yerusalem. Selama masa pemerintahan Julian si Murtad (361-363), ia mengalami kematian seorang martir untuk Kristus (lihat 28 Oktober). Permaisuri suci Helen melakukan perjalanan ke tempat-tempat suci yang terhubung dengan kehidupan Juruselamat di bumi, membangun lebih dari 80 gereja, di Betlehem tempat kelahiran Kristus, dan di Bukit Zaitun di mana Tuhan naik ke Surga, dan di Getsemani di mana Juruselamat berdoa sebelum penderitaan-Nya dan di mana Bunda Allah dimakamkan setelah kematiannya. St. Helen mengambil bagian dari Kayu salib itu dan paku bersamanya ke Konstantinopel. Kaisar suci Konstantinus memberi perintah untuk membangun sebuah gereja yang megah dan luas di Yerusalem untuk menghormati Kebangkitan Kristus, juga termasuk di bawah atapnya Makam Pemberi Hidup bagi Tuhan dan Golgota. Gereja ini dibangun sekitar sepuluh tahun. Ratu Helen tidak bisa menyaksikan pentahbisan bait suci, ia wafat pada tahun 327. Gereja ditahbiskan pada 13 September 335. Pada hari berikutnya, 14 September, perayaan Pengagungan Salib dan Pencipta Kehidupan dirayakan. Peristiwa lain yang terhubung dengan Salib Tuhan diingat juga pada hari ini: kembalinya ke Yerusalem dari Persia setelah penahanan empat belas tahun. Pada masa pemerintahan kaisar Bizantium Phocas (602-610), kaisar Persia Khozroes II dalam perang melawan Yunani mengalahkan tentara Yunani, menjarah Yerusalem dan mencuri Salib Pencipta Kehidupan Tuhan dan Patriakh Suci Zakharia (609- 633). Salib tetap di Persia selama empat belas tahun dan hanya di bawah kaisar Heraclius (610-641), yang dengan bantuan Tuhan mengalahkan Khozroes dan menyelesaikan perdamaian dengan penerus dan putranya, Syroes. Salib Tuhan dikembalikan kepada orang-orang Kristen. Dengan sangat hormat Salib Pencipta Kehidupan dipindahkan ke Yerusalem. Kaisar Heraclius dengan mahkota kekaisaran dan ungu kerajaan membawa Salib Kristus ke Gereja Kebangkitan. Di gerbang di mana mereka naik ke Golgota, kaisar tiba-tiba berhenti dan tidak bisa melangkah lebih jauh. Patriark yang kudus itu menjelaskan kepada kaisar bahwa seorang malaikat Tuhan menghalangi jalannya. Kaisar diperintahkan untuk menghapus hiasan kerajaannya dan berjalan tanpa alas kaki, karena Dia yang memikul Salib demi keselamatan dunia dari dosa telah membuat jalan-Nya ke Golgota dengan segala kerendahan hati. Kemudian Heraclius mengenakan pakaian sederhana, dan tanpa rintangan lebih lanjut, membawa Salib Kristus ke dalam gereja. Dalam sebuah khotbah tentang Permuliaan Salib, St. Andreas dari Kreta (4 Juli) mengatakan: “Salib itu ditinggikan, dan segala sesuatu yang benar berkumpul bersama, Salib ditinggikan, dan kota penuh khidmat, dan orang-orang merayakan pesta itu.”
Referensi: http://orthochristian.com/64411.html

Masuknya Bunda Allah (Theotokos) Ke Bait Suci

Hari ini, kita memperingati pertama kali gadis muda yang ditakdirkan menjadi Bunda Allah masuk ke Bait Suci di Yerusalem. Meskipun sekarang sudah lama berlalu, Bait Allah itu pasti telah memberikan pemandangan yang menakjubkan kepada anak kecil itu, dengan batu putihnya berkilau di matahari Yudea, para imamnya, sangkakala berhembus, baunya kemenyan, kerumunan para pemuja yang berdoa dengan khusyuk, dan asap yang timbul dari mezbah pengorbanannya. Tidak ada catatan sejarah tentang pikiran dan perasaannya pada kunjungan pertama itu, tetapi jika dia mengajukan pertanyaan, “Ada apa ini?” Jawaban orang Kristen (yang kemudian dipelajari setelah Kabar Sukacita yang datang sekitar satu dekade kemudian) adalah, “Sebenarnya, ini semua tentang kamu.” Bait Suci adalah rumah bagi Allah sehingga Ia dapat tinggal di antara umat-Nya dan agar mereka dapat menikmati hadirat-Nya yang menyelamatkan. Itu juga merupakan janji dan nubuat, sebuah janji diam di atas batu ketika Allah akan datang dan tinggal di antara mereka dalam daging. Karena Bait Suci yang agung dan mulia berisi kehadiran perjanjian dari Allah surgawi, demikian juga daging perawan muda Nazareth yang masih muda dan rendah hati juga akan mengandung kehadiran itu. Dia akan menjadi bait yang hidup bagi ilahi yang berinkarnasi, dan Dia yang tidak dapat dikandung oleh surga dari surga [1 Raja-raja 8:27] akan tinggal di ruang kecil rahim mudanya. Meskipun dia akan terus hidup dalam ketidakjelasan di kota asalnya, rahimnya akan menjadi lebih luas daripada surga. Narasi sederhana tentang masuknya dia sebagai anak kecil ke Bait Suci telah dihiasi oleh para penulis Kristen. Dalam karya-karya seperti Proto-evangelium Yakobus (yaitu sebuah kisah yang mengandung semacam prekuel Injil) Maria digambarkan sebagai seseorang yang terkenal di seluruh Israel. Pada usia tiga tahun dia dikawal ke pelataran Bait Suci oleh “anak-anak perempuan orang Ibrani,” masingmasing membawa lampu yang menyala sehingga anak itu akan merasa senang memasuki Bait Suci sebagai rumah barunya. “Dan Maria berada di Bait Allah seperti seekor merpati yang dipelihara, dan dia menerima makanan dari tangan seorang malaikat.” Dalam kisah ini, Zakharia, imam besar membawanya ke Tempat Mahakudus, dan dia tetap di Bait Suci sampai dia menginjak usia dua belas tahun, ketika dia pergi untuk tinggal bersama Yusuf, yang dipilih secara undian untuk menjaganya sebagai suaminya. 87 Membaca keseluruhan Proto-evangelium membuat pembaca yang cerdas sadar akan sifat puitis dan legendaris dari sebagian besar tulisan. Dalam kisah yang luar biasa ini, seseorang bertemu dengan pengabdian dan cinta, bukan sejarah yang sadar, seperti yang terlihat dari kenyataan bahwa Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis, sebenarnya bukanlah imam besar, tetapi hanya seorang imam. (Dalam narasi Lukas, dia termasuk di antara mereka yang menggambar banyak untuk membakar dupa di Bait Allah — sesuatu yang tidak pernah dilakukan imam besar.) Tetapi tidak masalah; kebenaran datang dalam berbagai bentuk, puisi dan juga sejarah. Dan dengan memberi tahu kita bahwa Maria berdiam di Tempat Mahakudus, kisah itu memberi tahu kita sesuatu yang mendasar dan benar tentang dia. Tempat Mahakudus adalah jantung bagian dalam Bait Allah, tempat Tabut Perjanjian pernah beristirahat (itu hilang dan dihancurkan ketika bangsa Babel menghncurikan Bait Suci berabad-abad sebelumnya; Bait Suci kemudian dibangun setelah kembali dari pengasingan dan masih kemudian diperbesar oleh Herodes tetapi Tabut tetap kosong). Sebagai tempat suci batin, itu adalah tempat di mana kehadiran Allah di bumi berada, pusat dari kekudusan ilahi di dunia. Tidak seorang pun yang murni dan suci untuk masuk ke sana — bahkan imam besar sendiri hanya bisa masuk ke sana setahun sekali pada Hari Pendamaian, dan bahkan kemudian ia harus membawa serta darah kurban [Ibrani 9: 7]. Tetapi menurut kisah itu, Maria bisa masuk ke sana — pelajarannya adalah bahwa Maria, sebagai orang yang ditakdirkan untuk menjadi Bunda Allah, lebih suci daripada semua anak manusia lainnya. Tuhan Sendiri akan berdiam di dalam dagingnya bahkan ketika Dia berdiam di Tempat Mahakudus. Yang Mahakudus, seperti bagian lain dari Bait Suci, semuanya tentang dia. Mengapa semua ini penting bagi kita hari ini? Hanya ini: kesuciannya tidak hanya bisa melindunginya di Tempat Mahakudus, tapi itu juga melindungi kita. Tuhan tidak mendengarkan orang-orang berdosa, orang-orang yang menentang dan menolak Dia, tetapi jika ada orang yang menyembah Allah dan melakukan kehendak-Nya, Allah mendengarkan dia [Yohanes 9:31]. Maria 88 adalah penyembah Allah yang terbaik dan yang benar-benar melakukan kehendak-Nya. Karena itu, Tuhan mendengarkannya. Semua orang Kristen hidup dalam jaringan syafaat bersama: Anda berdoa untuk saya dan saya berdoa untuk Anda dan kami semua berdoa untuk satu sama lain. Jaringan ini mencakup orang-orang kudus, sehingga kita juga meminta doa-doa dari Petrus dan Paulus dan Nikolas dan Athanasius dan Herman dari Alaska. Dan yang berdiri sebagai kepala pasukan syafaat surgawi yang perkasa ini adalah Theotokos suci, dia yang lebih terhormat dari pada Kerubim dan lebih mulia dibandingkan dengan Seraphim. Kekudusannya adalah perisai dan pengikat kita, dan kita bisa berlindung dalam perantaraannya yang tiada tara. Dia tidak lagi berdiri di pelataran Bait Suci di bumi, betapapun indahnya. Dia sekarang berdiri di pelataran Bait Suci Surga, di sebelah takhta Allah, berbagi kemegahan itu sebagai Penguasa dan Ratu surgawi kita. Perayaan Pintu Masuk ke Bait Allah adalah sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan sejarah. Itu adalah panggilan untuk berdoa, dan untuk kepercayaan diri kita akan cinta dan syafaatnya bagi kita dan bagi seluruh dunia.

Referensi: https://oca.org/reflections/fr.-lawrence-farley/the-great-feast-of-the-entrance-of-the-theotokos-intothe-temple

Natal

 “Jesus became what we are that He might make us what He is” – St. Athanasius Gua & Palungan Menurut Ikon ini Yesus dilahirkan di sebuah gua yang gelap yang menandakan kegelapan dunia karena dosa manusia. Firman Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi seperti Allah. Clement of Alexandria menulis, “The Word of God became man in order that you may learn from man how man may become 89 God”. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yoh 1:4-5). Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran (Yoh 1:14). Kemuliaan yang penuh anugerah dan kebenaran memberikan cahaya terang di dalam kegelapan yang disimbolkan kelahiran Dia di dalam goa yang gelap. Natal menandakan terang itu telah bercahaya di dalam kegelapan dunia. Di dalam ikon ini juga Yesus tidak digambarkan lahir di sebuah kandang tetapi di dalam gua seperti ketika Dia akan bangkit dari kematian. Dia dibaringkan di dalam palungan (manger) atau tempat makan hewan ternak dan dibalut kain lampin yang berbentuk seperti kain kafan untuk menggambarkan kelahiran-Nya yang erat hubungannya dengan kematian-Nya untuk menebus dosa manusia. Tubuh-Nya yang disalib menjadi makanan atau roti dari Surga. Darah-Nya yang tercurah menjadi air kehidupan. Palungan menandakan Yesus menjadi sarana atau menyediakan makanan surga yaitu roti kehidupan bagi segenap manusia. Cyril Alexandria mengomentari, “And she laid him in the manger. He found man reduced to the level of the beasts: therefore is He placed like fodder in a manger, that we, having left off our bestial life, might mount up to that degree of intelligence which befits man’s nature; and whereas we were brutish in soul, by now approaching the manger, even His own table, we find no longer fodder, but the bread from heaven, which is the body of life.” Gregory of Nyssa menuliskan, “On the Nativity” gives a mystical reason as follows:—”A manger is the dwellingplace of beasts; in such a place is the Word born, that the ox may know his owner, and the ass the resting-place of his Lord. Now, the ox is the Jew under the yoke of the Law; and the ass is an animal fitted for bearing burdens,—the Gentile groaning under the grievous burden of idolatry. Moreover, the ordinary food of beasts is hay. But the rational animal eats bread, wherefore the Bread of Life which came down from heaven is laid in the crib where the food of beasts is wont to be placed, that even animals void of reason may share the food of reasonable beings.” 90 Komentari dari Cornelius a Lapide, “Passing over the various opinions on the subject recorded by Baronius and others, we may note that the place of Christ”s birth was not the stable belonging to some rustic dwelling, but a cave hewn out of a rock at the eastern end of the city of Bethlehem. This is on the authority of S. Jerome, “Ephesians, 18 ad Marcellam,” Bede, “de Locis Sanctis ” ch8 , and others. Whether the cave were within or without the city of Bethlehem authorities are not agreed. Bede says that a miraculous perennial spring took its rise in the rock of the cave, and was still flowing, in his time; he also records that the whole cave was cased in marble by the Christians, and adorned with a magnificent church built above it. That there was in this cave a wooden manger, well known to all the shepherds of that part, is clear from the fact that the shepherds soon found the spot when the angel indicated it to them by this sign. This manger was taken from thence to Rome, and there placed in the Basilica of S. Maria Maggiore, where it is religiously visited and venerated. Christ was placed in the manger for two reasons; first, because there was no place better fitted to hold Him—the straw in it forming a kind of bed on which the tender babe might repose; and, secondly, that in the rigour of winter, He might be warmed by the breath of the ox and the ass. For the tradition goes that an ox and an ass were tethered to this manger, and such is the common belief of the faithful. Of these two animals the Church interprets the words of Habakkuk 3:2, “In the midst of two animals shalt Thou be known” (Vulgate), and appropriates also Isaiah 1:3, “The ox knoweth his owner, and the ass his master”s crib,”—such is the explanation given on these passages by S. Jerome, Nazianzen, Cyril, Paulinus, and others, quoted by Baronius.” Hewan-hewan Hewan-hewan yang ada di sekeliling Yesus adalah untuk mengingat nubuatan Nabi Yesaya yang ditulis dalam Kitab Habakuk 3:2 menurut terjemahan Septuaginta dan Yesaya 1:3, “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” Ini menandakan Yesus sendiri akan ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Pandangan Maria Maria seraya memandang Yusuf, yang sedang digoda oleh iblis, memberi keyakinan pada Yusuf bahwa bayi yang ia lahirkan adalah sungguh dari Allah yang dikandung dari Roh Kudus. Bidan Para bidan membasuh tubuh Sang Juruselamat menggambarkan Allah benar-benar berinkarnasi sebagai bayi manusia biasa. 91 Orang Majus Tiga orang Majus dengan menaiki kuda dituntun oleh sebuah bintang dari Timur untuk datang dan menyembah Sang Juruselamat (Mat 2:10-11). Kata majus sendiri dari bahasa yunani : μάγος / magos, yang juga berarti astrolog (ahli dalam ilmu perbintangan) pada masa itu, biasanya dikaitkan dengan agamawan dalam agama kuno persia dan tergolong terpandang sebagai kelas atas dalam masyarakat (persia), yang ahli di bidang-bidang pengetahuan (alam), pengobatan dan filsafat. Bahkan hingga di Yerusalem, dimana orang majus juga memiliki akses mudah ke raja Herodes hingga Herodes pun memanggil mereka (Mat 2:7). Tradisi Gereja mengatakan 3 orang majus tersebut : Js. Gaspar, Melchior dan Balthazar kemudian menjadi Kristen dengan menerima Babtisan Suci melalui Rasul Thomas sebelum hendak bertolak mewartakan Injil hingga ke wilayah India. Dalam bagian kidung Troparion Natal tertulis tentang mereka: “…karenanya, bagi mereka yang memuja bintang-bintang, telah diajarkan oleh Sebuah Bintang untuk menyembah-Mu, Sang Mentari Kebenaran,…”. Persembahan dari orang majus ini sendiri memiliki makna penting: Emas, sebagaimana pada masa itu (juga saat ini) merupakan logam mulia yang selalu digunakan untuk persembahan bagi seorang raja. Sehingga dengan mempersembahkan emas, menunjukkan orang majus ini sedang menghormati Sang Raja yang kepada siapa mereka hendak memberi persembahan. Sebagai tanda bahwa Yesus adalah Raja (Yoh 18:37) bagi orang Israel (Yoh 12:13), Raja Damai (Yesaya 9:6-7), dan bagi kerajaan Allah yang akan datang. Hal inilah yang membuat Herodes memerintahkan membunuh semua anak (usia dua tahun kebawah) di Betlehem (Mat 2:16). Kemenyan (incence), yang pada masa itu (juga hingga sekarang) digunakan untuk penyembahan dalam ritus keagamaan (Yeremia 41:5; Kel 30:34-35); untuk menunjukkan tanda ke-Ilahian Kristus. Hingga orang majus hendak datang untuk menyembah (Mat 2:2). Mur (Myrrh), yang pada masa itu selain digunakan sebagai bahan pengobatan juga untuk dibubuhkan saat penguburan seseorang (Yoh 19:39-40). Dengan mur ini menunjukkan tanda bagi pengorbanan yang akan diberikan Sang Juruselamat bagi manusia. Persembahan dari orang majus, didalamnya terkandung misteri-misteri kedatangan Kristus dan karya misi-Nya di bumi. IA-lah Sang Raja, “yang kerajaan-Nya tidak akan ada akhirnya”, IA-lah Anak Domba Allah, yang oleh kematian-Nya, menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Relik daripada persembahan orang majus ini mulanya diserahkan kepada Gereja Yerusalem oleh Sang Theotokos sendiri, lalu berpindah-pindah namun hingga saat ini disimpan di biara Gereja Orthodox (biara Js. Paulus) yang ada di Gunung Athos. Gembala dan Malaikat Seorang malaikat berkata kepada para gembala, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:10-12). Pemberitahuan dari malaikat kepada para gembala domba ini ternyata tidaklah pada sembarangan gembala domba biasa, melainkan sesuai nubuat Kitab Suci, Mikha 4:8, “Dan engkau, hai Menara Kawanan Domba, hai Bukit puteri Sion, kepadamu akan datang dan akan kembali pemerintahan yang dahulu, kerajaan atas puteri Yerusalem.” Mikha 4:8 adalah salah satu nubuat akan datangnya Kristus selain dari tempatnya di Betlehem (Mi 5:2), jadi dikatakan akan ada pewahyuan kepada Menara Kawanan Domba (Migdal Eder), Migdal Eder adalah suatu menara di padang Betlehem yang dibangun untuk memelihara domba-domba persembahan Bait Allah selama 24 jam dan terus menerus selama 1 tahun, jadi ini adalah tempat yang tetap dimana domba-domba tetap berada bahkan selama bulan Desember/Januari. Migdal Eder disini menjaga domba-domba dari ancaman cuaca, binatang buas dan penjahat; domba-domba itu harus dijaga dari segala cacat cela karena akan dipersembahkan sebagai korban Bait Allah. Jadi, pemberitahuan malaikat itu adalah kepada gembala domba khusus dari Migdal Eder yang selalu ada di sepanjang tahun. 92 Seorang malaikat membunyikan terompet ini menandakan para gembala bersukacita dan memuji Allah setelah mereka melihat bayi Yesus. Catatan Tradisi ada 3 gembala yang melihat bayi Yesus dan bersukacita. Lukas mencatat, “Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembalagembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” (Luk 2:16-20) Para malaikat yang adalah bala tentara surga memandang dari atas dan memuji Allah, “Kemuliaan bagi Allah ditempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:13). Renungan Bapa Gereja Ambrose of Milan: “He is brought forth from the womb but flashes from heaven. He lies in an earthly inn but is alive with heavenly light. He was a baby and a child, so that you may be a perfect human. He was wrapped in swaddling clothes, so that you may be freed from the snares of death. He was in a manger, so that you may be in the altar. He was on earth that you may be in the stars. He had no other place in the inn, so that you may have many mansions in the heavens. “He, being rich, became poor for your sakes, that through his poverty you might be rich.” Therefore his poverty is our inheritance, and the Lord’s weakness is our virtue. He chose to lack for himself, that he may abound for all. The sobs of that appalling infancy cleanse me, those tears wash away my sins. Therefore, Lord Jesus, I owe more to your sufferings because I was redeemed than I do to works for which I was created…. You see that he is in swaddling clothes. You do not see that he is in heaven. You hear the cries of an infant, but you do not hear the lowing of an ox recognizing its Master, for the ox knows his Owner and the donkey his Master’s crib. 93 On your account then am I weak, in you am I strong. On your account am I poor, in you am I rich. Consider not what you see, but acknowledge that you are redeemed. I owe more, O Lord Jesus, to Your sufferings that I am redeemed, than to Your works that I am created. It were no advantage to be born, had it not advantaged me to be redeemed also.” St. Gregory of Nyssa, Against Eunomius, Hom. II, PG 45, 492: “When God became known to us in the flesh, He neither received the passions of human nature, nor did the Virgin Mary suffer pain, nor was the Holy Spirit diminished in any way, nor was the power of the Most High set aside in any manner, and all this was because all was accomplished by the Holy Spirit. thus the power of the Most High was not abased, and the child was born with no damage whatsoever to the mother’s virginity.” St. John of Kronstadt, My Life in Christ: “The Nativity of Christ.—He has come upon earth, He Who in the beginning created us from earth and breathed His Divine breath into us; He has come Who “giveth to all life, and breath, and all things” (Acts xvii. 25.); He has come, He Who by a single word called all things visible and invisible from non-existence into existence, Who by a word called into being birds, fishes, quadrupeds, insects, and all creatures, existing under His almighty providence and care; He has come, He Whom the innumerable hosts of Angels continually and joy. And in what humility has He come! He is born of a poor Virgin, in a cave, wrapped in poor swaddling clothes, and laid in a manger. Riches, honours, glory of this world! fall down, fall down in humility, tearful devotion, and deep gratitude before the Saviour of men, and share your riches with the poor and needy. Do not pride yourselves on your visionary, fleeting distinctions, for true distinction can only be found in virtue. Glory of this world! learn here, before the manger, your vanity. Thus, let us all humble ourselves; let us all fall down in the dust before the boundless humility and exhaustion of the Sovereign of all, of God, Who has come to heal our infirmities, to save us from pride, vanity, corruption, and every sinful impurity.” St. Leo the Great: “Therefore the Word of God, Himself God, the Son of God who “in the beginning was with God,” through whom “all things were made” and “without” whom “was nothing made” (John 1.1-3), with the purpose of delivering man from eternal death, became man: so bending Himself to take on Him our humility without decrease in His own majesty, that remaining what He was and assuming what He was not, He might unite the true form of a slave to that form in which He is equal to God the Father, and join both natures together by such a compact that the lower should not be swallowed up in its exaltation nor the higher impaired by its new associate. Without detriment therefore to the properties of either substance which then came together in one person, majesty took on humility, strength weakness, eternity mortality: and for the paying off of the debt, belonging to our condition, inviolable nature was united with possible nature, and true God and true man were combined to form one Lord, so that, as suited the needs of our case, one and the same Mediator between God and men, the Man Christ Jesus, could both die with the one and rise again with the other.” 94 Homily V on the Nativity of Christ, by St. Ephraim the Syrian At the birth of the Son, there was a great shouting in Bethlehem; for the Angels came down, and gave praise there. Their voices were a great thunder: at that voice of praise the silent ones came, and gave praise to the Son. Blessed be that Babe in whom Eve and Adam were restored to youth! The shepherds also came laden with the best gifts of their flock: sweet milk, clean flesh, befitting praise! They put a difference, and gave Joseph the flesh, Mary the milk, and the Son the praise! They brought and presented a suckling lamb to the Paschal Lamb, a first-born to the First-born, a sacrifice to the Sacrifice, a lamb of time to the Lamb of Truth. Fair sight [to see] the lamb offered to The Lamb! The lamb bleated as it was offered before the First-born. It praised the Lamb, that had come to set free the flocks and the oxen from sacrifices: yea that Paschal Lamb, Who handed down and brought in the Passover of the Son. The shepherds came near and worshiped Him with their staves. They saluted Him with peace, prophesying the while, “Peace, O Prince of the Shepherds.” The rod of Moses praised Thy Rod, O Shepherd of all; for Thee Moses praises, although his lambs have become wolves, and his flocks as it were dragons, and his sheep ranged beasts. In the fearful wilderness his flocks became furious, and attacked him. Thee then the Shepherds praise, because Thou hast reconciled the wolves and the lambs within the fold; O Babe, that art older than Noah and younger than Noah, that reconciled all within the ark amid the billows! David Thy father for a lamb’s sake slaughtered a lion. Thou, O Son of David, hast killed the unseen wolf that murdered Adam, the simple lamb who fed and bleated in Paradise. At that voice of praise, brides were moved to hallow themselves, and virgins to be chaste, and even young girls became grave: they advanced and came in multitudes, and worshiped the Son. Aged women of the city of David came to the daughter of David; they gave thanks and said, “Blessed be our country, whose streets are lightened with the rays of Jesse! Today is the throne of David established by Thee, O Son of David.” The old men cried, “Blessed be that Son Who restored Adam to youth, Who was vexed to see that he was old and worn out, and that the serpent who had killed him, had changed his skin and had gotten himself away. Blessed be the Babe in Whom Adam and Eve were restored to youth.” The chaste women said, O Blessed Fruit, bless the fruit of our wombs; to Thee may they be given as first-born. They waxed fervent and prophesied concerning their children, who, when they were killed for Him, were cut off, as it were firstfruits. The barren also fondled Him, and carried Him; they rejoiced and said, Blessed Fruit born without marriage, bless the wombs of us that are married; have mercy on our barrenness, Thou wonderful Child of Virginity! St. John Chrysostom, “Homili di Pagi Natal” Sudah sepatutnya bahwa Sang Pemberi segala kekudusan harus memasuki dunia ini dengan kelahiran yang suci dan kudus. Sang Pemberi itu membentuk Adam dari tanah yang masih murni dan tanpa bantuan perempuan membentuk perempuan, Hawa. Seperti kelahiran Yesus, tanpa perempuan, Adam menghasilkan perempuan, demikian pula Perawan Maria tanpa laki-laki hari ini melahirkan seorang bayi laki-laki. Karena itu manusia, kata Allah, dan siapa yang akan mengenalnya [Yer 17: 9]. Karena sejak ras perempuan berhutang kepada laki-laki, seperti dari Adam tanpa perempuan, datanglah perempuan itu, oleh karena itu tanpa laki-laki, Perawan hari ini melahirkan seorang anak laki-laki, dan atas nama ras Hawa, Maria melunasi hutang itu kepada laki-laki. Agar Adam tidak bangga, bahwa dia tanpa perempuan menghasilkan perempuan, seorang perempuan tanpa laki-laki telah memperanakkan laki-laki sehingga dengan kesamaan misteri itu dibuktikan adanya kesamaan natur. Karena seperti sebelumnya Yang Mahakuasa mengambil tulang rusuk dari Adam, namun Adam tetap diciptakan baik; jadi di dalam Perawan Dia membentuk sebuah bait suci yang hidup, dan keperawanan suci tetap tidak berubah. Adam yang sehat dan tidak terluka tetap bertahan bahkan setelah dirampas tulang rusuknya; begitu juga tidak menodai Sang Perawan meskipun seorang Anak dilahirkan darinya. 95 + St. John Chrysostom, “Homily on Christmas Morning” It was fitting that the Giver of all holiness should enter this world by a pure and holy birth. For He it is that of old formed Adam from the virgin earth, and from Adam without help of woman formed woman. For as without woman Adam produced woman, so did the Virgin without man this day bring forth a man. For it is a man, saith the Lord, and who shall know him [Jer. 17:9]. For since the race of women owed to men a debt, as from Adam without woman woman came, therefore without man the Virgin this day brought forth, and on behalf of Eve repaid the debt to man. That Adam might not take pride, that he without woman had engendered woman, a Woman without man has begotten man; so that by the similarity of the mystery is proved the similarity in nature. For as before the Almighty took a rib from Adam, and by that Adam was not made less; so in the Virgin He formed a living temple, and the holy virginity remained unchanged. Sound and unharmed Adam remained even after the deprivation of a rib; unstained the Virgin though a Child was born of her.

Referensi:  Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012

Baptisan Yesus & Theophany

“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”” (Lukas 3:21-22 TB) Gereja merayakan Theophany Yesus Kristus setiap tanggal 6 Januari. Theophany adalah hari kedua terpenting setelah Paskah. Mengapa? Di dalam artikel ini penulis akan menjelaskan beberapa alasannya. 96 Pada saat Natal belum ada pernyataan Allah Tritunggal sampai 30 tahun kemudian Allah menyatakan dirinya pada saat pembaptisan Yesus. Anak Allah menjadi Anak Manusia dinyatakan secara jelas pada saat Theophany. Theophany adalah perayaan yang menyingkapkan secara jelas Allah Tritunggal Mahakudus kepada dunia melalui peristiwa sejarah pembaptisan Tuhan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan (Mat 3: 13-17; Mar 1: 9-11; Luk 3:21-22). Allah Bapa berbicara dari surga tentang Anak, Anak dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, saudara sepupuh-Nya, dan Roh Kudus turun ke atas Anak dalam wujud seperti seekor burung merpati. Sejak zaman Gereja perdana peristiwa ini disebut “the Day of Illumination/ Hari Pencerahan,” dan “the Feast of Lights/ Perayaan Terang,” karena Allah adalah terang dan telah menyatakan diri untuk mencerahkan “mereka yang berada di dalam kegelapan,” dan “berdiam di negeri yang dinaungi maut” (Mat 4:16), serta untuk menyelamatkan manusia yang jatuh dalam dosa melalui rahmat-Nya. Pada zaman Gereja perdana juga banyak orang yang dibaptis pada hari Theophany ini sehingga pembaptisan juga menyingkapkan pencerahan spiritual bagi manusia yang berada dalam kegelapan dan maut. Berikut beberapa makna teologis baptisan Yesus: 1. Baptisan di dalam Perjanjian Lama adalah untuk pembersihan kenajisan tubuh jasmani. Baptisan Yohanes adalah untuk pertobatan dari dosa. Baptisan di dalam Kristus adalah untuk pengampunan dosa baik secara jasmani dan rohani. Yesus dibaptis: a. Bukan untuk pemurnian atau pentahiran tubuh jasmani-Nya karena Dia tidak ada dosa sebab Dia dikandung dari Roh Kudus. b. Bukan untuk pertobatan-Nya dari dosa kepada perbuatan baik karena Dia adalah kasih dan keselamatan. c. Bukan untuk menerima Roh Kudus karena Roh Kudus telah beserta Dia. 97 d. Dia dibaptis bukan untuk Dirinya tetapi sebagai teladan bagi manusia. Dia memurnikan air untuk memurnikan kita dari kecemaran jasmani dan jiwani. Baptisan-Nya bukan hanya menyatakan bahwa bahwa kita telah tercemar dosa tetapi membutuhkan pertobatan. Menurut John Chrysostom baptisan Yesus adalah: 1. Now there was a Jewish baptism which removed the pollutions of the flesh, not the guilt of the conscience; but our baptism parts us from sin, washes the soul, and gives us largely the outpouring of the Spirit. 2. But John’s baptism was more excellent than the Jewish; for it did not bring men to the observance of bodily purifications, but taught them to turn from sin to virtue. 3. But it was inferior to our baptism, in that it conveyed not the Holy Spirit, nor showed forth the remission which is by grace, for there was a certain end as it were of each baptism. 4. But neither by the Jewish nor our own baptism was Christ baptized, for He needed not the pardon of sins, nor was that flesh destitute of the Holy Spirit which from the very beginning was conceived by the Holy Spirit; He was baptized by the baptism of John, that from the very nature of the baptism, you might know that He was not baptized because He needed the gift of the Spirit. But he says, fitting baptized and praying, that you might consider how fitting to one who has received baptism is constant prayer. 5. But he says, The heavens opened, as if till then they had been shut. But now the higher and the lower sheep-fold being brought into one, and there being one Shepherd of the sheep, the heavens opened, and man was incorporated a fellow citizen with the Angels. The Holy Spirit descended also upon Christ as upon the Founder of our race, that He might be in Christ first of all who received Him not for Himself, but rather for us. Hence it follows: And the Holy Spirit descended. Let not any one imagine that He received Him because He had Him not. For He as God sent Him from above, and as man received Him below. Therefore from Him the Spirit fled down to Him, i.e. from His deity to His humanity. John Damascus juga menyatakan, 1) “The Lord was baptized, not because He Himself had need for cleansing, but “to bury human sin by water.” 2) “And finally, to sanctify “the nature of water” and to offer us the form and example of Baptism.” Menurut Maximus dari Turin, “Today, then, he is baptized in the Jordan. What sort of baptism is this, when the one who is dipped is purer than the font, and where the water that soaks the one whom it has received is not dirtied but honored with blessings? What sort of baptism is this of the Savior, I ask, in which the streams are made pure more than they purify? For by a new kind of consecration the water does not so much wash Christ as submit to being washed. Since the Savior plunged into the waters, he sanctified the outpouring of every flood and the course of every stream by the mystery of his baptism. When someone wishes to be baptized in the name of the Lord, it is not so much the water of this world that covers him but the water of Christ that purifies him. Yet the Savior willed to be baptized for this reason—not that he might cleanse himself but that he might cleanse the waters for our sake.” Menurut Fr. Michael Gillis, “At His baptism, Christ not only fully identifies with our fallen humanity, but he even takes on our repentance. AsSt. Paulsays, “He who knew no sin, became sin for us…” (2 Cor. 5: 21). Although Christ had no sin to repent of, He received the baptism of repentance on behalf of all human beings. So much did Christ identify with humanity, all humanity, that he took on the consequences of sin–himself being completely free from sin–for the sake of all men and women. In Christ everything is fulfilled on behalf of every human being: “all righteousness” is fulfilled, He says to John before His baptism (Matt. 3:15).” Baptisan Yesus menyediakan Pakaian Kristus untuk kita pakai. “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27 TB). Pakaian Kristus adalah kemanusian baru yang telah mengalahkan dosa, maut, dan Iblis. 2) Baptisan Yesus bukan hanya menyatakan keberdosaan manusia yang membutuhkan pertobatan, tetapi Dia juga menyatakan keilahian-Nya. 98 John Damascus menyatakan baptisan Yesus adalah, “To fulfill the Law, to reveal the mystery of the Holy Trinity.” Menurut St. Maximus dari Turin, “Today, then, is another kind of birth of the Savior. We see him born with the same sort of signs, the same sort of wonders, but with greater mystery. The Holy Spirit, who was present to him then in the womb, now pours out upon him in the torrent. He who then purified Mary for him now sanctifies the running waters for him. The Father who then overshadowed in power now cries out with his voice. He who then, as if choosing the more prudent course, manifested himself as a cloud at the nativity now bears witness to the truth. So God says, “This is my beloved Son, in whom I am well pleased. Hear him.” Clearly the second birth is more excellent than the first. The one brought forth Christ in silence and without a witness. The other baptized the Lord gloriously with a profession of divinity. From the one, Joseph, thought to be the father, absents himself. At the other, God the Father, not believed in, manifests himself. In the one the mother labors under suspicion because in her condition she lacked a father. In the other she is honored because God attests to his Son.” Fr. Michael Gillis menyatakan, “At his baptism, Christ not only identifies with our humanity, but He also reveals His divinity. And more than that, for the first time in all the Scriptures, in all of history, the Holy Trinity is clearly revealed: The voice of the Father speaks of the Beloved and Well Pleasing Son while the Spirit descends in the form of a dove. Never before had the mystery of the One God in Three Persons been revealed so clearly. Here at Christ’s baptism the mystery that began to be revealed at his birth is openly manifest to the universe and before the crowds who had come to be baptized by John: the Son of God is the Son of Man.” 3) Pada baptisan-Nya, Kristus tidak hanya mengidentifikasi sepenuhnya kemanusiaan kita, tetapi Dia juga memulai transformasi seluruh dunia yang diciptakan. Alih-alih air sungai Jordan menyapu dosaNya – karena Dia tidak memiliki dosa – kecemerlangan keilahian Kristus dan kekuatan KemanusiaanNya membalikkan kutukan jadi kehidupan. Kekuatan iblis yang bersembunyi di dalam air (yang dalam Perjanjian Lama merujuk pada kematian) dihancurkan ketika Kristus memasuki air baptisan. Kedalaman, jurang, atau Syeol tidak lagi berkuasa atas umat manusia: setelah dibaptis di dalam air, Kristus akan berjalan di atas air, Kristus akan menarik Petrus yang tenggelam dari air: bahkan 99 kedalaman air tidak dapat lagi mengendalikan umat manusia yaitu umat manusia yang di dalam Kristus. Pada baptisan Kristus kutukan leluhur mulai dipatahkan. Dan setelah pembaptisan-Nya, setelah sebagai manusia dipenuhi dengan Roh Kudus, Kristus mulai menunjukkan cara untuk menang atas pencobaan, dosa, penyakit, kemunafikan agama, penindasan politik, penindasan setan dan akhirnya bahkan kematian itu sendiri. Kristus sebagai manusia – tanpa berhenti menjadi Allah, tetapi mengesampingkan hak prerogatifnya sebagai Allah – Kristus sebagai manusia menaklukkan semua musuh manusia. Kristus sebagai manusia menunjukkan jalan bagi seluruh umat manusia ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam Surga, ke dalam Kebangkitan dan ke dalam Kehidupan Kekal. Inilah mengapa Theophany begitu penting. Dalam mengingat, dalam merayakan pembaptisan Kristus, kita ingat dengan cara yang paling dalam Wahyu Allah-manusia, pembasuhan dosa melalui pertobatan, pembalikan dari kutukan dosa, dan penaklukan dosa dan semua dosa, bahkan kematian. Dunia tercerahkan pada baptisan Kristus dan ketika kita dengan penuh doa mengingatnya kita sampai pada pengalaman bahwa pencerahan itu telah tersedia bagi seluruh umat manusia. Mari wartakan kabar baik ini kepada mereka. Ikon Dalam ikon, Yohanes terlihat memimpin. Dia menempatkan tangan kanannya di kepala Juruselamat dalam gerakan sakramental yang tetap menjadi bagian dari ritual pembaptisan. Dengan tangan kirinya ia membuat gerakan yang menyatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Karena itu Allah menggunakan Pelopor untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ishak tentang ayahnya, Abraham, pada korban yang digugurkan, “Di mana anak domba?” (Kej. 22: 7). Ribuan tahun kemudian, Tuhan menjawab pertanyaan melalui Sang Pelopor: “Lihatlah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Sangat menarik bahwa Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis dirayakan setiap tahun pada tanggal 24 Juni dalam kalender Orthodox. Ini dilakukan oleh para Bapa Yunani, karena pada hari ini, siang hari perlahan mulai berkurang di belahan bumi utara. Ini mengingatkan kita akan perkataan Yohanes Pembaptis yang terkenal: “Aku harus makin kecil, Dia (Yesus) harus makin besar” (Yohanes 3:30). Setelah baptisan Yesus, pelayanan Yohanes Pembaptis digenapi. Yohanes mulai berkurang ketika pelayanan penyelamatan Yesus meningkat. Dalam beberapa versi ikon ini sering ada pohon dengan kapak pada akarnya. Ini melambangkan katakata Yohanes, “Bertobatlah, berbuahlah yang baik, karena Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu telah datang,” dan “kapak itu terletak di akar pohon,” yang berarti bahwa waktu penghakiman dan keputusan telah tiba (Mat. 3: 7-12). Beberapa ikon menggambarkan Yesus dengan kain pinggang. Namun, yang lain menunjukkan Dia telanjang. Ini sesuai dengan teks-teks Theophany. Ketelanjangannya yang mengejutkan berfungsi untuk mengekspresikan kenosis mutlak dari keilahian-Nya. “Dia menelanjangi diri sendiri yang membungkus langit dengan awan,” teriak imam pada Jumat Agung. Ini diungkapkan dalam kebenaran bahwa dengan menelanjangi tubuh-Nya, Dia dengan demikian mengenakan ketelanjangan Adam dan semua manusia dengan pakaian kemuliaan dan kebobrokan. Kita juga dibaptis dengan telanjang saat kita terbenam dalam kolam pembaptisan. Mengapa? Untuk menunjukkan bahwa kita datang kepada-Nya telanjang, tidak membawa apa-apa selain diri kita sendiri karena keselamatan bukan karena perbuatan tetapi karena anugerah Allah — suatu karunia yang lengkap. Adam yang pertama menyebabkan gerbang Firdaus ditutup, tetapi pada saat pembaptisan Yesus, “langit terbuka” ketika Allah menyatakan diri-Nya dalam kepenuhan-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Setengah lingkaran terbuka di bagian atas ikon dengan sinar cahaya yang menyinari Yesus menunjukkan kebenaran yang menggembirakan ini. Ketika Yesus keluar dari air, langit terbuka; dan Roh Kudus dalam bentuk seekor merpati turun ke atas-Nya; dan suara Bapa berbicara tentang Dia, bersaksi bahwa ini adalah Anak-Nya yang terkasih, di mana Dia berkenan. Demikianlah, dengan Kristus dan di dalam Kristus, seluruh Tritunggal Kudus dinyatakan kepada dunia. Seluruh Tritunggal hadir pada awal pelayanan Kristus untuk menjamin pelayanan Yesus yang sekarang dimulai. Dia memang Anak Allah yang diutus oleh Bapa dan Roh Kudus untuk menebus dunia. Tidak ada kejadian seperti itu terjadi pada Muhammad atau guru 100 agama lainnya. Kita harus menerima perkataan Muhamad sendiri bahwa malaikat Gabriel/Jibril berbicara kepadanya secara rahasia dan memberinya Al-Quran tujuh abad setelah Yesus. Tidak ada saksi mata, tidak ada Teofani, tidak ada suara dari surga, untuk menjamin dan menjamin keaslian ilahi dari pesan Muhamad, seperti halnya dengan Yesus. Rasul Yohanes dapat merujuk pada kesaksian tentang Trinitas yang terjadi pada saat pembaptisan Yesus ketika ia menulis, “karena ada tiga yang memberi kesaksian di surga: Bapa, Firman, dan Roh Kudus; ketiganya adalah satu …. Jika kita menerima kesaksian manusia, kesaksian Allah lebih besar; karena inilah kesaksian Allah yang disaksikan-Nya tentang Anak-Nya ”(1 Yohanes 5: 7-9). Gregorius Palamas mengatakan bahwa ungkapan “surga dibuka” berarti bahwa melalui ketidaktaatan Adam, surga memang tertutup dan manusia kehilangan persekutuannya dengan Allah. Sekarang dengan ketaatan penuh Kristus, Adam yang baru, surga terbuka lagi dan manusia dapat mencapai persekutuan dengan Allah. Saksi Bapa kepada Yesus menunjukkan bahwa Dia yang dibaptis bukan manusia biasa tetapi “Anak-Nya yang terkasih” yang selaras dengan Bapa. Seseorang yang dibaptis ditunjukkan sebagai Firman Allah “Siapakah… cahaya kemuliaan-Nya dan gambar yang jelas dari pribadi-Nya” (Ibrani 1: 3). Merpati muncul di ikon tepat di atas kepala Yesus. St John Chrysostom bertanya: Tapi mengapa muncul dalam bentuk seekor merpati? Lembut adalah makhluk itu, dan murni. Sama seperti Roh adalah “Roh yang lemah lembut” (Gal. 5:22), ia muncul dengan cara ini. Selain itu, gambar ini mengingatkan kita pada sebuah kisah kuno. Suatu ketika, ketika puing-puing universal telah menguasai dunia, dan umat manusia dalam bahaya binasa, makhluk ini muncul, untuk menunjukkan pembebasan dari badai, membawa ranting zaitun (Kejadian 8:11). Burung merpati mengumumkan kabar baik tentang perdamaian dan kebaikan bagi seluruh dunia. Ini adalah jenis hal yang akan datang. Burung merpati juga muncul, tidak membawa ranting zaitun, tetapi menunjukkan kepada kita pembebas kita dari semua kejahatan, dan menyarankan harapan untuk rahmat masa depan. Tetapi merpati tidak hanya memimpin satu orang (Nuh) keluar dari bahtera. Sekarang memimpin seluruh dunia menuju surga. Alih-alih cabang perdamaian dari pohon zaitun, burung merpati menyediakan adopsi semua anak di dunia ini sebagai anak-anak Allah. (Saint John Chrysostom, Homily on the Gospel of Matthew, XII, 3) Merpati, yang mewakili Roh Kudus, sekarang turun tidak hanya pada Yesus tetapi juga pada setiap orang yang dibaptis karena Dialah — Roh Kudus — yang datang untuk menguduskan dan mendiami orang yang baru dibaptis melalui sakramen Krisma Suci (sakramen Pentakosta ). Jadi, setiap orang Kristen dibaptis tidak hanya “dari air” tetapi juga “dari Roh.” Merpati, yang adalah Roh Kudus, sekarang turun ke atas setiap orang Kristen yang baru dibaptis. Vladimir Lossky menguraikan lebih jauh tentang arti merpati: Bapa Suci Gereja menjelaskan penampakan Roh Kudus dalam bentuk burung merpati di Pembaptisan Tuhan dengan analogi dengan Air Bah: Persis pada saat itu dunia dimurnikan dari kesalahannya oleh air bah dan merpati membawa cabang zaitun ke Bahtera Nuh, mengumumkan akhir Air Bah dan perdamaian kembali ke bumi, demikian juga sekarang Roh Kudus turun dalam bentuk seekor burung merpati untuk mengumumkan pengampunan dosa dan belas kasihan Allah kepada dunia. “Ada cabang zaitun di sana, di sini rahmat Allah ada pada kita,” kata St. Yohanes dari Damaskus. Fr. Sergius Bulgakov berkomentar lebih lanjut tentang pentingnya merpati: Baptisan Tuhan, seolah-olah, Pentakosta untuk Tuhan, turunnya Roh Kudus kepada Allah-Manusia, mengantisipasi Pentakosta umum dunia, pengiriman Roh Kudus ke atas para rasul dan, dalam diri mereka orang, atas seluruh Gereja. Sangat tepat bahwa Yesus harus memulai pelayanan publik-Nya dengan pengurapan Roh Kudus. Roh Kudus muncul “sebagai seekor merpati” pada saat baptisan Kristus menunjukkan pembebasan yang datang dari banjir dosa. Itu tidak memiliki cabang zaitun di paruhnya (seperti dalam bahtera Nuh) tetapi ia menyarankan minyak belas kasihan Allah, yang adalah Kristus, yang dikasihi Bapa. 101 Kehadiran Yesus di perairan Sungai Yordan menyucikan air, yang pada zaman kuno dianggap sebagai kekuatan yang kacau balau jika bukan setan. Sekarang air tidak hanya berhenti mengancam tetapi menjadi dikuduskan dan digunakan untuk pengudusan dunia. Itulah sebabnya kita sekarang dibaptis dalam air yang dengannya kita mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Kol 2:12). Kita sering melihat sosok mirip manusia di air. Beberapa orang menafsirkan ini sebagai simbol Sungai Yordan yang pernah berhenti mengalir ketika tabernakel Perjanjian Lama dibawa melintasi (Yos. 3: 14-17). Seringkali sosok kedua di dalam air melambangkan Laut Merah, yang membelah untuk memungkinkan umat Allah melarikan diri dari Mesir (Kel. 14:22). Sosok-sosok di air sering digambarkan dengan ekspresi kekaguman di wajah mereka sebelum Wahyu Allah (Theofani). Nyanyian rohani Gereja sering membandingkan mukjizat Perjanjian Lama di Sungai Yordan dan Laut Merah dengan baptisan Kristus. Kedua sosok tersebut dibawa ke ikon sesuai dengan ayat ketiga dari Mazmur 114, “Laut melihat dan melarikan diri, sungai Yordan berbalik.” Menurut penafsir lain, gambar di sebelah kiri menyinggung Elisa yang membalikkan Sungai Yordan ke belakang di jalurnya menjadikannya jalur kering. Seringkali kita melihat Kristus berdiri di atas air di atas dua lempengan batu yang membentuk salib. Di bawah-Nya, ular-ular di dalam air mengangkat kepala mereka. Ini menyinggung Mazmur 74:13 yang mengatakan, “Engkau telah menghancurkan kepala naga di dalam air.” Dalam hal ini, naga melambangkan iblis dan malaikat jahatnya. Air baptisan adalah kuburan dan rahim. Naga melambangkan kejahatan (dosa) yang ditenggelamkan dan dihancurkan dalam baptisan. St Yohanes dari Damaskus menyatakan bahwa Kristus dibaptis untuk menghancurkan kepala naga di dalam air, karena ada konsep pada masa itu bahwa setan tinggal di dalam air. Adam tua, bersama dengan dosanya, dimakamkan di dalam air. Dengan demikian, naga dihancurkan dan setan kehilangan kekuatannya. Saat imam berdoa selama Kebaktian Theofani: Engkau membelah laut dengan kekuatanmu; Engkau mematahkan kepala naga di atas air. Engkau, Allah kami, telah muncul di bumi dan berdiam di antara manusia, Engkau menguduskan aliran sungai Yordan, menurunkan Roh Kudus yang paling tinggi, dan Engkau telah mematahkan kepala naga yang tersembunyi di dalamnya. Beberapa ikon Theophany menggambarkan ikan kecil berenang di air dekat kaki Kristus. Tertullian menjelaskan bahwa ketika air purba ciptaan memperanakkan ikan, maka air pembaptisan menghasilkan “ikan kecil” atau “Kristus kecil.” Ia menulis dalam risalahnya De Baptismo: “Kita adalah ikan kecil menurut ichthys (IKAN), Yesus Kristus, di dalam Dia kita dilahirkan, dan kita hidup hanya dengan tinggal di dalam air ”(De Baptismo I). Kata Yunani untuk ikan juga merupakan simbol Kristen kuno. Ini adalah akronim dari apa yang orang Kristen percaya tentang Yesus: (I) sous (X) ristos, (˜) eou, (Y) ios, (S) Sotir: Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat. Kristus turun ke perairan Yordan untuk menghancurkan kepala naga. Dia turun ke sungai Yordan untuk mengikat yang kuat (iblis) di wilayahnya sendiri seperti Dia turun ke Sheol untuk melakukan hal yang sama. Inilah yang terjadi dalam baptisan. Seperti dalam ikon Kelahiran, ekspresi kelemahlembutan muncul di wajah para malaikat yang hadir pada saat pembaptisan Yesus ketika mereka mengagumi kelemahlembutan Tuan mereka. Tangan mereka ditutup untuk menghormati pribadi kerajaan Yesus. Mereka memegang handuk yang menekankan cara baptisan Gereja dengan pencelupan total, yang membutuhkan tubuh untuk dikeringkan setelah pencelupan. Dikatakan bahwa setelah baptisan, “Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai oleh iblis, dan ketika iblis meninggalkan Dia, Lihatlah, malaikat datang dan melayani Dia” (Mat. 4: 1, 11). Gagasan malaikat yang memegang handuk di ikon ini berasal dari abad keenam. Jumlah aktual mereka bervariasi dari dua hingga tiga atau lebih malaikat. Bagian atas ikon menunjukkan lingkaran terbuka yang melambangkan surga terbuka yang telah ditutup oleh Adam, sama seperti ia telah menutup Taman Eden dengan pedang yang menyala-nyala. Lingkaran terbuka ini mengekspresikan kehadiran Allah yang berbicara pada saat itu, dengan mengatakan, “Ini adalah anakku yang terkasih di dalam hati yang sangat kukasihi.” Kehadiran Allah yang sama ini digambarkan dalam beberapa ikon lain melalui tangan yang diulurkan berkat. Roh Kudus ditunjukkan turun kepada Yesus dalam bentuk seekor burung merpati yang mewakili akhir 102 dari “banjir” dosa. “Di mana ada dosa, kasih karunia yang berlimpah-limpah” (Rasul Paul). Burung merpati muncul tanpa ranting zaitun di mulutnya seperti pada zaman Nuh tetapi menggambarkan rahmat Allah. Sejak saat itu, air akan menjadi alat keselamatan. Setiap tetes air sejak saat itu akan menghubungkan kita dengan air di mana Yesus dibaptiskan. Ikon itu menunjukkan Yohanes Pembaptis dengan kepala tertunduk ketika dia menerima tawaran Kristus “untuk menggenapi semua kebenaran” (Mat. 3:15). Dia memiliki ekspresi kagum di wajahnya pada kerendahan hati Tuhan. Ketika dia membaptiskan Yesus dengan satu tangan, dengan yang lain dia menunjuk ke arah-Nya seolah-olah mengatakan, “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Kita perhatikan dalam ikon bahwa seluruh tubuh Yesus terbenam dalam air. Menurut nyanyiannyanyian Pesta, Ia “ditutupi oleh air sungai Yordan.” Ini untuk menandakan kematian-Nya (Kol 2:12) karena manusia tidak dapat hidup lama di bawah air. Namun, melalui pengudusan, air tidak lagi menjadi citra kematian tetapi kehidupan baru. Karena alasan ini, ikon-ikon dari sebagian besar gambar baptisan pada katakomb awal menunjukkan orang yang dibaptis, termasuk Juruselamat, sebagai anak yang baru lahir. Jim Forest mengamati dengan benar perubahan kosmik yang terjadi pada air sejak pembaptisan Tuhan kita: Dalam baptisan Yesus, semua air selamanya diberkati. Dalam arti tertentu, berkat tahunan di Theophany tidak diperlukan. Dalam memberkati apa yang sudah diberkati, Gereja hanya mengungkapkan sifat sejati dan takdir air, dan karenanya sifat sakramental dari semua ciptaan. “Dengan dipulihkan melalui berkat untuk fungsi yang semestinya,” tulis Pastor Alexander Schmemann, ‘air suci’ dinyatakan sebagai air yang benar, penuh, memadai, dan materi kembali menjadi sarana persekutuan dengan dan pengetahuan tentang Allah.” Bagi orang-orang di dunia kuno, air adalah simbol kehidupan itu sendiri. Itu adalah prasyarat kehidupan. Manusia tidak bisa hidup tanpanya. Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Ia membawa darah melalui 60.000 mil arteri, kapiler, dan vena di tubuh kita. Itu perlu untuk pencernaan. Ini melumasi sendi kita, membuat selaput lendir lembab, dan memungkinkan mata kita berfungsi. Ini mengatur panas tubuh kita, dan sangat penting untuk semua kehidupan tanaman dan hewan, yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. Ilmu pengetahuan modern telah menemukan bahwa semua kehidupan di bumi keluar dari air. Pada masa purba semua kehidupan, termasuk kita, ada di laut. Ilmu kebidanan modern telah menunjukkan bahwa embrio manusia dipelihara oleh cairan amnion dalam rahim ibu, dan bahwa cairan ini memiliki komposisi yang sama dengan air laut. Hidup kita berasal dari air. Ini menyegarkan dan hidup kembali. Air menghilangkan kotoran dan membersihkan apa yang kotor. Jadi itu adalah yang paling mendasar dari semua elemen kehidupan manusia telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi instrumen kelahiran kembali spiritual kita. “Sungguh, sungguh, Aku berkata kepadamu,” kata Yesus, “kecuali seseorang dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak akan memasuki Kerajaan Allah” (Yohanes 3: 5). Cyril dari Yerusalem (386 M) membandingkan Roh Kudus dengan air. Dia memilih gambar ini karena perkataan Kristus, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan. (Yohanes 7:38-39 TB) “Air,” kata St. Cyril, “turun dari surga seperti hujan, dan meskipun itu selalu sama, ia menghasilkan banyak efek yang berbeda: satu di pohon palem, yang lain di pokok anggur, dan seterusnya, di seluruh ciptaan. Ia tidak turun sekarang sebagai satu hal, sekarang sebagai yang lain, tetapi meski pada dasarnya tetap sama, ia menyesuaikan diri dengan sifat dan kebutuhan setiap makhluk yang menerimanya.” Dengan kata lain, sama seperti air membantu menghasilkan berbagai jenis buah yang berbeda pada pohon dan tanaman anggur yang berbeda, yaitu pir, apel, anggur, persik melon, dll., sehingga Roh Kudus sebagai air hidup memelihara dan menghasilkan buah-buah “cinta, sukacita, kedamaian, kesabaran, kebaikan, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, kontrol diri. ” 103 Dalam Wahyu 22: 1-3, kita membaca tentang sungai air kehidupan yang mengalir dari takhta Allah menghasilkan setiap bulan dua belas jenis buah di pohon-pohon yang berbaris di kedua sisi sungai. Daun-daun pohon itu untuk penyembuhan semua bangsa. (Lihat juga Yehezkiel 47: 1-12). Perhatikan bahwa sungai air kehidupan memiliki sumbernya di takhta Allah. Air yang diberkati yang kita terima di Epifani adalah seperti air penyembuhan yang mengalir ke dalam hidup kita dari takhta Allah, memelihara jiwa kita yang kering dan membantu kita menghasilkan buah untuk kemuliaan Allah. Adalah Yesus — Air Kehidupan — yang memberkati perairan bumi ketika Ia melangkah ke Sungai Yordan untuk dibaptiskan. Seperti yang ditulis oleh Uskup Kallistos Ware: Ketika Kristus turun ke dalam air, Dia tidak hanya membawa kita ke bawah bersama Dia dan membuat kita bersih, tetapi Dia juga membersihkan sifat air itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh pujian, “Kristus telah muncul di sungai Yordan untuk menyucikan air.” Dengan demikian, Perayaan Theofani memiliki aspek kosmik. Jatuhnya malaikat, dan setelah itu jatuhnya manusia, melibatkan seluruh alam semesta. Karena itu, semua ciptaan Allah dilemahkan dan diubah bentuknya: untuk menggunakan simbolisme teks-teks liturgi, air itu dibuat menjadi ‘sarang naga.’ Kristus datang ke bumi untuk menebus bukan hanya manusia, tetapi – melalui manusia – seluruh ciptaan material. Ketika Dia memasuki air, selain dengan mengantisipasi kelahiran kembali kita di kolam, Dia juga mempengaruhi pembersihan air, perubahan rupa mereka menjadi organ penyembuhan dan rahmat. Setelah kebaktian pembaptisan yang diadakan pada Hari Raya Epifani di Gereja mula-mula, umat beriman mulai membawa pulang sebagian air dari kolam pembaptisan, menghargainya karena kuasa pengudusan dan penyembuhannya. St John Chrysostom menulis tentang praktik ini: “Pada kesempatan ini untuk memperingati baptisan Juruselamat yang dengannya Dia menguduskan sifat air, orang-orang yang meninggalkan gereja… dulu membawa pulang air dan menyimpannya. “(Hom. 24. De Bapt. Christ). Kebiasaan yang berlaku di Timur tidak hanya menguduskan air di gereja-gereja di Epifani tetapi juga memberkati sungai terdekat atau aliran air untuk menghormati baptisan Kristus. Di Palestina, Sungai Yordanlah yang menerima berkat ini dalam upacara yang penuh warna dan khusyuk. Ribuan peziarah akan berkumpul di pantainya untuk masuk ke dalam air setelah berkat, ketika mereka memperbarui sumpah pembaptisan mereka. Dalam mitologi Yunani, Raja Tantalus dihukum di dunia bawah dengan dirantai di danau. Airnya mencapai dagunya tetapi menarik setiap kali dia membungkuk untuk memuaskan rasa hausnya yang membara. Di atas kepalanya ada ranting-ranting yang sarat dengan buah-buahan pilihan, tetapi mereka segera menarik kembali setiap kali dia meraih untuk memuaskan rasa laparnya. Simbol frustrasi total, namanya diabadikan dalam kata bahasa Inggris “menggoda.” Jadi, juga, mencari untuk memuaskan kehausan jiwa yang terpisah dari Kristus adalah menggiurkan, sama sekali sia-sia. Segala sesuatu di dunia ini yang kita gunakan untuk mencoba memuaskan dahaga jiwa — uang, nafsu, obat-obatan, alkohol, harta benda, ketenaran — seperti tangki yang rusak. Itu tidak bisa menahan air yang dituangkan ke dalamnya. Dan sebagai hasilnya, rasa haus semakin memburuk. Orang akan berpikir bahwa semua tangki air yang rusak ini akan membawa kita ke sumber air kehidupan. Tetapi itu tidak terjadi. Mengapa? Karena kita membiarkan diri kita puas dengan tangki yang rusak. Kita perlu berdoa agar Tuhan tidak membiarkan kita puas dengan hal-hal yang menggiurkan dari dunia ini yang hanya berfungsi untuk menambah dahaga kita. “Siapa pun yang minum air ini akan haus lagi,” kata Yesus. Tidak ada yang memuaskan dahaga yang membara dari jiwa-jiwa yang tersiksa kecuali untuk membawa mereka ke mata air kehidupan, untuk persekutuan sejati dan persekutuan dengan Kristus. Kristus datang untuk menjadikan kita sumur artesis yang berlimpah air. Waduk tidak tahan terhadap kekeringan dan berbulan-bulan tanpa hujan, tetapi sumur artesis dapat tahan terhadap kekeringan, bahkan ladang kering dan waduk kosong, karena sumur itu memiliki sumber air yang tak berujung dengan sumber penyegaran yang tak ada habisnya. 104 Inilah arti sebenarnya dari air suci yang kita terima setiap tahun di Epifani/Theofani. Itu harus mengingatkan kita akan Yesus, yang adalah air kehidupan, yang sajalah yang dapat memuaskan kehausan jiwa yang terdalam. Dalam buku renungannya yang menginspirasi, In Thy Presence, Fr. Lev Gillet berbicara tentang air dalam bentuk air mata: Kasih karunia baptisan kedua — baptisan pertobatan juga dilambangkan dengan air. Tapi kali ini adalah air mata. Engkau merendahkan dirimu di hadapanku, Tuhan, untuk membasuh kakiku. Dan saya, dengan Maria Magdalena, berlutut di hadapan-Mu dan, pada gilirannya, membasuh kaki-Mu. Saya mencucinya dengan air mata yang saya tumpahkan, atau dengan air mata yang saya minta. Sudahkah saya menangis? Oh, berikan mereka padaku! Hancurkan hatiku! Pembaptisan dengan air mata yang membakar ini, betapa dahsyatnya, karena hal itu dapat menghasilkan berulang kali apa yang dihasilkan oleh baptisan pertama kali. Gregorius dari Nyssa sangat menekankan pentingnya air mata pertobatan sehingga dia berkata, “Bahkan satu air mata pertobatan sama dengan air baptisan, dan erangan yang menyakitkan membawa kembali kasih karunia yang telah pergi untuk sementara waktu.” Amin!

Referensi: Thomas Aquinas, Catena Aurea on Luke. http://pemptousia.com/2019/01/why-is-theophany-important/ Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

The Meeting of our Lord in the Temple of God

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. (Luk 2: 22-24 TB) Lukas mencatat sebuah peristiwa yang dikenal dalam Tradisi Gereja sebagai Pertemuan Tuhan di Bait Allah (The Meeting of our Lord in the Temple of God) yang dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 2 Februari. Kerendahan Hati Bunda Maria Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Bunda Maria dan Yusuf membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Maria menaati dan menggenapi Imamat 12 dengan membawa Yesus ke Bait Allah pada usia 40 hari. Mengapa 40 hari? Seorang wanita yang melahirkan anak laki-laki dilarang memasuki Bait Allah selama empat puluh hari. Pada akhir masa ini, Sang Ibu datang ke Bait Allah bersama Anaknya, untuk mempersembahkan seekor anak domba atau merpati kepada Tuhan sebagai korban penyucian. Perawan Suci, Bunda Allah, tidak membutuhkan penyucian, karena ia telah melahirkan sumber kemurnian dan kesucian tanpa kekotoran. Namun, ia dengan rendah hati memenuhi persyaratan Hukum seperti yang ditulis oleh Bapa Gereja Bede, “Mary, God’s blessed mother and a perpetual virgin, was, along with the Son she bore, most free from all subjection to the law. The law says that a woman who “had received seed” and given birth was to be judged unclean and that after a long period she, along with the offspring she had borne, were to be cleansed by victims offered to God. So it is evident that the law does not describe as unclean that woman who, without receiving man’s seed, gave birth as a virgin. Nor does it so describe the son who was born to her. Nor does it teach that she had to be cleansed by saving sacrificial offerings. But as our Lord and Savior, who in his divinity was the one who gave the law, when he appeared as a 106 human being, willed to be under the law…. So too his blessed mother, who by a singular privilege was above the law, nevertheless did not shun being made subject to the principles of the law for the sake of showing us an example of humility.” Imamat 12 Begini catatan Hukum Taurat Musa di dalam Imamat 12:1-8: 1 TUHAN berfirman kepada Musa, demikian: 2 “Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis. 3 Dan pada hari yang kedelapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu. 4 Selanjutnya tiga puluh tiga hari lamanya perempuan itu harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas, tidak boleh ia kena kepada sesuatu apapun yang kudus dan tidak boleh ia masuk ke tempat kudus, sampai sudah genap hari-hari pentahirannya. 5 Tetapi jikalau ia melahirkan anak perempuan, maka najislah ia selama dua minggu, sama seperti pada waktu ia bercemar kain; selanjutnya enam puluh enam hari lamanya ia harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas. 6 Bila sudah genap hari-hari pentahirannya, maka untuk anak laki-laki atau anak perempuan haruslah dibawanya seekor domba berumur setahun sebagai korban bakaran dan seekor anak burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa ke pintu Kemah Pertemuan, dengan menyerahkannya kepada imam. 7 Imam itu harus mempersembahkannya ke hadapan TUHAN dan mengadakan pendamaian bagi perempuan itu. Demikianlah perempuan itu ditahirkan dari leleran darahnya. Itulah hukum tentang perempuan yang melahirkan anak laki-laki atau anak perempuan. 8 Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan seekor kambing atau domba, maka haruslah ia mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor sebagai korban bakaran dan yang seekor lagi sebagai korban penghapus dosa, dan imam itu harus mengadakan pendamaian bagi perempuan itu, maka tahirlah ia.” (TB) Korban Maria dan Yesus 107 Maria mempersembahkan 2 ekor anak burung merpati (ayat 24) bukan domba jantan karena keterbatasan ekonomi. Persembahan ini adalah korban penghapus dosa untuk dirinya yaitu untuk pentahiran atau pendamaian dia setelah melahirkan seorang anak laki-laki dan korban bakaran untuk Yesus sebagai bentuk penyerahan-Nya kepada Allah di Bait Suci yang pada puncaknya Dia akan diserahkan sebagai korban bakaran itu sendiri. Bapa Gereja Cyril dari Alexandria menuliskan, “Oh the depth of the riches of the wisdom and knowledge of God! He offers victims, Who in each victim is honored equally with the Father. The Truth preserves the figures of the law. He who as God is the Maker of the law, as man has kept the law. Hence it follows, And that they should give a victim as it was ordered in the law of the Lord, a pair of turtle doves or two young pigeons. But let us see what these offerings mean. The turtle dove is the most vocal of birds, and the pigeon the gentlest. And such was the Savior made unto us; He was endowed with perfect meekness, and like the turtle dove entranced the world, filling His garden with His own melodies. There was killed then either a turtle dove or a pigeon, that by a figure He might be shown forth to us as about to suffer in the flesh for the life of the world.” Penyerahan dan Pengudusan Yesus Maria menggenapi apa yang tertulis di dalam Imamat 12 yaitu penyerahan atau persembahan bayi Yesus di Bait Allah. Yesus diserahkan atau dipersembahkan kepada Allah merupakan bentuk pengudusan diri Yesus di hadapan Allah seperti yang ditulis oleh Lukas di ayat 23, “as it is written in the law of the Lord, “Every male who opens the womb shall be called holy to the LORD.” Pengudusan ini adalah untuk memenuhi hukum Taurat Musa seperti yang dicatat di Keluaran 13:2, 12, 15: 2 “Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka.” (TB) 12 maka haruslah kaupersembahkan bagi TUHAN segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga setiap kali ada hewan yang kaupunyai beranak pertama kali, anak jantan yang sulung adalah bagi TUHAN. (TB) 15 Sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan kita pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan. Itulah sebabnya maka aku biasa mempersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anakku lelaki kutebus. (TB) Penyerahan bayi Yesus dan pengudusan-Nya di Bait Allah ini mengajarkan bahwa Yesus adalah kepunyaan Allah. Dan ini berarti Yesus adalah anak sulung dan menjadi teladan bagi kita untuk menyerahkan dan menguduskan diri kita di hadapan Allah sebagai bukti bahwa kita kepunyaan Allah. Bapa Gereja Athanasius menuliskan, “But when was the Lord hid from His Father’s eye, that He should not be seen by Him, or what place is excepted from His dominion, that by remaining there He should be separate from His Father unless brought to Jerusalem and introduced into the temple? But for us perhaps these things were written. For as not to confer grace on Himself was He made man and circumcised in the flesh, but to make us Gods through grace, and that we might be circumcised in the Spirit, so for our sakes is He presented to the Lord, that we also might learn to present ourselves to the Lord. He ordered two things to be offered, because as man consists of both body and soul, the Lord requires a double return from us, chastity and meekness, not only of the body, but also of the soul. Otherwise, man will be a dissembler and hypocrite, wearing the face of innocence to mask his hidden malice.” Pengudusan Yesus adalah pengudusan baik jiwa dan tubuh begitu juga pengudusan hidup kita. Bapa Gereja Gregory dari Nyssa menuliskan tentang pengudusan Yesus ini, “Now this commandment of the law seems to have had its fulfillment in the incarnate God, in a very remarkable and peculiar manner. For He alone, ineffably conceived and incomprehensibly brought forth, opened the virgin’s womb, till then unopened by marriage, and after this birth miraculously retaining the seal of chastity. But the offspring of this birth is alone seen to be spiritually male, as contracting no guilt from being born of a woman. Hence He is truly called holy, and therefore Gabriel, as if announcing that this commandment belonged to Him only, said, That Holy thing which shall be born of you shall be called, the Son of God. Now of other first-borns the wisdom of the Gospel has declared that they are called holy from their being offered to God. But the first-born of every creature, That holy thing which is born the Angel pronounces to be in the nature of its very being holy.” 108 Peristiwa penyerahan dan pengudusan Yesus bukan hanya menjalankan hukum Taurat tetapi juga menjadikan Yesus sebagai yang sulung bagi semua ciptaan baru. Kita juga belajar kerendahan hati Yesus dan Ibu-Nya yang dengan rela menaati hukum Allah demi keselamatan kita. Ikon Ekspresi artistik yang diketahui paling awal (ikon) dari Penyerahan Kristus di bait suci ditemukan di sebuah mosaik di Gereja Santa Maria Maggiore (abad ke-5) di Roma serta relik salib di Museum Lateran (abad ke-6). Ikonografi perayaan ini jelas didirikan pada abad ke-9 dan secara praktis tetap tidak berubah sejak saat itu. Biarawati Egeria Barat menyaksikan perayaan ini dirayakan di Yerusalem dengan penuh kekhidmatan dan dengan prosesi yang luar biasa. Pesta diperkenalkan di Konstantinopel pada abad ke-6 di bawah Justinian dan diteruskan ke Roma pada abad ke-7. Praktik memegang lilin yang menyala selama kebaktian ini diperkenalkan di Yerusalem sekitar 450 M. Kebiasaan memegang lilin menyala dipertahankan di Barat: karenanya pesta itu juga disebut Candlemas di Barat. Peristiwa-peristiwa perayaan ini hanya diceritakan dalam Lukas 2: 22-38. Kristus dibawa ke bait suci sebagai bayi berumur empat puluh hari oleh Maria dan Yusuf sesuai dengan persyaratan Hukum Musa. Di sana Dia bertemu dengan umat pilihan-Nya dalam pribadi Simeon dan Hana. Simeon digambarkan oleh Lukas sebagai “orang benar dan saleh, mencari penghiburan Israel dan Roh Kudus ada padanya.” Dan, “telah diungkapkan kepadanya oleh Roh Kudus bahwa ia seharusnya tidak melihat kematian sebelum ia melihat Kristus Tuhan ”(Lukas 22: 25-26). Lukas tidak mengidentifikasi Simeon sebagai seorang imam. Hana digambarkan sebagai seorang nabiah yang di masa tuanya “bersyukur kepada Tuhan, dan berbicara tentang Dia kepada semua orang yang mencari penebusan Israel” (Lukas 2:38). Dalam pertemuan dengan Simeon, Kristus disambut sebagai “terang untuk penyingkapan bagi bangsa-bangsa lain, dan bagi kemuliaan umat-Mu Israel” (Lukas 2:32). Ramalan Simeon adalah bahwa Anak itu akan membangkitkan konflik dan pedang akan menembus hati Maria ketika dia melihat Putranya di Kayu Salib. Ketika Yesus dibawa ke bait suci oleh Maria dan Yusuf, Dia bertemu dengan umat pilihan-Nya dalam pribadi Simeon dan Hana. Dalam dua pribadi ini — Simeon dan Hana — seluruh Perjanjian Lama berseru bahwa nubuat kuno tentang Mesias telah digenapi: Dia yang telah dijanjikan; Dia yang kedatangannya telah dinubuatkan; Dia yang adalah “Terang untuk wahyu bagi bangsa-bangsa lain” dan “kemuliaan” umat Allah; Mesias telah datang! Tetapi mengapa dari semua orang pada waktu itu, mengapa hanya Simeon dan Hana yang dapat mengenali bayi Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan? Jawabannya ditemukan dalam Injil: “Ada seorang lelaki di Yerusalem, yang namanya Simeon, dan lelaki ini saleh dan saleh, mencari penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Dan telah diungkapkan kepadanya oleh Roh Kudus bahwa dia seharusnya tidak mengalami kematian sebelum dia melihat Kristus Tuhan…. Dan ada seorang nabiah, Hana …. Dia tidak pergi dari bait suci, beribadah dengan puasa dan doa siang dan malam” (Lukas 2: 25-38). Simeon dan Hana, yang saleh dan kudus, orang-orang yang berdoa dan beribadah, sama-sama menunggu dengan harapan untuk “penghiburan Israel”, yaitu, untuk kedatangan Mesias. Keduanya telah menyelidiki Kitab Suci; keduanya telah berdoa dan menunggu kedatangan Mesias sebagai penggenapan nubuat. Itulah sebabnya mereka berdua mengakui Mesias pada bayi Yesus di bawah bimbingan Roh Kudus. Allah selalu menyatakan diri-Nya kepada mereka yang siap menerima-Nya; untuk mereka yang sedang menunggu-nunggu Dia. Jika surga adalah tempat yang dipersiapkan bagi umat yang dipersiapkan, wahyu Allah juga merupakan wahyu yang dipersiapkan bagi orang-orang yang siap menerimanya. Tuhan berbicara hanya kepada mereka yang dengan penuh semangat mendengarkan; mereka yang datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan iman yang dalam. Simeon dan Hana bersemangat, menunggu, mendengarkan, mengharapkan, setia, rendah hati, dan dipenuhi Roh. Oleh karena itu, bagi mereka Allah mengungkapkan bayi Yesus sebagai Mesias. Apakah kita hari ini orang yang menunggu? Dengan berlalunya waktu (dan seberapa cepat berlalu!), Apakah kita menebus waktu dengan berdoa, merencanakan, dan mempersiapkan diri untuk 109 Kedatangan Yesus? Dia datang! Tetapi berapa banyak dari kita yang menunggu Dia dengan penuh harap? Berapa banyak dari kita yang menantikan kedatangan-Nya dengan penuh semangat? Berapa banyak dari kita yang bersiap untuk kedatangan-Nya? Simeon dan Hana! Jadi, mereka sendiri dari semua orang pada waktu itu mengenali bayi Yesus ketika Dia dibawa ke bait suci, dan mereka mengakui dan menyatakan Dia sebagai Mesias. “Roh Kudus turun ke atas Simeon” (Lukas 2:25). Roh Kuduslah yang mengilhami Simeon untuk mengetahui bahwa dia tidak akan mati sebelum dia melihat Mesias. Roh Kuduslah yang mengilhami dia untuk mengenali Mesias pada bayi Yesus. Roh Kuduslah yang mengilhami dia untuk meramalkan penderitaan yang akan dialami oleh ibu-Nya ketika dia melihat Dia dipakukan di kayu Salib. Adalah Roh Kudus yang menempatkan kata-kata indah dari Nunc Dimittis di bibir Simeon. Bagi Roh Kudus untuk bersandar pada seseorang adalah pengalaman tertinggi yang dapat diberikan Tuhan kepada siapa pun. Roh Kudus dapat datang ke atas kita hari ini melalui doa. Kita juga bisa menjadi seperti Simeon dan Hana. Mata kita dapat terbuka untuk melihat keselamatan Allah secara pribadi di dalam Yesus. Kita bisa diberdayakan dan tercerahkan untuk memberitakan keselamatan Allah kepada dunia. Semoga kita berdoa setiap hari agar Roh Kudus mengisi bejana tanah liat yang lemah dari tubuh ini dan mengubahnya menjadi bait suci hadirat Allah yang sejati. Ketika Simeon mengambil bayi Yesus dalam gendongannya, ia mengucapkan doa Nunc Dimittis yang indah (Lukas 2: 29-32). Simeon telah hidup bertahun-tahun. Dia telah melihat dan menikmati banyak hal, tetapi tidak ada yang benar-benar memuaskannya. Sekarang dia berdiri di puncak tahun-tahun ketika dia melihat bayi Yesus dalam gendongan Maria. Inilah pengalaman hebat yang dijanjikan kehidupan dan belum, sampai saat itu, diberikan. Dengan membawa Yesus ke dalam pelukannya, dia berkata, “Tuhan, sekarang aku telah melihat segalanya! Sekarang saya bisa mati dengan puas!…. Karena aku telah melihat Juruselamat …! ”Semua yang telah bertemu Juruselamat dan melihat-Nya tidak melalui mata orang lain tetapi melalui mata iman mereka sendiri siap untuk hidup dan siap untuk mati, karena mata mereka telah melihat Juruselamat dunia. Bagi kami, seperti juga Simeon, bukankah ini inti kehidupan? Bukankah ini sebabnya kita dibawa ke dunia: untuk melihat Yesus, untuk bertemu Dia, mengenal Dia secara pribadi sebagai Juru Selamat kita, untuk mempersembahkan diri kita kepada-Nya sebagai korban yang hidup; untuk membawa 110 Dia ke dalam pelukan kita dan mengasihi Dia? Tuhan memikirkan hal ini ketika Dia menciptakan kita. Dia tidak akan membiarkan kita puas dengan apa pun yang kurang dari keselamatan yang diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus. Simeon bertemu Yesus! Kita juga bisa! Iman bukanlah sesuatu yang kita warisi dari keluarga kita. Iman berasal dari pertemuan pribadi atau perjumpaan dengan Yesus. Kita dapat bertemu Dia dalam doa setiap hari. Kita bertemu Dia di dalam Alkitab. Kita bertemu Dia di setiap liturgi dalam Ekaristi/Perjamuan Kudus. Kita bertemu Dia di hadapan setiap orang yang membutuhkan. Simeon memegang Yesus di tangannya. Kita dapat membayangkan Yesus memegang anak-anak di lenganNya, tetapi di sini ada sesuatu yang sama sekali berbeda: Simeon memegang Yesus dalam pelukannya! Apakah kita tidak diundang untuk melakukan hal yang sama? Tidakkah kita mengingat Yesus ketika kita membaca kata-kataNya yang berharga di dalam Injil dan ketika kita berdoa kepadaNya? Tidakkah kita memegang Dia di dalam hati kita ketika kita menerima tubuh dan darah-Nya yang berharga di dalam Ekaristi? Ketika ini terjadi, kita juga dapat berkata dengan Simeon, “Tuhan, sekarang saya telah melihat segalanya! Sekarang saya bisa hidup dan mati dengan lega! Karena aku telah melihat Juruselamat! ” Simeon berkata dalam nyanyian kemenangan ini bahwa sementara dalam Perjanjian Lama para nabi hanya dapat menyaksikan bagian belakang Allah, ia sekarang melihat Allah berhadapan muka secara langsung dengan pribadi bayi Yesus. Dia sekarang melihat cahaya nyata yang menghalau kegelapan khayalan dan kebodohan dunia. Fakta bahwa tidak lama setelah Simeon melihat Sabda Allah yang menjelma yang ia cari dibebaskan melalui kematian ditafsirkan oleh tradisi suci sebagai kegembiraan besar atas apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Menurut tradisi, Dia ingin pergi ke Hades untuk membagikan kabar baik tentang kedatangan Mesias dengan orang-orang di Hades, semua orang benar dalam Perjanjian Lama, dan menyatakan kepada mereka bahwa Mesias akan segera datang ke Hades untuk membebaskan mereka. Fr. Alexander Schmemann membayangkan dirinya berkata kepada Yesus sama seperti yang dilakukan Simeon: Sekarang, Anda dapat membiarkan saya pergi dengan damai, karena saya telah melihat, saya telah memegang tangan saya, saya telah memeluk makna hidup yang sebenarnya…. Biarkan saya pergi sekarang. Saya telah melihat cahaya yang menembus dunia. Saya telah melihat Sang Anak, yang membawa dunia begitu banyak cinta ilahi dan yang memberikan dirinya kepada saya. Tidak ada yang ditakuti, tidak ada yang tidak diketahui, semuanya sekarang damai, ucapan syukur dan cinta. Inilah yang dibawa oleh Pertemuan Tuhan. Itu merayakan pertemuan jiwa, cinta, bertemu Dia yang memberi saya hidup dan memberi saya kekuatan untuk mengubahnya menjadi antisipasi. Lukas memberi tahu kita bahwa ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus kepada Tuhan, mereka membuat persembahan — pengorbanan— “menurut apa yang dikatakan dalam hukum Tuhan, ‘sepasang merpati atau dua merpati muda.’” Ini adalah persembahan syukur tradisional kepada Allah dari orang miskin untuk hadiah anak laki-laki. Biasanya, hadiah itu adalah domba yang tidak bercela, tetapi Yusuf dan Maria begitu miskin sehingga yang mereka mampu hanyalah dua merpati. Bahkan itu mungkin merupakan tekanan pada anggaran mereka, tetapi mereka tahu bahwa ibadah membutuhkan sesuatu dari mereka. Ibadah — jika itu saleh, suci, mengubah hidup, dan seperti Kristus — selalu menuntut sesuatu dari kita. Itu membutuhkan lebih dari pemberian uang kita, sama pentingnya dengan itu. Itu membutuhkan penyerahan diri total kita. Itu membutuhkan pengakuan. Itu membutuhkan pertobatan. Itu membutuhkan roh yang hancur dan menyesal. Itu menuntut untuk meninggalkan dosa-dosa kita. Itu membutuhkan restitusi. Itu membutuhkan pikulan salib dan mengikuti Yesus. Itu membutuhkan pengorbanan. Menyembah bukanlah penyembahan tanpa “dua ekor merpati,” tanpa pengorbanan. Gregorius Sang Teolog mengingatkan kita bahwa kemiskinan Yesus disebabkan pada kenyataan bahwa, meskipun Dia kaya, Dia menjadi miskin bagi kita melalui inkarnasi-Nya, sehingga kita dapat menjadi kaya dengan keilahian-Nya melalui theosis. 111 Nyanyian Perayaan ini sangat kaya secara tipologis. Itu mengacu pada tradisi Perjanjian Lama yang kaya. Sebagai contoh, kisah visi Yesaya tentang tahta Allah dibaca selama kebaktian (Yesaya 6: 6-7). John Baggley menjelaskan arti dari bacaan ini karena diterapkan secara tipologis pada Perayaan: Teks ini kemudian dilihat dalam terang Inkarnasi sebagai bayangan dari Inkarnasi itu sendiri: batu bara pembakaran yang menghilangkan rasa bersalah dan membawa pengampunan adalah simbol dari Anak yang Berinkarnasi, dan tong-tong dengan mana serafim membawa batu bara dari mezbah surgawi bagi nabi adalah simbol Perawan yang melaluinya Inkarnasi terjadi. Dalam konteks Pertemuan Tuhan, interpretasi tipologisnya tepat: serafim dengan penjepit dan batu bara api efektif dalam memurnikan nabi Yesaya dan mempersiapkannya untuk pelayanannya sebagai seorang nabi, dan lebih banyak lagi pendekatannya. Perawan Bunda yang membawa di lengannya api inkarnasi mempersiapkan Simeon untuk keberangkatan ini untuk mewartakan kepada Adam dan Hawa (dalam Hades) kabar baik Inkarnasi dan misteri rahmat. Visi Yesaya terkait dengan Inkarnasi dalam tradisi interpretatif Gereja. Seperti sebuah troparion (nyanyian pujian) dari Magnificat of the Feast mengatakan: “Maria, Engkau adalah the Mystic Tongs, yang telah mengandung dalam rahimmu Kristus Bara hidup.” Sama seperti nabi Yesaya menerima batu bara hidup dan tidak dibakar tetapi disucikan dan dimurnikan menjadi seorang nabi, demikian juga Simeon yang saleh menerima batu bara hidup dari Theotokos dan tidak dibakar tetapi dimurnikan, menurut perkataan, “Lihatlah, Dia telah menyentuh bibirmu dan mengampuni pelanggaranmu dan menyucikan dosa-dosamu.” Kita hari ini telah melihat jauh lebih banyak daripada yang Simeon lihat. Tuhan telah mengijinkan kita untuk melihat jauh, jauh melebihi apa yang Simeon pikir telah dia lihat ketika dia berkata, “Mataku telah melihat keselamatanmu …” karena Simeon belum melihat semua mukjizat yang Yesus lakukan, terutama kebangkitan-Nya. Dia belum melihat semua martir dan pengakuan Gereja. Kita hari ini yang telah melihat jauh lebih banyak harus memiliki iman yang lebih besar daripada yang pernah dimiliki Simeon. Dalam 1 Petrus 1: 3-9, Rasul Petrus menggambarkan beberapa berkat yang Simeon tidak pernah saksikan. Simeon sering disebut Theodochos atau Tuan Rumah Tuhan di Gereja Timur. Ini karena sangat penting yang ditempatkan pada dia mengambil anak Kristus dari pelukan Maria dan mempersembahkannya kepada Allah. Dipuji sebagai penerima Allah, dia diangkat di hadapan kita sebagai contoh sakral tentang bagaimana kita perlu menerima Kristus, yaitu, bertemu dengan-Nya tidak hanya secara komunal sebagai anggota tubuh-Nya tetapi juga secara pribadi. Apakah kita perlu diingatkan bahwa setiap orang yang menerima Kristus dalam Perjamuan Kudus adalah seorang Theodochos? Bukankah ini menjadikan Simeon simbol bagi setiap orang Kristen sejati? Kata “bertemu” di sini mengingatkan kita bahwa kita masing-masing, yang diilhami oleh Roh Kudus yang sama seperti Simeon, harus mengadakan “pertemuan” pribadinya dengan Yesus dalam konteks Tubuh Kristus, Gereja. Jika hubungan iman kita dengan Yesus ingin menjadi nyata dan menjadi hidup, kita harus bertemu Yesus seperti yang dilakukan Simeon dan Hana pada hari ini. Sebagai contoh, saya suka bertemu dengan Yesus secara pribadi setiap pagi dalam doa dan dalam membaca firman-Nya. Hanya pada saat itu – ketika kita bertemu Yesus dan melihat dengan mata kepala kita sendiri keselamatan Allah – hanya dengan demikian kita dapat “pergi dengan damai.” Hanya dengan demikian hidup akan memiliki makna. Hanya dengan begitu kita dapat mengalami pemenuhan sejati. Apakah kita ingat pertama kali kita pergi ke gereja? Saya tidak, tetapi saya telah diberitahu tentang itu berkali-kali. Kita dapat yakin bahwa Yesus juga sering diberi tahu tentang berkat-Nya selama 40 hari. Dia baru berusia empat puluh hari, dan Lukas memberi tahu kita bahwa Dia dibawa ke bait suci oleh Maria dan Yusuf “setelah pemurnian mereka selesai sesuai dengan hukum Musa.” Umum di Timur dan Barat, inilah ritus indah dari “Gereja Bunda dan Anak pada Hari Ke Empat Puluh Setelah Lahir”. Betapa indahnya bagi orang tua Kristen untuk datang ke gereja dengan anak mereka yang baru lahir pada hari keempat puluh untuk berlutut di hadapan Tuhan dan bersyukur ketika imam membawa anak itu di depan altar untuk mempersembahkannya kepada Tuhan bahkan seperti Yesus. 112 Yesus dibawa ke bait suci tepat empat puluh hari setelah kelahiran-Nya sehingga orang tua-Nya dapat menyerahkan Dia kepada Tuhan. Yesus adalah putra sulung Maria, dan dianggap milik Tuhan dengan cara yang sangat istimewa. Setiap anak milik Tuhan. Anak-anak hanya dipinjamkan kepada kita oleh Tuhan. Itu diberikan kepada kita sehingga kita dapat “mempersembahkan” mereka kepada Tuhan. Tujuan utama kita sebagai orang tua adalah untuk membawa anak-anak kita kepada Kristus, untuk “mempersembahkan” mereka kepada-Nya, untuk membantu mereka tumbuh mengenal Allah di dalam Kristus dengan cara yang sangat pribadi dan nyata. Ini hanya dapat dilakukan oleh Ayah dan Ibu di rumah karena mereka menjalankan iman Kristen mereka 24 jam sehari. Itu tidak dapat dilakukan oleh gereja atau sekolah Minggu. Ini merupakan upaya total dari orang tua untuk melakukannya dan tidak tergantung pada gereja saja untuk pendidikan agama anak-anak mereka. Gereja hanya berusaha menambah apa yang sedang dilakukan di rumah. Apa yang dapat dilakukan satu jam seminggu di gereja dibandingkan dengan 168 jam setiap minggu yang dihabiskan anak-anak di rumah? Jika anak-anak tidak belajar berdoa di rumah, mereka tidak akan pernah belajar berdoa di tempat lain. Jika mereka tidak belajar menikmati membaca firman Allah di rumah, mereka tidak akan pernah mempelajarinya di tempat lain. Yesus dipersembahkan kepada Allah empat puluh hari setelah kelahiran. Kita diperlihatkan kepada Tuhan empat puluh hari setelah kelahiran kami. Tujuan utama kita adalah untuk mempersembahkan diri kita dan anak-anak kita kepada Tuhan setiap hari dalam penyerahan, komitmen, doa, dan pelayanan (Rom 12: 1). Sangat disayangkan bahwa banyak takhayul telah tumbuh di sekitar kebiasaan yang indah ini, yaitu, bahwa adalah sial bagi seorang wanita untuk meninggalkan rumahnya setelah melahirkan sampai dia datang ke gereja untuk upacara ini; atau bahwa seorang wanita dianggap “najis” selama empat puluh hari setelah melahirkan; atau bahwa dia tidak seharusnya pergi ke gereja sampai waktu upacara gerejanya; atau bahwa dia tidak seharusnya menerima Ekaristi sampai setelah upacara ini, dll. Sungguh disayangkan bahwa upacara syukur yang indah kepada Tuhan untuk kelahiran baru ini harus dinodai dan diubah oleh begitu banyak takhayul! Beberapa kebiasaan ini mungkin berlaku dalam Perjanjian Lama di mana, misalnya, seorang wanita dianggap najis setelah melahirkan, tetapi tidak dalam Perjanjian Baru. Kristus, yang adalah kebenaran, telah membebaskan kita dari takhayul. Betapa luar biasa bagi seorang ibu untuk datang ke gereja pada hari keempat puluh dengan suaminya berlutut di hadapan Tuhan dan bersyukur ketika imam membawa anak itu ke altar untuk mengucapkan terima kasih dan syukur. Alkitab memiliki ungkapan yang luar biasa, yang menunjukkan bahwa “melalui kelahiran, seorang perempuan akan diselamatkan” (1 Tim. 2:15). Apa pun arti ayat ini, itu menunjuk pada peran paling penting dalam kehidupan Gereja bagi wanita. Pekerjaan prokreasi hanya dimulai dengan kelahiran anak. Prokreasi tidak berakhir dengan melahirkan. Ini berawal. Orang tua terus menciptakan kehidupan; terus menciptakan kepribadian pada anak-anak mereka dengan jenis suasana iman keluarga yang mereka berikan. Apakah ada tugas yang lebih sakral atau lebih mulia dari ini? Orang tua memiliki hak istimewa yang luar biasa untuk bisa “menyelamatkan” dunia melalui persalinan dan pengasuhan seperti ini. Ikon pertama Allah yang dilihat anak adalah wajah ibu dan ayah. Satu orang berkata, “Awalnya orang tua dan keluarga saya adalah gereja. Mereka adalah orang-orang yang menyampaikan iman kepada saya, yang memelihara saya tidak hanya secara fisik tetapi juga secara rohani. “Mungkin itu sebabnya St. Chrysostom menyebut pernikahan” ikon misterius Gereja “? Dan Rasul Paulus menyebut rumah itu “gereja di rumahmu”? Dan mungkinkah ini sebabnya Klemens dari Aleksandria menyarankan bahwa dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Kristus maka Kristus akan hadir (lihat Mat. 18:20) adalah “suami, istri dan anak”? Agustinus tidak meragukan hal ini ketika dia menulis tentang ibunya, Monica, “yang membawaku untuk melahirkan keduanya di tubuhnya sehingga aku dilahirkan dalam cahaya waktu, dan di dalam hatinya sehingga aku dilahirkan dalam cahaya keabadian ” Anak-anak tidak boleh dibesarkan dalam isolasi. Mereka perlu disambut, dipelihara, dididik, dan dicintai. Pelayanan Gereja Ibu dan Anak membuka pintu bagi pemenuhan tugas sakral ini. 113 Ikon ini menggambarkan Ypapante, Pertemuan Perjanjian Lama dan Baru. Simeon dan Hana, para nabi Perjanjian Lama, bertemu dengan Mesias Perjanjian Baru dan menyatakannya demikian: Adegan “Pertemuan” berlangsung di bait suci, di depan altar, yang diwakili secara ikonografis dengan kanopi, yang merupakan cara sederhana untuk mewakili sebuah bait suci. Di sisi kiri altar berdiri Bunda Allah mengulurkan kedua tangannya yang ditutupi dengan mafor dalam sikap persembahan. Dia baru saja menyerahkan Putranya kepada Simeon, yang menurut Alkitab bukan seorang imam. Di sebelah Bunda Allah berdiri Hana, putri Fanuel, “yang lanjut umurnya ” yang terus menunggu di bait suci “beribadah dengan doa dan puasa,” berharap dengan keinginan besar untuk melihat Mesias. Di sebelah Hana berdiri Yusuf yang membawa lipatan pakaiannya dengan persembahan dari orang tua yang miskin (Im. 12: 8), dua merpati atau dua merpati muda. Simeon, tokoh utama dari ikon itu, disebut “Tuan Rumah Tuhan” (theodochos) dan “Dia yang telah melihat Tuhan” (theoptis). Karena bagi Musa, Allah tampak diselimuti kegelapan, sementara Simeon membawa Firman Allah yang Kekal dalam genggamannya. Anak dalam ikon berpakaian, tidak telanjang. Theotokos terlihat muda. Semua lima tokoh dalam ikon digambarkan dengan lingkaran cahaya. Hana memegang sebuah gulungan yang bertuliskan kata-kata, “Anak ini memciptakan langit dan bumi.” Ekspresi wajah Simeon menyampaikan kata-kata yang diucapkannya, “Tuhan, sekarang biarkan hambamu pergi dengan damai ….” Himne pemberhentian pesta itu jauh lebih sederhana daripada ikon atau Injil karena hanya berbicara tentang tiga tokoh utama: Kristus, Theotokos, dan Simeon: Bersukacitalah, hai kamu yang penuh kasih karunia, hai Perawan Theotokos, karena engkau telah membangkitkan matahari Kebenaran, Kristus, Allah kita, menerangi orang-orang dalam kegelapan. Bersukacitalah, Hai Penatua yang saleh, seperti yang kamu terima dalam pelukanmu, Penebus jiwa kita, Yang juga mengaruniakan kepada kita Kebangkitan. 114 Megalynarion, atau magnificat, untuk pesta itu hanya menyebutkan tiga tokoh utama dan kuil. Hari ini Maria yang paling murni hadir di bait Sang Pencipta sebagai seorang bayi, yang menerima dalam pelukannya, sang Penatua mendeklarasikannya sebagai Tuhan, meskipun Ia mengambil sendiri daging. Sesuai dengan tradisi kuno, tangan Simeon ditutup untuk menghormati keagungan Yesus. Maria dan Yusuf terkejut dengan kejadian itu (Lukas 2:33), karena Simeon juga menubuatkan bahwa kemunculan Kristus akan menimbulkan banyak ketidaksepakatan, dan bahwa Bunda-Nya akan sangat menderita dalam jiwanya, seolah-olah tertusuk oleh pedang (Lukas 2: 34-35). Nabi Hana adalah salah satu yang pertama menyebarkan berita tentang Yesus di antara orang-orang yang sedang menunggu Juruselamat (Lukas 2:38). Simeon tidak digambarkan sebagai seorang imam, juga tidak berpakaian seperti seorang imam, tetapi ia ditempatkan di tangga dekat altar. Setelah menerima anak itu dalam pelukannya, dia membungkuk dengan hormat atas anak itu. Dalam kata-kata John Baggley, “Batu Bara dari Keilahian yang berinkarnasi telah dibawa ke Bait Suci oleh Theotokos sebagai penggenapan nubuat, dan telah disambut dengan sukacita di tangan Simeon.” Receive Him, O Simeon, Whom Moses on Mount Sinai beheld in the darkness as the Giver of the Law. Receive Him as a babe now obeying the Law. For He it is of Whom the Law and the Prophets have spoken, incarnate for our sake and saving mankind. Come let us adore Him!

Referensi: Catena Aurea, https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-63.shtml#_Toc384506963

Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

Annunciation

 Kata Yunani untuk Annunciation, “pemberitaan” (evangelismos) secara harfiah berarti “kabar baik.” Ini mengacu pada inkarnasi dari Firman Allah yang merupakan kabar baik terbesar dalam sejarah. Kabar Sukacita atau Annunciation adalah permulaan yang agung di dalam Kekristenan dan awal dari semua Perayaan Tuhan. Lagu himne dinyanyikan, “Hari ini adalah mahkota keselamatan kita dan manifestasi dari misteri kekekalan ….” Perayaan ini mengacu pada peristiwa di mana malaikat Gabriel mengunjungi Theotokos atas perintah Allah untuk memberitahunya bahwa saatnya telah tiba untuk Inkarnasi Sabda Allah, dan bahwa ia akan menjadi ibu-Nya (Lukas 1: 26-56). Annunciation dirayakan setiap tahun pada tanggal 25 Maret (kalender baru). Perayaan ini pada kenyataannya adalah pesta ganda yang menghormati Tuhan kita dan Bunda-Nya. Theotokos dihormati tidak hanya karena kebajikannya tetapi terutama untuk buah rahimnya. Kabar baik dari Hari Raya yang agung ini adalah bahwa, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor 5:21 TB) Persekutuan penuh antara Allah dan manusia kini telah mapan, sehingga dalam Kristus kita diadopsi jadi anak-anak Allah dan mengalami pengilahian (deifikasi). Putra Allah, yang dari segala kekekalan telah ada di pangkuan Bapa dan telah menjadi instrumen dalam penciptaan alam semesta, sekarang mengosongkan Diri-Nya dari kemuliaan-Nya dan “mengambil rupa seorang hamba.” Allah dan manusia sekarang dipersatukan; kita yang berbeda, tetapi sekarang selamanya tidak dapat dipisahkan. Dia datang untuk membawa pengampunan kepada orang berdosa, penebusan bagi tahanan dosa, kebebasan bagi para tawanan, dan kehidupan bagi orang mati. Metropolitan Hierotheos menyebut Kabar Gembira itu sebagai “Koreksi pengucapan kejatuhan manusia di Taman Eden. Dari seorang perempuan itulah musim gugur dimulai, di sini dari seorang 115 Maria semua hal baik dimulai. Theotokos menjadi Hawa yang baru. Ada Adam, sekarang Kristus. Ada Hawa, sekarang Maria. Di sana ular, di sini Malaikat Gabriel. Di sana ada bisikan ular kepada Hawa, di sini salam malaikat untuk Maria. Dengan cara ini, dosa Adam dan Hawa diatasi.” Ketika malaikat Gabriel mengumumkan kepada Maria bahwa saatnya telah tiba inkarnasi Sabda Allah, Maria mengalami “masalah” dan agak tidak percaya dan ini mengingatkan bagaimana Setan telah menipu Hawa pertama kali. Ini diungkapkan dalam dua nyanyian kebaktian Vesper (sembahyang malam) dan Matins (sembahyang pagi): Maria berkata kepada Malaikat: “Sungguh tidak masuk akal ucapanmu dan penampilanmu yang aneh, ucapanmu yang aneh dan pengungkapanmu. Saya seorang hamba yang belum menikah, jangan sampai membuat aku tersesat. Engkau berkata bahwa aku akan mengandung Dia yang tidak terbatas dan bagaimana rahimku bisa mengandung Dia yang tidak bisa dikandung oleh ruang-ruang luas langit? “O sang perawan, biarkan kemah Abraham yang dulu Allah berdiam di dalamnya mengajari kamu; karena kemah itu adalah figur dari rahimmu, yang sekarang menerima Ketuhanan.” (lihat Kej 18: 1-16) “Aku dipenuhi dengan sukacita akan kata-katamu, tetapi takut: Aku takut kamu menipu aku, seperti Hawa tertipu, dan menuntunku jauh dari Allah. Namun lihat, engkau berseru: Wahai semua pekerjaan Tuhan, berkatilah Tuhan.” “Maria berkata kepada Gabriel, “… Bagaimana ini bisa terjadi, karena aku belum bersuami? ‘Dan malaikat itu menjawab dan berkata kepadanya, ‘Roh Kudus akan turun atasmu, dan kekuatan Yang Mahatinggi akan menaungi kamu; oleh karena itu, juga, Pribadi Kudus yang akan dilahirkan akan disebut Anak Allah” (Lukas 1: 34-35). Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:38 TB). Tanggapan langsung Maria terhadap malaikat agung Gabriel mendorong Metropolitan Philaret dari Moskow menulis: “In the days of the creation of the world, when God was uttering his living and mighty “Let there be,” the word of the Creator brought creatures into the world. But on that day, unprecedented in the history of the world, 116 when Mary uttered her brief and obedient, “so be it,” I hardly dare say what happened then—the word of the creature brought the Creator into the world.” Allah tidak memilih Maria tanpa memintanya menjadi Theotokos. Dia sangat menghormati karunia kehendak bebas yang Dia berikan kepada kita. Setelah Maria menanggapi dengan kata-kata, “jadilah itu… Biarlah itu dilakukan kepadaku menurut kata-katamu,” Gabriel memanggilnya “Salam Maria, penuh rahmat.” Pada saat itu, Maria dibersihkan dari dosa leluhur, dan Firman Tuhan dikandung dalam rahimnya. Inkarnasi bukan hanya karya Allah, dengan kuasa-Nya dan oleh Roh-Nya tetapi juga karya kehendak dan iman Perawan. Tanpa persetujuan dari Yang Tak Bernoda, tanpa persetujuan dari imannya, rencana itu tidak dapat direalisasikan sebagaimana seharusnya. Hanya setelah menginstruksikan dan membujuknya bahwa Tuhan meminjam dagingnya, Maria dengan sukarela meminjamkannya. Sama seperti Kristus menjadi penjelmaan sukarela, jadi Dia berharap bahwa Bunda-Nya harus menanggung Dia dengan bebas dan dengan persetujuan penuh darinya. Maria harus murni untuk menanggung Firman Allah yang murni. Dia harus tidak bernoda, tetapi dia dibuat tak bernoda bukan di dalam rahim ibunya tetapi pada hari Annunciation setelah dia menyetujui permintaan Allah. Saat dia berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu” – pada saat itulah dia dibuat “tak bernoda” – “penuh rahmat ” dan Firman itu dikandung di dalam dirinya oleh Roh Kudus. Karena alasan inilah beberapa orang menyebut ikon Kabar Sukacita sebagai ikon Inkarnasi. Dari saat persetujuan Maria, Yesus dikandung dalam rahim yang baru lahir dan mulai secara fisik hadir di bumi. Inkarnasi dimulai pada Hari Annunciation. Sembilan bulan setelah Peringatan (25 Maret), Firman itu lahir (25 Desember). Karena alasan inilah Gabriel berkata kepada Maria setelah penerimaannya, “Bersukacitalah, Maria, penuh rahmat, Tuhan menyertai kamu, terberkatilah kamu di antara wanita-wanita” (Lukas 1: 28-29). Origenes mencatat bahwa di tempat lain dalam Alkitab tidak ada kata-kata yang ditujukan kepada manusia. Seperti kita, Maria dilahirkan dengan dosa 117 leluhur. Dia memiliki semua konsekuensi dari kefanaan dan kematian di tubuhnya. Kata-kata Rasul Paulus jelas: “… semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23). Pada saat persetujuannya itulah Maria dilepaskan dari dosa asal. Pada saat itulah Roh Kudus mengandung firman Allah di dalam rahimnya. Pada saat inilah dia dibuat tak bernoda. Metropolitan Hierotheos menulis, “Therefore for the Panagia (Mary) no Pentecost, no Baptism was needed. What the apostles experienced on the day of Pentecost when they became members of the Body of Christ through the Holy Spirit, and what happens to all of us in the sacrament of Baptism, happened to the Panagia on the day of the Annunciation. It was then that she was released from the ancestral sin, not that she had any guilt, but she was deified in soul and body by reason of her union with Christ.” BEBERAPA DETAIL DARI IKON Di semua versi ikon, Maria di sebelah kanan dan malaikat utama Gabriel di sebelah kiri. Bagian atas ikon memiliki bola terungkap sebagian yang merupakan simbol surga. Itu menunjukkan kehadiran Allah Bapa. Dalam kebanyakan ikon, sinar cahaya memancar dari bola ke Maria. Itu melambangkan Roh Kudus yang menaungi Maria. Malaikat Gabriel muncul di sebelah kiri dengan sayap untuk menandakan kecepatan malaikat terbang untuk melaksanakan perintah Allah. Mereka tidak berjalan atau berlari; mereka terbang. Dalam banyak ikon Annunciation, Maria digambarkan memegang benang yang dengannya ia menjahit kerudung untuk Mahakudus di Bait Suci. John Baggley menyatakan, “In some icons Mary is shown holding the yarn; in others it (the yarn) is shown falling to the ground as she lets go and attends to the appearance and message of the Archangel. Work on the veil for the Temple is allowed to fall aside as Mary attends to the higher vocation announced by Gabriel. The task of needlework that is being accomplished for the Jerusalem Temple is laid aside at the moment when Mary is called upon to fulfill her vocation to be the Temple of God…. From this moment she will be the Theotokos, the God-Bearer, the One through Whom the second Adam will be born. She is to prepare not only furnishings for the Jerusalem Temple, but the very flesh and humanity of Him whose presence heralds a New Creation. She becomes the Living City of Christ the King.” Dalam banyak ikon Annunciation, dua bangunan di latar belakang dihubungkan oleh kain merah, simbol pemulihan atau keutuhan yang dimungkinkan oleh Inkarnasi. Hubungan antara Allah dan manusia dipulihkan. “Dinding pemisah permusuhan” antara mereka telah dihapus. Satu catatan juga bahwa Gabriel tampaknya sedang melayang sementara Maria duduk. Karena dia adalah makhluk spiritual, Gabriel tampaknya tidak berdiri di lantai tetapi melayang di atasnya. Dalam ikon itu, Maria mengarahkan tangannya ke arah malaikat agung meminta jawaban atas keraguan yang menyerangnya dan pada saat yang sama menundukkan kepalanya saat dia menyatakan kepatuhannya. Dalam banyak ikon, ia menempelkan telapak tangannya ke dadanya— isyarat penerimaan atau ketaatan pada kehendak Tuhan. “Lihatlah tangan hamba Allah, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Vladimir Lossky menjelaskan ikon Annunciation sebagai ikon yang mengungkapkan kesukaan besar: “Like the Gospel story (Luke 1:26-38) and the religious service of the feast, the icon of the annunciation is permeated with deep inner joy. It is the joy of the Old Testament promise being fulfilled through the incarnation of the Redeemer of the world. “To-day is the beginning of our salvation and the manifestation of the Eternal Mystery. The Son of God becometh the Son of the Virgin, and Gabriel announceth the good tidings of grace. Wherefore let us also with him cry to the Mother of God: Hail Thou that art full of grace; the Lord is with Thee.” This joy is in the colours, in the festive renderings of details, and in the posture of the Archangel. The majority of icons depict him in swift motion: he has just descended from heaven and “his look is the look of a diligent servant intent on carrying out the task given by his Master.” His legs are wide apart as though he were running. In his left hand he holds a staff, the symbol of a messenger, his right hand, with a strong movement, is stretched towards the Virgin Mary; he communicates to her the glad tidings from his Master, the Mystery of the Divine Providence.” Tindakan Allah Tritunggal dinyatakan melalui ikon ini. Malaikat Gabriel mengumumkan kehendak Bapa. Sang Anak dikandung dalam rahim Theotokos. Roh Kudus, melalui kuasa-Nya, menyelesaikan Inkarnasi ilahi. 118 Aplikasi Perayaan Annunciation, Kabar Sukacita besar, akan kehilangan makna sebenarnya jika hal itu tidak menjadi pribadi dan dialami oleh kita masing-masing. Perayaan ini harus menjadi perayaan pribadi kita dan pemberitaan pribadi kita. Para Bapa Gereja mengatakan bahwa Firman Allah adalah benih; hati manusia adalah rahim. Ketika benih ini ditaburkan di dalam hati kita (rahim), kita harus bekerja untuk memungkinkan Roh Kudus menghamili kita dengan buah-buah Roh Kudus. Rasul Paulus menyatakan, “Anak-anakku, karena demi kamu aku menderita sakit bersalin lagi sampai rupa Kristus terbentuk di dalam kamu” (Gal 4:19). Usaha kita adalah perjuangan askesis untuk dimurnikan dari hawa nafsu dan memungkinkan Kristus dibentuk di dalam diri kita (pengilahian). Apa yang terjadi secara fisik kepada Maria, Theotokos yaitu mengandung bayi Ilahi harus terjadi secara rohani kepada setiap orang percaya yang dibaptis karena Kristus dibentuk di dalam kita seperti Dia dibentuk di dalam rahim Ibu-Nya. Inilah alasan mengapa Ikon Tanda, Theotokos dengan mandorla Kristus di dalam rahimnya, muncul di dinding depan banyak gereja Orthodox untuk mengingatkan kita bahwa tujuan hidup kita adalah untuk “mengenakan Kristus.” Ketika dia pergi mengunjungi sepupunya, Elizabeth, yang pada saat itu sedang mengandung Yohanes Pembaptis, Elizabeth menyapa Maria dengan kata-kata ini: “lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lukas 1:42-43 TB) Dan Maria sendiri, dengan ilham Roh Kudus, meramalkan kehormatan yang akan dibayarkan kepadanya sepanjang sejarah: “sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48 TB) Amin! Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012. 119

Palm Sunday

Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, 13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” 14 Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: 15 “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.” 16 Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia. 17 Orang banyak yang bersama-sama dengan Dia ketika Ia memanggil Lazarus keluar dari kubur dan membangkitkannya dari antara orang mati, memberi kesaksian tentang Dia. 18 Sebab itu orang banyak itu pergi menyongsong Dia, karena mereka mendengar, bahwa Ia yang membuat mujizat itu. 19 Maka kata orang-orang Farisi seorang kepada yang lain: “Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.” (Yoh 12:12-19 ITB) Kebangkitan Lazarus Banyak orang menyaksikan kebangkitan Lazarus oleh Yesus di Betania dan kemudian mereka memberikan kesaksian tentang peristiwa itu kepada banyak orang di Yerusalem. Yesus membuat mukjizat: membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari (baca Yohanes 11:1-44). Gereja memperingatinya sebagai Sabtu Lazarus atau Kebangkitan Lazarus sehari sebelum perayaan Yesus memasuki Yerusalem pada hari Minggu, satu minggu sebelum Perayaan Paskah atau Kebangkitan Yesus. Dua perayaan ini saling berkaitan. Kebangkitan Lazarus adalah mukjizat besar terakhir yang dilakukan Yesus sebelum kebangkitan-Nya pada hari Paskah. Kebangkitan Lazarus adalah bayangan dari kebangkitan Yesus. Seperti peristiwa Transfigurasi Yesus di gunung Tabor (Mat 17:1-13) dimaksudkan untuk memperkuat iman para murid bahwa mereka mungkin dapat menanggung penderitaan yang akan datang dan kematian Yesus, demikianlah mukjizat kebangkitan Lazarus dimaksudkan untuk para murid sebagai suatu demonstrasi yang tidak terbantahkan akan kuasa dan kemenangan Kristus atas kematian. Sekali lagi Kristus mencoba untuk memperkuat iman para 120 murid-Nya sebelum penderitaan-Nya, sehingga mereka dapat percaya bahwa Ia akan bangkit dari kubur seperti yang dilakukan Lazarus (Mat. 20:19; Mar 9:31; Luk 18:33). Namun, Yesus tidak berhasil meskipun Dia telah menubuatkan kebangkitan-Nya. Peristiwa kebangkitan Lazarus ini membuat banyak orang datang ke Yerusalem menyongsong Yesus (Yoh 12:18) dan menyambut-Nya dengan penuh sukacita. Mereka mengambil daun-daun palem (Yoh 12:13) dan menghamparkan pakaian mereka di jalan (Mat 21:8) sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”. Yesus disambut dengan luar biasa dan gemparlah seluruh Yerusalem (Mat 21:10). Yesus yang menunggangi seekor keledai muda adalah Raja Israel yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama: Mazmur Daud 118:25-26 dan Nabi Zakariah 9:9-10. Namun sebetulnya apa yang mereka harapkan dari seorang Raja Israel bukanlah Raja secara politik yang sementara melainkan Raja yang Kerajaan-Nya kekal selamanya mencakup seluruh penjuru dunia seperti nubuat nabi Zakariah. Orang-orang membawa daun palem melambai-lambai tetapi ini adalah sambutan yang diberikan orang kepada pemimpin militer besar, Yudas Maccabeus, ketika dia menaklukkan tentara Suriah dan mengambil alih Yerusalem (lihat 1 Makabe 13:51). Apakah Yesus ingin disambut sebagai pemimpin militer? Kerumunan menyatakan harapannya bahwa Dia akan menjadi Raja mereka. Mereka menyambut Dia sebagai orang yang datang dalam nama Tuhan: “Raja Israel.” Mereka mencari seorang raja Daud, seorang penakluk. Tetapi tanggapan Yesus adalah tanpa kata-kata. Dia justru mengambil binatang yang rendah hati, seekor keledai muda, dan naik ke Yerusalem untuk memenuhi perkataan nabi Zakharia bahwa seorang raja yang rendah hati, yang akan ditikam dan dibunuh, akan datang dengan menunggang keledai muda (Zak 9:9). Yesus sebagai 121 Raja Israel adalah Raja yang rendah hati. Tunggangan keledai muda adalah kegenapan dari nubuat nabi Zakaria 9:9-10. Keledai muda di sini adalah simbol kerendahan hati sang Raja yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28). Kebangkitan Lazarus dan Yesus memasuki Yerusalem adalah masa Pekan Kudus atau Minggu Kesengsaraan Kristus yang puncaknya pada hari penyaliban dan kematian Kristus di atas kayu salib. Anak-anak, Daun Palem, dan Pakaian Di dalam Ikon dilukiskan bahwa mereka yang memotong daun Palem, melambaikan daun-daun itu, dan menghamparkan pakaian mereka di jalan adalah anak-anak kecil bukan orang dewasa. Ini mengandung makna spiritual tentunya. Mengapa anak kecil? Yesus pernah mengajarkan, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Mk. 10:15 TB) Daun Palem adalah simbol sukacita. Daun ini digunakan untuk menyambut orang-orang berpangkat tinggi seperti raja atau jenderal perang. Daun ini juga berfungsi sebagai simbol keberanian atau tindakan heroik. Demikianlah orang-orang berkumpul di gerbang kota untuk menyambut Tuhan menunggang keledai sebagai penakluk maut. Sebagian besar ikon menggambarkan Juruselamat mengendarai ke samping. Kepalanya sedikit diputar ke arah para Rasul yang berjalan di belakang-Nya atau ke Yerusalem. Tangan kanannya memberkati atau menunjuk ke kerumunan atau kota. Seorang penulis membayangkan apa yang pasti dipikirkan Yesus ketika ia pergi ke Yerusalem: Yesus nampak sepenuhnya berkonsentrasi pada sesuatu yang lain. Dia tidak melihat kerumunan yang bersemangat. Dia tidak melambai. Dia melihat melampaui semua kebisingan dan gerakan menuju apa yang ada di depannya: perjalanan pengkhianatan, penyiksaan, penyaliban, dan kematian yang menyakitkan. Matanya yang tidak fokus melihat apa yang bisa dilihat oleh siapa pun di sekitarnya; dahinya yang tinggi mencerminkan pengetahuan tentang hal-hal yang jauh melampaui pemahaman siapa pun. Ada kemurungan, tetapi juga kedamaian. Ada wawasan tentang kekerasan hati manusia, tetapi juga belas kasih yang luar biasa. Ada kesadaran yang mendalam tentang penderitaan yang tak terkatakan tetapi juga tekad yang kuat untuk melakukan kehendak Allah. Di atas segalanya, ada cinta, cinta yang tak berkesudahan, dalam, dan jauh yang lahir dari keintiman yang tak terpatahkan dengan Allah dan menjangkau semuanya. Penghamparan pakaian juga menyimbolkan atribut dari seorang raja yang diurapi (2 Raj 9:13). Karena Juruselamat adalah Yang Diurapi yang “Kerajaannya bukan dari dunia ini” (Yoh 18:36), pakaian dibagikan di hadapan-Nya oleh anak-anak bukan oleh orang dewasa. Anak-anak yang menyambut Dia sebagai Yang Diurapi yaitu Kristus. Kita adalah anak-anak Allah yang melepaskan pakaian lama kita untuk menyambut Kristus dan mengenakan pakaian yang baru (Gal 3:27). Melepaskan pakaian lama adalah menanggalkan manusia lama dan mengenakan pakaian Kristus yaitu manusia baru (Efe 4:24). Pakaian Kristus yang kita kenakan mewajibkan kita untuk meneladani Dia. Kita menanggalkan pakaian lama atau manusia lama kita yang penuh dosa, ikut menderita seperti Dia menderita, berjuang sampai akhir hidup, menyerahkan nyawa kita di atas kayu salib seperti Dia menyerahkan nyawa di atas kayu salib (1 Yoh 3:16). Sebab itu perintah Yesus jelas kepada pengikut-Nya, “Menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Kita harus ikut menderita memikul salib, mengalami penyaliban daging beserta keinginannya (Gal 5:24) sampai pada puncaknya kita mati menyerahkan nyawa kita (1 Yoh 3:16) adalah wujud partisipasi kita dalam penderitaan Kristus (Kol 1:24). Hanya anak-anak yang demikian yang layak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun, di tengah perjuangan kita ada daun-daun Palem yang anak-anak Allah pegang. Ini adalah simbol kemenangan dan sukacita bahwa Kristus telah menang atas penderitaan, dosa, Iblis, dan maut sekalipun. Ketika kita mengikuti Kristus yang menang ini kita pun akan ikut menang seperti Kristus. Ada daun Palem yang kita pegang setiap hari yang mengingatkan akan kemenangan Raja kita. Sebab itu Yesus juga mengajarkan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 122 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Mat 11:28-30) Ada kontras antara anak-anak dan orang dewasa. Metropolitan Hierotheos berkomentar tentang perbedaan dalam menanggapi Yesus antara anak-anak dan bapak-bapak mereka: “Fakta yang paling bertentangan adalah bahwa anak-anak menyanyikan puji-pujian bagi Kristus sebagai Tuhan, sementara bapak mereka, para imam kepala dan ahli Taurat, menghujatnya. Bapa Gereja Cyril dari Aleksandria membuat pengamatan yang sangat baik, menggarisbawahi perbedaan ini. Dia mengatakan bahwa anak-anak mengenali Tuhan ciptaan secara alami, sementara bapak mereka terbukti tidak berterima kasih. Anak-anak menyanyikan pujiannya sebagai Tuhan, sementara bapak mereka menyalibnya. Anak-anak menyanyikan hosanna, sementara ayah mereka berteriak “biarkan dia disalibkan.” Yang muda dan bodoh dibuat bijaksana, sementara yang bijak dibutakan. Anak-anak melempar pakaian mereka agar Kristus dapat lewat, sementara ayah mereka membagi atau membuang pakaian Kristus. Anak-anak menyambut Kristus dengan daun Palem, ayah mereka datang dengan pedang. Anak-anak memberkati, sementara ayah mereka menghujat Dia. Anak-anak sebagai domba menerima gembala, tetapi ayah mereka seperti serigala melahap Anak Domba.” Ada momen ratapan dalam prosesi Minggu Palma yang penuh sukacita ini. Ketika Yesus menyaksikan pemandangan Yerusalem dalam perjalanan turun dari Bukit Zaitun selama prosesi, Dia menangisi kota itu karena Dia meramalkan kehancuran yang akan menimpanya sebab penolakan kota itu atas Dirinya (Lukas 19: 41-44). Hosana Kata “Hosanna” yang digunakan pada Minggu Palem adalah bahasa Ibrani dan berarti “Selamatkan, aku berdoa.” Kata ini berasal dari Mazmur 118: 25-27. Ini adalah sebuah nyanyian pujian yang dipersembahkan kepada Allah dan diartikan sebagai “selamatkan kami.” “Di tempat maha tinggi” menunjukkan bahwa pujian kepada Tuhan tidak hanya ditawarkan di bumi tetapi juga di ketinggian oleh para malaikat (St. Gregorius Palamas). 123 Kata “diberkati” – “diberkati orang yang datang dalam nama Tuhan” – juga digunakan pada Minggu Palem untuk memperingati Yesus yang datang “dalam nama Tuhan.” St Nikodemos, orang Hagior mengatakan bahwa kata ini memiliki makna ganda. Ini digunakan untuk menunjukkan kekudusan yang berasal dari Tuhan dan diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Demikian juga, kata berkat digunakan untuk menunjukkan pemuliaan dan ucapan syukur kita seperti dalam mazmur: “Berkatilah TUHAN, hai jiwaku; dan semua yang ada di dalam diriku, berkatilah nama-Nya yang kudus ” (Maz 103:1). Kedua ungkapan ini memiliki makna kristologis yang dalam. Ungkapan “Hosana di tempat yang maha tinggi” menunjuk pada nama agung Ketuhanan, sementara frasa “diberkati yang datang dalam nama Tuhan” menunjuk pada kedatangan Mesias, yang sekarang memasuki Yerusalem dengan sedikit kesedihan. Pohon Pohon di ikon memiliki arti ganda. Tujuan utamanya adalah bahwa itu adalah sumber dari cabangcabang palem yang diangkut orang. Beberapa ikon menunjukkan seorang anak di dahan pohon yang patah. Tujuan keduanya adalah melambangkan “pohon” (salib) di luar tembok kota tempat Yesus disalibkan. Salah satu nyanyian Gereja untuk perayaan Minggu Palem mengatakan, “Dia yang duduk di atas takhta kerubim, demi kita, duduk di atas seekor keledai; dan datang ke Penderitaan sukarela, hari ini Dia mendengar anak-anak berseru, “Hosana!” 124 Siapa Dia? Pelajaran Injil yang dibaca dalam Matius 21:1-11, 15-17 berbicara tentang masuknya Yesus ke Yerusalem pada Minggu Palem: “Dan ketika Ia datang ke Yerusalem, seisi kota bertanya, “Siapakah orang ini?” Siapa Dia? Itu adalah pertanyaan yang diajukan Pilatus ketika Yesus berdiri di depannya. Itu adalah pertanyaan yang sama yang ditanyakan Saulus ketika dia pertama kali bertemu Yesus di jalan menuju Damaskus ketika dia berseru, “Siapakah Engkau, Tuhan?” “Siapa kamu?” Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepadaNya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” (Mark 14:61-62 TB) Siapa Dia? Dua kali dalam pelayanan Kristus, suara Allah Bapa terdengar dari surga, memberi tahu kita siapa Yesus ini. Pada saat pembaptisan Kristus suara Bapa berkata dari surga, “Ini adalah Anakku yang terkasih kepada-Nya Aku berkenan.” Banyak orang mendengarnya, dan itu dicatat untuk diketahui sejarah. Pada Transfigurasi dalam pendengaran tiga murid-Nya, suara Bapa terdengar lagi berkata, “Ini adalah Putraku yang terkasih; dengarkan dia.” Suatu hari Pilipus berkata kepada Yesus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. (Yoh 14:8-10 TB) Jadi, inilah siapa Yesus itu. Tuhan yang sejati dan manusia sejati dalam pribadi yang sama. Juruselamat kita satu-satunya. Jalan, Kebenaran, Hidup. Tetapi pertanyaan yang sangat penting adalah, “Siapakah Yesus bagimu?” “Apakah Dia Anak Allah bagi kita? Apakah Dia Juruselamat untuk saya? Apakah Dia Jalan untukmu? Apakah Dia Kebenaran untukmu? Apakah Dia Hidup untukmu? Apakah Dia pintu untukmu? Dia adalah Yesus yang datang naik ke Yerusalem dari jiwamu dan milikku setiap Minggu Palem. Dia datang untuk membangun takhta di mana Dia dapat memerintah dan membuat kerajaan Allah menjadi kenyataan dalam diri kita masing-masing. Gereja memberi kita daun Palem pada hari ini. Kita harus menggunakan ini untuk mengakui bahwa Yesus memang Raja dan Tuhan pribadi kita. Secara teknis, daun Palem harus dibagikan dalam Ibadah sehingga para penyembah dapat menahan mereka selama liturgi untuk menyambut Kristus ketika Dia datang sebagai Raja kita dalam membaca Firman dan dalam Perjamuan Kudus. Siapakah Dia? Kita berdoa supaya kita menjawab seperti yang Petrus jawab, “Kamu adalah Kristus, Anak Allah yang Hidup,” jangan sampai kita muncul di hadapan-Nya pada hari penghakiman Dia berkata tentang kita, “Siapakah kamu? Aku tidak pernah mengenalmu. Enyahlah dari saya.” Amin!

Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message.Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

Kenaikan Kristus Ke Sorga

Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. (Yoh 3:13) Kristus berasal dari Sorga karena Dia adalah Firman Allah yang keluar dari Bapa mengenakan kemanusiaan dari Maria (Yoh 6:46; 7:28-29; 13:3; 8:42; 16:27-28,30; 17:7-8). Kristus naik ke Sorga setelah inkarnasi, kematian, penguburan, dan kebangkitan. Dia kembali kepada asalnya dan akan datang kembali untuk membawa kita kepada Allah (1 Pet 3:18). Kenaikan Kristus ke Sorga memberikan kita waktu dan tempat untuk bertumbuh mengikuti jejak Kristus. Kenaikan Kristus ke Surga menjadikan kita Kristus-kristus kecil yang diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk mengerjakan perintah Kristus di dunia (Kis 1:8). Roh Kudus akan turun dan tinggal di dalam diri orang percaya (Yoh 7:38-39) sehingga melalui kita sebagai Kristus kecil dan dengan kuasa Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh 16:8). Roh Kudus akan memberitakan kepada dunia segala sesuatu tentang Kristus (Yoh 16:13-15). 126 Kenaikan Kristus ke Surga menunjukkan jalan kepada kita menuju Surga atau Bapa (Yoh 14:4-6). Sehingga manusia memiliki arah tujuan yang jelas dalam hidup ini yaitu manunggal bersama Allah dan Kristus (Yoh 17:3). Kenaikan Kristus ke Surga dan lalu duduk di sebelah kanan Allah menjadi satu bukti bahwa Kristus adalah penguasa (baca Tuhan) baik yang di bumi maupun di Surga (Efe 1:20-23; Kol 1:15-20; 1 Pet 3:22). Kristus adalah Tuhan (Yoh 13:13) sehingga seluruh hidup kita adalah milik Kristus (Rom 1:6; 1 Kor 3:23). Kita memiliki Roh Kristus atau Roh Kudus (Rom 8:9) sehingga kita adalah manusia ilahi atas God-man by grace. Betapa mulianya kita bisa percaya dan menyembah Kristus. Dia adalah Firman Allah yang berinkarnasi, Anak Tunggal Allah, pola ciptaan manusia dan Juruselamat manusia, Jalan untuk membawa manusia kepada Allah, Tuhan dan Pemilik hidup manusia, dan tujuan hidup orang percaya. Sehingga ketika Dia sedang ada di Sorga sekarang merupakan jaminan kita akan menyatu dengan Allah dalam Kristus. Hidup ini memang mulia dan layak dijalani karena kita akan menjadi seperti Kristus yang sempurna di Sorga. Anthony Coniaris menulis, “Life is worth living for many reasons. It is worth living because Christ loves you. It is worth living because Christ died for you and rose again to give you life. It is worth living because with Christ, life is both eternal and abundant. But life is worth living, above all, because in Christ your destiny is theosis, becoming Christ-like, god by grace. Therefore choose Christ and live. With Christ, life can be lived meaningfully, divinely, royally, victoriously, and eternally.” (Philokalia, 1998). Ikon Kenaikan Ikon Kenaikan dilukiskan pada abad keenam dan digambarkan di kubah gereja pada abad kesembilan. Kenapa kubahnya? Karena itu adalah titik tertinggi dari bangunan gereja. 127 Bagian atas ikon menggambarkan Kristus bertahta dengan latar belakang mandorla oval, yang mengekspresikan keilahian-Nya. Lingkaran itu bertuliskan Salib dan kata-kata Ho On (“Yang Ada”). Tangan kanan Kristus diangkat dalam berkat (Lukas 24:50), dan di tangan kiri-Nya Dia memegang sebuah gulungan, lambang kebijaksanaan dan otoritas pengajaran-Nya, yang terus Dia gunakan melalui Gereja. Dua Malaikat Dua malaikat muncul bersama-Nya ketika Dia naik — malaikat yang sama yang menyanyikan pujian bagi-Nya pada Inkarnasi-Nya; Malaikat yang sama yang melayani Dia ketika dia berdoa di Taman Getsemani; Malaikat yang sama hadir juga pada kenaikan-Nya. Sebagaimana Nabi Raja Daud menulis, “Dia naik kerub dan terbang; ia melayang di atas sayap angin ”(Mazmur 18:10). Malaikat tidak mendukung mandorla karena Juruselamat kita naik dengan kekuatan-Nya sendiri dan tidak membutuhkan bantuan mereka. Dalam beberapa versi ikon Kenaikan, sebagaimana telah dinyatakan, malaikat digambarkan meniup sangkakala sesuai dengan kata-kata antifon, “Allah naik dengan sorakkan, TUHAN dengan bunyi sangkakala” (Mazmur 47: 5) . Rasul Paulus digambarkan sebagai penonton di kepala sekelompok murid di sisi kiri ikon. Namun secara historis, dia tidak mungkin bersama para murid di Kenaikan. Dia termasuk untuk mewakili semua orang yang percaya kepada Kristus tanpa hadir pada saat ini. Para murid tampak agak bingung karena mereka belum diperkuat oleh kuasa khusus Roh Kudus (Pentakosta). Theotokos menempati posisi yang menonjol di tengah bawah ikon dengan dua malaikat berdiri di sisinya. Dia dipandang tidak hanya sebagai Bunda Juru Selamat, tetapi sebagai Bunda Gereja, karena dia melayani sebagai jembatan Allah bagi umat manusia. Perhatian para murid terbagi. Beberapa memandang Maria; yang lain memperhatikan Kristus yang naik, sementara Maria memandang ke arah penonton dengan tangan terangkat dalam orans (doa). Dia sendirian di antara para murid membawa ekspresi ketenangan pada apa yang terjadi. Ekspresi tenangnya adalah ekspresi yang lahir dari kepercayaan penuh pada Putranya sebagaimana diungkapkan dalam tiga ayat dari Nyanyian Akathistos: Salam, tangga surgawi yang dengannya Allah turun. Salam, menjembatani orang-orang terkemuka dari bumi ke surga. Salam, pilar api, membimbing mereka dalam kegelapan. Sebagai gambaran Gereja, Maria berdiri tepat di bawah Kristus, tangannya terangkat dalam doa ketika dia bersyafaat kepada-Nya untuk kita. Meskipun Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang Maria yang hadir di Kenaikan, tradisi mengajarkan dengan tegas bahwa dia hadir. Lagu no. 9 Kanon mengatakan, “Bersukacitalah, Bunda Kristus, Allah kita, melihat dengan para rasul-Nya, yang Engkau ajak naik ke surga dan memuliakan Dia.” Ouspensky dan Lossky menggambarkan topografi ikon: Menurut Kitab Suci (Kisah Para Rasul 1:12), Kenaikan Tuhan kita terjadi di Gunung Olivet atau Bukit Zaitun. Oleh karena itu dalam ikon aksi terjadi baik di puncak gunung … atau di lanskap berbukit. Untuk menunjuk Bukit Zaitun, beberapa pohon zaitun kadang-kadang digambarkan. Sesuai dengan pelayanan khusus festival, Juruselamat Sendiri diwakili sebagai naik dalam kemuliaan kadang-kadang duduk di atas takhta hiasan yang kaya. Tahta bukanlah simbol alkitabiah bagi Kristus, yang datang untuk membasuh kaki, bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Dia datang untuk memerintah bukan dari tahta tetapi dari salib. Sejauh ini takhta terbaik bagi Kristus adalah hati yang rendah hati dan bertobat. Dengan demikian, Pesta Kenaikan terjadi. Seluruh proses keselamatan: kelahiran, gairah, kematian, dan kebangkitan dilengkapi dengan Kenaikan.

Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

Pentakosta: Karya Roh Kudus

Kisah Para Rasul 2 2: 1-13 Ide Utama: Pentakosta Ide-ide Pendukung: 1. Roh Kudus turun dalam bentuk lidah api dan hinggap dalam orang-orang percaya 2. Orang Yahudi diaspora berkumpul di Yerusalem 3. Terjadi mukjizat banyak orang percaya berkata-berkata dalam bahasa lain kepada orangorang Yahudi. 4. Respons: ada yang tercengang dan tidak percaya/menyindir. Pentakosta adalah hari Roh Kudus turun kepada orang-orang percaya untuk memberikan kuasa pertama kali (berbicara dalam berbagai bahasa) untuk menjadi saksi kepada orang-orang Yahudi (termasuk Yahudi diaspora) di Yerusalem. Injil tidak lagi menjadi lokal tetapi bersifat universal mulai Yahudi sampai Yahudi Diaspora, dan berbagai suku bangsa di seluruh dunia (Kis 1:8). 129 2: 14-40 Ide utama: Khotbah Petrus Ide-ide Pendukung: 1. kutipan nubuat nabi Yoel à hari Tuhan yakni hari penghakiman 2. kutipan nubuat Daud dalam Mazmur à pengharapan di tengah kesesakan 3. Inti khotbah Petrus: Yesus Kristus adalah Tuhan dan Kristus. Nubuat Yoel dan Daud digenapi dalam diri Yesus Kristus. 4. Respons: banyak orang bertobat dan diberi diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Khotbah Petrus melengkapi peristiwa Pentakosta di atas. Kuasa Roh Kudus memberikan kuasa hikmat dan keberanian bagi Petrus untuk memberitakan firman kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem secara lantang. 2: 41-47 Ide utama: cara hidup jemaat mula-mula Ide-ide Pendukung: 1. Tekun dalam pengajaran rasul 2. Tekun dalam persekutuan untuk memecahkan roti dan berdoa 3. Bersatu 4. Berbagi bersama dalam harta milik sesuai keperluan masing-masing 5. Disukai semua orang 6. Banyak yang semakin tertarik dan percaya kepada Yesus Kristus sehingga jumlah bertambah Cara hidup jemaat melengkapi kuasa firman dalam memberitakan Injil keselamatan kepada orangorang Yahudi di Yerusalem. Konsep Teologis Lukas mengajarkan bahwa kuasa Roh Kudus yang pertama kali bekerja adalah pada saat Pentakosta. Roh Kudus memberikan mukjizat kepada orang percaya untuk berkata-kata kepada orang-orang Yahudi dari berbagai bangsa di dalam bahasa mereka. Tujuannya supaya Injil diberitakan dalam bahasa mereka. Injil mulai pertama kali bergerak ke lingkaran luar yakni orang-orang Yahudi diaspora. Injil diberitakan pertama kepada orang Yahudi lalu kepada mereka yang sudah lama tinggal di negara-negara lain. Selain itu, kuasa Roh Kudus juga bekerja lewat firman Tuhan yang diberitakan oleh Petrus dan juga bekerja lewat kesaksian hidup jemaat yang berbeda dengan masyarakat pada waktu itu. Secara supranatural kuasa Roh Kudus bekerja memberikan mukjizat dan juga secara natural kuasa Roh Kudus bekerja lewat pemberitaan Injil dan kesaksian hidup yang seturut dengan Injil. Roh Kudus melahirkan Gereja Yang Universal dan Apostolik. Para Rasul menjadi saksi pertama kuasa Roh Kudus bekerja. Mereka tidak tinggal diam namun bekerja dan menderita seketika lamanya. Gereja lahir karena perpaduan karya Roh Kudus melalui karya para Rasul dan diteruskan melalui para murid Rasul sampai sekarang. Pemberitaan Injil dan perilaku hidup Gereja mula-mula menjadi semacam dinamo penggerak ke mana-mana karena kuasa Roh Kudus. Roh Kudus berkarya dalam setiap hati manusia yang mau terbuka (percaya) pada karya Kristus sehingga hatinya yang awalnya gelap dan dosa menjadi terang dan suci. 130 Bagaimana Roh Kudus berkarya? Rasul Paulus mengajarkan, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rom 10:12-15). Peranan Gereja adalah mengutus setiap orang beriman untuk memberitakan Injil. Sebelum Gereja lahir, Kristus mengutus 12 Rasul dan 12 Rasul sebagai pendiri Gereja mengutus kita sampai sekarang dan kedatangan Kristus. Roh Kudus akan bekerja jika kita memberitakan Injil. Injil yang diberitakan itu disertai kuasa Roh Kudus sehingga mereka yang mendengarkan itu dapat membuka hatinya yang gelap untuk diterangi Injil sehingga mereka bisa mengenal Allah yang menyelamatkan mereka. Roh Kudus tidak berkarya sendiri tetapi bersinergi dengan Gereja. Gereja yang hidup adalah gereja yang bersinergi dengan Roh Kudus sehingga bisa bergerak menjadi saksi Kristus di manapun. Gereja mengutus dan Roh Kudus akan menyertai setiap orang beriman. Kiranya hari Pentakosta ini kita terus boleh bersinergi dengan Roh Kudus sehingga kehidupan kita dipenuhi oleh Roh Kudus dan kita menjadi kudus. Seperti yang dikatakan oleh Anthony Coniaris, “Every action of the Christian should be a spiritual act, inspired and guided by the Holy Spirit. Spirituality is in effect, opening all of life to God. It can be described biblically as “being holy as God is holy”, “seeking first the kingdom of God and His righteousness,” “putting on Christ,” “being filled with all the fullness of God.” St. Seraphim of Sarov taught that the“true Christian life” is to be “clothed with the Holy Spirit.” To live is “to be in the fullness of the Spirit.”” St. Theophan the Recluse menuliskan, The economy of our salvation is accomplished! The operation of all the Persons of the Most Holy Trinity have now come into effect to accomplish it. What God the Father has willed, the Son of God fulfilled in Himself, and the Holy Spirit has now descended in order to impart it to the faithful. For our salvation is according to the foreknowledge of God the Father, 131 through sanctification of the Spirit, unto obedience and sprinkling of the Blood of Jesus Christ (I Pet. 1:2). For this sake we are baptized in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Ghost, obliged, to observe all things whatsoever I have commanded you(Matt. 28:19–20). Those who do not confess the Most Holy Trinity cannot participate in the saving action of Its Persons and thus receive salvation. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit, the Trinity one in essence and undivided, granting us confession of Itself! “O Father Almighty, and Word, and Spirit, one nature united in three Persons, transcendent and extremely divine! Into Thee have we been baptized, and Thee shall we bless throughout all ages.” (Thoughts for Each Day of the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God by St. Theophan the Recluse) Penjelasan Ikon Faktor pembeda pertama dari ikon Keturunan Roh Kudus adalah bahwa kedua belas rasul duduk di bangku setengah lingkaran saling berhadapan. Dalam beberapa ikon lainnya kita melihat para rasul dalam keadaan kesatuan. Berbagai macam warna dan gerak tubuh para rasul menyampaikan kebenaran bahwa persatuan tidak selalu berarti bahwa tidak ada perbedaan. Beberapa percaya bahwa setengah lingkaran mewakili kemahahadiran Tuhan. Mereka menyebutnya sebagai setengah lingkaran surga. Pada kenyataannya itu adalah simbol Gereja yang disatukan oleh Roh Kudus. Dalam ikon itu, tidak ada sosok yang identik dengan yang lain untuk menunjukkan bahwa “ada beragam karunia …” dan “ada beragam operasi.” Kepada yang diberikan oleh Roh, Kata-Kata Bijaksana; yang lain Firman Pengetahuan … kepada yang lain karunia penyembuhan … “dan seterusnya (1 Kor. 12: 4-31). Tetapi Roh yang sama yang memberikan karunia ini. Manifestasi lain dari Roh Kudus, embusan angin tidak dapat ditunjukkan secara nyata, tetapi dapat dilihat secara tidak langsung dengan melihat ekspresi terkejut pada wajah para rasul. Mungkin lebih dari apa pun, ikon ini menunjukkan komunitas para rasul saat berdoa, menunggu dengan tenang Tuhan di Ruang Atas untuk kedatangan Roh Kudus. Beberapa ikon menunjukkan sinar cahaya turun ke atas para rasul untuk menandakan ilham dari Roh Kudus. Ada dua belas sinar atau lidah api untuk melambangkan baptisan mereka dengan Roh Kudus dan dengan api sesuai dengan nubuat Yohanes Pembaptis (Mat 3: 2). Kadang-kadang lidah api ditempatkan di lingkaran cahaya atau tepat di atas kepala untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus turun dalam bentuk bahasa lidah. Kebingungan bahasa yang mengakibatkan pembangunan menara Babel sekarang digantikan oleh pengetahuan baru tentang bahasa yang diberikan kepada para rasul oleh Roh Kudus untuk menciptakan kesatuan yang harmonis dalam Gereja. Para rasul diwakili dalam ikon ini dengan cara yang tidak historis. Beberapa rasul yang berada di Ruang Atas pada hari Pentakosta digantikan oleh Paulus dan penulis Injil Markus dan Lukas karena mereka adalah orang-orang yang melaluinya Injil diberitakan “sampai ke ujung bumi.” Ketika Paulus ditunjukkan, ia biasanya ditampilkan di kanan atas di sebelah Petrus. Dalam ikon kuno, banyak orang yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul digambarkan di bagian bawah ikon yang mewakili seluruh Gereja. Pada waktunya mereka digantikan oleh satu figur simbol yang mewakili kita semua. Itu adalah sosok yang disebut “Kosmos,” yang berarti dunia. Kosmos duduk di tempat yang gelap, sujud dengan tahun-tahun (dan dengan demikian seorang tua). Dia biasanya mengenakan pakaian merah dengan mahkota kerajaan di kepalanya. Di tangan kanannya ia memegang kain putih berisi dua belas gulungan. Dia duduk di tempat yang gelap karena seluruh dunia sebelum Kristus telah gelap tanpa iman. Dia ditundukkan selama bertahun-tahun karena dia menjadi tua karena dosa Adam. Mahkota kerajaan menandakan dosa, atau nafsu, yang telah menguasai dunia. Kain putih di tangannya dengan dua belas gulungan mewakili dua belas rasul yang membawa terang ke dunia melalui pengajaran mereka. Jadi, masing-masing dari kita diwakili dalam ikon Turunnya Roh Kudus karena dalam ibadah kita menjadi orang sezaman dengan peristiwa (Pentakosta) yang kita rayakan. Bagaimana? Melalui doa dan melalui liturgi yang merupakan kelanjutan dari misteri Pentakosta. Karena liturgi adalah Pentakosta dan juga Paskah. Dengan demikian, bagi Kekristenan, Pentakosta adalah pesta yang 132 berkelanjutan. Roh Kudus Kebenaran Tuhan Yang Berdaulat Semesta, membimbing dan melindungi umat yang hadir di mana-mana, meluap semua yang ada: Datang dan tinggal di dalam kita membersihkan kita dari segala dosa; mencurahkan berkat pada kami, memberi kami hidup segar, dan dalam kasih sayang yang murah hati membawa kami ke keselamatan. Amin.

Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

Transfigurasi Yesus

Peristiwa di atas gunung yang ditulis oleh Matius 17:1-13 adalah Pengubah-Muliaan atau Transfigurasi Yesus. Peristiwa ini adalah the uncreated light manifested through His human body. Kemanusiaan Kristus memanifestasikan Keilahian-Nya sehingga manusia yang berada di dalam Kristus akan mengalami pengilahian. Kemanusiaan kita akan menjadi ilahi. His Humanity manifested His Divinity. Transfigurasi mengajarkan the Uncreated Light permeates humanity, sehingga in Christ humanity can be divinized dan ini yang disebut Theosis (2 Pet 1:4; 1 Yoh 3:2). Manusia yang di dalam Kristus akan mengalami transfigurasi sama seperti Kristus. Kita akan menjadi serupa Kristus. Gambar Allah akan menjadi serupa Allah. Gambar Kristus akan menjadi Rupa Kristus. Dan Kristus adalah manusia pertama yang mengalami transfigurasi. Dia adalah manusia ilahi dan siapapun yang menyatu di dalam Dia akan mengalami keilahian atau pemuliaan. Jiwa akan mengalami kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus dari sekarang sampai akhir zaman (Efe 4:13). Tubuh kita akan mengalami transfigurasi atau pemuliaan pada saat Hari Tuhan atau akhir zaman nanti ketika Kristus datang dalam kemuliaan (Fil 3:20-21). Transfigurasi adalah tujuan akhir hidup manusia. Kita sekarang sedang menuju transfigurasi. Tubuh kita yang masih fana akan menjadi mulia kelak. Namun tubuh yang fana ini telah mengenakan atau memakai pakaian baru sehingga tubuh ini sangat berharga. Dan Kristus sendiri adalah pakaian baru tersebut. Dia telah menjadi pakaian buat kita sehingga penampilan kita adalah penampilan Kristus (Gal 3:27). Tubuh kita yang fana tertutupi pakaian kemuliaan Kristus karena Kristus sendiri telah mengalami pemuliaan atau transfigurasi. Pakaian yang baru yakni pakaian kemuliaan Kristus akan memuliakan tubuh kita sehingga menjadi terang. Itulah sebabnya mengapa kita bisa menjadi terang dunia. Itu semua karena Kristus. Kita menjadi terang di hadapan Allah karena Kristus telah membungkus kita. Pakaian Kristus adalah manusia baru, jiwa baru, yang akan terus memancarkan terang kepada dunia sehingga tubuh ini dan keinginannya akan semakin dimatikan untuk kemudian dibangkitkan memperoleh tubuh kemuliaan. Tubuh dan keinginan kita sekarang sedang mengenakan pakaian Kristus yang penuh terang. Tanpa pakaian Kristus maka kita sebetulnya telanjang di hadapan Tuhan dan gelap di hadapan Dia karena tubuh ini memang melayani hukum dosa (Rom 134 7:26). Kata Rasul Paulus, “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran” (Rom 8:10). Sehingga sangat penting bagi kita mengenakan Kristus (Gal 3:7). Dia telah menjadi pakaian terang karena Dia telah mengalami transfigurasi. Tanpa transfigurasi Yesus tidak ada pakaian terang kemuliaan. Tanpa pakaian Kristus tubuh ini tidak mengalami terang. Tanpa transfigurasi Yesus manusia tidak bisa menjadi ilahi dan menjadi satu natur dengan Kristus. Seperti kata John Chrysostom, “Since he has said something great and remarkable, he also explains how one is made a son. “For as many of you as were baptized into Christ have put on Christ.” Why didn’t he say, “All you who were baptized into Christ have been born of God,” since that is the inference from showing that they were sons? Because what he says is more aweinspiring. For if Christ is the Son of God and you put him on, having the Son inside yourself and being made like him, you have been made one in kind and form.” (Catena Commentary on Galatians) Jadi, manusia menjadi ilahi karena mengenakan pakaian Kristus yang mengalami transfigurasi. Seperti yang Bapa Gereja Bede tuliskan, “If anyone asks what the Lord’s garments, which became white as snow, represent typologically, we can properly understand them as pointing to the church of his saints [who] … at the time of the resurrection will be purified from every blemish of iniquity and at the same time from all the darkness of mortality. Concerning the Lord’s garments the Evangelist Mark remarks that “they became as bright as snow, such as no bleacher on earth can make them white.” It is evident to everyone that there is no one who can live on earth without corruption and sorrow. So it is evident to all who are wise, although heretics deny it, that there is no one who can live on earth without being touched by some sin. But what a cleansing agent (that is, a teacher of souls or some extraordinary purifier of his body) cannot do on earth, that the Lord will do in heaven. He will purify the church, which is his clothing, “from all defilement of flesh and spirit,” renewing [her] besides with eternal blessedness and light of flesh and spirit.” (Catena Commentary on Mark) Petrus, Yohanes, dan Yakobus begitu takut dan takjub apa yang terjadi pada Yesus. Allah Bapa mengafirmasi transfigurasi Yesus. Mereka meyaksikan pengalaman yang sangat menakjubkan sehingga muka mereka jatuh ke tanah. Namun Kristus menyentuh mereka. Tidak ada seorangpun yang tahan akan kemuliaan Allah jika tidak disentuh oleh Kristus. Tanpa Kristus kita akan berada dalam ketakutan menghadapi terang Allah. Tidak ada seorangpun yang tahan berdiri di hadapan Allah jika bukan karena Kristus. Bapa Gereja Cyril dari Alexandria menuliskan, “Through their speaking together it shows that the old prophets also spoke the same things as Jesus, even if enigmatically. In great awe the disciples fell on their faces, and the Savior raised them up. This shows that if Jesus had not been incarnate and had not been Mediator between God and humanity and strengthened his own nature, he would not have endured to hear the voice of God.” (Catena Commentary on Matthew) Ketakutan akan lenyap menghadapi Hari Tuhan jika kita 135 telah berada dalam Kristus. Mari satu aksi nyata yang kita harus lakukan adalah senantiasa mengenakan pakaian Kristus sehingga tubuh dan keinginannya dikendalikan dari hawa nafsu dosa dan melakukan perintah Kristus. Ikon Transfigurasi Seperti halnya sebagian besar ikon, ikon perayaan ini menunjukkan aspek historis dan kekal peristiwa itu. Dalam ikon kita melihat gunung, Kristus dalam pakaian putih yang bersinar, dan Musa dan Elia. Kita melihat Yesus “yang menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara [kepada mereka] tentang kepergian-Nya [kematian-Nya] yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Lukas 9:31). Akhirnya kita melihat tiga murid yang “jatuh di atas muka mereka, dan penuh kekaguman” (Mat. 17: 6). Ini adalah detail dari peristiwa sejarah; tetapi mereka diatur pada ikon sedemikian rupa untuk menekankan makna batin dari peristiwa tersebut. Keenam sosok itu, bukannya tampak kecil di atas gunung, benar-benar menaungi gunung itu, dan gunung itu sendiri biasanya ditampilkan sebagai satu gunung dengan tiga puncak, menggarisbawahi Transfigurasi sebagai wahyu dari Allah Tritunggal: Anak yang diubah rupa; Bapa yang dengan suara-Nya bersaksi tentang Anak-Nya; dan Roh yang bersinar bersama dengan Anak di awan yang terang. Jadi baik ikon ini maupun ikon baptisan Yesus melibatkan manifestasi Trinitas (Theofani). Norman Russell menggambarkan representasi Transfigurasi tertua yang masih ada: Representasi Transfigurasi tertua yang masih hidup ada di apse biara abad ke-6 St. Catherine di kaki Gunung Sinai. Di sini kita melihat Kristus berjanggut dalam pakaian putih dan emas berdiri, dengan tangan kanannya diangkat dalam rahmat, dalam mandorla biru (latar belakang berbentuk almond) dengan latar belakang emas. Delapan sinar memancar darinya, dua yang menyamping menyentuh sosok Elia dan Musa yang berdiri di kedua sisinya, tiga yang lebih rendah menjangkau Yohanes, Petrus, dan Yakobus yang digambarkan berlutut atau berbaring. 136 Mosaik dibuat sekitar tahun 560, pada zaman Kaisar Justinian. Pada saat itu kontroversi berkobar tentang bagaimana kodrat ilahi dan manusia harus dianggap berkaitan satu sama lain. Di sini, di mosaik kita memiliki representasi yang menakjubkan dari sosok manusia yang ditembakkan dengan keilahian. Penafsiran manusia dan ilahi tanpa pemisahan atau kebingungan diberikan secara visual dengan cara yang hampir tidak dapat dicapai dalam teks tertulis. Yang juga luar biasa adalah bagaimana figur manusia berpartisipasi dalam kemuliaan ilahi. Ada transisi yang mulus dari sosok Kristus yang bercahaya dan hampir tidak berwujud ke tokoh-tokoh Elia dan Musa yang tenang di sampingnya, dan kemudian ke sosok para rasul yang gelisah di kakinya. Status masing-masing mungkin berbeda, tetapi semua dikelompokkan di sekitar Kristus dengan latar belakang emas. Seperti yang dikatakan Andreopoulos, bagian “yang diubah bentuk” tidak dibagi dari bagian “berjuang” seperti pada ikon-ikon selanjutnya: “theosis tampaknya lebih dapat dicapai di sini daripada dalam penggambaran selanjutnya.” Ketika kita melihat ikon Transfigurasi, kita melihat bahwa itu jelas dibagi menjadi dua bagian yang kira-kira sama: bagian atas, yang menunjukkan wahyu ilahi, dan bagian bawah, yang menunjukkan respons manusia. Di tengah bagian atas adalah Kristus yang berubah rupa. Mata kita tertuju kepadaNya karena posisi sentral-Nya dan pakaian putih-Nya yang berkilau. Dia dikelilingi oleh mandorla, bentuk melingkar, oval, atau lonjong-oval yang terlihat pada banyak ikon lainnya, termasuk yang dari Kebangkitan dan Kenaikan. Dalam mandorla, Kristus dinobatkan dalam kemuliaan. Mandorla menunjukkan kemuliaan ilahi, dan biasanya biru, warna yang sering digunakan dalam ikonografi untuk menunjukkan ilahi. Di sebelah kanan dan kiri Kristus adalah Elia dan Musa. Keduanya nampak menunjukkan bahwa Kristus adalah penggenapan hukum dan para nabi. Hukum diwakili oleh Musa, yang memegang buku loh hukum yang ia terima di Gunung Sinai. Para nabi diwakili oleh nabi Elia, yang tidak mati tetapi diangkat ke surga dengan kereta berapi. Yang mati diwakili oleh Musa, yang hidup oleh Elia. Baik Musa dan Elia telah mengalami penglihatan tentang Allah, yaitu, Musa di Mt. Sinai dan Elia di Mt. Carmel: Musa di awan tebal di Mt. Sinai; Elia atau Elias di Gunung Karmel di mana Allah berbicara kepadanya dengan berbisik, “suara pelan.” Di bagian bawah ikon, posisi tiga murid menunjukkan respons manusia terhadap wahyu yang luar biasa ini. Yakobus dan Yohanes muncul dalam postur keheranan: sujud, berlutut, jatuh di wajah mereka atau kadang-kadang jatuh ke belakang; sering mereka diperlihatkan menutupi wajah mereka atau melindungi mata mereka, dan dalam banyak ikon mereka bahkan ditampilkan kehilangan sandal mereka, mengingat Mt. Sinai tempat Musa diminta melepas sandalnya karena ia berada di tanah suci. Petrus, di sisi lain, biasanya digambarkan menoleh ke arah Tuhan untuk menunjukkan keinginan yang menuntunnya untuk berkata, “Senang berada di sini.” Dalam beberapa ikon ia juga, melindungi matanya, tetapi pada yang lain ia menunjuk ke arah Tuhan, seolah mengarahkan perhatian kita kepada-Nya. Bagian bawah ikon jauh lebih gelap daripada bagian atas yang kecerahannya mengungkapkan cahaya yang jauh lebih terang daripada matahari. Kekacauan pakaian para rasul menunjukkan dampak dramatis penglihatan itu terhadap mereka. Kehadiran Musa dan Elia menjadi saksi fakta bahwa Yesus adalah Mesias yang Diharapkan, yang merupakan penggenapan Hukum (Musa) dan para nabi (Elia). Tiga sinar cahaya yang memancar dari tubuh Kristus menunjuk kepada para murid di bawah ini. Ada perbedaan yang mencolok antara ketenangan bagian atas dan dinamisme bersemangat dari bagian bawah. Para murid terpesona oleh pemandangan Cahaya yang Tidak Diciptakan. Petrus dapat dikenali dari janggutnya yang pendek dan rambutnya yang tebal dan ikal, dan Yohanes dengan jubah merahnya. Seringkali Petrus berlutut, Yohanes terlempar ke belakang, dan Yakobus melindungi dirinya sendiri. Ikon tersebut menunjukkan Perjanjian Lama (Musa dan Elia) dan murid-murid Perjanjian Baru (Petrus, Yakobus, dan Yohanes) mengakui Yesus sebagai Mesias yang Diharapkan. Musa diizinkan untuk hanya melihat Allah kembali dalam Perjanjian Lama; sekarang dia melihat Tuhan “berhadapan muka”. Elia hanya diizinkan untuk mendengar “suara kecil” Tuhan; sekarang dia mendengar suara penuh Tuhan dan melihat-Nya “berhadapan muka.” Ini terjadi dalam agama yang lebih menekankan sifat transendental Allah. Jika kita hadir, kita mungkin menderita serangan jantung tetapi karena rahmat Tuhan. Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.

Tertidurnya Bunda Maria

Saudara dan saudari yang terkasih! Hari ini seluruh dunia Kristen dengan penuh kemenangan merayakan hari istirahat Bunda Allah yang paling bersinar. Tampaknya peristiwa yang dirayakan ini akan menjadi sedih dan penuh dengan air mata, karena kita menghadapi kematian; namun Gereja suci hari ini dihiasi pakaian kemenangan, bersukacita dan ditinggikan, dan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama. Mengapa kita harus bersukacita pada hari ini tertidurnya Bunda Allah? Karena kata “tidur” saja menunjukkan bahwa kematian Bunda Allah itu tidak biasa. Saat itu tidur, yang segera diikuti oleh kegembiraan yang membangunkan. Selama beberapa hari sebelum Dormition of the Most Pure Virgin, Malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya dengan kabar tentang kematiannya yang dekat dari kehidupan ini. Dipenuhi dengan iman yang dalam terhadap kehidupan yang diberkati di masa depan, dia menerima kabar ini bukan dengan ketakutan dan kesedihan, tetapi dengan perasaan sukacita yang hidup dan rasa syukur yang besar kepada Tuhan. Pada saat yang sama, kuasa Allah yang mahakuasa mengumpulkan para rasul dari seluruh dunia ke Yerusalem, sehingga mereka dapat memberikan penghormatan kepada Bunda Allah dan menguburkannya. Pada jam yang sama dengan istirahatnya, cahaya yang luar biasa menerangi rumah Perawan Suci, dan melalui keterbukaan Surga, semua yang hadir melihat Tuhan Yang Mulia Sendiri bersama para malaikat dan orang suci, turun untuk bertemu ibu-Nya. Rasul Thomas, melalui pengecualiaan khusus Allah, muncul setelah penguburan Yang Paling Murni. Dia ingin 138 memuliakannya dan karena itu membuka makamnya, tetapi tubuh Bunda Allah tidak dapat ditemukan di dalam makam itu. Tubuhnya telah terangkat ke Surga dan sekarang ada bersama dengan Putranya. Dengan cara yang begitu menakjubkan, Sang Perawan Maria Yang Terberkati menghibur semua orang Kristen, terutama dengan penuh kemenangan memanifestasikan kekuatan dan keagungan Tuhan kita Yesus Kristus, yang oleh kematian dan kebangkitan-Nya menghancurkan sengat maut, dan dari sesuatu yang mengerikan, menyakitkan, menjadi sesuatu yang menyenangkan dan diberkati bagi para pengikut setia-Nya. Sebelum kedatangan Kristus di bumi, kematian sangat menakutkan bagi manusia, karena ia merenggutnya seperti seekor binatang buas yang menjadi mangsanya — tidak dapat disangkal lagi — dan tidak ada cara untuk menghindarinya, karena dosa berkuasa atas manusia. Tetapi setelah kemunculan Tuhan dalam daging dan kemenanganNya atas dosa dan kematian, kengerian kematian menghilang; menjadi seolah-olah tidur nyenyak, setelah itu menyingsing pagi yang menggembirakan dari Kebangkitan. Untuk mengukur bahwa kita masing-masing mengalahkan dosa yang masih hidup di dalam kita, rasa takut akan kematian lenyap, sehingga para pemenang dosa yang menang bertemu dengan sukacita, dan tidak lagi mati tetapi dengan sungguh-sungguh tertidur lelap. Kita melihat contoh paling jelas dari kemenangan atas maut ini di tertidurnya Bunda Maria – Dormition of the Most Pure Virgin Mary. Dia bersandar di makamnya hanya untuk istirahat sebentar. Mengikuti Bunda Allah kita melihat para rasul, martir, dan semua orang kudus, bertemu kematian dengan sukacita. St. Symeon of Thessalonica menuliskan bahwa, “The fast in August [Dormition fast] was established in honor of the Mother of God the Word; Who, foreknowing Her repose, ascetically labored and fasted for us as always, although She was holy and immaculate, and had no need for fasting. Thus, She especially prayed for us in preparation for being transported from this life to the future life, when Her blessed soul would be united through the Divine spirit with Her Son. Therefore, we also should fast and praise Her, emulating Her life, urging Her thereby to pray for us. Some, by the way, say that this fast was instituted on the occasion of two feasts—the Transfiguration and the Dormition. I also consider it necessary to remember these two feasts—one which gives us light, and the other which is merciful to us and intercedes for us.” Saint Ambrose of Milan (December 7) menuliskan di dalam “On Virgins” tentang ini: “She was a Virgin not only in body, but also in soul, humble of heart, circumspect in word, wise in mind, not overly given to speaking, a lover of reading and of work, and prudent in speech. Her rule of life was to offend no one, to intend good for everyone, to respect the aged, not envy others, avoid bragging, be healthy of mind, and to love virtue. When did She ever hurl the least insult in the face of Her parents? When was She at discord with Her kin? When did She ever puff up with pride before a 139 modest person, or laugh at the weak, or shun the destitute? With Her there was nothing of glaring eyes, nothing of unseemly words, nor of improper conduct. She was modest in the movement of Her body, Her step was quiet, and Her voice straightforward; so that Her face was an expression of soul. She was the personification of purity. All Her days She was concerned with fasting: She slept only when necessary, and even then, when Her body was at rest, She was still alert in spirit, repeating in Her dreams what She had read, or the implementation of proposed intentions, or those planned yet anew. She was out of Her house only for church, and then only in the company of relatives. Otherwise, She seldom appeared outside Her house in the company of others, and She was Her own best overseer. Others could protect Her only in body, but She Herself guarded Her character.” Gereja mengajarkan untuk tidak takut terhadap kematian dan menyebut orang-orang yang kita kasihi yang sudah mati itu seperti “diam” yaitu,seolah tertidur, karena orang Kristen begitu yakin ada kehidupan di masa depan setelah kematian sehingga dia benar-benar memandang kematian sebagai tidak lebih seperti tidur. Ikon Di sebelah kiri, ikon menggambarkan Rasul Petrus menyensor tubuh Theotokos. Di sebelah kanan dengan tangan terselubung, Rasul Paulus ditunjukkan membungkuk rendah di kaki biara. Perkembangan ikonik kemudian menggambarkan gerbang terbuka surga, siap untuk menerima tubuh Perawan. Lilin yang diletakkan di depan ranjang menggemakan citra salah satu nyanyian rohani pada masa itu, “Putramu, hai Perawan, benar-benar telah membuatmu berdiam di Tempat Mahakudus sebagai sebatang lilin yang terang, menyala dengan api tak berwujud, sebagai sebuah pedupaan emas menyala dengan batu bara ilahi. ”Yang terpotret di antara para rasul adalah tiga uskup awal dengan jubah dan lingkaran cahaya: Rasul Yakobus, uskup pertama Yerusalem, Timotius Hierotheus, dan Dionysius, orang Areopagit. Sangat menarik untuk dicatat bahwa para rasul berkumpul di ranjang kematiannya sama seperti mereka pernah berkumpul dengannya di Ruang Atas ketika Roh Kudus turun untuk memberdayakan gereja yang baru didirikan (Kisah Para Rasul 2). 140 Kita memperoleh pemahaman yang penting tentang kematian melalui ikon yang indah ini. Ketika kita mati, tubuh tertidur di dalam Tuhan dan ditempatkan di kuburan (dari kata Yunani koimitirion), yaitu, tempat di mana seseorang tidur. Tubuh memang akan tidur di sana sampai Kedatangan Kedua Yesus. Jiwa, bagaimanapun, dibawa ke surga oleh Yesus, persis seperti yang digambarkan Yesus dalam ikon ini, merangkul dan membawa jiwa ibu-Nya ke surga. Pada Kedatangan Kedua, Yesus akan membangkitkan (membangkitkan) tubuh yang terkubur (tertidur) dan menyatukannya kembali dengan jiwa. Demikianlah “kita akan bersama-sama dengan Tuhan,” seperti yang ditulis Rasul Paulus. Jika kita kehilangan orang yang dicintai baru-baru ini betapa menghiburnya dengan bermeditasi pada ikon ini. Betapa menghibur melihat orang yang kita kasihi dalam pelukan Yesus, yang membawanya pulang ke tempat khusus yang telah Ia persiapkan bagi mereka yang mengasihi Dia. Seperti yang Dia janjikan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Tuhan, percayalah juga pada aku… Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu di mana aku berada, di sanalah kamu berada ”(Yohanes 14: 1-4). Pesta Tidurnya Maria, yang dirayakan sejak abad keempat, tidak disebutkan dalam Alkitab. Itu hanya bagian dari tradisi suci. Karena alasan ini, ini bukan ajaran resmi (dogma) Gereja Ortodoks karena Gereja Roma yang menyatakan Dormition dogma pada tahun 1950 di bawah Pius XII. Gereja Ortodoks tidak menyatakan pengajaran sebagai dogma (pengajaran resmi Gereja) kecuali jika itu muncul baik dalam tradisi suci maupun dalam Alkitab. Dengan demikian, Dormition adalah kepercayaan yang saleh di Gereja Ortodoks. Namun itu adalah kepercayaan yang tidak bertentangan dengan Alkitab. Apa yang Yesus lakukan untuk Theotokos, Dia lakukan untuk mengantisipasi apa yang akan Dia lakukan untuk kita semua pada Kedatangan Kedua. Sama seperti tubuh Theotokos diangkat ke surga, demikian pula tubuh kita setelah kebangkitannya pada Kedatangan Kedua. Di Barat, The Dormition disebut sebagai the Assumption of the Virgin Mary, sementara di Timur disebut Tertidurnya Theotokos (Dormition). Itu adalah perisitiwa yang sama. Kedua gereja percaya pada asumsi total, tubuh dan jiwanya. Ketika seseorang mengunjungi situs pemakaman Theotokos di Yerusalem hari ini, ia menemukan sebuah makam kosong. Dormition dirayakan pada 15 Agustus di Timur dan Barat. Gereja Barat percaya bahwa tubuh Theotokos tidak dikuburkan di Yerusalem tetapi di Efesus. 141 Maria hidup untuk periode waktu yang cukup lama di bawah asuhan Rasul Yohanes di Efesus, di mana dia menjadi uskup. Ada kemungkinan bahwa sebelum kematiannya dia kembali ke Yerusalem, di mana sampai hari ini ada Gereja Tidur Bunda Allah. Catatan sejarah tertua bersaksi bahwa Theotokos dimakamkan di sana, di mana sebuah gereja kemudian didirikan di sekitar makamnya. Di depan tubuh Perawan, dalam beberapa ikon, ada karakter kecil yang aneh yang mencoba untuk mengganggu usir wanita, dan seorang malaikat datang untuk memukulnya. Poin yang terlibat di sini adalah argumen, diputuskan di Dewan Efesus, tentang Theotokos, dan upaya pada waktu itu untuk mengacaukan iman Gereja bahwa dia memang Bunda Allah (Theotokos) dan bukan hanya ibu dari Yesus (Christotokos). Semua ini diperlihatkan oleh satu sosok kecil ini, mencoba untuk mengacaukan yang menjadi sandaran tubuh Perawan. Paul Evdokimov menjelaskan aspek Dormition yang menarik ini secara terperinci: Ikon perayaan itu memuat perincian tentang seorang imam Yahudi, Athonius, yang melihat usungan jenazah para rasul menempatkan tubuh Theotokos, ingin membalikkannya. Dia menjadi buta, dan ikon lebih lanjut menunjukkan tangannya terputus oleh seorang malaikat. Namun, menerima pengajaran para rasul, ia menangis “Alleluia,” dan dipulihkan. Ini jelas merupakan cara pengajaran yang simbolis bahwa kultus Perawan Suci hanya dapat dijelaskan dari dalam kehidupan liturgis interior dan Tradisi Gereja. Dengan demikian, ikon yang luar biasa ini membantu menjelaskan kepercayaan kita tentang kematian yang sekarang menjadi musuh yang dikalahkan berkat kebangkitan Yesus, yang mengubah kematian menjadi pintu yang menuntun pada kehidupan abadi. Dalam banyak kasus penempatan adegan Tidur di dinding barat gereja, secara tradisional lokasi penggambaran Penghakiman Terakhir, bersaksi tentang makna eskatologis ikon ini, yang dipandang sebagai pendahulu kebangkitan umum yang akan terjadi pada penghakiman terakhir. Di gereja-gereja Bizantium, penyembah menghadap ke timur dalam ibadah. Di depannya adalah layar ikon yang melacak sejarah dari raja-raja dan bapa bangsa Perjanjian Lama, kepada Yesus dan para rasul, kepada orang-orang kudus setempat di anak tangga terendah. Di dinding barat yang berlawanan biasanya ada ikon baik Dormition atau Penghakiman Terakhir. James S. Billingham menggambarkan arti ikon ini sebagai berikut, “Pengadilan Terakhir adalah masa depan dan jemaat di tengah gereja adalah masa kini. Mereka berdiri di antara masa lalu dan masa depan ini, dan mereka keluar dari gereja, melihat apa yang ada di depan mereka setelah mereka menjalani hari-hari mereka.” John Baggley menjelaskan pesan ikon sebagai berikut: Iman yang diekspresikan dalam ikon Tidur ini adalah iman yang mengubah pandangan kita tentang kematian dari satu kehilangan yang tidak dikurangi menjadi salah satu pujian dan harapan. Seperti para rasul berkumpul di sekitar tubuh Bunda Allah, kita berkumpul di sekitar tubuh orang-orang yang kita kasihi ketika kita mengambil bagian dalam upacara pemakaman mereka. Seperti Bunda Allah sendiri, kita memuji jiwa kita ke tangan Putranya. Seperti jutaan orang Kristen di hadapan kita, kita berdoa agar ikatan kekerabatan yang mengikat kita bersama dalam tubuh Kristus dan Perjamuan Kudus akan mendukung kita berdua ketika kita berdoa bagi mereka yang telah melewati gerbang kematian, dan ketika kita mempersiapkan diri kita sendiri untuk menapaki jalan yang sama. Seperti jiwa Maria dalam pelukan Putranya, kita berharap untuk dilahirkan kembali ke dalam kehidupan baru Zaman yang Akan Datang, yang telah kami rasakan sebelumnya dalam kehidupan ini. Ikon ini menggambarkan bahwa orang Kristen tahu bagaimana kisah hidup akan berakhir. Itu akan disempurnakan pada Perjamuan Anak Domba di Yerusalem baru, yang “bait suci adalah Tuhan Allah Yang Mahakuasa dan Anak Domba” (Why 21:22). Di sini Allah akan “menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi, dan tidak akan ada lagi ratapan, tangisan, dan kepedihan, karena hal-hal yang lama telah berlalu” (Wahyu 21: 3a, 4).

Referensi: http://orthochristian.com/106015.html https://oca.org/saints/lives/2019/08/15/102302-the-dormition-of-our-most-holy-lady-the-mother-ofgod-and-ever-v

Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012

Kesimpulan

Semua hari – hari, minggu – minggu , serta bulan – bulan yang telah penulis buat dapat mengingat kembali akan perayaan – perayaan yang bersejarah dan dapat diperingati kembali dalam kehidupan sehari – hari.

Aplikasi

Mari kita terapkan setiap tanggal yang tercantum dalam perayaan – perayaan penting ini dengan berpuasa, berdoa, membaca firman Tuhan serta mengingatnya dalam setiap aspek kehidupan kita Amin


[1] Diterjemahkan dari https://oca.org/saints/lives/2019/04/20/148976-apostle-zacchaeus

[2] Dikutip dari https://www.ecatholic2000.com/cyril2/untitled-64.shtml#_Toc385694966

[3] Dikutip dari https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-103.shtml#_Toc384507003

[4] http://orthochristian.com/calendar/20190304.html

[5] https://oca.org/saints/lives/2019/03/17/10-1st-sunday-of-great-lent-sunday-of-orthodoxy

[6] http://orthochristian.com/calendar/20190318.html

[7] https://oca.org/saints/lives/2019/03/31/14-3rd-sunday-of-great-lent-veneration-of-the-cross

[8] https://oca.org/saints/lives/2019/04/07/16-4th-sunday-of-great-lent-st-john-climacus-of-the-ladder

[9] https://oca.org/saints/lives/2019/04/14/18-5th-sunday-of-great-lent-st-mary-of-egypt

[10] http://orthochristian.com/35019.html.

[11] http://orthochristian.com/121211.html.

[12] http://orthochristian.com/121211.html.

Dogmatika 3

Tugas : pertama

Nama               :Elizabeth Situmorang

Tingkat            :2 (Semester 4)

Tugas               : Pertama

Dogmatika 3

Kehidupan kita seperti sumur didalam dasar yang gelap dan itu adalah  lambang dari Dosa. Allah itu terang dan kasih. Dosa mengakibatkan manusia lepas dari terang dan kasih Allah. (Roma 3:23) semua orang telah berbuat dosa semua orang hilang terangnya Allah. Lalu bagaimana caranya supaya menjadi terang kembali? (Efesus 2:1) kamu dahulu telah mati. Manusia mati secara Roh. Harus ada usaha dari atas yaitu pertolongan Allah. allah harus memberikan tangga Ilahi supaya bisa manjat dan keluar. Tangga itulah Kristus yaitu firman yang jadi manusia (Yohanes 14:6). Jika tidak ada tangga maka kita akan mati. Setelah kita diberi tangga maka kita harus menaiki tangga tersebut. Oleh sebab itu tangga inilah Kasih Allah atau Anugerah Allah.

Ketika kamu memegang tangga itu dan manjat itulah iman dan keselamatan (Efesus 2:8). Anugerah adalah tangga itu sedangkan iman adalah tindakan menaiki tangga itu satu per satu sampai menuju kepada Allah yaitu pemilik terang dan kasih. jika iman tidak disertai perbuatan pada dasarnya mati(Yakobus 2:17). Harus ada perbuatan yaitu memanjat dan naik satu per satu. (2 Petrus 1:5-7) kebajikan ditambahkan kebajikan, pengetahuan,  penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Kebajikan  adalah perbuatan yang baik dilakukan. Pengetahuan yaitu belajar tentang pengetahuan untuk mendapatkan keselamatan sehingga terang Allah memancar dan kita bisa menaiki tangga untuk menuju Allah serta  iman kita semakin bertumbuh.

 Perlunya penguasaan diri, ketekunan, kesalehan (ibadah), Tuhan menginginkan kita hidup aktif. Supaya hidup didalam tangga kita harus hidup didalam Kristus yaitu kita harus mengalami  hidup Baru menuju pada Allah atau sama seperti Kristus (1 Yohanes 3:2) proses inilah yang disebut Theosis. (1 Yohanes 1:1-3) Rasul Yohanes mengalami tangga itu dan memegangnya, dan menaikinya, bersaksi untuk memberitakannya pada orang lain. Penting sekali untuk kita memberitakan Injil. Supaya pada akhirnya kita bersama-sama bersukacita. Persekutuan kita adalah persekutuan dengan Bapa dan Anak (Yohanes 17:3) hidup kekal itu mengenal satu-satunya Allah yang benar dan kudus. Jalan keselamatan hanya satu yaitu Tuhan Yesus Kristus (Matius 24:24) ada mesias – mesias palsu dan nabi-nabi palsu yang menyesatkan.

Kenapa hanya ada satu Tuhan? Kenapa tidak banyak cara supaya banyak orang diselamatkan?

KRISTUS SEBAGAI PENGGENAPAN HUKUM TAURAT

(Efesus 2:15) pada zaman dahulu hukum taurat tidak diperhatikan lagi sedangkan kelompok lain masih memberlakukan hukum taurat. Yesus tidak pernah menunjukan secara legalistic hukum taurat. (Matius 5:17-20) Yesus datang bukan meniadakan hukum taurat kedatangannya karena hukum taurat. Menggenapi hukum taurat artinya menjalani hukum taurat secara legalistic awalnya bayang-bayang sekarang menjadi realita. Yesuslah yang menggenapi seluruh jani-janji hukum taurat. Inti dari agama Israel ibadah-ibadah dalam bait Allah dan ibadah berhenti pada tahun 70 Masehi. Korban ibadah Israel boleh diadakan satu tempat ibadah Israel. Ulangan 40:36 tujuan kemah suci kyaitu kehaidran Allah ditengah-tengah bangsa Israel. Allah menghancurkan bait Allah supaya tabernakel yang baru yaitu Yesus akan datang.

(Maleakhi 3:1) menurut Yehezkiel dipersiapkan jalanNya Kristus mealui kemah tubuh bunda Maria. Yesus menyatakan diri-Nya. (Yohanes 1:14) Didalam manusia Yesus Kristus bertabernakel atau berkemah (shekinah/skino) didalam tubuh manusia yang diambil dari Maria menjadi bait Allah yang baru menggenapi bait lama Allah (Yohanes 2:19). Mengapa bait Allah diizinkan hancur karena Yesus sendirilah bait Allah itu. (Yohanes 1:14). Didalam tubuh Yesus para nabi yaitu Yakobus Petrus dan Yohanes melihat kemuliaan itu (Matius 17:1-2). Melihat Yesus berarti melihat kemuliaan Allah. Yesus bukan manusia biasa. Hukum taurat itu digenapi oleh Yesus Kristus.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai