SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SOTERIA PURWOKERTO
APOSTOLIC FATHERS
(Pre-Lent, Lent, Pascha, & 12 Great Feasts)
Nama :Elizabeth Situmorang
Tingkat : 2 (Semester 4)
Pendahuluan
Beberapa
gereja mungkin tidak mengetahui minggu – minggu yang diperingati oleh bapa
– bapa gereja yang ada di beberapa
daerah atau dunia. Para Bapa Gereja khususnya Gereja timur memiliki kalender
yang fungsinya untuk memperingati hari –
hari kehidupan Para Rasul, Para Nabi, Para Martir dan Bapa – Bapa Gereja. Setelah
kebangkitan Tuhan Yesus Kristus ke surga Gereja timur memperingati minggu –
minggu Pentakosta dari minggu pertama sampai minggu yang ke tiga puluh dua.
Dalam minggu – minggu ini gereja
memperingati berbagai peristiwa penting, sejarah, histori dari para rasul, nabi, bapa gereja dan martir. Berbagai lanjutan minggu – minggu
setelah pentakosta yang akan dijelaskan penulis serta 12 perayaan besar yang
diperingati gereja sebagai perayaan yang seharusnya dilakukan seluruh gereja
namun kini kehilangan eksistensinya. Penulis berharap dari materi yang
disampaikan pembaca dapat memahami serta mengambil makna dan pelajaran untuk
dapat memberitakan Injil serta melakukan perbuatan baik dalam kehidupan ini. Penting bagi setiap orang beriman membangun
spiritualitas mereka dengan mengikuti pembacaan Kitab Suci setiap hari dan
tema-tema mingguan (Lectionary) dan perayaan gerejawi (Feasts) selama 1 tahun
sesuai kalendar gerejawi (the Church Year). Mengikuti Lectionary dan Feasts
dengan teratur akan membuat spiritualitas orang percaya semakin berakar di
dalam Kristus (fondasi yang kokoh) dan dibangun di atas Dia (semakin tertata
atau tersusun rapi) (Kol 2:7) sehingga gambar dan rupa Kristus akan semakin
nyata di dalam diri orang percaya (Gal 4:19).
The
Pre-Lenten Sundays
- Minggu Zakheus (Luk 19:1-10)
Mengajarkan kepada kita untuk
datang dan aktif mencari anugerah Allah yang telah datang seperti Zakheus.
Membuka pintu hati menerima Kristus dan mengalami pertobatan dari dosa-dosa
kita seperti Zakheus adalah langkah awal yang harus kita kerjakan. Melalui
pertobatan dan keselamatan kita ada banyak orang di sekitar kita juga boleh
diselamatkan oleh anugerah Allah itu (ayat 9). Menjadi seperti Zakheus adalah
langkah awal kita memasuki masa persiapan Paskah. Membuka pintu hati kita
meresponi anugerah adalah iman yang hidup dan bersinergi dengan anugerah Allah.
Rasul Suci Zakheus adalah seorang pemungut cukai yang kaya di Yerikho. Karena
tubuhnya pendek, dia memanjat pohon ara untuk melihat Juruselamat lewat.
Setelah Kenaikan Tuhan, Zakheus menemani Rasul Petrus dalam perjalanannya.
Menurut tradisi, ia menjadi Uskup Kaisarea di Palestina, di mana ia meninggal
dengan tenang. Diperingati oleh Gereja setiap tanggal 20 April.[1]
- Minggu Orang Farisi dan Pemungut Cukai (Luk
18: 14-18)
Mengajarkan kepada kita untuk
rendah hati mengakui dosa-dosa dan meminta belas kasihan Allah mengampuni
dosa-dosa kita. Kita tidak melihat diri kita seperti orang Farisi yang selalu merasa
benar melainkan seorang pemungut cukai yang berdosa dan membutuhkan belas
kasihan atau pengampunan Allah. Dengan kerendahan hati dia memohon belas
kasihan Allah sebab dia orang berdosa dan akhirnya dia dibenarkan atau diampuni
Allah. Pengakuan dosa mendatangkan pengampunan.
Orang farisi dan pemungut cukai (diambil dari SEP Surabaya)
- Minggu Anak yang Hilang (Luk 15:1-32)
Mengajarkan kepada kita untuk
kembali kepada Bapa mendapatkan pengampunan dan pertobatan dari dosa-dosa. Kita
semua seperti anak bungsu yang berdosa kepada Bapa namun hanya dengan cara
kembali kepada Dia kita akan mendapatkan kehidupan sebab Dia adalah kasih bagi
kita yang sungguh-sungguh mau bertobat. Pengakuan dosa harus diikuti pertobatan
dosa dan itu menyenangkan hati Allah. Kita adalah anak yang hilang yang
ditemukan kembali dan hidup kembali dengan jalan pertobatan.3
Ikon anak yang hilang (diambil dari Reformed)
- Minggu Penghakiman Akhir (Mat 25:31-46)
Mengajarkan kepada kita untuk
menjadi seperti domba yang mengasihi tanpa memandang muka yaitu mengasihi tuan
dengan memberi makan, minum, merawat, memberi tumpangan, pakaian kepada orang
yang paling hina. Kasih adalah buah dari pertobatan kita dan buah kasih inilah
yang menyelamatkan kita dari kebinasaan atau api neraka yang mengerikan itu.
Buah kasih adalah syarat lolos dari hari Kristus hari Penghakiman Akhir kepada
setiap manusia di mana Kristus akan menjadi Hakim bagi mereka semua. Ketika
kita bertemu Kristus kelak di hari yang menentukan dan menakutkan ini kita
harus telah membawa buah pertobatan atau buah Roh itu.
Ikon Minggu
Penghakiman Akhir (di ambil dari Gereja Orthodox Surabaya)
- Minggu Pengampunan Dosa (Mat 6: 14-15)
Mengajarkan kepada kita untuk
berdamai dengan semua orang yaitu mengampuni kesalahan orang lain. Pengampunan
ini menunjukkan kepada kita bahwa kita memang orang berdosa yang tidak layak
diampuni namun Allah telah mengampuni kita. Kita wajib mengampuni dosa orang
lain karena kita sendiri juga berdosa dan butuh pengampunan Allah. Jika kita
tidak mengampuni maka Allah juga tidak mengampuni sebab kita telah menjadi
orang munafik di hadapan Allah (baca Mat 7:1-5). Bahkan sebelum kita meminta
ampun kepada Allah kita terlebih dahulu harus berdamai dengan sesama kita (Mat
5:23-24). Mengampuni orang lain artinya kita berbuat seperti yang Allah perbuat
untuk kita dan dengan demikian dosa kita juga diampuni Allah sehingga kita dan
orang itu akan sama-sama mendapat kasih Allah dan hidup di dalam kekudusan.
ἐγώ εἰμι ἡ ἄμπελος, ὑμεῖς τὰ
κλήματα. ὁ μένων ἐν ἐμοὶ κἀγὼ ἐν αὐτῷ, οὗτος φέρει καρπὸν πολύν, ὅτι χωρὶς ἐμοῦ
οὐ δύνασθε ποιεῖν οὐδέν. (Yohanes 15:5 BYZ)
“I am the vine, you are the
branches. He who abides in Me, and I in him, bears much fruit; for without Me
you can do nothing.” (John 15:5 NKJV)
Keselamatan adalah hasil sinergi
antara anugerah Allah (karya Roh kudus yang mencurahkan kasih Allah) dan iman
manusia (respons manusia yang dituntun oleh anugerah Allah) (Efe 2:8).
Keselamatan atau sinergi anugerah dan iman ini bukan karya manusia melainkan
karya atau pemberian Allah. Free will manusia yang meresponi anugerah Allah
adalah iman yang menyelamatkan dan itu adalah pemberian Allah bukan hasil usaha
manusia. Namun di dalam anugerah atau pemberian Allah ada respons atau usaha
manusia terhadap kasih Allah. Ada anugerah yang diberikan Allah kepada Rasul
Paulus, namun Rasul Paulus tidak berdiam diri melainkan bekerja keras di dalam
anugerah untuk memberikan buah.
Ada sinergi antara anugerah dan
kerja keras Rasul Paulus namun itu semua semata-mata anugerah Allah (1 Kor 15:10).
Seperti yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus bahwa di luar Dia kita tidak dapat
berbuat apa-apa. Hanya di dalam Kristus kita bisa berkarya menghasilkan buah.
Buah adalah hasil sinergi antara pohon dan ranting yaitu Kristus berkarya di
dalam perbuatan kita. Ada sinergi antara Kristus dan kita. Kita memikul kuk
bersama Kristus (Mat 11:29-30). Kita berkarya di dalam Kristus atau kita
berkarya bersama Kristus.
Cyril dari Alexandria menuliskan,
“As the branch cannot bear fruit of
itself, except it abide in the vine, so neither can ye, except ye abide in Me.
For unless the branch had supplied to it from its mother the vine the
life-producing sap, how would it bear grapes, or what fruit will it bring
forth, and from what source? You will perceive that the language of Christ has
an application by analogy to ourselves. For no fruit of virtue will spring up
anew in us, who have once fallen away from intimate union with Christ. To
those, however, who are joined to Him Who is able to strengthen them, and Who
nourishes in righteousness, the capacity of bearing fruit will readily be added
by the provision and grace of the Spirit, as by life-producing water. And
knowing this, the Only-begotten said in the Gospels: If any man thirst, let him
come unto Me and drink. And to this, the Evangelist, inspired by the Spirit,
has testified, when in his excellent explanation he says: But this spake He of
the Spirit, Which they that believe on Him were to receive. And the blessed
David, speaking as though to God the Father, thus addressed Him: With Thee is
the fountain of life, and Thou shalt give them to drink of the river of
blessedness. For by the fountain of Divine and spiritual life and of the
fulness of blessedness, who else could be meant but the Son, Who fattens and
waters our souls in the position of branches clinging to Him by faith and love,
with the quickening and joy-giving grace of the Spirit.”[2]
John Chrysostom menuliskan, “Here He alludes to the manner of life,
showing that without works it is not possible to be in Him. And every branch
that bears fruit, He purges it. That is, causes it to enjoy great care. Yet the
root requires care rather than the branches, in being dug about, and cleared,
yet about this He says nothing here, but all about the branches. Showing that
He is sufficient to Himself, and that the disciples need much help from the
Husbandman, although they be very excellent. Wherefore He says, that which
bears fruit, He purges it. The one branch, because it is fruitless, cannot even
remain in the Vine, but for the other, because it bears fruit, He renders it
more fruitful.”[3]
Sinergi di dalam Yoh 15:5 adalah
“Di dalam Kristus + Lakukan sesuatu = Buah” Apa yang harus kita
lakukan di dalam Kristus? Tentunya kita sebagai ranting harus menghasilkan buah
sehingga yang kita lakukan adalah pertumbuhan menuju buah yaitu mulai berakar,
bertumbuh jadi pohon, dan berbuah. Kita telah lahir dari Allah sehingga
memiliki benih ilahi (1 Yoh 3:9; 5:1). Benih ini harus ditanam di dalam tanah
supaya berakar. Proses berakar adalah proses kematian benih menjadi akar dan
bertunas. Itu adalah proses pertobatan kita dari dosa yaitu mematikan segala
keinginan daging (Gal 5:24; Kol 3:5). Pertobatan ini salah satu yang harus kita
lakukan di dalam Kristus supaya kita berakar dan bertumbuh di dalam Dia.
Seperti bacaan-bacaan di dalam minggu persiapan Paskah di atas. Jadi, di dalam
sinergi kita harus do something di dalam Kristus yaitu melakukan
pertobatan dan hidup di dalam kasih dan pengampunan. Itu yang harus kita
kerjakan dengan pertolongan Kristus melalui kuasa Roh Kudus yang menolong kita.
Amin!
Ikon
Minggu Pengampunan dosa (diambil dari Gereja Orthodox Surabaya)
The
Lenten Commemorations
Kallistos
Ware menuliskan bahwa Gereja memandang pribadi manusia sebagai satu kesatuan
jiwa dan tubuh, selalu menekankan bahwa tubuh harus dilatih dan didisiplinkan,
demikian pula jiwa. ‘Puasa dan pengendalian diri adalah kebajikan pertama, ibu,
akar, sumber, dan fondasi semua kebajikan. Ada empat periode utama puasa
sepanjang tahun: 1. Puasa Besar (Prapaskah) – dimulai tujuh minggu sebelum
Paskah. 2. Puasa Para Rasul– dimulai pada hari Senin delapan hari setelah
Pentakosta, dan berakhir pada tanggal 28 Juni, menjelang Perayaan Rasul Petrus
dan Paulus; panjangnya bervariasi antara satu dan enam minggu. 3. Dormition
Fast- berlangsung dua minggu, dari 1 hingga 14 Agustus. 4. Puasa Natal –
berlangsung selama empat puluh hari, dari 15 November hingga 24 Desember.
- Hari Minggu
Prapaskah Pertama (Ibrani 11: 24–26, 32–12: 2; Yohanes 1: 43–51)
Hari Minggu
Ortodoksi. [1] Jangan lupa kata yang tepat [2] yang kamu ucapkan kepada Tuhan,
perbarui wasiatmu dengan-Nya yang kamu hancurkan karena kelalaianmu. Ingat
bagaimana dan mengapa Anda memecahkannya dan mencoba untuk menghindari
ketidaksetiaan lagi. Kata-kata yang indah tidak mulia; kesetiaan itu mulia.
Bukankah mulia memiliki surat wasiat dengan seorang raja? Betapa lebih mulianya
memiliki kesaksian dengan Raja segala raja! Tetapi kemuliaan ini menjadi aib
Anda jika Anda tidak setia pada perjanjian ini. Berapa banyak orang hebat yang
telah dimuliakan sejak awal dunia! Dan mereka semua telah dimuliakan karena
kesetiaan mereka, di mana mereka berdiri teguh, terlepas dari kemalangan dan
kesedihan yang besar sebagai hasil dari kesetiaan ini. Mereka diadili dengan
cemoohan dan penjarahan yang kejam, ya, apalagi ikatan dan hukuman penjara:
Mereka dirajam, mereka digergaji, dicobai, dibunuh dengan pedang: mereka
berkeliaran di kulit domba dan kulit kambing; menjadi miskin, menderita,
tersiksa; Dari siapa dunia tidak layak: mereka berkeliaran di padang pasir, dan
di pegunungan, dan di sarang dan gua-gua di bumi…. Karenanya, melihat kita
dibebani oleh begitu banyak awan saksi, mari kita berlari dengan sabar ras yang
ditetapkan di hadapan kita, memandang kepada Yesus sang penulis dan
penyempurnaan iman kita (Ibr. 11: 36-38; 12: 1 –2).
[1] Hari Minggu pertama Masa
Prapaskah disebut “Hari Minggu Ortodoksi,” dan merayakan pemulihan
pemujaan Ikon dan kemenangan Ortodoksi atas bidat Iconoclast.
[2] “Kata yang
tepat” adalah referensi ke arti kata “Ortodoks” dalam bahasa
Rusia, yang secara harfiah “memuliakan dengan benar.”[4]
Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah menurut Orthodox of
Church in America
Awalnya,
para Nabi Musa, Harun, dan Samuel diperingati pada hari Minggu ini. Ayat-ayat
Alleluia yang ditunjuk untuk Liturgi hari ini mencerminkan penggunaan yang
lebih tua ini. Hari ini kita memperingati “Kemenangan Ortodoksi,” pemulihan
ikon suci pada masa pemerintahan Permaisuri Suci Theodora (11 Februari).[5]
- Minggu Ke-2 Masa Prapaskah
Besar: St Gregory Palamas Diperingati pada 24 Maret (Ibrani 1:10—2:3; Markus 2:1–12)
Minggu ini awalnya didedikasikan untuk Saint Polycarp of Smyrna (23
Februari). Setelah pemuliaannya pada 1368, peringatan kedua Santo Gregorius
Palamas (14 November) ditunjuk untuk Minggu Kedua Masa Prapaskah Besar sebagai
yang kedua “Kemenangan Ortodoksi.”
Santo Gregorius Palamas, Uskup Agung Tesalonika, lahir pada tahun 1296
di Konstantinopel. Ayah Santo Gregorius menjadi tokoh terkemuka di istana
Andronicus II Paleologos (1282-1328), tetapi ia segera meninggal, dan
Andronicus sendiri mengambil bagian dalam pemeliharaan dan pendidikan anak
lelaki yatim itu. Diberkahi dengan kemampuan yang baik dan ketekunan yang
hebat, Gregory menguasai semua mata pelajaran yang kemudian mencakup program
penuh pendidikan tinggi abad pertengahan. Sang kaisar berharap bahwa para
pemuda akan mengabdikan dirinya untuk pekerjaan pemerintah. Tetapi Gregory,
yang baru berumur dua puluh tahun, mengundurkan diri ke Gunung Athos pada tahun
1316 (sumber-sumber lain mengatakan 1318) dan menjadi seorang pemula di biara
Vatopedi di bawah bimbingan Penatua monastik Saint Nicodemus dari Vatopedi (11
Juli). Di sana ia menjadi kaku dan mulai menempuh jalan asketisme. Setahun
kemudian, Penginjil kudus, Yohanes, sang Teolog, menampakkan diri kepadanya
dalam sebuah penglihatan dan menjanjikan perlindungan spiritualnya. Ibu dan
saudara perempuan Gregory juga menjadi biarawan.
Setelah kematian Penatua Nikodemus, Santo Gregorius menghabiskan delapan
tahun perjuangan spiritual di bawah bimbingan Penatua Nicephorus, dan setelah
kematiannya yang terakhir, Gregorius dipindahkan ke Lavra Santo Athanasius (5
Juli). Di sini ia melayani di trapeza, dan kemudian menjadi penyanyi gereja.
Tetapi setelah tiga tahun, ia menetap kembali di skete kecil Glossia, berjuang
untuk tingkat kesempurnaan spiritual yang lebih besar. Kepala biara ini mulai
mengajarkan kepada pemuda itu metode doa yang tak henti-hentinya dan aktivitas
mental, yang telah dikembangkan oleh para biarawan, dimulai dengan pertapa
gurun besar abad keempat: Evagrius Pontikos dan Saint Macarius dari Mesir (19
Januari).
Kemudian, pada abad kesebelas, Saint Simeon, Theologian Baru (12 Maret)
memberikan instruksi terperinci dalam aktivitas mental bagi mereka yang berdoa
dengan cara lahiriah, dan para petapa Athos menerapkannya. Penggunaan doa
mental (atau doa hati) yang berpengalaman, membutuhkan kesunyian dan
keheningan, disebut “Hesychasm” (dari bahasa Yunani
“hesychia” yang berarti tenang, diam), dan mereka yang mempraktikkannya
disebut “hesychast.”
Selama tinggal di Glossia, hierarki masa depan Gregory menjadi penuh
dengan semangat hesychasm dan mengadopsinya sebagai bagian penting dari
hidupnya. Pada tahun 1326, karena ancaman invasi Turki, dia dan para saudara
lelaki mundur ke Tesalonika, di mana dia kemudian ditahbiskan menjadi imamat
kudus.
Santo Gregorius menggabungkan tugas keimamannya dengan kehidupan seorang
pertapa. Lima hari dalam seminggu ia habiskan dalam keheningan dan doa, dan
hanya pada hari Sabtu dan Minggu ia keluar untuk umatnya. Dia merayakan
kebaktian dan mengkhotbahkan khotbah. Bagi mereka yang hadir di gereja,
ajarannya sering membangkitkan kelembutan dan air mata. Kadang-kadang ia
mengunjungi pertemuan teologis pemuda berpendidikan kota, dipimpin oleh
patriark masa depan, Isidore. Setelah dia kembali dari kunjungan ke
Konstantinopel, dia menemukan tempat yang cocok untuk kehidupan menyendiri di
dekat Tesalonika wilayah Bereia. Segera dia mengumpulkan di sini sebuah
komunitas kecil para bhikkhu soliter dan membimbingnya selama lima tahun.
Pada tahun 1331 santo itu mundur ke Mt. Athos dan hidup dalam
kesendirian di skete Saint Sava, dekat Lavra Saint Athanasius. Pada 1333 ia
diangkat menjadi Igumen dari biara Esphigmenou di bagian utara Gunung Suci.
Pada 1336 santo kembali ke skete Santo Sava, di mana ia mengabdikan dirinya
untuk karya-karya teologis, melanjutkan ini sampai akhir hidupnya.
Pada tahun 1330-an peristiwa-peristiwa terjadi dalam kehidupan Gereja
Timur yang menempatkan Santo Gregorius di antara para pembela universal
Ortodoksi universal yang paling signifikan, dan membuatnya terkenal sebagai
seorang guru hesychasm.
Sekitar tahun 1330 biksu Barlaam yang terpelajar telah tiba di
Konstantinopel dari Calabria, di Italia. Dia adalah penulis risalah tentang
logika dan astronomi, seorang orator yang terampil dan cerdas, dan dia menerima
kursi universitas di ibu kota dan mulai menguraikan tentang karya-karya Santo
Dionysius the Areopagite (3 Oktober), yang “apophatic” (“Negatif”,
berbeda dengan “Katafatic” atau “positif”) teologi diakui
dalam ukuran yang sama baik di Gereja Timur dan Gereja Barat. Segera Barlaam
melakukan perjalanan ke Gunung Athos, di mana ia berkenalan dengan kehidupan
spiritual para hesychast. Mengatakan bahwa mustahil untuk mengetahui esensi
Tuhan, ia menyatakan doa mental sebagai kesalahan sesat. Dalam perjalanan dari
Gunung Athos ke Tesalonika, dan dari sana ke Konstantinopel, dan kemudian lagi
ke Tesalonika, Barlaam mengadakan perselisihan dengan para bhikkhu dan berupaya
menunjukkan sifat material yang diciptakan dari cahaya Tabor (mis. Pada
Transfigurasi). Dia mengolok-olok ajaran para biksu tentang metode doa dan
tentang cahaya yang tidak tercipta yang dilihat oleh para hesychast.
Santo Gregorius, atas permintaan para biarawan Athonit, menjawab dengan
peringatan lisan pada awalnya. Tetapi melihat usaha yang sia-sia seperti itu,
ia menuliskan argumen teologisnya secara tertulis. Maka muncul “Triad
dalam Pertahanan Hesychasts Suci” (1338). Menjelang tahun 1340, para
petapa Athonit, dengan bantuan orang suci, menyusun tanggapan umum terhadap
serangan-serangan Barlaam, yang disebut “Hagiorite Tome.” Di Dewan
Konstantinopel tahun 1341 di gereja Hagia Sophia, Santo Gregorius Palamas
berdebat dengan Barlaam, berfokus pada sifat cahaya Gunung Tabor. Pada tanggal
27 Mei 1341 Konsili menerima posisi Santo Gregorius Palamas, bahwa Allah, yang
tidak dapat didekati dalam Esensi-Nya, menyatakan diri-Nya melalui energi-Nya,
yang diarahkan ke dunia dan dapat dirasakan, seperti cahaya Tabor, tetapi yang
tidak material atau diciptakan. Ajaran Barlaam dikutuk sebagai bid’ah, dan dia
sendiri dibenci dan melarikan diri ke Calabria.
Tetapi perselisihan antara Palamit dan Barlaamites masih jauh dari
selesai. Yang terakhir ini adalah murid Barlaam, bhikkhu Bulgaria Akyndinos,
dan juga Patriark John XIV Kalekos (1341-1347); Kaisar Andronicus III
Paleologos (1328-1341) juga condong ke pendapat mereka. Akyndinos, yang namanya
berarti “orang yang tidak membahayakan,” sebenarnya menyebabkan
kerugian besar dengan ajaran sesatnya. Akyndinos menulis serangkaian traktat di
mana ia menyatakan Santo Gregorius dan para biarawan Athonit bersalah
menyebabkan gangguan gereja. Santo, pada gilirannya, menulis bantahan terperinci
atas kesalahan Akyndinos. Sang patriark mendukung Akyndinos dan menyebut Saint
Gregory penyebab semua gangguan dan gangguan di Gereja (1344) dan membuatnya
dikurung di penjara selama empat tahun. Pada 1347, ketika Yohanes XIV
digantikan di atas takhta patriarki oleh Isidore (1347-1349), Santo Gregorius
Palamas dibebaskan dan diangkat menjadi Uskup Agung Tesalonika.
Pada 1351, Konsili Blachernae dengan sungguh-sungguh menjunjung tinggi
ajaran Ortodoksi. Tetapi orang-orang Tesalonika tidak segera menerima Santo
Gregorius, dan ia terpaksa tinggal di berbagai tempat. Dalam salah satu
perjalanannya ke Konstantinopel, kapal Bizantium jatuh ke tangan Turki. Bahkan
dalam penahanan, Santo Gregorius berkhotbah kepada para tahanan Kristen dan
bahkan kepada para penculiknya yang Muslim. Orang-orang Hagarena terpesona oleh
kebijaksanaan kata-katanya. Beberapa Muslim tidak dapat menanggung ini, jadi
mereka memukulinya dan akan membunuhnya jika mereka tidak berharap mendapatkan
tebusan besar untuknya. Setahun kemudian, Santo Gregorius ditebus dan
dikembalikan ke Tesalonika.
Santo Gregorius melakukan banyak mukjizat dalam tiga tahun sebelum
kematiannya, menyembuhkan mereka yang menderita penyakit. Menjelang istirahat,
Saint John Chrysostom menampakkan diri kepadanya dalam sebuah penglihatan.
Dengan kata-kata “Ke ketinggian! Ke atas ketinggian! ”Santo Gregorius
Palamas tertidur di dalam Tuhan pada tanggal 14 November 1359. Pada tahun 1368
ia dikanonisasi di Dewan Konstantinopel di bawah Patriarkh Philotheus
(1354-1355, 1364-1376), yang menyusun Kehidupan dan Layanan kepada orang suci
- Minggu
ketiga Prapaskah. [Ibrani 4: 14–5: 6; Markus 8: 34–9: 1]
Siapa pun
yang akan mengejarku, biarkan dia menyangkal dirinya sendiri, dan memikul
salibnya, dan ikuti aku (Markus 8:34). Tidak mungkin untuk mengikuti Tuhan
sebagai seorang penjajah tanpa salib, dan setiap orang yang mengikuti Dia,
dengan sia-sia pergi dengan sebuah salib. Salib apa ini? Itu adalah segala
macam ketidaknyamanan, beban dan kesedihan — yang sangat membebani baik secara internal
maupun eksternal — di sepanjang jalan pemenuhan hati nurani dari
perintah-perintah Tuhan, dalam kehidupan yang sesuai dengan semangat instruksi
dan tuntutan-Nya. Salib semacam itu adalah bagian dari orang Kristen sehingga
di mana pun ada orang Kristen, di sana ada salib ini, dan di mana tidak ada
salib seperti itu, di sana tidak ada orang Kristen. Hak istimewa yang melimpah
dan kehidupan yang menyenangkan tidak cocok dengan orang Kristen sejati.
Tugasnya adalah membersihkan dan mereformasi dirinya. Dia seperti orang yang
sakit, yang membutuhkan kauterisasi, atau amputasi; bagaimana ini bisa terjadi
tanpa rasa sakit? Dia ingin melepaskan diri dari tawanan musuh yang kuat;
tetapi bagaimana ini bisa terjadi tanpa perjuangan dan luka? Dia harus melawan semua
praktik di sekitarnya; tetapi bagaimana ia dapat mempertahankan ini tanpa
ketidaknyamanan dan kendala? Bersukacitalah saat Anda merasakan salib di atas
diri Anda, karena itu adalah tanda bahwa Anda mengikuti Tuhan di jalan
keselamatan yang menuntun ke surga. Bertahan sedikit. Akhir hanya sekitar
sudut, serta mahkota![6]
Minggu ke-3 Masa Prapaskah Besar: Pemujaan Salib
menurut Orthodox Church in America
Hari Minggu
Ketiga Masa Prapaskah adalah Hari Penghormatan Salib. Salib berdiri di
tengah-tengah gereja di tengah-tengah musim lentera bukan hanya untuk
mengingatkan manusia akan penebusan Kristus dan untuk menjaga di hadapan mereka
tujuan dari upaya mereka, tetapi juga untuk dihormati sebagai kenyataan bahwa
manusia harus hidup untuk menjadi seperti itu. disimpan. “Barangsiapa tidak
memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiku” (Mat.10: 38). Karena
di dalam Salib Kristus disalibkan terletak “kuasa Allah dan hikmat Allah” bagi
mereka yang diselamatkan (1 Kor.1: 24).[7]
- Minggu ke-4
Masa Prapaskah Besar: St John Climacus (Tangga) Diperingati pada tanggal 7
April
Minggu
keempat Prapaskah didedikasikan untuk Santo Yohanes Tangga (Climacus), penulis
karya, Tangga Tangga Pendakian Ilahi. Kepala biara Biara Santo Catherine di
Gunung Sinai (abad ke-6) berdiri sebagai saksi atas upaya kekerasan yang
diperlukan untuk masuk ke Kerajaan Allah (Mat.10: 12). Perjuangan rohani
kehidupan Kristen adalah nyata, “bukan melawan darah dan daging, tetapi
melawan … penguasa kegelapan saat ini … tuan rumah kejahatan di
tempat-tempat surgawi …” (Ef 6:12) . Santo Yohanes mendorong orang-orang
beriman dalam upaya mereka untuk, menurut Tuhan, hanya “dia yang bertahan
sampai akhir akan diselamatkan” (Mat.24: 13).[8]
- Minggu ke-5
Masa Prapaskah Besar: Maria dari Mesir diperingati pada 14 April
Saint
Zosimas (4 April) adalah seorang biarawan di biara Palestina tertentu di
pinggiran Kaisarea. Setelah berdiam di biara sejak masa kecilnya, ia tinggal di
sana dalam pertapaan sampai ia mencapai usia lima puluh tiga. Kemudian dia
terganggu oleh pemikiran bahwa dia telah mencapai kesempurnaan, dan tidak
membutuhkan siapa pun untuk mengajarnya. “Apakah ada seorang bhikkhu di mana
saja yang dapat menunjukkan kepada saya semacam asketisme yang belum saya
capai? Apakah ada orang yang telah melampaui saya dalam ketenangan spiritual
dan perbuatan? “
Tiba-tiba, seorang malaikat
Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Zosimas, kamu telah berjuang
dengan gagah berani, sejauh ini dalam kuasa manusia. Namun, tidak ada orang
yang benar (Rm. 3:10). Supaya kamu bisa tahu berapa banyak cara lain menuju
keselamatan, tinggalkan tanah asalmu, seperti Abraham dari rumah ayahnya (Kej.
12: 1), dan pergi ke biara di tepi sungai Yordan. “
Abba Zosimas segera
meninggalkan biara, dan mengikuti malaikat itu, ia pergi ke biara Jordan dan
menetap di sana.
Di sini dia bertemu para
Penatua yang mahir dalam kontemplasi, dan juga dalam perjuangan mereka. Tidak
pernah ada yang mengucapkan kata-kata kosong. Sebaliknya, mereka bernyanyi
terus-menerus, dan berdoa sepanjang malam. Abba Zosimas mulai meniru aktivitas
spiritual para biarawan suci.
Begitu banyak waktu berlalu,
dan puasa Empat Puluh Hari suci mendekat. Ada kebiasaan tertentu di biara,
itulah sebabnya Tuhan memimpin Santo Zosimas di sana. Pada hari Minggu Pertama
Masa Prapaskah Agung igumen melayani Liturgi Ilahi, semua orang menerima Tubuh
dan Darah Kristus yang Murni. Setelah itu, mereka pergi ke trapeza untuk jamuan
kecil, dan kemudian berkumpul sekali lagi di gereja.
Para bhiksu berdoa dan
bersujud, saling memohon ampun. Kemudian mereka bersujud di hadapan igumen dan
meminta restunya untuk perjuangan yang ada di depan mereka. Selama Mazmur
“Tuhan adalah Terang dan Juru Selamat saya, siapa yang harus saya takuti? Tuhan
adalah pembela hidupku, kepada siapakah aku akan takut? ”(Mz 26/27: 1), mereka
membuka gerbang biara dan pergi ke padang belantara.
Masing-masing membawa
makanan sebanyak yang dia butuhkan, dan pergi ke padang pasir. Ketika makanan
mereka habis, mereka makan akar dan tanaman gurun. Para bhikkhu menyeberangi
sungai Yordan dan menyebar ke berbagai arah, sehingga tidak ada yang bisa
melihat bagaimana orang lain berpuasa atau bagaimana mereka menghabiskan waktu
mereka.
Para bhikkhu kembali ke
vihara pada Minggu Palem, masing-masing memiliki hati nuraninya sendiri sebagai
saksi dari pertapaannya. Itu adalah aturan biara bahwa tidak ada yang bertanya
bagaimana orang lain telah bekerja keras di padang pasir.
Abba Zosimas, sesuai dengan
kebiasaan biara, pergi jauh ke padang pasir berharap menemukan seseorang yang
tinggal di sana yang bisa menguntungkannya.
Dia berjalan ke hutan
belantara selama dua puluh hari dan kemudian, ketika dia menyanyikan Mazmur
dari Jam Keenam dan melakukan doa yang biasa. Tiba-tiba, di sebelah kanan bukit
tempat dia berdiri, dia melihat sosok manusia. Dia takut, berpikir bahwa itu
mungkin penampakan setan. Kemudian dia menjaga dirinya dengan Tanda Salib, yang
menghilangkan rasa takutnya. Dia berbelok ke kanan dan melihat sosok berjalan
ke selatan. Tubuhnya hitam dari sinar matahari yang terik, dan rambut pendeknya
yang pudar berwarna putih seperti bulu domba. Abba Zosimas bersukacita, karena
dia tidak melihat makhluk hidup selama berhari-hari.
Penghuni gurun melihat
Zosimas mendekat, dan berusaha melarikan diri darinya. Abba Zosimas, melupakan
usia dan kelelahannya, mempercepat langkahnya. Ketika dia cukup dekat untuk
didengar, dia berseru, “Mengapa kamu lari dariku, orang tua yang berdosa?
Tunggu aku, untuk cinta Tuhan. ”
Orang asing itu berkata
kepadanya, “Maafkan aku, Abba Zosimas, tapi aku tidak bisa menoleh dan
menunjukkan wajahku kepadamu. Saya seorang wanita, dan seperti yang Anda lihat,
saya telanjang. Jika Anda mengabulkan permintaan seorang wanita berdosa,
lemparkan jubah Anda sehingga saya bisa menutupi tubuh saya, dan kemudian saya
bisa meminta restu Anda. “
Kemudian Abba Zosimas
ketakutan, menyadari bahwa dia tidak bisa memanggilnya dengan nama kecuali dia
memiliki wawasan spiritual.
Ditutupi oleh jubah itu,
petapa itu menoleh ke Zosimas, “Mengapa kamu ingin berbicara denganku, seorang
wanita yang berdosa? Apa yang ingin Anda pelajari dari saya, Anda yang belum
menyusut dari kerja keras yang begitu hebat? ”
Abba Zosimas jatuh ke tanah
dan meminta restunya. Dia juga membungkuk di hadapannya, dan untuk waktu yang
lama mereka tetap di tanah masing-masing meminta yang lain untuk memberkati.
Akhirnya, pertapa wanita itu berkata, “Abba Zosimas, Anda harus memberkati dan
berdoa, karena Anda merasa terhormat dengan rahmat imamat. Selama
bertahun-tahun Anda telah berdiri di depan altar suci, menawarkan Hadiah Suci
kepada Tuhan. “
Kata-kata ini membuat Saint
Zosimas semakin ketakutan. Dengan berlinang air mata dia berkata kepadanya,
“Wahai Ibu! Jelas bahwa Anda hidup bersama Tuhan dan mati bagi dunia ini. Anda
telah memanggil saya dengan nama dan mengakui saya sebagai seorang imam,
meskipun Anda belum pernah melihat saya sebelumnya. Karunia yang diberikan
kepadamu jelas, oleh karena itu berkatilah aku, demi Tuhan. “
Akhirnya, setelah
menyerahkan permohonannya, dia berkata, “Diberkatilah Tuhan, Siapa yang
peduli untuk keselamatan manusia.” Abba Zosimas menjawab,
“Amin.” Kemudian mereka bangkit. Wanita pertapa itu lagi berkata
kepada Penatua, “Mengapa kamu datang, Ayah, kepadaku yang adalah orang berdosa,
kehilangan segala kebajikan? Rupanya, kasih karunia Roh Kudus telah membawamu
untuk melakukan suatu pelayanan kepadaku. Tetapi pertama-tama beri tahu saya,
Abba, bagaimana orang Kristen hidup, bagaimana Gereja dibimbing? “
Abba Zosimas menjawabnya,
“Dengan doa-doa suci Anda Allah telah mengaruniakan Gereja dan kita semua
kedamaian abadi. Tetapi penuhi permintaan tidak layak saya, Bunda, dan
berdoalah untuk seluruh dunia dan bagi saya orang berdosa, agar pengembaraan
saya di padang pasir tidak sia-sia. ”
Petapa suci itu menjawab, “Kamu,
Abba Zosimas, sebagai seorang imam, harus berdoa untukku dan untuk semua,
karena kamu dipanggil untuk melakukan ini. Namun, karena kita harus taat, aku
akan melakukan apa yang kamu minta.
Orang suci itu berbalik ke
arah Timur, dan mengangkat matanya ke surga dan mengulurkan tangannya, dia
mulai berdoa dengan berbisik. Dia berdoa begitu lembut sehingga Abba Zosimas
tidak bisa mendengar kata-katanya. Setelah waktu yang lama, sang Penatua
mendongak dan melihatnya berdiri di udara lebih dari satu kaki di atas tanah.
Melihat ini, Zosimas menjatuhkan dirinya ke tanah, menangis dan mengulangi,
“Tuhan, kasihanilah!”
Kemudian dia tergoda oleh
sebuah pikiran. Dia bertanya-tanya apakah dia mungkin bukan roh, dan apakah
doanya bisa tulus. Pada saat itu dia berbalik, mengangkatnya dari tanah dan
berkata, “Mengapa pikiranmu membuatmu bingung, Abba Zosimas? Saya bukan
penampakan. Saya seorang wanita yang berdosa dan tidak layak, meskipun saya
dijaga oleh Baptisan Kudus. ”
Kemudian dia membuat Tanda
Salib dan berkata, “Semoga Tuhan melindungi kita dari si Jahat dan rencananya,
karena sengit perjuangannya melawan kita.” Melihat dan mendengar ini, Penatua
jatuh di kakinya dengan air mata sambil berkata, “Aku mohonlah kepadamu oleh
Kristus, Allah kami, jangan menyembunyikan dariku siapa dirimu dan bagaimana
kamu datang ke padang pasir ini. Ceritakan semuanya kepada saya, sehingga
karya-karya Tuhan yang menakjubkan dapat terungkap. ”
Dia menjawab, “Aku sedih,
Ayah, berbicara kepadamu tentang kehidupanku yang tak tahu malu. Ketika Anda
mendengar kisah saya, Anda mungkin melarikan diri dari saya, seolah-olah dari
ular berbisa. Tapi aku akan memberitahumu segalanya, Ayah, tidak menyembunyikan
apa pun. Namun, saya menasihati Anda, jangan berhenti berdoa untuk saya orang
berdosa, agar saya dapat menemukan belas kasihan pada Hari Penghakiman.
“Saya lahir di Mesir dan
ketika saya berusia dua belas tahun, saya meninggalkan orang tua saya dan pergi
ke Aleksandria. Di sana aku kehilangan kesucianku dan menyerahkan diriku pada
sensualitas yang tak terkendali dan tak terpuaskan. Selama lebih dari tujuh
belas tahun saya hidup seperti itu dan saya melakukan semuanya dengan gratis.
Jangan berpikir bahwa saya menolak uang itu karena saya kaya. Saya hidup dalam
kemiskinan dan bekerja di rami pemintalan. Bagi saya, hidup terdiri dari kepuasan
nafsu kedagingan saya.
“Suatu musim panas saya
melihat kerumunan orang dari Libya dan Mesir menuju ke laut. Mereka sedang
dalam perjalanan ke Yerusalem untuk Perayaan Permuliaan Salib Suci. Saya juga
ingin berlayar bersama mereka. Karena saya tidak punya makanan atau uang, saya
menawarkan tubuh saya sebagai pembayaran untuk perjalanan saya. Jadi saya
memulai kapal.
“Sekarang, Ayah, percayalah
padaku, aku sangat kagum, bahwa laut mentolerir kecerobohan dan percabulanku,
bahwa bumi tidak membuka mulutnya dan membawaku turun hidup-hidup ke neraka,
karena aku telah menjerat begitu banyak jiwa. Saya pikir Tuhan mencari
pertobatan saya. Dia tidak menginginkan kematian orang berdosa, tetapi menunggu
pertobatan saya.
“Jadi saya tiba di Yerusalem
dan menghabiskan hari-hari sebelum hari raya menjalani kehidupan yang sama, dan
mungkin bahkan lebih buruk.
“Ketika Perayaan Suci
Pengangkatan Salib Yang Mulia Tuhan tiba, saya pergi seperti sebelumnya,
mencari para pemuda. Saat fajar saya melihat bahwa semua orang menuju ke
gereja, jadi saya pergi bersama yang lain. Ketika jam Ketinggian Suci hampir
tiba, saya mencoba masuk ke gereja bersama semua orang. Dengan susah payah aku
hampir sampai ke pintu, dan berusaha masuk ke dalam. Meskipun saya melangkah ke
ambang pintu, seolah-olah ada kekuatan yang menahan saya, mencegah saya masuk.
Aku disingkirkan oleh kerumunan, dan mendapati diriku berdiri sendirian di
teras. Saya pikir mungkin ini terjadi karena kelemahan kewanitaan saya. Aku
berusaha memasuki kerumunan, dan lagi-lagi aku berusaha menyikut orang.
Betapapun kerasnya aku berusaha, aku tidak bisa masuk. Tepat saat kakiku
menyentuh ambang gereja, aku terhenti. Yang lain memasuki gereja tanpa
kesulitan, sementara saya sendiri tidak diizinkan masuk. Ini terjadi tiga atau
empat kali. Akhirnya kekuatan saya habis. Saya pergi dan berdiri di sudut
serambi gereja.
“Kemudian saya menyadari
bahwa dosa-dosa saya yang mencegah saya melihat Kayu yang Menciptakan
Kehidupan. Rahmat Tuhan kemudian menyentuh hati saya. Saya menangis dan
meratap, dan saya mulai memukuli payudara saya. Sambil mendesah dari lubuk
hatiku, aku melihat di atas diriku ikon Theotokos Maha Kudus. Beralih
kepada-Nya, saya berdoa: “O, Lady Virgin, yang melahirkan dalam daging untuk
Allah Firman! Saya tahu bahwa saya tidak layak untuk melihat ikon Anda. Saya
benar-benar mengilhami kebencian dan jijik di hadapan kemurnian Anda, tetapi
saya juga tahu bahwa Allah menjadi Manusia untuk memanggil orang berdosa untuk
bertobat. Bantu aku, O All-Pure One. Biarkan saya masuk ke gereja. Izinkan saya
untuk melihat Kayu di atas mana Tuhan disalibkan dalam daging, mencurahkan
Darah-Nya untuk penebusan orang berdosa, dan juga untuk saya. Jadilah saksiku
di hadapan Putramu bahwa aku tidak akan menajiskan tubuhku lagi dengan
kenajisan percabulan. Segera setelah saya melihat Salib Putra Anda, saya akan
meninggalkan dunia, dan pergi ke mana pun Anda menuntun saya. “
“Setelah saya berbicara,
saya merasa yakin akan belas kasihan Bunda Allah, dan meninggalkan tempat di
mana saya berdoa. Saya bergabung dengan mereka yang memasuki gereja, dan tidak
ada yang mendorong saya kembali atau mencegah saya masuk. Saya pergi dengan
ketakutan dan gemetar, dan memasuki tempat suci.
“Jadi saya juga melihat
Misteri Tuhan, dan bagaimana Tuhan menerima orang yang bertobat. Saya jatuh ke
tanah suci dan menciumnya. Kemudian saya bergegas lagi untuk berdiri di depan
ikon Bunda Allah, di mana saya telah memberikan sumpah saya. Membungkuk di
depan Perawan Theotokos, saya berdoa:
“‘ O, Nyonya, kamu belum
menolak doaku sebagai tidak layak. Kemuliaan bagi Allah, Yang menerima
pertobatan orang berdosa. Inilah saatnya bagi saya untuk memenuhi sumpah saya,
yang Anda saksikan. Karena itu, hai Nona, tuntunlah aku di jalan pertobatan. ‘ “Lalu
aku mendengar suara dari tempat tinggi: ‘Jika kamu menyeberangi sungai Yordan,
kamu akan menemukan istirahat yang mulia.”
“Saya segera percaya
bahwa suara ini dimaksudkan untuk saya, dan saya berteriak kepada Bunda
Allah:” O Lady, jangan tinggalkan aku! “
“Kemudian saya meninggalkan
serambi gereja dan memulai perjalanan saya. Seorang pria memberi saya tiga koin
ketika saya meninggalkan gereja. Bersama mereka, saya membeli tiga potong roti,
dan bertanya kepada pedagang roti itu jalan ke Sungai Yordan.
“Sudah jam sembilan ketika
saya melihat Salib. Saat matahari terbenam saya mencapai gereja Santo Yohanes
Pembaptis di tepi sungai Yordan. Setelah berdoa di gereja, saya pergi ke sungai
Yordan dan membasuh wajah dan tangan saya di air. Kemudian di bait Santo
Yohanes Pembuka yang sama ini saya menerima Misteri-misteri Pencipta Kehidupan
Kristus. Kemudian saya makan setengah dari roti saya, minum air dari sungai
suci Jordan, dan tidur di sana malam itu di tanah. Di pagi hari saya menemukan
sebuah perahu kecil dan menyeberangi sungai ke seberang pantai. Sekali lagi
saya berdoa agar Bunda Allah akan menuntun saya ke tempat yang Ia inginkan.
Kemudian saya menemukan diri saya di padang pasir ini. “
Abba Zosimas bertanya
kepadanya, “Berapa tahun telah berlalu sejak Anda mulai hidup di padang
pasir?”
“‘ Kurasa,
“jawabnya,” sudah empat puluh tujuh tahun sejak aku datang dari Kota
Suci. “
Abba Zosimas lagi bertanya,
“Makanan apa yang Anda temukan di sini, Ibu?”
Dan dia berkata, “Saya
memiliki dua setengah roti bersama saya ketika saya menyeberangi sungai Yordan.
Segera mereka mengering dan mengeras Makan sedikit demi sedikit, saya
menghabiskannya setelah beberapa tahun. “
Lagi-lagi Abba Zosimas
bertanya, “Apakah mungkin Anda selamat selama bertahun-tahun tanpa penyakit,
dan tanpa menderita dengan cara apa pun dari perubahan total?”
“Percayalah padaku,
Abba Zosimas,” kata wanita itu, “Aku menghabiskan tujuh belas tahun
di hutan belantara ini (setelah dia menghabiskan tujuh belas tahun dalam
amoralitas), melawan binatang buas: hasrat dan hasrat gila. Ketika saya mulai
makan roti, saya memikirkan daging dan ikan yang saya miliki berlimpah di
Mesir. Saya juga merindukan anggur yang sangat saya cintai ketika saya berada
di dunia, sementara di sini saya bahkan tidak memiliki air. Saya menderita
kehausan dan kelaparan. Saya juga punya keinginan gila untuk lagu-lagu cabul.
Saya sepertinya mendengar mereka, mengganggu hati dan pendengaran saya.
Menangis dan membentur dada saya, saya ingat sumpah yang telah saya buat.
Akhirnya saya melihat Cahaya yang bersinar menyinari saya dari mana-mana.
Setelah badai hebat, ketenangan abadi pun terjadi.
“Abba, bagaimana aku
memberitahumu tentang pemikiran yang mendesakku untuk melakukan percabulan? Api
sepertinya membakar dalam diri saya, membangkitkan keinginan untuk berpelukan.
Kemudian saya akan menjatuhkan diri ke tanah dan menyiraminya dengan air mata.
Saya sepertinya melihat Perawan Suci di hadapan saya, dan Dia tampaknya
mengancam saya karena tidak menepati janji saya. Saya berbaring telungkup siang
dan malam di tanah, dan tidak akan bangun sampai Cahaya yang diberkahi itu
melingkari saya, mengusir pikiran jahat yang mengganggu saya. “Demikianlah saya
hidup di padang belantara ini selama tujuh belas tahun pertama. Kegelapan demi
gelap, kesengsaraan demi kesengsaraan berdiri di sekitarku, seorang pendosa.
Tetapi sejak saat itu sampai sekarang Bunda Allah membantu saya dalam segala
hal
“Abba Zosimas bertanya lagi,
“Bagaimana kamu tidak membutuhkan makanan, atau pakaian?”
Dia menjawab, “Setelah
menghabiskan rotiku, aku hidup dengan tumbuh-tumbuhan dan hal-hal yang
ditemukan orang di padang pasir. Pakaian yang saya miliki ketika menyeberang
sungai Yordan menjadi sobek dan hancur berantakan. Saya menderita panas akibat
musim panas, ketika panas terik menimpa saya, dan dari dinginnya musim dingin,
ketika saya menggigil kedinginan. Berkali-kali saya jatuh ke bumi, seolah-olah
mati. Saya berjuang dengan berbagai kesengsaraan dan godaan. Tetapi sejak saat
itu sampai hari ini, kuasa Allah telah melindungi jiwa saya yang berdosa dan
tubuh yang rendah hati. Saya diberi makan dan berpakaian oleh firman Allah yang
maha kuasa, karena manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap kata
yang keluar dari mulut Allah (Ul 8: 3, Mat.4: 4, Luke 4: 4) , dan mereka yang
telah menyingkirkan orang tua itu (Kol 3: 9) tidak memiliki perlindungan,
bersembunyi di celah-celah bebatuan (Ayub 24: 8, Ibr 11:38). Ketika saya ingat
dari kejahatan apa dan dari dosa-dosa apa yang dibebaskan Tuhan kepada saya,
saya memiliki makanan yang tidak tahan untuk keselamatan. ”
Ketika Abba Zosimas
mendengar bahwa petapa suci mengutip Kitab Suci dari ingatan, dari Kitab Musa
dan Ayub dan dari Mazmur Daud, ia kemudian bertanya kepada wanita itu,
“Ibu, apakah Anda sudah membaca Mazmur dan buku-buku lainnya?”
Dia tersenyum mendengar
pertanyaan ini, dan menjawab, “Percayalah, saya tidak melihat wajah manusia
selain wajah Anda sejak saya menyeberangi sungai Yordan. Saya tidak pernah
belajar dari buku. Saya belum pernah mendengar ada yang membaca atau bernyanyi
dari mereka. Mungkin Firman Allah, yang hidup dan bertindak, mengajarkan
pengetahuan manusia dengan sendirinya (Kol. 3:16, 1 Tes. 2:13). Inilah akhir
dari kisah saya. Ketika saya bertanya ketika saya mulai, saya mohon kepada Anda
demi Sabda Allah yang menjelma, Abba yang kudus, doakanlah saya, seorang
pendosa.
“Lebih jauh lagi, aku
memohon kepadamu, demi Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita, jangan beri
tahu siapa pun apa yang telah kamu dengar dari saya, sampai Tuhan mengambilku
dari bumi ini. Tahun depan, selama Masa Prapaskah, jangan menyeberangi Sungai
Yordan, seperti kebiasaan biara Anda. ”
Sekali lagi Abba Zosimas
kagum, bahwa praktik biaranya diketahui oleh pertapa wanita suci, meskipun dia
tidak mengatakan apa-apa kepadanya tentang hal ini.
“Tetap di biara,”
lanjut wanita itu. “Bahkan jika kamu mencoba meninggalkan biara, kamu tidak akan
bisa melakukannya. Pada hari Kamis Agung dan Suci, hari Perjamuan Terakhir
Tuhan, letakkan Tubuh dan Darah Kristus yang Menciptakan Kehidupan, Allah kita
di dalam bejana yang kudus, dan bawalah itu kepada saya. Menunggu saya di sisi
sungai Yordan ini, di tepi gurun, sehingga saya dapat menerima Misteri Suci.
Dan katakan kepada Abba John, igumen komunitas Anda, ‘Lihatlah dirimu dan
saudara-saudaramu’ (1 Tim 4:16), karena ada banyak hal yang perlu diperbaiki.
Jangan katakan ini kepadanya sekarang, tetapi ketika Tuhan akan menunjukkan.
” Meminta doanya, wanita itu berbalik dan menghilang ke kedalaman gurun.
Selama setahun penuh,
Penatua Zosimas tetap diam, tidak berani mengungkapkan kepada siapa pun apa
yang telah dilihatnya, dan dia berdoa agar Tuhan mengabulkannya untuk melihat
petapa suci sekali lagi.
Ketika minggu pertama Masa
Prapaskah Besar datang lagi, Santo Zosimas diwajibkan untuk tetap tinggal di
biara karena sakit. Kemudian dia ingat kata-kata nubuat wanita itu bahwa dia
tidak akan bisa meninggalkan biara. Setelah beberapa hari berlalu, Santo
Zosimas disembuhkan dari kelemahannya, tetapi ia tetap berada di biara sampai
Pekan Suci.
Pada Kamis Putih, Abba
Zosimas melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia menempatkan beberapa
Tubuh dan Darah Kristus ke dalam piala, dan beberapa makanan dalam keranjang
kecil. Kemudian dia meninggalkan biara dan pergi ke sungai Yordan dan menunggu
pertapa. Santo itu tampak lambat, dan Abba Zosimas berdoa agar Tuhan
mengizinkannya melihat wanita suci itu.
Akhirnya, dia melihat wanita
itu berdiri di ujung sungai. Bersukacita, Santo Zosimas bangkit dan memuliakan
Tuhan. Lalu dia bertanya-tanya bagaimana dia bisa menyeberangi sungai Yordan
tanpa perahu. Dia membuat Tanda Salib di atas air, kemudian dia berjalan di atas
air dan menyeberangi sungai Yordan. Abba Zosimas melihatnya di bawah sinar
bulan, berjalan ke arahnya. Ketika sang Tetua ingin bersujud di hadapannya, dia
melarangnya, berteriak, “Apa yang kamu lakukan, Abba? Anda adalah seorang imam
dan Anda membawa Misteri Suci Tuhan. ” Sesampainya di pantai, dia berkata
kepada Abba Zosimas, “Berkatilah aku, Ayah.” Dia menjawabnya dengan
gemetar, heran dengan apa yang telah dilihatnya. “Sesungguhnya Allah tidak
berdusta ketika dia berjanji bahwa mereka yang menyucikan diri mereka akan
menjadi seperti Dia. Maha Suci Engkau, ya Kristus, Allah kami, karena telah
menunjukkan kepadaku melalui hamba-Mu yang kudus, betapa jauh aku dari
kesempurnaan. “
Wanita itu memintanya untuk
melafalkan Pengakuan Iman dan “Bapa Kami.” Ketika doa selesai, ia mengambil
bagian dalam Misteri Suci Kristus. Kemudian dia mengangkat tangannya ke langit
dan berkata, “Tuhan, sekarang biarkan hamba-Mu pergi dengan damai, karena
mataku telah melihat keselamatan-Mu.”
Santo menoleh ke Penatua dan
berkata, “Tolong, Abba, penuhi permintaan lain. Pergi sekarang ke biara Anda,
dan dalam waktu satu tahun datanglah ke tempat di mana kami pertama kali
berbicara. “
Dia berkata,
“Seandainya saya bisa mengikuti Anda dan selalu melihat wajah suci
Anda!”
Dia menjawab, “Demi
Tuhan, berdoalah untukku dan ingat kesuksesanku.”
Sekali lagi dia membuat
Tanda Salib di atas sungai Yordan, dan berjalan di atas air seperti sebelumnya,
dan menghilang ke padang pasir. Zosimas kembali ke biara dengan sukacita dan
teror, mencela dirinya sendiri karena dia tidak menanyakan nama orang suci itu.
Dia berharap untuk melakukannya pada tahun berikutnya.
Setahun berlalu, dan Abba
Zosimas pergi ke padang pasir. Dia mencapai tempat dia pertama kali melihat
pertapa wanita suci. Dia terbaring mati, dengan tangan terlipat di dadanya, dan
wajahnya menghadap ke timur. Abba Zosimas mencuci kakinya dengan air mata dan
menciumnya, tidak berani menyentuh yang lain. Untuk waktu yang lama dia
menangisinya dan menyanyikan Mazmur adat, dan mengucapkan doa pemakaman. Dia
mulai bertanya-tanya apakah orang suci itu ingin dia menguburnya atau tidak.
Dia tidak pernah memikirkan hal ini, ketika dia melihat sesuatu yang tertulis
di tanah dekat kepalanya: “Abba Zosimas, kubur di tempat ini tubuh Mary yang
rendah hati. Kembali ke debu apa itu debu. Berdoalah kepada Tuhan untuk saya.
Saya beristirahat pada hari pertama bulan April, pada malam Paskah Kristus yang
menyelamatkan, setelah mengambil bagian dalam Perjamuan Mistik. ”
Membaca catatan ini, Abba
Zosimas senang mengetahui namanya. Dia kemudian menyadari bahwa Santa Maria,
setelah menerima Misteri Suci dari tangannya, diangkut seketika ke tempat di
mana dia meninggal, meskipun butuh dua puluh hari untuk menempuh jarak itu.
Memuliakan Tuhan, Abba
Zosimas berkata kepada dirinya sendiri, “Sudah waktunya untuk melakukan apa
yang dia minta. Tetapi bagaimana saya bisa menggali kuburan, dengan tidak ada
apa-apa di tangan saya? ”Kemudian dia melihat sepotong kayu kecil ditinggalkan
oleh seorang musafir. Dia mengambilnya dan mulai menggali. Tanahnya keras dan
kering, dan dia tidak bisa menggalinya. Mendongak, Abba Zosimas melihat seekor
singa besar berdiri di dekat tubuh orang suci itu dan menjilati kakinya.
Ketakutan mencengkeram sang Penatua, tetapi dia menjaga dirinya dengan Tanda
Salib, percaya bahwa dia akan tetap tidak terluka melalui doa-doa pertapa
wanita suci itu. Kemudian singa itu mendekati sang Penatua, menunjukkan
keramahannya pada setiap gerakan. Abba Zosimas memerintahkan singa untuk
menggali kuburan, untuk menguburkan tubuh Saint Mary. Mendengar kata-katanya,
singa itu menggali lubang yang cukup dalam untuk mengubur tubuhnya. Kemudian
masing-masing pergi dengan caranya sendiri. Singa pergi ke padang pasir, dan
Abba Zosimas kembali ke biara, memberkati dan memuji Kristus, Allah kita.
Sesampainya di biara, Abba
Zosimas menceritakan kepada para biarawan dan igumen, apa yang telah dilihat
dan didengarnya dari Santa Maria. Semua heran, mendengar tentang mukjizat
Allah. Mereka selalu mengingat Santa Maria dengan iman dan cinta pada hari
istirahatnya. Abba John, igumen biara,
mengindahkan kata-kata Santa Maria, dan dengan bantuan Tuhan mengoreksi hal-hal
yang salah di biara. Abba Zosimas menjalani kehidupan yang menyenangkan Tuhan
di biara, mencapai usia hampir seratus tahun. Di sana dia menyelesaikan
kehidupan duniawinya, dan melewati kehidupan abadi.
Para bhikkhu meneruskan
kehidupan Santa Maria dari Mesir dari mulut ke mulut tanpa menuliskannya.
“Namun saya,” kata Santo
Sophronius dari Yerusalem (11 Maret), “menulis Kehidupan Santo Maryam dari
Mesir ketika saya mendengarnya dari para Bapa Suci. Saya telah mencatat
semuanya, menempatkan kebenaran di atas segalanya. ”
“Semoga Tuhan, yang
melakukan mukjizat-mukjizat besar dan memberikan hadiah kepada semua orang yang
berbalik kepada-Nya dengan iman, hadiahi mereka yang mendengar atau membaca
kisah ini, dan mereka yang menyalinnya. Semoga dia memberi mereka bagian yang
diberkati bersama dengan Santa Maria dari Mesir dan dengan semua orang suci
yang telah menyenangkan Allah dengan pikiran dan perbuatan saleh mereka.
Marilah kita memuliakan Allah, Raja yang Kekal, agar kita dapat berbelas
kasihan pada Hari Penghakiman melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Kepada siapa
semua kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan penyembahan bersama dengan Bapa
yang Tidak Tercipta, dan Yang Mahakudus dan Roh yang Menciptakan Kehidupan,
sekarang dan sampai selama berabad-abad. Amin.”[9]
Holly Weeks
Minggu Palma
- Minggu Palma: Pesta
Masuknya Tuhan Kita ke Yerusalem (Filipi 4: 4–9; Yohanes 12: 1–18)
Diperingati pada 21 April
Minggu
Palma adalah perayaan masuknya kemenangan Kristus ke kota kerajaan Yerusalem.
Dia menunggang seekor keledai yang telah Dia utus utus, dan Dia mengizinkan
orang-orang untuk memuji Dia di hadapan umum sebagai seorang raja. Kerumunan
besar bertemu dengan-Nya dengan cara yang sesuai royalti, melambaikan
ranting-ranting pohon palem dan menempatkan pakaian mereka di jalan-Nya. Mereka
menyambut Dia dengan kata-kata ini: “Hosanna! Diberkatilah dia yang datang
dalam nama Tuhan, bahkan Raja Israel! (Yohanes 12:13).
Hari ini
bersama-sama dengan kebangkitan Lazarus adalah tanda-tanda yang menunjukkan di
luar diri mereka pada perbuatan dan peristiwa besar yang menyempurnakan
pelayanan duniawi Kristus. Waktu pemenuhan sudah dekat. Kristus yang
membangkitkan Lazarus menunjuk pada kehancuran kematian dan sukacita
kebangkitan yang akan dapat diakses oleh semua melalui kematian dan
kebangkitan-Nya sendiri. Pintu masuknya ke Yerusalem adalah penggenapan nubuat
tentang Mesias tentang raja yang akan memasuki kota sucinya untuk mendirikan
kerajaan terakhir.
“Lihatlah,
rajamu datang kepadamu, rendah hati, dan menunggang keledai, dan pada keledai,
anak kuda keledai” (Zakh 9: 9).
Akhirnya,
peristiwa kemenangan dua hari ini hanyalah perjalanan menuju Pekan Suci:
“jam” penderitaan dan kematian yang dengannya Kristus datang. Dengan
demikian kemenangan dalam arti duniawi sangat singkat umurnya. Yesus masuk
secara terbuka ke tengah-tengah musuh-musuh-Nya, secara terbuka mengatakan dan
melakukan hal-hal yang paling membuat mereka marah. Orang-orang itu sendiri
akan segera menolak Dia. Mereka salah membaca kemenangan singkat duniawi-Nya
sebagai pertanda sesuatu yang lain: kemunculan-Nya sebagai seorang mesias
politik yang akan menuntun mereka menuju kejayaan kerajaan duniawi.
Janji Kami
Liturgi
Gereja lebih dari sekadar meditasi atau pujian tentang peristiwa masa lalu. Ini
mengomunikasikan kepada kita kehadiran dan kekuatan abadi dari peristiwa yang
sedang dirayakan dan menjadikan kita peserta dalam peristiwa itu. Demikianlah
pelayanan Lazarus Sabtu dan Minggu Palem membawa kita ke momen hidup dan mati
kita sendiri dan masuk ke Kerajaan Allah: Kerajaan bukan dari dunia ini,
Kerajaan yang dapat diakses di Gereja melalui pertobatan dan baptisan.
Pada hari
Minggu Palem, pohon-pohon palem dan willow diberkati di Gereja. Kami membawa
mereka untuk membangkitkan mereka dan menyapa Raja dan Penguasa hidup kita:
Yesus Kristus. Kami menerima mereka untuk menegaskan kembali janji pembaptisan
kami. Ketika Dia yang membangkitkan Lazarus dan memasuki Yerusalem untuk pergi
ke Sengsara sukarela-Nya berdiri di tengah-tengah kita, kita dihadapkan dengan
pertanyaan yang sama yang ditujukan kepada kita pada saat pembaptisan:
“Apakah Anda menerima Kristus?” Kami memberikan jawaban dengan berani
mengambil cabang dan angkatlah: “Aku menerima Dia sebagai Raja dan
Tuhan!”
Dengan
demikian, pada malam Sengsara Kristus, dalam perayaan siklus sukacita hari-hari
kemenangan Lazarus hari Sabtu dan Minggu Palem, kita menyatukan kembali diri
kita dengan Kristus, menegaskan Ketuhanan-Nya atas totalitas hidup kita, dan
menyatakan kesiapan kita untuk mengikuti-Nya ke Kerajaan-Nya:
… agar
aku dapat mengenal dia dan kuasa kebangkitannya, dan dapat berbagi
penderitaannya, menjadi seperti dia dalam kematiannya, sehingga jika mungkin
aku dapat memperoleh kebangkitan dari kematian (Filipi 3: 10-11).
- Holy
Monday: The Bridegroom
Pada hari Senin Kudus Gereja memperingati peristiwa
kutukan pohon ara (Matius 21: 18-20). Dalam narasi Injil peristiwa ini
dikatakan terjadi pada hari esok masuknya Yesus ke Yerusalem dengan kemenangan
(Matius 21:18 dan Markus 11:12). Karena alasan inilah ia masuk ke liturgi Senin
Kudus. Bersamaan dengan Yesus membersihan Bait Suci, peristiwa ini adalah
manifestasi lain dari kuasa dan otoritas ilahi Yesus dan juga wahyu tentang
penghakiman Allah atas ketidaksetiaan tua-tua Yahudi. Pohon ara yang melambangkan
Israel menjadi mandul karena kegagalannya mengenali dan menerima Kristus dan
ajaran-ajaran-Nya. Mengutuk pohon ara adalah perumpamaan dalam tindakan, suatu
gerakan simbolik. Artinya tidak boleh hilang pada siapa pun di generasi mana
pun. Penghakiman Kristus atas orang yang tidak beriman, tidak percaya, tidak
bertobat, dan tidak mengasihi akan menjadi pasti dan menentukan pada Hari
Terakhir. Peristiwa ini menjelaskan bahwa kekristenan formalitas tidak hanya
tidak memadai, tetapi juga tercela dan tidak layak bagi kerajaan Allah. Iman
Kristen yang sejati itu dinamis dan berbuah. Ini meresapi seluruh keberadaan
seseorang dan menyebabkan perubahan. Iman yang hidup, benar, dan tidak tercemar
membuat orang Kristen sadar akan fakta bahwa ia sudah menjadi warga Kerajaan
Surga. Karena itu, cara berpikir, perasaan, tingkah laku dan wujudnya harus
mencerminkan kenyataan ini. Mereka yang menjadi milik Kristus harus hidup dan
berjalan dalam Roh; dan Roh akan membuahkan hasil di dalamnya: cinta, sukacita,
damai, kesabaran, murah hati, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, pengendalian
diri (Galatia 5: 22-25).
Referensi:
http://orthochristian.com/52793.html
- Holy
Tuesday: Parable of the Wise and Foolish Virgins
Perumpamaan lima
gadis bijaksana dan lima gadis bodoh mengajarkan kepada kita untuk berjagajaga
senantiasa menyambut kedatangan Sang Mempelai Laki-laki yaitu Yesus Kristus
(baca juga Mat 9:15; Wah 19:6-10). Kedatangan Dia adalah hari Penghakiman yang
kita tidak tahu hari dan waktunya (Mat 24:42; Mar 13:35; Luk 12:40). Lima gadis
bodoh akhirnya tidak dapat masuk ke ruang perjamuan kawin bersama mempelai
laku-laki sebab pintu sudah ditutup (ayat 10). Dan ayat 11, Matius menuliskan
penyebab mereka tidak dapat masuk yaitu mereka tidak berjaga-jaga sehingga
mereka tidak dikenal oleh sang mempelai. Apa artinya berjaga-jaga? Lima gadis
bodoh sama seperti lima gadis bijaksana yaitu diberi tugas yang sama menyambut
kedatangan sang mempelai laki-laki. Mereka membawa pelita masing-masing namun
lima gadis bodoh itu tidak membawa persediaan minyak sehingga pada akhirnya
pelita mereka akan padam sebelum kedatangan sang mempelai. Mereka tidak
berjaga-jaga dan ini membuat mereka ditolak masuk. Berjaga-jaga artinya menjaga
pelita tetap menyala sampai kedatangan sang mempelai. Bagaimana berjaga-jaga
atau menjaga pelita itu tetap menyala? Kuncinya adalah menyediakan persediaan
minyak yang cukup. Tanpa minyak maka pelita pasti akan padam. Minyak dan Pelita
Perumpamaan di atas mengajarkan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga maka pelita
kita harus menyala tidak boleh padam (lihat juga Luk 12:35). Di sinilah
dibutuhkan keberjagaan yaitu harus menyediakan atau membawa minyak supaya
pelita tetap menyala sampai Kerajaan Surga itu datang yaitu Sang Mempelai
Laki-laki itu datang. Minyak adalah energi bagi pelita tetap menyala. Minyak
itu adalah anugerah atau kasih karunia Allah sebagai energi ilahi bagi pelita
kita. Pelita itu adalah terang yang berasal dari anugerah yang menerangi hati dan
mata hati kita (2 Kor 4:6; Efe 1:18). Dan hati atau mata hati yang terang akan
menerangi atau menjadi pelita bagi tubuh kita sendiri (Luk 11:34). Sehingga
yang menjadi pelita itu adalah hati atau batin dan tubuh manusia. Hati dan
tubuh manusia harus menjadi pelita atau terang. Sebab itu, hati kita harus
dialiri oleh anugerah atau energi ilahi setiap hari supaya pelita hati kita
tetap menyala.
Pelita Hati Pelita hati ini adalah api batin (inner
flame) yang menjadi tungku bagi kehidupan spiritual kita. Tungku api ini tidak
boleh padam sehingga kita harus terus menjaganya senantiasa. Bagaimana caranya?
Nepsis atau keberjagaan batin dengan doa batin seperti yang diajarkan Tuhan
Yesus, “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan
untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di
hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36 TB). John
Chrysostom
menuliskan, “In anyone pours out water or dirt upon the light of a lamp,
it goes out, and this also happens if they simply pour all of the oil out of it
… in the same manner the gift of grace is extinguished. If you have filled
your mind with earthly things, if you have given yourself up to the cares of
daily business, you have already quenched the Spirit. The flame goes out when
there is not enough oil, that is, when we do not show charity. The Spirit came
to you by God’s mercy; and so if it does not find corresponding fruits of mercy
in you, it will flee away from you. For the Spirit does not make its indwelling
in the unmerciful soul.” St. Theophan menuliskan, “Learn to perform
everything you do in such a way that it warms the heart instead of cooling it.
Whether reading or praying, working or talking with others, you should hold
fast to this one aim—not to let your heart grow cool. Keep your inner stove
always hot by reciting a short prayer, and watch over your feelings in case
they dissipate this warmth.” Lebih lanjut lagi dia menuliskan, “Cast
aside everything that might extinguish this small flame which is beginning to
burn within you, and surround yourself with that which can feed and fan it into
a strong fire. Isolate yourself, pray… Your solitude must become more
collected, your prayer deeper, and your meditation more forceful.” St. Dimitri dari Rostov juga menuliskan,
“To kindle in his heart such a divine love, to unite with God in an
inseparable union of love, it is necessary for a man to pray often, raising the
mind to Him. For as a flame increases when it is constantly fed, so prayer,
made often, with the mind dwelling ever more deeply in God, arouses divine love
in the heart. And the heart, set on fire, will warm all the inner man, will
enlighten and teach him, revealing to him all its unknown and hidden wisdom,
and making him like a flaming seraph, always standing before God within his
spirit, always looking at Him within his mind, and drawing from this vision the
sweetness of spiritual joy.” Doa keheningan adalah doa yang Kristus
sentris, berpusat pada Kristus sehingga Roh Kudus berkarya mencurahkan anugerah
itu ke dalam hati kita. Doa pada pagi hari pada jam pertama (pukul 5 atau 6
pagi) tentang Kristus yang adalah terang dunia begitu juga hidup kita adalah
terang; doa pada jam ketiga (pukul 9 pagi) tentang Roh Kudus yang turun untuk
melahirkan baru kita sehingga kita adalah manusia baru di dalam Kristus; doa
pada jam keenam (pukul 12 siang) tentang penyaliban Yesus yang mengajarkan kita
juga ikut menyalibkan keinginan daging kita; doa pada jam kesembilan (pukul 3
sore) tentang kematian Yesus menebus dosa kita yang mengajarkan betapa besar
kasih Kristus untuk kita yang mengorbankan nyawa-Nya; doa pada petang hari
pukul 6 tentang Yesus turun ke dalam kubur dan akan bangkit pada besok harinya
mengajarkan kita untuk bangkit melawan dosa-dosa kita; doa pada malam hari
sebelum tidur tentang Yesus yang tergeletak di dalam kubur mengingatkan kita
akan kematian; dan doa tengah malam mengajarkan kita untuk berjaga-jaga seperti
Kristus yang datang seperti pencuri di tengah malam. Baca juga artikel-artikel
berikut tentang hati dan doa batin:
https://hendisttrii.wordpress.com/2017/11/12/hati/
https://hendisttrii.wordpress.com/2017/05/07/%e2%80%8bapi-batin-inner-flame/
https://hendisttrii.wordpress.com/2018/12/04/hati-solitude/
https://hendisttrii.wordpress.com/2017/10/02/lord-jesus-have-mercy-on-me/
Terang Tubuh Keberjagaan hati atau mata hati dengan
nepsis dan doa membuat inner flame atau api batin tetap menyala sehingga api
batin ini akan memancar dari dalam ke luar dari tubuh kita. Artinya dengan mata
hati atau hati yang terang akan menghasilkan perbuatan yang terang. Mata hati
atau mata batin inilah Nous atau inti terdalam dari batin kita yang harus terus
menyala oleh anugerah Allah. Sebab itu Lukas menuliskan bahwa pelita tubuh kita
adalah mata batin itu (Luk 11:34). Mata kita adalah pelita bagi tubuh. Jika
mata kita jahat artinya pelita hati itu padam maka tubuh menjadi gelap. Dan
jika mata kita baik artinya pelita hati itu menyala maka tubuh menjadi terang.
Pelita hati berbicara tentang baik dan jahat. Hati yang baik adalah hati yang
menyala sehingga menjadi pelita hati yang menyinari tubuh. Hati yang baik
adalah hati yang berjaga-jaga supaya tetap menyala. Hati yang baik adalah hati
yang terus berdoa dan melawan hal-hal yang jahat yang bisa timbul di dalam hati
seperti
dosa yang dilakukan oleh batin seperti pikiran-pikiran
jahat (logismoi). Logismoi ini harus dimatikan dengan nepsis dan doa di dalam
hati supaya tidak berubah menjadi nafsu daging yang jika dibuahi oleh
tubuh/perbuatan maka menjadi dosa perbuatan yang membuat tubuh menjadi gelap.
Sebab itu dengan pelita hati maka logismoi ini dimatikan sehingga tubuh menjadi
terang. Hanya mata yang baik yaitu hati yang menyala atau mata hati yang terang
maka tubuh akan menjadi terang. Jika mata tidak baik maka hati ini penuh dengan
logismoi dan akibatnya tubuh dapat menjadi gelap jika logismoi ini dibuahi
menjadi dosa. Baca juga artikel-artikel berikut:
https://hendisttrii.wordpress.com/2017/11/21/egemonikon-dan-logismoi/
https://hendisttrii.wordpress.com/2017/06/24/%e2%80%8bproses-lahirnya-dosa-the-process-of-sin/
Good Works Berjaga-jaga berarti menjaga pelita hati
dan tubuh tetap menyala sampai kedatangan Sang Mempelai Laki-laki. Menjaga
pelita tetap menyala pada akhirnya harus mendatangkan perbuatan-perbuatan baik
atau good works. Semua itu berasal dari anugerah Allah yang bekerja dari dalam
sebagai minyak bagi pelita kita. Perbuatan-perbuatan baik itulah terang yang
terpancar keluar dari pelita itu. Jika pelita itu adalah iman maka minyak itu
adalah perbuatan-perbuatan baik yang membuat iman itu jadi hidup atau menyala.
Tanpa buah perbuatan baik maka pelita kita sedang padam. Tubuh yang terang
adalah perbuatan baik dan tubuh yang terang berasal dari hati yang terang. Hati
yang terang itu karena ada anugerah yang bekerja di dalamnya. Tafsiran Bapa
Gereja Jerome dengan tepat menuliskan, “This parable of the ten foolish
and the ten wise virgins, some interpret literally of virgins, of whom there
are according to the Apostle some who are virgins both in body and in thought, others
who have preserved indeed their bodies virgin, but have not the other deeds of
virgins, or have only been preserved by the guardianship of parents, but have
wedded in their hearts. But from what has gone before, I think the meaning to
be different, and that the parable has reference not to virgins only, but to
the whole human race. For there are five senses which hasten towards heavenly
things, and seek after things above. Of sight, hearing, and touch, it is
specially said, “That which we have heard, which we have seen with our eyes,
and our hands have handled.” There are also other five senses which gape after
earthly husks. The virgins that have oil are they who, besides their faith,
have the ornament of good works – they that have not oil, are they that seem to
confess with like faith, but neglect the works of virtue. Or, “They slumbered,”
i.e. they were dead. And then follows, “And slept, “because they were to
be afterwards wakened. “While the bridegroom tarried, “hews that no little
time intervened between the Lord’s first and second coming. The Jews have a
tradition that Christ will come at midnight, in like manner asin that
visitation of Egypt, when the Paschal feast is celebrated, and the destroyer
comes, and the Lord passes over our dwellings, and the door posts of each man’s
countenance are hallowed by the blood of the Lamb. Suddenly thus, as on a
stormy night, and when all think themselves secure, at the hour when sleep is
the deepest, the coming of Christ shall be proclaimed bythe shout of Angels,
and the trumpets of the Powers that go before Him. This is meant when it says,
“Lo, the bridegroom cometh, go ye out to meet him.” Or, These virgins who
complain that their lamps are gone out, show that they are partially alight,
yet have they not an unfailing light, nor enduring works. Whoso then has a
virgin soul, and is a lover of chastity, ought not to rest content with such
virtues as quickly fade, and are withered away when the heat comes upon them,
but should follow after perfect virtues, that he may have an enduring light.
And this oil is sold, and at a high cost, nor is it to be got without much
toil; so that we understand it not of alms only, but of all virtues and
counsels of the teachers. After the day of judgment, there is no more opportunity
for good works, or for righteousness, and therefore it follows, “And the door
was shut.” Their worthy confession calling Him, “Lord, Lord,” is a mark of
faith. But what avails it to confess with the mouth Him whom you deny with your
works?. For “the Lord knoweth them that are his,” and he that knoweth not shall
not be known, and though they be virgins in purity of body, or in confession of
the true faith, yet forasmuch as they have no oil, they are unknown by the
bridegroom. When He adds, “Watch therefore, because ye know not the day nor the
hour,” He means that all that has been said points to this, namely, that seeing
we know not the day of judgment, we should be careful in providing the light of
good works.”
Referensi: Catena Aurea by Thomas Aquinas. Anthony M.
Coniaris, Philokalia: The Bible of Orthodox Spirituality. Minneapolis: Light
and Life Publishing Company, 1998.
- Holy
Wednesday: Washing of the Disciples Feet (Matthew 26:6–16)
“Yesus
berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan
kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal.
Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat
itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu
dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang
miskin.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu
menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik
pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan
selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia
membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini
akan disebut juga untuk mengingat dia.” Kemudian pergilah seorang dari kedua
belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia
berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia
kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat
itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.” (Matius
26:6-16 TB) Perayaan hari Rabu Kudus memperingati 2 peristiwa penting yaitu
Yesus diurapi minyak Narwastu oleh seorang perempuan dan Yesus dikhianati oleh
murid-Nya sendiri, Yudas Iskariot. Bukan tanpa tujuan Sang Penginjil
menyebutkan nama si kusta, Simon, agar Ia menunjukkan dari mana perempuan itu
percaya dan datang kepada Yesus. Penyakit kusta adalah penyakit yang paling
najis dan dibenci, namun perempuan itu telah melihat Yesus telah menyembuhkan
orang itu (karena tentu dia tidak akan memilih untuk tinggal bersama seorang
penderita kusta), dan pergi ke rumahnya; dia menjadi percaya bahwa Yesus juga
akan dengan mudah menghapus kenajisan jiwanya. Perempuan itu datang kepada-Nya,
sadar akan dirinya sendiri yang banyak kenajisan; tidak di depan umum tetapi di
rumah. Dan sementara semua yang lain datang kepada-Nya untuk penyembuhan
jasmani saja, namun dia datang kepada-Nya hanya dengan cara meninggikan Kristus
dan untuk pemurnian jiwa. Perempuan itu tidak ada sama sekali menderita di
tubuh. Dia menyeka kaki-Nya dengan rambutnya. Itu merupakan anggota paling terhormat
dari seluruh tubuh dan ini dia letakkan di bawah kaki Kristus, bahkan kepalanya
sendiri. Ketika perempuan itu memberikan yang terbaik kepada Yesus pada saat
yang sama Sang Penginjil mencatat Yudas Iskariot, salah satu dari 12 murid,
mengambil keuntungan dari Yesus dengan menjual gurunya sendiri. Dua peristiwa
yang sangat kontras. Yang satu menyucikan diri dan satu lagi menajiskan diri.
Seperti Yusuf yang dijual seharga 20 keping perak oleh saudara-saudaranya (Kej
37:28), Yesus dijual oleh Yudas Iskariot seharga 30 uang perak. Dua peringatan
ini adalah lambang kontras antara orang-orang berdosa yang mau bertobat
mendahului para pemimpin Agama Yahudi pada saat itu di dalam menerima Mesias
dan keselamatan, serta mau mempersembahkan apa yang termahal dalam hidupnya
kepada Kristus; dan orang berdosa yang mengeraskan hati sehingga tidak mau
bertobat bahkan mengkhianati Sang Kristus karena dibutakan oleh ketamakan akan
uang sehingga menjual Kristus bukannya mempersembahkan sesuatu kepada Kristus.
Semua yang terjadi ini merupakan konfrontasi Kristus dengan Iblis yang
mengendalikan hidup manusia (Yoh 6:70-71; 13:2, 27). Kristus datang untuk
melepaskan manusia dari genggaman Iblis ini sebagaimana si perempuan yang
bertobat itu, dan untuk menyembuhkan dari kodrat-Nya yang mengalami rusak
akibat kejatuhan. Sebab itu, Gereja juga mengadakan sakramen kesembuhan dengan
Minyak Pengurapan simbol dari Minyak Narwastu yang dipersembahkan perempuan itu
kepada Kristus. Kidung-kidung yang bertema kontras antara pertobatan si
perempuan dan pengkhianatan dan ketamakan Yudas Iskariot dipanjatkan di dalam
sakramen kesembuhan. Pelepasan manusia dari Iblis dan kodrat yang rusak akibat
kejatuhan itu akan dilaksanakan Kristus melalui penderitaan, penyaliban,
kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya yang dilaksanakan dari Kamis Kudus
sampai dengan Minggu Paskah yang dirayakan pada hari-hari esoknya. Bapa Gereja
St. Gregory of Nazianzen dalam Orasi tentang Paskah menyatakan, “Kemarin
aku disalibkan dengan Kristus, hari ini aku dimuliakan bersama-Nya; kemarin aku
mati bersama-Nya, hari ini aku dihidupkan bersama-Nya; kemarin aku dikuburkan
bersama-Nya, hari ini aku bangkit bersama-Nya. Tetapi marilah kita memberikan
persembahan kepada Kristus yang mati dan bangkit kembali untuk kita. Mungkin
Anda berpikir aku sedang berbicara tentang emas atau perak atau permadani atau
batu-batu berharga yang berkilau, materi duniawi yang terus berubah dan tetap
ada di bawahnya, yang sebagian besar selalu menjadi milik orang-orang jahat dan
para budak dari hal-hal di bawah dan penguasa dunia ini. Mari kita menawarkan
diri kita sendiri, milik yang paling berharga bagi Allah dan yang terdekat
dengan-Nya. Mari kita berikan kembali kepada Gambar yang sesuai dengan gambar,
mengenali nilai kita, memuliakan Pola Dasar, mengetahui kekuatan misteri dan
untuk siapa Kristus mati.” “Marilah kita menjadi seperti Kristus,
karena Kristus juga menjadi seperti kita; marilah kita menjadi ilahi karena
Dia, karena Dia juga menjadi manusia karena kita. Dia berasumsi apa yang lebih
buruk sehingga dia bisa memberikan yang lebih baik. Dia menjadi miskin yang
kita lalui kemiskinannya membuat kita menjadi kaya. Dia mengambil rupa seorang
budak, agar kita bisa mendapatkan kembali kebebasan. Dia turun agar kita dapat
diangkat, Dia tergoda supaya kita bisa menang, Dia dipermalukan untuk
memuliakan kita, Dia mati untuk menyelamatkan kita, Dia naik untuk menarik bagi
kita sendiri yang terbaring di bawah dalam kejatuhan dosa. Mari kita memberikan
segalanya, menawarkan segalanya, kepada orang yang memberikan dirinya sebagai
tebusan dan pertukaran bagi kita. “Tetapi seseorang tidak dapat
membandingkan dan memahami misteri-Nya karena Dia menjadi dirinya seperti kita
karena kita.” (Festal Oration, St. Gregorius dari Nazianzus)
Pada hari ini, Kamis Kudus sesuai dengan urutan yang
diwarisi oleh Gereja, kita merayakan empat peristiwa: Pembasuhan kaki oleh
Yesus kepada para murid, Perjamuan Kudus, Penderitaan Tuhan di Taman Getsemani,
dan Pengkhianatan Yudas Iskariot.
Pada hari pesta roti tidak beragi, ketika menurut
Hukum Perjanjian Lama seekor domba akan disembelih dan dimakan, saatnya tiba
bahwa Juruselamat harus pergi dari dunia ini kepada Bapa (lih. Yoh 13: 1).
Setelah datang untuk menggenapi hukum Taurat, Yesus Kristus mengutus
murid-muridNya, Petrus dan Yohanes, ke Yerusalem untuk mempersiapkan Paskah,
yang, sebagai bayang-bayang hukum, Ia ingin menukarnya dengan Paskah Baru —
Tubuh dan Darah-Nya sendiri. Ketika petang telah tiba, Tuhan datang dengan
kedua belas murid-Nya ke sebuah ruangan atas yang besar dari seorang pria yang
tinggal di Yerusalem (lihat Mar 14: 12–17) dan bersandar di sana. Memberitahu
mereka bahwa Kerajaan Allah, yang bukan dari dunia ini, dan bukan kebesaran dan
kemuliaan duniawi, tetapi cinta, kerendahan hati, dan kemurnian roh adalah yang
membedakan muridnya, Tuhan bangkit dari meja dan membasuh kaki para murid-Nya.
Setelah membasuh kaki dan bersandar lagi, Tuhan berkata kepada para murid-Nya:
Apakah kamu tahu apa yang telah saya lakukan untuk kamu? Kamu memanggil Aku
Guru dan Tuhan, dan kamu berkata dengan benar, karena aku memang seperti itu.
Jadi, jika aku, Tuhan dan Gurumu, telah membasuh kakimu, maka kamu juga harus
saling membasuh kaki. Karena aku telah memberi kamu sebuah contoh, sehingga
kamu akan melakukan hal yang sama yang telah aku lakukan untukmu.
Setelah membasuh kaki, Yesus Kristus merayakan Paskah
menurut Hukum Musa, dan kemudian melembagakan Paskah baru — misteri besar
Perjamuan Kudus yang paling suci. Lembaga sakramen Perjamuan Kudus adalah
peristiwa kedua yang diingat Gereja pada hari Kamis Putih.
Sakramen Perjamuan Kudus, yang dilembagakan oleh Tuhan
di hadapan penderitaan dan kematianNya, menurut perintah-Nya, “ini adalah
untuk mengenang Aku,” dari masa yang paling awal sampai sekarang telah
dirayakan tanpa gangguan di banyak sekali meja mezbah suci dari Gereja
Universal.
Pada perjamuan makan malam, Tuhan menubuatkan kepada
para murid-Nya bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya, dan dia akan
diberikan sepotong roti setelah Yesus mencelupkannya; dan orang itu adalah
Yudas Iskariot. Ketika Yudas mengambil roti, iblis memasuki dia. Pada saat itu
pengkhianat itu meninggalkan Kristus dan Gereja-Nya. Hari itu sudah malam
(lihat Yoh 13: 1–30). Setelah menghentikan argumen para Rasul tentang siapa
yang akan menjadi terbesar di antara mereka dan setelah menbuatkan apa yang
akan terjadi kepada para Rasul, Tuhan pergi bersama mereka ke taman Getsemani
di Bukit Zaitun (lih. Luk 22:24 -28; Mt. 26:30:35). Di sini penderitaan-Nya
dimulai: pertama dalam jiwa dan kemudian dalam tubuh. Memulai penderitaanNya,
Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Duduklah di sini sementara aku pergi dan
berdoa di sana.” Kemudian dengan membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang juga
menyaksikan kemuliaan transfigurasi-Nya, Ia mulai bergumul. Jiwaku sangat
sedih, bahkan sampai mati: tetaplah di sini, dan awasi aku (Mat 26:38), kata
Yesus kepada murid-murid-Nya. Pergi sedikit lebih jauh ke sebuah batu, Dia
menundukkan kepala dan berlutut dan berdoa sampai Dia berkeringat darah,
sebagai seorang yang merasakan cawan penderitaan tetapi menyerahkan dirinya
sepenuhnya pada kehendak Bapa. Seorang malaikat muncul dari surga kepada Yesus
Kristus dan menguatkan-Nya. Selama doa-Nya, Tuhan datang tiga kali kepada para
murid-Nya dan berkata, berjaga-jagalah dan berdoa, agar kamu tidak masuk ke
dalam pencobaan: roh memang berkehendak, tetapi daging lemah. Tetapi para murid
tidak dapat berjaga-jaga dalam doa bersama Tuhan, karena mata mereka berat.
Doa Yesus Kristus di Getsemani mengajarkan kepada kita
bahwa di tengah-tengah pencobaan dan kesedihan, doa memberi kita penghiburan
besar dan kudus serta membenarkan kesiapan kita untuk bertemu dan menanggung
penderitaan dan kematian. Tuhan juga menunjukkan melalui teladan-Nya sendiri
sebelum penderitaan dan kematian-Nya kekuatan doa yang menghibur dan
menguatkan. Pada saat yang sama, Dia menyarankannya kepada para Rasul yang
bersedih: berjaga-jaga dan berdoa, agar kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan,
karena roh penurut tetapi daging lemah.
Pada sekitar tengah malam, Yudas Iskariot datang ke
taman bersama dengan banyak prajurit bersenjata yang dikirim oleh para imam
besar dan tua-tua. Tuhan Sendiri mendatangi mereka dan menyapa mereka dengan
kata-kata: “Ini aku”. Demikianlah Dia memberi tahu mereka siapa Dia,
dan mereka terjatuh ke tanah karenanya. Kemudian Dia dengan rendah hati
mengizinkan Yudas untuk mencium-Nya, dan para prajurit membawa Dia ke dalam
penderitaan dan kematian (lih Mat 26: 36– 56; Markus 14: 32–46; Luk. 12:
38–53). Dengan demikian, Dia menunjukkan melalui kehidupan manusia-Nya kelanjutan
dari kemahakuasaan ilahi-Nya dan otoritas atas hukum-hukum alam dengan sebuah
kata: “Akulah yang telah melemparkan pengkhianat dan orang-orang jatuh ke
tanah, memiliki banyak malaikat dalam kekuatanku, tetapi Aku telah datang untuk
memberikan Diri-Ku sebagai korban untuk penebusan dosa-dosa dunia. Aku dengan
sukarela dan dengan rendah hati menyerahkan Diri saya ke tangan orang berdosa!”
Referensi:
http://orthochristian.com/52879.html
Ketika kita mempelajari agama-agama dunia, kita
melihat bahwa sudah lazim bagi manusia untuk mempersembahkan korban kepada para
dewa atau allah mereka, tetapi kekristenan adalah sesuatu yang sama sekali baru
bahwa Tuhan harus mengorbankan diri-Nya untuk manusia. Namun inilah arti
penyaliban. Tuhan dalam pribadi Yesus mati di kayu salib untuk kita. Penyaliban
Yesus bukan hanya fakta sejarah; itu juga merupakan jendela yang memungkinkan
kita untuk melihat kebenaran besar. Ada beberapa peristiwa lain dalam sejarah
yang menjadi jendela. Galileo memandangi sebuah lampu gantung di katedral dan
melihat di baliknya kebenaran tentang pergerakan bumi. Newton memandangi sebuah
apel yang jatuh dari pohon dan melihat di baliknya ada kebenaran tentang gravitasi.
Salib adalah jendela yang melaluinya kita melihat kebenaran agung dari kasih
Allah bagi kita. “Allah begitu mencintai dunia sehingga Ia memberikan Anak
tunggal-Nya sehingga siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa
melainkan memperoleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16) Allah tidak lagi diam.
Dia berbicara secara jelas dan berbeda. Ini terjadi di atas kayu salib.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus
telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Rom 5:8 TB)
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah
yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian
bagi dosa-dosa kita.” (1 Yoh 4:10 TB) “Tetapi sesungguhnya, penyakit
kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita
mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh
karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran
yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yes 53:4-5 TB) “sama seperti
Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk
memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:28 TB)
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia
yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan
pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah
Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak
bercacat.” (1 Pet 1:18-19 TB) “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya
kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih
karunia-Nya.” (Efe 1:7 TB) Seorang pendeta yang mengunjungi seorang yang
sedang sekarat, sambil memegang salib di depan mata orang yang sekarat itu,
berkata, “Salib ini menunjukkan betapa Tuhan sangat mencintaimu!”
Ketika Kristus mati di kayu salib Dia berkata kepada kita, “Tidak ada yang
bisa kamu lakukan padaku untuk menghentikanku mencintaimu. Kamu bisa
mendurhakai aku; kamu dapat memukul aku dan melukai aku dan mencambukku; kamu
mungkin membunuh aku di kayu salib, tetapi aku tidak akan pernah berhenti
mengasihimu.” Semua yang terjadi pada Golgota memungkinkan kita untuk
melihat ke dalam hati Allah yang pengasih, menderita, dan menebus. Manusia
telah mempersembahkan korban kepada para dewa selama berabad-abad. Di Kalvari
kita melihat satu, Allah yang benar mengorbankan diriNya untuk kita!
“Tidak ada yang dapat menyamai keajaiban keselamatan saya: tetesan darah
menciptakan kembali seluruh dunia” (St. Gregorius Nazianzus). “Untuk
tujuan ini saya datang pada saat ini,” doa Yesus di Getsemani ketika Dia
berlutut dalam doa, berkeringat darah untuk kita. Dua Garis Lihatlah Salib dan ingat apa yang dikatakan
Daud dalam Mazmur 103: 11-12, “tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian
besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur
dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Maz
103:11-12 TB) Jika kita memperhatikan dua ayat ini, kita memiliki dua garis
besar, satu menjangkau dari surga ke bumi: “seperti langit yang tinggi di
atas bumi, begitu besar kasih-Nya kepada mereka yang takut kepadanya.” Ini
adalah garis vertikal dari Kasih Tuhan yang teguh. Garis lainnya membentang
dari timur ke barat: “sejauh timur dari barat, sejauh ini Dia menghapus
pelanggaran kita.” Ini adalah garis horizontal pengampunan Tuhan. Di mana
dua garis besar pengampunan dan cinta ini bertemu, mereka membentuk sebuah
salib yang membayangi kita masing-masing: bayang-bayang cinta pengampunan
Allah.
“Tetapi kami memberitakan Kristus yang
disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang
bukan Yahudi suatu kebodohan,” (1 Kor 1:23 TB) Hanya sekali dalam sejarah
manusia ditanya: apa yang akan kamu lakukan kepada-Nya. Jawaban yang diberikan
adalah, “Salibkan Dia.” Penyaliban Yesus adalah kejahatan yang mengerikan
karena dilakukan terhadap orang yang tidak bersalah. Tetapi maknanya menjadi
sangat menghebohkan ketika kita menyadari bahwa itu dilakukan untuk kita. Dan
Tuhan membiarkan diri-Nya disalibkan untuk menebus kita. Penyaliban Penyaliban
bukan cara biasa untuk menjatuhkan hukuman mati. Itu adalah hukuman mati yang
hanya diperuntukkan bagi orang-orang kelas bawah, para budak. Jika seorang
warga negara Romawi melakukan kejahatan yang menuntut hukuman mati, ia akan
dieksekusi dengan cara digantung atau dengan cara lain — tidak pernah dengan
penyaliban. Kematian semacam itu, yang paling ditakuti di dunia kuno, kematian
yang hanya cocok untuk budak, adalah kematian Yesus. Penyaliban berasal dari
Persia. Asalnya berasal dari fakta bahwa bumi dianggap suci bagi dewa Ormuzd.
Dengan demikian, penjahat diangkat dari sana agar ia tidak menajiskan bumi,
yang merupakan milik Allah. Dari Persia, penyaliban menyebar ke Kartago di
Afrika Utara dan dari sana ke Roma. Dengan menanggung segala dosa kita ke atas
diri-Nya, Anak Allah dianggap sebagai penjahat yang begitu mengerikan sehingga
Ia diangkat dari bumi di atas kayu salib agar tidak menajiskan bumi-Nya
sendiri! Kematian yang memalukan seperti itulah yang Yesus — pribadi kedua dari
Tritunggal Mahakudus — menderita bagi kita. Penyaliban dijelaskan dengan sangat
sederhana dalam Injil: “Ketika mereka sampai di tempat yang disebut Tengkorak,
di sana mereka menyalibkan Dia” (Lukas 23:33). Tidak ada upaya untuk
menggambarkan horor penyaliban. Untuk melakukan itu tidak perlu; semua orang
pada waktu itu mengenal detail kematian yang mengerikan itu. Tetapi bagi kita
hari ini tidak. Kita perlu diingatkan tidak hanya tentang penderitaan tetapi
juga penghinaan yang diderita Yesus bagi kita. Ikon Penyaliban menunjukkan
Kristus, Adam yang baru, yang tidak berpakaian, tergantung di pohon, rasa malu,
salib, yang sekarang telah menjadi pohon kehidupan baru bagi umat manusia yang
ditebus (Gal 3: 13-14). Dosa Adam pertama membuat orang tidak dapat masuk ke
pohon kehidupan di Firdaus, tetapi salib Kristus — pohon kedua — telah membuka
pintu gerbang ke Firdaus. Seorang guru besar Ortodoksi, St. Theodore the
Studite, menafsirkan sifat kemenangan dari kematian Kristus di kayu salib,
untuk semua generasi ketika ia menulis, “Betapa berharganya karunia salib
itu! Lihat, betapa indahnya untuk dilihat!… .Ini adalah pohon yang menghasilkan
kehidupan, bukan kematian. Itu adalah sumber terang, bukan kegelapan. Salib
menawarkan kamu rumah di Eden. Itu tidak mengusir kamu. Itu adalah pohon yang
Kristus pasang sebagai raja di atas keretanya, dan karenanya menghancurkan
iblis, penguasa maut, dan menyelamatkan umat manusia dari perbudakan tiran. Itu
adalah pohon tempat Tuhan, seperti seorang pejuang besar dengan tangan dan
kaki-Nya dan sisi ilahi-Nya tertikam dalam pertempuran, menyembuhkan luka-luka
dosa kita, menyembuhkan sifat kita yang telah dilukai oleh ular jahat. Dulu
kita diracuni oleh sebatang pohon; sekarang kita telah menemukan keabadian
melalui pohon…. … Dengan salib, kematian dikalahkan dan Adam hidup kembali. Di
salib setiap rasul telah memuliakan; dengan itu setiap martir telah dimahkotai
dan setiap orang kudus disucikan. Kita telah memikul salib Kristus, dan
menyingkirkan Iblis. Melalui salib kita telah bergabung dengan kawanan Kristus,
dan diberikan tempat di surga. Semua ini menuntun Vladimir Lossky untuk menulis
encomium berikut ke salib Kristus: “The Cross is then the concrete
expression of the Christian mystery, of victory by defeat, of glory by
humiliation, of life by death—symbol of an omnipotent God, Who willed to become
man and to die as a slave, in order to save His creature. The cross is the insignia
of Christ’s royalty—“I call Him King because I see Him crucified: It belongs to
the King to die for His subjects” (St. John Chrysostom)—the Cross is also the
very image of the Redemption, which is the economy of the love of the Trinity
towards fallen humanity: “Crucifying Love of the Father, crucified Love of the
Son, Love of the Holy Spirit triumphant by the wood of the Cross” (Philaret of
Moscow).” Allah Yang Murka? Seorang pendeta bercerita tentang seorang
lelaki tua yang menghentikannya di jalan suatu hari dan berkata kepadanya, “Aku
ingin memberitahumu sesuatu, Bapak. Saya akan pergi ke gereja, tetapi saya
tidak bisa. Saya tidak pernah bisa menyembah Allah yang menyiksa dan membunuh
putra-Nya. Sesederhana itu. Jika Dia benar-benar Allah, Dia bisa menemukan cara
lain untuk memperbaiki apa pun yang salah dengan dunia. Saya tidak bisa
menghormati orang yang melakukan itu terhadap putranya, tidak peduli apa
alasannya, dan saya tidak akan menyembah Allah yang melakukannya. Saya hanya
ingin Anda tahu itu.” Kisah ini berasal dari teologi Anselmus dari
Canterbury yang diterima oleh banyak orang di Barat. Ini menunjukkan bahwa
Allah melampiaskan murka-Nya atas dosa manusia dengan memberikan hukuman yang
mengerikan kepada Putra-Nya yang benar-benar tidak berdosa. Jika demikian, di
manakah letak keadilan Allah? Murka Allah tidak ada hubungannya dengan
penyaliban Yesus. Itu adalah tindakan yang lahir dari cinta yang murni. Karena
“Allah adalah kasih.” Kisah murka Allah lahir dari teologi yang
buruk. Allah bukan hanya Allah Bapa. Kepenuhan Allah adalah Tritunggal: Bapa,
Anak, dan Roh Kudus. Seluruh rencana keselamatan manusia dari awal sampai akhir
adalah hasil dari kepenuhan Allah — Bapa, Anak, dan Roh Kudus — bekerja bersama
dalam keharmonisan total untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian.
Seperti yang diperintahkan Bapa, Anak dengan kerelaan dalam kuasa Roh Kudus
untuk menjadi salah satu dari kita (Inkarnasi). Kurban Penebusan berarti atas
perintah Bapa dan dalam kuasa Roh, Anak dengan rela menyelesaikan perbuatan
kasih yang sempurna di atas salib di Golgota. Salib dilahirkan sepenuhnya dari
rahmat, hanya didorong oleh cinta. Itu bukan Bapa yang marah yang menuntut
keadilan dan Putra yang pengasih kemudian memenuhi permintaan dengan mati di
kayu salib. Dari sisi Bapa itu adalah cinta sepanjang jalan; kegagalan ada di
pihak kita. Alasan untuk salib bukanlah murka Allah Bapa, tetapi kasih Allah
Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus bekerja bersama sebagai satu kesatuan
demi keselamatan kita; bukan karena murka tetapi karena kasih. Keajaiban dari
semua itu adalah bahwa melalui Perjamuan Kudus, Allah melanggengkan pengorbanan
Kristus. Dia menawarkan diri-Nya di atas salib dalam setiap liturgi, bukan
untuk menebus kesalahan hukum atau meredakan kemarahan seorang Bapa yang
menuntut agar keadilanNya dipenuhi, tetapi karena cinta atau kasih.
Demikianlah, sebagaimana dikatakan Christos Yannaras, “Perjamuan Kudus adalah
seluruh keselamatan kita, seluruh Kebenaran dan realisasi Injil Kristen.” St.
Gregorius Nazianzus memiliki jawaban yang sempurna bagi mereka yang menerima
teori Anselmus bahwa keadilan Bapa perlu dipenuhi dengan pengorbanan Anak-Nya:
“Mengapa darah Anak Tunggal-Nya itu menyenangkan Bapa, yang tidak mau menerima
Ishak ketika dia dipersembahkan sebagai korban bakaran oleh Abraham, tetapi
menggantikan korban manusia dengan seekor domba jantan? ”(St. Gregorius
Nazianzus). Kasih Yang Sukarela Teks-teks liturgi dan pembacaan Alkitab tentang
Pekan Suci berulang kali menyebut gairah Kristus sebagai “sukarela”. “Ketika
Tuhan pergi ke keinginan sukarela-Nya ….” Sama seperti inkarnasi Sabda
Allah terjadi atas kehendak Anak, dan dengan kehendak baik Bapa dan kerja sama
dengan Roh Kudus, hal yang sama berlaku juga gairah Kristus. Itu sepenuhnya
sukarela. Itu benar-benar triniter. Kemarahan tidak ada hubungannya dengan itu.
Cinta — cinta Bapa, Putera, dan Roh Kudus — ada hubungannya dengan itu. Doa
Yesus di Getsemani paling mengungkapkan, “O Bapaku, jika memungkinkan, biarkan
cawan ini berlalu dari saya; namun demikian, bukan seperti yang saya kehendaki,
tetapi seperti yang Bapa inginkan.” Doa itu mengungkapkan dua kodrat dalam
Kristus dan juga dua kehendak alamiah-Nya, yang tidak bertentangan. Mengapa?
Karena manusia akan selalu mematuhi kehendak ilahi. Ini menunjukkan bahwa
sengsara sepenuhnya bersifat sukarela di dalam diri Kristus.
Bukit Golgota Menurut para leluhur Gereja, Yesus
disalibkan di tempat di mana Adam dimakamkan. Dengan demikian, ketika darah dan
air mengalir dari sisi suci Kristus, peninggalan Adam segera dibersihkan di
bawah salib. Itulah sebabnya sebagian besar ikon menunjukkan tengkorak di dasar
salib di gua yang gelap dengan darah dan air dari tubuh Yesus yang menetes ke
sana. Bukit Golgota diguncang oleh gempa bumi pada saat kematian Kristus. Itulah
sebabnya sampai hari ini orang melihat perpecahan di bukit Golgota tempat Salib
itu berlabuh. Situs suci ini tersedia sampai hari ini untuk pemujaan di Gereja
Makam Suci. Lossky mengatakan tentang peristiwa ini, “Ini berfungsi untuk
memunculkan makna dogmatis dari ikon Penyaliban; penebusan Adam pertama dengan
darah Kristus, Adam Baru, yang menjadikan diri-Nya manusia untuk menyelamatkan
umat manusia.” Sebenarnya, kata Golgota berarti “tempat tengkorak.”
Demikianlah darah Kristus menetes di tengkorak Adam mengungkapkan secara fakta
visual bahwa Kristus mati untuk penebusan seluruh umat manusia yang dimulai
dari Adam. Metropolitan Hierotheos menulis tentang darah dan air yang mengalir
dari sisi Kristus, yang terlihat pada sebagian besar ikon penyaliban: Gereja
adalah Tubuh Kristus yang mulia dan bukan organisasi keagamaan. Di Gereja ada
dua sakramen yang ditandai dengan darah dan air yaitu Baptisan dan Ekaristi
Ilahi atau Perjamuan Suci. Sifat atau natur manusia dimurnikan, gambarnya
dicuci oleh Pembaptisan Suci dan oleh Perjamuan Kudus ia memperoleh kehidupan.
Dalam terang ini, Salib adalah kehidupan dan kebangkitan. Metropolitan
Hierotheos mengutip John Chrysostom yang berkata, “Mata-mata dari darah
dan air ini tidak memancar keluar hanya karena kebetulan, tetapi karena Gereja
terbentuk dari mereka berdua: yang diinisiasi oleh kelahiran kembali oleh air,
dan dipupuk oleh darah dan daging. Di sinilah kita menemukan asal usul
sakramen.” Tangan Yang Terulur Karena salib adalah kehidupan dan
kebangkitan, Bapa Gereja Athanasius berkata tujuh belas abad yang lalu, “Hanya
di atas kayu saliblah seorang manusia mati dengan tangan yang terulur.”
Simbolisme yang luar biasa tersembunyi di balik tangan yang terulur itu. Di
Kayu Salib, Allah Sendiri, dalam pribadi Kristus, sedang mengulurkan
tangan-Nya, memohon kepada kita untuk bertobat dan kembali kepada-Nya,
menawarkannya untuk memberkati kita dengan pengampunan dosa-dosa kita, dan
memanggil kita untuk melayani kerajaan-Nya. Merenungkan tangan Kristus yang
terulur, seorang rahib dari Gereja Timur menulis, “Kakimu dipaku di atas kayu….
Anda tidak memiliki kemungkinan untuk melarikan diri. Anda menunggu saya di
tempat pertemuan yang telah Anda tetapkan untuk saya. Diikat ke Salib, Anda
memaksa diri Anda untuk menunggu ini. Mungkin saya tidak datang, tetapi Anda
ada di sana dan Anda tetap di sana di mana Anda telah membiarkan diri Anda
ditempatkan. Lengan Anda direntangkan. Kedua tangan dibuka sebagai daya tarik
bagi semua. Mereka tidak bisa ditutup lagi. Ini adalah undangan dan pelukan.
Dalam keheningan, kedua tangan yang disalib memberi isyarat kepada saya: Ayo
datang.” “Disalibkan, menderita, dikubur” —semua untuk kita.
“Semua yang telah saya lakukan untuk kamu,” kata Yesus, “Apa yang akan kamu
lakukan sekarang untuk saya?” Bagaimana kita dapat membalas penderitaan yang
demikian, cinta yang demikian?” Ini adalah hutang yang tak terbayarkan.
Pengorbanan Allah di kayu Salib adalah hutang semacam itu: hutang yang tidak
akan pernah bisa kita bayar tetapi akan tetap dibayar selamanya seperti yang
dilakukan Rasul Paulus ketika dia berkata, “Aku telah disalibkan dengan
Kristus; bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku; dan
hidupku yang sekarang aku hidup di dalam daging, aku hidup dengan iman kepada
Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku ”(Gal
2:20). Untuk Kita Pengakuan Iman menyatakan bahwa Yesus disalibkan untuk kita.
Itu berarti bagi Anda dan saya secara pribadi! Begitu besar dan sangat pribadi
kasih-Nya! Dia telah menanggung kesedihan kita dan membawa kesedihan kita. Dia
tertikam oleh karena pemberontakanku, dia diremukkan oleh karena kejahatanku;
Demi kita, Dia tergantung di kayu Salib. Untuk dosa-dosa saya. Untuk
pengampunan saya. “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan
Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku
datang ke dalam saat ini.” (Yoh 12:27 TB)
Blaise Pascal dalam bukunya, A Short History of Life
of Jesus Christ, menulis, “Pada tengah malam 23 November 1654, Yesus berbicara
kepada saya dan berkata, “Blaise, saya memikirkanmu dalam penderitaan
saya.” Pengalaman ini menyebabkan Pascal mengalami pertobatan. Itu adalah
penyaliban pribadi. “Blaise,” kata suara Kristus, “untukmu aku
melakukan semua ini.” Yesus menderita, mati, dikuburkan, dan bangkit
kembali tidak hanya untuk umat manusia secara umum tetapi juga untuk kita
masing-masing secara pribadi. Tikhon menangkap pemikiran ini ketika ia menulis,
“You (Lord) were sold and betrayed that we might be freed, we who were enslaved.
You submitted to an unjust trial—You who are the judge of all the earth—that we
might be freed from eternal punishment. You were crowned with thorns that we
might receive the crown of life…. You were laid in a tomb that we might rise
from the tomb…. This You have done for us, your undeserving servants, O Lord!”
Lingkaran Halo Lingkaran di sekitar kepala Kristus biasanya bertuliskan
kata-kata “O On,” “One Who is.” Di atas kepala Kristus ada
tulisan INBI (bahasa Yunani untuk “Yesus Raja Yahudi dari Nazaret”).
Salib Latin bertuliskan INRI, menggantikan kata Latin Rex untuk raja bukannya
Basileus dalam bahasa Yunani. Di latar belakang kita sering melihat tembok kota
Yerusalem sejak penyaliban terjadi di luar tembok kota. Pencuri yang bertobat
sering ditampilkan di sebelah kanan dengan lingkaran cahaya. Seringkali dua
penyaliban lainnya yang terjadi pada saat yang sama tidak selalu dimasukkan.
Bagian bawah salib yang dipaku kaki Kristus disebut supendium oleh orang
Romawi. Itu adalah bagian standar dari salib. Di atas salib Kristus itu miring
sehingga salah satu ujungnya sedikit lebih tinggi, menunjuk pada pencuri yang
tak terlihat yang bertobat. Salib dengan suppendium miring menonjol sekarang
disebut salib Rusia. Di antara para murid, hanya Yohanes yang termuda yang
digambarkan pada saat penyaliban. Dia biasanya digambarkan mencoba menutup
matanya sebelum tontonan kematian Tuhannya. Bunda Maria dan Wanita-wanita Lain,
Yohanes, dan Prajurit Bunda Maria digambarkan di sebelah kanan Kristus ditemani
oleh wanita lain. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang terkandung, didominasi
oleh iman yang pemberani. Postur Maria berbicara dengan penuh simpati kepada
Rasul Yohanes yang sedang berduka. Sosok di sebelah Yohanes adalah perwira
Romawi yang tergerak untuk mengaku, “Sungguh, ini adalah Putera Allah.
“Wanita-wanita lain yang berdiri di kaki salib menderita dan berempati
dengan Kristus. Di antara mereka adalah Maria Magdalena, yang disebut
“setara dengan para rasul” di Gereja Timur. Seluruh peristiwa ini bukan
mitologis tetapi historis karena terjadi secara historis “di bawah Pontius
Pilatus.” Meskipun historis, itu juga merupakan misteri besar yang
melibatkan kita masing-masing secara pribadi, karena Kristus yang mati di kayu
Salib adalah, dalam kata-kata Rasul Paulus, “Dia yang mengasihi saya dan
memberikan diri-Nya bagi saya.” Oleh karena itu, kita tidak didorong untuk
menghadapi hari-hari Minggu Suci hanya sebagai sejarah, tetapi juga sebagai
sakramental dan spiritual karena kita juga ambil bagian. Kita ambil bagian di dalamnya
melalui partisipasi dalam sakramen baptisan, pengakuan (pertobatan), dan
Perjamuan Kudus, yang melaluinya kita mati dan bangkit kembali dalam Kristus
sebagai ciptaan baru. Simbol Plus Salib juga merupakan simbol plus (tambah).
Tanda ini memiliki makna besar bagi kita. Kita telah dibaptis dan telah
menerima Kristus dan itu berarti kita adalah anak-anak Allah PLUS manusia. Di
mana tidak ada cinta, kita menambahkan cinta. Di mana tidak ada harapan, kita
menambahkan harapan. Di mana tidak ada kedamaian, kita menambahkan kedamaian.
Di mana tidak ada pengampunan, kita menambahkan pengampunan. Di mana ada
kegelapan, kita menambahkan cahaya. Dan di mana ada kesedihan, kita menambahkan
sukacita. Mengapa? Karena kita adalah anak Allah yang plus. The Cross does not
abolish suffering, but transforms it, sanctifies it, makes it fruitful,
bearable, even joyful and finally VICTORIOUS. —Joseph Rickady On this day, He
who suspended the earth upon the waters, is hung on the tree. The King of
Angels is crowned with a crown of thorns. He who adorned the heavens with
clouds is arrayed in the purple of mockery. He who freed Adam in the Jordan bears
to be struck. The spouse of the Church is nailed to the tree. The Son of the
Virgin is pierced with a lance. Glory to Thy Passion, O Christ, Glory to Thy
Passion! Reveal to us Thy holy Resurrection. —A Good Friday Troparion
Keselamatan: Bagian Allah dan Kita Salah satu nyanyian pujian pada hari Minggu
memuji penyaliban dengan kata-kata ini: Kita yang setia, berbicara tentang hal-hal
yang berkaitan dengan Allah, menyentuh misteri yang tak terlukiskan, Penyaliban
yang tidak dapat dipahami oleh pikiran, dan Kebangkitan yang tak terlukiskan:
untuk hari ini kematian dan neraka dihancurkan, sementara umat manusia
berpakaian dalam ketidakbinasaan (Sunday Matins, Nada 3). Misteri Penyaliban
yang tak terlukiskan dan tak dapat dipahami dimuliakan dalam tulisan-tulisan
para Rasul kudus dengan kata-kata seperti: – “Kristus menyelamatkan kita”; –
Kristus “telah menutupi dosa kita”; – “Dia telah merobek tulisan tangan
terhadap kita dan memakukannya ke kayu salib”; – “Kita telah dikuduskan oleh
darah-Nya”; – Kristus adalah “pendamaian bagi dosa-dosa kita”; – Dia
“dijadikan kutuk karena kita”; – “Kristus telah membenarkan kita”; – “Kita
dibeli dengan harga tak ternilai”; – “Kita ditebus dari kutuk hukum
Taurat”; – Oleh Dia kita telah “diperdamaikan dengan Allah”; –
Kita memiliki kedamaian dengan Allah “oleh kematian Anak-Nya”; dan
sebagainya. Semua ini telah dicapai Allah bagi kita melalui Penyaliban dan
Kebangkitan-Nya. Dia telah menebus seluruh umat manusia dan menawarkan
keselamatan sebagai hadiah bagi kita masing-masing. Bagiannya telah selesai.
“Tetelestai.” Tapi itu tidak berakhir sampai bagian Allah. Hadiah itu
harus diterima sebelum itu menjadi milik kita. Satu kebenaran keselamatan yang
luar biasa ini bagi semua yang ditawarkan kepada kita oleh Salib menuntut kita
untuk melakukan bagian kita, yaitu menerima hadiah itu secara pribadi. Rasul
Paulus mengungkapkan aspek ganda keselamatan ini dengan jelas dalam dua ayat.
Pertama, ia berkata, “Kamu diselamatkan oleh iman, dan itu bukan hasil usahamu:
itu adalah pemberian Allah” (Efe 2: 8). Inilah yang telah dicapai oleh Allah
untuk kita. Keselamatan adalah karunia-Nya bagi kita. Tetapi Rasul Paulus selanjutnya
menjelaskan bahwa kita juga memiliki bagian dalam semua ini, “Kerjakan
keselamatanmu sendiri dengan takut dan gentar” (Fil 2:12). Bagian dari
“mengerjakan” keselamatan kita ini disebut askesis. Itu berarti bahwa
kita harus membersihkan diri kita sendiri karena “tidak ada yang najis yang
dapat masuk ke dalam kerajaan Allah” (Efe 5:5, Wah 21:27). Tuhan itu Terang,
dan tidak ada kegelapan di dalam Dia. Karena itu, kita harus membuang segala
kegelapan dan menjadi anak-anak terang. Energi Allah (Salib) harus diikuti oleh
sinergi kita. Seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus, “Hari sudah jauh
malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan
perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!”
(Rom 13:12 TB) Melalui Penyaliban-Nya Kristus telah membuka pintu menuju
keselamatan. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat
dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.” (Yoh 10:9 TB).
Sebab itu untuk memasuki pintu keselamatan membutuhkan pertobatan setiap hari,
kemurnian jiwa, jubah kekudusan, yang tanpanya tidak seorang pun akan melihat
Allah (Ibr 12:1). Bagian pertama dari keselamatan kita dipenuhi sepenuhnya oleh
Kristus melalui Penyaliban dan Kebangkitan-Nya. Dia memang membuka pintu keselamatan
bagi kita. Bagian kedua dari keselamatan tergantung pada kita. Kita harus
secara pribadi menerima hadiah itu, memasuki pintu, meninggalkan perbuatan
kegelapan dan memikul salib kita untuk mengikuti Dia.
Semua ini dicapai dalam diri kita, tentu saja, oleh
kasih karunia Kristus dalam Roh Kudus. Inilah arti dari ayat, “Kerjakan
keselamatanmu sendiri dengan takut dan gentar” (Fil 2:12). Energi Allah harus
diikuti oleh sinergi kita. Rasul Paulus menambahkan dalam ayat berikutnya,
“Karena Allah yang bekerja di dalam kamu baik untuk berkehendak maupun untuk
melakukan kerelaan-Nya” (Fil 2:13). Penderitaan Kristus Kita mengajukan
pertanyaan ini ketika kita merenungkan Kristus yang menderita di kayu Salib
untuk dosa-dosa kita. Kita adalah orang-orang yang seharusnya berada di salib.
Itu seharusnya penghukuman kita; namun Dia menanggungnya untuk kita. Mengapa?
Untuk menunjukkan kepada kita bahwa Allah sangat mencintai kita sehingga kita
tidak akan pernah bisa memahaminya dengan penuh. Keadilan mengatakan, “Setiap
dosa harus dibayar.” Salib berkata, “Allah sendirilah yang membayar dan
itu adalah harga yang paling mahal yang dapat dibayarkan — kematiannya sendiri.
Tikhon dari Russia berkata, “Our Lord and Creator suffered, endured His
Passion, and died alone for us. We who broke the law; we the traitors; we who
utter insults and blasphemies; we who have given ourselves up to the enemy; we
deserve to be spat upon; we deserve to be mocked, insulted, buffeted, beaten,
tortured, to die for all eternity. But our Lord and God out of infinite love
died in our place. The servant sinned; the Lord suffered the punishment. The
servant erred; the Lord was scourged. The servant stole; the Lord offered
compensation. The servant was indebted; the Lord paid the debt. And in what manner
did He pay it? Not in gold and silver but with His disgrace, His wounds, His
blood, His death on the cross.” Mengapa Yesus harus menderita dan mati
untuk kita? Di Taman Getsemani Dia bahkan bertanya apakah ada cara lain. Tidak
ada. Di kayu Salib Dia bahkan mengajukan pertanyaan, “Mengapa?” Mengapa Dia
ditinggalkan? Jawaban yang diberikan Alkitab adalah — bagi kita! “Allah
begitu mengasihi dunia …” (Yoh 3:16). “Aku Gembala yang Baik,”
kata Yesus. “Gembala yang Baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-dombanya.”
Gembala yang Baik memberikan nyawa-Nya untuk Anda dan saya di kayu Salib.
Ketika membahas penderitaan yang Yesus alami untuk keselamatan kita, penting
untuk diingat bahwa Yesus adalah manusia sekaligus Allah. Sifat manusiawi-Nya
menderita tetapi bukan sifat ilahi-Nya. Sebagai Allah, Dia tidak mungkin mati.
Metropolitan Hierotheos menekankan hal ini: “Christ was Godman, perfect
God and perfect man. While there were two natures in Christ, the divine and the
human, still the person, Christ the Godman, was one. The divine nature is
impassible, while the human nature suffers. So at the time of the Passion while
the human nature suffered, the impassible divine nature was not suffering with
it, but Christ the Godman suffered, and He was crucified. A troparion of the
Canon for Great Saturday says characteristically: “For though the earthly
substance of Thy flesh suffered, yet the Godhead remained impassible.”
Salah satu lagu hymn yang menggambarkan penderitaan Kristus berbunyi: Every
member of Thy Body endured dishonor for us: Thy Head, the thorns; Thy Face, the
spittings; Thy Cheeks, the smitings; Thy Mouth, the taste of vinegar; Thine
Ears, the impious blasphemies; Thy Back, the lash; Thy Hand, the reed; Thy
Whole Body, extension upon the Cross; Thy Joints, the nails; And Thy Side, the
spear; O Thou Who didst suffer for us, and set us free from suffering, Who by
Thy compassion didst stoop down to raise us up, Almighty Savior, have mercy on
us. Amen. John Chrysostom menambahkan: Being God, He became man.
Being man, He became a slave. Being a slave, He became
a slave unto death. Being a slave unto death, He was hanged on a cross. What
more can He do? Kenosis atau cinta Allah yang mengosongkan diri demi kita
diekspresikan terutama melalui Penyaliban-Nya. Itulah sebabnya ikon Penyaliban
dapat dianggap sebagai ikon terbaik / par excellence dari Kenosis-Nya.
Metropolitan Hierotheos menuliskan, “While after His Resurrection His body
is spiritual, He takes upon it the wounds of the Cross and shows them, regards
them as an ornament, displays them to the angels and is glad to show He
suffered for man. Thus He does not discard the wounds of the Cross, but keeps
the signs of the butchery on His body. No one else has had such mad love as
Christ had, for He not only tolerates being beaten, not only saves the
ungrateful, but He regards His wounds as precious. And with these He is seated
on the Royal throne and summons all to this royal crown.” Para nabi
Perjanjian Lama menubuatkan bahwa Mesias akan “dilukai karena pelanggaran kita,”
tetapi tidak pernah mereka bisa membayangkan bahwa Allah akan turun dari
takhta-Nya yang Maha Mulia dan menderita untuk mengangkat kita ke surga, meraih
kemenangan melalui kekalahan. Ekspresi Wajah Fotis Kontoglu menuliskan,
“The forms and colors do not impart the frigid breath of death, but the
sweet hope of immortality. Christ is depicted as standing on the cross, not as
hanging on it. His body is of flesh, but flesh of another nature, flesh whose
nature has been changed through the grace of the Holy Spirit. The expression of
His face is full of heavenly tranquility; the affliction which has befallen Him
is full of gentleness and forgiveness, exempt from agonized contractions of the
face. It is the suffering redeemer, He Who has undone the pangs of death, Who
has granted the peace of the life to come. This crucified body is not that of
just anyone, but is the very Body of the God-man Himself; therefore it is not a
corpse, but rather incorruptible to eternity, and the source of life. It
radiates the hope of the Resurrection. The Lord does not hang on the cross like
some miserable tatter, but it is He, rather, who appears to be supporting the
Cross. His hands are not cramped, being nailed to the wood; rather he spreads
them out serenely in the attitude of supplication, according to the troparion
which says, “Thou hast spread thy palms, and united what before had been
divided,” that is, God and man. I repeat, the forms and colors of the
liturgical icon do not express the brute horror of death, but have the nobility
and gentleness of eternal life. It is illumined by the sweet light of hope in
Christ. It is full of the grace of the Paraclete.” (“Bentuk dan warna
tidak memberikan nafas kematian yang dingin, tetapi harapan manis keabadian.
Kristus digambarkan berdiri di atas salib, bukan tergantung di atasnya.
Tubuhnya adalah daging, tetapi daging mulia, daging yang telah diubah melalui
rahmat Roh Kudus. Ekspresi wajahNya penuh dengan ketenangan surgawi;
kesengsaraan yang menimpa-Nya penuh dengan kelembutan dan pengampunan,
dibebaskan dari kontraksi wajah yang menyakitkan. Dia adalah penebus yang
menderita, Dia yang telah menghilangkan kepedihan maut, yang telah memberikan
kedamaian hidup yang akan datang. Tubuh yang disalibkan ini bukan milik
sembarang orang, tetapi adalah Tubuh Allah-manusia itu sendiri; oleh karena itu
Dia bukan mayat, tetapi tubuh untuk kekekalan, dan sumber kehidupan. Ia
memancarkan harapan Kebangkitan. Tuhan tidak digantung di kayu salib seperti
orang-orang yang menyedihkan, tetapi justru Dia, yang tampaknya didukung oleh
Salib. Tangan-Nya tidak patah tetapi dipaku di kayu; tangannya dibentangkan
dengan tenang dalam sikap memohon, sesuai dengan troparion yang mengatakan,
“Engkau telah merentangkan kedua tanganmu, dan menyatukan apa yang terpisah
yaitu Allah dan manusia. Saya ulangi, bentuk dan warna ikon liturgi tidak
mengungkapkan kengerian kematian yang kejam, tetapi memiliki keluhuran dan
kelembutan hidup yang kekal. Itu diterangi oleh cahaya harapan yang manis di
dalam Kristus. Itu penuh dengan rahmat Penolong.”) Sebagai manusia yang
terbatas, tidak mungkin bagi kita untuk memahami ini. Itu adalah salah satu
misteri Allah yang tetap — dan akan tetap — tidak dapat dipahami oleh kita.
John Chrysostom menuliskan, “Sama seperti Allah mengambil tulang rusuk
dari sisi Adam untuk membentuk seorang perempuan, maka Kristus telah memberi
kita darah dan air dari sisinya untuk membentuk Gereja. Allah
mengambil tulang rusuk ketika Adam sedang tidur;
dengan cara yang sama Kristus memberi kita darah dan air setelah kematiannya
sendiri.” Merenungkan ikon Penyaliban, kita diingatkan akan banyak luka
yang diderita Kristus demi kita. Faktanya Kristus pernah menampakkan diri
kepada Thomas dan meletakkan tangan-Nya di wajahnya, tetapi orang percaya itu menyatakan
bahwa ada lubang di tangan-Nya yang melaluinya dia melihat dan menghargai makna
dari apa yang telah diderita Yesus untuk kita.
Referensi: Coniaris, M. Anthony. Icons Speak: Their
Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.
- Holy
Saturday: Descent into Hades and Pascha
Paskah adalah
hari suci terbesar bagi orang Kristen. Tanpa kebangkitan Yesus, hidup tidak
memiliki arti. Mengacu pada penguburan tubuh kita setelah kita mati, tanpa
kebangkitan, tujuan akhir manusia tidak lebih dari sekop yang penuh tanah di
atas mayat. Tanpa kebangkitan Yesus, menggunakan kata-kata Eric Hoffer, “Kita
dihukum mati pada saat lahir, dan hidup adalah seperti naik bis ke tempat
eksekusi. Semua perjuangan dan persaingan kita adalah tentang kursi di bis, dan
perjalanan sudah berakhir sebelum kita menyadarinya.” Pastor Dimitri Dudko
menulis, “Apa artinya jika semuanya berakhir dengan kematian? Seseorang
mati dan hanya itu. Seseorang hanya dapat benar-benar berbicara tentang
kehidupan jika hidup itu kekal.” Dan itulah mengapa Pascha (Paskah) adalah
festival (perayaan) untuk agama Kristen. Ini adalah festival pembebasan yang
paling radikal, tegas, dan pamungkas yang pernah dilihat oleh alam semesta ini.
Itu adalah landasan iman kita. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka
pemberitaan kita sia-sia dan iman kita kosong” (1 Kor 15:14). Fr. Dumitru
Staniloae menyebut kebangkitan sebagai “ledakan kegembiraan kosmik.”
Ini adalah engsel sepanjang tahun Gereja. Semua hari raya Kristen lainnya
mengalir darinya. Paskah adalah pusatnya sehingga tidak dianggap hanya sebagai
salah satu dari dua belas perayaan besar, tetapi lebih sebagai “hari
kedelapan dalam seminggu,” hari tanpa akhir yang menerangi semua perayaan
lainnya. Setiap hari Minggu dianggap sebagai “Paskah kecil.” Karena
Kebangkitan, segala sesuatu dalam Kekristenan adalah lagu dan doksologi.
Anastasis – Ikon Paskah Ikon Paskah mengungkapkan dengan kuat makna sebenarnya
dari kebangkitan Kristus. Yesus berdiri di gerbang Sheol atau Hades atau Alam
Maut yang rusak, yang dilintasi sebuah lubang hitam. Di dalam lubang, Setan
terbelenggu dalam rantai-nya sendiri. Yesus menjangkau ke setiap sisi,
menggenggam Adam dan Hawa dengan pergelangan tangan mereka dan menarik mereka
keluar dari kubur mereka, membawa mereka masuk ke Firdaus, sementara
orang-orang benar dari segala generasi berdiri berkumpul di belakang-Nya
menunggu giliran mereka. Ini adalah ikon yang pertama kali ditampilkan di pusat
gereja untuk penghormatan pada Sabtu Suci.
Kristus memegang pergelangan tangan Adam – kata Leonid
Ouspensky – alih-alih tangan untuk memastikan bahwa Dia memiliki pegangan yang
kuat pada dirinya. Induk kucing melakukan hal yang sama dengan mengambil anak
kucingnya di tengkuk untuk menyelamatkannya dari bahaya.
John Baggley menggambarkan orang-orang kudus
Perjanjian Lama dalam ikon, menunggu untuk diselamatkan oleh Kristus yang
bangkit. Di belakang Adam berdiri Raja Daud dan Raja Salomo, leluhur dan nabi
Juruselamat. Di belakang Solomon kita melihat Yohanes Pembaptis. Dia adalah
Pelopor yang mempersiapkan jalan Tuhan…. Di sebelah kanan Hawa berlutut dengan
tangan terangkat dalam doa dan memandang penuh perhatian kepada Kristus…. Sosok
Hawa, dalam postur dan pakaian, mengingatkan pada Bunda Allah (Hawa yang baru).
Hubungan antara Hawa dan Maria ini dinyatakan oleh St Efraim dari Siria,
“Dia memasuki Sheol (alam maut) dan menjarah gudanggudang penyimpanannya
dan mengosongkan harta bendanya. Dia datang kemudian untuk Hawa Bunda dari
semua yang hidup … [yang] menjadi sumber kematian bagi semua yang hidup.
Tetapi Maria bergerak maju, sebuah pemotretan baru dari Hawa anggur kuno.”
Di belakang Hawa dalam ikon kita melihat Musa, dengan loh-loh hukum; Keluaran
dan perjanjian yang berhubungan dengan Musa telah menemukan penggenapan dalam
Keluaran Baru ini dari Hades (alam maut) dan kematian, dan dalam Perjanjian
Baru yang diresmikan oleh Kristus. Di belakang Musa ada orang benar yang mati
lainnya yang menunggu pembebasan dari Hades. Di bawah sosok Kristus, gerbang
Hades telah dihancurkan, dan personifikasi Hades terlihat dalam kegelapan dunia
bawah, setelah kehilangan orang-orang yang telah tunduk kepadanya dan kuasa
maut. Kegelapan Hades mengingatkan pada gua di ikon Kelahiran, Kebangkitan
Lazarus, dan Penyaliban. Di bagian atas ikon, dua puncak batu mengingatkan kita
bahwa “bumi berguncang dan bebatuan terbelah” (Mat 27:51) setelah gempa bumi
yang menghancurkan bumi setelah kematian Kristus. Perpecahan batu-batu di ikon
Anastasis tampaknya mengingat perpecahan yang terlibat dalam misteri Paskah
sebelumnya — pembagian atau terbelahnya perairan Laut Merah ketika orang-orang
Israel bergerak dari perbudakan di Mesir menuju
kebebasan Tanah Perjanjian. Dalam setiap contoh Allah membuat jalan bagi
umat-Nya untuk beralih dari perbudakan menuju kebebasan: akhir dari perbudakan
di Mesir menggambarkan berakhirnya tirani dosa dan maut yang terjadi dalam
Misteri Paskah Kristus. Teolog Perancis Olivier Clement berkomentar lebih jauh
tentang makna yang lebih dalam dari ikon ini, “Bayangkan bukan Kristus
yang berpakaian putih paling berkilau, bermandikan kuasa cahaya, tetapi Kristus
yang turun ke dalam jurang, yang menghancurkan di bawah kakinya gerbang neraka.
Anda dapat melihat di sana gerbang yang rusak, dengan kunci dan engselnya yang
berserakan; dan, di bawah mereka, garis besar setan, hancur juga di sana.
Kristus secara harfiah meraih tangan Adam dan Hawa dan membuat mereka melambung
keluar dari kuburan mereka. Dia melakukannya untuk Anda, untuk saya, dan untuk
seluruh umat manusia. Ini adalah adegan yang, bagi saya, mengandung inti dari
pesan Kristen, terutama bagi kita, hari ini, yang menemukan diri kita dalam
situasi di mana kita merasa dikelilingi oleh kehampaan, dengan kekerasan, oleh
nihilisme. Maka saya bertanya pada diri sendiri apakah sekarang ini bukan waktu
bersejarah, yang disediakan Tuhan bagi kita untuk membuat “kabar baik” ini
bergema: Kristus telah turun ke alam maut untuk menaklukkannya, untuk
menaklukkan maut, untuk menaklukkan segala bentuk kegelapan dan maut. Dan Dia
selalu melakukannya, Dia melakukannya sekarang, karena apa yang terjadi
kemudian telah tertulis dalam kemahahadiran Allah dan dengan demikian merupakan
realitas yang abadi.” Apa yang paling mengganggu dan menghantui manusia
adalah kita pasti akan mati. Pada saat manusia, karena dosa, diusir dari pohon
kehidupan, seluruh bumi menjadi tanah kuburan. Untuk setiap manusia ada makam.
Planet makam yang luas. Di salah satu makam yang tak terhitung banyaknya yang
tersebar di seluruh planet kita, Anak Allah menaklukkan kematian dengan
kematian. Inilah yang dicanangkan ikon Descent into Hades dengan begitu
indahnya dalam warna dan simbol. “Kristus telah bangkit dari antara orang mati.
Dengan kematian-Nya Dia telah menghancurkan maut dan bagi mereka yang ada di
kuburan. Ia telah menganugerahkan hidup. ” “Kami merayakan kematian,
penghancuran Hades,” kami bernyanyi di Paskah. Penghancuran Hades dan kematian
merupakan makna terdalam dari Kebangkitan. Adam “Baru” dan Adam
“Lama” Ikon ini menggambarkan Adam baru (Kristus) mengangkat Adam
lama dari Hades. Constantine Cavarnos melihat kebenaran yang luar biasa di
dalam kontras dari kedua Adam ini: “Juga, dengan membawa Adam ke tempat
kejadian, ikonografer mengingatkan kita kontras antara “Adam Tua,”
manusia pertama, dan “Adam Baru”. Ikon ini disebut Turun ke Hades atau
Anastasis (Kebangkitan) karena Kebangkitan Yesus dimulai segera setelah Yesus
mati di salib. Seperti nyanyian pujian dinyanyikan pada Sabtu Suci mengatakan:
Di kuburan dengan tubuh dan di Hades dengan jiwa, sebagai Allah, sementara di
Firdaus bersama pencuri dan di atas takhta dengan Bapa dan Roh Kudus, Engkau,
hai Kristus, penggenapan segala sesuatu, dirimu sendiri tidak dibatasi. Di
kuburan dengan tubuh dan di Hades dengan jiwa sebagai Allah.
Sementara
tubuh-Nya masih berada di kuburan, Yesus turun ke Hades dengan jiwa-Nya untuk
memulai kebangkitan Adam dan Hawa, bersama dengan semua umat Perjanjian Lama
yang setia. Membawa mereka masuk ke Firdaus menunggu kebangkitan tubuh pada
hari Penghakiman nanti. Dia tidak beristirahat di makam tiga hari. Dia sedang
dalam misi. Inilah sebabnya mengapa ikon ini disebut ikon Kebangkitan. Kita
tidak diberitahu pemandangan Yesus yang sebenarnya bangkit dari kubur
(Anastasis), yang tidak pernah disaksikan oleh siapa pun. Sebagai gantinya,
gereja memberi kita ikon yang kuat yang menggambarkan bukan peristiwa aktual
tetapi makna Kebangkitan yang dimulai bahkan sebelum kebangkitan fisik dan
jasmani Yesus. Saat itulah Roh Yesus yang dimakamkan turun ke Hades untuk
membebaskan umat Perjanjian Lama yang setia. Itu terjadi ketika tubuh-Nya masih
di dalam kubur.
Di kuburan dengan tubuh dan di Hades dengan jiwa,
sebagai Tuhan. Gereja Orthodoks merayakan Pra Kebangkitan Kudus kemenangan
Juruselamat ke Hades pada hari Sabtu Kudus. Troparia dan nyanyian pujian kudus
hari ini adalah di antara nyanyian rohani yang paling indah yang pernah ditulis
secara puitis dan kedalaman spiritual yang luar biasa. Beberapa orang menyebut
nyanyian rohani ini lebih dalam lagi, mengesankan daripada Paskah. Synaxarion
dari Sabtu Kudus misalnya, mengumumkan kemenangan yang kita peringati pada hari
itu sebagai berikut: Pada hari Sabtu yang suci dan agung kita memperingati
penguburan tubuh ilahi dan turun ke Hades Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus
Kristus, yang melaluinya umat manusia diundang oleh kasih Allah yang tak
terungkapkan untuk kembali dari kerusakan ke kondisi murni sebelum Adam jatuh
dalam dosa; untuk kembali dan dibimbing menuju kehidupan kekal. Hari ini Hades
meratapi dengan keras…. Dia meratapi karena otoritas dan kekuatannya telah
dihancurkan …. Dia meratapi karena dominasinya benar-benar dikalahkan dan
dimusnahkan …. Dia meratapi karena kekuatannya telah dihapuskan dan tidak
lagi berlaku. Seluruh kebaktian Sabtu Suci melingkari peristiwa turunnya Yesus
ke Hades. Nyanyian pujian pada hari itu bersaksi tentang fakta bahwa bagi orang
Kristen Timur kebangkitan dimulai dengan turunnya Yesus ke Hades pada Jumat
Agung dan berlanjut ke Sabtu Kudus. Dalam satu nyanyian pujian pada hari Sabtu
Kudus, kita mendengar Yesus berkata, “Ciptaan akan bersukacita dan seluruh
bumi akan bersukacita, karena Hades sekarang dirampas dari perlengkapannya,
musuh dikalahkan. Para wanita akan datang kepada-Ku dengan minyak urapan. Aku
menebus Adam dan Hawa dan seluruh umat manusia dan Aku bangkit dari kematian
pada hari ketiga. Dalam nyanyian pujian lain kita mendengar Setan mengeluh,
“Kekuatan saya telah hilang. Gembala itu disalibkan tetapi sekarang dia
telah membangunkan Adam. Saya kehilangan semua tahanan saya. Semua yang harus
saya lepaskan yang dilahap oleh saya. Kuburan dikosongkan oleh Yang Disalibkan
dan ketiadaan, tetapi ketiadaan, adalah nilai kekuatan Kematian.
Mungkin tidak ada yang menafsirkan makna mendalam dari
ikon Descent Into Hades lebih baik daripada Leonid Ouspensky: “Turunnya ke
neraka adalah langkah terakhir yang dilakukan oleh Kristus di jalan
kemenangan-Nya. Dengan fakta “turun ke jurang bumi,” Dia membuka bagi
kita akses ke surga. Dengan membebaskan Adam lama, dan bersamanya seluruh umat
manusia dari perbudakan kepadanya yang merupakan inkarnasi dari dosa, kegelapan
dan kematian, Ia meletakkan dasar kehidupan baru bagi mereka yang telah bersatu
dengan Kristus menjadi manusia yang dilahirkan kembali. Dengan demikian
kebangkitan spiritual Adam diwakili dalam ikon ini sebagai simbol kebangkitan
tubuh yang akan datang, buah pertama di antaranya adalah Kebangkitan Kristus.
Oleh karena itu, meskipun ikon ini mengekspresikan makna dari ibadah yang
diperingati pada hari Sabtu Agung dan dibawa untuk dihormati pada hari itu, itu
adalah, dan disebut, ikon Paskah, sebagai gambaran awal dari perayaan
kebangkitan Kristus yang akan datang dan karena itu kebangkitan orang mati di
masa depan.”
Petunjuk Alkitab Alkitab merujuk pada Keturunan Yesus
ke Hades dalam beberapa ayat yang hanya akan kita sebutkan beberapa. Kita
membaca dalam 1 Petrus 3: 18-20: Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk
segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia
membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai
manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga
Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, Sebab juga
Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk
orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang
telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan
menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada
roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada
waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar
waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan
orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. (TB) Karena para Bapa Gereja
menafsirkan Yunus turun ke dalam perut ikan sebagai bayangan keturunan Kristus
ke Hades, kita membaca di Ode 6 Kanon Paskah: Engkau turun ke jurang bumi, ya
Kristus, dan telah merobohkan pintu-pintu kekal yang memenjarakan orang-orang
yang ditemukan, dan, seperti Yunus setelah tiga hari di dalam ikan, Engkau
bangkit dari kubur.
Apa Yang kita Pelajari? Siapa yang pernah
berkata,” Aku sangat mencintaimu, aku akan pergi ke neraka untukmu.”?
Siapa lagi selain Yesus! Itu adalah cinta-Nya yang dilakukan untuk kita! Dia
turun ke Hades sekali, dan Dia akan turun ke sana lagi dan lagi untuk
menyelamatkan kita, sesering kita berakhir di sana dan memanggil Dia.
“Jika saya membuat tempat tidur saya di Sheol, Engkau ada di sana,”
kata pemazmur. Jika kebanyakan orang menemukan Tuhan di mana saja hari ini, dia
akan berada di neraka: neraka rasa bersalah, neraka narkoba, neraka
alkoholisme, neraka keluarga yang hancur, neraka terpisah dari Tuhan. Orang
biasanya berharap untuk menemukan Tuhan bukan di neraka, tetapi di surga.
Tetapi kabar baik dari doktrin Turunnya Yesus ke dalam Hades adalah bahwa Allah
di dalam Kristus telah datang ke tengahtengah neraka kita untuk mencari kita,
untuk mengasihi kita, untuk menyelamatkan kita, dan untuk menuntun kita pulang
ke surga. Rasul Paulus menulis, “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah
naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala
sesuatu.” Efesus 4:10 TB) Rasul Paulus menghubungkan Kenaikan Yesus dengan
turunnya Yesus ke alam maut. Apakah Yesus turun ke neraka kita hari ini? Neraka
kamu Neraka saya? Jawabannya: Ya! Tidak peduli seberapa dalam kegelapan kita,
Dia turun lebih dalam lagi. Apakah Dia turun ke penjara gelap kecanduan alkohol
atau narkoba? Tanyakan kepada pecandu alkohol atau pecandu narkoba yang sedang
dalam pemulihan dan dia akan mengaku bahwa dalam kegelapan ketika mereka
mencapai titik terendah, mereka menemukan cahaya dan kuasa Allah. Karena bahkan
kegelapan bukanlah kegelapan bagi Dia yang adalah terang dunia. “Cahaya
bersinar dalam kegelapan dan kegelapan tidak mengatasinya”(Yoh 1:5). Kristus
telah turun ke “roh-roh di penjara.” Apakah Dia tidak turun hari ini ke dalam
penjara gelap kecanduan, depresi, dan kegilaan untuk membebaskan roh-roh yang
dipenjarakan di sana? Setelah turun ke kedalaman Hades yang paling dalam bagi
kita, bagaimana mungkin Dia tidak turun ke neraka kita hari ini? Amin! Turun Ke
dalam Hades Kasih Allah begitu besar sehingga Dia tidak bisa tetap di surga
selama anak-anak-Nya menderita di bumi, dan Dia tidak bisa tetap di bumi selama
seseorang menderita di Hades. Allah mengejar kita sampai batas akhir pelarian
kita dari-Nya, ke kedalaman yang paling jauh dari Allah, ke jurang yang sangat
dalam yakni Hades. Dia mengejar kita ke dalam kegelapan bumi, ke dalam lubang
terdalam dari penderitaan dan kematian manusia. Turun-Nya Yesus ke Hades adalah
Kebangkitan. Dia merobek Adam dan Hawa keluar dari lubang. Pintu-pintu Hades,
bersama dengan engselnya, dimusnahkan seperti yang digambarkan dengan ikon yang
begitu baik. Almarhum Metropolitan Anthony Bloom berkata, “Ketika kita membaca
dalam Rasul ‘Pengakuan kata-kata:’ Dia turun ke alam maut, ‘kita cenderung
berpikir dengan jernih,’ itu hanya salah satu dari frasa itu, ‘… Tapi saya
tahu dari pengalaman bahwa itu benar. Mengapa? Karena dia turun ke alam maut
saya.” Kristus dapat memasuki neraka apa pun, khususnya neraka yang kita
alami. Dia dapat meraih pergelangan tangan kita dan mengangkat kita keluar dari
kuburan di mana kita mengubur diri kita sendiri melalui nafsu dosa kita.
Kata-kata terakhir dari Doa Bapa Kami bagi orang-orang Kristen bukanlah
“… bebaskanlah kami dari yang jahat” tetapi “Milik-Mu adalah
kerajaan dan kuasa dan kemuliaan Bapa dan Anak dan Roh Kudus sekarang dan
sampai selama berabad-abad. Amin.” Kristus telah turun ke Hades! Dia telah
menghancurkan kerajaan kegelapan! Dalam beberapa ikon, Yesus memegang sebuah
gulungan berisi berita baik untuk diberitakan kepada roh-roh yang di penjara (1
Petrus 3:19). Penting untuk diingat bahwa Kristus tidak turun ke neraka tetapi
ke Hades. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Neraka dan Hades tidak sama.
Untuk memahami perbedaan ini, kita perlu melihat arti dari kata-kata ini yang
digunakan di kalangan orang Yahudi pada zaman Yesus. Kata Ibrani untuk neraka
adalah “Gehenna.” Orang Yahudi mendapatkan kata ini dari Lembah Hinom, dekat
dengan Yerusalem, tempat sampah kota, yang dibakar siang dan malam, memancarkan
awan asap dengan bau yang kuat. Dengan metafora yang cerdik, orang-orang Yahudi
berpikir tentang orang mati — yang telah menjalani kehidupan yang sangat jahat
— dilemparkan ke Lembah Hinnom. Setelah menjalani kehidupan yang sangat jahat,
orang-orang Yahudi merasa bahwa mereka tidak dapat ditebus. Itu adalah Gehenna
atau neraka mereka. Tetapi ketika seseorang meninggal yang hidupnya kurang
baik, atau mungkin sembarangan, tapi bukan kejahatan besar, orang-orang Yahudi
tidak menganggap orang-orang seperti itu telah dilemparkan ke Gehenna; mereka
menganggap mereka telah pergi ke Sheol, ke lubang kegelapan. Dan di mana pun
kita menemukan kata “neraka” yang digunakan dalam Perjanjian Lama,
kata Ibrani untuk itu adalah Sheol, yang hanya berarti tempat pesta di mana
sebagian besar orang mati pergi. Orang Ibrani memiliki gagasan yang sangat
kabur tentang kehidupan masa depan. Mereka tampaknya tidak menganggap Sheol
sebagai tempat yang sangat nyaman atau sebagai tempat yang sangat tidak nyaman;
itu hanya dunia di bawahnya. Dan ketika Pengakuan Iman Rasuli mengatakan bahwa
Tuhan kita turun ke alam maut, itu tidak berarti bahwa Ia turun ke Gehenna, ke
tempat di mana orang-orang yang benar-benar jahat dihukum selamanya. Melainkan
itu berarti bahwa Dia turun ke dalam Sheol, ke dunia yang lebih rendah, dan
berkhotbah, bukan kepada jiwa-jiwa orang yang terkutuk, tetapi untuk jiwa-jiwa
orang mati yang berada dalam semacam kondisi peralihan. Apa itu kondisi
perantara? Bagaimana kita memikirkannya? Tentang satu hal, ajaran Gereja cukup
jelas: para Bapa Gereja, orang-orang seperti Abraham dan Ishak dan Yakub, tidak
berada di neraka pada saat Tuhan kita turun — bukan apa yang kita maksudkan
dengan neraka — dan mereka tidak ada di surga. Mereka harus menunggu kedatangan
Tuhan (kebangkitan Yesus) kita sebelum mereka bisa ke surga atau Firdaus. Dan
tempat atau keadaan di mana mereka menunggu kedatangan Kristus adalah apa yang
kita sebut Sheol atau Hades — bukan Gehenna Karena itu Allah tidak membuang
jiwa-jiwa orang benar ini ke Gehenna, tumpukan sampah. Dia menahan mereka di
Sheol sampai Jumat Agung, tahun 33 M. Hal pertama yang Yesus lakukan setelah
Dia mati di kayu salib adalah pergi dari Tubuhnya yang beristirahat di kuburan,
sementara roh-Nya, jiwa-Nya, dan cinta-Nya turun ke Sheol untuk berkhotbah
kepada para leluhur, para nabi, dan raja Perjanjian Lama yang diperuntukkan
bagi surga. Mengapa? Karena mereka telah menantikan dengan iman akan kedatangan
Kristus dan dalam iman itu telah menjalani kehidupan yang suci dan terus
menyembah Allah yang satu dan benar. Mereka sudah matang untuk masuk ke Firdaus
atau surga, tetapi mereka tidak bisa masuk surga sebelum Yesus menebus
dosa-dosa mereka. Jadi, mereka harus menunggu, dan ruang tunggu yang ditugaskan
kepada mereka disebut Sheol atau Hades (bukan Gehenna). Itulah yang kita
maksudkan ketika kita mengatakan bahwa Tuhan kita turun kepada orang-orang di
bawah. Dia tidak turun ke Gehenna; tetapi Dia turun ke Sheol atau Hades dan
berkhotbah kepada Adam dan Hawa dan para orang suci yang sedang menunggu Dia di
sana. Teolog George Florovsky menjelaskan Hades sebagai dunia kematian:
“Turunnya ke Hades berarti pertama-tama masuk ke dunia kematian, ke dunia maut.
Dan dalam pengertian ini itu hanyalah sinonim dari kematian itu sendiri.”
Hierotheos, Metropolitan dari Nafpaktos, menjelaskan lebih lanjut, “Oleh
karena itu dalam Tradisi Ortodoks Hades bukan hanya tempat tertentu tetapi
dominasi kematian dan iblis. Kami mengatakan bahwa jiwa orang-orang yang berada
dalam kuasa iblis dan kematian ada di Hades. Dalam pengertian inilah kita harus
menganggap ajaran Gereja tentang turunnya Kristus ke sana, yaitu, bahwa Kristus
masuk ke alam maut, diterima untuk mati, setelah itu dengan kuasa maut-Nya ia
mengalahkan maut, menjadikan maut itu sama sekali tidak berdaya dan lemah, dan
memberi setiap orang kemungkinan, dengan kuasa dan wewenang-Nya, untuk
melarikan diri dari kuasa maut dan iblis.” Tangan Yang Selalu Tersedia Olivier
Clement, teolog awam Ortodoks Prancis yang terkenal menggambarkan tangan Yesus
seperti yang terlihat dalam ikon ini: Apa yang sedang Tuhan lakukan? Dia
disalibkan dalam semua kengerian dunia namun, pada saat yang sama, dia
membangkitkan kita, menawarkan kita kekuatan Kebangkitan. Tangan yang kuat itu
mengulurkan, memegang kita, bukan oleh tangan, karena kita bisa berikan atau
tidak berikan tangan kita, tetapi dengan pergelangan tangan. Tangan Kristus mencengkeram
pergelangan tangan Adam, mencengkeram Hawa dengan pergelangan tangan, dalam
pertemuan luar biasa dari kedua Adam, yang pertama dan yang terakhir. Tangan
itu selalu ada di sana, dalam bayang-bayang paling gelap. Kita harus memahami
bahwa Allah kita, Allah yang ingin saya beri kesaksian, bukanlah semacam kuasa
surgawi yang menghancurkan kita. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam
surat kepada jemaat di Filipi, Allah telah “mengosongkan dirinya sendiri.” Dia
telah menghancurkan dirinya sendiri karena kasih kepada kita. Dia telah
mengosongkan dirinya sendiri, mencurahkan dirinya sendiri sampai mati, bahkan
mati di kayu salib. Tuhan harus membuka dirinya untuk membuat kita masuk ke
dalam dia, itulah misteri turunnya Yesus ke Hades.” Dia turun ke tempat
paling rendah dan gelap untuk menghancurkan kekuatan kegelapan dan tempat
tinggal Iblis.
Selesai Misi Kristus di Hades adalah untuk
menyelesaikan karya penyelamatan-Nya. Untuk inilah Dia mengucapkan kata
“Tetelesthe” (“Sudah selesai”) dari salib. Tugasnya adalah untuk memberitakan
keselamatan tidak hanya untuk yang hidup tetapi juga untuk orang benar yang
sudah mati. Dalam Perjanjian Lama kita mengira bahwa Allah tidak lagi peduli
dengan mereka yang dikurung di Sheol. Sekarang dinyatakan dalam Kristus bahwa
ini tidak benar. Tuhan peduli pada yang hidup dan yang mati. “Apakah kita
hidup atau mati, kita adalah milik Allah,” tulis Rasul Paulus. Dalam Hades
Yesus menyelesaikan proklamasi universal-Nya. Dia membawa kepada semua orang –
baik yang hidup maupun yang mati – konsekuensi dari pengorbanan-Nya yang menyelamatkan.
Seperti dikatakan Justin sang Martir, “Tuhan, Allah Israel yang Kudus,
mengingat kematian-Nya, mereka yang tidur di bumi, dan datang kepada mereka
untuk memberi tahu mereka kabar baik tentang keselamatan.” Sebelum
kedatangan Kristus, setiap manusia yang mati — apakah benar atau tidak — tidak
memiliki sukacita untuk bertemu dengan Allah. Semua orang pergi ke jurang gelap
yang disebut Hades atau Sheol. Setelah Kebangkitan Kristus, semua ini berubah.
Sekarang kematian adalah “tertidur.” Di dalam tubuh, kita tertidur
karena kekhawatiran di dunia dan kedamaian turun ke atas kita. Setiap orang
yang mati sekarang, tertidur sampai tubuh bangkit pada hari terakhir. Ketika
tubuh tidur, jiwa mengalami apa yang disebut “penghakiman khusus,” yaitu
pencicipan surga atau neraka, sampai Kristus kembali, pada saat itu kita akan
mengalami kepenuhan atau keadaan yang kita pilih yaitu untuk hidup bersama
Allah atau terpisah dari Allah. Allah menghormati kehendak bebas kita sampai akhir.
Jadi, tubuh kita, seperti yang dimiliki tubuh Kristus dimakamkan pada hari
Sabtu Kudus, beristirahat dari pekerjaannya untuk mengantisipasi kebangkitan.
Namun, makam itu bagi orang percaya sejati, bukan lagi sebuah penjara,
melainkan ruang depan menuju surga tempat pengantin perempuan beristirahat,
dengan cemas mengantisipasi kedatangan Mempelai Pria. Ronald Knox, dalam
bukunya, The Creed in Slow Motion, membayangkan tentang percakapan yang
dilakukan Yesus dengan beberapa orang suci Perjanjian Lama selama Turunnya ke
Sheol. Ini sangat imajinatif, namun sangat benar. Bunyinya seperti ini: Ketika
Tuhan kita Yesus Kristus mati di kayu Salib dan meninggalkan tubuh-Nya di
kuburan untuk menunggu sampai pagi Paskah, hal pertama yang dilakukan Roh-Nya
adalah mengunjungi para leluhur tua yang telah menunggu berabad-abad baginya
untuk datang. Betapa mereka pasti mengerumuninya, dan betapa banyak yang harus
dia jelaskan kepada mereka yang tidak bisa mereka pahami dengan benar di sini!
“Tidak apa-apa, Adam” (Dia akan mengatakan); “Kamu melakukan hal yang
sangat bodoh, dan hal yang sangat jahat, ketika kamu memakan buah dari pohon
itu meskipun kamu telah diberitahu untuk tidak melakukannya; tetapi saya telah
digantung, dari jam dua belas sampai tiga sore ini, pada jenis pohon yang
sangat berbeda, dan sekarang dunia telah ditebus dari konsekuensi dosa Anda.
Tidak apa-apa, Hawa; kamu tidak taat, tetapi ibu-Ku, oleh ketaatannya, telah
membawa keselamatan ke dunia, saat Anda membawa dosa ke dunia. Anda lihat
sekarang, Nuh, membangun bahtera untuk menyelamatkan diri dan keluarga Anda
dari banjir? Itu adalah ramalan Gereja yang akan aku temukan, bahtera yang
tetap mengapung di dunia yang penuh dosa, dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang
saleh agar tidak tertelan di dalamnya. Anda, Abraham, ketika Anda mengorbankan
putra Anda Ishak, atau lebih tepatnya siap untuk mengorbankannya, melakukan apa
yang dilakukan Bapa surgawi ketika dia mengutus saya ke dunia untuk mati.
Tangga Anda, Yakub, didirikan di antara bumi dan surga, adalah gambar dari
Inkarnasi saya; Anda, Yusuf, dijual seharga dua puluh keping perak, saya dijual
seharga tiga puluh. Apakah Anda ingat, Musa, bagaimana Anda memasang ular
tembaga di atas tiang di hutan belantara, dan semua orang yang telah digigit
ular, jika saja mereka melihat pada tiang ular itu mereka akan sembuh. Itulah
yang akan dilakukan oleh Salib saya sekarang untuk orang berdosa. Dan
seterusnya, semua daftar orang-orang kudus yang kita baca dalam Perjanjian
Lama. Sekarang kamu akan pulang bersamaku; ini saatnya kamu pulang!” Semua
itu adalah apa yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa Tuhan kita
turun ke Hades dan berkhotbah kepada “roh-roh di penjara,” kepada para orang
kudu dan semua umat beriman Perjanjian Lama yang menunggu-Nya. Tangannya selalu
di sana terulur untukmu dan aku. Baptisan Melalui pembaptisan kita juga
mengalami turun bersama Kristus ke dalam kematian-Nya. Itu adalah turun ke
Sheol. John Chrysostom mengungkapkan kebenaran ini dengan sangat jelas ketika
ia menulis, “tindakan turun ke dalam air dan naik dari air melambangkan
turunnya ke Hades dan meninggalkan tempat itu.” Dengan demikian, baptisan tidak
hanya mati dan bangkit bersama Kristus, tapi juga turun ke Sheol atau alam maut
dan meninggalkannya saat kita bangkit dan mengambil langkah pertama kita dalam
mengikuti Yesus. Metropolitan Hierotheos menjelaskan bahwa melalui turunnya
Yesus ke Hades, Yesus memang menghancurkan kematian dan kuasa iblis. Dia
berbicara secara khusus tentang bagaimana gerbang perunggu Hades musnah:
Peristiwa ini sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Raja Daud berkata, “Ia
telah memecahkan pintu-pintu tembaga, dan membelah besi menjadi dua” (Maz
107:16). Dan Nabi Yesaya menyampaikan firman Allah: “Aku akan pergi
mendahului kamu dan meluruskan tempat-tempat yang bengkok; Aku akan membongkar pintu
gerbang perunggu” (Yes 45:2). Menafsirkan peristiwa ini, John Chrysostom
menunjukkan bahwa dia tidak mengatakan bahwa dia membuka gerbang perunggu,
tetapi dia merusaknya sehingga penjara itu menjadi tidak berguna. Dia juga
tidak mengatakan bahwa dia memindahkan gerbang, tetapi dia menghancurkannya
sehingga penjara tidak lagi terlihat, karena di mana tidak ada pintu, atau
gerbang, bahkan jika seseorang masuk ke sana, dia tidak bisa ditahan. Ketika
Kristus menghancurkan sesuatu menjadi berkeping-keping, maka tidak ada yang
bisa memperbaikinya lagi. Hati saya senang, dan daging saya juga akan
beristirahat dalam harapan. Karena Kamu tidak akan meninggalkan jiwaku di
neraka. Aku berkata kepada Tuhan : “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik
bagiku selain Engkau!” sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati,
dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan
kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di
tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. (Maz 16:2, 10-11 TB) O Lord God of my
salvation, I have cried out to you day and night. My soul is full of troubles
and my life has drawn near to Sheol. I lie in the depths of the pit, in the
regions dark and deep; my friends and those who love me are removed far from
me, and my companions are in darkness. But by grace, I defy the darkness, and I
declare your saving help in the land of forgetfulness, crying aloud, Alleluia!
—From the Akathist to Jesus
Referensi: Coniaris, M. Anthony. Icons Speak: Their
Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.
Bright Friday: Life-giving Spring
Hari ini kita memperingati Mata Air Pemberi Kehidupan
dari Theotokos. Pernah ada sebuah gereja yang indah di Konstantinopel yang
didedikasikan untuk Bunda Allah, yang telah dibangun pada abad kelima oleh
Kaisar Suci Leo Agung (20 Januari) di distrik Seven Towers. Sebelum menjadi
kaisar, Leo berjalan di daerah hutan di mana dia bertemu dengan seorang pria
buta yang haus dan meminta Leo untuk membantunya menemukan air. Meskipun dia
setuju untuk mencari air, dia tidak dapat menemukannya. Tiba-tiba, dia
mendengar suara yang mengatakan kepadanya bahwa ada air di dekatnya. Dia
melihat lagi, tetapi masih tidak dapat menemukan air. Kemudian dia mendengar
suara berkata, “Kaisar Leo, pergilah ke bagian terdalam dari hutan, dan kamu
akan menemukan air di sana. Ambil air keruh di tangan Anda dan berikan kepada
orang buta itu untuk diminum. Kemudian ambil tanah liat itu dan letakkan di
matanya. Maka kamu akan tahu siapa aku.” Leo mematuhi instruksi ini, dan
orang buta itu kembali melihat. Kemudian, Leo menjadi kaisar, seperti yang
dinubuatkan oleh Theotokos.
Leo membangun sebuah gereja di atas situs dengan biaya
sendiri, dan air terus bekerja untuk penyembuhan ajaib. Oleh karena itu, itu
disebut “Mata Air Yang Memberi Kehidupan.” Setelah kejatuhan
Konstantinopel pada tahun 1453, gereja dirobohkan oleh orang-orang Muslim, dan
batu-batu itu digunakan untuk membangun sebuah masjid. Hanya sebuah kapel kecil
yang tersisa di lokasi gereja. Dua puluh lima langkah mengarah ke kapel, yang
memiliki jendela di atap untuk membiarkan cahaya masuk. Mata air suci itu masih
ada di sana, dikelilingi oleh pagar. Setelah Revolusi Yunani pada tahun 1821,
bahkan kapel kecil ini dihancurkan dan Musim Semi dimakamkan di bawah
reruntuhan. Orang-orang Kristen kemudian memperoleh izin untuk membangun
kembali kapel, dan pekerjaan dimulai pada bulan Juli 1833. Ketika para pekerja
membersihkan tanah, mereka menemukan fondasi gereja sebelumnya. Sultan
mengizinkan mereka untuk membangun tidak hanya sebuah kapel, tetapi sebuah
gereja yang baru dan indah di atas fondasi yang lama. Konstruksi dimulai pada
14 September 1833, dan selesai pada 30 Desember 1834. Patriark Konstantinus II
menguduskan gereja itu pada 2 Februari 1835, membaktikannya kepada Theotokos.
Orang-orang Turki menodai dan menghancurkan gereja
lagi pada tanggal 6 September 1955. Sebuah gereja yang lebih kecil sekarang
berdiri di lokasi, dan perairan Mata Air Pemberi Kehidupan terus melakukan
mukjizat. Ada juga Ikon Musim Semi Pemberi Kehidupan dari Theotokos yang
diperingati pada tanggal 4 April.
Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/05/03/32-bright-friday-the-life-giving-spring-of-the-mother-of-god
Bright Friday: Life-giving Spring
Hari ini kita
memperingati Mata Air Pemberi Kehidupan dari Theotokos. Pernah ada sebuah
gereja yang indah di Konstantinopel yang didedikasikan untuk Bunda Allah, yang
telah dibangun pada abad kelima oleh Kaisar Suci Leo Agung (20 Januari) di
distrik Seven Towers. Sebelum menjadi kaisar, Leo berjalan di daerah hutan di
mana dia bertemu dengan seorang pria buta yang haus dan meminta Leo untuk
membantunya menemukan air. Meskipun dia setuju untuk mencari air, dia tidak
dapat menemukannya. Tiba-tiba, dia mendengar suara yang mengatakan kepadanya
bahwa ada air di dekatnya. Dia melihat lagi, tetapi masih tidak dapat menemukan
air. Kemudian dia mendengar suara berkata, “Kaisar Leo, pergilah ke bagian
terdalam dari hutan, dan kamu akan menemukan air di sana. Ambil air keruh di
tangan Anda dan berikan kepada orang buta itu untuk diminum. Kemudian ambil
tanah liat itu dan letakkan di matanya. Maka kamu akan tahu siapa aku.”
Leo mematuhi instruksi ini, dan orang buta itu kembali melihat. Kemudian, Leo
menjadi kaisar, seperti yang dinubuatkan oleh Theotokos. Leo membangun sebuah
gereja di atas situs dengan biaya sendiri, dan air terus bekerja untuk
penyembuhan ajaib. Oleh karena itu, itu disebut “Mata Air Yang Memberi
Kehidupan.” Setelah kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453, gereja
dirobohkan oleh orang-orang Muslim, dan batu-batu itu digunakan untuk membangun
sebuah masjid. Hanya sebuah kapel kecil yang tersisa di lokasi gereja. Dua
puluh lima langkah mengarah ke kapel, yang memiliki jendela di atap untuk
membiarkan cahaya masuk. Mata air suci itu masih ada di sana, dikelilingi oleh
pagar. Setelah Revolusi Yunani pada tahun 1821, bahkan kapel kecil ini
dihancurkan dan Musim Semi dimakamkan di bawah reruntuhan. Orang-orang Kristen
kemudian memperoleh izin untuk membangun kembali kapel, dan pekerjaan dimulai
pada bulan Juli 1833. Ketika para pekerja membersihkan tanah, mereka menemukan
fondasi gereja sebelumnya. Sultan mengizinkan mereka untuk membangun tidak
hanya sebuah kapel, tetapi sebuah gereja yang baru dan indah di atas fondasi
yang lama. Konstruksi dimulai pada 14 September 1833, dan selesai pada 30
Desember 1834. Patriark Konstantinus II menguduskan gereja itu pada 2 Februari
1835, membaktikannya kepada Theotokos. 65 Orang-orang Turki menodai dan
menghancurkan gereja lagi pada tanggal 6 September 1955. Sebuah gereja yang
lebih kecil sekarang berdiri di lokasi, dan perairan Mata Air Pemberi Kehidupan
terus melakukan mukjizat. Ada juga Ikon Musim Semi Pemberi Kehidupan dari
Theotokos yang diperingati pada tanggal 4 April.
Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/05/03/32-bright-friday-the-life-giving-spring-of-the-mother-of-god
2nd Sunday of Pascha: St. Thomas Sunday
Kondisi para
murid Yesus yang sedang ketakutan, terpuruk, dan tanpa harapan atas penyaliban
Yesus (Yoh 20:19). Mereka berkumpul dan membicarakan apa yang terjadi terhadap
guru mereka. Mereka melihat penderitaan dan kematian guru mereka namun mereka
tidak mengetahui ada kebangkitan Yesus. Apa yang mereka lihat dan rasakan
adalah penderitaan dan kematian dan itu membawa ketakutan dan kecemasan serta
tanpa harapan. Begitu juga dengan kita ketika tidak ada kebangkitan maka yang
ada adalah hidup tanpa harapan dan ketakutan sebab pada akhirnya semua kita
akan menuju pada kematian dan kesia-siaan hidup. Lalu tiba-tiba tanpa mereka
duga di ruangan yang tersembunyi dan terkunci itu ada suara: “Damai sejahtera
bagi kamu!” Dan suara itu adalah suara Yesus sendiri yang berdiri di
tengah-tengah mereka (Yoh 20:19). Lalu Yesus mengulangi kalimat yang sama lagi,
“Damai sejahtera bagi kamu!” setelah Dia menunjukkan bukti historis kebangkitan
Dia yaitu tubuh kebangkitan-Nya. Tangan dan lambungNya adalah bukti atau fakta
derita dan penyaliban yang kejam yang Yesus alami namun Dia mengalahkan salib
dan kematian yang mengancam setiap manusia dengan kebangkitan tubuh-Nya dari
alam maut/sheol dan memberitakan “Damai Sejahtera” kepada para murid-Nya dan kita
semua. 66 Alam maut Dia porak-porandak dan menyelamatkan mereka yang selama ini
telah mununggu Dia turun ke alam maut pada saat penguburan di hari Sabat. Alam
maut dan Iblis tidak bisa mencegah Dia untuk bangkit pada hari Minggu pagi
setelah 3 hari 3 malam sejak penyaliban-Nya dan dengan antusias Yesus
memberitakan “Damai Sejahtera bagi kita”. Damai inilah yang dicari-cari oleh
setiap manusia yang mengalahkan setiap ketakutan dan kesia-siaan hidup di
dunia. Damai inilah damai Paskah atau damai kebangkitan Yesus yang telah
mengalahkan kuasa maut, Iblis, dan kematian. Damai inilah damai keselamatan
kekal yang telah dinubuatkan sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Sudahkah
kita mengalami damai sejahtera kebangkitan itu di dalam hati, jiwa, dan raga
kita? Sudahkah kita bisa melihat dibalik penderitaan dan kematian Yesus ada
kemenangan Dirinya yaitu kebangkitan-Nya? Kita tidak lagi seperti para murid
yang sedang berkumpul ketakutan tetapi kita berkumpul untuk bersinergi
memberitakan damai sejahtera Yesus kepada setiap orang. Sebab itu, Yesus
berkata kepada para murid-Nya, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga
sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Para murid tidak boleh lagi dalam
kondisi ketakutan tetapi pergi dengan kuasa kebangkitan Yesus melalui kuasa Roh
Kudus untuk memberitakan damai sejahtera itu kepada semua bangsa (Yoh 20:22).
Ada kuasa Roh Allah yang ada di dalam diri para murid sehingga mereka juga
mengalami kemenangan atas ketakutan yaitu damai sejahtera dan kebangkitan atas
maut yaitu mengalami Paskah dan Pentakosta. Paskah yang mereka alami adalah
kebangkitan jiwa dan roh mereka menjadi para Rasul sekarang yang diutus untuk
memberitakan damai sejahtera itu dan Pentakosta yang mereka alami adalah
diembusi Roh Kudus oleh Yesus sehingga mereka mewarisi semangat Pentakosta.
Mereka menjadi Rasul melalui kuasa Roh Kudus, kuasa yang sama yang diterima
oleh Yesus dari Bapa. Bapa Mengutus Yesus dan Yesus mengutus mereka sehingga
Yesus berkata kepada mereka di ayat 23 untuk mewakili Yesus di dunia ini. Jadi,
para murid ini mengalami kemenangan atas ketakutan mereka dengan mengalami
damai sejahtera di dalam diri mereka dan mengalami pentakosta yaitu menerima
Roh Kudus dan kuasa-Nya. Kemudian, Yohanes menceritakan tentang murid yang lain
yang tidak hadir pada hari pertama minggu Paskah itu yaitu Tomas atau yang
disebut Didimus. Tomas tidak percaya pada cerita rekanrekan-Nya (Yoh 20:24-25).
Bukan karena dia seorang peragu atau skeptis melainkan ini adalah suatu berita
yang paling penting bagi hidup dia sehingga dia sendiri yang harus menjadi
saksi mata langsung seperti para rasul lainnya. Yesus mengetahui pemikiran
Tomas dan Dia sengaja menampakkan diri lagi kepada para murid dan Tomas. Yesus
meminta Tomas untuk menaruh jarinya di tangan dan di lambung Yesus seperti
permintaan Tomas sebelumnya (baca Yoh 20:26-27). Dan Tomas membuktikannya dan
dia menjadi saksi mata atas bukti atau fakta historis kebangkitan Yesus. Yang
mencengangkan adalah Tomas menjadi rasul pertama yang menyatakan bahwa Yesus
adalah Tuhan dan Allah-Nya. Yesus adalah Tuhan berarti Dialah penguasa atas
hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia mengabdikan hidupnya. Yesus adalah Allah
berarti Dialah sumber dan pemilik hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia
mengemnbalikan hidupnya. Yesus sebagai Tuhan dan Allah adalah fakta historis
yang disaksikan oleh Tomas dan para murid. Yesus Tuhan dan Allah adalah berita
kemenangan Yesus atas penderitaan, maut, dosa, dan Iblis. Yesus Tuhan dan Allah
adalah damai sejahtera kebangkitan yang kita alami di dalam hati, jiwa, dan
raga kita. Walaupun kita bukan saksi mata langsung seperti Tomas dan para
murid, tapi mengalami damai sejahtera kebangkitan itu jauh lebih penting sebab
kita memiliki iman atau percaya kepada Yesus. Dengan iman kita bisa melihat dan
mendengar bahwa Yesus telah mengetuk pintu hati kita untuk menerima Dia dan
merasakan damai sejahtera itu di dalam hati kita. Kita juga mengalami Paskah
dan Pentakosta seperti para murid. Dan Yesus menyebut kita orang berbahagia
atau diberkati sebab kita percaya kepada-Nya. Di dalam Iman kita memiliki mata
rohani untuk bisa percaya kepada Yesus dan melihat karya Yesus di dalam hidup
kita sampai kita melihat Yesus mata dengan mata dalam keadaan-Nya yang
sebenarnya. Karya Yesus adalah pengudusan hidup kita sehingga kita menjadi
kudus atau suci dan pada akhirnya kita bisa melihat Allah (1 Yoh 3:2 dan Mat
5:8). Mari kita menjadi seperti Tomas yang rela mengabdikan hidupnya bagi
Kristus sehingga Kristus yang akan bertindak jadi Tuhan dan Allah bagi hidup
kita. Menurut Tradisi Gereja, Rasul Suci Tomas mendirikan gereja-gereja Kristen
di Palestina, Mesopotamia, Parthia, Ethiopia dan India. Mengkhotbahkan Injil
membuatnya meninggal sebagai martir. Karena telah mempertobatkan istri dan anak
dari wali kota Meliapur [Melipur] di India, rasul suci dikurung di penjara,
menderita siksaan, dan akhirnya, ditusuk dengan lima tombak, ia meninggal
sebagai martir bagi Tuhan. Bagian dari peninggalan Rasul Suci Tomas ada di
India, di Hongaria dan di Mt. Athos. Nama Rasul Tomas dikaitkan dengan Ikon
Arab (atau Arapet) Bunda Allah (6 September). Beberapa ikon yang menggambarkan
peristiwa ini tertulis “Tomas Sang Peragu.” Ini tidak tepat. Dalam
bahasa Yunani, prasasti itu berbunyi, “Sentuhan Tomas.” Prasasti Slavonic
adalah, “Iman Tomas.” Ketika Rasul Tomas menyentuh tangan dan lambung Yesus, ia
tidak lagi memiliki keraguan. Hari ini juga dikenal sebagai
“Antipascha.” Ini tidak berarti “menentang Paskah,” tetapi
“menggantikan Paskah.” Dimulai dengan hari Minggu pertama setelah
Paskah, Gereja mendedikasikan setiap hari Minggu tahun ini untuk Kebangkitan
Tuhan. Hari Minggu disebut “Kebangkitan” dalam bahasa Rusia, dan
“Hari Tuhan” dalam bahasa Yunani.
3rd Sunday of Pascha:
Myrrhbearing Women Sunday
“Karena itu
Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga
menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan
meminta mayat Yesus. Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka
ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati.
Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu
kepada Yusuf. Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus
dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di
dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah
batu ke pintu kubur itu. Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana
Yesus dibaringkan. Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu
Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki
Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari
terbit, pergilah mereka ke kubur. Mereka berkata seorang kepada yang lain:
“Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?” Tetapi
ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu
sudah terguling. Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang
muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Mereka pun sangat terkejut,
tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus
orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini.
Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. Tetapi sekarang pergilah,
katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke
Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada
kamu.” Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan
dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga
karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan
teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya
memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang
keselamatan yang kekal itu.” (Markus 15:43-16:8 TB) “Kita seringkali
melakukan segala sesuatu dengan gagal alias menjadi pecundang, loser, namun
kita pecundang di dalam Kristus dan Kristus yang membenarkan dan menyempurnakan
kegagalan kita menjadi keberhasilan.” Kira-kira kutipan seperti ini yang
saya simpulkan ketika saya merenungkan tentang para murid Yesus yang sembunyi
ketakutan paska kebangkitan penyaliban dan kematian Yesus. Mereka menjadi
pecundang sebelum Yesus menampakkan dirinya secara langsung. Namun hal berbeda
yang dialami oleh para wanita pembawa rempah-rempah. Pagi hari setelah matahari
terbit mereka pergi membeli rempah-rempah dan datang ke bukit batu kuburan
Yesus untuk meminyaki mayat atau jasad Yesus. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria
ibu Yakobus dan Yoses, dan Salome. Mereka secara naif dan berani datang ke sana
tanpa tahu bahwa Yesus telah bangkit. Mereka tidak tahu banyak hal tentang
doktrin mengapa Yesus harus mati disalib, dikubur, dan bangkit. Sejak
penyaliban mereka telah berada di dekat Yesus (Yoh 19:25). Mereka tidak
memiliki doktrin yang dalam tapi mereka memiliki cinta yang dalam kepada Yesus.
Tindakan mereka membawa rempah-rempah lahir dari cinta yang tulus kepada Yesus.
Karena cinta mereka jadi berani untuk berkorban dengan taruhan nyawa mereka.
Mereka bisa saja memilih sikap seperti murid-murid Yesus yang jadi pecundang
bersembunyi. Tapi para wanita ini memilih untuk datang dan menghormati Yesus.
Inilah sikap berani atau courage. Berani berarti memilih sikap untuk melakukan
suatu kebajikan kepada seseorang dengan berkorban walaupun bisa merugikan diri
mereka sendiri. Berani lahir dari kasih yang tulus kepada Yesus. Berani lahir
dari iman dan pengharapan kepada Yesus. Itulah sikap para perempuan pembawa
rempah-rempah. Kita belajar meneladani keberanian mereka. Gereja secara khusus
merayakan minggu para perempuan pembawa rempah pada minggu ketiga Paskah. Fr.
Ted Bobosh menuliskan: “Yesus mengajar kita untuk saling membasuh kaki,
dan para Wanita Murid Tuhan ini pergi ke kubur untuk membasuh tubuh Yesus. Para
murid laki-laki yang memperdebatkan siapa di antara mereka yang terbesar adalah
yang semuanya bersembunyi dengan pengecut pada saat itu. Jadi, siapa di antara
orang-orang ini – wanita atau pria – yang menunjukkan diri mereka sebagai murid
Kristus yang sejati? Para Wanita murid Kristus bersaksi kepada kita tentang
pengorbanan diri, altruisme, pelayanan, kebenaran, kemuliaan, kasih, kemurnian,
keberanian, dan keindahan. Wanita pembawa rempah-rempah mengungkapkan kepada
kita cara yang lebih sempurna, sehat, spiritual, dan indah. Tuhan menciptakan
keindahan dan menetapkan kekekalan di hati kita. Seperti yang dinyanyikan oleh
Pemazmur: “Satu hal yang saya minta dari TUHAN, yang akan saya cari; agar
aku dapat tinggal di rumah TUHAN seumur hidupku, untuk melihat keindahan Tuhan
…” (Maz 27:4) Para Wanita Murid Tuhan itu mengingatkan saya tentang
rumah sakit untuk anak-anak yang pernah saya baca. Rumah sakit tidak melihat
anak-anak hanya sebagai pasien tetapi juga sebagai penyembuh diri sendiri dan
orang lain. Anak-anak tidak dipandang sebagai korban yang membutuhkan bantuan
profesional, tetapi sebagai orang yang mampu menyembuhkan orang lain. Moto
rumah sakit: “Jika Anda dapat membantu orang lain, Anda tidak cacat.”
Di Gereja kita bukan hanya orang yang terluka berjalan atau orang yang sakit
rohani, kita mampu menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap orang lain –
kita tidak cacat. Kita ada di sini untuk melayani, tidak peduli apa kondisi
kita atau apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri atau seberapa banyak
kita perlu bertobat. Anda tidak dinonaktifkan karena Anda dapat membantu orang
lain. Kita di sini untuk menjadi berani seperti para wanita murid-murid Tuhan
dan melayani mereka yang membutuhkan. Apakah kita bahkan bersusah payah mencari
keindahan rohani ini dalam hidup kita, dan melakukan hal-hal indah yang
bermanfaat bagi orang lain tetapi tidak bermanfaat bagi diri kita sendiri? atau
apakah kita selalu memikirkan apa yang menguntungkan saya? Apakah kita
mengajari anak-anak kita nilai keindahan ini atau hanya kepedulian kita bahwa
mereka tumbuh dan menjadi makmur, kuat dan sukses? Jika kita ingin menjadi
murid Kristus seperti para murid Wanita yang kita hormati sebagai orang suci,
maka kita perlu melakukan diskusi serius dalam keluarga kita dan dengan satu
sama lain tentang kebajikan, keindahan, kebenaran, kemurnian, dan semua
karakteristik Allah ini. Seringkali kita menempatkan kekuatan, kekayaan,
kesuksesan, kebanggaan, dan ketenaran sebagai cita-cita tertinggi kita. Kita
sangat membutuhkan pujian. Terlalu sering di dunia modern kita ingin
memperdebatkan peran kekuasaan dan otoritas dalam kehidupan gereja. Tetapi
Kristus mengajarkan kepada kita bahwa argumen semacam itu adalah milik orang
yang tidak percaya (Lukas 22: 25-26). Bagi kami diskusi bukanlah siapa yang
terbesar, tetapi bagaimana kita dapat saling melayani sesama dan melayani
Tuhan?” Ted Bobosh benar bahwa sebagai Murid Kristus kita seringkali jadi
pecundang seperti Petrus dan teman-teman tetapi ketika kita jadi pecundang kita
ingat kita pecundang di dalam kuasa kebangkitan Yesus sehingga kita punya kuasa
Yesus untuk menyempurnakan ketidaksempurnaan kita. Selalu ada kesempatan kedua
dari Tuhan seperti yang dialami para murid laki-laki Yesus untuk menjadi pemenang,
pemberani, mulia seperti para wanita pembawa rempah-rempah itu. Mari kita tidak
takut gagal/ berani dalam berjalan bersama Kristus. Kita membawa spirit Maria
Magdalena, dan Maria-maria yang lain di dalam mengiring Kristus. Berani
mencoba, berani melangkah ke arah kebajikan, dan berani coba lagi jika kita
gagal dan semua ini kita lakukan atas dasar cinta kita pada Yesus. Amin!
Referensi: http://orthochristian.com/121115.html
4th Sunday of Pascha: Paralytic Sunday
Telah
38 tahun orang lumpuh itu menderita sakit dan menantikan kesembuhan dari
guncangan air kolam Betesda sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu.
Siapa saja yang terdahulu masuk ke dalam kolam itu maka segala macam
penyakitnya akan sembuh. Tapi tidak ada satu orang pun yang menurunkan dia dan
sementara ia menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahuluinya.
Demikian itu berlangsung bertahun-tahun. Di sekitar dia banyak orang sakit,
buta, orang timpang atau cacat dan lumpuh yang berebut untuk disembuhkan dan
dia sendiri tidak punya daya untuk masuk ke kolam itu. Setiap tahun dia
menyaksikan orang lain yang disembuhkan padahal dia telah begitu dekat dengan
kolam itu. Artinya dia begitu dekat dengan kesembuhan namun kurang satu langkah
untuk masuk ke dalam kolam itu. Apa daya dia lumpuh dan tidak berdaya.
Kesempatan selalu tertutup bagi dia. Ini menjadi cerita tragis bagi orang
lumpuh itu. Tidak ada yang peduli selama 38 tahun dia menderita. Begitulah
keadaan dunia kita. Selalu ada hal tragis di sekitar kita. Tragedi dan
penderitaan tidak bisa dihindari di dalam dunia yang telah jatuh dosa. Ini
semua akibat dosa yang dialami oleh manusia seperti kata St. Ignatius
(Brianchaninov), “Sin is the cause of all man’s sorrows, both in time and in
eternity. Sorrows are the natural consequence, the natural property of sin,
just as sufferings, produced by physical illnesses, are the unavoidable
property of these illnesses, and their characteristic effect. Sin in the broad
sense of the word could also be called the fall of humankind, or its eternal
death, and encompasses all people without exception. Some sins are the sad
inheritance of whole human societies. Finally, each person has his own
individual passions, his own particular sins he has committed, that belong to
him exclusively. Sin, in all these various forms, serves as the beginning of
all sorrows and catastrophes to which all mankind is subjected, to which human
societies are subjected, and to which each person in particular is subjected.
The state of fallenness, the state of eternal death, by which all mankind is
infected and stricken, is the source of all other human sins, both societal and
personal. Our widespread sin-poisoned nature has acquired the ability to sin
and an inclination toward sin, it has subjected itself to sin, and can neither
remove sin from itself, nor do without it in any of its activities. A person
who has not been renewed cannot help but sin, although he may not want to sin
(Rom. 7:14–23).8 Ada banyak kelumpuhan karena dosa di mana-mana bahkan termasuk
diri kita sendiri. Bukan hanya kelumpuhan jasmani atau fisik tapi juga
kelumpuhan rohani atau mental kita. Di berbagai media informasi kita sering
mendengar atau menonton berbagai peristiwa kejahatan dan tragedi. Kita memang
tidak berdaya melawan penderitaan, kejahatan, dan kematian karena kita
mengalami kelumpuhan rohani oleh sebab dosa kita sendiri. Metropolitan Anthony
of Sourozh menuliskan, “We are surrounded by people who are in need. It is not
only people who are physically paralyzed who need help. There are so many
people who are paralyzed in themselves, and need to meet someone who would help
them. Paralyzed in themselves are those who are terrified of life, because life
has been an object of terror for them since they were born: insensitive
parents, heartless, brutal surroundings. How many are those who hoped, when
they were still small, that there would be something for them in life. But no.
There wasn’t. There was no compassion. There was no friendliness. There was
nothing. And when they tried to receive comfort and support, they did not
receive it. Whenever they thought they could do something they were told,
“Don’t try. Don’t you understand that you are incapable of this?” And they felt
lower and lower.”9 Dunia yang penuh dosa dan lumpuh ini telah berlangsung
sampai hari ini dan akan sampai kesudahan zaman. Namun ada satu pengharapan
yang sudah datang dan akan diselesaikan oleh seorang Pribadi. Dialah Yesus
Kristus. Yohanes mencatat di ayat ke-6 ada sosok Yesus yang datang dan
menawarkan kesembuhan kepada orang lumpuh itu, “Maukah engkau sembuh?” Sontak
orang itu pun heran dan menjadi sembuh, lalu ia mengangkat tikarnya dan
berjalan. Itulah satu bukti di tengah kelumpuhan dunia Yesus telah datang
memberi kesembuhan kepada orang itu dan kita semua. Dan tawaran Yesus itu,
“Maukah engkau sembuh?” masih berlaku sampai sekarang. Dan itu juga pengharapan
bagi kita yang kelak akan diselesaikan oleh Kristus. Tawaran kesembuhan ini
adalah kesembuhan dari dosa 8 http://orthochristian.com/35019.html. 9
http://orthochristian.com/121211.html. 72 yang merupakan bibit atau benih dari
segala penderitaan dan kematian manusia. Yesus telah mengalahkan dosa dengan
jalan Dia rela mati di atas kayu salib, dikubur, dan bangkit dari kematian. Dia
sendiri menjadi obat kelumpuhan kita. Daging dan darah-Nya menjadi obat
kesembuhan kita dari dosa dan kelumpuhan. Menerima Yesus berarti dengan iman
kita butuh belas kasihan-Nya untuk menyembuhkan kelumpuhan rohani kita karena
dosa. Kemudian kita baru bisa berjalan di dalam Dia menuju kepada kesempurnaan
atau serupa dengan Kristus (Kol 2:6-7; 1 Yoh 3:2; Rom 8:29). “Engkau telah
sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih
buruk.” (Yoh 5:14). Ketika kita belum menerima tawaran Yesus maka kita
masih lumpuh secara rohani dan tentunya kita tidak bisa berjalan di dalam Dia.
Namun kita sudah menerima kesembuhan dari Yesus, mari kita berjalan dengan
sungguh-sungguh bersama-Nya. Mari kita belajar dari cerita di atas supaya tidak
ada orang lumpuh sekian lama tanpa ada pertolongan dari sesama. Mari kita
menjadi mata, tangan, dan kaki Kristus di dunia ini untuk menolong sesama kita
yang menderita dan sakit karena dosa. Sama seperti Bapa dan Yesus yang terus
bekerja sampai sekarang (ayat 18), kita pun tidak boleh tinggal diam menonton
tetapi turun tangan berbuat sesuatu dengan daya kita sebab kita pun sudah
disembuhkan oleh Yesus. Kita bukan pemuka Yahudi yang menjadi penghalang tetapi
kita adalah penyalur berkat kesembuhan dari Yesus. Mari kita buka mata dan
telinga untuk melihat dan mendengar lalu berbelas kasihan kepada orang-orang di
sekitar kita. Seperti kata Anthony of Sourozh, “Let us look at one another with
understanding, with attention. Christ is there. He can heal; yes. But we will
be answerable for each other, because there are so many ways in which we should
be the eyes of Christ who sees the needs, the ears of Christ who hears the cry,
the hands of Christ who supports and heals or makes it possible for the person
to be healed. Let us look at this parable of the paralytic with new eyes; not
thinking of this poor man two thousand years ago who was so lucky that Christ
happened to be near him and in the end did what every neighbor should have
done. Let us look at each other and have compassion, active compassion,
insight, and love if we can. And then this parable will not have been spoken or
this event will not have been related to us in vain.10 Di mana ada belas
kasihan orang percaya di situ ada belas kasihan dan tawaran Yesus untuk
menyembuhkan mereka. Bukankah Dia yang sedang mengetuk pintu hati manusia? (Wah
3:20) dan 10 http://orthochristian.com/121211.html.
Tugas kita adalah memberitakan kepada mereka bahwa
Yesus sudah berdiri di depan pintu hati mereka dan sedang mengetuk, bukalah
maka mereka akan menjadi sembuh. Amin! 5th Sunday of Pascha: Samaritan Woman
Sunday Martir Suci Photina (Svetlana), seorang wanita Samaria, putra-putranya,
Victor (bernama Photinus) dan Yoses; dan saudari-saudari perempuannya Anatola,
Phota, Photis, Paraskeva, Kyriake; Putri Nero, Domnina; dan Martir Sebastian.
Martir Suci Photina adalah Wanita Samaria, yang dengannya Juruselamat
bercakap-cakap di Sumur Yakub (Yohanes 4: 5-42). Pada masa kaisar Nero (54-68
M), yang menunjukkan kekejaman berlebihan terhadap orang-orang Kristen, Santa
Photina tinggal di Kartago bersama putranya yang lebih kecil, Yoses, dan dengan
berani mengkhotbahkan Injil di sana. Putranya yang tertua, Victor, bertempur dengan
gagah berani di pasukan Romawi melawan kaum barbar, dan diangkat menjadi
komandan militer di kota Attalia (Asia Kecil). Belakangan, Nero memanggilnya ke
Italia untuk menangkap dan menghukum orang Kristen. Sebastian, seorang pejabat
di Italia, berkata kepada Victor, “Saya tahu bahwa Anda, ibumu dan saudaramu,
adalah pengikut Kristus. Sebagai teman saya menyarankan Anda untuk tunduk pada
kehendak kaisar. Jika Anda memberi tahu orang-orang Kristen, Anda akan menerima
kekayaan. Saya akan menulis surat kepada ibu dan kakak Anda, meminta mereka
untuk tidak memberitakan Kristus di depan umum. Biarkan mereka mempraktikkan
keyakinan mereka secara rahasia. ” Victor menjawab, “Saya ingin menjadi
pengkhotbah Kristus seperti ibu dan saudara lelaki saya.” Sebastian berkata, “O
Victor, kita semua tahu kesengsaraan apa yang menanti Anda, ibu dan saudara
lelaki Anda.” Kemudian tiba-tiba Sebastian merasakan sakit yang tajam di
matanya. Dia tercengang, dan wajahnya muram. Selama tiga hari ia terbaring
buta, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pada hari keempat dia menyatakan,
“Dewa orang Kristen adalah satu-satunya Tuhan yang benar.” Santo
Victor bertanya mengapa Sebastian tiba-tiba berubah pikiran. Sebastian
menjawab, “Karena Kristus memanggil saya.” Segera dia dibaptis dan mendapatkan
kembali penglihatannya. Para pelayan Sebastian, setelah menyaksikan mukjizat
itu, juga ikut dibaptiskan. 74 Laporan tentang hal ini sampai kepada kaisar
Nero, dan ia memerintahkan agar orang-orang Kristen dibawa kepadanya di Roma.
Kemudian Tuhan sendiri menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Jangan
takut, karena aku menyertai kamu. Nero dan semua yang melayani dia akan
dikalahkan.” Tuhan berkata kepada Victor,” Mulai hari ini namamu akan
menjadi Photinus karena melalui kamu banyak orang akan tercerahkan dan akan
percaya kepada-Ku.” Tuhan kemudian mengatakan kepada orang-orang Kristen
untuk menguatkan Sebastian agar bertahan sampai akhir. Semua hal ini dan bahkan
peristiwa di masa depan diungkapkan kepada Photina. Dia meninggalkan Kartago ditemani
beberapa orang Kristen dan bergabung dengan gereja di Roma. Di Roma kaisar
memerintahkan orang-orang Kristen untuk dibawa ke hadapannya dan dia bertanya
kepada mereka apakah mereka benar-benar percaya kepada Kristus. Semua orang
yang mengaku menolak untuk meninggalkan Juruselamat. Kemudian kaisar
memerintahkan untuk menghancurkan sendi jari para martir. Selama siksaan, para
martir ini tidak merasakan sakit dan tangan mereka tetap tidak terluka. Nero
memerintahkan agar Sebastian, Photinus, dan Yoses dibutakan dan dikurung di
penjara, dan Photina dan lima saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis,
Paraskeva, dan Kyriake dikirim ke pengadilan kekaisaran di bawah pengawasan
putri Nero, Domnina. Santa Photina mempertobatkan Domnina dan semua pelayannya
menjadi pengikut Kristus. Dia juga mempertobatkan seorang penyihir yang telah
membawa makanan beracun untuk membunuhnya. Tiga tahun berlalu dan Nero mengutus
salah seorang pelannya ke penjara. Para utusan melaporkan kepadanya bahwa
Sebastian, Photinus dan Yoses, yang telah dibutakan, telah sepenuhnya pulih,
dan bahwa orang-orang mengunjungi mereka untuk mendengarkan khotbah mereka, dan
memang seluruh penjara telah diubah menjadi tempat yang terang dan harum di
mana Allah dimuliakan. Nero kemudian memerintahkan untuk menyalibkan
orang-orang kudus itu, dan memukuli tubuh telanjang mereka dengan tali. Pada
hari keempat kaisar mengirim para pelayan untuk melihat apakah para martir
masih hidup. Tetapi ketika mendekati tempat siksaan para pelayan kaisar Nero menjadi
buta. Malaikat Tuhan membebaskan para martir dari salib mereka dan menyembuhkan
mereka. Orang-orang kudus mengasihani para pelayan yang buta dan memulihkan
penglihatan mereka dengan doa mereka kepada Tuhan. Mereka yang disembuhkan
datang percaya kepada Kristus dan segera dibaptis. Dalam kemarahannya, Nero
memerintahkan untuk menguliti kulit orang kudus Photina dan melemparkannya ke
dalam sumur. Sebastian, Photinus, dan Yoses dipotong kaki-kakinya dan mereka 75
dilemparkan ke anjing dan kemudian mereka dikuliti. Para saudari perempuan
Photina juga menderita siksaan yang mengerikan. Nero memberi perintah untuk
memotong payudara mereka dan kemudian menguliti kulit mereka. Kaisar menyiapkan
eksekusi untuk Photis: mereka mengikat kakinya dengan kaki di puncak dua pohon
yang bengkok. Ketika tali-tali itu ditebang, pohon-pohon itu tumbuh tegak dan
mencabik-cabik martir. Kaisar memerintahkan yang lainnya dipenggal. Martir
Photina dikeluarkan dari sumur dan dikurung di penjara selama dua puluh hari.
Setelah itu Nero membawa Photina dan bertanya apakah dia sekarang mau mengalah
dan mempersembahkan korban kepada berhala. Photina meludahi wajah kaisar, dan
menertawakannya, berkata, “Wahai orang yang paling tidak beradab atas orang
buta, Anda lelaki yang brengsek dan bodoh! Apakah Anda pikir saya begitu
tertipu sehingga saya akan setuju untuk meninggalkan Tuhanku Kristus dan
sebagai gantinya menawarkan pengorbanan kepada berhala yang sama buta dengan
Anda?” Mendengar kata-kata seperti itu, Nero memerintahkan untuk sekali
lagi membuang Photina ke sumur dan di sana ia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan
pada tahun 66. Pada Kalender Yunani, Photina diperingati pada 26 Februari.
Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/03/20/100846-martyr-photina-svetlana-the-samaritan-woman-andher-sons
6th Sunday of Pascha: Blind Man Sunday
Pada hari Minggu
ini, bahwa sebelum Hari Kenaikan Kristus, Gereja mengingatkan kita akan Injil
orang yang lahir buta. Ada dua poin di sini yang ingin saya utarakan. Pertama,
kata-kata Kristus tentang mengapa orang itu dilahirkan buta. Membalas
murid-murid-Nya, Dia mengatakan bahwa kebutaannya bukan karena orang itu
berdosa, atau orang tuanya, tetapi 76 supaya karya-karya Allah dinyatakan di
dalam dirinya. Dengan kata lain, menurut Tuhan kita sendiri, penyakit atau
cacat tidak selalu terjadi karena dosa pribadi atau dosa orang lain, tetapi
mereka dapat diijinkan untuk memancarkan kemuliaan Allah. Kita bisa melihat ini
dalam kehidupan beberapa orang yang kurang beruntung. Mereka menemukan
kelemahan mereka sebagai tantangan, tantangan yang dapat menghasilkan yang
terbaik di dalamnya. Sebagai contoh, kita dapat memikirkan anak-anak Downs
Syndrome tertentu yang sangat baik dan penuh kasih, jauh lebih baik daripada
jika mereka dilahirkan sebagai ‘normal’. Kita juga dapat memikirkan beberapa
orang buta yang, setelah kehilangan satu indera, telah menyempurnakan indra
lainnya hampir dengan sempurna, dan menunjukkan pemahaman tentang diri batiniah
yang tidak dimiliki oleh penglihatan. Kita semua dapat memikirkan contoh-contoh
keberanian dan cinta luar biasa di antara orang-orang yang kurang beruntung.
Mengapa? Karena rahmat Allah ada pada mereka: ‘pekerjaan-pekerjaan Allah
dinyatakan di dalam mereka’. Di sisi lain, kita juga bisa memikirkan
orang-orang dengan ‘kelebihan’ besar. Misalnya, ada wanita yang sangat cantik atau
pria yang sangat kaya yang tidak dapat menemukan kebahagiaan menikah. Mereka
dikelilingi oleh orang-orang yang tidak tertarik pada mereka sebagai manusia,
tetapi hanya ingin mengambil keuntungan dasar dari penampilan mereka yang dalam
atau rekening bank mereka. Kita juga dapat memikirkan orang-orang yang sangat
cerdas dan berpendidikan, yang kecerdasannya telah ‘begitu tinggi’, dan mereka
menjadi sangat sok dan konyol, namun menjadi bahan tertawaan di hadapan dunia.
Dalam kasus orang yang lahir buta, seluruh hidupnya hanyalah persiapan untuk
pertemuannya dengan Kristus. Tidak hanya jiwanya yang cukup murni, diperhalus
dengan cacat seumur hidupnya, untuk menerima kesembuhan dari Tuhan, tetapi juga
dia mengakui Dia sebagai Anak Allah, sehingga membuat karya-karya Allah
dinyatakan dalam dirinya sendiri. Pertama, orang-orang Farisi, yang benar-benar
buta karena mereka melarang penyembuhan dan perbuatan baik pada hari Sabat,
menanyai dia dan mengintimidasi dia dan orang tuanya dan kemudian mengusirnya.
Dan dia menyaksikan kepada mereka bahwa, ‘Aku tidak tahu apakah Yesus seorang
berdosa atau tidak; satu hal yang saya tahu; Saya buta, sekarang saya melihat
‘. Kedua, dia menambahkan: ‘Jika dia bukan dari Tuhan, dia tidak bisa berbuat
apa-apa’. Dan akhirnya dia mengaku bahwa dia percaya bahwa Kristus adalah Anak
Allah – salah satu yang pertama dalam Injil yang melakukannya. Penghakiman
orang yang lahir buta itu saat itu adalah orang yang sehat. Dia dapat mengajari
kita cara menghakimi, atau lebih tepatnya membedakan, orang lain – dari
buahnya. Jika kita, atau orang lain, berasal dari Allah, maka kita akan
bertahan dan menghasilkan buah yang baik, karena jika ada yang bukan dari
Allah, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan jika ada yang dari Allah, maka ia
akan selesai dengan memberikan kesaksian tentang Keilahian Kristus. Hal kedua
yang harus kita perhatikan dalam Injil hari ini adalah cara Kristus
menyembuhkan. Dia meludah ke tanah dan ‘membuat tanah liat dari air liur’. Kita
mencatat ini untuk setiap sakramen penyembuhan dengan cara yang sama: 77 Tanah
liat tidak bisa menyembuhkan orang buta, namun dengan nafas Tuhan, itu menjadi
wadah bagi rahmat penyembuhan. Air tidak dapat menyembuhkan, tetapi air
baptisan menyembuhkan karena air yang diberkati membawa Roh Kudus. Minyak tidak
dapat menyembuhkan, namun minyak dari penyembuhan tersembuhkan karena mereka
dipenuhi dengan rahmat Allah. Sepotong kain tidak dapat menyembuhkan, namun
kain seorang imam dapat menyembuhkan melalui kasih karunia Kristus pada
pengakuan dosa yang tulus dan bertobat untuk tidak berbuat dosa lagi. Roti dan
anggur tidak dapat menyembuhkan, namun roti dan anggur berubah menjadi Tubuh
dan Darah Kristus yang menyembuhkan melalui Roh Kudus. Kayu dan cat tidak dapat
menyembuhkan, namun ikon dapat menyembuhkan oleh Roh Kudus yang menembus esensi
material dan memancarkan rahmat dari material. Asap tidak dapat menyembuhkan
namun membakar dupa membawa kesembuhan melalui berkat Kristus. Kemudian Kristus
mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu dapat digunakan untuk penyembuhan
dan manfaat serta keselamatan kita, tetapi semuanya harus disentuh terlebih
dahulu oleh kasih karunia-Nya. Dengan cara ini tubuh kita, yang hanya daging,
tulang, dan darah, dapat menjadi wadah Kristus. Jiwa kita diaktifkan, kita bisa
menjadi pelita Roh Kudus; mata jiwa kita atau Nous, pintu persepsi, menjadi
melihat, dan kita melihat seluruh Ciptaan Allah sebagaimana adanya. Kita
melihat bahwa setiap helai rumput dan setiap bukit, setiap pohon dan setiap
awan, setiap tetes hujan dan setiap samudera, semua makhluk dan semua orang,
adalah mukjizat hasil karya Allah, tanda-tanda kehadiran sakramental-Nya di
antara kita, dan kita melihat bahwa kita hidup bukan di dunia seharihari yang
dangkal, tetapi di Firdaus yang potensial, dunia sebagaimana adanya, seperti
yang Allah ciptakan terlebih dahulu, karena kita melihat Allah Pencipta di
balik segala sesuatu dan semua orang.
Referensi: http://orthochristian.com/62044.html
7th Sunday of Pascha: Fathers
of the 1st Ecumenical Council
Pada hari Minggu ketujuh Paska, kita
memperingati para Bapa Suci yang mengikuti konsili Ekumenis Pertama. Peringatan
Konsili Ekumenis Pertama telah dirayakan oleh Gereja Kristus dari zaman kuno.
Tuhan Yesus Kristus meninggalkan Gereja sebuah janji besar, “Aku akan membangun
Gereja-Ku, dan gerbang-gerbang neraka tidak akan menguasainya” (Mat 16:18).
Meskipun Gereja Kristus di bumi akan melewati perjuangan sulit dengan musuh
keselamatan, tapi Gereja akan muncul sebagai pemenang. Para martir suci
memberikan kesaksian akan kebenaran kata-kata Juruselamat, menanggung
penderitaan dan kematian karena mengakui Kristus, tetapi pedang penganiaya
dihancurkan oleh Salib Kristus. Penganiayaan terhadap orang-orang Kristen
berhenti pada abad keempat, tetapi ajaran sesat muncul di dalam Gereja itu
sendiri. Salah satu yang paling merusak dari bidat ini adalah Arianisme. Arius,
seorang imam dari Aleksandria, adalah orang yang sangat bangga dan berambisi.
Dalam menyangkal sifat ilahi Yesus Kristus dan kesetaraan-Nya dengan Allah
Bapa, Arius secara salah mengajarkan bahwa Juruselamat tidak selaras dengan
Bapa, tetapi hanya makhluk ciptaan. Konsili lokal, yang bertemu dengan ketua
Patriark Alexander dari Alexandria, mengutuk ajaran Arius yang palsu. Namun,
Arius tidak mau tunduk pada otoritas Gereja. Dia menulis kepada banyak uskup,
79 mengecam ketetapan konsili lokal. Dia menyebarkan ajarannya yang keliru di
seluruh Timur, menerima dukungan dari beberapa uskup Timur tertentu.
Menyelidiki perbedaan pendapat ini, kaisar kudus Konstantinus (21 Mei)
berkonsultasi dengan Uskup Hosius dari Cordova (27 Agustus), yang meyakinkannya
bahwa ajaran sesat Arius diarahkan terhadap dogma paling mendasar dari Gereja
Kristus, dan karena itu ia memutuskan untuk mengadakan Konsili Ekumenis. Pada
tahun 325, 318 uskup mewakili Gereja-gereja Kristen dari berbagai negeri
berkumpul bersama di Nicea. Di antara para uskup yang berkumpul adalah mereka
yang mengaku menderita selama penganiayaan, dan yang menanggung tanda-tanda
penyiksaan di tubuh mereka. Mereka berpartisipasi dalam Konsili adalah beberapa
tokoh besar Gereja: Nikolas, Uskup Agung Myra di Lycia (6 Desember dan 9 Mei),
Spyridon, Uskup Tremithos (12 Desember), dan yang lainnya dihormati oleh Gereja
sebagai Bapa Suci. Bersama Patriark Aleksander dari Aleksandria dan diakonnya,
Athanasius [yang kemudian menjadi Patriak Aleksandria (2 Mei dan 18 Januari)].
Dia disebut “Yang Agung,” karena dia adalah seorang pemenang yang bersemangat
untuk kemurnian Ortodoksi. Dalam Ode Keenam dari Canon untuk Pesta hari ini, ia
disebut sebagai “Rasul ketiga belas.” Kaisar Konstantinus memimpin
sidang-sidang Konsili. Dalam pidatonya, menanggapi sambutan oleh Uskup Eusebius
dari Kaisarea, ia berkata, “Tuhan telah membantu saya menjatuhkan kekuatan
jahat para penganiaya, tetapi yang lebih menyedihkan bagi saya daripada darah
yang tumpah dalam pertempuran, adalah perselisihan internal di Gereja Allah,
karena itu lebih merusak.” Arius, dengan tujuh belas uskup di antara para
pendukungnya, tetap sombong, tetapi ajarannya ditolak dan dia dikucilkan dari
Gereja. Dalam pidatonya, diaken suci Athanasius dengan tegas membantah pendapat
Arius yang menghujat. Heresiarch Arius digambarkan dalam ikonografi duduk di
lutut Setan, atau di mulut Beast of the Deep (Wah 13). Para Bapa Konsili
menolak untuk menerima Simbol Iman (Pengakuan Iman) yang diajukan oleh kaum
Arian. Sebaliknya, mereka menegaskan Simbol Iman Ortodoks. Konstantinus meminta
Konsili untuk memasukkan ke dalam teks Simbol Iman kata “konsubstansial,” yang
telah ia dengar dalam pidato para uskup. Para Bapa Konsili dengan suara bulat
menerima saran ini. Dalam Pengakuan Iman Nicea, para Bapa Suci berangkat dan
membenarkan ajaran-ajaran para Rasul tentang sifat ilahi Kristus. Ajaran sesat
Arius diekspos dan ditolak sebagai kesalahan dengan alasan angkuh. Setelah
menyelesaikan pertanyaan dogmatis utama ini, Konsili juga mengeluarkan Dua
Belas Kanon mengenai masalah administrasi dan disiplin gereja. Juga diputuskan
tanggal perayaan Paskah Suci. Dengan keputusan Konsili, Paska Suci tidak boleh
dirayakan oleh orang Kristen pada hari yang sama dengan Paskah Yahudi, tetapi
pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama dari titik balik musim
semi (yang terjadi pada 22 Maret di 325). Konsilit Ekumenis Pertama juga
diperingati pada tanggal 29 Mei.
1st Sunday: The Sunday of Orthodoxy
Kata Ikon, berasal dari bahasa Yunani Eikon yang berarti gambar. Kamera
Jerman terkenal Zeis Ikon menggunakan kata ini sebagai nama dagang. Rasul Paulus
berbicara tentang Kristus sebagai Ikon Allah; itulah ungkapan dalam bahasa
Yunani. Kristus adalah Ikon Allah, dan seluruh Perjanjian Baru ditulis atas
dasar bahwa jika kita ingin tahu seperti apa Allah yang Kekal itu, kita
memandang Yesus atau ikon itu dan lihatlah.
Di Barat, seni keagamaan ditempatkan di jendela gereja atau katedral. Di
Timur jendela dibiarkan polos dan dindingnya ditutupi dengan seni keagamaan.
Tujuan ikon adalah:
1. untuk menciptakan penghormatan dalam ibadah;
2. untuk mengajar mereka yang tidak dapat membaca;
3. untuk melayani dalam hal hubungan eksistensial antara penyembah dan Allah.
Mengapa Ikon?
Orang Ibrani memiliki ikon-ikon dalam wujud kata tertulis. Mereka sangat
menentang gambar apa pun, namun tidak pernah menyadari bahwa kombinasi huruf
yang menyampaikan makna sama seperti ikon dari bentuk penggambaran lainnya.
Untuk mengajari bangsa-bangsa lain seperti Yunani, Mesir, Latin, Gereja
dihadapkan dengan kebutuhan untuk mengungkapkan kepada mereka gagasan tentang
Kristus yang digambarkan secara visual. Kristus sudah diwujudkan dalam kata dan
lagu tertulis. Sekarang Dia diwujudkan dalam bentuk gambar untuk menarik
perhatian panca indera kita yaitu mata.
THE ICONOCLASTS
Kalender Gereja menetapkan hari Minggu Prapaskah pertama sebagai hari Minggu
Ortodoksi. Ini menandai hari itu adalah hari Ikon. Ini menandai hari di mana
penggunaan ikon-ikon dipulihkan kembali setelah masa penentangan. Ini
memperingati kemenangan Gereja Ortodoks melawan ikonoklas yang tujuannya adalah
untuk menghapus secara paksa semua ikon dari gereja dan menghancurkan mereka
karena dianggap alat penyembahan berhala. Karena ikon tersebut adalah salah
satu fitur paling khas dari Ortodoksi, kami akan mempertimbangkan secara
singkat apa yang ditandakannya, mengapa itu digunakan, nilai praktisnya serta
signifikansi doktrinalnya.
Pertama, mari kita pertimbangkan tuduhan penyembahan berhala. Orang Kristen
Ortodoks tidak menyembah ikon; mereka hanya menghormati atau memuliakan ikon
sebagai simbol. Leontius dari Neapolis menulis pada abad ketujuh: “Kami
tidak membuat penghormatan kepada kayu, tetapi kami menghormati dan membuat
penghormatan kepada-Nya yang disalibkan di Kayu Salib…. Ketika dua balok Salib
disatukan, saya mengagumi sosok itu karena Kristus yang di kayu Salib
disalibkan, tetapi jika balok-balok itu dipisahkan, saya membuangnya dan
membakarnya.”
Apakah Allah Bisa Dilihat?
Ikonoklas (mereka yang berusaha untuk menghapus semua gambar ikon dari
gereja) berpendapat bahwa Allah tidak dapat dilukis karena Ia kekal dan tidak
terlihat. “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah” (Yoh 1:18). Tetapi
Orthodoxy bersikeras bahwa Allah dapat dilukis karena Ia menjadi manusia. Dalam
Perjanjian Lama citra apa pun dari Allah akan menjadi “gambar
berhuruf”, sebuah berhala, karena tidak ada gambar Allah yang dapat eksis.
Tidak ada yang pernah melihat Allah. Tetapi ini berubah saat Allah menjadi
manusia di dalam Kristus. Karena hal ini sekarang sah untuk membuat gambar-Nya.
Mereka yang menyangkal ikon Kristus menyangkal kebenaran bahwa Dia telah
menjadi manusia. Dengan kata lain, mereka menyangkal dasar keselamatan kita:
Allah menjadi manusia di dalam Kristus. Jadi, apa yang kita benar-benar
peringati pada hari Minggu Prapaskah pertama di Gereja Ortodoks bukanlah
kontroversi tentang seni keagamaan, tetapi tentang Inkarnasi Kristus dan
keselamatan manusia. Bapa Gereja Yohanes dari Damaskus mengungkapkan hal ini
dengan baik ketika ia menulis, “Dahulu, Allah tidak pernah digambarkan.
Tetapi sekarang, ketika Allah terlihat, berpakaian dalam daging dan
bercakap-cakap dengan manusia, saya membuat gambar Allah, tentang Allah yang
dapat saya lihat. Saya tidak menyembah materi. Saya menyembah Allah materi yang
menjadi materi demi saya … untuk menyelesaikan keselamatan saya melalui materi.”
Adalah akurat secara teologis untuk mengatakan bahwa Allah Sendiri adalah
pembuat ikon pertama dengan secara nyata mereproduksi diri-Nya dalam rupa
Anak-Nya. Kontroversi ikonoklas bukan hanya kontroversi tentang seni keagamaan,
tetapi lebih dari seluruh makna dan implikasi dari inkarnasi. Allah mengambil
tubuh materi, dengan demikian membuktikan bahwa materi dapat ditebus. “Firman
yang menjadikan manusia telah mengilahikan daging,” kata Yohanes dari Damaskus.
Bahan-bahan yang digunakan dalam ikon hanyalah ekspresi apresiasi Kristen Timur
terhadap dunia material. Ini memiliki banyak hal untuk dikatakan kepada kita
hari ini di bidang ekologi: Hal itu sakral dan tidak boleh disalahgunakan atau
terkontaminasi.
Reformasi Protestan abad ke-16 berpandangan negatif terhadap ikon. Bagi
Luther mereka diizinkan sebagai ilustrasi. Calvin dapat menerima tidak lebih
dari adegan sejarah dengan lebih dari satu orang digambarkan, sehingga tidak
akan membuat orang yang setia tersandung dalam penyembahan berhala. Kaum Puritan
di Inggris dan Amerika mengambil pandangan negatif tentang seni ikon. Mereka
membenci dan melarang semua lukisan agama. Di satu sisi mereka mungkin benar.
Kebanyakan “seni religius atau seni ikon” bersifat ofensif karena
sulit untuk percaya bahwa Anak Allah yang tunggal menjadi manusia. Gambar
Kristus sebagai seorang wanita berjanggut, kadang-kadang dengan hati valentine
yang berdarah menunjukkan melalui dada transparan, jika dianggap serius,
menyangkal bahwa Dia adalah manusia. Gambar-gambar seperti itu memberi gagasan
bahwa Dia menjadi hantu, baik pria maupun wanita. Eric Newton menulis,
“Tetapi sejak saat Allah mengutus Putra tunggal-Nya untuk tinggal di bumi,
lahir dari seorang wanita fana, untuk berkhotbah, untuk melakukan mukjizat,
untuk menderita maut di tangan orang-orang Yahudi, dan untuk dibangkitkan,
situasi bagi Dia berubah , karena agama baru yang terkandung di dalamnya
sendiri ada fakta yang tak terlihat menjadi nyata, Allah menciptakan manusia,
supranatural dibuat nyata secara fisik. Akhirnya tidak ada alasan untuk
melarang pencitraan, karena jika Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia,
tidak ada kemungkinan gambar tentang Dia yang mengarah pada penyembahan
berhala.”
Apa itu Ikon?
Kecenderungan di antara beberapa orang Kristen mula-mula adalah tidak
menggunakan gambar Yesus yang realistis. Sebagai gantinya mereka menggunakan
tanda-tanda abstrak – huruf yang akan mewakili Yesus, seperti huruf Chi-Rho,
dua huruf pertama dari kata Yunani untuk Kristus, atau IHS, huruf pertama untuk
nama Yesus dalam bahasa Yunani. Mereka juga menggunakan tokoh-tokoh seperti
ikan, yang merupakan tanda rahasia bagi Kristus, atau seekor domba, yang
mewakili Yesus, Anak Domba Allah. Sinode Trullan, yang diadakan di
Konstantinopel pada tahun 692, menyatakan bahwa adalah salah bagi gereja untuk
menggambarkan Kristus dalam tanda dan lambang itu. Sinode secara khusus
menetapkan hal itu salah untuk menggambarkan Kristus sebagai domba (Anak Domba
Allah). Jika dia benar-benar menjadi manusia, kata Sinode, maka Dia harus
digambarkan sebagai manusia – bukan sebagai binatang atau sebagai simbol.
Para Bapa Gereja merasa bahwa sifat ilahi Kristus harus ditunjukkan dalam
gambar-gambar serta sifat manusiawi-Nya. Mereka mengatakan, dalam arahan yang
sama, bahwa gambar-Nya tidak boleh “terlalu duniawi”. Sidang Ekumenis
Ketujuh menyatakan bahwa Gereja, meskipun ia dapat menggambarkan Tuhan melalui
seni dalam wujud manusia-Nya, tidak boleh terpisah dalam representasi daging
Kristus dari keilahian-Nya. Kristus harus diwakili dalam seni ikon sebagai
Tuhan-Manusia. Dengan demikian, akan sangat tidak benar untuk mewakili Kristus
sesuai dengan keindahan alam dari beberapa model manusia biasa. Dan ini tidak
benar di Barat di mana orang-orang muda yang “tampan” dan visioner
menjadi model lukisan Kristus yang sebenarnya. Sifat manusiawi Kristus yang
“indah” dari seni Barat tidak dapat diterima oleh orang-orang Kristen
Timur mengingat fakta bahwa mereka hanya mengungkapkan gagasan tentang sifat
manusia dari Tuhan kita. Jadi, seni Ortodoks dihadapkan dengan tugas khusus
untuk menemukan beberapa jenis ikonografi yang akan mengarahkan penonton
langsung pada pemikiran bahwa dalam diri orang yang diwakili “seluruh
kepenuhan keilahian berdiam secara jasmani” (Rasul Paul). Selain itu,
Theodore Studites berkata, “Jika kita mengatakan bahwa Kristus adalah
kekuatan Allah dan hikmat Allah, dengan cara yang sama perwakilannya harus
dikatakan sebagai kekuatan dan hikmat Allah.” Karena alasan ini, seni ikon
Orthodox diciptakan untuk Kristus sebagai tipe ideal seperti model manusia
murni, dengan karakteristik supernatural seperti mata besar, hidung dan tangan.
Dengan demikian, ikonografer Ortodoks berusaha untuk mengekspresikan unsur
supra-alami, supra-rasional dan supra-konseptual Tuhan kita melalui hiperbola,
berlebihan, dan bahkan deformasi realitas alam. Jadi, sementara di Barat secara
tradisional menekankan sifat manusia dari Kristus melalui penggunaan
patung-patung dan model-model manusia Yesus, Timur lebih menekankan pada sifat
ilahi Yesus melalui ikon yang sesuai dengan ekspresi ilahi yang sangat efektif,
keadaan Yesus yang berubah rupa melalui penggunaan gaya bahasa.
Tiga Cara Penggambaran
Ada tiga cara yang mungkin untuk “menggambarkan” seseorang: foto,
potret/lukis, dan ikon. Foto itu merekam fitur apa adanya. Potret yang sukses
mereproduksi fitur seseorang dengan cara yang benar untuk kehidupan dan dapat
dikenali; tetapi pada saat yang sama itu mengeluarkan karakternya dan
memberikan ekspresi pada sifat batinnya. Sebuah ikon bukanlah foto tetapi lebih
seperti potret. Namun itu lebih dari sekadar potret. Itu bertujuan memberi
keserupaan yang benar dari orang itu, dan pada saat yang sama ia berusaha untuk
menunjukkan kepada seseorang apa yang telah menjadi jati dirinya melalui kuasa
Roh Kudus. Suatu ikon lebih dari sekadar foto, bahkan lebih dari sekadar
potret. Ikonografi menggambarkan apa yang terjadi pada orang-orang setelah
Tuhan menyentuh mereka. Mereka menjadi orang baru. Dengan menghilangkan segala
sesuatu yang tidak relevan dengan figur spiritual, figur tersebut menjadi
bergaya, spiritual, bukan tidak realistis tetapi supra-realistis. Ikon tersebut
dengan demikian disisihkan dari semua bentuk seni bergambar lainnya. Ia
menawarkan ekspresi eksternal dari keadaan manusia yang berubah rupa, dari
tubuh yang dipenuhi dengan Roh Kudus, begitu terlatih dalam kebaikan, sehingga
menjadi seperti tubuh rohani yang akan kita terima pada Kedatangan Kristus yang
Kedua.Ada beberapa yang percaya bahwa abstraksionisme, pengurangan fitur
adalah untuk esensi paling murni, berasal dari para ikonografer.
Ikon disebut doa, nyanyian pujian, khotbah dalam bentuk dan warna. Mereka
adalah Injil visual. Pada kenyataannya, Gereja Timur memiliki dua Injil: lisan
dan visual, untuk menarik seluruh manusia. Seperti dikatakan Bapa Gereja,
Basil, “Apa yang ditransmisikan oleh kata melalui telinga, lukisan itu
secara diam-diam ditunjukkan melalui gambar, dan dengan dua cara ini, saling
menemani satu sama lain … kita menerima pengetahuan tentang satu hal yang
sama.”Seseorang harus memasuki Gereja untuk melihat di hadapannya semua
misteri agama Kristen terbentang di hadapannya. “Jika seorang yang belum
percaya meminta kita untuk menunjukkan kepadanya iman kita,” kata Yohanes
dari Damaskus, “bawa dia ke gereja dan tempatkan dia di depan ikon.”
Melalui ikon ini, Gereja menarik bagi mata dan indera. Kita mengingat jauh
lebih mudah dari apa yang kita lihat bukan apa yang kita dengar. Para nabi
Perjanjian Lama, misalnya, sering menggunakan metode aksi dramatis dan
simbolik. Laki-laki mungkin menolak untuk mendengarkan, tetapi mereka sulit
melihat. Yeremia, misalnya, memperingatkan orang-orang dari perbudakan yang
akan menimpa mereka dengan membuat kuk dan mengenakannya di lehernya. Praktik
di negara-negara Komunis untuk menggantung foto-foto pemimpin mereka di
mana-mana dipinjam oleh kaum Marxis Rusia dari penggunaan ikon di Gereja
Ortodoks Rusia. Gambar-gambar itu, pada dasarnya, adalah ikon para ilah baru
yang dimaksudkan untuk memancing semacam penyembahan pada tokoh itu dan ketaatan
mutlak pada mereka.Ikon itu lebih dari sekadar sarana pengajaran. Ini berlaku
untuk sakramen. Sebab, sebuah ikon tidak sepenuhnya merupakan ikon sampai ikon
itu diberkati oleh imam di gereja. Karena dia menjadi penghubung antara manusia
dan ilahi. Ini memberikan pertemuan eksistensial antara manusia dan Allah. Itu
menjadi tempat penampakan Kristus, asalkan seseorang berdiri di hadapannya
dengan hati dan pikiran yang benar. Itu menjadi tempat doa. Ikon berpartisipasi
dalam peristiwa yang digambarkannya dan hampir merupakan penciptaan kembali
dari peristiwa itu secara eksistensial bagi orang percaya. Seperti yang
dikatakan S. Bulgakov, “Dengan berkat ikon Kristus, sebuah pertemuan mistis
umat beriman dan Kristus menjadi mungkin.” Banyak ikon dianggap sebagai
“pekerjaan ajaib”. Ini dianggap sebagai ikon par excellence/luar biasa. Berdiri
di Gereja Ortodoks yang dinding dan langit-langitnya ditutupi dengan ikon
Kristus dan orang-orang kudus, penyembah itu tidak merasa sendirian. Dia
mengalami persekutuan dengan orang-orang kudus. Dia mengalami persekutuan
dengan Kristus dan orang-orang kudus. Dia dibuat merasa bahwa dia adalah
anggota keluarga Allah. Cecil Steward menggambarkan ini dengan baik ketika dia
menulis, “Gambar-gambar itu kelihatannya diatur sedemikian rupa sehingga
menanamkan perasaan hubungan langsung antara kita dan gambar-gambar itu…
masing-masing kepribadian diwakili menghadap satu, sehingga seseorang berdiri,
seolah-olah, di dalam jemaat ada para orang kudus. Seni Byzantium, pada
kenyataannya, menempatkan satu di gambar …. Dia (penonton) mengamati dan
diamati.”
Pengaruh Seni Dari Mesir
Salah satu pelopor ikon adalah potret pemakaman Mesir. Keinginan dari
almarhum untuk tidak dilupakanlah yang membuat orang Mesir melukis gambar wajah
orang yang meninggal pada mumi. Yang membedakan fitur potret pemakaman orang
Mesir adalah mata besar, terbuka lebar dan menatap orang yang memandang mereka,
seolah berkata, “Inilah aku. Anda mungkin berpikir saya sudah pergi dan
lupa, ttapi ketika saya melihat Anda dengan mata ini, saya menantang Anda
melupakan saya.”Ikon-ikon Kristen awal mengikuti pola yang sama.
Orang-orang kudus yang mereka wakili memiliki mata besar yang menatap langsung
ke mata para pengikut mereka, seolah berkata, “Inilah aku. Saya mungkin tampak
mati bagi Anda, tetapi saya sangat hidup di hadirat Allah.”
Ini adalah salah satu prinsip yang dimasukkan ke dalam lukisan ikon.
Organ-organ sensorik (mata, hidung, telinga) tidak dilukis menurut anatomi yang
benar karena masing-masing organ itu telah diubah oleh rahmat ilahi dan tidak
lagi menjadi organ indera manusia biologis yang biasa. Mata dicat besar dan
beranimasi untuk mengekspresikan intensitas fisik. Telah dibukakan oleh Allah,
mereka telah melihat hal-hal besar. “Mata-Ku telah melihat keselamatan-Mu.”
Telinga dicat besar sebagai proyeksi simbolis dari telinga jiwa yang telah
mendengar dan masih mendengar kabar baik tentang Kristus. Hidung juga
seringkali lebih besar dari ukuran alami dan tipisnya untuk menunjukkan bahwa
hidung itu tidak dimaksudkan untuk mencium hal-hal dari dunia ini tetapi aroma
Kristus dan Roh Kudus. Mulut, di sisi lain, berbentuk kecil untuk menyatakan
bahwa orang suci yang diwakili “tidak memikirkan hidupnya, apa yang akan
dia makan dan apa yang akan dia minum”, tetapi pertama-tama mencari
kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
Lingkaran Halo
Seni ikon Barat telah mengandalkan mahkota cahaya atau lingkaran cahaya
untuk menunjukkan “kekudusan” orang yang diwakili. Biasanya ini
terjadi karena orang yang kudus itu begitu berwajah dunia sehingga lingkaran
halo diperlukan untuk menandakan bahwa dia seorang Kudus yang sedang diwakili.
Dalam ikon, bagaimanapun, seseorang tidak bergantung pada halo saja untuk
memahami bahwa orang yang diwakili adalah orang Kudus. Kekudusan ditunjukkan oleh
seluruh bentuk dan gaya ikon. Inilah sebabnya mengapa halo hilang dari beberapa
ikon yang lebih tua serta di lukisan dinding katakombe di mana Kristus dan para
martir diwakili tanpa lingkaran cahaya.
Penggunaan Ikon
Seorang gadis Jepang di sebuah perguruan tinggi Amerika diundang untuk
menghabiskan liburan Natal bersama teman sekelasnya. Setelah itu dia ditanya
bagaimana dia menikmati liburan. “Baiklah,” jawabnya, “tetapi saya merindukan
Tuhan di rumah. Saya telah melihat Anda menyembah Tuhan di gereja Anda. Di
negara saya, kami memiliki rak atau altar dewa sehingga kami dapat menyembah
dewa-dewa kami di rumah kami. Tidakkah orang Amerika menyembah Tuhan mereka di
rumah mereka?” Sudah menjadi tradisi bagi rumah-rumah Kristen Orthodox
untuk memiliki “rak-Tuhan” dalam bentuk ikon dengan cahaya lilin
menyala di depannya. Ini berfungsi sebagai pengingat akan kehadiran Allah di
rumah dan sebagai pusat doa keluarga. Di Rusia kuno, misalnya, setiap rumah —
dari istana musim dingin Tsar yang hebat hingga pondok jerami petani — memiliki
ikon Kristus atau Bunda Perawan. Pada saat itu tidak ada rumah di Rusia yang
menjadi rumah jika di rumahnya belum dikuduskan oleh ikon.
Helene Iswolsky menulis dalam bukunya Christ in Russia, “Di masa
lalu … seorang Rusia yang memasuki rumahnya atau mengunjungi seorang teman
pertama-tama akan membungkuk rendah di depan ikon dan membuat tanda salib
sebelum menyapa keluarga atau tuan rumahnya. Ikon-ikon itu melambangkan
kehadiran Allah; mereka adalah pengingat akan kehidupan yang supranatural, dan
menarik bagi moralitas dan hati nurani. Sulit untuk berbohong, menipu, menjadi
brutal di depan ikon. Komunis di Rusia melakukan semua yang mereka bisa untuk
merobohkan ikon-ikon dari rumah-rumah rakyat, untuk menghilangkan citra Allah mereka,
dan untuk meredam nurani rakyat.”
Bahkan, jika Gereja di Rusia telah bertahan di bawah Komunisme selama
bertahun-tahun terakhir ini meskipun tidak ada fasilitas untuk mengajar
anak-anak dalam iman Kristen baik di sekolah atau di gereja, itu karena (berbicara
secara manusiawi) adanya keluarga Kristen. Keluarga ini dianggap sebagai
“gereja rumah” dengan “altar” sendiri di mana doa-doa
dipersembahkan di hadapan ikon.
Ikon itu tidak pernah dimaksudkan untuk digantung di dinding sebagai objek
estetika. Jika digunakan sebagai hiasan yang menarik, tidak lagi berfungsi
sebagai ikon. Untuk sebuah ikon hanya dapat ada dalam kerangka iman dan ibadah
tertentu yang menjadi ikonnya. Bercerai dari kerangka ini, ia kehilangan
fungsinya sebagai ikon.
Dalam sebuah fragmen kehidupan John Chrysostom yang disimpan dalam sebuah karya
oleh John of Damascus (675-749), kita diberitahu bahwa Chrysostom memiliki ikon
Rasul Paulus di hadapan dirinya ketika dia mempelajari surat-surat Paulus.
Ketika dia melihat ke atas dari Kitab Sucinya, ikon itu tampak hidup dan
berbicara kepadanya.Ikon di rumah menguduskan kita; mereka mengubah tempat
tinggal yang netral menjadi “gereja rumah tangga” dan kehidupan orang beriman
menjadi liturgi yang tak henti-hentinya.
Yesus berkata, “Ketika kamu berdoa, pergilah ke kamarmu” (Mat 6:6). Uskup Agung
Paulus dari Finlandia menambahkan, “Namun demikian kita tidak sendirian. Ikon
di sudut ruangan tempat kita berdoa adalah jendela menuju kerajaan Allah dan
ikatan dengan para anggotanya.”Salah satu Leluhur Gereja Rusia berkata,Jika di
rumah sakit, yang mengobati penyakit tubuh jasmani, semuanya diatur untuk
membuat lingkungan yang kondusif bagi pasien untuk kembali sehat, apa yang
harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk semuanya di rumah sakit rohani,
gereja Tuhan.Kita dapat menerapkan ini juga ke rumah Kristen yang harus
mencakup pengingat akan kehadiran Allah yang menguatkan dan menyembuhkan.
Pelukis Ikon
Dikatakan bahwa cinta adalah penerjemah yang hebat. Hanya konduktor orkestra
yang jatuh cinta dengan musik yang paling bisa menafsirkan dan mengekspresikan
musiknya. Seorang seniman muda pernah membawa foto Yesus yang telah ia lukis
kepada seorang pelukis hebat untuk dinilai. Pelukis itu mempelajarinya selama
beberapa waktu dan akhirnya berkata, “Kamu tidak mencintai-Nya, atau kamu
tidak akan melukisnya lebih baik.” Kebenaran agung ini dipraktikkan di
antara pelukis ikon Ortodoks yang biasanya adalah para rahib. Ikonograf semacam
itu tidak dianggap sebagai seniman religius, melainkan sebagai orang yang
memiliki panggilan rohani. Mereka adalah para misionaris yang mengabarkan
teologi visual. Ikon, seperti Firman, adalah wahyu, bukan hiasan atau
ilustrasi. Ini adalah teologi dalam warna. Lebih penting daripada menjadi
seniman yang baik adalah kenyataan bahwa pelukis ikon menjadi orang Kristen
yang tulus yang mempersiapkan diri untuk pekerjaannya melalui puasa, doa,
pertobatan, dan memiliki perasaan bahwa ia hanyalah alat di mana Roh Kudus
mengekspresikan diri-Nya. Sangat penting untuk mengenal Yesus lebih baik jika
seseorang ingin melukis-Nya dengan lebih baik. Di Barat telah menginstruksikan
dan bahkan membatasi pelukis, sedangkan di Timur ikonografer adalah seorang
karismatik yang merenungkan misteri liturgi dan mengajar.
IKON TERBAIK ALLAH
Karena kita berbicara tentang ikon, maka ikon terbaik Allah adalah manusia
yang diciptakan menurut gambar Allah sendiri. Setiap orang di gereja adalah
ikon Allah yang hidup. Kita menghormati gambar Allah dalam diri manusia yang
berada pada semua orang tanpa memandang warna kulit atau golongannya. Kita
menghormati ikon-ikon di Gereja, namun menunjukkan rasa tidak hormat kepada
ikon-ikon Allah yang hidup – sesama manusia – adalah kemunafikan yang paling
buruk. Sangat menarik untuk dicatat di sini bahwa di Gereja Abyssinian, Yesus
dan Maria digambarkan sebagai orang kulit hitam. Semua orang – tanpa memandang
warna – adalah gambar atau ikon Allah yang hidup.
Seorang guru sekolah minggu pernah berkata kepada satu kelasnya, “Kamu tahu
bagaimana perasaanmu ketika kamu menggambar. Kamu ingin semua orang melihatnya
dan mengaguminya karena kamu menggambarnya dengan bagus. Itulah yang Yesus
rasakan tentang kamu. Kamu adalah gambar yang digambar-Nya. “Seorang anak
lelaki kecil bertanya, “Apakah semua orang adalah gambar Yesus?”
“Ya benar,” kata guru itu. “Bahkan Annie?” “Iya.”
Tiba-tiba secarik kertas cokelat dibuang ke keranjang sampah guru. “Aku
baru akan menaruh kertas itu ke dalam susu Annie,” katanya sedih,
“hanya Yesus yang menggambarnya, jadi lebih baik aku tidak melakukannya.”Anak
kecil itu menangkap kebenaran besar. Ikon Allah yang paling berharga adalah
laki-laki dan perempuan. Seperti kita memperlakukan setiap ikon yang hidup
demikianlah kita memperlakukan Allah.
Tujuan kita dalam hidup menurut teologi Ortodoks adalah THEOSIS.
Sederhananya, ini berarti bahwa kita harus menjadi seperti Kristus. Ini dimulai
dalam Pembaptisan ketika gambar yang dipulihkan diberikan kepada kita. Tujuan
hidup kita adalah untuk melanjutkan dari gambar Allah yang dipulihkan ke rupa
Allah. Keserupaan dengan Kristus tidak diberikan kepada kita; kita harus
berjuang untuk itu selalu dengan rahmat Allah. Gambar yang dipulihkan adalah
karunia yang kita terima dari Allah pada saat Pembaptisan. Tetapi keserupaan
dengan Kristus adalah tugas kekudusan pribadi yang harus kita capai sebagai
buah dari kehidupan spiritual kita sendiri melalui rahmat atau anugerah Allah.
Seraphim dari Sarov berkata: “Tujuan hidup Kristen adalah untuk memperoleh Roh
Kudus.” Memperoleh Roh Kudus berarti memperoleh persamaan dengan Allah. Tidak
ada rupa Allah di dalam kita tanpa Roh Kudus.”Inilah yang ditunjukkan ikon
itu kepada kita. Melalui ikon kita mewakili Dia, Yang melalui inkarnasi-Nya
memulihkan citra Allah dalam diri manusia. Atau kita mewakili orang-orang kudus
yang melalui kehidupan mereka yang konstan bersama Roh Kudus telah memperoleh
kesamaan Allah yang sejati dan telah menjadi ikon yang hidup. Oleh karena itu,
tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk mengembangkan karunia yang kita
terima dalam baptisan: untuk beralih dari gambar menjadi serupa dengan kasih
karunia Allah dan dengan demikian menjadi ikon Kristus yang hidup di dunia saat
ini. Amin!
Referensi:
Anthony M. Coniaris, Introducing The Orthodox Church: Its Faith and
Life. Minnesota: Light and Life Publishing Minneapolis, 1982.
Minggu Tomas (Yohanes 20:19-29)
Kondisi para murid Yesus
yang sedang ketakutan, terpuruk, dan tanpa harapan atas penyaliban Yesus (Yoh
20:19). Mereka berkumpul dan membicarakan apa yang terjadi terhadap guru
mereka. Mereka melihat penderitaan dan kematian guru mereka namun mereka tidak
mengetahui ada kebangkitan Yesus. Apa yang mereka lihat dan rasakan adalah
penderitaan dan kematian dan itu membawa ketakutan dan kecemasan serta tanpa
harapan. Begitu juga dengan kita ketika tidak ada kebangkitan maka yang ada
adalah hidup tanpa harapan dan ketakutan sebab pada akhirnya semua kita akan
menuju pada kematian dan kesia-siaan hidup.
Lalu tiba-tiba tanpa mereka
duga di ruangan yang tersembunyi dan terkunci itu ada suara: “Damai sejahtera
bagi kamu!” Dan suara itu adalah suara Yesus sendiri yang berdiri di
tengah-tengah mereka (Yoh 20:19). Lalu Yesus mengulangi kalimat yang sama lagi,
“Damai sejahtera bagi kamu!” setelah Dia menunjukkan bukti historis kebangkitan
Dia yaitu tubuh kebangkitan-Nya. Tangan dan lambung-Nya adalah bukti atau fakta
derita dan penyaliban yang kejam yang Yesus alami namun Dia mengalahkan salib
dan kematian yang mengancam setiap manusia dengan kebangkitan tubuh-Nya dari
alam maut/sheol dan memberitakan “Damai Sejahtera” kepada para murid-Nya dan
kita semua. Alam maut Dia porak-porandak dan menyelamatkan mereka yang selama
ini telah mununggu Dia turun ke alam maut pada saat penguburan di hari Sabat.
Alam maut dan Iblis tidak bisa mencegah Dia untuk bangkit pada hari Minggu pagi
setelah 3 hari 3 malam sejak penyaliban-Nya dan dengan antusias Yesus
memberitakan “Damai Sejahtera bagi kita”. Damai inilah yang dicari-cari oleh
setiap manusia yang mengalahkan setiap ketakutan dan kesia-siaan hidup di
dunia. Damai inilah damai Paskah atau damai kebangkitan Yesus yang telah
mengalahkan kuasa maut, Iblis, dan kematian. Damai inilah damai keselamatan
kekal yang telah dinubuatkan sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Sudahkah
kita mengalami damai sejahtera kebangkitan itu di dalam hati, jiwa, dan raga
kita? Sudahkah kita bisa melihat dibalik penderitaan dan kematian Yesus ada
kemenangan Dirinya yaitu kebangkitan-Nya? Kita tidak lagi seperti para murid
yang sedang berkumpul ketakutan tetapi kita berkumpul untuk bersinergi memberitakan
damai sejahtera Yesus kepada setiap orang. Sebab itu, Yesus berkata kepada para
murid-Nya, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus
kamu” (Yoh 20:21). Para murid tidak boleh lagi dalam kondisi ketakutan tetapi
pergi dengan kuasa kebangkitan Yesus melalui kuasa Roh Kudus untuk memberitakan
damai sejahtera itu kepada semua bangsa (Yoh 20:22). Ada kuasa Roh Allah yang
ada di dalam diri para murid sehingga mereka juga mengalami kemenangan atas
ketakutan yaitu damai sejahtera dan kebangkitan atas maut yaitu mengalami
Paskah dan Pentakosta. Paskah yang mereka alami adalah kebangkitan jiwa dan roh
mereka menjadi para Rasul sekarang yang diutus untuk memberitakan damai
sejahtera itu dan Pentakosta yang mereka alami adalah diembusi Roh Kudus oleh
Yesus sehingga mereka mewarisi semangat Pentakosta. Mereka menjadi Rasul
melalui kuasa Roh Kudus, kuasa yang sama yang diterima oleh Yesus dari Bapa.
Bapa Mengutus Yesus dan Yesus mengutus mereka sehingga Yesus berkata kepada
mereka di ayat 23 untuk mewakili Yesus di dunia ini. Jadi, para murid ini
mengalami kemenangan atas ketakutan mereka dengan mengalami damai sejahtera di
dalam diri mereka dan mengalami pentakosta yaitu menerima Roh Kudus dan
kuasa-Nya.
Kemudian, Yohanes
menceritakan tentang murid yang lain yang tidak hadir pada hari pertama minggu
Paskah itu yaitu Tomas atau yang disebut Didimus. Tomas tidak percaya pada
cerita rekan-rekan-Nya (Yoh 20:24-25). Bukan karena dia seorang peragu atau
skeptis melainkan ini adalah suatu berita yang paling penting bagi hidup dia
sehingga dia sendiri yang harus menjadi saksi mata langsung seperti para rasul
lainnya. Yesus mengetahui pemikiran Tomas dan Dia sengaja menampakkan diri lagi
kepada para murid dan Tomas. Yesus meminta Tomas untuk menaruh jarinya di
tangan dan di lambung Yesus seperti permintaan Tomas sebelumnya (baca Yoh
20:26-27). Dan Tomas membuktikannya dan dia menjadi saksi mata atas bukti atau
fakta historis kebangkitan Yesus. Yang mencengangkan adalah Tomas menjadi rasul
pertama yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah-Nya. Yesus adalah
Tuhan berarti Dialah penguasa atas hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia
mengabdikan hidupnya. Yesus adalah Allah berarti Dialah sumber dan pemilik
hidup Tomas dan hanya kepada Yesus dia mengemnbalikan hidupnya. Yesus sebagai
Tuhan dan Allah adalah fakta historis yang disaksikan oleh Tomas dan para
murid. Yesus Tuhan dan Allah adalah berita kemenangan Yesus atas penderitaan,
maut, dosa, dan Iblis. Yesus Tuhan dan Allah adalah damai sejahtera kebangkitan
yang kita alami di dalam hati, jiwa, dan raga kita. Walaupun kita bukan saksi
mata langsung seperti Tomas dan para murid, tapi mengalami damai sejahtera
kebangkitan itu jauh lebih penting sebab kita memiliki iman atau percaya kepada
Yesus. Dengan iman kita bisa melihat dan mendengar bahwa Yesus telah mengetuk
pintu hati kita untuk menerima Dia dan merasakan damai sejahtera itu di dalam
hati kita. Kita juga mengalami Paskah dan Pentakosta seperti para murid. Dan
Yesus menyebut kita orang berbahagia atau diberkati sebab kita percaya
kepada-Nya. Di dalam Iman kita memiliki mata rohani untuk bisa
percaya kepada Yesus dan melihat karya Yesus di dalam hidup kita sampai kita
melihat Yesus mata dengan mata dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Karya
Yesus adalah pengudusan hidup kita sehingga kita menjadi kudus atau suci dan
pada akhirnya kita bisa melihat Allah (1 Yoh 3:2 dan Mat 5:8). Mari kita
menjadi seperti Tomas yang rela mengabdikan hidupnya bagi Kristus sehingga
Kristus yang akan bertindak jadi Tuhan dan Allah bagi hidup kita.
Menurut Tradisi Gereja,
Rasul Suci Tomas mendirikan gereja-gereja Kristen di Palestina, Mesopotamia,
Parthia, Ethiopia dan India. Mengkhotbahkan Injil membuatnya meninggal sebagai
martir. Karena telah mempertobatkan istri dan anak dari wali kota Meliapur
[Melipur] di India, rasul suci dikurung di penjara, menderita siksaan, dan
akhirnya, ditusuk dengan lima tombak, ia meninggal sebagai martir bagi Tuhan.
Bagian dari peninggalan Rasul Suci Tomas ada di India, di Hongaria dan di Mt.
Athos. Nama Rasul Tomas dikaitkan dengan Ikon Arab (atau Arapet) Bunda Allah (6
September).
Beberapa ikon yang
menggambarkan peristiwa ini tertulis “Tomas Sang Peragu.” Ini tidak
tepat. Dalam bahasa Yunani, prasasti itu berbunyi, “Sentuhan Tomas.” Prasasti
Slavonic adalah, “Iman Tomas.” Ketika Rasul Tomas menyentuh tangan dan lambung
Yesus, ia tidak lagi memiliki keraguan. Hari ini juga dikenal sebagai
“Antipascha.” Ini tidak berarti “menentang Paskah,” tetapi
“menggantikan Paskah.” Dimulai dengan hari Minggu pertama setelah
Paskah, Gereja mendedikasikan setiap hari Minggu tahun ini untuk Kebangkitan
Tuhan. Hari Minggu disebut “Kebangkitan” dalam bahasa Rusia, dan
“Hari Tuhan” dalam bahasa Yunani.
“Karena itu Yusuf, orang Arimatea, seorang anggota Majelis Besar yang
terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri
menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus heran waktu mendengar bahwa
Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya
apakah Yesus sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia
berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf. Yusuf pun membeli kain lenan,
kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain
lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit
batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu. Maria Magdalena
dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan. Setelah lewat hari
Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah
untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Dan pagi-pagi benar pada hari pertama
minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. Mereka berkata
seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita
dari pintu kubur?” Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu
yang memang sangat besar itu sudah terguling. Lalu mereka masuk ke dalam kubur
dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah
kanan. Mereka pun sangat terkejut, tetapi orang muda itu berkata kepada mereka:
“Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah
bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.
Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus:
Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang
sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan
kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan
apa-apa kepada siapa pun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan
semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri
dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang
kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.”
(Markus 15:43-16:8 TB)
“Kita seringkali melakukan segala sesuatu dengan gagal alias menjadi
pecundang, loser, namun kita pecundang di dalam Kristus dan Kristus
yang membenarkan dan menyempurnakan kegagalan kita menjadi keberhasilan.”
Kira-kira kutipan seperti ini yang saya simpulkan ketika saya merenungkan
tentang para murid Yesus yang sembunyi ketakutan paska kebangkitan penyaliban
dan kematian Yesus. Mereka menjadi pecundang sebelum Yesus menampakkan dirinya
secara langsung. Namun hal berbeda yang dialami oleh para wanita pembawa
rempah-rempah. Pagi hari setelah matahari terbit mereka pergi membeli
rempah-rempah dan datang ke bukit batu kuburan Yesus untuk meminyaki mayat atau
jasad Yesus. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yoses, dan
Salome. Mereka secara naif dan berani datang ke sana tanpa tahu bahwa Yesus
telah bangkit. Mereka tidak tahu banyak hal tentang doktrin mengapa Yesus harus
mati disalib, dikubur, dan bangkit. Sejak penyaliban mereka telah berada di
dekat Yesus (Yoh 19:25). Mereka tidak memiliki doktrin yang dalam tapi mereka
memiliki cinta yang dalam kepada Yesus. Tindakan mereka membawa rempah-rempah
lahir dari cinta yang tulus kepada Yesus. Karena cinta mereka jadi berani untuk
berkorban dengan taruhan nyawa mereka. Mereka bisa saja memilih sikap seperti
murid-murid Yesus yang jadi pecundang bersembunyi. Tapi para wanita ini memilih
untuk datang dan menghormati Yesus. Inilah sikap berani atau courage. Berani
berarti memilih sikap untuk melakukan suatu kebajikan kepada seseorang dengan
berkorban walaupun bisa merugikan diri mereka sendiri. Berani
lahir dari kasih yang tulus kepada Yesus. Berani lahir dari iman dan
pengharapan kepada Yesus. Itulah sikap para perempuan pembawa rempah-rempah.
Kita belajar meneladani keberanian mereka. Gereja secara khusus merayakan
minggu para perempuan pembawa rempah pada minggu ketiga Paskah.
Fr. Ted Bobosh menuliskan:
“Yesus mengajar kita untuk saling membasuh kaki, dan para Wanita Murid
Tuhan ini pergi ke kubur untuk membasuh tubuh Yesus. Para murid laki-laki yang
memperdebatkan siapa di antara mereka yang terbesar adalah yang semuanya
bersembunyi dengan pengecut pada saat itu. Jadi, siapa di antara orang-orang
ini – wanita atau pria – yang menunjukkan diri mereka sebagai murid Kristus
yang sejati? Para Wanita murid Kristus bersaksi kepada kita tentang pengorbanan
diri, altruisme, pelayanan, kebenaran, kemuliaan, kasih, kemurnian, keberanian,
dan keindahan.
Wanita pembawa rempah-rempah mengungkapkan kepada kita cara yang lebih
sempurna, sehat, spiritual, dan indah. Tuhan menciptakan keindahan dan
menetapkan kekekalan di hati kita. Seperti yang dinyanyikan oleh Pemazmur:
“Satu hal yang saya minta dari TUHAN, yang akan saya cari; agar aku dapat
tinggal di rumah TUHAN seumur hidupku, untuk melihat keindahan Tuhan …”
(Maz 27:4)
Para Wanita Murid Tuhan itu mengingatkan saya tentang rumah sakit untuk
anak-anak yang pernah saya baca. Rumah sakit tidak melihat anak-anak hanya
sebagai pasien tetapi juga sebagai penyembuh diri sendiri dan orang lain.
Anak-anak tidak dipandang sebagai korban yang membutuhkan bantuan profesional,
tetapi sebagai orang yang mampu menyembuhkan orang lain. Moto rumah sakit:
“Jika Anda dapat membantu orang lain, Anda tidak cacat.”
Di Gereja kita bukan hanya orang yang terluka berjalan atau orang yang sakit
rohani, kita mampu menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap orang lain –
kita tidak cacat. Kita ada di sini untuk melayani, tidak peduli apa kondisi
kita atau apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri atau seberapa banyak
kita perlu bertobat. Anda tidak dinonaktifkan karena Anda dapat membantu orang
lain. Kita di sini untuk menjadi berani seperti para wanita murid-murid Tuhan
dan melayani mereka yang membutuhkan.
Apakah kita bahkan bersusah payah mencari keindahan rohani ini dalam hidup
kita, dan melakukan hal-hal indah yang bermanfaat bagi orang lain tetapi tidak
bermanfaat bagi diri kita sendiri? atau apakah kita selalu memikirkan apa yang
menguntungkan saya? Apakah kita mengajari anak-anak kita nilai keindahan ini
atau hanya kepedulian kita bahwa mereka tumbuh dan menjadi makmur, kuat dan
sukses?
Jika kita ingin menjadi murid Kristus seperti para murid Wanita yang kita
hormati sebagai orang suci, maka kita perlu melakukan diskusi serius dalam
keluarga kita dan dengan satu sama lain tentang kebajikan, keindahan,
kebenaran, kemurnian, dan semua karakteristik Allah ini.
Seringkali kita menempatkan kekuatan, kekayaan, kesuksesan, kebanggaan, dan
ketenaran sebagai cita-cita tertinggi kita. Kita sangat membutuhkan pujian.
Terlalu sering di dunia modern kita ingin memperdebatkan peran kekuasaan dan
otoritas dalam kehidupan gereja. Tetapi Kristus mengajarkan kepada kita bahwa
argumen semacam itu adalah milik orang yang tidak percaya (Lukas 22: 25-26).
Bagi kami diskusi bukanlah siapa yang terbesar, tetapi bagaimana kita dapat
saling melayani sesama dan melayani Tuhan?”
Ted Bobosh benar bahwa sebagai Murid Kristus kita seringkali jadi pecundang
seperti Petrus dan teman-teman tetapi ketika kita jadi pecundang kita ingat
kita pecundang di dalam kuasa kebangkitan Yesus sehingga kita punya kuasa Yesus
untuk menyempurnakan ketidaksempurnaan kita. Selalu ada kesempatan kedua dari
Tuhan seperti yang dialami para murid laki-laki Yesus untuk menjadi pemenang,
pemberani, mulia seperti para wanita pembawa rempah-rempah itu. Mari kita tidak
takut gagal/ berani dalam berjalan bersama Kristus. Kita membawa spirit Maria
Magdalena, dan Maria-maria yang lain di dalam mengiring Kristus. Berani
mencoba, berani melangkah ke arah kebajikan, dan berani coba lagi jika kita
gagal dan semua ini kita lakukan atas dasar cinta kita pada Yesus. Amin!
Referensi: http://orthochristian.com/121115.html
Yohanes 5:1-15 Minggu Orang Lumpuh
1 Sesudah itu ada
hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.
2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam,
yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya
3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar
orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang
menantikan goncangan air kolam itu.
4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu
dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya
sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.
5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun
lamanya sakit.
6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan
karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya:
“Maukah engkau sembuh?”
7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada
orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan
sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”
8 Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu
dan berjalanlah.”
9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia
mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang
baru sembuh itu: “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.”
11 Akan tetapi ia menjawab mereka: “Orang yang telah
menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan
berjalanlah.”
12 Mereka bertanya kepadanya: “Siapakah orang itu yang
berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?”
13 Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang
itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.
14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu
berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya
padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”
15 Orang itu keluar, lalu menceriterakan kep (Yoh 5:1-15 TB)
Telah 38 tahun orang lumpuh
itu menderita sakit dan menantikan kesembuhan dari guncangan air kolam Betesda
sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu. Siapa saja yang terdahulu
masuk ke dalam kolam itu maka segala macam penyakitnya akan sembuh. Tapi tidak
ada satu orang pun yang menurunkan dia dan sementara ia menuju ke kolam itu,
orang lain sudah turun mendahuluinya. Demikian itu berlangsung bertahun-tahun.
Di sekitar dia banyak orang sakit, buta, orang timpang atau cacat dan lumpuh
yang berebut untuk disembuhkan dan dia sendiri tidak punya daya untuk masuk ke
kolam itu.
Setiap tahun dia menyaksikan
orang lain yang disembuhkan padahal dia telah begitu dekat dengan kolam itu.
Artinya dia begitu dekat dengan kesembuhan namun kurang satu langkah untuk masuk
ke dalam kolam itu. Apa daya dia lumpuh dan tidak berdaya. Kesempatan selalu
tertutup bagi dia. Ini menjadi cerita tragis bagi orang lumpuh itu. Tidak ada
yang peduli selama 38 tahun dia menderita. Begitulah keadaan dunia kita. Selalu
ada hal tragis di sekitar kita. Tragedi dan penderitaan tidak bisa dihindari di
dalam dunia yang telah jatuh dosa. Ini semua akibat dosa yang dialami oleh
manusia seperti kata St. Ignatius (Brianchaninov), “Sin is the cause of all
man’s sorrows, both in time and in eternity. Sorrows are the natural
consequence, the natural property of sin, just as sufferings, produced by
physical illnesses, are the unavoidable property of these illnesses, and their
characteristic effect. Sin in the broad sense of the word could also be called
the fall of humankind, or its eternal death, and encompasses all people without
exception. Some sins are the sad inheritance of whole human societies. Finally,
each person has his own individual passions, his own particular sins he has
committed, that belong to him exclusively. Sin, in all these various forms,
serves as the beginning of all sorrows and catastrophes to which all mankind is
subjected, to which human societies are subjected, and to which each person in
particular is subjected. The state of fallenness, the state of eternal death,
by which all mankind is infected and stricken, is the source of all other human
sins, both societal and personal. Our widespread sin-poisoned nature has
acquired the ability to sin and an inclination toward sin, it has subjected
itself to sin, and can neither remove sin from itself, nor do without it in any
of its activities. A person who has not been renewed cannot help but sin,
although he may not want to sin (Rom. 7:14–23).[10]
Ada banyak kelumpuhan karena
dosa di mana-mana bahkan termasuk diri kita sendiri. Bukan hanya kelumpuhan
jasmani atau fisik tapi juga kelumpuhan rohani atau mental kita. Di berbagai
media informasi kita sering mendengar atau menonton berbagai peristiwa
kejahatan dan tragedi. Kita memang tidak berdaya melawan penderitaan,
kejahatan, dan kematian karena kita mengalami kelumpuhan rohani oleh sebab dosa
kita sendiri. Metropolitan Anthony of Sourozh menuliskan, “We are surrounded
by people who are in need. It is not only people who are physically paralyzed
who need help. There are so many people who are paralyzed in themselves, and
need to meet someone who would help them. Paralyzed in themselves are those who
are terrified of life, because life has been an object of terror for them since
they were born: insensitive parents, heartless, brutal surroundings. How many
are those who hoped, when they were still small, that there would be something
for them in life. But no. There wasn’t. There was no compassion. There was no
friendliness. There was nothing. And when they tried to receive comfort and
support, they did not receive it. Whenever they thought they could do something
they were told, “Don’t try. Don’t you understand that you are incapable of
this?” And they felt lower and lower.”[11]
Dunia
yang penuh dosa dan lumpuh ini telah berlangsung sampai hari ini dan akan
sampai kesudahan zaman. Namun ada satu pengharapan yang sudah datang dan akan
diselesaikan oleh seorang Pribadi. Dialah Yesus Kristus. Yohanes mencatat di
ayat ke-6 ada sosok Yesus yang datang dan menawarkan kesembuhan kepada orang
lumpuh itu, “Maukah engkau sembuh?” Sontak orang itu pun heran dan menjadi
sembuh, lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan. Itulah satu bukti di tengah
kelumpuhan dunia Yesus telah datang memberi kesembuhan kepada orang itu dan
kita semua. Dan tawaran Yesus itu, “Maukah engkau sembuh?” masih berlaku sampai
sekarang. Dan itu juga pengharapan bagi kita yang kelak akan diselesaikan oleh
Kristus. Tawaran kesembuhan ini adalah kesembuhan dari dosa yang merupakan
bibit atau benih dari segala penderitaan dan kematian manusia. Yesus telah
mengalahkan dosa dengan jalan Dia rela mati di atas kayu salib, dikubur, dan
bangkit dari kematian. Dia sendiri menjadi obat kelumpuhan kita. Daging dan
darah-Nya menjadi obat kesembuhan kita dari dosa dan kelumpuhan. Menerima Yesus
berarti dengan iman kita butuh belas kasihan-Nya untuk menyembuhkan kelumpuhan
rohani kita karena dosa. Kemudian kita baru bisa berjalan di dalam Dia menuju
kepada kesempurnaan atau serupa dengan Kristus (Kol 2:6-7; 1 Yoh 3:2; Rom
8:29). “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya
padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yoh 5:14).
Ketika kita belum menerima
tawaran Yesus maka kita masih lumpuh secara rohani dan tentunya kita tidak bisa
berjalan di dalam Dia. Namun kita sudah menerima kesembuhan dari Yesus, mari
kita berjalan dengan sungguh-sungguh bersama-Nya. Mari kita belajar dari cerita
di atas supaya tidak ada orang lumpuh sekian lama tanpa ada pertolongan dari
sesama. Mari kita menjadi mata, tangan, dan kaki Kristus di dunia ini untuk
menolong sesama kita yang menderita dan sakit karena dosa. Sama seperti Bapa
dan Yesus yang terus bekerja sampai sekarang (ayat 18), kita pun tidak boleh
tinggal diam menonton tetapi turun tangan berbuat sesuatu dengan daya kita
sebab kita pun sudah disembuhkan oleh Yesus. Kita bukan pemuka Yahudi yang
menjadi penghalang tetapi kita adalah penyalur berkat kesembuhan dari Yesus.
Mari kita buka mata dan telinga untuk melihat dan mendengar lalu berbelas
kasihan kepada orang-orang di sekitar kita. Seperti kata Anthony of Sourozh, “Let
us look at one another with understanding, with attention. Christ is there. He
can heal; yes. But we will be answerable for each other, because there are so
many ways in which we should be the eyes of Christ who sees the needs, the ears
of Christ who hears the cry, the hands of Christ who supports and heals or
makes it possible for the person to be healed. Let us look at this parable of
the paralytic with new eyes; not thinking of this poor man two thousand years
ago who was so lucky that Christ happened to be near him and in the end did
what every neighbor should have done. Let us look at each other and have
compassion, active compassion, insight, and love if we can. And then this
parable will not have been spoken or this event will not have been related to
us in vain.[12]
Di mana ada belas kasihan
orang percaya di situ ada belas kasihan dan tawaran Yesus untuk menyembuhkan
mereka. Bukankah Dia yang sedang mengetuk pintu hati manusia? (Wah 3:20) dan
tugas kita adalah memberitakan kepada mereka bahwa Yesus sudah berdiri di depan
pintu hati mereka dan sedang mengetuk, bukalah maka mereka akan menjadi sembuh.
Amin!
5th Sunday of Pascha: Samaritan
Woman Sunday
Martir Suci Photina (Svetlana), seorang wanita Samaria, putra-putranya,
Victor (bernama Photinus) dan Yoses; dan saudari-saudari perempuannya Anatola,
Phota, Photis, Paraskeva, Kyriake; Putri Nero, Domnina; dan Martir Sebastian.
Martir Suci Photina adalah Wanita Samaria, yang dengannya Juruselamat
bercakap-cakap di Sumur Yakub (Yohanes 4: 5-42).
Pada masa kaisar Nero (54-68 M), yang menunjukkan kekejaman berlebihan
terhadap orang-orang Kristen, Santa Photina tinggal di Kartago bersama putranya
yang lebih kecil, Yoses, dan dengan berani mengkhotbahkan Injil di sana.
Putranya yang tertua, Victor, bertempur dengan gagah berani di pasukan Romawi
melawan kaum barbar, dan diangkat menjadi komandan militer di kota Attalia
(Asia Kecil). Belakangan, Nero memanggilnya ke Italia untuk menangkap dan menghukum
orang Kristen.
Sebastian, seorang pejabat di Italia, berkata kepada Victor, “Saya tahu
bahwa Anda, ibumu dan saudaramu, adalah pengikut Kristus. Sebagai teman saya
menyarankan Anda untuk tunduk pada kehendak kaisar. Jika Anda memberi tahu
orang-orang Kristen, Anda akan menerima kekayaan. Saya akan menulis surat
kepada ibu dan kakak Anda, meminta mereka untuk tidak memberitakan Kristus di
depan umum. Biarkan mereka mempraktikkan keyakinan mereka secara rahasia. ”
Victor menjawab, “Saya ingin menjadi pengkhotbah Kristus seperti ibu dan
saudara lelaki saya.” Sebastian berkata, “O Victor, kita semua tahu
kesengsaraan apa yang menanti Anda, ibu dan saudara lelaki Anda.” Kemudian
tiba-tiba Sebastian merasakan sakit yang tajam di matanya. Dia tercengang, dan wajahnya
muram.
Selama tiga hari ia terbaring buta, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pada
hari keempat dia menyatakan, “Dewa orang Kristen adalah satu-satunya Tuhan
yang benar.” Santo Victor bertanya mengapa Sebastian tiba-tiba berubah
pikiran. Sebastian menjawab, “Karena Kristus memanggil saya.” Segera dia
dibaptis dan mendapatkan kembali penglihatannya. Para pelayan Sebastian,
setelah menyaksikan mukjizat itu, juga ikut dibaptiskan.
Laporan tentang hal ini sampai kepada kaisar Nero, dan ia memerintahkan agar
orang-orang Kristen dibawa kepadanya di Roma. Kemudian Tuhan sendiri
menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Jangan takut, karena aku menyertai
kamu. Nero dan semua yang melayani dia akan dikalahkan.” Tuhan berkata
kepada Victor,” Mulai hari ini namamu akan menjadi Photinus karena melalui
kamu banyak orang akan tercerahkan dan akan percaya kepada-Ku.” Tuhan
kemudian mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk menguatkan Sebastian agar
bertahan sampai akhir.
Semua hal ini dan bahkan peristiwa di masa depan diungkapkan kepada Photina.
Dia meninggalkan Kartago ditemani beberapa orang Kristen dan bergabung dengan
gereja di Roma.
Di Roma kaisar memerintahkan orang-orang Kristen untuk dibawa ke hadapannya
dan dia bertanya kepada mereka apakah mereka benar-benar percaya kepada
Kristus. Semua orang yang mengaku menolak untuk meninggalkan Juruselamat.
Kemudian kaisar memerintahkan untuk menghancurkan sendi jari para martir.
Selama siksaan, para martir ini tidak merasakan sakit dan tangan mereka tetap
tidak terluka.
Nero memerintahkan agar Sebastian, Photinus, dan Yoses dibutakan dan
dikurung di penjara, dan Photina dan lima saudari perempuannya Anatola, Phota,
Photis, Paraskeva, dan Kyriake dikirim ke pengadilan kekaisaran di bawah
pengawasan putri Nero, Domnina. Santa Photina mempertobatkan Domnina dan semua
pelayannya menjadi pengikut Kristus. Dia juga mempertobatkan seorang penyihir
yang telah membawa makanan beracun untuk membunuhnya.
Tiga tahun berlalu dan Nero mengutus salah seorang pelannya ke penjara. Para
utusan melaporkan kepadanya bahwa Sebastian, Photinus dan Yoses, yang telah
dibutakan, telah sepenuhnya pulih, dan bahwa orang-orang mengunjungi mereka
untuk mendengarkan khotbah mereka, dan memang seluruh penjara telah diubah
menjadi tempat yang terang dan harum di mana Allah dimuliakan.
Nero kemudian memerintahkan untuk menyalibkan orang-orang kudus itu, dan
memukuli tubuh telanjang mereka dengan tali. Pada hari keempat kaisar mengirim
para pelayan untuk melihat apakah para martir masih hidup. Tetapi ketika
mendekati tempat siksaan para pelayan kaisar Nero menjadi buta. Malaikat Tuhan
membebaskan para martir dari salib mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang
kudus mengasihani para pelayan yang buta dan memulihkan penglihatan mereka dengan
doa mereka kepada Tuhan. Mereka yang disembuhkan datang percaya kepada Kristus
dan segera dibaptis.
Dalam kemarahannya, Nero memerintahkan untuk menguliti kulit orang kudus
Photina dan melemparkannya ke dalam sumur. Sebastian, Photinus, dan Yoses dipotong
kaki-kakinya dan mereka dilemparkan ke anjing dan kemudian mereka dikuliti.
Para saudari perempuan Photina juga menderita siksaan yang mengerikan. Nero
memberi perintah untuk memotong payudara mereka dan kemudian menguliti kulit
mereka. Kaisar menyiapkan eksekusi untuk Photis: mereka mengikat kakinya dengan
kaki di puncak dua pohon yang bengkok. Ketika tali-tali itu ditebang,
pohon-pohon itu tumbuh tegak dan mencabik-cabik martir. Kaisar memerintahkan
yang lainnya dipenggal. Martir Photina dikeluarkan dari sumur dan dikurung di
penjara selama dua puluh hari.
Setelah itu Nero membawa Photina dan bertanya apakah dia sekarang mau
mengalah dan mempersembahkan korban kepada berhala. Photina meludahi wajah
kaisar, dan menertawakannya, berkata, “Wahai orang yang paling tidak beradab
atas orang buta, Anda lelaki yang brengsek dan bodoh! Apakah Anda pikir saya
begitu tertipu sehingga saya akan setuju untuk meninggalkan Tuhanku Kristus dan
sebagai gantinya menawarkan pengorbanan kepada berhala yang sama buta dengan
Anda?” Mendengar kata-kata seperti itu, Nero memerintahkan untuk sekali
lagi membuang Photina ke sumur dan di sana ia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan
pada tahun 66. Pada Kalender Yunani, Photina diperingati pada 26 Februari.
Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/03/20/100846-martyr-photina-svetlana-the-samaritan-woman-and-her-sons
Minggu kelima setelah Pentakosta. [ROM.
10: 1-10; Mat. 8: 28-9: 1]
Para Gadaren melihat
mukjizat Tuhan yang menakjubkan, ketika Dia mengusir pasukan Iblis, namun
seluruh kota keluar dan berseru kepada Tuhan bahwa Dia akan pergi dari pantai
mereka. Kami tidak mengamati mereka berhubungan bermusuhan dengan Tuhan, tetapi
kami juga tidak memperhatikan iman mereka. Mereka ditangkap dengan semacam
ketakutan yang tak tentu, membuat mereka hanya menginginkan agar Tuhan
melewatinya, di mana pun Dia inginkan, “hanya jangan menyentuh kita.” Ini
adalah gambaran sejati dari orang-orang yang hidup damai dengan harta milik
mereka. Urutan hal telah terbentuk di sekitar mereka yang tidak menguntungkan;
mereka terbiasa dengan itu, mereka tidak memiliki pikiran atau kebutuhan untuk
mengubah atau membalikkan apa pun, dan mereka takut untuk membuat langkah baru.
Namun mereka merasa bahwa jika suatu perintah turun dari atas, rasa takut akan
Tuhan dan hati nurani mereka akan memaksa mereka untuk meninggalkan yang lama
dan menerima sesuatu yang baru. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk
menghindari keadaan apa pun yang dapat membawa mereka pada keyakinan seperti
itu, sehingga mereka dapat terus hidup diam-diam dalam kebiasaan lama mereka,
memohon ketidaktahuan. Mereka adalah orang-orang yang takut membaca Injil dan
buku-buku patristik, atau mendiskusikan hal-hal rohani. Mereka takut jika hati
nurani mereka terganggu, mereka akan bangun dan mulai memaksa mereka untuk
meninggalkan apa yang mereka miliki, dan mengambil sesuatu yang lain.
Minggu
Keenam Setelah Pentakosta. [Rom
12: 6-14; Mat 9: 1-8]
Tuhan mengampuni dosa orang yang sakit
lumpuh. Seseorang harus bersukacita; tetapi pikiran jahat dari ahli-ahli Taurat
yang terpelajar mengatakan, ”Orang ini menghujat.” Bahkan setelah mukjizat
penyembuhan orang yang sakit kelumpuhan — konfirmasi kebenaran yang menghibur
bahwa Anak manusia memiliki kuasa
di bumi untuk mengampuni dosa— orang-orang memuliakan Allah; tetapi tidak ada
yang dikatakan tentang para ahli Taurat, mungkin karena mereka terus menenun
pertanyaan-pertanyaan tipuan mereka bahkan setelah keajaiban seperti itu.
Pikiran tanpa iman adalah perencana; ia terus-menerus membuat kecurigaan jahatnya
dan menjalin hujatan terhadap seluruh iman. Adapun mukjizat — itu entah tidak
percaya pada mereka, atau menuntut yang nyata. Tetapi ketika sebuah mukjizat
diberikan yang akan mewajibkan seseorang untuk tunduk kepada iman, pikiran ini
tidak malu untuk berpaling darinya, memutarbalikkan atau memfitnah karya Tuhan
yang ajaib. Itu memperlakukan bukti yang tak terbantahkan tentang kebenaran
Allah dengan cara yang sama. Ini cukup dan meyakinkan disajikan dengan bukti
pengalaman dan intelektual, tetapi bahkan menutupi ini dengan keraguan. Urutkan
semua yang dihasilkannya dan Anda akan melihat bahwa
dalam hal ini hanya ada penipuan, meskipun bahasanya sendiri menyebutnya
kepintaran, dan Anda tidak mau mengarah pada kesimpulan bahwa kepintaran dan
penipuan itu satu dan sama. Dalam dunia iman, Rasul berkata, Kita memiliki
pikiran Kristus. Pikiran siapa yang berada di luar bidang iman? Si jahat.
Itulah sebabnya tipu daya telah menjadi ciri khasnya.
Sumber:
Thoughts for Each Day of
the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St.
Theophan the Recluse
Minggu Ketujuh Setelah Pentakosta. [ROM.
15: 1-7; Mat. 9: 27-35]
Menurut imanmu,
bagimu, kata Tuhan kepada dua orang buta itu, dan segera mata mereka terbuka.
Semakin besar imannya, semakin besar masuknya kekuatan Ilahi. Iman adalah
penerima, bibir, dan wadah rahmat. Sama seperti paru-paru seseorang yang besar
sementara yang lain kecil, dan yang besar mengambil lebih banyak udara,
sementara yang kecil mengambil lebih sedikit, demikian pula satu orang memiliki
tingkat iman yang besar, dan yang lain sedikit, dan iman seseorang menerima
lebih banyak hadiah dari Tuhan, dan lebih sedikit orang lain. Tuhan ada di
mana-mana, meliputi segalanya dan mengandung semuanya, dan suka tinggal di dalam
jiwa manusia. Tetapi Dia tidak secara paksa memasuki mereka, meskipun Dia
Mahakuasa, tetapi masuk seolah-olah atas undangan; karena Dia tidak ingin
melanggar kekuasaan yang dimiliki manusia atas dirinya sendiri, atau melanggar
hak manusia untuk memerintah rumahnya sendiri — hak yang telah Dia berikan.
Siapa pun yang membuka dirinya melalui iman, Tuhan memenuhi, tetapi siapa pun
yang menutup dirinya melalui ketidakpercayaan — Tuhan tidak masuk, meskipun Ia
sudah dekat. Raja! Tambahkan ke iman kita, karena iman juga adalah karunia-Mu.
Kita masing-masing harus mengaku: Miskin dan membutuhkan aku (Mzm. 69: 6).
Minggu Kedelapan Setelah Pentakosta. [I
Kor. 1: 10-18; Mat. 14: 14-22]
Sebelum pengisian ajaib dari lima ribu
orang, para murid Tuhan ingin agar orang-orang diutus; tetapi Tuhan berkata
kepada mereka: Mereka tidak perlu pergi; beri kamu mereka untuk makan. Mari
kita pelajari kata ini, dan setiap kali musuh menyarankan kita untuk menolak
seseorang yang meminta sesuatu, mari kita katakan dari muka Tuhan: “Mereka
tidak perlu pergi, memberi kamu makan” – dan marilah kita memberikan apa
pun kami temukan di tangan. Musuh menghancurkan keinginan untuk menawarkan
amal, dan menunjukkan bahwa mungkin si penanya tidak layak untuk diberikan;
tetapi Tuhan tidak menyelidiki kelayakan dari mereka yang duduk di sana: dia
melayani semua orang dengan adil, sementara tentu saja, tidak semua orang
sama-sama mengabdi kepada-Nya; mungkin bahkan ada orang-orang yang kemudian
berseru: “salibkan dia.” Demikianlah pemeliharaan Allah secara keseluruhan
terhadap kita: Dia membuat matahari-Nya untuk bangkit melawan yang jahat dan
yang baik, dan mengirimkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak
benar (Mat. 5) : 45). Kalau saja Tuhan mau membantu kita sedikit pun untuk berbelas
kasihan, seperti Bapa surgawi kita berbelas kasihan (Lukas 6:36).
Minggu
Kesembilan Setelah Pentakosta. [I Kor 3: 9-17; Mat 14: 22-34]
Rasul kudus Petrus, dengan izin Tuhan,
turun dari kapal dan berjalan di atas air; kemudian dia menyerah pada gerakan
ketakutan dan mulai tenggelam. Fakta bahwa dia memutuskan tindakan yang tidak
biasa itu, berharap pada Tuhan, tidak ada teguran yang layak — jika tidak Tuhan
tidak akan mengizinkannya melakukan ini. Teguran itu datang karena dia tidak
mempertahankan keadaan jiwanya yang asli. Dia dipenuhi dengan harapan yang
diilhami dalam kemampuan Tuhan untuk melakukan apa pun, dan ini memberinya
keberanian untuk mempercayakan dirinya kepada ombak. Beberapa langkah sudah
dibuat di sepanjang jalan baru ini — perlu hanya berdiri lebih teguh dalam
pengharapan, menatap Tuhan yang dekat, dan pada pengalaman berjalan dalam
kekuatan-Nya. Alih-alih, serahkan pikirannya pada manusia: “Angin kuat,
ombaknya besar, airnya tidak keras,” dan ini bergetar dan melemahkan
keteguhan iman dan harapannya. Karena hal ini ia melepaskan diri dari tangan
Tuhan, dan, meninggalkan operasi hukum alam, mulai tenggelam. Tuhan menegurnya,
hai kamu yang kurang beriman! Mengapa kamu ragu? menunjukkan bahwa dalam hal
ini terletak seluruh alasan kemalangan. Lihatlah pelajaran bagi semua yang
melakukan sesuatu, besar atau kecil, dengan tujuan menyenangkan Tuhan!
Pertahankan keadaan iman dan harapan pertama Anda, dari mana kebajikan yang
besar lahir — kesabaran dalam berbuat baik, yang berfungsi sebagai dasar untuk
kehidupan yang menyenangkan Allah. Selama sifat-sifat ini dipertahankan, ilham
untuk bekerja di jalan yang telah dimulai tidak hilang; dan rintangan, betapa
pun hebatnya mereka, tidak diperhatikan. Ketika disposisi ini melemah, jiwa
dipenuhi dengan pemikiran manusia tentang metode manusia untuk melestarikan
kehidupan seseorang dan melakukan urusan yang telah dimulai. Tetapi karena
alasan ini selalu ternyata tidak berdaya, takut bagaimana seseorang harus
memasuki jiwa; dari sini muncul keraguan — bertanya-tanya apakah akan
melanjutkan atau tidak — dan pada akhirnya datanglah kembali sepenuhnya. Anda
harus melakukannya dengan cara ini; jika Anda memulainya, pertahankan — usir
pikiran yang mengganggu, dan beranilah dalam Tuhan, Yang ada di dekat Anda.
Minggu Kesepuluh Setelah
Pentakosta [I Kor 4:9-16; Mat 17:14-23]
Jenis ini tidak keluar tetapi dengan doa
dan puasa. Jika jenis ini keluar dengan doa dan puasa orang lain, maka bahkan
kurang bisa masuk orang yang berpuasa dan berdoa. Perlindungan apa! Meskipun
ada banyak setan dan semua udara dipenuhi dengan mereka, mereka tidak dapat
melakukan apa pun kepada orang yang dilindungi oleh doa dan puasa. Puasa adalah
kesederhanaan universal, doa adalah komunikasi universal dengan Tuhan; yang
pertama membela dari luar, sedangkan yang kedua dari dalam mengarahkan senjata
berapi-api melawan musuh. Setan-setan dapat merasakan orang yang lebih cepat
dan pendoa dari kejauhan, dan mereka lari jauh darinya sehingga menghindari
pukulan yang menyakitkan. Apakah layak untuk berpikir bahwa di mana tidak ada
puasa dan doa, sudah ada iblis? Ya itu. Setan yang tinggal dalam diri
seseorang, tidak selalu mengungkapkan kehadiran mereka, tetapi mengintai di
sana, dengan diam-diam mengajar tuan rumah mereka setiap kejahatan dan
memalingkannya dari setiap hal yang baik; jadi orang ini yakin bahwa dia
melakukan semuanya sendiri, tetapi sementara itu dia hanya memenuhi kehendak
musuhnya. Mulai saja doa dan puasa dan musuh akan segera pergi, lalu tunggu di
samping untuk kesempatan entah bagaimana kembali lagi. Dan dia benar-benar akan
kembali, begitu doa dan puasa ditinggalkan.
Sumber:
Thoughts for Each Day of
the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St.
Theophan the Recluse
Minggu
Kesebelas Setelah Pentakosta
[I Kor 9: 2-12; Mat 18: 23-35]
Tuhan mengakhiri perumpamaan tentang dua
orang yang berhutang dengan kata-kata berikut: Demikian juga Bapa Surgawi-Ku
juga akan melakukan kepadamu, jika kamu dari dalam hatimu tidak mengampuni
tidak semua saudaranya pelanggaran karena kesalahan mereka. Tampaknya hal
sekecil itu diperlukan: maafkan dan Anda akan dimaafkan. Ketika Anda diampuni,
Anda dibawa ke dalam belas kasihan; dan ketika Anda dibawa ke dalam belas
kasihan, Anda telah menjadi peserta dalam semua harta karun belas kasihan. Jadi
inilah keselamatan, surga, dan kebahagiaan abadi. Betapa besar perolehan untuk
hal sekecil itu seperti memaafkan!… Ya, itu adalah hal kecil, tetapi bagi cinta
diri kita tidak ada yang lebih sulit daripada memaafkan. Kita mungkin masih
memaafkan gangguan yang tidak disengaja yang memperlakukan kita secara pribadi
sehingga tidak ada yang melihat; tetapi jika itu hanya sedikit lebih sensitif,
dan di depan orang-orang, jangan bahkan bertanya — tidak ada pengampunan. Ada
beberapa situasi ketika Anda menginginkannya atau tidak, Anda tidak diizinkan
mengungkapkan ketidaksenangan Anda — dan karenanya Anda tetap diam. Namun,
hanya lidah Anda yang diam — sementara itu hati Anda berbicara dan membangun
rencana jahat. Tingkatkan kekesalannya lagi — dan tidak ada pengekangan. Baik
rasa malu, atau rasa takut, atau kehilangan, atau hal lain apa pun tidak akan
menahan Anda. Egoisme yang telah mencapai titik didih membuat seseorang
seolah-olah gila, dan dia yang menyerah padanya mulai berbicara kebodohan.
Orang-orang yang paling tunduk pada keadaan malang ini biasanya bukan sembarang
orang — yang lebih beradab adalah, semakin peka dia untuk dihina, dan yang
kurang memaafkan. Hubungan akan sering tetap mulus di permukaan, tetapi di
dalam jelas ada perselisihan. Sementara itu, Tuhan menuntut agar kita
mengampuni dengan sepenuh hati.
Sumber:
Thoughts for Each Day of
the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St.
Theophan the Recluse
Minggu Keduabelas Setelah Pentakosta [I Kor 15: 1-11; Mat. 19: 16-26]
Orang kaya hampir tidak akan masuk ke
Kerajaan Surga. Di sini dimaksudkan orang kaya yang melihat sendiri banyak
metode dan banyak kekuatan untuk kemakmurannya sendiri. Tetapi begitu seseorang
yang memiliki banyak harta benda memotong semua keterikatan pada mereka,
memadamkan dalam dirinya semua ketergantungan pada mereka, dan berhenti
memandang mereka sebagai dukungan substansial, maka di dalam hatinya ia sama
dengan orang yang tidak memiliki apa pun — karena itu adalah jalan menuju
kerajaan terbuka. Kekayaan tidak hanya menjadi penghalang, tetapi juga
merupakan bantuan, karena mereka menyediakan sarana untuk pekerjaan amal.
Kekayaan bukanlah kemalangan, tetapi lebih bergantung pada mereka dan
kemelekatan pada mereka. Pikiran ini dapat digeneralisasi dengan cara ini:
siapa pun yang bergantung pada sesuatu dan melekat pada sesuatu, kaya akan hal
itu. Siapa pun yang bersandar pada Allah saja dan bersatu dengan-Nya dengan
sepenuh hatinya kaya akan Allah, Siapa pun yang bersandar pada sesuatu yang
lain, akan mengalihkan hatinya kepada Allah alih-alih orang yang demikian kaya
akan hal lain ini, tetapi tidak di dalam Allah. Dari sini dapat disimpulkan
bahwa dia yang tidak kaya akan Allah tidak memiliki jalan masuk ke dalam
kerajaan Allah. Di sini dimaksudkan hal-hal seperti kelahiran, koneksi,
pikiran, pangkat, lingkaran kegiatan dan sebagainya.
Sumber:
Thoughts for Each Day of
the Year According to the Daily Church Readings from the Word of God By St.
Theophan the Recluse
http://orthochristian.com/calendar/20190812.html
Minggu Ke – 14 Setelah Pentakosta
(2 Corinthians 1:21—2:4; Matthew 22:1–14)
Hieromartyr
Phocas, Uskup Sinope
Diperingati pada 22 September
Hieromartyr Phocas lahir di kota Sinope. Sejak muda dia menjalani kehidupan
Kristen yang saleh, dan di masa dewasanya dia menjadi Uskup Sinope. Saint
Phocas mempertobatkan banyak penyembah berhala menjadi iman kepada Kristus.
Pada saat penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di bawah kaisar Trajan
(98-117), gubernur menuntut agar orang suci itu meninggalkan Kristus. Setelah
disiksa dengan sengit, mereka mengurung Santo Phocas di pemandian air panas, di
mana ia meninggal sebagai martir pada tahun 117.
Pada tahun 404, peninggalan orang suci dipindahkan ke Konstantinopel (22 Juli).
Hieromartyr Phocas terutama dihormati sebagai pembela terhadap kebakaran, dan
juga sebagai penolong yang tenggelam.
Nabi
Yunus
Diperingati pada 22 September
Troparion & Kontakion
Nabi Suci Yunus hidup pada abad ke delapan sebelum kelahiran Kristus dan
merupakan penerus Nabi Elisa. Kitab Nabi Yunus berisi nubuat tentang
penghakiman atas bangsa Israel, penderitaan Juruselamat, kejatuhan Yerusalem,
dan akhir dunia. Selain nubuat, Kitab Yunus menceritakan bagaimana ia dikirim
ke orang Niniwe untuk mengkhotbahkan pertobatan (Yun. 3: 3-10).
Tuhan kita Yesus Kristus, yang berbicara kepada para ahli Taurat dan
orang-orang Farisi yang meminta tanda dari-Nya, mengatakan bahwa tidak ada
tanda yang akan diberikan kecuali tanda Nabi Yunus, “Seperti Yunus berada di
dalam perut ikan paus tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan
berada di jantung bumi tiga hari tiga malam ”(Mat 12: 40). Dari kata-kata ini
Tuhan menunjukkan dengan jelas makna simbolis dari Kitab Nabi Yunus sehubungan
dengan kematian Kristus di kayu Salib, turun ke Neraka, dan Kebangkitan.
Karena mencela kurangnya penyesalan dan pembangkangan orang-orang Yahudi, Tuhan
berkata, “Orang Niniwe akan bangkit dalam penghakiman dengan generasi ini dan
akan menghukumnya, karena mereka bertobat pada pemberitaan Yunus; dan yang
lebih besar dari Yunus ada di sini ”(Mat 12: 41).
Menurut Bacaan Gereja Harian dari Firman Tuhan
Oleh St Theophan sang Pertapa
Minggu Keempat Belas Setelah Pentakosta. [II Kor. 1:
21-2: 4; Mat. 22: 1-14]
Seorang raja mengatur pernikahan untuk
putranya, ia mengirim satu kali untuk mereka yang diperintahkan, mengirim dua
kali, tetapi karena kepedulian duniawi mereka tidak datang — satu sibuk di
rumah, yang lain sibuk dengan bisnis. Undangan baru dibuat di ruang lain, dan
ruang pernikahan dilengkapi dengan tamu. Di antara mereka ditemukan satu tidak
berpakaian untuk pernikahan, yang karena itu diusir. Arti dari perumpamaan ini
jelas: Pernikahan adalah kerajaan surga, undangannya adalah pemberitaan Injil,
mereka yang menolak adalah mereka yang tidak percaya sama sekali, dan orang
yang tidak berpakaian untuk pernikahan percaya, tetapi tidak hidup sesuai
dengan iman. Kita masing-masing harus mencari tahu untuk diri sendiri kategori
mana yang kita miliki. Bahwa kita dilarang jelas, tetapi apakah kita orang
percaya? Memang mungkin untuk berada di antara orang-orang percaya, dengan nama
bersama, dan benar-benar kurang iman. Seseorang tidak berpikir sama sekali
tentang iman, seolah-olah itu tidak ada; yang lain tahu sesuatu tentang itu dan
dari itu, dan puas; yang lain menafsirkan iman dengan cara yang menyimpang;
yang lain berhubungan dengan itu dengan penuh permusuhan. Semua dianggap berada
di antara orang-orang Kristen, meskipun mereka sama sekali tidak memiliki yang
Kristen. Jika Anda percaya, cari tahu apakah perasaan Anda, atau perbuatan
sesuai dengan iman Anda — ini adalah pakaian jiwa, yang olehnya Allah melihat
Anda berpakaian untuk pernikahan atau tidak. Adalah mungkin untuk mengetahui
iman dengan baik dan bersemangat untuk itu, tetapi dalam kehidupan nyata untuk
melayani hasrat, untuk berpakaian, yaitu, dalam pakaian memalukan dari jiwa
yang mencintai dosa. Orang-orang semacam itu adalah satu cara dalam kata,
tetapi cara lain dalam hati. Di lidah mereka ada, “Tuhan, Tuhan!” Tetapi di
dalam diri mereka berkata, “hitung aku.” (Periksa dirimu, apakah kamu beriman
dan mengenakan pakaian pernikahan kebajikan, atau memakai compang-camping yang
memalukan dari dosa dan Kesukaan.
Minggu ke – 15 setelah pentakosta 2 Korintus 4:6–15; Matius
22:35–46
Yang Mulia Cyriacus, Pertapa dari Palestina
Diperingati pada tanggal 29 September
Santo Cyriacus dilahirkan di Korintus kepada imam
Yohanes dan istrinya Eudokia. Uskup Peter dari Korintus, yang adalah seorang
kerabat, melihat bahwa Cyriacus tumbuh sebagai anak yang pendiam dan bijaksana,
menjadikannya seorang pembaca di gereja. Pembacaan yang konstan dari Kitab Suci
membangkitkan dalam dirinya cinta untuk Tuhan dan kerinduan untuk kehidupan
yang suci dan suci.
Suatu ketika, ketika pemuda itu belum berusia delapan
belas tahun, dia sangat tersentuh selama kebaktian gereja dengan kata-kata
Injil: “Jika ada orang yang datang setelah Aku, biarkan dia menyangkal
dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Aku” ( Mt.16: 24). Dia percaya
kata-kata ini berlaku baginya, jadi dia langsung pergi ke pelabuhan tanpa
berhenti di rumah, naik ke kapal dan pergi ke Yerusalem.
Setelah mengunjungi tempat-tempat suci, Cyriacus
tinggal selama beberapa bulan di sebuah biara tidak jauh dari Sion dalam
kepatuhan terhadap igumen Abba Eustorgius. Dengan restunya, dia berjalan ke
hutan belantara Lavra dari Saint Euthymius the Great (20 Januari). Santo
Euthymius, yang melihat dalam masa muda karunia-karunia besar dari Allah,
mencurahkannya ke dalam skema biara dan menempatkannya di bawah bimbingan Santo
Gerasimus (4 Maret), mengejar asketisme di sungai Yordan di biara Santo
Theoctistus.
Santo Gerasimus, melihat keremajaan Cyriacus,
memerintahkannya untuk tinggal di komunitas bersama saudara-saudara. Bhikkhu
muda itu dengan mudah mencapai kepatuhan biara: dia berdoa dengan
sungguh-sungguh, dia tidur sedikit, dia hanya makan makanan setiap hari,
memberi makan dirinya sendiri dengan roti dan air.
Selama Masa Prapaskah yang Besar, adalah kebiasaan
Santo Gerasimus untuk pergi ke hutan
belantara Rouva, kembali ke biara hanya pada hari Minggu Palem. Melihat
Cyriacus sangat pantang, dia memutuskan untuk membawanya bersamanya. Dalam
kesunyian total para pertapa melipatgandakan upaya mereka. Setiap hari Minggu
Santo Gerasimus memberikan Misteri Suci kepada muridnya.
Setelah kematian Santo Gerasimus, Cyriacus yang
berusia dua puluh tujuh tahun kembali ke Lavra Santo Euthymius, tetapi ia tidak
lagi hidup. Santo Cyriacus meminta sel isolasi dan di sana ia mengejar
asketisme dalam keheningan, berkomunikasi hanya dengan biarawan Thomas. Tetapi
segera Thomas dikirim ke Alexandria di mana ia ditahbiskan sebagai uskup, dan
Santo Cyriacus menghabiskan sepuluh tahun dalam keheningan total. Pada usia 37
tahun dia ditahbiskan menjadi diakon.
Ketika perpecahan terjadi antara biara-biara Santo
Euthymius dan Santo Theoctistus, Santo Cyriacus mengundurkan diri ke biara
Souka di Saint Chariton (28 September). Di biara ini, mereka bahkan menerima
para bhikkhu yang berotak sebagai samanera, dan demikian pula Santo Cyriacus.
Dia bekerja keras dengan rendah hati pada kepatuhan biara biasa. Setelah
beberapa tahun, Santo Cyriacus ditahbiskan sebagai imam dan memilih kanonarki
dan melakukan kepatuhan ini selama delapan belas tahun. Santo Cyriacus
menghabiskan tiga puluh tahun di biara Saint Chariton.
Puasa yang ketat dan tidak adanya kejahatan membuat
Saint Cyriacus terkenal bahkan di antara para petapa di Lavra. Di selnya setiap
malam ia membaca Mazmur, menyela bacaan hanya untuk pergi ke gereja pada tengah
malam. Petapa itu tidur sangat sedikit. Ketika bhikkhu itu mencapai usia tujuh
puluh tahun, dia pergi ke padang belantara Natoufa dengan membawa muridnya,
Yohanes.
Di padang pasir para pertapa memberi makan diri mereka
sendiri dengan ramuan pahit, yang melalui doa Santo Cyriacus dapat dimakan.
Setelah lima tahun, salah satu penduduk mengetahui tentang pertapa dan membawa
kepada mereka putranya yang kerasukan setan, dan Santo Cyriacus
menyembuhkannya. Sejak saat itu banyak orang mulai mendekati bhikkhu itu dengan
kebutuhan mereka, tetapi ia mencari kesunyian total dan melarikan diri ke hutan
belantara Rouva, di mana ia tinggal lima tahun lebih. Tetapi orang sakit dan
orang-orang yang menderita setan datang kepadanya di padang belantara ini, dan
orang suci menyembuhkan mereka semua dengan Tanda Salib dan mengurapi mereka
dengan minyak.
Pada tahun ke 80 kehidupannya, Santo Cyriacus
melarikan diri ke hutan belantara Sousakim yang tersembunyi, tempat dua aliran
sungai mengering. Menurut Tradisi, Nabi Suci Daud menarik perhatian Sousakim:
“Engkau telah mengeringkan sungai-sungai Etham” (Mzm 73/74: 15). Setelah tujuh
tahun, saudara-saudara dari biara Souka datang kepadanya, memohon bantuan
rohaninya selama masa kelaparan dan penyakit yang melemahkan, yang diizinkan Tuhan.
Mereka memohon Saint Cyriacus untuk kembali ke biara, dan dia menetap di sebuah
gua, tempat Saint Chariton pernah hidup.
Santo Cyriacus memberikan bantuan besar kepada Gereja
dalam pergulatan dengan penyebaran bidat dari para Origenes. Dengan doa dan
kata-kata, dia membawa jalan kembali ke jalan yang benar, dan memperkuat kaum
Ortodoks dalam iman mereka. Cyril, penulis Life of Saint Cyriacus, dan seorang
biarawan Lavra dari Saint Euthymius, adalah seorang saksi ketika Saint Cyriacus
meramalkan kematian yang akan datang dari kepala bidat Nonos dan Leontius, dan
segera bidat itu akan berhenti menyebar.
Theotokos yang paling suci. Dirinya sendiri
memerintahkan Santo Cyriacus untuk mempertahankan ajaran Ortodoks dalam
kemurniannya: Setelah menampakkan diri kepadanya dalam mimpi bersama dengan
para Santo Yohanes Pembaptis dan Yohanes Sang Teolog, Dia menolak untuk masuk
ke dalam sel bhikkhu itu karena di dalamnya adalah sebuah buku dengan kata-kata
sesat Nestorius. “Di selmu adalah musuhku,” katanya (Penampilan
Theotokos Maha Kudus untuk Santo Cyriacus diperingati pada 8 Juni).
Pada usia sembilan puluh sembilan, Santo Cyriacus
kembali pergi ke Susakim dan tinggal di sana bersama muridnya, Yohanes. Di
padang belantara, seekor singa besar menunggu Santo Cyriacus, melindunginya
dari perampok, tetapi itu tidak mengganggu saudara-saudara yang berkeliaran dan
memakannya dari tangan biksu itu.
Suatu ketika di musim panas, semua air di lubang batu
mengering, tempat para petapa menyimpan air selama musim dingin, dan tidak ada
sumber air lain. Santo Cyriacus berdoa, dan hujan turun, mengisi lubang dengan
air.
Selama dua tahun sebelum kematiannya, Santo Cyriacus
kembali ke vihara dan kembali menetap di gua Santo Chariton. Sampai akhir
hidupnya, Penatua yang saleh memelihara keberaniannya, dan berdoa dengan penuh
semangat. Dia tidak pernah diam, baik dia berdoa, atau dia bekerja. Sebelum
kematiannya, Santo Cyriacus memanggil saudara-saudara dan memberkati mereka
semua. Dia diam-diam tertidur di dalam Tuhan, setelah hidup 109 tahun.
Minggu Kelimabelas Setelah Pentakosta. [II Kor. 4:
6-15; Mat. 22: 35-46]
Tuhan menawarkan perintah tentang cinta untuk Tuhan
dan sesama, dan segera menambahkannya dengan ajaran tentang statusnya sebagai
Tuhan dan keilahian-Nya. Kenapa ini? Karena cinta sejati kepada Allah dan
manusia tidak mungkin lain dari pengaruh iman kepada keilahian Kristus
Juruselamat, bahwa Dia adalah Anak Allah yang berinkarnasi. Iman yang demikian
membangkitkan cinta kepada Tuhan, karena bagaimana mungkin seseorang tidak
mengasihi Tuhan, yang telah sangat mencintai kita, Siapa yang bahkan tidak
menyayangi Putra Tunggal-Nya, tetapi menyerahkan Dia untuk kita? Iman membawa
kasih ini untuk menggenapi sepenuhnya, atau untuk apa yang dicari; sementara
cinta mencari persatuan yang hidup. Untuk mencapai persatuan ini, seseorang
harus mengatasi perasaan kebenaran Allah yang menghukum dosa; tanpa ini, sangat
menakutkan untuk mendekati Tuhan. Perasaan ini diatasi melalui keyakinan bahwa
kebenaran Allah dipenuhi oleh kematian di kayu salib Anak Allah. Keyakinan
semacam itu datang dari iman; akibatnya, iman membuka jalan cinta kepada Tuhan.
Ini yang pertama. Kedua: iman kepada Keilahian Anak Allah yang berinkarnasi,
menderita, dan dimakamkan demi kita, memberikan contoh cinta untuk sesama;
karena cinta adalah ketika seseorang meletakkan jiwanya untuk orang yang
dicintainya. Iman juga memberi kekuatan untuk perwujudan cinta semacam itu.
Untuk memiliki cinta seperti itu, seseorang harus menjadi orang baru alih-alih
orang yang egois — seseorang harus menjadi orang yang rela berkorban. Hanya di
dalam Kristus seseorang menjadi ciptaan baru; tetapi kita hanya dapat berada di
dalam Kristus jika kita bersatu dengan Kristus melalui iman dan kelahiran
kembali yang dipenuhi rahmat melalui misteri kudus yang diterima dengan iman.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa setiap harapan oleh orang-orang tanpa iman
untuk mempertahankan perilaku moral yang baik bahkan sia-sia. Semuanya bersama;
tidak mungkin untuk membagi seorang pria. Seseorang harus memuaskan semuanya.
Minggu ke 16 setelah pantekosta
Pemujaan St Innocent the Metropolitan of Moscow dan
Enlightener of the Aleuts, Rasul ke Amerika
Diperingati pada 6 Oktober
Pemuliaan Saint Innocent, Metropolitan Moskow,
Pencerahan Aleuts dan Rasul ke Amerika (di dunia John Popov-Veniaminov), lahir
pada tanggal 26 Agustus 1797 di desa Anginsk di keuskupan Irkutsk, menjadi
keluarga seorang sakristan . Bocah itu menguasai studinya pada usia dini dan
pada usia tujuh tahun, ia membaca Surat di gereja. Pada 1806 mereka mengirimnya
ke seminari Irkutsk. Pada tahun 1814, rektor yang baru menganggap pantas untuk
mengganti nama keluarga beberapa siswa. John Popov menerima nama keluarga
Veniaminov untuk menghormati almarhum Uskup Agung Benjamin dari Irkutsk (+ 8 Juli
1814). Pada tanggal 13 Mei 1817 ia ditahbiskan sebagai diakon untuk gereja
Peringatan Irkutsk, dan pada tanggal 18 Mei 1821, ia ditahbiskan menjadi imam.
Layanan misionaris Rasul Amerika dan Siberia di masa
depan dimulai pada tahun 1823. Pastor John menghabiskan 45 tahun bekerja untuk
pencerahan masyarakat Kamchatka, Kepulauan Aleutian, Amerika Utara, Yakutsk,
perbatasan Khabarov, melakukan eksploitasi kerasulannya di kondisi parah dan
risiko besar terhadap kehidupan. Saint Innocent membaptiskan sepuluh ribu
orang, dan membangun gereja-gereja, di sampingnya ia mendirikan sekolah-sekolah
dan ia sendiri mengajarkan dasar-dasar kehidupan Kristen. Pengetahuannya
tentang berbagai kerajinan dan seni membantunya dalam pekerjaannya.
Pastor John adalah seorang pengkhotbah yang luar
biasa. Selama perayaan Liturgi, upacara peringatan dan Vigil semalaman, ia tak
henti-hentinya membimbing kawanannya. Selama perjalanannya yang tak
berkesudahan, Pastor John mempelajari bahasa, adat istiadat, dan kebiasaan
orang-orang, di antaranya ia berkhotbah. Karyanya dalam bidang geografi,
etnografi, dan linguistik mendapat pengakuan dunia. Dia menyusun alfabet dan
tata bahasa untuk bahasa Aleut dan menerjemahkan Katekismus, Injil dan banyak
doa ke dalam bahasa itu. Salah satu yang terbaik dari karyanya adalah Indikasi
Jalan ke Kerajaan Surga (1833), diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa
masyarakat Siberia dan muncul dalam lebih dari 40 edisi. Berkat kerja keras
Pastor John, orang-orang Yakut pada tahun 1859 pertama kali mendengar Firman
Allah dan pelayanan ilahi dalam bahasa ibu mereka sendiri.
Pada tanggal 29 November 1840, setelah kematian
istrinya, Pastor John ditahbiskan sebagai biarawan dengan nama Innocent oleh
Saint Philaret, Metropolitan Moscow, untuk menghormati Saint Innocent of
Irkutsk. Pada 15 Desember, Archimandrite Innocent ditahbiskan sebagai Uskup
Kamchatka, Kepulauan Kurile dan Aleutian. Pada tanggal 21 April 1850 Uskup
Innocent diangkat ke pangkat uskup agung. Oleh Penyelenggaraan Allah pada 5
Januari 1868, Saint Innocent menggantikan Metropolitan Philaret di cathedra
Moskow. Melalui Sinode Kudus, Metropolitan Innocent mengkonsolidasikan upaya
misionaris sekuler Gereja Rusia (sudah pada tahun 1839 ia telah mengusulkan
sebuah proyek untuk meningkatkan organisasi pelayanan misionaris).
Di bawah perawatan Metropolitan Innocent, Lembaga
Misionaris dibentuk, dan biara Perlindungan direorganisasi untuk pekerjaan
misionaris. Pada tahun 1870, Misi Spiritual Ortodoks Jepang yang dipimpin oleh
Archimandrite Nicholas Kasatkin [sesudahnya Saint Nicholas dari Jepang, (3
Februari)] didirikan, kepada siapa Saint yang tidak bersalah berbagi banyak
pengalaman rohaninya sendiri. Bimbingan oleh Saint Innocent dari keuskupan
Moskow juga membuahkan hasil, dengan upayanya, gereja Perlindungan Theotokos
Maha Kudus dibangun ke dalam Akademi Spiritual Moskow.
Saint Innocent tertidur di dalam Tuhan pada tanggal 31
Maret 1879, pada hari Sabtu Suci, dan dimakamkan di Gereja Roh Kudus dari
Trinity-Saint Sergius Lavra. Pada 6 Oktober 1977, Saint Innocent dimuliakan
oleh Gereja Ortodoks Rusia. Ingatannya dirayakan tiga kali selama tahun itu:
pada 31 Maret, hari istirahatnya yang diberkati, pada 5 Oktober (Synaxis dari
Hierarchs Moskow), dan pada 6 Oktober, hari pemuliaannya.
Minggu ke – 17 Setelah Pantekosta
Minggu Ketujuh Belas Setelah Pentakosta. Minggu
Sebelum Peninggian Salib. [Gal. 6: 11-18; Yohanes 3: 13-17]
Ketika Musa mengangkat ular di padang
belantara, demikian pula Anak Manusia harus ditinggikan: Barangsiapa yang
percaya kepada-Nya jangan binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal. Iman kepada
Anak Allah, yang disalibkan dalam daging demi kita — adalah kuasa Allah untuk
keselamatan, sumber hidup dari aspirasi dan disposisi moral yang menghidupkan,
dan wadah dari anugerah berlimpah Roh Kudus yang selalu tinggal di dalam hati ,
dan inspirasi rahasia pada waktu yang tepat, pada saat dibutuhkan, dikirim dari
atas. Faith menggabungkan keyakinan seseorang, menarik niat baik Tuhan dengan
kekuatan dari atas. Kedua hal inilah yang membentuk kepemilikan kehidupan
kekal. Sementara hidup ini dijaga tetap utuh, seorang Kristen tidak mau
menyerah, karena dengan bersatu dengan Tuhan ia bersatu dengan Tuhan, dan tidak
ada yang bisa mengalahkan Tuhan. Mengapa orang jatuh? Dari melemahnya iman. Keyakinan
Kristen melemah — dan energi moral juga melemah. Sementara pelemahan ini
terjadi, rahmat dipenuhi dari hati, dan dorongan jahat mengangkat kepala
mereka. Kecenderungan terhadap dorongan-dorongan ini datang pada jam yang
tepat, dan ada kejatuhan. Jadilah pengawal yang waspada terhadap segala hal
yang ada di dalamnya, dan Anda tidak akan jatuh. Dalam pengertian ini Santo
Yohanes mengatakan bahwa dia yang lahir dari Allah tidak berdosa.
Pikiran untuk Setiap Hari Tahun Ini
Menurut Bacaan Gereja Harian dari Firman Tuhan
Oleh St Theophan sang Pertapa
Minggu Kedelapan Belas Setelah Pentakosta. [II Kor. 9:
6-11; Lukas 5: 1-11]
Para nelayan bekerja keras sepanjang malam dan tidak
mengambil apa-apa; tetapi ketika Tuhan memasuki kapal mereka, dan, setelah
berkhotbah memerintahkan mereka untuk menebarkan jala mereka, mereka mengambil
begitu banyak sehingga mereka tidak dapat menariknya keluar dan jala pecah. Ini
adalah gambar untuk semua pekerjaan tanpa bantuan Tuhan, dan untuk bekerja
dengan bantuan Tuhan. Ketika satu orang bekerja, ingin mencapai sesuatu melalui
kekuatannya sendiri — dia semua adalah ibu jari. Ketika Tuhan mendekat
kepadanya, maka satu demi satu hal baik mengalir dari suatu tempat. Dalam
pengertian moral-spiritual, ketidakmungkinan untuk berhasil tanpa Tuhan sangat
nyata: Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa, kata Tuhan. Dan hukum ini
bertindak dalam segala hal. Sama seperti ranting yang tidak tumbuh ke pohon
tidak hanya tidak menghasilkan buah, tetapi juga mengering dan kehilangan nyawanya,
orang juga tidak dapat menghasilkan buah-buah kebenaran yang berharga untuk
kehidupan kekal jika mereka tidak hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Segala
kebaikan yang mungkin mereka miliki hanyalah penampilan yang baik, tetapi pada
dasarnya itu keliru — seperti apel hutan yang tampak merah tetapi jika Anda
mencicipinya, rasanya masam. Ini juga sangat jelas dalam arti eksternal,
duniawi: seseorang berjuang dan berjuang, dan semuanya sia-sia. Ketika berkah
Tuhan turun, semua keluar dengan baik. Mereka yang memperhatikan diri mereka
sendiri dan jalan kehidupan mengetahui kebenaran-kebenaran ini melalui
pengalaman.
Minggu ke – 19 setelah pantekosta
Yang Mulia Nestor the Chronicler of the Kiev Caves
Diperingati pada tanggal 27 Oktober
Saint Nestor the Chronicler, dari Gua Kiev, Near Caves
lahir di Kiev pada 1050. Dia datang ke Saint Theodosius (3 Mei) sebagai seorang
pemuda, dan menjadi seorang pemula. Santo Nestor mengambil amandel di bawah
penerus Santo Theodosius, igumen Stephen, dan di bawahnya ditahbiskan sebagai
sebuah hierodeacon.
Mengenai kehidupan rohaninya yang agung, dikatakan
bahwa, bersama sejumlah Bapa biarawan lain, ia berpartisipasi dalam mengusir
iblis dari Nikita Sang Pertapa (31 Januari), yang telah terpesona oleh
kebijaksanaan bahasa Ibrani dari Perjanjian Lama. Saint Nestor sangat
menghargai pengetahuan sejati, bersama dengan kerendahan hati dan penyesalan.
“Hebat adalah manfaat dari belajar buku,” katanya, “karena buku menunjukkan dan
mengajarkan kita cara bertobat, karena dari kata-kata buku kita menemukan
kebijaksanaan dan kesederhanaan. Ini adalah aliran, menyirami alam semesta,
yang darinya muncul kebijaksanaan. Dalam buku-buku adalah kedalaman yang tak
terbatas, oleh mereka kita dihibur dalam kesedihan, dan mereka adalah kekangan
untuk moderat. Jika Anda rajin masuk ke dalam buku-buku kebijaksanaan, maka
Anda akan menemukan manfaat besar bagi jiwa Anda. Karena itu, orang yang
membaca buku berbicara dengan Tuhan atau orang-orang kudus. “
Di biara Saint Nestor memiliki ketaatan untuk menjadi
penulis sejarah. Pada tahun 1080-an ia menulis “Catatan tentang Kehidupan
dan Kemartiran Pembawa Sengsara Boris dan Gleb” sehubungan dengan
pemindahan relik orang-orang kudus ke Vyshgorod pada tahun 1072 (2 Mei). Pada
tahun 1080 Saint Nestor juga menyusun Kehidupan Biarawan Theodosius dari Gua
Kiev. Dan pada 1091, pada malam Pesta pelindung Biara Gua Kiev, ia dipercaya
oleh Igumen John untuk menggali relik suci Santo Theodosius (14 Agustus) untuk
dipindahkan ke gereja.
Pekerjaan utama dalam kehidupan Saint Nestor disusun
pada tahun 1112-1113 Kronik Primer Rusia. “Ini adalah kisah bertahun-tahun
yang lalu, bagaimana tanah Rusia terbentuk, siapa pangeran pertama di Kiev dan
bagaimana tanah Rusia disusun.” Baris pertama yang ditulis oleh Saint Nestor
mengemukakan tujuannya. Saint Nestor menggunakan lingkaran sumber yang luar
biasa luas: kronik-kronik dan ucapan Rusia sebelumnya, catatan biara, Kronik
Bizantium John Malalos dan George Amartolos, berbagai koleksi sejarah, kisah
Boyar-Penatua Ivan Vyshatich dan para pedagang dan prajurit, dari para
penjelajah dan dari mereka yang tahu. Dia menarik mereka bersama dengan sudut
pandang gerejawi yang bersatu dan ketat. Ini memungkinkan dia untuk menulis
sejarahnya tentang Rusia sebagai bagian inklusif dari sejarah dunia, sejarah
keselamatan umat manusia.
Biksu-patriot menggambarkan sejarah Gereja Rusia di
saat-saat penting. Dia berbicara tentang penyebutan pertama bangsa Rusia dalam
sumber-sumber sejarah pada tahun 866, pada masa Santo Photius, Patriarkh Konstantinopel.
Dia bercerita tentang penciptaan alfabet dan tulisan Slavonic oleh Saints Cyril
dan Methodius; dan Pembaptisan Santo Olga di Konstantinopel. Chronicle of Saint
Nestor telah menyimpan bagi kita sebuah akun dari gereja Ortodoks pertama di
Kiev (di bawah tahun 945), dan para Martir Varangian yang kudus (di bawah tahun
983), tentang “ujian iman” oleh Saint Vladimir ( tahun 986) dan
Baptisan Rus (tahun 988).
Kami berhutang budi kepada sejarawan Gereja Rusia
pertama untuk perincian tentang Metropolitans Gereja Rusia pertama, tentang
kemunculan biara Gua Kiev, dan tentang para pendiri dan petapa. Masa-masa di
mana Santo Nestor hidup tidaklah mudah bagi tanah Rusia dan Gereja Rusia. Rus
terbelah karena perselisihan pangeran; pengembara Polovetsian dari stepa
meletakkan limbah ke kota dan desa dengan penjarahan perampokan. Mereka
memimpin banyak orang Rusia ke perbudakan, dan membakar gereja dan biara. Saint
Nestor adalah saksi mata terhadap kehancuran biara Gua Kiev pada tahun 1096.
Dalam Chronicle, sejarah patriotik yang dipikirkan secara teologis disajikan.
Kedalaman spiritual, kesetiaan historis, dan patriotisme Kronik Primer Rusia
memantapkannya dalam jajaran kreasi signifikan sastra dunia.
Saint Nestor wafat sekitar tahun 1114, setelah
meninggalkan catatan sejarah biara-biara lain di Gua Kiev sebagai kelanjutan
dari karya besarnya. Penggantinya dalam penulisan Kronik adalah: Igumen
Sylvester, yang menambahkan kisah kontemporer ke Kronik Primer Rusia; Igumen
Moses Vydubitsky membawanya ke tahun 1200; dan akhirnya, Igumen Laurence, yang
pada tahun 1377 menulis manuskrip yang paling kuno dari yang bertahan yang
menyimpan Kronik Santo Nestor (salinan ini dikenal sebagai “Kronik
Lavrentian”). Tradisi hagiografis dari petapa Gua Kiev dilanjutkan oleh Santo Simon,
Uskup Vladimir (10 Mei), penyusun Paterikon Gua Kiev. Mengisahkan
peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan para santo suci Tuhan,
Santo Simon sering mengutip, di antara sumber-sumber lain, dari Chronicle of
Saint Nestor.
Saint Nestor dimakamkan di Near Caves of Saint
Anthony. Gereja juga menghormati ingatannya dalam Synaxis of the Father of the
Near Caves yang diperingati memperingati 28 September dan pada hari Minggu
kedua Masa Prapaskah Besar ketika dirayakan Synaxis dari semua Ayah dari Gua
Kiev. Karya-karyanya telah diterbitkan berkali-kali, termasuk dalam bahasa
Inggris sebagai “Kronik Utama Rusia”.
Minggu Kesembilan Belas Setelah Pentakosta. [II Kor.
11: 31-12: 9; Lukas 6: 31-36]
Perintah mendasar dan orisinal adalah: cinta! Ini adalah
kata yang kecil, tetapi mengungkapkan hal yang mencakup semua. Mudah untuk
mengatakan: Anda harus mencintai, tetapi tidak mudah untuk mendapatkan cinta
sampai tingkat yang diperlukan. Tidak jelas juga bagaimana mencapainya; inilah
mengapa Juruselamat mengelilingi perintah ini dengan aturan-aturan penjelasan
lainnya: cinta sebagai dirimu sendiri; dan seperti yang hendak kamu lakukan
agar pria lakukan kepadamu, lakukan juga kepadamu juga demikian. Di sini
diperlihatkan tingkat cinta yang seseorang dapat sebut tanpa batas; karena
adakah batas cinta seseorang untuk dirinya sendiri? Dan adakah hal baik yang
orang tidak inginkan untuk dirinya sendiri dari orang lain? Sementara itu,
instruksi tersebut bukan tidak mungkin dipenuhi. Masalahnya tergantung pada memiliki
kasih sayang yang sempurna kepada orang lain, untuk sepenuhnya mentransfer
perasaan mereka kepada diri sendiri, untuk merasakan apa yang mereka rasakan.
Ketika ini terjadi, tidak perlu menunjukkan apa yang harus Anda lakukan untuk
orang lain dalam situasi tertentu: hati Anda akan menunjukkan kepada Anda. Anda
hanya harus berhati-hati untuk mempertahankan belas kasihan, jika tidak egoisme
akan segera mendekati dan mengembalikan Anda ke dirinya sendiri dan mengurung
Anda sendiri. Maka Anda tidak akan mengangkat jari untuk orang lain, dan tidak
akan memandangnya, meskipun ia mungkin sekarat. Ketika Tuhan berkata: cintailah
sesamamu seperti dirimu sendiri, Dia bermaksud agar sesamamu berada di dalam
kita, yaitu di dalam hati kita, bukannya diri kita sendiri. Jika
“Aku” kita tetap di sana seperti sebelumnya, kita tidak bisa
mengharapkan sesuatu yang baik untuk itu.
Minggu ke – 20 setelah pantekosta
Martir Akepsimas, Uskup, Joseph the Presbyter, dan
Aithalas the Deacon, dari Persia
Diperingati pada 3 November
Martir Akepsimas, Uskup,
Joseph the Presbyter, dan Aethalas the Diacon of Persia adalah para pemimpin
Gereja Kristen di kota Persia Naesson. Kawanannya dengan setia mencintai
hierarki mereka karena kehidupan asketisnya dan pekerjaan pastoral yang tak
kenal lelah. Kaisar Sapor memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dan
membunuh pendeta Kristen. Santo Akepsimas juga ditangkap, meskipun dia sudah
berusia delapan puluh tahun. Mereka membawanya ke kota Arbela, di mana ia
datang di hadapan hakim Ardarkh, seorang imam kafir dewa matahari. Penatua suci
menolak untuk mempersembahkan korban kepada dewa-dewa Persia. Karena hal ini ia
dipukuli dengan kejam dan dijebloskan ke penjara, di mana pada hari berikutnya
imam Joseph yang berusia tujuh puluh tahun dan diaken Aethalas dipukuli dengan
kejam dan dijebloskan ke penjara bersamanya. Selama tiga tahun orang-orang
kudus ditahan di dalam kurungan, dan menderita kelaparan dan kehausan.
Kaisar Sapor datang ke kuil
dewa api, yang terletak tidak jauh dari Arbela, dan ingin melihat tiga martir
suci. Lelah dan ditutupi dengan luka bernanah, orang-orang kudus dibawa ke
hadapan kaisar. Ketika dia meminta mereka untuk menyembah dewa-dewa kafir,
mereka dengan tegas menolak, sebagai gantinya mengakui iman mereka kepada Kristus.
Uskup suci dipenggal, tetapi
presbiter dan diakon dibawa ke kota untuk dilempari batu.
Eksekusi pastor Joseph
diperpanjang untuk beberapa jam. Seorang penjaga ditempatkan di dekat tempat
eksekusi, sehingga orang Kristen tidak akan mengambil mayat martir suci. Pada
malam keempat badai angin kencang mengamuk di dekat kota, kilat membunuh
penjaga, angin melemparkan batu, dan tubuh Santo Joseph menghilang.
Diakon Aethalas dibawa ke
desa Patrias, di mana dia dirajam. Orang-orang Kristen diam-diam mengubur
tubuhnya. Sebatang pohon tumbuh di makam orang suci, dan buahnya membawa
kesembuhan.
Minggu Kedua Puluh Setelah Pentakosta. [Gal. 1: 11-19;
Lukas 7: 11-16]
Tuhan melihat seorang ibu
menangisi kematian putranya dan memiliki belas kasihan padanya; lain kali dia
dipanggil untuk menikah, dan bersukacita bersama keluarga. Dengan ini Dia
menunjukkan bahwa untuk berbagi suka dan duka setiap hari tidak bertentangan
dengan roh-Nya. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang Kristen sejati, yang
hidup dalam ketakutan [kepada Allah]. Namun, mereka membedakan beberapa
rutinitas kehidupan sehari-hari dari yang lain; karena banyak yang telah
memasuki rutinitas ini yang tidak mungkin merupakan kehendak baik Tuhan. Ada
kebiasaan yang datang dari hawa nafsu, yang muncul karena kesenangan mereka;
yang lain tetap hidup karena kesombongan dan kesibukan. Ia yang memiliki roh
Kristus, akan dapat membedakan yang baik dari yang buruk: ia menganut yang satu
dan menolak yang lain. Dia yang melakukan ini dengan takut akan Tuhan tidak diasingkan
oleh orang lain, meskipun dia tidak bertindak seperti mereka, karena dia selalu
bertindak dalam semangat cinta dan kasih sayang terhadap kelemahan
saudara-saudaranya. Hanya semangat semangat yang melampaui batas menggosok
orang dengan cara yang salah dan menghasilkan ketidakharmonisan dan perpecahan.
Semangat seperti itu tidak bisa berhenti mengajar dan mengkritik. Tetapi [satu
dengan roh Kristus] hanya peduli dengan mengatur kehidupannya dan keluarganya
dengan cara Kristen; dia tidak membiarkan dirinya ikut campur dalam urusan
orang lain, berkata pada dirinya sendiri, “Siapa yang menetapkan saya
sebagai hakim?” Dia diam-diam membuat semua orang bersikap baik pada
dirinya sendiri, dan mengilhami rasa hormat untuk rutinitas yang dia pegang.
Seorang penyelia membuat dirinya tidak dicintai, dan menimbulkan
ketidaksetujuan atas rutinitas yang baik yang ia pegang. Dibutuhkan kerendahan
hati dalam kasus seperti itu — kerendahan hati Kristen. Ini adalah sumber akal
sehat Kristen, yang tahu bagaimana bertindak baik dalam situasi tertentu.
Minggu ke -21 Setelah Pentakosta
Kemartiran George Martir Agung Georgia
Diperingati pada 10 November
Dirayakan oleh seluruh dunia
Kristen, Great-martir George dibunuh oleh Kaisar Diocletian pada tahun 303.
Martir suci dianggap sebagai
pendoa syafaat bagi semua orang Kristen dan santo pelindung banyak orang. Dia
dianggap dengan rasa hormat khusus di antara orang-orang Georgia, karena dia
diyakini sebagai pelindung khusus bangsa mereka. Catatan sejarah sering menggambarkan
bagaimana Santo George muncul di antara para prajurit Georgia di tengah-tengah
pertempuran.
Mayoritas gereja-gereja
Georgia (khususnya di desa-desa) dibangun untuk menghormatinya dan, sebagai
hasilnya, setiap hari ada pesta besar-martir George di suatu tempat di Georgia.
Berbagai peringatan harian terhubung dengan salah satu gereja yang didirikan
atas namanya atau ikon atau mukjizat tertentu yang ia lakukan.
10 November menandai hari di
mana Saint George disiksa di atas kemudi. Menurut tradisi, hari peringatan ini
ditetapkan oleh Nino Equal-to-the-Apostles yang suci, Pencerah Georgia. Saint
Nino adalah kerabat Saint George sang pembawa piala.
Dia sangat menghormatinya
dan mengarahkan orang-orang yang telah menjadi Kristen untuk menghargai dia
sebagai pelindung khusus mereka.
Minggu Kedua Puluh Satu
Setelah Pentakosta. [Gal. 2: 16-20; Lukas 8: 5-15]
Duri dan onak yang mencekik
kata kebenaran Ilahi, selain menjadi kekayaan, kesenangan dan kepedulian
terhadap kehidupan ini, pada saat ini juga harus dipahami sebagai berbagai
ajaran palsu, disebarkan oleh para sarjana yang telah kehilangan kebenaran dan
telah menjatuhkan jalan ke sana. Di antara kita, teori-teori semacam itu sangat
berbeda: ada yang secara terbuka dan terbuka menentang kebenaran; yang lain
melakukannya dengan petunjuk miring yang bagaimanapun dipahami oleh orang-orang
terhadap siapa mereka diarahkan. Pada dasarnya mereka bertindak seperti
keracunan karbon monoksida – mereka masuk tanpa terasa, dan mengaburkan kepala,
yang menyebabkan hilangnya kesadaran yang jelas tentang segala sesuatu di
sekitarnya. Barangsiapa yang mendapat keracunan karbon monoksida ini mulai
mengoceh seperti orang yang tertidur, karena segala sesuatu yang sudah tampak
baginya sama sekali tidak seperti itu, tidak seperti yang terlihat oleh orang
yang waras. Ketika Anda bertemu orang seperti itu, Anda melihat bahwa tidak
hanya semua kebenaran ditekan dalam dirinya, tetapi perasaan untuk kebenaran
juga tertahan, dan kebohongan telah menembus semua komponen pikirannya. Bagaimana
seharusnya? Jangan mendengarkan omelan ini atau membacanya; dan ketika mereka
secara tidak sengaja didengar atau dibaca, lemparkan mereka dari kepala Anda.
Ketika mereka tidak diusir — serahkan mereka pada alasan, dan mereka semua akan
bertebaran seperti asap.
Minggu ke – 22 Setelah Pentakosta
St. Gregorius the Wonderworker of Neocaesarea
Diperingati pada 17 November
Saint Gregory the
Wonderworker, Uskup Neocaesarea, lahir di kota Neocaesarea (Asia Kecil bagian
utara) menjadi keluarga kafir. Setelah menerima pendidikan yang bagus, sejak
masa mudanya ia mengupayakan Kebenaran, tetapi para pemikir zaman kuno tidak
mampu memuaskan dahaga haus akan pengetahuan. Kebenaran diungkapkan kepadanya
hanya di dalam Injil Suci, dan pemuda itu menjadi seorang Kristen.
Untuk kelanjutan studinya,
Santo Gregorius pergi ke Aleksandria, yang dikenal sebagai pusat pembelajaran
kafir dan Kristen. Remaja itu, yang sangat ingin tahu, pergi ke Sekolah
Kateketik Aleksandria, tempat presenter Origen mengajar. Origen adalah seorang
guru terkenal, memiliki kekuatan pikiran dan pengetahuan mendalam. Saint
Gregory menjadi murid Origen. Setelah itu, orang suci itu menulis tentang
mentornya: “Orang ini menerima dari Allah suatu karunia agung, untuk menjadi
seorang penafsir Firman Allah bagi orang-orang, untuk memahami Firman Allah,
sebagaimana Allah sendiri menggunakannya, dan menjelaskannya kepada
orang-orang, sejauh mereka dapat memahaminya. ”Santo Gregorius belajar selama
delapan tahun dengan Origenes, dan dibaptis olehnya.
Kehidupan pertapa Santo
Gregorius, kelanjutannya, kemurniannya dan ketamakannya menimbulkan kecemburuan
di antara rekan-rekannya yang angkuh dan pencinta dosa, para penyembah berhala,
dan mereka memutuskan untuk memfitnah Santo Gregorius. Suatu ketika, ketika dia
berbicara dengan para filsuf dan guru di alun-alun kota, seorang pelacur
terkenal mendatanginya dan menuntut pembayaran untuk dosa yang seharusnya dia
lakukan padanya. Pada awalnya Santo Gregorius dengan lembut membantahnya,
mengatakan bahwa dia mungkin mengira dia sebagai orang lain. Tetapi wanita yang
boros itu tidak akan diam. Dia kemudian meminta seorang teman untuk memberikan
uang kepadanya. Sama seperti wanita itu mengambil pembayaran yang tidak adil,
dia segera jatuh ke tanah karena setan, dan penipuan menjadi jelas. Santo
Gregorius berdoa untuknya, dan iblis meninggalkannya. Ini adalah awal mukjizat
Santo Gregorius.
Setelah kembali ke
Neocaesarea, orang suci itu melarikan diri dari urusan duniawi ke mana penduduk
kota yang berpengaruh terus-menerus berusaha mendorongnya. Dia pergi ke padang
pasir, di mana dengan berpuasa dan berdoa dia mencapai pencapaian spiritual
yang tinggi dan karunia peramal dan nubuat. Santo Gregorius mencintai kehidupan
di padang belantara dan ingin tetap menyendiri sampai akhir hayatnya, tetapi
Tuhan menghendaki sebaliknya.
Uskup kota Amasea Kapadokia,
Thedimo, setelah mengetahui kehidupan pertapa Santo Gregorius, memutuskan untuk
menjadikannya sebagai Uskup Neocaesarea. Tetapi karena telah meramalkan niat
Uskup Thedimo, santo itu menyembunyikan diri dari para utusan uskup yang
dipercayakan untuk menemukannya. Kemudian Uskup Thedimo menahbiskan orang suci
yang absen itu sebagai Uskup Neocaesarea, memohon kepada Tuhan bahwa Dia
Sendiri akan menguduskan pentahbisan yang tidak biasa. Santo Gregorius
memandang peristiwa luar biasa itu sebagai perwujudan kehendak Allah dan ia
tidak berani memprotes. Episode ini dalam kehidupan Santo Gregorius direkam
oleh Santo Gregorius dari Nyssa (10 Januari). Ia menceritakan bahwa Santo
Gregorius dari Neocaesarea menerima martabat keuskupan hanya setelah Uskup
Thedimos dari Amasea melakukan semua ritus kanonik atas dirinya.
Selama masa ini, ajaran
sesat dari Sabellius dan Paul dari Samosata mulai menyebar. Mereka mengajar
secara salah tentang Tritunggal yang Kudus. Santo Gregorius berdoa dengan tekun
dan rajin memohon kepada Allah dan Bunda-Nya yang paling murni untuk
mengungkapkan kepadanya iman yang sejati. Perawan Suci Maria menampakkan diri
kepadanya, bersinar seperti matahari, dan bersama-Nya adalah Rasul Yohanes sang
Teolog yang mengenakan jubah agung.
Atas perintah Bunda Allah,
Rasul Yohanes mengajarkan kepada orang suci cara mengakui dengan benar dan
benar Misteri Tritunggal Mahakudus. Santo Gregorius menuliskan semua yang
diungkapkan Santo Yohanes Sang Teolog kepadanya. Misteri Simbol Iman, ditulis
oleh Santo Gregorius dari Neocaesarea, adalah wahyu ilahi yang luar biasa dalam
sejarah Gereja. Ajaran tentang Tritunggal Mahakudus dalam Teologi Ortodoks
didasarkan padanya. Selanjutnya digunakan oleh para Bapa Gereja yang kudus:
Basil Agung, Gregorius Sang Teolog, dan Gregorius dari Nyssa. Simbol Santo
Gregorius dari Neocaesarea kemudian diperiksa dan ditegaskan pada tahun 325
oleh Konsili Ekumenis Pertama, yang menunjukkan signifikansinya yang abadi bagi
Ortodoksi.
Setelah menjadi uskup, Santo
Gregorius berangkat ke Neocaesarea. Sepanjang jalan dari Amasea dia mengusir
setan dari kuil kafir, imam yang dia pertobatkan kepada Kristus. Orang yang
insaf itu menjadi saksi mukjizat lainnya dari santa itu, dengan kata-katanya
sebuah batu besar bergeser dari tempatnya.
Khotbah orang suci itu
langsung, hidup dan berbuah. Dia mengajar dan melakukan mukjizat dalam nama
Kristus: dia menyembuhkan orang sakit, dia membantu yang membutuhkan, dia
menyelesaikan pertengkaran dan keluhan. Dua saudara lelaki yang berbagi warisan
tidak dapat menyetujui harta ayah mereka yang mati. Ada sebuah danau besar di
mana mereka berdebat, karena masing-masing saudara menginginkan danau itu untuk
dirinya sendiri. Mereka berdua mengumpulkan teman-teman mereka, dan siap untuk
meledak. Santo Gregorius membujuk mereka untuk menunda perkelahian mereka
sampai hari berikutnya, dan dia sendiri berdoa semalaman di tepi danau yang
memicu pertengkaran. Ketika fajar menyingsing, semua orang melihat bahwa danau
telah mengering atau pergi ke bawah tanah. Melalui doa intens dari orang suci,
sekarang hanya ada aliran, dan jalurnya menentukan garis batas. Di waktu lain,
selama pembangunan sebuah gereja, ia memerintahkan sebuah bukit untuk bergerak dan
memberi ruang di tempat yayasan.
Ketika penganiayaan terhadap
orang-orang Kristen dimulai di bawah kaisar Decius (249-251), Santo Gregorius
memimpin umatnya ke gunung yang jauh. Seorang penyembah berhala, yang tahu
tentang tempat persembunyian orang-orang Kristen, memberi tahu para penganiaya.
Tentara mengepung gunung. Orang suci itu pergi ke tempat yang terbuka,
mengangkat tangannya ke surga dan memerintahkan kepada diakonnya untuk
melakukan hal yang sama. Para prajurit menggeledah seluruh gunung, dan mereka
pergi beberapa kali melewati mereka yang berdoa, tetapi tidak melihat mereka,
mereka menyerah dan pergi. Di kota mereka melaporkan bahwa tidak ada tempat
untuk bersembunyi di gunung: tidak ada seorang pun di sana, dan hanya dua pohon
yang berdiri di samping satu sama lain. Informan itu terpana dengan takjub, ia
bertobat dari caranya dan menjadi seorang Kristen yang kuat.
Santo Gregorius kembali ke
Neocaesarea setelah penganiayaan berakhir. Melalui gerejanya, Pesta didirikan
untuk menghormati para martir yang telah menderita demi Kristus.
Melalui kehidupannya yang
suci, khotbahnya yang efektif, pekerjaan mukjizat dan rahmat yang membimbing
kawanannya, orang suci itu terus meningkatkan jumlah orang yang insaf kepada
Kristus. Ketika Santo Gregorius pertama kali naik cathedra-nya, hanya ada tujuh
belas orang Kristen di Neocaesarea. Saat kematiannya, hanya tujuh belas
penyembah berhala yang tersisa di kota.
Minggu Dua Puluh Dua Setelah Pentakosta. [Gal. 6:
11-18; Lukas 16: 19-31]
Perumpamaan tentang orang kaya
dan Lazarus menunjukkan bahwa mereka yang tidak hidup sebagaimana mestinya
tiba-tiba akan bangun dengan kenyataan, tetapi mereka tidak akan lagi memiliki
kesempatan untuk memperbaiki keadaan mereka. Mata mereka akan terbuka dan
mereka akan melihat dengan jelas di mana kebenaran itu berada. Mengingat bahwa
di bumi ada banyak orang yang buta seperti mereka, mereka menginginkan
seseorang dikirim dari kematian untuk jaminan bahwa seseorang harus hidup dan
memahami segala sesuatu hanya sesuai dengan indikasi Wahyu Tuhan. Tetapi mereka
akan ditolak bahkan untuk ini, karena bagi mereka yang ingin mengetahui
kebenaran, wahyu saja adalah saksi. Tetapi bagi mereka yang tidak
menginginkannya, dan tidak mencintai kebenaran, bahkan kebangkitan orang mati
tidak akan meyakinkan. Perasaan orang kaya dalam perumpamaan ini mungkin
dirasakan oleh semua orang yang meninggalkan kehidupan ini. Konsekuensinya,
menurut keyakinan dunia itu yang akan menjadi keyakinan kita semua,
satu-satunya pedoman bagi kita di jalan kehidupan adalah Wahyu Tuhan. Tetapi di
sana, bagi banyak orang, keyakinan ini akan terlambat — itu akan lebih
bermanfaat di sini, tetapi tidak semua orang memilikinya. Kita akan percaya,
paling tidak, kesaksian orang-orang di sana, menempatkan diri kita dalam keadaan
mereka. Mereka yang tersiksa tidak berbohong; Kasihan kami, mereka ingin mata
kami terbuka, bahwa kami tidak datang ke tempat siksaan mereka. Kita tidak
dapat mengatakan tentang hal ini seperti yang sering kita lakukan dalam urusan
saat ini, “Mungkin entah bagaimana semuanya akan baik-baik saja.”
Tidak; itu tidak akan baik-baik saja entah bagaimana. Kita harus yakin secara
mendasar bahwa kita tidak akan menemukan diri kita di tempat orang kaya.
Minggu ke – 23 Setelah Pentakosta
Setelah Perayaan Masuknya Bunda Allah yang Mahakudus
ke Bait Suci
Diperingati pada 24 November
Menurut Tradisi Suci,
Masuknya Theotokos Maha Kudus ke dalam Kuil terjadi dengan cara sebagai
berikut. Orang tua Perawan Maria, Santa Joachim dan Anna, berdoa untuk
mengakhiri ketidakberanak-kanakan mereka, bersumpah bahwa jika seorang anak
dilahirkan untuk mereka, mereka akan mendedikasikannya untuk melayani Allah.
Ketika Perawan Suci mencapai
usia tiga tahun, orang tua suci memutuskan untuk memenuhi sumpah mereka. Mereka
mengumpulkan kerabat dan kenalan mereka, dan mendandani Perawan Murni dengan
pakaian terbaik-Nya. Menyanyikan lagu-lagu suci dan dengan lilin yang menyala
di tangan mereka, para gadis mengantarnya ke Bait Suci (Mzm 44/45: 14-15). Di
sana Imam Besar dan beberapa imam bertemu dengan pelayan perempuan Tuhan. Di
Kuil, lima belas anak tangga tinggi menuju ke tempat kudus, yang hanya bisa
dimasuki oleh para imam dan Imam Besar. (Karena mereka membacakan Mazmur pada
setiap langkah, Mazmur 119 / 120-133 / 134 disebut “Mazmur Pendakian.”) Anak
Mary, sehingga tampaknya, tidak dapat menaiki tangga ini. Tetapi ketika mereka
menempatkanNya pada langkah pertama, diperkuat oleh kuasa Tuhan, Dia dengan
cepat naik ke anak tangga yang tersisa dan naik ke yang tertinggi. Kemudian
Imam Besar, melalui ilham dari atas, memimpin Perawan Suci ke Mahakudus, di
mana hanya Imam Besar yang masuk setahun sekali untuk mempersembahkan kurban
darah yang murni. Karena itu, semua yang hadir di Bait Suci kagum pada kejadian
yang paling tidak biasa ini.
Setelah mempercayakan anak
mereka kepada Bapa Surgawi, Joachim dan Anna kembali ke rumah. Perawan Suci
tetap tinggal di tempat tinggal para gadis di dekat Kuil. Menurut kesaksian
Kitab Suci (Keluaran 38; 1 Raja 1: 28; Lukas 2: 37), dan juga sejarawan Josephus
Flavius, ada banyak tempat tinggal di sekitar Bait Allah, di mana mereka yang
mengabdikan diri untuk melayani Allah tinggal.
Kehidupan duniawi Theotokos
Maha Kudus sejak masa kanak-kanak sampai Dia diangkat ke Surga diselimuti
misteri yang mendalam. Kehidupannya di Bait Suci Yerusalem juga merupakan
rahasia. “Jika ada orang yang bertanya kepada saya,” kata Santo
Jerome, “bagaimana Perawan Suci menghabiskan waktu masa mudanya, saya akan
menjawab bahwa itu diketahui oleh Allah Sendiri dan Malaikat Jibril, penjaga
konstan-Nya.”
Tetapi ada beberapa catatan
dalam Tradisi Gereja, bahwa selama Perawan Yang Mahakudus tinggal di Bait Suci,
Dia dibesarkan dalam komunitas perawan yang saleh, rajin membaca Kitab Suci,
menyibukkan diri dengan kerajinan tangan, terus berdoa, dan tumbuh dalam kasih
kepada Tuhan . Dari zaman kuno, Gereja telah merayakan Pesta Masuknya Theotokos
Maha Kudus ke dalam Kuil. Indikasi bahwa Perayaan diamati pada abad pertama
Kekristenan ditemukan dalam tradisi Kristen Palestina, yang mengatakan bahwa
Permaisuri Helen Helen (21 Mei) membangun sebuah gereja untuk menghormati
Masuknya Theotokos Yang Maha Kudus ke dalam Kuil.
Santo Gregorius dari Nyssa,
pada abad keempat, juga menyebutkan Pesta ini. Pada abad kedelapan Orang Suci
Germanus dan Tarasius, Patriark Konstantinopel, menyampaikan khotbah pada Pesta
Masuk.
Pesta Masuknya Theotokos
yang Mahakudus ke dalam Bait Suci menubuatkan berkat Tuhan bagi umat manusia,
khotbah keselamatan, janji akan kedatangan Kristus.
DISCOURSE PADA FEAST OF ENTRY
OFOTOKOS WANITA PALING MURNI KAMI
MENJADI HOLI KUDUS
oleh Saint Gregory Palamas, Uskup Agung Tesalonika
Jika sebuah pohon diketahui
dari buahnya, dan pohon yang baik menghasilkan buah yang baik (Mat 7:17; Lukas
6:44), maka itu bukanlah Bunda Kebaikan Sendiri, Dia yang melahirkan Kecantikan
Abadi, jauh lebih unggul daripada setiap bagus, apakah di dunia ini atau dunia
di atas? Oleh karena itu, Gambar yang sama dan identik dari kebaikan,
Pra-kekal, melampaui semua makhluk, Dia yang adalah Firman Bapa yang sudah ada
sebelumnya dan baik, digerakkan oleh kasih-Nya yang tak terelakkan untuk umat
manusia dan belas kasihan bagi kita, kenakan gambar kita, agar Dia dapat
menuntut kembali untuk Dirinya sifat kita yang telah terseret ke Hades paling
atas, sehingga dapat memperbaharui sifat rusak ini dan mengangkatnya ke
ketinggian Surga. Untuk tujuan ini, Dia harus menganggap daging yang sama-sama
baru dan milik kita, sehingga Dia dapat mengubah kita dari diri kita sendiri.
Sekarang Dia menemukan seorang hamba perempuan yang sangat cocok dengan
kebutuhan-kebutuhan ini, pemasok dari sifat-Nya sendiri yang tidak ternoda,
Perawan-Perawan yang sekarang dinyanyikan oleh kita, dan siapa yang secara
ajaib masuk ke dalam Bait Suci, ke Tempat Mahakudus, yang sekarang kita rayakan.
Tuhan menentukan takdir-Nya sebelum berabad-abad untuk keselamatan dan
mendapatkan kembali jenis kita. Dia dipilih, tidak hanya dari kerumunan, tetapi
dari jajaran orang terpilih dari segala usia, terkenal karena kesalehan dan
pengertian, dan untuk kata-kata dan perbuatan yang menyenangkan Tuhan.
Pada awalnya, ada seseorang
yang bangkit melawan kami: penulis kejahatan, ular, yang menyeret kami ke
jurang. Banyak alasan mendorongnya untuk bangkit melawan kita, dan ada banyak
cara yang dengannya dia memperbudak sifat kita: iri hati, persaingan,
kebencian, ketidakadilan, pengkhianatan, kecurangan, dll. Selain itu, ia juga
memiliki di dalam dirinya kekuatan dari membawa kematian, yang dia sendiri
hasilkan, menjadi orang pertama yang jatuh dari kehidupan sejati.
Penulis kejahatan cemburu
pada Adam, ketika dia melihat dia dibawa dari bumi ke Surga, dari mana dia
dijatuhkan dengan adil. Dipenuhi rasa iri, dia menerkam Adam dengan keganasan
yang mengerikan, dan bahkan ingin memberinya pakaian kematian. Iri hati bukan
hanya pencetus kebencian, tetapi juga pembunuhan, yang dibawa oleh ular yang
benar-benar membenci manusia ini dalam diri kita. Karena ia ingin menjadi
penguasa atas bumi yang dilahirkan untuk kehancuran apa yang diciptakan menurut
gambar dan rupa Allah. Karena dia tidak cukup berani untuk melakukan serangan
tatap muka, dia memilih untuk licik dan menipu. Plotter yang benar-benar
mengerikan dan jahat ini berpura-pura menjadi teman dan penasihat yang berguna
dengan mengambil bentuk fisik seekor ular, dan diam-diam mengambil posisi
mereka. Dengan nasihatnya yang menentang Tuhan, ia menanamkan dalam dirinya
kekuatan penahan maut bagi dirinya sendiri, seperti racun berbisa.
Jika Adam cukup kuat untuk
mematuhi perintah ilahi, maka dia akan menunjukkan dirinya sebagai penakluk
musuhnya, dan bertahan dari serangan mautnya. Tetapi karena dia secara sukarela
menyerah pada dosa, dia dikalahkan dan dijadikan orang berdosa. Karena dia
adalah akar dari ras kita, dia telah menghasilkan kita sebagai tunas pembawa
maut. Jadi, penting bagi kita, jika dia harus berjuang melawan kekalahannya dan
untuk mengklaim kemenangan, untuk membersihkan dirinya dari racun beracun yang
dapat menyebabkan kematian dalam jiwa dan tubuhnya, dan untuk menyerap
kehidupan, kehidupan yang kekal dan tidak dapat dihancurkan.
Penting bagi kita untuk
memiliki akar baru untuk ras kita, seorang Adam baru, bukan hanya satu yang
tidak akan berdosa dan tidak terkalahkan, tetapi seorang yang juga akan dapat
mengampuni dosa dan membebaskan dari hukuman yang dikenakan pada mereka. Dan
tidak hanya Dia akan memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri, tetapi juga
kapasitas untuk memulihkan hidup, sehingga Dia dapat memberikan kepada mereka
yang bersatu dengan-Nya dan berhubungan dengan-Nya dengan ras baik kehidupan
dan pengampunan dosa-dosa mereka, memulihkan hidup tidak hanya mereka yang
datang setelah Dia, tetapi juga mereka yang sudah mati sebelum Dia. Karena itu,
Santo Paulus, sangkakala Roh Kudus yang agung itu berseru, “manusia pertama,
Adam, menjadi jiwa yang hidup, Adam yang terakhir dibuat menjadi roh yang
menghidupkan” (1 Kor. 15:45).
Kecuali bagi Allah, tidak
ada seorang pun yang tanpa dosa, atau yang menciptakan kehidupan, atau mampu
mengampuni dosa. Karena itu, Adam yang baru harus bukan hanya Manusia, tetapi
juga Allah. Dia pada saat yang sama hidup, kebijaksanaan, kebenaran, cinta, dan
belas kasihan, dan setiap hal baik lainnya, sehingga Dia dapat memperbaharui
Adam lama dan mengembalikannya ke kehidupan melalui belas kasihan,
kebijaksanaan dan kebenaran. Ini adalah kebalikan dari hal-hal yang digunakan
penulis kejahatan untuk menyebabkan penuaan dan kematian kita.
Ketika pembantaian umat
manusia membangkitkan dirinya terhadap kita dengan iri hati dan kebencian, maka
Sumber kehidupan diangkat [di kayu Salib] karena kebaikan dan kasih-Nya yang
tak terukur bagi umat manusia. Dia sangat menginginkan keselamatan ciptaan-Nya,
yaitu, bahwa ciptaan-Nya akan dipulihkan sendiri. Berbeda dengan ini, penulis
kejahatan ingin membawa makhluk Tuhan ke kehancuran, dan dengan demikian
menempatkan umat manusia di bawah kekuatannya sendiri, dan secara tirani
menindas kita. Dan sama seperti dia mencapai penaklukan dan kejatuhan umat
manusia melalui ketidakadilan dan kelicikan, dengan tipu daya dan tipu
muslihatnya, demikian pula sang Pembebas membawa kekalahan dari si pembuat
kejahatan, dan pemulihan makhluk-Nya sendiri dengan kebenaran, keadilan dan
kebijaksanaan.
Adalah tindakan keadilan
yang sempurna bahwa sifat kita, yang secara sukarela diperbudak dan
dihancurkan, harus kembali memasuki perjuangan untuk kemenangan dan membuang
perbudakan sukarela. Karena itu, Tuhan berkenan untuk menerima sifat kita dari
kita, secara hipostatis menyatukannya dengan cara yang luar biasa. Tetapi tidak
mungkin untuk menyatukan bahwa Alam Yang Mahatinggi, yang kemurniannya tidak
dapat dipahami karena alasan manusia, menjadi sifat berdosa sebelum itu
dimurnikan. Karena itu, untuk pembuahan dan kelahiran Sang Pendekar kesucian,
seorang Perawan Murni yang tak bernoda dan paling suci diperlukan.
Hari ini kita merayakan
ingatan akan hal-hal yang berkontribusi, jika hanya sekali, pada Inkarnasi. Dia
yang pada dasarnya adalah Allah, Firman Bersama dan Putra Kekal yang
Kooriginasi dan Seumur Hidup, menjadi Putra Manusia, Putra Perawan Abadi.
“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini, dan sampai
selama-lamanya” (Ibr. 13: 8), tidak berubah dalam keilahian-Nya dan tidak
bercela dalam kemanusiaan-Nya, Dia sendiri, sebagaimana dinubuatkan Nabi
Yesaya, “tidak melakukan kejahatan, atau menipu dengan bibir-Nya” (Yes. 53: 9).
Dia sendiri tidak dilahirkan dalam kedurhakaan, juga tidak dikandung dalam
dosa, berbeda dengan apa yang dikatakan Nabi Daud tentang dirinya dan setiap
orang lainnya (Mzm 50/51: 5). Bahkan dalam apa yang Dia asumsikan, Dia sangat
murni dan tidak perlu dibersihkan sendiri. Tetapi demi kita, Dia menerima
penyucian, penderitaan, kematian dan kebangkitan, agar Dia dapat mengirimkannya
kepada kita.
Allah dilahirkan dari
Perawan Suci yang tak bernoda dan suci, atau lebih baik dikatakan, dari Perawan
Yang Paling Murni dan Mahakudus. Dia mengatasi segala kekotoran batin, dan
bahkan di atas setiap pikiran yang tidak murni. Pemahamannya bukan disebabkan
oleh nafsu kedagingan, tetapi oleh bayang-bayang Roh Kudus. Keinginan seperti
itu benar-benar asing bagi-Nya, itu adalah melalui doa dan kesiapan rohani
bahwa Dia menyatakan kepada malaikat: “Lihatlah pelayan perempuan Tuhan; baik
bagi-Ku menurut firman-Mu ”(Lukas 1:38), dan bahwa Ia mengandung dan
melahirkan. Jadi, untuk menjadikan Perawan yang layak untuk tujuan mulia ini,
Allah menandai Putri yang selalu perawan ini sekarang dipuji oleh kita, dari
sebelum zaman, dan dari kekekalan, memilih-Nya dari pilihan-Nya.
Alihkan perhatian Anda ke
tempat pilihan ini dimulai. Dari putra-putra Adam Tuhan memilih Seth yang
menakjubkan, yang menunjukkan dirinya surga yang hidup melalui perilakunya yang
menjadi, dan melalui keindahan kebajikannya. Itulah sebabnya dia dipilih, dan
dari sanalah Perawan akan berkembang sebagai kereta Allah yang cocok secara
ilahi. Dia dibutuhkan untuk melahirkan dan memanggil putra terlahir yang
dilahirkan di bumi. Karena alasan ini juga semua garis keturunan Set disebut
“anak-anak Allah,” karena dari garis keturunan ini seorang anak manusia akan
dilahirkan sebagai Anak Allah. Nama Seth menandakan kebangkitan atau
kebangkitan, atau lebih khusus, itu menandakan Tuhan, Yang berjanji dan
memberikan hidup yang kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Dan seberapa tepatnya
paralel ini! Seth lahir dari Hawa, seperti yang dia katakan sendiri, sebagai
ganti Habel, yang Kain bunuh melalui kecemburuan (Kejadian 4:25); dan Kristus,
Anak Perawan, dilahirkan untuk kita menggantikan Adam, yang penulis kejahatan
juga bunuh melalui kecemburuan. Tetapi Seth tidak membangkitkan Habel, karena
ia hanyalah tipe dari kebangkitan. Tetapi Tuhan kita Yesus Kristus
membangkitkan Adam, karena Dia adalah Kehidupan dan Kebangkitan yang lahir di
bumi, yang oleh karena itu keturunan Set telah diberikan adopsi ilahi melalui
harapan, dan disebut anak-anak Allah. Karena harapan inilah mereka disebut
anak-anak Allah, sebagaimana terbukti dari orang yang pertama kali disebut
demikian, penerus dalam pilihan. Inilah Enos, putra Set, yang sebagaimana
ditulis Musa, pertama-tama berharap untuk memanggil Nama Tuhan (Kejadian 4:26).
Dengan cara ini, pilihan
Bunda Allah masa depan, dimulai dengan putra-putra Adam dan berlanjut melalui
semua generasi waktu, melalui Penyembuhan Tuhan, diteruskan kepada Raja-Nabi
Daud dan para penerus kerajaan dan garis keturunannya. . Ketika waktu yang
dipilih telah tiba, maka dari rumah dan keturunan Daud, Joachim dan Anna
dipilih oleh Allah. Meskipun mereka tidak memiliki anak, mereka dengan
kehidupan yang baik dan watak yang baik adalah yang terbaik dari semua yang
diturunkan dari garis keturunan Daud. Dan ketika dalam doa mereka meminta Tuhan
untuk membebaskan mereka dari tidak memiliki anak, dan berjanji untuk
mendedikasikan anak mereka kepada Tuhan sejak masih bayi. Demi Tuhan sendiri,
Bunda Allah diproklamasikan dan diberikan kepada mereka sebagai seorang anak,
sehingga dari orang tua yang berbudi luhur anak yang baik akan dibesarkan. Jadi
dengan cara ini, kesucian bergabung dengan doa membuahkan hasil dengan
menghasilkan Bunda keperawanan, melahirkan daging untuk Dia yang lahir dari
Allah Bapa sebelum berabad-abad.
Sekarang, ketika Joachim dan
Anna yang saleh melihat bahwa mereka telah dikabulkan keinginan mereka, dan
bahwa janji ilahi kepada mereka direalisasikan pada kenyataannya, maka mereka
sebagai bagian dari mereka, sebagai pecinta sejati Allah, bergegas untuk
memenuhi janji mereka yang diberikan kepada Allah segera setelah seperti anak
telah disapih dari susu. Mereka sekarang telah memimpin anak Allah yang
benar-benar dikuduskan ini, sekarang Bunda Allah, Perawan ini ke Kuil Allah.
Dan Dia, dipenuhi dengan karunia-karunia Ilahi bahkan pada usia yang begitu
lembut, … Dia, bukannya yang lain, menentukan apa yang dilakukan atas-Nya.
Dengan cara-Nya Dia menunjukkan bahwa Dia tidak begitu banyak dibawa ke Bait
Suci, tetapi bahwa Dia Sendiri masuk ke dalam pelayanan Allah atas kemauannya
sendiri, seolah-olah dia memiliki sayap, berjuang menuju cinta sakral dan ilahi
ini. Dia menganggap itu diinginkan dan pantas bahwa dia harus masuk ke dalam
Kuil dan tinggal di Tempat Mahakudus.
Karena itu, Imam Besar,
melihat bahwa anak ini, lebih dari siapa pun, memiliki rahmat ilahi di dalam
diri-Nya, ingin menempatkan-Nya dalam Mahakudus. Dia meyakinkan semua orang
yang hadir untuk menyambut ini, karena Tuhan telah maju dan menyetujuinya. Melalui
malaikat-Nya, Tuhan membantu Perawan dan mengirimkan makanan mistis-Nya, yang
dengannya Dia menguatkan secara alami, sementara di dalam tubuh Dia dibawa ke
kedewasaan dan dibuat lebih murni dan lebih mulia dari para malaikat, memiliki
roh-roh Surgawi sebagai pelayan. Dia dituntun ke Tempat Mahakudus bukan hanya
sekali, tetapi diterima oleh Allah untuk tinggal di sana bersama-Nya selama
masa muda-Nya, sehingga melalui-Nya, Tempat-Tempat Surgawi dapat dibuka dan
diberikan untuk tempat tinggal kekal bagi mereka yang percaya kepada
mukjizat-Nya. kelahiran.
Begitulah, dan inilah
sebabnya Dia, sejak awal waktu, dipilih dari antara yang terpilih. Dia yang
dimanifestasikan sebagai Yang Mahakudus, Yang memiliki tubuh yang bahkan lebih
murni daripada roh yang dimurnikan berdasarkan kebajikan, mampu menerima …
Kata Hipostatik Bapa yang Tidak Berkuasa. Hari ini, Perawan Maria, seperti
Harta Karun Allah, disimpan di Tempat Mahakudus, sehingga pada waktunya,
(sebagaimana nanti terjadi) Dia akan melayani untuk pengayaan, dan ornamen
untuk, semua dunia. Karena itu, Kristus Allah juga memuliakan Bunda-Nya, baik
sebelum, dan juga setelah kelahiran-Nya.
Kita yang memahami
keselamatan dimulai demi kita melalui Perawan Suci, berterima kasih dan
memuji-Nya sesuai dengan kemampuan kita. Dan sungguh, jika wanita yang
bersyukur (yang diberitakan Injil kepada kita), setelah mendengar firman Tuhan
yang menyelamatkan, memberkati dan berterima kasih kepada Ibu-Nya, mengangkat
suaranya di atas hiruk-pikuk kerumunan dan berkata kepada Kristus,
“Berbahagialah rahim. yang menanggung Engkau, dan pukulan-pukulan yang Engkau
hisap ”(Lukas 11:27), maka kita yang memiliki kata-kata kehidupan kekal
dituliskan untuk kita, dan bukan hanya kata-kata itu, tetapi juga mukjizat dan
Gairah, dan peningkatan sifat kita dari kematian, dan pendakiannya dari bumi ke
Surga, dan janji kehidupan abadi dan keselamatan yang tak berkesudahan, lalu
bagaimana kita tidak akan terus-menerus menyanyikan lagu pujian dan memberkati
Bunda Penulis Keselamatan kita dan Pemberi Kehidupan, merayakan konsepsi-Nya
dan lahir, dan sekarang Masuknya ke Tempat Mahakudus?
Sekarang, saudara-saudara,
marilah kita menyingkirkan diri kita dari hal-hal duniawi ke surga. Marilah
kita mengubah jalan kita dari daging menjadi roh. Marilah kita mengubah hasrat
kita dari hal-hal duniawi ke hal-hal yang bertahan lama. Mari kita mencela
kenikmatan kedagingan, yang berfungsi sebagai daya tarik bagi jiwa dan segera
berlalu. Marilah kita menginginkan karunia rohani, yang tetap tidak berkurang. Marilah
kita mengalihkan alasan dan perhatian kita dari keprihatinan duniawi dan
mengangkatnya ke tempat-tempat Surga yang tidak dapat diakses, ke Tempat
Mahakudus, tempat Bunda Allah sekarang tinggal.
Karena itu, dengan cara
seperti itu lagu-lagu dan doa-doa kita kepada-Nya akan masuk, dan dengan
demikian melalui perantaraannya, kita akan menjadi pewaris dari berkat-berkat
abadi yang akan datang, melalui rahmat dan kasih bagi umat manusia Dia yang
dilahirkan dari-Nya demi kita, Tuhan kita Yesus Kristus, bagi siapa kemuliaan,
kehormatan, dan penyembahan, bersama dengan Bapa-Nya yang Tidak Beragama dan
Roh Buatan-Nya yang Hidup dan Menciptakan Kehidupan, sekarang dan
selama-lamanya hingga abad ke zaman. Amin.
Minggu ke – 24 Setelah Pentakosta (Ephesians 2:4–22; Luke
8:41–56)
Nabi Nahum
Diperingati pada 1 Desember
Nabi Suci Nahum, yang
namanya berarti “konsol Allah,” berasal dari desa Elkosh (Galilea).
Dia hidup pada abad ketujuh SM. Nabi Naum menubuatkan kehancuran kota Assyria
di Niniwe karena kedurhakaannya, kehancuran kerajaan Israel, dan penistaan Raja
Sennacherib terhadap Tuhan. Raja Asyur Ashurbanipal wafat pada tahun 632 SM,
dan selama dua dekade berikutnya, kerajaannya mulai runtuh. Nineveh jatuh pada
612 SM.
Nahum berbeda dari
kebanyakan nabi sama seperti dia tidak mengeluarkan panggilan untuk bertobat,
juga tidak mencela Israel karena perselingkuhan kepada Allah.
Detail kehidupan nabi tidak
diketahui. Dia meninggal pada usia empat puluh lima, dan dimakamkan di wilayah
asalnya. Dia adalah yang ketujuh dari Dua Belas Nabi Kecil
Nabi Nahum dan Santo Nahum
dari Ochrid (23 Desember) dipanggil untuk orang-orang dengan gangguan mental.
Minggu ke – 25 Setelah Pentakosta
Yang Mulia Patapius dari Thebes
Diperingati pada 8 Desember
Saint Patapius dilahirkan di
Thebes dalam keluarga Kristen yang saleh. Mencapai usia dewasa, ia mencemooh
kesombongan dunia dan pergi ke padang pasir Mesir di mana ia menjadi terkenal
karena perbuatan pertapaannya. Meskipun ia ingin berdiam diri, orang-orang
mulai datang kepadanya untuk meminta nasihat.
Dia akhirnya pergi ke
Konstantinopel, di mana dia mendapatkan sel di tembok kota, dekat gereja
Blachernae. Tapi di sini juga, dia cepat dikenal. Orang sakit mulai
berduyun-duyun, dan dia telah diberi jaminan kesembuhan, mulai membantu semua
yang membutuhkan. Setelah kehidupan yang dihiasi dengan kebajikan dan mukjizat,
Santo Patapius tertidur dalam Tuhan dan dimakamkan di gereja Santo Yohanes
Pembaptis.
Minggu ke 26 -27 Setelah Pentakosta belum ditemukan
Minggu ke – 28 setelah Pentakosta.
[Kol. 1: 12-18; Lukas 14: 16-24]
Banyak
yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Semua orang Kristen
dipanggil; dipilih adalah orang-orang Kristen yang percaya dan hidup dengan
cara Kristen. Pada zaman Kristen pertama berkhotbah dipanggil untuk beriman;
kita dipanggil oleh kelahiran kita dari orang-orang Kristen dan dibesarkan di
antara orang-orang Kristen. Dan kemuliaan bagi Tuhan! Kita melewati setengah
jalan, yaitu, masuk ke dalam kekristenan dan mengakar prinsip-prinsipnya di
hati kita sejak kecil, tanpa kerja keras. Tampaknya iman kita akan menjadi
semakin kuat, dan hidup kita semakin benar sepanjang waktu berikutnya. Begini
caranya; tetapi dari titik waktu tertentu sudah mulai berbeda. Prinsip-prinsip
yang tidak Kristen diizinkan di sekolah-sekolah kita yang menghancurkan kaum
muda, dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak Kristen telah masuk ke masyarakat,
yang merusak mereka setelah meninggalkan sekolah. Jika menurut firman Allah
selalu ada hanya sedikit yang dipilih, tidak mengherankan bahwa di zaman kita
bahkan ada lebih sedikit dari mereka; demikianlah semangat zaman itu —
antikristus! Apa berikutnya? Jika cara pendidikan dan kebiasaan sosial kita
tidak berubah, Kekristenan yang sejati akan semakin melemah, dan pada akhirnya
akan sepenuhnya berakhir; hanya nama Kristen yang akan tersisa, tetapi semangat
kekristenan tidak akan ada di sana. Semangat dunia akan mengisi segalanya. Apa
yang harus dilakukan? Berdoa…
Dua Puluh Delapan
Minggu setelah Pentakosta. [Kol. 1: 12-18; Lukas 14: 16-24]
Banyak
yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Semua orang Kristen
dipanggil; dipilih adalah orang-orang Kristen yang percaya dan hidup dengan
cara Kristen. Pada zaman Kristen pertama berkhotbah dipanggil untuk beriman;
kita dipanggil oleh kelahiran kita dari orang-orang Kristen dan dibesarkan di
antara orang-orang Kristen. Dan kemuliaan bagi Tuhan! Kita melewati setengah
jalan, yaitu, masuk ke dalam kekristenan dan mengakar prinsip-prinsipnya di
hati kita sejak kecil, tanpa kerja keras. Tampaknya iman kita akan menjadi
semakin kuat, dan hidup kita semakin benar sepanjang waktu berikutnya. Begini
caranya; tetapi dari titik waktu tertentu sudah mulai berbeda. Prinsip-prinsip
yang tidak Kristen diizinkan di sekolah-sekolah kita yang menghancurkan kaum
muda, dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak Kristen telah masuk ke masyarakat,
yang merusak mereka setelah meninggalkan sekolah. Jika menurut firman Allah
selalu ada hanya sedikit yang dipilih, tidak mengherankan bahwa di zaman kita
bahkan ada lebih sedikit dari mereka; demikianlah semangat zaman itu —
antikristus! Apa berikutnya? Jika cara pendidikan dan kebiasaan sosial kita
tidak berubah, Kekristenan yang sejati akan semakin melemah, dan pada akhirnya
akan sepenuhnya berakhir; hanya nama Kristen yang akan tersisa, tetapi semangat
kekristenan tidak akan ada di sana. Semangat dunia akan mengisi segalanya. Apa
yang harus dilakukan? Berdoa.
Dua puluh Sembilan setelah Pentakosta. [Kolose 3:12 –
16; Lukas 13:10-17)
–
Tiga Puluh Minggu setelah Pentakosta. [Kol. 3:
12-16; Lukas 18: 18-27]
Nenek
moyang Suci — mereka adalah orang-orang yang benar-benar hebat! Jika seseorang
menggeneralisasi pemikiran yang mendefinisikan kebesaran mereka, hanya mereka
yang memenuhi kehendak Tuhan bagi umat manusia — kehendak positif — benar-benar
hebat, karena ada banyak hal yang terjadi hanya dengan uang saku Tuhan. Ada
juga tokoh-tokoh kuat yang bertindak terpisah dari kehendak Tuhan dan bahkan
menentangnya. Ini juga bisa tampak hebat, tetapi tidak di dalam dan tentang
diri mereka sendiri — hanya menurut tanggapan hebat yang diajukan oleh Tuhan
untuk melenyapkan kejahatan yang disebabkan oleh mereka. Kita tahu kehendak
langsung Tuhan tentang keselamatan kekal; tetapi rencana Tuhan mengenai
persinggahan sementara orang-orang di bumi tersembunyi dari kita. Itulah
sebabnya sulit bagi kita untuk menentukan siapa yang bertindak lebih lurus,
atau lebih tepatnya sesuai dengan kehendak Tuhan. Seseorang hanya dapat
mengakui satu kriteria negatif sebagai benar: Dia yang bertindak menentang
tekad Allah untuk keselamatan kekal manusia tidak dapat dianggap besar, tidak
peduli seberapa mencolok perbuatannya; karena terbukti bahwa ia menentang
kehendak Allah yang nyata. Meskipun kehendak yang diketahui ini tidak
menyangkut hal-hal duniawi, tetapi lebih kekal, tidak diragukan bahwa kehendak
Tuhan tidak dapat bertentangan dengan kehendak lainnya.
Minggu ke 31-32 belum ditemukan
Twelve Great Feast Dua Belas Perayaan Besar Gereja
Kelahiran Bunda Maria Kelahiran Perawan Suci Kita
Theotokos, Perawan Maria (diperingati setiap tanggal 8 September):
Perawan Maria yang paling suci
dilahirkan pada saat orang-orang telah mencapai tingkat kerusakan moral
sedemikian rupa sehingga sama sekali mustahil untuk memulihkannya. Orang sering
berkata bahwa Tuhan harus datang ke dunia untuk memulihkan iman dan tidak
membiarkan kehancuran umat manusia. Anak Allah memilih untuk mengambil sifat
manusia untuk keselamatan umat manusia, dan memilih sebagai Bunda-Nya Perawan
Maria Yang Murni, yang sajalah yang layak untuk melahirkan Sumber kemurnian dan
kekudusan. Kelahiran Perawan Maria, Theotokos atau Ever Virgin Mary dirayakan
oleh Gereja sebagai hari sukacita universal. Dalam konteks Perjanjian Lama dan Baru,
Perawan Maria Yang Terberkati dilahirkan pada hari yang bercahaya ini, yang
telah dipilih sebelum berabad-abad oleh Penyelenggaraan Ilahi untuk
menghasilkan Misteri Inkarnasi Sabda Allah. Dia dinyatakan sebagai Bunda
Juruselamat Dunia, Tuhan Kita Yesus Kristus. Perawan Maria Yang Mahakudus
dilahirkan di kota kecil Galilea, Nazareth. Orang tuanya adalah Yoakim
(Joachim) yang beriman dari suku Raja Daud, dan Hanna (Anna) dari suku Harun
Imam Pertama. Pasangan itu tanpa anak, karena Anna mandul. Setelah mencapai
usia lanjut, Joachim dan Anna tidak kehilangan harapan akan kemurahan Tuhan.
Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa bagi Tuhan segalanya mungkin, dan
bahwa Dia akan mampu mengatasi kemandulan Anna bahkan di usia tuanya, seperti
Dia pernah mengatasi kemandulan Sarah, pasangan Abraham. Joachim dan Anna
bersumpah untuk mendedikasikan anaknya untuk Tuhan, untuk melayani Allah di
Bait Suci. Tanpa anak dianggap di antara bangsa Ibrani sebagai hukuman Ilahi
atas dosa, dan oleh karena itu Joachim dan Anna yang saleh harus menanggung
penganiayaan dari bangsanya sendiri. Pada salah satu hari raya di Bait Suci di
Yerusalem, Joachim yang sudah tua membawa pengorbanannya untuk 82
dipersembahkan kepada Allah, tetapi Imam Besar tidak akan menerimanya,
menganggapnya tidak layak karena ia tidak memiliki anak. Joachim dengan sangat
sedih pergi ke padang belantara, dan di sana ia berdoa dengan air mata kepada
Tuhan untuk seorang anak. Anna menangis dengan sedih ketika dia mengetahui apa
yang terjadi di Bait Suci Yerusalem. Tidak pernah sekalipun dia mengeluh
terhadap Tuhan, tetapi dia berdoa untuk meminta belas kasihan Tuhan kepada
keluarganya. Tuhan menggenapi permohonannya ketika pasangan saleh telah
mencapai usia tua sekali dan mempersiapkan diri mereka dengan kehidupan yang
bajik untuk panggilan mulia: untuk menjadi orang tua dari Perawan Maria Yang
Mahakudus, Bunda Tuhan Yesus Kristus yang akan datang. Malaikat Gabriel
membawakan Joachim dan Anna pesan yang menggembirakan bahwa doa-doa mereka
didengar oleh Allah, dan di antara mereka akan lahir seorang anak perempuan
yang paling diberkati, Maria, melalui dia akan datang Keselamatan seluruh
Dunia. Perawan Suci Maria melampaui kemurnian dan kebajikan tidak hanya semua
umat manusia, tetapi juga para malaikat. Dia dimanifestasikan sebagai Bait
Allah yang hidup, sehingga Gereja menyanyikan lagu-lagu perayaan: “Gerbang
Timur … membawa Kristus ke dunia untuk keselamatan jiwa kita” (Stikhera
ke-2 tentang “Tuhan, Aku Telah Menangis”, Nada 6). Kelahiran Yesus
dari Theotokos menandai perubahan zaman ketika janji-janji Allah yang agung dan
menghibur untuk keselamatan umat manusia dari perbudakan ke iblis akan segera
digenapi. Peristiwa ini telah membawa ke bumi rahmat Kerajaan Allah, Kerajaan
Kebenaran, kesalehan, kebajikan, dan kehidupan abadi. Theotokos diungkapkan
kepada kita semua dengan rahmat sebagai 83 Perantara dan Ibu yang
berbelaskasih, kepada siapa kita memiliki jalan lain dengan pengabdian yang
berbakti.
Referensi: https://oca.org/saints/lives/2019/09/08/102541-the-nativity-of-our-most-holy-lady-the-mother-ofgod-and-ever-vi
Perayaan Pemuliaan Salib Pemuliaan Salib:
Para kaisar Romawi berusaha sepenuhnya
menghapuskan ingatan manusia tempattempat suci di mana Tuhan kita Yesus Kristus
menderita dan dibangkitkan untuk umat manusia. Kaisar Hadrian (117-138) memberi
perintah untuk menutupi tanah Golgota dan Makam Tuhan, dan membangun kuil dewi
pagan Venus dan patung Yupiter. Orang-orang kafir berkumpul di tempat ini dan
mempersembahkan korban kepada berhala di sana. Akhirnya setelah 300 tahun, oleh
pemeliharaan Ilahi, sisa-sisa suci Kristen yang agung, Makam Tuhan dan Salib
Pencipta Kehidupan (Life-Giving Holy Cross) ditemukan lagi dan dibuka untuk
penghormatan. Ini terjadi di bawah Kaisar Konstantin yang Agung (306-337)
setelah kemenangannya pada tahun 312 atas Maxentius, penguasa bagian barat kekaisaran
Romawi, dan atas Licinius, penguasa bagian Timurnya. Pada tahun 323, Konstantin
menjadi penguasa tunggal Kekaisaran Romawi yang luas. Pada tahun 313 ia
mengeluarkan Dekrit Milan, yang dengannya agama Kristen disahkan dan
penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di bagian barat kekaisaran
dihentikan. Penguasa Licinius, meskipun ia telah menandatangani Dekrit Milan
masih dengan fanatik melanjutkan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen.
Hanya setelah kekalahannya yang konklusif, Dekrit Toleransi ini juga meluas ke
bagian timur kekaisaran. Kaisar Konstantin, setelah memperoleh 84 kemenangan
atas musuh-musuhnya dalam tiga perang dengan bantuan Tuhan, telah melihat di
surga Tanda Salib, dan menulis di bawahnya: “Dengan ini kamu akan
menaklukkan.” Dengan keinginan kuat untuk menemukan Salib tempat Tuhan
Yesus Kristus disalibkan, Kaisar Konstantin mengirim ibunya, Permaisuri Helen
yang saleh (21 Mei), ke Yerusalem, memberikannya surat kepada St. Makarius,
Patriarkh Yerusalem. Meskipun permaisuri suci Helen sudah berada di tahun-tahun
yang menua, dia mulai menyelesaikan tugas dengan antusias. Sang permaisuri
memerintahkan untuk menghancurkan kuil pagan dan patung-patung di Yerusalem.
Mencari Salib Pencipta Kehidupan, ia mencari tahu orang-orang Kristen dan Yahudi,
tetapi untuk waktu yang lama pencariannya tetap tidak berhasil. Akhirnya,
mereka mengarahkannya ke bahasa Ibrani tua tertentu dengan nama Yudas yang
menyatakan bahwa Salib dimakamkan di mana kuil Venus berdiri. Mereka
menghancurkan kuil itu dan, setelah berdoa, mereka mulai menggali tanah. Segera
Makam Tuhan ditemukan dan tidak jauh dari sana ada tiga salib, sebuah papan
dengan tulisan yang diperintahkan oleh Pilatus, dan empat paku yang telah
menusuk Tubuh Tuhan (6 Maret). Untuk mengetahui salib mana dari tiga salib yang
Juruselamat disalibkan, Patriark Makarius secara bergantian menyentuhkan salib
itu ke mayat. Ketika Salib Tuhan menyentuh orang mati, ia hidup kembali.
Setelah melihat kebangkitan orang mati, semua orang yakin bahwa Salib Pencipta Kehidupan
ditemukan. Orang-orang Kristen datang dalam kerumunan besar untuk memuliakan
Salib Suci, memohon St. Macarius untuk mengangkat Salib, sehingga bahkan mereka
yang jauh mungkin dengan penuh hormat merenungkannya. Kemudian Patriark dan
para pemimpin spiritual lainnya mengangkat Salib Suci, dan orang-orang,
mengatakan “Tuhan, kasihanilah,” bersujud dengan hormat di hadapan
Kayu Mulia itu. Peristiwa khidmat ini terjadi pada tahun 326. 85 Selama
penemuan Salib Pencipta Kehidupan terjadi mukjizat lainnya: seorang wanita yang
sakit parah, di bawah bayang-bayang Salib Suci, disembuhkan seketika. Yudas
yang lebih tua dan orangorang Yahudi lainnya di sana percaya kepada Kristus dan
menerima Baptisan Suci. Yudas menerima nama Cyriacus dan setelah itu ditahbiskan
sebagai Uskup Yerusalem. Selama masa pemerintahan Julian si Murtad (361-363),
ia mengalami kematian seorang martir untuk Kristus (lihat 28 Oktober).
Permaisuri suci Helen melakukan perjalanan ke tempat-tempat suci yang terhubung
dengan kehidupan Juruselamat di bumi, membangun lebih dari 80 gereja, di
Betlehem tempat kelahiran Kristus, dan di Bukit Zaitun di mana Tuhan naik ke
Surga, dan di Getsemani di mana Juruselamat berdoa sebelum penderitaan-Nya dan
di mana Bunda Allah dimakamkan setelah kematiannya. St. Helen mengambil bagian
dari Kayu salib itu dan paku bersamanya ke Konstantinopel. Kaisar suci
Konstantinus memberi perintah untuk membangun sebuah gereja yang megah dan luas
di Yerusalem untuk menghormati Kebangkitan Kristus, juga termasuk di bawah atapnya
Makam Pemberi Hidup bagi Tuhan dan Golgota. Gereja ini dibangun sekitar sepuluh
tahun. Ratu Helen tidak bisa menyaksikan pentahbisan bait suci, ia wafat pada
tahun 327. Gereja ditahbiskan pada 13 September 335. Pada hari berikutnya, 14
September, perayaan Pengagungan Salib dan Pencipta Kehidupan dirayakan.
Peristiwa lain yang terhubung dengan Salib Tuhan diingat juga pada hari ini:
kembalinya ke Yerusalem dari Persia setelah penahanan empat belas tahun. Pada
masa pemerintahan kaisar Bizantium Phocas (602-610), kaisar Persia Khozroes II
dalam perang melawan Yunani mengalahkan tentara Yunani, menjarah Yerusalem dan
mencuri Salib Pencipta Kehidupan Tuhan dan Patriakh Suci Zakharia (609- 633).
Salib tetap di Persia selama empat belas tahun dan hanya di bawah kaisar
Heraclius (610-641), yang dengan bantuan Tuhan mengalahkan Khozroes dan
menyelesaikan perdamaian dengan penerus dan putranya, Syroes. Salib Tuhan
dikembalikan kepada orang-orang Kristen. Dengan sangat hormat Salib Pencipta
Kehidupan dipindahkan ke Yerusalem. Kaisar Heraclius dengan mahkota kekaisaran
dan ungu kerajaan membawa Salib Kristus ke Gereja Kebangkitan. Di gerbang di
mana mereka naik ke Golgota, kaisar tiba-tiba berhenti dan tidak bisa melangkah
lebih jauh. Patriark yang kudus itu menjelaskan kepada kaisar bahwa seorang
malaikat Tuhan menghalangi jalannya. Kaisar diperintahkan untuk menghapus
hiasan kerajaannya dan berjalan tanpa alas kaki, karena Dia yang memikul Salib
demi keselamatan dunia dari dosa telah membuat jalan-Nya ke Golgota dengan
segala kerendahan hati. Kemudian Heraclius mengenakan pakaian sederhana, dan
tanpa rintangan lebih lanjut, membawa Salib Kristus ke dalam gereja. Dalam
sebuah khotbah tentang Permuliaan Salib, St. Andreas dari Kreta (4 Juli)
mengatakan: “Salib itu ditinggikan, dan segala sesuatu yang benar
berkumpul bersama, Salib ditinggikan, dan kota penuh khidmat, dan orang-orang
merayakan pesta itu.”
Referensi:
http://orthochristian.com/64411.html
Masuknya Bunda Allah (Theotokos) Ke Bait Suci
Hari ini, kita
memperingati pertama kali gadis muda yang ditakdirkan menjadi Bunda Allah masuk
ke Bait Suci di Yerusalem. Meskipun sekarang sudah lama berlalu, Bait Allah itu
pasti telah memberikan pemandangan yang menakjubkan kepada anak kecil itu,
dengan batu putihnya berkilau di matahari Yudea, para imamnya, sangkakala
berhembus, baunya kemenyan, kerumunan para pemuja yang berdoa dengan khusyuk,
dan asap yang timbul dari mezbah pengorbanannya. Tidak ada catatan sejarah tentang
pikiran dan perasaannya pada kunjungan pertama itu, tetapi jika dia mengajukan
pertanyaan, “Ada apa ini?” Jawaban orang Kristen (yang kemudian dipelajari
setelah Kabar Sukacita yang datang sekitar satu dekade kemudian) adalah,
“Sebenarnya, ini semua tentang kamu.” Bait Suci adalah rumah bagi
Allah sehingga Ia dapat tinggal di antara umat-Nya dan agar mereka dapat
menikmati hadirat-Nya yang menyelamatkan. Itu juga merupakan janji dan nubuat,
sebuah janji diam di atas batu ketika Allah akan datang dan tinggal di antara
mereka dalam daging. Karena Bait Suci yang agung dan mulia berisi kehadiran
perjanjian dari Allah surgawi, demikian juga daging perawan muda Nazareth yang
masih muda dan rendah hati juga akan mengandung kehadiran itu. Dia akan menjadi
bait yang hidup bagi ilahi yang berinkarnasi, dan Dia yang tidak dapat
dikandung oleh surga dari surga [1 Raja-raja 8:27] akan tinggal di ruang kecil
rahim mudanya. Meskipun dia akan terus hidup dalam ketidakjelasan di kota
asalnya, rahimnya akan menjadi lebih luas daripada surga. Narasi sederhana
tentang masuknya dia sebagai anak kecil ke Bait Suci telah dihiasi oleh para
penulis Kristen. Dalam karya-karya seperti Proto-evangelium Yakobus (yaitu
sebuah kisah yang mengandung semacam prekuel Injil) Maria digambarkan sebagai
seseorang yang terkenal di seluruh Israel. Pada usia tiga tahun dia dikawal ke
pelataran Bait Suci oleh “anak-anak perempuan orang Ibrani,” masingmasing
membawa lampu yang menyala sehingga anak itu akan merasa senang memasuki Bait
Suci sebagai rumah barunya. “Dan Maria berada di Bait Allah seperti seekor
merpati yang dipelihara, dan dia menerima makanan dari tangan seorang
malaikat.” Dalam kisah ini, Zakharia, imam besar membawanya ke Tempat
Mahakudus, dan dia tetap di Bait Suci sampai dia menginjak usia dua belas
tahun, ketika dia pergi untuk tinggal bersama Yusuf, yang dipilih secara undian
untuk menjaganya sebagai suaminya. 87 Membaca keseluruhan Proto-evangelium
membuat pembaca yang cerdas sadar akan sifat puitis dan legendaris dari
sebagian besar tulisan. Dalam kisah yang luar biasa ini, seseorang bertemu
dengan pengabdian dan cinta, bukan sejarah yang sadar, seperti yang terlihat
dari kenyataan bahwa Zakharia, ayah dari Yohanes Pembaptis, sebenarnya bukanlah
imam besar, tetapi hanya seorang imam. (Dalam narasi Lukas, dia termasuk di
antara mereka yang menggambar banyak untuk membakar dupa di Bait Allah —
sesuatu yang tidak pernah dilakukan imam besar.) Tetapi tidak masalah;
kebenaran datang dalam berbagai bentuk, puisi dan juga sejarah. Dan dengan
memberi tahu kita bahwa Maria berdiam di Tempat Mahakudus, kisah itu memberi
tahu kita sesuatu yang mendasar dan benar tentang dia. Tempat Mahakudus adalah
jantung bagian dalam Bait Allah, tempat Tabut Perjanjian pernah beristirahat
(itu hilang dan dihancurkan ketika bangsa Babel menghncurikan Bait Suci
berabad-abad sebelumnya; Bait Suci kemudian dibangun setelah kembali dari
pengasingan dan masih kemudian diperbesar oleh Herodes tetapi Tabut tetap
kosong). Sebagai tempat suci batin, itu adalah tempat di mana kehadiran Allah
di bumi berada, pusat dari kekudusan ilahi di dunia. Tidak seorang pun yang
murni dan suci untuk masuk ke sana — bahkan imam besar sendiri hanya bisa masuk
ke sana setahun sekali pada Hari Pendamaian, dan bahkan kemudian ia harus membawa
serta darah kurban [Ibrani 9: 7]. Tetapi menurut kisah itu, Maria bisa masuk ke
sana — pelajarannya adalah bahwa Maria, sebagai orang yang ditakdirkan untuk
menjadi Bunda Allah, lebih suci daripada semua anak manusia lainnya. Tuhan
Sendiri akan berdiam di dalam dagingnya bahkan ketika Dia berdiam di Tempat
Mahakudus. Yang Mahakudus, seperti bagian lain dari Bait Suci, semuanya tentang
dia. Mengapa semua ini penting bagi kita hari ini? Hanya ini: kesuciannya tidak
hanya bisa melindunginya di Tempat Mahakudus, tapi itu juga melindungi kita.
Tuhan tidak mendengarkan orang-orang berdosa, orang-orang yang menentang dan
menolak Dia, tetapi jika ada orang yang menyembah Allah dan melakukan
kehendak-Nya, Allah mendengarkan dia [Yohanes 9:31]. Maria 88 adalah penyembah
Allah yang terbaik dan yang benar-benar melakukan kehendak-Nya. Karena itu,
Tuhan mendengarkannya. Semua orang Kristen hidup dalam jaringan syafaat
bersama: Anda berdoa untuk saya dan saya berdoa untuk Anda dan kami semua
berdoa untuk satu sama lain. Jaringan ini mencakup orang-orang kudus, sehingga
kita juga meminta doa-doa dari Petrus dan Paulus dan Nikolas dan Athanasius dan
Herman dari Alaska. Dan yang berdiri sebagai kepala pasukan syafaat surgawi
yang perkasa ini adalah Theotokos suci, dia yang lebih terhormat dari pada
Kerubim dan lebih mulia dibandingkan dengan Seraphim. Kekudusannya adalah
perisai dan pengikat kita, dan kita bisa berlindung dalam perantaraannya yang
tiada tara. Dia tidak lagi berdiri di pelataran Bait Suci di bumi, betapapun indahnya.
Dia sekarang berdiri di pelataran Bait Suci Surga, di sebelah takhta Allah,
berbagi kemegahan itu sebagai Penguasa dan Ratu surgawi kita. Perayaan Pintu
Masuk ke Bait Allah adalah sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan sejarah.
Itu adalah panggilan untuk berdoa, dan untuk kepercayaan diri kita akan cinta
dan syafaatnya bagi kita dan bagi seluruh dunia.
Referensi: https://oca.org/reflections/fr.-lawrence-farley/the-great-feast-of-the-entrance-of-the-theotokos-intothe-temple
Natal
“Jesus became what we are that He might
make us what He is” – St. Athanasius Gua & Palungan Menurut Ikon ini
Yesus dilahirkan di sebuah gua yang gelap yang menandakan kegelapan dunia
karena dosa manusia. Firman Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi
seperti Allah. Clement of Alexandria menulis, “The Word of God became man in
order that you may learn from man how man may become 89 God”. Dalam Dia ada
hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam
kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yoh 1:4-5). Firman itu telah
menjadi manusia dan tinggal di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya
yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh
anugerah dan kebenaran (Yoh 1:14). Kemuliaan yang penuh anugerah dan kebenaran
memberikan cahaya terang di dalam kegelapan yang disimbolkan kelahiran Dia di
dalam goa yang gelap. Natal menandakan terang itu telah bercahaya di dalam
kegelapan dunia. Di dalam ikon ini juga Yesus tidak digambarkan lahir di sebuah
kandang tetapi di dalam gua seperti ketika Dia akan bangkit dari kematian. Dia
dibaringkan di dalam palungan (manger) atau tempat makan hewan ternak dan
dibalut kain lampin yang berbentuk seperti kain kafan untuk menggambarkan
kelahiran-Nya yang erat hubungannya dengan kematian-Nya untuk menebus dosa
manusia. Tubuh-Nya yang disalib menjadi makanan atau roti dari Surga. Darah-Nya
yang tercurah menjadi air kehidupan. Palungan menandakan Yesus menjadi sarana
atau menyediakan makanan surga yaitu roti kehidupan bagi segenap manusia. Cyril
Alexandria mengomentari, “And she laid him in the manger. He found man
reduced to the level of the beasts: therefore is He placed like fodder in a
manger, that we, having left off our bestial life, might mount up to that
degree of intelligence which befits man’s nature; and whereas we were brutish
in soul, by now approaching the manger, even His own table, we find no longer
fodder, but the bread from heaven, which is the body of life.” Gregory of
Nyssa menuliskan, “On the Nativity” gives a mystical reason as
follows:—”A manger is the dwellingplace of beasts; in such a place is the
Word born, that the ox may know his owner, and the ass the resting-place of his
Lord. Now, the ox is the Jew under the yoke of the Law; and the ass is an
animal fitted for bearing burdens,—the Gentile groaning under the grievous
burden of idolatry. Moreover, the ordinary food of beasts is hay. But the
rational animal eats bread, wherefore the Bread of Life which came down from
heaven is laid in the crib where the food of beasts is wont to be placed, that
even animals void of reason may share the food of reasonable beings.” 90
Komentari dari Cornelius a Lapide, “Passing over the various opinions on
the subject recorded by Baronius and others, we may note that the place of
Christ”s birth was not the stable belonging to some rustic dwelling, but a
cave hewn out of a rock at the eastern end of the city of Bethlehem. This is on
the authority of S. Jerome, “Ephesians, 18 ad Marcellam,” Bede,
“de Locis Sanctis ” ch8 , and others. Whether the cave were within or
without the city of Bethlehem authorities are not agreed. Bede says that a
miraculous perennial spring took its rise in the rock of the cave, and was
still flowing, in his time; he also records that the whole cave was cased in
marble by the Christians, and adorned with a magnificent church built above it.
That there was in this cave a wooden manger, well known to all the shepherds of
that part, is clear from the fact that the shepherds soon found the spot when
the angel indicated it to them by this sign. This manger was taken from thence
to Rome, and there placed in the Basilica of S. Maria Maggiore, where it is
religiously visited and venerated. Christ was placed in the manger for two
reasons; first, because there was no place better fitted to hold Him—the straw
in it forming a kind of bed on which the tender babe might repose; and,
secondly, that in the rigour of winter, He might be warmed by the breath of the
ox and the ass. For the tradition goes that an ox and an ass were tethered to
this manger, and such is the common belief of the faithful. Of these two
animals the Church interprets the words of Habakkuk 3:2, “In the midst of
two animals shalt Thou be known” (Vulgate), and appropriates also Isaiah
1:3, “The ox knoweth his owner, and the ass his master”s
crib,”—such is the explanation given on these passages by S. Jerome,
Nazianzen, Cyril, Paulinus, and others, quoted by Baronius.” Hewan-hewan
Hewan-hewan yang ada di sekeliling Yesus adalah untuk mengingat nubuatan Nabi
Yesaya yang ditulis dalam Kitab Habakuk 3:2 menurut terjemahan Septuaginta dan
Yesaya 1:3, “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal
palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” Ini
menandakan Yesus sendiri akan ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Pandangan Maria
Maria seraya memandang Yusuf, yang sedang digoda oleh iblis, memberi keyakinan
pada Yusuf bahwa bayi yang ia lahirkan adalah sungguh dari Allah yang dikandung
dari Roh Kudus. Bidan Para bidan membasuh tubuh Sang Juruselamat menggambarkan
Allah benar-benar berinkarnasi sebagai bayi manusia biasa. 91 Orang Majus Tiga
orang Majus dengan menaiki kuda dituntun oleh sebuah bintang dari Timur untuk
datang dan menyembah Sang Juruselamat (Mat 2:10-11). Kata majus sendiri dari
bahasa yunani : μάγος / magos, yang juga berarti astrolog (ahli dalam ilmu
perbintangan) pada masa itu, biasanya dikaitkan dengan agamawan dalam agama
kuno persia dan tergolong terpandang sebagai kelas atas dalam masyarakat
(persia), yang ahli di bidang-bidang pengetahuan (alam), pengobatan dan
filsafat. Bahkan hingga di Yerusalem, dimana orang majus juga memiliki akses
mudah ke raja Herodes hingga Herodes pun memanggil mereka (Mat 2:7). Tradisi
Gereja mengatakan 3 orang majus tersebut : Js. Gaspar, Melchior dan Balthazar
kemudian menjadi Kristen dengan menerima Babtisan Suci melalui Rasul Thomas
sebelum hendak bertolak mewartakan Injil hingga ke wilayah India. Dalam bagian
kidung Troparion Natal tertulis tentang mereka: “…karenanya, bagi mereka yang
memuja bintang-bintang, telah diajarkan oleh Sebuah Bintang untuk menyembah-Mu,
Sang Mentari Kebenaran,…”. Persembahan dari orang majus ini sendiri memiliki
makna penting: Emas, sebagaimana pada masa itu (juga saat ini) merupakan logam
mulia yang selalu digunakan untuk persembahan bagi seorang raja. Sehingga
dengan mempersembahkan emas, menunjukkan orang majus ini sedang menghormati
Sang Raja yang kepada siapa mereka hendak memberi persembahan. Sebagai tanda
bahwa Yesus adalah Raja (Yoh 18:37) bagi orang Israel (Yoh 12:13), Raja Damai
(Yesaya 9:6-7), dan bagi kerajaan Allah yang akan datang. Hal inilah yang
membuat Herodes memerintahkan membunuh semua anak (usia dua tahun kebawah) di
Betlehem (Mat 2:16). Kemenyan (incence), yang pada masa itu (juga hingga
sekarang) digunakan untuk penyembahan dalam ritus keagamaan (Yeremia 41:5; Kel
30:34-35); untuk menunjukkan tanda ke-Ilahian Kristus. Hingga orang majus
hendak datang untuk menyembah (Mat 2:2). Mur (Myrrh), yang pada masa itu selain
digunakan sebagai bahan pengobatan juga untuk dibubuhkan saat penguburan
seseorang (Yoh 19:39-40). Dengan mur ini menunjukkan tanda bagi pengorbanan
yang akan diberikan Sang Juruselamat bagi manusia. Persembahan dari orang
majus, didalamnya terkandung misteri-misteri kedatangan Kristus dan karya
misi-Nya di bumi. IA-lah Sang Raja, “yang kerajaan-Nya tidak akan ada
akhirnya”, IA-lah Anak Domba Allah, yang oleh kematian-Nya, menghapus dosa
dunia (Yoh 1:29). Relik daripada persembahan orang majus ini mulanya diserahkan
kepada Gereja Yerusalem oleh Sang Theotokos sendiri, lalu berpindah-pindah
namun hingga saat ini disimpan di biara Gereja Orthodox (biara Js. Paulus) yang
ada di Gunung Athos. Gembala dan Malaikat Seorang malaikat berkata kepada para
gembala, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu
kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,
yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan
menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam
palungan” (Luk 2:10-12). Pemberitahuan dari malaikat kepada para gembala
domba ini ternyata tidaklah pada sembarangan gembala domba biasa, melainkan
sesuai nubuat Kitab Suci, Mikha 4:8, “Dan engkau, hai Menara Kawanan
Domba, hai Bukit puteri Sion, kepadamu akan datang dan akan kembali
pemerintahan yang dahulu, kerajaan atas puteri Yerusalem.” Mikha 4:8
adalah salah satu nubuat akan datangnya Kristus selain dari tempatnya di
Betlehem (Mi 5:2), jadi dikatakan akan ada pewahyuan kepada Menara Kawanan
Domba (Migdal Eder), Migdal Eder adalah suatu menara di padang Betlehem yang
dibangun untuk memelihara domba-domba persembahan Bait Allah selama 24 jam dan
terus menerus selama 1 tahun, jadi ini adalah tempat yang tetap dimana
domba-domba tetap berada bahkan selama bulan Desember/Januari. Migdal Eder
disini menjaga domba-domba dari ancaman cuaca, binatang buas dan penjahat; domba-domba
itu harus dijaga dari segala cacat cela karena akan dipersembahkan sebagai
korban Bait Allah. Jadi, pemberitahuan malaikat itu adalah kepada gembala domba
khusus dari Migdal Eder yang selalu ada di sepanjang tahun. 92 Seorang malaikat
membunyikan terompet ini menandakan para gembala bersukacita dan memuji Allah
setelah mereka melihat bayi Yesus. Catatan Tradisi ada 3 gembala yang melihat
bayi Yesus dan bersukacita. Lukas mencatat, “Lalu mereka cepat-cepat berangkat
dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam
palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah
dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya
heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.Tetapi Maria
menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka
kembalilah gembalagembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala
sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang
telah dikatakan kepada mereka.” (Luk 2:16-20) Para malaikat yang adalah bala
tentara surga memandang dari atas dan memuji Allah, “Kemuliaan bagi Allah
ditempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang
berkenan kepada-Nya” (Luk 2:13). Renungan Bapa Gereja Ambrose of Milan:
“He is brought forth from the womb but flashes from heaven. He lies in an
earthly inn but is alive with heavenly light. He was a baby and a child, so
that you may be a perfect human. He was wrapped in swaddling clothes, so that
you may be freed from the snares of death. He was in a manger, so that you may
be in the altar. He was on earth that you may be in the stars. He had no other
place in the inn, so that you may have many mansions in the heavens. “He, being
rich, became poor for your sakes, that through his poverty you might be rich.”
Therefore his poverty is our inheritance, and the Lord’s weakness is our
virtue. He chose to lack for himself, that he may abound for all. The sobs of
that appalling infancy cleanse me, those tears wash away my sins. Therefore,
Lord Jesus, I owe more to your sufferings because I was redeemed than I do to
works for which I was created…. You see that he is in swaddling clothes. You do
not see that he is in heaven. You hear the cries of an infant, but you do not
hear the lowing of an ox recognizing its Master, for the ox knows his Owner and
the donkey his Master’s crib. 93 On your account then am I weak, in you am I
strong. On your account am I poor, in you am I rich. Consider not what you see,
but acknowledge that you are redeemed. I owe more, O Lord Jesus, to Your
sufferings that I am redeemed, than to Your works that I am created. It were no
advantage to be born, had it not advantaged me to be redeemed also.” St.
Gregory of Nyssa, Against Eunomius, Hom. II, PG 45, 492: “When God became known
to us in the flesh, He neither received the passions of human nature, nor did
the Virgin Mary suffer pain, nor was the Holy Spirit diminished in any way, nor
was the power of the Most High set aside in any manner, and all this was
because all was accomplished by the Holy Spirit. thus the power of the Most
High was not abased, and the child was born with no damage whatsoever to the
mother’s virginity.” St. John of Kronstadt, My Life in Christ: “The Nativity of
Christ.—He has come upon earth, He Who in the beginning created us from earth
and breathed His Divine breath into us; He has come Who “giveth to all life,
and breath, and all things” (Acts xvii. 25.); He has come, He Who by a single
word called all things visible and invisible from non-existence into existence,
Who by a word called into being birds, fishes, quadrupeds, insects, and all
creatures, existing under His almighty providence and care; He has come, He
Whom the innumerable hosts of Angels continually and joy. And in what humility
has He come! He is born of a poor Virgin, in a cave, wrapped in poor swaddling
clothes, and laid in a manger. Riches, honours, glory of this world! fall down,
fall down in humility, tearful devotion, and deep gratitude before the Saviour
of men, and share your riches with the poor and needy. Do not pride yourselves
on your visionary, fleeting distinctions, for true distinction can only be
found in virtue. Glory of this world! learn here, before the manger, your
vanity. Thus, let us all humble ourselves; let us all fall down in the dust
before the boundless humility and exhaustion of the Sovereign of all, of God,
Who has come to heal our infirmities, to save us from pride, vanity,
corruption, and every sinful impurity.” St. Leo the Great: “Therefore the Word
of God, Himself God, the Son of God who “in the beginning was with God,”
through whom “all things were made” and “without” whom “was nothing made” (John
1.1-3), with the purpose of delivering man from eternal death, became man: so
bending Himself to take on Him our humility without decrease in His own
majesty, that remaining what He was and assuming what He was not, He might
unite the true form of a slave to that form in which He is equal to God the
Father, and join both natures together by such a compact that the lower should
not be swallowed up in its exaltation nor the higher impaired by its new
associate. Without detriment therefore to the properties of either substance
which then came together in one person, majesty took on humility, strength
weakness, eternity mortality: and for the paying off of the debt, belonging to
our condition, inviolable nature was united with possible nature, and true God
and true man were combined to form one Lord, so that, as suited the needs of our
case, one and the same Mediator between God and men, the Man Christ Jesus,
could both die with the one and rise again with the other.” 94 Homily V on the
Nativity of Christ, by St. Ephraim the Syrian At the birth of the Son, there
was a great shouting in Bethlehem; for the Angels came down, and gave praise
there. Their voices were a great thunder: at that voice of praise the silent
ones came, and gave praise to the Son. Blessed be that Babe in whom Eve and
Adam were restored to youth! The shepherds also came laden with the best gifts
of their flock: sweet milk, clean flesh, befitting praise! They put a
difference, and gave Joseph the flesh, Mary the milk, and the Son the praise!
They brought and presented a suckling lamb to the Paschal Lamb, a first-born to
the First-born, a sacrifice to the Sacrifice, a lamb of time to the Lamb of
Truth. Fair sight [to see] the lamb offered to The Lamb! The lamb bleated as it
was offered before the First-born. It praised the Lamb, that had come to set
free the flocks and the oxen from sacrifices: yea that Paschal Lamb, Who handed
down and brought in the Passover of the Son. The shepherds came near and
worshiped Him with their staves. They saluted Him with peace, prophesying the
while, “Peace, O Prince of the Shepherds.” The rod of Moses praised
Thy Rod, O Shepherd of all; for Thee Moses praises, although his lambs have
become wolves, and his flocks as it were dragons, and his sheep ranged beasts.
In the fearful wilderness his flocks became furious, and attacked him. Thee then
the Shepherds praise, because Thou hast reconciled the wolves and the lambs
within the fold; O Babe, that art older than Noah and younger than Noah, that
reconciled all within the ark amid the billows! David Thy father for a lamb’s
sake slaughtered a lion. Thou, O Son of David, hast killed the unseen wolf that
murdered Adam, the simple lamb who fed and bleated in Paradise. At that voice
of praise, brides were moved to hallow themselves, and virgins to be chaste,
and even young girls became grave: they advanced and came in multitudes, and
worshiped the Son. Aged women of the city of David came to the daughter of
David; they gave thanks and said, “Blessed be our country, whose streets
are lightened with the rays of Jesse! Today is the throne of David established
by Thee, O Son of David.” The old men cried, “Blessed be that Son Who
restored Adam to youth, Who was vexed to see that he was old and worn out, and
that the serpent who had killed him, had changed his skin and had gotten
himself away. Blessed be the Babe in Whom Adam and Eve were restored to
youth.” The chaste women said, O Blessed Fruit, bless the fruit of our
wombs; to Thee may they be given as first-born. They waxed fervent and
prophesied concerning their children, who, when they were killed for Him, were
cut off, as it were firstfruits. The barren also fondled Him, and carried Him;
they rejoiced and said, Blessed Fruit born without marriage, bless the wombs of
us that are married; have mercy on our barrenness, Thou wonderful Child of
Virginity! St. John Chrysostom, “Homili di Pagi Natal” Sudah sepatutnya bahwa
Sang Pemberi segala kekudusan harus memasuki dunia ini dengan kelahiran yang
suci dan kudus. Sang Pemberi itu membentuk Adam dari tanah yang masih murni dan
tanpa bantuan perempuan membentuk perempuan, Hawa. Seperti kelahiran Yesus,
tanpa perempuan, Adam menghasilkan perempuan, demikian pula Perawan Maria tanpa
laki-laki hari ini melahirkan seorang bayi laki-laki. Karena itu manusia, kata
Allah, dan siapa yang akan mengenalnya [Yer 17: 9]. Karena sejak ras perempuan
berhutang kepada laki-laki, seperti dari Adam tanpa perempuan, datanglah
perempuan itu, oleh karena itu tanpa laki-laki, Perawan hari ini melahirkan
seorang anak laki-laki, dan atas nama ras Hawa, Maria melunasi hutang itu
kepada laki-laki. Agar Adam tidak bangga, bahwa dia tanpa perempuan
menghasilkan perempuan, seorang perempuan tanpa laki-laki telah memperanakkan
laki-laki sehingga dengan kesamaan misteri itu dibuktikan adanya kesamaan
natur. Karena seperti sebelumnya Yang Mahakuasa mengambil tulang rusuk dari
Adam, namun Adam tetap diciptakan baik; jadi di dalam Perawan Dia membentuk
sebuah bait suci yang hidup, dan keperawanan suci tetap tidak berubah. Adam
yang sehat dan tidak terluka tetap bertahan bahkan setelah dirampas tulang
rusuknya; begitu juga tidak menodai Sang Perawan meskipun seorang Anak
dilahirkan darinya. 95 + St. John Chrysostom, “Homily on Christmas Morning” It
was fitting that the Giver of all holiness should enter this world by a pure
and holy birth. For He it is that of old formed Adam from the virgin earth, and
from Adam without help of woman formed woman. For as without woman Adam
produced woman, so did the Virgin without man this day bring forth a man. For
it is a man, saith the Lord, and who shall know him [Jer. 17:9]. For since the
race of women owed to men a debt, as from Adam without woman woman came,
therefore without man the Virgin this day brought forth, and on behalf of Eve
repaid the debt to man. That Adam might not take pride, that he without woman had
engendered woman, a Woman without man has begotten man; so that by the
similarity of the mystery is proved the similarity in nature. For as before the
Almighty took a rib from Adam, and by that Adam was not made less; so in the
Virgin He formed a living temple, and the holy virginity remained unchanged.
Sound and unharmed Adam remained even after the deprivation of a rib; unstained
the Virgin though a Child was born of her.
Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their
Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012
Baptisan Yesus & Theophany
“Ketika
seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan
sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung
merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku
yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”” (Lukas 3:21-22 TB) Gereja
merayakan Theophany Yesus Kristus setiap tanggal 6 Januari. Theophany adalah
hari kedua terpenting setelah Paskah. Mengapa? Di dalam artikel ini penulis
akan menjelaskan beberapa alasannya. 96 Pada saat Natal belum ada pernyataan
Allah Tritunggal sampai 30 tahun kemudian Allah menyatakan dirinya pada saat
pembaptisan Yesus. Anak Allah menjadi Anak Manusia dinyatakan secara jelas pada
saat Theophany. Theophany adalah perayaan yang menyingkapkan secara jelas Allah
Tritunggal Mahakudus kepada dunia melalui peristiwa sejarah pembaptisan Tuhan
Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan (Mat 3: 13-17; Mar 1:
9-11; Luk 3:21-22). Allah Bapa berbicara dari surga tentang Anak, Anak dibaptis
oleh Yohanes Pembaptis, saudara sepupuh-Nya, dan Roh Kudus turun ke atas Anak
dalam wujud seperti seekor burung merpati. Sejak zaman Gereja perdana peristiwa
ini disebut “the Day of Illumination/ Hari Pencerahan,” dan “the Feast of
Lights/ Perayaan Terang,” karena Allah adalah terang dan telah menyatakan diri
untuk mencerahkan “mereka yang berada di dalam kegelapan,” dan “berdiam di
negeri yang dinaungi maut” (Mat 4:16), serta untuk menyelamatkan manusia yang
jatuh dalam dosa melalui rahmat-Nya. Pada zaman Gereja perdana juga banyak
orang yang dibaptis pada hari Theophany ini sehingga pembaptisan juga
menyingkapkan pencerahan spiritual bagi manusia yang berada dalam kegelapan dan
maut. Berikut beberapa makna teologis baptisan Yesus: 1. Baptisan di dalam
Perjanjian Lama adalah untuk pembersihan kenajisan tubuh jasmani. Baptisan
Yohanes adalah untuk pertobatan dari dosa. Baptisan di dalam Kristus adalah
untuk pengampunan dosa baik secara jasmani dan rohani. Yesus dibaptis: a. Bukan
untuk pemurnian atau pentahiran tubuh jasmani-Nya karena Dia tidak ada dosa
sebab Dia dikandung dari Roh Kudus. b. Bukan untuk pertobatan-Nya dari dosa
kepada perbuatan baik karena Dia adalah kasih dan keselamatan. c. Bukan untuk
menerima Roh Kudus karena Roh Kudus telah beserta Dia. 97 d. Dia dibaptis bukan
untuk Dirinya tetapi sebagai teladan bagi manusia. Dia memurnikan air untuk
memurnikan kita dari kecemaran jasmani dan jiwani. Baptisan-Nya bukan hanya
menyatakan bahwa bahwa kita telah tercemar dosa tetapi membutuhkan pertobatan.
Menurut John Chrysostom baptisan Yesus adalah: 1. Now there was a Jewish
baptism which removed the pollutions of the flesh, not the guilt of the
conscience; but our baptism parts us from sin, washes the soul, and gives us
largely the outpouring of the Spirit. 2. But John’s baptism was more excellent
than the Jewish; for it did not bring men to the observance of bodily
purifications, but taught them to turn from sin to virtue. 3. But it was
inferior to our baptism, in that it conveyed not the Holy Spirit, nor showed
forth the remission which is by grace, for there was a certain end as it were
of each baptism. 4. But neither by the Jewish nor our own baptism was Christ
baptized, for He needed not the pardon of sins, nor was that flesh destitute of
the Holy Spirit which from the very beginning was conceived by the Holy Spirit;
He was baptized by the baptism of John, that from the very nature of the
baptism, you might know that He was not baptized because He needed the gift of
the Spirit. But he says, fitting baptized and praying, that you might consider
how fitting to one who has received baptism is constant prayer. 5. But he says,
The heavens opened, as if till then they had been shut. But now the higher and
the lower sheep-fold being brought into one, and there being one Shepherd of
the sheep, the heavens opened, and man was incorporated a fellow citizen with
the Angels. The Holy Spirit descended also upon Christ as upon the Founder of
our race, that He might be in Christ first of all who received Him not for
Himself, but rather for us. Hence it follows: And the Holy Spirit descended.
Let not any one imagine that He received Him because He had Him not. For He as
God sent Him from above, and as man received Him below. Therefore from Him the
Spirit fled down to Him, i.e. from His deity to His humanity. John Damascus
juga menyatakan, 1) “The Lord was baptized, not because He Himself had
need for cleansing, but “to bury human sin by water.” 2) “And
finally, to sanctify “the nature of water” and to offer us the form and example
of Baptism.” Menurut Maximus dari Turin, “Today, then, he is baptized
in the Jordan. What sort of baptism is this, when the one who is dipped is
purer than the font, and where the water that soaks the one whom it has
received is not dirtied but honored with blessings? What sort of baptism is
this of the Savior, I ask, in which the streams are made pure more than they
purify? For by a new kind of consecration the water does not so much wash
Christ as submit to being washed. Since the Savior plunged into the waters, he
sanctified the outpouring of every flood and the course of every stream by the
mystery of his baptism. When someone wishes to be baptized in the name of the
Lord, it is not so much the water of this world that covers him but the water
of Christ that purifies him. Yet the Savior willed to be baptized for this
reason—not that he might cleanse himself but that he might cleanse the waters
for our sake.” Menurut Fr. Michael Gillis, “At His baptism, Christ
not only fully identifies with our fallen humanity, but he even takes on our
repentance. AsSt. Paulsays, “He who knew no sin, became sin for us…” (2 Cor. 5:
21). Although Christ had no sin to repent of, He received the baptism of
repentance on behalf of all human beings. So much did Christ identify with
humanity, all humanity, that he took on the consequences of sin–himself being
completely free from sin–for the sake of all men and women. In Christ
everything is fulfilled on behalf of every human being: “all righteousness” is
fulfilled, He says to John before His baptism (Matt. 3:15).” Baptisan
Yesus menyediakan Pakaian Kristus untuk kita pakai. “Karena kamu semua,
yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27 TB).
Pakaian Kristus adalah kemanusian baru yang telah mengalahkan dosa, maut, dan
Iblis. 2) Baptisan Yesus bukan hanya menyatakan keberdosaan manusia yang
membutuhkan pertobatan, tetapi Dia juga menyatakan keilahian-Nya. 98 John
Damascus menyatakan baptisan Yesus adalah, “To fulfill the Law, to reveal
the mystery of the Holy Trinity.” Menurut St. Maximus dari Turin,
“Today, then, is another kind of birth of the Savior. We see him born with
the same sort of signs, the same sort of wonders, but with greater mystery. The
Holy Spirit, who was present to him then in the womb, now pours out upon him in
the torrent. He who then purified Mary for him now sanctifies the running
waters for him. The Father who then overshadowed in power now cries out with
his voice. He who then, as if choosing the more prudent course, manifested
himself as a cloud at the nativity now bears witness to the truth. So God says,
“This is my beloved Son, in whom I am well pleased. Hear him.” Clearly the
second birth is more excellent than the first. The one brought forth Christ in
silence and without a witness. The other baptized the Lord gloriously with a
profession of divinity. From the one, Joseph, thought to be the father, absents
himself. At the other, God the Father, not believed in, manifests himself. In
the one the mother labors under suspicion because in her condition she lacked a
father. In the other she is honored because God attests to his Son.” Fr.
Michael Gillis menyatakan, “At his baptism, Christ not only identifies
with our humanity, but He also reveals His divinity. And more than that, for
the first time in all the Scriptures, in all of history, the Holy Trinity is
clearly revealed: The voice of the Father speaks of the Beloved and Well
Pleasing Son while the Spirit descends in the form of a dove. Never before had
the mystery of the One God in Three Persons been revealed so clearly. Here at
Christ’s baptism the mystery that began to be revealed at his birth is openly
manifest to the universe and before the crowds who had come to be baptized by
John: the Son of God is the Son of Man.” 3) Pada baptisan-Nya, Kristus tidak
hanya mengidentifikasi sepenuhnya kemanusiaan kita, tetapi Dia juga memulai
transformasi seluruh dunia yang diciptakan. Alih-alih air sungai Jordan menyapu
dosaNya – karena Dia tidak memiliki dosa – kecemerlangan keilahian Kristus dan
kekuatan KemanusiaanNya membalikkan kutukan jadi kehidupan. Kekuatan iblis yang
bersembunyi di dalam air (yang dalam Perjanjian Lama merujuk pada kematian)
dihancurkan ketika Kristus memasuki air baptisan. Kedalaman, jurang, atau Syeol
tidak lagi berkuasa atas umat manusia: setelah dibaptis di dalam air, Kristus
akan berjalan di atas air, Kristus akan menarik Petrus yang tenggelam dari air:
bahkan 99 kedalaman air tidak dapat lagi mengendalikan umat manusia yaitu umat
manusia yang di dalam Kristus. Pada baptisan Kristus kutukan leluhur mulai
dipatahkan. Dan setelah pembaptisan-Nya, setelah sebagai manusia dipenuhi
dengan Roh Kudus, Kristus mulai menunjukkan cara untuk menang atas pencobaan,
dosa, penyakit, kemunafikan agama, penindasan politik, penindasan setan dan akhirnya
bahkan kematian itu sendiri. Kristus sebagai manusia – tanpa berhenti menjadi
Allah, tetapi mengesampingkan hak prerogatifnya sebagai Allah – Kristus sebagai
manusia menaklukkan semua musuh manusia. Kristus sebagai manusia menunjukkan
jalan bagi seluruh umat manusia ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam Surga, ke
dalam Kebangkitan dan ke dalam Kehidupan Kekal. Inilah mengapa Theophany begitu
penting. Dalam mengingat, dalam merayakan pembaptisan Kristus, kita ingat
dengan cara yang paling dalam Wahyu Allah-manusia, pembasuhan dosa melalui
pertobatan, pembalikan dari kutukan dosa, dan penaklukan dosa dan semua dosa,
bahkan kematian. Dunia tercerahkan pada baptisan Kristus dan ketika kita dengan
penuh doa mengingatnya kita sampai pada pengalaman bahwa pencerahan itu telah
tersedia bagi seluruh umat manusia. Mari wartakan kabar baik ini kepada mereka.
Ikon Dalam ikon, Yohanes terlihat memimpin. Dia menempatkan tangan kanannya di
kepala Juruselamat dalam gerakan sakramental yang tetap menjadi bagian dari
ritual pembaptisan. Dengan tangan kirinya ia membuat gerakan yang menyatakan,
“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). Karena
itu Allah menggunakan Pelopor untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
Ishak tentang ayahnya, Abraham, pada korban yang digugurkan, “Di mana anak
domba?” (Kej. 22: 7). Ribuan tahun kemudian, Tuhan menjawab pertanyaan melalui
Sang Pelopor: “Lihatlah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yohanes
1:29). Sangat menarik bahwa Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis dirayakan
setiap tahun pada tanggal 24 Juni dalam kalender Orthodox. Ini dilakukan oleh
para Bapa Yunani, karena pada hari ini, siang hari perlahan mulai berkurang di
belahan bumi utara. Ini mengingatkan kita akan perkataan Yohanes Pembaptis yang
terkenal: “Aku harus makin kecil, Dia (Yesus) harus makin besar”
(Yohanes 3:30). Setelah baptisan Yesus, pelayanan Yohanes Pembaptis digenapi.
Yohanes mulai berkurang ketika pelayanan penyelamatan Yesus meningkat. Dalam
beberapa versi ikon ini sering ada pohon dengan kapak pada akarnya. Ini
melambangkan katakata Yohanes, “Bertobatlah, berbuahlah yang baik, karena
Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu telah datang,” dan “kapak itu
terletak di akar pohon,” yang berarti bahwa waktu penghakiman dan
keputusan telah tiba (Mat. 3: 7-12). Beberapa ikon menggambarkan Yesus dengan
kain pinggang. Namun, yang lain menunjukkan Dia telanjang. Ini sesuai dengan
teks-teks Theophany. Ketelanjangannya yang mengejutkan berfungsi untuk
mengekspresikan kenosis mutlak dari keilahian-Nya. “Dia menelanjangi diri
sendiri yang membungkus langit dengan awan,” teriak imam pada Jumat Agung.
Ini diungkapkan dalam kebenaran bahwa dengan menelanjangi tubuh-Nya, Dia dengan
demikian mengenakan ketelanjangan Adam dan semua manusia dengan pakaian
kemuliaan dan kebobrokan. Kita juga dibaptis dengan telanjang saat kita
terbenam dalam kolam pembaptisan. Mengapa? Untuk menunjukkan bahwa kita datang
kepada-Nya telanjang, tidak membawa apa-apa selain diri kita sendiri karena
keselamatan bukan karena perbuatan tetapi karena anugerah Allah — suatu karunia
yang lengkap. Adam yang pertama menyebabkan gerbang Firdaus ditutup, tetapi
pada saat pembaptisan Yesus, “langit terbuka” ketika Allah menyatakan diri-Nya
dalam kepenuhan-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Setengah lingkaran
terbuka di bagian atas ikon dengan sinar cahaya yang menyinari Yesus
menunjukkan kebenaran yang menggembirakan ini. Ketika Yesus keluar dari air,
langit terbuka; dan Roh Kudus dalam bentuk seekor merpati turun ke atas-Nya;
dan suara Bapa berbicara tentang Dia, bersaksi bahwa ini adalah Anak-Nya yang
terkasih, di mana Dia berkenan. Demikianlah, dengan Kristus dan di dalam
Kristus, seluruh Tritunggal Kudus dinyatakan kepada dunia. Seluruh Tritunggal
hadir pada awal pelayanan Kristus untuk menjamin pelayanan Yesus yang sekarang
dimulai. Dia memang Anak Allah yang diutus oleh Bapa dan Roh Kudus untuk
menebus dunia. Tidak ada kejadian seperti itu terjadi pada Muhammad atau guru
100 agama lainnya. Kita harus menerima perkataan Muhamad sendiri bahwa malaikat
Gabriel/Jibril berbicara kepadanya secara rahasia dan memberinya Al-Quran tujuh
abad setelah Yesus. Tidak ada saksi mata, tidak ada Teofani, tidak ada suara
dari surga, untuk menjamin dan menjamin keaslian ilahi dari pesan Muhamad, seperti
halnya dengan Yesus. Rasul Yohanes dapat merujuk pada kesaksian tentang
Trinitas yang terjadi pada saat pembaptisan Yesus ketika ia menulis, “karena
ada tiga yang memberi kesaksian di surga: Bapa, Firman, dan Roh Kudus;
ketiganya adalah satu …. Jika kita menerima kesaksian manusia, kesaksian
Allah lebih besar; karena inilah kesaksian Allah yang disaksikan-Nya tentang
Anak-Nya ”(1 Yohanes 5: 7-9). Gregorius Palamas mengatakan bahwa ungkapan
“surga dibuka” berarti bahwa melalui ketidaktaatan Adam, surga memang tertutup
dan manusia kehilangan persekutuannya dengan Allah. Sekarang dengan ketaatan
penuh Kristus, Adam yang baru, surga terbuka lagi dan manusia dapat mencapai
persekutuan dengan Allah. Saksi Bapa kepada Yesus menunjukkan bahwa Dia yang
dibaptis bukan manusia biasa tetapi “Anak-Nya yang terkasih” yang selaras
dengan Bapa. Seseorang yang dibaptis ditunjukkan sebagai Firman Allah
“Siapakah… cahaya kemuliaan-Nya dan gambar yang jelas dari pribadi-Nya” (Ibrani
1: 3). Merpati muncul di ikon tepat di atas kepala Yesus. St John Chrysostom
bertanya: Tapi mengapa muncul dalam bentuk seekor merpati? Lembut adalah
makhluk itu, dan murni. Sama seperti Roh adalah “Roh yang lemah lembut” (Gal.
5:22), ia muncul dengan cara ini. Selain itu, gambar ini mengingatkan kita pada
sebuah kisah kuno. Suatu ketika, ketika puing-puing universal telah menguasai
dunia, dan umat manusia dalam bahaya binasa, makhluk ini muncul, untuk
menunjukkan pembebasan dari badai, membawa ranting zaitun (Kejadian 8:11).
Burung merpati mengumumkan kabar baik tentang perdamaian dan kebaikan bagi
seluruh dunia. Ini adalah jenis hal yang akan datang. Burung merpati juga
muncul, tidak membawa ranting zaitun, tetapi menunjukkan kepada kita pembebas
kita dari semua kejahatan, dan menyarankan harapan untuk rahmat masa depan.
Tetapi merpati tidak hanya memimpin satu orang (Nuh) keluar dari bahtera.
Sekarang memimpin seluruh dunia menuju surga. Alih-alih cabang perdamaian dari
pohon zaitun, burung merpati menyediakan adopsi semua anak di dunia ini sebagai
anak-anak Allah. (Saint John Chrysostom, Homily on the Gospel of Matthew, XII,
3) Merpati, yang mewakili Roh Kudus, sekarang turun tidak hanya pada Yesus
tetapi juga pada setiap orang yang dibaptis karena Dialah — Roh Kudus — yang
datang untuk menguduskan dan mendiami orang yang baru dibaptis melalui sakramen
Krisma Suci (sakramen Pentakosta ). Jadi, setiap orang Kristen dibaptis tidak
hanya “dari air” tetapi juga “dari Roh.” Merpati, yang adalah Roh Kudus,
sekarang turun ke atas setiap orang Kristen yang baru dibaptis. Vladimir Lossky
menguraikan lebih jauh tentang arti merpati: Bapa Suci Gereja menjelaskan
penampakan Roh Kudus dalam bentuk burung merpati di Pembaptisan Tuhan dengan
analogi dengan Air Bah: Persis pada saat itu dunia dimurnikan dari kesalahannya
oleh air bah dan merpati membawa cabang zaitun ke Bahtera Nuh, mengumumkan
akhir Air Bah dan perdamaian kembali ke bumi, demikian juga sekarang Roh Kudus
turun dalam bentuk seekor burung merpati untuk mengumumkan pengampunan dosa dan
belas kasihan Allah kepada dunia. “Ada cabang zaitun di sana, di sini
rahmat Allah ada pada kita,” kata St. Yohanes dari Damaskus. Fr. Sergius
Bulgakov berkomentar lebih lanjut tentang pentingnya merpati: Baptisan Tuhan,
seolah-olah, Pentakosta untuk Tuhan, turunnya Roh Kudus kepada Allah-Manusia,
mengantisipasi Pentakosta umum dunia, pengiriman Roh Kudus ke atas para rasul
dan, dalam diri mereka orang, atas seluruh Gereja. Sangat tepat bahwa Yesus
harus memulai pelayanan publik-Nya dengan pengurapan Roh Kudus. Roh Kudus
muncul “sebagai seekor merpati” pada saat baptisan Kristus
menunjukkan pembebasan yang datang dari banjir dosa. Itu tidak memiliki cabang
zaitun di paruhnya (seperti dalam bahtera Nuh) tetapi ia menyarankan minyak
belas kasihan Allah, yang adalah Kristus, yang dikasihi Bapa. 101 Kehadiran
Yesus di perairan Sungai Yordan menyucikan air, yang pada zaman kuno dianggap
sebagai kekuatan yang kacau balau jika bukan setan. Sekarang air tidak hanya
berhenti mengancam tetapi menjadi dikuduskan dan digunakan untuk pengudusan
dunia. Itulah sebabnya kita sekarang dibaptis dalam air yang dengannya kita
mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Kol 2:12). Kita sering
melihat sosok mirip manusia di air. Beberapa orang menafsirkan ini sebagai
simbol Sungai Yordan yang pernah berhenti mengalir ketika tabernakel Perjanjian
Lama dibawa melintasi (Yos. 3: 14-17). Seringkali sosok kedua di dalam air
melambangkan Laut Merah, yang membelah untuk memungkinkan umat Allah melarikan
diri dari Mesir (Kel. 14:22). Sosok-sosok di air sering digambarkan dengan
ekspresi kekaguman di wajah mereka sebelum Wahyu Allah (Theofani). Nyanyian
rohani Gereja sering membandingkan mukjizat Perjanjian Lama di Sungai Yordan
dan Laut Merah dengan baptisan Kristus. Kedua sosok tersebut dibawa ke ikon
sesuai dengan ayat ketiga dari Mazmur 114, “Laut melihat dan melarikan diri,
sungai Yordan berbalik.” Menurut penafsir lain, gambar di sebelah kiri
menyinggung Elisa yang membalikkan Sungai Yordan ke belakang di jalurnya
menjadikannya jalur kering. Seringkali kita melihat Kristus berdiri di atas air
di atas dua lempengan batu yang membentuk salib. Di bawah-Nya, ular-ular di
dalam air mengangkat kepala mereka. Ini menyinggung Mazmur 74:13 yang
mengatakan, “Engkau telah menghancurkan kepala naga di dalam air.” Dalam hal
ini, naga melambangkan iblis dan malaikat jahatnya. Air baptisan adalah kuburan
dan rahim. Naga melambangkan kejahatan (dosa) yang ditenggelamkan dan
dihancurkan dalam baptisan. St Yohanes dari Damaskus menyatakan bahwa Kristus
dibaptis untuk menghancurkan kepala naga di dalam air, karena ada konsep pada
masa itu bahwa setan tinggal di dalam air. Adam tua, bersama dengan dosanya,
dimakamkan di dalam air. Dengan demikian, naga dihancurkan dan setan kehilangan
kekuatannya. Saat imam berdoa selama Kebaktian Theofani: Engkau membelah laut
dengan kekuatanmu; Engkau mematahkan kepala naga di atas air. Engkau, Allah
kami, telah muncul di bumi dan berdiam di antara manusia, Engkau menguduskan
aliran sungai Yordan, menurunkan Roh Kudus yang paling tinggi, dan Engkau telah
mematahkan kepala naga yang tersembunyi di dalamnya. Beberapa ikon Theophany
menggambarkan ikan kecil berenang di air dekat kaki Kristus. Tertullian
menjelaskan bahwa ketika air purba ciptaan memperanakkan ikan, maka air pembaptisan
menghasilkan “ikan kecil” atau “Kristus kecil.” Ia menulis
dalam risalahnya De Baptismo: “Kita adalah ikan kecil menurut ichthys
(IKAN), Yesus Kristus, di dalam Dia kita dilahirkan, dan kita hidup hanya
dengan tinggal di dalam air ”(De Baptismo I). Kata Yunani untuk ikan juga
merupakan simbol Kristen kuno. Ini adalah akronim dari apa yang orang Kristen
percaya tentang Yesus: (I) sous (X) ristos, (˜) eou, (Y) ios, (S) Sotir: Yesus
Kristus, Anak Allah, Juru Selamat. Kristus turun ke perairan Yordan untuk
menghancurkan kepala naga. Dia turun ke sungai Yordan untuk mengikat yang kuat
(iblis) di wilayahnya sendiri seperti Dia turun ke Sheol untuk melakukan hal
yang sama. Inilah yang terjadi dalam baptisan. Seperti dalam ikon Kelahiran,
ekspresi kelemahlembutan muncul di wajah para malaikat yang hadir pada saat
pembaptisan Yesus ketika mereka mengagumi kelemahlembutan Tuan mereka. Tangan
mereka ditutup untuk menghormati pribadi kerajaan Yesus. Mereka memegang handuk
yang menekankan cara baptisan Gereja dengan pencelupan total, yang membutuhkan
tubuh untuk dikeringkan setelah pencelupan. Dikatakan bahwa setelah baptisan,
“Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai oleh iblis, dan ketika iblis
meninggalkan Dia, Lihatlah, malaikat datang dan melayani Dia” (Mat. 4: 1, 11).
Gagasan malaikat yang memegang handuk di ikon ini berasal dari abad keenam.
Jumlah aktual mereka bervariasi dari dua hingga tiga atau lebih malaikat.
Bagian atas ikon menunjukkan lingkaran terbuka yang melambangkan surga terbuka
yang telah ditutup oleh Adam, sama seperti ia telah menutup Taman Eden dengan
pedang yang menyala-nyala. Lingkaran terbuka ini mengekspresikan kehadiran
Allah yang berbicara pada saat itu, dengan mengatakan, “Ini adalah anakku yang
terkasih di dalam hati yang sangat kukasihi.” Kehadiran Allah yang sama ini
digambarkan dalam beberapa ikon lain melalui tangan yang diulurkan berkat. Roh
Kudus ditunjukkan turun kepada Yesus dalam bentuk seekor burung merpati yang
mewakili akhir 102 dari “banjir” dosa. “Di mana ada dosa, kasih
karunia yang berlimpah-limpah” (Rasul Paul). Burung merpati muncul tanpa
ranting zaitun di mulutnya seperti pada zaman Nuh tetapi menggambarkan rahmat
Allah. Sejak saat itu, air akan menjadi alat keselamatan. Setiap tetes air
sejak saat itu akan menghubungkan kita dengan air di mana Yesus dibaptiskan.
Ikon itu menunjukkan Yohanes Pembaptis dengan kepala tertunduk ketika dia
menerima tawaran Kristus “untuk menggenapi semua kebenaran” (Mat.
3:15). Dia memiliki ekspresi kagum di wajahnya pada kerendahan hati Tuhan.
Ketika dia membaptiskan Yesus dengan satu tangan, dengan yang lain dia menunjuk
ke arah-Nya seolah-olah mengatakan, “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus
dosa dunia” (Yohanes 1:29). Kita perhatikan dalam ikon bahwa seluruh tubuh
Yesus terbenam dalam air. Menurut nyanyiannyanyian Pesta, Ia “ditutupi oleh air
sungai Yordan.” Ini untuk menandakan kematian-Nya (Kol 2:12) karena manusia
tidak dapat hidup lama di bawah air. Namun, melalui pengudusan, air tidak lagi
menjadi citra kematian tetapi kehidupan baru. Karena alasan ini, ikon-ikon dari
sebagian besar gambar baptisan pada katakomb awal menunjukkan orang yang
dibaptis, termasuk Juruselamat, sebagai anak yang baru lahir. Jim Forest
mengamati dengan benar perubahan kosmik yang terjadi pada air sejak pembaptisan
Tuhan kita: Dalam baptisan Yesus, semua air selamanya diberkati. Dalam arti
tertentu, berkat tahunan di Theophany tidak diperlukan. Dalam memberkati apa
yang sudah diberkati, Gereja hanya mengungkapkan sifat sejati dan takdir air,
dan karenanya sifat sakramental dari semua ciptaan. “Dengan dipulihkan melalui
berkat untuk fungsi yang semestinya,” tulis Pastor Alexander Schmemann, ‘air
suci’ dinyatakan sebagai air yang benar, penuh, memadai, dan materi kembali
menjadi sarana persekutuan dengan dan pengetahuan tentang Allah.” Bagi
orang-orang di dunia kuno, air adalah simbol kehidupan itu sendiri. Itu adalah
prasyarat kehidupan. Manusia tidak bisa hidup tanpanya. Air sangat penting bagi
kehidupan manusia. Ia membawa darah melalui 60.000 mil arteri, kapiler, dan
vena di tubuh kita. Itu perlu untuk pencernaan. Ini melumasi sendi kita,
membuat selaput lendir lembab, dan memungkinkan mata kita berfungsi. Ini
mengatur panas tubuh kita, dan sangat penting untuk semua kehidupan tanaman dan
hewan, yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. Ilmu pengetahuan
modern telah menemukan bahwa semua kehidupan di bumi keluar dari air. Pada masa
purba semua kehidupan, termasuk kita, ada di laut. Ilmu kebidanan modern telah
menunjukkan bahwa embrio manusia dipelihara oleh cairan amnion dalam rahim ibu,
dan bahwa cairan ini memiliki komposisi yang sama dengan air laut. Hidup kita
berasal dari air. Ini menyegarkan dan hidup kembali. Air menghilangkan kotoran
dan membersihkan apa yang kotor. Jadi itu adalah yang paling mendasar dari
semua elemen kehidupan manusia telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi instrumen
kelahiran kembali spiritual kita. “Sungguh, sungguh, Aku berkata kepadamu,”
kata Yesus, “kecuali seseorang dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak akan memasuki
Kerajaan Allah” (Yohanes 3: 5). Cyril dari Yerusalem (386 M) membandingkan Roh
Kudus dengan air. Dia memilih gambar ini karena perkataan Kristus, “Barangsiapa
percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya
akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh
yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum
datang, karena Yesus belum dimuliakan. (Yohanes 7:38-39 TB) “Air,”
kata St. Cyril, “turun dari surga seperti hujan, dan meskipun itu selalu
sama, ia menghasilkan banyak efek yang berbeda: satu di pohon palem, yang lain
di pokok anggur, dan seterusnya, di seluruh ciptaan. Ia tidak turun sekarang
sebagai satu hal, sekarang sebagai yang lain, tetapi meski pada dasarnya tetap sama,
ia menyesuaikan diri dengan sifat dan kebutuhan setiap makhluk yang
menerimanya.” Dengan kata lain, sama seperti air membantu menghasilkan berbagai
jenis buah yang berbeda pada pohon dan tanaman anggur yang berbeda, yaitu pir,
apel, anggur, persik melon, dll., sehingga Roh Kudus sebagai air hidup
memelihara dan menghasilkan buah-buah “cinta, sukacita, kedamaian, kesabaran,
kebaikan, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, kontrol diri. ” 103 Dalam Wahyu
22: 1-3, kita membaca tentang sungai air kehidupan yang mengalir dari takhta
Allah menghasilkan setiap bulan dua belas jenis buah di pohon-pohon yang
berbaris di kedua sisi sungai. Daun-daun pohon itu untuk penyembuhan semua
bangsa. (Lihat juga Yehezkiel 47: 1-12). Perhatikan bahwa sungai air kehidupan
memiliki sumbernya di takhta Allah. Air yang diberkati yang kita terima di
Epifani adalah seperti air penyembuhan yang mengalir ke dalam hidup kita dari
takhta Allah, memelihara jiwa kita yang kering dan membantu kita menghasilkan
buah untuk kemuliaan Allah. Adalah Yesus — Air Kehidupan — yang memberkati
perairan bumi ketika Ia melangkah ke Sungai Yordan untuk dibaptiskan. Seperti
yang ditulis oleh Uskup Kallistos Ware: Ketika Kristus turun ke dalam air, Dia
tidak hanya membawa kita ke bawah bersama Dia dan membuat kita bersih, tetapi
Dia juga membersihkan sifat air itu sendiri. Seperti yang dikatakan oleh
pujian, “Kristus telah muncul di sungai Yordan untuk menyucikan air.” Dengan
demikian, Perayaan Theofani memiliki aspek kosmik. Jatuhnya malaikat, dan
setelah itu jatuhnya manusia, melibatkan seluruh alam semesta. Karena itu,
semua ciptaan Allah dilemahkan dan diubah bentuknya: untuk menggunakan
simbolisme teks-teks liturgi, air itu dibuat menjadi ‘sarang naga.’ Kristus
datang ke bumi untuk menebus bukan hanya manusia, tetapi – melalui manusia –
seluruh ciptaan material. Ketika Dia memasuki air, selain dengan mengantisipasi
kelahiran kembali kita di kolam, Dia juga mempengaruhi pembersihan air,
perubahan rupa mereka menjadi organ penyembuhan dan rahmat. Setelah kebaktian
pembaptisan yang diadakan pada Hari Raya Epifani di Gereja mula-mula, umat
beriman mulai membawa pulang sebagian air dari kolam pembaptisan, menghargainya
karena kuasa pengudusan dan penyembuhannya. St John Chrysostom menulis tentang
praktik ini: “Pada kesempatan ini untuk memperingati baptisan Juruselamat yang
dengannya Dia menguduskan sifat air, orang-orang yang meninggalkan gereja… dulu
membawa pulang air dan menyimpannya. “(Hom. 24. De Bapt. Christ).
Kebiasaan yang berlaku di Timur tidak hanya menguduskan air di gereja-gereja di
Epifani tetapi juga memberkati sungai terdekat atau aliran air untuk
menghormati baptisan Kristus. Di Palestina, Sungai Yordanlah yang menerima
berkat ini dalam upacara yang penuh warna dan khusyuk. Ribuan peziarah akan berkumpul
di pantainya untuk masuk ke dalam air setelah berkat, ketika mereka memperbarui
sumpah pembaptisan mereka. Dalam mitologi Yunani, Raja Tantalus dihukum di
dunia bawah dengan dirantai di danau. Airnya mencapai dagunya tetapi menarik
setiap kali dia membungkuk untuk memuaskan rasa hausnya yang membara. Di atas
kepalanya ada ranting-ranting yang sarat dengan buah-buahan pilihan, tetapi
mereka segera menarik kembali setiap kali dia meraih untuk memuaskan rasa
laparnya. Simbol frustrasi total, namanya diabadikan dalam kata bahasa Inggris
“menggoda.” Jadi, juga, mencari untuk memuaskan kehausan jiwa yang
terpisah dari Kristus adalah menggiurkan, sama sekali sia-sia. Segala sesuatu
di dunia ini yang kita gunakan untuk mencoba memuaskan dahaga jiwa — uang, nafsu,
obat-obatan, alkohol, harta benda, ketenaran — seperti tangki yang rusak. Itu
tidak bisa menahan air yang dituangkan ke dalamnya. Dan sebagai hasilnya, rasa
haus semakin memburuk. Orang akan berpikir bahwa semua tangki air yang rusak
ini akan membawa kita ke sumber air kehidupan. Tetapi itu tidak terjadi.
Mengapa? Karena kita membiarkan diri kita puas dengan tangki yang rusak. Kita
perlu berdoa agar Tuhan tidak membiarkan kita puas dengan hal-hal yang
menggiurkan dari dunia ini yang hanya berfungsi untuk menambah dahaga kita.
“Siapa pun yang minum air ini akan haus lagi,” kata Yesus. Tidak ada
yang memuaskan dahaga yang membara dari jiwa-jiwa yang tersiksa kecuali untuk
membawa mereka ke mata air kehidupan, untuk persekutuan sejati dan persekutuan
dengan Kristus. Kristus datang untuk menjadikan kita sumur artesis yang
berlimpah air. Waduk tidak tahan terhadap kekeringan dan berbulan-bulan tanpa
hujan, tetapi sumur artesis dapat tahan terhadap kekeringan, bahkan ladang
kering dan waduk kosong, karena sumur itu memiliki sumber air yang tak berujung
dengan sumber penyegaran yang tak ada habisnya. 104 Inilah arti sebenarnya dari
air suci yang kita terima setiap tahun di Epifani/Theofani. Itu harus
mengingatkan kita akan Yesus, yang adalah air kehidupan, yang sajalah yang
dapat memuaskan kehausan jiwa yang terdalam. Dalam buku renungannya yang
menginspirasi, In Thy Presence, Fr. Lev Gillet berbicara tentang air dalam
bentuk air mata: Kasih karunia baptisan kedua — baptisan pertobatan juga
dilambangkan dengan air. Tapi kali ini adalah air mata. Engkau merendahkan
dirimu di hadapanku, Tuhan, untuk membasuh kakiku. Dan saya, dengan Maria
Magdalena, berlutut di hadapan-Mu dan, pada gilirannya, membasuh kaki-Mu. Saya
mencucinya dengan air mata yang saya tumpahkan, atau dengan air mata yang saya
minta. Sudahkah saya menangis? Oh, berikan mereka padaku! Hancurkan hatiku!
Pembaptisan dengan air mata yang membakar ini, betapa dahsyatnya, karena hal
itu dapat menghasilkan berulang kali apa yang dihasilkan oleh baptisan pertama
kali. Gregorius dari Nyssa sangat menekankan pentingnya air mata pertobatan
sehingga dia berkata, “Bahkan satu air mata pertobatan sama dengan air
baptisan, dan erangan yang menyakitkan membawa kembali kasih karunia yang telah
pergi untuk sementara waktu.” Amin!
Referensi: Thomas Aquinas, Catena Aurea
on Luke. http://pemptousia.com/2019/01/why-is-theophany-important/ Anthony M.
Coniaris, Icons Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing
Company, 2012.
The Meeting of our Lord in the Temple of God
Dan ketika genap
waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem
untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan:
“Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, 24 dan
untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. (Luk 2: 22-24
TB) Lukas mencatat sebuah peristiwa yang dikenal dalam Tradisi Gereja sebagai
Pertemuan Tuhan di Bait Allah (The Meeting of our Lord in the Temple of God)
yang dirayakan oleh Gereja setiap tanggal 2 Februari. Kerendahan Hati Bunda
Maria Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, Bunda Maria dan
Yusuf membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti
ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus
dikuduskan bagi Allah.” Maria menaati dan menggenapi Imamat 12 dengan
membawa Yesus ke Bait Allah pada usia 40 hari. Mengapa 40 hari? Seorang wanita
yang melahirkan anak laki-laki dilarang memasuki Bait Allah selama empat puluh
hari. Pada akhir masa ini, Sang Ibu datang ke Bait Allah bersama Anaknya, untuk
mempersembahkan seekor anak domba atau merpati kepada Tuhan sebagai korban
penyucian. Perawan Suci, Bunda Allah, tidak membutuhkan penyucian, karena ia
telah melahirkan sumber kemurnian dan kesucian tanpa kekotoran. Namun, ia
dengan rendah hati memenuhi persyaratan Hukum seperti yang ditulis oleh Bapa
Gereja Bede, “Mary, God’s blessed mother and a perpetual virgin, was,
along with the Son she bore, most free from all subjection to the law. The law
says that a woman who “had received seed” and given birth was to be judged
unclean and that after a long period she, along with the offspring she had
borne, were to be cleansed by victims offered to God. So it is evident that the
law does not describe as unclean that woman who, without receiving man’s seed,
gave birth as a virgin. Nor does it so describe the son who was born to her.
Nor does it teach that she had to be cleansed by saving sacrificial offerings.
But as our Lord and Savior, who in his divinity was the one who gave the law,
when he appeared as a 106 human being, willed to be under the law…. So too his
blessed mother, who by a singular privilege was above the law, nevertheless did
not shun being made subject to the principles of the law for the sake of
showing us an example of humility.” Imamat 12 Begini catatan Hukum Taurat
Musa di dalam Imamat 12:1-8: 1 TUHAN berfirman kepada Musa, demikian: 2
“Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seorang perempuan bersalin dan
melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti
pada hari-hari ia bercemar kain ia najis. 3 Dan pada hari yang kedelapan
haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu. 4 Selanjutnya tiga puluh tiga
hari lamanya perempuan itu harus tinggal menantikan pentahiran dari darah
nifas, tidak boleh ia kena kepada sesuatu apapun yang kudus dan tidak boleh ia
masuk ke tempat kudus, sampai sudah genap hari-hari pentahirannya. 5 Tetapi
jikalau ia melahirkan anak perempuan, maka najislah ia selama dua minggu, sama
seperti pada waktu ia bercemar kain; selanjutnya enam puluh enam hari lamanya
ia harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas. 6 Bila sudah genap
hari-hari pentahirannya, maka untuk anak laki-laki atau anak perempuan haruslah
dibawanya seekor domba berumur setahun sebagai korban bakaran dan seekor anak
burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa ke pintu Kemah
Pertemuan, dengan menyerahkannya kepada imam. 7 Imam itu harus
mempersembahkannya ke hadapan TUHAN dan mengadakan pendamaian bagi perempuan
itu. Demikianlah perempuan itu ditahirkan dari leleran darahnya. Itulah hukum
tentang perempuan yang melahirkan anak laki-laki atau anak perempuan. 8 Tetapi
jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan seekor kambing atau domba, maka
haruslah ia mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung
merpati, yang seekor sebagai korban bakaran dan yang seekor lagi sebagai korban
penghapus dosa, dan imam itu harus mengadakan pendamaian bagi perempuan itu,
maka tahirlah ia.” (TB) Korban Maria dan Yesus 107 Maria mempersembahkan 2
ekor anak burung merpati (ayat 24) bukan domba jantan karena keterbatasan
ekonomi. Persembahan ini adalah korban penghapus dosa untuk dirinya yaitu untuk
pentahiran atau pendamaian dia setelah melahirkan seorang anak laki-laki dan
korban bakaran untuk Yesus sebagai bentuk penyerahan-Nya kepada Allah di Bait
Suci yang pada puncaknya Dia akan diserahkan sebagai korban bakaran itu
sendiri. Bapa Gereja Cyril dari Alexandria menuliskan, “Oh the depth of
the riches of the wisdom and knowledge of God! He offers victims, Who in each
victim is honored equally with the Father. The Truth preserves the figures of
the law. He who as God is the Maker of the law, as man has kept the law. Hence
it follows, And that they should give a victim as it was ordered in the law of
the Lord, a pair of turtle doves or two young pigeons. But let us see what
these offerings mean. The turtle dove is the most vocal of birds, and the
pigeon the gentlest. And such was the Savior made unto us; He was endowed with
perfect meekness, and like the turtle dove entranced the world, filling His
garden with His own melodies. There was killed then either a turtle dove or a
pigeon, that by a figure He might be shown forth to us as about to suffer in
the flesh for the life of the world.” Penyerahan dan Pengudusan Yesus
Maria menggenapi apa yang tertulis di dalam Imamat 12 yaitu penyerahan atau
persembahan bayi Yesus di Bait Allah. Yesus diserahkan atau dipersembahkan
kepada Allah merupakan bentuk pengudusan diri Yesus di hadapan Allah seperti
yang ditulis oleh Lukas di ayat 23, “as it is written in the law of the
Lord, “Every male who opens the womb shall be called holy to the LORD.”
Pengudusan ini adalah untuk memenuhi hukum Taurat Musa seperti yang dicatat di
Keluaran 13:2, 12, 15: 2 “Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua
yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun
pada hewan; Akulah yang empunya mereka.” (TB) 12 maka haruslah
kaupersembahkan bagi TUHAN segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga
setiap kali ada hewan yang kaupunyai beranak pertama kali, anak jantan yang
sulung adalah bagi TUHAN. (TB) 15 Sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk
membiarkan kita pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir,
dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan. Itulah sebabnya maka aku
biasa mempersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu
dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anakku lelaki kutebus.
(TB) Penyerahan bayi Yesus dan pengudusan-Nya di Bait Allah ini mengajarkan
bahwa Yesus adalah kepunyaan Allah. Dan ini berarti Yesus adalah anak sulung
dan menjadi teladan bagi kita untuk menyerahkan dan menguduskan diri kita di
hadapan Allah sebagai bukti bahwa kita kepunyaan Allah. Bapa Gereja Athanasius
menuliskan, “But when was the Lord hid from His Father’s eye, that He
should not be seen by Him, or what place is excepted from His dominion, that by
remaining there He should be separate from His Father unless brought to
Jerusalem and introduced into the temple? But for us perhaps these things were
written. For as not to confer grace on Himself was He made man and circumcised
in the flesh, but to make us Gods through grace, and that we might be
circumcised in the Spirit, so for our sakes is He presented to the Lord, that
we also might learn to present ourselves to the Lord. He ordered two things to
be offered, because as man consists of both body and soul, the Lord requires a
double return from us, chastity and meekness, not only of the body, but also of
the soul. Otherwise, man will be a dissembler and hypocrite, wearing the face
of innocence to mask his hidden malice.” Pengudusan Yesus adalah pengudusan
baik jiwa dan tubuh begitu juga pengudusan hidup kita. Bapa Gereja Gregory dari
Nyssa menuliskan tentang pengudusan Yesus ini, “Now this commandment of
the law seems to have had its fulfillment in the incarnate God, in a very
remarkable and peculiar manner. For He alone, ineffably conceived and
incomprehensibly brought forth, opened the virgin’s womb, till then unopened by
marriage, and after this birth miraculously retaining the seal of chastity. But
the offspring of this birth is alone seen to be spiritually male, as
contracting no guilt from being born of a woman. Hence He is truly called holy,
and therefore Gabriel, as if announcing that this commandment belonged to Him
only, said, That Holy thing which shall be born of you shall be called, the Son
of God. Now of other first-borns the wisdom of the Gospel has declared that
they are called holy from their being offered to God. But the first-born of
every creature, That holy thing which is born the Angel pronounces to be in the
nature of its very being holy.” 108 Peristiwa penyerahan dan pengudusan
Yesus bukan hanya menjalankan hukum Taurat tetapi juga menjadikan Yesus sebagai
yang sulung bagi semua ciptaan baru. Kita juga belajar kerendahan hati Yesus
dan Ibu-Nya yang dengan rela menaati hukum Allah demi keselamatan kita. Ikon
Ekspresi artistik yang diketahui paling awal (ikon) dari Penyerahan Kristus di
bait suci ditemukan di sebuah mosaik di Gereja Santa Maria Maggiore (abad ke-5)
di Roma serta relik salib di Museum Lateran (abad ke-6). Ikonografi perayaan
ini jelas didirikan pada abad ke-9 dan secara praktis tetap tidak berubah sejak
saat itu. Biarawati Egeria Barat menyaksikan perayaan ini dirayakan di
Yerusalem dengan penuh kekhidmatan dan dengan prosesi yang luar biasa. Pesta
diperkenalkan di Konstantinopel pada abad ke-6 di bawah Justinian dan
diteruskan ke Roma pada abad ke-7. Praktik memegang lilin yang menyala selama
kebaktian ini diperkenalkan di Yerusalem sekitar 450 M. Kebiasaan memegang
lilin menyala dipertahankan di Barat: karenanya pesta itu juga disebut
Candlemas di Barat. Peristiwa-peristiwa perayaan ini hanya diceritakan dalam
Lukas 2: 22-38. Kristus dibawa ke bait suci sebagai bayi berumur empat puluh
hari oleh Maria dan Yusuf sesuai dengan persyaratan Hukum Musa. Di sana Dia
bertemu dengan umat pilihan-Nya dalam pribadi Simeon dan Hana. Simeon
digambarkan oleh Lukas sebagai “orang benar dan saleh, mencari penghiburan
Israel dan Roh Kudus ada padanya.” Dan, “telah diungkapkan kepadanya
oleh Roh Kudus bahwa ia seharusnya tidak melihat kematian sebelum ia melihat
Kristus Tuhan ”(Lukas 22: 25-26). Lukas tidak mengidentifikasi Simeon sebagai
seorang imam. Hana digambarkan sebagai seorang nabiah yang di masa tuanya
“bersyukur kepada Tuhan, dan berbicara tentang Dia kepada semua orang yang mencari
penebusan Israel” (Lukas 2:38). Dalam pertemuan dengan Simeon, Kristus disambut
sebagai “terang untuk penyingkapan bagi bangsa-bangsa lain, dan bagi kemuliaan
umat-Mu Israel” (Lukas 2:32). Ramalan Simeon adalah bahwa Anak itu akan
membangkitkan konflik dan pedang akan menembus hati Maria ketika dia melihat
Putranya di Kayu Salib. Ketika Yesus dibawa ke bait suci oleh Maria dan Yusuf,
Dia bertemu dengan umat pilihan-Nya dalam pribadi Simeon dan Hana. Dalam dua
pribadi ini — Simeon dan Hana — seluruh Perjanjian Lama berseru bahwa nubuat
kuno tentang Mesias telah digenapi: Dia yang telah dijanjikan; Dia yang
kedatangannya telah dinubuatkan; Dia yang adalah “Terang untuk wahyu bagi
bangsa-bangsa lain” dan “kemuliaan” umat Allah; Mesias telah
datang! Tetapi mengapa dari semua orang pada waktu itu, mengapa hanya Simeon
dan Hana yang dapat mengenali bayi Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan?
Jawabannya ditemukan dalam Injil: “Ada seorang lelaki di Yerusalem, yang
namanya Simeon, dan lelaki ini saleh dan saleh, mencari penghiburan bagi
Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya. Dan telah diungkapkan kepadanya oleh Roh
Kudus bahwa dia seharusnya tidak mengalami kematian sebelum dia melihat Kristus
Tuhan…. Dan ada seorang nabiah, Hana …. Dia tidak pergi dari bait suci,
beribadah dengan puasa dan doa siang dan malam” (Lukas 2: 25-38). Simeon dan
Hana, yang saleh dan kudus, orang-orang yang berdoa dan beribadah, sama-sama
menunggu dengan harapan untuk “penghiburan Israel”, yaitu, untuk
kedatangan Mesias. Keduanya telah menyelidiki Kitab Suci; keduanya telah berdoa
dan menunggu kedatangan Mesias sebagai penggenapan nubuat. Itulah sebabnya
mereka berdua mengakui Mesias pada bayi Yesus di bawah bimbingan Roh Kudus.
Allah selalu menyatakan diri-Nya kepada mereka yang siap menerima-Nya; untuk
mereka yang sedang menunggu-nunggu Dia. Jika surga adalah tempat yang
dipersiapkan bagi umat yang dipersiapkan, wahyu Allah juga merupakan wahyu yang
dipersiapkan bagi orang-orang yang siap menerimanya. Tuhan berbicara hanya
kepada mereka yang dengan penuh semangat mendengarkan; mereka yang datang
kepada-Nya dengan kerendahan hati dan iman yang dalam. Simeon dan Hana
bersemangat, menunggu, mendengarkan, mengharapkan, setia, rendah hati, dan
dipenuhi Roh. Oleh karena itu, bagi mereka Allah mengungkapkan bayi Yesus
sebagai Mesias. Apakah kita hari ini orang yang menunggu? Dengan berlalunya
waktu (dan seberapa cepat berlalu!), Apakah kita menebus waktu dengan berdoa,
merencanakan, dan mempersiapkan diri untuk 109 Kedatangan Yesus? Dia datang!
Tetapi berapa banyak dari kita yang menunggu Dia dengan penuh harap? Berapa
banyak dari kita yang menantikan kedatangan-Nya dengan penuh semangat? Berapa
banyak dari kita yang bersiap untuk kedatangan-Nya? Simeon dan Hana! Jadi,
mereka sendiri dari semua orang pada waktu itu mengenali bayi Yesus ketika Dia
dibawa ke bait suci, dan mereka mengakui dan menyatakan Dia sebagai Mesias.
“Roh Kudus turun ke atas Simeon” (Lukas 2:25). Roh Kuduslah yang mengilhami
Simeon untuk mengetahui bahwa dia tidak akan mati sebelum dia melihat Mesias.
Roh Kuduslah yang mengilhami dia untuk mengenali Mesias pada bayi Yesus. Roh
Kuduslah yang mengilhami dia untuk meramalkan penderitaan yang akan dialami
oleh ibu-Nya ketika dia melihat Dia dipakukan di kayu Salib. Adalah Roh Kudus
yang menempatkan kata-kata indah dari Nunc Dimittis di bibir Simeon. Bagi Roh
Kudus untuk bersandar pada seseorang adalah pengalaman tertinggi yang dapat
diberikan Tuhan kepada siapa pun. Roh Kudus dapat datang ke atas kita hari ini
melalui doa. Kita juga bisa menjadi seperti Simeon dan Hana. Mata kita dapat
terbuka untuk melihat keselamatan Allah secara pribadi di dalam Yesus. Kita
bisa diberdayakan dan tercerahkan untuk memberitakan keselamatan Allah kepada
dunia. Semoga kita berdoa setiap hari agar Roh Kudus mengisi bejana tanah liat
yang lemah dari tubuh ini dan mengubahnya menjadi bait suci hadirat Allah yang
sejati. Ketika Simeon mengambil bayi Yesus dalam gendongannya, ia mengucapkan
doa Nunc Dimittis yang indah (Lukas 2: 29-32). Simeon telah hidup
bertahun-tahun. Dia telah melihat dan menikmati banyak hal, tetapi tidak ada
yang benar-benar memuaskannya. Sekarang dia berdiri di puncak tahun-tahun
ketika dia melihat bayi Yesus dalam gendongan Maria. Inilah pengalaman hebat
yang dijanjikan kehidupan dan belum, sampai saat itu, diberikan. Dengan membawa
Yesus ke dalam pelukannya, dia berkata, “Tuhan, sekarang aku telah melihat
segalanya! Sekarang saya bisa mati dengan puas!…. Karena aku telah melihat
Juruselamat …! ”Semua yang telah bertemu Juruselamat dan melihat-Nya tidak
melalui mata orang lain tetapi melalui mata iman mereka sendiri siap untuk
hidup dan siap untuk mati, karena mata mereka telah melihat Juruselamat dunia.
Bagi kami, seperti juga Simeon, bukankah ini inti kehidupan? Bukankah ini sebabnya
kita dibawa ke dunia: untuk melihat Yesus, untuk bertemu Dia, mengenal Dia
secara pribadi sebagai Juru Selamat kita, untuk mempersembahkan diri kita
kepada-Nya sebagai korban yang hidup; untuk membawa 110 Dia ke dalam pelukan
kita dan mengasihi Dia? Tuhan memikirkan hal ini ketika Dia menciptakan kita.
Dia tidak akan membiarkan kita puas dengan apa pun yang kurang dari keselamatan
yang diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus. Simeon bertemu Yesus! Kita juga
bisa! Iman bukanlah sesuatu yang kita warisi dari keluarga kita. Iman berasal
dari pertemuan pribadi atau perjumpaan dengan Yesus. Kita dapat bertemu Dia
dalam doa setiap hari. Kita bertemu Dia di dalam Alkitab. Kita bertemu Dia di
setiap liturgi dalam Ekaristi/Perjamuan Kudus. Kita bertemu Dia di hadapan
setiap orang yang membutuhkan. Simeon memegang Yesus di tangannya. Kita dapat
membayangkan Yesus memegang anak-anak di lenganNya, tetapi di sini ada sesuatu
yang sama sekali berbeda: Simeon memegang Yesus dalam pelukannya! Apakah kita
tidak diundang untuk melakukan hal yang sama? Tidakkah kita mengingat Yesus
ketika kita membaca kata-kataNya yang berharga di dalam Injil dan ketika kita
berdoa kepadaNya? Tidakkah kita memegang Dia di dalam hati kita ketika kita
menerima tubuh dan darah-Nya yang berharga di dalam Ekaristi? Ketika ini
terjadi, kita juga dapat berkata dengan Simeon, “Tuhan, sekarang saya telah
melihat segalanya! Sekarang saya bisa hidup dan mati dengan lega! Karena aku
telah melihat Juruselamat! ” Simeon berkata dalam nyanyian kemenangan ini bahwa
sementara dalam Perjanjian Lama para nabi hanya dapat menyaksikan bagian
belakang Allah, ia sekarang melihat Allah berhadapan muka secara langsung
dengan pribadi bayi Yesus. Dia sekarang melihat cahaya nyata yang menghalau
kegelapan khayalan dan kebodohan dunia. Fakta bahwa tidak lama setelah Simeon
melihat Sabda Allah yang menjelma yang ia cari dibebaskan melalui kematian
ditafsirkan oleh tradisi suci sebagai kegembiraan besar atas apa yang harus ia
lakukan selanjutnya. Menurut tradisi, Dia ingin pergi ke Hades untuk membagikan
kabar baik tentang kedatangan Mesias dengan orang-orang di Hades, semua orang
benar dalam Perjanjian Lama, dan menyatakan kepada mereka bahwa Mesias akan
segera datang ke Hades untuk membebaskan mereka. Fr. Alexander Schmemann
membayangkan dirinya berkata kepada Yesus sama seperti yang dilakukan Simeon:
Sekarang, Anda dapat membiarkan saya pergi dengan damai, karena saya telah
melihat, saya telah memegang tangan saya, saya telah memeluk makna hidup yang
sebenarnya…. Biarkan saya pergi sekarang. Saya telah melihat cahaya yang
menembus dunia. Saya telah melihat Sang Anak, yang membawa dunia begitu banyak
cinta ilahi dan yang memberikan dirinya kepada saya. Tidak ada yang ditakuti,
tidak ada yang tidak diketahui, semuanya sekarang damai, ucapan syukur dan
cinta. Inilah yang dibawa oleh Pertemuan Tuhan. Itu merayakan pertemuan jiwa,
cinta, bertemu Dia yang memberi saya hidup dan memberi saya kekuatan untuk
mengubahnya menjadi antisipasi. Lukas memberi tahu kita bahwa ketika Maria dan
Yusuf mempersembahkan Yesus kepada Tuhan, mereka membuat persembahan —
pengorbanan— “menurut apa yang dikatakan dalam hukum Tuhan, ‘sepasang merpati
atau dua merpati muda.’” Ini adalah persembahan syukur tradisional kepada Allah
dari orang miskin untuk hadiah anak laki-laki. Biasanya, hadiah itu adalah
domba yang tidak bercela, tetapi Yusuf dan Maria begitu miskin sehingga yang
mereka mampu hanyalah dua merpati. Bahkan itu mungkin merupakan tekanan pada
anggaran mereka, tetapi mereka tahu bahwa ibadah membutuhkan sesuatu dari
mereka. Ibadah — jika itu saleh, suci, mengubah hidup, dan seperti Kristus —
selalu menuntut sesuatu dari kita. Itu membutuhkan lebih dari pemberian uang
kita, sama pentingnya dengan itu. Itu membutuhkan penyerahan diri total kita.
Itu membutuhkan pengakuan. Itu membutuhkan pertobatan. Itu membutuhkan roh yang
hancur dan menyesal. Itu menuntut untuk meninggalkan dosa-dosa kita. Itu
membutuhkan restitusi. Itu membutuhkan pikulan salib dan mengikuti Yesus. Itu
membutuhkan pengorbanan. Menyembah bukanlah penyembahan tanpa “dua ekor
merpati,” tanpa pengorbanan. Gregorius Sang Teolog mengingatkan kita bahwa
kemiskinan Yesus disebabkan pada kenyataan bahwa, meskipun Dia kaya, Dia
menjadi miskin bagi kita melalui inkarnasi-Nya, sehingga kita dapat menjadi
kaya dengan keilahian-Nya melalui theosis. 111 Nyanyian Perayaan ini sangat
kaya secara tipologis. Itu mengacu pada tradisi Perjanjian Lama yang kaya.
Sebagai contoh, kisah visi Yesaya tentang tahta Allah dibaca selama kebaktian
(Yesaya 6: 6-7). John Baggley menjelaskan arti dari bacaan ini karena
diterapkan secara tipologis pada Perayaan: Teks ini kemudian dilihat dalam
terang Inkarnasi sebagai bayangan dari Inkarnasi itu sendiri: batu bara
pembakaran yang menghilangkan rasa bersalah dan membawa pengampunan adalah
simbol dari Anak yang Berinkarnasi, dan tong-tong dengan mana serafim membawa
batu bara dari mezbah surgawi bagi nabi adalah simbol Perawan yang melaluinya
Inkarnasi terjadi. Dalam konteks Pertemuan Tuhan, interpretasi tipologisnya
tepat: serafim dengan penjepit dan batu bara api efektif dalam memurnikan nabi
Yesaya dan mempersiapkannya untuk pelayanannya sebagai seorang nabi, dan lebih
banyak lagi pendekatannya. Perawan Bunda yang membawa di lengannya api
inkarnasi mempersiapkan Simeon untuk keberangkatan ini untuk mewartakan kepada
Adam dan Hawa (dalam Hades) kabar baik Inkarnasi dan misteri rahmat. Visi
Yesaya terkait dengan Inkarnasi dalam tradisi interpretatif Gereja. Seperti
sebuah troparion (nyanyian pujian) dari Magnificat of the Feast mengatakan:
“Maria, Engkau adalah the Mystic Tongs, yang telah mengandung dalam rahimmu
Kristus Bara hidup.” Sama seperti nabi Yesaya menerima batu bara hidup dan
tidak dibakar tetapi disucikan dan dimurnikan menjadi seorang nabi, demikian
juga Simeon yang saleh menerima batu bara hidup dari Theotokos dan tidak
dibakar tetapi dimurnikan, menurut perkataan, “Lihatlah, Dia telah menyentuh
bibirmu dan mengampuni pelanggaranmu dan menyucikan dosa-dosamu.” Kita hari ini
telah melihat jauh lebih banyak daripada yang Simeon lihat. Tuhan telah
mengijinkan kita untuk melihat jauh, jauh melebihi apa yang Simeon pikir telah
dia lihat ketika dia berkata, “Mataku telah melihat keselamatanmu …” karena
Simeon belum melihat semua mukjizat yang Yesus lakukan, terutama
kebangkitan-Nya. Dia belum melihat semua martir dan pengakuan Gereja. Kita hari
ini yang telah melihat jauh lebih banyak harus memiliki iman yang lebih besar
daripada yang pernah dimiliki Simeon. Dalam 1 Petrus 1: 3-9, Rasul Petrus
menggambarkan beberapa berkat yang Simeon tidak pernah saksikan. Simeon sering
disebut Theodochos atau Tuan Rumah Tuhan di Gereja Timur. Ini karena sangat
penting yang ditempatkan pada dia mengambil anak Kristus dari pelukan Maria dan
mempersembahkannya kepada Allah. Dipuji sebagai penerima Allah, dia diangkat di
hadapan kita sebagai contoh sakral tentang bagaimana kita perlu menerima
Kristus, yaitu, bertemu dengan-Nya tidak hanya secara komunal sebagai anggota
tubuh-Nya tetapi juga secara pribadi. Apakah kita perlu diingatkan bahwa setiap
orang yang menerima Kristus dalam Perjamuan Kudus adalah seorang Theodochos?
Bukankah ini menjadikan Simeon simbol bagi setiap orang Kristen sejati? Kata
“bertemu” di sini mengingatkan kita bahwa kita masing-masing, yang diilhami
oleh Roh Kudus yang sama seperti Simeon, harus mengadakan “pertemuan”
pribadinya dengan Yesus dalam konteks Tubuh Kristus, Gereja. Jika hubungan iman
kita dengan Yesus ingin menjadi nyata dan menjadi hidup, kita harus bertemu
Yesus seperti yang dilakukan Simeon dan Hana pada hari ini. Sebagai contoh,
saya suka bertemu dengan Yesus secara pribadi setiap pagi dalam doa dan dalam
membaca firman-Nya. Hanya pada saat itu – ketika kita bertemu Yesus dan melihat
dengan mata kepala kita sendiri keselamatan Allah – hanya dengan demikian kita
dapat “pergi dengan damai.” Hanya dengan demikian hidup akan memiliki
makna. Hanya dengan begitu kita dapat mengalami pemenuhan sejati. Apakah kita
ingat pertama kali kita pergi ke gereja? Saya tidak, tetapi saya telah diberitahu
tentang itu berkali-kali. Kita dapat yakin bahwa Yesus juga sering diberi tahu
tentang berkat-Nya selama 40 hari. Dia baru berusia empat puluh hari, dan Lukas
memberi tahu kita bahwa Dia dibawa ke bait suci oleh Maria dan Yusuf
“setelah pemurnian mereka selesai sesuai dengan hukum Musa.” Umum di
Timur dan Barat, inilah ritus indah dari “Gereja Bunda dan Anak pada Hari Ke
Empat Puluh Setelah Lahir”. Betapa indahnya bagi orang tua Kristen untuk datang
ke gereja dengan anak mereka yang baru lahir pada hari keempat puluh untuk
berlutut di hadapan Tuhan dan bersyukur ketika imam membawa anak itu di depan
altar untuk mempersembahkannya kepada Tuhan bahkan seperti Yesus. 112 Yesus
dibawa ke bait suci tepat empat puluh hari setelah kelahiran-Nya sehingga orang
tua-Nya dapat menyerahkan Dia kepada Tuhan. Yesus adalah putra sulung Maria,
dan dianggap milik Tuhan dengan cara yang sangat istimewa. Setiap anak milik
Tuhan. Anak-anak hanya dipinjamkan kepada kita oleh Tuhan. Itu diberikan kepada
kita sehingga kita dapat “mempersembahkan” mereka kepada Tuhan. Tujuan utama
kita sebagai orang tua adalah untuk membawa anak-anak kita kepada Kristus,
untuk “mempersembahkan” mereka kepada-Nya, untuk membantu mereka tumbuh
mengenal Allah di dalam Kristus dengan cara yang sangat pribadi dan nyata. Ini
hanya dapat dilakukan oleh Ayah dan Ibu di rumah karena mereka menjalankan iman
Kristen mereka 24 jam sehari. Itu tidak dapat dilakukan oleh gereja atau
sekolah Minggu. Ini merupakan upaya total dari orang tua untuk melakukannya dan
tidak tergantung pada gereja saja untuk pendidikan agama anak-anak mereka.
Gereja hanya berusaha menambah apa yang sedang dilakukan di rumah. Apa yang
dapat dilakukan satu jam seminggu di gereja dibandingkan dengan 168 jam setiap
minggu yang dihabiskan anak-anak di rumah? Jika anak-anak tidak belajar berdoa
di rumah, mereka tidak akan pernah belajar berdoa di tempat lain. Jika mereka
tidak belajar menikmati membaca firman Allah di rumah, mereka tidak akan pernah
mempelajarinya di tempat lain. Yesus dipersembahkan kepada Allah empat puluh
hari setelah kelahiran. Kita diperlihatkan kepada Tuhan empat puluh hari
setelah kelahiran kami. Tujuan utama kita adalah untuk mempersembahkan diri
kita dan anak-anak kita kepada Tuhan setiap hari dalam penyerahan, komitmen,
doa, dan pelayanan (Rom 12: 1). Sangat disayangkan bahwa banyak takhayul telah
tumbuh di sekitar kebiasaan yang indah ini, yaitu, bahwa adalah sial bagi
seorang wanita untuk meninggalkan rumahnya setelah melahirkan sampai dia datang
ke gereja untuk upacara ini; atau bahwa seorang wanita dianggap “najis” selama
empat puluh hari setelah melahirkan; atau bahwa dia tidak seharusnya pergi ke
gereja sampai waktu upacara gerejanya; atau bahwa dia tidak seharusnya menerima
Ekaristi sampai setelah upacara ini, dll. Sungguh disayangkan bahwa upacara
syukur yang indah kepada Tuhan untuk kelahiran baru ini harus dinodai dan
diubah oleh begitu banyak takhayul! Beberapa kebiasaan ini mungkin berlaku
dalam Perjanjian Lama di mana, misalnya, seorang wanita dianggap najis setelah
melahirkan, tetapi tidak dalam Perjanjian Baru. Kristus, yang adalah kebenaran,
telah membebaskan kita dari takhayul. Betapa luar biasa bagi seorang ibu untuk
datang ke gereja pada hari keempat puluh dengan suaminya berlutut di hadapan
Tuhan dan bersyukur ketika imam membawa anak itu ke altar untuk mengucapkan
terima kasih dan syukur. Alkitab memiliki ungkapan yang luar biasa, yang
menunjukkan bahwa “melalui kelahiran, seorang perempuan akan
diselamatkan” (1 Tim. 2:15). Apa pun arti ayat ini, itu menunjuk pada
peran paling penting dalam kehidupan Gereja bagi wanita. Pekerjaan prokreasi
hanya dimulai dengan kelahiran anak. Prokreasi tidak berakhir dengan
melahirkan. Ini berawal. Orang tua terus menciptakan kehidupan; terus
menciptakan kepribadian pada anak-anak mereka dengan jenis suasana iman
keluarga yang mereka berikan. Apakah ada tugas yang lebih sakral atau lebih
mulia dari ini? Orang tua memiliki hak istimewa yang luar biasa untuk bisa
“menyelamatkan” dunia melalui persalinan dan pengasuhan seperti ini.
Ikon pertama Allah yang dilihat anak adalah wajah ibu dan ayah. Satu orang
berkata, “Awalnya orang tua dan keluarga saya adalah gereja. Mereka adalah
orang-orang yang menyampaikan iman kepada saya, yang memelihara saya tidak
hanya secara fisik tetapi juga secara rohani. “Mungkin itu sebabnya St.
Chrysostom menyebut pernikahan” ikon misterius Gereja “? Dan Rasul
Paulus menyebut rumah itu “gereja di rumahmu”? Dan mungkinkah ini
sebabnya Klemens dari Aleksandria menyarankan bahwa dua atau tiga orang
berkumpul dalam nama Kristus maka Kristus akan hadir (lihat Mat. 18:20) adalah
“suami, istri dan anak”? Agustinus tidak meragukan hal ini ketika dia menulis
tentang ibunya, Monica, “yang membawaku untuk melahirkan keduanya di tubuhnya
sehingga aku dilahirkan dalam cahaya waktu, dan di dalam hatinya sehingga aku
dilahirkan dalam cahaya keabadian ” Anak-anak tidak boleh dibesarkan dalam
isolasi. Mereka perlu disambut, dipelihara, dididik, dan dicintai. Pelayanan
Gereja Ibu dan Anak membuka pintu bagi pemenuhan tugas sakral ini. 113 Ikon ini
menggambarkan Ypapante, Pertemuan Perjanjian Lama dan Baru. Simeon dan Hana,
para nabi Perjanjian Lama, bertemu dengan Mesias Perjanjian Baru dan
menyatakannya demikian: Adegan “Pertemuan” berlangsung di bait suci,
di depan altar, yang diwakili secara ikonografis dengan kanopi, yang merupakan
cara sederhana untuk mewakili sebuah bait suci. Di sisi kiri altar berdiri
Bunda Allah mengulurkan kedua tangannya yang ditutupi dengan mafor dalam sikap
persembahan. Dia baru saja menyerahkan Putranya kepada Simeon, yang menurut
Alkitab bukan seorang imam. Di sebelah Bunda Allah berdiri Hana, putri Fanuel,
“yang lanjut umurnya ” yang terus menunggu di bait suci “beribadah dengan doa
dan puasa,” berharap dengan keinginan besar untuk melihat Mesias. Di sebelah
Hana berdiri Yusuf yang membawa lipatan pakaiannya dengan persembahan dari
orang tua yang miskin (Im. 12: 8), dua merpati atau dua merpati muda. Simeon,
tokoh utama dari ikon itu, disebut “Tuan Rumah Tuhan” (theodochos)
dan “Dia yang telah melihat Tuhan” (theoptis). Karena bagi Musa,
Allah tampak diselimuti kegelapan, sementara Simeon membawa Firman Allah yang
Kekal dalam genggamannya. Anak dalam ikon berpakaian, tidak telanjang.
Theotokos terlihat muda. Semua lima tokoh dalam ikon digambarkan dengan
lingkaran cahaya. Hana memegang sebuah gulungan yang bertuliskan kata-kata,
“Anak ini memciptakan langit dan bumi.” Ekspresi wajah Simeon
menyampaikan kata-kata yang diucapkannya, “Tuhan, sekarang biarkan hambamu
pergi dengan damai ….” Himne pemberhentian pesta itu jauh lebih
sederhana daripada ikon atau Injil karena hanya berbicara tentang tiga tokoh
utama: Kristus, Theotokos, dan Simeon: Bersukacitalah, hai kamu yang penuh
kasih karunia, hai Perawan Theotokos, karena engkau telah membangkitkan matahari
Kebenaran, Kristus, Allah kita, menerangi orang-orang dalam kegelapan.
Bersukacitalah, Hai Penatua yang saleh, seperti yang kamu terima dalam
pelukanmu, Penebus jiwa kita, Yang juga mengaruniakan kepada kita Kebangkitan.
114 Megalynarion, atau magnificat, untuk pesta itu hanya menyebutkan tiga tokoh
utama dan kuil. Hari ini Maria yang paling murni hadir di bait Sang Pencipta
sebagai seorang bayi, yang menerima dalam pelukannya, sang Penatua
mendeklarasikannya sebagai Tuhan, meskipun Ia mengambil sendiri daging. Sesuai
dengan tradisi kuno, tangan Simeon ditutup untuk menghormati keagungan Yesus.
Maria dan Yusuf terkejut dengan kejadian itu (Lukas 2:33), karena Simeon juga
menubuatkan bahwa kemunculan Kristus akan menimbulkan banyak ketidaksepakatan,
dan bahwa Bunda-Nya akan sangat menderita dalam jiwanya, seolah-olah tertusuk
oleh pedang (Lukas 2: 34-35). Nabi Hana adalah salah satu yang pertama
menyebarkan berita tentang Yesus di antara orang-orang yang sedang menunggu
Juruselamat (Lukas 2:38). Simeon tidak digambarkan sebagai seorang imam, juga
tidak berpakaian seperti seorang imam, tetapi ia ditempatkan di tangga dekat
altar. Setelah menerima anak itu dalam pelukannya, dia membungkuk dengan hormat
atas anak itu. Dalam kata-kata John Baggley, “Batu Bara dari Keilahian
yang berinkarnasi telah dibawa ke Bait Suci oleh Theotokos sebagai penggenapan
nubuat, dan telah disambut dengan sukacita di tangan Simeon.” Receive Him,
O Simeon, Whom Moses on Mount Sinai beheld in the darkness as the Giver of the
Law. Receive Him as a babe now obeying the Law. For He it is of Whom the Law
and the Prophets have spoken, incarnate for our sake and saving mankind. Come
let us adore Him!
Referensi: Catena Aurea, https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-63.shtml#_Toc384506963
Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their
Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.
Annunciation
Kata Yunani untuk Annunciation,
“pemberitaan” (evangelismos) secara harfiah berarti “kabar
baik.” Ini mengacu pada inkarnasi dari Firman Allah yang merupakan kabar
baik terbesar dalam sejarah. Kabar Sukacita atau Annunciation adalah permulaan
yang agung di dalam Kekristenan dan awal dari semua Perayaan Tuhan. Lagu himne
dinyanyikan, “Hari ini adalah mahkota keselamatan kita dan manifestasi
dari misteri kekekalan ….” Perayaan ini mengacu pada peristiwa di mana
malaikat Gabriel mengunjungi Theotokos atas perintah Allah untuk memberitahunya
bahwa saatnya telah tiba untuk Inkarnasi Sabda Allah, dan bahwa ia akan menjadi
ibu-Nya (Lukas 1: 26-56). Annunciation dirayakan setiap tahun pada tanggal 25
Maret (kalender baru). Perayaan ini pada kenyataannya adalah pesta ganda yang
menghormati Tuhan kita dan Bunda-Nya. Theotokos dihormati tidak hanya karena
kebajikannya tetapi terutama untuk buah rahimnya. Kabar baik dari Hari Raya
yang agung ini adalah bahwa, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya
menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2
Kor 5:21 TB) Persekutuan penuh antara Allah dan manusia kini telah mapan,
sehingga dalam Kristus kita diadopsi jadi anak-anak Allah dan mengalami
pengilahian (deifikasi). Putra Allah, yang dari segala kekekalan telah ada di
pangkuan Bapa dan telah menjadi instrumen dalam penciptaan alam semesta,
sekarang mengosongkan Diri-Nya dari kemuliaan-Nya dan “mengambil rupa
seorang hamba.” Allah dan manusia sekarang dipersatukan; kita yang berbeda,
tetapi sekarang selamanya tidak dapat dipisahkan. Dia datang untuk membawa
pengampunan kepada orang berdosa, penebusan bagi tahanan dosa, kebebasan bagi
para tawanan, dan kehidupan bagi orang mati. Metropolitan Hierotheos menyebut
Kabar Gembira itu sebagai “Koreksi pengucapan kejatuhan manusia di Taman Eden.
Dari seorang perempuan itulah musim gugur dimulai, di sini dari seorang 115
Maria semua hal baik dimulai. Theotokos menjadi Hawa yang baru. Ada Adam,
sekarang Kristus. Ada Hawa, sekarang Maria. Di sana ular, di sini Malaikat
Gabriel. Di sana ada bisikan ular kepada Hawa, di sini salam malaikat untuk
Maria. Dengan cara ini, dosa Adam dan Hawa diatasi.” Ketika malaikat
Gabriel mengumumkan kepada Maria bahwa saatnya telah tiba inkarnasi Sabda
Allah, Maria mengalami “masalah” dan agak tidak percaya dan ini
mengingatkan bagaimana Setan telah menipu Hawa pertama kali. Ini diungkapkan
dalam dua nyanyian kebaktian Vesper (sembahyang malam) dan Matins (sembahyang
pagi): Maria berkata kepada Malaikat: “Sungguh tidak masuk akal ucapanmu
dan penampilanmu yang aneh, ucapanmu yang aneh dan pengungkapanmu. Saya seorang
hamba yang belum menikah, jangan sampai membuat aku tersesat. Engkau berkata
bahwa aku akan mengandung Dia yang tidak terbatas dan bagaimana rahimku bisa
mengandung Dia yang tidak bisa dikandung oleh ruang-ruang luas langit? “O
sang perawan, biarkan kemah Abraham yang dulu Allah berdiam di dalamnya
mengajari kamu; karena kemah itu adalah figur dari rahimmu, yang sekarang
menerima Ketuhanan.” (lihat Kej 18: 1-16) “Aku dipenuhi dengan sukacita
akan kata-katamu, tetapi takut: Aku takut kamu menipu aku, seperti Hawa
tertipu, dan menuntunku jauh dari Allah. Namun lihat, engkau berseru: Wahai
semua pekerjaan Tuhan, berkatilah Tuhan.” “Maria berkata kepada Gabriel,
“… Bagaimana ini bisa terjadi, karena aku belum bersuami? ‘Dan malaikat
itu menjawab dan berkata kepadanya, ‘Roh Kudus akan turun atasmu, dan kekuatan
Yang Mahatinggi akan menaungi kamu; oleh karena itu, juga, Pribadi Kudus yang
akan dilahirkan akan disebut Anak Allah” (Lukas 1: 34-35). Kata Maria:
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu
itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:38 TB). Tanggapan langsung
Maria terhadap malaikat agung Gabriel mendorong Metropolitan Philaret dari
Moskow menulis: “In the days of the creation of the world, when God was
uttering his living and mighty “Let there be,” the word of the Creator brought
creatures into the world. But on that day, unprecedented in the history of the
world, 116 when Mary uttered her brief and obedient, “so be it,” I hardly dare
say what happened then—the word of the creature brought the Creator into the
world.” Allah tidak memilih Maria tanpa memintanya menjadi Theotokos. Dia
sangat menghormati karunia kehendak bebas yang Dia berikan kepada kita. Setelah
Maria menanggapi dengan kata-kata, “jadilah itu… Biarlah itu dilakukan kepadaku
menurut kata-katamu,” Gabriel memanggilnya “Salam Maria, penuh rahmat.” Pada
saat itu, Maria dibersihkan dari dosa leluhur, dan Firman Tuhan dikandung dalam
rahimnya. Inkarnasi bukan hanya karya Allah, dengan kuasa-Nya dan oleh Roh-Nya
tetapi juga karya kehendak dan iman Perawan. Tanpa persetujuan dari Yang Tak
Bernoda, tanpa persetujuan dari imannya, rencana itu tidak dapat direalisasikan
sebagaimana seharusnya. Hanya setelah menginstruksikan dan membujuknya bahwa
Tuhan meminjam dagingnya, Maria dengan sukarela meminjamkannya. Sama seperti
Kristus menjadi penjelmaan sukarela, jadi Dia berharap bahwa Bunda-Nya harus
menanggung Dia dengan bebas dan dengan persetujuan penuh darinya. Maria harus
murni untuk menanggung Firman Allah yang murni. Dia harus tidak bernoda, tetapi
dia dibuat tak bernoda bukan di dalam rahim ibunya tetapi pada hari
Annunciation setelah dia menyetujui permintaan Allah. Saat dia berkata,
“Jadilah padaku menurut perkataanmu” – pada saat itulah dia dibuat “tak
bernoda” – “penuh rahmat ” dan Firman itu dikandung di dalam dirinya oleh Roh
Kudus. Karena alasan inilah beberapa orang menyebut ikon Kabar Sukacita sebagai
ikon Inkarnasi. Dari saat persetujuan Maria, Yesus dikandung dalam rahim yang
baru lahir dan mulai secara fisik hadir di bumi. Inkarnasi dimulai pada Hari
Annunciation. Sembilan bulan setelah Peringatan (25 Maret), Firman itu lahir
(25 Desember). Karena alasan inilah Gabriel berkata kepada Maria setelah
penerimaannya, “Bersukacitalah, Maria, penuh rahmat, Tuhan menyertai kamu,
terberkatilah kamu di antara wanita-wanita” (Lukas 1: 28-29). Origenes mencatat
bahwa di tempat lain dalam Alkitab tidak ada kata-kata yang ditujukan kepada
manusia. Seperti kita, Maria dilahirkan dengan dosa 117 leluhur. Dia memiliki
semua konsekuensi dari kefanaan dan kematian di tubuhnya. Kata-kata Rasul
Paulus jelas: “… semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan
kemuliaan Allah” (Rom 3:23). Pada saat persetujuannya itulah Maria
dilepaskan dari dosa asal. Pada saat itulah Roh Kudus mengandung firman Allah
di dalam rahimnya. Pada saat inilah dia dibuat tak bernoda. Metropolitan
Hierotheos menulis, “Therefore for the Panagia (Mary) no Pentecost, no
Baptism was needed. What the apostles experienced on the day of Pentecost when
they became members of the Body of Christ through the Holy Spirit, and what
happens to all of us in the sacrament of Baptism, happened to the Panagia on
the day of the Annunciation. It was then that she was released from the
ancestral sin, not that she had any guilt, but she was deified in soul and body
by reason of her union with Christ.” BEBERAPA DETAIL DARI IKON Di semua
versi ikon, Maria di sebelah kanan dan malaikat utama Gabriel di sebelah kiri.
Bagian atas ikon memiliki bola terungkap sebagian yang merupakan simbol surga.
Itu menunjukkan kehadiran Allah Bapa. Dalam kebanyakan ikon, sinar cahaya
memancar dari bola ke Maria. Itu melambangkan Roh Kudus yang menaungi Maria.
Malaikat Gabriel muncul di sebelah kiri dengan sayap untuk menandakan kecepatan
malaikat terbang untuk melaksanakan perintah Allah. Mereka tidak berjalan atau
berlari; mereka terbang. Dalam banyak ikon Annunciation, Maria digambarkan
memegang benang yang dengannya ia menjahit kerudung untuk Mahakudus di Bait
Suci. John Baggley menyatakan, “In some icons Mary is shown holding the
yarn; in others it (the yarn) is shown falling to the ground as she lets go and
attends to the appearance and message of the Archangel. Work on the veil for
the Temple is allowed to fall aside as Mary attends to the higher vocation
announced by Gabriel. The task of needlework that is being accomplished for the
Jerusalem Temple is laid aside at the moment when Mary is called upon to
fulfill her vocation to be the Temple of God…. From this moment she will be the
Theotokos, the God-Bearer, the One through Whom the second Adam will be born.
She is to prepare not only furnishings for the Jerusalem Temple, but the very
flesh and humanity of Him whose presence heralds a New Creation. She becomes
the Living City of Christ the King.” Dalam banyak ikon Annunciation, dua
bangunan di latar belakang dihubungkan oleh kain merah, simbol pemulihan atau
keutuhan yang dimungkinkan oleh Inkarnasi. Hubungan antara Allah dan manusia
dipulihkan. “Dinding pemisah permusuhan” antara mereka telah dihapus.
Satu catatan juga bahwa Gabriel tampaknya sedang melayang sementara Maria
duduk. Karena dia adalah makhluk spiritual, Gabriel tampaknya tidak berdiri di
lantai tetapi melayang di atasnya. Dalam ikon itu, Maria mengarahkan tangannya
ke arah malaikat agung meminta jawaban atas keraguan yang menyerangnya dan pada
saat yang sama menundukkan kepalanya saat dia menyatakan kepatuhannya. Dalam
banyak ikon, ia menempelkan telapak tangannya ke dadanya— isyarat penerimaan
atau ketaatan pada kehendak Tuhan. “Lihatlah tangan hamba Allah, jadilah
padaku menurut perkataan-Mu.” Vladimir Lossky menjelaskan ikon
Annunciation sebagai ikon yang mengungkapkan kesukaan besar: “Like the
Gospel story (Luke 1:26-38) and the religious service of the feast, the icon of
the annunciation is permeated with deep inner joy. It is the joy of the Old
Testament promise being fulfilled through the incarnation of the Redeemer of
the world. “To-day is the beginning of our salvation and the manifestation of
the Eternal Mystery. The Son of God becometh the Son of the Virgin, and Gabriel
announceth the good tidings of grace. Wherefore let us also with him cry to the
Mother of God: Hail Thou that art full of grace; the Lord is with Thee.” This
joy is in the colours, in the festive renderings of details, and in the posture
of the Archangel. The majority of icons depict him in swift motion: he has just
descended from heaven and “his look is the look of a diligent servant intent on
carrying out the task given by his Master.” His legs are wide apart as though
he were running. In his left hand he holds a staff, the symbol of a messenger,
his right hand, with a strong movement, is stretched towards the Virgin Mary;
he communicates to her the glad tidings from his Master, the Mystery of the
Divine Providence.” Tindakan Allah Tritunggal dinyatakan melalui ikon ini.
Malaikat Gabriel mengumumkan kehendak Bapa. Sang Anak dikandung dalam rahim
Theotokos. Roh Kudus, melalui kuasa-Nya, menyelesaikan Inkarnasi ilahi. 118
Aplikasi Perayaan Annunciation, Kabar Sukacita besar, akan kehilangan makna
sebenarnya jika hal itu tidak menjadi pribadi dan dialami oleh kita
masing-masing. Perayaan ini harus menjadi perayaan pribadi kita dan pemberitaan
pribadi kita. Para Bapa Gereja mengatakan bahwa Firman Allah adalah benih; hati
manusia adalah rahim. Ketika benih ini ditaburkan di dalam hati kita (rahim),
kita harus bekerja untuk memungkinkan Roh Kudus menghamili kita dengan
buah-buah Roh Kudus. Rasul Paulus menyatakan, “Anak-anakku, karena demi kamu
aku menderita sakit bersalin lagi sampai rupa Kristus terbentuk di dalam kamu”
(Gal 4:19). Usaha kita adalah perjuangan askesis untuk dimurnikan dari hawa
nafsu dan memungkinkan Kristus dibentuk di dalam diri kita (pengilahian). Apa
yang terjadi secara fisik kepada Maria, Theotokos yaitu mengandung bayi Ilahi
harus terjadi secara rohani kepada setiap orang percaya yang dibaptis karena
Kristus dibentuk di dalam kita seperti Dia dibentuk di dalam rahim Ibu-Nya.
Inilah alasan mengapa Ikon Tanda, Theotokos dengan mandorla Kristus di dalam
rahimnya, muncul di dinding depan banyak gereja Orthodox untuk mengingatkan
kita bahwa tujuan hidup kita adalah untuk “mengenakan Kristus.” Ketika
dia pergi mengunjungi sepupunya, Elizabeth, yang pada saat itu sedang
mengandung Yohanes Pembaptis, Elizabeth menyapa Maria dengan kata-kata ini:
“lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua
perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku
datang mengunjungi aku?” (Lukas 1:42-43 TB) Dan Maria sendiri, dengan
ilham Roh Kudus, meramalkan kehormatan yang akan dibayarkan kepadanya sepanjang
sejarah: “sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya,
mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk
1:48 TB) Amin! Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their Message.
Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012. 119
Palm Sunday
Keesokan harinya ketika orang banyak
yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan
menuju Yerusalem, 13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong
Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama
Tuhan, Raja Israel!” 14 Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik
ke atasnya, seperti ada tertulis: 15 “Jangan takut, hai puteri Sion,
lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.” 16 Mula-mula
murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan,
teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah
melakukannya juga untuk Dia. 17 Orang banyak yang bersama-sama dengan Dia
ketika Ia memanggil Lazarus keluar dari kubur dan membangkitkannya dari antara
orang mati, memberi kesaksian tentang Dia. 18 Sebab itu orang banyak itu pergi
menyongsong Dia, karena mereka mendengar, bahwa Ia yang membuat mujizat itu. 19
Maka kata orang-orang Farisi seorang kepada yang lain: “Kamu lihat
sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang
mengikuti Dia.” (Yoh 12:12-19 ITB) Kebangkitan Lazarus Banyak orang
menyaksikan kebangkitan Lazarus oleh Yesus di Betania dan kemudian mereka
memberikan kesaksian tentang peristiwa itu kepada banyak orang di Yerusalem. Yesus
membuat mukjizat: membangkitkan Lazarus yang sudah mati selama 4 hari (baca
Yohanes 11:1-44). Gereja memperingatinya sebagai Sabtu Lazarus atau Kebangkitan
Lazarus sehari sebelum perayaan Yesus memasuki Yerusalem pada hari Minggu, satu
minggu sebelum Perayaan Paskah atau Kebangkitan Yesus. Dua perayaan ini saling
berkaitan. Kebangkitan Lazarus adalah mukjizat besar terakhir yang dilakukan
Yesus sebelum kebangkitan-Nya pada hari Paskah. Kebangkitan Lazarus adalah
bayangan dari kebangkitan Yesus. Seperti peristiwa Transfigurasi Yesus di
gunung Tabor (Mat 17:1-13) dimaksudkan untuk memperkuat iman para murid bahwa
mereka mungkin dapat menanggung penderitaan yang akan datang dan kematian
Yesus, demikianlah mukjizat kebangkitan Lazarus dimaksudkan untuk para murid
sebagai suatu demonstrasi yang tidak terbantahkan akan kuasa dan kemenangan
Kristus atas kematian. Sekali lagi Kristus mencoba untuk memperkuat iman para
120 murid-Nya sebelum penderitaan-Nya, sehingga mereka dapat percaya bahwa Ia
akan bangkit dari kubur seperti yang dilakukan Lazarus (Mat. 20:19; Mar 9:31;
Luk 18:33). Namun, Yesus tidak berhasil meskipun Dia telah menubuatkan
kebangkitan-Nya. Peristiwa kebangkitan Lazarus ini membuat banyak orang datang
ke Yerusalem menyongsong Yesus (Yoh 12:18) dan menyambut-Nya dengan penuh
sukacita. Mereka mengambil daun-daun palem (Yoh 12:13) dan menghamparkan
pakaian mereka di jalan (Mat 21:8) sambil berseru-seru: “Hosana!
Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”. Yesus
disambut dengan luar biasa dan gemparlah seluruh Yerusalem (Mat 21:10). Yesus
yang menunggangi seekor keledai muda adalah Raja Israel yang dinubuatkan dalam
Perjanjian Lama: Mazmur Daud 118:25-26 dan Nabi Zakariah 9:9-10. Namun
sebetulnya apa yang mereka harapkan dari seorang Raja Israel bukanlah Raja
secara politik yang sementara melainkan Raja yang Kerajaan-Nya kekal selamanya
mencakup seluruh penjuru dunia seperti nubuat nabi Zakariah. Orang-orang
membawa daun palem melambai-lambai tetapi ini adalah sambutan yang diberikan orang
kepada pemimpin militer besar, Yudas Maccabeus, ketika dia menaklukkan tentara
Suriah dan mengambil alih Yerusalem (lihat 1 Makabe 13:51). Apakah Yesus ingin
disambut sebagai pemimpin militer? Kerumunan menyatakan harapannya bahwa Dia
akan menjadi Raja mereka. Mereka menyambut Dia sebagai orang yang datang dalam
nama Tuhan: “Raja Israel.” Mereka mencari seorang raja Daud, seorang
penakluk. Tetapi tanggapan Yesus adalah tanpa kata-kata. Dia justru mengambil
binatang yang rendah hati, seekor keledai muda, dan naik ke Yerusalem untuk
memenuhi perkataan nabi Zakharia bahwa seorang raja yang rendah hati, yang akan
ditikam dan dibunuh, akan datang dengan menunggang keledai muda (Zak 9:9).
Yesus sebagai 121 Raja Israel adalah Raja yang rendah hati. Tunggangan keledai
muda adalah kegenapan dari nubuat nabi Zakaria 9:9-10. Keledai muda di sini
adalah simbol kerendahan hati sang Raja yang datang bukan untuk dilayani
melainkan melayani dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang
(Mat 20:28). Kebangkitan Lazarus dan Yesus memasuki Yerusalem adalah masa Pekan
Kudus atau Minggu Kesengsaraan Kristus yang puncaknya pada hari penyaliban dan
kematian Kristus di atas kayu salib. Anak-anak, Daun Palem, dan Pakaian Di
dalam Ikon dilukiskan bahwa mereka yang memotong daun Palem, melambaikan
daun-daun itu, dan menghamparkan pakaian mereka di jalan adalah anak-anak kecil
bukan orang dewasa. Ini mengandung makna spiritual tentunya. Mengapa anak
kecil? Yesus pernah mengajarkan, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa
tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk
ke dalamnya.” (Mk. 10:15 TB) Daun Palem adalah simbol sukacita. Daun ini
digunakan untuk menyambut orang-orang berpangkat tinggi seperti raja atau
jenderal perang. Daun ini juga berfungsi sebagai simbol keberanian atau
tindakan heroik. Demikianlah orang-orang berkumpul di gerbang kota untuk
menyambut Tuhan menunggang keledai sebagai penakluk maut. Sebagian besar ikon
menggambarkan Juruselamat mengendarai ke samping. Kepalanya sedikit diputar ke
arah para Rasul yang berjalan di belakang-Nya atau ke Yerusalem. Tangan
kanannya memberkati atau menunjuk ke kerumunan atau kota. Seorang penulis
membayangkan apa yang pasti dipikirkan Yesus ketika ia pergi ke Yerusalem:
Yesus nampak sepenuhnya berkonsentrasi pada sesuatu yang lain. Dia tidak
melihat kerumunan yang bersemangat. Dia tidak melambai. Dia melihat melampaui
semua kebisingan dan gerakan menuju apa yang ada di depannya: perjalanan
pengkhianatan, penyiksaan, penyaliban, dan kematian yang menyakitkan. Matanya
yang tidak fokus melihat apa yang bisa dilihat oleh siapa pun di sekitarnya;
dahinya yang tinggi mencerminkan pengetahuan tentang hal-hal yang jauh
melampaui pemahaman siapa pun. Ada kemurungan, tetapi juga kedamaian. Ada
wawasan tentang kekerasan hati manusia, tetapi juga belas kasih yang luar
biasa. Ada kesadaran yang mendalam tentang penderitaan yang tak terkatakan
tetapi juga tekad yang kuat untuk melakukan kehendak Allah. Di atas segalanya,
ada cinta, cinta yang tak berkesudahan, dalam, dan jauh yang lahir dari
keintiman yang tak terpatahkan dengan Allah dan menjangkau semuanya.
Penghamparan pakaian juga menyimbolkan atribut dari seorang raja yang diurapi
(2 Raj 9:13). Karena Juruselamat adalah Yang Diurapi yang “Kerajaannya bukan
dari dunia ini” (Yoh 18:36), pakaian dibagikan di hadapan-Nya oleh anak-anak
bukan oleh orang dewasa. Anak-anak yang menyambut Dia sebagai Yang Diurapi
yaitu Kristus. Kita adalah anak-anak Allah yang melepaskan pakaian lama kita
untuk menyambut Kristus dan mengenakan pakaian yang baru (Gal 3:27). Melepaskan
pakaian lama adalah menanggalkan manusia lama dan mengenakan pakaian Kristus
yaitu manusia baru (Efe 4:24). Pakaian Kristus yang kita kenakan mewajibkan
kita untuk meneladani Dia. Kita menanggalkan pakaian lama atau manusia lama
kita yang penuh dosa, ikut menderita seperti Dia menderita, berjuang sampai
akhir hidup, menyerahkan nyawa kita di atas kayu salib seperti Dia menyerahkan
nyawa di atas kayu salib (1 Yoh 3:16). Sebab itu perintah Yesus jelas kepada
pengikut-Nya, “Menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti
Aku” (Mat 16:24). Kita harus ikut menderita memikul salib, mengalami
penyaliban daging beserta keinginannya (Gal 5:24) sampai pada puncaknya kita
mati menyerahkan nyawa kita (1 Yoh 3:16) adalah wujud partisipasi kita dalam
penderitaan Kristus (Kol 1:24). Hanya anak-anak yang demikian yang layak masuk
ke dalam Kerajaan Allah. Namun, di tengah perjuangan kita ada daun-daun Palem
yang anak-anak Allah pegang. Ini adalah simbol kemenangan dan sukacita bahwa
Kristus telah menang atas penderitaan, dosa, Iblis, dan maut sekalipun. Ketika
kita mengikuti Kristus yang menang ini kita pun akan ikut menang seperti
Kristus. Ada daun Palem yang kita pegang setiap hari yang mengingatkan akan kemenangan
Raja kita. Sebab itu Yesus juga mengajarkan, “Marilah kepada-Ku, semua
yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 122
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan
rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu
enak dan beban-Kupun ringan.” (Mat 11:28-30) Ada kontras antara anak-anak
dan orang dewasa. Metropolitan Hierotheos berkomentar tentang perbedaan dalam
menanggapi Yesus antara anak-anak dan bapak-bapak mereka: “Fakta yang
paling bertentangan adalah bahwa anak-anak menyanyikan puji-pujian bagi Kristus
sebagai Tuhan, sementara bapak mereka, para imam kepala dan ahli Taurat,
menghujatnya. Bapa Gereja Cyril dari Aleksandria membuat pengamatan yang sangat
baik, menggarisbawahi perbedaan ini. Dia mengatakan bahwa anak-anak mengenali
Tuhan ciptaan secara alami, sementara bapak mereka terbukti tidak berterima
kasih. Anak-anak menyanyikan pujiannya sebagai Tuhan, sementara bapak mereka
menyalibnya. Anak-anak menyanyikan hosanna, sementara ayah mereka berteriak
“biarkan dia disalibkan.” Yang muda dan bodoh dibuat bijaksana,
sementara yang bijak dibutakan. Anak-anak melempar pakaian mereka agar Kristus
dapat lewat, sementara ayah mereka membagi atau membuang pakaian Kristus.
Anak-anak menyambut Kristus dengan daun Palem, ayah mereka datang dengan
pedang. Anak-anak memberkati, sementara ayah mereka menghujat Dia. Anak-anak
sebagai domba menerima gembala, tetapi ayah mereka seperti serigala melahap
Anak Domba.” Ada momen ratapan dalam prosesi Minggu Palma yang penuh
sukacita ini. Ketika Yesus menyaksikan pemandangan Yerusalem dalam perjalanan
turun dari Bukit Zaitun selama prosesi, Dia menangisi kota itu karena Dia
meramalkan kehancuran yang akan menimpanya sebab penolakan kota itu atas
Dirinya (Lukas 19: 41-44). Hosana Kata “Hosanna” yang digunakan pada
Minggu Palem adalah bahasa Ibrani dan berarti “Selamatkan, aku
berdoa.” Kata ini berasal dari Mazmur 118: 25-27. Ini adalah sebuah
nyanyian pujian yang dipersembahkan kepada Allah dan diartikan sebagai
“selamatkan kami.” “Di tempat maha tinggi” menunjukkan
bahwa pujian kepada Tuhan tidak hanya ditawarkan di bumi tetapi juga di
ketinggian oleh para malaikat (St. Gregorius Palamas). 123 Kata “diberkati”
– “diberkati orang yang datang dalam nama Tuhan” – juga digunakan
pada Minggu Palem untuk memperingati Yesus yang datang “dalam nama
Tuhan.” St Nikodemos, orang Hagior mengatakan bahwa kata ini memiliki
makna ganda. Ini digunakan untuk menunjukkan kekudusan yang berasal dari Tuhan
dan diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Demikian juga, kata berkat digunakan
untuk menunjukkan pemuliaan dan ucapan syukur kita seperti dalam mazmur:
“Berkatilah TUHAN, hai jiwaku; dan semua yang ada di dalam diriku, berkatilah
nama-Nya yang kudus ” (Maz 103:1). Kedua ungkapan ini memiliki makna
kristologis yang dalam. Ungkapan “Hosana di tempat yang maha tinggi”
menunjuk pada nama agung Ketuhanan, sementara frasa “diberkati yang datang
dalam nama Tuhan” menunjuk pada kedatangan Mesias, yang sekarang memasuki
Yerusalem dengan sedikit kesedihan. Pohon Pohon di ikon memiliki arti ganda.
Tujuan utamanya adalah bahwa itu adalah sumber dari cabangcabang palem yang
diangkut orang. Beberapa ikon menunjukkan seorang anak di dahan pohon yang
patah. Tujuan keduanya adalah melambangkan “pohon” (salib) di luar tembok kota
tempat Yesus disalibkan. Salah satu nyanyian Gereja untuk perayaan Minggu Palem
mengatakan, “Dia yang duduk di atas takhta kerubim, demi kita, duduk di
atas seekor keledai; dan datang ke Penderitaan sukarela, hari ini Dia mendengar
anak-anak berseru, “Hosana!” 124 Siapa Dia? Pelajaran Injil yang
dibaca dalam Matius 21:1-11, 15-17 berbicara tentang masuknya Yesus ke
Yerusalem pada Minggu Palem: “Dan ketika Ia datang ke Yerusalem, seisi kota
bertanya, “Siapakah orang ini?” Siapa Dia? Itu adalah pertanyaan yang
diajukan Pilatus ketika Yesus berdiri di depannya. Itu adalah pertanyaan yang
sama yang ditanyakan Saulus ketika dia pertama kali bertemu Yesus di jalan
menuju Damaskus ketika dia berseru, “Siapakah Engkau, Tuhan?”
“Siapa kamu?” Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam
Besar itu bertanya kepadaNya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias,
Anak dari Yang Terpuji?” Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan
melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di
tengah-tengah awan-awan di langit.” (Mark 14:61-62 TB) Siapa Dia? Dua kali
dalam pelayanan Kristus, suara Allah Bapa terdengar dari surga, memberi tahu
kita siapa Yesus ini. Pada saat pembaptisan Kristus suara Bapa berkata dari
surga, “Ini adalah Anakku yang terkasih kepada-Nya Aku berkenan.”
Banyak orang mendengarnya, dan itu dicatat untuk diketahui sejarah. Pada
Transfigurasi dalam pendengaran tiga murid-Nya, suara Bapa terdengar lagi
berkata, “Ini adalah Putraku yang terkasih; dengarkan dia.” Suatu hari
Pilipus berkata kepada Yesus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,
itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama
Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa
telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata:
Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam
Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan
dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang
melakukan pekerjaan-Nya. (Yoh 14:8-10 TB) Jadi, inilah siapa Yesus itu. Tuhan
yang sejati dan manusia sejati dalam pribadi yang sama. Juruselamat kita
satu-satunya. Jalan, Kebenaran, Hidup. Tetapi pertanyaan yang sangat penting
adalah, “Siapakah Yesus bagimu?” “Apakah Dia Anak Allah bagi
kita? Apakah Dia Juruselamat untuk saya? Apakah Dia Jalan untukmu? Apakah Dia
Kebenaran untukmu? Apakah Dia Hidup untukmu? Apakah Dia pintu untukmu? Dia adalah
Yesus yang datang naik ke Yerusalem dari jiwamu dan milikku setiap Minggu
Palem. Dia datang untuk membangun takhta di mana Dia dapat memerintah dan
membuat kerajaan Allah menjadi kenyataan dalam diri kita masing-masing. Gereja
memberi kita daun Palem pada hari ini. Kita harus menggunakan ini untuk
mengakui bahwa Yesus memang Raja dan Tuhan pribadi kita. Secara teknis, daun
Palem harus dibagikan dalam Ibadah sehingga para penyembah dapat menahan mereka
selama liturgi untuk menyambut Kristus ketika Dia datang sebagai Raja kita
dalam membaca Firman dan dalam Perjamuan Kudus. Siapakah Dia? Kita berdoa
supaya kita menjawab seperti yang Petrus jawab, “Kamu adalah Kristus, Anak
Allah yang Hidup,” jangan sampai kita muncul di hadapan-Nya pada hari
penghakiman Dia berkata tentang kita, “Siapakah kamu? Aku tidak pernah
mengenalmu. Enyahlah dari saya.” Amin!
Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons
Speak: Their Message.Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.
Kenaikan Kristus Ke Sorga
Tidak ada seorang pun yang telah naik ke
sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
(Yoh 3:13) Kristus berasal dari Sorga karena Dia adalah Firman Allah yang
keluar dari Bapa mengenakan kemanusiaan dari Maria (Yoh 6:46; 7:28-29; 13:3;
8:42; 16:27-28,30; 17:7-8). Kristus naik ke Sorga setelah inkarnasi, kematian,
penguburan, dan kebangkitan. Dia kembali kepada asalnya dan akan datang kembali
untuk membawa kita kepada Allah (1 Pet 3:18). Kenaikan Kristus ke Sorga
memberikan kita waktu dan tempat untuk bertumbuh mengikuti jejak Kristus.
Kenaikan Kristus ke Surga menjadikan kita Kristus-kristus kecil yang diberi
kuasa oleh Roh Kudus untuk mengerjakan perintah Kristus di dunia (Kis 1:8). Roh
Kudus akan turun dan tinggal di dalam diri orang percaya (Yoh 7:38-39) sehingga
melalui kita sebagai Kristus kecil dan dengan kuasa Roh Kudus akan menginsafkan
dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh 16:8). Roh Kudus akan
memberitakan kepada dunia segala sesuatu tentang Kristus (Yoh 16:13-15). 126
Kenaikan Kristus ke Surga menunjukkan jalan kepada kita menuju Surga atau Bapa
(Yoh 14:4-6). Sehingga manusia memiliki arah tujuan yang jelas dalam hidup ini
yaitu manunggal bersama Allah dan Kristus (Yoh 17:3). Kenaikan Kristus ke Surga
dan lalu duduk di sebelah kanan Allah menjadi satu bukti bahwa Kristus adalah
penguasa (baca Tuhan) baik yang di bumi maupun di Surga (Efe 1:20-23; Kol
1:15-20; 1 Pet 3:22). Kristus adalah Tuhan (Yoh 13:13) sehingga seluruh hidup
kita adalah milik Kristus (Rom 1:6; 1 Kor 3:23). Kita memiliki Roh Kristus atau
Roh Kudus (Rom 8:9) sehingga kita adalah manusia ilahi atas God-man by grace.
Betapa mulianya kita bisa percaya dan menyembah Kristus. Dia adalah Firman
Allah yang berinkarnasi, Anak Tunggal Allah, pola ciptaan manusia dan
Juruselamat manusia, Jalan untuk membawa manusia kepada Allah, Tuhan dan
Pemilik hidup manusia, dan tujuan hidup orang percaya. Sehingga ketika Dia
sedang ada di Sorga sekarang merupakan jaminan kita akan menyatu dengan Allah
dalam Kristus. Hidup ini memang mulia dan layak dijalani karena kita akan
menjadi seperti Kristus yang sempurna di Sorga. Anthony Coniaris menulis,
“Life is worth living for many reasons. It is worth living because Christ
loves you. It is worth living because Christ died for you and rose again to give
you life. It is worth living because with Christ, life is both eternal and
abundant. But life is worth living, above all, because in Christ your destiny
is theosis, becoming Christ-like, god by grace. Therefore choose Christ and
live. With Christ, life can be lived meaningfully, divinely, royally,
victoriously, and eternally.” (Philokalia, 1998). Ikon Kenaikan Ikon
Kenaikan dilukiskan pada abad keenam dan digambarkan di kubah gereja pada abad
kesembilan. Kenapa kubahnya? Karena itu adalah titik tertinggi dari bangunan
gereja. 127 Bagian atas ikon menggambarkan Kristus bertahta dengan latar
belakang mandorla oval, yang mengekspresikan keilahian-Nya. Lingkaran itu
bertuliskan Salib dan kata-kata Ho On (“Yang Ada”). Tangan kanan Kristus
diangkat dalam berkat (Lukas 24:50), dan di tangan kiri-Nya Dia memegang sebuah
gulungan, lambang kebijaksanaan dan otoritas pengajaran-Nya, yang terus Dia
gunakan melalui Gereja. Dua Malaikat Dua malaikat muncul bersama-Nya ketika Dia
naik — malaikat yang sama yang menyanyikan pujian bagi-Nya pada Inkarnasi-Nya;
Malaikat yang sama yang melayani Dia ketika dia berdoa di Taman Getsemani;
Malaikat yang sama hadir juga pada kenaikan-Nya. Sebagaimana Nabi Raja Daud
menulis, “Dia naik kerub dan terbang; ia melayang di atas sayap angin ”(Mazmur
18:10). Malaikat tidak mendukung mandorla karena Juruselamat kita naik dengan
kekuatan-Nya sendiri dan tidak membutuhkan bantuan mereka. Dalam beberapa versi
ikon Kenaikan, sebagaimana telah dinyatakan, malaikat digambarkan meniup
sangkakala sesuai dengan kata-kata antifon, “Allah naik dengan sorakkan,
TUHAN dengan bunyi sangkakala” (Mazmur 47: 5) . Rasul Paulus digambarkan
sebagai penonton di kepala sekelompok murid di sisi kiri ikon. Namun secara
historis, dia tidak mungkin bersama para murid di Kenaikan. Dia termasuk untuk
mewakili semua orang yang percaya kepada Kristus tanpa hadir pada saat ini.
Para murid tampak agak bingung karena mereka belum diperkuat oleh kuasa khusus
Roh Kudus (Pentakosta). Theotokos menempati posisi yang menonjol di tengah
bawah ikon dengan dua malaikat berdiri di sisinya. Dia dipandang tidak hanya
sebagai Bunda Juru Selamat, tetapi sebagai Bunda Gereja, karena dia melayani
sebagai jembatan Allah bagi umat manusia. Perhatian para murid terbagi.
Beberapa memandang Maria; yang lain memperhatikan Kristus yang naik, sementara
Maria memandang ke arah penonton dengan tangan terangkat dalam orans (doa). Dia
sendirian di antara para murid membawa ekspresi ketenangan pada apa yang
terjadi. Ekspresi tenangnya adalah ekspresi yang lahir dari kepercayaan penuh
pada Putranya sebagaimana diungkapkan dalam tiga ayat dari Nyanyian Akathistos:
Salam, tangga surgawi yang dengannya Allah turun. Salam, menjembatani
orang-orang terkemuka dari bumi ke surga. Salam, pilar api, membimbing mereka dalam
kegelapan. Sebagai gambaran Gereja, Maria berdiri tepat di bawah Kristus,
tangannya terangkat dalam doa ketika dia bersyafaat kepada-Nya untuk kita.
Meskipun Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang Maria yang hadir di Kenaikan,
tradisi mengajarkan dengan tegas bahwa dia hadir. Lagu no. 9 Kanon mengatakan,
“Bersukacitalah, Bunda Kristus, Allah kita, melihat dengan para rasul-Nya, yang
Engkau ajak naik ke surga dan memuliakan Dia.” Ouspensky dan Lossky
menggambarkan topografi ikon: Menurut Kitab Suci (Kisah Para Rasul 1:12),
Kenaikan Tuhan kita terjadi di Gunung Olivet atau Bukit Zaitun. Oleh karena itu
dalam ikon aksi terjadi baik di puncak gunung … atau di lanskap berbukit.
Untuk menunjuk Bukit Zaitun, beberapa pohon zaitun kadang-kadang digambarkan. Sesuai
dengan pelayanan khusus festival, Juruselamat Sendiri diwakili sebagai naik
dalam kemuliaan kadang-kadang duduk di atas takhta hiasan yang kaya. Tahta
bukanlah simbol alkitabiah bagi Kristus, yang datang untuk membasuh kaki, bukan
untuk dilayani tetapi untuk melayani. Dia datang untuk memerintah bukan dari
tahta tetapi dari salib. Sejauh ini takhta terbaik bagi Kristus adalah hati
yang rendah hati dan bertobat. Dengan demikian, Pesta Kenaikan terjadi. Seluruh
proses keselamatan: kelahiran, gairah, kematian, dan kebangkitan dilengkapi
dengan Kenaikan.
Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons
Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.
Pentakosta: Karya Roh Kudus
Kisah Para Rasul 2 2: 1-13 Ide Utama:
Pentakosta Ide-ide Pendukung: 1. Roh Kudus turun dalam bentuk lidah api dan
hinggap dalam orang-orang percaya 2. Orang Yahudi diaspora berkumpul di
Yerusalem 3. Terjadi mukjizat banyak orang percaya berkata-berkata dalam bahasa
lain kepada orangorang Yahudi. 4. Respons: ada yang tercengang dan tidak
percaya/menyindir. Pentakosta adalah hari Roh Kudus turun kepada orang-orang
percaya untuk memberikan kuasa pertama kali (berbicara dalam berbagai bahasa)
untuk menjadi saksi kepada orang-orang Yahudi (termasuk Yahudi diaspora) di Yerusalem.
Injil tidak lagi menjadi lokal tetapi bersifat universal mulai Yahudi sampai
Yahudi Diaspora, dan berbagai suku bangsa di seluruh dunia (Kis 1:8). 129 2:
14-40 Ide utama: Khotbah Petrus Ide-ide Pendukung: 1. kutipan nubuat nabi Yoel
à hari Tuhan yakni hari penghakiman 2. kutipan nubuat Daud dalam Mazmur à
pengharapan di tengah kesesakan 3. Inti khotbah Petrus: Yesus Kristus adalah
Tuhan dan Kristus. Nubuat Yoel dan Daud digenapi dalam diri Yesus Kristus. 4.
Respons: banyak orang bertobat dan diberi diri dibaptis dalam nama Yesus
Kristus. Khotbah Petrus melengkapi peristiwa Pentakosta di atas. Kuasa Roh
Kudus memberikan kuasa hikmat dan keberanian bagi Petrus untuk memberitakan
firman kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem secara lantang. 2: 41-47 Ide utama:
cara hidup jemaat mula-mula Ide-ide Pendukung: 1. Tekun dalam pengajaran rasul
2. Tekun dalam persekutuan untuk memecahkan roti dan berdoa 3. Bersatu 4.
Berbagi bersama dalam harta milik sesuai keperluan masing-masing 5. Disukai
semua orang 6. Banyak yang semakin tertarik dan percaya kepada Yesus Kristus
sehingga jumlah bertambah Cara hidup jemaat melengkapi kuasa firman dalam
memberitakan Injil keselamatan kepada orangorang Yahudi di Yerusalem. Konsep
Teologis Lukas mengajarkan bahwa kuasa Roh Kudus yang pertama kali bekerja
adalah pada saat Pentakosta. Roh Kudus memberikan mukjizat kepada orang percaya
untuk berkata-kata kepada orang-orang Yahudi dari berbagai bangsa di dalam
bahasa mereka. Tujuannya supaya Injil diberitakan dalam bahasa mereka. Injil
mulai pertama kali bergerak ke lingkaran luar yakni orang-orang Yahudi
diaspora. Injil diberitakan pertama kepada orang Yahudi lalu kepada mereka yang
sudah lama tinggal di negara-negara lain. Selain itu, kuasa Roh Kudus juga
bekerja lewat firman Tuhan yang diberitakan oleh Petrus dan juga bekerja lewat
kesaksian hidup jemaat yang berbeda dengan masyarakat pada waktu itu. Secara
supranatural kuasa Roh Kudus bekerja memberikan mukjizat dan juga secara
natural kuasa Roh Kudus bekerja lewat pemberitaan Injil dan kesaksian hidup
yang seturut dengan Injil. Roh Kudus melahirkan Gereja Yang Universal dan
Apostolik. Para Rasul menjadi saksi pertama kuasa Roh Kudus bekerja. Mereka
tidak tinggal diam namun bekerja dan menderita seketika lamanya. Gereja lahir
karena perpaduan karya Roh Kudus melalui karya para Rasul dan diteruskan
melalui para murid Rasul sampai sekarang. Pemberitaan Injil dan perilaku hidup
Gereja mula-mula menjadi semacam dinamo penggerak ke mana-mana karena kuasa Roh
Kudus. Roh Kudus berkarya dalam setiap hati manusia yang mau terbuka (percaya)
pada karya Kristus sehingga hatinya yang awalnya gelap dan dosa menjadi terang
dan suci. 130 Bagaimana Roh Kudus berkarya? Rasul Paulus mengajarkan,
“Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena,
Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang
berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan
diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka
tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika
mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia,
jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat
memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa
indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rom 10:12-15). Peranan
Gereja adalah mengutus setiap orang beriman untuk memberitakan Injil. Sebelum
Gereja lahir, Kristus mengutus 12 Rasul dan 12 Rasul sebagai pendiri Gereja mengutus
kita sampai sekarang dan kedatangan Kristus. Roh Kudus akan bekerja jika kita
memberitakan Injil. Injil yang diberitakan itu disertai kuasa Roh Kudus
sehingga mereka yang mendengarkan itu dapat membuka hatinya yang gelap untuk
diterangi Injil sehingga mereka bisa mengenal Allah yang menyelamatkan mereka.
Roh Kudus tidak berkarya sendiri tetapi bersinergi dengan Gereja. Gereja yang
hidup adalah gereja yang bersinergi dengan Roh Kudus sehingga bisa bergerak
menjadi saksi Kristus di manapun. Gereja mengutus dan Roh Kudus akan menyertai
setiap orang beriman. Kiranya hari Pentakosta ini kita terus boleh bersinergi
dengan Roh Kudus sehingga kehidupan kita dipenuhi oleh Roh Kudus dan kita
menjadi kudus. Seperti yang dikatakan oleh Anthony Coniaris, “Every action
of the Christian should be a spiritual act, inspired and guided by the Holy
Spirit. Spirituality is in effect, opening all of life to God. It can be
described biblically as “being holy as God is holy”, “seeking first the kingdom
of God and His righteousness,” “putting on Christ,” “being filled with all the
fullness of God.” St. Seraphim of Sarov taught that the“true Christian life” is
to be “clothed with the Holy Spirit.” To live is “to be in the fullness of the
Spirit.”” St. Theophan the Recluse menuliskan, The economy of our
salvation is accomplished! The operation of all the Persons of the Most Holy
Trinity have now come into effect to accomplish it. What God the Father has
willed, the Son of God fulfilled in Himself, and the Holy Spirit has now descended
in order to impart it to the faithful. For our salvation is according to the
foreknowledge of God the Father, 131 through sanctification of the Spirit, unto
obedience and sprinkling of the Blood of Jesus Christ (I Pet. 1:2). For this
sake we are baptized in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy
Ghost, obliged, to observe all things whatsoever I have commanded you(Matt.
28:19–20). Those who do not confess the Most Holy Trinity cannot participate in
the saving action of Its Persons and thus receive salvation. Glory to the
Father and to the Son and to the Holy Spirit, the Trinity one in essence and
undivided, granting us confession of Itself! “O Father Almighty, and Word, and
Spirit, one nature united in three Persons, transcendent and extremely divine!
Into Thee have we been baptized, and Thee shall we bless throughout all ages.”
(Thoughts for Each Day of the Year According to the Daily Church Readings from
the Word of God by St. Theophan the Recluse) Penjelasan Ikon Faktor pembeda
pertama dari ikon Keturunan Roh Kudus adalah bahwa kedua belas rasul duduk di
bangku setengah lingkaran saling berhadapan. Dalam beberapa ikon lainnya kita
melihat para rasul dalam keadaan kesatuan. Berbagai macam warna dan gerak tubuh
para rasul menyampaikan kebenaran bahwa persatuan tidak selalu berarti bahwa
tidak ada perbedaan. Beberapa percaya bahwa setengah lingkaran mewakili
kemahahadiran Tuhan. Mereka menyebutnya sebagai setengah lingkaran surga. Pada
kenyataannya itu adalah simbol Gereja yang disatukan oleh Roh Kudus. Dalam ikon
itu, tidak ada sosok yang identik dengan yang lain untuk menunjukkan bahwa
“ada beragam karunia …” dan “ada beragam operasi.” Kepada
yang diberikan oleh Roh, Kata-Kata Bijaksana; yang lain Firman Pengetahuan …
kepada yang lain karunia penyembuhan … “dan seterusnya (1 Kor. 12:
4-31). Tetapi Roh yang sama yang memberikan karunia ini. Manifestasi lain dari
Roh Kudus, embusan angin tidak dapat ditunjukkan secara nyata, tetapi dapat
dilihat secara tidak langsung dengan melihat ekspresi terkejut pada wajah para
rasul. Mungkin lebih dari apa pun, ikon ini menunjukkan komunitas para rasul
saat berdoa, menunggu dengan tenang Tuhan di Ruang Atas untuk kedatangan Roh
Kudus. Beberapa ikon menunjukkan sinar cahaya turun ke atas para rasul untuk
menandakan ilham dari Roh Kudus. Ada dua belas sinar atau lidah api untuk
melambangkan baptisan mereka dengan Roh Kudus dan dengan api sesuai dengan
nubuat Yohanes Pembaptis (Mat 3: 2). Kadang-kadang lidah api ditempatkan di
lingkaran cahaya atau tepat di atas kepala untuk menunjukkan bahwa Roh Kudus
turun dalam bentuk bahasa lidah. Kebingungan bahasa yang mengakibatkan
pembangunan menara Babel sekarang digantikan oleh pengetahuan baru tentang
bahasa yang diberikan kepada para rasul oleh Roh Kudus untuk menciptakan
kesatuan yang harmonis dalam Gereja. Para rasul diwakili dalam ikon ini dengan
cara yang tidak historis. Beberapa rasul yang berada di Ruang Atas pada hari
Pentakosta digantikan oleh Paulus dan penulis Injil Markus dan Lukas karena
mereka adalah orang-orang yang melaluinya Injil diberitakan “sampai ke ujung
bumi.” Ketika Paulus ditunjukkan, ia biasanya ditampilkan di kanan atas di
sebelah Petrus. Dalam ikon kuno, banyak orang yang disebutkan dalam Kisah Para
Rasul digambarkan di bagian bawah ikon yang mewakili seluruh Gereja. Pada
waktunya mereka digantikan oleh satu figur simbol yang mewakili kita semua. Itu
adalah sosok yang disebut “Kosmos,” yang berarti dunia. Kosmos duduk
di tempat yang gelap, sujud dengan tahun-tahun (dan dengan demikian seorang
tua). Dia biasanya mengenakan pakaian merah dengan mahkota kerajaan di
kepalanya. Di tangan kanannya ia memegang kain putih berisi dua belas gulungan.
Dia duduk di tempat yang gelap karena seluruh dunia sebelum Kristus telah gelap
tanpa iman. Dia ditundukkan selama bertahun-tahun karena dia menjadi tua karena
dosa Adam. Mahkota kerajaan menandakan dosa, atau nafsu, yang telah menguasai
dunia. Kain putih di tangannya dengan dua belas gulungan mewakili dua belas
rasul yang membawa terang ke dunia melalui pengajaran mereka. Jadi,
masing-masing dari kita diwakili dalam ikon Turunnya Roh Kudus karena dalam
ibadah kita menjadi orang sezaman dengan peristiwa (Pentakosta) yang kita
rayakan. Bagaimana? Melalui doa dan melalui liturgi yang merupakan kelanjutan
dari misteri Pentakosta. Karena liturgi adalah Pentakosta dan juga Paskah.
Dengan demikian, bagi Kekristenan, Pentakosta adalah pesta yang 132
berkelanjutan. Roh Kudus Kebenaran Tuhan Yang Berdaulat Semesta, membimbing dan
melindungi umat yang hadir di mana-mana, meluap semua yang ada: Datang dan
tinggal di dalam kita membersihkan kita dari segala dosa; mencurahkan berkat
pada kami, memberi kami hidup segar, dan dalam kasih sayang yang murah hati
membawa kami ke keselamatan. Amin.
Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons
Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.
Transfigurasi Yesus
Peristiwa di atas gunung yang ditulis
oleh Matius 17:1-13 adalah Pengubah-Muliaan atau Transfigurasi Yesus. Peristiwa
ini adalah the uncreated light manifested through His human body. Kemanusiaan
Kristus memanifestasikan Keilahian-Nya sehingga manusia yang berada di dalam
Kristus akan mengalami pengilahian. Kemanusiaan kita akan menjadi ilahi. His
Humanity manifested His Divinity. Transfigurasi mengajarkan the Uncreated Light
permeates humanity, sehingga in Christ humanity can be divinized dan ini yang
disebut Theosis (2 Pet 1:4; 1 Yoh 3:2). Manusia yang di dalam Kristus akan
mengalami transfigurasi sama seperti Kristus. Kita akan menjadi serupa Kristus.
Gambar Allah akan menjadi serupa Allah. Gambar Kristus akan menjadi Rupa
Kristus. Dan Kristus adalah manusia pertama yang mengalami transfigurasi. Dia
adalah manusia ilahi dan siapapun yang menyatu di dalam Dia akan mengalami
keilahian atau pemuliaan. Jiwa akan mengalami kedewasaan penuh sesuai dengan
kepenuhan Kristus dari sekarang sampai akhir zaman (Efe 4:13). Tubuh kita akan
mengalami transfigurasi atau pemuliaan pada saat Hari Tuhan atau akhir zaman
nanti ketika Kristus datang dalam kemuliaan (Fil 3:20-21). Transfigurasi adalah
tujuan akhir hidup manusia. Kita sekarang sedang menuju transfigurasi. Tubuh kita
yang masih fana akan menjadi mulia kelak. Namun tubuh yang fana ini telah
mengenakan atau memakai pakaian baru sehingga tubuh ini sangat berharga. Dan
Kristus sendiri adalah pakaian baru tersebut. Dia telah menjadi pakaian buat
kita sehingga penampilan kita adalah penampilan Kristus (Gal 3:27). Tubuh kita
yang fana tertutupi pakaian kemuliaan Kristus karena Kristus sendiri telah
mengalami pemuliaan atau transfigurasi. Pakaian yang baru yakni pakaian
kemuliaan Kristus akan memuliakan tubuh kita sehingga menjadi terang. Itulah
sebabnya mengapa kita bisa menjadi terang dunia. Itu semua karena Kristus. Kita
menjadi terang di hadapan Allah karena Kristus telah membungkus kita. Pakaian
Kristus adalah manusia baru, jiwa baru, yang akan terus memancarkan terang kepada
dunia sehingga tubuh ini dan keinginannya akan semakin dimatikan untuk kemudian
dibangkitkan memperoleh tubuh kemuliaan. Tubuh dan keinginan kita sekarang
sedang mengenakan pakaian Kristus yang penuh terang. Tanpa pakaian Kristus maka
kita sebetulnya telanjang di hadapan Tuhan dan gelap di hadapan Dia karena
tubuh ini memang melayani hukum dosa (Rom 134 7:26). Kata Rasul Paulus,
“Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena
dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran” (Rom 8:10).
Sehingga sangat penting bagi kita mengenakan Kristus (Gal 3:7). Dia telah
menjadi pakaian terang karena Dia telah mengalami transfigurasi. Tanpa
transfigurasi Yesus tidak ada pakaian terang kemuliaan. Tanpa pakaian Kristus
tubuh ini tidak mengalami terang. Tanpa transfigurasi Yesus manusia tidak bisa
menjadi ilahi dan menjadi satu natur dengan Kristus. Seperti kata John
Chrysostom, “Since he has said something great and remarkable, he also
explains how one is made a son. “For as many of you as were baptized into
Christ have put on Christ.” Why didn’t he say, “All you who were baptized into
Christ have been born of God,” since that is the inference from showing that
they were sons? Because what he says is more aweinspiring. For if Christ is the
Son of God and you put him on, having the Son inside yourself and being made
like him, you have been made one in kind and form.” (Catena Commentary on
Galatians) Jadi, manusia menjadi ilahi karena mengenakan pakaian Kristus yang
mengalami transfigurasi. Seperti yang Bapa Gereja Bede tuliskan, “If
anyone asks what the Lord’s garments, which became white as snow, represent
typologically, we can properly understand them as pointing to the church of his
saints [who] … at the time of the resurrection will be purified from every
blemish of iniquity and at the same time from all the darkness of mortality.
Concerning the Lord’s garments the Evangelist Mark remarks that “they became as
bright as snow, such as no bleacher on earth can make them white.” It is evident
to everyone that there is no one who can live on earth without corruption and
sorrow. So it is evident to all who are wise, although heretics deny it, that
there is no one who can live on earth without being touched by some sin. But
what a cleansing agent (that is, a teacher of souls or some extraordinary
purifier of his body) cannot do on earth, that the Lord will do in heaven. He
will purify the church, which is his clothing, “from all defilement of flesh
and spirit,” renewing [her] besides with eternal blessedness and light of flesh
and spirit.” (Catena Commentary on Mark) Petrus, Yohanes, dan Yakobus
begitu takut dan takjub apa yang terjadi pada Yesus. Allah Bapa mengafirmasi
transfigurasi Yesus. Mereka meyaksikan pengalaman yang sangat menakjubkan sehingga
muka mereka jatuh ke tanah. Namun Kristus menyentuh mereka. Tidak ada
seorangpun yang tahan akan kemuliaan Allah jika tidak disentuh oleh Kristus.
Tanpa Kristus kita akan berada dalam ketakutan menghadapi terang Allah. Tidak
ada seorangpun yang tahan berdiri di hadapan Allah jika bukan karena Kristus.
Bapa Gereja Cyril dari Alexandria menuliskan, “Through their speaking
together it shows that the old prophets also spoke the same things as Jesus,
even if enigmatically. In great awe the disciples fell on their faces, and the
Savior raised them up. This shows that if Jesus had not been incarnate and had
not been Mediator between God and humanity and strengthened his own nature, he
would not have endured to hear the voice of God.” (Catena Commentary on
Matthew) Ketakutan akan lenyap menghadapi Hari Tuhan jika kita 135 telah berada
dalam Kristus. Mari satu aksi nyata yang kita harus lakukan adalah senantiasa
mengenakan pakaian Kristus sehingga tubuh dan keinginannya dikendalikan dari
hawa nafsu dosa dan melakukan perintah Kristus. Ikon Transfigurasi Seperti
halnya sebagian besar ikon, ikon perayaan ini menunjukkan aspek historis dan
kekal peristiwa itu. Dalam ikon kita melihat gunung, Kristus dalam pakaian
putih yang bersinar, dan Musa dan Elia. Kita melihat Yesus “yang
menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara [kepada mereka] tentang
kepergian-Nya [kematian-Nya] yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Lukas
9:31). Akhirnya kita melihat tiga murid yang “jatuh di atas muka mereka, dan
penuh kekaguman” (Mat. 17: 6). Ini adalah detail dari peristiwa sejarah; tetapi
mereka diatur pada ikon sedemikian rupa untuk menekankan makna batin dari
peristiwa tersebut. Keenam sosok itu, bukannya tampak kecil di atas gunung,
benar-benar menaungi gunung itu, dan gunung itu sendiri biasanya ditampilkan
sebagai satu gunung dengan tiga puncak, menggarisbawahi Transfigurasi sebagai
wahyu dari Allah Tritunggal: Anak yang diubah rupa; Bapa yang dengan suara-Nya
bersaksi tentang Anak-Nya; dan Roh yang bersinar bersama dengan Anak di awan
yang terang. Jadi baik ikon ini maupun ikon baptisan Yesus melibatkan
manifestasi Trinitas (Theofani). Norman Russell menggambarkan representasi
Transfigurasi tertua yang masih ada: Representasi Transfigurasi tertua yang
masih hidup ada di apse biara abad ke-6 St. Catherine di kaki Gunung Sinai. Di
sini kita melihat Kristus berjanggut dalam pakaian putih dan emas berdiri,
dengan tangan kanannya diangkat dalam rahmat, dalam mandorla biru (latar
belakang berbentuk almond) dengan latar belakang emas. Delapan sinar memancar
darinya, dua yang menyamping menyentuh sosok Elia dan Musa yang berdiri di
kedua sisinya, tiga yang lebih rendah menjangkau Yohanes, Petrus, dan Yakobus
yang digambarkan berlutut atau berbaring. 136 Mosaik dibuat sekitar tahun 560,
pada zaman Kaisar Justinian. Pada saat itu kontroversi berkobar tentang
bagaimana kodrat ilahi dan manusia harus dianggap berkaitan satu sama lain. Di
sini, di mosaik kita memiliki representasi yang menakjubkan dari sosok manusia
yang ditembakkan dengan keilahian. Penafsiran manusia dan ilahi tanpa pemisahan
atau kebingungan diberikan secara visual dengan cara yang hampir tidak dapat
dicapai dalam teks tertulis. Yang juga luar biasa adalah bagaimana figur
manusia berpartisipasi dalam kemuliaan ilahi. Ada transisi yang mulus dari
sosok Kristus yang bercahaya dan hampir tidak berwujud ke tokoh-tokoh Elia dan
Musa yang tenang di sampingnya, dan kemudian ke sosok para rasul yang gelisah
di kakinya. Status masing-masing mungkin berbeda, tetapi semua dikelompokkan di
sekitar Kristus dengan latar belakang emas. Seperti yang dikatakan
Andreopoulos, bagian “yang diubah bentuk” tidak dibagi dari bagian
“berjuang” seperti pada ikon-ikon selanjutnya: “theosis
tampaknya lebih dapat dicapai di sini daripada dalam penggambaran selanjutnya.”
Ketika kita melihat ikon Transfigurasi, kita melihat bahwa itu jelas dibagi
menjadi dua bagian yang kira-kira sama: bagian atas, yang menunjukkan wahyu
ilahi, dan bagian bawah, yang menunjukkan respons manusia. Di tengah bagian
atas adalah Kristus yang berubah rupa. Mata kita tertuju kepadaNya karena
posisi sentral-Nya dan pakaian putih-Nya yang berkilau. Dia dikelilingi oleh
mandorla, bentuk melingkar, oval, atau lonjong-oval yang terlihat pada banyak
ikon lainnya, termasuk yang dari Kebangkitan dan Kenaikan. Dalam mandorla,
Kristus dinobatkan dalam kemuliaan. Mandorla menunjukkan kemuliaan ilahi, dan
biasanya biru, warna yang sering digunakan dalam ikonografi untuk menunjukkan
ilahi. Di sebelah kanan dan kiri Kristus adalah Elia dan Musa. Keduanya nampak
menunjukkan bahwa Kristus adalah penggenapan hukum dan para nabi. Hukum
diwakili oleh Musa, yang memegang buku loh hukum yang ia terima di Gunung
Sinai. Para nabi diwakili oleh nabi Elia, yang tidak mati tetapi diangkat ke
surga dengan kereta berapi. Yang mati diwakili oleh Musa, yang hidup oleh Elia.
Baik Musa dan Elia telah mengalami penglihatan tentang Allah, yaitu, Musa di
Mt. Sinai dan Elia di Mt. Carmel: Musa di awan tebal di Mt. Sinai; Elia atau
Elias di Gunung Karmel di mana Allah berbicara kepadanya dengan berbisik,
“suara pelan.” Di bagian bawah ikon, posisi tiga murid menunjukkan
respons manusia terhadap wahyu yang luar biasa ini. Yakobus dan Yohanes muncul
dalam postur keheranan: sujud, berlutut, jatuh di wajah mereka atau kadang-kadang
jatuh ke belakang; sering mereka diperlihatkan menutupi wajah mereka atau
melindungi mata mereka, dan dalam banyak ikon mereka bahkan ditampilkan
kehilangan sandal mereka, mengingat Mt. Sinai tempat Musa diminta melepas
sandalnya karena ia berada di tanah suci. Petrus, di sisi lain, biasanya
digambarkan menoleh ke arah Tuhan untuk menunjukkan keinginan yang menuntunnya
untuk berkata, “Senang berada di sini.” Dalam beberapa ikon ia juga,
melindungi matanya, tetapi pada yang lain ia menunjuk ke arah Tuhan, seolah
mengarahkan perhatian kita kepada-Nya. Bagian bawah ikon jauh lebih gelap
daripada bagian atas yang kecerahannya mengungkapkan cahaya yang jauh lebih
terang daripada matahari. Kekacauan pakaian para rasul menunjukkan dampak
dramatis penglihatan itu terhadap mereka. Kehadiran Musa dan Elia menjadi saksi
fakta bahwa Yesus adalah Mesias yang Diharapkan, yang merupakan penggenapan
Hukum (Musa) dan para nabi (Elia). Tiga sinar cahaya yang memancar dari tubuh
Kristus menunjuk kepada para murid di bawah ini. Ada perbedaan yang mencolok
antara ketenangan bagian atas dan dinamisme bersemangat dari bagian bawah. Para
murid terpesona oleh pemandangan Cahaya yang Tidak Diciptakan. Petrus dapat
dikenali dari janggutnya yang pendek dan rambutnya yang tebal dan ikal, dan
Yohanes dengan jubah merahnya. Seringkali Petrus berlutut, Yohanes terlempar ke
belakang, dan Yakobus melindungi dirinya sendiri. Ikon tersebut menunjukkan
Perjanjian Lama (Musa dan Elia) dan murid-murid Perjanjian Baru (Petrus,
Yakobus, dan Yohanes) mengakui Yesus sebagai Mesias yang Diharapkan. Musa
diizinkan untuk hanya melihat Allah kembali dalam Perjanjian Lama; sekarang dia
melihat Tuhan “berhadapan muka”. Elia hanya diizinkan untuk mendengar
“suara kecil” Tuhan; sekarang dia mendengar suara penuh Tuhan dan
melihat-Nya “berhadapan muka.” Ini terjadi dalam agama yang lebih menekankan
sifat transendental Allah. Jika kita hadir, kita mungkin menderita serangan
jantung tetapi karena rahmat Tuhan. Referensi: Anthony M. Coniaris, Icons
Speak: Their Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012.
Tertidurnya Bunda Maria
Saudara dan saudari yang terkasih! Hari
ini seluruh dunia Kristen dengan penuh kemenangan merayakan hari istirahat
Bunda Allah yang paling bersinar. Tampaknya peristiwa yang dirayakan ini akan
menjadi sedih dan penuh dengan air mata, karena kita menghadapi kematian; namun
Gereja suci hari ini dihiasi pakaian kemenangan, bersukacita dan ditinggikan,
dan memanggil kita untuk melakukan hal yang sama. Mengapa kita harus bersukacita
pada hari ini tertidurnya Bunda Allah? Karena kata “tidur” saja
menunjukkan bahwa kematian Bunda Allah itu tidak biasa. Saat itu tidur, yang
segera diikuti oleh kegembiraan yang membangunkan. Selama beberapa hari sebelum
Dormition of the Most Pure Virgin, Malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya
dengan kabar tentang kematiannya yang dekat dari kehidupan ini. Dipenuhi dengan
iman yang dalam terhadap kehidupan yang diberkati di masa depan, dia menerima
kabar ini bukan dengan ketakutan dan kesedihan, tetapi dengan perasaan sukacita
yang hidup dan rasa syukur yang besar kepada Tuhan. Pada saat yang sama, kuasa
Allah yang mahakuasa mengumpulkan para rasul dari seluruh dunia ke Yerusalem,
sehingga mereka dapat memberikan penghormatan kepada Bunda Allah dan
menguburkannya. Pada jam yang sama dengan istirahatnya, cahaya yang luar biasa
menerangi rumah Perawan Suci, dan melalui keterbukaan Surga, semua yang hadir
melihat Tuhan Yang Mulia Sendiri bersama para malaikat dan orang suci, turun
untuk bertemu ibu-Nya. Rasul Thomas, melalui pengecualiaan khusus Allah, muncul
setelah penguburan Yang Paling Murni. Dia ingin 138 memuliakannya dan karena
itu membuka makamnya, tetapi tubuh Bunda Allah tidak dapat ditemukan di dalam
makam itu. Tubuhnya telah terangkat ke Surga dan sekarang ada bersama dengan
Putranya. Dengan cara yang begitu menakjubkan, Sang Perawan Maria Yang
Terberkati menghibur semua orang Kristen, terutama dengan penuh kemenangan
memanifestasikan kekuatan dan keagungan Tuhan kita Yesus Kristus, yang oleh
kematian dan kebangkitan-Nya menghancurkan sengat maut, dan dari sesuatu yang
mengerikan, menyakitkan, menjadi sesuatu yang menyenangkan dan diberkati bagi
para pengikut setia-Nya. Sebelum kedatangan Kristus di bumi, kematian sangat
menakutkan bagi manusia, karena ia merenggutnya seperti seekor binatang buas
yang menjadi mangsanya — tidak dapat disangkal lagi — dan tidak ada cara untuk
menghindarinya, karena dosa berkuasa atas manusia. Tetapi setelah kemunculan
Tuhan dalam daging dan kemenanganNya atas dosa dan kematian, kengerian kematian
menghilang; menjadi seolah-olah tidur nyenyak, setelah itu menyingsing pagi
yang menggembirakan dari Kebangkitan. Untuk mengukur bahwa kita masing-masing
mengalahkan dosa yang masih hidup di dalam kita, rasa takut akan kematian
lenyap, sehingga para pemenang dosa yang menang bertemu dengan sukacita, dan
tidak lagi mati tetapi dengan sungguh-sungguh tertidur lelap. Kita melihat
contoh paling jelas dari kemenangan atas maut ini di tertidurnya Bunda Maria –
Dormition of the Most Pure Virgin Mary. Dia bersandar di makamnya hanya untuk
istirahat sebentar. Mengikuti Bunda Allah kita melihat para rasul, martir, dan
semua orang kudus, bertemu kematian dengan sukacita. St. Symeon of Thessalonica
menuliskan bahwa, “The fast in August [Dormition fast] was established in honor
of the Mother of God the Word; Who, foreknowing Her repose, ascetically labored
and fasted for us as always, although She was holy and immaculate, and had no
need for fasting. Thus, She especially prayed for us in preparation for being
transported from this life to the future life, when Her blessed soul would be
united through the Divine spirit with Her Son. Therefore, we also should fast
and praise Her, emulating Her life, urging Her thereby to pray for us. Some, by
the way, say that this fast was instituted on the occasion of two feasts—the
Transfiguration and the Dormition. I also consider it necessary to remember
these two feasts—one which gives us light, and the other which is merciful to
us and intercedes for us.” Saint Ambrose of Milan (December 7) menuliskan di
dalam “On Virgins” tentang ini: “She was a Virgin not only in body, but also in
soul, humble of heart, circumspect in word, wise in mind, not overly given to
speaking, a lover of reading and of work, and prudent in speech. Her rule of
life was to offend no one, to intend good for everyone, to respect the aged,
not envy others, avoid bragging, be healthy of mind, and to love virtue. When
did She ever hurl the least insult in the face of Her parents? When was She at
discord with Her kin? When did She ever puff up with pride before a 139 modest
person, or laugh at the weak, or shun the destitute? With Her there was nothing
of glaring eyes, nothing of unseemly words, nor of improper conduct. She was
modest in the movement of Her body, Her step was quiet, and Her voice
straightforward; so that Her face was an expression of soul. She was the
personification of purity. All Her days She was concerned with fasting: She
slept only when necessary, and even then, when Her body was at rest, She was
still alert in spirit, repeating in Her dreams what She had read, or the
implementation of proposed intentions, or those planned yet anew. She was out
of Her house only for church, and then only in the company of relatives.
Otherwise, She seldom appeared outside Her house in the company of others, and
She was Her own best overseer. Others could protect Her only in body, but She
Herself guarded Her character.” Gereja mengajarkan untuk tidak takut terhadap
kematian dan menyebut orang-orang yang kita kasihi yang sudah mati itu seperti
“diam” yaitu,seolah tertidur, karena orang Kristen begitu yakin ada kehidupan
di masa depan setelah kematian sehingga dia benar-benar memandang kematian
sebagai tidak lebih seperti tidur. Ikon Di sebelah kiri, ikon menggambarkan
Rasul Petrus menyensor tubuh Theotokos. Di sebelah kanan dengan tangan
terselubung, Rasul Paulus ditunjukkan membungkuk rendah di kaki biara.
Perkembangan ikonik kemudian menggambarkan gerbang terbuka surga, siap untuk
menerima tubuh Perawan. Lilin yang diletakkan di depan ranjang menggemakan
citra salah satu nyanyian rohani pada masa itu, “Putramu, hai Perawan,
benar-benar telah membuatmu berdiam di Tempat Mahakudus sebagai sebatang lilin
yang terang, menyala dengan api tak berwujud, sebagai sebuah pedupaan emas
menyala dengan batu bara ilahi. ”Yang terpotret di antara para rasul adalah
tiga uskup awal dengan jubah dan lingkaran cahaya: Rasul Yakobus, uskup pertama
Yerusalem, Timotius Hierotheus, dan Dionysius, orang Areopagit. Sangat menarik
untuk dicatat bahwa para rasul berkumpul di ranjang kematiannya sama seperti
mereka pernah berkumpul dengannya di Ruang Atas ketika Roh Kudus turun untuk
memberdayakan gereja yang baru didirikan (Kisah Para Rasul 2). 140 Kita
memperoleh pemahaman yang penting tentang kematian melalui ikon yang indah ini.
Ketika kita mati, tubuh tertidur di dalam Tuhan dan ditempatkan di kuburan
(dari kata Yunani koimitirion), yaitu, tempat di mana seseorang tidur. Tubuh
memang akan tidur di sana sampai Kedatangan Kedua Yesus. Jiwa, bagaimanapun,
dibawa ke surga oleh Yesus, persis seperti yang digambarkan Yesus dalam ikon
ini, merangkul dan membawa jiwa ibu-Nya ke surga. Pada Kedatangan Kedua, Yesus
akan membangkitkan (membangkitkan) tubuh yang terkubur (tertidur) dan
menyatukannya kembali dengan jiwa. Demikianlah “kita akan bersama-sama dengan
Tuhan,” seperti yang ditulis Rasul Paulus. Jika kita kehilangan orang yang
dicintai baru-baru ini betapa menghiburnya dengan bermeditasi pada ikon ini.
Betapa menghibur melihat orang yang kita kasihi dalam pelukan Yesus, yang
membawanya pulang ke tempat khusus yang telah Ia persiapkan bagi mereka yang
mengasihi Dia. Seperti yang Dia janjikan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah
kepada Tuhan, percayalah juga pada aku… Aku pergi untuk menyediakan tempat
bagimu di mana aku berada, di sanalah kamu berada ”(Yohanes 14: 1-4). Pesta
Tidurnya Maria, yang dirayakan sejak abad keempat, tidak disebutkan dalam
Alkitab. Itu hanya bagian dari tradisi suci. Karena alasan ini, ini bukan
ajaran resmi (dogma) Gereja Ortodoks karena Gereja Roma yang menyatakan
Dormition dogma pada tahun 1950 di bawah Pius XII. Gereja Ortodoks tidak
menyatakan pengajaran sebagai dogma (pengajaran resmi Gereja) kecuali jika itu
muncul baik dalam tradisi suci maupun dalam Alkitab. Dengan demikian, Dormition
adalah kepercayaan yang saleh di Gereja Ortodoks. Namun itu adalah kepercayaan
yang tidak bertentangan dengan Alkitab. Apa yang Yesus lakukan untuk Theotokos,
Dia lakukan untuk mengantisipasi apa yang akan Dia lakukan untuk kita semua
pada Kedatangan Kedua. Sama seperti tubuh Theotokos diangkat ke surga, demikian
pula tubuh kita setelah kebangkitannya pada Kedatangan Kedua. Di Barat, The
Dormition disebut sebagai the Assumption of the Virgin Mary, sementara di Timur
disebut Tertidurnya Theotokos (Dormition). Itu adalah perisitiwa yang sama.
Kedua gereja percaya pada asumsi total, tubuh dan jiwanya. Ketika seseorang
mengunjungi situs pemakaman Theotokos di Yerusalem hari ini, ia menemukan
sebuah makam kosong. Dormition dirayakan pada 15 Agustus di Timur dan Barat.
Gereja Barat percaya bahwa tubuh Theotokos tidak dikuburkan di Yerusalem tetapi
di Efesus. 141 Maria hidup untuk periode waktu yang cukup lama di bawah asuhan
Rasul Yohanes di Efesus, di mana dia menjadi uskup. Ada kemungkinan bahwa
sebelum kematiannya dia kembali ke Yerusalem, di mana sampai hari ini ada
Gereja Tidur Bunda Allah. Catatan sejarah tertua bersaksi bahwa Theotokos
dimakamkan di sana, di mana sebuah gereja kemudian didirikan di sekitar makamnya.
Di depan tubuh Perawan, dalam beberapa ikon, ada karakter kecil yang aneh yang
mencoba untuk mengganggu usir wanita, dan seorang malaikat datang untuk
memukulnya. Poin yang terlibat di sini adalah argumen, diputuskan di Dewan
Efesus, tentang Theotokos, dan upaya pada waktu itu untuk mengacaukan iman
Gereja bahwa dia memang Bunda Allah (Theotokos) dan bukan hanya ibu dari Yesus
(Christotokos). Semua ini diperlihatkan oleh satu sosok kecil ini, mencoba
untuk mengacaukan yang menjadi sandaran tubuh Perawan. Paul Evdokimov
menjelaskan aspek Dormition yang menarik ini secara terperinci: Ikon perayaan
itu memuat perincian tentang seorang imam Yahudi, Athonius, yang melihat
usungan jenazah para rasul menempatkan tubuh Theotokos, ingin membalikkannya.
Dia menjadi buta, dan ikon lebih lanjut menunjukkan tangannya terputus oleh
seorang malaikat. Namun, menerima pengajaran para rasul, ia menangis
“Alleluia,” dan dipulihkan. Ini jelas merupakan cara pengajaran yang simbolis
bahwa kultus Perawan Suci hanya dapat dijelaskan dari dalam kehidupan liturgis
interior dan Tradisi Gereja. Dengan demikian, ikon yang luar biasa ini membantu
menjelaskan kepercayaan kita tentang kematian yang sekarang menjadi musuh yang
dikalahkan berkat kebangkitan Yesus, yang mengubah kematian menjadi pintu yang
menuntun pada kehidupan abadi. Dalam banyak kasus penempatan adegan Tidur di
dinding barat gereja, secara tradisional lokasi penggambaran Penghakiman
Terakhir, bersaksi tentang makna eskatologis ikon ini, yang dipandang sebagai
pendahulu kebangkitan umum yang akan terjadi pada penghakiman terakhir. Di
gereja-gereja Bizantium, penyembah menghadap ke timur dalam ibadah. Di depannya
adalah layar ikon yang melacak sejarah dari raja-raja dan bapa bangsa
Perjanjian Lama, kepada Yesus dan para rasul, kepada orang-orang kudus setempat
di anak tangga terendah. Di dinding barat yang berlawanan biasanya ada ikon
baik Dormition atau Penghakiman Terakhir. James S. Billingham menggambarkan
arti ikon ini sebagai berikut, “Pengadilan Terakhir adalah masa depan dan
jemaat di tengah gereja adalah masa kini. Mereka berdiri di antara masa lalu
dan masa depan ini, dan mereka keluar dari gereja, melihat apa yang ada di
depan mereka setelah mereka menjalani hari-hari mereka.” John Baggley
menjelaskan pesan ikon sebagai berikut: Iman yang diekspresikan dalam ikon
Tidur ini adalah iman yang mengubah pandangan kita tentang kematian dari satu
kehilangan yang tidak dikurangi menjadi salah satu pujian dan harapan. Seperti
para rasul berkumpul di sekitar tubuh Bunda Allah, kita berkumpul di sekitar
tubuh orang-orang yang kita kasihi ketika kita mengambil bagian dalam upacara
pemakaman mereka. Seperti Bunda Allah sendiri, kita memuji jiwa kita ke tangan
Putranya. Seperti jutaan orang Kristen di hadapan kita, kita berdoa agar ikatan
kekerabatan yang mengikat kita bersama dalam tubuh Kristus dan Perjamuan Kudus
akan mendukung kita berdua ketika kita berdoa bagi mereka yang telah melewati
gerbang kematian, dan ketika kita mempersiapkan diri kita sendiri untuk
menapaki jalan yang sama. Seperti jiwa Maria dalam pelukan Putranya, kita
berharap untuk dilahirkan kembali ke dalam kehidupan baru Zaman yang Akan
Datang, yang telah kami rasakan sebelumnya dalam kehidupan ini. Ikon ini
menggambarkan bahwa orang Kristen tahu bagaimana kisah hidup akan berakhir. Itu
akan disempurnakan pada Perjamuan Anak Domba di Yerusalem baru, yang “bait suci
adalah Tuhan Allah Yang Mahakuasa dan Anak Domba” (Why 21:22). Di sini Allah
akan “menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi,
dan tidak akan ada lagi ratapan, tangisan, dan kepedihan, karena hal-hal yang
lama telah berlalu” (Wahyu 21: 3a, 4).
Referensi:
http://orthochristian.com/106015.html https://oca.org/saints/lives/2019/08/15/102302-the-dormition-of-our-most-holy-lady-the-mother-ofgod-and-ever-v
Anthony M. Coniaris, Icons Speak: Their
Message. Minneapolis: Light & Life Publishing Company, 2012
Kesimpulan
Semua hari – hari, minggu –
minggu , serta bulan – bulan yang telah penulis buat dapat mengingat kembali
akan perayaan – perayaan yang bersejarah dan dapat diperingati kembali dalam
kehidupan sehari – hari.
Aplikasi
Mari kita terapkan setiap
tanggal yang tercantum dalam perayaan – perayaan penting ini dengan berpuasa,
berdoa, membaca firman Tuhan serta mengingatnya dalam setiap aspek kehidupan
kita Amin
[1] Diterjemahkan
dari https://oca.org/saints/lives/2019/04/20/148976-apostle-zacchaeus
[2] Dikutip
dari https://www.ecatholic2000.com/cyril2/untitled-64.shtml#_Toc385694966
[3] Dikutip
dari https://www.ecatholic2000.com/catena/untitled-103.shtml#_Toc384507003
[4] http://orthochristian.com/calendar/20190304.html
[5] https://oca.org/saints/lives/2019/03/17/10-1st-sunday-of-great-lent-sunday-of-orthodoxy
[6] http://orthochristian.com/calendar/20190318.html
[7] https://oca.org/saints/lives/2019/03/31/14-3rd-sunday-of-great-lent-veneration-of-the-cross
[8] https://oca.org/saints/lives/2019/04/07/16-4th-sunday-of-great-lent-st-john-climacus-of-the-ladder
[9] https://oca.org/saints/lives/2019/04/14/18-5th-sunday-of-great-lent-st-mary-of-egypt
[10] http://orthochristian.com/35019.html.
[11] http://orthochristian.com/121211.html.
[12] http://orthochristian.com/121211.html.