Sudah
diselamatkan dari dosa dan melalui baptisan.justifikasi (pembenaran)
Sedang
diselamatkan dari perjalanan dan pertumbuhan kita sehari-hari didalam Kristus
dan Roh Kudus pengudusan dan pemurnian
Akan
diselamatkan kemuliaan terakhir yang akan kita terima dalam Kristus disebut
pemuliaan atau pengilahian (Kolose 3:4 dan 1 Yohanes 3:2).
Komprehensif
(Poin-point Semantic)
Keselamatan itu adalah keselamtan utuh/
komprehensif
Pelepasan dosa atau kematian melalui
karya Kristus yaitu kematian dan kebangkitan Kristus dan dibaptis dalam karya
Kristus itu.
Keselamatan itu harus dikerjakan,
diperjuangkan dan diusahakan, bersinergi dengan Kristus dan Roh Kudus. Proses
yang harus kita jalani untuk melawan hawa nafsu untuk menjadi serapa dengan
Kristus
Keselamatan itu menghasilkan buah dengan
cara tinggal dan bersinergi dengan Kristus.
Keselamatan itu menjadi serupa dengan
Kristus dan memiliki hidup kekal bersama Kristus dijaga. Serta kita mendapatkan
hasil jerih payah atau upa yaitu hidup kekal.
Aplikasi atau Penerapan
Data
Kerjakan keselamatan sampai akhir hidup
kita.
Menjaga kekudusan lewat nepsis, doa,
puasa baca Alkitab.
Latihan Rohani secara jasmani dan
rohani.
Keselamatan itu harus selalu Berharap
kepada Allah.
Merindukan keselamatan itu akan tiba.
Kita tahu Bapa yang penuh kasih yang
menyelamatkan orang.
Anak ku yang kecil Demi
engkau aku berusaha keras melahirkan lagi sampai Kristus dibentuk didalam kamu.
Historia
Rasul Paulus berusaha keras atau sakit
bersalin lagi sampai Kristus menjadi terbentuk didalam jemaat Galatia.
Rasul Paulus melakukan itu semua untuk
jemaat Galatia
Theoria
Setiap
orang percaya membentuk Kristus sampai sempurna dan siap dilahirkan dan didalam
dirinya ada janin yang terus terbentuk didalam Rahim kita sehingga suatu saat
dilahirkan. Janin itulah Kristus yang terus terbentuk menjadi sempurna. Dan dalam proses kehamilan
sampai melahirkan ada perjuangan atau kerja keras yang harus kita kerjakan.
Itulah askesis atau latihan rohani. Dan Rasul Paulus melakukan askesis itu demi
gereja. Kristus yang terbentuk sempurna didalam hati kita itulah yang disebut
dengan pengilahian atau kita menjadi serupa dengan Kristus. Kehidupan orang
beriman itu diibaratkan oleh Rasul Paulus seperti seorang perempuan sedang
mengandung atau hamil sama seperti yang dialami oleh ibunda Maria, Theotokos.
Dia mengandung Firman Allah yang telah berinkarnasi itu didalam hati kita
supaya kita semua menjadi serupa dengan Kristus. Proses kehamilan sampai
bersalin adalah proses perjuangan spiritual untuk membentuk rupa Kristus
menjadi nyata didalam kita.
Martir Suci Photina (Svetlana), seorang wanita Samaria,
putra-putranya, Victor (bernama Photinus) dan Yoses; dan saudari-saudari
perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, Kyriake; Putri Nero, Domnina;
dan Martir Sebastian.
Martir Suci Photina adalah Wanita Samaria, yang dengannya
Juruselamat bercakap-cakap di Sumur Yakub (Yohanes 4: 5-42).
Pada masa kaisar Nero (54-68 M), yang menunjukkan kekejaman
berlebihan terhadap orang-orang Kristen, Santa Photina tinggal di Kartago
bersama putranya yang lebih kecil, Yoses, dan dengan berani mengkhotbahkan
Injil di sana. Putranya yang tertua, Victor, bertempur dengan gagah berani di
pasukan Romawi melawan kaum barbar, dan diangkat menjadi komandan militer di
kota Attalia (Asia Kecil). Belakangan, Nero memanggilnya ke Italia untuk
menangkap dan menghukum orang Kristen.
Sebastian, seorang pejabat di Italia, berkata kepada Victor,
“Saya tahu bahwa Anda, ibumu dan saudaramu, adalah pengikut Kristus. Sebagai
teman saya menyarankan Anda untuk tunduk pada kehendak kaisar. Jika Anda
memberi tahu orang-orang Kristen, Anda akan menerima kekayaan. Saya akan
menulis surat kepada ibu dan kakak Anda, meminta mereka untuk tidak
memberitakan Kristus di depan umum. Biarkan mereka mempraktikkan keyakinan
mereka secara rahasia. ”
Victor menjawab, “Saya ingin menjadi pengkhotbah Kristus seperti
ibu dan saudara lelaki saya.” Sebastian berkata, “O Victor, kita semua tahu
kesengsaraan apa yang menanti Anda, ibu dan saudara lelaki Anda.” Kemudian
tiba-tiba Sebastian merasakan sakit yang tajam di matanya. Dia tercengang, dan
wajahnya muram.
Selama tiga hari ia terbaring buta, tanpa mengucapkan sepatah
kata pun. Pada hari keempat dia menyatakan, “Dewa orang Kristen adalah
satu-satunya Tuhan yang benar.” Santo Victor bertanya mengapa Sebastian
tiba-tiba berubah pikiran. Sebastian menjawab, “Karena Kristus memanggil saya.”
Segera dia dibaptis dan mendapatkan kembali penglihatannya. Para pelayan
Sebastian, setelah menyaksikan mukjizat itu, juga ikut dibaptiskan.
Laporan tentang hal ini sampai kepada kaisar Nero, dan ia
memerintahkan agar orang-orang Kristen dibawa kepadanya di Roma. Kemudian Tuhan
sendiri menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Jangan takut, karena aku
menyertai kamu. Nero dan semua yang melayani dia akan dikalahkan.” Tuhan
berkata kepada Victor,” Mulai hari ini namamu akan menjadi Photinus karena
melalui kamu banyak orang akan tercerahkan dan akan percaya kepada-Ku.” Tuhan
kemudian mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk menguatkan Sebastian agar
bertahan sampai akhir.
Semua hal ini dan bahkan peristiwa di masa depan diungkapkan
kepada Photina. Dia meninggalkan Kartago ditemani beberapa orang Kristen dan
bergabung dengan gereja di Roma.
Di Roma kaisar memerintahkan orang-orang Kristen untuk dibawa ke
hadapannya dan dia bertanya kepada mereka apakah mereka benar-benar percaya
kepada Kristus. Semua orang yang mengaku menolak untuk meninggalkan
Juruselamat. Kemudian kaisar memerintahkan untuk menghancurkan sendi jari para
martir. Selama siksaan, para martir ini tidak merasakan sakit dan tangan mereka
tetap tidak terluka.
Nero memerintahkan agar Sebastian, Photinus, dan Yoses dibutakan
dan dikurung di penjara, dan Photina dan lima saudari perempuannya Anatola,
Phota, Photis, Paraskeva, dan Kyriake dikirim ke pengadilan kekaisaran di bawah
pengawasan putri Nero, Domnina. Santa Photina mempertobatkan Domnina dan semua
pelayannya menjadi pengikut Kristus. Dia juga mempertobatkan seorang penyihir
yang telah membawa makanan beracun untuk membunuhnya.
Tiga tahun berlalu dan Nero mengutus salah seorang pelannya ke
penjara. Para utusan melaporkan kepadanya bahwa Sebastian, Photinus dan Yoses,
yang telah dibutakan, telah sepenuhnya pulih, dan bahwa orang-orang mengunjungi
mereka untuk mendengarkan khotbah mereka, dan memang seluruh penjara telah
diubah menjadi tempat yang terang dan harum di mana Allah dimuliakan.
Nero kemudian memerintahkan untuk menyalibkan orang-orang kudus
itu, dan memukuli tubuh telanjang mereka dengan tali. Pada hari keempat kaisar
mengirim para pelayan untuk melihat apakah para martir masih hidup. Tetapi
ketika mendekati tempat siksaan para pelayan kaisar Nero menjadi buta. Malaikat
Tuhan membebaskan para martir dari salib mereka dan menyembuhkan mereka.
Orang-orang kudus mengasihani para pelayan yang buta dan memulihkan penglihatan
mereka dengan doa mereka kepada Tuhan. Mereka yang disembuhkan datang percaya
kepada Kristus dan segera dibaptis.
Dalam kemarahannya, Nero memerintahkan untuk menguliti kulit
orang kudus Photina dan melemparkannya ke dalam sumur. Sebastian, Photinus, dan
Yoses dipotong kaki-kakinya dan mereka dilemparkan ke anjing dan kemudian
mereka dikuliti. Para saudari perempuan Photina juga menderita siksaan yang
mengerikan. Nero memberi perintah untuk memotong payudara mereka dan kemudian
menguliti kulit mereka. Kaisar menyiapkan eksekusi untuk Photis: mereka
mengikat kakinya dengan kaki di puncak dua pohon yang bengkok. Ketika tali-tali
itu ditebang, pohon-pohon itu tumbuh tegak dan mencabik-cabik martir. Kaisar
memerintahkan yang lainnya dipenggal. Martir Photina dikeluarkan dari sumur dan
dikurung di penjara selama dua puluh hari.
Setelah itu Nero membawa Photina dan bertanya apakah dia
sekarang mau mengalah dan mempersembahkan korban kepada berhala. Photina
meludahi wajah kaisar, dan menertawakannya, berkata, “Wahai orang yang paling
tidak beradab atas orang buta, Anda lelaki yang brengsek dan bodoh! Apakah Anda
pikir saya begitu tertipu sehingga saya akan setuju untuk meninggalkan Tuhanku
Kristus dan sebagai gantinya menawarkan pengorbanan kepada berhala yang sama
buta dengan Anda?” Mendengar kata-kata seperti itu, Nero memerintahkan untuk
sekali lagi membuang Photina ke sumur dan di sana ia menyerahkan jiwanya kepada
Tuhan pada tahun 66. Pada Kalender Yunani, Photina diperingati pada 26
Februari.
memperingati
kutukan Tuhan Yesus atas pohon ara. (Matius 21:18-22) suatu lambang dikutuknya
para pemimpin agama Yahudi diwaktu itu yang rimbun dalam praktek jasmani
keagamaan namun tak memiliki buah batin dan kehidupan yang benar. Yesus mengajari kita jangan menjadi pemimpin
yang rohani yang Cuma bisa ngajar tapi tidak ada moralnya atau tidak bisa
melakukan ketaatan (obedience). Yesus mengutiki kehidupan mereka (orang-orang
Yahudi) yang mengabaikan ibadah rohanian.
Moral
Kita memiliki dan melakukan apa yang diajarkan
atau imani kehidupan yang benar dan kudus.
Kita harus melakukan ibadah batiniah dan jasmaniah supaya sejalan.
Aplikasi
Menjadi
pemimpin yang bisa menjadi teladan bagi diri sendiri dan orang lain untuk
berjalan dalam kebenaran.
Sebagai
pemimpin agama kita harus mewarisi teladan imannya, harus memberi buah bagi
orang lain.
Selasakudus
Tentang
pengurapan Kristus dengan minyak aras dan berjaga-jaga. (Matius 26:6-13 )Yesus
diurapi dengan minyak yang mahal. Pemimpin agama tidak mau bertobat sedangkan
gadis biasa mau bertobat mendahuli para pemimpin agama yang ada pada saat itu.
Kita diajarkan untuk bertobat menunjukkan kerendahan hati datang di bawah kaki
salib memberikan
Aplikasi
Dibawah
salib melatih Merendahkan diri, air mata pertobatan, menanggalkan keinginan
daging.
Rabukudus merayakan penghianatan Yudas
Iskariot.
Kamis kudus
memperingati perjamuan terakhir antara Yesus dan murid-muridNya dilanjutkan
membasuh kaki dan berdoa ditaman Getsemani.
Jumat agung
tentang penyalibab dan kematian Kristus
Sabtu kudus
Yesus turun dalam kerajaan Maut
Minggu paskah
tentang kebangkitan Kristus.
Yesus
mati untuk mengalahkan kuasa maut Ibani 2:14, dan Dia bangkit dari kematian
untuk mengalahkan kematian itu. Bayang – bayang dari perayaan pondok daun
(Imamat 23:40-43). Jadi, sentralitas dari ini yaitu pelepasan mereka dari
perbudakan dari perbudakan mesir.
Semua
materi kuliah yang telah diperoleh seperti puzzle yang harus disusun. Untuk
menyusun puzzle kita membutuhkan kerangka, pola, dan konsep yang bertujuan
untuk menjadi pemimpin. Ada tiga pola yang membentuk puzzle ini pengetahuan,
sikap, keterampilan. Keterampilan (Hand) di
bagi menjadi dua yaitu keterampilan umum dan khusus. Sikap atau (Heart) menunjukkan sikap afeksi. Dan
pengetahuan (Head / kognitif). Apa
landasan ketiga unsur ini? Unsur ketiga ini memiliki fondasi yaitu Kristus. Seluruh
aspek ini harus memiliki fondasi Kristus. Didalam Pengetahuan kita belajar dari
hari senin – jumat. Didalam hati pada hari sabtu dan minggu kita
menginternalisasi.
Sejarah
Fondasi è
Kristus yaitu Allah Tritunggal, Inkarnasi, Karya Kristus = keselamatan /
penebusan dosa / lahir baru.
Purifikasi è
mengerjakan keselamatan.
Difikasi èpengilahian
Spiritualitas yangg
tersusun rapi sampai gambar Kristus itu menjadi nyata Galatia 4:19, 1 Yohanes
3:2, Roma 8: 29è roh / nous è
Roh Kudus bukan keinginan daging yang dikuasai oleh jiwa dan tubuh yang
menghasilkan buah roh. Salah satu usaha untuk menata rohani kita yaitu dengan
belajar teologi. Jiwa dan roh harus diperbaharui dan dimurnikan.
Berita Rasuliah
Sebagai Gereja yang secara langsung didirikan
Kristus yang lahirnya sebagai akibat langsung dari “Peristiwa Yesus Kristus”
oleh karya para Rasul di zaman Gereja Perdana itu , sumber ajaran dari Iman Kristen
Orthodox itu bertumpu langsung dari “pemberitaan para Rasul” mengenai peristiwa
Yesus Kristus itu terutama peristiwa kematian dan kebangkitanNya.
Dua Bentuk Ajaran Rasuliah
Ajaran Rasuliah yang memiliki dua bentuk: Lisan
dan Tertulis inilah yang dipegang Gereja Orthodox sampai kini, sebagaimana yang
diperintahkan oleh Rasul Paulus sendiri:” Sebab itu, berdirilah teguh dan
berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan,
maupun secara tertulis. “ ( II Tesalonika 2:15). Ajaran Rasuliah yang satu
namun memiliki dua bentuk: “Lisan” dan “Tertulis” ini merupakan sumber ajaran
dan keyakinan serta praktek hidup dari Gereja Orthodox. Ajaran Yang Tertulis
harus dimengerti dalam lingkup ajaran lisan, dan Ajaran Lisan harus diuji kebenarannya
dari Ajaran yang Tertulis. Dengan kata lain Ajaran Tertulis dan Ajaran Lisan
tidak boleh saling bertentangan, namun saling mendukung dan saling menjelaskan.
Bentuk-Bentuk Ajaran Lisan
Jika ajaran Tertulis itu akhirnya terpakemkan
dalam bentuk Kitab Suci Perjanjian Baru yang kemudian disatukan dengan
Peranjian Lama, ajaran Lisan itu akhirnya juga direkam dalam beberapa bentuk,
yaitu:
1) Teks Ibadah-ibadah dan Sakramen yang berisi
pernyataan theologis yang berasal dari jaman purba namun tetap dipraktekkan
Gereja Orthodox sampai kini.
2) Teks Kidung-Kidung Gereja yang juga berasal
dari jaman purba dan tetap dinyanyikan dalam Gereja Orthodox sampai kini yang
isinya juga mengungkapkan macam-macam kebenaran Injil dan theologia.
3) Rumusan-rumusan Kristologis dari ke-Tujuh
Konsili Ekumenis Gereja Orthodox Purba yaitu:
a) Konsili Ekumenis Pertama pada tahun 325
Masehi di Nikea dalam melawan Arianisme yang menentang keilahian Kristus,
b) Kedua pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel
dalam melawan Makedonianisme yang menentang ke-ilahian Roh Kudus,
c) Ketiga pada tahun 431 Masehi di Efesus dalam
melawan “Nestorianisme” yang menentang Kristus hanya memiliki “satu Pribadi”
sehingga menolak menyebut Maria sebagai Theotokos,
d) Keempat pada tahun 451 di Kalsedon dalam
melawan ajaran “Monophysitisme” yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki
“satu kodrat” saja yaitu kodrat ilahi, sedangkan kodrat manusiaNya ditelan oleh
kodrat ilahi ini,
e) Kelima pada tahun 553 Masehi yang
menegaskan ulang makna Kristus itu “Satu Pribadi” dalam “Dua Kodrat” yang tak
campur-baur, tak kacau-balau, tak terbagi-bagi serta tak terpisah-pisahkan. Dan
“Kedua Kodrat” itu manunggal dalam “Satu Pribadi”.
f) Keenam pada tahun 680-681 Masehi dalam
melawan ajaran “Monothelitisme” yang menentang bahwa Kristus memiliki “Dua
Kehendak” yaitu kehendak manusia dan kehendak ilahi, dengan kehendak manusiaNya
takluk mutlak pada kehendak ilahiNya. Monothelitisme mengajarkan Kristus hanya
memiliki kehendak ilahi saja.
g) Ketujuh atau Terakhir pada tahun 787
Masehi dalam melawan ajaran “Ikonoklasme” yang menentang ke-sungguh-an dari
kemanusiaan Kristus dalam Inkarnasi-Nya yang memiliki daging dan darah,
sehingga dapat dilukiskan dalam bentuk gambar atau “ikon”. Ikonoklasme menolak
ikon-ikon dan dianggap sebagai berhala. Gereja Orthodox menegaskan ikon-ikon
sebagai bukti kesungguhan jasmani Kristus sehingga dapat digambar, jadi tak ada
sangkut pautnya dengan berhala.
Kebangkitan Kristus sebagai Inti Berita Rasuliah
Bahwa “kebangkitan” Kristus itu merupakan
pemberitaan inti para Rasul itu dinyatakan oleh ajaran tertulis dari
Rasul-rasul itu sendiri yang akhirnya dikanonkan dalam wujud Kitab Suci itu,
demikian: ”Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang ……. untuk menjadi saksi
dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah Rasul 1:21-22), “Yesus inilah yang
dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Rasul
2:32), “…. Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang
hal itu kami adalah saksi.” (Kisah 3:15), “Sebab yang sangat penting telah
kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia
telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga,
sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Rasul Paulus mencirikan
peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai hal “yang sangat penting”
(en protois = yang pertama sekali). Karena melalui kebangkitanNya ini Gereja
Orthodox berdasarkan ajaran Rasuliah itu melihat keunikan Pribadi dan Karya
Kristus, dan melalui keunikan Pribadi dan Karya Kristus itu Gereja Orthodox
memahami siapa Allah itu sehingga sampai kepada pemahaman tentang sifat
Tritunggal dari Allah yang Esa itu. Itulah sebabnya dalam Gereja Orthodox hari
raya terbesar adalah Paskah, sebab jika Kristus tidak bangkit maka manusia tak
akan mengerti tentang kebenaran Allah dan tak akan ada penebusan dan
keselamatan bagi dirinya.
Implikasi dari Kebangkitan
Kristus
a) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Allah
Melalui kebangkitanNya Kristus membuktikan
diriNya sebagai yang tak takluk kepada maut, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul
Paulus demikian:”Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari
antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.” (Roma
6:9). Maut tak berkuasa atas Kristus yang dibuktikan oleh kebangkitanNya itu
karena pada dasarnya Kristus tak memiliki maut pada diriNya sendiri,
sebagaimana dikatakan:”Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku
untuk menerimanya kembali.Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku,
melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa
memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima
dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17-18).
b) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Ciptaan,
Terutama Manusia
Kebangkitan Kristus dari antara orang mati,
dinyatakan oleh Kitab Suci sebagai “telah mematahkan kuasa maut dan
mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (II Timotius 1:10) juga sebagai :
”memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14). Ini
berarti bahwa maut itu bukan sesuatu yang alamiah pada diri manusia, karena
Kristus harus datang untuk “mematahkan” maut itu dan juga “memusnahkan” Iblis
yang berkuasa atas maut ini. Dengan dipatahkannya maut serta dimusnahkannya
penguasanya, maka Kristus “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” yang terbukti
dari tubuh-Nya yang telah bangkit , dan “sesudah Ia bangkit dari antara orang
mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” ( Roma 6:9). Tubuh
Kristus yang telah bangkit dari kematian itu hidup terus, dan bahkan dibawa ke
sorga berwujud “Tubuh Yang Mulia” (Filipi 3:21).
c) Kristus Yesus sebagai “Tuhan”
Dalam kaitannya dengan kebangkitan dan
pengangkatanNya dalam kemuliaan di sorga sebagai “Kristus Kosmik”/“The Cosmic
Christ” adalah perlu kita memahami penegasan Perjanjian Baru bahwa Kristus
adalah “Tuhan”, yang juga dinyatakan oleh Pengakuan Iman Nikea dalam butirnya
yang kedua yang berisi pengakuan yang berbunyi: ”Dan kepada Satu Tuhan Yesus
Kristus…”.
Banyak orang salah mengerti akan makna gelar
ini, karena mereka langsung menganggap bahwa arti gelar Tuhan bagi Yesus itu
artinya langsung berarti Allah. Padahal menurut Perjanjian Baru sebutan Allah
itu dikenakan kepada Sang Bapa dan Tuhan itu kepada Yesus Kristus. Jadi sebutan
“Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan
“Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus dalam Kitab Suci. Sehingga “Tuhan Yesus”
maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Sang Penguasa Yesus”. Hal ini dibuktikan
dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini :”…Yesus adalah Tuhan….Allah telah
membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “ Allah, yang
membangkitkan Tuhan….” (I Kor.6:14) “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…..satu Tuhan
saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Kor.8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Jadi
kata “Tuhan” (Kyrios) disini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah”
(“Theos”). Itulah sebabnya ayat-ayat diatas jelas membedakan “Allah” yaitu
“Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau
“Bapa” ini.
Karena
Allah itulah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi tersebut
kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus
menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang
dikatakan dalam Kisah 2:36:” Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti,
bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”.
Mengenai Pribadi Yesus Kristus
Rumusan-rumusan Kristologis baik dalam Pengakuan
Iman Nikea maupun dalam enam Konsili Ekumenis yang lain itu dilakukan oleh
Gereja Orthodox di zaman purba itu bukan bertujuan untuk memuaskan rasa
keingin-tahuan intelektual saja. Bukan pula itu dilakukan demi untuk spekulasi
filsafat. Pula bukan hanya sekedar demi kepentingan akademis saja. Lebih-lebih
itu bukan dilakukan demi tujuan politik seperti yang dituduhkan oleh Dan Brown
dalam bukunya yang bikin heboh “The Da Vinci Code” itu. Namun rumusan-rumusan
tersebut dilakukan demi untuk memagari ajaran Rasuliah yang hendak
diselewengkan oleh kaum bidat, dan demi untuk menjaga utuh keselamatan manusia
di dalam Kristus yang dilandasi oleh karya KebangkitanNya itu. Dengan demikian
rumusan Kristologis adalah untuk tujuan Soteriologis, untuk tujuan keselamatan
manusia.
a) KeilahianNya sebagai Firman Allah
Diatas telah kita bahas bahwa Kebangkitan
Kristus membuktikan Dia itu berkodrat Allah. Juga telah kita bahas bahwa
Kristus itu “pra-ada” mendahului adanya dunia, dan bahwa Kristus itu menyatakan
diriNya sebagai Anak dari Allah, Bapa, Yang Esa. Namun Ia juga menyatakan diri
sebagai yang “telah keluar dari Allah”, yang berarti Ia sebenarnya berada satu
di dalam diri Allah. Sebagai apakah Kristus itu berada satu di dalam Allah,
Bapa, dalam kekekalan itu? Jawabannya dapat kita baca dalam beberapa bagian
dari Kitab Suci demikian: ” …..Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang
berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.”
(Ibrani 1:2).
b) Satu Hypostasis dari Firman Allah
Selanjutnya hal yang amat perlu dimengerti
adalah bahwa meskipun kita menganalogikan antara Logos dan Akal pikiran Allah,
dengan kata-kata dan akal pikiran manusia, namun satu hal yang harus disadari
adalah “Logos/Firman” Allah itu memiliki perbedaan yang amat besar dengan
“kata-kata” manusia. Ini disebabkan Allah tak dapat disamakan dengan manusia,
sebagaimana dikatakan : ” Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel,
TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian;
tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku?…..” (Yesaya
44:6-7), dan “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan
dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?” (Yesaya 46:5) dan jawabannya adalah
: ” … ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada
Allah selain Engkau…” (II Samuel 7:22).
c) Hubungan Antara Kemanusiaan dan Keilahian dari
Firman Allah Yang Menjelma
Diatas telah kita bahas bahwa meskipun Yesus
Kristus oleh kebangkitanNya terbukti berkodrat “Allah”, karena Dia itu adalah
“Firman Allah”, namun karena Ia berwujud manusia, maka Dia adalah Firman Allah
yang menjelma. Artinya Ia adalah Firman Allah yang “menjadi manusia” atau
“menjadi daging” (Yohanes 1:14). Ia adalah Firman Allah yang “diutus” (Yohanes
17:3, Galatia 4:4) turun dari sorga ke bumi (Yohanes 3:13, 6:38,41-42,50-51,58)
oleh akibat tindakan dan gerak kasih kekal yang ada di dalam diri Allah yang
kita sebut diatas tadi. Dan pada saat turunNya dari sorga itu Ia masuk ke dalam
rahim wanita: Maria Sang Perawan (Galatia 4:4). Oleh kuasa Roh Kudus (Matius
1:18) Ia mengambil kemanusiaan atau “mengambil rupa seorang hamba” dari
rahimnya sehingga Ia disebut sebagai “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42), serta
“menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) yaitu mengenakan Tubuh Manusia, bagi
keselamatan manusia. Itulah yang dikatakan Pengakuan Iman Nikea butir kedua
yang telah kita kutip diatas: ”Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan
kita, telah turun dari sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang
Perawan Maryam, serta menjadi manusia.”
Demikianlah
“Kodrat Ilahi” Kristus yang bersifat api itu (Ibrani 12:29) tanpa berubah sifat
ke-Ilahi-anNya telah menyatu/manunggal dalam “Satu Hypostasis” dengan “Kodrat
Manusia”-Nya tanpa menghilangkan sifat-sifat manusiawiNya , namun merembesi dan
meresapi “Kodrat Manusiawi” itu dengan sifat-sifat dari Kodrat IlahiNya. Dengan
demikian dalam Kristus sekarang dimungkinkan bagi manusia untuk secara langsung
manunggal dengan Allah secara nyata dan kongkrit bagi mengambil-bagian dalam
kekekalan, kemuliaan, serta sifat-sifat dan kodrat ilahi , sehingga manusia
lepas dari kuasa maut, dosa dan Iblis. Dan inilah yang dimaksud dengan
keselamatan itu. Hal itu dikatakan demikian oleh Kitab Suci: ”… Ia telah
menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar,
supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi…” (II Petrus
1:4), serta :”….Setiap orang yang lahir dari Allah, …. benih ilahi tetap ada di
dalam dia….” (I Yohanes 3:9).
Itulah
sebabnya mengapa Bapa Suci Kyrillos Patriarkh dari Alexandria pada Konsili Ekumenis
Ketiga tahun 431 Masehi di Efesus itu menentang habis-habisan ajaran
Nestorianisme yang menolak menyebut Bunda Maryam sebagai “Theotokos” (“Theos =
Allah” , “tokos” = dia yang memberikan kelahiran”), yaitu Ibu Tuhan (Lukas
1:43) . Dalam Lukas 1:43 ini kata “Tuhan” dari ucapan Elisabet yang memberi
salam kepada Maryam yang sedang mengandung ini perlu dimengerti dalam arti
Yahweh/YHWH yaitu “Allah”, sebab seorang bayi tak mungkin disebut sebagai
“Kyrios” dalam arti “Pak, Tuan”, dan sebagai yang belum bangkit dan belum
dimuliakan itu, si bayi yang masih dikandung Maryam itu belum diangkat sebagai
“Kyrios”, yaitu ”Tuhan” dalam arti “Penguasa Mutlak”.
Dari
apa yang kita bahas diatas itu nyatakah bahwa Gereja Orthodox menekankan bahwa
Kristus itu memiliki kemanusiaan yang sempurna, dalam segala hal ia sama dengan
segenap manusia lainnya. Untuk makin menegaskan kemanusiaan Kristus itu maka
dalam Konsili Ekumenis yang Ketujuh pada tahun 787 Masehi Gereja Orthodox
melawan ajaran “Ikonoklasme”. Sejak zaman perdana Gereja Rasuliah itu telah
menggunakan “symbol-symbol” dan gambar-gambar, terutama di katakombe-katakombe.
Dan itulah yang akhirnya berkembang menjadi seni Ikonografi dalam Gereja Timur.
Berawal dari abad ketujuh Kaisar Leo dari Isauria melarang penggunaan Ikon
karena dianggap sebagai berhala dan terus berlangsung sampai abad kedelapan.
Dengan demikian ikon-ikon diperintahkan untuk dihancurkan. Umat Orthodox yang
tetap mempertahankan Ikon dianiaya dan dibunuh. Untuk melawan ajaran
Ikonoklasme inilah maka Konsili Ekumenis yang Ketujuh diadakan.
Firman
itu disebut “Firman Hidup”: karena Dia menyatakan Diri sebagai makhluk hidup:
Manusia, bukan buku mati yang berwujud tulisan. Begitu hidupnya penampakan ini
sehingga, Ia telah: di dengar, dilihat dengan mata, disaksikan, diraba dengan
tangan. Jika larangan Perjanjian Lama tentang pembuatan patung Allah itu
terkait dengan penampakannya yang tanpa rupa, sekarang Dia nampak “Dengan
Rupa”, masihkah larangan itu berlaku? Jelas tidak. Keberadaan Allah yang azali
dan ghaib itu tetap tak dapat digambarkan, namun keberadaan penampakanNya
sebagai manusia yang telah di dengar, dilihat, disaksikan dan diraba dengan
tangan itu jelas dapat dan harus digambarkan untuk menegaskan bahwa Allah
sekarang sudah menampakkan Diri bukan tanpa rupa lagi, namun “DENGAN RUPA”.
Konsisten
dengan makna theologis bagi Inkarnasi Kristus inilah Gereja Orthodox tak pernah
menggunakan patung, meskipun Perjanjian Lama mengijinkan pembuatan patung,
sebab tolok-ukurnya adalah Inkarnasi (Penjelmaan) Firman Allah sebagai manusia.
Mengapa ada juga Ikon orang kudus, bukan Kristus saja? Karena orang-orang kudus
itu adalah yang “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Gambaran
AnakNya” (Roma 8:29). Jadi mereka adalah “keserupaan Gambar Kristus”, sebagai
dampak langsung dari Inkarnasi, itulah sebabnya mereka juga digambarkan. Dengan
adanya Ikon maka fakta Inkarnasi Kristus yang betul-betul memiliki daging
jasmani ini ditegaskan. Karena manusia daging jasmani itu memang dapat
digambarkan. Namun itu juga menegaskan bahwa benda jasmani sebagai wakil dari
segenap alam ciptaan ikut mengalami pemuliaan akibat karya keselamatan di dalam
Kristus. Karena itu benda jasmani bukanlah sesuatu yang asing yang boleh
diabaikan dalam pemahaman akan keselamatan. Keikut-sertaan benda jasmani dalam
karya penebusan ini menyebabkan akan adanya langit baru dan bumi baru. Itulah
sebabnya karena benda jasmani yang ikut terangkul dalam penebusan itu tak dapat
memuji Allah pada dirinya sendiri, diikut sertakan oleh Gereja Orthodox dalam
ibadahnya kepada Allah, yaitu dalam bentuk diikutkannya unsur kayu sebagai
bahan pembuat ikon, unsur api dalam lilin dan arang untuk dupa, unsur
wangi-wangian dalam bentuk dupa, unsur makanan dalam bentuk roti Perjamuan,
unsur minuman dalam bentuk Anggur Komuni, unsur air dalam baptisan dan upacara
penyucian air, unsur minyak untuk lampu kandil dan untuk pengurapan, dan
sebagainya. Unsur-unsur benda jasmani ini bukan sebagai sandaran penyembahan,
namun sebagai “mitra” untuk bersama diajak menyembah Allah. Karena dengan
demikian mengingatkan umat Orthodox bahwa unsur jasmani itu juga dirangkul
dalam penebusan, dan unsur-unsur jasmani itu nantinya akan ikut dimuliakan
dalam bentuk dijadikannya “langit yang baru dan bumi yang baru” itu. (II Petrus
3:12).
Kesimpulan
Dari semua yang kita bahas ini jelas terlihat
bahwa memang Gereja Orthodox tidak tertarik untuk bertheologia demi kepentingan
akademik murni, ataupun hanya demi kepentingan spekulasi filsafati, serta hanya
demi untuk menambah pengetahuan saja, namun itu dilakukan demi menjaga “keselamatan”
manusia, dan demi memungkinkan “manunggalnya” manusia dengan Allah di dalam
Kristus. Kiranya Kristus ditinggikan dan Nama Allah dipuji .Amin.
Ada 2
kalimat atau klausa di ayat 6. Pertama, Ἐγὼ ἤδη σπένδομαι. Subjeknya adalah Ἐγὼ dan predikatnya adalah ἤδη σπένδομαι. Kedua, ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεως ἐφέστηκεν. Subjeknya adalah ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεως dan
predikatnya adalah ἐφέστηκεν.
Ἐγὼ = nominative of subject
berfungsi sebagai subjek dari σπένδομαι.
σπένδομαι =
indicative, present, passive, 1st person singular; present
progressive artinya pencurahan darah Rasul Paulus sebagai korban sedang
terjadi.
ὁ καιρὸς = nominative of subject berfungsi sebagai subjek
dari ἐφέστηκεν.
τῆς ἀναλύσεως = genitive of description
menjelaskan kata ὁ καιρὸς
μου = genitive of possessive
menjelaskan milik dari τῆς ἀναλύσεως
ἐφέστηκεν =
indicative, perfect, active, 1st person singular; perfect of
intensive menjelaskan hasil tindakan dia dari masa lampau sampai sekarang
Terjemahan Literal
Sebab
aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah dan waktu
keberangkatanku sudah dekat.
Syntactic Content
Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah
Waktu keberangkatanku sudah dekat
Semantic Content
Poin-poin
semantis:
Nyawa Rasul Paulus sedang dipertaruhkan atau dicurahkan kepada Allah
sebagai korban atau persembahan
Hidup sampai kematian Rasul Paulus adalah suatu korban kepada Allah
Kematian Rasul Paulus sudah dekat
Kematian Rasul Paulus adalah demi Injil Kristus atau pelayanannya kepada
Kristus
Konsep Teologis
Ide
utama: Kematian Rasul Paulus
Ide-ide
pendukung:
Kematian Rasul Paulus adalah korban kepada Allah
Kematiannya sudah dekat dengan cara mencurahkan darah atau kematian martir
Kematiannya demi pelayanan kepada Kristus atau Injil Kristus.
Penjelasan Konsep Teologis
Kematian
Rasul Paulus diibaratkan seperti korban darah yang dipersembahkan kepada Allah.
Ini artinya kematiannya adalah suatu persembahan korban kepada Allah. Bapa
Gereja John Chrysostom juga menyatakan bahwa, “He
has not said of my sacrifice; but, what is much more, “of my being poured
out.” For the whole of the sacrifice was not offered to God, but the whole
of the drink-offering was.”[1]
Kematiannya
yang dipersembahkan kepada Allah adalah untuk kepentingan jemaat atau Gereja
(Fil 2:17). Darah yang dicurahkan di sini berarti nyawa yang dipersembahkan
sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada
Kristus (Fil 2:17). Rasul Paulus mempersembahkan darahnya atau nyawanya di atas
korban yang dipersembahkan oleh jemaat kepada Allah. Menurut Hendi yang
menafsirkan Fil 2:17, “Paulus mati martir dan ini seperti pengorbanan darah
yang dicurahkan di atas korban. Namun walaupun aku harus mati sebagai martir dan ini
seperti pengorbanan darah yang dicurahkan di atas korban yang kamu persembahkan
kepada Allah atas dorongan percayamu kepada-Nya.”[2]
Nyawa
yang dipersembahkan kepada Allah adalah kembali berada bersama dengan Kristus
(Fil 1:23) dan ini adalah keuntungan bagi Rasul Paulus sebab dia berada bersama
dengan Kristus yang dia layani (Fil 1:21). Itulah sebabnya Rasul Paulus juga
bersukacita (Fil 2:17) dan mengajak jemaat Filipi ikut bersukacita bersamanya
(Fil 2:18). John Chrysostom menuliskan,
For this he implies, when he says,
“Yea, and if I am offered upon the sacrifice and service, I joy and
rejoice with you all; and in the same manner do ye also joy and rejoice with
me.” Why dost thou rejoice with them? Seest thou that he shows that it is
their duty to rejoice? On the one hand then, I rejoice in being made a libation;
on the other, I rejoice with you, in having presented a sacrifice; “and in
the same manner do ye also joy and rejoice with me,” that I am offered up;
“rejoice with me,” “who rejoice in myself.” So that the
death of the just is no subject for tears, but for joy. If they rejoice, we
should rejoice with them. For it is misplaced for us to weep, while they
rejoice.[3]
Ringkasan
Darah yang dicurahkan oleh Rasul Paulus adalah nyawa yang dipersembahkan
sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada
Kristus. Dan
Rasul Paulus menganggap itu suatu keuntungan dan dia bersukacita.
Kematian bagi orang percaya adalah sukacita dan
keuntungan bukan suatu yang menakutkan dan menyedihkan sebab ketika kematian
itu datang kita sudah mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai korban
yang berkenan kepada-Nya.
Aplikasi
Meneladani hidup Rasul Paulus yang setia melayani Gereja dan memberitakan
Injil Kristus kepada orang-orang di luar Gereja
Melayani dan taat sampai mati seperti Rasul Paulus.
Ayat 7
I have fought the good fight, I have finished the race, I
have kept the faith.
τὸν definite article accusative masculine singular from ὁ
καλὸν adjective normal accusative masculine singular no
degree from καλός
ἀγῶνα noun accusative masculine singular common from ἀγών
ἠγώνισμαι, verb indicative perfect middle 1st person singular
from ἀγωνίζομαι
τὸν definite article accusative masculine singular from ὁ
δρόμον noun accusative masculine singular common from δρόμος
τετέλεκα, verb indicative perfect active 1st person singular
from τελέω
τὴν definite article accusative feminine singular from ὁ
πίστιν noun accusative feminine singular common from πίστις
πίστιν noun accusative feminine singular common from πίστις
Terjemahan Literal
Ayat 7
Aku telah memenangkan
pertandingan aku telah mengakhiri perlombaan aku telah memlihara iman.
Point – point syntac
Aku telah
memenangkan pertandingan
Aku telah
mengakhiri perlombaan
Aku telah
memelihara iman.
Poin – poin Semantis
Rasul Paulus
tidak kalah dalam pertandingan
Rasul Paulus
telah mencapai perlombaan
Rasul Paulus
senantiasa menjaga iman
Konsep Teologis
Ide utama : Perjuangan Rasul
Paulus
Ide pendukung:
Rasul Paulus
tidak kalah dalam pertandingan
Rasul Paulus
telah mencapai perlombaan
Rasul Paulus
senantiasa menjaga iman
Penjelasan Konsep Teologis
Rasul
Paulus tidak kalah dalam pertandingan
Dalam pertandingan untuk
memperjuangkan dirinya sebagai korban Rasul Paulus tidak kalah dalam
perlombaan. Ia selalu berusaha untuk mencapai sebuah pertandingan yang luar
biasa dia peroleh untuk mencapai hasil yang maksimal.
Pola asli kodrat manusia
adalah “Firman Allah” yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan (Kej 1, Mzm
33:6, Yoh 12:1-3, 1 Kor 8:6b, Ibr 1:2-3, Kol 1:15-16) maka untuk mengembalikan
manusia kepada panggilan hidup kekal itu, Firman Allah: “Pola Asli” kodrat
manusia itu “mengambil” rupa …. manusia (Fil 2:7, Yoh 1:14) “menjadi sama
dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibr 2:14) serta “…
dalam segala hal Ia harus disamakan …” (Ibr 2:17) dengan manusia, termasuk
tubuh, jiwa, roh, pikiran, hati, emosi dan segala sesuatunya, tanpa mengalami
perubahan dari kodrat asli-Nya yang satu dalam hakikat keilahian Sang Bapa itu.
Demikianlah “Firman Allah” yang menjadi daging itu dalam kodrat asli ilahinya
berada satu hakikat dan tak terpisah dari Allah sebagai Kalimatullah, namun
yang telah mengambil rupa manusia sama dan mendapat bagian dalam segala hal
dengan keadaan manusia tadi, Dia berada satu dengan manusia, maka jadilah Ia
satu-satuNya “Pengantara” antara kodrat ilahi (Allah) dan kodrat manusiawi
(manusia) (1 Tim 2:5). Di dalam “Firman Menjelma”: Yesus Kristus ini,
panunggalan antara Allah dan Manusia, Surga dan Bumi, Rohani dan Jasmani, Ilahi
dan Manusiawi, Tak Tercipta dan Tercipta, Baka dan Fana, Tuhan dan Hamba,
“Kawulo lan Gusti” telah terjadi. Karena yang tubuh di mana maut, kelapukan dan
kefanaan itu tinggal, telah diambil dan dikenakan oleh “Firman” (Kalimatullah)
sebagai sumber ciptaan, kehidupan, dan kekekalan (karena yang ilahi itu hidup
dan kekal), maka terhisaplah kefanaan, kelapukan, dan kematian yang tinggal
dalam tubuh kemanusiaan Firman yang menjelma ke dalam kehidupan dan kekekalan
yang Ilahi itu sendiri, yang dibuktikan oleh kebangkitan-Nya dengan tubuh yang
sama tadi dari antara orang mati. [4]
Untuk itulah Rasul Paulus
senantiasa berjuang sampai akhir dan ia akan berjuang sampai titik darah
penghabisan. Rasul Paulus yakin bahwa perjuangannya tidak akan sia – sia.
Rasul
Paulus telah mencapai perlombaan
Rasul Paulus telah mencapai
perlombaan yang telah ia perjuangkan. Oleh sebab itu dia senantiasa taat dan
setia kepada Tuhan Yesus Kristus dan selalu berharap dan berserah kepadanNya.
Perjuangan Rasul Paulus mungkin tidak semulus yang kita bayangkan banyak
ancaman dan penderitaan yang dia hadapi untuk mencapai perlombaan yang di tuju
dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan upaya yang ekstra dan mengorbankan nyawa
untuk memberitakan Injil keseluruh bangsa.
Menjadi manusia rohani (a
spiritual man) berarti menjadi manusia yang bertumbuh dalam Kristus (1 Kor
3:1-3; Efe 4:13,15; Ibr 5:11-14; 1 Pet 2:2; 2 Pet 3:18). Dan hasil pertumbuhan
ini adalah “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak
berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh,
maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin
besar” (2 Kor 3:18). [5]
Apabila kita menjadi manusia
Rohani kita sama seperti Rasul Paulus yang senantiasa taat kepada Tuhan dan
setia sampai akhir hidup kita.
Rasul
Paulus senantiasa menjaga iman
Rasul Paulus berjuang untuk
hidup kudus dan menjaga imannya tetap teguh didalam Tuhan. Selalu ada hambatan
dan rintangan yang dia hadapi untuk mencapai sebuah perlombaan yang memperoleh
mahkota kehidupan. Nepsis atau
perhatian batin didasarkan pada kata-kata Yesus. Hanya melalui kewaspadaan dan
kewaspadaan bahwa kita dapat siap pada saat Tuhan berbicara saat murid-muridNya
bertanya,
Beritahu kami, kapan ini, dan apa yang akan menjadi tanda
kedatanganmu dan akhir zaman? (Matius 24: 3).
Karena itu, berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu jam
berapa Tuhan datang (Matius 24:42).
Dua kejadian terbesar dalam sejarah manusia adalah: 1.
Ketika Tuhan menjadi manusia di dalam Yesus untuk menyelamatkan kita dari dosa
dan kematian dan membawa kita ke surga; dan 2. Kedatangan Kedua Kristus. Meski
tidak ada yang tahu tahun, bulan, hari, atau jamnya; tanggal pastinya ada di
kalender Tuhan, hanya diketahui olehNya.
Sangat menarik bahwa kata kalender berasal dari bahasa
Latin kalendae yang dalam masyarakat Romawi disebut pada saat akun jatuh tempo.
Jadi, pada saat Kedatangan Kedua Kristus kita akan berdiri di hadapan
penghakiman-Nya dan memberikan penjelasan tentang apa yang telah kita lakukan
dengan hidup kita (II Kor 5:10). Oleh karena itu, perhatian harus menjadi
bagian dari gaya hidup setiap orang Kristen. Setiap nama tengah orang Kristen
seharusnya “Gregorius” yang dalam bahasa Yunani berarti “yang
waspada atau waspada.”
“Berbahagialah orang-orang yang ditinggalkan Tuhan
pada waktu Ia datang, akan melihat,” kata Yesus (Lukas 12:37). Hari Tuhan
akan datang. Bagi mereka yang tidak menonton, Dia akan datang tanpa diduga
sebagai “”Pencuri di malam hari” (I Tesalonika 5: 2), tetapi
bagi mereka yang melihat Dia tidak akan datang sebagai pencuri melainkan
sebagai Mempelai Pria dari jiwa kita.[6]
Ringkasan Teologis
Dalam
pertandingan untuk memperjuangkan dirinya sebagai korban Rasul Paulus tidak
kalah dalam perlombaan. Ia selalu berusaha untuk mencapai sebuah pertandingan
yang luar biasa dia peroleh untuk mencapai hasil yang maksimal. Rasul Paulus
telah mencapai perlombaan yang telah ia perjuangkan. Oleh sebab itu dia
senantiasa taat dan setia kepada Tuhan Yesus Kristus dan selalu berharap dan
berserah kepadanNya. Perjuangan Rasul Paulus mungkin tidak semulus yang kita
bayangkan banyak ancaman dan penderitaan yang dia hadapi untuk mencapai perlombaan
yang di tuju dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan upaya yang ekstra dan
mengorbankan nyawa untuk memberitakan Injil keseluruh bangsa. Rasul Paulus
berjuang untuk hidup kudus dan menjaga imannya tetap teguh didalam Tuhan.
Selalu ada hambatan dan rintangan yang dia hadapi untuk mencapai sebuah
perlombaan yang memperoleh mahkota kehidupan.
Aplikasi
Meneladani hidup Rasul Paulus yang setia dan taat berjuang sampai akhir
hidupnya.
Melayani dan taat sampai mati seperti Rasul Paulus.
Berjaga – jaga dn berdoa untuk menjaga iman.
Ayat 8
Finally, there is laid up for me the crown of
righteousness, which the Lord, the righteous Judge, will give to me on that
Day, and not to me only but also to all who have loved His appearing.
λοιπὸν adverb OR adjective normal accusative neuter singular
no degree from λοιπός
ἀπόκειταί verb indicative present passive 3rd person singular
from ἀπόκειμαι
μοι pronoun personal dative singular from ἐγώ
ὁ definite article nominative masculine singular from ὁ
τῆς definite article genitive feminine singular from ὁ
δικαιοσύνης noun genitive feminine singular common from δικαιοσύνη
στέφανος, noun nominative masculine singular common from στέφανος
ὃν pronoun relative accusative masculine singular from ὅς
ἀποδώσει verb indicative future active 3rd person singular from
ἀποδίδωμι
μοι pronoun personal dative singular from ἐγώ
ὁ definite article nominative masculine singular from ὁ
δίκαιος adjective normal nominative masculine singular no
degree from δίκαιος
κριτής, noun nominative masculine singular common from κριτής
οὐ adverb from οὐ
μόνον adverb from μόνος
δὲ conjunction coordinating from δέ
ἐμοὶ pronoun personal dative singular from ἐγώ
ἀλλὰ conjunction coordinating from ἀλλά
καὶ adverb from καί
πᾶσιν adjective indefinite dative masculine plural no degree
from πᾶς
τοῖς definite article dative masculine plural from ὁ
ἠγαπηκόσιν verb participle perfect active dative masculine plural
from ἀγαπάω
τὴν definite article accusative feminine singular from ὁ
ἐπιφάνειαν noun accusative feminine singular common from ἐπιφάνεια
αὐτοῦ. pronoun personal genitive masculine singular from αὐτός
Terjemahan literal
Aku
mendapat mahkota kebenaran yang dari Tuhan hakim yang adil, Yang membrikan
padaku harinya bukan hanya padaku tetapi kepada semua orang.
Point – point Syntac
Aku mendapat mahkota kebenaran yang dari Tuhan hakim yang adil
Yang memberikan padaku harinya bukan hanya padaku tetapi kepada semua orang
Point – point Semantis
Perjuangan Rasul
Paulus memperoleh mahkota kebenaran.
Mahkota di
berikan kepada semua orang yang berjuang seperti Rasul Paulus
Konsep Teologis
Ide Utama : Hasil dari
sebuah perjuangan Rasul Paulus
Ide Pendukung :
Perjuangan Rasul
Paulus memperoleh mahkota kebenaran.
Mahkota di
berikan kepada semua orang yang berjuang seperti Rasul Paulus
Ringkasan Teologis
Untuk
mencapai mahkota kebenaran tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Butuh
perjuangan dan usaha yang keras. Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama
ketika ia mengerjakan keselamatannya untuk memperoleh mahkota dari Tuhan. Rasul
Paulus menguatkan Timotius untuk terus setia memberitakan Injil Kristus bersama
dengannya. Sebab itu, dalam konteks penderitaan seperti ini dia mengajak
Timotius untuk menjadi seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Artinya,
Timotius harus memiliki mental dan karakter seperti seorang prajurit karena
medan perjuangan yang berat. Menjadi seorang prajurit yang baik berarti
bertempur atau berjuang di medan pertempuran. Dia tidak duduk diam melainkan
bertempur. Pelayanan Timotius ada di medan perjuangan. Rasul Paulus menuliskan,
“Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah
dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau
memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni” (1
Tim. 1:18; lihat juga 1 Tim 6:12).
Dan
Timotius telah mengalami penderitaan dan sengsara bersama Rasul Paulus di
Antiokhia, Ikonium, dan Listra (2 Tim 3:11). Itulah perjuangan Timotius sebagai
seorang prajurit Kristus. Kedua, perjuangan ini harus dikerjakan dengan
menguasai diri dalam segala hal yakni fokus pada tujuan pemberitaan Injil bukan
pada kekuatiran akan soal-soal penghidupannya (ayat 4 dan 2 Tim 4:5). Seorang
prajurit harus fokus pada tugas-tugasnya sehingga dia bisa merebut kemenangan
dari musuhnya. Ketiga, seorang prajurit adalah tahan atau sabar menderita (2
Tim 4:5). Dia tidak gampang putus asa ketika kesulitan datang melainkan dia
sabar menanggungnya. Keempat, dia berkenan atau layak di hadapan
147
komandan yang telah
memanggilnya. Dia terampil, fokus, tahan menderita, dan menunaikan tugasnya
dengan baik (2 Tim 4:5). Seorang prajurit tidak meninggalkan tugasnya melainkan
menyelesaikan tugasnya sampai selesai. Seperti Rasul Paulus tuliskan, “Mengenai
diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku
sudah dekat. Aku telah mengakhiri perjuangan yang baik, aku telah mencapai
garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Tim 4:6-7). Inilah empat ciri
seorang prajurit yang baik.
Timotius
adalah seorang prajurit Kristus yang baik. Dia berjuang demi nama Kristus
bersama Rasul Paulus. Tujuan perjuangan mereka jelas yakni untuk memberitakan
Injil Kristus sehingga semakin banyak orang diselamatkan dalam Kristus. Tujuan
yang mulia ini harus dihadapi dengan penderitaan dan korban hidup. Inilah perjuangan
seorang prajurit Kristus sampai akhir hidupnya yakni menunaikan tugas
pelayanannya. Dan Allah akan menyediakan mahkota kebenaran kepada mereka yang
telah menjadi prajurit Kristus yang baik (2 Tim 4:8).
Ringkasan Teologis
Untuk mencapai mahkota kebenaran
tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Butuh perjuangan dan usaha yang
keras. Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama ketika ia mengerjakan
keselamatannya untuk memperoleh mahkota dari Tuhan. Rasul Paulus menguatkan
Timotius untuk terus setia memberitakan Injil Kristus bersama dengannya. Sebab
itu, dalam konteks penderitaan seperti ini dia mengajak Timotius untuk menjadi
seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Artinya, Timotius harus memiliki
mental dan karakter seperti seorang prajurit karena medan perjuangan yang
berat. Menjadi seorang prajurit yang baik berarti bertempur atau berjuang di
medan pertempuran.
Aplikasi
Sebuah
perjuangan pasti mendapatkan hasil seperti Rasul Paulus yang memperoleh mahkota
kebenaran
Jadilah seorang prajurit
yang taat dan setia seperti Timotius
[1] John Chrysostom, The Homilies of St. John Chrysostom On the Epistles of
St. Paul the Apostle
to Timothy, Titus, and Philemon, Volume XIII dari Nicene and Post Nicene Fathers of the Christian Church,
Philip Schaff ed., (Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1887), 511.
[2] Hendi, Tafsiran Surat Filipi: Sebuah Analisis Colon
(Yogyakarta: Leutikaprio, 2017), 59.
[3] Chrysostom,
The
Homilies of St. John Chrysostom On the Epistles of St. Paul the Apostle
to Philippians, Colossians, and
Thesalonians, 223.
Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah dan waktu keberangkatanku sudah dekat.
Syntactic content
Sebab aku sedang dicurhakan sebagai korban persembahan darah
Waktu keberangkatanku sudah dekat
Semantic content
Nyawa Rasul Paulus sedang dipertaruhkan atau dicurahkan kepada Allah sebgai
korban atau persembahan
Hidup sampai kematian Rasul Paulus adalah suatu korban kepada Allah
Kematian Rasul Paulus sudah dekat
Kematian Rasul Paulus adalah demi Injil Kristus atau pelayanannya kepada
Kristus
Konsep Teologis
Ide utama: Kematian Rasul Paulus
Ide – ide pendukung :
Kematian Rasul Paulus adalah korban kepada Allah
Kematiannya sudah dekat dengan cara mencurahkan darah atau kematian martir
Kematiannya demi pelayanan kepada Kristus atau Injil Kristus.
Penjelasan konsep teologis
Kematian
Rasul Paulus diibaratkan sperti korban darah yang di persembahkan kepada Allah.
ini artinya kematiannya adalah suatu
persembahan korban kepada Allah (lihat juga filipi 2:17). Kematiannya yang
dipersembahkan kepada Allah adalah untuk kepentingan jemaat atau Gereja (Filipi
2:17). Darah yang dicurahkan disini berarti nyawa yang dipersembahkan sebagai
korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus.nyawa
yang dipersembahkan kepada Allah adalah kembali berada bersama dengan Kristus (Fil.1:23)
dan ini adalah untuk kepentingan jemaat atau Gereja (Filipi 2:17). Rasul Paulus
mempersembahkan
Ringkasan
Kematian
Rasul Petrus merupakan wujud ketaatanya untuk mempersembahkan hidupnya kepada
Kristus.
Teks
atau ayat 16-17 adalah satu kalimat. Ada kata οὖν yang menghubungkan teks atau ayat
sebelumnya. Seubjeknya adalah τις
. predikatnya adalah Μὴ ὑμᾶς κρινέτω ἐν βρώσει καὶ ἐν πόσει
ἢ ἐν μέρει ἑορτῆς ἢ νεομηνίας ἢ σαββάτων· ἅ ἐστιν σκιὰ τῶν μελλόντων, τὸ δὲ σῶμα τοῦ
Χριστοῦ. Kata Μὴ ὑμᾶς κρινέτω merupakan inti dari predikat.
κρινέτω = verb imperative present active 3rd person singular
from κρίνω ; berfungsi
sebagai perintah sekarang
ὑμᾶς = ὑμᾶς pronoun personal
accusative plural from σύ accusative of direct object
σκιὰ = noun nominative feminine singular common from σκιά
τῶν μελλόντων = verb participle present active genitive neuter plural
from μέλλω
Karena itu jangan seorang pun menghakimi kalian mengenai makanan atau
minuman, atau hari raya, atau bulan baru, atau hari sabat, yang adalah bayangan
Pl = bayangan Kristus = hukum taurat
PB = Tubuh /wujud
= Kristus.
Poin – poin syntact
Jangan seorang pun menghakimi kalian mengenai makanan atau minuman atau
hari raya atau bulan baru. Atau hari sabat.
Hal – hal itu adalah bayangan yang akan datang
Tetapi wujud nyatanya adalah Kristus
Poin –poin semantis
Hukum taurat itu adalah bayangan dari Kristus
Hukum Taurat itu digenapi di dalam Kristus artinya bayangan tadi sekarang
telah menjadi nyata yaitu Kristus
Pl adalah bayangan Kristus
Pb adalah wujudnya atau tubuh dari
bayangan itu yaitu Kristus
Sekarang kita tidak lagi hidup didalam bayangan atau Hukum Taurat tapi
hidup dibawah hukum Taurat yaitu Kristus sehingga hidup kita fokus kepada
Kristus.
“But if, while we seek to be
justified by Christ, we ourselves also are found sinners, is Christ
therefore a minister of sin? Certainly not! (Gal. 2:17 NKJ)
18 Let no
one cheat you of your reward, taking delight in false humility and
worship of angels, intruding into those things which he has not seen, vainly
puffed up by his fleshly mind, (Col. 2:18 NKJ)
19 and not holding fast to the Head, from whom all the body, nourished and
knit together by joints and ligaments, grows with the increase that is from
God. (Col. 2:19 NKJ)
18 Let no one cheat you of your reward, taking delight in false humility
and worship of angels, intruding into those things which he has not seen,
vainly puffed up by his fleshly mind, (Col. 2:18 NKJ)
καταβραβευέτω verb imperative
present artinya perintah dengan present sekarang καταβραβεύω
θέλων participle present dative manner.
Genitive
of source
διὰ τῶν ἁφῶν καὶ συνδέσμων genitive means
Terjemahan Literal
Jangan ada seorang pun merampas kemenangan
kamu dengan cara – cara ingin didalam merendahkan diri penyembahan kepada
malaikat, masuk kepada hal – hal penglihatan dnegan nous atau mata batin yang
bersifat kedagingan. Kepala yang darinya semua tubuh bertumbuh dengan cara ditopang dan di
ikat oleh urat – urat dan sendi – sendi.
Point –
poin sintaksis
Jangan ada seorang pun merampas kemenangan kamu
dengan cara – cara ingin didalam merendahkan diri penyembahan kepada
malaikat,
masuk kepada hal – hal penglihatan dengan nous atau mata batin.
Dengan cara menyombongkan diri tanpa alasan dengan nous/ mata jiwa/ mata
batin yang bersifat kedagingan.
Dengan cara tidak berpegang pada kepala
Yang dari kepala itu semua tubuh bertumbuh dari Allah dengan cara ditopang
dan diikat oleh urat – urat dan sendi – sendi.
Poin –
poin Semantis
Ada 4 cara yang dipakai untuk menggagalkan atau merampas kemenangan kita
yaitu Pertama, penyembahan yang salah bukan kepada Allah tetapi k epada
malaikat – malaikat.
Kedua, penglihatan – penglihatan
Ketiga menyombongkan diri tanpa alasan dengan Nous yang bersifat daging.
Keempat tidak berpegang kepada Kristus, tidak ada pertumbuhan sebab melalui
kepala itu semua tubuh bertumbuh. Pertumbuhan itu berasal dari Allah melalui
Kristus.
Menjaga kemenangan iman kita :
Setia beribadah kepada Allah
Awasi ajaran sesat
Menjaga kekudusan diri dengan menjaga nous dari godaaan duniawi