Dogmatika 3

Tugas : Ke – 2

Keselamatan

Level Knowledge (Mengolah data)

  1. Keselamatan itu sudah, sedang dan akan datang.
  2. Sudah diselamatkan dari dosa dan melalui baptisan.justifikasi (pembenaran)
  3. Sedang diselamatkan dari perjalanan dan pertumbuhan kita sehari-hari didalam Kristus dan Roh Kudus pengudusan dan pemurnian
  4. Akan diselamatkan kemuliaan terakhir yang akan kita terima dalam Kristus disebut pemuliaan atau pengilahian (Kolose 3:4 dan 1 Yohanes 3:2).

Komprehensif (Poin-point Semantic)

  1. Keselamatan itu adalah keselamtan utuh/ komprehensif
  2. Pelepasan dosa atau kematian melalui karya Kristus yaitu kematian dan kebangkitan Kristus dan dibaptis dalam karya Kristus itu.
  3. Keselamatan itu harus dikerjakan, diperjuangkan dan diusahakan, bersinergi dengan Kristus dan Roh Kudus. Proses yang harus kita jalani untuk melawan hawa nafsu untuk menjadi serapa dengan Kristus
  4. Keselamatan itu menghasilkan buah dengan cara tinggal dan bersinergi dengan Kristus.
  5. Keselamatan itu menjadi serupa dengan Kristus dan memiliki hidup kekal bersama Kristus dijaga. Serta kita mendapatkan hasil jerih payah atau upa yaitu hidup kekal.

Aplikasi atau Penerapan Data

  • Kerjakan keselamatan sampai akhir hidup kita.
  • Menjaga kekudusan lewat nepsis, doa, puasa baca Alkitab.
  • Latihan Rohani secara jasmani dan rohani.
  • Keselamatan itu harus selalu Berharap kepada Allah.
  • Merindukan keselamatan itu akan tiba.
  • Kita tahu Bapa yang penuh kasih yang menyelamatkan orang.

Dogmatika 3

tugas ke-5

Galatia 4:19

Syntactic content

Syntactic form :

Anak ku yang kecil Demi engkau aku berusaha keras melahirkan lagi sampai Kristus dibentuk didalam kamu.

Historia

  1. Rasul Paulus berusaha keras atau sakit bersalin lagi sampai Kristus menjadi terbentuk didalam jemaat Galatia.
  2. Rasul Paulus melakukan itu semua untuk jemaat Galatia

Theoria

  1. Setiap orang percaya membentuk Kristus sampai sempurna dan siap dilahirkan dan didalam dirinya ada janin yang terus terbentuk didalam Rahim kita sehingga suatu saat dilahirkan. Janin itulah Kristus yang terus terbentuk  menjadi sempurna. Dan dalam proses kehamilan sampai melahirkan ada perjuangan atau kerja keras yang harus kita kerjakan. Itulah askesis atau latihan rohani. Dan Rasul Paulus melakukan askesis itu demi gereja. Kristus yang terbentuk sempurna didalam hati kita itulah yang disebut dengan pengilahian atau kita menjadi serupa dengan Kristus. Kehidupan orang beriman itu diibaratkan oleh Rasul Paulus seperti seorang perempuan sedang mengandung atau hamil sama seperti yang dialami oleh ibunda Maria, Theotokos. Dia mengandung Firman Allah yang telah berinkarnasi itu didalam hati kita supaya kita semua menjadi serupa dengan Kristus. Proses kehamilan sampai bersalin adalah proses perjuangan spiritual untuk membentuk rupa Kristus menjadi nyata didalam kita.

Dogmatika 3

Tugas : ke -6

Historia

Martir Suci Photina (Svetlana), seorang wanita Samaria, putra-putranya, Victor (bernama Photinus) dan Yoses; dan saudari-saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, Kyriake; Putri Nero, Domnina; dan Martir Sebastian.

Martir Suci Photina adalah Wanita Samaria, yang dengannya Juruselamat bercakap-cakap di Sumur Yakub (Yohanes 4: 5-42).

Pada masa kaisar Nero (54-68 M), yang menunjukkan kekejaman berlebihan terhadap orang-orang Kristen, Santa Photina tinggal di Kartago bersama putranya yang lebih kecil, Yoses, dan dengan berani mengkhotbahkan Injil di sana. Putranya yang tertua, Victor, bertempur dengan gagah berani di pasukan Romawi melawan kaum barbar, dan diangkat menjadi komandan militer di kota Attalia (Asia Kecil). Belakangan, Nero memanggilnya ke Italia untuk menangkap dan menghukum orang Kristen.

Sebastian, seorang pejabat di Italia, berkata kepada Victor, “Saya tahu bahwa Anda, ibumu dan saudaramu, adalah pengikut Kristus. Sebagai teman saya menyarankan Anda untuk tunduk pada kehendak kaisar. Jika Anda memberi tahu orang-orang Kristen, Anda akan menerima kekayaan. Saya akan menulis surat kepada ibu dan kakak Anda, meminta mereka untuk tidak memberitakan Kristus di depan umum. Biarkan mereka mempraktikkan keyakinan mereka secara rahasia. ”

Victor menjawab, “Saya ingin menjadi pengkhotbah Kristus seperti ibu dan saudara lelaki saya.” Sebastian berkata, “O Victor, kita semua tahu kesengsaraan apa yang menanti Anda, ibu dan saudara lelaki Anda.” Kemudian tiba-tiba Sebastian merasakan sakit yang tajam di matanya. Dia tercengang, dan wajahnya muram.

Selama tiga hari ia terbaring buta, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pada hari keempat dia menyatakan, “Dewa orang Kristen adalah satu-satunya Tuhan yang benar.” Santo Victor bertanya mengapa Sebastian tiba-tiba berubah pikiran. Sebastian menjawab, “Karena Kristus memanggil saya.” Segera dia dibaptis dan mendapatkan kembali penglihatannya. Para pelayan Sebastian, setelah menyaksikan mukjizat itu, juga ikut dibaptiskan.

Laporan tentang hal ini sampai kepada kaisar Nero, dan ia memerintahkan agar orang-orang Kristen dibawa kepadanya di Roma. Kemudian Tuhan sendiri menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Jangan takut, karena aku menyertai kamu. Nero dan semua yang melayani dia akan dikalahkan.” Tuhan berkata kepada Victor,” Mulai hari ini namamu akan menjadi Photinus karena melalui kamu banyak orang akan tercerahkan dan akan percaya kepada-Ku.” Tuhan kemudian mengatakan kepada orang-orang Kristen untuk menguatkan Sebastian agar bertahan sampai akhir.

Semua hal ini dan bahkan peristiwa di masa depan diungkapkan kepada Photina. Dia meninggalkan Kartago ditemani beberapa orang Kristen dan bergabung dengan gereja di Roma.

Di Roma kaisar memerintahkan orang-orang Kristen untuk dibawa ke hadapannya dan dia bertanya kepada mereka apakah mereka benar-benar percaya kepada Kristus. Semua orang yang mengaku menolak untuk meninggalkan Juruselamat. Kemudian kaisar memerintahkan untuk menghancurkan sendi jari para martir. Selama siksaan, para martir ini tidak merasakan sakit dan tangan mereka tetap tidak terluka.

Nero memerintahkan agar Sebastian, Photinus, dan Yoses dibutakan dan dikurung di penjara, dan Photina dan lima saudari perempuannya Anatola, Phota, Photis, Paraskeva, dan Kyriake dikirim ke pengadilan kekaisaran di bawah pengawasan putri Nero, Domnina. Santa Photina mempertobatkan Domnina dan semua pelayannya menjadi pengikut Kristus. Dia juga mempertobatkan seorang penyihir yang telah membawa makanan beracun untuk membunuhnya.

Tiga tahun berlalu dan Nero mengutus salah seorang pelannya ke penjara. Para utusan melaporkan kepadanya bahwa Sebastian, Photinus dan Yoses, yang telah dibutakan, telah sepenuhnya pulih, dan bahwa orang-orang mengunjungi mereka untuk mendengarkan khotbah mereka, dan memang seluruh penjara telah diubah menjadi tempat yang terang dan harum di mana Allah dimuliakan.

Nero kemudian memerintahkan untuk menyalibkan orang-orang kudus itu, dan memukuli tubuh telanjang mereka dengan tali. Pada hari keempat kaisar mengirim para pelayan untuk melihat apakah para martir masih hidup. Tetapi ketika mendekati tempat siksaan para pelayan kaisar Nero menjadi buta. Malaikat Tuhan membebaskan para martir dari salib mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang kudus mengasihani para pelayan yang buta dan memulihkan penglihatan mereka dengan doa mereka kepada Tuhan. Mereka yang disembuhkan datang percaya kepada Kristus dan segera dibaptis.

Dalam kemarahannya, Nero memerintahkan untuk menguliti kulit orang kudus Photina dan melemparkannya ke dalam sumur. Sebastian, Photinus, dan Yoses dipotong kaki-kakinya dan mereka dilemparkan ke anjing dan kemudian mereka dikuliti. Para saudari perempuan Photina juga menderita siksaan yang mengerikan. Nero memberi perintah untuk memotong payudara mereka dan kemudian menguliti kulit mereka. Kaisar menyiapkan eksekusi untuk Photis: mereka mengikat kakinya dengan kaki di puncak dua pohon yang bengkok. Ketika tali-tali itu ditebang, pohon-pohon itu tumbuh tegak dan mencabik-cabik martir. Kaisar memerintahkan yang lainnya dipenggal. Martir Photina dikeluarkan dari sumur dan dikurung di penjara selama dua puluh hari.

Setelah itu Nero membawa Photina dan bertanya apakah dia sekarang mau mengalah dan mempersembahkan korban kepada berhala. Photina meludahi wajah kaisar, dan menertawakannya, berkata, “Wahai orang yang paling tidak beradab atas orang buta, Anda lelaki yang brengsek dan bodoh! Apakah Anda pikir saya begitu tertipu sehingga saya akan setuju untuk meninggalkan Tuhanku Kristus dan sebagai gantinya menawarkan pengorbanan kepada berhala yang sama buta dengan Anda?” Mendengar kata-kata seperti itu, Nero memerintahkan untuk sekali lagi membuang Photina ke sumur dan di sana ia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan pada tahun 66. Pada Kalender Yunani, Photina diperingati pada 26 Februari.

Dogmatika 3

Tugas : Ke -7

Pekan Kudus atau Minggu Sengsara Kristus

Yesus masuk ke Yerusalem : Minggu Palem

Senin kudus

memperingati kutukan Tuhan Yesus atas pohon ara. (Matius 21:18-22) suatu lambang dikutuknya para pemimpin agama Yahudi diwaktu itu yang rimbun dalam praktek jasmani keagamaan namun tak memiliki buah batin dan kehidupan yang benar.  Yesus mengajari kita jangan menjadi pemimpin yang rohani yang Cuma bisa ngajar tapi tidak ada moralnya atau tidak bisa melakukan ketaatan (obedience). Yesus mengutiki kehidupan mereka (orang-orang Yahudi) yang mengabaikan ibadah rohanian.

Moral

Kita  memiliki dan melakukan apa yang diajarkan atau imani kehidupan yang benar dan kudus.  Kita harus melakukan ibadah batiniah dan jasmaniah supaya sejalan.

Aplikasi

  1. Menjadi pemimpin yang bisa menjadi teladan bagi diri sendiri dan orang lain untuk berjalan dalam kebenaran.
  2. Sebagai pemimpin agama kita harus mewarisi teladan imannya, harus memberi buah bagi orang lain.

Selasa kudus

Tentang pengurapan Kristus dengan minyak aras dan berjaga-jaga. (Matius 26:6-13 )Yesus diurapi dengan minyak yang mahal. Pemimpin agama tidak mau bertobat sedangkan gadis biasa mau bertobat mendahuli para pemimpin agama yang ada pada saat itu. Kita diajarkan untuk bertobat menunjukkan kerendahan hati datang di bawah kaki salib memberikan 

Aplikasi

Dibawah salib melatih Merendahkan diri, air mata pertobatan, menanggalkan keinginan daging.

Rabu kudus merayakan penghianatan Yudas Iskariot.

Kamis kudus memperingati perjamuan terakhir antara Yesus dan murid-muridNya dilanjutkan membasuh kaki dan berdoa ditaman Getsemani.

Jumat agung tentang penyalibab dan kematian Kristus

Sabtu kudus Yesus turun dalam kerajaan Maut

Minggu paskah tentang kebangkitan Kristus.

Yesus mati untuk mengalahkan kuasa maut Ibani 2:14, dan Dia bangkit dari kematian untuk mengalahkan kematian itu. Bayang – bayang dari perayaan pondok daun (Imamat 23:40-43). Jadi, sentralitas dari ini yaitu pelepasan mereka dari perbudakan dari perbudakan mesir.­­­­­­­

“Puzzle”

Dogmatika

Semua materi kuliah yang telah diperoleh seperti puzzle yang harus disusun. Untuk menyusun puzzle kita membutuhkan kerangka, pola, dan konsep yang bertujuan untuk menjadi pemimpin. Ada tiga pola yang membentuk puzzle ini pengetahuan, sikap, keterampilan. Keterampilan (Hand) di bagi menjadi dua yaitu keterampilan umum dan khusus. Sikap atau (Heart) menunjukkan sikap afeksi. Dan pengetahuan (Head / kognitif). Apa landasan ketiga unsur ini? Unsur ketiga ini memiliki fondasi yaitu Kristus. Seluruh aspek ini harus memiliki fondasi Kristus. Didalam Pengetahuan kita belajar dari hari senin – jumat. Didalam hati pada hari sabtu dan minggu kita menginternalisasi.

Sejarah

Fondasi è Kristus yaitu Allah Tritunggal, Inkarnasi, Karya Kristus = keselamatan / penebusan dosa / lahir baru.

Purifikasi è mengerjakan keselamatan.

Difikasi èpengilahian

Spiritualitas yangg tersusun rapi sampai gambar Kristus itu menjadi nyata Galatia 4:19, 1 Yohanes 3:2, Roma 8: 29è roh / nous è Roh Kudus bukan keinginan daging yang dikuasai oleh jiwa dan tubuh yang menghasilkan buah roh. Salah satu usaha untuk menata rohani kita yaitu dengan belajar teologi. Jiwa dan roh harus diperbaharui dan dimurnikan.

Hagios dimasukkan di purifikasi

Ringkasan Buku Kristologi

Tugas Akhir Dogmatika 3

 Sumber Ajaran Iman Kristen Orthodox

  1. Berita Rasuliah
    Sebagai Gereja yang secara langsung didirikan Kristus yang lahirnya sebagai akibat langsung dari “Peristiwa Yesus Kristus” oleh karya para Rasul di zaman Gereja Perdana itu , sumber ajaran dari Iman Kristen Orthodox itu bertumpu langsung dari “pemberitaan para Rasul” mengenai peristiwa Yesus Kristus itu terutama peristiwa kematian dan kebangkitanNya.
  2. Dua Bentuk Ajaran Rasuliah
    Ajaran Rasuliah yang memiliki dua bentuk: Lisan dan Tertulis inilah yang dipegang Gereja Orthodox sampai kini, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasul Paulus sendiri:” Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. “ ( II Tesalonika 2:15). Ajaran Rasuliah yang satu namun memiliki dua bentuk: “Lisan” dan “Tertulis” ini merupakan sumber ajaran dan keyakinan serta praktek hidup dari Gereja Orthodox. Ajaran Yang Tertulis harus dimengerti dalam lingkup ajaran lisan, dan Ajaran Lisan harus diuji kebenarannya dari Ajaran yang Tertulis. Dengan kata lain Ajaran Tertulis dan Ajaran Lisan tidak boleh saling bertentangan, namun saling mendukung dan saling menjelaskan.
  3. Bentuk-Bentuk Ajaran Lisan
    Jika ajaran Tertulis itu akhirnya terpakemkan dalam bentuk Kitab Suci Perjanjian Baru yang kemudian disatukan dengan Peranjian Lama, ajaran Lisan itu akhirnya juga direkam dalam beberapa bentuk, yaitu:
    1)  Teks Ibadah-ibadah dan Sakramen yang berisi pernyataan theologis yang berasal dari jaman purba namun tetap dipraktekkan Gereja Orthodox sampai kini.
    2) Teks Kidung-Kidung Gereja yang juga berasal dari jaman purba dan tetap dinyanyikan dalam Gereja Orthodox sampai kini yang isinya juga mengungkapkan macam-macam kebenaran Injil dan theologia.
    3) Rumusan-rumusan Kristologis dari ke-Tujuh Konsili Ekumenis Gereja Orthodox Purba yaitu:
    a) Konsili Ekumenis Pertama pada tahun 325 Masehi di Nikea dalam melawan Arianisme yang menentang keilahian Kristus,
    b) Kedua pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel dalam melawan Makedonianisme yang menentang ke-ilahian Roh Kudus,
    c) Ketiga pada tahun 431 Masehi di Efesus dalam melawan “Nestorianisme” yang menentang Kristus hanya memiliki “satu Pribadi” sehingga menolak menyebut Maria sebagai Theotokos,
    d) Keempat pada tahun 451 di Kalsedon dalam melawan ajaran “Monophysitisme” yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki “satu kodrat” saja yaitu kodrat ilahi, sedangkan kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahi ini,
    e) Kelima pada tahun 553 Masehi yang menegaskan ulang makna Kristus itu “Satu Pribadi” dalam “Dua Kodrat” yang tak campur-baur, tak kacau-balau, tak terbagi-bagi serta tak terpisah-pisahkan. Dan “Kedua Kodrat” itu manunggal dalam “Satu Pribadi”.
    f) Keenam pada tahun 680-681 Masehi dalam melawan ajaran “Monothelitisme” yang menentang bahwa Kristus memiliki “Dua Kehendak” yaitu kehendak manusia dan kehendak ilahi, dengan kehendak manusiaNya takluk mutlak pada kehendak ilahiNya. Monothelitisme mengajarkan Kristus hanya memiliki kehendak ilahi saja.
    g) Ketujuh atau Terakhir pada tahun 787 Masehi dalam melawan ajaran “Ikonoklasme” yang menentang ke-sungguh-an dari kemanusiaan Kristus dalam Inkarnasi-Nya yang memiliki daging dan darah, sehingga dapat dilukiskan dalam bentuk gambar atau “ikon”. Ikonoklasme menolak ikon-ikon dan dianggap sebagai berhala. Gereja Orthodox menegaskan ikon-ikon sebagai bukti kesungguhan jasmani Kristus sehingga dapat digambar, jadi tak ada sangkut pautnya dengan berhala.

    Kebangkitan Kristus sebagai Inti Berita Rasuliah
    Bahwa “kebangkitan” Kristus itu merupakan pemberitaan inti para Rasul itu dinyatakan oleh ajaran tertulis dari Rasul-rasul itu sendiri yang akhirnya dikanonkan dalam wujud Kitab Suci itu, demikian: ”Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang ……. untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah Rasul 1:21-22), “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Rasul 2:32), “…. Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.” (Kisah 3:15), “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Rasul Paulus mencirikan peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai hal “yang sangat penting” (en protois = yang pertama sekali). Karena melalui kebangkitanNya ini Gereja Orthodox berdasarkan ajaran Rasuliah itu melihat keunikan Pribadi dan Karya Kristus, dan melalui keunikan Pribadi dan Karya Kristus itu Gereja Orthodox memahami siapa Allah itu sehingga sampai kepada pemahaman tentang sifat Tritunggal dari Allah yang Esa itu. Itulah sebabnya dalam Gereja Orthodox hari raya terbesar adalah Paskah, sebab jika Kristus tidak bangkit maka manusia tak akan mengerti tentang kebenaran Allah dan tak akan ada penebusan dan keselamatan bagi dirinya.

  4. Implikasi dari Kebangkitan Kristus

    a) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Allah

    Melalui kebangkitanNya Kristus membuktikan diriNya sebagai yang tak takluk kepada maut, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus demikian:”Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.” (Roma 6:9). Maut tak berkuasa atas Kristus yang dibuktikan oleh kebangkitanNya itu karena pada dasarnya Kristus tak memiliki maut pada diriNya sendiri, sebagaimana dikatakan:”Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17-18).

b) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Ciptaan, Terutama Manusia
Kebangkitan Kristus dari antara orang mati, dinyatakan oleh Kitab Suci sebagai “telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (II Timotius 1:10) juga sebagai : ”memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14). Ini berarti bahwa maut itu bukan sesuatu yang alamiah pada diri manusia, karena Kristus harus datang untuk “mematahkan” maut itu dan juga “memusnahkan” Iblis yang berkuasa atas maut ini. Dengan dipatahkannya maut serta dimusnahkannya penguasanya, maka Kristus “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” yang terbukti dari tubuh-Nya yang telah bangkit , dan “sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” ( Roma 6:9). Tubuh Kristus yang telah bangkit dari kematian itu hidup terus, dan bahkan dibawa ke sorga berwujud “Tubuh Yang Mulia” (Filipi 3:21).

c) Kristus Yesus sebagai “Tuhan”

Dalam kaitannya dengan kebangkitan dan pengangkatanNya dalam kemuliaan di sorga sebagai “Kristus Kosmik”/“The Cosmic Christ” adalah perlu kita memahami penegasan Perjanjian Baru bahwa Kristus adalah “Tuhan”, yang juga dinyatakan oleh Pengakuan Iman Nikea dalam butirnya yang kedua yang berisi pengakuan yang berbunyi: ”Dan kepada Satu Tuhan Yesus Kristus…”.

Banyak orang salah mengerti akan makna gelar ini, karena mereka langsung menganggap bahwa arti gelar Tuhan bagi Yesus itu artinya langsung berarti Allah. Padahal menurut Perjanjian Baru sebutan Allah itu dikenakan kepada Sang Bapa dan Tuhan itu kepada Yesus Kristus. Jadi sebutan “Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus dalam Kitab Suci. Sehingga “Tuhan Yesus” maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Sang Penguasa Yesus”. Hal ini dibuktikan dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini :”…Yesus adalah Tuhan….Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “ Allah, yang membangkitkan Tuhan….” (I Kor.6:14) “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…..satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Kor.8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Jadi kata “Tuhan” (Kyrios) disini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah” (“Theos”). Itulah sebabnya ayat-ayat diatas jelas membedakan “Allah” yaitu “Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau “Bapa” ini.

Karena Allah itulah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi tersebut kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang dikatakan dalam Kisah 2:36:” Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”.

Mengenai Pribadi Yesus Kristus

Rumusan-rumusan Kristologis baik dalam Pengakuan Iman Nikea maupun dalam enam Konsili Ekumenis yang lain itu dilakukan oleh Gereja Orthodox di zaman purba itu bukan bertujuan untuk memuaskan rasa keingin-tahuan intelektual saja. Bukan pula itu dilakukan demi untuk spekulasi filsafat. Pula bukan hanya sekedar demi kepentingan akademis saja. Lebih-lebih itu bukan dilakukan demi tujuan politik seperti yang dituduhkan oleh Dan Brown dalam bukunya yang bikin heboh “The Da Vinci Code” itu. Namun rumusan-rumusan tersebut dilakukan demi untuk memagari ajaran Rasuliah yang hendak diselewengkan oleh kaum bidat, dan demi untuk menjaga utuh keselamatan manusia di dalam Kristus yang dilandasi oleh karya KebangkitanNya itu. Dengan demikian rumusan Kristologis adalah untuk tujuan Soteriologis, untuk tujuan keselamatan manusia.


a) KeilahianNya sebagai Firman Allah

Diatas telah kita bahas bahwa Kebangkitan Kristus membuktikan Dia itu berkodrat Allah. Juga telah kita bahas bahwa Kristus itu “pra-ada” mendahului adanya dunia, dan bahwa Kristus itu menyatakan diriNya sebagai Anak dari Allah, Bapa, Yang Esa. Namun Ia juga menyatakan diri sebagai yang “telah keluar dari Allah”, yang berarti Ia sebenarnya berada satu di dalam diri Allah. Sebagai apakah Kristus itu berada satu di dalam Allah, Bapa, dalam kekekalan itu? Jawabannya dapat kita baca dalam beberapa bagian dari Kitab Suci demikian: ” …..Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” (Ibrani 1:2).

b) Satu Hypostasis dari Firman Allah

Selanjutnya hal yang amat perlu dimengerti adalah bahwa meskipun kita menganalogikan antara Logos dan Akal pikiran Allah, dengan kata-kata dan akal pikiran manusia, namun satu hal yang harus disadari adalah “Logos/Firman” Allah itu memiliki perbedaan yang amat besar dengan “kata-kata” manusia. Ini disebabkan Allah tak dapat disamakan dengan manusia, sebagaimana dikatakan : ” Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku?…..” (Yesaya 44:6-7), dan “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?” (Yesaya 46:5) dan jawabannya adalah : ” … ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau…” (II Samuel 7:22).

c) Hubungan Antara Kemanusiaan dan Keilahian dari Firman Allah Yang Menjelma

Diatas telah kita bahas bahwa meskipun Yesus Kristus oleh kebangkitanNya terbukti berkodrat “Allah”, karena Dia itu adalah “Firman Allah”, namun karena Ia berwujud manusia, maka Dia adalah Firman Allah yang menjelma. Artinya Ia adalah Firman Allah yang “menjadi manusia” atau “menjadi daging” (Yohanes 1:14). Ia adalah Firman Allah yang “diutus” (Yohanes 17:3, Galatia 4:4) turun dari sorga ke bumi (Yohanes 3:13, 6:38,41-42,50-51,58) oleh akibat tindakan dan gerak kasih kekal yang ada di dalam diri Allah yang kita sebut diatas tadi. Dan pada saat turunNya dari sorga itu Ia masuk ke dalam rahim wanita: Maria Sang Perawan (Galatia 4:4). Oleh kuasa Roh Kudus (Matius 1:18) Ia mengambil kemanusiaan atau “mengambil rupa seorang hamba” dari rahimnya sehingga Ia disebut sebagai “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42), serta “menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) yaitu mengenakan Tubuh Manusia, bagi keselamatan manusia. Itulah yang dikatakan Pengakuan Iman Nikea butir kedua yang telah kita kutip diatas: ”Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam, serta menjadi manusia.”

Demikianlah “Kodrat Ilahi” Kristus yang bersifat api itu (Ibrani 12:29) tanpa berubah sifat ke-Ilahi-anNya telah menyatu/manunggal dalam “Satu Hypostasis” dengan “Kodrat Manusia”-Nya tanpa menghilangkan sifat-sifat manusiawiNya , namun merembesi dan meresapi “Kodrat Manusiawi” itu dengan sifat-sifat dari Kodrat IlahiNya. Dengan demikian dalam Kristus sekarang dimungkinkan bagi manusia untuk secara langsung manunggal dengan Allah secara nyata dan kongkrit bagi mengambil-bagian dalam kekekalan, kemuliaan, serta sifat-sifat dan kodrat ilahi , sehingga manusia lepas dari kuasa maut, dosa dan Iblis. Dan inilah yang dimaksud dengan keselamatan itu. Hal itu dikatakan demikian oleh Kitab Suci: ”… Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi…” (II Petrus 1:4), serta :”….Setiap orang yang lahir dari Allah, …. benih ilahi tetap ada di dalam dia….” (I Yohanes 3:9).

Itulah sebabnya mengapa Bapa Suci Kyrillos Patriarkh dari Alexandria pada Konsili Ekumenis Ketiga tahun 431 Masehi di Efesus itu menentang habis-habisan ajaran Nestorianisme yang menolak menyebut Bunda Maryam sebagai “Theotokos” (“Theos = Allah” , “tokos” = dia yang memberikan kelahiran”), yaitu Ibu Tuhan (Lukas 1:43) . Dalam Lukas 1:43 ini kata “Tuhan” dari ucapan Elisabet yang memberi salam kepada Maryam yang sedang mengandung ini perlu dimengerti dalam arti Yahweh/YHWH yaitu “Allah”, sebab seorang bayi tak mungkin disebut sebagai “Kyrios” dalam arti “Pak, Tuan”, dan sebagai yang belum bangkit dan belum dimuliakan itu, si bayi yang masih dikandung Maryam itu belum diangkat sebagai “Kyrios”, yaitu ”Tuhan” dalam arti “Penguasa Mutlak”.

Dari apa yang kita bahas diatas itu nyatakah bahwa Gereja Orthodox menekankan bahwa Kristus itu memiliki kemanusiaan yang sempurna, dalam segala hal ia sama dengan segenap manusia lainnya. Untuk makin menegaskan kemanusiaan Kristus itu maka dalam Konsili Ekumenis yang Ketujuh pada tahun 787 Masehi Gereja Orthodox melawan ajaran “Ikonoklasme”. Sejak zaman perdana Gereja Rasuliah itu telah menggunakan “symbol-symbol” dan gambar-gambar, terutama di katakombe-katakombe. Dan itulah yang akhirnya berkembang menjadi seni Ikonografi dalam Gereja Timur. Berawal dari abad ketujuh Kaisar Leo dari Isauria melarang penggunaan Ikon karena dianggap sebagai berhala dan terus berlangsung sampai abad kedelapan. Dengan demikian ikon-ikon diperintahkan untuk dihancurkan. Umat Orthodox yang tetap mempertahankan Ikon dianiaya dan dibunuh. Untuk melawan ajaran Ikonoklasme inilah maka Konsili Ekumenis yang Ketujuh diadakan.

Firman itu disebut “Firman Hidup”: karena Dia menyatakan Diri sebagai makhluk hidup: Manusia, bukan buku mati yang berwujud tulisan. Begitu hidupnya penampakan ini sehingga, Ia telah: di dengar, dilihat dengan mata, disaksikan, diraba dengan tangan. Jika larangan Perjanjian Lama tentang pembuatan patung Allah itu terkait dengan penampakannya yang tanpa rupa, sekarang Dia nampak “Dengan Rupa”, masihkah larangan itu berlaku? Jelas tidak. Keberadaan Allah yang azali dan ghaib itu tetap tak dapat digambarkan, namun keberadaan penampakanNya sebagai manusia yang telah di dengar, dilihat, disaksikan dan diraba dengan tangan itu jelas dapat dan harus digambarkan untuk menegaskan bahwa Allah sekarang sudah menampakkan Diri bukan tanpa rupa lagi, namun “DENGAN RUPA”.

Konsisten dengan makna theologis bagi Inkarnasi Kristus inilah Gereja Orthodox tak pernah menggunakan patung, meskipun Perjanjian Lama mengijinkan pembuatan patung, sebab tolok-ukurnya adalah Inkarnasi (Penjelmaan) Firman Allah sebagai manusia. Mengapa ada juga Ikon orang kudus, bukan Kristus saja? Karena orang-orang kudus itu adalah yang “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Gambaran AnakNya” (Roma 8:29). Jadi mereka adalah “keserupaan Gambar Kristus”, sebagai dampak langsung dari Inkarnasi, itulah sebabnya mereka juga digambarkan. Dengan adanya Ikon maka fakta Inkarnasi Kristus yang betul-betul memiliki daging jasmani ini ditegaskan. Karena manusia daging jasmani itu memang dapat digambarkan. Namun itu juga menegaskan bahwa benda jasmani sebagai wakil dari segenap alam ciptaan ikut mengalami pemuliaan akibat karya keselamatan di dalam Kristus. Karena itu benda jasmani bukanlah sesuatu yang asing yang boleh diabaikan dalam pemahaman akan keselamatan. Keikut-sertaan benda jasmani dalam karya penebusan ini menyebabkan akan adanya langit baru dan bumi baru. Itulah sebabnya karena benda jasmani yang ikut terangkul dalam penebusan itu tak dapat memuji Allah pada dirinya sendiri, diikut sertakan oleh Gereja Orthodox dalam ibadahnya kepada Allah, yaitu dalam bentuk diikutkannya unsur kayu sebagai bahan pembuat ikon, unsur api dalam lilin dan arang untuk dupa, unsur wangi-wangian dalam bentuk dupa, unsur makanan dalam bentuk roti Perjamuan, unsur minuman dalam bentuk Anggur Komuni, unsur air dalam baptisan dan upacara penyucian air, unsur minyak untuk lampu kandil dan untuk pengurapan, dan sebagainya. Unsur-unsur benda jasmani ini bukan sebagai sandaran penyembahan, namun sebagai “mitra” untuk bersama diajak menyembah Allah. Karena dengan demikian mengingatkan umat Orthodox bahwa unsur jasmani itu juga dirangkul dalam penebusan, dan unsur-unsur jasmani itu nantinya akan ikut dimuliakan dalam bentuk dijadikannya “langit yang baru dan bumi yang baru” itu. (II Petrus 3:12).


Kesimpulan

Dari semua yang kita bahas ini jelas terlihat bahwa memang Gereja Orthodox tidak tertarik untuk bertheologia demi kepentingan akademik murni, ataupun hanya demi kepentingan spekulasi filsafati, serta hanya demi untuk menambah pengetahuan saja, namun itu dilakukan demi menjaga “keselamatan” manusia, dan demi memungkinkan “manunggalnya” manusia dengan Allah di dalam Kristus. Kiranya Kristus ditinggikan dan Nama Allah dipuji .Amin.

Tugas Akhir Yunani 2

“Perjuangan Rasul Paulus”

2 Timotius 4:6-8

Ἐγὼ γὰρ ἤδη σπένδομαι, καὶ ὁ καιρὸς τῆς ἐμῆς ἀναλύσεως ἐφέστηκεν.

Penjelasan syntactic form

Ayat 6

Ada 2 kalimat atau klausa di ayat 6. Pertama, Ἐγὼ ἤδη σπένδομαι. Subjeknya adalah Ἐγὼ dan predikatnya adalah ἤδη σπένδομαι. Kedua, ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεως ἐφέστηκεν. Subjeknya adalah ὁ καιρὸς τῆς μου ἀναλύσεως dan predikatnya adalah ἐφέστηκεν.

Ἐγὼ = nominative of subject berfungsi sebagai subjek dari σπένδομαι.

σπένδομαι = indicative, present, passive, 1st person singular; present progressive artinya pencurahan darah Rasul Paulus sebagai korban sedang terjadi.

ὁ καιρὸς = nominative of subject berfungsi sebagai subjek dari ἐφέστηκεν.

τῆς ἀναλύσεως = genitive of description menjelaskan kata ὁ καιρὸς

μου = genitive of possessive menjelaskan milik dari τῆς ἀναλύσεως

ἐφέστηκεν = indicative, perfect, active, 1st person singular; perfect of intensive menjelaskan hasil tindakan dia dari masa lampau sampai sekarang

Terjemahan Literal

Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah dan waktu keberangkatanku sudah dekat.

Syntactic Content

  1. Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah
  2. Waktu keberangkatanku sudah dekat

Semantic Content

Poin-poin semantis:

  1. Nyawa Rasul Paulus sedang dipertaruhkan atau dicurahkan kepada Allah sebagai korban atau persembahan
  2. Hidup sampai kematian Rasul Paulus adalah suatu korban kepada Allah
  3. Kematian Rasul Paulus sudah dekat
  4. Kematian Rasul Paulus adalah demi Injil Kristus atau pelayanannya kepada Kristus

Konsep Teologis

Ide utama: Kematian Rasul Paulus

Ide-ide pendukung:

  1. Kematian Rasul Paulus adalah korban kepada Allah
  2. Kematiannya sudah dekat dengan cara mencurahkan darah atau kematian martir
  3. Kematiannya demi pelayanan kepada Kristus atau Injil Kristus.

Penjelasan Konsep Teologis

Kematian Rasul Paulus diibaratkan seperti korban darah yang dipersembahkan kepada Allah. Ini artinya kematiannya adalah suatu persembahan korban kepada Allah. Bapa Gereja John Chrysostom juga menyatakan bahwa, “He has not said of my sacrifice; but, what is much more, “of my being poured out.” For the whole of the sacrifice was not offered to God, but the whole of the drink-offering was.”[1]

Kematiannya yang dipersembahkan kepada Allah adalah untuk kepentingan jemaat atau Gereja (Fil 2:17). Darah yang dicurahkan di sini berarti nyawa yang dipersembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus (Fil 2:17). Rasul Paulus mempersembahkan darahnya atau nyawanya di atas korban yang dipersembahkan oleh jemaat kepada Allah. Menurut Hendi yang menafsirkan Fil 2:17, “Paulus mati martir dan ini seperti pengorbanan darah yang dicurahkan di atas korban. Namun walaupun aku harus mati sebagai martir dan ini seperti pengorbanan darah yang dicurahkan di atas korban yang kamu persembahkan kepada Allah atas dorongan percayamu kepada-Nya.”[2]

Nyawa yang dipersembahkan kepada Allah adalah kembali berada bersama dengan Kristus (Fil 1:23) dan ini adalah keuntungan bagi Rasul Paulus sebab dia berada bersama dengan Kristus yang dia layani (Fil 1:21). Itulah sebabnya Rasul Paulus juga bersukacita (Fil 2:17) dan mengajak jemaat Filipi ikut bersukacita bersamanya (Fil 2:18). John Chrysostom menuliskan,

For this he implies, when he says, “Yea, and if I am offered upon the sacrifice and service, I joy and rejoice with you all; and in the same manner do ye also joy and rejoice with me.” Why dost thou rejoice with them? Seest thou that he shows that it is their duty to rejoice? On the one hand then, I rejoice in being made a libation; on the other, I rejoice with you, in having presented a sacrifice; “and in the same manner do ye also joy and rejoice with me,” that I am offered up; “rejoice with me,” “who rejoice in myself.” So that the death of the just is no subject for tears, but for joy. If they rejoice, we should rejoice with them. For it is misplaced for us to weep, while they rejoice.[3]

Ringkasan

Darah yang dicurahkan oleh Rasul Paulus adalah nyawa yang dipersembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus. Dan Rasul Paulus menganggap itu suatu keuntungan dan dia bersukacita.

Kematian bagi orang percaya adalah sukacita dan keuntungan bukan suatu yang menakutkan dan menyedihkan sebab ketika kematian itu datang kita sudah mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai korban yang berkenan kepada-Nya.

Aplikasi

  1. Meneladani hidup Rasul Paulus yang setia melayani Gereja dan memberitakan Injil Kristus kepada orang-orang di luar Gereja
  2. Melayani dan taat sampai mati seperti Rasul Paulus.

Ayat 7

I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith.

τὸν καλὸν ἀγῶνα ἠγώνισμαι, τὸν δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν τετήρηκα· (2 Tim. 4:7 BGT)

Penjelasan Syntactic Form

Ayat 7

τὸν definite article accusative masculine singular from

καλὸν adjective normal accusative masculine singular no degree from καλός  

ἀγῶνα noun accusative masculine singular common from ἀγών

ἠγώνισμαι, verb indicative perfect middle 1st person singular from ἀγωνίζομαι

τὸν definite article accusative masculine singular from

δρόμον noun accusative masculine singular common from δρόμος

τετέλεκα, verb indicative perfect active 1st person singular from τελέω

τὴν definite article accusative feminine singular from

πίστιν noun accusative feminine singular common from πίστις

πίστιν noun accusative feminine singular common from πίστις

Terjemahan Literal

Ayat 7

Aku telah memenangkan pertandingan aku telah mengakhiri perlombaan aku telah memlihara iman.

Point – point syntac

  1. Aku telah memenangkan pertandingan
  2. Aku telah mengakhiri perlombaan
  3. Aku telah memelihara iman.

Poin – poin Semantis

  1. Rasul Paulus tidak kalah dalam pertandingan
  2. Rasul Paulus telah mencapai perlombaan
  3. Rasul Paulus senantiasa menjaga iman

Konsep Teologis

Ide utama : Perjuangan Rasul Paulus

Ide pendukung:

  1. Rasul Paulus tidak kalah dalam pertandingan
  2. Rasul Paulus telah mencapai perlombaan
  3. Rasul Paulus senantiasa menjaga iman

Penjelasan Konsep Teologis

  1. Rasul Paulus tidak kalah dalam pertandingan

Dalam pertandingan untuk memperjuangkan dirinya sebagai korban Rasul Paulus tidak kalah dalam perlombaan. Ia selalu berusaha untuk mencapai sebuah pertandingan yang luar biasa dia peroleh untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pola asli kodrat manusia adalah “Firman Allah” yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan (Kej 1, Mzm 33:6, Yoh 12:1-3, 1 Kor 8:6b, Ibr 1:2-3, Kol 1:15-16) maka untuk mengembalikan manusia kepada panggilan hidup kekal itu, Firman Allah: “Pola Asli” kodrat manusia itu “mengambil” rupa …. manusia (Fil 2:7, Yoh 1:14) “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibr 2:14) serta “… dalam segala hal Ia harus disamakan …” (Ibr 2:17) dengan manusia, termasuk tubuh, jiwa, roh, pikiran, hati, emosi dan segala sesuatunya, tanpa mengalami perubahan dari kodrat asli-Nya yang satu dalam hakikat keilahian Sang Bapa itu. Demikianlah “Firman Allah” yang menjadi daging itu dalam kodrat asli ilahinya berada satu hakikat dan tak terpisah dari Allah sebagai Kalimatullah, namun yang telah mengambil rupa manusia sama dan mendapat bagian dalam segala hal dengan keadaan manusia tadi, Dia berada satu dengan manusia, maka jadilah Ia satu-satuNya “Pengantara” antara kodrat ilahi (Allah) dan kodrat manusiawi (manusia) (1 Tim 2:5). Di dalam “Firman Menjelma”: Yesus Kristus ini, panunggalan antara Allah dan Manusia, Surga dan Bumi, Rohani dan Jasmani, Ilahi dan Manusiawi, Tak Tercipta dan Tercipta, Baka dan Fana, Tuhan dan Hamba, “Kawulo lan Gusti” telah terjadi. Karena yang tubuh di mana maut, kelapukan dan kefanaan itu tinggal, telah diambil dan dikenakan oleh “Firman” (Kalimatullah) sebagai sumber ciptaan, kehidupan, dan kekekalan (karena yang ilahi itu hidup dan kekal), maka terhisaplah kefanaan, kelapukan, dan kematian yang tinggal dalam tubuh kemanusiaan Firman yang menjelma ke dalam kehidupan dan kekekalan yang Ilahi itu sendiri, yang dibuktikan oleh kebangkitan-Nya dengan tubuh yang sama tadi dari antara orang mati. [4]

Untuk itulah Rasul Paulus senantiasa berjuang sampai akhir dan ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Rasul Paulus yakin bahwa perjuangannya tidak akan sia – sia.

  • Rasul Paulus telah mencapai perlombaan

Rasul Paulus telah mencapai perlombaan yang telah ia perjuangkan. Oleh sebab itu dia senantiasa taat dan setia kepada Tuhan Yesus Kristus dan selalu berharap dan berserah kepadanNya. Perjuangan Rasul Paulus mungkin tidak semulus yang kita bayangkan banyak ancaman dan penderitaan yang dia hadapi untuk mencapai perlombaan yang di tuju dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan upaya yang ekstra dan mengorbankan nyawa untuk memberitakan Injil keseluruh bangsa.

Menjadi manusia rohani (a spiritual man) berarti menjadi manusia yang bertumbuh dalam Kristus (1 Kor 3:1-3; Efe 4:13,15; Ibr 5:11-14; 1 Pet 2:2; 2 Pet 3:18). Dan hasil pertumbuhan ini adalah “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Kor 3:18). [5]

Apabila kita menjadi manusia Rohani kita sama seperti Rasul Paulus yang senantiasa taat kepada Tuhan dan setia sampai akhir hidup kita.

  • Rasul Paulus senantiasa menjaga iman

Rasul Paulus berjuang untuk hidup kudus dan menjaga imannya tetap teguh didalam Tuhan. Selalu ada hambatan dan rintangan yang dia hadapi untuk mencapai sebuah perlombaan yang memperoleh mahkota kehidupan. Nepsis atau perhatian batin didasarkan pada kata-kata Yesus. Hanya melalui kewaspadaan dan kewaspadaan bahwa kita dapat siap pada saat Tuhan berbicara saat murid-muridNya bertanya,

Beritahu kami, kapan ini, dan apa yang akan menjadi tanda kedatanganmu dan akhir zaman? (Matius 24: 3).
Karena itu, berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu jam berapa Tuhan datang (Matius 24:42).
Dua kejadian terbesar dalam sejarah manusia adalah: 1. Ketika Tuhan menjadi manusia di dalam Yesus untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kematian dan membawa kita ke surga; dan 2. Kedatangan Kedua Kristus. Meski tidak ada yang tahu tahun, bulan, hari, atau jamnya; tanggal pastinya ada di kalender Tuhan, hanya diketahui olehNya.

Sangat menarik bahwa kata kalender berasal dari bahasa Latin kalendae yang dalam masyarakat Romawi disebut pada saat akun jatuh tempo. Jadi, pada saat Kedatangan Kedua Kristus kita akan berdiri di hadapan penghakiman-Nya dan memberikan penjelasan tentang apa yang telah kita lakukan dengan hidup kita (II Kor 5:10). Oleh karena itu, perhatian harus menjadi bagian dari gaya hidup setiap orang Kristen. Setiap nama tengah orang Kristen seharusnya “Gregorius” yang dalam bahasa Yunani berarti “yang waspada atau waspada.”

“Berbahagialah orang-orang yang ditinggalkan Tuhan pada waktu Ia datang, akan melihat,” kata Yesus (Lukas 12:37). Hari Tuhan akan datang. Bagi mereka yang tidak menonton, Dia akan datang tanpa diduga sebagai “”Pencuri di malam hari” (I Tesalonika 5: 2), tetapi bagi mereka yang melihat Dia tidak akan datang sebagai pencuri melainkan sebagai Mempelai Pria dari jiwa kita.[6]

Ringkasan Teologis

Dalam pertandingan untuk memperjuangkan dirinya sebagai korban Rasul Paulus tidak kalah dalam perlombaan. Ia selalu berusaha untuk mencapai sebuah pertandingan yang luar biasa dia peroleh untuk mencapai hasil yang maksimal. Rasul Paulus telah mencapai perlombaan yang telah ia perjuangkan. Oleh sebab itu dia senantiasa taat dan setia kepada Tuhan Yesus Kristus dan selalu berharap dan berserah kepadanNya. Perjuangan Rasul Paulus mungkin tidak semulus yang kita bayangkan banyak ancaman dan penderitaan yang dia hadapi untuk mencapai perlombaan yang di tuju dengan mengorbankan waktu, tenaga, dan upaya yang ekstra dan mengorbankan nyawa untuk memberitakan Injil keseluruh bangsa. Rasul Paulus berjuang untuk hidup kudus dan menjaga imannya tetap teguh didalam Tuhan. Selalu ada hambatan dan rintangan yang dia hadapi untuk mencapai sebuah perlombaan yang memperoleh mahkota kehidupan.

Aplikasi

  1. Meneladani hidup Rasul Paulus yang setia dan taat berjuang sampai akhir hidupnya.
  2. Melayani dan taat sampai mati seperti Rasul Paulus.
  3. Berjaga – jaga dn berdoa untuk menjaga iman.

Ayat 8

Finally, there is laid up for me the crown of righteousness, which the Lord, the righteous Judge, will give to me on that Day, and not to me only but also to all who have loved His appearing.

λοιπὸν ἀπόκειταί μοι ὁ τῆς δικαιοσύνης στέφανος, ὃν ἀποδώσει μοι ὁ κύριος ἐν ἐκείνῃ τῇ ἡμέρᾳ, ὁ δίκαιος κριτής, οὐ μόνον δὲ ἐμοὶ ἀλλὰ καὶ πᾶσιν τοῖς ἠγαπηκόσιν τὴν ἐπιφάνειαν αὐτοῦ.

λοιπὸν adverb OR adjective normal accusative neuter singular no degree from λοιπός

ἀπόκειταί verb indicative present passive 3rd person singular from ἀπόκειμαι

μοι pronoun personal dative singular from ἐγώ

definite article nominative masculine singular from

τῆς definite article genitive feminine singular from

δικαιοσύνης noun genitive feminine singular common from δικαιοσύνη

στέφανος, noun nominative masculine singular common from στέφανος

ὃν pronoun relative accusative masculine singular from ὅς

ἀποδώσει verb indicative future active 3rd person singular from ἀποδίδωμι

μοι pronoun personal dative singular from ἐγώ

definite article nominative masculine singular from

δίκαιος adjective normal nominative masculine singular no degree from δίκαιος

κριτής, noun nominative masculine singular common from κριτής

οὐ adverb from οὐ

μόνον adverb from μόνος

δὲ conjunction coordinating from δέ

ἐμοὶ pronoun personal dative singular from ἐγώ

ἀλλὰ conjunction coordinating from ἀλλά

καὶ adverb from καί

πᾶσιν adjective indefinite dative masculine plural no degree from πᾶς

τοῖς definite article dative masculine plural from

ἠγαπηκόσιν verb participle perfect active dative masculine plural from ἀγαπάω

τὴν definite article accusative feminine singular from

ἐπιφάνειαν noun accusative feminine singular common from ἐπιφάνεια

αὐτοῦ. pronoun personal genitive masculine singular from αὐτός

Terjemahan literal

Aku mendapat mahkota kebenaran yang dari Tuhan hakim yang adil, Yang membrikan padaku harinya bukan hanya padaku tetapi kepada semua orang.

Point – point Syntac

  1. Aku mendapat mahkota kebenaran yang dari Tuhan hakim yang adil
  2. Yang memberikan padaku harinya bukan hanya padaku tetapi kepada semua orang

Point – point Semantis

  1. Perjuangan Rasul Paulus memperoleh mahkota kebenaran.
  2. Mahkota di berikan kepada semua orang yang berjuang seperti Rasul Paulus

Konsep Teologis

Ide Utama : Hasil dari sebuah perjuangan Rasul Paulus

Ide Pendukung :

  1. Perjuangan Rasul Paulus memperoleh mahkota kebenaran.
  2. Mahkota di berikan kepada semua orang yang berjuang seperti Rasul Paulus

Ringkasan Teologis

Untuk mencapai mahkota kebenaran tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Butuh perjuangan dan usaha yang keras. Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama ketika ia mengerjakan keselamatannya untuk memperoleh mahkota dari Tuhan. Rasul Paulus menguatkan Timotius untuk terus setia memberitakan Injil Kristus bersama dengannya. Sebab itu, dalam konteks penderitaan seperti ini dia mengajak Timotius untuk menjadi seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Artinya, Timotius harus memiliki mental dan karakter seperti seorang prajurit karena medan perjuangan yang berat. Menjadi seorang prajurit yang baik berarti bertempur atau berjuang di medan pertempuran. Dia tidak duduk diam melainkan bertempur. Pelayanan Timotius ada di medan perjuangan. Rasul Paulus menuliskan, “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni” (1 Tim. 1:18; lihat juga 1 Tim 6:12).

Dan Timotius telah mengalami penderitaan dan sengsara bersama Rasul Paulus di Antiokhia, Ikonium, dan Listra (2 Tim 3:11). Itulah perjuangan Timotius sebagai seorang prajurit Kristus. Kedua, perjuangan ini harus dikerjakan dengan menguasai diri dalam segala hal yakni fokus pada tujuan pemberitaan Injil bukan pada kekuatiran akan soal-soal penghidupannya (ayat 4 dan 2 Tim 4:5). Seorang prajurit harus fokus pada tugas-tugasnya sehingga dia bisa merebut kemenangan dari musuhnya. Ketiga, seorang prajurit adalah tahan atau sabar menderita (2 Tim 4:5). Dia tidak gampang putus asa ketika kesulitan datang melainkan dia sabar menanggungnya. Keempat, dia berkenan atau layak di hadapan

147

komandan yang telah memanggilnya. Dia terampil, fokus, tahan menderita, dan menunaikan tugasnya dengan baik (2 Tim 4:5). Seorang prajurit tidak meninggalkan tugasnya melainkan menyelesaikan tugasnya sampai selesai. Seperti Rasul Paulus tuliskan, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri perjuangan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Tim 4:6-7). Inilah empat ciri seorang prajurit yang baik. 

Timotius adalah seorang prajurit Kristus yang baik. Dia berjuang demi nama Kristus bersama Rasul Paulus. Tujuan perjuangan mereka jelas yakni untuk memberitakan Injil Kristus sehingga semakin banyak orang diselamatkan dalam Kristus. Tujuan yang mulia ini harus dihadapi dengan penderitaan dan korban hidup. Inilah perjuangan seorang prajurit Kristus sampai akhir hidupnya yakni menunaikan tugas pelayanannya. Dan Allah akan menyediakan mahkota kebenaran kepada mereka yang telah menjadi prajurit Kristus yang baik (2 Tim 4:8).

Ringkasan Teologis

Untuk mencapai mahkota kebenaran tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Butuh perjuangan dan usaha yang keras. Rasul Paulus juga mengalami hal yang sama ketika ia mengerjakan keselamatannya untuk memperoleh mahkota dari Tuhan. Rasul Paulus menguatkan Timotius untuk terus setia memberitakan Injil Kristus bersama dengannya. Sebab itu, dalam konteks penderitaan seperti ini dia mengajak Timotius untuk menjadi seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Artinya, Timotius harus memiliki mental dan karakter seperti seorang prajurit karena medan perjuangan yang berat. Menjadi seorang prajurit yang baik berarti bertempur atau berjuang di medan pertempuran.

Aplikasi

  1. Sebuah perjuangan pasti mendapatkan hasil seperti Rasul Paulus yang memperoleh mahkota kebenaran
  2. Jadilah seorang prajurit yang taat dan setia seperti Timotius

[1] John Chrysostom, The Homilies of St. John Chrysostom On the Epistles of St. Paul the Apostle

to Timothy, Titus, and Philemon, Volume XIII dari Nicene and Post Nicene Fathers of the Christian Church, Philip Schaff ed., (Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1887), 511.

[2] Hendi, Tafsiran Surat Filipi: Sebuah Analisis Colon (Yogyakarta: Leutikaprio, 2017), 59.

[3] Chrysostom, The Homilies of St. John Chrysostom On the Epistles of St. Paul the Apostle

to Philippians, Colossians, and Thesalonians, 223.

[4] Hendi Wijaya, inspirasi Kalbu, Vol. 1 (Yogyakarta: Leutika Pro, 2017),63

[5] Hendi Wijaya, inspirasi Kalbu, Vol. 1 (Yogyakarta: Leutika Pro, 2017), 70

[6] Anthony M. Coniaris, Philokalia the Bible of Orthodox Spirituality, (Minepolis: Light & Life Publishing Company, 1998),315

Yunani 2

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat : 2 Semester 4

Dosen : Hendi Wijaya S.S

Latihan Participle

  1. Yohanes 16:8  
  2. Καὶ ἐλθὼν ἐκεῖνος ἐλέγξει τὸν κόσμον περὶ ἁμαρτίας καὶ περὶ δικαιοσύνης καὶ περὶ κρίσεως·
  3. “And when He has come, He will convict the world of sin, and of righteousness, and of judgment:
  4. ἐλθὼν (datang) = participle, aorist, active, nominative, masculine, singular.
  5. Syntactic form
  • ἐλέγξει menjelaskan kata kerja participle temporal kontemporary
  • Yohanes 6:24
  • ὅτε οὖν εἶδεν ὁ ὄχλος ὅτι Ἰησοῦς οὐκ ἔστιν ἐκεῖ οὐδὲ οἱ μαθηταὶ αὐτοῦ, ἐνέβησαν αὐτοὶ εἰς τὰ πλοιάρια καὶ ἦλθον εἰς Καφαρναοὺμ ζητοῦντες τὸν Ἰησοῦν.
  • when the people therefore saw that Jesus was not there, nor His disciples, they also got into boats and came to Capernaum, seeking Jesus.
  • ζητοῦντες = participle, present, active, nominative, masculine, plural.
  • Syntactic form

5. Kata ζητοῦντες  (mencari) menjelaskan kata ἦλθον (datang) participle purpose

  • Yohanes 20:20
  • καὶ τοῦτο εἰπὼν ἔδειξεν τὰς χεῖρας καὶ τὴν πλευρὰν αὐτοῖς. ἐχάρησαν οὖν οἱ μαθηταὶ ἰδόντες τὸν κύριον.
  • When He had said this, He showed them His hands and His side. Then the disciples were glad when they saw the Lord.
  • εἰπὼν  = participle, aorist active nominative masculine singular

ἰδόντες = participle, aorist, active, masculine, plural.

  • Syntactic Form
  • εἰπὼν (berkata) menjelaskan kata ἔδειξεν  (menunjukkan) dan kata ἰδόντες (melihat) menjelaskan kata sukacita  ἐχάρησαν participle cause atau temporal
  • Lukas 9:25
  • τί γὰρ ὠφελεῖται ἄνθρωπος κερδήσας τὸν κόσμον ὅλον ἑαυτὸν δὲ ἀπολέσας ἢ ζημιωθείς;
  • “For what profit is it to a man if he gains the whole world, and is himself destroyed or lost?
  • κερδήσας = participle, aorist, active, nominative, masculine, singular.
  • Syntactic Form
  • kata ὠφελεῖται  ( gunanya) menjelaskan kata κερδήσας (memperoleh) participlenya  condition (jika)
  • Filipi 2:6
  • ὃς ἐν μορφῇ θεοῦ ὑπάρχων οὐχ ἁρπαγμὸν ἡγήσατο τὸ εἶναι ἴσα θεῷ,
  • who, being in the form of God, did not consider it robbery to be equal with God,
  • ὑπάρχων = participle, present, active, nominative, masculine, singular.
  • Syntactic Form
  • ὑπάρχων  (keluar) menjelaskan kata ἡγήσατο (salam) Participle Conseccion
  • Matius 6:27
  • τίς δὲ ἐξ ὑμῶν μεριμνῶν δύναται προσθεῖναι ἐπὶ τὴν ἡλικίαν αὐτοῦ πῆχυν ἕνα;
  • “Which of you by worrying can add one cubit to his stature?
  • μεριμνῶν = participle present, active, nominative, masculine, singular.
  • Syntactic Form
  • δύναται menjelaskan kata kerja participle Means.

Yunani 2

Nama :Elizabeth Situmorang

Tingkat : 2 Semester 4

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Efesus 4 : 6-8

  1. Ἐγὼ γὰρ ἤδη σπένδομαι, καὶ ὁ καιρὸς τῆς ἀναλύσεώς μου ἐφέστηκεν. (2 Tim. 4:6 BGT)

τὸν καλὸν ἀγῶνα ἠγώνισμαι, τὸν δρόμον τετέλεκα, τὴν πίστιν τετήρηκα· (2 Tim. 4:7 BGT)

λοιπὸν ἀπόκειταί μοι ὁ τῆς δικαιοσύνης στέφανος, ὃν ἀποδώσει μοι ὁ κύριος ἐν ἐκείνῃ τῇ ἡμέρᾳ, ὁ δίκαιος κριτής, οὐ μόνον δὲ ἐμοὶ ἀλλὰ καὶ πᾶσιν τοῖς ἠγαπηκόσιν τὴν ἐπιφάνειαν αὐτοῦ. (2 Tim. 4:8 BGT)

Terjemahan Literal

Sebab aku sedang dicurahkan sebagai korban persembahan darah dan waktu keberangkatanku sudah dekat.

Syntactic content

  1. Sebab aku sedang dicurhakan sebagai korban persembahan darah
  2. Waktu keberangkatanku sudah dekat

Semantic content 

  1. Nyawa Rasul Paulus sedang dipertaruhkan atau dicurahkan kepada Allah sebgai korban atau persembahan
  2. Hidup sampai kematian Rasul Paulus adalah suatu korban kepada Allah
  3. Kematian Rasul Paulus sudah dekat
  4. Kematian Rasul Paulus adalah demi Injil Kristus atau pelayanannya kepada Kristus

Konsep Teologis

Ide utama: Kematian Rasul Paulus

Ide – ide pendukung :

  1. Kematian Rasul Paulus adalah korban kepada Allah
  2. Kematiannya sudah dekat dengan cara mencurahkan darah atau kematian martir
  3. Kematiannya demi pelayanan kepada Kristus atau Injil Kristus.

Penjelasan konsep teologis

Kematian Rasul Paulus diibaratkan sperti korban darah yang di persembahkan kepada Allah. ini artinya  kematiannya adalah suatu persembahan korban kepada Allah (lihat juga filipi 2:17). Kematiannya yang dipersembahkan kepada Allah adalah untuk kepentingan jemaat atau Gereja (Filipi 2:17). Darah yang dicurahkan disini berarti nyawa yang dipersembahkan sebagai korban kepada Allah demi kepentingan jemaat atau pelayanan kepada Kristus.nyawa yang dipersembahkan kepada Allah adalah kembali berada bersama dengan Kristus (Fil.1:23) dan ini adalah untuk kepentingan jemaat atau Gereja (Filipi 2:17). Rasul Paulus mempersembahkan  

Ringkasan

Kematian Rasul Petrus merupakan wujud ketaatanya untuk mempersembahkan hidupnya kepada Kristus.

Yunani 2

Nama : Elizabeth Situmorang

Tingkat :2 Semester 4

Dosen : Hendi Wijaya S.s

Tugas sampai literal sense dan spiritual sense

Kolose 2:16-19

Kolose 2 :16-17

  1. Μὴ οὖν τις ὑμᾶς κρινέτω ἐν βρώσει καὶ ἐν πόσει ἢ ἐν μέρει ἑορτῆς ἢ νεομηνίας ἢ σαββάτων· (Col. 2:16 BGT)

 ἅ ἐστιν σκιὰ τῶν μελλόντων, τὸ δὲ σῶμα τοῦ Χριστοῦ. (Col. 2:17 BGT)

  • So let no one judge you in food or in drink, or regarding a festival or a new moon or sabbaths, (Col. 2:16 NKJ)
  • which are a shadow of things to come, but the substance is of Christ. (Col. 2:17 NKJ)
  • Syntactic form
  • Parsing participle, perfect, aorist, nominative masculine, plural
  • Participlenya ayat 15 dan 16 means.

Penjelasaan syntactic form

Teks atau ayat 16-17 adalah satu kalimat. Ada kata οὖν  yang menghubungkan teks atau ayat sebelumnya. Seubjeknya adalah τις . predikatnya adalah Μὴ ὑμᾶς κρινέτω ἐν βρώσει καὶ ἐν πόσει ἢ ἐν μέρει ἑορτῆς ἢ νεομηνίας ἢ σαββάτων·  ἅ ἐστιν σκιὰ τῶν μελλόντων, τὸ δὲ σῶμα τοῦ Χριστοῦ. Kata Μὴ ὑμᾶς κρινέτω merupakan inti dari predikat.

κρινέτω = verb imperative present active 3rd person singular from κρίνω ; berfungsi sebagai perintah sekarang

ὑμᾶς = ὑμᾶς pronoun personal accusative plural from σύ accusative of direct object

ἐν βρώσει καὶ ἐν πόσει ἢ ἐν μέρει ἑορτῆς ἢ νεομηνίας ἢ σαββάτων·  = dative diikuti preposisi ἐν berfungsi sebagai references

ἅ = pronoun relative nominative neuter plural from ὅς  diterjemahkan “yang”

ἐστιν =

σκιὰ = noun nominative feminine singular common from σκιά

τῶν μελλόντων = verb participle present active genitive neuter plural from μέλλω

Karena itu jangan seorang pun menghakimi kalian mengenai makanan atau minuman, atau hari raya, atau bulan baru, atau hari sabat, yang adalah bayangan  

Pl = bayangan Kristus = hukum taurat

PB = Tubuh /wujud  = Kristus.

Poin – poin syntact

  1. Jangan seorang pun menghakimi kalian mengenai makanan atau minuman atau hari raya atau bulan baru. Atau hari sabat.
  2. Hal – hal itu adalah bayangan yang akan datang
  3. Tetapi wujud nyatanya adalah Kristus

Poin –poin semantis

  1. Hukum taurat itu adalah bayangan dari Kristus
  2. Hukum Taurat itu digenapi di dalam Kristus artinya bayangan tadi sekarang telah menjadi nyata yaitu Kristus
  3. Pl adalah bayangan Kristus
  4. Pb adalah wujudnya atau  tubuh dari bayangan itu yaitu Kristus
  5. Sekarang kita tidak lagi hidup didalam bayangan atau Hukum Taurat tapi hidup dibawah hukum Taurat yaitu Kristus sehingga hidup kita fokus kepada Kristus.
  1. Ayat 17
  2. εἰ δὲ ζητοῦντες δικαιωθῆναι ἐν Χριστῷ εὑρέθημεν καὶ αὐτοὶ ἁμαρτωλοί, ἆρα Χριστὸς ἁμαρτίας διάκονος; μὴ γένοιτο. (Gal. 2:17 BGT)
  3.  “But if, while we seek to be justified by Christ, we ourselves also are found sinners, is Christ therefore a minister of sin? Certainly not! (Gal. 2:17 NKJ)
  4. Syntactic form
  • Participle, aorist present, active, nominative, masculine, plural.
  • Jadi participlenya condition.
  • Ayat 18 dan ayat 19
  • 18 μηδεὶς ὑμᾶς καταβραβευέτω θέλων ἐν ταπεινοφροσύνῃ καὶ θρησκείᾳ τῶν ἀγγέλων, ἃ ἑόρακεν ἐμβατεύων, εἰκῇ φυσιούμενος ὑπὸ τοῦ νοὸς τῆς σαρκὸς αὐτοῦ, (Col. 2:18 BGT)

19 καὶ οὐ κρατῶν τὴν κεφαλήν, ἐξ οὗ πᾶν τὸ σῶμα διὰ τῶν ἁφῶν καὶ συνδέσμων ἐπιχορηγούμενον καὶ συμβιβαζόμενον αὔξει τὴν αὔξησιν τοῦ θεοῦ. (Col. 2:19 BGT)

  • 18 Let no one cheat you of your reward, taking delight in false humility and worship of angels, intruding into those things which he has not seen, vainly puffed up by his fleshly mind, (Col. 2:18 NKJ)

19 and not holding fast to the Head, from whom all the body, nourished and knit together by joints and ligaments, grows with the increase that is from God. (Col. 2:19 NKJ)

18 Let no one cheat you of your reward, taking delight in false humility and worship of angels, intruding into those things which he has not seen, vainly puffed up by his fleshly mind, (Col. 2:18 NKJ)

  • 18 θέλων diparsing Participle, present, active, nominative, masculine singular.

ἐμβατεύων di parsing Participle, present, active, nominative, masculine, singular.

φυσιούμενος di parsing participle, present, passive, nominative, masculine, singular.

19 κρατῶν  di Parsing Participle, present, active, nominative, masculine, singular

ἐπιχορηγούμενον diparsing participle, present, passive, nominative, neuter, singular.

συμβιβαζόμενον  diparsing participle, present passive, nominative, neuter, singular

  • Syntactic form
  • Participlenya adalah ayat 18 cause dan ayat 19 means.

Penjelasan syntactic form

Subjeknya adalah μηδεὶς

Predikatnya adalah ὑμᾶς καταβραβευέτω. ὑμᾶς καταβραβευέτω θέλων ἐν ταπεινοφροσύνῃ καὶ θρησκείᾳ τῶν ἀγγέλων, ἃ ἑόρακεν ἐμβατεύων, εἰκῇ φυσιούμενος ὑπὸ τοῦ νοὸς τῆς σαρκὸς αὐτοῦ, καὶ οὐ κρατῶν τὴν κεφαλήν, ἐξ οὗ πᾶν τὸ σῶμα διὰ τῶν ἁφῶν καὶ συνδέσμων ἐπιχορηγούμενον καὶ συμβιβαζόμενον αὔξει τὴν αὔξησιν τοῦ θεοῦ. Inti predikatnya adalah καταβραβευέτω.

 καταβραβευέτω verb imperative present artinya perintah dengan present sekarang καταβραβεύω

θέλων participle present dative manner.

Genitive of source

διὰ τῶν ἁφῶν καὶ συνδέσμων genitive means

Terjemahan Literal

 Jangan ada seorang pun merampas kemenangan kamu dengan cara – cara ingin didalam merendahkan diri penyembahan kepada malaikat, masuk kepada hal – hal penglihatan dnegan nous atau mata batin yang bersifat kedagingan. Kepala yang darinya semua  tubuh bertumbuh dengan cara ditopang dan di ikat oleh urat – urat dan sendi – sendi.

Point – poin sintaksis

  1. Jangan ada seorang pun merampas kemenangan kamu
  2. dengan cara – cara ingin didalam merendahkan diri penyembahan kepada malaikat,
  3. masuk kepada hal – hal penglihatan dengan nous atau mata batin.
  4. Dengan cara menyombongkan diri tanpa alasan dengan nous/ mata jiwa/ mata batin yang bersifat kedagingan.
  5. Dengan cara tidak berpegang pada kepala
  6. Yang dari kepala itu semua tubuh bertumbuh dari Allah dengan cara ditopang dan diikat oleh urat – urat dan sendi – sendi.

Poin – poin Semantis

  1. Ada 4 cara yang dipakai untuk menggagalkan atau merampas kemenangan kita yaitu Pertama, penyembahan yang salah bukan kepada Allah tetapi k epada malaikat – malaikat.

Kedua, penglihatan – penglihatan

Ketiga menyombongkan diri tanpa alasan dengan Nous yang bersifat daging.

Keempat tidak berpegang kepada Kristus, tidak ada pertumbuhan sebab melalui kepala itu semua tubuh bertumbuh. Pertumbuhan itu berasal dari Allah melalui Kristus.

Menjaga kemenangan iman kita :

  1. Setia beribadah kepada Allah
  2. Awasi ajaran sesat
  3. Menjaga kekudusan diri dengan menjaga nous dari godaaan duniawi
  4. Berpegang teguh kepada Kristus.
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai