Ringkasan Buku Kristologi

Tugas Akhir Dogmatika 3

 Sumber Ajaran Iman Kristen Orthodox

  1. Berita Rasuliah
    Sebagai Gereja yang secara langsung didirikan Kristus yang lahirnya sebagai akibat langsung dari “Peristiwa Yesus Kristus” oleh karya para Rasul di zaman Gereja Perdana itu , sumber ajaran dari Iman Kristen Orthodox itu bertumpu langsung dari “pemberitaan para Rasul” mengenai peristiwa Yesus Kristus itu terutama peristiwa kematian dan kebangkitanNya.
  2. Dua Bentuk Ajaran Rasuliah
    Ajaran Rasuliah yang memiliki dua bentuk: Lisan dan Tertulis inilah yang dipegang Gereja Orthodox sampai kini, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasul Paulus sendiri:” Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. “ ( II Tesalonika 2:15). Ajaran Rasuliah yang satu namun memiliki dua bentuk: “Lisan” dan “Tertulis” ini merupakan sumber ajaran dan keyakinan serta praktek hidup dari Gereja Orthodox. Ajaran Yang Tertulis harus dimengerti dalam lingkup ajaran lisan, dan Ajaran Lisan harus diuji kebenarannya dari Ajaran yang Tertulis. Dengan kata lain Ajaran Tertulis dan Ajaran Lisan tidak boleh saling bertentangan, namun saling mendukung dan saling menjelaskan.
  3. Bentuk-Bentuk Ajaran Lisan
    Jika ajaran Tertulis itu akhirnya terpakemkan dalam bentuk Kitab Suci Perjanjian Baru yang kemudian disatukan dengan Peranjian Lama, ajaran Lisan itu akhirnya juga direkam dalam beberapa bentuk, yaitu:
    1)  Teks Ibadah-ibadah dan Sakramen yang berisi pernyataan theologis yang berasal dari jaman purba namun tetap dipraktekkan Gereja Orthodox sampai kini.
    2) Teks Kidung-Kidung Gereja yang juga berasal dari jaman purba dan tetap dinyanyikan dalam Gereja Orthodox sampai kini yang isinya juga mengungkapkan macam-macam kebenaran Injil dan theologia.
    3) Rumusan-rumusan Kristologis dari ke-Tujuh Konsili Ekumenis Gereja Orthodox Purba yaitu:
    a) Konsili Ekumenis Pertama pada tahun 325 Masehi di Nikea dalam melawan Arianisme yang menentang keilahian Kristus,
    b) Kedua pada tahun 381 Masehi di Konstantinopel dalam melawan Makedonianisme yang menentang ke-ilahian Roh Kudus,
    c) Ketiga pada tahun 431 Masehi di Efesus dalam melawan “Nestorianisme” yang menentang Kristus hanya memiliki “satu Pribadi” sehingga menolak menyebut Maria sebagai Theotokos,
    d) Keempat pada tahun 451 di Kalsedon dalam melawan ajaran “Monophysitisme” yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki “satu kodrat” saja yaitu kodrat ilahi, sedangkan kodrat manusiaNya ditelan oleh kodrat ilahi ini,
    e) Kelima pada tahun 553 Masehi yang menegaskan ulang makna Kristus itu “Satu Pribadi” dalam “Dua Kodrat” yang tak campur-baur, tak kacau-balau, tak terbagi-bagi serta tak terpisah-pisahkan. Dan “Kedua Kodrat” itu manunggal dalam “Satu Pribadi”.
    f) Keenam pada tahun 680-681 Masehi dalam melawan ajaran “Monothelitisme” yang menentang bahwa Kristus memiliki “Dua Kehendak” yaitu kehendak manusia dan kehendak ilahi, dengan kehendak manusiaNya takluk mutlak pada kehendak ilahiNya. Monothelitisme mengajarkan Kristus hanya memiliki kehendak ilahi saja.
    g) Ketujuh atau Terakhir pada tahun 787 Masehi dalam melawan ajaran “Ikonoklasme” yang menentang ke-sungguh-an dari kemanusiaan Kristus dalam Inkarnasi-Nya yang memiliki daging dan darah, sehingga dapat dilukiskan dalam bentuk gambar atau “ikon”. Ikonoklasme menolak ikon-ikon dan dianggap sebagai berhala. Gereja Orthodox menegaskan ikon-ikon sebagai bukti kesungguhan jasmani Kristus sehingga dapat digambar, jadi tak ada sangkut pautnya dengan berhala.

    Kebangkitan Kristus sebagai Inti Berita Rasuliah
    Bahwa “kebangkitan” Kristus itu merupakan pemberitaan inti para Rasul itu dinyatakan oleh ajaran tertulis dari Rasul-rasul itu sendiri yang akhirnya dikanonkan dalam wujud Kitab Suci itu, demikian: ”Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang ……. untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah Rasul 1:21-22), “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Rasul 2:32), “…. Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi.” (Kisah 3:15), “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Rasul Paulus mencirikan peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai hal “yang sangat penting” (en protois = yang pertama sekali). Karena melalui kebangkitanNya ini Gereja Orthodox berdasarkan ajaran Rasuliah itu melihat keunikan Pribadi dan Karya Kristus, dan melalui keunikan Pribadi dan Karya Kristus itu Gereja Orthodox memahami siapa Allah itu sehingga sampai kepada pemahaman tentang sifat Tritunggal dari Allah yang Esa itu. Itulah sebabnya dalam Gereja Orthodox hari raya terbesar adalah Paskah, sebab jika Kristus tidak bangkit maka manusia tak akan mengerti tentang kebenaran Allah dan tak akan ada penebusan dan keselamatan bagi dirinya.

  4. Implikasi dari Kebangkitan Kristus

    a) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Allah

    Melalui kebangkitanNya Kristus membuktikan diriNya sebagai yang tak takluk kepada maut, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus demikian:”Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.” (Roma 6:9). Maut tak berkuasa atas Kristus yang dibuktikan oleh kebangkitanNya itu karena pada dasarnya Kristus tak memiliki maut pada diriNya sendiri, sebagaimana dikatakan:”Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17-18).

b) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Ciptaan, Terutama Manusia
Kebangkitan Kristus dari antara orang mati, dinyatakan oleh Kitab Suci sebagai “telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (II Timotius 1:10) juga sebagai : ”memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14). Ini berarti bahwa maut itu bukan sesuatu yang alamiah pada diri manusia, karena Kristus harus datang untuk “mematahkan” maut itu dan juga “memusnahkan” Iblis yang berkuasa atas maut ini. Dengan dipatahkannya maut serta dimusnahkannya penguasanya, maka Kristus “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” yang terbukti dari tubuh-Nya yang telah bangkit , dan “sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” ( Roma 6:9). Tubuh Kristus yang telah bangkit dari kematian itu hidup terus, dan bahkan dibawa ke sorga berwujud “Tubuh Yang Mulia” (Filipi 3:21).

c) Kristus Yesus sebagai “Tuhan”

Dalam kaitannya dengan kebangkitan dan pengangkatanNya dalam kemuliaan di sorga sebagai “Kristus Kosmik”/“The Cosmic Christ” adalah perlu kita memahami penegasan Perjanjian Baru bahwa Kristus adalah “Tuhan”, yang juga dinyatakan oleh Pengakuan Iman Nikea dalam butirnya yang kedua yang berisi pengakuan yang berbunyi: ”Dan kepada Satu Tuhan Yesus Kristus…”.

Banyak orang salah mengerti akan makna gelar ini, karena mereka langsung menganggap bahwa arti gelar Tuhan bagi Yesus itu artinya langsung berarti Allah. Padahal menurut Perjanjian Baru sebutan Allah itu dikenakan kepada Sang Bapa dan Tuhan itu kepada Yesus Kristus. Jadi sebutan “Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus dalam Kitab Suci. Sehingga “Tuhan Yesus” maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Sang Penguasa Yesus”. Hal ini dibuktikan dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini :”…Yesus adalah Tuhan….Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “ Allah, yang membangkitkan Tuhan….” (I Kor.6:14) “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…..satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Kor.8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Jadi kata “Tuhan” (Kyrios) disini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah” (“Theos”). Itulah sebabnya ayat-ayat diatas jelas membedakan “Allah” yaitu “Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau “Bapa” ini.

Karena Allah itulah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi tersebut kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang dikatakan dalam Kisah 2:36:” Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”.

Mengenai Pribadi Yesus Kristus

Rumusan-rumusan Kristologis baik dalam Pengakuan Iman Nikea maupun dalam enam Konsili Ekumenis yang lain itu dilakukan oleh Gereja Orthodox di zaman purba itu bukan bertujuan untuk memuaskan rasa keingin-tahuan intelektual saja. Bukan pula itu dilakukan demi untuk spekulasi filsafat. Pula bukan hanya sekedar demi kepentingan akademis saja. Lebih-lebih itu bukan dilakukan demi tujuan politik seperti yang dituduhkan oleh Dan Brown dalam bukunya yang bikin heboh “The Da Vinci Code” itu. Namun rumusan-rumusan tersebut dilakukan demi untuk memagari ajaran Rasuliah yang hendak diselewengkan oleh kaum bidat, dan demi untuk menjaga utuh keselamatan manusia di dalam Kristus yang dilandasi oleh karya KebangkitanNya itu. Dengan demikian rumusan Kristologis adalah untuk tujuan Soteriologis, untuk tujuan keselamatan manusia.


a) KeilahianNya sebagai Firman Allah

Diatas telah kita bahas bahwa Kebangkitan Kristus membuktikan Dia itu berkodrat Allah. Juga telah kita bahas bahwa Kristus itu “pra-ada” mendahului adanya dunia, dan bahwa Kristus itu menyatakan diriNya sebagai Anak dari Allah, Bapa, Yang Esa. Namun Ia juga menyatakan diri sebagai yang “telah keluar dari Allah”, yang berarti Ia sebenarnya berada satu di dalam diri Allah. Sebagai apakah Kristus itu berada satu di dalam Allah, Bapa, dalam kekekalan itu? Jawabannya dapat kita baca dalam beberapa bagian dari Kitab Suci demikian: ” …..Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” (Ibrani 1:2).

b) Satu Hypostasis dari Firman Allah

Selanjutnya hal yang amat perlu dimengerti adalah bahwa meskipun kita menganalogikan antara Logos dan Akal pikiran Allah, dengan kata-kata dan akal pikiran manusia, namun satu hal yang harus disadari adalah “Logos/Firman” Allah itu memiliki perbedaan yang amat besar dengan “kata-kata” manusia. Ini disebabkan Allah tak dapat disamakan dengan manusia, sebagaimana dikatakan : ” Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. Siapakah seperti Aku?…..” (Yesaya 44:6-7), dan “Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?” (Yesaya 46:5) dan jawabannya adalah : ” … ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau…” (II Samuel 7:22).

c) Hubungan Antara Kemanusiaan dan Keilahian dari Firman Allah Yang Menjelma

Diatas telah kita bahas bahwa meskipun Yesus Kristus oleh kebangkitanNya terbukti berkodrat “Allah”, karena Dia itu adalah “Firman Allah”, namun karena Ia berwujud manusia, maka Dia adalah Firman Allah yang menjelma. Artinya Ia adalah Firman Allah yang “menjadi manusia” atau “menjadi daging” (Yohanes 1:14). Ia adalah Firman Allah yang “diutus” (Yohanes 17:3, Galatia 4:4) turun dari sorga ke bumi (Yohanes 3:13, 6:38,41-42,50-51,58) oleh akibat tindakan dan gerak kasih kekal yang ada di dalam diri Allah yang kita sebut diatas tadi. Dan pada saat turunNya dari sorga itu Ia masuk ke dalam rahim wanita: Maria Sang Perawan (Galatia 4:4). Oleh kuasa Roh Kudus (Matius 1:18) Ia mengambil kemanusiaan atau “mengambil rupa seorang hamba” dari rahimnya sehingga Ia disebut sebagai “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42), serta “menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) yaitu mengenakan Tubuh Manusia, bagi keselamatan manusia. Itulah yang dikatakan Pengakuan Iman Nikea butir kedua yang telah kita kutip diatas: ”Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam, serta menjadi manusia.”

Demikianlah “Kodrat Ilahi” Kristus yang bersifat api itu (Ibrani 12:29) tanpa berubah sifat ke-Ilahi-anNya telah menyatu/manunggal dalam “Satu Hypostasis” dengan “Kodrat Manusia”-Nya tanpa menghilangkan sifat-sifat manusiawiNya , namun merembesi dan meresapi “Kodrat Manusiawi” itu dengan sifat-sifat dari Kodrat IlahiNya. Dengan demikian dalam Kristus sekarang dimungkinkan bagi manusia untuk secara langsung manunggal dengan Allah secara nyata dan kongkrit bagi mengambil-bagian dalam kekekalan, kemuliaan, serta sifat-sifat dan kodrat ilahi , sehingga manusia lepas dari kuasa maut, dosa dan Iblis. Dan inilah yang dimaksud dengan keselamatan itu. Hal itu dikatakan demikian oleh Kitab Suci: ”… Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi…” (II Petrus 1:4), serta :”….Setiap orang yang lahir dari Allah, …. benih ilahi tetap ada di dalam dia….” (I Yohanes 3:9).

Itulah sebabnya mengapa Bapa Suci Kyrillos Patriarkh dari Alexandria pada Konsili Ekumenis Ketiga tahun 431 Masehi di Efesus itu menentang habis-habisan ajaran Nestorianisme yang menolak menyebut Bunda Maryam sebagai “Theotokos” (“Theos = Allah” , “tokos” = dia yang memberikan kelahiran”), yaitu Ibu Tuhan (Lukas 1:43) . Dalam Lukas 1:43 ini kata “Tuhan” dari ucapan Elisabet yang memberi salam kepada Maryam yang sedang mengandung ini perlu dimengerti dalam arti Yahweh/YHWH yaitu “Allah”, sebab seorang bayi tak mungkin disebut sebagai “Kyrios” dalam arti “Pak, Tuan”, dan sebagai yang belum bangkit dan belum dimuliakan itu, si bayi yang masih dikandung Maryam itu belum diangkat sebagai “Kyrios”, yaitu ”Tuhan” dalam arti “Penguasa Mutlak”.

Dari apa yang kita bahas diatas itu nyatakah bahwa Gereja Orthodox menekankan bahwa Kristus itu memiliki kemanusiaan yang sempurna, dalam segala hal ia sama dengan segenap manusia lainnya. Untuk makin menegaskan kemanusiaan Kristus itu maka dalam Konsili Ekumenis yang Ketujuh pada tahun 787 Masehi Gereja Orthodox melawan ajaran “Ikonoklasme”. Sejak zaman perdana Gereja Rasuliah itu telah menggunakan “symbol-symbol” dan gambar-gambar, terutama di katakombe-katakombe. Dan itulah yang akhirnya berkembang menjadi seni Ikonografi dalam Gereja Timur. Berawal dari abad ketujuh Kaisar Leo dari Isauria melarang penggunaan Ikon karena dianggap sebagai berhala dan terus berlangsung sampai abad kedelapan. Dengan demikian ikon-ikon diperintahkan untuk dihancurkan. Umat Orthodox yang tetap mempertahankan Ikon dianiaya dan dibunuh. Untuk melawan ajaran Ikonoklasme inilah maka Konsili Ekumenis yang Ketujuh diadakan.

Firman itu disebut “Firman Hidup”: karena Dia menyatakan Diri sebagai makhluk hidup: Manusia, bukan buku mati yang berwujud tulisan. Begitu hidupnya penampakan ini sehingga, Ia telah: di dengar, dilihat dengan mata, disaksikan, diraba dengan tangan. Jika larangan Perjanjian Lama tentang pembuatan patung Allah itu terkait dengan penampakannya yang tanpa rupa, sekarang Dia nampak “Dengan Rupa”, masihkah larangan itu berlaku? Jelas tidak. Keberadaan Allah yang azali dan ghaib itu tetap tak dapat digambarkan, namun keberadaan penampakanNya sebagai manusia yang telah di dengar, dilihat, disaksikan dan diraba dengan tangan itu jelas dapat dan harus digambarkan untuk menegaskan bahwa Allah sekarang sudah menampakkan Diri bukan tanpa rupa lagi, namun “DENGAN RUPA”.

Konsisten dengan makna theologis bagi Inkarnasi Kristus inilah Gereja Orthodox tak pernah menggunakan patung, meskipun Perjanjian Lama mengijinkan pembuatan patung, sebab tolok-ukurnya adalah Inkarnasi (Penjelmaan) Firman Allah sebagai manusia. Mengapa ada juga Ikon orang kudus, bukan Kristus saja? Karena orang-orang kudus itu adalah yang “ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Gambaran AnakNya” (Roma 8:29). Jadi mereka adalah “keserupaan Gambar Kristus”, sebagai dampak langsung dari Inkarnasi, itulah sebabnya mereka juga digambarkan. Dengan adanya Ikon maka fakta Inkarnasi Kristus yang betul-betul memiliki daging jasmani ini ditegaskan. Karena manusia daging jasmani itu memang dapat digambarkan. Namun itu juga menegaskan bahwa benda jasmani sebagai wakil dari segenap alam ciptaan ikut mengalami pemuliaan akibat karya keselamatan di dalam Kristus. Karena itu benda jasmani bukanlah sesuatu yang asing yang boleh diabaikan dalam pemahaman akan keselamatan. Keikut-sertaan benda jasmani dalam karya penebusan ini menyebabkan akan adanya langit baru dan bumi baru. Itulah sebabnya karena benda jasmani yang ikut terangkul dalam penebusan itu tak dapat memuji Allah pada dirinya sendiri, diikut sertakan oleh Gereja Orthodox dalam ibadahnya kepada Allah, yaitu dalam bentuk diikutkannya unsur kayu sebagai bahan pembuat ikon, unsur api dalam lilin dan arang untuk dupa, unsur wangi-wangian dalam bentuk dupa, unsur makanan dalam bentuk roti Perjamuan, unsur minuman dalam bentuk Anggur Komuni, unsur air dalam baptisan dan upacara penyucian air, unsur minyak untuk lampu kandil dan untuk pengurapan, dan sebagainya. Unsur-unsur benda jasmani ini bukan sebagai sandaran penyembahan, namun sebagai “mitra” untuk bersama diajak menyembah Allah. Karena dengan demikian mengingatkan umat Orthodox bahwa unsur jasmani itu juga dirangkul dalam penebusan, dan unsur-unsur jasmani itu nantinya akan ikut dimuliakan dalam bentuk dijadikannya “langit yang baru dan bumi yang baru” itu. (II Petrus 3:12).


Kesimpulan

Dari semua yang kita bahas ini jelas terlihat bahwa memang Gereja Orthodox tidak tertarik untuk bertheologia demi kepentingan akademik murni, ataupun hanya demi kepentingan spekulasi filsafati, serta hanya demi untuk menambah pengetahuan saja, namun itu dilakukan demi menjaga “keselamatan” manusia, dan demi memungkinkan “manunggalnya” manusia dengan Allah di dalam Kristus. Kiranya Kristus ditinggikan dan Nama Allah dipuji .Amin.

Diterbitkan oleh Elizabeth STMG

3 NO: No Reserve, No Retreat, No Regret,

2 tanggapan untuk “Ringkasan Buku Kristologi

Tinggalkan Balasan ke kthrn Batalkan balasan

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai