
Matius 19:21, Kata Yesus kepadanya: ”Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Dalam menafsirkan ayat ini seorang pemuda bernama Antoni The Great menjual semua hartanya karena telah mendengar homily (Khotbah) saat dia masih berumur belasan tahun serta menafsirkannya secara harfiah sehingga ia benar-benar menjual hartanya yang diperoleh berkat dari warisannya serta membagikannya kepada orang miskin. Ketika ia tidak memiliki apa-apa, ia mulai menjauh dari dunia sehingga ia menemukan sebuah tempat untuk dapat tinggal dan bertapa disana. Dari pertapaannya ia dapat mengikut Kristus dan hidup membiara. Namun tafsiran lain yang menanggapi ayat ini juga berbeda, salah satunya dari Bapa Gereja bernama Klemen melihat teks ini secara rohani sehingga sangat berbeda dengan Antoni yang menafsirkannya secara literal.
Ada satu tafsiran yang baik saat kita melihat teks ini, yaitu dari St. Basil The Great, suatu pendekatan yang saling bersinergi baik dengan pendekatan monastic atau figuratif dari klemen. Inilah yang dikatakan oleh St. Basil, “Sebenarnya, Kristus sedang mengajarkan hukum kasih kepada orang kaya itu, tentang bagaimana dapat mengasihi Allah dan sesama. Orang kaya ini memiliki harta yang berlimpah, namun mengapa ia dikatakan sebagai orang bodoh? Memiliki harta itu baik adanya, namun dibalik hidup orang kaya ini apabila ia juga hidup berdampingan dengan orang yang sangat miskin dan tidak mau membagikan hartanya untuk menolong orang miskin itulah yang membuat orang kaya itu melakukan pelanggaran terhadap hukum kasih. Inilah yang membuat Kristus menegur pemuda kaya itu yang tidak mentaati hukum kasih tersebut. Kristus melihat bahwa kehidupan yang sedang dijalani oleh orang kaya tersebut harus seimbang antar sesamanya. Hal ini juga yang disebut dengan mengasihi sesama. Sehingga, apapun yang kita miliki merupakan kelebihan yang harus kita bagi kepada sesama.” Oleh karena itu, Kristus memberikan “Mandat Distribusi” yaitu sebuah tindakan yang harus dilakukan manusia untuk menjalankan hukum kasih Allah dengan menjaga keseimbangan antar sebuah komunitas.
Allah kita merupakan Allah yang penuh dengan kasih yang sempurna. Bagaimana kita tahu bahwa Allah merupakan kasih yang sempurna? Ini terlihat dari energi-Nya yang keluar dari dalam pribadi-Nya yang ekstra sehingga dapat dibagikan kepada manusia. Kita adalah orang percaya yang telah menerima Kasih dan Anugerah dari Allah. Jika kita memiliki Anugerah itu maka kita juga harus memberikannya kepada sesama. Bagaimana kita menyalurkan kasih Allah? Mari mulai dengan memberikan pertolongan kepada sesama yang berasal dari Allah. Ketika kita telah menerima anugerah Allah maka kita telah memperoleh iman. Mari berikan iman kita kepada orang-orang yang miskin atau orang yang tidak maupun yang belum percaya kepada Allah. Orang yang memiliki anugerah Allah apabila tidak menggunakannya atau hanya menyimpannya hanya untuk dirinya sendiri, ini artinya dia tidak melakukan mandat distribusi yang diperintahkan Allah.
Berbicara tentang harta itu artinya kita sedang berbicara tentang kebutuhan yang harus dipenuhi untuk melangsungkan kehidupan kita sebagai manusia. Manusia sejatinya memiliki kebutuhan yang ekstra bahkan tidak terbatas. Hal ini mengakibatkan manusia selalu merasa tidak puas akan kebutuhan yang seharusnya hanya digunakan dengan bijak. Oleh karena itu penting bagi kita untuk membatasi diri kita terhadap kebutuhan, supaya apa yang kita miliki dan jika itu melebih kebutuhan yang kita miliki maka kita memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan dengan ini kita dapat belajar untuk mengasihi sesama kita.
Dalam Lukas 12:13-21, dikisahkan bahwa orang kaya ini memiliki banyak ekstra untuk memberikan kasihnya kepada sesama. Lumbung padi merupakan kebutuhan manusia. St. Basil menyatakan, menyimpan harta yang ekstra itu seperti pencuri dan pembunuh. Jika yang kaya itu hanya berpangku tangan dan tidak melihat saudaranya untuk menolongnya maka orang kaya itu merupakan seorang pembunuh. Dengan menjalankan mandat distribusi ini manusia memperoleh upaya untuk menjalankan ketahanan. Komunitas yang bertahan itu merupakan komunitas yang menjalankan mandat distribusi.
Penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan. Jika kita memiliki sebuah penghasilan yang lebih maka kita belajar untuk membatasi diri bagi orang lain. Bagi yang miskin mari miliki karakter supaya tidak meminta-minta kepada orang kaya atau tidak memiliki mental miskin. Ini merupakan mental yang sangat tidak disukai oleh Allah karena manusia tidak meminta belas kasihan-Nya untuk menolongnya keluar dari kemiskinan. Dengan adanya mandat distribusi yang kita lakukan bagi sesama diharapkan dapat melatih kehidupan rohani dengan berbagai kebajikan, seperti memberi sedekah kepada orang miskin, memberikan berkat yang kita miliki ketika praktik pelayanan, serta menceritakan Injil kepada orang yang sedang putus harapan dan yang hendak bunuh diri dll. Hal inilah yang dapat kita lakukan untuk menyatakan hukum kasih Allah itu dan benar-benar nyata dalah kehidupan kita sebagai gambar dan rupa Allah. Sehingga kita akan menjadi sempurna seperti Kristus yang juga sempurna dihadapan Allah.
Bibliography
Book: Sebastian Brock – The Syriac Fathers on Prayer and the Spiritual Life-Cistercian Publications (1987)
Youtube:
and
Pak, Saya sudah membaca 7 artikel wordpress. Terima kasih atas artikelnya Tuhan Yesus memberkati 🙏