
Mengosongkan hati artinya segala indera yang ada dalam hati dibersihkan, sehingga keadaan hati menjadi kosong supaya dapat memiliki Ihidaya (Kemanunggalan hati) serta mencapai stillness (Keheningan). Hati memiliki jaringan yang disebut dengan Nous (Inti Jiwa). 1 Petrus 3:15 mengatakan, hati adalah sesuatu yang tersembunyi (nous). Inilah yang menguduskan hati. “Kuduskanlah Allah dan juga hati mu.” Menurut St. Theopan, perkataan ini mengandung arti bahwa, kita harus tunduk pada perintah Allah. Dikuduskan memiliki arti sesuatu yang harusnya dikhususkan. Pengudusan juga berarti tidak tercampur atau membaur pada hal-hal yang lainnya. Damaskus mengatakan ada 7 latihan badani.
- Pertama keheningan artinya menjalani kehidupan tanpa gangguan serta jauh dari semua godaan duniawi. Jadi, pengertiannya adalah hati ini dikhususkan, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus yaitu hati ini seperti tempat yang tersembunyi yang dapat menguduskan hati. 1 Petrus 3:4 manusia batiniah yang tersembunyi tugasnya menguduskan Tuhan di dalam hati.
Kita diciptakan oleh Tuhan sebagai manusia yang misteri dibalik sebagai manusia yang kelihatan. Pada dasarnya manusia terdiri dari manusia batin dan manusia jasmani. Manusia batiniah bertugas untuk menguduskan Kristus di dalam batin. John Apamea mengatakan, kosongkan hati mu, lalu berhati-hati, berjaga-jaga, serta waspada terhadap segala godaan yang ada. Bagaimana kita mengosongkan hati? Kita harus menyaring segala keinginan daging. Manusia yang tersembunyi (batiniah) tadi harus di antisipasi dari berbagai godaan, supaya tidak tergoda oleh hawa nafsu. Sehingga ketika orang-orang bisa melakukan hal-hal yang jahat atau berperilaku buas kepada sesama, maka itu berasal dari hati yang tidak menjaga manusia misteri yang ada dialam hatinya.
Rasul Paulus mengatakan bahwa, Hati diciptakan untuk menguduskan Tuhan. Oleh karena itu seseorang harus menjaga hatinya. Mereka harus menjaga dari pikiran-pikiran jahat yang coba untuk tinggal di dalamnya, serta pikiran yang penuh dengan nafsu, dan tidak takut kepada Allah. Hal ini bisa terjadi karena kita tidak menjauhkan diri dari pikiran jahat. Nous tidak dapat dilihat namun keberadaannya tidak dapat dipungkiri. Manusia batin itu harus menjalani kehidupan tanpa gangguan dari kekacauan iblis. Pusatnya adalah bagaimana caranya supaya manusia dapat melakukan kehendak Tuhan.
Apabila hati kita tidak pernah melakukan antisipasi terhadap godaan, maka kita pasti tidak pernah takut kepada Allah untuk melakukan kejahatan. Inilah yang membuat pengudusan itu tiada. Jadi keheningan merupakan sebuah kehidupan yang tanpa gangguan, jauh dari semua perhatian godaan duniawi, serta melakukan kehendak Allah. Jadi keheningan merupakan perbuatan untuk memusatkan perhatian kepada Allah dan menjauhkan dari perilaku dunia.
Manusia memiliki intelek tentang Allah (The Knowledge of God). Namun disisi lain perhatikan dan tetap jagalah pikiran-pikiran jahat. Menurut Damascus, pusat perhatian manusia harus difokuskan kepada melakukan kehendak Tuhan, mengenali cara kerja iblis serta menilai kesalahan yang ada pada diri sendiri. Dengan mengenali sifat dan kelemahan sendiri, ini merupkan sebuah cara untuk manusia dapat mengucap syukur kepada Allah. Semua tindakan yang dilakukan ini memiliki tujuan untuk mencapai keheningan.
2. Selain itu kita juga harus berpuasa, puasa memiliki arti seseorang mengatur makanannya dengan: harus makan sekali sehari, makan secukupnya dan jangan sampai kenyang, pilih makanan yang sederhana, kalau bisa makanan yang tidak disukai. Apabila merasa haus, usahakan untuk mengonsumsi air putih sesedikit mungkin. Karena dengan cara ini kita bisa memakan makanan yang tidak kita sukai dan mengontrol diri. Tidak ada makanan yang haram dan halal di dunia ini yang ada hanya makanan yang menimbulkan kerakusan atau ketamakan. Kerakusan serta ketamakan dapat menimbulkan kesalahan atau dosa. Demikian pula kehausan juga harus cukup dan tidak boleh berlebihan. Semua hal yang dilakukan semata-mata hanya untuk menjauhkan diri dari ketamakan dan kerakusan yang mendatangkan dosa dan melahirkan maut.
3. Bentuk ketiga yaitu Nepsis yaitu berjaga-jaga. Artinya, kita menggunakan waktu setengah malam untuk tidur, serta setengah malam lagi untuk Tuhan dengan membaca Mazmur, dan doa-doa (Lectionary). Maksudnya, untuk mengajarkan kepada tubuh supaya tidak malas. Keinginan tubuh apabila berelebihan akan menjadi sebuah gangguan.
4. Bentuk disiplin keempat tubuh adalah Pembacaan Mazmur yaitu dalam doa yang diungkapkan secara jasmani melalui Mazmur dan sujud ini adalah untuk membangkitkan semangat tubuh dan merendahkan jiwa, agar musuh kita iblis-iblis itu dapat melarikan diri dan sekutu kita. Melalui Latihan badan jasmani ini kita dapat melatih tubuh kita supaya menolak dari segala macam godaaan untuk melawan godaan-godaan yang kotor. Para biarawan itu dikenal dengan pembacaan Mazmur.
5. Kelima adalah Doa Spiritual. Artinya, doa yang berasal dari nous dan bebas dari pikiran jahat. Bukan lagi doa yang dipersembahkan dari kata-kata mulut melainkan dari nous (batin) yang terkonsentrasi pada setiap Mazmur yang dibaca. Sebaiknya mari belajar untuk membaca Kitab Suci Galatia 5:19-23.
6. Bentuk keenam disiplin tubuh terdiri dari membaca tulisan dan kehidupan para bapa gereja. Sehingga tidak berfokus kepada doktrin yang sesat atau orang lain terutama bidat. Dengan demikian kita akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran Roh Kudus. Kita memperoleh ilham dari Tuhan berasal dari tulisan kisah hidup Para Bapa Gereja. Rasul Petrus mengatakan bahwa saat ini manusia belum layak sehingga harus diajar oleh Roh Kudus. Sehingga seseorang dapat belajar dari Tulisan-Tulisan Bapa Gereja. Untuk membaca kitab suci ada dua metode yaitu berasal dari teori dan yang kedua berdasarkan pengalamannya.
7. Ketujuh yaitu memberi pertanyaan kepada mereka yang memiliki pengalaman supaya dapat menilai semua perbuatan kita. Membayangkan kita tahu seperti yang sebelumnya kita tahu. Contohnya ketika kita menjadi sombong, kita perlu menanyakan bagaimana orang yang bijak dan berpengalaman itu mau untuk menilai diri kita. Harus ada ketaatan dan kerendahan hati untuk dapat belajar dari orang lain. Apapun yang terjadi, kita harus merenungkan dan merendahkan diri kita dan mencari Kehendak Tuhan. Semua hal yang dilakukan untuk kembali lagi kepada bagaimana kita mencapai keheningan. Nous akan melihat kesalahan yang ada dalam batin kita sehingga semakin kita melihat bahwa banyak kesalahan yang kita pernah kita perbuat. Semakin banyak kita belajar untuk menilai diri kita maka semakin banyak pelajaran yang kita peroleh sehingga semakin banyak kesalahan yang kita jumpai untuk kita perbaiki. Semua kesalahan yang kita lakukan, seperti butiran pasir.
Dalam Matius 5 menjelaskan tentang khotbah Yesus di bukit tentang Ucapan Bahagia atau berkat itu penuh dengan roh, lapar akan kebenaran, cinta akan belas kasihan, pencuri damai, ini semua melambangkan hati Kristus. Kapan kita bisa memiliki semuanya itu? Ketika kita semakin lama semakin menyadari banyak kesalahan yang kita perbuat. Dari sinilah kita bisa melihat penerangan jiwa. Sehingga, jiwa menyesal kemudian baru bisa memahami berkat Allah seperti yang difirmankan dalam Kitab Suci. Pada akhirnya ketika kita membaca dalam Matius 5, terdapat berbagai kebajikan-kebajikan yang membuat kita seperti menaiki tangga untuk mencapai kesempurnaan (Theosis). Hal ini bertujuan untuk menyadari bahwa, di dalam jiwa manusia harus semakin rendah hati semakin lemah. Dengan demikian, manusia semakin menyadari banyak sekali kesalahan yang pernah diperbuat, dan sehingga ia tidak dapat menunjukkan kesombongannya.
Referensi:
Lapor Pak, Saya sudah membaca dan mengomentari Artikel WordPress sebanyak 7 Artikel serta, 7 Lectionary, dan 6 kali sembahyang. Terima Kasih Pak Hendi, God Bless 😊.